Sabtu, 21 Januari 2017

KHILAFAH

Khilafah

Ketika api perubahan sedang berkobar di segenap penjuru Caruban Larang membakar tatanan lama dan memberi daya hidup pada tatanan baru, terjadi peristiwa yang tidak disangka-sangka oleh semua orang. Pada saat tatanan baru yang bertolak dari peraturan Sri Mangana itu dijalankan dengan gegap gempita oleh masyarakat dengan kericuhan di sana-sini, tersiar kabar bahwa Sri Mangana gering. Bagaikan kawanan orang yang sedang berpacu dan tiba-tiba terhalang oleh jalan buntu, seluruh penduduk Caruban Larang secara serentak menghentikan kegiatan untuk menggerakkan perubahan. Bagaikan orang kebingungan, mereka saling pandang seolah tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Kemudian seperti digerakkan oleh kekuatan gaib, mereka mengarahkan mata dan telinga ke Puri Kaprabon; menuggu dengan harap-harap cemas tentang apa yang akan terjadi dengan sang ratu Caruban Larang yang mereka jadikan tumpuan harapan.

Sebagai orang-orang yang tidak pernah diperkenalkan pada kebebasan pribadi dan hanya mengenal keberadaan diri sebagai kawula (budak), penduduk Caruban Larang memang sangat tergantung pada keberadaan Sri Mangana. Andaikata yang memimpin gerakan pembangunan tatanan baru itu bukan sang raja muda Caruban Larang, pastilah mereka tidak akan berani mengikutinya. Saat mereka berselisih karena berebut batas tanah, misalnya, junjungan mereka itu dengan mudah melerainya dan menempatkan peraturan tambahan tentang batas-batas kepemilikan tanah yang layak bagi satu keluarga. Bahkan saat tersebar berita yang simpang-siur tentang kemarahan para raja muda dari Galuh Pakuan, Talaga, Raja Galuh, dan Dermayu, tidak sedikit pun mereka risaukan karena bagi mereka raja muda Caruban Larang adalah pimpinan tertinggi yang harus mereka patuhi. Tapi kini, saat kabar geringnya Sri Mangana itu merebak ke berbagai penjuru negeri, mereka benar-benar cemas dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, kecuali menunggu kabar lanjutan tentang ratu mereka.

Di tengah kecemasan seluruh penduduk Caruban Larang, tanpa terduga tersiar kabar yang tak kalah mengejutkan: sesungguhnya Sri Mangana sakit ingatan. Gila. Sehari-harinya ratu Caruba Larang itu mengurung diri di dalam kamar bagaikan orang linglung. Tugas sebagai imam sembahyang Jum�at di Tajug Agung Caruban sudah tidak lagi di lakukannya selama beberapa pekan. Kebiasaannya membaca Al-Qur�an setiap usai sembahyang subuh dan isya tidak lagi berjalan. Kehadirannya di Tajug Jalagrahan dan Pesantren Giri Amparan Jati pun tidak lagi diketahui. Bahkan, putera dan puterinya yang mendekat dihardiknya agar menyingkir.

Kabar sakitnya Sri Mangana, meski agak terlambat, sangat mengejutkan Abdul Jalil yang baru tiba dari Luragung. Dengan diikuti Syaikh Abdul Malik Israil dan Ballal Bisvas, ia datang ke Puri Kaprabon untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang dialami ayahanda asuhnya. Saat sampai di Puri Kaprabon, tepatnya di Purasabha, Abdul Jalil melihat para gedeng berkumpul dengan wajah diliputi kecemasan. Dari mereka Abdul Jalil mendapat penjelasan jika sang ratu benar-benar sedang mengalami tekanan batin. Sikapnya seperti orang hilang akal. Perilakunya bagai orang mengalami gangguan jiwa. �Beliau seperti ketakutan setiap melihat atau mendengar sesuatu,� lapor Ki Gedeng Pasambangan getir.

Saat melangkah masuk ke Parapuri, ia bertemu dengan ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, yang sedang berbincang-bincang dengan kakaknya, Nyi Muthma�inah, di Bale Rangkang. Kemudian dengan beriringan mereka masuk ke dalam ruang utama Parapuri.

Betapa Abdul Jalil terkejut melihat keadaan Sri Mangana. Bagaikan berada di alam mimpi, ia terperangah dengan hati pedih. Ratu Caruban Larang yang selama ini ia kenal sebagai laki-laki tegar dan tak kenal takut itu dilihatnya sedang meringkuk di sudut ruangan dengan wajah kuyu dan tubuh gemetar. Saat Abdul Jalil tengah menduga-duga apa yang sesungguhnya sedang dialami ayahanda asuhnya itu, tiba-tiba Sri Mangana mendekatinya. Ketika jarak mereka tinggal sejangkauan, tiba-tiba Sri Mangana menjulurkan kedua tangannya dan mencengkeram erat-erat kedua bahu Abdul Jalil sambil berkata, �Tolonglah aku, o Puteraku. Aku sekarang sedang mengalami kegilaan. Tidak tahu apa yang sedang aku alami ini. Aku merasa sedang dicekam kegilaan yang tidak aku ketahui ujung dan pangkalnya.�

�Apakah yang sesungguhnya sedang Ramanda Ratu rasakan dan alami?� ujar Abdul Jalil menyeringai kesakitan karena bahunya diterkam Sri Mangana. �Ananda benar-benar tidak melihat ada sesuatu yang disebut kegilaan pada diri Ramanda Ratu.�

�Entah apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada diriku. Aku merasakan segala sesuatu yang ada di dunia ini tiba-tiba berubah dengan aneh. Segala sesuatu yang aku saksikan seperti menyingkapkan tirai dan menunjukkan jati dirinya.� Sri Mangana berkata dengan tangan gemetar dan peluh bercucuran. �Seolah-olah semua yang terhampar di hadapanku menyatakan diri sebagai pengejawantahan Tuhan. Semua selubung tersingkap. Lalu �wajah� Yang Ilahi menampak di mana-mana. Bukankah itu gila? Bukankah itu sesuatu yang menyesatkan? Aku tidak tahu kenapa bisa mengalami kejadian gila seperti itu.�

�Bagaimana awal mula kejadian itu berlaku pada Ramanda Ratu?�

�Awalnya, ketika aku membaca Al-Qur�an tiba-tiba kusaksikan ayat-ayat di situ menyingsingkan selubungnya dan mengungkapkan jati dirinya,� kata Sri Mangana.

�Apakah ketika itu Ramanda Ratu membaca surah al-Fatihah?�

�Benar sekali,� ujar Sri Mangana.

�Apakah Ramanda Ratu melihat ayat demi ayat dari surah itu membuka selubung jati diri?�

Sri Mangana membenarkan. Saat membaca ayat demi ayat surah al-Fatihah, ia mendapati semua ayat tersebut seperti membuka selubung jati diri masing-masing. Pertama-tama, ayat berbunyi alhamdu li Allahi rabbi al-alamin, maknanya bukan lagi sebagai yang ia pahami selama ini yaitu �segala puji bagi Allah Rabb alam semesta.� Masing-masing kata di dalam ayat itu tiba-tiba seperti bisa berbicara dan mengungkapkan jati diri bahwa di balik kata alhamdu sesungguhnya terselubung hakikat al-Hamid. Di balik kata li Allahi sesungguhnya selubung hakikat Allah. Rabbi al-alamin, selubung hakikat al-�Alim. Begitupun ar-rahman dan ar-rahim, mengungkap jati diri sebagai selubung hakikat ar-Rahman dan ar-Rahim. Maliki yaum ad-din, selubung dari hakikat al-Malik al-Mulki. Iyyaka na�budu, selubung dari hakikat Allah sebagai Ma�bud, yaitu Ism al-Zat dari yang wajib disembahsujudi. Wa iyya nasta�in, selubung dari hakikat ash-Shamad. Ihdina ash-sirath al-mustaqim, selubung dari hakikat al-Hadi. Demikianlah, kata demi kata di dalam al-Fatihah mengungkapkan jati dirinya sebagai selubung dari asma�, shifat, dan af�al Allah, di mana kata dhallin pun merupakan selubung dari hakikat al-Mudhill.

�Usai membaca al-Fatihah, aku langsung menutup al-Qur�an. Aku benar-benar ketakutan karena akalku tidak bisa menerima kenyataan huruf-huruf itu bisa hidup dan memberi kesaksian jati diri kepadaku. Aku merasa sesuatu yang tidak beres pada jiwaku tentu sedang terjadi. Setelah kejadian itu, ke mana pun aku berpaling dan melihat benda-benda aku menyaksikan semuanya mengungkapkan jati diri sebagai pengejawantahan dari �wajah� Ilahiyyah yang menyelubungi hakikat Allah.�

Keanehan yang makin menakutkanku adalah ketika aku kembali dari Tajug Jalagrahan, tepatnya saat melewati pekuburan Pamelathi. Saat itu aku mendengar suara hiruk pikuk yang mengerikan. Sewaktu aku perhatikan, ternyata suara-suara itu berasal dari pekuburan. Suara itu adalah jerit tangis orang-orang mati dari dalam kuburnya. Sungguh menakutkan sekali pengalaman itu. Lantaran aku tidak kuasa menghadapi semua kenyataan itu maka aku mengurung diri di dalam kamar. Aku benar-benar takut jika aku sesungguhnya sedang menderita gangguan jiwa,� kata Sri Mangana.

Abdul Jalil tertawa mendengar penjelasan Sri Mangana. Kemudian dengan bahasa perlambang ia bercerita tentang seekor ikan yang kebingungan katika menyadari keberadaan dirinya di dalam air. Ikan itu makin kebingungan ketika ia bisa menyaksikan betapa sesungguhnya batu karang, pasir laut, ubur-ubur, dan ikan-ikan lain sesungguhnya berada di dalam liputan air. Ketika sedang bingung itulah datanglah seekor ikan tua yang berkata begini: �Sesunguhnya engkau harus menjadi pemimpin dari ikan-ikan sebangsamu. Sebab, engkau telah mengetahui hakikat air dan seluruh kehidupan di dalamnya. Engkau sudah bisa membedakan mana air yang keruh dan mana air yang jernih. Engkau telah tahu ke mana arus air bergerak. Karena itu, o ikan yang sudah sadar diri, jika engkau menjadi pemimpin dari ikan-ikan sebangsamu, pastilah engkau membawa mereka ke jalan keselamatan dan kebahagiaan. Engkau tidak akan mungkin membawa mereka yang engkau pimpin itu masuk ke perairan yang keruh dan dangkal. Engkau juga tidak akan membawa ikan-ikan yang engkau pimpin ke kawasan yang penuh umpan para pemancing.�

�Aku belum paham maksudmu, o Puteraku,� kata Sri Mangana.

�Ramanda Ratu sesungguhnya tidak mengalami kegilaan. Sebaliknya, Ramanda Ratu telah menapaki tangga ma�rifat tanpa Ramanda Ratu sadari. Ramanda Ratu sekarang ini berada dalam keadaan awal menyaksikan �wajah� Yang Ilahi (QS al-Baqarah: 115). Apa yang Ramanda Ratu alami seibarat Rasulullah Saw. Saat menyaksikan Jibril a.s. kali pertama. Beliau saat itu menyaksikan Jibril a.s. laksana cahaya subuh. Ke mana pun berpaling, yang beliau saksikan adalah penampakan Jibril a.s..�

�Sesungguhnya Ramanda Ratu sedang mengalami penyingkapan (kasyf) kesadaran jiwa. Gumpalan awan hitam ghain yang menyelubungi kalbu Ramanda Ratu telah tersingsingkan akibat terbitnya purnama ruhani zawa�id sehingga jiwa Ramanda Ratu diliputi pemahaman ruhani fawa�id. Itu berarti, mata batin Ramanda Ratu telah tercelikkan. Telinga batin (sama�) Ramanda Ratu telah tersingkap. Dan sesungguhnya, itulah yang disebut al-wajd, yang menimbulkan keguncangan pada diri Ramanda Ratu,� Abdul Jalil menjelaskan.

�Apa yang harus aku lakukan sekarang ini?� tanya Sri Mangana dengan wajah tiba-tiba diliputi harapan dan gairah hidup. �Karena aku sudah menduga jika diriku gila.�

�Ramanda Ratu harus mendaki terus tangga demi tangga maqamah sehingga akhirnya Ramanda Ratu dapat mencapai hadirat-Nya dan fana ke dalam keesaan-Nya.�

�Dengan cara bagaimana?�

�Dengan menyingsingkan keakuan yang lebih dari sebelumnya sampai Ramanda Ratu kehilangan segala-galanya kecuali Allah.�

�Apalagi yang harus aku singsingkan dari keakuanku?� tanya Sri Mangana. �Bukankah aku sudah tidak memiliki sesuatu lagi? Ilmu kedigdayaan, tanah, kawula, sumber nafkah, kekuasaan, kehormatan, bahkan semua pamrih yang melekat ke padaku sudah habis. Aku sekarang ini sudah merasa seperti orang sebatang kara yang hidup sendirian tanpa kawan.�

�Justru saat inilah Ramanda Ratu harus berkhidmat kepada tugas mulia sebagai wakil Allah di muka bumi. Maksud ananda, maqam Ramanda Ratu akan meningkat ke maqamah yang lebih tinggi jika Ramanda Ratu merelakan sisa terakhir yang ada pada Ramanda Ratu untuk dibagi-bagikan lagi kepada yang lain. Apakah sisa terakhir yang paling berharga yang masih Ramanda Ratu miliki? Menurut ananda, keluasan ilmu siyasah dan tata negara yang Ramanda Ratu miliki sebagai harta benda tak ternilai hendaknya didermakan untuk berkhidmat kepada tugas mulia sebagai wakil Rasul Allah. Bukankah saat Rasulullah Saw. Mengalami peristiwa bertemu Jibril a.s. di Gua Hira tidak menjadikan beliau makin bersembunyi? Bukankah setelah itu malah turun ayat yang memerintahkan beliau untuk bangkit memberi peringatan kepada manusia (QS al-Mudatsir: 1-7)? Bukankah Rasulullah Saw. dan keempat sahabatnya tidak pernah mengurung diri di gua? Bukankah berkhidmat kepada umat adalah bagian dari jalan hidup beliau dan keempat sahabatnya?�

Ketika Sri Mangana akan berkata-kata, Abdul Jalil memegang kedua tangan ayahandanya yang masih mencengkeram bahunya. Kemudian dengan mata berbinar-binar Abdul Jalil berkata, �Sekarang ini matahari harapan yang ananda tunggu-tunggu telah terbit. Ternyata matahari itu terbit tidak jauh dari diri ananda, yakni Ramanda Ratu sendiri. Ramanda Ratulah matahari harapan itu.�

�Aku tidak memahami maksudmu, o Puteraku,� kata Sri Mangana dengan tanda tanya.

�Bukankah di tengah perubahan tatanan lama kawula menjadi tatanan baru masyarakat ummah sesungguhnya tetap dibutuhkan seorang pemimpin? Bukankah dalam khotbah-khotbah yang ananda sampaikan selalu ananda katakan bahwa pemimpin masyarakat ummah adalah wali al-Ummah yang bergelar kalifah ar-rasul sayyidin panatagama? Ananda yakin, pasti Ramanda Ratulah wakil Allah di muka bumi yang paling layak menduduki jabatan itu saat ini.�

Ketika para ningrat darah biru Sunda bersukacita mendengar kabaar geringnya Sri Mangana, terjadi suatu peristiwa yang tak pernah mereka bayangkan. Kabar dari para pengintai mengatakan, keberadaan sepuluh gedeng yang menduduki jabatan gedenga atas dasar pilihan warga itu ternyata telah diikuti oleh gedeng yang lain, seperti Ki Gedeng Jatimerta, Ki Gedeng Mundu, Ki Gedeng Ujung Gebang, Ki Gedeng Buntet, Ki Gedeng Selopandan, Ki Gedeng Japura, Ki Gedeng Plumbon, Ki Gedeng Sembung, Ki Gedeng Plered, Ki Gedeng Tedeng, Ki Gedeng Losari, Ki Gedeng Pangarengan, Ki Gedeng Kadanggaru, Ki Gedeng Panderesan, Ki Gedeng Tameng, dan Ki Gedeng Sura (Tegal Gubuk). Yang lebih mengejutkan, seluruh gedeng serempak menyatakan kesepakatan untuk memilih dan mengangkat Sri Mangana sebagai penguasa baru Caruban Larang dengan nama Abhiseka Sri Mangana, Kalifah ar-Rasul Sayyidin Panatagama, Ratu Aji di Caruban.

Kabar dari para pengintai tentu saja membuat para penguasa dan ningrat darah biru Sunda tertegun-tegun. Mereka tidak bisa memahami lahirnya sebuah tatanan baru yang menempatkan keberadaan seorang pemimpin didasarkan atas pilihan para gedeng. Tatanan itu benar-benar aneh dan mengherankan mereka. Peraturan yang berlaku selama ini menunjukkan bahwa para gedeng adalah pejabat daerah yang ditunjuk dan diangkat oleh adipati. Sementara adipati-adipati diangkat atas tunjukan ratu. Dengan demikian, jelaslah bahwa tatanan baru di Caruban Larang merupakan hal aneh karena terbalik dengan tatanan yang ada.

Belum usai para penguasa dan ningrat darah biru Sunda terheran-heran dengan pengangkatan Sri Mangana sebagai kalifah, mereka memperoleh kabar yang lebih mengejutkan. Menurut laporan lanjutan para pengintai, segera setelah dinyatakan terpilih sebagai kalifah, Sri Mangana meninggalkan Puri Kaprabon dan tinggal di gubuk kayu beratap daun kawung yang terletak di luar tembok baluwarti, tepatnya di utara Lawang Gede. Gubuk kayu kecil itu dinamai Pekalipan (pekalifahan), yaitu tempat kediaman sang kalifah. Sementara seluruh keluarganya juga meninggalkan puri dan tinggal di dalam tembok di dekat Lawang Gede. Kediaman baru keluarga sang kalifah itu juga berupa gubuk-gubuk kayu yang sangat sederhana dan disebut ndalem Pekalipan. Dan yang lebih aneh lagi, sekarang ini seluruh kawula dan bahkan budak sekali pun setiap saat dapat menghadap sang kalifah. Bahkan, sejumlah pejabat penting kalifah adalah kawula yang berasal dari kasta rendahan.

Kabar tentang perubahan yang terjadi atas kehidupan Sri Mangana benar-benar menimbulkan kegemparan di kalangan penguasa dan ningrat darah biru Sunda. Mereka tidak paham dengan apa yang sedang terjadi pada pemimpin tertinggi Caruban Larang itu. Prabu Guru Dewata Prana Sang MahaRaja Sunda, ayahanda Sri Mangana, bahkan merasa hatinya pedih dan jiwanya terluka ketika mendengar kabar bahwa puteranya itu memilih hidup dalam kehinaan di gubuk-gubuk kecil dengan didampingi pejabat-pejabat dari kasta rendahan.

Sebagai maharaja yang berkuasa atas seluruh Bumi Pasundan, Prabu Guru Dewata Prana, yang belum mengetahui konsep khilafah di dalam ajaran Islam sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabatnya, sangat berduka mendengar puteranya dipilih dan diangkat sebagai pemimpin tertinggi, namun hidup miskin di gubuk-gubuk hina dengan dibantu pejabat-pejabat berkasta rendah. Sebab, sebagaimana umumnya pandangan yang lazim, Prabu Guru Dewata Prana menganggap tiap-tiap kekuasaan harus selalu terkait kuat dengan kemegahan, kemewahan, kekayaan, dan kemuliaan tetesan darah agung para raja.

Dengan ketidakpahamannya tentang konsep khilafah itulah Prabu Dewata Prana kemudian mengutus Pangeran Raja Sanghara, adik kandung Sri Mangana, dengan didampingi Adipati Liman Sanjaya, Yang Dipertuan Sunda Larang, puteranya yang lain, pergi ke Kuta Caruban untuk meminta penjelasan dari Sri Mangana tentang apa yang sesungguhnya sudah terjadi pada dirinya. �Apa pun yang terjadi, janganlah kalian membiarkan saudaramu itu hidup dalam kehinaan dengan menghuni gubuk-gubuk kecil yang hanya cocok untuk hunian kalangan potet (gelandangan). Sebab, kehinaan yang dialaminya sesungguhnya akan menyangkut-paut pula takhta kerajaan Sunda. Jangan menista dan merendahkan keagungan darah leluhur yang mengalir di tubuhnya dengan memilih hidup seperti itu,� ujar Prabu Guru Dewata Prana sedih.

Pangeran Raja Sanghara dan Adipati Liman Sanjaya pun pergi menemui Sri Mangana untuk menjalankan titah maharaja Sunda. Namun, saat mereka bertemu dan berbincang-bincang dengan Sri Mangana soal khilafah, keduanya justru tertarik. Mereka berdua dapat memahami apa yang dikemukakan Sri Mangana sebagai suatu keniscayaan dari perubahan yang bakal melanda tatanan lama kehidupan di Bumi Pasundan. Sehingga, di sepanjang perjalanan kembali dari Caruban Larang mereka terus memperbincangkan masalah khilafah tersebut.

Ketika hasil pertemuan dengan Sri Mangana disampaikan Pangeran Raja Sanghara kepada ayahandanya, ternyata sang maharaja bertambah bingung. Prabu Guru Dewata Prana sulit sekali menerima alasan-alasan yang mendasari konsep khilafah yang tidak lazim itu. Sebagai keturunan raja besar Sunda, di dalam jiwa dan pikiran Prabu Guru Dewata Prana memang hanya dikenal satu gambaran utuh bahwa sebuah kekuasaan adalah identik dengan kemegahan, kemewahan, keagungan, kemuliaan, kekayaan berlimpah, dan ketidakbersalahan. Itu sebabnya, ia tetap menganggap aneh perilaku puteranya yang menerapkan khilafah di Caruban Larang. Untuk kali kedua ia mengutus Ki Purwagalih menemui Sri Mangana di gubuknya.

Tidak berbeda dengan Pangeran Raja Sanghara dan Adipati Liman Sanjaya, Ki Purwagalih, penasihatnya yang beragama Islam itu, menuturkan alasan-alasan kuat Sri Mangana untuk menerapkan khilafah di Caruban Larang sesuai yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat. Dan untuk kali ke sekian, maharaja Sunda itu kecewa karena tetap sulit menerima kenyataan adanya kekuasaan yang terkait dengan kemiskinan dan kekurangan. Setelah itu ia mengutus Adipati Liman Sanjaya kembali ke Kuta Caruban untuk melihat istri-istri dan putera-putera Sri Mangana. Sang maharaja pun makin terkejut ketika mendapat laporan para menantu dan cucunya juga harus hidup di gubuk-gubuk kecil beratap daun kawung. �Aturan hidup apa yang sesungguhnya diikuti oleh puteraku itu? Ini sungguh hal yang sulit dimengerti,� gumam Prabu Guru Dewata Prana pedih.

Keheranan dan ketidakpahaman Prabu Guru Dewata Prana atas apa yang dilakukan Sri Mangana makin meningkat menjadi kekecewaan ketika ia beroleh laporan bahwa puteranya yang menjadi kalifah itu menempatkan orang-orang dari kalangan prthagjana (kasta rendah) sebagai nayakapraja. Bahkan, seorang pujut (budak kulit hitam) bernama Ballal Bisvas dari Bharatnagari tidak ditempatkan sebagai pameng-amengan (permainan kesukaan) sebagaimana lazimnya, tetapi malah diangkat menjadi raja muda dengan gelar Adipati Suranenggala.

Di tengah pusaran arus berita yang teraduk-aduk tentang perubahan di Caruban Larang, Prabu Surawisesa, penguasa Galuh Pakuan, adalah satu-satunya penguasa Bumi Pasundan yang berada pada kedudukan paling sulit. Dikatakan paling sulit karena segala sesuatu yang terkait dengan Sri Mangana, saudara tiri yang menjadi penguasa Caruban Larang itu, sebenarnya telah mengombang-ambingkan harapan dan langkah-langkah yang dilakukannya untuk mewarisi takhta kerajaan Sunda. Sejak awal ketika ia berusaha menancapkan kekuasaan atas Caruban Larang, tanpa terduga saudara tirinya itu muncul dan menjadi penghalang utama yang menjegal langkahnya. Ya, sejak semula saudara tirinya itu telah menjadi penghalang berat baginya untuk meraih takhta kerajaan Sunda.

Sebagai putera maharaja yang sangat yakin bakal mewarisi takhta, di tengah gemuruh ambisi yang mengobari jiwanya, Prabu Surawisesa pun sesungguhnya mewarisi kebijaksanaan ayahandanya. Sekali � di tengah langkah-langkahnya � ia menoleh ke belakang untuk menilai kembali liku-liku dan tanjakan jalan yang telah dilewatinya. Tahun ini ia memasuki usia enam puluh lima tahun. Usia yang sesungguhnya sangat lanjut bagi seseorang untuk memikirkan bagaimana merebut takhta kerajaan.

Prabu Surawisesa sering menyadari bahwa di usianya yang sudah tidak muda itu seharusnya ia lebih memikirkan masalah ruhani. Namun, nafsu kekuasaan yang mengalir di tubuhnya sering menindas kesadaran itu. Yang sering kali muncul di tengah kesadaran itu adalah peristiwa penuh korban besar bagi langkahnya menuju takhta. Itu sebabnya, ia tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan itu.

Sesungguhnya pengorbanan Prabu Surawisesa untuk merebut Caruban Larang sudah sangat besar. Puluhan tahun silam ia telah merelakan putri kesayangannya, Nyi Ratu Inten Dewi, yang kala itu berusia sebelas tahun untuk diperistri kuwu Caruban Ki Danusela yang berusia empat puluh tahun. Selanjutnya, ia juga merelakan puterinya yang lain, Nyi Rara Anjung, yang kala itu berusia sepuluh tahun untuk diperistri oleh Syaikh Datuk Kahfi yang sudah berusia tiga puluh tahun lebih. Saat itu ia benar-benar yakin tanah samiddha Caruban Larang sudah berada di dalam pengaruhnya. Bahkan saat puteranya, Rsi Bungsu, menduduki jabatan kuwu menggantikan Ki Danusela, ia merasa Caruban Larang benar-benar berada di dalam genggamannya.

Namun, pengorbanan yang dilakukannya untuk merebut Caruban Larang mendadak pupus manakala terjadi kericuhan yang melibatkan orang-orang Demak, yang kemudian disusul munculnya saudara tirinya, Pangeran Walangsungsang, sebagai kuwu sekaligus cakrabhumi Caruban Larang. Pengorbanannya makin terasa sia-sia ketika Pangeran Walangsungsang dinobatkan oleh ayanhandanya sebagai raja muda Caruban Larang dengan gelar Sri Mangana dan diberi kewenangan menerima upeti dari negeri-negeri taklukan (sakawat bhumi) di Sunda wilayah pesisir timur. Kesia-siaan pengorbanannya itu menjadi ancaman ketika ia menerima bahwa Yang Dipertuan Caruban Larang diam-diam giat membangun kekuatan militer dan menjalin hubungan erat dengan para adipati di pesisir Nusa Jawa.

Kini, di tengah kekecewaan dan rasa terancamnya, Prabu Surawisesa semakin cemas dan curiga dengan hingar bingar api perubahan yang disulut Sri Mangana. Sebab, ia sadar benar arah gerakan saudara tirinya itu bermuara ke perebutan takhta Kerajaan Sunda. Lantaran itu, ia menyambut kabar pemilihan ratu Caruban Larang sebagai kalifah itu dengan perasaan yang sulit diungkap: cemas, curiga, penasaran, benci, dan takut yang teraduk-aduk menjadi satu.

Ketika sang penguasa Galuh Pakuan tengah terombang-ambing oleh perasaan yang sulit diungkapkan, tanpa terduga muncul puteranya, bekas kuwu Caruban pengganti Ki Danusela: Rsi Bungsu. Anak bungsunya yang pernah dicari-cari orang Pakuan Pajajaran karena melakukan kekacauan di Caruban Larang dan membohongi maharaja Sunda itu muncul pada saat kesulitan menghadang penguasa Galuh Pakuan. Sebagai seorang ayah, Prabu Surawisesa tahu benar jika kemunculan puteranya itu tentu sudah diperhitungkan.

Rsi Bungsu sendiri tampaknya mengetahui kapan ia harus muncul dan menghadap ayahandanya yang telah diberinya banyak kesulitan akibat sepak terjangnya. Demikianlah, dengan keahliannya bersilat lidah, saat menghadap ayahandanya ia menuturkan perjuangan kerasnya untuk menghalang-halangi niat jahat Sri Mangana yang mengancam keutuhan Kerajaan Sunda. Ia mengemukakan usahanya itu dengan cara memberi nasihat kepada Yang Dipertuan Rajagaluh, Prabu Cakraningrat. �Kepada Pamanda Prabu Cakraningrat ananda mengusulkan untuk menjadikan daerah Palimanan sebagai �pagar pertahanan� dari ancaman Sri Mangana. Maksud ananda, Palimanan yang menjadi bagian dari Caruban Larang harus dimasukkan ke dalam wilayah Rajagaluh melalui siasat. Dan, ternyata siasat ananda berhasil dengan gemilang,� kata Rsi Bungsu.

�Siasat apa? Ceritakanlah kepadaku, o Puteraku terkasih!� kata Prabu Surawisesa.

�Ananda mengikuti tata cara yang sama dengan yang dianut penguasa Caruban Larang.�

�Maksudnya?�

�Penguasa Palimanan harus dipilih oleh para gedeng. Dan penguasa terpilih, sang adipati, akan menyatakan kesetiaan kepada Yang Dipertuan Rajagaluh,� kata Rsi Bungsu.

�Bagaimana hal itu bisa dilakukan?� tanya Prabu Surawisesa penasaran.

�Atas perkenan dan dukungan Pamanda Prabu Cakraningrat, ananda mendatangi Ki Gedeng Kiban, Ki Gedeng Leuimunding, Ki Demang Dipasara, Ki Demang Surabangsa, Ki Gedeng Kenanga, dan Ki Ardisora, penguasa Bobos. Kepada mereka ananda bagikan masing-masing sekarung uang emas dan dua karung uang perak. Kepada mereka ananda menjanjikan jabatan-jabatan tinggi di Rajagaluh jika mereka bersedia secara terbuka memilih adipati Palimanan untuk memimpin mereka. Usaha ananda itu terbukti berhasil gemilang sehingga Palimanan sekarang ini masuk ke dalam wilayah Rajagaluh karena sesuai keinginan para gedengnya masing-masing sebagaimana yang diberlakukan di Caruban Larang,� kata Rsi Bungsu bangga.

�Siapakah adipati Palimanan sekarang ini?� tanya Prabu Surawisesa.

�Ki Kiban, Gedeng Palimanan.�

Prabu Surawisesa sangat bersukacita mendengar penjelasan Rsi Bungsu. Diam-diam ia memuji kecerdikan putera bungsunya. Ia mengakui betapa kemunculan putera bungsunya di Galuh Pakuan telah mengubah kecemasannya menjadi ledakan rasa sukacita. Pasalnya, selain melaporkan keberhasilannya menghalangi usaha ratu Caruban Larang, puteranya itu menyerahkan pula susunan tata pemerintahan kalifah Caruban Larang lengkap dengan nama pejabatnya. Bahkan, puteranya itu masih menyampaikan gagasan-gagasan cemerlang yang dapat digunakan untuk menekuk pesaingnya dalam merebut takhta.

Prabu Surawisesa benar-benar sangat bergembira. Di dalam susunan tata pemerintahan kalifah itu tertera dengan jelas bahwa jabatan-jabatan penting yang ada di Caruban Larang telah dipegang oleh orang-orang bukan Sunda.

�Ananda berharap Ramanda Prabu Guru Dewata, Ratu Aji di Surawisesa, dapat menggunakan apa yang telah ananda peroleh itu untuk menyingkirkan penguasa Caruban Larang yang sudah tidak waras lagi. Tanpa bermaksud menggurui, ananda berharap Ramanda Prabu dapat memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Maksud ananda, hendaknya Ramanda Prabu dapat menggunakan masalah banyaknya orang asing dalam pemerintahan di Caruban Larang itu untuk menyulut kebencian orang-orang Sunda. Ananda yakin setiap orang Sunda akan sakit hati jika melihat susunan pemerintahan ratu Caruban Larang.�

�Adakah saranmu yang lebih baik lagi?� tanya Prabu Surawisesa.

�Sebaiknya Ramanda Prabu menyebarkan para pengintai ke berbagai tempat di Caruban Larang dan sepanjang pesisir utara Sunda. Ramanda Prabu hendaknya menitahkan kepada mereka untuk menyebarkan berita burung yang mengatakan bahwa Sri Mangana adalah utusan maharaja Cina yang sedang menjalankan tugas merongrong kerajaan Sunda. Ananda kira, siapa pun di antara orang Sunda dan terutama para putera maharaja akan menentang sang kalifah dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi,� kata Rsi Bungsu.

Prabu Suraswisesa sangat bergembira menerima saran puteranya. Ia merasa seolah-olah telah memiliki senjata ampuh, yang jika dilepaskan akan membinasakan pesaingnya dalam perebutan takhta itu. Ya, sekarang ia telah memegang senjata ampuh. Sebab, di dalam daftar nama pejabatat Pekalipan yang disampaikan puteranya itu, memang menunjukkan lebih dari separo jabatan penting dipegang oleh orang-orang bukan Sunda. Wilayah Caruban Larang, misalnya, dibagi menjadi sembilan nagari yang pemimpinnya disebut wali nagari, dan jabatan itu bahkan lebih banyak diserahkan kepada anak-anak yang terlalu muda usianya.

Pertama, Nagari Kalijaga membawahi Kagedengan Kalijaga, Mundu, Astanamukti, Beber, Karangwuni, Munjul, Japura, Pangarengan, dan Buntet. Para gedeng sepakat menunjuk Raden Sahid putera Adipati Tuban, Arya Sidik, sebagai wali nagari Kalijaga.

Kedua, Nagari Cangkuang membawahi Kagedengan Cangkuang, Ender, Babakan, Gebang, Karangsembung, Kertawana, Cihaur, dan Taraju. Para gedeng sepakat menunjuk Raden Anggaraksa sebagai wali nagari Cangkuang dengan gelar Ki Dipati Cangkuang. Raden Anggaraksa adalah putera Dalem Naya, Yang Dipertuan Ender.

Ketiga, Nagari Losari membawahi Kagedengan Losari, Tersana, Bojong Nagara, Luragung, dan Waled. Para gedeng sepakat menunjuk Arya Wangsa Goparana, mantan penguasa Sagara Herang, sebagai wali nagari. Arya Wangsa Goparana tersingkir dari Sagara Herang dan bermukim di Caruban Larang karena memeluk Islam.

Keempat, Nagari Kuningan membawahi Kagedengan Kuningan, Nanggerang, Panderesan, Cigugur, dan Sambawa. Para gedeng sepakat menunjuk Angga, putera Ki Gedeng Kemuning, sebagai wali nagari Kuningan. Ki Gedeng Kemuning adalah seorang Cina muslim. Ia bernama Ong Wi, keturunan pemuka Cina asal Palembang yang bernama Ong Te.

Kelima, Nagari Gunung Jati membawahi Kagedengan Pasambangan, Trusmi, Kalisapu, Sembung, Babadan, Jamaras, dan Plumbon. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Syarif Hidayatullah, anak muda asal negeri Arab, menantu Ki Gedeng Babadan.

Keenam, Kuta Caruban dan Puri Caruban Girang dipimpin oleh Raden Qasim � di kalangan warga asal Campa dikenal dengan nama Masaih Munat � putera bupati Surabaya, Pangeran Ali Rahmatullah. Agak berbeda dengan wali nagari yang lain, Raden Qasim menduduki jabatan penguasa Kuta Caruban dan Puri Caruban Girang tidak dengan cara dipilih, tapi ditunjuk Sri Mangana. Ia juga dianugerahi gelar Pangeran Darajat oleh sang ratu Caruban Larang karena ayahandanya adalah kemenakan ratu Majapahit.

Ketujuh, Nagari Gegesik yang membawahi Kagedengan Gegesik, Kapetakan, Pangurangan, Karangkendal, Kartasemaya, Srengseng, dan Junti. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Ballal Bisvas yang namanya diganti menjadi Suranenggala, seorang pendeta Bhairawa asal Bharatnagari.

Kedelapan, Nagari Susukan yang membawahi Kagedengan Susukan, Glagahamba, Tegal Karang, Tegal Gubuk, Ujungsemi, dan Luwung Kancana. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Syaikh Jamalullah, gedeng Ujungsemi.

Kesembilan, Nagari Sindangkasih yang membawahi Kagedengan Sindangkasih, Sedong, Kaliaren, Nanggela, dan Pancalang. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Abdul Qadir , seorang kepala pemberontak asal Pulau Upih (Pinang). Dengan sembilan wali nagari di Caruban Larang itu jelaslah bahwa hanya wali nagari Cangkuang dan Losari saja yang putera Sunda, selainnya orang asing.

Selain memuat nama-nama wali nagari, daftar nama yang dibawa Rsi Bungsu juga memuat sejumlah nama pejabat dalam pemerintahan kalifah Caruban Larang yang sangat sedikit menempatkan orang-orang Sunda pada kedudukan penting. Jabatan adhyaksa, misalnya, oleh Sri Mangana dipercayakan kepada Abdurrahim Rumi, anak muda asal Baghdad, kemenakan istri Syaikh Datuk Abdul Kahfi. Jabatan manghuri (sekretaris negara) dipercayakan kepada Haji Musa, putera Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Shiddiq, Karawang.

Jabatan syahbandar diberikan kepada Li Han Siang, pemuka warga Cina asal Dermayu. Pejabat pabean dipercayakan kepada Haji Shang Shu, pemuka warga Cina Kuta Caruban. Jabatan juru sukat dipercayakan kepada Ling Tan, pemuka warga Cina asal Junti. Jabatan baru wazir dipercayakan kepada Syaikh Bentong, saudara tua Haji Musa. Jabatan manggalayuddha Caruban dipegang sendiri oleh Sri Mangana. Sedangkan jabatan kepala perdagangan diserahkan kepada Abdurrahman Rumi, kakak Abdurrahim Rumi, dengan dibantu Wu Lien dan Wang Tao, keduanya orang Cina asal Karawang. Sementara orang-orang Sunda hanya diberi kepercayaan menduduki jabatan demang, wadana, juru demung (kepala pegawai di istana), rangga (pejabat istana), juru gusali (kepala pande besi), juru dyah (kepala pelayan istana), juru taman (kepala tukang kebun istana), juru pangalasan (kepala prajurit pangalasan), tumenggung (pejabat tinggi kraton), dan nayarma domas (komandan batalyon).

Read More ->>

API PERUBAHAN Ⅱ

Api Perubahan Berkobar di Caruban Larang

Tahun 1415 Saka adalah tahun perubahan yang mulai terasa getarannya di Bumi Pasundan. Percik api yang membara di Lemah Abang pada awal tahun tersebut mengamuk menjadi gelombang dahsyat yang menyambar-nyambar ke berbagai tempat di sekitarnya. Lahirnya tatanan baru kehidupan warga Lemah Abang yang disebut kabilah atau ra�yat ternyata dalam waktu singkat telah berkobar-kobar ke berbagai tempat di wilayah Caruban Larang. Sejumlah nagari yang sudah berubah seperti Lemah Abang adalah wilayah yang dipimpin oleh Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Ujungsemi, Ki Gedeng Sindangkasih, Ki Gedeng Tersana, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Paluamba, Ki Gedeng Surantaka, Ki Gedeng Trusmi, dan Ki Gedeng Caruban Girang.

Seluruh penguasa di Bumi Pasundan melihat perubahan itu dengan perasaan cemas dan gelisah. Mereka seolah-olah menunggu apa yang berikutnya akan terjadi setelah tatanan baru yang diawali di Lemah Abang itu diikuti oleh sembilan nagari di wilayah Caruban Larang. Meski mereka telah mengetahui bahwa tatanan baru itu didasari oleh gagasan Syaikh Lemah Abang, mereka tidak pernah menghitung keberadaan putera asuh Sri Mangana itu. Mereka justru menunggu perkembangan dengan mengarahkan pandangan ke arah Sri Mangana, sang ratu Caruban Larang. Tindakan apa yang akan diambil oleh sang ratu yang selama tahun-tahun belakangan membangun kekuatan militernya itu.

Kacurigaan para penguasa di Bumi Pasundan terhadap Sri Mangana tidaklah salah sama sekali. Kenyataan menunjukkan betapa di balik penerapan tatanan baru di sembilan daerah kagedengan di Caruban Larang sesungguhnya tidak terlepas dari peranan sang ratu Caruban Larang. Sebab, atas petunjuk dan perintah dari sang ratu Caruban Laranglah sesungguhnya para gedeng berani membagi-bagikan tanah kepada warga di wilayah kekuasaannya masing-masing. Atas titah sang ratu Caruban Larang, pemilihan para gedeng di sembilan nagari itu dilakukan hampir berurutan. Demikianlah, melalui wewenag Sri Mangana, perubahan yang terjadi di Lemah Abang dikembangkan dalam lingkup yang lebih luas. Bahkan atas petunjuk Sri Mangana, warga yang tinggal di daerah-daerah para gedeng itu menyebut diri sebagai ra�yat atau masyarakat.

Sebagai satu-satunya orang yang paling memahami gagasan Abdul Jalil, sesungguhnya secara diam-diam raja Caruban Larang itu mengamati semua perkembangan yang terjadi di Lemah Abang sejak kali pertama desa itu dibuka. Ketika ia mendengat laporan tentang khotbah putera asuhnya itu ia sudah mafhum bahwa sebuah prahara perubahan sedang berembus di Bumi Pasundan. Sebagai ratu yang sudah menyataka kesediaan untuk mendukung dengan segenap jiwa dan raga gagasan mulia putera asuhnya itu, Sri Mangana pun pada gilirannya memerintahkan para gedeng bawahannya untuk melakukan hal yang sama seperti yang berlaku di Lemah Abang.

Saat yang ditunggu-tunggu para penguasa Bumi Pasundan ternyata datang dengan cara yang sangat mengejutkan. Tanpa ada yang menduga tiba-tiba Sri Mangana mengumumkan pemberlakuan peraturan baru yang berisi ketetapan-ketetapan tentang kepemilikan tanah yang berlaku di seluruh wilayah Caruban Larang. Peraturan baru itu senapas dengan tatanan di Lemah Abang dan sembilan kagedengan yang lain.

Peraturan beru itu diumumkan sendiri oleh Sri Mangana seusai memimpin sembahyang Jum�at di Tajug Agung Caruban. Di bawah tatapan takjub para jama�ah, ratu Caruban Larang mengumumkan bahwa setiap warga yang tinggal di Caruban Larang akan diakui keberadaannya sebagai pribadi yang bebas, sama, dan sederajat antara satu dan yang lain. Tatanan lama yang menempatkan lapisan masyarakat secara berjenjang berdasarkan keturunan, warna kulit, tempat asal, dan agama tidak lagi berlaku. Setiap pribadi akan diakui kepemilikannya atas tanah, rumah, harta benda, keluarga, dan di dalam memilih agama serta pemimpin. Siapa pun warga Caruban Larang tanpa pandang agama, kebangsaan, keturunan, pangkat, dan jabatan adalah warga yang akan dihormati hak-haknya. Sri Mangana dengan tegas menyatakan, tugasnya sebagai ratu adalah menjadi pelindung bagi hukum, tradisi, dan tatanan kehidupan warga di wilayah kekuasaannya itu.

Pengumuman resmi Yang Dipertuan Caruban Larang itu bagaikan halilintar menyambar di siang hari, mengagetkan seluruh penguasa Bumi Pasundan dan kawula Caruban Larang. Penguasa Pasundan langsung menghamburkan sumpah serapah yang mengutuki kebijakan itu sebagai ambisi tidak waras seorang ratu yang berhasrat menduduki takhta Kerajaan Sunda. Sementara di kalangan kawula Caruban Larang terjadi perbincangan hangat dari mulut ke mulut menyambut peraturan yang mereka nilai aneh itu. Lepas dari aneh atau tidak aneh, seluruh kawula Caruban Larang dengan kegembiraan meluap-luap akhirnya menyambut peraturan tersebut.

Kawula Caruban Larang yang sebelumnya tidak mengenal hak kepemilikan atas sesuatu beramai-ramai melakukan perubahan sesuai peraturan baru sang ratu. Mula-mula mereka menetapkan batas-batas tanah miliknya yang selama ini merupakan tanah garapan yang disewa dari para gedeng dan wadana bawahan Sri Mangana. Namun, kegembiraan yang meluap-luap itu telah membawa banyak warga ke lembah kerakusan yang berisi serigala-serigala buas. Akhirnya, karena banyak warga ingin mendapatkan bagian lebih luas dari yang semestinya maka pecah perselisihan yang membawa korban jiwa.

Ketika perselisihan antarwarga merebak di berbagai tempat, para penguasa Bumi Pasundan bersorak gembira menertawakan kebodohan saudara mereka, Sri Mangana. Namun, mereka segera terdiam manakala Sri Mangana membuat ketetapan tambahan yang mengatur luas tanah yang pantas dimiliki oleh masing-masing keluarga sesuai kebutuhan. Untuk mengatasi kemungkinan perselisihan di kemudian hari, ratu Caruban Larang mengeluarkan ancaman hukuman berat bagi warga yang kedapatan melanggar batas tanah milik warga lain.

Tidak bisa dielakkan, betapa sesungguhnya di balik terbentuknya tatanan baru itu Sri Mangana telah melakukan tidakan yang tak pernah dipikirkan oleh saudara-saudara maupun ayahandanya, yaitu melepaskan hak kepemilikan seorang raja atas setiap jengkal tanah di wilayah kekuasaannya untuk dibagi-bagikan kepada penduduk. Bahkan, hak raja untuk menguasai seluruh hajat hidup para kawula pun dicabutnya. Dengan terheran-heran para penguasa Bumi Pasundan menilai saudara mereka yang menjadi ratu Caruban Larang itu memang sudah tidak lagi waras. Bagaimana mungkin disebut waras, jika seorang ratu merelakan kehilangan semua haknya hanya demi lahirnya tatanan baru kehidupan yang disebut masyarakat ummah!

Sementara para penguasa mengecam peraturan baru yang ditetapkan Sri Mangana, sambutan justru berdatangan dari berbagai kalangan hingga warga di luar wilayah Caruban Larang. Haji Shang Shu, kepala penduduk asal negeri Cina di Kuta Caruban, memberitakan kepada kerabat dan kawan-kawannya di Dermayu dan Junti tentang peraturan baru di Caruban Larang. Itu sebabnya, keluarga-keluarga asal negeri Cina di Dermayu yang dipimpin Lie Han Siang berbondong-bondong datang ke Kuta Caruban. Keluarga-keluarga Cina di Junti yang dipimpin Liu Sung tak ketinggalan ikut hijrah ke Kuta Caruban.

Perpindahan keluarga-keluarga asal negeri Cina ke Kuta Caruban ternyata memunculkan masalah yang berujung pada perselisihan di antara mereka sendiri. Berbeda dengan penduduk setempat yang berselisih karena alasan penentuan batas-batas tanah, para Cina pendatang terlibat perselisihan dengan kawan-kawannya disebabkan oleh masalah kepemimpinan. Haji Shang Shu, pemukim lama Kuta Caruban, menghendaki agar semua warga Kuta Caruban asal negeri Cina berada di bawah kepemimpinannya. Sementara Li Han Siang menolak dan menginginkan kepemimpinan tetap seperti semula, sesuai suku dan marga masing-masing kelompok. Perselisihan makin parah ketika Liu Sung dengan didukung Ling Tan juga menolak kepemimpinan Haji Shang Shu.

Sesungguhnya, perselisihan tentang kepemimpinan itu terjadi karena masing-masing pihak tidak mau direndahkan oleh suku lain. Meski semua pemukim Cina di Caruban muslim, mereka berasal dari suku yang berbeda. Haji Shang Shu, misalnya, berasal dari suku Hui yang lahir di daerah Kunyang di provinsi Yunnan di Cina selatan, sedangkan Lie Han Siang merupakan suku Han asal Shanghai. Li Han Siang adalah keturunan imam Masjid Song Jiang di Shanghai. Itu sebanya, ia tidak mau dipimpin oleh Haji Shang Shu yang dianggapnya lebih rendah kedudukan sukunya maupun status sosial keluarganya. Alasan serupa disampaikan pula oleh Liu Sung yang berasal dari suku Tungsiang dan Ling Tan yang berasal dari suku Han.

Perselisihan di antara warga Cina pendatang sempat pecah menjadi perkelahian massal di Kuta Caruban. Puluhan korban jatuh. Suasana kota menjadi tegang. Sri Mangana yang mendapat laporan tersebut buru-buru memanggil para pemimpin kelompok itu ke Bangsal Keprabon untuk didamaikan. Setelah melalui perundingan yang lama akhirnya semua pihak sepakat bahwa warga Cina di seluruh wilayah Caruban Larang akan mengikuti tatanan sesuai dengan yang diberlakukan di lingkungan warga setempat. Maksudnya, sebagaimana warga setempat yang dipimpin oleh para gedeng, demikianlah para pemuka suku Cina itu akan memimpin kelompoknya sendiri-sendiri. Dengan demikian, Haji Shang Shu tetap memimpin suku Hui, Lie Han Siang memimpin suku Han asal Shanghai, Liu Sung memimpin suju Tunsiang, dan Ling Tan memimpin suku Han asal Kanton. Dan tentu saja, semua pemimpin menyatakan setia berada di bawah lindungan ratu Caruban Larang.

Pendatang yang juga berduyun-duyun masuk ke wilayah Caruban Larang adalah warga asal Campa dan Semenanjung Malaya. Segera setelah peraturan baru tentang kepemilikan diumumkan di Caruban Larang, mereka datang dari daerah Junti, Dermayu, dan Karawang. Mereka umumnya nelayan dan petani. Sebagian memilih tinggal di sepanjang pantai Kebon Kelap, sebagian lagi memilih tana hunian di pedalaman yang masih berupa hutan. Kedatangan mereka ke Caruban Larang tidak menimbulkan masalah karena sudah menikah dengan warga setempat dan beranak-pinak. Sebagaimana lazimnya saat mereka tinggal di Junti, Dermayu, dan Karawang, di tempat tinggalnya yang baru mereka tetap patuh dan setia kepada keturunan pemimpin terdahulu, yaitu Syaikh Bentong dan Haji Musa, putera almarhum Syaikh Hasanuddin.

Sementara itu, bagaikan suatu kebetulan yang mengherankan, beberapa hari setelah peraturan baru tentang kepemilikan tanah diumumkan oleh Sri Mangana, sekitar seribu dua ratus orang asal Baghdad datang ke Giri Amparan Jati. Mereka adalah pengikut Sulaiman Rumi, ayahanda Abdurrahman Rumi dan Abdurrahim Rumi. Mereka datang ke Caruban Larang karena lari dari kejaran penguasa Baghdad. Seperti pepatah pucuk dicinta ulam tiba, kehadiran orang-orang asal Baghdad itu langsung disuguhi pembagian tanah siap huni. Atas usul Abdurrahman Rumi, mereka memilih tinggal di timur Kuta Caruban, tepatnya di wilayah Kalijaga.

Kehadiran para pengikut Sulaiman Rumi ke Caruban Larang sesungguhnya dilatari oleh kecurigaan para penguasa Baghdad terhadap gerakan Sulaiman Rumi yang dituduh menjadi kaki tangan Syah Ismail, pemuka keluarga Shafawy, yang berusaha menegakkan kekuasaan kaum Syi�ah. Sejak masa Syaikh Baha�uddin Rumi, ayahanda Sulaiman Rumi, kecurigaan para penguasa Utsmani sudah terasa menghinggapi keluarga tersebut. Itu sebabnya, Sulaiman Rumi beserta istri dan anak-anaknya pergi meninggalkan Konya dan menetap di Baghdad. Tetapi, para penguasa Baghdad keturunan Timur I Lenk juga mencurigainya sebagai pendukung Shafawy.

Sesungguhnya kecurigaan-kecurigaan yang diarahkan kepada Sulaiman Rumi dan keluarganya itu tanpa dasar. Sebab, Syaikh Baha�uddin Rumi nasabnya bersambung kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Bahkan, sepupu Syaikh Baha�uddin Rumi yang bernama Syaikh Muhammad bin Hamzah al-Dimassyqi al-Rumi adalah ulama masyhur yang menjadi guru Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel, sehingga tuduhan bahwa keluarga Sulaiman Rumi pendukung Shafawy adalah salah alamat. Namun, kecintaan keluarga Sulaiman terhadap golongan Alawiyyin yang mereka muliakan sebagai ahlul bait, telah mengundang kecurigaan berlebihan dari pihak penguasa. Sulaiman Rumi dituduh penganut Syi�ah dan kaki tangan Shafawy yang menjalankan taqiyyah untuk menutupi gerakan makarnya. Walhasil, seperti nasib awal ketika terusir dari Konya, Sulaiman Rumi dan pengikutnya terusir dari Baghdad hanya karena kecintaan mereka terhadap golongan Alawiyyin.

Kehadiran orang-orang Baghdad yang seperti �mendapat durian jatuh� itu ternyata berujung pada perselisihan sebagaimana terjadi pada warga pendatang asal negeri Cina. Ceritanya, Sayyid Habibullah al-Mu�aththal, pemuka warga Arab yang merupakan pemukim lama Kuta Caruban, menghendaki agar semua pendatang dari Baghdad berada di bawag kepemimpinannya. Sementara, orang-orang Baghdad pengikut setia Sulaiman Rumi menghendaki kepemimpinan Abdurrahman Rumi. Ujungnya, Sayyid Habibullah Al-Mu�aththal dengan para pengikutnya, yang didukung warga Trusmi, mengancam orang-orang Baghdad yang mulai membuka pemukiman di Kalijaga. Sayyid Habibullah Al-Muaththal mengancam akan mengusir mereka dari Caruban Larang jika tidak mau mengakui kepemimpinannya.

Perkelahian massal nyaris pecah jika Sri Mangana tidak segera turun tangan melerai. Akhirnya, sebagaimana yang dilakukan pada warga asal negeri Cina, warga Arab pemukim lama maupun yang baru datang dari Baghdad diminta mengikuti tatanan yang berlaku di kalangan penduduk setempat. Sayyid Habibullah Al-Muaththal tetap memimpin keluarga-keluarga Arab, sedangkan pemukim lama Kuta Caruban dan warga Arab pendatang asal Baghdad dipimpin oleh Abdurrahman Rumi. Dan, semua pihak menyatakan setia di bawah lindungan ratu Caruban Larang.

Hampir bersamaan dengan hadirnya para pendatang Cina, Campa, Melayu, dan Arab asal Baghdad, para pemukim lama Kuta Caruban asal Kadipaten Kendal ternyata mendatangkan sanak kerabatnya dari wilayah Kendal untuk mendapat bagian tanah di Caruban Larang. Mereka yang semula datang ke Giri Amparan Jati untuk mengantarkan Siti Zainab dan Umi Kalsum, dan kemudian tinggal di Kuta Caruban selama belasan tahun, tiba-tiba memanggil sanak kerabatnya di Kadipaten Kendal segera setelah peraturan kepemilikan tanah diumumkan Sri Mangana.

Sebagian pendatang baru asal Kendal itu tinggal di sekitar kerabatnya di Kuta Caruban. Sebagian lagi membuka pemukiman baru di dekat Muara Jati. Untuk menandai keberadaan mereka sebagai orang-orang asal Kendal, kediaman mereka dinamakan Karang Kendal. Mereka dipimpin oleh saudara tiri Siti Zainab, Pangeran Soka, yang dikenal dengan nama Pangeran Karang Kendal.

Para pendatang dari Kadipaten Kendal dikenal sebagai pemeluk Islam yang taat sebab sejak Kadipaten Kendal dipimpin Syaikh Suta Maharaja, sejumlah ulama masyhur didatangkan untuk mengajarkan penduduk agama Islam. Yang termasyhur di antara ulama tersebut, selain Sayyid Maulana Waly al-Islam, ayahanda Umi Kalsum, adalah Syaikh Syarif Syamsuddin. Karena yang terakhir ini tinggal di Magelung. Menurut cerita, saat Syaikh Suta Maharaja gugur dalam pertempuran melawan pasukan Lembusora dari Demak, Syaikh Magelung beserta semua pengikutnya mengantar Umi Kalsum dan Siti Zainab ke Giri Amparan Jati untuk meminta perlindungan kepada Syaikh Datuk Kahfi, dan setelah itu mereka bermukim di sana.

Hingar-bingar kehadiran penduduk baru di wilayah Caruban Larang adalah tengara bagi lahirnya perubahan besar di Nusa Jawa. Sebab, dibandingkan tempat-tempat pemukiman yang ada di Nusa Jawa, hanya di wilayah Caruban Larang terdapat pemukim-pemukim dari berbagai jenis bangsa. Bahkan yang merupakan hal baru, para pemukim itu bukanlah kumpulan manusia yang berkedudukan kawula, melainkan manusia-manusia merdeka yang mempunyai hak milik pribadi. Mereka menyebut diri sebagai masyarakat, yaitu pribadi manusia-manusia merdeka yang melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Read More ->>

API PERUBAHAN Ⅰ

Api Perubahan di Lemah Abang

Setelah menyampaikan khotbah beberapa kali, Abdul Jalil mengetahui dari laporan murid-muridnya bahwa tidak semua pendengar mampu memahami apa yang telah dikemukakannya secara benar. Banyak warga masih heran dan bingung memahami makna kabilah, ra�yat, masyarakat ummah, al-insan al-kamil, khalifah Allah fi al-ardh, hak milik, hak fitrah manusia, wali al-ummah, kalifah ar-rasul, dan istilah-istilah Arab yang masih asing. Namun, satu hal dari laporan para murid itu yang membuat Abdul Jalil bergembira, yaitu hampir semua pendengar memahami intisari khotbah justru dari dongeng-dongeng yang dituturkannya sebagai selingan. Di antara dongeng yang paling disukai adalah dongeng anak harimau disusui kambing, unta dan harimau, Karna anak kusir, Kalilah dan Dimnah, dan kisah para nabi.

Bagi Abdul Jalil, masalah ketidakpahaman terhadap istilah Arab yang digunakannya dalam khotbah bukanlah sesuatu yang patut dirisaukan. Seperti pepatah �alah bisa karena biasa�, istilah-istilah itu secara berangsur-angsur tentu akan terpahami sendiri jika digunakan dalam perbincangan sehari-hari. Bukankah pada awalnya istilah-istilah dari bahasa Sansekerta pun asing dan sulit dipahami? Bukankah dengan pembiasaan maka istilah-istilah Sansekerta akhirnya dipahami juga?

Sementara itu, khotbahnya lebih mudah dipahami jika disampaikan dalam bentuk dongeng. Ia menilai para pendengarnya adalah manusia yang tidak dibiasakan hidup dalam tradisi bernalar. Itu berarti, penilaian Abdul Malik Israil tentang kemiripan kerangka pikir orang-orang Campa, Sunda, dan Jawa, dengan Bani Israil pada masa kemundurannya tidaklah keliru. Ternyata mereka memang lebih memahami maksudku lewat bahasa dongeng daripada dalam bahasa nalar, katanya dalam hati.

Abdul Jalil tersenyum. Ia teringat pada Shafa, istrinya di Gujarat yang telah menuturkan dongeng-dongeng itu kepadanya. Di antara dongeng yang digemari itu adalah yang mengisahkan keberadaan seekor bayi harimau yang dilahirkan induknya di tepi sebuah hutan tak jauh dari kawanan kambing hutan. Saat melahirkan sang induk mati kelelahan dan kehabisan darah. Bayi harimau kemudian diasuh dan disusui oleh kawanan kambing hutan.

Si harimau kecil tumbuh di lingkungan kambing dan mendapat kasih sayang dari para kambing. Karena hidup di tengah kambing maka si harimau berbicara dalam bahasa kambing, mengembik, bermain-main, dan makan rumput seperti kambing. Si harimau sangat penurut kepada kawanan kambing.

Suatu ketika kawanan kambing hutan diserang seekor harimau jantan tua yang ganas. Ssemua kambing lari berhamburan ketakutan. Anehnya, si harimau kecil tetap berdiri di tempatnya tanpa rasa takut. Dengan terheran-heran ia melihat harimau tua yang ganas itu, namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengais dan memamah rumput hijau di depannya sambil mengembik. Kini giliran sang harimau jantan yang terheran-heran. Dengan mata terbelalak harimau jantan bertanya, �Apa yang sedang engkau lakukan di sini bersama kawanan kambing itu, o Harimau kecil? Kenapa engkau memamah rumput? Mengapa engkau mengembik dengan suara tolol itu?�

Harimau kecil tak menjawab. Ia hanya mengembik. Menyaksikan itu, sang harimau jantan yang ganas menyambar tengkuknya dan membawanya ke sungai di dekatnya. Kemudian dengan membungkukkan badan sang harimau tua berkata, �Lihatlah wajahmu, lalu lihat pula wajahku! Bukankah kita sama? Tidakkah engkau sadar betapa baik aku maupun engkau adalah harimau? Mengapa engkau membayangkan dirimu seperti seekor kambing? Kenapa kau mengembik-ngembik? Mengapa kau makan rumput?�

Si Harimau kecil tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa memandang heran wajahnya di permukaan air sungai. Beberapa jenak setelah berkaca dipermukaan air tiba-tiba ia merasakan perubahan terjadi pada dirinya. Cakar-cakarnya mulai mengembang. Dari dalam tenggorokannya tiba-tiba terdengar suara geraman. Namun, ia tetap heran dengan perubahan itu. Melihat perubahan pada diri si harimau kecil, sang harimau jantan ganas kembali menyambar tengkuknya dan membawanya ke sarang. Di sana sang harimau jantan memberinya sekerat daging mentah sisa makannya yang masih dilepoti darah. Si harimau kecil mengembik dan bergidik merasa jijik. Namun, harimau jantan memaksanya memakan daging itu.

Sesaat setelah memakan daging mentah ia merasakan sesuatu berubah di dalam dirinya. Tiba-tiba saja ia merasakan kekuatan aneh yang dahsyat menggetari jiwanya. Ia merasakan kegembiraan raya yang belum pernah dialaminya selama ini. Ia bangkit dan menguap lebar-lebar seolah-olah baru terbangun dari tidur. Ia menggeliat dan meregangkan cakar-cakarnya. Ekornya dikibas-kibaskan. Dari tenggorokannya terdengar auman yang keras menggetarkan. Sementara itu, harimau jantan yang menjadi gurunya menyaksikan dengan bangga sambil berkata, �Sudah tahukah engakau siapa dirimu sesungguhnya? Karena itu, marilah kita pergi ke padang perburuan untuk membuktikan siapa sesungguhnya kita ini!�

Usaha Abdul Jalil untuk membangkitkan kesadaran diri manusia sebagai makhluk paling agung dan mulia, yaitu manusia sempurna yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi, justru lebih mudah dijelaskan lewat dongeng. Ya, justru dengan cara itulah manusia-manusia baru bisa disentuh kesadarannya bahwa takdir mereka adalah sebagai harimau bukannya kambing.

Setelah merenungkan dan mengkaji kembali langkah-langkahnya, Abdul Jalil menangkap kesadaran baru dan berkata dalam hatinya, �Sebuah cakrawala baru telah terbentang di hadapanku. Sesungguhnya, aku membutuhkan lebih banyak murid dan sahabat yang bisa mendukung gagasan dan impianku untuk mewujudkan dunia baru. Namun, aku tidak ingin menjadi pemimpin mereka seperti gembala memimpin kawanan domba. Aku ingin murid-murid dan sahabat-sahabatku menyadari bahwa mereka adalah gembala bagi diri mereka sendiri. Mereka akan memusyawarahkan kepentingan mereka. Dan, mereka akan berjalan menuju padang kehidupan yang sesuai dengan kodrat hidup mereka sebagai ciptaan paling sempurna di muka bumi.�

�Jika murid-murid dan sahabat-sahabatku sudah menjadi gembala bagi dirinya sendiri maka mereka akan menjadi pemimpin bagi kumpulan harimau yang sadar diri. Masing-masing dari gembala akan memimpin kawan-kawannya untuk hidup sesuai kodrat harimau di padang perburuan dunia. Dan lantaran kumpulan itu adalah kumpulan harimau-harimau maka masing-masing anggota kumpulan itu akan bersama-sama menjaga kumpulannya dari ancaman makhluk lain. Sesungguhnya masing-masing kumpulan harimau itu akan menjalin persaudaraan dengan kumpulan harimau lain, ibarat ikatan tali yang saling mengait.�

Dengan cakrawala kesadaran barunya, Abdul Jalil kemudian memperbanyak jumlah murid pilihan yang secara khusus dididiknya menjadi gembala yang akan memimpin kumpulan harimau. Jika sebelumnya ia hanya membina dan mendidik Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, Abdurrahman Rumi, Raden Qasim, dan Abdurrahim Rumi maka pada gilirannya ia membina dan mendidik pula murid lain agar setara dengan �permata-permata harapan� tersebut. Dan, kehadiran Abdul Malik Israil di Lemah Abang terbukti sangat membantu usahanya dalam melahirkan tatanan baru masyarakat.

Usaha keras Abdul Jalil memperbanyak jumlah murid untuk dididik menjadi gembala bagi kumpulan harimau terbukti tidak sia-sia. Hal itu terlihat ketika para murid dilibatkan dalam usaha menata kehidupan warga. Bagaikan matahari terbit dengan gemilang menerangi langit, terbentanglah cakrawala kehidupan baru yang gemilang di Lemah Abang. Bagaikan kumpulan harimau di padang perburuan, warga Lemah Abang tiba-tiba mewujudkan diri menjadi kabilah berisi sekumpulan �harimau� sebagaimana diangankan Abdul Jalil. Dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak Abdul Jalil menyampaikan khotbah di Tajug Agung Lemah Abang, seluruh penduduk Lemah Abang telah menjadi manusia yang berbeda dalam banyak hal dengan warga Caruban Larang seumumnya.

Perubahan kehidupan warga Lemah Abang sendiri sesungguhnya diketahui oleh warga asal desa sekitar setiap hari pasar tiba. Dari hari pasar satu ke hari pasar yang lain mereka selalu terkejut menyaksikan perubahan yang terjadi pada diri warga Lemah Abang. Dengan terheran-heran mereka mengamati penampilan, perilaku, kata-kata, bahasa pergaulan, pandangan hidup, jalan pikiran, dan gaya hidup yang berbeda dengan yang mereka kenal sebelumnya. Seiring bergulirnya waktu, para pedagang pun akhirnya menjadikan warga Lemah Abang sebagai bahan sorotan dan perbincangan dengan pedagang asal desa lain.

Tidak bisa dielakkan, bermula dari perubahan warga Lemah Abang yang dianggap aneh, sebuah perubahan besar tampaknya sedang terjadi di Caruban Larang. Bagaikan memiliki daya pesona yang kuat, kabar perubahan warga Lemah Abang telah memunculkan rasa ingin tahu warga dari desa lain di wilayah Caruban Larang. Entah siapa yang memulai, dengan berkelompok-kelompok atau sendiri-sendiri, warga dari berbagai desa berdatangan ke Lemah Abang. Sambil berbelanja atau menjual sesuatu mereka ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sesungguhnya keanehan tatanan baru dari kehidupan warga Lemah Abang sebagaimana yang mereka dengar.

Saat warga dari desa lain mengamati gerak kehidupan warga Lemah Abang, yang semula mereka nilai aneh, tanpa mereka sadari telah terjadi pula suatu keanehan lain. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba dari kedalaman jiwa mereka terlintas keinginan kuat untuk meniru keanehan warga Lemah Abang tersebut. Keinginan itu makin kuat manakala mereka diberi tahu oleh warga Lemah Abang tentang ajaran dan tatanan baru sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Lemah Abang dan murid-muridnya. Diam-diam mereka menangkap nuansa kebenaran di balik ajaran Syaikh Lemah Abang. Lantaran hasrat meniru itu makin lama makin menguat di jiwa mereka maka setiap kali pulang dari Lemah Abang mereka diam-diam mencontoh satu demi satu apa yang mereka saksikan, baik dalam hal cara warga berpakaian, berbicara, berjual beli, dan gaya hidup.

Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan peniruan-peniruan yang dilakukan oleh warga desa yang pernah datang ke Lemah Abang tersebut. Orang hanya mengetahui bahwa dalam berbagai perbincangan di antara para petani, nelayan, perajin, tukang, dan pedagang di desa-desa, warga Lemah Abang selalu dikesankan sebagai warga yang berani dalam memperjuangkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Dengan terheran-heran mereka memperbincangkan bagaimana para petani, pedagang kecil, tukang, perajin, kuli, bahkan janda tua di Lemah Abang berani menyatakan diri sebagai manusia yang sederajat dengan manusia lain. Ya, dengan sangat percaya diri orang-orang Lemah Abang menyatakan punya �hak milik� pribadi atas tanah, rumah, harta benda, keluarga, agama, dan bahkan hak memilih pemimpin; suatu hal aneh yang tidak dipunyai warga desa lain.

Perbincangan tentang warga Lemah Abang ternyata tidak hanya terjadi di kalangan warga desa sekitar yang pernah datang ke sana. Para pedagang Cina, Melayu, Campa, dan Arab yang berniaga di pasar Kuta Caruban, Junti, dan bahkan Dermayu pun sudah mendengar dan memperbincangkan perubahan di sana. Mereka yang umumnya warga keturunan asing itu sangat berharap perubahan yang terjadi di Lemah Abang bisa meluas ke berbagai penjuru negeri Sunda. Dengan tatanan baru yang dirintis Syaikh Lemah Abang mereka berharap dapat setara dan sederajat dengan warga setempat. Tatanan yang berlaku di Bumi Pasundan dan Majapahit sejauh ini menempatkan warga asing yang tidak beragama Hindu sebagai kalangan Mleccha, yakni manusia di luar kasta yang lebih rendah daripada kalangan sudra papa. Dalam berbagai hal, harta benda dan nyawa mereka tidak dijamin secara hukum. Jika terjadi perubahan politik kekuasaan, mereka menjadi sasaran jarahan warga setempat, terutama dari kalangan sudra.

Berawal dari perbincangan para pedagang asing di bandar Dermayu dan Caruban Larang, kabar perubahan warga Lemah Abang pun pada gilirannya tersiar di bandar Kalapa bahkan kutaraja Dayeuh Pakuan. Prabu Guru Dewata Prana Sang Maharaja Sunda sangat terkejut mendengar lahirnya tatanan kehidupan yang aneh di wilayah kekuasaan puteranya itu. Diam-diam maharaja tua itu mengirim Tumenggung Nara Wingkang, penguasa Astana Larang, ke Lemah Abang untuk menyelidiki apa sesungguhnya sedang terjadi di sana.

Dengan didampingi lima perwira, Tumenggung Nara Wingkang menyamar sebagai pedagang kain dan tinggal selama lima hari di Lemah Abang. Selama lima hari itulah sang tumenggung beserta kelima pengawalnya terheran-heran menyaksikan gerak kehidupan warga desa yang baru dibuka belum setahun itu.

Setelah mersasa cukup menyaksikan keanehan tatanan kehidupan warga, Tumenggung Naya Wingkang kembali ke Dayeuh Pakuan menghadap Prabu Guru Dewata Prana, secara kebetulan sang maharaja sedang berbincang-bincang dengan Prabu Sursawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan, puteranya. Tumenggung Nara Wingkang menuturkan semua yang telah disaksikannya di Lemah Abang.

�Sejak patik lahir hingga rambut patik ditumbuhi uban, belum pernah patik menyaksikan tatanan kehidupan yang begitu aneh seperti di Lemah Abang. Paduka bisa membayangkan, menurut pengakuan warga, belum genap tiga bulan sejak desa itu dibuka, sudah dihuni oleh sekitar seribu warga yang tinggal di rumah-rumah yang mengitari Tajug Agung dan pasar desa. Yang aneh lagi, Paduka, masing-masing warga Lemah Abang memiliki hak pribadi atas tanah yang mereka buka sebagai hunian, sawah, dan tegalan. Menurut warga, tanah itu mereka dapat dari pemberian Syaikh Lemah Abang, guru ruhani mereka,� ujar Tumenggung Nara Wingkang.

�Bukankah Lemah Abang masuk wilayah Japura?� tanya Prabu Guru Dewata Prana. �Bukankah wilayah itu sudah kuberikan kepada puteraku, Sri Mangana? Bagaimana mungkin tanah Japura bisa dibagi-bagikan kepada kawula tanpa sepengetahuan puteraku? Siapakah Syaikh Lemah Abang itu?

�Itulah pangkalnya, Paduka,� kata Tumenggung Naya Wingkang. �Karena pemimpin di Lemah Abang itu sesungguhnya adalah Datuk Abdul Jalil, putera Sri Mangana.� Prabu Guru Dewata Prana tercekat kaget. Namun, sesaat kemudian ia tersenyum.

Berbeda dengan ayahandanya, reaksi Prabu Surawisesa saat mendengar penjelasan Tumenggung Nara Wingkang sangat meledak-ledak. Awalnya ia terhenyak kaget. Wajahnya merah padam dijalari api amarah. Kemudian, dengan suara berapi-api ia berkata lantang, �Jelaslah sudah sekarang bahwa keanehan tatanan di Lemah Abang bukan sesuatu yang tidak masuk akal. Jelas pula bahwa kepemilikan kawula atas tanah di Lemah Abang itu bukan karena kebaikan hati Syaikh Lemah Abang yang membagi-bagikan tanah miliknya kepada para kawula. Jelas juga ucapan Syaikh Lemah Abang yang menyatakan bahwa warga Lemah Abang bukan lagi kawula karena sesungguhnya semua itu bukan tatanan baru yang akan mengubah tatanan yang sudah ada.

�Ya, sekarang sudah jelas bagiku bahwa semua keanehan di Lemah Abang adalah siasat Sri Mangana, Yang Dipertuan Caruban Larang, untuk mengincar takhta kerajaan Sunda. Dia tahu peluangnya menjadi maharaja Sunda menggantikan ayahanda kami sangat kecil karena seluruh kerabat kerajaan diam-diam telah memilihku sebagai pewaris takhta, meski ayahanda kami tidak menunjuk putera mahkota. Jadi, jelaslah bagiku sekarang ini bahwa gejolak kehidupan di Lemah Abang sesungguhnya adalah siasat licik dari Yang Dipertuan Caruban Larang untuk tujuan yang lebih besar, yaitu takhta kerajaan Sunda. Dia menggunakan tangan anaknya untuk merebut takhta.�

Mendengar kata-kata puteranya, Prabu Guru Dewata Prana hanya tersenyum. Sebagai maharaja yang sudah berpengalaman merasakan pahit dan getirnya kekuasaan, ia tidak gampang terpengaruh oleh pandangan puteranya yang terbawa perasaan itu. Untuk memperjelas masalah, ia mengirim kembali Tumenggung Nara Wingkang ke Lemah Abang dengan didampingi Tumenggung Lembu Jaya dari Kidang Lamotan. Sementara kedua utusan itu berangkat, maharaja bijak itu mengirim Tumenggung Jagabhaya dan Ki Purwagalih ke Kuta Caruban untuk meminta penjelasan dari Sri Mangana tentang keanehan tatanan di Lemah Abang.

Menyadari bahwa ayahandanya tidak terpengaruh oleh kata-katanya, Prabu Surawisesa kembali ke Kraton Surawisesa di Galuh Pakuan. Setelah itu, ia mengirim Tumenggung Limbar Kanchana, penguasa Ajong Kidul, ke Lemah Abang. Tumenggung Limbar Kanchana ditugaskan untuk mengetahui seluk beluk kehidupan di Lemah Abang, terutama kemungkinan menguak jaringan rahasia yang menghubungkan Lemah Abang dengan Caruban Larang. �Usahakan engkau dapatkan bukti bahwa kejadian di Lemah Abang adalah kepanjangan tangan Sri Mangana,� ujar Prabu Surawisesa.

Sementara itu, saat Tumenggung Lembu Jaya menginjakkan kaki di Lemah Abang, ia merasa terheran-heran dengan apa yang disaksikannya. Ia yang pernah berkunjung ke Japura barang tujuh tahun silam sangat takjub dengan keberadaan Desa Lemah Abang yang kata orang baru dibuka barang enam tujuh bulan silam. Dulu di kawasan itu tidak dijumpainya satu rumah pun. Saat itu seingat Tumenggung Lembu Jaya, yang ia saksikan hanyalah hutan lebat di selatan Japura dan hamparan rumput alang-alang yang dihuni hewan melata dan serangga ganas yang berbahaya. Jika musim kemarau datang, sejauh mata memandang hanya hamparan rumput alang-alang berwarna coklat yang tergelar. Beberapa bagian dari hamparan alang-alang itu acapkali terbakar menyisakan abu yang menghitam. Sebaliknya, jika musim penghujan tiba hamparan rumput alang-alang berubah menjadi rawa-rawa yang ganas tempat katak, ular, biawak, serangga, dan nyamuk membangun sarang.

Tumenggung Lembu Jaya makin terheran-heran ketika nama Lemah Abang senantiasa dikaitkan oleh warga dengan sosok guru manusia, Syaikh Lemah Abang, yang bernama pribadi Datuk Abdul Jalil. Tokoh yang ternyata putera Sri Mangana itu tidak saja dikenal warga sebagai orang yang merintis pembukaan Desa Lemah Abang, tetapi juga termasyhur sebagai pemimpin dan sekaligus guru manusia yang dijadikan contoh keteladanan dan panutan oleh warga. Orang sepertinya tidak menyebut Lemah Abang jika tidak menyebut nama sang guru manusia itu. Lantaran begitu kuat wibawa dan pengaruhnya, meski masih tergolong muda, Syaikh Lemah Abang sangat disegani dan dihormati pengikutnya. Kata-katanya menjadi sabda yang diikuti dan perintahnya menjadi titah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh pengikutnya.

Sekalipun Syaikh Lemah Abang merupakan pemimpin dan guru manusia yang disegani dan dihormati oleh seluruh pengikutnya, yang mengherankan Tumenggung Lembu Jaya adalah hidupnya terkesan sangat sederhana, bahkan miskin. Ia tinggal seorang diri di sebuah gubuk kayu beratap daun kawung yang terletak di samping kiri Tajug Agung. Tidak ada perabot apa pun di dalam gubuk kecil itu kecuali selembar tikar pandan yang dijadikan alas tidur dan sebuah peti kayu berisi empat lembar pakaian. Sebuah lampu minyak kelapa terlihat meringkuk di sudut ruang dan hanya dinyalakan pada malam hari ketika ia makan dan menerima tamu. Ia senantiasa terlihat mengerjakan sendiri semua kebutuhannya mulai dari menyiapkan makanan, mencuci pakaian, membuat minyak kelapa, menjahit pakaian yang robek, memperbaiki terompah, bahkan mencari kayu bakar.

Di sekitar gubuk Syaikh Lemah Abang, sebagaimana disaksikan Tumenggung Lembu Jaya, dalam jarak sekitar tiga puluh langkah, terdapat sembilan gubuk kayu beratap daun kawung. Gubuk-gubuk itu adalah kediaman para janda tua dan anak-anak yatim. Meski tua, mereka bukan orang lemah apalagi tidak berdaya dan minta dikasihani. Mereka hidup sebagaimana warga yang lain. Mereka sehari-hari terlihat bekerja menganyam tikar, bahkan acapkali terlihat mencari kayu bakar hingga jauh ke pinggiran hutan yang terletak di selatan Lemah Abang. Jika hari pasar tiba, mereka berangkat ke pasar menjual tikar dan kayu bakarnya.

Sementara anak-anak yatim yang tinggal di gubuk-gubuk itu pun bukanlah anak-anak tak berdaya yang meminta dikasihani. Mereka juga hidup sebagaimana anak-anak Lemah Abang yang lain. Jika subuh menjelang mereka selalu terlihat menyapu lantai Tajug Agung, mengisi kolam untuk wudhu, menabuh bedug, sembahyang berjama�ah, dan sesudah itu mengaji hingga matahari terbit. Sebagian di antara mereka seusai mengaji akan bekerja menggembala hewan milik warga atau mencari kayu bakar, sebagian yang lain membantu para janda tua menganyam tikar.

Sekalipun janda tua dan anak yatim di Lemah Abang tidak tampak sebagai orang-orang yang tak berdaya, Syaikh Lemah Abang telah menetapkan bahwa nafkah mereka dijamin oleh siapa saja di antara manusia yang melangkah di jalan Kebenaran. Syaikh Lemah Abang telah memerintahkan kepada semua warga desa dan semua yang mengaku mengikuti jalannya untuk menyantuni dan memuliakan para penghuni gubuk itu. Sebagaimana ajarannya tentang keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi, menyisihkan sebagian nafkah untuk menyantuni janda miskin dan anak-anak yatim adalah bagian dari kewajiban manusia yang menempati kedudukan wakil Yang Maha Pemberi rezeki (khalifah al-Razzaq fi al-ardh).

Sebagai tokoh panutan, terbukti Syaikh Lemah Abang tidak hanya memerintahkan para pengikutnya untuk menyantuni dan memuliakan janda tua dan anak yatim. Ia memberikan keteladanan langsung tentang bagaimana memperhatikan, membimbing, menasihati, menyantuni, mengurusi, dan menghibur warga yang tidak beruntung itu. Sering orang-orang menyaksikan Syaikh Lemah Abang sepulang dari perjalanan jauh mendatangi para penghuni gubuk dengan membawa garam, terasi, kain, beras, gula, bahkan kayu bakar. Sering juga orang melihat ia mendongeng, mengajak makan dan bahkan bergurau dengan mereka.

Kehidupan sehari-hari para janda tua dan anak-anak yatim yang tidak menunjukkan kelemahan apalagi ketidakberdayaan itu sesungguhnya berpangkal dari ajaran yang disampaikan Syaikh Lemah Abang. Tokoh panutan itu sangat menekankan kepada para pengikutnya untuk bangkit dan memerangi kemalasan diri sebagai kewajiban utama manusia. Menurutnya, salah satu kewajiban yang pertama-tama harus dilakukan seorang manusia adalah menggunakan semua anugerah Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari, baik anugerah akal, penglihatan, pendengaran, hati nurani, gerak tangan dan kaki, bahkan tarikan napas.

Seorang manusia, menurut Syaikh Lemah Abang, tidak bisa disebut manusia jika ia malas berpikir, enggan menggerakkan tangan dan kaki, suka menikmati yang enak-enak, tidak mau bersusah payah, gemar berangan-angan dan berkhayal, berputus asa jika menghadapi kesulitan. Manusia pemalas, menurut Syaikh Lemah Abang, adalah makhluk terkutuk yang lebih rendah derajatnya dari binatang. Sebab, manusia pemalas tidak saja menista anugerah Sang Pencipta, tetapi juga akan menjadi bencana bagi kehidupan sesamanya.

Berjuang keras (jihad), ungkap Syaikh Lemah Abang dalam beberapa khotbahnya, merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan manusia untuk meniti kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sebab, dengan berjuang keras sesunggunya seorang manusia tidak saja mensyukuri anugerah, tetapi juga memuliakan dan mengagungkan Penciptanya. �Dengan menggerakkan tanganmu untuk menyuapkan nasi ke mulutmu, sesungguhnya engkau telah mensyukuri anugerah sekaligus memuji keagungan-Nya. Lihatlah burung-burung yang terbang di angkasa! Lihatlah hewan-hewan yang berlarian di padang! Lihatlah ikan-ikan yang berenang di lautan! Mereka semua memuji Penciptanya dengan cara menggunakan anugerah-Nya dalam setiap gerak kehidupan,� ujar Syaikh Lemah Abang.

Dengan tanpa kenal lelah, sebagaimana disaksikan sendiri oleh Tumenggung Lembu Jaya, Syaikh Lemah Abang mengajarkan kepada semua pengikutnya tentang kewajiban utama seorang manusia agar menggunakan akal, qalbu, tenaga, pancaindera, dan anggota tubuhnya untuk memerangi kemalasan diri sendiri. Ia tanamkan kuat-kuat kepada para pengikutnya keyakinan bahwa musuh utama manusia adalah setan kemalasan yang bersembunyi di dalam hati manusia sendiri.

Melalui cerita-cerita, dalil-dalil, dan perumpamaan-perumpamaan Syaikh Lemah Abang mengarahkan pengikutnya untuk benar-benar memahami apa yang disampaikannya. Tanpa kenal jemu, misalnya, ia ulang-ulang dongeng anak harimau disusui kambing, unta dan harimau, juga kisah Nabi saat menerima wahyu Ilahi pertama di Gua Hira. �Apakah kalian pikir Muhammad Rasulullah Saw. itu seorang pemalas yang secara kebetulan datang ke Gua Hira dan secara kebetulan pula menerima anugerah wahyu dari Allah �Azza wa Jalla? Apa kalian pikir beliau datang ke Gua Hira hanya satu kali, yaitu pada malam nuzul Al-Qur�an ketika beliau didatangi Jibril a.s.? Sekali-kali tidak demikian! Sesungguhnya Muhammad Rasulullah Saw. telah melakukan khalwat di Gua Hira selama lima belas tahun! Ingat itu! Lima belas tahun beliau berkhalwat tanpa kenal lelah dan patah semangat,� ujar Syaikh Lemah Abang.

Nilai-nilai perjuangan untuk memerangi kemalasan diri yang ditanamkan Syaikh Lemah Abang itulah yang telah menyalakan api semangat para pengikutnya untuk menapaki kehidupan. Dengan bekal semangat memerangi kemalasan diri itu para pengikut Syaikh Lemah Abang memasuki medan perang yang lebih dahsyat, yakni menghadapi keputusan nasib yang diselimuti kabut rahasia. Ibarat memasuki negeri asing yang tak dikenal sebelumnya, begitulah setiap manusia di muka bumi harus berjuang terus menghadapi tantangan dan rintangan untuk mencapai tanah harapan yang diidamkan.

Dengan suara menggema di Tajug Agung, di rumah-rumah, di ujung desa, sawah, tegalan, sungai, lembah, dan gunung, Syaikh Lemah Abang membangkitkan perlawanan manusia-manusia yang selama berbilang abad pasrah dijajah dan ditindas oleh nasibnya karena alasan keturunan. Dengan semangat berapi-api ia berkata dalam setiap pengajian, �Bangkitlah engkau sekalian, o kaum sudra papa yang hidup hina! Sesungguhnya bukan darah yang mengalir di tubuhmu yang membuatmu hina dan nista, melainkan kemalasan diri dan ketakutanmu menghadapi kehidupan jua yang menjadikan dirimu dan seluruh keturunanmu hina dina sepanjang masa. Karena itu, tantanglah kesewenang-wenangan nasib yang selama ini telah memperbudak jiwamu. Bangkitlah dari kemalasan! Bangkitlah dari kerendahan diri! Sulut api keberanian di dalam jiwamu! Lawanlah semua keterbatasan dirimu sekuat kuasamu!�

�Bangkitlah juga, engkau sekalian, o para ksatria berdarah biru! Janganlah engkau menjadi hewan yang hidup diliputi kemalasan menikmati keberuntungan nasib yang meninabobokkanmu dalam buaian angin kepalsuan duniawi. Jangan engkau bermalas-malas menikmati sanjungan dan pujian. Sesungguhnya di balik keberuntungan nasibmu itu terdapat tugas besar bagimu untuk melindungi manusia lain yang lemah dan papa. Bangkitlah dari kemalasan! Bangunlah dari mimpi-mimpi kosong! Hunuslah pedang untuk menantang keterbatasan dirimu sekuat kuasamu! Ujilah dirimu apakah engkau sekalian layak disebut ksatria berdarah biru yang memiliki dharma utama menjadi pelindung dan pengayom jagad.�

Pandangan, paham, gagasan, dan nilai-nilai yang diajarkan Syaikh Lemah Abang untuk menyadarkan manusia akan keberadaan dirinya sebagai adimanusia yang menduduki jabatan wakil Tuhan di muka bumi akhirnya dengan sangat rinci dituturkan oleh Tumenggung Lembu Jaya kepada Prabu Guru Dewata Prana. Sebagai maharaja yang bijaksana, Prabu Guru Dewata Prana menangkap Kebenaran yang sedang berembus di Lemah Abang. Ia menangkap sasmita bahwa suatu angin perubahan sedang bertiup di daerah kekuasaannya. Jika angin itu tidak dihadapi secara bijak akan menjadi prahara yang memporak-porandakan tatanan kehidupan yang sudah ada dengan korban yang tidak sedikit.

Berbeda dengan laporan Tumenggung Lembu Jaya dan Tumenggung Nara Wingkang yang mencermati tatanan, pandangan, gagasan, dan nilai-nilai baru Syaikh Lemah Abang, laporan Tumenggung Limbar Kanchana yang diutus Prabu Surawisesa cenderung mengamati keberadaan Lemah Abang sesuai yang ia saksikan. Ketika masuk ke desa Lemah Abang, misalnya, Tumenggung Limbar Kanchana hanya mengetahui bahwa pusat desa itu adalah Tajug Agung yang terbuat dari kayu dan beratap daun kawung yang berdiri di tengah-tengah desa. Di samping kiri Tajug Agung terletak kediaman Syaikh Lemah Abang serta rumah para janda tua dan anak-anak yatim. Di depan Tajug Agung terhampar lapangan. Di kanan kiri dan belakang Tajug Agung terdapat beratus-ratus rumah yang berderet-deret hampir melingkari lapangan.

Dalam jarak sekitar setengah pal di selatan Tajug Agung berdiri tegak sanggar pamujan yang berdampingan dengan vihara. Seperti bangunan Tajug Agung, kedua bangunan suci warga beragama Hindu dan Budha itu dikitari puluhan rumah yang padat. Warga beragama Hindu dan Budha rajin datang ke situ untuk beribadah. Namun sungguh aneh, para pendeta Hindu dan Budha dari sanggar pamujan dan vihara sering terlihat datang ke rumah kecil di sisi kiri Tajug Agung yang merupakan jediaman Syaikh Lemah Abang. Jika malam menjelang mereka berbincang-bincang tentang berbagai hal dengan Syaikh Lemah Abang dan beberapa warga muslim Lemah Abang. Bahkan, dengan terang-terangan para pendeta itu mengaku sebagai siswa Syaikh Lemah Abang. Mereka mengakui bahwa Syaikh Lemah Abang adalah penuntun dan pembimbing mereka dalam meniti jalan ruhani.

Sementara itu, di bagian utara desa � dalam jarak sekitar satu pal dari Tajug Agung � terletak pasar desa. Hari pasar berlangsung sepekan sekali pada hari selasa. Pada hari itu pedagang tidak hanya menjual sayur-mayur, lauk-pauk, garam, gula, sirih, kacang, gambir, beras, terasi, dan lada, tetapi menjual juga bahan kain, sisir, kemenyan, kayu gaharu, cermin, peralatan dapur, gerabah, obat-obatan, hewan ternak, dan hasil kerajinan. Di sekitar pasar selain terdapat kedai-kedai yang menjual makanan juga terdapat kedai-kedai yang menjual roda pedati, tapal kuda, pelana, sabuk, cambuk, sabit, cangkul, dan terompah. Sementara di sebelah timur pasar terletak sederetan bangunan yang digunakan untuk kegiatan pande besi, pembuatan gerobak, keranjang, alat-alat dapur, dan bahkan penyamakan kulit.

Kesan padatnya pemukiman di Desa Lemah Abang yang disaksikan Tumenggung Limbar Kanchana menampak kuat manakala ia melihat lalu-lalang manusia yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Setiap hari seiring tersingkapnya cakrawala pagi, Desa Lemah Abang selalu diliputi suasana semarak dari para penghuninya yang memulai napas kehidupan sebagai penghuni bumi. Para petani yang berangkat ke sawah terlihat berjalan beriringan; memikul bajak, menuntun kerbau, memanggul cangkul, membawa sabit dan keranjang. Para tukang kayu, tukang batu, pembantu tukang, kuli angkut, terlihat sibuk mendirikan rumah dan bangunan lain. Para perajin, pande besi, peternak, dan pemilik warung tampak sibuk memulai kegiatannya. Desa Lemah Abang pada hari pasar terlihat jauh lebih semarak karena selain para pedagang dan buruhnya yang membawa barang dagangan dengan pedati, gerobak, atau pikulan terlihat pula iring-iringan warga dari desa-desa sekitar yang hendak berbelanja.

Dari lalu-lalangnya manusia di Desa Lemah Abang, terutama pada hari pasar, terlihat asal mereka dari aneka bangsa. Ada orang Sunda, Jawa, Melayu, Cina, Campa, dan Arab. Mereka tampil dengan gaya pakaian masing-masing. Meski demikian, yang terbesar di antara mereka adalah pribumi Sunda dan Jawa dari desa-desa sekitar Lemah Abang. Orang-orang Melayu, Cina, Campa, dan Arab lazimnya adalah warga Kuta Caruban yang datang ke Lemah Abang untuk berdagang.

Tumenggung Limbar Kanchana makin terheran-heran ketika mengamati penampilan warga Lemah Abang. Penampilan warga pribumi Lemah Abang sangat berbeda dengan seumumnya warga pribumi di desa-desa yang ada di Bumi Pasundan. Semua warga perempuan pribumi Lemah Abang baik orang Sunda maupun orang Jawa mengenakan kemben jika berada di luar rumah. Tumenggung Limbar Kanchana makin heran ketika diberi tahu warga bahwa di Lemah Abang berlaku peraturan yang melarang para perempuan keluar rumah tanpa mengenakan penutup dada sebagaimana lazimnya penampilan sehari-hari para perempuan pribumi. Peraturan itu tentu saja sangat aneh bagi masyarakat pribumi yang selama beribu-ribu tahun tidak pernah punya ketentuan untuk mengenakan pakaian penutup dada baik di kalangan keluarga kerajaan maupun kawula jelata.

Tumenggung Limbar Kanchana juga melihat keanehan cara berpakaian warga lelakinya. Laki-laki pribumi mengenakan kain yang menutupi tubuh mereka mulai sebatas pinggang hingga ke bagian bawah lutut jika berada di luar rumah. Selain itu, para laki-laki pribumi mengenakan destar. Mereka yang berambut panjang menggelung rambutnya ke dalam destar. Mereka yang menggunakan destar batik atau kain wulung adalah warga yang masih mengikuti agama leluhur. Sedangkan laki-laki berambut pendek, gundul, atau berambut panjang tetapi digulung ke dalam destar warna putih adalah warga Lemah Abang yang beragama Islam.

Selain mengenakan kain dan destar, laki-laki pribumi di Lemah Abang memiliki kebiasaan baru untuk menyelipkan golok di pinggang kiri mereka. Menurut keyakinan warga Lemah Abang, golok itu adalah lambang kehormatan seorang laki-laki yang sudah menyandang status suami. Golok tidak dimaksudkan untuk kepentingan lain kecuali untuk melindungi kehormatan seorang suami. Maksudnya, golok hanya akan digunakan jika ada orang jahat mengganggu kehormatan istrinya.

Kebiasaan baru lelaki pribumi Lemah Abang menyelipkan golok di pinggang kiri bermula dari pandangan baru yang menyatakan bahwa makhluk perempuan dicipta dari tulang iga kiri laki-laki. Karena itu, iga kiri laki-laki yang hilang dan menjelma menjadi perempuan itu harus dilindungi dengan golok. Barang siapa mengganggu atau merampas iga kiri laki-laki maka laki-laki itu wajib melindungi iga kirinya dengan golok. Dengan munculnya kebiasaan warga pribumi menyelipkan golok di pinggang kiri itu maka kebiasaan lama pribumi untuk menyelipkan keris pusaka di dada tidak lagi terlihat. Penampilan warga Lemah Abang benar-benar menjadi berbeda dengan penampilan seumumnya warga desa di Bumi Pasundan yang masih mengenakan cawat, rambut terurai tak bersisir, dan menyelipkan keris di dada.

Selain penampilan warganya yang aneh, Tumenggung Limbar Kanchana juga mendapati peraturan-peraturan yang berlaku di Lemah Abang pun sangat aneh dan tidak lazim. Dalam hal tabu, misalnya, ada larangan keras bagi seluruh warga untuk memakan daging anjing, tikus, katak, cacing, dan ulat. Larangan ini sangat aneh dan tidak lazim karena selama beratus-ratus tahun tabu itu hanya berlaku di lingkungan keluarga raja. Kini peraturan itu diberlakukan bagi warga desa. Bagi warga Lemah Abang yang beragama Islam diberlakukan larangan tambahan, yakni memakan daging babi. Sementara itu, meski tidak ada larangan memakan daging sapi, warga Lemah Abang membiasakan diri menyembelih kerbau untuk pesta dan perhelatan.

Larangan lain yang juga aneh dan tidak lazim yang wajib dipatuhi oleh seluruh warga adalah menjalankan upacara Ma-lima. Larangan itu, menurut Tumenggung Limbar Kanchana, pasti akan menimbulkan huru-hara jika diterapkan di tempat lain sebab upacara Ma-lima sudah menjadi bagian kehidupan warga di seluruh jengkal Bumi Pasundan.

Larangan lain di Lemah Abang yang tak kalah mengherankan bagi Tumenggung Limbar Kanchana adalah larangan menikah lebih dari satu istri jika alasannya semata-mata untuk memenuhi hasrat nafsu belaka. Pernikahan lebih dari satu istri sah dan bahkan dianjurkan jika memiliki alasan bersifat ruhani. �Jika engkau takut tidak bisa berbuat adil maka hendaknya engkau nikahi satu perempuan saja. Yang dimaksud adil adalah al-�Adl. Maksudnya, jika kiblat hati dan pikiranmu tidak bisa engkau arahkan kepada al-�Adl, yaitu Tuhan, maka janganlah engkau memiliki istri lebih dari satu. Sebab, jika engkau paksakan hasratmu sesungguhnya engkau telah terpedaya oleh bujuk rayu setan yang bersembunyi di dalam nafsumu,� ujar penduduk menirukan kata-kata Syaikh Lemah Abang.

Selain larangan-larangan aneh, Tumenggung Limbar Kanchana juga mendapati adanya peraturan yang bersifat keharusan bagi warga di Lemah Abang. Semua warga laki-laki diharuskan berlatih menunggang kuda dan memanah. Setiap sore secara bergantian semua warga lelaki berlatih menunggang kuda di lapangan yang terletak di timur Tajug Agung desa. Warga yang memiliki kuda meminjamkan kudanya untuk digunakan berlatih oleh warga yang belum memiliki kuda. Dengan adanya keharusan itu maka seluruh warga Lemah Abang sangat terampil berkuda dan memanah. Pada waktu-waktu tertentu mereka pergi ke hutan untuk berburu kijang. Kebiasaan menunggang kuda, memanah dan berburu yang berkembang di Lemah Abang benar-benar dianggap aneh dan bahkan kurang ajar oleh Tumenggung Limbar Kanchana, karena selama ini kebiasaan itu hanya berlaku di kalangan keluarga raja.

Dengan keterampilan berkuda dan memanah, warga Lemah Abang ternyata tidak hanya berburu, tetapi sering pula mengadakan acara lomba ketangkasan. Lomba diadakan tiga pekan sekali pada hari rabu. Pada hari itu warga dari desa-desa sekitar pun berduyun-duyun ke sana. Seiring semaraknya lomba ketangkasan berkuda dan memanah, kebiasaan warga pribumi menyabung ayam berangsur-angsur jarang dijumpai di desa-desa sekitar Lemah Abang.

Keanehan dan ketidaklaziman lain yang dijumpai di Lemah Abang, yang sempat membut marah Tumenggung Limbar Kanchana, adalah saat ia berbicara dengan warga. Tidak seperti lazimnya warga desa yang cenderung merendahkan diri dengan menggungkan bahasa yang halus untuk lawan bicaranya, orang-orang Lemah Abang berbicara apa adanya tanpa basa-basi. Bagaikan seorang raja berbicara dengan sesama raja, mereka dengan percaya diri tidak menyebut abdi atau kawula yang bermakna budak sebagai kata ganti diri, tetapi ingsun, yang bermakna aku. Tanpa peduli apakah yang diajak bicara itu bangsawan atau rakyat jelata, mereka selalu menggunakan kata ingsun.

Bahkan, Tumenggung Limbar Kanchana nyaris tidak dapat menahan amarah ketika mengetahui sikap warga Lemah Abang yang dengan lancang berani mengikrarkan kesepakatan untuk menolak kehendai siapa saja � termasuk raja dan maharaja � untuk mengambil anak-anak dan istri mereka. Mereka terang-terangan akan melawan punggawa kerajaan yang datang merampas anak-anak dan istri mereka.

Ketika Tumenggung Limbar Kanchana menelusuri lebih lanjut �kekurangajaran� warga Lemah Abang, terhenyaklah ia oleh cerita yang mengungkapkan khotbah Syaikh Lemah Abang tentang kerajaan. Rupanya, seluruh warga Lemah Abang sudah terhasut oleh khotbah itu. Mereka menganggap raja dan seluruh abdinya adalah para pendusta, pembohong, penipu. Puncak ketidakpahaman Tumenggung Limbar Kanchana tentang keanehan di Lemah Abang terjadi ketika ia diberitahu warga bahwa Ki Gedeng Karangsembung menduduki jabatan gedeng karena dipilih langsung oleh warga nagari, termasuk di dalamnya warga Lemah Abang. Akhirnya, dengan dada dan kepala dikobari api amarah ia kembali ke Galuh Pakuan dan menyampaikan semua yang disaksikannya kepada Prabu Surawisesa.

Mendapat laporan dari Tumenggung Limbar Kanchana yang memperkuat laporan Tumenggung Nara Wingkang, sadarlah Prabu Surawisesa bahwa di Lemah Abang telah terjadi percikan api yang membara di bawah permukaan, seibarat bara api menyala di dalam sekam. Prabu Surawisesa pun menangkap sasmita betapa bara api yang memercik di Lemah Abang itu pada gilirannya akan berkobar di Caruban Larang dan dipastikan makin lama akan semakin membesar, membakar seluruh Bumi Pasundan.

Read More ->>

Jumat, 20 Januari 2017

WILAYAH AL UMMAH

Wilayah al Ummah

Khotbah-khotbah yang disampaikan Abdul Jalil di Tajug Agung Lemah Abang sangat digemari oleh pendengarnya. Itu terlihat saat Abdul Jalil menyampaikan khotbah lanjutan pada hari berikutnya, jumlah pendengar makin berjejal-jejal memadati Tajug Agung dan tanah lapang yang terhampar di depannya. Warga dari pinggiran Kuta Caruban yang letaknya cukup jauh dari Lemah Abang pun berdatangan. Usai memimpin sembahyang isya, Abdul Jalil memulai khotbahnya. �

Selama berbilang abad telah ditanamkan ke dalam alam pikiran orang-orang beragama Islam bahwa yang disebut berhala adalah batu-batu, kayu-kayu pahatan, pohon keramat, gunung dan benda-benda alam yang disembah manusia. Selama beratus tahun telah diyakinkan kepada umat Islam bahwa para penyembah berhala adalah orang-orang sesat yang akan hidup celaka karena menyekutukan Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.�

�Tetapi malam ini aku katakan kepada kalian semua, o Saudara-saudaraku, bahwa sesungguhnya berhala yang paling menyesatkan dan berbahaya bagi kehidupan manusia adalah sebentuk makhluk jahat yang dipuja-puja dan disembah-sembah oleh sekalian manusia, termasuk di dalamnya umat beragama Islam. Dengan suaranya bergemuruh menggetarkan, makhluk jahat itu telah menjadi kiblat sesembahan baru umat manusia. Dengan bayangan dirinya yang kelam dan mengerikan, makhluk jahat itu dipertuhankan oleh manusia. Apakah nama makhluk jahat yang mengerikan itu? Dari mana makhluk itu berasal? Kejahatan apa yang telah dilakukannya?�

�Aku katakan kepadamu sekalian, o Saudara-saudaraku, bahwa yang disebut makhluk jahat yang disembah manusia itu tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah tatanan hidup manusia yang dinamakan kerajaan atau negara. Itulah tuhan baru. Itulah berhala baru. Itulah makhluk penyesat yang mengerikan. Ingat-ingatlah selalu ucapanku! Di antara berhala-berhala yang paling menyesatkan dan paling berbahaya bagi manusia-manusia beriman adalah makhluk bernama: Kerajaan! Kerajaan! Kerajaan! Negara!�

�Aku beritahukan kepada kalian bahwa yang disebut kerajaan atau negara sesungguhnya adalah makhluk berdarah dingin yang sangat haus darah. Dia makhluk pemangsa berjiwa ganas melebihi serigala yang paling buas. Dari manakah makhluk pemangsa ganas itu berasal? Kalian semua harus tahu bahwa jahat yang mengerikan itu merupakan monster ciptaan para pendusta. Rancangan para pembohong. Rekayasa para penipu. Ya, monster ciptaan para pendusta. Tahukah kalian siapa para pendusta itu? Mereka adalah manusia-manusia setengah binatang yang tubuh dan jiwanya tercipta dari bayangan makhluk paling mengerikan: Iblis.�

�Sesungguhnya para pendusta yang telah mencipta monster bernama kerajaan itu adalah makhluk-makhluk yang lemah dan tak berdaya. Mereka jauh lebih lemah daripada cacing-cacing penghuni tanah. Meski lemah, mereka memiliki akal yang jauh lebih licik dan lebih curang dibandingkan akal busuk serigala. Mereka juga memiliki suara geraman dan gonggongan yang lebih kuat dibanding anjing. Mereka memiliki pamrih yang jauh melebihi pamrih udang di balik batu. Mereka memiliki tubuh yang lebih licin dari belut. Mereka dapat terbang tinggi di angkasa laksana burung nazar pemakan bangkai. Mereka bahkan dapat mengubah-ubah warna kulit melebihi bunglon. Dan, yang membuat mereka menjadi kuat melebihi kekuatan harimau adalah kemampuan mereka untuk bersekongkol dalam kejahatan dengan sesamanya.�

�Tahukah kalian apa hasil persekongkolan makhluk-makhluk lemah berjiwa cacing, serigala, anjing, udang, burung nazar, belut, dan bunglon itu? Kerajaan! Negara! Itulah makhluk pemangsa ganas yang telah mereka cipta dalam persekongkolan yang menjijikkan. Para pendusta bersekongkol membuat dongeng-dongeng palsu yang berisi gantungan harapan bagi manusia. Mereka, para pendusta itu, mendongeng tentang pemangsa ganas bernama kerajaan sebagai tatanan ciptaan Tuhan yang bakal mendatangkan keadilan, kemakmuran, keamanan, kedamaian, keselamatan, dan kemuliaan bagi manusia yang patuh dan setia kepada pemangsa tersebut.�

�Sungguh aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa apa yang mereka dongengkan adalah dusta semua. Di balik dongeng-dongeng itu mereka memasang jerat yang bakal memerangkap setiap orang yang mempercayai dusta mereka. Kemudian, bagaikan kawanan laba-laba yang melihat mangsa terjerat ke dalam jaringan-jaring kepentingan pribadi yang ditebarnya, para pendusta itu akan memangsa siapa saja di antara manusia yang mempercayai kebohongan mereka. Sesungguhnya para pendusta itu makhluk yang lebih rakus, lebih serakah, lebih ganas, dan lebih mengerikan daripada laba-laba. Dengan dongeng-dongeng ciptaannya para pendusta mengendalikan makhluk bernama kerajaan yang mengerikan itu untuk mencabik-cabik kehidupan manusia yang percaya pada dongeng-dongeng mereka.�

�Dengan kerakusan, ketamakan, kelicikan, dan kecurangan tak terbayangkan, para pendusta itu bersekongkol atas nama kerajaan, atas nama negara. Dengan mulut-mulut yang najis mereka berkata kepada komplotannya: �Marilah kita satukan bahasa kita untuk menetapkan benar dan salah, baik dan buruk, pahlawan dan pengkhianat, anugerah dan hukuman, sah dan tidak sah, keadilan dan kezaliman. Bahasa lain yang tidak sesuai dengan kita hendaknya kita singkirkan sebagai bahasa yang rancu. Sesungguhnya, dengan bahasa kita itu, kitalah pemilik kebenaran atas nama negara.��

�Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, dengan bahasa persekongkolan itu para pendusta tengik akan menekuk lutut manusia untuk bersujud di hadapan makhluk ganas yang mereka cipta. Dengan bahasa hasil persekongkolan itu mereka menimbun harta benda dari manusia taklukkan. Kemudian, bagaikan monster kelaparan, mereka mengunyah dan memamah harta benda yang mereka timbun. Sungguh menjijikkan para pendusta itu bagiku. Sungguh najis mulut mereka itu. Apa pun yang keluar dari mulut itu, menurutku, akan ikut menjadi najis.�

�Lihatlah apa yang dilakukan para pendusta saat mereka menyusun tatanan salah dan benar, adil dan zalim, serta sah dan tidak sah dalam bahasa hukum mereka. Kalian akan menemukan bahwa kesalahan adalah hak para kawula, sementara raja dan keluarganya berdiri tegak di atas permadani ketidakbersalahan. Hukum hanya untuk kawula. Hukum tidak untuk raja dan pejabat negara. Itulah bahasa keadilan menurut mereka.�

�Lihatlah apa yang diperbuat para pendusta itu saat mereka sudah memiliki timbunan harta benda yeng mereka peroleh dari sisik, bulu, rambut, dan kotoran makhluk pemangsa ciptaan mereka. Lihatlah apa yang mereka lakukan ketika perut mereka sudah kembung berisi kotoran kerajaan yang najis. Lihatlah apa yang mereka lakukan ketika mereka sudah berkerumun di sekitar tonggak kekuasaan. Dengarkan apa yang mereka ucapkan dengan bahasa dustanya. Lihat! Dengar! Renungkan! Apa yang diperbuat para pendusta terkutuk itu di sana!�

�Di sekeliling tonggak kekuasaan itu mereka menyeringai dengan wajah monyet yang menjijikkan. Mereka memandang ke atas tonggak dengan mata serigala yang menyala penuh hasrat. Mulut mereka berbusa dan meneteskan liur menggelikan ketika menyaksikan gemerlap singgasana yang tergantung di atas tonggak bersalut emas. Mereka tidak kuasa menahan keinginan untuk tidak naik ke atas singgasana.�

�Lihat! Lihatlah para pendusta bermulut najis itu! Mereka bagaikan orang tidak waras berebut memanjat ke atas tonggak kekuasaan tempat singgasana gemerlapan tergantung. Lihat, mereka saling menginjak. Mereka saling menyikut. Saling menggigit. Mereka bahkan saling membunuh. Dan lihat, satu di antara para pendusta itu, yaitu dia yang paling kuat dan paling licik, akan sampai di atas singgasana. Dialah sang pemenang. Dialah sang raja yang berhak duduk di atas singgasana yang dikitari bangkai dan kotoran.�

�Raja yang duduk di atas singgasana itulah hasil persekongkolan para pendusta. Sang raja, menurut bahasa mereka, adalah penunggang dan pengendali makhluk pemangsa ganas bernama kerajaan. Kemudian, dengan bahasa dusta yang digunakannya, para pendusta itu berkata: �Lihatlah, Tuhan Yang Mahakuasa telah turun ke dunia sebagai raja. Dia turun dari langit dan duduk di atas singgasana emas dengan dikelilingi bidadari dan ruh suci para leluhur yang berkata-kata memuji sang raja: Jayalah Sang Raja! Kuduslah Sang Raja! Agunglah Sang Raja! Inilah Sang Raja yang duduk di atas takhta Kebenaran. Sang Raja yang berjalan di atas permadani ketidakbersalahan. Sang Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja yang agung dan mulia. Sang Raja yang menjadi pemilik segala sesuatu yang terhampar di atas bumi yang dikuasainya. Sang Raja yang wajib disembah dengan segala kepatuhan dan ketundukan. Ya, Sang Raja, jelmaan Tuhan di dunia.��

�Setelah yakin dusta yang dibangun kaumnya dipercaya banyak manusia maka dengan raungan mengerikan sang raja yang menunggangi makhluk pemangsa mengerikan bernama kerajaan itu bertitah: �Akulah yang teragung dan termulia di antara segala raja. Akulah titisan Tuhan di jagad raya. Karena itu, berlutut dan bersujudlah kalian menyembah aku! Barang siapa di antara para kawula yang menghadap raja tidak berlutut, tidak bersujud, dan tidak menyembah akan dipenggal kepalanya.��

�Aku katakan kepada kalian, semua itu adalah kepalsuan yang dirancang para pendusta dengan mengatasnamakan keberadaan kerajaan sebagai ketentuan Tuhan. Aku katakan bohong dan dusta kata-kata mereka itu. Sebab, apa yang mereka katakan sangatlah bertentangan dengan kenyataan akan asma� dan shifat Tuhan.�

�Sejak zaman awal hingga akhir nanti Dia, Yang Maha Merajai (al-Malik), tidak pernah ingkar janji dan tidak pernah menyimpang dari asma� dan shifat-Nya. Jika Dia mewajibkan hamba-Nya untuk patuh, tunduk, dan setia kepada-Nya maka Dia akan melimpahkan semua anugerah yang tak terbayangkan kepada hamba tersebut, baik di dunia maupun di akhirat. Hamba-hamba yang tunduk, patuh, dan setia akan dianugerahi-Nya pangkat takwa. Mereka akan dimuliakan dan diagungkan sepanjang masa.�

�Sementara itu, jika kalian mempercayai dongengan para pendusta, dengan menganggap raja-rajamu sebagai jelmaan al-Malik di dunia, justru kesengsaraan dan kehinaan yang terbukti engkau terima. Ketundukan, kepatuhan, dan kesetiaanmu sebagai hamba dari raja-rajamu tidak mendatangkan manfaat apa-apa bagimu kecuali penderitaan. Sebab, engkau yang tunduk, patuh, dan setia kepada rajamu akan ditempatkan sebagai hamba sahaya yang selalu hidup dalam keadaan kekurangan, tertindas, teraniaya, dan dizalimi. Raja-rajamu dengan semena-mena bisa bebas merampas harta benda milikmu, bahkan merampas nyawamu. Engkau sekalian tidak diperkenankan memiliki sesuatu melebihi rajamu. Engkau ditempatkan dalam keadaan serba kekurangan, sedangkan rajamu dalam kelimpahruahan.�

�Penderitaan dan kesengsaraan kalian sebagai kawula akan semakin berat dan tidak tertanggungkan ketika kalian dikuasai raja-raja yang gemar berperang. Saat makhluk pemangsa bernama kerajaan itu ditunggangi untuk menyerang makhluk pemangsa lain, yang paling menderita adalah kalian: kawula. Rumah kalian dibakar. Harta benda kalian dijarah. Anak-anak kalian dirampas untuk dijadikan budak. Nyawa kalian pun akan dirampas oleh makhluk pemangsa yang bertarung. Sehingga, sejak zaman purwakala hingga sekarang, sesungguhnya, kalian selalu jatuh di bawah kekuasaan makhluk pemangsa satu ke makhluk pemangsa yang lain. Karena itu, o Saudara-saudaraku, salahkah aku jika mengatakan dengan jujur bahwa raja-raja yang menyatakan jelmaan Tuhan di dunia ini adalah pendusta besar? Salahkah aku jika menggambarkan keberadaan kerajaan sebagai makhluk pemangsa yang paling ganas?�

�Sekarang jelas sudah bagi kalian semua bahwa kepercayaan terhadap dongeng-dongeng tentang raja dan kerajaan yang dirancang para pendusta itu harus diakhiri. Jangan didengar lagi mulut-mulut najis mereka yang menebarkan janji palsu tentang kemakmuran dan keadilan dari makhluk mengerikan yang mereka sebut kerajaan, tunggangan raja-raja yang dikelilingi oleh para pendusta untuk memuaskan nafsu rendah mereka. Sebab, raja dan para pendusta itu adalah manusia berjiwa laba-laba ganas yang selalu merancang siasat untuk menjerat manusia-manusia berjiwa keledai, unta, kuda beban, sapi perah, kerbau, dan anjing peliharaan untuk dijadikan mangsanya.�

�Jika kalian masih percaya dengan ucapan para pendusta itu, sesungguhnya selama ini kalian semua telah memakan dusta para pendusta. Kalian telah terpesona karena para pendusta itu telah memperlihatkan kalian sebuah tontonan menakjubkan tentang sang raja yang duduk di atas singgasana emas bertabur permata. Kalian takjub melihat takhta itu memancarkan kilau indah gemerlapan karena diterangi lampu-lampu yang bercahaya. Kalian terbius karena singgasana itu tegak di tengah kepulan dupa dan kayu gaharu yang wangi. Kalian terheran-heran menyaksikan berderet-deret pejabat dan pendeta peliharaan raja. Kalian terperangah menyaksikan para penari jelita yang melenggak-lenggok di depan sang raja. Sungguh agung dan mulia tontonan itu. Betapa megah dan mewah tontonan itu.�

�Aku tidak menyalahkan kalian yang terpesona oleh tontonan para pendusta itu. Aku hanya meminta, jika kalian adalah orang-orang bijak maka hendaknya kalian bertanya kepada diri: di dalam tontonan yang menakjubkan itu, sesungguhnya di manakah letak kedudukanku? Jika pertanyaan tentang kedudukan diri sudah kalian ajukan maka kalian pun akan segera tahu jawabannya, yaitu kalian akan berkata begini: aku adalah kawula kerajaan. Aku adalah hamba sahaya sang raja. Sebagia kawula, kedudukanku di dalam tontonan agung itu tidak lebih dari sekedar batu-batu pajangan yang hidup tidak mati pun enggan. Batu-batu pajangan yang bisa menyaksikan sang raja berjalan, berlatih memanah, menunggang kuda, berburu, dan menerima sanjungan serta pujian dari kawulanya. Batu-batu pajangan yang setiap saat merelakan dirinya dijadikan alas pijakan para pendusta. Ya, batu-batu pajangan yang dianggap tak bernyawa.�

�Sekarang ini, o Saudara-saudaraku, aku beritakan kepada kalian bahwa telah datang zaman baru sehingga tontonan megah dan mewah ciptaan para pendusta itu harus ditinggalkan. Pada zaman baru ini orang-orang harus berkata: �Jangan percaya lagi kepada para pendusta yang mengatakan dirinya abdi raja, abdi negara, hamba hukum, nayakapraja, punggawa, dan pahlawan kerajaan. Jangan percaya ucapan mereka karena mulut mereka najis. Jangan percaya pada janji-janji mereka karena semuanya mengalir dari mulut yang najis.�

�Kenapa aku katakan mulut-mulut najis? Sebab, lidah mereka palsu. Gigi mereka palsu. Bibir mereka palsu. Bahkan tenggorokan, jantung, limpa, dan usus mereka pun palsu. Itu sebabnya, kata-kata yang keluar dari mulut mereka palsu semua. Demikianlah, Kebenaran sesungguhnya tentang para pendusta itu.�

�Dengan memahami kepalsuan tubuh dan jiwa para pendusta yang bersekongkol mencipta makhluk pemangsa jahat bernama kerajaan, bukan berarti kalian memiliki hak untuk mencela dan menista mereka. Aku katakan bahwa kalian tidak punya hak mencela dan menista, karena makhluk jahat ciptaan mereka itu memang merupakan bagian dari kodrat kehidupan di dunia. Ibarat kawanan laba-laba bebas menebar jaring untuk mencari mangsa, begitulah para pendusta itu bebas menebar kebohongan dan janji palsu untuk memerangkap orang-orang lemah dan bodoh yang mempercayai dusta mereka. Sesungguhnya, hanya mereka yang sudah ditundukkan oleh nafsu rendah badani jua yang akan menjadi kawula taklukan pemangsa jahat bikinan para pendusta itu.�

�Kepada kalian, o adimanusia-adimanusia yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi, diwajibkan bagi kalian untuk sadar diri dan tidak mempercayai dusta yang dibangun para pendusta. Ketika kalian meyakini kebenaran yang dibangun para pendusta sehingga menjadikan kalian tunduk dan patuh, berlutut dan bersujud kepada makhluk jahat bernama kerajaan itu maka �telunjuk Sang Kebenaran akan ditudingkan ke arah kalian dengan tuduhan: musyrik!��

�Jika sebelum ini, para �alim yang menjadi pemimpin kalian mengatakan: jangan berlutut dan bersujud kepada batu-batu dan kayu-kayu yang dipahat! Maka sekarang aku katakan: Jangan kalian berlutut dan bersujud kepada raja-rajamu! Jangan menyembah raja-rajamu seperti engkau menyembah Tuhanmu. Sesungguhnya, makhluk pemangsa jahat bernama kerajaan yang ditunggangi sang raja itu adalah berhala baru yang bakal menyesatkan kalian dari jalan Kebenaran Sejati.� �

Wahai Saudara-saudaraku, ingat-ingatlah selalu akan apa yang aku ajarkan. Kendati begitu, tidak lagi mempercayai dongeng-dongeng tentang kerajaan yang dirancang para pendusta bukan berarti kalian harus hidup tanpa pemimpin. Sesuai fitrah makhluk hidup di jagad raya, tiap-tiap puak di antara makhluk ciptaan Ilahi selalu memiliki pemimpin. Tetapi, bagi adimanusia-adimanusia, wakil Allah di muka bumi, kepemimpinan bukanlah seperti kepemimpinan margasatwa. Kepemimpinan adimanusia adalah kepemimpinan yang benar-benar mencerminkan pengejawantahan kewakilan Sang Pencipta.�

�Akan kukatakan kepada kalian tentang kepemimpinan yang benar dan yang sesuai untuk adimanusia yang berkedudukan sebagai wakil Allah di muka bumi. Sesungguhnya masing-masing manusia secara fitrah memiliki �kuasa-kuasa kodrati� yang memancar dari asma�, shifat, dan af�al-Nya, Yang diwakilinya. Tiap-tiap manusia sesungguhnya memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin karena kedudukannya sebagai wakil Yang Maha Merajai di muka bumi (khalifah al-Malik fi al-ardh).�

�Sebagaimana raja-raja dunia yang kalian kenal, sesungguhnya tiap-tiap kalian memiliki �kuasa-kuasa kodrati� untuk dimuliakan, karena dia adalah pancaran keterwakilan Yang Mahamulia di muka bumi (khalifah al-Azaiz fi al-ardh). Demikian pun, tiap-tiap manusia secara fitrah memiliki kuasa-kuasa kodrati� untuk hidup di atas landasan hukum, karena dia adalah wakil Yang Maha Menetapkan Hukum (khalifah al-Hakam fi al-ardh).�

�Tetapi, ibarat benih yang ditabur di atas tanah, masing-masing manusia harus berjuang melampaui keterbatasannya untuk mewujudkan keberadaan citra dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi. Dan, seperti yang pernah aku ajarkan kepada kalian, jalan menuju citra adimanusia yang sempurna adalah laksana rentangan antara binatang � manusia � adimanusia yang wajib dilampaui. Maka, begitulah hendaknya masing-masing manusia wajib melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaannya agar mencapai kedudukan adimanusia yang sempurna.�

�Hanya mereka yang sudah melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaan hingga menjadi adimanusialah yang pantas memimpin manusia lain. Itu berarti, hanya adimanusia yang dapat melepaskan semua pamrih pribadi untuk berkhidmat kepada tugasnya sebagai wakil Allah di muka bumi yang layak menjadi pemimpin manusia. Dan cermin terbaik dari adimanusia yang kumaksudkan adalah citra diri Nabi Muhammad Saw. dengan keempat sahabat penggantinya, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib. Merekalah adimanusia yang hendaknya dijadikan kiblat dan rujukan keteladanan dalam memimpin manusia.�

�Lihatlah citra kehidupan Nabi Muhammad Saw., sang penyampai Kebenaran, guru, dan pemimpin manusia. Beliaulah sang adimanusia yang dengan tegas menolak jabatan raja, istri cantik, dan harta kekayaan dengan berkata begini: �Andaikata rembulan ditaruh di bahu kananku dan matahari ditaruh di bahu kiriku, niscaya aku tidak akan meninggalkan tugasku.� Ya, itulah citra adimanusia, yang tidur beralaskan anyaman daun kurma dan menambal pakaian dengan tangannya sendiri. Itulah citra adimanusia yang menguasai Jazirah Arabia dan Baitul Mal, namun saat wafat tidak meninggalkan warisan apa-apa kecuali Kitab Allah dan keteladanan hidup.�

�Sekali lagi aku katakan kepada kalian bahwa hanya adimanusia yang tercitrakan pada diri Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat itulah manusia yang boleh menjadi pemimpin para manusia sempurna. Mereka yang masih berada pada kedudukan manusia, apalagi binatang, diharamkan menjadi pemimpin manusia. Sebab, tidak akan ada yang bisa diperbuat oleh seekor binatang di atas singgasananya, kecuali memenuhi perutnya dengan daging mentah dari mayat-mayat yang dimangsanya dan membasahi tenggorokannya dengan darah.�

�Sesungguhnya, seorang adimanusia yang sudah melampaui kemanusiaannya dan menduduki derajat wakil Allah di muka bumi adalah manusia sempurna yang mewakili citra asma�, shifat, dan af�al Allah. Itu sebabnya, ketika ia menjadi pemimpin manusia, sesungguhnya ia merupakan pengejawantahan Yang Maha Merajai (al-Malik), Yang Mahaagung (al-Azhim), Yang Mahaadil (al-�Adl), Yang Mahabijaksana (al-Hakim), Yang Mahabenar (al-Haqq), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Maha Terpuji (al-Hamid), Yang Mahakaya (al-Ghaniyy), Yang Mahakuasa (al-Qadir), Yang Maha Menentukan (al-Muqtadir), Yang Maha Pemurah (ar-Rahman), Yang Maha Pengasih (ar-Rahim), Yang Maha Pengampun (al-Ghafur), serta semua asma� dan shifat Ilahi yang lain.�

�Semua atribut Ilahiyyah yang telah aku sebutkan sesungguhnya tidak akan pernah akan bisa memancarkan citra diri-Nya pada manusia pecinta bumi dan kebendaan. Sebab, pecinta bumi dan kebendaan adalah orang-orang yang masih berada pada bentangan kebinatangan dan kemanusiaan. Aku katakan kepada kalian bahwa sungguh telah berdusta orang-orang yang mengatakan bahwa raja-raja pecinta kebendaan dan pengumbar nafsu syahwat itu adalah jelmaan Tuhan di muka bumi. Aku katakan dusta terhadap mereka yang mengatakan para penimbun harta benda sebagai wakil Allah di muka bumi. Dan, karena kalian adalah murid-muridku maka hendaknya kalian meninggalkan para pendusta itu. Jauhi mereka.�

�Jika kalian bertanya kepadaku bagaimana orang-seorang bisa menjadi pemimpin di antara sesamanya? Maka, aku katakan: kepemimpinan manusia atas manusia lain hanya mungkin terjadi dengan benar jika didasarkan pada kerelaan manusia lain untuk memberikan haknya demi memilih orang seorang yang dipercaya dapat membawa mereka kepada jalan kesejahteraan, keadilan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan. Maksudku, sebagai wakil Yang Maha Merajai di muka bumi, sesungguhnya masing-masing manusia memiliki �kuasa-kuasa kodrati� untuk memimpin. Tetapi �kuasa-kuasa kodrati� itu sangatlah lemah dan kecil pada masing-masing orang. Karena itu, masing-masing pribadi wakil al-Malik di muka bumi harus dengan rela hati mendelegasikan kewakilan dirinya sebagai wakil al-Malik kepada orang seorang yang dipercayanya untuk memimpinnya ke jalan yang benar.�

�Maksudku, dengan asas kerelaan masing-masing wakil al-Malik untuk mendelegasikan haknya kepada orang seorang maka seorang pemimpin manusia wajib muncul berdasarkan pilihan masing-masing wakil al-Malik. Pemimpin manusia wajib didasarkan atas pilihan. Itu sebabnya, aku katakan telah berdusta orang-orang yang menyatakan bahwa kepemimpinan itu harus berdasarkan asas keturunan darah, suku, warna kulit, bahasa, dan agama.� �

Kalian bukan lagi kawula dari raja. Kalian adalah suatu kabilah. Maka hendaklah kalian memilih salah seorang di antara kalian sendiri sebagai pemimpin kabilah. Sesungguhnya, pemimpin kabilah adalah salah seorang di antara kalian yang mendapat kepercayaan dari warga kabilahnya. Dia dipilih dan dikukuhkan oleh warga kabilah dengan tujuan untuk membawa anggota-anggota kabilah yang dipimpinnya ke arah kesejahteraan, keadilan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan.�

�Jika kalian bertanya disebut apakah kedudukan seorang pemimpin kabilah? Maka, karena kabilah adalah kumpulan manusia di suatu nagari yang terdiri atas beberapa desa, hendaklah pemimpin kabilah itu disebut wali nagari. Jika kalian bertanya kenapa disebut wali nagari dan bukan kepala nagari? Aku katakan kepada kalian, karena sebutan �kepala nagari� bisa bermakna suatu kedudukan yang didasarkan atas asas keturunan. Sedangkan sebutan wali, yang diambil dari kata Arab al-Waly, memiliki makna penguasa, pelindung, dan sahabat yang didasarkan pada asas keterpilihan.�

�Sebagaimana kedudukan Wali Allah dalam makna ruhani yang berarti suatu kedudukan orang seorang yang �dipilih� Allah untuk menjadi sahabat atau kekasih-Nya, demikianlah wali nagari adalah penguasa dan pelindung nagari yang dipilih oleh sahabat-sahabat yang mengasihinya. Itu berarti, seorang wali nagari selain menjadi penguasa dan pelindung nagari, juga menjadi sahabat kabilah yang memilihnya. Dan sebagaimana ketentuan yang digunakan Allah dalam memilih hamba-Nya untuk didudukkan pada derajat Wali Allah, seorang wali nagari hendaknya memiliki derajat ruhani yang lebih tinggi dibandingkan manusia di sekitarnya. Ukuran yang paling sederhana untuk menilainya adalah dengan melihat keterikatan orang-seorang terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu. Itu berarti, semakin kuat keterikatan orang seorang terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu rendah badani maka semakin tidak layak orang tersebut dipilih menjadi wali nagari.�

�Jika pemimpin-pemimpin dari kabilah-kabilah yang disebut wali nagari sudah terbentuk maka menjadi tugas mereka untuk memilih pemimpin bagi seluruh kabilah yang disebut ra�yat atau masyarakat ummah. Pemimpin ra�yat atau masyarakat ummah itulah yang disebut wali al-Ummah, yang bermakna penguasa, pelindung, dan sahabat masyarakat ummah.� �

Karena citra wali al-Ummah adalah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan dilanjutkan oleh keempat sahabatnya maka kedudukan wali al-Ummah bercermin dan melanjutkan tradisi khulafa� ar-rasyidin, sehingga seorang wali al-Ummah hendaknya kalifah ar-rasul sayyidin panatagama. Kenapa pemimpin masyarakat ummah harus disebut kalifah ar-rasul sayyidin panatagama dan bukan sultan atau amir? Sebab, pemimpin masyarakat ummah adalah cerminan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan keempat kalifah sahabatnya.�

�Sesungguhnya, di balik sebutan kalifah ar-rasul sayyidin panatagama terkandung makna ruhani yang lebih dalam dibandingkan dengan sebutan sultan atau amir. Sebab, sebutan kalifah merujuk pada khilafah (kekuasaan), imamah (kepemimpinan ummah), dan wilayah (kewalian). Itu sebabnya, seorang kalifah adalah penguasa sekaligus imam ruhani. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan keempat penggantinya, demikianlah hendaknya pemimpin masyarakat ummah menjalankan tugasnya sebagai penguasa duniawi sekaligus imam bagi masyarakat ummah yang dipimpinnya.�

�Oleh karena kiblat yang dijadikan cerminan seorang kalifah ar-rasul sayyidin panatagama adalah Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat maka sesungguhnya sangatlah sulit mendapatkan adimanusia seperti itu. Sebab, sang adimanusia calon kalifah ar-rasul sayyidin panatagama bukan sekadar manusia yang telah mampu melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaannya. Dia, sang adimanusia itu, hendaknya juga memahami hukum suci Ilahi (syari�at), ilmu siyasah, ilmu pemerintahan, ilmu hikmah, dan yang lainnya.� �

Lantaran ketentuan ini sangat berat maka sampai saat ini aku belum tahu siapa di antara orang-orang yang aku kenal di bumi Caruban Larang ini yang layak untuk ditunjuk dan dipilih bersama sebagai kalifah ar-rasul sayyidin panatagama. Tetapi, aku yakin dia akan muncul tak lama lagi di antara kita. Ya, dia yang dengan sukarela melepaskan seluruh ikatan dunia untuk berkhidmad kepada tugasnya sebagai wakil Allah di muka bumi itu tidak lama lagi akan kita ketahui keberadaannya.�

�Jika di antara kalian ada yang bertanya apakah kata-kata yang aku ucapkan tentang kedatangan pemimpin masyarakat ummah itu dianggap nubuah atau ramalan gaib? Aku katakan kepada kalian yang bertanya bahwa akal dan hati nuraniku berbicara begini: �Perubahan kehidupan manusia dari gelap ke arah terang selalu ditandai oleh munculnya cahaya agung kemanusiaan laksana matahari terbit pada pagi hari.� Itu sebabnya, di tengah-tengah kegelapan kemanusiaan yang meliputi Bumi Caruban Larang ini, aku yakin akan muncul cahaya agung itu. Hanya saja, karena cahaya itu bersinar terlalu terang, sering kali mata kita tidak mampu melihatnya dari dekat.�

�Dengan segala pertanda dan isyarat yang telah kusampaikan tentang bagaimana seharusnya seseorang layak dipilih menjadi kalifah ar-rasul sayyidin panatagama, maka aku meminta kepada kalian untuk mengamati secara cermat dan jernih tentang siapa di antara manusia di Caruban Larang ini yang memenuhi syarat-syarat itu. Jika di antara kalian ada yang mengetahui siapa yang citra hidupnya paling mirip dengan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat, maka dialah yang layak menduduki jabatan kalifah ar-rasul sayyidin panatagama.�

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers