Sabtu, 21 Januari 2017

API PERUBAHAN Ⅱ

Api Perubahan Berkobar di Caruban Larang

Tahun 1415 Saka adalah tahun perubahan yang mulai terasa getarannya di Bumi Pasundan. Percik api yang membara di Lemah Abang pada awal tahun tersebut mengamuk menjadi gelombang dahsyat yang menyambar-nyambar ke berbagai tempat di sekitarnya. Lahirnya tatanan baru kehidupan warga Lemah Abang yang disebut kabilah atau ra�yat ternyata dalam waktu singkat telah berkobar-kobar ke berbagai tempat di wilayah Caruban Larang. Sejumlah nagari yang sudah berubah seperti Lemah Abang adalah wilayah yang dipimpin oleh Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Ujungsemi, Ki Gedeng Sindangkasih, Ki Gedeng Tersana, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Paluamba, Ki Gedeng Surantaka, Ki Gedeng Trusmi, dan Ki Gedeng Caruban Girang.

Seluruh penguasa di Bumi Pasundan melihat perubahan itu dengan perasaan cemas dan gelisah. Mereka seolah-olah menunggu apa yang berikutnya akan terjadi setelah tatanan baru yang diawali di Lemah Abang itu diikuti oleh sembilan nagari di wilayah Caruban Larang. Meski mereka telah mengetahui bahwa tatanan baru itu didasari oleh gagasan Syaikh Lemah Abang, mereka tidak pernah menghitung keberadaan putera asuh Sri Mangana itu. Mereka justru menunggu perkembangan dengan mengarahkan pandangan ke arah Sri Mangana, sang ratu Caruban Larang. Tindakan apa yang akan diambil oleh sang ratu yang selama tahun-tahun belakangan membangun kekuatan militernya itu.

Kacurigaan para penguasa di Bumi Pasundan terhadap Sri Mangana tidaklah salah sama sekali. Kenyataan menunjukkan betapa di balik penerapan tatanan baru di sembilan daerah kagedengan di Caruban Larang sesungguhnya tidak terlepas dari peranan sang ratu Caruban Larang. Sebab, atas petunjuk dan perintah dari sang ratu Caruban Laranglah sesungguhnya para gedeng berani membagi-bagikan tanah kepada warga di wilayah kekuasaannya masing-masing. Atas titah sang ratu Caruban Larang, pemilihan para gedeng di sembilan nagari itu dilakukan hampir berurutan. Demikianlah, melalui wewenag Sri Mangana, perubahan yang terjadi di Lemah Abang dikembangkan dalam lingkup yang lebih luas. Bahkan atas petunjuk Sri Mangana, warga yang tinggal di daerah-daerah para gedeng itu menyebut diri sebagai ra�yat atau masyarakat.

Sebagai satu-satunya orang yang paling memahami gagasan Abdul Jalil, sesungguhnya secara diam-diam raja Caruban Larang itu mengamati semua perkembangan yang terjadi di Lemah Abang sejak kali pertama desa itu dibuka. Ketika ia mendengat laporan tentang khotbah putera asuhnya itu ia sudah mafhum bahwa sebuah prahara perubahan sedang berembus di Bumi Pasundan. Sebagai ratu yang sudah menyataka kesediaan untuk mendukung dengan segenap jiwa dan raga gagasan mulia putera asuhnya itu, Sri Mangana pun pada gilirannya memerintahkan para gedeng bawahannya untuk melakukan hal yang sama seperti yang berlaku di Lemah Abang.

Saat yang ditunggu-tunggu para penguasa Bumi Pasundan ternyata datang dengan cara yang sangat mengejutkan. Tanpa ada yang menduga tiba-tiba Sri Mangana mengumumkan pemberlakuan peraturan baru yang berisi ketetapan-ketetapan tentang kepemilikan tanah yang berlaku di seluruh wilayah Caruban Larang. Peraturan baru itu senapas dengan tatanan di Lemah Abang dan sembilan kagedengan yang lain.

Peraturan beru itu diumumkan sendiri oleh Sri Mangana seusai memimpin sembahyang Jum�at di Tajug Agung Caruban. Di bawah tatapan takjub para jama�ah, ratu Caruban Larang mengumumkan bahwa setiap warga yang tinggal di Caruban Larang akan diakui keberadaannya sebagai pribadi yang bebas, sama, dan sederajat antara satu dan yang lain. Tatanan lama yang menempatkan lapisan masyarakat secara berjenjang berdasarkan keturunan, warna kulit, tempat asal, dan agama tidak lagi berlaku. Setiap pribadi akan diakui kepemilikannya atas tanah, rumah, harta benda, keluarga, dan di dalam memilih agama serta pemimpin. Siapa pun warga Caruban Larang tanpa pandang agama, kebangsaan, keturunan, pangkat, dan jabatan adalah warga yang akan dihormati hak-haknya. Sri Mangana dengan tegas menyatakan, tugasnya sebagai ratu adalah menjadi pelindung bagi hukum, tradisi, dan tatanan kehidupan warga di wilayah kekuasaannya itu.

Pengumuman resmi Yang Dipertuan Caruban Larang itu bagaikan halilintar menyambar di siang hari, mengagetkan seluruh penguasa Bumi Pasundan dan kawula Caruban Larang. Penguasa Pasundan langsung menghamburkan sumpah serapah yang mengutuki kebijakan itu sebagai ambisi tidak waras seorang ratu yang berhasrat menduduki takhta Kerajaan Sunda. Sementara di kalangan kawula Caruban Larang terjadi perbincangan hangat dari mulut ke mulut menyambut peraturan yang mereka nilai aneh itu. Lepas dari aneh atau tidak aneh, seluruh kawula Caruban Larang dengan kegembiraan meluap-luap akhirnya menyambut peraturan tersebut.

Kawula Caruban Larang yang sebelumnya tidak mengenal hak kepemilikan atas sesuatu beramai-ramai melakukan perubahan sesuai peraturan baru sang ratu. Mula-mula mereka menetapkan batas-batas tanah miliknya yang selama ini merupakan tanah garapan yang disewa dari para gedeng dan wadana bawahan Sri Mangana. Namun, kegembiraan yang meluap-luap itu telah membawa banyak warga ke lembah kerakusan yang berisi serigala-serigala buas. Akhirnya, karena banyak warga ingin mendapatkan bagian lebih luas dari yang semestinya maka pecah perselisihan yang membawa korban jiwa.

Ketika perselisihan antarwarga merebak di berbagai tempat, para penguasa Bumi Pasundan bersorak gembira menertawakan kebodohan saudara mereka, Sri Mangana. Namun, mereka segera terdiam manakala Sri Mangana membuat ketetapan tambahan yang mengatur luas tanah yang pantas dimiliki oleh masing-masing keluarga sesuai kebutuhan. Untuk mengatasi kemungkinan perselisihan di kemudian hari, ratu Caruban Larang mengeluarkan ancaman hukuman berat bagi warga yang kedapatan melanggar batas tanah milik warga lain.

Tidak bisa dielakkan, betapa sesungguhnya di balik terbentuknya tatanan baru itu Sri Mangana telah melakukan tidakan yang tak pernah dipikirkan oleh saudara-saudara maupun ayahandanya, yaitu melepaskan hak kepemilikan seorang raja atas setiap jengkal tanah di wilayah kekuasaannya untuk dibagi-bagikan kepada penduduk. Bahkan, hak raja untuk menguasai seluruh hajat hidup para kawula pun dicabutnya. Dengan terheran-heran para penguasa Bumi Pasundan menilai saudara mereka yang menjadi ratu Caruban Larang itu memang sudah tidak lagi waras. Bagaimana mungkin disebut waras, jika seorang ratu merelakan kehilangan semua haknya hanya demi lahirnya tatanan baru kehidupan yang disebut masyarakat ummah!

Sementara para penguasa mengecam peraturan baru yang ditetapkan Sri Mangana, sambutan justru berdatangan dari berbagai kalangan hingga warga di luar wilayah Caruban Larang. Haji Shang Shu, kepala penduduk asal negeri Cina di Kuta Caruban, memberitakan kepada kerabat dan kawan-kawannya di Dermayu dan Junti tentang peraturan baru di Caruban Larang. Itu sebabnya, keluarga-keluarga asal negeri Cina di Dermayu yang dipimpin Lie Han Siang berbondong-bondong datang ke Kuta Caruban. Keluarga-keluarga Cina di Junti yang dipimpin Liu Sung tak ketinggalan ikut hijrah ke Kuta Caruban.

Perpindahan keluarga-keluarga asal negeri Cina ke Kuta Caruban ternyata memunculkan masalah yang berujung pada perselisihan di antara mereka sendiri. Berbeda dengan penduduk setempat yang berselisih karena alasan penentuan batas-batas tanah, para Cina pendatang terlibat perselisihan dengan kawan-kawannya disebabkan oleh masalah kepemimpinan. Haji Shang Shu, pemukim lama Kuta Caruban, menghendaki agar semua warga Kuta Caruban asal negeri Cina berada di bawah kepemimpinannya. Sementara Li Han Siang menolak dan menginginkan kepemimpinan tetap seperti semula, sesuai suku dan marga masing-masing kelompok. Perselisihan makin parah ketika Liu Sung dengan didukung Ling Tan juga menolak kepemimpinan Haji Shang Shu.

Sesungguhnya, perselisihan tentang kepemimpinan itu terjadi karena masing-masing pihak tidak mau direndahkan oleh suku lain. Meski semua pemukim Cina di Caruban muslim, mereka berasal dari suku yang berbeda. Haji Shang Shu, misalnya, berasal dari suku Hui yang lahir di daerah Kunyang di provinsi Yunnan di Cina selatan, sedangkan Lie Han Siang merupakan suku Han asal Shanghai. Li Han Siang adalah keturunan imam Masjid Song Jiang di Shanghai. Itu sebanya, ia tidak mau dipimpin oleh Haji Shang Shu yang dianggapnya lebih rendah kedudukan sukunya maupun status sosial keluarganya. Alasan serupa disampaikan pula oleh Liu Sung yang berasal dari suku Tungsiang dan Ling Tan yang berasal dari suku Han.

Perselisihan di antara warga Cina pendatang sempat pecah menjadi perkelahian massal di Kuta Caruban. Puluhan korban jatuh. Suasana kota menjadi tegang. Sri Mangana yang mendapat laporan tersebut buru-buru memanggil para pemimpin kelompok itu ke Bangsal Keprabon untuk didamaikan. Setelah melalui perundingan yang lama akhirnya semua pihak sepakat bahwa warga Cina di seluruh wilayah Caruban Larang akan mengikuti tatanan sesuai dengan yang diberlakukan di lingkungan warga setempat. Maksudnya, sebagaimana warga setempat yang dipimpin oleh para gedeng, demikianlah para pemuka suku Cina itu akan memimpin kelompoknya sendiri-sendiri. Dengan demikian, Haji Shang Shu tetap memimpin suku Hui, Lie Han Siang memimpin suku Han asal Shanghai, Liu Sung memimpin suju Tunsiang, dan Ling Tan memimpin suku Han asal Kanton. Dan tentu saja, semua pemimpin menyatakan setia berada di bawah lindungan ratu Caruban Larang.

Pendatang yang juga berduyun-duyun masuk ke wilayah Caruban Larang adalah warga asal Campa dan Semenanjung Malaya. Segera setelah peraturan baru tentang kepemilikan diumumkan di Caruban Larang, mereka datang dari daerah Junti, Dermayu, dan Karawang. Mereka umumnya nelayan dan petani. Sebagian memilih tinggal di sepanjang pantai Kebon Kelap, sebagian lagi memilih tana hunian di pedalaman yang masih berupa hutan. Kedatangan mereka ke Caruban Larang tidak menimbulkan masalah karena sudah menikah dengan warga setempat dan beranak-pinak. Sebagaimana lazimnya saat mereka tinggal di Junti, Dermayu, dan Karawang, di tempat tinggalnya yang baru mereka tetap patuh dan setia kepada keturunan pemimpin terdahulu, yaitu Syaikh Bentong dan Haji Musa, putera almarhum Syaikh Hasanuddin.

Sementara itu, bagaikan suatu kebetulan yang mengherankan, beberapa hari setelah peraturan baru tentang kepemilikan tanah diumumkan oleh Sri Mangana, sekitar seribu dua ratus orang asal Baghdad datang ke Giri Amparan Jati. Mereka adalah pengikut Sulaiman Rumi, ayahanda Abdurrahman Rumi dan Abdurrahim Rumi. Mereka datang ke Caruban Larang karena lari dari kejaran penguasa Baghdad. Seperti pepatah pucuk dicinta ulam tiba, kehadiran orang-orang asal Baghdad itu langsung disuguhi pembagian tanah siap huni. Atas usul Abdurrahman Rumi, mereka memilih tinggal di timur Kuta Caruban, tepatnya di wilayah Kalijaga.

Kehadiran para pengikut Sulaiman Rumi ke Caruban Larang sesungguhnya dilatari oleh kecurigaan para penguasa Baghdad terhadap gerakan Sulaiman Rumi yang dituduh menjadi kaki tangan Syah Ismail, pemuka keluarga Shafawy, yang berusaha menegakkan kekuasaan kaum Syi�ah. Sejak masa Syaikh Baha�uddin Rumi, ayahanda Sulaiman Rumi, kecurigaan para penguasa Utsmani sudah terasa menghinggapi keluarga tersebut. Itu sebabnya, Sulaiman Rumi beserta istri dan anak-anaknya pergi meninggalkan Konya dan menetap di Baghdad. Tetapi, para penguasa Baghdad keturunan Timur I Lenk juga mencurigainya sebagai pendukung Shafawy.

Sesungguhnya kecurigaan-kecurigaan yang diarahkan kepada Sulaiman Rumi dan keluarganya itu tanpa dasar. Sebab, Syaikh Baha�uddin Rumi nasabnya bersambung kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Bahkan, sepupu Syaikh Baha�uddin Rumi yang bernama Syaikh Muhammad bin Hamzah al-Dimassyqi al-Rumi adalah ulama masyhur yang menjadi guru Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel, sehingga tuduhan bahwa keluarga Sulaiman Rumi pendukung Shafawy adalah salah alamat. Namun, kecintaan keluarga Sulaiman terhadap golongan Alawiyyin yang mereka muliakan sebagai ahlul bait, telah mengundang kecurigaan berlebihan dari pihak penguasa. Sulaiman Rumi dituduh penganut Syi�ah dan kaki tangan Shafawy yang menjalankan taqiyyah untuk menutupi gerakan makarnya. Walhasil, seperti nasib awal ketika terusir dari Konya, Sulaiman Rumi dan pengikutnya terusir dari Baghdad hanya karena kecintaan mereka terhadap golongan Alawiyyin.

Kehadiran orang-orang Baghdad yang seperti �mendapat durian jatuh� itu ternyata berujung pada perselisihan sebagaimana terjadi pada warga pendatang asal negeri Cina. Ceritanya, Sayyid Habibullah al-Mu�aththal, pemuka warga Arab yang merupakan pemukim lama Kuta Caruban, menghendaki agar semua pendatang dari Baghdad berada di bawag kepemimpinannya. Sementara, orang-orang Baghdad pengikut setia Sulaiman Rumi menghendaki kepemimpinan Abdurrahman Rumi. Ujungnya, Sayyid Habibullah Al-Mu�aththal dengan para pengikutnya, yang didukung warga Trusmi, mengancam orang-orang Baghdad yang mulai membuka pemukiman di Kalijaga. Sayyid Habibullah Al-Muaththal mengancam akan mengusir mereka dari Caruban Larang jika tidak mau mengakui kepemimpinannya.

Perkelahian massal nyaris pecah jika Sri Mangana tidak segera turun tangan melerai. Akhirnya, sebagaimana yang dilakukan pada warga asal negeri Cina, warga Arab pemukim lama maupun yang baru datang dari Baghdad diminta mengikuti tatanan yang berlaku di kalangan penduduk setempat. Sayyid Habibullah Al-Muaththal tetap memimpin keluarga-keluarga Arab, sedangkan pemukim lama Kuta Caruban dan warga Arab pendatang asal Baghdad dipimpin oleh Abdurrahman Rumi. Dan, semua pihak menyatakan setia di bawah lindungan ratu Caruban Larang.

Hampir bersamaan dengan hadirnya para pendatang Cina, Campa, Melayu, dan Arab asal Baghdad, para pemukim lama Kuta Caruban asal Kadipaten Kendal ternyata mendatangkan sanak kerabatnya dari wilayah Kendal untuk mendapat bagian tanah di Caruban Larang. Mereka yang semula datang ke Giri Amparan Jati untuk mengantarkan Siti Zainab dan Umi Kalsum, dan kemudian tinggal di Kuta Caruban selama belasan tahun, tiba-tiba memanggil sanak kerabatnya di Kadipaten Kendal segera setelah peraturan kepemilikan tanah diumumkan Sri Mangana.

Sebagian pendatang baru asal Kendal itu tinggal di sekitar kerabatnya di Kuta Caruban. Sebagian lagi membuka pemukiman baru di dekat Muara Jati. Untuk menandai keberadaan mereka sebagai orang-orang asal Kendal, kediaman mereka dinamakan Karang Kendal. Mereka dipimpin oleh saudara tiri Siti Zainab, Pangeran Soka, yang dikenal dengan nama Pangeran Karang Kendal.

Para pendatang dari Kadipaten Kendal dikenal sebagai pemeluk Islam yang taat sebab sejak Kadipaten Kendal dipimpin Syaikh Suta Maharaja, sejumlah ulama masyhur didatangkan untuk mengajarkan penduduk agama Islam. Yang termasyhur di antara ulama tersebut, selain Sayyid Maulana Waly al-Islam, ayahanda Umi Kalsum, adalah Syaikh Syarif Syamsuddin. Karena yang terakhir ini tinggal di Magelung. Menurut cerita, saat Syaikh Suta Maharaja gugur dalam pertempuran melawan pasukan Lembusora dari Demak, Syaikh Magelung beserta semua pengikutnya mengantar Umi Kalsum dan Siti Zainab ke Giri Amparan Jati untuk meminta perlindungan kepada Syaikh Datuk Kahfi, dan setelah itu mereka bermukim di sana.

Hingar-bingar kehadiran penduduk baru di wilayah Caruban Larang adalah tengara bagi lahirnya perubahan besar di Nusa Jawa. Sebab, dibandingkan tempat-tempat pemukiman yang ada di Nusa Jawa, hanya di wilayah Caruban Larang terdapat pemukim-pemukim dari berbagai jenis bangsa. Bahkan yang merupakan hal baru, para pemukim itu bukanlah kumpulan manusia yang berkedudukan kawula, melainkan manusia-manusia merdeka yang mempunyai hak milik pribadi. Mereka menyebut diri sebagai masyarakat, yaitu pribadi manusia-manusia merdeka yang melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Read More ->>

API PERUBAHAN Ⅰ

Api Perubahan di Lemah Abang

Setelah menyampaikan khotbah beberapa kali, Abdul Jalil mengetahui dari laporan murid-muridnya bahwa tidak semua pendengar mampu memahami apa yang telah dikemukakannya secara benar. Banyak warga masih heran dan bingung memahami makna kabilah, ra�yat, masyarakat ummah, al-insan al-kamil, khalifah Allah fi al-ardh, hak milik, hak fitrah manusia, wali al-ummah, kalifah ar-rasul, dan istilah-istilah Arab yang masih asing. Namun, satu hal dari laporan para murid itu yang membuat Abdul Jalil bergembira, yaitu hampir semua pendengar memahami intisari khotbah justru dari dongeng-dongeng yang dituturkannya sebagai selingan. Di antara dongeng yang paling disukai adalah dongeng anak harimau disusui kambing, unta dan harimau, Karna anak kusir, Kalilah dan Dimnah, dan kisah para nabi.

Bagi Abdul Jalil, masalah ketidakpahaman terhadap istilah Arab yang digunakannya dalam khotbah bukanlah sesuatu yang patut dirisaukan. Seperti pepatah �alah bisa karena biasa�, istilah-istilah itu secara berangsur-angsur tentu akan terpahami sendiri jika digunakan dalam perbincangan sehari-hari. Bukankah pada awalnya istilah-istilah dari bahasa Sansekerta pun asing dan sulit dipahami? Bukankah dengan pembiasaan maka istilah-istilah Sansekerta akhirnya dipahami juga?

Sementara itu, khotbahnya lebih mudah dipahami jika disampaikan dalam bentuk dongeng. Ia menilai para pendengarnya adalah manusia yang tidak dibiasakan hidup dalam tradisi bernalar. Itu berarti, penilaian Abdul Malik Israil tentang kemiripan kerangka pikir orang-orang Campa, Sunda, dan Jawa, dengan Bani Israil pada masa kemundurannya tidaklah keliru. Ternyata mereka memang lebih memahami maksudku lewat bahasa dongeng daripada dalam bahasa nalar, katanya dalam hati.

Abdul Jalil tersenyum. Ia teringat pada Shafa, istrinya di Gujarat yang telah menuturkan dongeng-dongeng itu kepadanya. Di antara dongeng yang digemari itu adalah yang mengisahkan keberadaan seekor bayi harimau yang dilahirkan induknya di tepi sebuah hutan tak jauh dari kawanan kambing hutan. Saat melahirkan sang induk mati kelelahan dan kehabisan darah. Bayi harimau kemudian diasuh dan disusui oleh kawanan kambing hutan.

Si harimau kecil tumbuh di lingkungan kambing dan mendapat kasih sayang dari para kambing. Karena hidup di tengah kambing maka si harimau berbicara dalam bahasa kambing, mengembik, bermain-main, dan makan rumput seperti kambing. Si harimau sangat penurut kepada kawanan kambing.

Suatu ketika kawanan kambing hutan diserang seekor harimau jantan tua yang ganas. Ssemua kambing lari berhamburan ketakutan. Anehnya, si harimau kecil tetap berdiri di tempatnya tanpa rasa takut. Dengan terheran-heran ia melihat harimau tua yang ganas itu, namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengais dan memamah rumput hijau di depannya sambil mengembik. Kini giliran sang harimau jantan yang terheran-heran. Dengan mata terbelalak harimau jantan bertanya, �Apa yang sedang engkau lakukan di sini bersama kawanan kambing itu, o Harimau kecil? Kenapa engkau memamah rumput? Mengapa engkau mengembik dengan suara tolol itu?�

Harimau kecil tak menjawab. Ia hanya mengembik. Menyaksikan itu, sang harimau jantan yang ganas menyambar tengkuknya dan membawanya ke sungai di dekatnya. Kemudian dengan membungkukkan badan sang harimau tua berkata, �Lihatlah wajahmu, lalu lihat pula wajahku! Bukankah kita sama? Tidakkah engkau sadar betapa baik aku maupun engkau adalah harimau? Mengapa engkau membayangkan dirimu seperti seekor kambing? Kenapa kau mengembik-ngembik? Mengapa kau makan rumput?�

Si Harimau kecil tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa memandang heran wajahnya di permukaan air sungai. Beberapa jenak setelah berkaca dipermukaan air tiba-tiba ia merasakan perubahan terjadi pada dirinya. Cakar-cakarnya mulai mengembang. Dari dalam tenggorokannya tiba-tiba terdengar suara geraman. Namun, ia tetap heran dengan perubahan itu. Melihat perubahan pada diri si harimau kecil, sang harimau jantan ganas kembali menyambar tengkuknya dan membawanya ke sarang. Di sana sang harimau jantan memberinya sekerat daging mentah sisa makannya yang masih dilepoti darah. Si harimau kecil mengembik dan bergidik merasa jijik. Namun, harimau jantan memaksanya memakan daging itu.

Sesaat setelah memakan daging mentah ia merasakan sesuatu berubah di dalam dirinya. Tiba-tiba saja ia merasakan kekuatan aneh yang dahsyat menggetari jiwanya. Ia merasakan kegembiraan raya yang belum pernah dialaminya selama ini. Ia bangkit dan menguap lebar-lebar seolah-olah baru terbangun dari tidur. Ia menggeliat dan meregangkan cakar-cakarnya. Ekornya dikibas-kibaskan. Dari tenggorokannya terdengar auman yang keras menggetarkan. Sementara itu, harimau jantan yang menjadi gurunya menyaksikan dengan bangga sambil berkata, �Sudah tahukah engakau siapa dirimu sesungguhnya? Karena itu, marilah kita pergi ke padang perburuan untuk membuktikan siapa sesungguhnya kita ini!�

Usaha Abdul Jalil untuk membangkitkan kesadaran diri manusia sebagai makhluk paling agung dan mulia, yaitu manusia sempurna yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi, justru lebih mudah dijelaskan lewat dongeng. Ya, justru dengan cara itulah manusia-manusia baru bisa disentuh kesadarannya bahwa takdir mereka adalah sebagai harimau bukannya kambing.

Setelah merenungkan dan mengkaji kembali langkah-langkahnya, Abdul Jalil menangkap kesadaran baru dan berkata dalam hatinya, �Sebuah cakrawala baru telah terbentang di hadapanku. Sesungguhnya, aku membutuhkan lebih banyak murid dan sahabat yang bisa mendukung gagasan dan impianku untuk mewujudkan dunia baru. Namun, aku tidak ingin menjadi pemimpin mereka seperti gembala memimpin kawanan domba. Aku ingin murid-murid dan sahabat-sahabatku menyadari bahwa mereka adalah gembala bagi diri mereka sendiri. Mereka akan memusyawarahkan kepentingan mereka. Dan, mereka akan berjalan menuju padang kehidupan yang sesuai dengan kodrat hidup mereka sebagai ciptaan paling sempurna di muka bumi.�

�Jika murid-murid dan sahabat-sahabatku sudah menjadi gembala bagi dirinya sendiri maka mereka akan menjadi pemimpin bagi kumpulan harimau yang sadar diri. Masing-masing dari gembala akan memimpin kawan-kawannya untuk hidup sesuai kodrat harimau di padang perburuan dunia. Dan lantaran kumpulan itu adalah kumpulan harimau-harimau maka masing-masing anggota kumpulan itu akan bersama-sama menjaga kumpulannya dari ancaman makhluk lain. Sesungguhnya masing-masing kumpulan harimau itu akan menjalin persaudaraan dengan kumpulan harimau lain, ibarat ikatan tali yang saling mengait.�

Dengan cakrawala kesadaran barunya, Abdul Jalil kemudian memperbanyak jumlah murid pilihan yang secara khusus dididiknya menjadi gembala yang akan memimpin kumpulan harimau. Jika sebelumnya ia hanya membina dan mendidik Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, Abdurrahman Rumi, Raden Qasim, dan Abdurrahim Rumi maka pada gilirannya ia membina dan mendidik pula murid lain agar setara dengan �permata-permata harapan� tersebut. Dan, kehadiran Abdul Malik Israil di Lemah Abang terbukti sangat membantu usahanya dalam melahirkan tatanan baru masyarakat.

Usaha keras Abdul Jalil memperbanyak jumlah murid untuk dididik menjadi gembala bagi kumpulan harimau terbukti tidak sia-sia. Hal itu terlihat ketika para murid dilibatkan dalam usaha menata kehidupan warga. Bagaikan matahari terbit dengan gemilang menerangi langit, terbentanglah cakrawala kehidupan baru yang gemilang di Lemah Abang. Bagaikan kumpulan harimau di padang perburuan, warga Lemah Abang tiba-tiba mewujudkan diri menjadi kabilah berisi sekumpulan �harimau� sebagaimana diangankan Abdul Jalil. Dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak Abdul Jalil menyampaikan khotbah di Tajug Agung Lemah Abang, seluruh penduduk Lemah Abang telah menjadi manusia yang berbeda dalam banyak hal dengan warga Caruban Larang seumumnya.

Perubahan kehidupan warga Lemah Abang sendiri sesungguhnya diketahui oleh warga asal desa sekitar setiap hari pasar tiba. Dari hari pasar satu ke hari pasar yang lain mereka selalu terkejut menyaksikan perubahan yang terjadi pada diri warga Lemah Abang. Dengan terheran-heran mereka mengamati penampilan, perilaku, kata-kata, bahasa pergaulan, pandangan hidup, jalan pikiran, dan gaya hidup yang berbeda dengan yang mereka kenal sebelumnya. Seiring bergulirnya waktu, para pedagang pun akhirnya menjadikan warga Lemah Abang sebagai bahan sorotan dan perbincangan dengan pedagang asal desa lain.

Tidak bisa dielakkan, bermula dari perubahan warga Lemah Abang yang dianggap aneh, sebuah perubahan besar tampaknya sedang terjadi di Caruban Larang. Bagaikan memiliki daya pesona yang kuat, kabar perubahan warga Lemah Abang telah memunculkan rasa ingin tahu warga dari desa lain di wilayah Caruban Larang. Entah siapa yang memulai, dengan berkelompok-kelompok atau sendiri-sendiri, warga dari berbagai desa berdatangan ke Lemah Abang. Sambil berbelanja atau menjual sesuatu mereka ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sesungguhnya keanehan tatanan baru dari kehidupan warga Lemah Abang sebagaimana yang mereka dengar.

Saat warga dari desa lain mengamati gerak kehidupan warga Lemah Abang, yang semula mereka nilai aneh, tanpa mereka sadari telah terjadi pula suatu keanehan lain. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba dari kedalaman jiwa mereka terlintas keinginan kuat untuk meniru keanehan warga Lemah Abang tersebut. Keinginan itu makin kuat manakala mereka diberi tahu oleh warga Lemah Abang tentang ajaran dan tatanan baru sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Lemah Abang dan murid-muridnya. Diam-diam mereka menangkap nuansa kebenaran di balik ajaran Syaikh Lemah Abang. Lantaran hasrat meniru itu makin lama makin menguat di jiwa mereka maka setiap kali pulang dari Lemah Abang mereka diam-diam mencontoh satu demi satu apa yang mereka saksikan, baik dalam hal cara warga berpakaian, berbicara, berjual beli, dan gaya hidup.

Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan peniruan-peniruan yang dilakukan oleh warga desa yang pernah datang ke Lemah Abang tersebut. Orang hanya mengetahui bahwa dalam berbagai perbincangan di antara para petani, nelayan, perajin, tukang, dan pedagang di desa-desa, warga Lemah Abang selalu dikesankan sebagai warga yang berani dalam memperjuangkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Dengan terheran-heran mereka memperbincangkan bagaimana para petani, pedagang kecil, tukang, perajin, kuli, bahkan janda tua di Lemah Abang berani menyatakan diri sebagai manusia yang sederajat dengan manusia lain. Ya, dengan sangat percaya diri orang-orang Lemah Abang menyatakan punya �hak milik� pribadi atas tanah, rumah, harta benda, keluarga, agama, dan bahkan hak memilih pemimpin; suatu hal aneh yang tidak dipunyai warga desa lain.

Perbincangan tentang warga Lemah Abang ternyata tidak hanya terjadi di kalangan warga desa sekitar yang pernah datang ke sana. Para pedagang Cina, Melayu, Campa, dan Arab yang berniaga di pasar Kuta Caruban, Junti, dan bahkan Dermayu pun sudah mendengar dan memperbincangkan perubahan di sana. Mereka yang umumnya warga keturunan asing itu sangat berharap perubahan yang terjadi di Lemah Abang bisa meluas ke berbagai penjuru negeri Sunda. Dengan tatanan baru yang dirintis Syaikh Lemah Abang mereka berharap dapat setara dan sederajat dengan warga setempat. Tatanan yang berlaku di Bumi Pasundan dan Majapahit sejauh ini menempatkan warga asing yang tidak beragama Hindu sebagai kalangan Mleccha, yakni manusia di luar kasta yang lebih rendah daripada kalangan sudra papa. Dalam berbagai hal, harta benda dan nyawa mereka tidak dijamin secara hukum. Jika terjadi perubahan politik kekuasaan, mereka menjadi sasaran jarahan warga setempat, terutama dari kalangan sudra.

Berawal dari perbincangan para pedagang asing di bandar Dermayu dan Caruban Larang, kabar perubahan warga Lemah Abang pun pada gilirannya tersiar di bandar Kalapa bahkan kutaraja Dayeuh Pakuan. Prabu Guru Dewata Prana Sang Maharaja Sunda sangat terkejut mendengar lahirnya tatanan kehidupan yang aneh di wilayah kekuasaan puteranya itu. Diam-diam maharaja tua itu mengirim Tumenggung Nara Wingkang, penguasa Astana Larang, ke Lemah Abang untuk menyelidiki apa sesungguhnya sedang terjadi di sana.

Dengan didampingi lima perwira, Tumenggung Nara Wingkang menyamar sebagai pedagang kain dan tinggal selama lima hari di Lemah Abang. Selama lima hari itulah sang tumenggung beserta kelima pengawalnya terheran-heran menyaksikan gerak kehidupan warga desa yang baru dibuka belum setahun itu.

Setelah mersasa cukup menyaksikan keanehan tatanan kehidupan warga, Tumenggung Naya Wingkang kembali ke Dayeuh Pakuan menghadap Prabu Guru Dewata Prana, secara kebetulan sang maharaja sedang berbincang-bincang dengan Prabu Sursawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan, puteranya. Tumenggung Nara Wingkang menuturkan semua yang telah disaksikannya di Lemah Abang.

�Sejak patik lahir hingga rambut patik ditumbuhi uban, belum pernah patik menyaksikan tatanan kehidupan yang begitu aneh seperti di Lemah Abang. Paduka bisa membayangkan, menurut pengakuan warga, belum genap tiga bulan sejak desa itu dibuka, sudah dihuni oleh sekitar seribu warga yang tinggal di rumah-rumah yang mengitari Tajug Agung dan pasar desa. Yang aneh lagi, Paduka, masing-masing warga Lemah Abang memiliki hak pribadi atas tanah yang mereka buka sebagai hunian, sawah, dan tegalan. Menurut warga, tanah itu mereka dapat dari pemberian Syaikh Lemah Abang, guru ruhani mereka,� ujar Tumenggung Nara Wingkang.

�Bukankah Lemah Abang masuk wilayah Japura?� tanya Prabu Guru Dewata Prana. �Bukankah wilayah itu sudah kuberikan kepada puteraku, Sri Mangana? Bagaimana mungkin tanah Japura bisa dibagi-bagikan kepada kawula tanpa sepengetahuan puteraku? Siapakah Syaikh Lemah Abang itu?

�Itulah pangkalnya, Paduka,� kata Tumenggung Naya Wingkang. �Karena pemimpin di Lemah Abang itu sesungguhnya adalah Datuk Abdul Jalil, putera Sri Mangana.� Prabu Guru Dewata Prana tercekat kaget. Namun, sesaat kemudian ia tersenyum.

Berbeda dengan ayahandanya, reaksi Prabu Surawisesa saat mendengar penjelasan Tumenggung Nara Wingkang sangat meledak-ledak. Awalnya ia terhenyak kaget. Wajahnya merah padam dijalari api amarah. Kemudian, dengan suara berapi-api ia berkata lantang, �Jelaslah sudah sekarang bahwa keanehan tatanan di Lemah Abang bukan sesuatu yang tidak masuk akal. Jelas pula bahwa kepemilikan kawula atas tanah di Lemah Abang itu bukan karena kebaikan hati Syaikh Lemah Abang yang membagi-bagikan tanah miliknya kepada para kawula. Jelas juga ucapan Syaikh Lemah Abang yang menyatakan bahwa warga Lemah Abang bukan lagi kawula karena sesungguhnya semua itu bukan tatanan baru yang akan mengubah tatanan yang sudah ada.

�Ya, sekarang sudah jelas bagiku bahwa semua keanehan di Lemah Abang adalah siasat Sri Mangana, Yang Dipertuan Caruban Larang, untuk mengincar takhta kerajaan Sunda. Dia tahu peluangnya menjadi maharaja Sunda menggantikan ayahanda kami sangat kecil karena seluruh kerabat kerajaan diam-diam telah memilihku sebagai pewaris takhta, meski ayahanda kami tidak menunjuk putera mahkota. Jadi, jelaslah bagiku sekarang ini bahwa gejolak kehidupan di Lemah Abang sesungguhnya adalah siasat licik dari Yang Dipertuan Caruban Larang untuk tujuan yang lebih besar, yaitu takhta kerajaan Sunda. Dia menggunakan tangan anaknya untuk merebut takhta.�

Mendengar kata-kata puteranya, Prabu Guru Dewata Prana hanya tersenyum. Sebagai maharaja yang sudah berpengalaman merasakan pahit dan getirnya kekuasaan, ia tidak gampang terpengaruh oleh pandangan puteranya yang terbawa perasaan itu. Untuk memperjelas masalah, ia mengirim kembali Tumenggung Nara Wingkang ke Lemah Abang dengan didampingi Tumenggung Lembu Jaya dari Kidang Lamotan. Sementara kedua utusan itu berangkat, maharaja bijak itu mengirim Tumenggung Jagabhaya dan Ki Purwagalih ke Kuta Caruban untuk meminta penjelasan dari Sri Mangana tentang keanehan tatanan di Lemah Abang.

Menyadari bahwa ayahandanya tidak terpengaruh oleh kata-katanya, Prabu Surawisesa kembali ke Kraton Surawisesa di Galuh Pakuan. Setelah itu, ia mengirim Tumenggung Limbar Kanchana, penguasa Ajong Kidul, ke Lemah Abang. Tumenggung Limbar Kanchana ditugaskan untuk mengetahui seluk beluk kehidupan di Lemah Abang, terutama kemungkinan menguak jaringan rahasia yang menghubungkan Lemah Abang dengan Caruban Larang. �Usahakan engkau dapatkan bukti bahwa kejadian di Lemah Abang adalah kepanjangan tangan Sri Mangana,� ujar Prabu Surawisesa.

Sementara itu, saat Tumenggung Lembu Jaya menginjakkan kaki di Lemah Abang, ia merasa terheran-heran dengan apa yang disaksikannya. Ia yang pernah berkunjung ke Japura barang tujuh tahun silam sangat takjub dengan keberadaan Desa Lemah Abang yang kata orang baru dibuka barang enam tujuh bulan silam. Dulu di kawasan itu tidak dijumpainya satu rumah pun. Saat itu seingat Tumenggung Lembu Jaya, yang ia saksikan hanyalah hutan lebat di selatan Japura dan hamparan rumput alang-alang yang dihuni hewan melata dan serangga ganas yang berbahaya. Jika musim kemarau datang, sejauh mata memandang hanya hamparan rumput alang-alang berwarna coklat yang tergelar. Beberapa bagian dari hamparan alang-alang itu acapkali terbakar menyisakan abu yang menghitam. Sebaliknya, jika musim penghujan tiba hamparan rumput alang-alang berubah menjadi rawa-rawa yang ganas tempat katak, ular, biawak, serangga, dan nyamuk membangun sarang.

Tumenggung Lembu Jaya makin terheran-heran ketika nama Lemah Abang senantiasa dikaitkan oleh warga dengan sosok guru manusia, Syaikh Lemah Abang, yang bernama pribadi Datuk Abdul Jalil. Tokoh yang ternyata putera Sri Mangana itu tidak saja dikenal warga sebagai orang yang merintis pembukaan Desa Lemah Abang, tetapi juga termasyhur sebagai pemimpin dan sekaligus guru manusia yang dijadikan contoh keteladanan dan panutan oleh warga. Orang sepertinya tidak menyebut Lemah Abang jika tidak menyebut nama sang guru manusia itu. Lantaran begitu kuat wibawa dan pengaruhnya, meski masih tergolong muda, Syaikh Lemah Abang sangat disegani dan dihormati pengikutnya. Kata-katanya menjadi sabda yang diikuti dan perintahnya menjadi titah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh pengikutnya.

Sekalipun Syaikh Lemah Abang merupakan pemimpin dan guru manusia yang disegani dan dihormati oleh seluruh pengikutnya, yang mengherankan Tumenggung Lembu Jaya adalah hidupnya terkesan sangat sederhana, bahkan miskin. Ia tinggal seorang diri di sebuah gubuk kayu beratap daun kawung yang terletak di samping kiri Tajug Agung. Tidak ada perabot apa pun di dalam gubuk kecil itu kecuali selembar tikar pandan yang dijadikan alas tidur dan sebuah peti kayu berisi empat lembar pakaian. Sebuah lampu minyak kelapa terlihat meringkuk di sudut ruang dan hanya dinyalakan pada malam hari ketika ia makan dan menerima tamu. Ia senantiasa terlihat mengerjakan sendiri semua kebutuhannya mulai dari menyiapkan makanan, mencuci pakaian, membuat minyak kelapa, menjahit pakaian yang robek, memperbaiki terompah, bahkan mencari kayu bakar.

Di sekitar gubuk Syaikh Lemah Abang, sebagaimana disaksikan Tumenggung Lembu Jaya, dalam jarak sekitar tiga puluh langkah, terdapat sembilan gubuk kayu beratap daun kawung. Gubuk-gubuk itu adalah kediaman para janda tua dan anak-anak yatim. Meski tua, mereka bukan orang lemah apalagi tidak berdaya dan minta dikasihani. Mereka hidup sebagaimana warga yang lain. Mereka sehari-hari terlihat bekerja menganyam tikar, bahkan acapkali terlihat mencari kayu bakar hingga jauh ke pinggiran hutan yang terletak di selatan Lemah Abang. Jika hari pasar tiba, mereka berangkat ke pasar menjual tikar dan kayu bakarnya.

Sementara anak-anak yatim yang tinggal di gubuk-gubuk itu pun bukanlah anak-anak tak berdaya yang meminta dikasihani. Mereka juga hidup sebagaimana anak-anak Lemah Abang yang lain. Jika subuh menjelang mereka selalu terlihat menyapu lantai Tajug Agung, mengisi kolam untuk wudhu, menabuh bedug, sembahyang berjama�ah, dan sesudah itu mengaji hingga matahari terbit. Sebagian di antara mereka seusai mengaji akan bekerja menggembala hewan milik warga atau mencari kayu bakar, sebagian yang lain membantu para janda tua menganyam tikar.

Sekalipun janda tua dan anak yatim di Lemah Abang tidak tampak sebagai orang-orang yang tak berdaya, Syaikh Lemah Abang telah menetapkan bahwa nafkah mereka dijamin oleh siapa saja di antara manusia yang melangkah di jalan Kebenaran. Syaikh Lemah Abang telah memerintahkan kepada semua warga desa dan semua yang mengaku mengikuti jalannya untuk menyantuni dan memuliakan para penghuni gubuk itu. Sebagaimana ajarannya tentang keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi, menyisihkan sebagian nafkah untuk menyantuni janda miskin dan anak-anak yatim adalah bagian dari kewajiban manusia yang menempati kedudukan wakil Yang Maha Pemberi rezeki (khalifah al-Razzaq fi al-ardh).

Sebagai tokoh panutan, terbukti Syaikh Lemah Abang tidak hanya memerintahkan para pengikutnya untuk menyantuni dan memuliakan janda tua dan anak yatim. Ia memberikan keteladanan langsung tentang bagaimana memperhatikan, membimbing, menasihati, menyantuni, mengurusi, dan menghibur warga yang tidak beruntung itu. Sering orang-orang menyaksikan Syaikh Lemah Abang sepulang dari perjalanan jauh mendatangi para penghuni gubuk dengan membawa garam, terasi, kain, beras, gula, bahkan kayu bakar. Sering juga orang melihat ia mendongeng, mengajak makan dan bahkan bergurau dengan mereka.

Kehidupan sehari-hari para janda tua dan anak-anak yatim yang tidak menunjukkan kelemahan apalagi ketidakberdayaan itu sesungguhnya berpangkal dari ajaran yang disampaikan Syaikh Lemah Abang. Tokoh panutan itu sangat menekankan kepada para pengikutnya untuk bangkit dan memerangi kemalasan diri sebagai kewajiban utama manusia. Menurutnya, salah satu kewajiban yang pertama-tama harus dilakukan seorang manusia adalah menggunakan semua anugerah Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari, baik anugerah akal, penglihatan, pendengaran, hati nurani, gerak tangan dan kaki, bahkan tarikan napas.

Seorang manusia, menurut Syaikh Lemah Abang, tidak bisa disebut manusia jika ia malas berpikir, enggan menggerakkan tangan dan kaki, suka menikmati yang enak-enak, tidak mau bersusah payah, gemar berangan-angan dan berkhayal, berputus asa jika menghadapi kesulitan. Manusia pemalas, menurut Syaikh Lemah Abang, adalah makhluk terkutuk yang lebih rendah derajatnya dari binatang. Sebab, manusia pemalas tidak saja menista anugerah Sang Pencipta, tetapi juga akan menjadi bencana bagi kehidupan sesamanya.

Berjuang keras (jihad), ungkap Syaikh Lemah Abang dalam beberapa khotbahnya, merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan manusia untuk meniti kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sebab, dengan berjuang keras sesunggunya seorang manusia tidak saja mensyukuri anugerah, tetapi juga memuliakan dan mengagungkan Penciptanya. �Dengan menggerakkan tanganmu untuk menyuapkan nasi ke mulutmu, sesungguhnya engkau telah mensyukuri anugerah sekaligus memuji keagungan-Nya. Lihatlah burung-burung yang terbang di angkasa! Lihatlah hewan-hewan yang berlarian di padang! Lihatlah ikan-ikan yang berenang di lautan! Mereka semua memuji Penciptanya dengan cara menggunakan anugerah-Nya dalam setiap gerak kehidupan,� ujar Syaikh Lemah Abang.

Dengan tanpa kenal lelah, sebagaimana disaksikan sendiri oleh Tumenggung Lembu Jaya, Syaikh Lemah Abang mengajarkan kepada semua pengikutnya tentang kewajiban utama seorang manusia agar menggunakan akal, qalbu, tenaga, pancaindera, dan anggota tubuhnya untuk memerangi kemalasan diri sendiri. Ia tanamkan kuat-kuat kepada para pengikutnya keyakinan bahwa musuh utama manusia adalah setan kemalasan yang bersembunyi di dalam hati manusia sendiri.

Melalui cerita-cerita, dalil-dalil, dan perumpamaan-perumpamaan Syaikh Lemah Abang mengarahkan pengikutnya untuk benar-benar memahami apa yang disampaikannya. Tanpa kenal jemu, misalnya, ia ulang-ulang dongeng anak harimau disusui kambing, unta dan harimau, juga kisah Nabi saat menerima wahyu Ilahi pertama di Gua Hira. �Apakah kalian pikir Muhammad Rasulullah Saw. itu seorang pemalas yang secara kebetulan datang ke Gua Hira dan secara kebetulan pula menerima anugerah wahyu dari Allah �Azza wa Jalla? Apa kalian pikir beliau datang ke Gua Hira hanya satu kali, yaitu pada malam nuzul Al-Qur�an ketika beliau didatangi Jibril a.s.? Sekali-kali tidak demikian! Sesungguhnya Muhammad Rasulullah Saw. telah melakukan khalwat di Gua Hira selama lima belas tahun! Ingat itu! Lima belas tahun beliau berkhalwat tanpa kenal lelah dan patah semangat,� ujar Syaikh Lemah Abang.

Nilai-nilai perjuangan untuk memerangi kemalasan diri yang ditanamkan Syaikh Lemah Abang itulah yang telah menyalakan api semangat para pengikutnya untuk menapaki kehidupan. Dengan bekal semangat memerangi kemalasan diri itu para pengikut Syaikh Lemah Abang memasuki medan perang yang lebih dahsyat, yakni menghadapi keputusan nasib yang diselimuti kabut rahasia. Ibarat memasuki negeri asing yang tak dikenal sebelumnya, begitulah setiap manusia di muka bumi harus berjuang terus menghadapi tantangan dan rintangan untuk mencapai tanah harapan yang diidamkan.

Dengan suara menggema di Tajug Agung, di rumah-rumah, di ujung desa, sawah, tegalan, sungai, lembah, dan gunung, Syaikh Lemah Abang membangkitkan perlawanan manusia-manusia yang selama berbilang abad pasrah dijajah dan ditindas oleh nasibnya karena alasan keturunan. Dengan semangat berapi-api ia berkata dalam setiap pengajian, �Bangkitlah engkau sekalian, o kaum sudra papa yang hidup hina! Sesungguhnya bukan darah yang mengalir di tubuhmu yang membuatmu hina dan nista, melainkan kemalasan diri dan ketakutanmu menghadapi kehidupan jua yang menjadikan dirimu dan seluruh keturunanmu hina dina sepanjang masa. Karena itu, tantanglah kesewenang-wenangan nasib yang selama ini telah memperbudak jiwamu. Bangkitlah dari kemalasan! Bangkitlah dari kerendahan diri! Sulut api keberanian di dalam jiwamu! Lawanlah semua keterbatasan dirimu sekuat kuasamu!�

�Bangkitlah juga, engkau sekalian, o para ksatria berdarah biru! Janganlah engkau menjadi hewan yang hidup diliputi kemalasan menikmati keberuntungan nasib yang meninabobokkanmu dalam buaian angin kepalsuan duniawi. Jangan engkau bermalas-malas menikmati sanjungan dan pujian. Sesungguhnya di balik keberuntungan nasibmu itu terdapat tugas besar bagimu untuk melindungi manusia lain yang lemah dan papa. Bangkitlah dari kemalasan! Bangunlah dari mimpi-mimpi kosong! Hunuslah pedang untuk menantang keterbatasan dirimu sekuat kuasamu! Ujilah dirimu apakah engkau sekalian layak disebut ksatria berdarah biru yang memiliki dharma utama menjadi pelindung dan pengayom jagad.�

Pandangan, paham, gagasan, dan nilai-nilai yang diajarkan Syaikh Lemah Abang untuk menyadarkan manusia akan keberadaan dirinya sebagai adimanusia yang menduduki jabatan wakil Tuhan di muka bumi akhirnya dengan sangat rinci dituturkan oleh Tumenggung Lembu Jaya kepada Prabu Guru Dewata Prana. Sebagai maharaja yang bijaksana, Prabu Guru Dewata Prana menangkap Kebenaran yang sedang berembus di Lemah Abang. Ia menangkap sasmita bahwa suatu angin perubahan sedang bertiup di daerah kekuasaannya. Jika angin itu tidak dihadapi secara bijak akan menjadi prahara yang memporak-porandakan tatanan kehidupan yang sudah ada dengan korban yang tidak sedikit.

Berbeda dengan laporan Tumenggung Lembu Jaya dan Tumenggung Nara Wingkang yang mencermati tatanan, pandangan, gagasan, dan nilai-nilai baru Syaikh Lemah Abang, laporan Tumenggung Limbar Kanchana yang diutus Prabu Surawisesa cenderung mengamati keberadaan Lemah Abang sesuai yang ia saksikan. Ketika masuk ke desa Lemah Abang, misalnya, Tumenggung Limbar Kanchana hanya mengetahui bahwa pusat desa itu adalah Tajug Agung yang terbuat dari kayu dan beratap daun kawung yang berdiri di tengah-tengah desa. Di samping kiri Tajug Agung terletak kediaman Syaikh Lemah Abang serta rumah para janda tua dan anak-anak yatim. Di depan Tajug Agung terhampar lapangan. Di kanan kiri dan belakang Tajug Agung terdapat beratus-ratus rumah yang berderet-deret hampir melingkari lapangan.

Dalam jarak sekitar setengah pal di selatan Tajug Agung berdiri tegak sanggar pamujan yang berdampingan dengan vihara. Seperti bangunan Tajug Agung, kedua bangunan suci warga beragama Hindu dan Budha itu dikitari puluhan rumah yang padat. Warga beragama Hindu dan Budha rajin datang ke situ untuk beribadah. Namun sungguh aneh, para pendeta Hindu dan Budha dari sanggar pamujan dan vihara sering terlihat datang ke rumah kecil di sisi kiri Tajug Agung yang merupakan jediaman Syaikh Lemah Abang. Jika malam menjelang mereka berbincang-bincang tentang berbagai hal dengan Syaikh Lemah Abang dan beberapa warga muslim Lemah Abang. Bahkan, dengan terang-terangan para pendeta itu mengaku sebagai siswa Syaikh Lemah Abang. Mereka mengakui bahwa Syaikh Lemah Abang adalah penuntun dan pembimbing mereka dalam meniti jalan ruhani.

Sementara itu, di bagian utara desa � dalam jarak sekitar satu pal dari Tajug Agung � terletak pasar desa. Hari pasar berlangsung sepekan sekali pada hari selasa. Pada hari itu pedagang tidak hanya menjual sayur-mayur, lauk-pauk, garam, gula, sirih, kacang, gambir, beras, terasi, dan lada, tetapi menjual juga bahan kain, sisir, kemenyan, kayu gaharu, cermin, peralatan dapur, gerabah, obat-obatan, hewan ternak, dan hasil kerajinan. Di sekitar pasar selain terdapat kedai-kedai yang menjual makanan juga terdapat kedai-kedai yang menjual roda pedati, tapal kuda, pelana, sabuk, cambuk, sabit, cangkul, dan terompah. Sementara di sebelah timur pasar terletak sederetan bangunan yang digunakan untuk kegiatan pande besi, pembuatan gerobak, keranjang, alat-alat dapur, dan bahkan penyamakan kulit.

Kesan padatnya pemukiman di Desa Lemah Abang yang disaksikan Tumenggung Limbar Kanchana menampak kuat manakala ia melihat lalu-lalang manusia yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Setiap hari seiring tersingkapnya cakrawala pagi, Desa Lemah Abang selalu diliputi suasana semarak dari para penghuninya yang memulai napas kehidupan sebagai penghuni bumi. Para petani yang berangkat ke sawah terlihat berjalan beriringan; memikul bajak, menuntun kerbau, memanggul cangkul, membawa sabit dan keranjang. Para tukang kayu, tukang batu, pembantu tukang, kuli angkut, terlihat sibuk mendirikan rumah dan bangunan lain. Para perajin, pande besi, peternak, dan pemilik warung tampak sibuk memulai kegiatannya. Desa Lemah Abang pada hari pasar terlihat jauh lebih semarak karena selain para pedagang dan buruhnya yang membawa barang dagangan dengan pedati, gerobak, atau pikulan terlihat pula iring-iringan warga dari desa-desa sekitar yang hendak berbelanja.

Dari lalu-lalangnya manusia di Desa Lemah Abang, terutama pada hari pasar, terlihat asal mereka dari aneka bangsa. Ada orang Sunda, Jawa, Melayu, Cina, Campa, dan Arab. Mereka tampil dengan gaya pakaian masing-masing. Meski demikian, yang terbesar di antara mereka adalah pribumi Sunda dan Jawa dari desa-desa sekitar Lemah Abang. Orang-orang Melayu, Cina, Campa, dan Arab lazimnya adalah warga Kuta Caruban yang datang ke Lemah Abang untuk berdagang.

Tumenggung Limbar Kanchana makin terheran-heran ketika mengamati penampilan warga Lemah Abang. Penampilan warga pribumi Lemah Abang sangat berbeda dengan seumumnya warga pribumi di desa-desa yang ada di Bumi Pasundan. Semua warga perempuan pribumi Lemah Abang baik orang Sunda maupun orang Jawa mengenakan kemben jika berada di luar rumah. Tumenggung Limbar Kanchana makin heran ketika diberi tahu warga bahwa di Lemah Abang berlaku peraturan yang melarang para perempuan keluar rumah tanpa mengenakan penutup dada sebagaimana lazimnya penampilan sehari-hari para perempuan pribumi. Peraturan itu tentu saja sangat aneh bagi masyarakat pribumi yang selama beribu-ribu tahun tidak pernah punya ketentuan untuk mengenakan pakaian penutup dada baik di kalangan keluarga kerajaan maupun kawula jelata.

Tumenggung Limbar Kanchana juga melihat keanehan cara berpakaian warga lelakinya. Laki-laki pribumi mengenakan kain yang menutupi tubuh mereka mulai sebatas pinggang hingga ke bagian bawah lutut jika berada di luar rumah. Selain itu, para laki-laki pribumi mengenakan destar. Mereka yang berambut panjang menggelung rambutnya ke dalam destar. Mereka yang menggunakan destar batik atau kain wulung adalah warga yang masih mengikuti agama leluhur. Sedangkan laki-laki berambut pendek, gundul, atau berambut panjang tetapi digulung ke dalam destar warna putih adalah warga Lemah Abang yang beragama Islam.

Selain mengenakan kain dan destar, laki-laki pribumi di Lemah Abang memiliki kebiasaan baru untuk menyelipkan golok di pinggang kiri mereka. Menurut keyakinan warga Lemah Abang, golok itu adalah lambang kehormatan seorang laki-laki yang sudah menyandang status suami. Golok tidak dimaksudkan untuk kepentingan lain kecuali untuk melindungi kehormatan seorang suami. Maksudnya, golok hanya akan digunakan jika ada orang jahat mengganggu kehormatan istrinya.

Kebiasaan baru lelaki pribumi Lemah Abang menyelipkan golok di pinggang kiri bermula dari pandangan baru yang menyatakan bahwa makhluk perempuan dicipta dari tulang iga kiri laki-laki. Karena itu, iga kiri laki-laki yang hilang dan menjelma menjadi perempuan itu harus dilindungi dengan golok. Barang siapa mengganggu atau merampas iga kiri laki-laki maka laki-laki itu wajib melindungi iga kirinya dengan golok. Dengan munculnya kebiasaan warga pribumi menyelipkan golok di pinggang kiri itu maka kebiasaan lama pribumi untuk menyelipkan keris pusaka di dada tidak lagi terlihat. Penampilan warga Lemah Abang benar-benar menjadi berbeda dengan penampilan seumumnya warga desa di Bumi Pasundan yang masih mengenakan cawat, rambut terurai tak bersisir, dan menyelipkan keris di dada.

Selain penampilan warganya yang aneh, Tumenggung Limbar Kanchana juga mendapati peraturan-peraturan yang berlaku di Lemah Abang pun sangat aneh dan tidak lazim. Dalam hal tabu, misalnya, ada larangan keras bagi seluruh warga untuk memakan daging anjing, tikus, katak, cacing, dan ulat. Larangan ini sangat aneh dan tidak lazim karena selama beratus-ratus tahun tabu itu hanya berlaku di lingkungan keluarga raja. Kini peraturan itu diberlakukan bagi warga desa. Bagi warga Lemah Abang yang beragama Islam diberlakukan larangan tambahan, yakni memakan daging babi. Sementara itu, meski tidak ada larangan memakan daging sapi, warga Lemah Abang membiasakan diri menyembelih kerbau untuk pesta dan perhelatan.

Larangan lain yang juga aneh dan tidak lazim yang wajib dipatuhi oleh seluruh warga adalah menjalankan upacara Ma-lima. Larangan itu, menurut Tumenggung Limbar Kanchana, pasti akan menimbulkan huru-hara jika diterapkan di tempat lain sebab upacara Ma-lima sudah menjadi bagian kehidupan warga di seluruh jengkal Bumi Pasundan.

Larangan lain di Lemah Abang yang tak kalah mengherankan bagi Tumenggung Limbar Kanchana adalah larangan menikah lebih dari satu istri jika alasannya semata-mata untuk memenuhi hasrat nafsu belaka. Pernikahan lebih dari satu istri sah dan bahkan dianjurkan jika memiliki alasan bersifat ruhani. �Jika engkau takut tidak bisa berbuat adil maka hendaknya engkau nikahi satu perempuan saja. Yang dimaksud adil adalah al-�Adl. Maksudnya, jika kiblat hati dan pikiranmu tidak bisa engkau arahkan kepada al-�Adl, yaitu Tuhan, maka janganlah engkau memiliki istri lebih dari satu. Sebab, jika engkau paksakan hasratmu sesungguhnya engkau telah terpedaya oleh bujuk rayu setan yang bersembunyi di dalam nafsumu,� ujar penduduk menirukan kata-kata Syaikh Lemah Abang.

Selain larangan-larangan aneh, Tumenggung Limbar Kanchana juga mendapati adanya peraturan yang bersifat keharusan bagi warga di Lemah Abang. Semua warga laki-laki diharuskan berlatih menunggang kuda dan memanah. Setiap sore secara bergantian semua warga lelaki berlatih menunggang kuda di lapangan yang terletak di timur Tajug Agung desa. Warga yang memiliki kuda meminjamkan kudanya untuk digunakan berlatih oleh warga yang belum memiliki kuda. Dengan adanya keharusan itu maka seluruh warga Lemah Abang sangat terampil berkuda dan memanah. Pada waktu-waktu tertentu mereka pergi ke hutan untuk berburu kijang. Kebiasaan menunggang kuda, memanah dan berburu yang berkembang di Lemah Abang benar-benar dianggap aneh dan bahkan kurang ajar oleh Tumenggung Limbar Kanchana, karena selama ini kebiasaan itu hanya berlaku di kalangan keluarga raja.

Dengan keterampilan berkuda dan memanah, warga Lemah Abang ternyata tidak hanya berburu, tetapi sering pula mengadakan acara lomba ketangkasan. Lomba diadakan tiga pekan sekali pada hari rabu. Pada hari itu warga dari desa-desa sekitar pun berduyun-duyun ke sana. Seiring semaraknya lomba ketangkasan berkuda dan memanah, kebiasaan warga pribumi menyabung ayam berangsur-angsur jarang dijumpai di desa-desa sekitar Lemah Abang.

Keanehan dan ketidaklaziman lain yang dijumpai di Lemah Abang, yang sempat membut marah Tumenggung Limbar Kanchana, adalah saat ia berbicara dengan warga. Tidak seperti lazimnya warga desa yang cenderung merendahkan diri dengan menggungkan bahasa yang halus untuk lawan bicaranya, orang-orang Lemah Abang berbicara apa adanya tanpa basa-basi. Bagaikan seorang raja berbicara dengan sesama raja, mereka dengan percaya diri tidak menyebut abdi atau kawula yang bermakna budak sebagai kata ganti diri, tetapi ingsun, yang bermakna aku. Tanpa peduli apakah yang diajak bicara itu bangsawan atau rakyat jelata, mereka selalu menggunakan kata ingsun.

Bahkan, Tumenggung Limbar Kanchana nyaris tidak dapat menahan amarah ketika mengetahui sikap warga Lemah Abang yang dengan lancang berani mengikrarkan kesepakatan untuk menolak kehendai siapa saja � termasuk raja dan maharaja � untuk mengambil anak-anak dan istri mereka. Mereka terang-terangan akan melawan punggawa kerajaan yang datang merampas anak-anak dan istri mereka.

Ketika Tumenggung Limbar Kanchana menelusuri lebih lanjut �kekurangajaran� warga Lemah Abang, terhenyaklah ia oleh cerita yang mengungkapkan khotbah Syaikh Lemah Abang tentang kerajaan. Rupanya, seluruh warga Lemah Abang sudah terhasut oleh khotbah itu. Mereka menganggap raja dan seluruh abdinya adalah para pendusta, pembohong, penipu. Puncak ketidakpahaman Tumenggung Limbar Kanchana tentang keanehan di Lemah Abang terjadi ketika ia diberitahu warga bahwa Ki Gedeng Karangsembung menduduki jabatan gedeng karena dipilih langsung oleh warga nagari, termasuk di dalamnya warga Lemah Abang. Akhirnya, dengan dada dan kepala dikobari api amarah ia kembali ke Galuh Pakuan dan menyampaikan semua yang disaksikannya kepada Prabu Surawisesa.

Mendapat laporan dari Tumenggung Limbar Kanchana yang memperkuat laporan Tumenggung Nara Wingkang, sadarlah Prabu Surawisesa bahwa di Lemah Abang telah terjadi percikan api yang membara di bawah permukaan, seibarat bara api menyala di dalam sekam. Prabu Surawisesa pun menangkap sasmita betapa bara api yang memercik di Lemah Abang itu pada gilirannya akan berkobar di Caruban Larang dan dipastikan makin lama akan semakin membesar, membakar seluruh Bumi Pasundan.

Read More ->>

Jumat, 20 Januari 2017

WILAYAH AL UMMAH

Wilayah al Ummah

Khotbah-khotbah yang disampaikan Abdul Jalil di Tajug Agung Lemah Abang sangat digemari oleh pendengarnya. Itu terlihat saat Abdul Jalil menyampaikan khotbah lanjutan pada hari berikutnya, jumlah pendengar makin berjejal-jejal memadati Tajug Agung dan tanah lapang yang terhampar di depannya. Warga dari pinggiran Kuta Caruban yang letaknya cukup jauh dari Lemah Abang pun berdatangan. Usai memimpin sembahyang isya, Abdul Jalil memulai khotbahnya. �

Selama berbilang abad telah ditanamkan ke dalam alam pikiran orang-orang beragama Islam bahwa yang disebut berhala adalah batu-batu, kayu-kayu pahatan, pohon keramat, gunung dan benda-benda alam yang disembah manusia. Selama beratus tahun telah diyakinkan kepada umat Islam bahwa para penyembah berhala adalah orang-orang sesat yang akan hidup celaka karena menyekutukan Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.�

�Tetapi malam ini aku katakan kepada kalian semua, o Saudara-saudaraku, bahwa sesungguhnya berhala yang paling menyesatkan dan berbahaya bagi kehidupan manusia adalah sebentuk makhluk jahat yang dipuja-puja dan disembah-sembah oleh sekalian manusia, termasuk di dalamnya umat beragama Islam. Dengan suaranya bergemuruh menggetarkan, makhluk jahat itu telah menjadi kiblat sesembahan baru umat manusia. Dengan bayangan dirinya yang kelam dan mengerikan, makhluk jahat itu dipertuhankan oleh manusia. Apakah nama makhluk jahat yang mengerikan itu? Dari mana makhluk itu berasal? Kejahatan apa yang telah dilakukannya?�

�Aku katakan kepadamu sekalian, o Saudara-saudaraku, bahwa yang disebut makhluk jahat yang disembah manusia itu tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah tatanan hidup manusia yang dinamakan kerajaan atau negara. Itulah tuhan baru. Itulah berhala baru. Itulah makhluk penyesat yang mengerikan. Ingat-ingatlah selalu ucapanku! Di antara berhala-berhala yang paling menyesatkan dan paling berbahaya bagi manusia-manusia beriman adalah makhluk bernama: Kerajaan! Kerajaan! Kerajaan! Negara!�

�Aku beritahukan kepada kalian bahwa yang disebut kerajaan atau negara sesungguhnya adalah makhluk berdarah dingin yang sangat haus darah. Dia makhluk pemangsa berjiwa ganas melebihi serigala yang paling buas. Dari manakah makhluk pemangsa ganas itu berasal? Kalian semua harus tahu bahwa jahat yang mengerikan itu merupakan monster ciptaan para pendusta. Rancangan para pembohong. Rekayasa para penipu. Ya, monster ciptaan para pendusta. Tahukah kalian siapa para pendusta itu? Mereka adalah manusia-manusia setengah binatang yang tubuh dan jiwanya tercipta dari bayangan makhluk paling mengerikan: Iblis.�

�Sesungguhnya para pendusta yang telah mencipta monster bernama kerajaan itu adalah makhluk-makhluk yang lemah dan tak berdaya. Mereka jauh lebih lemah daripada cacing-cacing penghuni tanah. Meski lemah, mereka memiliki akal yang jauh lebih licik dan lebih curang dibandingkan akal busuk serigala. Mereka juga memiliki suara geraman dan gonggongan yang lebih kuat dibanding anjing. Mereka memiliki pamrih yang jauh melebihi pamrih udang di balik batu. Mereka memiliki tubuh yang lebih licin dari belut. Mereka dapat terbang tinggi di angkasa laksana burung nazar pemakan bangkai. Mereka bahkan dapat mengubah-ubah warna kulit melebihi bunglon. Dan, yang membuat mereka menjadi kuat melebihi kekuatan harimau adalah kemampuan mereka untuk bersekongkol dalam kejahatan dengan sesamanya.�

�Tahukah kalian apa hasil persekongkolan makhluk-makhluk lemah berjiwa cacing, serigala, anjing, udang, burung nazar, belut, dan bunglon itu? Kerajaan! Negara! Itulah makhluk pemangsa ganas yang telah mereka cipta dalam persekongkolan yang menjijikkan. Para pendusta bersekongkol membuat dongeng-dongeng palsu yang berisi gantungan harapan bagi manusia. Mereka, para pendusta itu, mendongeng tentang pemangsa ganas bernama kerajaan sebagai tatanan ciptaan Tuhan yang bakal mendatangkan keadilan, kemakmuran, keamanan, kedamaian, keselamatan, dan kemuliaan bagi manusia yang patuh dan setia kepada pemangsa tersebut.�

�Sungguh aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa apa yang mereka dongengkan adalah dusta semua. Di balik dongeng-dongeng itu mereka memasang jerat yang bakal memerangkap setiap orang yang mempercayai dusta mereka. Kemudian, bagaikan kawanan laba-laba yang melihat mangsa terjerat ke dalam jaringan-jaring kepentingan pribadi yang ditebarnya, para pendusta itu akan memangsa siapa saja di antara manusia yang mempercayai kebohongan mereka. Sesungguhnya para pendusta itu makhluk yang lebih rakus, lebih serakah, lebih ganas, dan lebih mengerikan daripada laba-laba. Dengan dongeng-dongeng ciptaannya para pendusta mengendalikan makhluk bernama kerajaan yang mengerikan itu untuk mencabik-cabik kehidupan manusia yang percaya pada dongeng-dongeng mereka.�

�Dengan kerakusan, ketamakan, kelicikan, dan kecurangan tak terbayangkan, para pendusta itu bersekongkol atas nama kerajaan, atas nama negara. Dengan mulut-mulut yang najis mereka berkata kepada komplotannya: �Marilah kita satukan bahasa kita untuk menetapkan benar dan salah, baik dan buruk, pahlawan dan pengkhianat, anugerah dan hukuman, sah dan tidak sah, keadilan dan kezaliman. Bahasa lain yang tidak sesuai dengan kita hendaknya kita singkirkan sebagai bahasa yang rancu. Sesungguhnya, dengan bahasa kita itu, kitalah pemilik kebenaran atas nama negara.��

�Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, dengan bahasa persekongkolan itu para pendusta tengik akan menekuk lutut manusia untuk bersujud di hadapan makhluk ganas yang mereka cipta. Dengan bahasa hasil persekongkolan itu mereka menimbun harta benda dari manusia taklukkan. Kemudian, bagaikan monster kelaparan, mereka mengunyah dan memamah harta benda yang mereka timbun. Sungguh menjijikkan para pendusta itu bagiku. Sungguh najis mulut mereka itu. Apa pun yang keluar dari mulut itu, menurutku, akan ikut menjadi najis.�

�Lihatlah apa yang dilakukan para pendusta saat mereka menyusun tatanan salah dan benar, adil dan zalim, serta sah dan tidak sah dalam bahasa hukum mereka. Kalian akan menemukan bahwa kesalahan adalah hak para kawula, sementara raja dan keluarganya berdiri tegak di atas permadani ketidakbersalahan. Hukum hanya untuk kawula. Hukum tidak untuk raja dan pejabat negara. Itulah bahasa keadilan menurut mereka.�

�Lihatlah apa yang diperbuat para pendusta itu saat mereka sudah memiliki timbunan harta benda yeng mereka peroleh dari sisik, bulu, rambut, dan kotoran makhluk pemangsa ciptaan mereka. Lihatlah apa yang mereka lakukan ketika perut mereka sudah kembung berisi kotoran kerajaan yang najis. Lihatlah apa yang mereka lakukan ketika mereka sudah berkerumun di sekitar tonggak kekuasaan. Dengarkan apa yang mereka ucapkan dengan bahasa dustanya. Lihat! Dengar! Renungkan! Apa yang diperbuat para pendusta terkutuk itu di sana!�

�Di sekeliling tonggak kekuasaan itu mereka menyeringai dengan wajah monyet yang menjijikkan. Mereka memandang ke atas tonggak dengan mata serigala yang menyala penuh hasrat. Mulut mereka berbusa dan meneteskan liur menggelikan ketika menyaksikan gemerlap singgasana yang tergantung di atas tonggak bersalut emas. Mereka tidak kuasa menahan keinginan untuk tidak naik ke atas singgasana.�

�Lihat! Lihatlah para pendusta bermulut najis itu! Mereka bagaikan orang tidak waras berebut memanjat ke atas tonggak kekuasaan tempat singgasana gemerlapan tergantung. Lihat, mereka saling menginjak. Mereka saling menyikut. Saling menggigit. Mereka bahkan saling membunuh. Dan lihat, satu di antara para pendusta itu, yaitu dia yang paling kuat dan paling licik, akan sampai di atas singgasana. Dialah sang pemenang. Dialah sang raja yang berhak duduk di atas singgasana yang dikitari bangkai dan kotoran.�

�Raja yang duduk di atas singgasana itulah hasil persekongkolan para pendusta. Sang raja, menurut bahasa mereka, adalah penunggang dan pengendali makhluk pemangsa ganas bernama kerajaan. Kemudian, dengan bahasa dusta yang digunakannya, para pendusta itu berkata: �Lihatlah, Tuhan Yang Mahakuasa telah turun ke dunia sebagai raja. Dia turun dari langit dan duduk di atas singgasana emas dengan dikelilingi bidadari dan ruh suci para leluhur yang berkata-kata memuji sang raja: Jayalah Sang Raja! Kuduslah Sang Raja! Agunglah Sang Raja! Inilah Sang Raja yang duduk di atas takhta Kebenaran. Sang Raja yang berjalan di atas permadani ketidakbersalahan. Sang Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja yang agung dan mulia. Sang Raja yang menjadi pemilik segala sesuatu yang terhampar di atas bumi yang dikuasainya. Sang Raja yang wajib disembah dengan segala kepatuhan dan ketundukan. Ya, Sang Raja, jelmaan Tuhan di dunia.��

�Setelah yakin dusta yang dibangun kaumnya dipercaya banyak manusia maka dengan raungan mengerikan sang raja yang menunggangi makhluk pemangsa mengerikan bernama kerajaan itu bertitah: �Akulah yang teragung dan termulia di antara segala raja. Akulah titisan Tuhan di jagad raya. Karena itu, berlutut dan bersujudlah kalian menyembah aku! Barang siapa di antara para kawula yang menghadap raja tidak berlutut, tidak bersujud, dan tidak menyembah akan dipenggal kepalanya.��

�Aku katakan kepada kalian, semua itu adalah kepalsuan yang dirancang para pendusta dengan mengatasnamakan keberadaan kerajaan sebagai ketentuan Tuhan. Aku katakan bohong dan dusta kata-kata mereka itu. Sebab, apa yang mereka katakan sangatlah bertentangan dengan kenyataan akan asma� dan shifat Tuhan.�

�Sejak zaman awal hingga akhir nanti Dia, Yang Maha Merajai (al-Malik), tidak pernah ingkar janji dan tidak pernah menyimpang dari asma� dan shifat-Nya. Jika Dia mewajibkan hamba-Nya untuk patuh, tunduk, dan setia kepada-Nya maka Dia akan melimpahkan semua anugerah yang tak terbayangkan kepada hamba tersebut, baik di dunia maupun di akhirat. Hamba-hamba yang tunduk, patuh, dan setia akan dianugerahi-Nya pangkat takwa. Mereka akan dimuliakan dan diagungkan sepanjang masa.�

�Sementara itu, jika kalian mempercayai dongengan para pendusta, dengan menganggap raja-rajamu sebagai jelmaan al-Malik di dunia, justru kesengsaraan dan kehinaan yang terbukti engkau terima. Ketundukan, kepatuhan, dan kesetiaanmu sebagai hamba dari raja-rajamu tidak mendatangkan manfaat apa-apa bagimu kecuali penderitaan. Sebab, engkau yang tunduk, patuh, dan setia kepada rajamu akan ditempatkan sebagai hamba sahaya yang selalu hidup dalam keadaan kekurangan, tertindas, teraniaya, dan dizalimi. Raja-rajamu dengan semena-mena bisa bebas merampas harta benda milikmu, bahkan merampas nyawamu. Engkau sekalian tidak diperkenankan memiliki sesuatu melebihi rajamu. Engkau ditempatkan dalam keadaan serba kekurangan, sedangkan rajamu dalam kelimpahruahan.�

�Penderitaan dan kesengsaraan kalian sebagai kawula akan semakin berat dan tidak tertanggungkan ketika kalian dikuasai raja-raja yang gemar berperang. Saat makhluk pemangsa bernama kerajaan itu ditunggangi untuk menyerang makhluk pemangsa lain, yang paling menderita adalah kalian: kawula. Rumah kalian dibakar. Harta benda kalian dijarah. Anak-anak kalian dirampas untuk dijadikan budak. Nyawa kalian pun akan dirampas oleh makhluk pemangsa yang bertarung. Sehingga, sejak zaman purwakala hingga sekarang, sesungguhnya, kalian selalu jatuh di bawah kekuasaan makhluk pemangsa satu ke makhluk pemangsa yang lain. Karena itu, o Saudara-saudaraku, salahkah aku jika mengatakan dengan jujur bahwa raja-raja yang menyatakan jelmaan Tuhan di dunia ini adalah pendusta besar? Salahkah aku jika menggambarkan keberadaan kerajaan sebagai makhluk pemangsa yang paling ganas?�

�Sekarang jelas sudah bagi kalian semua bahwa kepercayaan terhadap dongeng-dongeng tentang raja dan kerajaan yang dirancang para pendusta itu harus diakhiri. Jangan didengar lagi mulut-mulut najis mereka yang menebarkan janji palsu tentang kemakmuran dan keadilan dari makhluk mengerikan yang mereka sebut kerajaan, tunggangan raja-raja yang dikelilingi oleh para pendusta untuk memuaskan nafsu rendah mereka. Sebab, raja dan para pendusta itu adalah manusia berjiwa laba-laba ganas yang selalu merancang siasat untuk menjerat manusia-manusia berjiwa keledai, unta, kuda beban, sapi perah, kerbau, dan anjing peliharaan untuk dijadikan mangsanya.�

�Jika kalian masih percaya dengan ucapan para pendusta itu, sesungguhnya selama ini kalian semua telah memakan dusta para pendusta. Kalian telah terpesona karena para pendusta itu telah memperlihatkan kalian sebuah tontonan menakjubkan tentang sang raja yang duduk di atas singgasana emas bertabur permata. Kalian takjub melihat takhta itu memancarkan kilau indah gemerlapan karena diterangi lampu-lampu yang bercahaya. Kalian terbius karena singgasana itu tegak di tengah kepulan dupa dan kayu gaharu yang wangi. Kalian terheran-heran menyaksikan berderet-deret pejabat dan pendeta peliharaan raja. Kalian terperangah menyaksikan para penari jelita yang melenggak-lenggok di depan sang raja. Sungguh agung dan mulia tontonan itu. Betapa megah dan mewah tontonan itu.�

�Aku tidak menyalahkan kalian yang terpesona oleh tontonan para pendusta itu. Aku hanya meminta, jika kalian adalah orang-orang bijak maka hendaknya kalian bertanya kepada diri: di dalam tontonan yang menakjubkan itu, sesungguhnya di manakah letak kedudukanku? Jika pertanyaan tentang kedudukan diri sudah kalian ajukan maka kalian pun akan segera tahu jawabannya, yaitu kalian akan berkata begini: aku adalah kawula kerajaan. Aku adalah hamba sahaya sang raja. Sebagia kawula, kedudukanku di dalam tontonan agung itu tidak lebih dari sekedar batu-batu pajangan yang hidup tidak mati pun enggan. Batu-batu pajangan yang bisa menyaksikan sang raja berjalan, berlatih memanah, menunggang kuda, berburu, dan menerima sanjungan serta pujian dari kawulanya. Batu-batu pajangan yang setiap saat merelakan dirinya dijadikan alas pijakan para pendusta. Ya, batu-batu pajangan yang dianggap tak bernyawa.�

�Sekarang ini, o Saudara-saudaraku, aku beritakan kepada kalian bahwa telah datang zaman baru sehingga tontonan megah dan mewah ciptaan para pendusta itu harus ditinggalkan. Pada zaman baru ini orang-orang harus berkata: �Jangan percaya lagi kepada para pendusta yang mengatakan dirinya abdi raja, abdi negara, hamba hukum, nayakapraja, punggawa, dan pahlawan kerajaan. Jangan percaya ucapan mereka karena mulut mereka najis. Jangan percaya pada janji-janji mereka karena semuanya mengalir dari mulut yang najis.�

�Kenapa aku katakan mulut-mulut najis? Sebab, lidah mereka palsu. Gigi mereka palsu. Bibir mereka palsu. Bahkan tenggorokan, jantung, limpa, dan usus mereka pun palsu. Itu sebabnya, kata-kata yang keluar dari mulut mereka palsu semua. Demikianlah, Kebenaran sesungguhnya tentang para pendusta itu.�

�Dengan memahami kepalsuan tubuh dan jiwa para pendusta yang bersekongkol mencipta makhluk pemangsa jahat bernama kerajaan, bukan berarti kalian memiliki hak untuk mencela dan menista mereka. Aku katakan bahwa kalian tidak punya hak mencela dan menista, karena makhluk jahat ciptaan mereka itu memang merupakan bagian dari kodrat kehidupan di dunia. Ibarat kawanan laba-laba bebas menebar jaring untuk mencari mangsa, begitulah para pendusta itu bebas menebar kebohongan dan janji palsu untuk memerangkap orang-orang lemah dan bodoh yang mempercayai dusta mereka. Sesungguhnya, hanya mereka yang sudah ditundukkan oleh nafsu rendah badani jua yang akan menjadi kawula taklukan pemangsa jahat bikinan para pendusta itu.�

�Kepada kalian, o adimanusia-adimanusia yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi, diwajibkan bagi kalian untuk sadar diri dan tidak mempercayai dusta yang dibangun para pendusta. Ketika kalian meyakini kebenaran yang dibangun para pendusta sehingga menjadikan kalian tunduk dan patuh, berlutut dan bersujud kepada makhluk jahat bernama kerajaan itu maka �telunjuk Sang Kebenaran akan ditudingkan ke arah kalian dengan tuduhan: musyrik!��

�Jika sebelum ini, para �alim yang menjadi pemimpin kalian mengatakan: jangan berlutut dan bersujud kepada batu-batu dan kayu-kayu yang dipahat! Maka sekarang aku katakan: Jangan kalian berlutut dan bersujud kepada raja-rajamu! Jangan menyembah raja-rajamu seperti engkau menyembah Tuhanmu. Sesungguhnya, makhluk pemangsa jahat bernama kerajaan yang ditunggangi sang raja itu adalah berhala baru yang bakal menyesatkan kalian dari jalan Kebenaran Sejati.� �

Wahai Saudara-saudaraku, ingat-ingatlah selalu akan apa yang aku ajarkan. Kendati begitu, tidak lagi mempercayai dongeng-dongeng tentang kerajaan yang dirancang para pendusta bukan berarti kalian harus hidup tanpa pemimpin. Sesuai fitrah makhluk hidup di jagad raya, tiap-tiap puak di antara makhluk ciptaan Ilahi selalu memiliki pemimpin. Tetapi, bagi adimanusia-adimanusia, wakil Allah di muka bumi, kepemimpinan bukanlah seperti kepemimpinan margasatwa. Kepemimpinan adimanusia adalah kepemimpinan yang benar-benar mencerminkan pengejawantahan kewakilan Sang Pencipta.�

�Akan kukatakan kepada kalian tentang kepemimpinan yang benar dan yang sesuai untuk adimanusia yang berkedudukan sebagai wakil Allah di muka bumi. Sesungguhnya masing-masing manusia secara fitrah memiliki �kuasa-kuasa kodrati� yang memancar dari asma�, shifat, dan af�al-Nya, Yang diwakilinya. Tiap-tiap manusia sesungguhnya memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin karena kedudukannya sebagai wakil Yang Maha Merajai di muka bumi (khalifah al-Malik fi al-ardh).�

�Sebagaimana raja-raja dunia yang kalian kenal, sesungguhnya tiap-tiap kalian memiliki �kuasa-kuasa kodrati� untuk dimuliakan, karena dia adalah pancaran keterwakilan Yang Mahamulia di muka bumi (khalifah al-Azaiz fi al-ardh). Demikian pun, tiap-tiap manusia secara fitrah memiliki kuasa-kuasa kodrati� untuk hidup di atas landasan hukum, karena dia adalah wakil Yang Maha Menetapkan Hukum (khalifah al-Hakam fi al-ardh).�

�Tetapi, ibarat benih yang ditabur di atas tanah, masing-masing manusia harus berjuang melampaui keterbatasannya untuk mewujudkan keberadaan citra dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi. Dan, seperti yang pernah aku ajarkan kepada kalian, jalan menuju citra adimanusia yang sempurna adalah laksana rentangan antara binatang � manusia � adimanusia yang wajib dilampaui. Maka, begitulah hendaknya masing-masing manusia wajib melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaannya agar mencapai kedudukan adimanusia yang sempurna.�

�Hanya mereka yang sudah melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaan hingga menjadi adimanusialah yang pantas memimpin manusia lain. Itu berarti, hanya adimanusia yang dapat melepaskan semua pamrih pribadi untuk berkhidmat kepada tugasnya sebagai wakil Allah di muka bumi yang layak menjadi pemimpin manusia. Dan cermin terbaik dari adimanusia yang kumaksudkan adalah citra diri Nabi Muhammad Saw. dengan keempat sahabat penggantinya, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib. Merekalah adimanusia yang hendaknya dijadikan kiblat dan rujukan keteladanan dalam memimpin manusia.�

�Lihatlah citra kehidupan Nabi Muhammad Saw., sang penyampai Kebenaran, guru, dan pemimpin manusia. Beliaulah sang adimanusia yang dengan tegas menolak jabatan raja, istri cantik, dan harta kekayaan dengan berkata begini: �Andaikata rembulan ditaruh di bahu kananku dan matahari ditaruh di bahu kiriku, niscaya aku tidak akan meninggalkan tugasku.� Ya, itulah citra adimanusia, yang tidur beralaskan anyaman daun kurma dan menambal pakaian dengan tangannya sendiri. Itulah citra adimanusia yang menguasai Jazirah Arabia dan Baitul Mal, namun saat wafat tidak meninggalkan warisan apa-apa kecuali Kitab Allah dan keteladanan hidup.�

�Sekali lagi aku katakan kepada kalian bahwa hanya adimanusia yang tercitrakan pada diri Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat itulah manusia yang boleh menjadi pemimpin para manusia sempurna. Mereka yang masih berada pada kedudukan manusia, apalagi binatang, diharamkan menjadi pemimpin manusia. Sebab, tidak akan ada yang bisa diperbuat oleh seekor binatang di atas singgasananya, kecuali memenuhi perutnya dengan daging mentah dari mayat-mayat yang dimangsanya dan membasahi tenggorokannya dengan darah.�

�Sesungguhnya, seorang adimanusia yang sudah melampaui kemanusiaannya dan menduduki derajat wakil Allah di muka bumi adalah manusia sempurna yang mewakili citra asma�, shifat, dan af�al Allah. Itu sebabnya, ketika ia menjadi pemimpin manusia, sesungguhnya ia merupakan pengejawantahan Yang Maha Merajai (al-Malik), Yang Mahaagung (al-Azhim), Yang Mahaadil (al-�Adl), Yang Mahabijaksana (al-Hakim), Yang Mahabenar (al-Haqq), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Maha Terpuji (al-Hamid), Yang Mahakaya (al-Ghaniyy), Yang Mahakuasa (al-Qadir), Yang Maha Menentukan (al-Muqtadir), Yang Maha Pemurah (ar-Rahman), Yang Maha Pengasih (ar-Rahim), Yang Maha Pengampun (al-Ghafur), serta semua asma� dan shifat Ilahi yang lain.�

�Semua atribut Ilahiyyah yang telah aku sebutkan sesungguhnya tidak akan pernah akan bisa memancarkan citra diri-Nya pada manusia pecinta bumi dan kebendaan. Sebab, pecinta bumi dan kebendaan adalah orang-orang yang masih berada pada bentangan kebinatangan dan kemanusiaan. Aku katakan kepada kalian bahwa sungguh telah berdusta orang-orang yang mengatakan bahwa raja-raja pecinta kebendaan dan pengumbar nafsu syahwat itu adalah jelmaan Tuhan di muka bumi. Aku katakan dusta terhadap mereka yang mengatakan para penimbun harta benda sebagai wakil Allah di muka bumi. Dan, karena kalian adalah murid-muridku maka hendaknya kalian meninggalkan para pendusta itu. Jauhi mereka.�

�Jika kalian bertanya kepadaku bagaimana orang-seorang bisa menjadi pemimpin di antara sesamanya? Maka, aku katakan: kepemimpinan manusia atas manusia lain hanya mungkin terjadi dengan benar jika didasarkan pada kerelaan manusia lain untuk memberikan haknya demi memilih orang seorang yang dipercaya dapat membawa mereka kepada jalan kesejahteraan, keadilan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan. Maksudku, sebagai wakil Yang Maha Merajai di muka bumi, sesungguhnya masing-masing manusia memiliki �kuasa-kuasa kodrati� untuk memimpin. Tetapi �kuasa-kuasa kodrati� itu sangatlah lemah dan kecil pada masing-masing orang. Karena itu, masing-masing pribadi wakil al-Malik di muka bumi harus dengan rela hati mendelegasikan kewakilan dirinya sebagai wakil al-Malik kepada orang seorang yang dipercayanya untuk memimpinnya ke jalan yang benar.�

�Maksudku, dengan asas kerelaan masing-masing wakil al-Malik untuk mendelegasikan haknya kepada orang seorang maka seorang pemimpin manusia wajib muncul berdasarkan pilihan masing-masing wakil al-Malik. Pemimpin manusia wajib didasarkan atas pilihan. Itu sebabnya, aku katakan telah berdusta orang-orang yang menyatakan bahwa kepemimpinan itu harus berdasarkan asas keturunan darah, suku, warna kulit, bahasa, dan agama.� �

Kalian bukan lagi kawula dari raja. Kalian adalah suatu kabilah. Maka hendaklah kalian memilih salah seorang di antara kalian sendiri sebagai pemimpin kabilah. Sesungguhnya, pemimpin kabilah adalah salah seorang di antara kalian yang mendapat kepercayaan dari warga kabilahnya. Dia dipilih dan dikukuhkan oleh warga kabilah dengan tujuan untuk membawa anggota-anggota kabilah yang dipimpinnya ke arah kesejahteraan, keadilan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan.�

�Jika kalian bertanya disebut apakah kedudukan seorang pemimpin kabilah? Maka, karena kabilah adalah kumpulan manusia di suatu nagari yang terdiri atas beberapa desa, hendaklah pemimpin kabilah itu disebut wali nagari. Jika kalian bertanya kenapa disebut wali nagari dan bukan kepala nagari? Aku katakan kepada kalian, karena sebutan �kepala nagari� bisa bermakna suatu kedudukan yang didasarkan atas asas keturunan. Sedangkan sebutan wali, yang diambil dari kata Arab al-Waly, memiliki makna penguasa, pelindung, dan sahabat yang didasarkan pada asas keterpilihan.�

�Sebagaimana kedudukan Wali Allah dalam makna ruhani yang berarti suatu kedudukan orang seorang yang �dipilih� Allah untuk menjadi sahabat atau kekasih-Nya, demikianlah wali nagari adalah penguasa dan pelindung nagari yang dipilih oleh sahabat-sahabat yang mengasihinya. Itu berarti, seorang wali nagari selain menjadi penguasa dan pelindung nagari, juga menjadi sahabat kabilah yang memilihnya. Dan sebagaimana ketentuan yang digunakan Allah dalam memilih hamba-Nya untuk didudukkan pada derajat Wali Allah, seorang wali nagari hendaknya memiliki derajat ruhani yang lebih tinggi dibandingkan manusia di sekitarnya. Ukuran yang paling sederhana untuk menilainya adalah dengan melihat keterikatan orang-seorang terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu. Itu berarti, semakin kuat keterikatan orang seorang terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu rendah badani maka semakin tidak layak orang tersebut dipilih menjadi wali nagari.�

�Jika pemimpin-pemimpin dari kabilah-kabilah yang disebut wali nagari sudah terbentuk maka menjadi tugas mereka untuk memilih pemimpin bagi seluruh kabilah yang disebut ra�yat atau masyarakat ummah. Pemimpin ra�yat atau masyarakat ummah itulah yang disebut wali al-Ummah, yang bermakna penguasa, pelindung, dan sahabat masyarakat ummah.� �

Karena citra wali al-Ummah adalah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan dilanjutkan oleh keempat sahabatnya maka kedudukan wali al-Ummah bercermin dan melanjutkan tradisi khulafa� ar-rasyidin, sehingga seorang wali al-Ummah hendaknya kalifah ar-rasul sayyidin panatagama. Kenapa pemimpin masyarakat ummah harus disebut kalifah ar-rasul sayyidin panatagama dan bukan sultan atau amir? Sebab, pemimpin masyarakat ummah adalah cerminan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan keempat kalifah sahabatnya.�

�Sesungguhnya, di balik sebutan kalifah ar-rasul sayyidin panatagama terkandung makna ruhani yang lebih dalam dibandingkan dengan sebutan sultan atau amir. Sebab, sebutan kalifah merujuk pada khilafah (kekuasaan), imamah (kepemimpinan ummah), dan wilayah (kewalian). Itu sebabnya, seorang kalifah adalah penguasa sekaligus imam ruhani. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan keempat penggantinya, demikianlah hendaknya pemimpin masyarakat ummah menjalankan tugasnya sebagai penguasa duniawi sekaligus imam bagi masyarakat ummah yang dipimpinnya.�

�Oleh karena kiblat yang dijadikan cerminan seorang kalifah ar-rasul sayyidin panatagama adalah Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat maka sesungguhnya sangatlah sulit mendapatkan adimanusia seperti itu. Sebab, sang adimanusia calon kalifah ar-rasul sayyidin panatagama bukan sekadar manusia yang telah mampu melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaannya. Dia, sang adimanusia itu, hendaknya juga memahami hukum suci Ilahi (syari�at), ilmu siyasah, ilmu pemerintahan, ilmu hikmah, dan yang lainnya.� �

Lantaran ketentuan ini sangat berat maka sampai saat ini aku belum tahu siapa di antara orang-orang yang aku kenal di bumi Caruban Larang ini yang layak untuk ditunjuk dan dipilih bersama sebagai kalifah ar-rasul sayyidin panatagama. Tetapi, aku yakin dia akan muncul tak lama lagi di antara kita. Ya, dia yang dengan sukarela melepaskan seluruh ikatan dunia untuk berkhidmad kepada tugasnya sebagai wakil Allah di muka bumi itu tidak lama lagi akan kita ketahui keberadaannya.�

�Jika di antara kalian ada yang bertanya apakah kata-kata yang aku ucapkan tentang kedatangan pemimpin masyarakat ummah itu dianggap nubuah atau ramalan gaib? Aku katakan kepada kalian yang bertanya bahwa akal dan hati nuraniku berbicara begini: �Perubahan kehidupan manusia dari gelap ke arah terang selalu ditandai oleh munculnya cahaya agung kemanusiaan laksana matahari terbit pada pagi hari.� Itu sebabnya, di tengah-tengah kegelapan kemanusiaan yang meliputi Bumi Caruban Larang ini, aku yakin akan muncul cahaya agung itu. Hanya saja, karena cahaya itu bersinar terlalu terang, sering kali mata kita tidak mampu melihatnya dari dekat.�

�Dengan segala pertanda dan isyarat yang telah kusampaikan tentang bagaimana seharusnya seseorang layak dipilih menjadi kalifah ar-rasul sayyidin panatagama, maka aku meminta kepada kalian untuk mengamati secara cermat dan jernih tentang siapa di antara manusia di Caruban Larang ini yang memenuhi syarat-syarat itu. Jika di antara kalian ada yang mengetahui siapa yang citra hidupnya paling mirip dengan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat, maka dialah yang layak menduduki jabatan kalifah ar-rasul sayyidin panatagama.�

Read More ->>

KHOTBAH PEMBAHARUAN

Khotbah Pembaharuan

Ketika Abdul Jalil kembali ke Lemah Abang dengan diikuti Abdul Malik Israil, Ballal Bisvas, Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, Raden Qasim, Abdurrahman Rumi, dan Abdurrahim Rumi, ia sangat terkejut menyaksikan tempat yang ditinggalkannya tak lebih dari dua bulan itu sudah berubah menjadi desa hunian yang ramai. Tajug Agung dengan tujuh rumah di kanan dan kirinya, yang merupakan hunian pertama di Lemah Abang, tiba-tiba sudah dikepung oleh ratusan rumah dengan beberapa warung dan pasar desa. Ia masih terheran-heran ketika wajah-wajah baru penghuni Lemah Abang dengan penuh hormat menyambut kedatangannya dan menyatakan diri sebagai muridnya. Dengan sangat takzim mereka memanggil Abdul Jalil dengan sebutan baru: Syaikh Lemah Abang (Tuan Guru dari Lemah Abang).

Usai memimpin sembahyang berjama�ah di Tajug Agung, Abdul Jalil menanyakan kepada murid-muridnya tentang perubahan di Lemah Abang yang begitu mengejutkan. Para murid pun kemudian menuturkan bagaimana perubahan menakjubkan itu terjadi. Meski awalnya heran, dengan penjelasan para muridnya, Abdul Jalil akhirnya memahami kenapa desa yang dibukanya bisa berkembang begitu pesat dan menakjubkan.

Ternyata kunci pertumbuhan pesat Lemah Abang itu terletak pada kebijakan Abdul Jalil sendiri yang menghibahkan tanah kepada siapa saja yang berhasarat tinggal di tempat baru itu. Dalam waktu kurang dari sebulan sejak ia berkeliling ke pedalalman Bumi Pasundan, tutur para murid, tak kurang dari delapan puluh kepala keluarga datang ke Lemah Abang. Mereka mendirikan rumah di sekitar Tajug Agung dan mengubah padang alang-alang untuk dijadikan lahan partanian. Dan jumlah itu terus bertambah dari waktu ke waktu.

Abdul Jalil sendiri sesungguhnya sudah memperkirakan kebijakannya membagi-bagikan tanah anugerah dari Sri Mangana akan disambut gembira oleh para kawula Caruban Larang yang belum mengenal hak kepemilikan. Namun, ia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan sambutan begitu gegap gempita sehingga dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak desa litu dibuka dan pernyataan hibah itu disebarluaskan, Lemah Abang talah menjadi desa ramai yang dihuni oleh sekitar seribu warga dengan jumlah rumah sekitar dua ratus empat puluh. Seluruh tanah yang dihibahkan dengan jumlah dua ratus jung (560 hektar) itu sufah habis tanpa sisa. Menurut para murid, beberapa warga baru yang tinggal di selatan pasar desa tidak kebagian tanah garapan.

Setelah mengetahui seluk beluk perkembangan Lemah Abang, malam itu juga usai memimpin sembahyang isya, Abdul Jalil berkhotbah di depan warga yang meluber hingga ke teras dan halaman Tajug Agung. Dengan penampilan yang memesona Abdul Jalil berkata, �Sekarang ini aku katakan kepada engkau sekalian, o warga baru Lemah Abang, yang mengikrarkan diri sebagai murid-muridku. Hal pertama yang wajib kalian ingat sebagai murid adalah mengikuti ajaran-ajaran yang aku sampaikan dengan baik dan penuh kepatuhan. Pelajaran pertama dariku yang harus benar-benar kalian pahami serta kalian jadikan amaliah dalam kehidupan sehari-hari adalah memegang teguh ajaran tentang hakikat manusia dan tatanan hidup yang layak baginya. Apakah kalian semua bersedia untuk menerima ajaranku itu?�

Bagikan gemuruh suara ribuan lebah, warga serantak menyatakan kesediaan untuk menerima, mematuhi, dan mengamalkan ajaran yang akan disampaikan oleh Syaikh Lemah Abang. Setelah suara gaduh berlangsung beberapa bentar, keadaan tenang kembali. Abdul Jalil kemudian melanjutkan khotbah.

�Pertama-tama, yang wajib kalian ketahui adalah ajaranku tantang manusia. Sebagai murid-muridku, kalian wajib memiliki keyakinan utama bahwa sejak manusia lahir di dunia yang fana ini tiap-tiap pribadi memiliki fitrah keagungan dan kemuliaan sebagai makhluk paling sempurna keturunan Adam a.s.. Sebagai makhluk paling sempurna yang disebut adimanusia (al-insan al-kamil), kalian semua dicipta oleh Allah dengan maksud dijadikan wakil-Nya di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).�

Sesungguhnya rahasia agung di balik kesemmpurnaan adimanusia terletak pada kenyataan bahwa di dalam tubuh manusia yang terbuat dari tanah liat tersembunyi ruh bersifat Ilahiyyah yang ditiupkan oleh Allah saat penciptaan manusia pertama. Oleh karena adanya tiupan ruh itu maka makhluk yang sudah dicipta lebih dahulu, yaitu para malaikat, serentak sujud kepada manusia pertama tersebut, yakni Adam a.s.. Iblis, makhluk yang dicipta lebih dahulu dari Adam a.s., tetapi tidak mengetahui tentang tiupan ruh tersebut, menolak sujud. Iblis menganggap Adam a.s. hanyalah makhluk rendah yang terbuat dari anasir tanah belaka. Lantaran sikapnya yang keras mengingkari keagungan dan kemuliaan Adam a.s., Iblis dimurkai dan dilaknati Allah (QS Shad: 71 � 8 ).�

�Jika di dunia ini kalian menemukan ajaran, aturan, pandangan, dan tindakan dari orang seorang yang mengingkari keagungan dan kemuliaan manusia maka itulah cerminan dari sifat Iblis yang terkutuk. Jika kalian mendapati ada ajaran yang menista manusia sebagai makhluk rendah yang tubuhnya terbuat dari daging yang bakal membusuk dan karenanya harus direndahkan maka itulah ajaran Iblis. Jika kalian menemukan ada manusia yang suka merendahkan dan menista sesamanya maka itulah manusia Iblis. Pendek kata, apa pun yang terkait dengan penghinaan dan penistaan atas hakikat manusia adalah bertentangan dengan ajaranku.�

�Dengan memahami keyakinan bahwa manusia adalah wakil Allah di muka bumi, maka hal pertama yang harus disadari oleh setiap manusia yang mengaku muridku adalah membiasakan diri untuk selalu menyatakan ikrar bismillah (dengan atas nama Allah) dalam setiap gerak kehidupan yang dijalankannya. Dengan selalu menyatakan ikrar bismillah dalam memulai segala pekerjaan seperti makan, minum, mandi, bersolek, berpakaian, memasak, berjalan, menaiki kendaraan, bergaul dengan istri, membaca kitab, bahkan saat hendak tidur maka kalian akan selalu ingat dan sadar bahwa kalian adalah wakil Allah di dunia ini. Sementara itu, dengan melengkapi ucapan bismillah menjadi bismillahirrahmanirrahim (dengan atas nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang), maka kalian akan selalu ingat dan sadar diri bahwa kalian adalah wakil Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang di muka bumi (khalifah ar-Rahman wa ar-Rahim fi al-ardh). Itu berarti, kalian akan selalu ingat bahwa dalam kehidupan di dunia ini kalian wajib menjadi manusia yang memiliki sifat pemurah dan penyayang sebagaimana sifat Dia yang kalian wakili. Sehingga, dengan selalu ingat akan itu, kalian tidak akan berbuat aniaya di muka bumi ini.�

�Tetapi, keyakinan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna belum cukup untuk membuktikan keagungan dan kemuliaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Karena, ruh bersifat Ilahiyyah yang ada pada diri manusia banyak yang tidak kuat menanggung beban yang dipikulkan oleh nafsu rendah badani manusia. Ruh suci yang bersemayam di dalam diri manusia banyak yang tak berdaya menghadapi kuasa nafsu badani manusia yang rendah. Ruh suci yang tersembunyi di dalam hakikat manusia banyak yang terperangkap di dalam jaring-jaring kejahilan yang dicipta oleh nafsu rendah badani manusia.�

�Tahukah kalian apakah nafsu rendah badani manusia itu? Nafsu rendah badani manusia adalah jiwa manusia yang cenderung berhasrat kuat mencintai kebendaan. Akibat kecenderungannya itu maka dia bertekuk lutut di hadapan manusia lain sambil berkata, �Bebanilah punggungku dengan kebohongan-kebohongan dan janji-janji palsu, o Tuanku, agar aku dengan penuh sukacita dapat memamerkan kesetiaanku kepada Tuan yang bisa memberiku sekadar makanan dan benda-benda. Sesungguhnya aku adalah jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda beban yang akan menderita sakit jika punggungku tidak Tuan bebani. Tubuhku akan merasa remuk dan aku malas bekerja jika Tuan belum menderaku dengan cambuk. Telingaku akan tuli dan jiwaku akan merana jika Tuan belum mencacimakiku dengan hinaan.�

�Sesungguhnya nafsu rendah badani manusia selalu berubah-ubah sesuai ruang dan waktu di mana ia berada. Jika di berbagai negeri mereka selalu mengaku sebagai jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda, jiwa kuda beban yang selalu ingin memikul beban, maka di Bumi Pasundan dan Majapahit mereka cenderung berkata begini, �Pasanglah kuk penarik bajak atau pedati yang terbuat dari kebohongan dan janji palsu di punggungku, o Tuanku, agar aku dapat membuktikan pengabdianku kepada Tuan yang memberiku kandang dan pangan sekadarnya. Sesungguhnya aku adalah jiwa kerbau, jiwa kuda penarik kereta, jiwa sapi perah, dan jiwa anjing peliharaan yang akan menderita jika tidak menjalankan tugasku sesuai perintah Tuan. Dera tubuhku dengan cambukmu agar aku menjadi giat bekerja. Perah susuku agar aku menjadi sehat sentosa.� �

Wahai saudara-saudaraku, warga Lemah Abang yang mengaku murid-muridku, apakah engkau sekalian ingin selamanya menjadi makhluk rendah pembawa beban seperti keledai, unta, kuda beban, kerbau? Inginkah kalian selamanya berlutut di depan manusia lain dengan beban di punggung? Inginkah kalian selamanya menerima deraan, caci-maki dan hinaan dari sesamamu?� �

Sebagai guru di antara manusia aku ajarkan kepada kalian bahwa Adam a.s. tidak diciptakan oleh Allah untuk tujuan menjadi keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan bagi makhluk lain. Adam a.s., leluhurmu, diciptakan oleh Allah menjadi wakil Allah di muka bumi. Adam a.s. diciptakan untuk diagungkan dan dimuliakan oleh makhluk lain.� �

Dengarlah, o Saudara-saudaraku, aku katakan kepada kalian bahwa sejak saat ini kalian harus berani memulai perlawanan terhadap kekuasaan nafsu rendah badani manusia yang bersemayam di dalam dirimu sendiri. Lawanlah hantu buruk rupa dari nafsu rendah badani kalian itu. Siram wajahnya yang dipulas bedak kebohongan dan gincu kepalsuan itu dengan air keberanian yang mengalir dari sungai kebenaran. Biarkan dia malu dengan wajahnya yang buruk penuh pulasan itu. Sesungguhnya nafsu badani yang mencengkeramkan kuku tajamnya yang beracun itu adalah hantu yang selalu menakut-nakuti dirinya sendiri. Karena itu, bentangkan cermin kebenaran di dalam jiwamu dan hadapkan ke wajahnya agar ia malu melihat gambar dirinya sebagai keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan.�

�Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, sesungguhnya hal yang paling ditakuti oleh nafsu rendah badani adalah cermin kebenaran dan udara kebebasan. Sebab, jiwa sejati dari nafsu rendah badani adalah yang takut berkata benar dan ngeri hidup di alam kebebasan. Sebagai seorang guru, aku katakan bahwa mulai sekarang kalian harus melawan kekuasaan nafsu rendah badani yang menjajah dirimu sendiri. Jangan biarkan ia mendiktemu untuk tetap setia pada hasrat dan keinginan rendahnya yang akan menjadikan kalian keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Kalian harus berjuang keras untuk membangunkan ruh keagungan dan kemuliaan diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Kalian harus berjuang untuk mewujudkan diri sebagai makhluk paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain. Perbaharuilah jiwamu yang lama dengan jiwa yang baru!�

�Aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa aku mengajarkan manusia agar memiliki keberanian meninggalkan dunia pengap dengan tatanan lama yang selama ini diikutinya secara membuta berdasarkan petunjuk dari nafsu rendah badani. Sebab, telah terbukti bahwa tatanan lama itu menyesatkan manusia dari jalan yang benar, yakni jalan yang harus dilewati wakil Allah di muka bumi. Tatanan lama itu telah memerangkap manusia ke dalam kandang-kandang kotor yang diperuntukkan bagi keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Karena itu, tinggalkanlah dunia pengap dengan tatanan lama itu, meski nafsu rendah badani akan menghadang dan menakut-nakutimu dengan ancaman kesulitan dan kesengsaraan hidup di dunia.�

�Untuk meninggalkan tatanan lama yang menyesatkan itu, kepada kalian aku beri tahu tentang empat jiwa yang menyemangati ruh yang wajib kalian jadikan pusaka: dialah jiwa kebenaran, jiwa keberanian, jiwa ketabahan, dan jiwa kebebasan. Dengan empat jiwa yang menyemangati ruh itu, kalian akan dapat meninggalkan nafsu rendah badani dan melintasi jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda beban, jiwa kerbau, jiwa sapi perah, dan jiwa anjing peliharaan. Jika kalian berjuang keras bersama-sama dengan keempat jiwa dari ruh itu maka kalian tidak hanya akan mengalahkan nafsu rendah badani, tetapi juga dapat melampaui keberadaam kalian sebagai manusia untuk menjadi adimanusia, yakni wakil Allah di muka bumi yang membuat para malaikat bersujud.�

Bagaikan cahaya matahari terbit di pagi hari, khotbah yang disampaikan Abdul Jalil menerangi cakrawala jiwa para pendengarnya. Namun, Abdul Jalil sadar bahwa terang matahari pengetahuan yang menyinari jiwa murid-muridnya adalah terang mentari pagi yang masih diselimuti kabut dan embun. Abdul Jalil paham tidak semua pendengar memahami khotbahnya. Itu sebabnya, ia merasa berkewajiban untuk membuat lebih terang cakrawala jiwa para pengikutnya. Sebagaimana khotbah pertama, khotbah berikutnya disampaikan Abdul Jalil di Tajug Agung Lemah Abang seusai memimpin sembahyang isya. Dengan pandangan penuh kasih kepada para muridnya, ia memulai khotbah dengan suara digetari perasaan lain.

�Seperti telah aku ajarkan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa fitrah dari Sang Pencipta (al-Khaliq) yang diberikan kepada manusia adalah keagungan dan kemuliaan sebagai wakil Allah di muka bumi. Itu sebabnya, setiap orang yang mengaku sebagai muridku hendaknya memulai hidup baru dengan pandangan dan sikap hidup yang baru pula. Mereka yang mengaku muridku wajib menyadari keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki �kuasa-kuasa kodrati� untuk menjadi adimanusia wakil Allah di muka bumi.�

�Jika kalian telah sadar bahwa kalian adalah makhluk paling sempurna yang bisa meraih kedudukan sebagai wakil Allah di muka bumi, maka hendaknya masing-masing dari kalian berpegang pada tatanan hukum Ilahi (syari�at) yang bersumber dari sabda Allah dan teladan Nabi Muhammad Saw. (sunnah ar-rasul). Tanpa menggunakan pedoman hukum Ilahi, kalian akan kehilangan arah dalam usaha mewujudkan diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Bukankah di manapun manusia berada selalu diatur oleh aturan-aturan hukum yang sesuai dengan lingkungannya? Demikianlah, aku katakan bahwa hukum Ilahi merupakan pedoman yang wajib diikuti oleh mereka yang meyakini bahwa manusia adalah citra wakil Allah di muka bumi.�

�Dengan menyadari keberadaan diri sebagai calon adimanusia dan wakil Allah di muka bumi, maka di dalam tatanan hukum Ilahi termaktub larangan bagi siapa saja yang mengaku orang beriman untuk berlutut dan bersujud kepada sesama makhluk di jagad raya ini. Lantaran ketetapan hukum Ilahi seperti itu maka kalian � yang yakin bahwa manusia dirancang sebagai wakil Allah di muka bumi � dilarang berlutut dan bersujud menyembah pohon, batu, kuburan, gunung, bulan, bintang, matahari, binatang, makhluk gaib, dan sesama manusia. Sebab, tidaklah pantas seorang wakil menyembah sesama wakil atau yang lebih rendah lagi.�

�Jika selama ini aku masih melihat sebagian dari kalian berlutut dan menyembah raja-rajamu dan pemimpin-pemimpinmu maka mulai sekarang semua itu hendaknya harus diubah. Sebab, tidak ada tatanan hukum Ilahi yang �mengharuskan� kalian berlutut dan menyembah kepada selain Allah. Lantaran itu, semua kebiasaan itu harus diperbaharui dengan tatanan baru yang sesuai dengan kodratmu sebagi wakil Allah di muka bumi: jangan berlutut dan menyembah sesuatu selain Dia yang telah mengangkatmu sebagai waki-Nya.�

�Namun, dalam mengamalkan ajaran ini, kalian juga harus ingat bahwa menurut tatanan hukum Ilahi terlarang bagi kalian untuk mencela dan menista manusia lain yang masih melakukan penyembahan kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Tidak ada hak bagi kalian untuk mencela orang lain yang tidak sepaham dengan kalian. Sesungguhnya, bagi masing-masing kelompok manusia telah terdapat ketentuan jalan masing-masing. Dan sesungguhnya, segala sesuatu yang terkait dengan penyembahan Allah adalah mutlak atas kehendak-Nya sendiri untuk disembah dengan berbagai nama dan cara. Karena itu, kalian jangan mencela cara-cara yang digunakan orang lain dalam menyembah Allah yang tidak sesuai dengan caramu.�

�Jika ada di antara kalian yang bertanya bagaimanakah tatana baru yang sesuai bagi para wakil Allah di muka bumi? Kukatakan kepada kalian bahwa tatanan yang berlaku di kediaman kalian, Lemah Abang ini, adalah bukti dari tatanan baru tersebut. Aku katakan tatanan di Lemah Abang adalah tatanan baru sebab ia adalah tatanan yang ditegakkan berdasarkan hukum Ilahi yang diperuntukkan bagi para wakil Allah.�

�Jika selama ini kalian mengikuti tatanan lama secara membuta maka sekarang kalian akan mengikuti tatanan baru yang bersumber dari hukum Ilahi. Jika kalian belum paham dengan tatanan baru yang aku maksudkan itu maka sekarang aku akan menerangkan kepada kalian. Adapun tatanan baru yang ditegakkan di Lemah Abang ini adalah tatanan yang berdiri di atas asas-asas hukum Ilahi yang sesuai dengan fitrah wakil Allah di muka bumi.�

�Sungguh telah terdapat tatanan lama, di berbagai belahan bumi, yang menetapkan bahwa setiap penghuni sebuah negeri yang bukan �raja� adalah kumpulan manusia malang yang telah ditekuk oleh kebohongan yang mengatakan bahwa mereka adalah keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang setia. Di Bumi Pasundan dan Majapahit, misalnya, mereka itu disebut kawula (budak) yang tidak diakui keberadaannya sebagai pribadi manusia. Lantaran itu, mereka tidak mempunyai hak apa pun atas hidupnya sendiri. Sementara raja dan keluarganya serta orang-orang di sekitarnya, setiap saat dan setiap tempat dapat mengambil apa saja yang dimiliki kawula, termasuk mengambil nyawa tanpa hak.�

�Tatanan yang tidak memanusiakan manusia itulah yang harus ditingglkan karena tatanan itu menista dan merendahkan harkat dan martabat manusia. Ya, tatanan lama bikinan manusia itulah yang harus diperbaharui oleh tatanan yang bersumber dari sabda Allah dan teladan hidup Nabi Saw.. Karena terbukti sudah bahwa tatanan lama itu menjerumuskan manusia dari kedudukan wakil Allah di muka bumi menjadi kawanan keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang hina dina yang menggantungkan hidup kepada tuannya.�

�Sebagai bukti adanya tatanan baru yang bersumber dari hukum Ilahi di Lemah Abang, desa yang baru kita bangun dengan cucuran keringat kita sendiri ini, berlaku ketentuan mutlak yang mewajibkan setiap orang yang mengaku muridku untuk meninggalkan mimpi buruk itu. Semua muridku wajib meninggalkan tatanan lama yang dibangun di atas kebohongan dan dusta itu. Aku katakan sekali lagi, setiap warga Lemah Abang atau setiap orang yang mengaku muridku tidak boleh lagi tunduk dan patuh pada tatanan yang dibangun oleh para pendusta. Murid-muridku tidak boleh membiarkan dirinya dijadikan keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang tunduk di bawah kekuasaan manusia lain.�

�Keberadaan masing-masing pribadi manusia sebagai calon wakil-wakil Allah di muka bumi, di Lemah Abang ini, wajib diakui, dihargai, dan dihormati. Itulah asas tatanan baru berdasar hukum Ilahi yang aku maksud. Ingat-ingat! Siapa saja yang berada di Lemah Abang ini sama kedudukan dan derajatnya sebagai manusia. Semua sesaudara, keturunan Adam a.s.. Sebagaimana para raja yang menyatakan diri mereka sebagai pengejawantahan Tuhan di dunia, begitulah semua manusia di Lemah Abang ini harus dipandang sebagai pengejawantahan Tuhan di dunia. Di Lemah Abang ini setiap manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi. Di Lemah Abang ini tidak ada raja dan tidak ada kawula. Tidak ada gusti dan tidak ada hamba sahaya. Semua manunggal sebagai anak cucu Adam a.s.. Semua adalah sesaudara karena semua berkedudukan sebagai wakil Allah.�

�Jika di antara kalian ada yang bertanya apakah tatanan baru ini adalah hasil olah pikiran Syaikh Lemah Abang sendiri? Aku katakan kepada kalian bahwa seribu tahun silam peraturan ini sudah pernah oleh seorang laki-laki buta huruf yang agung dan mulia di kota bernama Yatsrib yang terletak di negeri Arabia. Beliau adalah Nabi Muhammad Saw.. Saat itu tidak ada perbedaan derajat antara Bilal bin Rabah yang bekas budak dan bangsawan serta saudagar kaya seperti Utsman bin Affan. Setiap manusia dihargai sebagai pribadi yang utuh. Beliau mengajarkan tiap-tiap manusia baik raja maupun budak akan diminti pertanggungjawaban secara pribadi atas segala apa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia.�

�Dengan memahami bahwa tatanan yang berlaku di Lemah Abang ini hanya meniru tatana hukum Ilahi yang sudah pernah diterapkan seribu tahun silam maka sesungguhnya tatanan ini tidaklah baru. Jikalau aku sebut tatanan ini baru karena memang baru di Bumi Pasundan dan Majapahit. Sebagaimana saat tatanan itu diterapkan pada zaman Nabi Muhammad Saw., saat sekarang pun tatanan itu banyak menghadapi tantangan dan rintangan. Sebab, dengan tatanan baru itu sesungguhnya sangat banyak para pendusta dan pencinta nafsu duniawi akan dirugikan. Lantaran itu, kalian harus menyiapkan dan menyiagakan diri untuk berhadapan dengan mereka yang mengutuki tatanan baru yang kita berlakukan di Lemah Abang ini.�

Abdul Jalil berhenti sejenak sambil matanya menyapu ke halaman Tajug Agung yang penuh disesaki warga. Ia meninggalkan mimbar dan berjalan ke arah teras Tajug Agung. Setelah berdiri dan menarik napas panjang, ia melanjutkan khotbahnya dengan suara yang lain.

�Wahai saudara-saudaraku, warga Lemah Abang yang mengaku muridku, kepadamu aku akan menerangkan dan menjabarkan tentang makna adimanusia sebagai wakil Allah di muka bumi dan tatanan hukum Ilahi yang menyertainya sebagai keniscayaan yang harus diwujudkan dalam sehari-hari. Kenapa ini harus kujelasjabarkan kepada kalian? Karena hanya dengan memahami apa yang akan aku jelaskan dan jabarkan ini, kalian semua akan beroleh keselamatan hidup yang sejati.�

�Pertama-tama, hendaknya kalian semua menyadari bahwa dengan menduduki derajat adimanusia dan menyandang jabatan wakil Allah di muka bumi, sesungguhnya secara fitrah keberadaan kalian merupakan manusia menyandang nama (asma�), sifat (shifat), perbuatan (af�al) Allah. Maksudnya, dengan didudukkan pada derajat adimanusia, sesungguhnya kalian memancarkan citra makhluk mulia yang mewakili Yang Mahasempurna di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), yaitu pancaran citra wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).�

�Dengan menyadari bahwa antara adimanusia dan wakil Allah di muka bumi adalah sama pada makna hakiki dalam asma�, shifat, dan af�al maka sesungguhnya tiap-tiap manusia secara fitrah juga menduduki jabatan wakil Yang Zahir di muka bumi (khalifah azh-Zhahir fi al-ardh), wakil Yang Batin di muka bumi (khalifah al-Bhatin fi al-ardh), wakil Yang Maha Menguasai di muka bumi (khalifah al-Malik fi al-ardh), wakil Yang Maha Pemberi Rezeki di muka bumi (khalifah al-Razaq fi al-ardh), wakil Yang Maha Pemurah di muka bumi (khalifah ar-Rahman fi al-ardh), wakil Yang Maha Menghakimi di muka bumi (khalifah al-Hakam fi al-ardh), wakil Yang Maha Memelihara di muka bumi (khalifah al-Hafizh fi al-ardh), dan seterusnya. Dan semua makna hakiki asma�, shifat, dan af�al itu menyatu secara seimbang dan sempurna pada citra al-Haqq yang ditiupkan oleh-Nya saat menyempurnakan kejadian wakil-Nya. Sehingga, hakikat sejati keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi sesungguhnya tercitrakan secara utuh pada kedudukan wakil al-Haqq di muka bumi (khalifah al-Haqq fi al-ardh).�

�Dengan memahami dan menyadari bahwa tiap-tiap manusia adalah wakil al-Haqq di muka bumi maka keberadaan tiap-tiap manusia wajib diakui, dihargai, dan dihormati sebagai pribadi yang memiliki hak-hak fitrah sebagai makhluk paling sempurna. Tahukah kalian apa yang dinamakan hak-hak filtrah manusia sebagai wakil al-Haqq? Yaitu, hak diakui keberadaannya melalui kebebasan menyampaikan Kebenaran. Itulah hak paling fitrah dari wakil al-Haqq di muka bumi yang wajib dihargai dan dihormati.�

�Tidak peduli seseorang berkedudukan sebagai raja, pangeran, nayakapraja, pedagang, petani, kuli, bahkan budak sekalipun, secara fitrah memiliki hak untuk bebas menyatakan kebenaran. Sebab, dengan menyatakan Kebenaranlah sesungguhnya orang-seorang diakui keberadaannya sebagai manusia. Bahkan, yang dianggap paling mulia di antara wakil al-Haqq dalam mewujudkan hak fitrahnya adalah mereka yang berani menyampaikan Kebenaran kepada penguasa zalim yang tidak mengakui hak manusia lain. Sesungguhnya, mengingkari keberadaan manusia sebagai pribadi yang mewakili al-Haqq di muka bumi adalah sama artinya dengan mengingkari keberadaan al-Haqq. Itu sebuah kekufuran yang wajib ditentang dan dijauhkan dalam kehidupan.�

�Tahukah kalian apa yang disebut mengakui, menghargai, dan menghormati keberadaan tiap-tiap pribadi manusia yang mempunyai hak fitrah untuk bebas menyuarakan Kebenaran? Jika engkau mengakui keberadaan seekor burung dan membiarkannya berkicau maka itulah yang kuibaratkan dengan mengakui, menghargai, dan menghormati keberadaan tiap-tiap pribadi manusia. Sebab, kicau burung adalah suara Kebenaran yang dinyanyikan lewat bahasa burung. Demikianlah, mengakui, menghargai, dan menghormati manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah seibarat engkau mengakui keberadaan burung yang bebas membuat sarang untuk berkembang biak dan bebas berkicau di tempat mana pun di muka bumi. Sungguh merupakan kezaliman jika dengan kekuatan tanganmu engkau rusakkan sarang burung dan engkau larang burung-burung berkicau memuji keagungan Penciptanya.�

�Pada masa lalu, barang seribu tahun silam, pengakuan terhadap keberadaan manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi pernah diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw. yang dilanjutkan oleh keempat sahabat yang menjadi penerusnya. Saat itu tiap-tiap manusia dihargai dan dihormati haknya untuk menyuarakan Kebenaran. Itu sebabnya, seorang bekas budak berkulit hitam yang menyampaikan gagasan adzan, cara memanggil orang untuk bersembahyang, oleh Nabi Muhammad Saw. diterima dan dijadikan bagian dari peribadatan yang berlaku sampai sekarang ini. Karena itu, setiap kali kalian mendengar suara adzan dikumandangkan, hendaknya kalian mengingat bahwa penggagas panggilan untuk bersembahyang itu bukanlah raja dan bukan pula bangsawan, melainkan bekas budak kulit hitam bernama Bilal bin Rabah.�

�Sebagai bukti lain bahwa keberadaan tiap-tiap pribadi manusia diakui sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah kisah yang menuturkan tentang seorang sahabat Nabi yang buta bernama Ibnu Maktum. Karena Nabi Muhammad Saw. sempat mengabaikan manusia buta itu dan lebih mengutamakan bangsawan Quraisy maka beliau ditegur Allah. Lantaran itu, setiap kali Nabi bertemu Ibnu Maktum, beliau selalu berkata, �Wahai sahabat, yang membuatku ditegur Tuhanku.�

�Dengan apa yang telah aku paparkan ini, jelaslah sudah bahwa pengakuan, penghargaan, dan penghormatan terhadap manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah semata-mata atas kehendak-Nya. Itu sebabnya, Nabi Muhammad Saw. sebagai penyampai Kebenaran Ilahi menjalankan amanah-Nya itu dengan sempurna. Dan karena aku adalah ulama pewaris Nabi (al-ulama� waratsat al-anbiya�) maka aku pun berkewajiban untuk meneladani beliau. Kalian sebagai murid-muridku hendaknya mengikuti jejakku, yaitu mengakui, menghargai, dan menghormati manusia lain terutama suara Kebenaran yang disampaikannya.� �

Jika selama ini baik di Bumi Pasundan maupun Majapahit terdapat tatanan yang mengatur bahwa siapa pun di antara kawula tidak mempunyai hak apa-apa, karena yang memiliki hak atas segala hak adalah raja, maka kukatakan kepada kalian bahwa tatanan itu sekarang sudah diubah di Lemah Abang ini. Tatanan usang itu harus diperbaharui. Jika selama ini terdapat tatanan yang menetapkan bahwa siapa pun di antara kawula tidak memiliki hak untuk menyuarakan Kebenaran, karena yang berhak mengatakan ini dan itu tentang Kebenaran hanya sang raja, maka kukatakan bahwa tatanan itu pun harus diperbaharui. Maksudku, sejak ini, diawali di Lemah Abang, tidak boleh lagi ada anggapan bahwa yang diakui keberadaannya hanya sang raja, yang wajib didengar kata-katanya sebagai titah hanya sabda sang raja.�

�Untuk membuktikan bahwa apa yang telah aku sampaikan bukanlah angan-angan kosong dan bukan pula impian pembual, di Lemah Abang ini akan menerapkan peraturan yang mengakui, menghargai, dan menghormati tiap-tiap pribadi manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi. Di Lemah Abang ini kalian semua diakui sebagai pribadi-pribadi yang mempunyai hak untuk menyampaikan Kebenaran.�

�Hal kedua yang wajib kalian ketahui sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah keberadaan kalian diakui dalam hal �hak milik� atas sesuatu. Di Lemah Abang ini, ibarat burung yang memiliki sarang dan bebas berkicau, kalian pun telah diakui memiliki sebidang tanah, sepetak rumah, dan harta secukupnya yang bisa kalian jadikan sarana untuk kehidupan kalian di dunia yang fana. Kalian pun dengan bebas dapat menyuarakan Kebenaran. Di Lemah Abang ini hak masing-masing manusia dihargai dan dihormati karena masing-masing warga sadar bahwa semua adalah wakil al-Haqq.�

�Jika kepada kalian ada yang bertanya kenapa di Lemah Abang masing-masing warga memiliki sebidang tanah, sepetak rumah, dan harta benda? Katakan kepada penanya itu bahwa kalian adalah wakil al-Haqq dan sekaligus wakil al-Malik. Sesungguhnya sedikit �hak milik� dalam bentuk tanah, rumah, dan harta yang kalian punyai adalah bagian dari lambang keberadaan kalian sebagai wakil Yang Maha Memiliki (khalifah al-Malik fi al-ardh). Jika Yang Maha Memiliki (al-Malik) adalah Pemilik alam semesta maka sebagai wakil-Nya di muka bumi, fitrah kalian adalah memiliki sebagian kecil milik-Nya sebagai amanat untuk menguji kesetiaan kalian dalam menjalankan tugas sebagai wakil-Nya.�

�Kenapa kepemilikan tanah, rumah, dan harta para muridku aku sebut dengan istilah �hak milik� dari wakil al-HaqqI dan wakil al-Malik? Sebab untuk menjaga keseimbangan tatanan kehidupan wakil-wakil Allah di muka bumi, citra al-Haqq dan al-Malik tidak bisa dipisahkan. Maksudnya, jika kalian hanya menganggap dirimu sebagai wakil al-Malik maka engkau akan cenderung memiliki segala sesuatu dengan tanpa hak. Engkau cenderung menyamai-Nya sebagai pemilik segala. Dan, engkau akan cenderung melanggar hak sesamamu. Jika itu yang terjadi maka timbullah kekacauan di dalam tatanan kehidupan bersama karena wakil al-Malik telah menjadi pesaing dari al-Malik. Ujung dari semua itu adalah keterjerumusan manusia dari kedudukan wakil al-Malik di muka bumi menjadi budak nafsu rendah badani. Lantaran keberadaan manusia adalah sebagai wakil al-Haqq dan sekaligus wakil al-Malik maka manusia wajib mengikuti tatanan hukum Ilahi yang menetapkan ketentuan halal, haram, dan syubat dalam hal perolehan �hak milik� para wakil Allah di muka bumi.�

�Dengan memahami bahwa di Lemah Abang ini kalian telah mempunyai tanah, rumah, dan harta sebagai �hak milik� maka hendaknya kalian pertahankan hak milik itu sebagai pusaka. Karena tanah, rumah, dan harta yang kalian miliki itu diamanatkan al-Haqq dan al-Malik untuk wakil-Nya di muka bumi. Siapa pun di antara manusia yang akan merampas hak milik kalian, hendaknya kalian lawan mereka dengan sekuat daya dan segenap kekuatan. Sebab, dengan melawan para perampas itu maka kalian sesungguhnya telah menunjukkan keberadaan diri sebagai wakil al-Haqq dan wakil al-Malik.�

�Tetapi, perlu kalian pahami bahwa melawan para perampas hak kalian tidak selalu dengan cara mengangkat senjata dan bertempur melawan mereka. Jika engkau berdiam diri, namun tidak menjalankan titah dan keinginan para perampas itu, sesungguhnya engkau telah melakukan perlawanan. Jika kalian mengajak mereka mengadu hujjah dengan kata-kata maka sesungguhnya kalian telah melakukan perlawanan juga. Dan jika kalian merasa kuat untuk melawan kekuatan para perampas hak itu, bolehlah kalian menggunakan kekerasan sebagaimana yang telah mereka lakukan, namun jangan sampai melampaui batas. Jika kalian terbunuh dalam mempertahankan hak milik kalian, maka kalian termasuk syahid karena kalian terbunuh saat mempertahankan amanat Allah secara benar.�

�Selain hak milik kalian atas tanah, rumah, dan harta benda dihargai serta dihormati, hak milik kalian atas keluarga juga dihargai dan dihormati di Lemah Abang ini. Sebab, kalian juga adalah wakil Yang Maha Menjaga dan Maha Memberi Kebahagiaan di muka bumi (khalifah al-Muhaimin fi al-ardh). Sesungguhnya anak-anak dan istri kalian adalah titipan dari al-Muhaimin yang diamanatkan kepada kalian, wakil-Nya, untuk kalian jaga dan kalian bahagiakan. Sebagaimana hak milik kalian atas tanah, rumah, dan harta benda, sebagai wakil al-Muhaimin pun kalian tidak lepas dari kedudukan wakil al-Haqq. Kalian adalah wakil al-Haqq dan wakil al-Muhaimin sekaligus. Sehingga, hukum Ilahi menetapkan bahwa setiap manusia hendaknya membangun keluarga dengan cara-cara yang hak.�

�Karena citra al-Haqq tidak terpisah dari citra al-Muhaimin dalam pembentukan keluarga maka keluarga-keluarga yang diakui, dihargai, dan dihormati di Lemah Abang ini adalah keluarga yang dibangun atas asas-asas yang benar (haqq) menurut hukum Ilahi. Istri yang kalian miliki, kalian jaga, dan kalian bahagiakan itu wajiblah istri yang diperoleh dari hasil pernikahan yang sah menurut syari�at agama. Peraturan lama yang mengatakan bahwa istri harus diperoleh dengan cara membawa lari anak orang sebagai lambang kejantanan, tidak berlaku di Lemah Abang ini. Sebab, melarikan anak orang dan kemudian menyetubuhinya tanpa akad nikah merupakan perbuatan zina. Anak yang lahir dari hubungan seperti itu adalah anak haram (haram zadah).�

�Sungguh aku berpesan kepada kalian agar menjaga Lemah Abang ini dengan baik. Jangan jadikan tempat ini sebagai tempat perzinahan. Jangan jadikan tempat ini sebagai hunian anak-anak haram hasil zina. Jangan jadikan tempat ini sarang penyamun, kediaman manusia-manusia tamak yang suka merampas hak orang lain. Dan yang penting kalian ingat, janganlah kalian tinggal lebih lama lagi di tempat ini jika keinginan kalian sebagai wakil al-Muhaimin telah menyimpang dari ketentuan yang ditetapkan al-Haqq. Maksudnya jangan engkau jaga dan bahagiakan istri-istri dan anak-anakmu dengan melanggar hak orang lain. Hiduplah dengan hak sesuai hukum Ilahi.�

�Dengan menyadari keberadaan diri sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Malik, dan wakil al-Muhaimin, hendaknya kalian tidak sekali-kali membiarkan orang lain merampas anak-anak dan istri kalian. Mereka adalah �hak milik� yang wajib kalian jaga dan kalian bahagiakan. Karena itu, tolaklah siapa pun di antara manusia yang meminta anak-anak dan istri kalian, apakah itu untuk alasan mereka akan dijadikan gundik dan hamba raja atau dijadikan wadal bagi pembangunan atau tumbal bagi upacara-upacara darah. Tolak dan lawan para perampas hak itu. Pertahankan keluarga kalian sebagaimana kalian mempertahankan hidup dan mati kalian sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Malik, dan wakil al-Muhaimin. Dengan mempertahankan hak milik kalian atas keluarga, sesungguhnya kalian telah mempertahankan amanat-Nya secara hak. Jika kalian mati maka kalian akan tercatat sebagai syuhada. Kalian akan mati syahid.�

Beberapa jenak Abdul Jalil berhenti. Dengan penuh kasih ia menyapukan pandang ke murid-muridnya yang terperangah seolah-olah menyaksikan dan mendengarkan dongeng yang memesona. Kemudian dengan berapi-api ia meneruskan khotbahnya.

�Satu hal lagi yang penting kalian ingat-ingat, bahwa sebagaimana margasatwa yang bebas dalam menapaki kehidupannya, begitulah hendaknya bagi tiap-tiap warga di Lemah Abang mempunyai hak fitrah untuk memilih sesuatu yang sesuai dengan kehendaknya. Warga Lemah Abang bebas memilih agama, cara mencari nafkah, pemimpin, tatanan hidup, dan kumpulan yang sesuai keinginannya selama tidak melanggar hak-hak manusia lain. Sesungguhnya, dalam penciptaan wakil-Nya di muka bumi, Dia telah menganugerahi manusia tangan, kaki, tubuh, nafsu, akal, dan ruh sehingga manusia menjadi makhluk paling sempurna di jagad raya. Kesempurnaannya itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain dalam kewenangan memilih. Sebab, keberadaan adimanusia juga menyandang atribut wakil Yang Maha Menentukan di muka bumi (khalifah al-Muqtadir fi al-ardh). Sehingga, dengan kedudukan itu tiap-tiap manusia secara fitrah memiliki hak untuk memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri sepanjang pilihan itu tidak melanggar hak manusia lain.�

�Dengan memahami keberadaan manusia sebagai wakil al-Muqtadir maka kelirulah anggapan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya manusia mutlak tidak memiliki hak untuk memilih apa pun bagi hidupnya. Semua tergantung pada ketentuan Allah. Itu pandangan Jabariyyah yang mengingkari keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Sebaliknya, keliru pula anggapan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya pilihan mutlak ada pada tangan manusia. Itu pandangan Qadariyyah yang mengingkari kekuasaan al-Muqtadir dalam menentukan kehidupan wakil-Nya.�

�Jika ada yang bertanya kenapa manusia sebagai wakil al-Muqtadir memiliki hak fitrah untuk memilih agama, maka aku katakan bahwa masing-masing atribut Ilahi yang disandang manusia saling terkait satu dengan yang lain. Di atas itu semua, pertentangan masing-masing atribut itu adalah citra kesempurnaan dari hakikat asma�, shifat, dan af�al-Nya. Lantaran kewakilan manusia begitu sempurna dalam mencitrakan asma�, shifat, dan af�al Allah maka diwajibkan bagi manusia untuk menjalani hidup dengan berpedoman pada hukum suci Ilahi demi terwujudnya tatanan yang seimbang dalam kehidupan di bumi.�

�Sesungguhnya, keberadaan manusia sebaagai wakil al-Muqtadir terkait dengan atribut yang lain, yaitu wakil Yang Memberi Petunjuk di muka bumi (khalifah al-Hadi fi al-ardh). Sementara al-Hadi membentangkan �jalan-jalan� untuk mencapai-Nya (wa alladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana). Itu sebabnya, tidak satu pun manusia boleh memaksa orang lain agar menganut agama atau satu jalan tertentu. Tidak boleh ada paksaan dalam agama (la ikraha fi ad-din). Sebab, hak fitrah dari wakil al-Hadi sekadar �menyampaikan� petunjuk (huda) kebenaran (haqq). Seorang manusia yang mengangkat dirinya menjadi penunjuk jalan Kebenaran dan mengatakan apa yang diyakini itu sebagai satu-satunya jalan Kebenaran, maka sesungguhnya dia telah merampas wewenang Dia, Yang diwakilinya. Orang seperti itu telah menjadi pesaing bagi Allah. Sesungguhnya, orang semacam itu telah durhaka terhadap kehendak Allah.�

�Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, bahwa rahasia atas agama-agama adalah mutlak milik-Nya. Tidak satu pun di antara wakil-Nya yang berhak ikut campur menentukan ke arah mana �wajah al-Hadi� dihadapkan atau dengan cara bagaimana Dia disembah hamba-Nya. Tidak satu pun di antara wakil-Nya boleh berkata: �Allah harus disembah dengan cara begini dan begitu. Yang ini benar dan yang itu salah. Surga itu kecil dan karenanya hanya muat untuk saya dan jama�ah saya. Neraka itu besar untuk seluruh makhluk di luar jama�ah saya.�

�Sesungguhnya, jika manusia telah meyakini diri sebagai pemilik Kebenaran maka dia telah merampas hak Allah dan bahkan menista Allah dengan fitnah yang keji. Sebab, orang-orang yang menganggap dirinya sebagai pemilik Kebenaran akan berkata begini di dalam hatinya: �Sesungguhnya, Allah adalah Tuhan Yang Mahakejam dan Mahatidak adil. Sebab, Dia mencipta surga hanya untuk aku dan jama�ahku yang segelintir jumlahnya, sedangkan makhluk lain disiksanya dengan azab pedih di neraka.�

�Jika dalam kehidupan di dunia ini kalian menemukan manusia-manusia seperti itu, jauhilah mereka. Sesungguhnya merekalah orang-orang yang sakit qalbu-nya. Sesungguhnya, aku katakan kepada kalian semua, bahwa Dia, Allah, adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang disembah manusia dari segala agama. Tuhan yang disembah margasatwa, gunung, hutan, lautan, bumi, bulan, bintang, matahari, setan, iblis, jin , serta seluruh makhluk yang kasatmata maupun yang gaib. Dan sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw., bahwa beliau hanyalah penyampai Kebenaran, maka hendaknya kalian pun jangan melampaui beliau, kiblat panutan kita.�

�Dengan memahami bahwa dalam masalah agama tidak boleh ada paksaan maka, tidak Islam, tidak Hindu tidak Budha, semuanya dihargai hak hidupnya di Lemah Abang ini. Warga Hindu dan Budha yang ingin membangun tempat ibadah di Lemah Abang tidak perlu segan atau takut. Dirikan tempat-tempat ibadah untuk memuja kebesaran Ilahi, Tuhan sarwa sekalian alam, Sang Pencipta, Yang Berkehendak disembah dengan segala macam cara oleh berbagai makhluk ciptaan-Nya baik yang gaib maupun yang kasatmata.�

Untuk itu, ingat-ingatlah selalu, dengan anugerag yang serba sempurna itu, sebagai wakil al-Kamal di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), selain bebas menentukan pilihan dalam beragama, kalian pun mempunyai hak fitrah untuk memilih cara terbaik mencari nafkah. Dengan tangan, kaki, akal, nafsu, dan hati nurani yang kalian miliki, kalian bebas mencari nafkah selama itu tidak melanggar hak manusia lain.�

�Dengan selalu bersyukur karena menyadari keberadaan diri sebagai wakil Yang Mahasempurna di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), terlarang bagi penghuni Lemah Abang untuk menjadi peminta-minta. Sebab, dengan menjadi peminta-minta sesungguhnya orang seorang telah mengingkari keberadaan dirinya sebagai wakil Yang Maha Pembalas di muka bumi (khalifah asy-Syaku fi al-ardh). Sungguh celaka manusia yang tidak tahu balas budi atas anugerah kesempurnaan yang diberikan al-Kamal kepadanya.�

�Dengan kesadaran diri sebagai wakil al-Kamal dan wakil asy-Syakur, kalian pun wajib menolak usaha manusia lain yang akan menjerumuskan kalian ke dalam perbudakan, kecuali jika kalian memang menghendakinya. Sebagaimana atribut-atribut Ilahi yang terkait dalam citra wakil al-Haqq, sebagai wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, dan wakil asy-Syakur pun sesungguhnya kalian tetaplah wakil al-Haqq; sehingga di dalam kebebasan mencari nafkah harus diikuti dengan cara-cara yang hak. Janganlah sekali-kali kalian melanggar hak orang lain.�

�Yang tak kalah penting di antara hak fitrah memilih itu adalah yang terkait dengan kehendak bebas memilih pemimpin. Sebagai wakil al-Muqtadir di muka bumi (khalifah al-Muqtadir fi al-ardh), kalian memiliki hak untuk menentukan siapa di antara manusia di dalam golonganmu yang pantas menjadi pemimpinmu. Jika selama ini, di dalam tatanan lama, kalian tidak dilibatkan dalam menentukan siapa pemimpin yang sesuai dengan yang kalian kehendaki maka mulai sekarang hal itu wajib ditinggalkan. Di Lemah Abang akan segera diadakan pemilihan pemimpin berdasarkan pilihan warga. Sebab, tidak ada kehidupan makhluk tanpa pemimpin.�

�Dengan kesadaran sebagai wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, wakil asy-Syakur, dan wakil al-Haqq, maka hendaknya kalian jangan sekali-kali membiarkan orang lain melanggar, menentukan atau merampas hak fitrah kalian, baik dalam hal memilih agama, menentukan cara mencari nafkah, dan memilih pemimpin. Jangan biarkan orang-orang jahat memaksa kalian untuk berlutut dan bersujud di hadapan batu, pohon, kuburan, gunung, bulan, bintang, dan manusia lain. Jangan pula kalian membiarkan orang-orang keji menjadikan kalian dan anak-anak kalian sebagai budak belian yang terampas kemerdekaannya. Jangan biarkan mereka menjadikanmu dan anak-anakmu mencari nafkah sebagai keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Jangan biarkan orang memperbudak dirimu dan anak keturunanmu. Lawanlah mereka yang merasa berhak memilihkan jalan hidup kalian dan anak-anak kalian sebagai budak hina, karena sejatinya engkau sekalian adalah wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, dan wakil al-Haqq yang memiliki hak fitrah memilih yang terbaik bagi diri sendiri.�

Abdul Jalil berhenti beberapa bentar. Ia saksikan pancaran harapan berkilau-kilau dari mata murid-murid yang mendengarkan khotbahnya. Setelah menarik napas panjang, ia melanjutkan lagi khotbahnya.

�Sebagai penghuni tempat bernama Lemah Abang yang sadar akan keberadaan dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi, sesungguhnya kalian memiliki tujuan dan kiblat yang sama, yaitu menjalankan tugas sebagai wakil Allah. Lantaran tujuan dan kiblat kalian sebagai kumpulan pribadi adalah sama maka keberadaan kalian sebagai kumpulan pribadi itu disebut kabilah (qabilah). Aku katakan kiblat kalian sama, sebab baik kalian yang beragama Islam maupun Hindu dan Budha tidak lagi tunduk bersujud kepada sesama makhluk. Yang muslim hanya menyembah Allah. Yang Hindu hanya menyembah Syiwa. Yang Budha hanya menyembah Budha. Sesungguhnya berbagai nama-Nya itu adalah satu jua hakikat-Nya: Tuhan Yang Tak Terbayangkan. Yang Tak Tergambarkan oleh kata-kata. Yang Tak Terbandingkan. Yang Tak Terjangkau pancaindera. Esa. Memenuhi segala.�

�Namun, ingatlah bahwa sebagai sebuah kabilah kalian hanya bisa mencapai tujuan yang kalian arah dalam lingkup kecil yang terbatas, yaitu sebagai sesama warga Lemah Abang dan beberapa desa di sekitarnya. Sedangkan kehidupan ini tidak hanya terbatas di Lemah Abang dan desa-desa di sekitarnya. Itu sebabnya, untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan lebih tinggi sebagai wakil al-Kamal maka kalian harus menjadi bagian dari kumpulan manusia dari kabilah lain. Kumpulan-kumpulan manusia dari kabilah lain dengan prinsip kesetaraan dan kesederajatan sebagai sesama wakil al-Kamal itulah yang disebut ra�yat (ra�iyat), yang bermakna kumpulan dari cabang-cabang anak manusia.�

�Sebagaimana kabilah, ra�yat memiliki makna kumpulan manusia yang memiliki kiblat dan tujuan yang sama, namun skalanya lebih besar. Di dalam kumpulan manusia yang disebut ra�yat, tempat, agama, suku, warna kulit, dan bidang pekerjaan tidak menjadi alat pengikat utama. Alat pengikat utama adalah tujuan yang sama dari pribadi-pribadi di dalam ra�yat tersebut. Namun satu hal yang wajib kalian ingat adalah ra�yat hanya memiliki makna bersatunya tujuan dan kiblat yang sama. Ra�yat belum memiliki makna bergerak bersama. Ra�yat belum melangkah seiya-sekata sebagai gerakan. Karena itu, agar ada gerak hidup dan langkah yang nyata menuju tujuan yang dikehendaki ra�yat maka hendaknya pribadi-pribadi dari ra�yat itu harus saling bekerja untuk bergerak. Dan, ra�yat yang sudah saling bekerja sama untuk bergerak itulah yang disebut masyarakat, yakni pribadi-pribadi dari ra�yat yang melakukan kerja sama (musyarakat).�

�Karena baik ra�yat maupun masyarakat berpangkal pada kabilah maka tujuan maupun gerakan kerja sama itu, di dalam ra�yat atau masyarakat harus memiliki kiblat yang sama. Agar masyarakat memiliki tujuan dan kiblat yang sama dan sekaligus bergerak bersama maka hendaknya masyarakat itu bercirikan ummah, yakni �gerak ke depan� (amam). Dengan demikian, kumpulan-kumpulan manusia sebagai tatanan baru kehidupan yang dimulai di Lemah Abang ini hendaknya disebut �masyarakat ummah� yang tujuan dan gerakannya didasarkan pada musyawarah bersama para wakil Allah di muka bumi.�

Abdul Jalil diam sejenak. Ia memandang wajah-wajah pendengar khotbahnya yang tercengang-cengang bagai mendengarkan dongeng menakjubkan. Sekilas Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa tidak semua pendengar memahami maksudnya. Bahkan, beberapa di antara mereka yang paham terlihat ragu-ragu seolah mereka hendak diajak mewujudkan sebuah mimpi yang mengerikan.

�Aku paham jika banyak di antara kalian masih dicekam oleh rasa takut dan ragu untuk mengamalkan ajaranku dan mengikuti tatanan baru di Lemah Abang ini. Selama berpuluh bahkan beratus tahun kalian hidup di lingkungan yang tidak mengenal hak-hak fitrah seorang manusia, wakil Allah di muka bumi. Selama beratus tahun kalian tidak mengetahui jika kalian adalah wakil Allah di muka bumi, yang memiliki �kuasa-kuasa kodrati� dari asma�, shifat, dan af�al Allah. Selama ini yang diakui keberadaannya sebagai wakil Tuhan hanya raja. Sementara kalian selama ini ditempatkan sebagai kawula, yang tidak memiliki hak apa pun termasuk hak atas hidup kalian sendiri.�

�Kini aku katakan kepada kalian semua bahwa di Lemah Abang ini sudah tidak ada lagi peraturan yang membedakan kedudukan orang seorang sebagai kawula dan sebagai gusti. Kumpulan manusia di Lemah Abang inilah yang disebut kabilah, sebagai bagian dari masyarakat ummah, yaitu kumpulan pribadi manusia yang mempunyai hak milik atas tanah dan kekayaan pribadi, hak milik atas keluarga, hak milik atas agama, hak untuk mencari nafkah, hak untuk memilih pemimpin. Kumpulan manusia yang memiliki tujuan dan kiblat yang sama yakni mewujudkan jati diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Jika nanti ada pihak-pihak yang mengancam keselamatan kalian maka bekerjasamalah kalian dengan kabilah lain sehingga terbentuk ra�yat dan masyarakat ummah. Insya Allah, dengan bekerjasama dengan manusia lain sebagai masyarakat ummah, kalian akan kuat sentosa menghadapi segala tantangan dan rintangan.�

�Jika di antara kalian ada yang bertanya kenapa ra�yat Lemah Abang harus bekerja sama dengan sesama anggota ra�yat? Maka, aku akan balik bertanya, apakah engkau yang sudah memahami intisari khotbah-khotbahku tentang keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi benar-benar berani dan mampu mewujudkannya seorang diri? Aku memahami bahwa tiap-tiap kalian masih dihantui oleh rasa takut untuk mempertahankan hak-hak yang kalian miliki sebagai wakil Allah.�

�Tidakkah kalian pernah melihat seekor semut yang susah payah membawa sebutir nasi? Kesulitan seekor semut itu teratasi jika ia bekerja sama dengan kawan-kawannya. Ibarat semut-semut membawa sebutir nasi ke sarang, begitulah kumpulan kalian di sebut masyarakat ummah. Nah, dengan akal dan budimu hendaknya engkau sekalian dapat memahami kenapa kalian harus bekerja sama dengan sesama kalian dalam kesetaraan dan kesederajatan. Dengan bekerja sama sesungguhnya kalian akan menjadi lebih kuat sentosa dalam mencapai tujuan yang kalian kehendaki.�

�Dengan alasan bahwa masing-masing kalian harus memperkuat diri dan meneguhkan keberanian maka menjadi keharusan mendasar bagi kalian untuk bekerja sama dengan pribadi-pribadi lain. Sepuluh pribadi yang ketakutan, jika bekerja sama sebagai pribadi-pribadi yang merasa senasib dan sepenanggungan, maka akan menjadi sepuluh pribadi yang kuat dan pemberani. Karena itu, bersatu padulah kalian dalam wadah kabilah, ra�yat, dan masyarakat ummah untuk menghadapi segala kesulitan yang bakal menghadang di tengah jalan.�

�Sesungguhnya sangat banyak manusia rakus dan serakah yang akan tidak suka dan membenci ajaranku di Lemah Abang ini. Mereka tidak akan segan-segan untuk menumpas ajaranku dan tatanan baru di Lemah Abang yang mereka anggap mengancam kepentingan pribadi mereka. Tetapi, aku katakan kepada kalian, lawanlah dengan segenap kuasa dan kemampuanmu mereka-mereka yang akan menghancurkan harapan kalian. Kalian wajib mempertahankan hak-hak kalian yang telah terampas.�

Para warga baru Lemah Abang tercengang-cengang. Belum pernah mereka mendengar ajaran tentang kehidupan dan tatanan baru sebagaimana diuraikan Abdul Jalil. Usai mendengar khotbah sang pembuka desa, warga berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil untuk membicarakan berbagai hal terkait pelaksanaan ajaran dan tatanan baru tersebut. Mereka berbincang-bincang dari malam hingga dini hari.

Bagaikan matahari yang terus merambat ke puncak langit dengan sinar yang makin terang dan panas, Abdul Jalil menerangi cakrawala kesadaran warga Lemah Abang dengan khotbah-khotbahnya yang cemerlang. Bagaikan margasatwa yang berlarian di padang kehidupan setelah dicekam kegelapan malam, dengan kegembiraan meluap-luap warga Lemah Abang menyambut khotbah-khotbah Abdul Jalil. Laksana margasatwa menyambut kehangatan cahaya matahari sehingga dengan cahaya itu mereka dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk.

Seperti sebelumnya, khotbah berikutnya disampaikan Abdul Jalil usai memimpin sembahyang isya di Tajug Agung Lemah Abang. Namun, malam itu mereka yang hadir di Tajug Agung bukan hanya warga Lemah Abang. Beratus-ratus warga dari desa sekitar Lemah Abang ikut hadir untuk mendengarkan khotbah yang memesona. Malam itu Abdul Jalil berkhotbah di teras Tajug Agung agar suaranya bisa didengar oleh hadirin yang berjejal-jejal hingga ke halaman. Dengan suara berapi-api mengobarkan semangat ia menyadarkan manusia lewat khotbahnya.

�Seperti telah kukatakan kepada kalian bahwa tiap-tiap manusia adalah wakil Allah di muka bumi maka hendaknya kalian mampu memahami makna itu dalam arti yang sebenarnya. Jangan kalian terperangkap oleh akal dan nafsumu yang kerdil dengan memaknai �kalifah� Allah dalam menguasai bumi beserta isinya. Sekali-kali tidak demikian maknanya. Sebab, jika kalian terperangkap pada makna itu maka kalian akan beranggapan bahwa Allah telah mempusakakan bumi dan segala isinya kepada wakil-Nya.�

�Sesungguhnya kata �kalifah� dalam kaitan dengan hakikat khalifah Allah fi al-ardh merujuk pada al-Wakil, yaitu salah satu nama-Nya. Itu sebabnya, selain menyandang kedudukan sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Hakim, wakil al-Muhaimin, wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, wakil asy-Syakur, wakil al-Hakam, wakil ar-Rahman, dan wakil ar-Rahim, sesungguhnya manusia juga wakil al-Wakil di muka bumi (khalifah al-Wakil fi al-ardh). Artinya, manusia menjadi wakil Yang Maha Memelihara penyerahan tiap-tiap urusan. Itu bermakna, tiap-tiap manusia yang menyadari keberadaan dirinya sebagai wakil al-Wakil di muka bumi akan memahami bahwa hak fitrah yang dimilikinya hanyalah sebagai pemelihara dan pengelola bumi. Seorang wakil al-Wakil dilarang menguras kekayaan dan merusak segala sumber daya yang terkandung di permukaan maupun di perut bumi milik Allah.�

�Jika kalian bertanya kenapa manusia tidak menguasai dan mewarisi bumi? Kenapa manusia hanya berwenang memelihara dan mengelola bumi? Aku katakan kepada kalian agar mengingat ajaran yang pernah aku sampaikan sebelumnya. Sesungguhnya manusia terbentuk atas dua anasir utama, yaitu tanah dan ruh suci yang ditiupkan Sang Pencipta saat leluhur manusia diciptakan di surga. Itu sebabnya dalam menjalankan tugas sebagai wakil Allah di muka bumi, seorang manusia tidak diperkenankan mengikatkan kiblat hati dan pikirannya kepada bumi. Bumi bukanlah hunian asal manusia. Sebab, bumi bukan tempat manusia kembali setelah mati. Bumi hanya hunian sementara. Bumi akan menjadi tempat kembali tubuh kalian yang terbuat dari tanah. Karena itu, kalian semua yang sadar bahwa ruh suci manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah (inna li Allahi wa inna ilaihi raji�un), hendaknya tidak mencintai segala sesuatu melebihi kecintaanmu kepada Dia dari mana ruh suci berasal. Janganlah kalian terjerat oleh bujuk rayu nafsu rendah badani untuk mencintai bumi beserta segala isinya, karena hal itu akan menyesatkanmu dari jalan Kebenaran-Nya.�

�Ada di antara kalian yang bertanya kepadaku tentang tatanan baru di Lemah Abang yang didasarkan pada kesetaraan dan kesederajatan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Menurut pamahamannya, tatanan itu sudah tersedia sebagai keniscayaan, seolah-olah kitab ajaib yang jatuh dari langit. Kemudian, karena keajaibannya, maka tatanan dari langit itu wajib dihargai dan dihormati oleh semua orang. Tiap-tiap warga, menurut pamahaman ini, wajib dihargai keberadaan dan seluruh perilakunya. Jika pemahaman seperti itu yang kalian tangkap dari apa yang pernah aku ajarkan maka sesungguhnya kalian telah keliru memahami tatanan baru yang kumaksudkan.�

�Aku memang telah berkata bahwa di Lemah Abang tidak ada perbedaan antara gusti dan kawula. Tidak ada raja, tidak ada hamba sahaya. Semua warga setara dan sederajat. Semua manunggal dalam persaudaraan. Namun, satu hal yang wajib kalian ingat bahwa fitrah manusia sebagai keturunan Adam a.s. sesungguhnya bertingkat-tingkat sesuai kadar ketakwaannya. Karena itu, sungguh keliru mereka yang menelan mentah-mentah ucapanku dengan berkata, �Menurut ajaran Syaikh Lemah Abang, semua manusia adalah sama dan sebangun. Sama tinggi. Sama rendah. Sama warna. Sama rupa. Sama derajat.�

�Sungguh picik mereka yang menafsirkan ucapanku tentang kesetaraan dan kesederajatan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi dengan pemahaman seperti itu. Sebab, sebagaimana namanya, Lemah Abang bermakna tanah merah subur yang memberikan kesempatan sama bagi semua benih untuk tumbuh. Di tanah ini tidak ada perbedaan benih ini boleh tumbuh dan benih itu terlarang tumbuh. Benih apa pun boleh tumbuh di Lemah Abang. Tetapi, waktu dan perilaku alam akan menguji daya tumbuh masing-masing benih. Benih yang kuat dan mampu menghadapi tantangan alam akan tumbuh besar dan sentosa dengan akar-akar yang kuat serta buah yang lebat. Namun, benih yang lemah dan tidak mampu mengatasi tantangan alam akan meranggas, merana, layu, dan mati. Demikianlah perumpamaan tentang tatanan baru di Lemah Abang.�

�Lihatlah, o Saudara-saudaraku, hamparan rumput alang-alang di sekitarmu! Jika engkau cermat mengamatinya maka akan engkau dapati kenyataan bahwa tidak ada rumput yang sama tinggi. Tanaman padi pun tidak ada yang sama tinggi. Demikian pun, pohon-pohon hutan yang sama jenisnya tidak ada yang sama tinggi. Sebab, tinggi dan rendah adalah tatanan alam (sunnah Allah) yang tidak bisa diganggu gugat. Dapatkah sungai mengalirkan air jika dasarnya tidak terdapat perbedaan tinggi dan rendah?�

�Sebagaimana tatanan alam yang sudah tergelar, di Lemah Abang pun pada gilirannya akan terdapat perbedaan tinggi dan rendah derajat manusia. Tetapi berbeda dengan di tempat lain yang menata kedudukan tinggi dan rendah berdasarkan suku, warna kulit, agama, dan keturunan; tatanan tinggi dan rendah kedudukan orang seorang di Lemah Abang ini ditentukan oleh kemampuannya dalam mewujudkan citra diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Karena itu, yang tertinggi derajatnya di antara penduduk Lemah Abang nanti adalah pahlawan-pahlawan yang berhasil menaklukkan monster ganas di dalam dirinya, yang disebut nafsu rendah badani. Dia yang tertinggi adalah pahlawan-pahlawan yang kembali ke tengah kaumnya dengan membawa bendera kemenangan dan disambut dengan suka cita oleh kaumnya. Dia yang dianugerahi gelar �sang pembunuh monster ganas� di dalam diri sendiri. Pahlawan-pahlawan itulah yang dielu-elukan kaumnya sebagai pelindung dan penjaga kehidupan dan gangguan monster-monster ganas. Dan pahlawan-pahlawan itu, menurut hukum suci Ilahi, disebut dengan gelar agung: qaum al-muttaqin!�

�Aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa kekalifahan manusia sesungguhnya adalah sebuah rentangan kedudukan antara binatang (al-an�am), manusia (al-insan), dan adimanusia (al-insan al-kamil). Karena itu, untuk mencapai kekalifahan, tiap-tiap manusia wajib melewati dan melampaui kebinatangan dan kemanusiaannya. Kekalifahan adalah palagan pertempuran tempat masing-masing manusia menguji diri. Hanya mereka yang bersungguh-sungguh, berani, tawakal, dan memiliki harapanlah yang bisa mencapai kedudukan kalifah. Mereka yang tidak bersungguh-sungguh, penakut, malas, gampang putus asa, dan tidak memiliki harapan tidak akan pernah bisa melampaui kedudukan kalifah dan tinggal selamanya dalan kedudukan binatang.�

�Ketahuilah, pada saat manusia berjuang melampaui kebinatangan dan kemanusiaan untuk mencapai kekalifahan, sesungguhnya akan terdapat orang-orang berjiwa keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Mereka itulah orang-orang yang terikat kecintaan pada diri pribadi secara berlebihan, kiblat hidupnya terarah pada bumi dan kebendaan. Mereka orang-orang yang berada pada kedudukan binatang. Merekalah manusia berderajat rendah yang berjalan terseok-seok di permukaan bumi karena punggungnya memanggul beban keinginan nafsu dan pamrih duniawi yang berat. Makin lama mereka berjalan makin terseok langkahnya karena tubuh makin lemah tak kuat menanggung beban. Sementara itu, beban yang dipanggulnya berangsur-angsur menjelma menjadi monster mengerikan yang mengisap darah dan otak mereka.�

�Ketika beban berat yang dipanggul sudah tak mampu lagi disangga maka mereka yang berjiwa binatang itu akan menjelma jadi binatang bagi sesamanya. Ia akan memangsa sesamanya untuk memenuhi hasrat dan keinginan monster nafsunya yang haus darah. Bahkan mereka akhirnya lebih ganas dari monster yang dipanggulnya. Mereka akan menjadi penebar petaka dan ketakutan bagi penghuni bumi.�

�Sementara itu, yang lebih tinggi derajatnya dari golongan binatang ini adalah golongan manusia. Mereka adalah orang-orang yang sadar akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki �kuasa-kuasa kodrati� adimanusia untuk menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi. Tetapi, mereka hanya mampu memahaminya dalam tingkat pemikiran dan pemahaman belaka. Mereka banyak menemui kegagalan dalam mewujudkan kekalifahan dalam amaliah kehidupan sehari-hari. Mereka itulah orang-orang yang masih cenderung menafsirkan kekalifahannya terkait dengan kepentingan-kepentingan pribadinya. Mereka sering terjebak pada sikap dan tidakan yang tidak adil dan melampaui batas, meski mereka sadar bahwa hal itu tidak benar.�

�Manusia tertinggi di antara manusia adalah mereka yang sudah dapat mewujudkan keberadaan dirinya sebagai adimanusia, yakni manusia sempurna (al-insan al-kamil) yang menjadi wakil Allah di muka bumi. Mereka itulah adimanusia yang telah berhasil menaklukkan monster-monster ganas yang bersembunyi di dalam dirinya. Mereka itulah pahlawan-pahlawan pemberani yang sudah mengepakkan sayap-sayapnya dan terbang ke angkasa meninggalkan tanah berlumpur penuh biji emas yang memanggil-manggil dengan rayuan menggiurkan. Mereka penjaga keseimbangan hidup di bumi. Mereka pemelihara sejati bumi, namun mereka tidak berhasrat terikat dengan bumi. Merekalah penegak keadilan yang berjuang untuk kelestarian bumi beserta isinya. Merekalah pahlawan-pahlawan yang selalu didambakan kehadirannya oleh penghuni bumi karena selalu menjadi rahmat bagi lingkungannya.�

�Jika kalian bertanya bagaimana mewujudkan kehidupan seorang wakil Allah di muka bumi? Kukatakan kepada kalian bahwa seorang wakil Allah bukanlah penumpuk kekayaan berlebih dengan alasan untuk warisan anak cucu. Sebab, mereka yang menjadi penumpuk kekayaan berlebih sesungguhnya telah berbuat tidak adil baik terhadap diri sendiri maupun terhadap anak dan cucu: mereka itulah makhluk rendah yang tergolong sebagai penzalim diri sendiri dan keturunan. Kukatakan tidak adil dan bahkan zalim terhadap diri sendiri dan keturunan karena dengan tindakan menumpuk kekayaan berlebihan itu sesungguhnya mereka telah menzalimi kesucian ruh yang bersemayam di dalam dirinya. Mereka adalah manusia yang terperosok ke jurang kehinaan sebagai makhluk rendah yang mengumbar hasrat nafsu. Jiwa mereka senantiasa diliputi rasa khawatir dan ragu dalam meniti hidup.�

�Jika kalian bertanya apakah mewariskan harta benda berlebih untuk anak cucu merupakan tidakan tidak adil dan zalim? Aku katakan, sungguh telah berbuat tidak adil dan zalim siapa pun di antara manusia yang mewariskan harta benda berlebih kepada anak dan cucunya. Mewariskan harta benda berlimpah berarti seseorang tidak saja telah menjerumuskan anak dan cucunya ke dalam jurang ketamakan, tetapi juga melumpuhkan semangat mereka untuk berjuang menghadapi tantangan hidup. Sesungguhnya kecintaan manusia terhadap anak cucu yang diwujudkan dalam bentuk warisan harta benda berlebih adalah jaring-jaring malapetaka yang justru membahayakan kehidupan para pewaris itu sendiri.�

�Jika di antara kalian ada yang ingin mengetahui siapakah di antara manusia yang tidak berkeinginan mewariskan harta benda kepada keturunannya? Aku tunjukkan kepada kalian bahwa manusia terhormat itu adalah Guru Agung manusia panutanku, Sang Adimanusia, Nabi Muhammad Saw.. Pada zamanya beliau adalah pemimpin umat dan pemegang kunci perbendaharaan Baitul Mal dari sebuah kekuasaan yang membentang di seluruh jazirah Arabia. Tetapi, beliau hidup di samping masjid. Tiap hari sering mengganjal perutnya dengan batu karena lapar. Ketika beliau wafat tidak meninggalkan secuil pun warisan kepada putera puteri dan cucu-cucunya. Satu-satunya warisan yang ditinggalkan untuk seluruh manusia adalah Kitab Allah dan keteladanan hidupnya.�

�Sesungguhnya, sebagaimana perilaku Nabi Muhammad Saw., keempat orang sahabat penggantinya adalah adimanusia yang telah terbukti membentangkan cermin kewakilan mereka atas asma�, shifat, dan af�al Allah sebagaimana diteladankan Nabi Muhammad Saw. Sementara itu, karena aku sangat ingin meneladani perikehidupan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya maka aku pun sudah bertekad untuk tidak mewariskan secuil pun harta benda kepada anak keturunanku. Sebagaimana telah kalian ketahui semua, tanah shima (bebas pajak) anugerah dari Sri Mangana telah kubagi-bagikan tanpa sisa kepada kalian. Lantaran itu, sekarang aku tidak memiliki apa-apa lagi. Sejak ini aku akan tinggal di gubug kecil di sampig Tajug Agung.�

�Dengan mengungkap apa yang terkait dengan perilaku Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya, yang telah kuikuti jejaknya itu, janganlah kalian sangka aku mengungkit-ungkit pemberianku kepada kalian, apalagi untuk sekedar pamer kebajikan. Sesungguhnya aku menghendaki agar kalian, yang telah mengakui aku sebagai guru, tidak hidup berlebihan. Ingat-ingatlah bahwa kalian hidup di dunia ini hanya berhak memelihara dan mengelola bumi. Kalian hanya sementara tinggal di sini. Itu sebabnya, jika ada di antara kalian yang mengambil tanah berlebihan dengan alasan yang ini dan yang itu untuk bagian anakku dan yang di sana untuk bagian cucuku, maka hentikanlah itu. Cukuplah kalian mengambil bagian untuk dirimu dan keluargamu sesuai kebutuhan. Kelebihan tanahmu hendaknya engkau berikan kepada saudaramu yang belum kebagian tanah.�

�Aku katakan kepada kalian bahwa warisan yang paling berharga bagi anak dan cucu kalian sesungguhnya adalah bekal iman dan ilmu. Dengan dua bekal itu engkau telah membentangkan jalan keselamatan bagi anak dan cucumu. Sebab, dengan bekal iman dan ilmu sesungguhnya engkau sekalian telah menyerahkan segala urusan keturunanmu kepada al-�Alim. Dan, ingat-ingatlah selalu bahwa ciri utama dari keberadaan seorang wakil Allah di muka bumi adalah menjadi rahmat bagi makhluk yang lain.�

Ketika Abdul Jalil usai berkhotbah dan berjalan ke arah gubugnya, bubarlah para pendengar. Sebagian kembali ke rumah masing-masing. Sebagian berkerumun dalam kelompok-kelompok untuk membicarakan intisari khotbah. Namun, saat Abdul Jalil akan masuk ke pintu gubugnya, salah seorang pendengar yang datang dari desa lain bertanya, �Bagaimana Tuan Syaikh bisa berkata bahwa manusia yang terikat kecintaan pada bumi dan kebendaan berkedudukan sebagai binatang? Bagaimana Tuan Syaikh bisa menilai rendah kecintaan manusia pada benda hingga menyetarakan mereka sebagai binatang?�

Abdul Jalil yang tak menduga bakal ditanya, terdiam beberapa saat tak menjawab. Sejurus kemudian terdengar keributan di utara desa. Sebagian warga yang sedang berjalan ke rumah masing-masing berhamburan bagai air lautan diaduk. Keributan pun makin hingar-bingar ketika orang-orang berteriak sahut-menyahut dan sambung-menyambung.

Ketika salah seorang murid dengan bercucuran keringat mendekat, Abdul Jalil bertanya, �Apakah sesungguhnya yang sedang terjadi?�

�Orang-orang mengejar babi ngepet, Tuan Syaikh,� sahut sang murid.

�Babi ngepet?� gumam Abdul Jalil sambil memandang orang yang baru saja bertanya kepadanya. �Bukankah itu binatang jadi-jadian yang menurut cerita berasal dari manusia pecinta kebendaan? Bukankah kecintaan terhadap benda bisa menjadikan manusia dalam wujud hina, yaitu binatang yang najis?�

�Maafkan kami, Tuan Syaikh,� kata sang penanya blingsatan dengan muka kecut. �Kami sekarang memahami apa yang telah Tuan Syaikh jelaskan.�

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers