Selasa, 28 Maret 2017

KETERLEPASAN NAFS-NAFS

   Keterlepasan Nafs-Nafs

      Setelah singgah di Pekalifahan untuk berpamitan, Abdul Jalil dengan istri dan anak berjalan menuju sebuah hutan bambu yang terletak di selatan dukuh Lemah Abang. Di situ, seorang diri ia mendirikan gubuk berdinding bambu beratap daun kawung. Ia tinggal di gubuk itu bersama istri dan anak sebagai orang kebanyakan, bukan guru suci, bukan sesepuh dukuh, bukan pelopor pembaharuan, dan bukan pula seseorang yang pernah dianggap berjasa kepada masyarakat. Sebagaimana layaknya orang kebanyakan, dalam memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan istri dan anaknya, Abdul Jalil membuka sepetak lahan untuk berladang. Pagi-pagi sekali, usai sembahyang subgih, ia sudah terlihat di ladang mengayunkan cangkul atau membuat alat-alat dapur dari bahan bambu dan tempurung kelapa, membuat kopiah rajutan, atau menganyam tikar pandan yang akan dijual ke pasar. Hari-hari hidupnya benar-benar dilaluinya sebagai orang kebanyakan tanpa atribut dan tanpa gelar apa pun. Ia bukan orang berkelebihan yang pantas disebut hormat dengan julukan Kangjeng Syaikh, Susuhunan, Syaikh Datuk, Dang Guru Suci, Pangeran, atau Sang Pandita Suci. Ia adalah Abdul Jalil. Ia adalah Pak Bardud. Ia adalah orang kebanyakan tak dikenal yang sedang menghabiskan hari-hari hidupnya untuk menunggu datangnya ajal. Ia adalah orang tua yang sedang mempersiapkan pelepasan segala sesuatu yang melekat pada dirinya untuk dipasrahkan utuh kepada Sang Pemilik Sejati.

Sekalipun sejak awal ia menyadari bahwa dengan menempatkan dirinya sebagai orang kebanyakan maka akan memudahkannya melampaui tahap-tahap keterlepasan-keterlepasan ruhani, Abdul Jalil tetap merasakan tekanan-tekanan berat menghantam jiwanya manakala ia dihadapkan pada kuatnya desakan-desakan keinginan yang mendorong-dorong dan menarik-narik hasrat jiwanya untuk berbagi keberlebih-kelimpahan kepada sesama. Sebagai orang yang sudah terbiasa berbagi keberlebih-kelimpahan, ia benar-benar merasakan suatu siksaan ketika berusaha keras menutup dan membalikkan genggaman tangan agar keberlebih-kelimpahannya terbendung dan tidak mengalir a keluar. Di tengah tekanan-tekanan jiwanya yang sangat menyiksa itu, ia merasakan sesuatu membakar hatinya, ketika tanpa terduga-duga muncul seorang laki-laki yang terluka parah, mengharap uluran tangannya.

Kemunculan laki-laki terluka itu sangat aneh. Tanpa diketahui darimana asalnya, tiba-tiba dia muncul dengan langkah terseok-seok dengan wajah menyeringai kesakitan. Tanpa terduga-duga, dia tersungkur di depan pintu gubuk sambi mengerang kesakitan. Dia meminta pertolongan dengan ratapan mengharu biru. Abdul Jalil yang saat itu berada di dalam gubuk bersama istri dan anaknya tersentak menyaksikan pemandangan menyedihkan itu. Ia merasakan jiwanya ditarik-tarik oleh keinginan kuat untuk memberikan pertolongan kepada laki-laki malang tersebut. Namun, secepat itu ia sadar bahwa tindakannya menolong orang malang itu akan mendatangkan sesuatu yang selama ini dihindarinya: membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya, terutama kebiasaan dalam mengobati orang. Dengan menolong, ia akan memberi peluang untuk menjadikan dirinya sebagai berhala bagi manusia. Ia sadar bahwa dirinya sudah memutuskan untuk benar-benar menghindari orang-orang agar tidak ada lagi yang mengenalnya, baik sebagai Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Siti Jenar, Susuhunan Binang, Syaikh Sitibrit, atau Pangeran Kajenar, nama-nama yang dikenal orang memiliki daya linuwih dan kekeramatan-kekeramatan. Namun, hasrat kuat dari kedalaman dirinya untuk menolong mereka yang membutuhkan terus menggelegak dahsyat di relung-relung jiwanya, sehingga ia merasakan jiwanya sangat tersiksa. Semakin kuat ia berusaha menahan-nahan dan membendung hasrat menolongnya, semakin ia rasakan jiwanya terkoyak-koyak oleh rasa sakit tak tertahankan.

Ketika Abdul Jalil masih dibingungkan oleh hasrat menolong dan hasrat menahan diri untuk tidak menolong, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ratapan laki-laki terluka itu, yang terdengar memilukan tetapi penuh getar kemarahan, �Kenapa engkau tiba-tiba menjelma menjadi makhluk yang begitu kejam dan tidak memiliki belas kasih, o hamba Allah? Apakah hatimu sudah berubah menjadi batu sehingga tidak sedikit pun tergerak untuk menolong sesamamu? Kenapa engkau ini, o engkau yang terkasih dan selalu berbagi keberlebih-kelimpahan?�

Mendengar ratapan laki-laki malang itu, Abdul Jalil bergegas keluar dari gubuknya. Di luar, ia melihat laki-laki itu meliuk-liuk kesakitan sambil terus mengerang-erang. Namun, Abdul Jalil tidak sedikit pun merasa kasihan. Sebaliknya, dengan bentakan keras ia menghardik, �Rupanya engkau setan. Engkau akan memperdaya aku dengan siasat licikmu memanfaatkan kelemahanku. Engkau datang meratap meminta tolong. Jika aku menolongmu, engkau akan sebarkan kepada manusia jika aku adalah titisan Tuhan. Lalu, manusia datang beramai-ramai menyembahku sebagai berhala. Sungguh keji siasatmu. Sekarang pergilah engkau dari pedalamanku sebelum kutimpuk dengan batu.�

Laki-laki malang yang terluka dan tersungkur di depan gubuk itu tiba-tiba bangkit. Dengan bersungut-sungut ia berkata, �Bagaimana engkau tahu jika aku adalah aku, o Abdul Jalil?�

�Aku tahu engkau adalah engkau, karena engkau adalah setan di pedalamanku,� kata Abdul Jalil tertawa, �Aku lebih mengenalmu daripada engkau mengenalku. Ketika citra bayanganmu engkau sungkurkan di depan gubukku dalam wujud laki-laki terluka yang minta dikasihani, aku segera tahu bahwa engkau sedang berusaha memperdayaku. Engkau mau memelesetakan aku dari jalanku. Sekarang, pergilah engkau dari pedalamanku! Pergi!�

Seberkas cahaya merah tiba-tiba melesat dari mulut Abdul Jalil dan dengan kecepatan kilat menyambar tubuh laki-laki yang berdiri terperangah di depan gubuk. Terdengar jeritan panjang di tengah suara dentuman. Secara ajaib tubuh laki-laki itu menggelepar-gelepar dalam kobaran api yang menjilat-jilat ke angkasa. Dalam beberapa saat, tubuh itu sudah terpanggang menjadi setumpuk arang. Namun, secara ajaib tumpukan arang itu berubah menjadi seekor ular belang warna kuning, hitam, putih dan merah. Kemudian, dengan gerakan cepat laksana sambaran kilat, ular itu sekonyong-konyong melesat dan membelit leher Abdul Jalil erat-erat. Abdul Jalil terpekik kaget. Tanggannya menggapai-gapai berusaha menarik ular dari lehernya dan melemparkannya jauh-jauh. Saat tangan kanannya berhasil memegang ekor sang ular, tiba-tiba pendengaran batinnya disentuh oleh al-ima� yang menggema dari cakrawala kesadarannya, yang berasal dari Ruh al-Haqq.

�Kenapa engkau ingin melempar ular belang itu dari lehermu? Masakan engkau tidak mengenal ular belang yang membelit lehermu itu, o Abdul Jalil, padahal dia adalah nafs al-hayawaniyyah, anasir tanah bersifat zhulmun, yang tersembunyi di dalam diri (nafs) yang bersemayam di dalam keakuanmu. Sekarang ini engkau tidak perlu takut lagi terhadap keganasan racunnya. Sebab, ibarat seekor naga yang tidak bakal mati karena racun seekor ular kecil, begitulah engkau tidak akan binasa oleh racun nafs al-hayawaniyyah itu.�

Abdul Jalil tertawa dan membiarkan ular belang itu melilit lehernya. Ia tiba-tiba sadar sesungguhnya ia telah sering melihat ular itu berkeliaran di sekitarnya. Ia bahkan baru menyadari jika ular itu telah dikenalnya untuk kali pertama berpuluh tahun silam, saat ia berguru kepada Ario Abdillah di Palembang. Saat itu, seingatnya, ular belang kuning, hitam, putih, dan merah itu dilihatnya sekilas merayap di sampingnya saat ia mengambil air wudhu untuk bersembahyang malam. Sejak waktu itu, kelebatan ular itu sesekali ia saksikan melintas di sekitarnya. Baru setelah ia mengalami peristiwa ruhani di gunung Uhud bersama Misykat al-Marhum dan Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, kelebatan bayangan ular itu tidak pernah lagi muncul.

Kini, setelah ia melupakan citra ular belang itu, tiba-tiba sang ular muncul dengan cara menakjubkan. Ia baru sadar jika ular itu tidak lain dan tidak bukan adalah citra perwujudan nafs al-hayawaniyyah yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri. Kini ia tidak lagi merasa khawatir terhadap keberadaan ular yang racunnya terkenal ganas tersebut. Bahkan, ia membiarkan ular itu mengikuti ke mana pun ia pergi. Ia menyebut ular belang itu dengan nama Manik Maya, yang bermakna �permata khayalan� yang menyesatkan. Dengan nama Manik Maya itu, ia berharap setiap kali melihatnya, ia akan selalu teringat bahwa leluhurnya dahulu, Adam a.s., terperosok ke dalam lingkaran dosa � melanggar titah Sang Pencipta � karena tersihir pesona keindahan kata-kata �permata khayalan� yang dipancarkan oleh Sang Iblis, sehingga Adam jatuh dari martabat �Adam Ma�rifat� yang bisa berwawansabda dengan Allah dan disujudi malaikat menjadi �Adam Mahjubin� yang terhijab dan direndahkan sebagai asfala safilin (QS. At-Tin: 4-5), yaitu dihukum di planet dunia yang ditumbuhi Pohon Kegelapan (syajarah azh-zhulmah) yang penuh ditebari jalan berliku-liku yang menyesatkan untuk bisa kembali kepada-Nya.

Hari kesembilan sejak Abdul Jalil tinggal di gubuk bersama ular sahabatnya ditandai oleh sebuah peristiwa aneh yang mengubah seluruh kisah perjalanan hidupnya sebagai adimanusia menjadi yang sendiri (fard).

Sejak pertama kali mengalami perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati (as-safar min al-khaliq ila al-Haqq), telah berulang-ulang Abdul Jalil mengalami hal serupa: tenggelam ke dalam Kebenaran Sejati (fana� fi al-Haqq) dan kembali dari Kebenaran Sejati menuju ciptaan bersama Kebenaran Sejati (as-safar min al-Haqq ila al-khaliq bi al-Haqq), lalu melakukan perjalanan di dalam ciptaan bersama Kebenaran Sejati (as-safar fi al-khaliq bi al-Haqq). Ia tidak ingat lagi untuk kali keberapa ia mengalami peristiwa ruhani yang tak tergambarkan kata-kata dan tak terucap bahasa manusia itu. Namun, sejak ia bersahabat dengan ular belang yang sangat jinak itu, ia justru mengalami pengalaman ruhani mencengangkan yang sebelumnya tidak pernah ia sangka-sangka dan sedikit pun tak pernah ia bayangkan dalam pikiran. Perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati (al-Haqq) yang selama ini telah dialaminya berulang-ulang itu ternyata bukan merupakan yang terpuncak. Sebab, di balik kefanaan di dalam Kebenaran sejati (fana� fi al-Haqq) yang tersembunyi di dalam kerahasiaan dirinya itu, ia mendapati Kenyataan yang lebih menakjubkan, yaitu kesadaran diri baru yang mengungkapkan rahasia bahwa selama ini yang ia alami adalah tenggelam ke dalam Rabb: Wujud al-Haqq.

Ia sendiri tidak mengetahui kenapa tiba-tiba ia mendapat kesadaran baru setelah fana di dalam Rabb (fana� fi al-Haqq) yang ia anggap sebagai puncak dari perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati, karena berjalan di dalam Kebenaran Sejati (as-safar fi al-Haqq). Lantaran itu, dengan tercengang-cengang kebingungan ia melampaui pengalaman ruhani lanjutan yang menakjubkan yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan dan ia bayangkan itu: melakukan perjalanan ruhani di dalam al-Haqq menuju Allah (as-safar fi al-Haqq ila Allah) menuju Wujud al-Muhaqaq atau melakukan perjalanan di dalam Rabb menuju Rabb al-Arbab. Inilah perjalanan naik ke Hadirat Allah (mi�raj al-kubra) setelah terlebih dulu berkali-kali naik ke Hadirat al-Haqq (mi�raj al-shughra). Inilah perjalanan ruhani naik ke Hadirat Allah sebagaimana telah dialami Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Isra Mi�raj.

Di dalam perjalanan naik ke Hadirat Allah, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya itu, ia merasakan seperti terisap oleh suatu kegaiban yang membuat seluruh kesadarannya berubah. Ia merasakan seperti bayi yang lahir dari kandungan ibu ke dunia yang lebih luas dengan kesadaran yang lebih tinggi. Ia tiba-tiba menjadi sadar sesadar-sadarnya akan makna sejati dari Sabda Ilahi: Sungguh telah datang seorang rasul dari nafs-mu sendiri (QS. At-Taubah: 128); Aku ciptakan engkau (Muhammad) dari nur-Ku dan aku cipta seluruh ciptaan dari Nur-mu (hadits Qudsy); jika engkau tidak Aku cipta maka cakrawala tidak Aku cipta (hadits Qudsy).� Ia benar-benar menyaksikan bahwa di balik hakikat Asma�, Shifat, Af�al, dan Dzat yang terpancar pada ciptaan-Nya, tersembunyi hakikat Ahmad (Asma�), Muhammad (Shifat), Mahmud (Af�al), dan al-Hamid (Dzat). Ia merasakan dengan senyata-nyatanya keterhubungan dirinya sebagai bagian Nur Muhammad dan Haqiqat Muhammadiyyah.

Selama tenggelam di dalam al-Haqq menuju Allah � di dalam Rabb menuju Rabb al-Arbab � tidak ada satu pun pengalaman ruhani yang bisa diungkapkan dengan kata-kata dan bahasa manusia. Ia tidak dapat mengungkapkan segala sesuatu yang dapat diungkapkan dan digambarkan. Ia hanya tercengang-cengang menyaksikan kesadarannya terisap ke dalam kesadaran demi kesadaran baru yang tak terlukiskan, di mana dengan kesadaran-kesadaran barunya itu ia menyaksikan akhirat sebagai citra dari Yang Mahaakhir (al-Akhir). Ia mendapati pemahaman baru bahwa akhirat adalah �ruang tak beruang dan waktu tak berwaktu�; akhirat adalah �pertemuan� ruang dan waktu dan Zat; akhirat adalah wahdat adz-dzatiyyah. Di situ ia menyaksikan dengan terheran-heran pancaran al-Hadi dalam wujud sabil sebagai cermin thariq, dan sebaliknya thariq sebagai cermin sabil. Lalu, keduanya menyatu di dalam shirath. Ia menyaksikan pula dengan terheran-heran pancaran al-Hakam dalam wujud mizan al-ashli sebagai cermin mizan asy-syar�i, dan sebaliknya mizan asy-syar�i sebagaiaHakH cermin mizan al-ashli. Lalu keduanya menyatu di dalam Mizan al-Ilahi. Ia menyaksikan al-jannah sebagai kedekatan Allah dalam wujud adna sebagai cermin qurb, atau sebaliknya qurb sebagai cermin adna. Lalu, keduanya menyatu di dalam Maqam al-Mahmud. Ia juga menyaksikan an-nur sebagai kejauhan Allah dalam wujud bu�d sebagai cermin al-idhlal, atau sebaliknya al-idhlal sebagai cermin bu�d. Lalu, keduanya menyatu di dalam al-ghayr.

Dengan ketidakpahaman dengan apa yang disaksikannya, ia merasakan kesadarannya terisap oleh suatu kekuatan tak terbatas ke dalam al-Kursi. Dari dalam al-Kursi, kesadarannya tercengang-cengang menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan dan tak pernah terlintas dalam angan-angan: alam semesta tampak tergelar di bawahnya laksana hamparan pasir cahaya berserak tak terhitung jumlahnya. Bumi, bulan, planet, matahari, bintang, dan galaksi terhampar laksana butiran pasir dengan bentuk-bentuk berbeda-beda dan berubah-ubah kumpulan serta kelompok-kelompoknya. Ada yang berkerumun dalam bentuk lingkaran pipih seperti telinga gajah. Ada yang berkerumun membenuk bulatan seperti gentong. Ada yang berbentuk lingkaran hitam tetapi sangat ganas memangsa benda-benda di sekitar. Ada yang terus berubah-ubah warna dan cahayanya. Seluruhnya mengagungkan Rabb mereka tanpa kecuali. Di dalam al-Kursi itu ia menyaksikan Buraq, kendaraan ruhani berwujud keledai (bighal) dengan kecepatan tak terukur dan khusus dikendarai Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Isra Mi�raj.

Setelah tercengang-cengang di al-Kursi, ia terisap lagi oleh kekuatan dahsyat ke dalam al-Arsy. Di situ ia tidak menyaksikan sesuatu yang lain kecuali Nama-Nama Allah Yang Indah dan tak terbatas jumlah-Nya. Semua terjalin dalam suatu ikatan (muqadiyyah) dan dari situlah sejatinya Sabda Suci Ilahi (al-kalimah al-ilahiyyah) memancar menjadi hukum dan kabar Kebenaran. Di al-�Arsy inilah ia menjumpai kegandaan dirinya � �Ali al-Fatta Karamallahu Wajha sebagai pancaran citra al-�Aly, al-Fattah, ar-Rasyid, al-Karim, al-Hadi � di depan dua cermin yang disebut haqiqat al-faydh dan haqiqat al-irsyad. Anehnya, di balik �Ali al-Fatta Karamallahu Wajha bukanlah punggung, melainkan Abu Bakar ash-Shiddiq. Bahkan, yang tak terungkap dengan akal, kata-kata dan bahasa manusia, keduanya ternyata tidak saling berbeda dalam menghadapkan wajah, melainkan berhadap-hadapan wajah. Yang membedakan keduanya: �Ali al-Fattah Karamallahu Wajha memancarkan citra -al-mursyid (pembimbing ruhani) sedang Abu Bakar ash-Shiddiq memancarkan citra as-suhbah (persahabatan ruhani).

Kesadaran demi kesadaran baru yang dialami Abdul Jalil berangsur melenyap ketika ia terserap ke dalam hakikat Alif pada citra Asma� Allah. Lalu, terisap lagi ke dalam hakikat Lam pada citra Af�al Allah. Lalu, terisap lagi ke dalam hakikat Lam pada citra Shifat Allah. Dan terakhir, ia hilang kesadaran diri ketika terserap ke dalam hakikat Hu. Di situ, ia tidak sadar lagi akan siapa dirinya. Ia tidak tahu apakah berada di luar atau di dalam hakikat Hu. Ia telah hilang kesadaran karena terserap oleh Sesuatu Yang Tak Terlukiskan (laisa kamitslihi syai�un); Kunhi Dzat; Dzat al-Bahat yang bersabda: �Kun-Tu (kanzan mahfiyyun),� yang dari Sabda-Nya itu bersabda: �Ku Fayakun!.�

Sejak turun kembali (�uruj at-tarkib) dari perjalanan naik (mi�raj at-tahlil) ke Hadirat Allah Rabb al-Arbab, Abdul Jalil mengalami peristiwa-peristiwa aneh yang sebelumnya tidak pernah ia alami, yaitu keterlepasan nafs-nafs dari keakuannya. Ceritanya, tanpa disangka-sangka, pada hari ketiga setelah turun kembali dari perjalanan naik, di hadapannya tiba-tiba muncul seekor anjing berbulu hitam kemerahan yang berjalan terseok-seok karena kaki kanan depannya terluka. Dengan merintih kesakitan, anjing itu menggeser-geserkan punggungnya ke kakinya. Mendengar anjing yang merintih kesakitan itu, rasa kasihnya mengalir berkelimpahan. Ia rengkuh anjing ke dalam pelukannya dan ia belai kepalanya. Dengan penuh kasih ia mengobati lukan anjing itu sambil berkata, �Aku menolong engkau, o anjing, bukan karena aku kasihan atau iba melihatmu. Aku menolongmu semata-mata karena rasa kasihku kepada sesama makhluk yang maujud di dunia. Aku mengobati lukamu karena aku sadar bahwa antara engkau dan aku sejatinya sama-sama menyembunyikan hakikat jejak rasul (qadam rasul).�

Seperti mengerti kata-kata Abdul Jalil, anjing hitam kemerahan itu mengiuk-ngiuk dan mendesak-desakkan kepalanya ke dada Abdul Jalil. Abdul Jalil tersenyum sambil membebat kaki kanan depan anjing malang itu dengan destarnya. Namun, saat bebatannya selesai, tiba-tiba terdengar suara al-ima� menggema di relung-relung kedalaman jiwanya.

�Kenalilah citra bayangan dirimu, o Abdul Jalil! Kenalilah citra nafs yang menyelubungi keakuanmu! Bagaimana mungkin engkau tidak mengenali anjing luka yang datang kepadamu itu? Padahal, dia sejatinya adalah diri (nafs) yang tersembunyi di dalam keakuanmu. Dia adalah anjingmu yang selalu menjulurkan lidah, baik ketika engkau halau atau ketika engkau diamkan (QS. Al-A�raf: 176). Itulah diri (nafs al-ammarrah) yang tersembunyi di pedalamanmu. Nafs yang cenderung kepada perbuatan jahat (QS.Yusuf: 53). Sekarang ini, sebagaimanna ularmu, dia telah keluar dari keakuanmu. Lantaran itu, sekarang ini bukan engkau yang mengikuti dia, tetapi dia yang akan mengikuti ke mana pun engkau pergi.�

Abdul Jalil tertawa dan mengelus-elus kepala anjing hitam kemerahan itu dengan penuh kasih. Ia sadar, seburuk dan sejelek dan bahkan senajis apa pun, anjing itu adalah bagian dari diri (nafs) yang membentuk citra keakuannya sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh). Ia justru mensyukuri kemunculan anjing yang selama ini bersemayam di pedalaman jiwanya yang tersembunyi. Dengan suara lembut ia berkata kepada anjing itu: �Karena engkau adalah citra diri yang pernah kuikuti tetapi sekarang berbalik mengikutiku, maka engkau aku sebut dengan nama Sang Lemah Abang. Sebab, itulah kemasyhuran nama yang engkau damba-dambakan, o anjingku. Berbangga-dirilah engkau dengan nama besarmu itu.� Sejak waktu itu, ke mana pun Abdul Jalil berada, ia selalu terlihat bersama ular belang dan anjing hitam kemerahannya, bahkan saat sembahyang pun ular dan anjing itu dengan setia terlihat berdiri menunggu di belakangnya.

Ketika memasuki hari ketujuh sejak turun kembali dari kenaikan ruhani, saat Abdul Jalil sedang bermain-main dengan ular dan anjingnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kemunculan mendadak seekor anjing berbulu putih kekuningan dengan belang hitam kemerahan yang menggelepar-gelepar di depan pintu gubuknya. Rupanya, anjing itu kesakitan karena kepalanya luka mengucurkan darah. Dengan pandangan penuh kasih, Abdul Jalil menolong anjing malang itu. Namun, saat ia membersihkan luka di kepala anjing itu dengan destarnya, ia tiba-tiba mendengar suara al-ima� menggema dari cakrawala kesadarannya yang menegaskan bahwa anjing putih kekuningan yang belang itu pun sejatinya adalah bagian diri (nafs al-lawwamah) yang tersembunyi di dalam keakuannya, yaitu jiwa pencela (QS. Al-Qiyamah: 2). Lalu, ia menamai anjing belang itu Sang Siti Jenar. Sambil mengelus-elus anjing itu, ia berkata, �Sebagaimana anjing hitam yang bangga dengan kemasyhuran nama, maka engkau yang bangga dengan amaliah perbuatanmu aku gelari nama masyhur Sang Siti Jenar. Semoga engkau bangga dengan nama terkenal itu.� Lalu, ke mana pun Abdul Jalil pergi, ia selalu diikuti oleh ular dan dua ekor anjingnya.

Suatu pagi, pada hari keempat puluh, ketika Abdul Jalil sedang mengambil air wudhu di sungai kecil yang mengalir tak jauh dari gubuknya ditemani ular belang dan dua ekor anjingnya, tiba-tiba pangkuannya dijatuhi seekor kera coklat kemerahan dari atas pohon yang tumbuh di pinggir sungai. Kera itu menjerit-jerit kesakitan karena punggungnya terdapat luka mengaga seperti kena tebasan pedang. Melihat keadaan kera itu, dengan penuh kasih Abdul Jalil membersihkan darah dan membebat kera itu dengan destarnya. Sebagaimana saat ia menolong dua ekor anjingnya, tiba-tiba ia mendengar al-ima� menggema di cakrawala kesadarannya yang menegaskan bahwa kera itu sejatinya adalah diri (nafs al-mulhammah) yang tersembunyi di kedalaman keakuannya, yaitu jiwa yang terilhami kejahatan dan ketakwaan (QS. Asy-Syams: 7-8). Lalu, ia menamai kera coklat kemerahan itu Sang Jnanawesa, yang bermakna masuknya ilham ketakwaan dan ilham kejahatan ke dalam jiwa.

Tidak lama kemunculan kera kemerahan yang dinamai Jnanawesa itu, muncul kera berbulu putih dengan wajah bergaris-garis biru dan putih. Begitu muncul, kera itu menjerit-jerit kesakitan karena dadanya terluka. Abdul Jalil disadarkan oleh al-ima� yang mengungkapkan bahwa kera itu tidak lain dan tidak bukan adalah diri (nafs al-muthma�innah) yang tersembunyi di dalam keakuannya, yaitu jiwa yang tenang (QS.al-Muthma�innah: 27). Kera itu pun di namai Jnanaprasada, yang bermakna ketenangan jiwa. Lalu, secara berututan muncul seekor singa putih yang merupakan dirri (nafs ar-radhiyyah) yang tersembunyi di relung-relung keakuannya. Singa putih itu dinamai Jnanekatwa, yang bermakna ketunggalan jiwa. Disusul kemunculan seekor rajawali putih yang terbang menyambar-nyambar ganas dan kemudian bertengger di atas bahunya. Rajawali putih itu adalah diri (nafs al-mardhiyyah) yang tersembunyi di relung-relung keakuannya. Rajawali putih itu ia namai Sang Jnanasunya, yang bermakna bebas dari kemenduaan. Dan, yang terakhir muncul adalah bayangan burung anqa putih laksana kabut tipis yang diliputi cahaya terang kebiru-biruan. Anqa putih itu bertengger di atas kepalanya. Anqa putih itu adalah diri (nafs al kamilah) dan ia menamainya Sang Jiwanmukta, yang bermakna �bebas� saat masih hidup di dunia.

Setelah kemunculan tujuh ekor binatang aneka warna dan seekor anqa putih laksana kabut tipis lambang citra diri (nafs) yang tersembunyi di relung-relung keakuannya, Abdul Jalil merasakan suatu perubahan dahsyat terjadi atas dirinya. Ia merasakan kegembiraan luar biasa meliputi jiwanya laksana kupu-kupu terbang di antara bunga-bunga. Atau, seperti seseorang yang terseok-seok memikul beban berat tapi kemudian terlepas dari bebannya. Atau, seperti seekor burung lepas dari sangkarnya dan terbang bebas ke angkasa. Atau, seperti seekor ikan yang menggelepar-gelepar di selokan berair keruh kemudian dipindahkan ke kolam luas berair jernih. Demikianlah, hari-hari hidupnya di gubuk yang sepi dilewati Abdul Jalil dengan kegembiraan raya bersama hewan-hewan yang begitu jinak dan bersahabat dengannya. Ke mana pun ia pergi, hewan-hewan itu selalu mengikutinya dengan setia.

Read More ->>

KETERLEPASAN IKATAN-IKATAN CITRA DIRI

Keterlepasan Ikatan-Ikatan Citra Diri

       Seperti tak peduli dengan hiruk di sekitarnya, Abdul Jalil berenang mengarungi lautan waktu yang luas seolah tanpa batas. Sesekali ia menoleh ke belakang, menyaksikan pulau duniawi yang tampak semakin samar di kejauhan. Ia merasakan betapa semua hal yang telah disaksikan matanya dan didengar telinganya tentang pulau duniawi telah semakin menjauh darinya. Cerita tentang Kematian murid-muridnya terkasih yang terbunuh dengan gagah dan pemuka-pemuka agama yang dituduh sesat dan murtad telah semakin kabur. Namun demikian, ia masih merasakan ada sesuatu yang menempel pada dirinya yang membuatnya terasa berat sehingga sering kali ia tenggelam ke dasar samudera waktu. Seperti orang berenang kehabisan udara dan terlalu banyak meminum air, ia merasa megap-megap menggapai-gapaikan tangan dan menjejak-jejakkan kaki sekuat kuasa supaya tidak tenggelam. Saat berada di antara dasar dan permukaan, ia baru menyadari jika pikiran dan jiwanya masih digelayuti oleh jaring-jaring ingatan tentang keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki ikatan-ikatan dengan tubuh dan jiwa. Ya, jaring-jaring ingatan tentang keberadaan diri. Lalu, seperti kapas di dalam karung yang menjadi berat karena terkena air, begitulah ia merasakan jiwanya menjadi berat digelayuti oleh ikatan-ikatan citra diri manusiawi.

Sadar untuk menjadi yang sendiri (fard) ia harus melepas semua ikatan citra diri manusiawi, Abdul Jalil buru-buru melepas surban, jubah, dan terompah yang dikenakannya. Lalu, seperti layaknya orang kebanyakan, ia mengenakan celana hitam, baju hitam, ikat pinggang lebar dari bahan kulit, destar batik kawung warna hitam, dan bertelanjang kaki tanpa terompah. Dengan penampilan barunya itu, ketika ia bersembahyang di Masjid Agung Demak atau berjalan di jalanan dukuh Lemah Abang, ia tidak dikenal lagi oleh orang-orang yang pernah mengenalnya. Kumis dan cambangnya yang melebat hampir menutupi wajah semakin menjadikan dirinya tak dikenal. Ia merasa lebih leluasa karena ia sudah bukan lagi seorang guru ruhani. Ia hanya manusia biasa yang sedang menunggu kesendirian menjadi yang sendiri. Dengan tidak dikenalnya dirinya sebagai seseorang yang pernah termasyhur, ia merasa lebih leluasa dalam mendengar dan melihat segala sesuatu yang menjadi bagian dari citra dirinya yang harus dilepaskannya.

Ketika suatu sore, dengan penampilan yang baru, Abdul Jalil berjalan di bekas ksetra di Kaliwungu di timur kuta Demak, ia melihat seorang laki-laki duduk sendirian di bawah sebatang pohon besar. Ketika didekati, pahamlah a jika laki-laki itu adalah pelaut Potugis yang pernah dikenanya di Kozhikode beberapa tahun silam: Francisco Barbosa. Dilihat dari penampilannya dengan jubah hitam berenda benang emas dan surban hitam dihias bulu merak, jelas menunjuk bahwa pelaut Portugis itu tidak saja telah memeluk agama Islam, tetapi juga menduduki jabatan terhormat di istana. Setelah mengamati beberapa bentar, ia mendekati Francisco Barbosa dan menyapa.

�Assalamualaikum.�

�Wa alaikum salam warahmatullah.�

�Como esta usted?� Abdul Jalil menanya kabar dalam bahasa Spanyol.

�Muy bien, gracias,� seru Barbosa terkejut dan bertanya balik, �Habla usted Espanol?�

�Solo hablo un poco de Espanol,� Abdul Jalil tertawa menyatakan sedikit bicara dalam bahasa Spanyol.

Francisco Barbosa terkejut dan menatap tajam Abdul Jalil. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu. Setelah beberapa jenak diam, tiba-tiba ia tertawa sambil menyalami Abdul Jalil dan berkata penuh kegembiraan dalam bahasa Jawa yang kurang fasih. �Bapa pastilah Datuk Abdul Jalil, padre sacerdote de Jaoa. Saya tidak akan pernah lupa suara Bapa.�

�Apakah nama Tuan masih Francisco Barbosa?�

�Sejak memeluk Islam lima tahun lalu, saya ganti nama: Zainal Abidin. Tapi orang-orang memanggil saya Khwaja Zainal.�

Setelah saling mengabarkan keadaan masing-masing, Abdul Jalil dan Khwaja Zainal berbincang tentang berbagai hal. Dari dialah Abdul Jalil mengetahui jika barang tiga bulan silam Syah Ismail, sang tuhan, penguasa Persia, telah dikalahkan oleh Sultan Turki, Salim, dalam pertempuran di Chaldiran pada 23 Agustus 1514. �Syah Ismail lari terbirit-birit ke Daghestan meninggalkan haremnya yang cantik. Sang mahdi telah kalah oleh si kejam Salim,� kata Zainal Abidin.

�Apakah dalam kemenangannya anak Bayazid itu melumuri tangannya dengan darah?� tanya Abdul Jalil.

�Menurut kabar, si kejam Salim telah menjagal 40.000 orang kaum bid�ah pendukung Syah Ismail.�

Abdul Jalil menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Di benaknya tiba-tiba berkelebat bayangan keganasan Salim, sultan Turki itu tertawa-tawa menyaksikan musuh-musuhnya dijagal prajuritnya. Setelah menarik napas berat beberapa kali, ia berkata, �Bagiku, makhluk seperti Salim dan Ismail bukanlah penganut ajaran Muhammad Saw. yang kaffah. Mereka hanya menjadikan Islam sebagai adat warisan untuk menutupi agama mereka yang sebenarnya, yaitu agama purwakala yang di dalam memuja Tuhan mensyaratkan penyembelihan korban manusia,� kata Abdul Jalil.

�Kenapa Bapa berpandangan seperti itu? Bukankah mereka itu kalau beribadah di masjid?�

�Ya, mereka bersembahyang di masjid hanya sebagai penanda formal bahwa mereka muslim. Sebab tempat ibadah mereka yang sesungguhnya adalah mezbah tidak kasatmata yang disebut madzhab. Di atas madzhab-madzhab yang tak kasatmata itulah mereka menyembelih manusia yang mereka anggap mengotori agama Tuhan. Mereka menganggap tindakan biadab menjagal manusia itu sebagai bagian dari jihad menyucikan agama Allah. Mereka tidak sadar diri siapa sesungguhnya mereka itu. Apa hak mereka menyucikan agama Tuhan? Siapa yang memberi mereka wewenang untuk menjalankan hak itu?� kata Abdul Jalil.

�Saya paham jalan pikiran Bapa. Tapi terus terang, belakangan ini saya justru gelisah dengan tindakan sultan Jawa yang membayangkan diri sebagai Salim.�

�Maksud Tuan, Tranggana?� gumam Abdul Jalil. �Apakah dia memimpikan jadi sultan sebesar Salim?�

Khwaja Zainal mengangguk dengan muka murung.

�Berarti, dia harus menjagal orang-orang yang dia anggap bid�ah sebagaimana Salim menjagal orang-orang penganut Syi�ah,� kata Abdul Jalil.

�Itu yang sedang saya risaukan, Bapa. Dalam pertemuan dengan para alim kaki tangannya, sultan telah merencanakan pembasmian terhadap kelompok penduduk yang disebut kaum Abangan.�

�Kaum Abangan?� gumam Abdul Jalil mengerutkan kening, �Siapa mereka itu?�

�Itu sebutan untuk menandai penduduk yang mengikuti ajaran Syaikh Lemah Abang. Katanya, Syaikh Lemah Abang itu guru agama yang sesat karena mengajarkan manusia menjadi tuhan dan menyuruh pengikut-pengikutnya bunuh diri. Tapi saya tidak yakin dengan tuduhan itu. Menurut saya, itu hanya rekayasa.�

�Kenapa Tuan berpendapat begitu? Kenapa Tuan tidak percaya?�

�Kalau Syaikh Lemah Abang memang menyuruh pengikut-pengikutnya bunuh diri, kenapa sultan repot-repot menbentuk satuan-satuan bersenjata untuk menumpas mereka? Bukankah dengan dibiarkan maka pengikut Syaikh Lemah Abang akan habis sendiri karena bunuh diri semua?�

�Tuan benar. Tapi tidak semua orang berpikiran cerdas seperti Tuan.�

�Saya juga cemas mendengar kabar datangnya pengungsi-pengungsi dari Persia di Udung, Pati, Rembang, Tuban, dan Gresik. Saya khawatir sultan yang ingin seperti Salim itu akan membantai mereka, karena kemarin alim ulama asal Kerala dan Malaka telah memanas-manasi sultan dengan kabar persekutuan Syah Ismail dengan Portugis.�

�Apakah Syah Ismail memang bersekutu dengan Portugis?�

�Ya Bapa. Ismail telah mengirim utusan kepadma gubernur Portugis di India, Alfonso d�Albuquerque untuk meminta bantuan melawan Salim dalam pertempuran di Bahrain dan al-Qathib serta menindas pemberontakan di Baluchistan dan Makran. D�Albuquerque telah menyanggupi untuk membantu Ismail dalam melawan kekuatan militer Salim.�

Abdul Jalil diam. Ia menangkap sasmita bahwa badai Kebinasaan masih akan terus berlangsung dengan ganas, seolah mengaitkan gemuruh ambisi Tranggana dengan keterlepasan-keterlepasan dirinya dari keterikatan-keterikatan yang melekat pada citra dirinya. Kabar tentang kekalahan Syah Ismail, sang tuhan, semakin memperjelas sasmita Kebinasaan yang sudah ditangkapnya. Sebab, seiring menyingsingnya keagungan kekuasaan Syah Ismail, yang ternyata seorang manusia biasa yang bisa kalah perang, secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh kuat terhadap perubahan tatanan yang berlaku di Nusa Jawa. Maksudnya, jika sebelum itu lambang kewalian dalam wujud Majelis Wali Songo sebagai pemimpin tertinggi umat (wilayah al-ummah) harus dimunculkan sebagai lembaga kewalian yang diketahui manusia, sebagai lambang perlawanan terhadap Syah Ismail dan kaki tangannya yang menafikan keberadaan wali Allah, maka dengan tumbangnya kisah kemahdian dan ketuhanan cucu Syaikh Saifuddin Ishaq itu, keberadaan lembaga kewalian seperti Majelis Wali Songo secara hakiki tidak dibutuhkan lagi. Keniscayaan tentang wali Allah akan kembali menjadi sesuatu yang bersifat rahasia dari pengetahuan manusia. Itu berarti, secara ruhaniah kekuasaan Tranggana akan menjadi tidak terkendali karena tidak ada lagi lembaga ruhani berwibawa yang membatasinya. Dan salah satu sasaran yang akan dimangsa ambisi Tranggana adalah pengikut-pengikut yang sudah dikelompokkan sebagai kaum Abangan, pengikut Syaikh Lemah Abang.

Dengan hati gundah Abdul Jalil menjemput istri dan puteranya di kediaman Gagak Cemani. Namun, baru saja ia masuk ke dalam rumah Gagak Cemani, ia sudah diberi tahu oleh pengikutnya itu bahwa beberapa saat yang lalu di pantai Demak dekat muara telah terjadi pembantaian terhadap orang-orang berkulit merah yang tinggal di situ barang dua pekan silam. Entah siapa pelakunya, ungkap Gagak Cemani, menurut kabar yang didengarnya orang-orang tersebut adalah pengungsi dari negeri Persia. �Kabar yang kami dapat dari Masjid Agung Demak, orang-orang kulit merah yang terbunuh itu diduga prajurit-prajurit Persia yang menyamar dan bertujuan menyerang sultan,� kata Gagak Cemani.

Abdul Jalil diam. Ia tahu, apa yang dicemaskan Khwaja Zainal Abidin tentang para pengungsi Syi�ah telah mewujud menjadi kenyataan. Pembunuhan demi pembunuhan terus berlangsung seolah tak diketahui kapan berakhirnya. Bahkan, saat ia akan mengajak istri dan puteranya meninggalkan kuta Demak, ia mendapat kabar yang sangat mengejutkan: Abdul Qahar bin Abdul Malik Baghdady, saudara iparnya yang membantu Raden Qasim mendakwahkan Kebenaran Islam di Pamwatan, telah dibunuh beserta belasan orang pengikutnya. Padahal, saat itu istri Abdul Qahar sedang hamil lima bulan. Sepeninggal suaminya, istri Abdul Qahar tinggal di Kaninyan Sendang, pertapaan seorang bhairawi yang sangat ditakuti di Pamwatan. Istri Abdul Qahar dapat terhindar dari pembunuhan karena dilindungi oleh sang tapaswijana (pertapa perempuan) yang dikenal penduduk dengan nama masyhur: Hyang Nini Durgandini.

Mengetahui nasib malang yang dialami Abdul Qahar, terutama istrinya yang sedang hamil, ingin sekali Abdul Jalil pergi ke Pamwatan dan menjemput istri saudara iparnya itu untuk dibawa ke Caruban. Namun, ia segera sadar bahwa ia harus melepaskan semua ikatan yang �menempel� pada dirinya baik ikatan persahabatan, persaudaraan, kekerabatan, kekeluargaan, bahkan akhirnya ikatan keakuan diri pribadi. Ia menekan segala kilasan pikiran dan sentakan perasaan yang terkait dengan nasib istri Abdul Qahhar yang mengandung anak yatim yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya itu. Ia memasrahkan semua urusan yang terkait dengannya kepada Yang Mahatunggal Tak Terbandingkan. Saat sebuah kapal jung berangkat ke barat, ia buru-buru mengajak istri dan puteranya menumpang dengan tujuan Caruban. Sepanjang perjalanan ia terus dibayangi nasib bayi yatim yang tidur lelap di perut ibundanya. �Ya Allah, Engkau berkali-kali menunjukkan kepadaku kuasa dan kebesaran-Mu dengan melindungkan mereka yang tak berdaya di bawah naungan manusia-manusia peminum darah,� kata Abdul Jalil dalam hati.

Ketika kapal jung yang ditumpanginya baru saja bersandar di dermaga pelabuhan Muara Jati, Abdul Jalil sudah ditunggu oleh sesuatu yang terkait dengan keterlepasan-keterlepasan ikatan citra dirinya. Begitu akan turun dari kapal jung yang membawanya, ia mendengar juru tambat dan awak kapal berbicara tentang sesuatu yang tidak terduga-duga dan membuatnya terkejut: putera Syaikh Maulana Jati Susuhunan Cirebon Girang, Pangeran Bratakelana, telah diserang oleh sekawanan orang tak dikenal saat berlayar dari Demak ke Caruban, tepatnya di lepas pantai Gebang. Pangeran Bratakelana beserta semua pengawalnya terbunuh. Jenasah Pangeran Bratakelana ditemukan di pantai Mundu dan dimakamkan di sana.

Abdul Jalil mengatupkan mulut rapat-rapat mendengar pembicaraan itu. Meski hasrat hatinya berkobar ingin bertanya tentang kabar Kematian putera Syarif Hidayatullah itu, ia tindas sekuat daya hasrat itu sampai ia rasakan dadanya sesak. Kilasan-kilasan kenangan saat ia menggendong dan bermain dengan pangeran yang memiliki panggilan Gung Anom itu berkelebatan memasuki ingatannya. Pangeran kecil yang setiap kali ia singgah di Giri Amparan Jati selalu minta gendong itu kini telah kembali ke hadirat-Nya. Meski sadar bahwa segala sesuatu adalah tergantung mutlak pada kehendak-Nya, rangkaian ingatan yang mengikat kenangannya dengan seseorang yang pernah dekat terasa sangat menyesakkan dada. Untuk membebaskan diri dari kegundahan, ia segera menenggelamkan keakuannya ke dalam Keakuan Yang Mahaaku.

Ketika singgah di Pesantren Giri Amparan Jati, Abdul Jalil melihat suasana berkabung menyelimuti. Namun, saat ia akan masuk ke Ndalem ternyata tidak seorang pun di antara mereka yang berpapasan mengenalnya. Rupanya, penampilannya yang berubah telah menjadikannya sebagai orang seorang yang tak lagi dikenali oleh mereka yang masih terikat pada bentuk penampilan luar. Saat itu ia tiba-tiba sadar bahwa sebaiknya ia tidak ke Ndalem karena pasti akan menemui Syarifah Baghdad, ibunda Pangeran Bratakelana, yang tentu sangat berduka. Ia berbalik arah, naik ke atas pemakaman Syaikh Datuk Khafi.

Di depat makam ia melihat Syarif Hidayatullah sedang berbincang-bincang dengan Bardud, puteranya, yang sudah terlihat dewasa. Saat mereka melihatnya, mereka serentak mengungkapkan keheranan melihat perubahan yang terjadi pada dirinya. Mereka heran melihat penampilannya yang seperti petani desa. Sebelum ditanya ini dan itu, ia memberi tahu mereka tentang jalan hidup yang akan dilaluinya yang mengharuskannya uzlah meninggalkan Kehidupan duniawi. �Saat turun dari kapal tadi, aku terkejut mendengar kepergian cucuku yang memenuhi panggilan-Nya. Tapi, seberat apa pun kita harus ikhlas melepasnya. Sebab, dia yang berasal dari Dia pasti kembali kepada-Nya. Kita semua sedang menunggu giliran. Yang membedakan di antara kita adalah cara dan waktu kembali. Hendaknya engkau ketahui bahwa aku pun sekarang ini sedang mengalami detik-detik kembali kepada-Nya,� kata Abdul Jalil sambil meminta kepada Syarif Hidayatullah agar kehadirannya kembali ke Caruban dirahasiakan dari siapa pun kecuali keluarganya. �Biarlah orang-orang perlahan-lahan melupakan keberadaanku. Biarlah anak Adam menjadi �adam (tiada) dan kembali pada �Adam al-Muhith (Ketiadaan Yang Maha Meliputi) tanpa diketahui oleh siapa pun di antara makhluk. Biarlah wujud khayalan (wujud al-khayali) ini terserap ke dalam Wujud Hakiki (Wujud al-Haqiqi).�

�Kami paham akan apa yang Pamanda alami,� kata Syarif Hidayatullah dengan suara tersekat di tenggorokan, �Tapi, kami berharap sudilah Pamanda meninggalkan kepada kami warisan wejangan yang akan kami jadikan pusaka dalam mengarungi samudera Kehidupan ini.�

Abdul Jalil menatap tajam Syarif Hidayatullah. Lalu, dengan suara penuh kasih ia berkata, �Pertama-tama, sebagai penegak Tauhid, hendaknya engkau tidak mendekat tetapi tidak juga menjauhi kekuasaan Yang Dipertuan Demak. Sebab, Tranggana yang telah membeli iman dan agama alim ulama dengan sepetak tanah dan hadiah-hadiah serta jabatan duniawi itu adalah bagian dari ujian-Nya pada manusia beriman. Tranggana telah menjadi sarana penyebab bagi banyak ulama pewaris Nabi (waratsat al-anbiya�) yang berubah menjadi pedagang agama dan tukang jagal bertopeng kesucian. Tranggana telah banyak menyesatkan alim ulama. Lantaran itu, jangan engkau dekat dan jangan pula engkau jauhi dia. Hendaklah engkau mengambil jarak dengannya. Sebaliknya, jangan dekati siapa pun di antara alim ulama yang telah menukar iman dan agamanya demi segenggam bara api dunia yang mereka kira harta abadi. Sebab, mereka itu adalah wakil al-�Alim di muka bumi yang telah mengkhianati al-�Alim Yang Diwakilinya. Jauhi mereka! Hindari mereka!�

�Bagaimana dengan Majelis Wali Songo?� tanya Syarif Hidayatullah, �Apakah harus kami tinggalkan pula?�

�Sesungguhnya, salah satu alasan dibentuknya Majelis Wali Songo adalah sebagai perlambang untuk menghadapi keyakinan sesat Syah Ismail beserta pengikut-pengikutnya. Majelis Wali Songo dibentuk beberapa waktu sebelum Syah Ismail berkuasa. Lantaran itu, ketika Syah Ismail dan pengikut-pengikutnya menafikan keberadaan wali-wali Allah dan dengan tindak kekerasan membongkar kuburan-kuburan para wali di wilayah kekuasuannya, dengan kekejaman menjijikkan memburu para guru tarekat dan orang-orang yang meyakini keberadaan wali Allah, dan dengan doktrin-doktrin yang menyesatkan menghancurkan keyakinan manusia tentang keberadaan wali-wali Allah, maka keberadaan Majelis Wali Songo menjadi keniscayaan tak tersanggah. Sehingga, pada saat al-Waly menyingsing di tanah Persia dalam citra al-Bathin maka di Nusa Jawa yang sudah ditebari tanah Karbala oleh Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, al-Waly terbit dalam citra azh-Zhahir. Tetapi kini, setelah tuhan jejadian itu dikalahkan Salim, keberadaan Majelis Wali Songo sudah tidak lagi menjadi keniscayaan karena sang tuhan yang berfirman tentang ketiadaan wali-wali Allah itu telah lari tunggang-langgang dihajar manusia kejam bernama Salim. Kewalian (wilayah) kembali menjadi sesuatu yang bersifat rahasia dan tersembuny dari manusia. Hanya mereka yang memahami hakikat keseimbangan al-Bathin dan azh-Zhahir yang dapat mengetahui rahasia tentang al-Waly dan wilayah beserta wali-wali.

�Engkau tentu telah melihat bagaimana aku melepas pakaian dan semua atribut diriku sebagai seorang alim. Sebab, aku telah malu mengenakannya. Malu. Malu. Seribu kali malu. Aku tidak tahan menyaksikan setiap mata melihat pakaian ulama yang aku kenakan dengan pandang curiga dan ketakutan, karena semua menduga siapa pun yang berpakaian alim ulama adalah tukang jagal bertopeng agama. Semua menangkap citra keulamaan sebagai Yamadipati, Sang Maut. Sehingga, dengan pakaian itu aku tidak bisa bergerak ke mana-mana. Sungguh memalukan pakaian keulamaan saat ini, karena siapa pun di antara manusia yang mengenakan jubah, destar, surban, terompah, tasbih, dan kitab suci akan dipandang oleh semua mata sebagai kaki tangan sultan. Memalukan. Memalukan. Citra wakil al-�Alim di muka bumi sudah direndahkan sebagai citra tukang-tukang sihir Fir�aun yang tidak memiliki kemampuan lain kecuali menghasut dan menebar fitnah menyesatkan. Sungguh memalukan citra al-�Alim yang telah menjadi citra kaum musyrik dan munafik, yaitu kaum yang di mulut mengaku-aku hamba Allah, tetapi dalam kenyataan bersujud di kaki sultan. Memalukan.�

�Lantaran itu, o engkau yang terkasih, tegakkan Tauhid dengan sekuat kuasamu tanpa keharusan engkau menampilkan diri sebagai ulama dalam bentuk ragawi. Lebih baik engkau menjadi sultan secara zahir, tetapi alim secara batin, daripada sebaliknya. Tidakkah engkau pernah mendengar kisah guru terkasihku, Ahmad Mubasyarah at-Tawallud? Dia adalah saudagar kaya raya secara zahir, tetapi alim secara batin. Sebaliknya, alim ulama sekarang ini secara zahir alim, tetapi secara batin adalah saudagar. Itu sebabnya, waspadalah engkau sekarang ini kepada siapa pun di antara manusia yang muncul di depanmu dengan mengenakan pakaian keulamaan. Pandanglah mereka dengan bashirah sehingga engkau mengetahui siapa mereka sejatinya.�

�Kami akan pusakakan wejangan Paman,� kata Syarif Hidayatullah.

Ketika Abdul Jalil akan beranjak pergi, Syarif Hidayatullah bertanya, �Apakah Paman nanti singgah dahulu ke Kalijaga?�

�Ke Kalijaga? Ada apa?� tanya Abdul Jalil tak paham.

�Zainab,� kata Syarif Hidayatullah menjelaskan, �Puteri Paman, sekarang tinggal di Kalijaga mendampingi suaminya yang menjadi guru suci di sana.�

�Raden Sahid sudah mengajar?�

�Pengikut-pengikut Paman yang kebingungan dengan kabar pembunuhan terhadap pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang, berdatangan ke Kalijaga dan menjadikan dia sebagai pengganti Paman. Tidak hanya orang-orang dari Caruban yang berguru kepadanya, bahkan mereka yang mengaku pengikut Paman dari Luragung, Bojong, Tetegal, Pasir, Kendal pun berdatangan ke Kelijaga.�

�Semua sudah diatur oleh-Nya. Biarlah terjadi apa yang harus terjadi sesuai kehendak-Nya.�

�Apakah Paman sudah tahu jika Paman telah dikaruniai tiga orang cucu, si kembar Watiswari dan Watiswara serta si bungsu Wertiswari?�

�Aku sudah punya tiga orang cucu? Watiswari, Watiswara, dan Wertiswari,� gumam Abdul Jalil. �Watiswari dan Watiswara bermakna penguasa angin. Wertiswari bermakna penguasa sumbu lampu. Sungguh perlambang jalan ruhani yang baik nama-nama itu. Berapa usia mereka sekarang?�

�Yang kembar sudah sembilan tahun. Yang bungsu tujuh tahun. Tetapi, karena ketiga orang cucu Paman itu dianggap keluarga ratu Caruban, maka sebagaimana ayahanda mereka yang dianugerahi gelar Pangeran Kalijaga dan kakeknya dianugerahi gelar Pangeran Lemah Abang, Watiswari dianugerahi gelar Nyi Mas Ratu Mandapa, Watiswara dianugerahi gelar Pangeran Panggung, dan yang bungsu dianugerahi gelar Nyi Mas Ratu Campaka,� kata Syarif Hidayatullah.

Abdul Jalil diam dan menarik napas panjang berkali-kali. Ia merasakan sesuatu yang berat sedang menyesaki dadanya. Sebagai seorang ayah dan sekaligus kakek, nalurinya menarik-narik hasratnya untuk cepat-cepat melangkahkan kaki ke Kalijaga. Namun, ia segera sadar bahwa jalan hidup yang harus dilewatinya akan penuh ditandai oleh keterlepasan-keterlepasan segala sesuatu yang berkaitan dengan citra dirinya, sampai ia benar-benar sendiri tidak memiliki apa pun dan tidak dimiliki oleh siapa pun (la yamliku syaian wala yamlikuhu syaiun) kecuali Yang Mahatunggal. Ia sadar, betapa setiap keterlepasan adalah sesuatu yang menyakitkan baik bagi dirinya maupun bagi yang terlepas dengannya. Lantaran alasan-alasan itu, setelah memberi pesan secukupnya kepada Syarif Hidayatullah, ia mengajak istri dan anaknya, Fardun, meninggalkan Pesantren Giri Amparan Jati.

Read More ->>

Senin, 27 Maret 2017

BUAH DALIMA DAN MAKNA

Buah Dalima dan Makna-Makna


       Sesungguhnya, Abdul Jalil ingin menyampaikan wejangan lebih banyak kepada pengikut-pengikutnya. Namun sebelum keinginannya tercapai, di tengah ketakziman para pengikutnya mendengar wejangannya, tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di kejauhan seperti sorak-sorai sambung-menyambung. Abdul Jalil mengarahkan pandangan ke pintu dan melihat beberapa orang pengikutnya berjalan cepat ke arahnya. Setelah dekat, pengikut itu menyampaikan kepadanya bahwa seorang alim dari Demak bernama Syaikh Maulana Maghribi dengan tiga ratus orang pasukan bersenjata tombak saat itu berada di luar dukuh Lemah Abang. �Mereka ingin bertemu dengan kepala dukuh Lemah Abang, Kangjeng Syaikh,� kata mereka gelisah.

Abdul Jalil terdiam sejenak dan kemudian angkat tangan kanan ke atas memberi isyarat agar semua diam. Setelah menarik napas dua tiga kali, ia melangkah ke luar diikuti pengikut-pengikutnya. Sepanjang perjalanan, ia menggumamkan nama Syaikh Maulana Maghribi berulang-ulang di tengah ucapan menyebut Asma Allah. Saat berada di ujung dukuh, ia melihat seorang lelaki tinggi jangkung berkulit gelap dengan hidung sebengkok paruh burung elang berdiri tegak sambil menggenggam pedang. Di kanan kirinya terlihat beberapa orang pengawal membawa tombak memperlihatkan wajah garang. Sementara beratus orang di belakangnya berkerumun dengan hutan tombak sambil sesekali meneriakkan takbir dan caci maki:

�BUNUH! HANCURKAN! BAKAR! ALLAHU AKBAR! BUNUH KAUM MURTAD!�

Teriakan sambung-menyambung laksana gelombang laut itu tidak sedikit pun menggoyahkan Abdul Jalil. Dengan langkah lebar dan tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut, ia bergegas mendekati Syaikh Maulana Maghribi. Setelah menyampaikan salam dan berhadapan muka dengan muka dalam jarak sekitar dua depa, ia seketika menghamburkan kata-kata dalam bahasa Arab secara bertubi-tubi seolah tidak memberi kesempatan kepada Syaikh Maulana Maghribi untuk menangkis.

�Aku sungguh merasa heran melihat alim, citra al-�Alim di muka bumi, ke mana-mana membawa pedang dan membunuhi manusia yang dianggapnya sesat dan murtad. Sungguh aku merasa heran melihat seorang mursyid, citra ar-Rasyid di muka bumi, berkeliaran ke mana-mana menebarkan Kematian dan kebinasaan. Aku sungguh merasa heran sebab, seingatku, Rasulullah Saw. hanya berwasiat: �Sampaikan apa yang dari aku meski hanya satu ayat (balighu �ani walau ayat).�

�Bagaimana Tuan, al-�alim billah, bisa menafsirkan sabda Rasulullah Saw. itu menjadi amanat pembunuhan? Bagaimana Tuan, al-�arif billah, yang menduduki derajat paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya (QS. Al-Fathir: 28) justru takut kepada sultan? Bagaimana Tuan yang kedudukannya ditinggikan beberapa derajat di antara manusia (QS. Al-Mujadalah: 11) justru merendahkan diri dengan bersujud menyembah sultan? Bagaimana Tuan yang termasuk golongan alim yang tegak di atas keadilan Mengesakan Allah (QS. Ali Imran: 18) justru merajakan manusia? Sementara, Tuan tahu bahwa Dia adalah raja manusia (QS. An-Nas: 2). Rupanya, Tauhid Mulukiyyah sudah runtuh dari iman Tuan. Bagaimana Tuan selaku alim tidak menghiasi citra Tuan dengan qalam, tetapi dengan pedang? Bagaimana Tuan yang seharusnya menumpahkan tinta di atas kertas justru menumpahkan darah di atas bumi? Apakah Tuan ini seorang alim ataukah tukang jagal? Apakah Tuan ini seorang alim wakil al-�Alim yang bertugas utama menyampaikan pengetahuan ataukah seorang pencabut nyawa yang menggantikan tugas Izrail?�

�Aku tahu bahwa tugas yang diberikan sultan kepada Tuan dan kawan-kawan Tuan adalah menjadikan manusia di Nusa Jawa tunduk dan setia hanya kepadanya. Mereka yang mengingkari kekuasaan sultan harus dibinasakan. Tetapi, Tuan telah bertindak berlebihan dan melampaui batas. Tuan telah memerintahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang Tuan anggap pengikut Syi�ah. Tuan telah memerintahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang menurut Tuan berbeda akidah. Tidakkah Tuan tahu bahwa Kebenaran di dalam Islam adalah pribadi sifatnya? Tidakkah Tuan tahu bahwa ketakwaan orang seorang tidak bisa diukur dengan paham, firqah, madzhab, jama�ah? Tidakkah Tuan tahu bahwa pertanggung jawaban manusia di hadapan Allah adalah bersifat pribadi dan bukan jama�ah? Apakah Tuan dapat menunjukkan dalil-dalil kepada aku bahwa seluruh pengikut Syi�ah akan masuk neraka dan Tuan beserta pengikut Tuan yang membunuhi penganut Syi�ah itu akan masuk surga? Apakah Tuan punya dalil bahwa Allah mencipta surga semata-mata diperuntukkan bagi Tuan dan pengikut Tuan?�

�Apa yang Tuan lakukan dengan pembunuhan-pembunuhan tanpa hak itu, menurutku, sudah sangat melampaui batas kewajaran. Tuan yang dangkal pengetahuan tentang kehidupan di Nusa Jawa telah beranggapan bahwa siapa saja di antara manusia yang menyembah Tuhan dengan menjalankan sembahyang tiga waktu adalah pengikut Syi�ah, dan lantaran itu, Tuan memerintahkan pengikut Tuan untuk membunuh mereka. Sungguh sebuah kebodohan yang tidak terampunkan. Sebab, para wiku beragama Hindu-Budha pun jika bersembahyang menyembah Tuhan mereka lakukan tiga kali sehari (tri-sandya). Kenapa mereka yang bukan muslim tanpa alasan yang jelas Tuan bunuh? Apakah Tuan bisa menunjukkan dalil bahwa Muhammad Saw. pernah memerintahkan umat Islam untuk membunuh umat beragama lain tanpa alasan yang jelas? Asal Tuan tahu, akibat kecerobohan dan kebodohan Tuan, sekarang ini agama Islam yang Tuan anut telah dijadikan ejekan dan olok-olok penduduk. Islam dianggap sebagai agama haus darah yang sama menjijikkannya dengan agama Bhairawa-Tantra. Islam yang damai dan pembawa keselamatan telah dihina penduduk sebagai agama pembawa ketidakselamatan dan kematian. Semua itu gara-gara tindakan Tuan.�

Syaikh Maulana Maghribi yang merasa terpojok tampak memerah wajahnya dan matanya berkilat-kilat. Ingin rasanya ia memakan dan mengunyah-kunyah Abdul Jalil dan kemudian menelannya bulat-bulat. Namun, baru saja dia akan membuka mulut, tiba-tiba Abdul Jalil sudah bergerak mendekatinya. Kemudian dengan memegang kedua bahunya, Abdul Jalil berbisik lirih, �Aku tahu, Tuan tidak pantas melakukan tindakan memalukan ini apalagi dengan mengatasnamakan demi kesucian Islam. Sebab, Tuan sendiri sesungguhnya telah melakukan tindakan yang lebih keji dan lebih memalukan: menghamili seorang gadis tanpa hak dan meninggalkannya begitu saja tanpa tanggung jawab. Aku tahu, Tuan telah menghamili gadis bernama Nyi Mas Rasa Wulan dan membuatnya sangat menderita. Dan asal Tuan tahu, kakak kandung gadis malang itu, seorang laki-laki gagah bernama Raden Sahid, adalah menantuku. Mereka berdua adalah putera-puteri Adipati Tuban. Jika menantuku itu sampai tahu perbuatan terkutuk Tuan, aku kira dia akan memburu Tuan sampai ke ujung dunia. Dia akan membawa pasukan dari Tuban. Dia akan mengejar Tuan sambil menyebarkan aib Tuan itu ke segenap penjuru dunia.�

Wajah Syaikh Maulana Maghribi yang semula merah padam tiba-tiba menjadi pucat pasi. Matanya yang semula berkilat-kilat dikobari nyala api amarah tiba-tiba redup. Dia bungkam tidak bisa berbicara. Keringat dingin sebutiran kacang mendadak bercucuran dari keningnya. Abdul Jalil yang melihat perubahan itu buru-buru tegak kembali dan berkata dengan suara lantang, kali ini dalam bahasa Jawa, �Aku tahu bahwa orang-orang seperti Tuan selalu merasa diri sebagai pusat kebenaran. Batin Tuan selalu berkata: aku yang paling benar. Aku yang paling mulia. Aku yang paling baik. Yang lain sesat, keliru, rendah, jahat. Padahal, sebagai alim wakil al-�Alim, Tuan seharusnya tahu bahwa makhluk Tuhan yang pertama mengaku-aku paling baik adalah Iblis (QS. Shad: 76). Aku tidak peduli apakah Tuan itu manusia yang benar-benar paling baik ataukah Tuan sebenarnya pengejawantahan dari dia yang dikutuk karena pengakuan sepihaknya. Aku tidak peduli itu. Tetapi, jika Tuan memang merasa benar dan surga itu hak Tuan, maka aku ingin bukti dengan meminta kematian Tuan sebagaimana disyaratkan Allah (QS. al-Baqarah: 94). Maksudku, bagaimana kalau aku dan Tuan mati bersama sekarang juga? Siapkah Tuan bersama aku mati sekarang juga untuk membuktikan kebenaran anggapan Tuan?�

Syaikh Maulana Maghribi yang sudah runtuh keyakinan dirinya akibat duiungkap aibnya tidak berkata sesuatu untuk membela diri. Dia malah memandang Abdul Jalil dengan mata sayu seolah minta dikasihani. Abdul Jalil yang sudah merasa di atas angin menyapukan pandang ke arah para pengikut Syaikh Maulana Maghribi. Kemudia, dengan suara ditekan tinggi ia berteriak menantang, �Adakah di antara kalian yang bersedia mati bersama aku sekarang ini untuk membuktikan apakah kalian masuk surga atau neraka? Ayo siapa yang berani mati sekarang?�

Semua diam. Semua menunduk. Ternyata, tidak ada satu pun di antara orang-orang yang suka membunuh itu siap mati saat itu. Syaikh Maulana Maghribi sendiri hanya menunduk seperti pesakitan. Abdul Jalil yang tidak sampai hati mempermalukan lebih jauh manusia yang sudah tidak berdaya itu akhirnya mengakhiri keadaan yang menegangkan itu. Setelah menarik napas berat beberapa kali, dengan suara agak ditekan ia berkata, �Aku kira, kita tidak perlu lagi memperdebatkan tentang masalah agama. Kita akhiri perbedaan pandangan kita sampai di sini. Hanya satu yang perlu Tuan ketahui bahwa penghuni dukuh Lemah Abang bukanlah pengikut Syi�ah. Mereka adalah para pengamal tarekat yang dibangsakan kepada hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. Meski demikian, mereka semua tidak pernah memusuhi manusia dari agama apa pun, apalagi terhadap saudara-saudara seagama yang berkitab suci satu, berkiblat satu, dan bernabi satu.�

Syaikh Maulana Maghribi merasa lega. Dia menjabat tangan Abdul Jalil. Kemudian, dengan erat dia mendekap tubuh Abdul Jalil sambil berbisik lirih, �Bagaimana Tuan bisa tahu masalah saya dengan Nyi Mas Rasa Wulan?�

�Aku tidak bisa menjelaskan kepada Tuan. Tapi, jika di akhirat nanti Tuan dihisab pada bagian itu maka Tuan hendaknya ingat bahwa Allah Mahatahu. Maha Menghisab.�

�Apakah Nyi Mas Rasa Wulan memberitahu Tuan Syaikh?�

Abdul Jalil menggeleng. Kemudian dengan berbisik ia berkata, �Aku telah dikaruniai Allah sedikit pengetahuan untuk membaca kitab rahasia di dalam diri Tuan,� kata Abdul Jalil.

Tuan bisa membaca catatan amaliah saya?�

�Bukan membaca seperti tulisan, tetapi menyaksikan gambaran perbuatan Tuan. Semuanya. Semuanya. Bahkan, saat Tuan mengintip Nyi Mas Rasa Wulan yang sedang mandi pun telah aku saksikan.�

�Jika begitu, Tuan Syaikh adalah salah seorang kekasih-Nya.�

�Itu adalah rahasia-Nya. Tuan jangan menduga-duga.�

�Tuan Syaikh,� kata Syaikh Maulana Maghribi mempererat pelukannya, �Doakan dan berkahilah saya, semoga saya bisa menebus semua kesalahan saya. Saya akan bertobat. Saya akan meninggalkan semua pekerjaan sia-sia ini,� Syaikh Maulana Maghribi membasahi jubah Abdul Jalil dengan air mata. Sesaat setelah itu, dia membalikkan badan dan memberi isyarat kepada para pengikutnya untuk pergi meninggalkan dukuh Lemah Abang. Abdul Jalil memandang para pembunuh itu sambil sesekali menarik napas lega.

Ketika bayangan Syaikh Maulana Maghribi dan pasukannya sudah tidak terlihat, Abdul Jalil dan para pengikutnya kembali ke dukuh. Di jalan yang akan menuju tajug, ia melihat pohon dalima sedang berbuah. Ia memetik sebuah dan memberikannya kepada salah seorang pengikutnya sambil berkata, �Sampaikan dalima ini ke dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar. Katakan bahwa dalima inilah perlambang keterlepasanku yang terakhir dengan dukuh-dukuh dan pengikut-pengikutku. Mereka yang memperoleh petunjuk Ilahi akan paham dengan perlambang ini. Tetapi, mereka yang bebal dan tidak memperoleh petunjuk Ilahi akan menafsirkan lain sesuai nafsunya.�

Kabar kegagalan Syaikh Maulana Maghribi menyerang dukuh Lemah Abang karena kalah berdebat dengan Syaikh Lemah Abang dalam waktu singkat telah terdengar oleh setiap telinga. Cerita-cerita yang dilebih-lebihkan pun merebak tanpa ada yang tahu siapa yang menambah-nambah bumbunya. Semua mata pun di arahkan ke dukuh-dukuh Lemah Abang seolah menunggu tindakan apa yang akan dilakukan oleh alim ulama Demak setelah salah seorang rekan mereka dikalakan Syaikh Lemah Abang, semua menunggu-nunggu apa yang akan terjadi dengan mereka setelah terjadinya peristiwa yang memalukan alim ulama Demak itu. Namun, di tengah ramainya orang membicarakan hal tersebut dengan kemungkinan-kemungkinannya, penduduk dukuh Lemah Abang justru dikejutkan oleh munculnya buah dalima kiriman guru ruhani mereka. Mereka bertanya-tanya tentang makna apa yang sejatinya terkandung di dalam perlambang buah dalima itu.

Karena Abdul Jalil tidak memberikan pesan apa pun di balik pengiriman buah dalima tersebut, terjadi penafsiran-penafsiran makna yang saling berbeda antar para pemuka dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar di berbagai kadipaten. Sebagian di antara mereka memaknai buah dalima itu sebagai isyarat peringatan dari sang guru, yang mengandung makna kata da-lima, dina-lima, dali-ma, duma-lima, yang dikaitkan dengan suatu perubahan dalam tatanan kehidupan beragama mereka. Mereka menafsirkan bahwa guru ruhani mereka, Syaikh Lemah Abang, telah menitahkan perubahan dalam tata cara beribadah. Jika semula mereka bersembahyang tiga kali sehari, yaitu Subuh dan Siang dan Malam, sebagaimana dilakukan para pendeta Syiwa-Budha, kini mereka diharuskan mengubah menjadi sembahyang lima waktu (da-lima). Ibadah sembahyang Jum�at (dina-lima) yang semula dilakukan di dukuh Lemah Abang yang diikuti dukuh yang lain dan dianggap sunnah, tiba-tiba diselenggarakan di tiap-tiap dukuh. Karena dianggap sunnah, usai sembahyang Jum�at mereka masih melakukan sembahyang zhuhur. Setelah itu, mereka bersiaga meninggalkan kediamannya untuk membangun dukuh baru ibarat burung dadali (dali-ma) membuat sarang baru karena sarang lamanya dirampas tangan kejahatan. Mereka membagi diri dalam lima kelompok warga yang saling berhubungan. Kepada semua penghuni dukuh diberi suatu peringatan bahwa mereka harus ikhlas menerima nasib untuk hijrah karena dukuh yang mereka cintai itu bakal binasa diselimuti asap (duma-lima), sehingga mereka harus pergi jauh dari dukuh mereka.

Pemuka dukuh yang lain menafsirkan buah dalima kiriman Abdul Jalil sebagai lambang dari kata da-lima, dama, dama-lima, dana-lima. Mereka menganggap guru mereka menitahkan para penghuni dukuh untuk meninggalkan sembahyang tiga waktu dan selanjutnya menggantinya dengan lima dharma (dharma-lima), yaitu kebajikan (alpadharma), kesalehan (atidharma), kebaikhatian (budidharma), kemurahatian (punyadharma), dan kedermawanan (danadharma). Mereka berpikir: menjalankan lima dharma adalah lebih baik daripada menjalankan sembahyang tiga waktu tapi hidup penuh kejahatan. Dengan menjalankan lima dharma, mereka merasa lebih bermanfaat bagi keselamatan dan keselarasan kehidupan di alam semesta (memayu hayuning bhawana). Bagi mereka, ikatan kasih sayang (dama) adalah perbuatan termulia yang harus dilakukan manusia yang ingin membebaskan diri dari anasir-anasir nafsu keduniawian.

Pemuka dukuh yang lain lagi memaknai buah dalima kiriman guru ruhaninya sebagai perlambang permata mirah dalima yang disatukan di dalam wadah laksana biji-biji dalima di dalam kulit buah. Mereka berusaha mendapatkan permata mirah dalima sebagai tanda pengikut Syaikh Siti Jenar. Mereka akan menolak siapa pun di antara manusia yang mengaku pengikut Syaik Siti Jenar jika tidak bisa menunjukkan permata mirah dalima sebagai tanda kemuridan mereka. Sementara pemuka dukuh yang lain menafsirkan buah dalima sebagai perlambang bahwa mereka harus berperilaku seperti buah dalima; kesat dan padat kulit luarnya tetapi jernih laksana biji permata di dalamnya.

Sekalipun para pemuka dukuh memiliki penafsiran berbeda dalam memaknai buah dalima yang dikirim Abdul Jalil, mereka memiliki arah yang sama dalam bersikap: berjalan di atas garis Tauhid dan akhlak serta rela berkorban demi keselamatan sesama. Mereka memandang tindak kekerasan dalam menentukan Kebenaran adalah sebuah kejahatan yang harus dijauhi. Mereka menilai pembunuhan dengan atas nama agama adalah sama seperti penyembelihan korban di atas mezbah persembahan; sebuah upacara yang jelas-jelas bertentangan dengan jiwa Islam. Sehingga, mereka sepakat untuk mengorbankan jiwa dan raga mereka demi keselamatan sesama dari tindak kekerasan yang dilakukan alim ulama Demak.

Salah seorang di antara pengikut Abdul Jalil yang merelakan nyawanya untuk keselamatan orang lain itu adalah Ki Wanabaya, seorang sesepuh marga Bajul, kepala dukuh Lemah Abang di Pajang. Dengan suka rela dia mengorbankan jiwanya untuk menghentikan tindak kekerasan para alim Demak. Saat para pemuka agama di desa-desa sekitar dukuh Lemah Abang lari ketakutan dikejar-kejar pasukan tombak asal Demak, Ki Wanabaya dengan gagah berani mendatangi Kiai Ageng Kalipitu yang memimpin satuan bersenjata itu. Tanpa basa-basi dengan meniru tindakan gurunya yang menantang mengajak mati Syaikh Maulana Maghribi, dia menantang Kiai Ageng Kalipitu untuk mati bersama guna membuktikan Kebenaran yang dijadikan alasan membunuh orang-orang tak bersalah. Saat Kiai Ageng Kalipitu tidak menanggapi tantangannya, dia meminta agar nyawanya dicabut sebagai ganti pemuka-pemuka agama di desa-desa yang dituduh sesat dan diburu-buru, �Jika nyawaku dapat menghentikan nafsu membunuhmu, bunuhlah aku!� tantang Ki Wanabaya tanpa sedikit pun menunjukkan kegentaran.

Seorang anggota satuan tombak yang tersinggung ulama panutannya dipermalukan, tidak dapat menahan diri. Dengan teriakan keras, ia hujamkan tombak yang digenggamnya ke dada Ki Wanabaya sekuat tenaga. Terdengar suara derak tulang patah ketika mata tombak menembus dada Ki Wanabaya. Lelaki berusia setengah abad itu tersentak ke belakang. Namun, dia tidak tumbang. Dengan memegangi dadanya yang dihiasi batang tombak, dia menatap tajam ke arah Kiai Ageng Kalipitu sambil tersenyum. Setelah itu dengan napas tersengal-sengal dia berkata, �Lihatlah Tuan, apa yang aku alami ini. Sang Maut datang menjemputku dengan senyum kegembiraan. Dia tersenyum gembira. Ya tersenyum gembira. Sebab, Dia tidak aku sambut dengan ketakutan dan kegentaran, melainkan dengan cinta dan kerinduan. Kehadiran Sang Maut adalah pertanda cinta.� Lalu, dengan teriakan keras dia berseru, �Aku pasrahkan hidupku kepada Engkau, o Penguasa Yang Mahahidup,� dan tubuhnya tumbang ke atas tanah tanpa nyawa.

Kiai Ageng Kalipitu terkesima menyaksikan peristiwa tak terduga-duga yang begitu cepat kejadiannya. Ia merasa seolah-olah sedang bermimpi. Setelah termangu beberapa jenak, ia benar-benar terkesan dengan keberanian Ki Wanabaya menyongsong kematian. Hanya mereka yang sudah mengenal Kematian dengan akrab yang begitu mesra menyambut-Nya, gumamnya dalam hati. Sebagai bukti tanda hormatnya kepada laki-laki pemberani dan tabah itu, ia memutuskan untuk memenuhi permintaannya. Hari itu juga, usai memakamkan Ki Wanabaya, ia memerintahkan para pengikutnya untuk kembali ke Demak. Ia tidak pernah lagi memerintahkan pengejaran kepada pemuka-pemuka agama yang dituduh sesat dan murtad.

Hampir bersamaan waktu dengan terbunuhnya Ki Wanabaya, Kyayi Tapak Menjangan, kepala dukuh Lemag Abang di Kadipaten Kendal, melakukan hal yang sama tetapi dengan cara Kematian berbeda. Ketika pasukan alim ulama Demak yang dipimpin Syaikh Abdullah Sambar Khan mengobrak-abrik desa sekitar dukuh Lemah Abang untuk memburu pemuka-pemuka agama yang dituduh sesat dan murtad, Kyayi Tapak Menjangan yang berusia hampir lima puluh tahun, seorang diri maju menantang Syaikh Abdullah Sambar Khan untuk mati bersama guna membuktikan Kebenaran yang diakui sepihak oleh alim asal Kerala itu. Namun, berbeda dengan kematian Ki Wanabaya yang sangat singkat, Kyayi Tapak Menjangan sempat terlibat perdebatan dengan Syaikh Abdullah Sambar Khan dalam masalah Kebenaran menurut sudut pandang Islam. Dalam perdebatan itu, berkali-kali Kyayi Tapak Menjangan menertawakan Syaikh Abdullah Sambar Khan sebagai penganut tarekat Quburiyyah wa Sulthaniyyah, yaitu tarekat pemuja kuburan dan penyembah sultan.

Syaikh Abdullah Sambar Khan yang terpojok sedianya akan memerintahkan pengikutnya untuk membunuh Kyayi Tapak Menjangan. Namun, kepala dukuh Lemah Abang itu menyatakan bahwa dia akan mati menurut kehendaknya sendiri. �Tuan tidak perlu mengotori tangan Tuan dengan darahku. Akan aku tunjukkan kepada Tuan bahwa manusia yang sudah mengenal jalan Kebenaran dan telah menemukan Kebenaran Sejati akan dikaruniai kehendak untuk mati. Sebab, mereka yang sudah menyatu dengan Kebenaran pada hakekatnya menyatu pula dengan Maut dan Hidup beserta kudrat dan iradat-Nya,� kata Kyayi Tapak Menjangan tegar.

�Dengan cara bagaimana Tuan akan mati?� tanya Syaikh Abdullah Sambar Khan sinis, �Dengan alat bantu apa Tuan akan mati? Apakah itu tidak termasuk bunuh diri?�

�Aku mati dengan kehendakku sendiri tanpa alat bantu apa pun. Bagi mereka yang terhijab, menghendaki Kematian diri sendiri adalah bunuh diri. Sedang bagi yang sudah tercelikkan mata batinnya, menghendaki Kematian adalah bagian dari kehendak-Nya. Sebab, di saat �aku� sudah tenggelam ke dalam �Aku� maka �kehendakku� tenggelam ke dalam �kehendak-Ku�. Kehidupan �aku� akan kembali kepada �Aku� Yang Mahahidup, melalui pintu yang disebut Kematian yakni citra bayangan Sang Maut (al-Mumit). Siapa yang menganggap Yang Mahahidup (al-Hayy) dan yang Maha Membinasakan (al-Mumit) adalah dua zat yang berbeda, mereka adalah musyrik.�

�Tunjukkan kepadaku kehebatan Tuan yang bisa menentukan waktu Kematian diri sendiri tanpa alat bantu apa pun. Tunjukkan Kebenaran ucapan Tuan itu kepadaku,� kata Syaikh Abdullah Sambar Khan penasaran.

Kyayi Tapak Menjangan melakukan sembahyang dua rakaat. Setelah itu, dia duduk bersila mengatur pernapasan dengan mata terpejam. Syaikh Abdullah Sambar Khan dan pengikut-pengikutnya mendekat dan mengamati apa yang dilakukan kepala dukuh Lemah Abang itu. Mereka tidak melihat keajaiban apa pun kecuali sosok seorang laki-laki yang duduk bersila mengatur napas. Mereka terus mengamati naik dan turunnya dada Kyayi Tapak Menjangan. Mereka seolah ingin menyaksikan bagaimana nyawa Kyayi Tapak Menjangan lepas dari raganya. Namun, semua harapan mereka tidak kesampaian. Mereka tidak menyaksikan keajaiban apa-apa. Mereka hanya mendapati tubuh Kyayi Tapak Menjangan sudah tidak bernyawa lagi dalam keadaan duduk bersila.

Syaikh Abdullah Sambar Khan terkejut menyaksikan kenyataan yang tak pernah dibayangkannya itu. Ia sangat menyesali kematian Kyayi Tapak Menjangan. Ia yang sejak kecil akrab dengan kisah-kisah absurd tentang wali-wali Allah, tidak syak lagi menganggap Kyayi Tapak Menjangan sebagai salah seorang di antara kekasih-kekasih Allah. Ia semakin yakin bahwa lelaki yang mati dengan kehendaknya sendiri itu adalah kekasih Allah manakala ia menyadari betapa Kematian tersebut bukanlah untuk kepentingan pribadi, melainkan demi menyelamatkan orang lain. Saat itulah ia ingin menguburkan jenasah Kyayi Tapak Menjangan dengan cara yang baik sebagaimana lazimnya orang-orang Kerala menguburkan alim ulama mereka. Namun, keinginannya itu tidak kesampaian karena warga dukuh Lemah Abang dan keluarga Kyayi Tapak Menjangan menyatakan akan menguburkan sendiri di tempat yang tidak diketahui orang. �Guru kami, Kyayi Tapak Menjangan, telah berwasiat: jika mati ia tidak ingin kuburnya diberi tanda. Ia tidak ingin diziarahi dan dijadikan sesembahan manusia,� ujar seorang warga, seolah menyindir Syaikh Abdullah Sambar Khan yang suka bermujahadah di kuburan-kuburan keramat.

Selain Ki Wanabaya dan Kyayi Tapak Menjangan, pengikut-pengikut Syaikh Lemah Abang yang terbunuh dalam peristiwa kekerasan yang dilakukan alim ulama Demak adalah Ki Bhisana, Ki Canthuka, Ki Pringgabhaya, Ki Ageng Panawangan, Kyayi Ageng Brati Lemah Putih. Kematian mereka tidak saja telah menyelamatkan dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Putih, Lemah Ireng, dan Kajenar karena mereka semua mencegat alim ulama Demak dan pasukannya di luar dukuh, melainkan juga telah membuat berhenti kaki tangan Tranggana itu dalam menebar Kematian.

Tanpa ada yang menduga, ternyata Kematian sejumlah kepala dukuh Lemah Abang itu mengundang simpati luas di kalangan penduduk Nusa Jawa. Bibit-bibit kebencian terhadap alim ulama asing yang telah bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk tumbuh semakin subur dan tak jelas menjalarnya. Jika pada awalnya kebencian itu hanya diarahan kepada para alim beserta pengikut bersenjatanya, belakangan kecaman, caci maki, umpatan, ejekan, dan olok-olok diarahkan kepada agama mereka. Di tengah hiruk kebencian penduduk itu terjadi sesuatu yang tak terduga-duga: para mualaf yang belum memahami secara baik ajaran Islam tiba-tiba banyak yang menyatakan tidak mau lagi mengikuti agama yang dianggapnya mengajarkan kejahatan kepada manusia itu. Mereka menyatakan kembali ke agama semula.

Di kuta Juwana, sejumlah pemuka masyarakat Cina muslim menyatakan kembali ke agama leluhur karena mereka tidak mau menodai tangan mereka dengan darah orang-orang tak bersalah. Tindakan itu diikuti sejumlah besar muslim pribumi yang juga menyatakan kembali ke agama leluhur. Tindakan penduduk Juwana itu mengundang kemarahan alim ulama Demak. Mereka menganggap tindakan itu sebagai kemurtadan yang harus diganjar dengan Kematian. Lalu, terjadilah pengejaran, penangkapan, dan pembunuhan terhadap penduduk Juwana yang dianggap telah murtad dari Islam. Tidak pedulu Cina tidak peduli penduduk asli, siapa di antara penduduk Juwana yang diketahui murtad digeret ke alun-alun untuk dijadikan tontonan dan kemudian dijagal beramai-ramai. Beberapa tajug yang diubah menjadi kelenteng dibakar. Pura-pura dan asrama-asrama pun dibakar. Semua yang dianggap terkait kemurtadan dibakar dan diratakan dengan tanah.

Penduduk yang ketakutan berbondong-bondong menyelamatkan diri ke hutan-hutan di pedalaman. Sebagian meminta perlindungan ke Wirasari dan Pengging, sebagian lagi kepada Yang Dipertuan Majapahit di Daha. Patih Mahodara yang marah mendapat laporan tentang pembantaian penduduk beragama Syiwa-Budha serta penghancuran sejumlah pura dan asrama di Juwana, segera mengirim satu detasemen pasukan. Dengan gerakan sangat cepat, pasukan asal Daha itu menyerang kuta Juwana. Alim ulama Demak dan pasukannya yang tak menduga bakal diserang mendadak, kelabakan dan berusaha menahan serangan tentara kafir Daha itu dengan segenap daya dan kuasa mereka. Namun, apalah arti perlawanan para petani, perajin, tukang, nelayan, penyadap enau, dan pedagang kecil yang dipersenjatai tombak dalam melawan prajurit-prajurit Daha yang terlatih. Dalam waktu tidak lama, kuta Juwana telah penuh mayat. Darah menggenang di mana-mana. Bahkan, seperti tidak puas membunuh alim ulama dan pengikut bersenjatanya, pasukan Daha yang dikirim Patih Mahodara membakar seluruh bangunan yang tegak di kuta Juwana sehingga seluruh kuta nyaris rata dengan tanah.

Seiring menyebarnya kabar serbuan pasukan Daha ke Juwana, di tlatah Pasir terjadi pergolakan. Pangeran Mangkubhumi, putera mahkota Prabu Banyak Belanak Yang Dipertuan Pasir, tiba-tiba mengangkat senjata bersama pengikutnya dengan didukung pendeta-pendeta Syiwa-Buda, seperti Ajar Carang Andul, Wiku Ragadana, Ajar Pohkombang, dan Binatang Karya. Perlawanan putera mahkota Pasir itu sendiri semula tidak diketahui karena serangan-serangan yang dilakukan alim ulama Demak dan pasukannya itu berlangsung di wilayah yang sangat luar dari Wirasabha, Manoreh, sampai Bocor. Namun, saat diketahui bahwa di balik penyerangan-penyerangan itu terdapat perintah Pangeran Mangkubhumi, tuduhan murtad pun buru-buru dialamatkan kepadanya. Namun, pangeran yang sudah muak dengan kekejaman yang dipamerkan-pamerkan alim ulama itu tidak peduli. Ia terus melakukan perlawanan bersenjata, meski harus menghadapi risiko kehilangan takhta yang diwariskan ayahandanya.

Sementara di Samarang, di tengah hiruk kembalinya para mualaf Cina ke agama leluhur, Raden Kaji Adipati Samarang yang sangat terpukul dengan kekalahan armada Japara di Malaka, atas saran guru ruhaninya, Syaikh Malaya, mengundurkan diri dari jabatan adipati Samarang. Ia digantikan oleh adiknya, Raden Ketib. Ia sadar dan paham pada nasihat guru ruhaninya bahwa cepat atau lambat, Tranggana akan semakin kuat dan dipastikan akan menggilas semua kekuatan yang mendukung Adipati Hunus. Itu sebabnya, demi menyelamatkan kadipaten yang dipimpinnya, ia mundur untuk digantikan adiknya. Lalu, putera Raden Sahun itu, cucu Ario Damar Palembang, diam-diam pergi meninggalkan Samarang dan tinggal di pedalaman, di perbatasan Pajang dan Mataram, yaitu di tempat yang disebut Tembayat. Ia menjadi guru suci di situ dan karena itu ia disebut orang sebagai Susuhunan Tembayat.

Hampir bersamaan dengan mundurnya Raden Kaji sebagai Adipati Samarang, di Pengging terjadi pengungsian besar-besaran warga muslim mualaf dari kalangan Sasak, Domba, Kewel, dan Dapur ke Blambangan dan Bali. Penduduk kalangan bawah itu rupanya sangat ketakutan karena tersebar kabar burung yang menyatakan bahwa siapa saja di antara penduduk yang menjalankan sembahyang tiga waktu akan dituduh pengikut Syi�ah dan akan disembelih oleh alim ulama Demak. Meski tidak paham apa yang dimaksud Syi�ah dan apa yang bukan Syi�ah, kisah menyangkut pembantaian pengikut Syi�ah beberapa tahun silam telah membuat mereka ketakutan. Mereka beramai-ramai menyelamatkan diri meninggalkan kediamannya. Mereka dipimpin oleh tiga bersaudara pemuka-pemuka keluarga Bajul, yang menjadi pasukan perairan (angreyok) Pengging, yaitu KiReyok Bhaya, Ki Kawuk Bhaya, dan Ki Lendang Bhaya. Melalui jaringan keluarga Bajul yang menguasai sungai dan pantai, para pengungsi berhasil mencapai tanah Blambangan dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan ke Bali. Di Blambangan mereka dilindungi oleh Ki Juru, kakek Prabu Andayaningrat yang menjadi pertapa di gunung Argapura. Sedang di Bali mereka meminta perlindungan kepada Danghyang Nirartha, murid Syaikh Siti Jenar yang menjadi guru suci di Bali.

Sementara, mengetahui reaksi kebencian penduduk terhadap alim ulama Demak dan pasukan bertombaknya, Tranggana buru-buru memerintahkan mereka untuk kembali ke Demak. Kebijakannya menarik alim ulamanya ke Demak tampaknya terkait dengan laporan-laporan yang menyatakan sejak tersebarnya kabar keberanian pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang menghadapi kematian, penduduk dari berbagai tempat selalu terlihat datang berduyun-duyun ketika mendengar kabar akan adanya perdebatan antara pemuka Lemah Abang dan alim ulama Demak. Bahkan yang berkembang kemudian terdapat laporan yang mengatakan bahwa prajurit-prajurit dari Kadipaten Samarang, Tetegal, Rembang, Tedunan, Pati, Kendal, dan Siddhayu diam-diam menyelundup ke desa-desa di sekitar dukuh Lemah Abang dengan menyamar sebagai penduduk. Mereka mengawasi semua gerak-gerik alim ulama asal Demak beserta satuan-satuan bersenjatanya. Keadaan itulah yang membuat Tranggana memutuskan alim ulamanya kembali ke Demak. Pada saat itu pula ia semakin yakin jika dukuh-dukuh Lemah Abang adalah bagian dari kekuatan yang mendukung kekuasaan Adipati Hunus. Lantaran itu, di balik titah penarikan mundur para alim dan pasukannya itu, ia diam-diam menyiapkan kemungkinan-kemungkinan untuk menghancurkan dukuh-dukuh penggalang perlawanan seperti Lemah Abang itu jika keadaan sudah memungkinkan.

Dukuh Lemah Abang baginya merupakan ancaman besar. Sebab, pemuka-pemuka dukuh tersebut tidak saja telah mengajarkan kepada penduduk tentang kesederajatan, kesamaan hak, kebebasan berpikir, kebebasan memilih pemimpin, dan gagasan-gagasan yang sangat berbahaya bagi sebuah kekuasaan, melainkan telah memberi contoh pula bagaimana mengorbankan nyawa untuk melawan kekuasaan yang semena-mena.

Read More ->>

WEJANGAN TERAKHIR

Wejangan Terakhir

    Di tengah gemuruh suara Sang Maut mengisap napas-Nya di permukaan bumi Demak, bertiup angin dari barat yang membawa kabar sangat mengejutkan: gabungan armada Jawa yanga menyerang Malaka mengalami kekalahan telak. Dari 90 kapal yang berangkat, hanya sepuluh kapal perang jenis jung yang berlapis besi dan sepuluh kapal perbekalan yang kembali. Beribu-ribu prajurit asal Samarang, Tetegal, Tedunan, Rembang, Tuban, Siddhayu, Demak, Japara, Kendal, dan Pati tenggelam bersama kapal yang mereka tumpangi ke dasar laut.

Ketika semua dada terasa sesak dan semua mata meneteskan air mata kepedihan akibat peristiwa memalukan itu, terjadi peristiwa yang membuat semua mata terpejam dan semua hati tergetar. Satuan-satuan bersenjata yang dipimpin alim ulama Demak, yang dengan ganas telah menertibkan Kehidupan beragama di setiap sudut Kadipaten Demak, tiba-tiba mengarahkan pandangan ke kadipaten lain: Samarang, Japara, Tetegal, Kendal, Rembang, Siddhayu, dan Tedunan. Lalu, dengan gerakan sangat menakjubkan laksana kawanan hewan buas keluar sarang, mereka beriringan dengan suara gemuruh menerjang desa-desa yang terletak di sekitar Lemah Abang sambil meneriakkan takbir. Para alim dan pasukan tombaknya itu rupanya mendapat perintah untuk menyerang desa-desa di sekitar dukuh-dukuh Lemah Abang dengan tuduhan-tuduhan tanpa dasar. Sebagaimana peristiwa mengerikan yang telah terjadi di Demak, dengan alasan menertibkan agama Islam yang telah disimpangkan penduduk, satuan-satuan bersenjata tombak pimpinan alim ulama itu melakukan perburuan dan penjagalan terhadap siapa saja di antara manusia yang dituduh mengajarkan agama tanpa izin, menyelewengkan agama, menyebarkan ajaran sesat, atau murtad dari agama Islam.

Warga di kadipaten-kadipaten yang kebanyakan hanya mendengar kabar burung tentang kekejaman satuan-satuan bersenjata itu, dengan terheran-heran menyaksikan sendiri bagaimana tindakan ganas dan brutal manusia-manusia tak berjiwa yang menyebut diri barisan alim ulama pengawal agama Islam itu. Mereka saling pandang dan saling bertanya dengan keheranan.

Bagaimana mungkin alim ulama yang merupakan tokoh agama bisa memiliki pasukan bersenjata dan menggunakannya untuk menekan, menakuti, mengancam, dan bahkan membunuh orang-orang yang tidak sepaham? Bukankah sejak zaman purwakala belum pernah ada agamawan yang memiliki pasukan? Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku pengawal agama Islam yang suci memiliki kebiasaan meminum dan menjilati darah orang-orang yang dibunuhnya? Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku beriman gemar merusak mayat, memotongi telinga dan alat kemaluan orang-orang yang dibunuh sebagai kesenangan? Bagaimana mungkin sebuah agama ditertibkan lewat tekanan, ancaman, teror, dan pembunuhan? Bagaimana mungkin citra sebuah agama yang damai yang menjanjikan keselamatan justru menimbulkan ketakutan dan kepanikan, karena orang-orang yang mengaku pengawal agama tersebut dengan keberingasan dan kebengisan tak terbayangkan menciptakan ladang mayat dan sungai darah?

Bagi sebagian besar penduduk yang keluarga, kerabat, tetangga, kawan, atau kenalannya menjadi korban keganasan satuan-satuan bersenjata pimpinan alim ulama Demak itu, mereka tidak bisa memahami peristiwa biadab itu sebagai sesuatu yang bisa dibenarkan oleh nurani. Mereka seumumnya menganggap peristiwa itu sebagai sesuatu yang sangat membingungkan. Sebab, citra Islam yang selama itu mereka pahami sebagai penyempurnaan ajaran Syiwa-Buda ternyata sangat berbeda dengan citra Islam yang dipahami alim ulama yang memiliki satuan-satuan bersenjata, baik dalam amaliah ibadah maupun istilah-istilah keagamaan sehari-hari. Mereka yang sehari-hari biasa menggunakan istilah-istilah sembahyang, puasa, swarga, neraka, langgar, tajug, Hyang Manon, Kangjeng, Nabi, pandhita, susuhunan, wiku, kiai, ki, dukuh, destar, aksamala, bebet, dan dodot cukup kebingungan dengan istilah-istilah yang digunakan anggota-anggota satuan bersenjata dan alim ulamanya seperti shalat, shaum, firdaus, jahannam, mushala, masjid, Allah Subhanahu wa Ta�ala, Muhammad Saw, alim ulama, syaikh, habaib, khwajah, tasbih, ghamis, surban, sarung, kopiah.

Istilah-istilah itu makin membingungkan ketika orang menyaksikan keganasan anggota satuan-satuan bersenjata tombak yang memaklumkan diri sebagai pengawal Islam agama Keselamatan. Mereka heran dengan kepongahan orang-orang bersenjata yang mengaku-aku bahwa Tuhan yang paling Benar adalah Tuhannya, sedang tuhan orang lain adalah tuhan-tuhanan alias tuan palsu. Mereka heran dan menganggap pengakuan sepihak itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin agama Islam yang menjanjikan keselamatan, di tangan para pengaku-aku itu justru menjadikan banyak manusia tidak selamat? Bagaimana mungkin agama Islam yang digembar-gemborkan sebagai agama kedamaian justru menimbulkan kekisruhan? Bagaimana mungkin Kebenaran Ilahi dan keimanan orang seorang dalam mengenal Tuhan diukur dengan bilah tombak? Betapa mengherankan, tanpa alasan yang jelas sejumlah pemuka agama Islam di berbagai desa disembelih begitu saja karena dituduh murtad.

Tindak kekerasan yang dilakukan alim ulama asing dengan satuan-satuan bersenjatanya itu memunculkan kesan miring bagi penduduk pedalaman Jawa dalam memaknai Islam. Bagian terbesar penduduk yang semula memahami Islam sebagai ajaran penyempurna Syiwa-Buda, yaitu ajaran yang damai penuh toleransi dan pembawa keselamatan sebagaimana telah disampaikan para guru suci terdahulu, terutama ajaran Syaikh Siti Jenar dan pengikut-pengikutnya, ternyata mendapati wajah dan jiwa yang berbeda dengan agama Islam yang dianut alim ulama bersenjata asal Demak. Islam yang mereka saksikan datang bersama para alim itu adalah citra sebuah agama yang ganas tak kenal ampun dan berlumur darah. Islam yang mereka saksikan datang dari Demak sama menjijikkannya dengan ajaran Bhairawa-Tantra yang dianut bhairawa-bhairawi peminum darah. Muara dan ketidakpahaman penduduk atas citra Islam yang dibawa alim ulama Demak dan satuan-satuan bersenjatanya itu adalah tumbuh suburnya sikap antipati terhadap sesuatu yang bersifat asing yang dibayangkan akan menjajah dan membahayakan keberadaan penduduk bumiputera. Dan entah bagaimana awalnya, tiba-tiba istilah-istilah agama Jawa dan agama Arab mulai digunakan orang untuk membedakan wajah agama yang dianut penduduk asli dan agama yang dianut warga asing.

Abdul Jalil yang menyaksikan adegan demi adegan kekerasan aitu dengan perasaan malu tak terlukiskan tidak dapat berbuat sesuatu kecuali diam, laksana sebongkah batu di sungai dangkal berair jernih. Ia benar-benar sebongkah batu yang menyaksikan semua tindakan alim ulama yang bertopeng agama, tapi melumuri tangannya dengan darah manusia. Ia menyaksikan semua gerak-gerik alim ulama yang melakukan kejahatan atas titah seorang penguasa duniawi. Ia menyaksikan semua tindaka alim ulama yang melakukan pembunuhan demi imbalan sepetak tanah perdikan dan hadiah-hadiah dari sultan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Diam. Seribu kali diam. Namun, di tengah kecamuk perasaannya yang teraduk-aduk dalam diam itu, ia sadar betapa citra dirinya sebagai salah seorang pendakwah ajaran Kebenaran Islam sesungguhnya telah hilang bersama terbangnya nyawa-nyawa kaum muslimin yang menjalankan Islam menurut ajaran yang didakwahkannya. Ia yang dulu telah mendakwahkan bahwa Islam adalah penyempurna ajaran Syiwa-Buda, ternyata tidak berbuat sesuatu ketika apa yang didakwahkannya itu dihancurbinasakan oleh orang-orang terbawa badai yang terbuang dari negerinya dan mencari kemapanan hidup di negeri orang. Ia tidak melakukan apa pun � bahkan sekedar mengingatkan lewat lisan � untuk mencegah kekeliruan tindakan yang dilakukan para alim beserta pasukan tombaknya. Ia merasa semua yang telah dirintisnya telah sirna tersapu prahara bersama lenyapnya citra dirinya sebagai juru dakwah. Ia merasa benar-benar telah menjadi sebongkah batu.

Ketika ia meresapi keterkaitan makna antara peristiwa memalukan itu dan keterlepasan-keterlepasan citra diri yang dialaminya, hingga membuat keberadaan dirinya tak lebih dari sebongkah batu, terjadilah sesuatu yang selama ini sudah ditunggu-tunggunya sebagai bagian dari keterlepasan yang sangat berat.

Badai Kebinasaan yang diembuskan Sang Maut telah berpusar-pusar melanda permukaan bumi dan perlahan-lahan mulai mendekati caturbhasa mandala dan lemah larangan yang telah ditegakkannya selama berpuluh tahun dengan taruhan nyawa. Seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan sandiwara, ia menyaksikan bagaimana para pemuka agama di desa-desa yang berhasil meloloskan diri dari serangan satuan-satuan bersenjata asal Demak beriringan mencari perlindungan ke dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar. Lantaran dukuh Lemah Abang jumlahnya lebih banyak dibanding Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar, maka mereka hampir semuanya bersembunyi dan meminta perlindungan ke Lemah Abang.

Abdul Jalil sadar, cepat atau lambat ia bakal menyaksikan kehancuran dukuh-dukuh yang mengabadikan karya besarnya itu. Untuk itu, ia berusaha melepaskan segala keterkaitan dirinya dengan tempat-tempat bersejarah itu. Ia ingin melupakan semua kenangan yang menghubungkan dirinya dengan dukuh-dukuh yang ditinggali murid-muridnya itu. Namun, hal itu tentu saja tidak mudah. Sebab, rangkaian kenangan yang menandai jejak langkahnya di dukuh-dukuh itu telah menjadi taman indah Tauhid yang menebarkan wangi bunga-bunga Kebenaran. Menghapus rangkaian kenangan yang telah mewujud menjadi keindahan akan menimbulkan rasa kehilangan yang menyesakkan dada. Itu sebabnya, pada saat ia menyaksikan para alim dengan satuan-satuan bersenjatanya yang memburu orang-orang yang mereka tuduh ahli bid�ah dan penyeleweng agama mendekat ke dukuh-dukuh Lemah Abang, tanpa ia sadari tiba-tiba ia sudah bergerak dan tahu-tahu sudah berada di dukuh Lemah Abang yang terletak di Kadipaten Samarang. Hiruk pun pecah ketika Ki Wujil Kunting, pemimpin dukuh dan pengikut-pengikutnya mengetahui kedatangan Abdul Jalil. Beramai-ramai mereka mengerumuninya. Menyaksikan wajah pengikut-pengikutnya yang diliputi ketegangan itu, ia merasa trenyuh. Lalu, dengan penuh kasih ia berkata kepada mereka dengan suara lain yang terdengar aneh.

�Sebagaimana perilaku alam yang terus berulang bersama putaran waktu, begitulah waktu senja dari hidupku telah datang menjemput. Dia akan mengajakku terbang ke langit hampa yang luas tanpa batas. Melayang-layang sendiri memaknai kesendirian di tengah liputan Yang Mahasendiri. Aku akan kembali bersama waktu senjaku menikmati ketenag-damaian di mahligai keabadian-Nya yana azali. Bersama waktu senjaku, hendaknya diketahui oleh semua manusia yang memiliki keterkaitan denganku, bahwa aku yang disebut manusia dengan berbagai nama; San Ali, Syaikh Datuk Abdul Jalil, Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Siti Jenar, Syaikh Sitibrit, dan Susuhunan Binang adalah manusia biasa yang lahir ke dunia dalam keadaan telanjang tidak membawa apa-apa. Lantaran itu, aku kembali pun dalam keadaan telanjang tidak membawa apa-apa. Aku datang dari Allah dan akan kebali kepada-Nya. Inna li Alahi wa inna ilaihi raji�un.�

�Buka telinga indriawimu dan buka pula telinga batinmu untuk mengingat-ingat pesanku yang terakhir. Aku yang lahir telanjang dan bakal kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan telanjang tidak akan pernah meninggalkan sesuatu yang bersifat kebendaan yang bisa engkau kaitkan denganku. Aku tidak meninggalkan warisan apa-apa dalam bentuk benda-benda duniawi; rumah, harta benda, kitab, pusaka, murid, keluarga, dukuh, atau apa pun. Yang aku wariskan kepada manusia hanyalah ajaran rahasia berupa awrad yang tidak boleh ditulis atau disimpan di dalam sesuatu yang bisa dibendakan. Lantaran itu, jika di suatu masa ada manusia mengaku-aku pengikutku dengan menunjukkan bukti ini dan itu berupa benda atau bukti-bukti pengakuan nasab, sesungguhnya dia itu pendusta yang bakal menyesatkan banyak orang.�

�Jika ada yang bertanya tentang makna apa di balik awrad yang aku wariskan. Aku katakan, ia ibarat sebutir biji nangka, yang aku tinggalkan sebagai satu-satunya warisan. Seperti biji nangka yang memuat hakikat batang, dahan, ranting, daun, bunga, akar, dan buah yang akan tumbuh dengan baik di tanah subur yang terawat, begitulah awrad rahasia itu jika kalian tanam di jiwa yang baik dan dirawat dengan baik akan tumbuh menjadi pohon ruhani Kemanusiaan Sempurna. Buah dari pohon ruhani Kemanusiaan Sempurna itu bisa kalian bagi-bagi kepada siapa pun yang membutuhkan. Tetapi, biji dari buah nangka itu akan tumbuh lagi jika ditanam di tanah yang sesuai. Dengan demikian, selama kalian setia memelihara dan mewariskan awrad yang aku tinggalkan maka saat itu pula kalian telah mewarisi warisanku. Inilah pesan-pesanku terakhir yang hendaknya kalian pusakakan: jadikan awrad rahasia dariku itu sebagai satu-satunya warisan dariku untuk wahana kembali menuju Sang Pencipta. Jadikanlah ia wahana menuju inna li Allahi wa inna ilaihi raji�un !�

�Pesanku yang hendaknya kalian ingat-ingat adalah yang terkait dengan keberadaan jasad dan tubuhku. Maksudnya, jika satu saat nanti kalian mendapati tubuh jasadku terbujur tanpa nyawa karena ruhku telah kembali kepada-Nya, hendaknya kalian kuburkan jenasahku tanpa tanda apa pun yang bersifat bendawi. Jangan biarkan siapa pun di antara manusia yang mengetahui jika itu kuburanku. Jangan buat manusia datang menziarahiku. Sebab, aku tidak ingin menjadi hijab setitik noktah pun bagi manusia dalam berhubungan dengan Penciptanya. Biarkan aku terkubur sebagai tanah yang diinjak-injak manusia. Biarkan jasad tubuh anak Adam a.s. ini kembali menjadi tanah.�

Para pengikut yang tak kuasa menahan haru mendengar wejangan guru ruhani yang mereka cintai serentak menjatuhkan diri dan merangkul kaki Abdul Jalil sambil mencucurkan air mata. Ki Wujil Kunting yang terlihat tegar pun tak kuasa menahan haru. Dengan napas tersengal menahan tangis, dia bersimpuh dan bertanya. �Jika Kangjeng Syaikh kembali kepada-Nya tanpa meninggalkan bekas bendawi, bagaimana kami dapat mengingat paduka yang telah menyalakan api kesadaran di jiwa kami tentang Tauhid? Bagaimana kami dapat melepaskan kerinduan kami kepada Kangjeng Syaikh?�

Abdul Jalil tertawa. Kemudian, dengan suara digetari kepahitan ia berkata, �Bukankah sudah aku katakan bahwa aku tidak ingin menjadi hijab bagi manusia dalam memuja Penciptanya? Bukankah sudah aku katakan bahwa aku hanya meninggalkan awrad rahasia yang tak boleh ditulis? Apakah itu kurang cukup? Apakah kalian masih belum paham juga dengan maksudku?�

�Kami paham maksud paduka Syaikh. Tapi, kami hanya manusia biasa yang memiliki kerinduan pada rupa dan rasa. Sedang kami paham bahwa Sang Wujud tidak bisa dirupakan dan dirasakan kecuali melalui wahana ciptaan-Nya yang maujud. Jadi, bagaimana cara kami melampiaskan kerinduan jiwa kami kepada-Nya tanpa melalui ciptaan-Nya yang kami kenal seperti Kangjeng Syaikh?�

Abdul Jalil diam. Ia tidak memberikan jawaban. Ia paham, terlalu banyak hal yang tidak dapat dijelaskan kepada pengikut-pengikutnya. Namun, ia sadar bahwa semua itu adalah kehendak Allah semata. Lantaran itu, ia memasrahkan semua urusan yang terkait dengan pengikut-pengikunya itu kepada-Nya. Beberapa jenak kemudian, ia pun berkata dengan suara tegar diliputi getar-getar keanehan.

�Jika kalian membaca Kitab Suci Al-Qur�an dan memahami Sabda Suci Ilahi di kitab tersebut sebagai rangkaian huruf Arab dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya, maka ia akan menjadi seperti pemahaman kalian. Ia akan menjadi Sabda Suci Ilahi yang dilafazkan mulut manusia. Ia hanya akan menjadi rangkaian huruf-huruf bermakna. Ia akan menjadi Kalam al-Lafzhiyyah. Tetapi, jika kalian memahami Sabda Suci Ilahi itu sebagai Firman Ilahi yang pernah terucap lewat lisan Muhammad Saw. Maka Ia akan menjadi seperti pemahaman kalian. Ia akan menjadi Sabda Ilahi yang terucap lewat lisan Yang Terpuji Saw.. Ia akan menjadi Kalam an-Nafsiyyah. Dan, jika kalian memahami bahwa Yang Terpuji Saw. adalah pancaran dari Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad), maka Sabda Suci Ilahi pun akan kalian pahami sebagai sabda-Nya. Ia akan menjadi Kalam Ilahiyyah.�

�Demikian pula dengan awrad rahasia yang telah aku tinggalkan kepada kalian sebagai warisan satu-satunya itu. Jika kalian mengamalkan awrad rahasia dengan pemahaman bahwa aku pun telah mengamalkannya maka kalian akan merasakan kehadiranku di situ. Sebab, seibarat biji nangka yang tumbuh di �tanah� bernama Abdul Jalil, demikianlah biji nangka itu akan tumbuh di jiwa mereka yang mengamalkannya. Jika kalian lewat awrad itu dapat merasakan kehadiranku maka satu saat kelak kalian akan merasakan kehadiran hadrath Abu Bakar ash-Shiddiq, yang mewariskan awrad rahasia itu kepadaku. Dan ujungnya, kalian akan merasakan kehadiran Dia yang mewariskan awrad rahasia itu kepada hadrath Abu Bakar ash-Shiddiq. Itu berarti, muara dari kerinduan kalian kepada aku adalah Yang Terpuji (Ahmad) yang merupakan pengejawantahan Yang Maha Terpuji (al-Hamid).�

�Dengan penjelasanku ini, hendaknya kalian sadar bahwa muara dari segala sesuatu yang terkait denganku adalah Dia, Yang Mahamutlak. Jika kalian menemukan manusia mengaku-aku sebagai pelanjut ajaranku tetapi muara daari pengakuannya itu terarah kepada dirinya pribadi, maka aku katakan bahwa dia adalah pendusta yang bakal menyesatkan manusia. Mulai sekarang ini hendaknya kalian ketahui bahwa siapa pun di antara manusia yang mengaku sebagai pengikut Syaikh Siti Jenar, Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Sitibrit, atau Susuhunan Binang, sesungguhnya gelar-gelar masyhur dari manusia bernama Abdul Jalil itu adalah tempelan sesaat yang menyelebungi makna terdalam dari jati diriku. Maksudnya, hendaknya kalian ketahui bahwa aku yang kalian ikuti sejatinya adalah pengikut Muhammad Saw., citra Kemuliaan dari Yang Maha Terpuji. Itu berarti, pengamal ajaranku yang paham dengan apa yang telah aku ajarkan tidak akan pernah membawa-bawa namaku. Mereka akan menisbatkan jalan ruhani (tarekat) yang diamalkannya kepada Allah semata. Demikianlah, kalian akan mendapati ajaranku dalam nama-nama yang dinisbatkan kepada-Nya, seperti Akmaliyyah (al-Kamal), Haqqmaliyyah (al-Haqq), Khaliqiyyah (al-Khaliq), Sattariyyah (as-Sattar), Kubrawiyyah (al-Kabir), Wahidiyyah (al-Wahid), dan sebagainya.�

�Kami memahami wejangan Kangjeng Syaikh. Tapi, apakah Kangjeng Syaikh akan benar-benar meninggalkan kami semua?� tanya Ki Wujil Kunting mengiba.

�Adakah Kehidupan di dunia ini yang tidak saling tinggal meninggalkan? Kenapakah engkau ini bertanya sesuatu yang menggelikan sepertinya engkau ini seorang anak kecil?�

�Kami tidak ingin berpisah dengan Kangjeng Syaikh. Kami rela berkorban nyawa asalkan kami tetap bersama-sama dengan Kangjeng Syaikh. Jika Kangjeng Syaikh kelak kembali kepada-Nya, kami ingin merawat dan menguburkan junjungan kami dengan tangan kami sendiri.�

Abdul Jalil tertawa. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, �Wujil � Wujil, bagaimana engkau bisa merawat dan mengubur jenasahku jika waktu kematianku saja engkau belum tahu? Apakah engkau yakin kalau aku mati lebih dulu daripada engkau? Sungguh aku minta, janganlah kepedihan membuat engkau melakukan hal-hal yang tidak benar. Jangan berandai-andai dengan masa depan. Sebab, apa yang aku ajarkan adalah kekinian. Kini. Masa depan adalah angan-angan. Masa lampau adalah kenang-kenangan. Semua akan bermakna jika ditarik ke masa kini.�

�Kami paham akan Kebenaran wejangan Kangjeng Syaikh. Kami mohon, sudilah Kangjeng Syaikh memberi kami wejangan terakhir sebelum kita saling berpisah. Sebab, kami menangkap sasmita yang sudah padukan sampaikan bahwa tidak lama lagi kita akan saling berpisah. Apakah yang sebaiknya kami lakukan, o Kangjeng Syaikh?� kata Ki Wujil Kunting sambil memegangi jubah Abdul Jalil.

�Ingat-ingatlah selalu bahwa dunia yang kita diami ini adalah kehinaan (danayah), rendah (daniyyun), bendawi (dunyawiyyun), dekat (adna). Kita semua di dunia ini hanya tinggal untuk sementara. Singkat. Kita semua tinggal di dunia ini sekadar menjalani �hukuman� yang diwariskan leluhur kita: Adam a.s. yang terperosok ke jurang kefanaan insani karena nafsu (hawa). Kita semua sejatinya berada di dalam kerangkeng nafsu. Tetapi, jika saatnya untuk pembebasan datang, kita semua bakal kembali kepada-Nya. Lantaran itu, tugas utama kita sebagai anak keturunan Adam adalah mencari jalan pembebasan untuk melepaskan diri dari kerangkeng nafsu. Agar kita dapat bebas dan kembali kepada-Nya sebagai manusia merdeka yang ridho dan diridhoi.�

�Hendaknya kalian camkan bahwa dengan berjuang membebaskan diri dari kerangkeng nafsu, dan jika kalian berhasil, maka kalian akan menjadi manusia baru. Laksana kupu-kupu yang terbebas dari kepompongnya, begitulah kalian akan lahir sebagai manusia baru yang disebut adimanusia: insan kamil, yakni citra wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-Ardh) sebagaimana dikehendaki-Nya. Hendaknya kalian ingat-ingat dan kalian pusakakan wejangan terakhirku ini: bahwa mereka yang disebut adimanusia bukanlah manusia raksasa yang memiliki kekuatan tubuh dan akal luar biasa, bukan pula manusia yang memiliki kemampuan menaklukkan dunia dengan kekuasaan tubuh dan akalnya itu. Sebaliknya, adimanusia adalah manusia-manusia yang sudah merdeka dari kerangkeng nafsunya dan mencapai tahap Tauhid tertinggi dalam mengenal Sang Pencipta dan mengejawantahkan citra kekhalifahan-Nya.�

�Aku pesankan dan aku wanti-wanti kepada kalian bahwa akan datang Dajjal dan bala tentaranya yang akan membalikkan kiblat penilaian umat manusia tentang adimanusia sebagaimana yang aku ajarkan. Dajjal dan balatentaranya akan menyatakan bahwa adimanusia adalah manusia yang memiliki kekuatan tubuh luar biasa akal cerdas tak tertandingi, harta benda berlimpah, pengetahuan ilmu duniawi mengagumkan, senjata-senjata pemusnah dahsyat, dan penakluk bangsa-bangsa lemah di dunia. Sungguh, aku katakan bahwa penilaian Dajjal tentang adimanusia itu adalah sesat. Sesat. Seribu kali sesat. Jika kalian mengikutinya maka kalian pun akan sesat pula.�

�Aku beri tahukan kepada kalian tentang makna adimanusia dalam pandangan Sang Pencipta melalui Sabda Suci-Nya yang termaktub dalam Kitab Suci al-Qur�an, yang jika ditafsirkan kira-kira begini maknanya:

�Ketahuilah, o manusia, di antara puak bangsa-bangsa manusia, yang paling mulia adalah manusia yang paling takwa (QS.al-Hujurat: 13). Siapakah manusia takwa itu? Dia adalah manusia yang selalu mengingat Aku, meski keteguhan jiwanya digoyahkan setan dan diperosokkan kawan-kawan dekatnya agar tersesat (QS.al-A�raf: 201 � 202). Dia hanya takut kepada Aku (QS.al-Baqarah: 41). Dia mentauhidkan Aku dan takut hanya kepada-Ku (QS.al-Nahl: 2). Dia hanya menyembah Aku dan takut hanya kepada-Ku (QS.al-A�raf: 65). Itulah adimanusia. Insan kamil. Itulah manusia-manusia unggul yang di mana pun berada selalu bersama Aku (QS.al-Baqarah: 194; at-Taubah: 123). Dia selalu berada di dalam lindungan-Ku (QS.al-Jatsiyah: 19). Dia tidak akan dihisab atas dosa-dosanya (QS.al-An�am: 69). Dia kelak akan menemui Aku (QS.al-Baqarah: 223).�

�Sekarang, jelaslah bagi kalian bahwa adimanusia yang aku maksudkan adalah manusia-manusia merdeka yang sudah berhasil membebaskan diri dari kerangkeng nafsunya. Itulah manusia-manusia yang sudah mentauhidkan Allah dalam makna yang sebenarnya. Itulah manusia-manusia unggul. Insan kamil. Manusia sempurna. Ingatkah kalian akan kisah Fir�aun, maharajadiraja Mesir yang memiliki kekuatan tubuh dan akal yang luar biasa, kekayaan tak terhitung, istana-istana megah dan mewah, bala tentara perkasa yang menakutkan, senjata-senjata pembunuh yang mematikan, kehormatan, dan kemuliaan atas bangsa-bangsa manusia? Ingatkah kalian akan Fir�aun yang disembah manusia? Meski ada yang mengatakan bahwa Fir�aun adalah adimanusia yang berkuasa di zamannya, aku katakan sebaliknya bahwa Fir�aun bukan adimanusia. Dia bukan adimanusia. Sebab, dia adalah seorang manusia yang terpenjara di dalam kerangkeng nafsunya. Jiwa Fir�aun adalah jiwa cacing yang menggeliat di dalam lumpur duniawi yang menjijikkan.�

�Sebaliknya, aku katakan kepada kalian, bahwa yang disebut adimanusia di zaman itu bukanlah Fir�aun dan bukan pula dukun-dukun sakti yang mengitarinya. Adimanusia pada zaman itu adalah Musa a.s.: laki-laki yang tidak punya rumah, tidak punya harta benda, tidak punya pangkat dan kedudukan, tidak punya tentara, tidak punya apa-apa. Manusia hanya mengenal dia sebagai salah seorang pemuka budak Bani Israil. Musa itulah adimanusia pada zamannya. Sebab, dia adalah pemuka di antara manusia-manusia merdeka yang dipilih-Nya. Musa adalah manusia yang takwa dan bertauhid kepada-Nya.�

�Ingatkah kalian akan detik-detik ketika Islam disampaikan Muhammad Saw. di jazirah Arabia? Ingatkah kalian tentang kekuasaan-kekuasaan duniawi yang mengitari jazirah Arabia saat itu? Siapakah manusia yang saat itu tidak mengenal keagungan an-Najasi Maharajadiraja Habasyah? Siapakah manusia yang tidak mengenal kebesaran Heraklius Maharajadiraja Rum? Siapakah manusia yang tidak mengenal kehebatan Chosroes II Maharajadiraja Persia? Siapakah manusia yang saat itu tidak mengenal para maharajadiraja yang kuat, cerdas, berlimpah harta benda, berkekuatan luar biasa, berpasukan mengerikan yang membawa senjata penghancur? Siapa manusia zaman itu yang tidak mengenal kehebatan mereka?�

�Tapi, aku katakan kepada kalian bahwa mereka para maharajadiraja itu bukanlah adimanusia yang aku maksudkan. Mereka hanyalah penguasa-penguasa duniawi yang terbelenggu dan terpenjara di dalam kerangkeng nafsunya. Jiwa mereka adalah jiwa hewan melata yang tak mampu melepaskan diri dari lumpur duniawi. Sedang adimanusia pada zaman itu yang aku maksudkan, tidak lain dan tidak bukan adalah Muhammad Saw.: laki-laki buta huruf dari padang pasir, tidak punya rumah, tidak punya harta benda, tidak punya pangkat dan kedudukan duniawi, tidak punya apa-apa yang bersifat duniawiyah, yang tinggal di masjid dan ketika wafat tidak meninggalkan secuil pun warisan harta. Dialah adimanusia. Insan kamil. Manusia sempurna. Manusia Yang Terpuji (Muhammad) citra pengejawantahan Yang Maha Terpuji (al-Hamid). Dialah, sang guru pengajar Tauhid, yang paling tinggi ketakwaannya di hadapan Allah. Dialah adimanusia terbesar sepanjang zaman. Dialah manusia Tauhid yang dipilih-Nya.�

�Dengan uraianku ini, jelaslah sudah bahwa sebagai manusia-manusia yang bakal menjadi adimanusia, hendaknya kalian tidak menimbun kesadaran Tauhid kalian dengan benda-benda duniawi yang menjijikkan. Kalian adalah para pejuang pembebasan yang akan menjadi orang-orang merdeka. Lantaran itu, jika ada di antara manusia ingin membangun kerajaan surga di dunia, hendaknya kalian jauhi mereka. Sebab, mereka itu sejatinya sedang membangun neraka bagi manusia dirinya dan manusia lain. Mereka sedang membangun kerangkeng-kerangkeng nafsu yang membahayakan manusia. Jika kalian dapati para pemuja duniawi sudah berkuasa dan merajalela dengan kejahatannya, hendaknya kalian hijrah! Hijrah! Hijrahlah kalian sebagaimana diteladankan Muhammad Saw.! Tinggalkan kediamanmu. Bumi Allah sangat luas. Di mana pun kalian berada dan kapan pun kalian hidup, selama kalian bertauhid kepada-Nya dan berjuang keras membebaskan diri dari kerangkeng nafsu-nafsu, maka kalian akan menjadi selamat sentosa menjadi adimanusia. Kalian akan selalu bersama-Nya.�

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers