Selasa, 21 Maret 2017

TENGARA MURKA TUHAN

Tengara Murka Tuhan

    Suatu siang, ketika Abdul Jalil mengajak Raden Sahid pergi ke pelabuhan, tanpa tersangka-sangka mereka berpapasan dengan serombongan orang di depat kantor syahbandar. Mereka tampaknya akan ke kutaraja. Abdul Jalil berhenti mendadak. Kemudian dengan suara lirih tetapi agak ditekan, ia berkata kepada Raden Sahid. �Kalau tidak keliru, itu seperti rombongan orang-orang dari Surabaya.�

Raden Sahid menghentikan langkah dan melihat iring-iringan orang di depannya. Dilihat dari penampilan, pakaian, payung, dan lambang-lambang yang dibawa, rombongan itu tampaknya memang berasal dari Surabaya. Orang yang diusung di atas tandu, yang belakangan diketahui sebagai Pangeran Arya Kediri, adalah putera ketiga Raden Kusen Adipati Surabaya. Pangeran Arya Kediri selama itu dikenal sebagai anak muda gagah berani. Ia dipercaya ayahandanya mengepalai pasukan pengalasan Surabaya. Ia selalu berjaya dalam berbagai pertempuran. Lantaran kemenangan-kemenangan yang selalu diraihnya itulah, orang kemudian menyebutnya dengan gelar terhormat: Pangeran Tundhung Musuh.

Pangeran Arya Kediri datang ke Malaka didampingi Raden Muhammad Yusuf, putera Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu. Mereka berdua dikenal sebagai sahabat dekat. Melalui Raden Muhammad Yusuf yang memiliki keluarga terpandang di Malaka, Pangeran Arya Kediri menancapkan kekuatan untuk melindungi saudagar-saudagar asal Surabaya yang berniaga di Malaka. Dalam suatu perbincangan singkat dengan Pangeran Arya Kediri dan Raden Muhammad Yusuf, Abdul Jalil mengetahui jika salah satu alasan kehadiran putera Raden Kusen itu ke Malaka adalah untuk berdagang senjata. Rupanya, melalui bantuan Raden Muhammad Yusuf dan keluarganya, Pangeran Arya Kediri dapat membangun kekuatan dan sekaligus mengembangkan kantor perwakilan dagang di Malaka, terutama pemasaran bedil besar (meriam) buatan Sapanjang dan Jepara. Selain bedil besar, dijual juga mesiu buatan Palembang dan Samarang.

Menurut Pangeran Arya Kediri dan Raden Muhammad Yusuf, dalam hal mutu, bedil besar buatan Sapanjang dan Jepara tidak kalah dibanding meriam-meriam terbaik buatan Kerala dan Turki. Dalam tiga empat kali uji coba mutu senjata, aku Pangeran Arya Kediri, pihaknya sudah mendapat pesanan dari Sultan Malaka, Sultan Brunei, dan Sultan Sulu. �Sultan Malaka Mahmud Syah memesan seratus bedil besar dari bahan kuningan dan tujuh puluh bedil besar dari bahan besi. Sultan Brunei Nakhoda Ragam Bolkiah memesan lima puluh bedil besar dari bahan besi. Sedang Sultan Sulu Kamaluddin Hasyim Abu Bakar memesan empat puluh bedil besar dari besi.�

�Malam nanti kami akan bertemu dengan Hiyoshi, saudagar asal Hakata dari negeri Jepun. Orang-orang Jepun kelihatannya sangat tertarik dengan bedil besar dan bedil,� kata Pangeran Arya Kediri bangga.

�Bedil besar itu dibuat di Sapanjang? Maksudnya, Sapanjang di selatan Surabaya?� gumam Abdul Jalil sambil mengerutkan kening seolah belum percaya.

�Pengecoran di Terung sudah ditutup. Sebagai pengganti, dibikin pengecoran baru di Sapanjang. Yang mengepalai pengecoran adalah Raden Mahmud Pangeran Sapanjang, putera Susuhunan Rahmatullah.�

�Apakah di Sapanjang dan Jepara orang-orang sudah bisa membuat bedil?� tanya Abdul Jalil.

�Orang-orang kami belum mampu membuat bedil yang bagus. Dalam beberapa kali uji coba, laras bedil yang dibuat orang-orang kita selalu pecah setelah dipakai menembak dua tiga kali. Jadi, untuk bedil kita masih membelinya dari saudagar-saudagar Kerala dan Bengali. Tetapi, kami menawarkan bedil-bedil itu kepada siapa saja yang berminat, termasuk kepada orang-orang Jepun,� kata Pangeran Arya Kediri.

Abdul Jalil mengangguk-angguk sambil menarik napas berat. Penjelasan Pangeran Arya Kediri tentang meningkatnya perniagaan bedil besar buatan Jawa telah semakin menyadarkannya bahwa tengara kerusakan dahsyat yang bakal ditimbulkan oleh senjata penyembur api itu makin mendekati kenyataan. Ia sadar bahwa sebuah perubahan besar akibat hadirnya Ya�juj wa Ma�juj, cambuk api yang bakal digunakan Allah untuk menghajar bumi dan penghuninya, semakin dekat waktunya. Itu berarti, ujian bagi manusia beriman yang teraduk-aduk bersama azab bagi manusia yang lalai semakin dekat menghampiri dunia.

Ketika Abdul Jalil tengah merenungkan keterkaitan antara azab Allah dan maraknya perdagangan senjata penyembur api, ia dikejutkan oleh pekikan Raden Sahid. Ia menoleh dan mendapati Raden Sahid berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi. Menangkap gelagat kurang baik, Abdul Jalil bertanya tentang apa yang sedang dialami bakal menantunya itu. Dengan bibir gemetar dan terbata-bata Raden Sahid berkata, �Kami menyaksikan orang-orang di depan itu memiliki ekor.�

Abdul Jalil tertawa, lalu sambil menepuk bahu Raden Sahid ia berbisik, �Bersyukurlah, engkau telah dianugerahi pengetahuan gaib untuk mengetahui keberadaan manusia berekor. Bersyukurlah!�

�Kenapa mereka diberi perlambang memiliki ekor?� tanya Raden Sahid heran.

�Bukankah engkau sudah menyaksikan tujuh cahaya pada tubuh manusia?� bisik Abdul Jalil. �Yang engkau saksikan itu adalah orang-orang yang hidupnya digerakkan oleh cahaya yang memanjang di ujung tulang ekornya. Itulah tanda manusia yang hidupnya terbimbing nafsu rendah hewani.�

Raden Sahid mengangguk paham. Tetapi, bagi Abdul Jalil, anggukan Raden Sahid itu justru makin menguatkan sasmita yang ditangkapnya sehubungan dengan bakal menggeletarnya cambuk Tuhan atas Malaka. Ya, Malaka. Malaka lambang kemakmuran bumi yang menebarkan suasana pengab, tengik, busuk, dan menyesakkan jiwa dengan nilai-nilai kebenaran yang jungkir balik, pancaran gemilang kelezatan duniawi yang menyilapkan banyak manusia dari mengingat Tuhan. Tampaknya, Malaka sedang menunggu giliran dihajar oleh lecutan cambuk api yang menggeletar di tengah gemuruh murka Ilahi.

Tengara bakal dilecutnya Malaka oleh cambuk api murka Ilahi makin kuat ditangkap getarannya oleh Abdul Jalil manakala ia diajak oleh Pangeran Arya Kediri ke sebuah tempat pelatihan militer di selatan kutaraja. Tempat itu berupa alun-alun yang luas dikitari barak prajurit, gudang perbekalan, gudang senjata, istal, dan kandan gajah. Di bagian tengah alun-alun terlihat barang sepuluh orang-orangan dari jerami yang dipancang pada kayu, sebagai sasaran bidikan bedil dan anak panah. Sejumlah prajurit yang berdiri berjajar terlihat membawa bedil di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Asap tipis masih mengepul dari moncong bedil ketika mereka dengan teriakan keras melompat ke arah orang-orangan jerami sambil mengayunkan pedang.

Sebagian dari prajurit yang tinggal di barak-barak itu berasal dari Jawa. Mereka dibayar oleh sultan sebagai tentara sewaan dengan upah tinggi. �Kebanyakan mereka berasal dari Surabaya, Siddhayu, Gresik, Terung, dan Demak. Mereka sangat berani dan terampil menggunakan berbagai jenis senjata,� ujar Pangeran Arya Kediri bangga.

Abdul Jalil hanya manggut-manggut mendengarnya. Setelah diam sejurus, ia bertanya, �Kenapa sultan menyewa prajurit dari Jawa? Apakah penduduk Malaka enggan menjadi prajurit?�

�Sepengetahuan kami, sultan memperkuat diri dengan prajurit-prajurit sewaan dari Jawa lebih disebabkan oleh kepentingan mengimbangi kekuatan Bendahara Raja Tun Mutahir yang didukung orang-orang Keling. Bahkan, belakangan Tun Mutahir didukung pula oleh pengungsi-pengungsi asal Kerala. Sultan merasa Tun Mutahir telah bertindak terlalu jauh merongrong kekuasaannya sehingga keberadaan sultan tak lebih dari boneka tak berdaya. Sultan yang merasa berdarah Majapahit itu ingin menunjukkan kekuatannya dengan mendatangkan prajurit-prajurit unggul dari Jawa.�

Abdul Jalil diam. Dalam diam ia menangkap sasmita betapa rapuhnya usaha Sultan Malaka dalam memperkuat pertahanan diri. Jika sultan merasa kuat dengan dukungan pasukan sewaan yang besar jumlahnya maka sejatinya sultan seperti sedang membangun benteng dari jaring laba-laba yang rapuh dan mudah hancur. Sebab, seberapa kuatkah kesetiaan prajurit sewaan? Bukankah mereka setiap waktu bisa mengalihkan pengabdian kepada tuan yang membayar sewa lebih mahal?

Pada awal abad ke � 16, di mana-mana tempat yang dihuni penduduk muslim, tak terkecuali Malaka, sedang berlangsung pertarungan sengit antara pengikut Syi�ah dan Sunni. Akal sehat dan persaudaraan kaum muslim (ukhuwah Islamiyyah) sepertinya telah tersapu dari permukaan bumi dan tenggelam ke dalam lautan kebencian tak bertepi. Matahari Kebenaran makin lama makin jauh bersembunyi di balik bukit-bukit permusuhan yang dikobari api amarah dan dialiri sungai darah. Fitrah manusia sebagai citra ar-Rahman (shurah ar-Rahman) telah menjelma dalam bentuk kawanan setan bertubuh api yang ganas dan haus darah. Saat itu Sang Maut seolah-olah memanjangkan bayangan-Nya dan menjulurkan cakar-Nya sampai ke bagian tergelap dari relung-relung terdalam jiwa manusia.

Di tengah bayangan kelam Sang Maut yang mengintai di balik cakrawala Kehidupan, di tengah permusuhan orang-orang Syi�ah dan Sunni, Abdul Jalil dengan didampingi istri, anak, dan Raden Sahid terlihat berjalan menelusuri lorong-lorong sempit di bandar Malaka yang diapit bangunan-bangunan di kedua sisinya. Beberapa saat lalu ia baru saja bertemu dan singgah sejenak di rumah Khoja Hasib al-Tughyan, seorang kenalan lamanya, yang terletak di tepi utara sungai Malaka. Ia tidak menyangka Khoja masih tetap sebagai Hasyib al-Tughyan yang pernah dikenalnya barang tiga dasawarsa silam; seorang anak muda yang secara ajaib tidak pernah terpengaruh putaran roda waktu. Wajahnya, matanya, bibirnya, hidungnya, kulitnya, rambutnya, dan bahkan bentuk tubuhnya tetap tidak berubah barang secuil pun. Khoja tetap seorang pemuda yang sepertinya tidak pernah tua apalagi sampai kulitnya keriput dan punggungnya bongkok lalu tumbang ke bumi.

Tidak berbeda dengan penampilannya yang tidak pernah berubah tua, Khoja juga tidak berubah dalam sikap dan perbuatan. Dia selalu bersikap tegas, jujur, polos, suka berterus terang, dan yang menakjubkan, ingatannya sangat kuat sehingga sekecil apa pun peristiwa yang diketahuinya tidak akan pernah dilupakannya. Melalui dia, Abdul Jalil mendapat cerita singkat tentang Syaikh Abul Mahjuubin dan ketiga orang anaknya; Abul Maisir sang penjudi, Abul Khamrun sang pemabuk, dan Abul Kadzib sang penipu. Dengan suara gemerisik bagaikan daun-daun kering diembus angin, Khoja bertutur.

�Manusia dekil yang kita kenal sebagai Syaikh Abul Mahjuubin ternyata hidup tidak lama setelah engkau pergi meninggalkan Malaka, o Sahabat. Rupanya, dia yang hidup dari mengisap darah manusia, di dalam tubuhnya bersarang kawanan hewan pengisap darah: lintah. Itu sebabnya, berapa banyak pun darah yang dia isap selalu tidak cukup memuaskan kawanan lintah yang menghirup setiap tetes darah yang mengalir di tubuhnya. Bahkan, semakin banyak darah yang diisapnya, semakin rakus lintah-lintah itu mengganas dan mengisap darah yang mengalir di tubuhnya. Ketika darah yang diisapnya diperebutkan oleh ketiga orang anaknya, sehingga pasokan darah di tubuhnya berkurang, lintah-lintah ganas itu dengan rakus mengisap semua cairan dan menggeragoti organ-organ tubuhnya hingga ke tulang dan sumsum. Dan, saat Sang Maut menghantamkan sayap Kematian ke hulu tenggorokannya, tubuh celaka makhluk dekil pengisap darah itu sudah tinggal tulang terbalut kulit. Dengan mata terbelalak dan wajah pucat pasi ia meregang nyawa karena sebelumnya ia tidak pernah menduga jika nyawanya bakal dicabut secepat itu.�

�Pembohong seperti Syaikh Abul Mahjuubin memang harus hidup dilingkari kebohongan demi kebohongan sehingga pada saat mati pun ia masih juga diliputi kebohongan. Para murid dan keluarga yang menunggui Syaikh Abul Mahjuubin saat menjelang sakaratul maut, dengan kelincahan lidahnya memberikan kesaksian palsu bahwa mereka telah menyaksikan gurunya mati dengan tersenyum sambil mengucap kalimat: la ilaha illa Allah! Padahal, saat itu malaikat, jin, setan, cicak, nyamuk, semut, dan aku yang berada di sana mempersaksikan bahwa Abul Mahjuubin mati secara su�ul khatimah, karena mengumpati Tuhan yang dianggapnya telah menyiksanya dengan penyakit yang tak kunjung sembuh.�

�Aku malah menyaksikan, bagaimana tidak lama setelah mayat manusia lintah itu dikubur, ketiga orang anaknya merancang kebohongan dengan membuat surat warisan palsu yang terkait dengan pembagian harta peninggalan ayahanda mereka. Mereka tanpa malu sedikit pun saling bertengkar, merebut warisan. Mereka mengeluarkan banyak uang untuk menyuap hakim dan saksi palsu. Mereka menyuap pejabat-pejabat korup agar berkenan membela mereka masing-masing. Walhasil, tidak sampai tiga bulan seluruh kekayaan yang sudah dikumpulkan dengan penuh kecurangan oleh Syaikh Abul Mahjuubin selama bertahun-tahun itu lenyap seperti tersapu angin prahara. Demikianlah, pada bulan keempat setelah kematian Syaikh Abul Mahjuubin, orang melihat Abul Maisir dan Abul Khamrun hidup menggelandang di pasar-pasar sebagai orang setengah waras. Sedang Abul Kadzib, anak bungsunya, diketahui orang keluar masuk gedung pengadilan dan dijatuhi hukuman dera berulang-ulang akibat tidak bisa meninggalkan kebiasaannya menipu.�

�Sungguh menyedihkan akhir cerita manusia pecinta duniawi seperti Syaikh Abul Mahjuubin dan putera-puteranya,� gumam Abdul Jalil menarik napas panjang.

�Mudah-mudahan kita tidak digolongkan-Nya sebagai kawanan manusia tengik seperti mereka.�

Ketika Abdul Jalil dan Khoja sedang memperbincangkan kehadiran orang-orang Kerala pendukung Tun Mutahir, muncul Thalib al-Akhbar, saudara sepupu Khoja, membawa kabar mengejutkan: barang lima hari lalu Laksamana Kunjali Marakkar, panglima angkatan laut Kozhikode, dengan kekuatan 280 buah kapal perang dan pasukan berjumlah 50.000 orang menggempur bandar Cochazhi (Cochin). Raja Cochazhi dan orang-orang Portugis sekutunya yang tak menduga bakal mendapat serangan mendadak itu terkejut bukan alang kepalang. Francisco d�Albuquerque sampai serak suaranya berteriak-teriak memimpin gerak mundur pasukannya yang hanya seratus orang itu dari Cochazhi. Duarte Pacheco Pereira yang mendampingi raja Cochazhi tidak dapat berbuat sesuatu kecuali menyarankan agar sang raja yang dikawal delapan ratus orang serdadu sewaan dan pengawal-pengawalnya itu untuk menyingkir dari kota. Setelah berhasil menguasai bandar, ungkap Thalib al-Akhbar, para prajurit dan pejuang Kozhikode beramai-ramai menghancurkan kantor persekutuan dagang (feitoria) Portugis � Cochazhi beserta gudang-gudangnya.

Setelah menyingkir dari bandar, Portugis dan raja Cochazhi membawa sisa-sisa pasukannya ke pulau Vypin. Portugis kemudian melanjutkan pembangunan benteng kayu di pulau itu untuk menahan serbuan yang dilakukan prajurit dan pejuang-pejuang Kozhikode. Portugis menamai benteng kayu itu dengan sebutan Castelo de Cima. Di benteng itulah, menurut kabar, Portugis dan raja Cochazhi melakukan perlawanan dengan taktik dan strategi perang Eropa yang sangat berbeda dengan yang diterapkan Laksamana Kunjali Marakkar.

Kabar serbuan Laksamana Kunjali Marakkar ke Cochazhi yang membuat Portugis dan sekutunya tunggang-langgang, ternyata dengan cepat menyebar ke bandar-bandar perniagaan di selatan, termasuk Malaka. Hal itu diketahui Abdul Jalil ketika ia berbincang-bincang dengan Syaikh Dara Putih, adik lain ibu Syaikh Jumad al-Kubra, dan Datuk Musa, saudara sepupunya, di rumahnya yang terletak di kampung Pulau Upih. Anehnya, orang-orang Malaka kelihatan tidak sedikit pun menganggap serius kabar pertempuran Laksamana Kunjali Marakkar dengan Portugis itu. Mereka seolah-olah menganggap peristiwa itu sebagai sesuatu yang biasa, sebagaimana layaknya peristiwa perselisihan antarsaudagar atau antarpenguasa bandar. Mereka justru jauh lebih menganggap serius perselisihan antara pengikut Sunni dan Syi�ah.

Sekalipun dalam memperbincangkan berbagai masalah terkait nasib umat Islam yang semrawut itu Abdul Jalil dinilai memiliki pandangan berbeda dalam menyikapinya, baik Datuk Musa, Syaikh Dara Putih, dan Raden Sahid sama-sama sepakat dengan kesimpulan Abdul Jalil bahwa bertubi-tubinya masalah rumit yang dihadapi umat Islam belakangan ini bukanlah suatu peristiwa kebetulan. Mereka sepakat, keberadaan umat Islam yang belakangan ini dijungkirbalikkan dalam berbagai peristiwa pedih laksana tanah sawah dijungkir balik bajak adalah sebuah pertanda bahwa Sang Pencipta sedang menyiapkan suatu rencana bagi umat-Nya. Khusus tentang pertarungan antara pengikut Syi�ah dan Sunni, mereka melihat adanya suatu keanehan. Pemuka-pemuka Syi�ah maupun Sunni yang bertempur ternyata sama-sama mengaku sebagai golongan Alawiyyin, keturunan Imam Ali bin Abi Thalib, yang bertuhankan Allah, berkitab suci Al-Qur�an, bernabi Muhammad Saw, berkiblat Ka�bah sehingga tidak jelas siapa sesungguhnya yang benar dan siapa yang berbohong dalam pengakuan-pengakuan sepihak di tengah pertikaian itu.

Selama memperbincangkan masalah perseteruan Syi�ah dan Sunni, Abdul Jalil diam-diam menangkap kenyataan tentang kerasnya sikap Syaikh Dara Putih terhadap mereka yang dianggap memihak dan mendukung Syah Ismail. Meski Syaikh Dara Putih menyatakan tidak memihak salah satu pihak yang berseteru, kenyataan menunjuk bahwa dia tidak segan membuat fatwa untuk menghalalkan darah siapa pun di antara manusia yang terbukti mendukung Syah Ismail. Kerasnya sikap Syaikh Dara Putih itu, menurut hemat Abdul Jalil, kemungkinan bersumber dari kemarahan tak terkendali adik Syaikh Jumad al-Kubra itu ketika mendengar cerita tentang tindakan-tindakan brutal Syah Ismail dalam menghancurkan tarekat-tarekat di bumi Persia. Sebab, dengan penghancuran tarekat-tarekat itu, garis silsilah nasab para Alawiyyin � Syaikh Dara Putih termasuk di dalamnya � menjadi kacau dan bahkan terputus sehingga keabsahan silsilah mereka sewaktu-waktu layak diragukan.

Menghadapi guru tarekat yang masih dijerat oleh keberpihakan dan pamrih seperti Syaikh Dara Putih, Abdul Jalil tentu saja tidak mau mengimbangi. Sebaliknya, ia berusaha mengalihkan alur pembicaraan dengan membahas masalah kemerosotan akhlak dan jungkir baliknya nilai-nilai yang sedang berlangsung di Malaka, dengan terlebih dulu mengungkap latar di balik peperangan Kozhikode di satu pihak dengan Portugis dan penguasa Cochazhi di pihak lain. Sebagaimana pandangannya yang selalu berpusat pada Tauhid, Abdul Jalil menyimpulkan bahwa pertumpahan darah yang menimbulkan korban jiwa di Kozhikode, Cochazhi, Perlak, Pasai, dan Malaka belakangan ini pada hakikatnya adalah rangkaian panjang dari lecutan demi lecutan cambuk Allah untuk mengingatkan umat-Nya yang sedang berada di jalan kefasikan.

Setelah menguraikan berbagai hal terkait nasib pedih yang dialami kaum muslimin di Kozhikode, yang kemungkinan akan mengalami kekalahan dalam pertempuran lanjutan, Abdul Jalil tanpa terduga menyarankan agar Datuk Musa, sepupunya, melakukan hijrah, membawa keluarganya meninggalkan Malaka ke daerah pedalaman. Alasan Abdul Jalil sederhana, yakni pusaran kehidupan di Malaka sesungguhnya telah diluapi genangan arus sungai kehidupan yang dibanjiri air bah kebendaan. Keadaan itu, menurutnya, cepat atau lambat akan mendatangkan murka Allah sebagaimana telah terjadi pada umat-umat terdahulu.

�Tumpahnya darah muslim di suatu tempat, apa pun alasannya, menurut hematku, mesti memiliki hubungan tali-temali dengan lecutan cambuk Tuhan. Peristiwa berdarah di Kozhikode dan Cochazhi. Peristiwa berdarah di Perlak, Pasai dan Malaka, meski dengan latar berbeda, pada dasarnya satu juga pangkalnya, yaitu peringatan Tuhan. Jika kita masih tidak sadar juga dengan peringatan-Nya itu maka lecutan cambuk Tuhan berikutnya akan menggeletar lebih dahsyat dengan rasa sakit yang tak tertanggungkan,� ujar Abdul Jalil.

�Bagaimana engkau, o Saudaraku, bisa menilai kalau Malaka bakal dilecut cambuk Tuhan seperti Kozhikode dan Cochazhi?� tanya Datuk Masa seperti belum memahami sepenuhnya makna di balik ucapan Abdul Jalil.

Abdul Jalil terdiam. Sejenak kemudian dengan suara lain ia berkata, �Selama menjejakkan kaki untuk kali kedua di Malaka, aku telah melihat genangan lumpur kemerosotan akhlak yang diakibatkan oleh meluapnya sungai kehidupan duniawi yang dibanjiri air bah kebendaan. Di hampir setiap penjuru kota aku melihat manusia-manusia malang bertubuh kurus meringkuk tak berdaya di tengah genangan lumpur. Mereka tidak bisa bergerak bebas karena sekujur tubuhnya dililit ular beludak utang yang beranak-pinak tak terhitung jumlahnya. Sungguh, telah aku saksikan kawanan ular riba beriap-riap masuk ke rumah penduduk dan mematuk para penghuninya dengan racunnya yang mematikan.�

�Renungkan, o Saudaraku, jika sebuah kota sudah padat dihuni ular riba beracun ganas, maka seluruh penduduk yang menghuni kota itu lambat laun akan terkena pula racun yang mematikan. Penduduk yang terkena racun berbisa dari gigi-geligi ular riba itu pasti akan limbung dan terhuyung-huyung kebingungan. Kenapa mereka limbung dan terhuyung-huyung kebingungan? Sesungguhnya, mereka saat itu berada di antara kesadaran ular dan kesadaran manusia. Kesadaran mereka terombang-ambing di antara dua dunia yang berbeda, yaitu dunia manusia dan dunia hewan melata. Mereka itulah yang disebut makhluk siluman: hewan bukan manusia pun bukan. Makin banyak manusia yang terkena racun riba akan semakin banyak manusia yang menjadi siluman. Sebagaimana kisah umat di masa silam yang terombang ambing di antara alam manusia dan alam hewan, murka Tuhan akan menghambur dari segenap penjuru. Lecutan cambuk Tuhan akan menggeletar di mana-mana untuk memisahkan kembali batas-batas wilayah kesadaran manusia dan hewan. Demikianlah, penduduk negeri yang hidup berdampingan dengan kawanan ular riba sehingga menjelma menjadi siluman, pasti akan merasakan lecutan cambuk Tuhan yang pedih.�

�Apakah hanya karena riba yang merajalela di negeri ini sudah bisa menjadi penyebab penduduknya dilecut oleh cambuk Tuhan? Tidakkah penduduk Malaka yang lain masih cukup banyak yang baik? Tidakkah saudaraku melihat orang-orang yang menjalankan shalat jama�ah di masjid-masjid?� tanya Datuk Musa.

Abdul Jalil tercenung sesaat. Setelah itu, ia berkata seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, �Jika hukum di sebuah negeri telah disulap menjadi barang dagangan semurah kue-kue di pasar maka akan turunlah murka Allah. Dia mengirim para perampok, penggarong, pencuri, penyiksa, dan pembunuh yang ganas di tengah penduduk. Kawanan makhluk jahat itulah pengejawantan cambuk Tuhan yang menghukum penduduk negeri celaka itu. Jika ada yang bertanya kenapa Tuhan murka ketika hukum diperdagangkan di suatu negeri? Aku katakan, Tuhan murka karena di balik keberadaan sebuah hukum, sejatinya tersembunyi Kehadiran Ilahi (Hadrah al-Ilahiyyah) yang meliputi Asma�, Af�al, dan Shifat-Nya, yaitu Kebenaran pancaran al-Haqq, Kelurusan pancaran al-Hadi, Penghisaban pancaran al-Hasib, Penghukuman pancaran al-Hakam, Pengayoman pancaran al-Waly, Pembalasan pancaran al-Muntaqim, Keseimbangan pancaran al-Muqsith, Kebijaksanaan pancaran al-Hakim, dan Keadilan pancaran al-�Adl.�

�Sungguh celaka para hakim yang menggunakan nama Ilahi, al-Hakim, untuk menista hukum dan keadilan demi kepentingan diri pribadi. Sungguh celaka seribu kali celaka penjahat-penjahat tengik yang menjual murah al-Hakim dan al-�Adl demi pengumbaran nafsu rendahnya. Sungguh celaka mereka. Mereka tidak saja menghianati al-Hakim, tetapi juga al-�Adl, al-Hakam, al-Haqq, al-Hadi, al-Hasib, al-Waly, al-Muntaqim, al-Muqsith. Mereka telah memerosokkan diri ke dalam lingkaran murka-Nya yang akan membenamkan mereka ke dalam lumpur kehidupan benda-benda yang busuk beracun. Mereka akan menjelma menjadi kaum penyekutu Tuhan (qaum al-musyrikin); kaum pemuja benda-benda yang melampaui batas (thaghut); kaum musyrikin yang paling dikutuk Tuhan. Sesungguhnya, mereka telah membenamkan diri mereka sendiri ke dalam genangan lumpur nafsu kebendaan sehingga mata hati mereka buta (ummi), telinga jiwa mereka tuli (shamam), dan suara kebenaran ruhnya bisu (bakam). Mereka itulah kawanan makhluk terkutuk karena kesadaran jiwa mereka sudah tertutup oleh benda-benda, seibarat besi-besi, seibarat besi-besi rongsokan ditutupi karat tebal.�

�Aku katakan: celaka! Seribu kali celaka manusia yang telah merendahkan dan menista makna hakiki Kebenaran pancaran al-Haqq, Kelurusan pancaran al-Hadi, Penghukuman pancaran al-Hakam, Keadilan pancaran al-�Adl, dan Kebijaksanaan pancaran al-Hakim untuk menjadi sekadar uang recehan (al-fakkah al-nuqud). Sebab, mereka dengan kesadaran kaum penyekutu Tuhan yang jahil telah mengkhianati dan menista Asma�, Af�al, dan Shifat Ilahi. Mereka dengan kejahilannya telah membuka (fakka) kecaman (naqada) atas diri sendiri dan keluarganya, yaitu kejahilan yang bakal mengangakan paruh burung (manaqid) neraka di mana mereka akan dijadikan santapan utamanya. Akankah Allah sebagai Rabb dari Semua Rabb (Rabb al-Arbab) membiarkan para pengkhianat yang menista Asma�, Af�al, dan Shifat-Nya itu bergembira ria menikmati hasil pengkhianatannya?�

�Tidakkah engkau saksikan dengan mata indriawi dan mata batin, o manusia, bagaimana para pejabat di negeri ini telah mengaku-akku sebagai hamba setia pentadbiran Kerajaan(hukumah malakiyyah), padahal mereka itu sejatinya adalah hamba thaghut? Tidakkah engkau saksikan sikap dan perilaku para pembantu sultan yang jauh dari adab orang beriman? Tidakkah engkau ketahui bahwa para hamba pentadbiran kerajaan itu telah menjadi penyeleweng nista yang menjijikkan? Sungguh, telah aku saksikan dengan mata indriawi dan mata batin bagaimana mereka yang menduduki jabatan Bendahara Raja, Wazir, Qadi, Temenggung, Laksamana, Menteri-hulubalang, Syahbandar, Penghulu Balai, Penghulu Bendahari Yang di dalam, Penghulu Bendahari Yang di luar, Penghulu Istana, Penghulu Jenang, hingga pegawai rendahan di kerajaan ini telah memanfaatkan kekuasaan yang mereka miliki untuk memenuhi kehendak nafsunya.�

�Sementara itu, telah aku saksikan pula bagaimana para ulama wakil al-�Alim di muka bumi (khalifah al-�Alim fi al-ardh) di negeri ini banyak yang telah menjadi pengabdi setia penguasa baik sultan maupun bendahara raja. Mereka tidak melakukan tugas dan kewajibannya sebagai penyebar ilmu, penyampai kebenaran, penegak akhlak, penunjuk bagi yang sesat jalan, sumber fatwa, dan sosok panutan yang jadi keteladanan umat. Mereka justru banyak yang berlaku zalim, dengan imbalan murah mereka telah memutarbalik ayat-ayat Allah untuk mengabsahkan �pembenaran� terhadap kebijakan penguasa. Mereka sibuk menumpuk kekayaan dan mengibarkan panji-panji kemasyhuran pribadi. Mereka membangun dinding-dinding kemunafikan untuk melindungi kepentingan pribadinya. Dan dari dalam dinding-dinding kemunafikannya itu mereka diam-diam sering membidikkan panah-panah fitnah beracun terhadap ulama lain yang berbeda kepentingan.�

�Sungguh, mereka semua telah bersekongkol dalam kejahatan menjijikkan. Mereka telah menjadi pengkhianat citra Ilahi yang tersembunyi di balik Asma�, Shifat, danAf�al Zat Yang Maha Merajai (al-Malik al-Mulki) dan Maha Mengetahui (al-�Alim) segala sesuatu. Seluruh penduduk negeri pun sudah mafhum bahwa nilai kebenaran, kekuasaan, kesetiaan, kehormatan, dan kemuliaan di negeri ini ditentukan oleh kepintaran menjilat dan menyuap. Jika ada di antara penduduk yang berkata bahwa dia masih melihat orang-orang bersembahyang di masjid-masjid, maka aku katakan bahwa bagi mereka yang memiliki mata batin akan menyaksikan betapa sebagian besar di antara mereka yang bersembahyang itu sejatinya tanpa membawa iman. Betapa banyak di antara mereka seusai sembahyang menjadi perampok, penggarong, pencuri, perampas, penyiksa, dan pembunuh. Betapa banyak di antara orang-orang yang bersembahyang itu lebih cocok disebut kaum beragama yang tidak beriman. Akankah Tuhan tidak mengetahui kemunafikan makhluk-makhluk terkutuk itu? Akankah Tuhan membiarkan makhluk-makhluk terkutuk itu mengkhianati dan menista citra keagungan Asma�, Af�al, dan Shifat-Nya?�

�Sesungguhnya para pengkhianat Tuhan itu sama bejatnya dengan pelacur, tetapi kedudukan mereka jauh lebih rendah dan nista. Kenapa aku katakan para hakim pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati al-Hakim, al-Hakam, al-�Adl, al-Haqq, al-Hadi, al-Hasib, al-Waly, al-Malik al-Mulki, al-�Alim, dan al-Karim itu lebih rendah dan lebih nista dibanding pelacur? Sebab, pelacur adalah manusia-manusia yang mengkhianati citra ar-rahim, yang diambil dari nama-Nya, yaitu ar-Rahim (hadits Qudsy: ar-rahim syaqaqtu laha asma�an min ismi). Para pelacur telah berkhianat karena memperdagangkan citra ar-Rahim dengan harga murah. Tetapi aku katakan, kedudukan para pelacur jauh lebih tinggi dibanding hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi yang mereka wakili.�

�Jika engkau bertanya kenapa aku menempatkan kedudukan pelacur lebih tinggi dibanding hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi? Maka aku katakan, kedudukan pelacur memang lebih tinggi daripada mereka. Sebab di mana pun pelacur-pelacur berada, mereka selalu sadar akan kedudukannya yang rendah dan nista di mata manusia dan dalam pandangan Tuhan. Pelacur-pelacur selalu sadar bahwa mereka adalah orang kotor yang berlumur dosa. Tetapi para hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi justru menganggap diri mereka mulia dan terhormat di hadapan manusia dan Tuhan. Sungguh muak aku melihat mereka. Muak. Muak. Seribu kali muak. Lantaran itu, jika hukuman Allah untuk para penzina yang menista citra ar-Rahim adalah rajam maka hukuman apakah yang paling layak untuk hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Tuhannya? Salahkah aku jika mengatakan bahwa negeri Malaka yang penuh diliputi kebusukan oleh tindakan penduduknya itu sejatinya sedang terancam lecutan cambuk Tuhan yang tak terbayangkan pedihnya?�

�Aku paham tentang apa yang engkau ucapkan, o Saudaraku,� kata Datuk Musa. �Tetapi, apa yang akan aku lakukan di pedalaman? Bukankah aku ini seorang saudagar, bukan guru agama yang zuhud?�

�Aku tidak menyarankan engkau hijrah dari bandar Malaka untuk menjadi pertapa. Aku juga tidak menyarankan engkau tinggal sangat jauh dari Malaka. Aku hanya menyarankan engkau berhijrah dengan keluargamu dari bandar Malaka dengan tujuan utama menghindari kuatnya pengaruh kebendaan dan sekaligus membangun benteng Tauhid baru di pedalaman. Aku tahu, ini sangat berat bagi saudagar besar sepertimu yang selama ini terseret pusaran benda-benda dan uang dengan hitungan untung dan rugi. Tetapi, aku yakin engkau akan mampu menjadi guru agama penegak Tauhid,� kata Abdul Jalil.

�Terus terang, itu yang aku susah laksanakan,� Datuk Musa menarik napas berat. �Sebagaimana engkau tahu, sejak muda aku sudah bergelut dengan dunia perniagaan. Bagaimana mungkin aku menjadi guru agama? Bagaimana mungkin aku yang terbiasa di kota besar harus tinggal di pedalaman yang sepi? Di samping itu, bekal apa yang aku punyai untuk menjadi guru agama?�

�Tidakkah engkau sudah paham dengan kehidupan Rasulullah Saw.? bukankah dia awalnya juga seorang saudagar? Jika Rasulullah Saw. yang dikenal sebagai saudagar bisa menjadi pengajar Tauhid termasyhur sepanjang zaman, apakah suatu hal mustahil jika engkau sebagai keturunannya mengikuti jejaknya? Bukankah dia tidak pernah memiliki pengalaman menjadi guru agama?� kata Abdul Jalil.

�Rasulullah Saw. memang sudah dipilih Allah untuk menjalankan risalah-Nya. Tapi aku? Siapakah aku ini? Bisa apa akku dalam hal agama?� Datuk Musa berkelit.

�Rasulullah Saw. adalah seorang ummi, yang tidak bisa membaca dan menulis. Dia tidak pernah belajar pengetahuan agama dari siapa pun. Dia tidak pernah kenal agama-agama besar. Bahkan saat pertama kali bertemu Jibril a.s., dia tidak mengetahui jika Jibril adalah malaikat utusan Allah. Dia benar-benar tidak memiliki pengetahuan apa-apa yang bisa dijadikan pijakan untuk menyampaikan risalah Ilahi. Tetapi, dia dengan segala keterbatasannya bersedia meninggalkan perniagaan demi perjuangan menegakkan Tauhid. Dia rela meninggalkan tanah kelahirannya demi menyampaikan risalah Ilahi. Dia rela kehilangan semua harta kekayaannya demi tersiarnya ajaran suci pembimbing manusia ke jalan Tauhid. Sementara engkau? Bukankah sejak kecil engkau sudah dididik dalam lingkungan agama yang ketat? Bukankah pengetahuan tentang agama jauh lebih luas dan mendalam dibanding kawan-kawanmu sesama saudagar? Bukankah sebagai murid ruhani Syaikh Dara Putih, masalah Tauhid bukan sesuatu yang asing bagimu?�

�Sesungguhnya, menurut penilaianku, engkau adalah laki-laki yang takut dengan bayangan angan-anganmu sendiri yang memanjang dalam kegelapan alam pikiranmu. Engkau takut berkata benar di tengah dunia perniagaan yang penuh kecurangan dan kelicikan. Sebab, dengan berkata benar maka bayangan angan-anganmu akan mengatakan bahwa engkau akan kehilangan sekian banyak keuntungan dan malah akan terputus dari hubungan dengan saudagar lain. Engkau bahkan sangat takut oleh bayangan angan-anganmu tentang keberadaan dirimu yang akan ditertawakan para saudagar ketika berkata benar dalam berniaga. Bayangan angan-angan yang engkau takuti itu, o Saudaraku, pernah dialami oleh Nabi Yunus a.s. saat diperintah Allah berdakwah di negeri Niniveh. Apakah engkau ingin mengalami nasib seperti Nabi Yunus yang ditelan ikan raksasa karena ingin menghindari perintah?� tanya Abdul Jalil.

Datuk Musa menarik napas panjang berulang-ulang. Dia mengakui dalam hati bahwa kesadarannya saat itu memang sedang diaduk-aduk oleh bayangan angan-angan yang menakutkan yang memanjang dan melingkar-lingkar dari alam pikirannya sendiri. Setelah merenung-renung beberapa jenak, ia mengembuskan napas sambil berkata, �Jika harus hijrah meninggalkan bandar Malaka, aku pikir itu bukan sesuatu yang susah bagiku. Tetapi, apa yang bisa aku lakukan di luar Malaka? Aku tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk menjadi guru agama.�

�Engkau boleh berkilah dengan macam-macam alasan, o Saudaraku. Tetapi bagi mereka yang memiliki penglihatan batin, tidak akan syak lagi bahwa engkau sejatinya telah menduduki maqam cukup tinggi dalam dunia ruhani. Untuk itu, aku berani memintakan kepada Syaikh Dara Putih, mursyid panutanmu, agar dia berkenan mengangkatmu sebagai khalifahnya. Sebab menurut penilaianku, engkau sudah layak menduduki jabatan khalifah Tarekat Kubrawiyyah. Bukankah demikian, Tuan Syaikh?� tanya Abdul Jalil memandang Syaikh Dara Putih.

Syaikh Dara Putih mengangguk dan berkata, �Sesungguhnya, sudah cukup lama aku akan membicarakan hal ini kepadanya, Tuan Syaikh. Tetapi aku khawatir timbul fitnah bahwa aku memiliki pamrih pribadi. Maklum, tidak semua orang di negeri ini memiliki kearifan seperti Tuan Syaikh.�

�Ya, kami paham dengan kekhawatiran Tuan,� kata Abdul Jalil mengalihkan pandangan ke arah Datuk Musa. �Lantaran itu, sebagai batu ujian pertama bagi engkau, o Saudaraku, cepat-cepatlah engkau hijrah ke pedalaman. Biarlah rumah kediamanmu yang megah ini dijadikan tempat oleh Syaikh Dara Putih untuk mengajarkan Tauhid di kota yang terancam murka Tuhan ini. Engkau tidak perlu menaruh curiga bahwa dia akan menjadikan rumah ini sebagai miliknya pribadi.�

�O tidak, Saudaraku,� tukas Datuk Musa tergagap, �Aku justru akan mengamanatkan rumah ini kepada guruku untuk dijadikan tempat pengajar Tauhid yang utama. Tetapi, aku sendiri belum tahu apa yang harus aku lakukan jika tinggal di pedalaman.�

�Engkau hendaknya menjadi pengajar Tauhid di tempatmu yang baru. Maksudku, sudah waktunya engkau menjadi khalifah tarekat yang mengajarkan Tarekat Kubrawiyyah kepada masyarakat. Mudah-mudahan dengan semakin banyak orang mengajar tarekat maka nilai-nilai Tauhid akan tegak di negeri ini,� kata Abdul Jalil.

Datuk Musa termangu-mangu. Dia merasakan ada sesuatu yang disentakkan keras dari dadanya sehingga dia merasa kehilangan sesuatu dari dadanya. Ia merasakan semacam kekosongan menguasai jiwanya. Sejenak kemudian dia bertanya, �Kenapa engkau sangat yakin jika Malaka bakal dilecut cambuk Tuhan, o Saudaraku? Apakah menurutmu negeri Jawa tidak akan terkena lecutan cambuk Tuhan?�

�Semua negeri sesungguhnya selalu diintai oleh murka Tuhan. Tidak terkecuali negeri Jawa, sewaktu-waktu akan luluh-lantak dilecut cambuk-Nya jika penduduknya telah menyeleweng dari Tauhid. Jika aku berani berkata bahwa Malaka akan dilecut cambuk Tuhan, itu bukan mengada-ada. Sebab, telah aku saksikan dengan mata indriawi dan mata batinku, betapa para penguasa dan ulama di negeri ini beserta kaki tangannya telah memberhalakan pangkat, jabatan, kekuasaan, kekayaan, kemasyhuran. Mereka sibuk berselisih merebut kedudukan duniawi seolah-olah kehidupan di dunia ini langgeng. Fitnah pun bergentayangan seperti hantu.�

�Suka atau tidak suka, kebenaran harus diungkapkan. Sesungguhnya, aku dan engkau telah tahu bahwa kebanyakan orang di bandar Malaka ini telah menjadi buta mata hatinya, tuli telinga jiwanya, dan kelu lidah ruhaninya akibat terseret nafsu rendah duniawi. Dengan pandangan mata batin, kita akan menyaksikan bahwa jiwa mereka adalah jiwa lintah darat, buaya darat, serigala licik, musang penipu, dan burung nazar pemakan bangkai. Dengan keganasan menakjubkan, kita telah menyaksikan bagaimana mereka memangsa sesamanya. Sungguh menjijikkan mereka itu bagiku. Jijik aku. Seribu kali jijik.�

�Jika engkau bertanya tentang kemungkinan negeri Jawa akan dihajar cambuk Tuhan, maka aku katakan bahwa hal itu tidak akan terjadi selama pemimpin-pemimpin di sana menjalankan tugas dengan baik. Ketahuilah, o Saudaraku, di Jawa sudah terbentuk suatu tatanan pemerintahan yang berasaskan Tauhid. Di Jawa sekarang ini selain terdapat sultan sebagai pemimpin persekutuan raja-raja, juga terdapat sebuah Majelis Guru Suci (syura al-masyayikh) yang beranggotakan para pemimpin ruhani yang disebut Wali Songo. Majelis itu anggotanya terdiri atas para guru suci tarekat-tarekat. Mereka memiliki peran dan tugas utama mengatur kehidupan penduduk dalam hal Tauhid. Majelis itu mempersatukan dan sekaligus menjadi naungan ruhani bagi kadipaten-kadipaten di Nusa Jawa. Majelis berkewajiban menegakkan akidah dan akhlak bagi seluruh penduduk negeri. Mereka memiliki tugas utama menyusun rancangan dakwa untuk mentauhidkan penduduk dan menyerahkan rancangan tersebut kepada sultan untuk dilaksanakan. Majelis memiliki kewenangan untuk melantik sultan yang merupakan pemimpin tertinggi dari persekutuan raja-raja di Nusa Jawa. Majelis berhak mengontrol tindakan sultan dan raja-raja di Jawa yang berkaitan dengan pelaksanaan agama. Majelis juga berhak menolak pelantikan sultan yang dinilai kurang mampu atau kurang sesuai menurut ketentuan agama.�

�Dengan tatanan baru yang diterapkan di Jawa itu, tugas utama seorang sultan, di samping mengatur pemerintahan, adalah menjalankan rancangan Majelis Wali Songo untuk mentauhidkan seluruh penduduk negeri. Sebab, dengan bertauhidnya penduduk sebuah negeri hingga kebanyakan di antara mereka itu menduduki martabat orang-orang yang takwa (qaum al-muttaqin), dipastikan Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi (QS. al-A�raf: 96) sehingga masalah keamanan, ketentraman, kedamaian, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan akan datang dengan sendirinya. Dengan demikian, selama Majelis Wali Songo, sultan, dan raja-raja di Nusa Jawa setia menjalankan tugas masing-masing, pastilah negeri Jawa akan terhindar dari lecutan cambuk Tuhan yang pedih.�

�Sejauh ini aku menyaksikan sendiri betapa Majelis Wali Songo, sultan, dan raja-raja di Jawa telah menjalankan tugasnya dengan baik. Pengajaran Tauhid berlangsung ramai di Nusa Jawa. Lantaran itu, aku yakin negeri Jawa tidak akan dilecut oleh cambuk Tuhan. Aku yakin Portugis tidak akan bisa menginjakkan kaki di Nusa Jawa. Sementara di Malaka, di mana sultan dan bendahara raja sibuk berebut kuasa, akidah penduduk menjadi sangat merosot karena para ulama ikut terlibat dalam perebutan itu. Dan sebagaimana yang sudah kita saksikan bersama, setiap orang mengetahui bagaimana di Malaka ini hukum peradilan diperjualbelikan dengan murah, peraturan niaga dipermainkan di tengah suap, keadilan dijungkirbalikkan oleh penawar tertinggi, fatwa palsu yang memutar-balik ayat Ilahi, dan riba yang mencekik tersebar merata di mana-mana. Kebenaran sudah tersilap oleh bayangan hitam benda-benda, kaum beragama saling bunuh, fitnah merajalela, kecurangan menyelinap di segenap penjuru, kejahatan menggumpal laksana awan yang siap menurunkan hujan. Akankah keberkahan Ilahi melimpahi negeri ini?� kata Abdul Jalil.

�Aku paham,� kata Datuk Musa. �Aku berencana akan membuka pemukiman baru di dekat Sepang, kampung halaman istriku. Tetapi daerah itu terkenal sangat angker. Aku tidak memiliki pengetahuan sedikit pun untuk membuka daerah-daerah gawat semacam itu.�

�Biarlah Raden Sahid tinggal beberapa waktu untuk membantumu membuka daerah-daerah baru. Dia sudah bertahun-tahun bersamaku membuka daerah-daerah baru di Jawa. Aku kira, engkau cukup membuka empat tempat di sekitar Malaka,� kata Abdul Jalil.

�Empat tempat?� seru Datuk Musa heran.

�Ya, di tempat yang memiliki kaitan dengan perlambang tanah merah, kuning, putih, dan hitam.�

�Kenapa harus empat? Kenapa harus merah, kuning, putih, dan hitam?� Datuk Musa belum paham.

�Sebab, jasadmu terbentuk dari tanah yang melambangkan empat jenis nafsu: Lawwammah adalah anasir tanah berwarna hitam, Sufliyyah adalah anasir air berwarna kuning, Ammarah adalah anasir api berwarna merah, dan Muthma�innah adalah anasir angin berwarna putih. Keempat jenis nafsu itu harus dipancari oleh cahaya ruh yang memancar dari-Nya, yaitu Ruh al-Idhafi, Ruh al-Haqq, dan al-Haqq. Tanpa dipancari cahaya Kebenaran dari al-Haqq maka manusia akan tinggal dalam kesesatan karena hidupnya dikuasai nafsu-nafsunya yang gelap.�

Read More ->>

AL-MARATIB AL-WUJUD

Al-Maratib al-Wujud

     Dalam usianya yang seabad lebih, Malaka yang semula hanya muara tak berpenghuni telah menjelma menjadi bandar perniagaan antara bangsa yang sangat menakjubkan. Berpuluh-puluh kapal besar dan kecil yang berasal dari berbagai negeri berlabuh di situ. Setiap hari kapal-kapal ukuran besar dan kecil silih berganti sandar di dermaga. Tiang-tiangnya yang teracung ke atas berderet laksana barisan tombak yang menghutan. Dari lambung kapal-kapal itu mengalir berbagai jenis barang niaga dari berbagai negeri; sutra, porselen, kain, kapur barus, kayu cendana, beras, pala, cengkeh, lada, timah, kayu gelondongan, emas, batu permata, dan budak.

Bandar Malaka sendiri terletak di muara sungai Malaka dan terbelah oleh sungai tersebut dari barat ke timur. Di bagian selatan sungai terletak bukit Malaka yang berdiri tegak dilingkari pohon-pohon kelapa dan sepetak hutan kecil. Di bagian kaki bukit Malaka terletak istana sultan dan masjid megah, anggun, dan mewah dikitari bangunan-bangunan besar kediaman para pejabat kerajaan. Bentangan jalan-jalan yang rapi dengan tanaman berbunga di kedua sisinya terlihat indah dan sejuk. Jalan-jalan itu membentang berliku menghubungkan kawasan istana dengan pelabuhan dan kutaraja.

Agak jauh dari bukit Malaka terdapat bukit kecil lain yang disebut orang dengan nama Bukit Cina. Bukit Cina adalah kediaman Puteri Hang Li Po, anak kaisar Yung Lo, yang dipersunting Sultan Mansyur Syah, kakek Sultan Mahmud Syah. Para pangeran keturunan Sultan Mansyur Syah dan Puteri Hang Li Po hanya sedikit yang terlibat di pemerintahan. Mereka umumnya menjadi saudagar. Mereka masih tinggal di Bukit Cina, meski jaraknya cukup jauh dari pusat perniagaan di kutaraja. Dengan tetap tinggal di Bukit Cina, mereka seolah-olah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar Sultan Malaka.

Tidak jauh dari muara sungai Malaka terdapat jembatan besar yang terbuat dari balok-balok kayu ukuran raksasa. Itulah jembatan yang menghubungkan kawasan istana dengan kutaraja dan pelabuhan. Agak beda dengan kawasan istana sultan, di bagian kutaraja Malaka yang terletak di utara sungai tinggal berbagai jenis manusia dari bermacam bangsa dan beragam lapisan kedudukan. Jika di kawasan sekitar istana di selatan sungai suasananya terasa tenang dan terkesan mewah, kawasan kutaraja di utara sungai itu menampilkan suasana gaduh dan hingar-bingar. Bangunan-bangunan besar berjejal-jejal dan berhimpit dengan bangunan-bangunan kecil. Ada rumah kediaman para saudagar. Ada gudang-gudang penimbunan barang niaga. Ada rumah peduduk kebanyakan. Ada toko-toko, rumah makan, rumah gadai, pasar, kedai-kedai kecil, bedeng-bedeng kumuh tempat kuli dan tukang, dan barak-barak kotor hunian sementara budak-budak. Lorong-lorong sempit dan pengap terselip di antara bangunan-bangunan. Beberapa ruas jalan yang agak lebar menebarkan debu jika dilewati.

Setiap hari, sejak fajar menyingsing di ufuk timur, citra kehidupan Malaka sebagai bandar antara bangsa sudah terlihat dalam bentuk kelebatan manusia yang terseret arus kesibukan luar biasa. Gerakan orang-orang yang berkelebat begitu cepat laksana biji-biji gabah ditampi di tampah. Sejauh mata memandang ke jalan-jalan dari arah pelabuhan ke kutaraja, yang terlihat adalah kelebatan orang-orang yang hilir mudik dari satu tempat ke tempat lain, seolah-olah mereka mengejar sesuatu yang tidak terlihat mata telanjang. Ya, gerakan cepat orang-orang yang hilir mudik dan berlari tersengal-sengal dengan tubuh bersimbah peluh sambil memanggul karung, memikul barang dagangan, menggotong balok, mendorong gerobak, menenteng keranjang, menyunggi barang. Sementara yang lain terlihat bergegas mengendarai kereta, diangkut tandu, naik pedati, menunggang kuda di tengah kepulan debu dan teriakan-teriakan orang yang memerintah serta gaduhnya celoteh kuli-kuli pengangkut yang berseliweran.

Barang seabad silam, di muara tempat bandar Malaka terletak masih belum dihuni orang. Sebatang pohon Malaka yang dijadikan tempat berteduh Parameswara, pangeran pemberontak asal Majapahit asal Palembang, adalah satu-satunya saksi bisu tentang bagaimana bandar niaga antara bangsa itu bermula. Parameswara dan para pengikutnya itulah penghuni pertama muara sungai Malaka itu. Dalam hitungan tahun sejak hunian pertama di Malaka dibuka, utusan Kaisar Yung Lo bernama Laksamana Yin Ching mengunjugi tempat baru itu. Enam tahun kemudian, Laksamana Cheng Ho datang pula ke Malaka. Dua tahun setelah kehadiran Cheng Ho, Parameswara menghadap Kaisar Yung Lo ke Beijing.

Tak lama sekembali dari Beijing, Parameswara memeluk Islam ketika menikahi puteri asal Pasai. Ia menggunakan nama muslim: Megat Iskandar Syah. Sejak masuk Islamnya Parameswara, Malaka dengan cepat menjadi bandar perniagaan yang ramai ketika disinggahi para saudagar Muslim dari Cina, India, Arab, Persia, Turki, dan Nusantara. Bahkan, karena letak Malaka yang berada di tengah lintasan perniagaan dari utara ke selatan itu maka dengan cepat ia tumbuh menjadi bandar antara bangsa.

Setelah dua puluh empat tahun berkuasa di Malaka, Megat Iskandar Syah mangkat. Ia digantikan oleh puteranya, Muhammad Syah yang bergelar Seri Maharaja. Ia meneruskan kebijakan ayahandanya. Seri Maharaja memiliki dua orang putera. Yang sulung bernama Raja Kassim, ibunya berasal dari kalangan jelata berdarah Tamil. Putera kedua, Raja Ibrahim, ibunya berdarah biru, puteri Sultan Rokan. Saat Seri Maharaja mangkat, Raja Ibrahim dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Seri Parameswara Dewa Syah. Namun, tak sampai setahun berkuasa Raja Ibrahim diserang oleh kakak tirinya, Raja Kassim, yang didukung kaum muslim Tamil yang dipimpin Tun Ali. Dukungan Tun Ali dapat dipahami karena ia adalah kakak kandung dari ibunda Raja Kassim. Raja Ibrahim pun terbunuh. Raja Kassim kemudian menggantikan dedudukannya dengan gelar Muzaffar Syah.

Ketika takhta Malaka diduduki Muzaffar Syah inilah tampil seorang negarawan ulung bernama Tun Perak yang menduduki jabatan Bendahara Paduka Raja (Perdana Menteri). Dengan kecerdasan dan kepiawaiannya menata pemerintahan, Malaka diarahkan menjadi kekuatan maritim yang heba. Berbagai negeri sekitar Malaka seperti Perak, Pahang, Johor, Kelantan, Rokan, Aru, Siak, Kampar, Indragiri, Riau, dan Lingga ditaklukkan. Malaka melengkapi kekuatan armadanya dengan senjata-senjata bikinan Jawa. Lantaran armada Malaka sudah sedemikian rupa kuat maka sewaktu pasukan dari Siam menyerbu, terjadi pertempuran sengit di dekat Muar yang berakibat hancur binasanya pasukan Siam.

Ketika Muzaffar Syah mangkat, ia digantikan oleh puteranya, Raja Abdullah, yang bergelar Mansyur Syah. Di bawah Mansyur Syah, Malaka maju pesat terutama karena kehebatan Bendahara Tun Perak dan Laksamana Hang Tuah. Pada zaman Mansyur Syah inilah kebudayaan Melayu tumbuh dengan pesat dan menancapkan akar-akarnya. Mansyur Syah digantikan oleh puteranya yang bergelar Alauddin Riayat Syah, kemenakan Bendahara Tun Perak. Ketika Alauddin Riayat Syah mangkat, ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Mahmud Syah.

Pada saat Mahmud Syah berkuasa, Bendahara Tun Perak sudah tua dan kemudian meninggal. Ia digantikan oleh Tun Putih, yang sudah tua juga. Belum dua tahun menjabat, Tun Putih meninggal. Ia digantikan oleh Tun Mutahir, anak Tun Ali. Sebagaimana ayahandanya, Tun Mutahir mendapat dukungan golongan muslim Tamil. Untuk menunjukkan kehebatan diri, tak lama setalah menjadi Bendahara Raja, Tun Mutahir menaklukkan Kedah dan Patani. Namun, Tun Mutahir bukanlah seorang pemimpin yang baik. Ia dikenal sebagai pejabat curang dan kejam yang mabuk kekuasaan, gila pangkat, dan rakus kekayaan. Ia tidak segan menghabisi lawan-lawan politiknya atau siapa saja yang dianggap melawan kebijakannya yang sering konyol.

Ibarat pepatah �bapak kencing berdiri anak kencing berlari�, sifat buruk Tun Mutahir itu dengan cepat diikuti oleh bawahannya. Hampir setiap hidung di segenap penjuru negeri Malaka mengetahui jika Tun Mutahir dan pejabat kerajaan bawahannya adalah komplotan pejabat tengik yang suka makan suap. Peraturan-peraturan dibuat menurut kepentingan pihak-pihak yang bisa menyuap. Peraturan-peraturan terkait konsesi perdagangan, peraturan tata niaga, penetapan hukum peradilan, penentuan kepangkatan dan jabatan, semuanya tergantung kepada berapa besar orang seorang bisa menyuap pejabat tertingi. Celakanya, Tun Mutahir tidak tahu kapan waktu yang tepat ia harus berhenti. Tanpa sadar, ia menganggap keberadaannya sebagai Bendahara Raja adalah sama dengan pemilik kekuasaan tertinggi, yaitu sultan. Ia bahkan merasa lebih tinggi dari sultan. Itu sebabnya, dengan berbagai cara yang licik dan busuk ia menyingkirkan pejabat-pejabat yang setia kepada sultan. Ia bahkan memfitnah Laksamana Hang Tuah hingga pahlawan gagah berani itu dijatuhi hukuman mati oleh sultan. Setelah yakin kekuasaan sultan lemah, ia dengan semau-maunya menjalankan pemerintahan yang korup dan nepotis.

Tindakan Tun Mutahir yang sewenang-wenang itu ternyata menimbulkan reaksi. Tanpa ada yang menggalang, diam-diam bermunculan pihak-pihak di lingkungan kerajaan yang melakukan perlawanan terhadapnya. Pejabat-pejabat tinggi dan rendahan, meski tak banyak jumlahnya, diam-diam menggalang kekuatan untuk mendukung kekuasaan sultan. Gerakan itu ternyata disambut baik oleh sultan yang merasa tak berdaya.

Di bawah Sultan Mahmud Syah, pada usianya yang sudah lebih seabad, Malaka memang telah menjadi bandar antara bangsa yang sangat ramai dan makmur. Malaka dihuni tak kurang dari 120.000 jiwa. Malaka menjadi gantungan harapan bagi anak negeri untuk menapaki kemakmuran. Malangnya, akibat kekuasaan Tun Mutahir dan kaki tangannya yang tercela, kehidupan di Malaka yang sekilas tampak makmur itu malah menebarkan suasana pengap, tengik, busuk, dan menyesakkan bagi mereka yang memiliki hati nurani. Pedagang-pedagang kecil, petani, nelayan, dan pejabat-pejabat jujur yang menamba sesuap nasi nyaris tidak ada yang terbebas dari lilitan hutang. Kegiatan berutang dengan bunga yang semula dilakukan di rumah-rumah gadai, pada gilirannya telah berkembang di tengah penduduk laksana jamur di musim hujan. Siapa saja di antara penduduk Malaka yang punya uang, dapat menjadi lintah darat yang bebas mengisap darah sesamanya tanpa kenal ampun. Para petugas kerajaan yang beroleh suap dari para lintah darat sering kedapatan menjelma dalam wujud tukang tagih yang menakutkan.

Di tengah suasana pengap, tengik, busuk, dan menyesakkan hati nurani itulah Abdul Jalil menginjakkan kakinya untuk kali kedua di Malaka. Sebagai manusia yang hidup diterangi hati nurani, setelah hampir tiga dasawarsa meninggalkan Malaka, ia tiba-tiba merasakan dirinya seolah-olah orang asing yang belum pernah ke Malaka. Entah apa yang telah berubah dari bandar itu, ia tidak tahu. Ia hanya merasa tak mengenal lagi kota itu. Sejak turun dari kapal menuju pusat kota dengan diikuti istri, anak, dan Raden Sahid, ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah asing dengan bangunan-bangunan dan orang-orang yang tak dikenalnya. Ia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan bandar Malaka, bandar niaga ini benar-benar telah berubah dan nyaris tak dikenal lagi, katanya dalam hati.

Setelah menyusuri sekitar pelabuhan sambil melihat-lihat perubahan keadaan sekitarnya, Abdul Jalil berjalan lambat-lambat melintasi jalan yang menuju arah pusat kota. Di persimpangan jalan yang menuju arah kantor syahbandar, ia menghentikan langkah. Dengan pandangan nanap, ia menyaksikan arus cepat gerakan orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya. Ia menangkap semacam keanehan gerak dari orang-orang yang hilir mudik itu. Beberapa jenak kemudian ia menoleh ke arah Raden Sahid dan bertanya, �Menurut pandanganmu, o Anakku, apakah yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang hilir mudik itu?�

Raden Sahid yang diam-diam mengamati kesibukan orang-orang itu tidak segera menjawab. Dia merenung sejenak. Setelah itu, dia menelan ludah dan berkata, �Menurut hemat kami, sesungguhnya orang-orang yang hilir mudik di jalanan itu tidak melakukan apa-apa, Paman.�

�Tidak melakukan apa-apa?� gumam Abdul Jalil dengan kening berkerut. �Kalau mereka tidak melakukan apa-apa, kenapa mereka berlari membawa beban dengan keringat bercucuran bagaikan hewan pemikul beban didera tuannya?�

�Menurut hemat kami, sesungguhnya mereka sedang terseret arus sungai kehidupan duniawi yang deras, Paman. Mereka timbul tenggelam dihanyutkan oleh air bah kebendaan yang bakal membenamkan mereka ke dalam endapan lumpur kebinasaan yang pekat.�

�Itu jawaban yang arif. Itu menunjukkan cakrawala kesadaranmu sudah diterangi nur lawami� dan kalbumu sudah dipancari pemahaman fawa�id. Tetapi masih perlu ditingkatkan,� ujar Abdul Jalil.

�Kami mohon bimbingan Paman.�

�Aku katakan bahwa pernyataanmu itu sudah benar, o Anakku,� kata Abdul Jalil dengan mata memandang gumpalan awan yang berlayar di langit. �Betapa orang-orang itu sejatinya memang tidak melakukan pekerjaan apa-apa. Mereka hanya terseret air bah kebendaan di sungai kehidupan duniawi tanpa mereka sadari. Tetapi, cobalah engkau resapi lebih jernih tentang hakikat terdalam dari sungai kehidupan duniawi itu. Resapi ia dengan benderang kecemerlangan nur lawami� di bentangan cakrawala kesadaranmu. Resapi ia dengan terang dan luasnya pemahaman fawa�id di kedalaman semesta kalbumu. Resapi dengan lebih jernih akan hakikat yang maujud dan Yang Wujud.�

�Gunakan penglihatan mata batin untuk menangkap rahasia keberadaan wilayah nirbendawi (malakut) yang tersembunyi di balik wilayah jasadi (mulki) sejauh yang bisa engkau tangkap. Resapi dengan tenang hakikat terdalam di balik perlambang keberadaan mata air, lekukan dan liku-liku sungai, tinggi dan rendah dasar sungai, arus, muara, lautan, dan air yang mengalir di sungai kehidupan duniawi. Resapi semua itu dengan kalbu yang jernih! Resapi kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Ilahi sampai engkau tangkap nuansa Kehadiran al-Malik al-Mulki di balik segala sesuatu yang maujud! Lalu saksikan Kebenaran Sejati di balik semua itu dengan mata batin yang jernih! Saksikan Kehadiran Yang Serba Meliputi (Hadrah al-Jam�) yang tersembunyi di balik kehadiran sesuatu (hadrah) sejauh yang bisa engkau tangkap tingkatan-tingkatannya (al-maratib al-wujud)! Aku berharap, engkau akan dapat menangkap rahasia hakiki di balik kehidupan orang-orang yang terseret arus kehidupan duniawi yang terpampang di hadapanmu itu.�

Raden Sahid diam. Dengan tenang dia duduk bersila dan memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam dan kemudian mengaturnya. Dia berusaha mengikuti semua petunjuk yang diberikan Abdul Jalil. Setelah merasa tenang dalam mengatur napas, ia mulai mendaki empat tangga menuju matra alam al-ghaib, yaitu istighfar � shalawat � tahlil � nafs al-haqq. Dia menyelaraskan kiblat hati dan pikiran kepada titik di antara kedua matanya. Dia tidak mempedulikan panas matahari yang mulai menyengat. Dia tidak mempedulikan suara hiruk pikuk dan teriakan orang-orang di sekitarnya yang terseret air bah kehidupan duniawi.

Ketika pendakiannya sampai pada nafs al-haqq, tiba-tiba saja ia merasakan tangan kiri Abdul Jalil menyentuh tengkuknya. Sejenak setelah itu, dia merasakan telapak tangan kanan Abdul Jalil menutupi kedua matanya sehingga kegelapan melingkupi penglihatan indriawinya. Seiring terhamparnya kegelapan dalam indera penglihatannya, dia sekonyong-konyong merasakan keanehan terjadi pada dirinya. Secara menakjubkan, dia merasa seolah-olah tidak berada di suatu tempat di Malaka dan tidak pula berada di suatu tempat di muka bumi. Dia merasa seperti berada di dunia lain, yang keadaannya hampir sama dengan saat dia bertemu Maharisi Agastya di gunung Malaya. Bahkan, suasana yang meliputinya dia rasakan jauh lebih menakjubkan lagi.

Tertegun merasakan keadaan yang meliputinya begitu aneh, tanpa terduga dia mengalami peristiwa yang sangat menajubkan bagai berada di alam mimpi: di tengah kegelapan penglihatan indriawinya itu, tiba-tiba memancar cahaya menyilaukan nur lawami� yang terang benderang dari antara kedua matanya. Cahaya itu sangat terang dan menyilaukan. Ketika dia tercengang, tiba-tiba nur lawami� yang hampir membutakan itu meluncur cepat laksana kilat, menyambar relung-relung kedalaman kalbunya.

Bagaikan orang terbangun dari tidur, dia tertegun-tegun kebingungan karena cahaya nur lawami� yang disaksikannya itu memancar jauh lebih terang daripada yang pernah dia saksikan sebelumnya. Sedetik kemudian, di tengah ketakjuban dan ketertegunan, dia merasakan kesadaran baru demi kesadaran baru menyingkapkan kegelapan jiwanya, laksana tirai penutup disibakkan. Secara perlahan-lahan tetapi cepat, ia merasakan kesadaran barunya terkuak laksana ular yang keluar dari selongsong kulitnya. Atau, seperti kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Atau, anak ayam keluar dari cangkang telurnya. Atau, hewan penghuni liang untuk kali pertama keluar dari liangnya. Dan, seiring tersingkapnya kesadaran baru demi kesadaran barunya itu, dia mendapati kenyataan menakjubkan tergelar di hadapannya. Melalui cahaya di antara kedua matanya itu, dia seperti memiliki mata ketiga yang melihat kenyataan di sekitarnya dengan penglihatan yang berbeda.

Dengan mata ketiga itu, tiba-tiba cakrawala kehidupan yang tergelar di hadapannya ia saksikan sebagai pemandangan yang luar biasa ajaib: sejauh mata ketiga itu memandang, yang tampak adalah perwujudan dari segala sesuatu yang maujud di sekitarnya dengan tingkat kehadiran yang mustahil dijabarkan dengan nalar. Dia tidak tahu apakah tingkat-tingkat kehadiran itu merupakan tingkatan yang maujud dari wilayah jasadi (mulki) hingga wilayah nirbendawi (malakut), ataukah itu merupakan tingkatan kesadaran dirinya yang berlapis-lapis laksana kesadaran cacing � kadal � kucing � harimau � burung. Dia tidak mampu menjabarkannya. Saat berada pada puncak kesadaraun dan sekaligus penglihatan mata ketiga itu, tersingkaplah bentangan cakrawala pemahaman fawa�id yang luar biasa yang jauh melebihi apa yang pernah dialami dan dirasakannya. Dia terperangah takjub karena di hadapannya secara ajaib terpampang pemandangan menakjubkan yang sebelumnya belum pernah ia lihat dan ketahui.

Bagaikan berada di alam mimpi, ia menyaksikan dengan sangat jelas kilasan-kilasan lembut dari perwujudan segala sesuatu yang tegelar di hadapannya, laksana bentangan suatu matra kehidupan di dalam samudera raya. Sejauh mata memandang, yang tampak maujud di dalam samudera raya itu adalah perwujudan menakjubkan dari anasir-anasir yang saling mengait, mulai anasir yang paling padat hingga anasir yang paling halus sampai yang nirbendawi. Aneh sekali penglihatan itu. Ajaib. Semua perwujudan yang menampak terlihat dengan terang tingkat-tingkat kehadirannya beserta seluruh anasir pembentuknya, di mana kehadiran wilayah jasadi seolah-olah terhubung saling meliputi dengan kehadiran wilayah nirbendawi dan terus terangkai dalam liputan kehadiran wilayah Ilahi (al-Malik al-Mulki).

Sesaat dia tertegun-tegun dalam pesona atas pemandangan mencengangkan itu. Betapa ajaibnya penglihatan batin yang disaksikan mata ketiganya itu: yang maujud menampakkan jati diri dalam rangkaian tingkatan-tingkatan saling meliputi dengan yang nirbendawi sampai kepada liputan Yang Wujud. Inikah yang disebut al-maratib al-wujud, yaitu tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud dalam tanazzul? Dia makin tertegun dan terpesong ketika menyaksikan berbagai bentuk maujud di sekitarnya yang berubah-ubah sangat menakjubkan: bangunan-bangunan, pohon-pohon, batu-batu, kapal-kapal, lautan awan kapas di langit, manusia-manusia yang hilir mudik di sekitarnya, hewan peliharaan yang berjalan, burung-burung yang terbang di angkasa, bahkan iring-iringan semut yang merambat di pepohonan, tampil sebagai bentuk-bentuk aneh yang berseliweran di dalam �air� samudera raya. Seluruh bentuk aneh itu terkait satu sama lain. Semua saling berjalin berkelindan tak terpisah. Ke mana pun mereka bergerak, mereka selalu terkait dan selalu berada di dalam liputan anasir �air� samudera raya. Bahkan, anasir air yang meliputi mereka itu secara menakjubkan diliputi oleh anasir �api� samudera api. Anasir api pun diliputi anasir �kilatan halilintar� dari samudera petir. Anasir kilatan halilintar pun diliputi anasir �cahaya� dari samudera cahaya. Demikianlah, saling meliputi antara anasir satu dan anasir lain itu terjadi secara menakjubkan, dari anasir terpadat hingga yang bersifat lebih halus hingga nirbendawi.

Sesungguhnya, pemandangan aneh yang disaksikannya itu tidaklah tepat benar dibandingkan dengan matra kehidupan makhluk di dalam laut. Sebab, segala sesuatu yang maujud di dalam penglihatan batinnya itu menampakkan anasir-anasir pembentuknya yang hadir secara bertingkat. Pemandangan ajaib itu bisa diibaratkan seperti bentangan kain yang terlihat seluruh anasir pembentuknya, mulai dari jalinan benang, lalu benang dibentuk dari jalinan kapas, kapas dibentuk dari serat-serat kapas, terus ke anasir terkecil, hingga yang nirbendawi. Namun, gambaran itu pun tidak tepat benar karena tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud memang tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu kecuali secara sedikit sekali. Di tengah ketakjubannya itu, dia merasakan kesadarannya makin terserap manakala mata ketiganya menayaksikan pelihatan ajaib yang mencengngkan atas manusia-manusia yang berseliweran di sekitarnya.

Secara ajaib, dia menyaksikan pancaran tujuh cahaya benderang berpendar-pendar tak terbayangkan keindahan dan kelembutannya pada tiap-tiap pribadi manusia. Pancaran cahaya pertama tampak berpendar tepat dia atas kepala setiap manusia dengan jarak sekitar sejengkal di atas ubun-ubun. Cahaya itu berwarna putih cemerlang. Besarnya seukuran telur angsa. Cahaya putih itu berpendar dengan tingkat kecemerlangan yang tidak sama.

Tepat di kening, di antara dua mata masing-masing manusia, memancar cahaya putih-kebiruan sebesar uang logam yang berpendar dengan tingkat kecemerlangan tidak sama pula. Lalu, tepat di ujung bawah tenggorokan masing-masing manusia, terlihat cahaya lembayung-kemerahan sebesar telur merpati berpendar-pendar dengan tingkat cemerlang yang juga tidak sama. Di bawahnya, di bagian dada terlihat pancaran cahaya putih-gemerlap sebesar kepalan tangan orang dewasa. Cahaya putih gemerlap itu sangat menyilaukan laksana pantulan batu permata. Sebagaimana pancaran cahaya yang lain, tingkat kecemerlangan cahaya di dada itu tidak sama pula, bahkan sangat banyak di antaranya yang terlihat sangat redup.

Raden Sahid sadar bahwa penglihatan ajaib yang disaksikannya itu adalah penglihatan bashirah yang akan menyingsing dan sirna manakala dia melibatkan nalarnya. Itu sebabnya, dia membiarkan keajaiban-keajaiban penglihatan itu membentang di cakrawala pemahaman fawa�id tanpa perlu ia bertanya tentang ini dan itu. Demikianlah ia menyaksikan lagi pancaran cahaya kuning-terang berpendar sebesar telur ayam di bawah pusar manusia-manusia itu dengan tingkat terang yang tidak sama. Setelah itu, dia saksikan pancaran cahaya putih-kuning-merah-biru-hitam pada bagian tengah tulang belakangnya. Dan terakhir, dia saksikan pancaran cahaya biru-kehitaman yang redup di ujung tulang ekor masing-masing manusia. Besar cahaya itu seukuran ekor harimau, tetapi memanjang seperti ular. Cahaya di ujung tulang ekor manusia itu memiliki tingkat keredupan yang tidak sama pula.

Raden Sahid tidak mengetahui makna di balik tujuh pancaran cahaya yang berpendar itu. Dia hanya bisa tercenagang-cengang menyaksikannya. Betapa aneh dua berkas cahaya di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor manusia itu. Setiap kali cahaya putih-cemerlang yang memancar di atas ubun-ubun manusia berpendar terang dan redup, saat itulah dia menyaksikan sosok dari makhluk-makhluk itu bergerak dan melakukan berbagai kegiatan kehidupan. Hal yang sama terjadi ketika cahaya biru-kehitaman yang memanjang di ujung tulang ekor manusia-manusia itu berpendar terang atau redup. Cahaya di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor itu seolah merupakan saluran utama kehidupan yang menentukan gerak hidup orang seorang. Sementara saat cahaya di dada yang berwarna putih-cemerlang kristal itu memancar, makhluk-makhluk itu berpikir, berangan-angan, dan berbicara. Sungguh ajaib dan menakjubkan sosok manusia-manusia itu dalam penglihatan batin. Mereka terlihat seperti boneka yang digerakkan oleh daya gaib dari cahaya yang memancar di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor. Mereka berpikir, berangan-angan, dan berbicara karena dipancari cahaya yang memancar dari dadanya.

Raden Sahid tidak tahu berapa lama dia menyaksikan kenyataan menakjubkan dari kehidupan manusia lewat pemahaman fawa�id di kedalaman kalbu yang dipancari nur lawami� itu. Dia hanya merasakan mata ketiganya makin tercelikkan ketika menyaksikan perwujudan hakiki dari perlambang-perlambang kehadiran jasadi dan nirbendawi yang bertingkat-tingkat itu. Namun, akibat peglihatan batin yang sangat mencengangkan itu, dia menjadi termangu-mangu kebingungan seperti orang linglung ketika usai mengalami peristiwa ajaib, terserap oleh suatu daya pesona dahsyat yang memukau kesadaran manusiawinya.

Melihat Raden Sahid tercengang-cengang linglung kebingungan, Abdul Jalil tertawa. Ia paham, pengaruh tersingkapnya (kasf) kesadaran baru yang luas (basth) terlalu cepat, sebagaimana pernah ia alami saat dibimbing oleh Misykat al-Marhum di gunung Uhud, dapat membuat orang seorang mengalami keguncangan jiwa (majnun) selama kurun waktu tertentu, karena akal pikiran dan kalbunya belum selaras. Itu sebabnya, ia tidak akan bertanya tentang pengalaman ruhani yang dialami Raden Sahid dengan bahasa lisan, melainkan dengan bahasa perlambang (isyarah) yang langsung menembus ke dalam mahligai kalbunya. Demikianlah, melalui isyarah, Raden Sahid mengungkapkan pengalaman ruhani yang baru saja dialaminya, yang jika dipaparkan dalam bahasa lisan manusia kira-kira berbunyi:

�Sesungguhnya, di balik keberadaan sungai kehidupan duniawi yang bermuara ke samudera Wujud (bahr al-wujud) itu telah kami saksikan betapa sejatinya Allah tidak tersembunyi karena Dia tidak pernah tidak hadir. Sesungguhnya, kami telah saksikan bahwa di balik yang maujud sejatinya tersembunyi Yang Wujud dalam tingkatan-tingkatan kehadiran (al-maratib al-wujud), ibarat keberadaan anasir nirbendawi, anasir air, anasir makhluk air, anasir angin, anasir ombak, anasir buih, dan anasir pantai yang membentuk samudera kehidupan semesta. Kami menyaksikan dengan mata batin betapa sesungguhnya di balik keberadaan sebuah bentangan samudera kehidupan semesta, sejatinya tersembunyi perlambang Keberadaan Hakiki antara yang maujud dan Yang Wujud. Kami menyaksikan dengan bashirah hakikat turunnya (tanazzul) Yang Wujud ke wilayah pemunculan kehadiran (maujud) secara bertingkat-tingkat dalam bentuk perlambang mengejawantahnya Shifat, Af�al, dan Asma�-Nya dalam rangkaian al-Malik � malakut � mulki.�

Abdul Jalil tertawa. Setelah itu, dengan suara lain ia berkata dalam bahasa perlambang, �Benarlah apa yang engkau ungkapkan itu, o Anakku. Sebab, sejatinya di balik kehadiran (hadrah) segala sesuatu yang maujud di alam semesta ini tidak ada yang terlepas atau terpisah sama sekali dari Kehadiran Zat Wajib al-Wujud, yaitu Zat Yang Serba Meliputi segala sesuatu yang diperbuat makhluk (QS. al-Anfal: 47; Hud: 92; al-Isra�: 60). Segala ciptaan-Nya berasal dari-Nya dan senantiasa berada di dalam liputan kekuasaan-Nya. Dia Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahazahir, Mahabatin, dan Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu (QS. al-Hadid: 3). Karena Dia meliputi segala sesuatu maka ke mana pun engkau menghadapkan wajah, di situ terpampang wajah-Nya (QS. al-Baqarah: 115). Dan segala sesuatu yang maujud pasti rusak binasa bentuknya kecuali wajah-Nya (QS. al-Qashash: 88).�

�Sungguh, dengan mata batin yang jernih, engkau telah berhasil menangkap sasmita kehadiran penyaksian (hadrah asy-syuhudiyyah) di balik sungai kehidupan duniawi yang sedang menghanyutkan manusia-manusia yang terseret air bah kebendaan di dalamnya itu. Engkau telah berhasil menyaksikan rahasia Ilahi tentang bagaimana sejatinya tiap-tiap makhluk ubun-ubunnya berada di dalam genggaman-Nya (QS. Hud: 56). Engkau telah merasakan dan mempersaksikan makna rahasia dari sabda-Nya bahwa Dia lebih dekat daripada urat lehermu (QS. Qaf: 16). Engkau telah menyaksikan tanda-tanda Allah di bumi maupun di dalam dirimu (QS. adz-Dzariyat: 20-21). Engkau telah berhasil menyaksikan bahwa Dia adalah Cahaya langit dan bumi (QS. an-Nur: 35). Jika nanti maqam yang engkau capai makin meningkat maka engkau akan dapat menangkap sasmita kehadiran maka engkau akan dapat menangkap sasmita kehadiran penyaksian tentang Dia sebagai Cahaya di Atas Cahaya (QS. an-Nur: 35), sehingga engkau akan dapat mengetahui siapa orang yang dibimbing al-Hadi dan siapa orang yang disesatkan al-Mudhill.�

�Apakah yang Paman maksud dengan kehadiran penyaksian (hadrah asy-syuhudiyyah)? Adakah itu berhubungan dengan Yang Maha Menyaksikan (Asy-Syahid)? Kami mohon bimbingan.�

�Sesungguhnya, sasmita Kebenaran yang engkau tangkap dari keberadaan sungai kehidupan duniawi dalam bentuk perlambang samudera raya beserta anasir-anasir pembentuknya itu pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari Kehadiran Asma (Hadrah al-Asma�) yang memancar dari Zat Mahatunggal Yang Serba Meliputi (Hadrah adz-Dzatiyyah). Sesungguhnya, engkah telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik Mata Air yang menjadi sumber sungai kehidupan duniawi itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Mencipta (al-Khaliq), Yang Mahaawal (al-Awwal), Yang Maha Memulai (al-Mubdi). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik aliran sungai kehidupan duniawi yang mengalir itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahahidup (al-Hayy), Yang Maha Berlimpah (al-Wajid), Yang Mahanyata (azh-Zhahir). Engkau juga telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik tinggi rendah permukaan dan dasar sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Merendahkan (al-Mudzill), Yang Maha tinggi (al-�Ali), Yang Maha membentuk (al-Mushawwir).�

�Sungguh, engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik luas dan sempitnya tepian sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Menyempitkan (al-Qabith), Yang Maha Meluaskan (al-Bhasit), Yang Maha Menjaga (al-Muhaimin). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik arus sungai yang deras maupun yang lembut itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahalembut (al-Latif), Yang Maha Memaksa (al-Qahhar), Yang Maha Memberi Bahaya (adh-Dharr). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik lekukan dan liku-liku sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahalurus (al-Hadi), Yang Maha Membelokkan (al-Mudhill), Yang Maha Menentukan (al-Muqtadir). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik muara sungai kehidupan sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Menghimpun (al-Jami�), Yang Maha Membuka (al-Fattah), Yang Maha Memajukan (al-Muqaddim).�

�Engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik lautan kehidupan dan gumpalan awan yang menurunkan hujan rahmat dari angkasa duniawi itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahaluas (al-Washiy), Yang Mahabesar (al-Kabir), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Mahakokoh (al-Matin), Yang Mahamandiri (ash-Shamad), Yang Mahaakhir (al-Akhir), Yang Maha Meyiksa (al-Muntaqim), Yang Maha Mematikan (al-Mumit), Yang Maha Menghidupkan (al-Muhyi), Yang Mahaperkasa (al-Jabbar), Yang Maha Menyucikan (at-Tawwab), dan Segala Asma�, Af�al, Shifat Yang Serba Maha.�

�Ya, engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik semua atribut dan perlambang Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat-Nya itu sejatinya tersembunyi Hakikat dari Zat Mutlak (Dzat al-Muthlaqah): Zat Murni (Dzat al-Bahat) Yang Tersembunyi (al-Bathin), Zat yang tak diketahui siapa pun kecuali Dia (kunhi Dzat), Zat Yang Cinta Diketahui (al-Wadud), Zat Yang Mencipta (al-Khaliq) segala ciptaan (makhluk) untuk Menyaksikan (asy-Syahid) Keesaan (al-Wahid), Kemuliaan (al-Majid), Kesucian (al-Muta�ali), Keluhuran (al-Jalil), Kekuasaan (al-Qadir), Kemurahan (al-Karim), Keagungan (al-�Azhim), Kesucian (al-Quddus), dan Kemahamutlakan seluruh Kehadiran (Hadhrah) Asma�, Shifat, Af�al, dan Dzat-Nya yang memancar dari tahap Haahuut-Lahut-Jabarut-Malakut-Mitsal-Nasut. Demikianlah, engkau telah berhasil menangkap makna hakiki kehadiran penyaksian (hadhrah asy-syuhudiyyah) dari tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud (al-maratib al-wujud) di alam semesta raya yang tak terukur luasnya ini.�

�Kami paham, Paman,� kata Raden Sahid dengan wajah berbinar-binar. �Tapi, bolehkah kami menyimpulkan bahwa sejatinya di balik yang maujud ini bukanlah hamparan Kehampaan, melainkan suatu Kepenuhan? Sebab, yang kami saksikan di balik yang maujud itu adalah Kepenuhan Ilahi yang meliputi segala. Dalam penglihatan mata batin kami, kami menyaksikan segala sesuatu yang maujud di wilayah jasadi (mulki) sejatinya berada di dalam liputan Yang Wujud, ibarat gelembung-gelembung udara kosong di dalam air.�

�Janganlah engkau menyimpulkan sesuatu yang engkau saksikan melalui mata batin dengan akal pikiranmu. Sebab, hal itu akan menjerat hakikat Kebenaran yang tersembunyi di balik rahasia-Nya. Engkau akan terpeleset oleh nalar untuk menafikan azh-Zhahir dan mengisybatkan al-Bathin. Lantaran itu, cukup arif jika engkau menilai apa yang engkau saksikan sebagai tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud itu dengan istilah sederhana tetapi rumit: awang-awang, yaitu ungkapan yang mewakili makna Kehampaan sekaligus Kepenuhan. Janganlah kata-kata itu ditafsir-tafsir lagi dengan nalar sehingga Keduanya menjadi terpisah sendiri-sendiri sebagai Kehampaan dan Kepenuhan yang saling Berdiri sendiri satu sama lain, atau Kedua-nya bisa saling menyatu Satu sama lain. Apa yang telah engkau saksikan tidak boleh ditafsir-tafsir.�

�Ingat dan camkan, apa yang engkau saksikan denga bashirah tidak akan peernah bisa dijabarkan dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Ingat dan camkan pula, tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud yang sudah engkau saksikan itu jelas-jelas menunjukkan tatanan hukum yang sangat sempurna dalam �pemunculan� hingga ke tingkat maujud. Itu berarti, tidak akan mungkin Zat Yang Wujud bercampur baur (imtizaj) dengan yang maujud. Zat Yang Wujud juga tidak akan mungkin menjadi satu (ittihad) dengan yang maujud, apalagi sampai menjelma (hall) dalam wilayah jasadi (mulki). Dengan demikian, jika ada orang seorang dengan kekuatan akal budinya menyimpulkan bahwa Zat Yang Wujud dapat berinkarnasi (hulul), bercampur baur (imtizaj), menyatu (ittihad), dan meyakini bahwa ruh bisa berpindah-pindah (naskh al-arwah) maka sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui bahwa di hamparan alam gaib sejatinya terdapat ketetapan hukum Sempurna yang mengatur kehadiran masing-masing tingkatan (al-maratib) �pemunculan� dari Yang Wujud hingga yang maujud, melalui tujuh tahap dengan lapisan selubung berpuluh-puluh ribu hijab.�

�Kami memahami petunjuk Paman tentang tingkatan-tingkatan �pemunculan� Yang Wujud melalui tujuh tahap. Tetapi kami masih bingung dengan masing-masing tingkatan kehadiran, terutama yang terkait dengan keberadaan piranti bahasa pada masing-masing tingkat. Kami masih sulit membedakan makna hakiki di balik bahasa indriawi, bahasa malakut, dan bahasa rabb pada masing-masing kehadiran. Kami mohon penjelasan dan bimbingan tentang itu, Paman,� kata Raden Sahid suatu malam, beberapa hari setelah pengalaman yang menggetarkan jiwanya itu berlalu.

�Ingat dan resapi, o Anakku! Pada tingkat kehadiran wilayah jasadi (mulki), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung antaranasir adalah bahasa yang bisa ditangkap panca indera. Itulah bahasa yang mengalir dari mulut dan diserap oleh indera pendengaran. Itulah bahasa yang bisa dipahami oleh nafs pada masing-masing makhluk. Dengan bahasa ini, Adam a.s. mengenal nama-nama. Pada tingkat kehadiran wilayah nirbendawi (malakut), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung antaranasir adalah bahasa perlambang (isyarah) yang hanya bisa dipahami maknanya oleh Ruh al-Idhafi lewat pendengaran batin (sam�). Sementara pada tingkat Kehadiran wilayah Ilahi (al-Malik), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung adalah bahasa tanpa kata tanpa perlambang yang disebut al-ima�, yaitu bahasa rabb yang hanya bisa ditangkap oleh Ruh al-Haqq dan al-Haqq,� Abdul Jalil menjelaskan.

�Apakah yang disebut bahasa malakut itu sama dengan bahasa ruh yang biasa digunakan oleh para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa saat mereka mengalami kerawuhan (kehadiran) arwah dewata yang hidup langgeng?� tanya Raden Sahid.

�Sepengetahuanku, bahasa malakut itu sama dengan bahasa ruh yang dimaksud para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa. Aku katakan tidak sama sebab setahuku belakangan ini banyak di antara pengamal ajaran Pangiwa, yang berasal dari kalangan kebanyakan, telah keliru memaknai daya yang memancar dari kantha-mula atau dar al-khanja-rah sebagai bahasa ruh yang bersumber dari ruh suci Ilahi. Padahal, kantha-mula adalah salah satu �tempat pengungkapan� (al-mahall) bagi mengalir keluarnya daya-daya kejahatan dan kebaikan, di mana daya kejahatan dan daya kebaikan itu muncul dengan cara diilhamkan kepada manusia melalui jalan kefasikan dan jalan ketakwaan (QS. asy-Syams: 8). Dengan begitu, keberadaan kantha-mula atau dar al-khanjarah itu memiliki dua kemungkinan: ia bisa menjadi jalan bagi memancarnya ilham jalan ketakwaan yang akan membawa orang seorang mengungkapkan Kebenaran lewat lisannya, atau sebaliknya ia juga bisa menjadi jalan bagi memancarnya ilham jalan kefasikan, yang akan memancarkan jalan Kesesatan (ablasa) lewat lisannya.�

�Jika suatu saat engkau mendapati orang seorang mengatakan bahwa dia telah mengalami kehadiran arwah suci dewata yang langgeng, sebagaimana diungkapkan para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa, maka ujilah pengakuannya itu dengan pendengaran batin, sebagaimana sudah pernah engkau gunakan saat bertemu Yang Mulia Rishi Agastya di gunung Malaya. Dengan pendengaran batin, engkau akan mudah mengetahui apakah ajaran seseorang itu igauan, sabda kesesatan, ujar kebohongan, atau benar-benar ungkapan ruh suci Yang Ilahi lewat bahasa perlambang atau lewat bahasa tanpa kata tanpa perlambang. Dengan menguji lewat pendengaran batin maka engkau akan mendapati bukti nyata apa yang sejatinya diujarkan seseorang itu.�

�Sungguh telah sering aku jumpai orang seorang yang menjadi pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa yang mengaku-aku mengalami kerawuhan ruh suci yang mahalanggeng. Mereka berceloteh dan mengomel tidak karuan seperti orang mabuk, tetapi mereka tidak mengetahui makna dari apa yang mereka ucapkan. Mereka dengan yakin diri menyatakan bahwa celoteh dan omelan itu adalah bahasa ruh suci yang tak terpahami. Sesungguhnya, dipandan dari sisi batiniah, mereka adalah orang-orang terhijab yang sedang terperangkap jaring angan-angan kosong (al-wahm) yang terpintal dari serat-serat tali lamunan kosong (al-umniyah). Mereka terperangkap ke dalam lingkaran kusut jaring imajinasi nirwujud (al-mumtani�) yang menebarkan jaring-jaring kesesatan (al-idhlal) yang dibentangkan Sang Penyesat (al-Mudhill) melalui Iblis beserta daya-dayanya.�

�Sesungguhnya, apa yang mereka ucapkan dalam celoteh dan omelan itu pada hakikatnya adalah ungkapan kehadiran ilham kefasikan yang memancar dari kuasa nirwujud (ablasa) yang tersembunyi di dalam nafs manusia, yaitu di relung-relung mahligai kantha-mula atau dar al-khanjarah. Celoteh dan omelan itu bukanlah bahasa ruh suci yang mahalanggeng melainkan ungkapan kehadiran ilham kefasikan yang akan menghijab manusia dari Kebenaran. Itu sebabnya, mereka yang terperangkap pada jalan kefasikan yang ditebari jaring-jaring al-wahm dan al-idhlal yang kosong tak bermakna itu, akan terbelenggu dalam kerangkeng hijab dirinya dan jauh (bu�d) dari Kebenaran Sejati. Mereka adalah manusia menyedihkan karena kesadaran jiwanya sudah dikuasai imajinasi nirwujud yang tidak memiliki kiblat yang Benar ke arah Tauhid.�

�Dengan uraianku ini, telah jelaslah bahwa mereka adalah manusia-manusia yang telah terkuasai oleh daya-daya sang nirwujud (ablasa). Dapat dipastikan mereka tidak akan pernah bisa menangkap keindahan bahasa perlambang (isyarah) yang tersembunyi di balik bahasa jiwa. Mereka tidak akan bisa menangkap benderang cemerlangnya bahasa tanpa kata tanpa perlambang. Mereka tidak akan pernah bisa menyingkap tirai-tirai gaib yang menyelubungi kemaujudan alam semesta ini. Pada ujungnya, mereka tidak akan pernah menyaksikan Kebenaran Hakiki dari Yang Wujud. Sungguh, mereka itu sejatinya hanya orang-orang yang dipermain-mainkan oleh angan-angan kosong mereka sendiri. Pengalaman-pengalaman ruhani dangkal yang mereka alami bukanlah penyingkapan tirai-tirai kegaiban, melainkan sekadar pengejawantahan khayalan-khayalan nirwujud yang menyesatkan,� papar Abdul Jalil.

�Berarti, mereka tergolong orang-orang terhijab yang selama hidup tidak akan pernah bisa menembus rahasia alam gaib dan tidak pula mampu memahami bahasa rabb?� tanya Raden Sahid.

�Itu sudah pasti. Sebab, al-ima� tidak pernah memancar lewat kantha-mula atau dar al-khanjarah dalam bentuk celoteh dan omelan tak terpahami yang bisa ditangkap indera pendengaran. Al-ima� hanya mungkin memancar dari dar al-khanjarah jika �tempat� itu sudah disucikan dari nafsu-nafsu sehingga menjadi tempat suci yang disebut bait al-qaddisah. Jika nanti engkau sudah terbiasa menggunakan pendengaran batin dan lancar enggunakan bahasa isyarah dan al-ima�, maka engkau tidak saja akan mengetahui ucapan dusta para pembohong, melainkan dapat pula mengetahui bahwa di balik ayat-ayat Al-Qur�an yang dilafazkan itu sejatinya tersembunyi bahasa rabb. Itu sebabnya, ayat-ayat Al-Qur�an yang muncul sebagai bahasa insani lewat bait al-qaddisah pada diri Nabi Muhammad Saw. tidak bisa dipalsukan satu huruf pun, karena orang-orang beriman yang sudah memahami bahasa isyarah dan al-ima� dengan mudah akan mengetahui pemalsuan-pemalsuan yang dilakukan orang zalim.�

�Maksudnya, engkau harus pandai-pandai menyembunyikan kemampuan itu dan sekaligus menyembunyikan jati dirimu. Jika satu saat nanti datang kepadamu orang-orang jahil yang menantang-nantangmu untuk mengadu kehebatan dalam menempuh jalan ruhani, tetapi orang itu masih menggunakan bahasa lisan, maka wajiblah bagimu untuk menghindar. Bersikaplah seolah-olah engkau bodoh dan tidak memiliki pengetahuan ruhani. Lebih baik dirimu dianggap bodoh oleh mereka daripada engkau meladeni mereka, karena orang-orang jahil itu akan terperosok ke lembah ketakaburan yang mengundang murka Allah. Biarlah mereka memuji-muji kehebatan diri dengan menjadikanmu tumpuan pijakan.�

�Kami akan pusakakan petunjuk Paman. Kami sangat ingin menggunakan pendengaran batin, bahasa isyarah, dan al-ima� dengan lancar, meski kami sadar hal itu tidak gampang. Butuh latihan keras dan waktu panjang. Kami ingin Paman tidak pernah bosan membimbing kami,� kata Raden Sahid takzim.

�Engkau sudah tidak perlu bimbingan lagi. Engkau ibarat burung, bisa terbang sendiri mengarungi angkasa luas. Tetapi, satu hal yang wajib engkau ingat: jangan engkau berbuat zalim dengan mengungkapkan pengetahuan ini kepada mereka yang tidak berhak. Pengetahuan ini sangat rahasia. Engkau harus pandai-pandai menyembunyikan kemampuan ini dan sekaligus menyembunyikan jati dirimu,� Abdul Jalil mewanti-wanti.

�Kami akan pusakakan wejangan Paman. Tetapi, bagaimanakah cara kami untuk mengajarkan kepada para murid yang belajar kepada kami dalam menjelaskan perbedaan tingkat-tingkat bahasa, terutama untuk menguji pengakuan orang seorang yang mengaku kehadiran ruh suci?�

�Secara sederhana, untuk menguji apakah orang seorang itu benar-benar mengungkapkan bahasa ruh suci yang mahalanggeng atau sedang terperangkap jerat-jerat al-wahm, engkau dapat menggunakan ukuran penalaran yang cerdas, yaitu membandingkan pertentangan-pertentangan antara apa yang mereka ucapkan dengan perilaku dan perbuatan yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh, telah bertahun-tahun aku telah mengenal para pemuja Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa. Selama itu pula aku sering menangkap citra keberadaan mereka dengan penanda sikap dan perilaku yang mengejawantahkan citra sang nirwujud. Mereka itu orang-orang yang citra dirinya ditandai sikap takabur, menilai terlalu tinggi diri sendiri, suka merendahkan manusia lain, membanggakan kekuatan diri, kuat ananiyyah (egois), tidak mau disaingi, penuh dendam dan iri hati, suka mengaku-aku, hidup dibimbing nafsu, kejam, pintar bicara, banyak siasat, cinta kebendaan, dan berlebihan dalam segala hal. Dengan sikap dan perilaku yang mengejawantahkan citra sang nirwujud maka citra diri mereka ditandai oleh pertentangan (munaza�ah) dari citra diri mereka, yang hal itu akan terungkap dalam ketidaksesuaian dan pertentangan antara kata dan perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari.�

�Jika suatu saat engkau bertemu dengan orang-orang semacam mereka, berhati-hatilah engkau. Sebab, mereka adalah pengejawantahan citra sang nirwujud. Tanda-tanda mereka itu mudah diketahui. Umumnya tanda-tanda itu seperti ini: jika mereka berkata-kata yang menakjubkan tentang cinta kasih maka yang mereka perbuat adalah tindak kekejaman dan kebrutalan yang menjijikkan. Jika mereka berbicara tentang kerendahhatian maka yang mereka perbuat adalah pamer ketakaburan dan kecongkakan. Jika mereka berbicara tentang kedermawanan maka yang mereka perbuat adalah merampas, merampok, menggarong, menjarah, dan mengisap sesama. Jika mereka berbicara menakjubkan tentang peradaban maka yang mereka perbuat adalah tindak kebiadaban yang memalukan orang beradab. Jika mereka berbicara tentang kemerdekaan dan kesetaraan maka yang mereka perbuat adalah menindas, menjajah, dan memperbudak sesama.�

�Dengan ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan itu, di mana pun mereka datang di suatu tempat maka saat itulah mereka akan menebarkan malapetaka bagi makhluk di tempat tersebut. Mereka akan menjadi pangkal kesengsaraan bagi makhluk lain. Sebab, mereka tidak saja akan menjadi perampok, penggarong, penjarah, perampas, penjajah, dan penindas, melainkan akan menjadi penyesat pula bagi manusia yang mempercayai ucapan mereka. Waspadalah terhadap mereka. Tetapi satu hal yang wajib engkau waspadai, o Anakku, bahwa kecenderungan-kecenderungan semacam mereka itu tidak selalu sama bentuknya dalam tiap masa. Maksudku, kecenderungan itu bisa muncul dalam berbagai bentuk dan ajaran yang berbeda dengan ajaran Pangiwa dan ajaran pemuja Prthiwi. Tidak menutup kemungkinan kecenderungan itu akan engkau dapati pada orang-orang yang mengenakan jubah keislaman atau jubah agama lain yang kelihatan santun dan baik,� kata Abdul Jalil.

Raden Sahid menarik napas panjang. Dia merasakan kelegaan memenuhi dadanya. Lalu, dengan suara lain dia berkata, �Kami akan pusakakan petunjuk Paman. Kami sekarang ini benar-benar merasa berbahagia. Sebab, ucapan Paman bahwa Allah tidak tersembunyi karena Allah tidak pernah tidak hadir baru dapat kami pahami dengan sebenarnya sekarang ini.�

�Itu berarti engkau telah mengetahui dengan bashirah sebagian rahasia kekuasaan-Nya.�

�Terima kasih Paman.�

�Sebagai tanda bahwa engkau telah menapakkan kaki sebagai al-arif billah yang sudah memenuhi syarat untuk menjadi pembimbing ruhani, aku berikan ijasah untukmu dalam wujud: Ratu Arofah,� kata Abdul Jalil memegang kedua bahu Raden Sahid.

�Kami terima ijasah sebagai pusaka.�

�Tapi, tahukah engkau apa yang aku maksud dengan Ratu Arofah?�

�Kami tidak tahu, Paman.�

�Dia adalah Zainab, puteriku. Aku berikan ia kepadamu sebagai ijasah yang menandai bahwa engkau boleh mengajarkan apa yang telah aku ajarkan kepadamu. Lantaran engkau telah �mengetahui� rahasia-rahasia kekuasaan-Nya melalui bashirah maka ijasah itu aku sebut dengan nama Ratu Arofah.�

�Kami pusakakan ijasah yang agung dan mulia itu.�

�Tapi ada satu hal yang harus engkau ingat-ingat, o Anakku.�

�Kami mohon petunjuk dan bimbingan.�

�Ucapan-ucapanku seperti �Allah tidak pernah tidak hadir� hendaknya engkau jadikan rahasia. Sebab, ucapan itu menjadi sesuatu yang benar jika diucapkan seorang guru kepada sang penempuh (salik) dalam menuntun ke arah ketercelikan mata hati untuk mengenal-Nya. Tetapi, ucapan itu menjadi suatu kezaliman jika disampaikan kepada kalangan awam yang keadaan jiwanya masih terhijab. Sehingga, mengungkapkan rahasia Kebenaran ini kepada awam bisa diibaratkan seperti seorang penyair mengungkapkan keindahan syair-syairnya kepada orang tuli,� sahut Abdul Jalil.

Read More ->>

Senin, 20 Maret 2017

MEZBAH PERSEMBAHAN BARU

Mezbah Persembahan Baru

Malam menggelar permadani hitam dengan hiasan bintang-bintang sebagai sulaman. Kabut tebal yang menyelimuti permukaan bumi Pasai membenamkan kehidupan dalam kesunyian. Di tengah kesenyapan yang melingkupi, sewaktu manusia menggulung tubuh dalam selimut, ketika margasatwa tidur di sarangnya, di saat terkaman hawa dingin menggigit hingga tulang, terlihat tiga sosok bayangan manusia di bawah sebatang pohon besar di hadapan segunduk tanah merah yang masih basah. Mereka adalah Abdul Jalil, Raden Sahid, dan Tughra Hasan Khan, kakak lelaki lain ibu Abdul Jalil. Agak jauh dari mereka, dalam jarak sekitar dua puluh langkah, terlihat bayangan orang-orang duduk berkerumun membentuk lingkaran di bawah pohon. Di antara mereka yang berkerumun itu terlihat Tughril Muhammad Khan dan Fadhillah Khan, putera Tughra Hasan Khan, Abdullah Kandang, Orang Kaya Kenayan, Abdurrahman Singkel, ketiganya murid Abdul Jalil, Shafa dan Bardud, istri dan anak Abdul Jalil, Na�ina Husam, sufi perempuan asal Syiraz, dan belasan pengawal hulubalang dengan senjata terhunus. Suasana terasa senyap. Lengang. Tidak satu pun di antara mereka yang berkerumun itu berkata-kata atau berbisik-bisik. Semua diam membisu seolah dicekam ketegangan.

Di tengah kegelapan malam yang mencekam itu, sesungguhnya Abdul Jalil tengah berziarah ke makam Husein bin Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi, kawan seperjalannya dalam menunaikan ibadah haji belasan tahun silam. Namun, suasana malam itu terasa sangat mencekam akibat perseteruan yang terjadi antara penduduk yang menganut paham Syi�ah itsna Asy�ariyah dan Syi�ah Zaidiyyah, ditambah lagi keterlibatan orang-orang Sunni pengikut Imam Syafi�i dan Hanafi. Suasana ziarah yang harusnya tenang justru keadaannya layaknya perang yang menegangkan. Makam Husein hanya berupa gundukan tanah merah, sengaja disamarkan oleh pengikut-pengikutnya tanpa nisan dengan maksud tidak dibongkar oleh musuh-musuhnya.

Kematian Husein yang mendadak memang sangat mengejutkan Abdul Jalil. Dalam perjalanan laut dari Kozhikode ke Pasai, ia sudah memberi tahu Raden Sahid bahwa ia akan singgah di kediaman sahabat lama yang masih berkerabat dengan Raden Sahid, yaitu Husein yang bernasab al-Abbasi. Namun, saat mereka sampai di Pasai dan singgah di kediaman Tughra Hasan Khan, diperoleh kabar bahwa Husein tewas dibunuh orang tak dikenal.

Menurut Tughra, Husein terbunuh dalam serangan mendadak barang dua pekan sebelum kehadiran Abdul Jalil ke Pasai. Tanpa menduga sebelumnya, Husein yang baru kembali dari kediaman Tughra diserang di tengah gelap malam. Ia terbunuh bersama sepuluh orang pengikutnya dan lima orang pengawal yang dikirim Tughra. Selama ini Husein dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai seorang tokoh agama pengikut Syah Ismail. Lantaran itu, dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi Husein dimusuhi banyak orang.

Husein yang memahami perkembangan suasana diam-diam menemui Tughra dan meminta perlindungan karena kedudukan Tughra sebagai salah seorang hulubalang Kesultanan Pasai. Dalam pertemuan itu, Tughra menyatakan kesediaannya untuk melindungi Husein dan keluarganya. Tughra bahkan menyatakan akan mendamaikan pihak-pihak yang berselisih dalam waktu secepatnya. Untuk membuktikan keseriusannya, ia memerintahkan lima orang prajurit untuk mengawal Husein kembali ke rumahnya. Namun, dalam perjalanan pulang itulah Husein diserang oleh ratusan orang tak dikenal.

Menurut dugaan Tughra, orang-orang yang terlibat pembunuhan itu berasal dari beberapa kelompok. Pertama-tama, penduduk Pasai pengikut Syi�ah Zaidiyyah asal Yaman yang dipimpin Sayyid Hasan al-Muqayyat dan para pendatang asal Kerala yang dipimpin Syarif Ali Musliyar al-Munfashil. Kelompok berikutnya adalah penduduk Pasai penganut Syi�ah Ismailiyyah asal Gujarat yang dipimpin oleh Sayyid Abdul Aziz al-Khala� dan para saudagar Malaka penganut Imam Syafi�i yang dipimpin Tun Abdul Karim. Sementara yang juga diduga kuat ikut memanas-manasi suasana adalah saudagar-saudagar asal Maghrib.

Selama mendengarkan paparan Tughra tentang kemelut �pertarungan� kaum muslimin di Pasai, terutama tentang pembunuhan Husein, Abdul Jalil terdiam. Selama beberapa jenak ia merasakan kegeraman terhadap kepicikan wawasan Syah Ismail yang demi ambisi pribadinya telah mengorbankan banyak nyawa dan penderitaan orang-orang yang tak bersalah. Namun, secepat itu pula ia disadarkan oleh Ruh al-Haqq bahwa Syah Ismail pada hakikatnya hanyalah salah satu dari pemain sandiwara kehidupan yang ditempatkan oleh Sang Sutradara pada alur cerita yang sudah dirancang-Nya. Sadar akan hakikat sejatidi balik peristiwa-peristiwa tragis itu, Abdul Jalil tidak dapat berbuat sesuatu kecuali memuji kebesaran dan keagungan-Nya dengan menggumam lirih.

�Wahai Engkau Yang Maha Menyesatkan! Wahai Engkau Yang Maha Menghinakan! Wahai Engkau Tuannya Iblis! Wahai Engkau Penguasa Setan. Wahai Engkau Yang Mahaagung! Sungguh tidak berubah ketetapan hukum-Mu yang telah Engkau gariskan. Wahai pemilik siksa paling pedih, meski Engkau telah memalingkan �wajah-Mu yang mengerikan (Bhairawa), meski Engkau telah menyingsingkan kegelapan �malam-Mu� (Candika) yang gelap dan penuh darah ke terang siang-Mu yang dipancari cahaya kasih-Mu (Shankara), ketetapan hukum-Mu tidaklah berubah: Korban darah! Korban darah! Seribu kali korban darah! Ya, korban darah untuk santapan Ibunda Bhumi, Sang Prthiwi, beserta para bhuta dan kala.�

�Sungguh sempurna kehendak-Mu, o Yang Mahalanggeng. Engkau memang sudah mengubah persembahan darah manusia di atas mezbah batu sembelihan. Engkau memang sudah menyelubungi mezbah-mezbah batu persembahan darah di ksetra-ksetra dengan selimut rumah-rumah ibadah kaum beriman yang memuji keagungan-Mu dengan kepasrahan. Engkau bentangkan cermin hijab (al-mir�ah al-hajib) di hamparan cakrawala dunia hingga seluruh manusia di permukaan bumi terpukau dengan gemilang kesantunan para pemuja-Mu yang berpendar laksana matahari pagi yang sejuk. Tetapi, kini telah hamba saksikan dengan mata batin (ain al-bashirah), dan hamba pahami dengan fawa�id, betapa di balik bentangan cermin hijab itu sesungguhnya umat-Mu, manusia, dengan diam-diam atau terang-terangan masih banyak yang memuja �citra-Mu� yang mengerikan itu.�

�O Engkau Yang Maha Menyesatkan! O Engkau Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill)! O Engkau Yang Maha Pemberi Bahaya (adh-Dharr)! O Engkau Yang Mahaperkasa! O, Engkau Tuannya Iblis! O, Engkau Yang Maha Memelihara! Sungguh, Engkau telah menganugerahi hamba kemuliaan sehingga hamba bisa menyaksikan dengan mata batin keberadaan mezbah-mezbah baru untuk korban sembelihan yang dibangun saudara-saudara hamba seiman. Engkau telah menjadikan hamba sebagai saksi tentang Keberadaan mezbah-mezbah baru yang dibangun saudara-saudara hamba seiman. Engkau telah mencelikkan penglihatan batin hamba untuk menyaksikan bagaimana saudara-saudara hamba seiman tidak membuat mezbah persembahan dari tumpukan batu yang dipahat, tetapi membangunnya dari tumpukan dalil berdasar tafsiran akal pikiran yang mereka sebut madzhab. Madzhab. Madzhab. Seribu kali Madzhab. Ya, madzhab yang mereka bangun dengan kemegahan itulah yang mereka berhalakan dan mereka jelmakan menjadi mezbah persembahan baru tempat korban sembelihan dipersembahkan. Di atas mezbah-mezbah baru itulah umat-Mu, yang menyebut diri kaum yang pasrah (qaum al-muslimin), menyembelih saudara-saudaranya seiman, dengan harapan mendapat berkah dan ridho-Mu.�

Tughra Hasan Khan yang lamat-lamat mendengar gumam Abdul Jalil mengerutkan kening dan bertanya keheranan, �Engkau bicara apa, o Adikku? Apakah Engkau berbicara dengan Tuhan atau mengajak-Nya bergurau?�

�Aku justru menertawakan kebingunganku sendiri.� Abdul Jalil tersenyum pahit. �Maksudku, setiap kali aku menangkap sekelumit Kebenaran Hakiki yang digelar-Nya di balik gemerlap kehidupan dunia yang kasatmata, saat itu aku menyaksikan ketololanku sendiri. Setiap kali aku menemukan Kebenaran Hakiki yang menyingkapkan tirai jati diri di tengah bayangan maya-Nya, aku dapati diriku seperti anak-anak bermain petak umpet yang selalu kalah. Dalam keadaan itu, mereka yang tidak paham dengan keadaanku akan menduga-duga aku telah bercanda dengan Tuhan. Padahal, aku tidak bercanda dengan-Nya. Justru Dia yang kurasakan mempermainkan aku, seolah Dia sangat suka melihatku kebingungan di tengah kesempurnaan-Nya yang tak terbatas.�

�Tentang ucapan-ucapan aneh yang baru saja engkau ucapkan, apakah berkaitan dengan itu juga?�

�Ya.�

�Coba terangkan kepadaku, kenapa engkau mengatakan kaum muslimin membangun mezbah-mezbah baru? Kenapa engkau menilai mereka menyembelih saudara-saudaranya seiman demi beroleh berkah dan ridho Tuhan?�

�Selama ini aku selalu berpandangan bahwa korban sembelihan darah manusia hanya dilakukan oleh para penganut Bhairawa-Tantra dalam upacara Pancamakara di ksetra-ksetra untuk memuja Prthiwi, Durga, dan Kali. Dengan segenap upaya aku sudah mengusahakan agar upacara menyembelih manusia itu diakhiri. Aku paham bahwa upacara semacam itu adalah ketetapan yang dikehendaki-Nya untuk memenuhi hak-hak Sang Prthiwi. Lantaran itu, aku yakin jika upacara korban darah manusia akan terus berlangsung dalam bentuk lain, seperti peperangan dahsyat di suatu waktu tertentu atau bencana alam atau wabah penyakit. Tapi kini, ketika Kebenaran Hakiki menyingsing di cakrawala jiwaku, aku saksikan kenyataan yang mengejutkan dan tidak kusangka-sangka: betapa di dalam amaliah peribadatan orang-orang Islam pun sesungguhnya hal berkorban darah manusia itu dilakukan juga baik secara diam-diam atau terang-terangan,� kata Abdul Jalil tegas.

�Orang Islam melakukan korban sembelihan manusia?� sergah Tughra terheran-heran, �Aku tidak paham maksud perkataanmu, o Adikku.�

�Kakanda,� kata Abdul Jalil lirih, �Jika kita melihat Kebenaran Hakiki dengan hati yang jernih di balik terbunuhnya Husein, tidaklah kita menyaksikan betapa sejatinya dia adalah korban sembelihan dari orang-orang yang menganggap tindakannya paling benar?�

�Aku kira begitu, tetapi aku masih belum paham maksudmu.�

�Apakah Kakanda mengira bahwa orang-orang yang membunuh Husein merasa bersalah dan berdosa atas apa yang telah mereka lakukan?�

�Tentu saja tidak.�

�Apakah mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan dengan membunuh Husein itu adalah keharusan agama demi tegaknya Kebenaran?�

�Aku kira pikiran mereka memang seperti itu.�

�Apakah mereka merasa bahwa membunuh Husein adalah tindakan memurnikan agama?�

�Kelihatannya memang demikian jalan pikiran mereka.�

�Apakah mereka menganggap bahwa madzhab merekalah yang paling benar?�

�Memang demikian.�

�Nah, jika dilihat dari Kebenaran Hakiki dengan hati yang jernih, bukankah madzhab-madzhab yang dianut oleh para pembunuh Husein itu sejatinya telah diberhalakan? Bukankah kita menyaksikan secara hakiki bahwa madzhab-madzhab itu telah menjadi mezbah persembahan dan Husein adalah korban sembelihannya? Kebenaran Hakiki inilah, o Kakanda, yang tadi aku saksikan bersinar gemilang di cakrawala kesadaranku. Lantaran itu, aku tadi menertawakan kebingunganku yang selama ini menganggap mezbah-mezbah persembahan hanya mutlak milik penganut Bhairawa-Tantra. Aku menertawakan ketololanku yang membayangkan mezbah-mezbah persembahan hanya berbentuk batu yang dipahat dengan korban manusia di atasnya.�

�Kenapa engkau merasa tolol? Bukankah engkau harusnya bersyukur dapat menangkap cahaya Kebenaran Hakiki yang dipancarkan-Nya?�

�Memang, aku sangat bersyukur. Tetapi, selama bertahun-tahun aku telah mengikuti pandangan yang keliru bahwa korban sembelihan manusia hanya dilakukan oleh orang-orang penganut ajaran Bhairawa-Tantra. Bahkan, dalam upaya membuat tawar daya sakti ksetra-ksetra, aku telah rela dan ikhlas menumpahkan darahku di atas batu-batu di berbagai tempat. Kini, ketika sebagian besar ksetra itu telah tawar daya saktinya, justru aku lihat mezbah-mezbah baru untuk sembelihan manusia telah dibangun oleh saudara-saudaraku seiman. Kini, aku saksikan mezbah-mezbah persembahan dari madzhab-madzhab yang diberhalakan telah tumbuh menggantikan ksetra-ksetra. Sekalipun mezbah-mezbah persembahan yang baru itu tersamar dan tidak kasatmata, kenyataan menunjuk bahwa mezbah-mezbah itu akan dijadikan tempat bagi persembahan korban manusia yang tidak lebih sedikit jumlahnya dibanding mezbah-mezbah batu di ksetra-ksetra.�

�Aku paham dengan Kebenaran Hakiki yang engkau peroleh, o Adikku, tetapi janganlah Kebenaran ini engkau ungkapkan kepada orang lain karena bisa menimbulkan salah paham.�

Usai berziarah, di tengah kegelapan yang diselimuti kabut, Abdul Jalil tampak berdiri termangu menatap satu demi satu kerumunan orang yang menunggunya di bawah pohon. Matanya yang setajam binatang malam terlihat berkilat di tengah keremangan. Ketika pandangannya jatuh pada Tughril Muhammad Khan, dengan suara ditekan rendah ia bertanya, �Berapa usiamu sekarang, o Putera saudaraku?�

�Tujuh belas, Paman.�

Abdul Jalil diam. Ia mengalihkan tatapan pada Fadhillah Khan dan bertanya, �Kalau engkau, o Putera saudaraku, berapa usiamu?�

�Lima belas tahun, Paman.�

�Berarti, kalian berdua sudah menginjak dewasa. Sebentar lagi Tughril akan menikah dan beranak-pinak. Lalu Fadhillah akan menyusulnya. Lantaran itu, o Putera saudaraku, sebelum kalian berdua memasuki lautan kehidupan dengan menumpang bahtera yang kalian kemudikan, hendaknya kalian ingat-ingat dan kalian camkan petuah yang akan aku sampaikan kepada kalian berdua sebagai bekal agar kalian selamat sampai ke Pelabuhan tujuan.�

�Kami akan menjadikan pusaka petuah-petuah dari Paman.�

�Pertama-tama,� Abdul Jalil memulai petuahnya, �Wajib bagi kalian untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai satu-satunya cermin yang membiaskan setiap gerak langkah kalian, baik dalam berpikir, berkata-kata, bersikap, dan berperilaku. Sebab, Muhammad Saw. adalah perwujudan dari akhlak mulia (al-khuluk al-Karim), �cermin� yang mengantarai dan sekaligus menjadi penghubung antara Sang Pencipta (al-Khaliq) dan ciptaan (al-khalaq). Semakin kuat kalian mengejawantahkan akhlak mulia yang telah diteladankan Muhammad Saw., maka semakin dekatlah kalian kepada-Nya, ibarat bayangan yang makin dekat kepada Yang Bercermin.�

�Aku tidak akan menjelaskan kepada kalian berdua tentang apa saja dari Muhammad Saw. yang harus kalian jadikan cerminan. Sudah terlalu banyak orang yang mengajarkan sesuatu tentang dia. Sebaliknya, aku hanya akan mengajarkan kepada kalian berdua intisari paling rahasia dari keberadaan Muhammad Saw. selama menjalankan tugas Kenabian di dunia yang berpijak pada satu tiang utama: Kebenaran (al-Haqq).�

�Ketahuilah oleh kalian bahwa Muhammad Saw. adalah pengabdi dan sekaligus penyampai Kebenaran sejati yang tulus, ikhlas, tanpa pamrih, yang tiada tandingan hingga derajatnya melampaui ishthina�. Tahukah kalian di mana letak ketulusan dan keikhlasannya dalam mengabdi kepada Kebenaran sampai melampaui ishthina� ? Tahukah kalian tentang resiko berat yang dihadapi akibat pengabdiannya yang tulus dan ikhlas itu? Dengarkan dan camkan benar-benar apa yang akan aku sampaikan ini.�

�Pertama-tama, Muhammad Saw. mengajarkan Kebenaran tentang Yang Ilahi sebagaimana ajaran yang disampaikan barisan Nabi-Nabi sebelum dia. Padahal, dewasa itu hampir semua bangsa Arab dan terutama kaum Quraisy, kaumnya Muhammad Saw., menganut ajaran �kebenaran� yang berbeda dengan ajaran Nabi-Nabi. Untuk pengabdiannya kepada Kebenaran, Muhammad Saw. harus berhadapan sebagai musuh dengan kaum dan bangsanya sendiri. Seorang diri dia menyampaikan ajaran Tauhid di tengah kejahilan bangsanya.�

�Tidak hanya tentang Yang Ilahi. Ajaran Muhammad Saw. tentang Nabi-Nabi pembawa Kebenaran pun ditandai oleh pengabdian yang tulus dan tanpa pamrih. Di antara keimanan terhadap Nabi-Nabi, terutama dua puluh lima orang Nabi dan Rasul Allah yang wajib diyakini sebagai pembawa Kebenaran, tidak satu pun menunjuk kepada salah satu dhatu leluhur bangsanya, kecuali Ismail a.s. Leluhur suku-suku Arab yang dipuja sebagai sesembahan oleh bangsa Arab justru ditetapkannya sebagai pangkal kemusyrikan yang bertentangan dengan ajaran Kebenaran Tauhid. Bahkan, dengan tulus dan ikhlas Muhammad Saw. mewajibkan para pengikutnya untuk mengimani Kenabian para Nabi Bani Israil seperti Ishak, Ya�kub, Yusuf, Musa, Harun, Yusak, Sulaiman, Daud, Ilyas, Zakaria, Yahya, Isa a.s. dan sebaliknya menolak keilahian dhatu-dhatu leluhur Arab yang dituhankan seperti Latta, Uzza, Manat, dan Hubal. Keikhlasan dalam menempatkan Kebenaran di atas segala itulah yang membuat Muhammad Saw. menempati kedudukan melampaui ishthina�, yaitu kedudukan ruhani orang yang tak terikat keakuan manusiawi lagi.�

�Jika ada orang yang menuduh Muhammad Saw. Memiliki pamrih dalam menyiarkan ajaran Tauhid, tentu akan ada bukti bahwa dia telah mengagungkan dewa-dewa yang disembah bangsanya. Padahal, kenyataan membuktikan bahwa dewa-dewa sesembahan bansa Arab itulah yang justru ditentangnya. Dan sebaliknya, Kebenaran Tauhid yang diajarkan oleh Nabi-Nabi terdahulu termasuk Nabi-Nabi dari antaera Bani Israil yang dia ajarkan untuk menggantikan paganisme yang berkembang dewasa itu. Tauhid adalah Tauhid. Kebenaran adalah Kebenaran. Tidak ada anasir bahasa, bangsa, warna kulit, pangkat, derajat. Itu prinsip dia.�

�Ingat-ingatlah, o Putera-Putera saudaraku, puncak tertinggi dari pengabdian Muhammad Saw. kepada Kebenaran tercermin pada keberhasilan dia dalam menghapus semua pamrih pribadi bagi perjuangannya. Ingatlah sabda Muhammad Saw.: �Katakan Kebenaran sekalipun pahit! (qul al-haqq walau kana muran).� Itulah tonggak pedoman yang mencerminkan keberadaannya sebagai penyampai ajaran Tauhid dan pengabdi Kebenaran. Bahkan, karena kesuciannya dari pamrih-pamrih dalam menyampaikan ajaran Kebenaran maka suara Sang Kebenaran (al-Haqq) mengejawantah dalam wujud Sabda Suci (Kalam Ilahi) yang terungkap lewat lisannya. Sekalipun Muhammad Saw. adalah manusia suci yang menjadi wahana bagi �kelahiran� Sabda Suci Ilahi ke dunia, dia dengan tegas melarang para pengikutnya untuk menyembah selain Allah.�

�Dengan selalu mengingat ketulusan dan keikhlasan Muhammad Saw. dalam mengabdikan diri kepada Kebenaran, hendaknya kalian berdua menjadi sadar dan kemudian bergegas mengikuti langkahnya. Maksudku, sekalipun di dalam aliran darah kita terdapat darah Muhammad Saw., hendaknya jangan ada di antara kita yang membiarkan jiwanya ternodai pamrih-pamrih pribadi. Janganlah ada di antara kita yang mengaku-aku sebagai keturunan Muhammad Saw. dengan pamrih supaya dihormati dan dijadikan panutan manusia. Jangan ada di antara kita yang menyatakan diri sebagai keturunan Muhammad Saw., tetapi menyembunyikan harapan agar bangsa-bangsa pemeluk Islam bertekuk lutut kepada kita. Jangan ada di antara kita yang mengaku keturunan Muhammad Saw. dan kemudian menutup �pintu Kebenaran� dengan memberhalakan diri sebagai satu-satunya penjaga �pintu Kebenaran�. Jangan ada di antara kita yang mengaku-aku keturunan Muhammad Saw. dengan maksud memperoleh keuntungan pribadi, apalagi sekadar sedikit kekayaan dan kekuasaan duniawi.�

�Lantaran itu, ingat dan camkan! Kebenaran Tauhid yang diajarkan Muhammad Saw. tidak mengenal bangsa, bahasa, warna kulit, dan garis keturunan. Kebenaran adalah Kebenaran. Laksana wangi bunga, Kebenaran tidak pernah menyebar-nyebarkan harum-Nya, tetapi semerbak wanginya menebar sendiri ke mana-mana. Jangan sekali-kali kalian menerima Kebenaran berdasar siapa yang membawanya, melainkan terimalah Kebenaran sebagai Kebenaran meski berasal dari orang-orang gelandangan yang tak dihormati manusia. Kebenaran akan terbit sebagai matahari hakiki yang cahanya-Nya bisa disaksikan sebagai bashirah. Hilangkan segala macam pamrih, karena pamrih adalah bagian dari kemusyrikan yang samar,� kata Abdul Jalil.

�Kami akan pusakakan wejangan Paman,� kata Tughril.

Abdul Jalil diam dan bergantian menatap Tughril dan Fadhillah. Sejurus setelah itu, dengan suara yang lain ia berkata penuh wibawa. �Jika kalian nanti mengarungi samudra kehidupan, janganlah kalian tergiur oleh warna-warni �cat� yang menghias �bahtera� yang katanya dibuat dari ayat-ayat Ilahi yang terang dan abadi. Sebab, warna-warni �cat� penghias �bahtera� itu pada dasarnya tidak lebih dari bahan-bahan penghias �bahtera�, yaitu tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Ilahi yang diikat (�iql) oleh serat-serat nalar (�aql) hingga menjadi jalinan tali-temali pemikiran (fikr) yang nisbi jangkauannya.�

�Kenapa aku mengingatkan kalian akan hal ini? Sebab, segala sesuatu yang dibangun di atas bangunan pemikiran yang nisbi jangkauannya akan nisbi pula keberadaannya. Bahan-bahan penghias selalu rentan dan gampang terkelupas dan luntur. Lantaran itu, ingat-ingatlah selalu bahwa Kebenaran yang terkandung di dalam ayat-ayat Ilahi adalah mutlak dan tidak terbantah. Tetapi, penafsiran atas ayat-ayat tersebut berdasar akal pikiran, adalah nisbi. Terbatas. Itu sebabnya, Allah melarang melarang manusia untuk menggunakan pikiran dalam mengenal Sang Pencipta. Pikiran hanyalah piranti yang digunakan untuk mengenal ciptaan-Nya. Dengan demikian, jika ada manusia menggunakan pikiran untuk mengenal Allah, justru hasilnya adalah pengingkaran (kufur) terhadap Kebenaran dan bermuara pada pengkafiran (takfir). Mereka yang menggunakan pikiran untuk mencari Allah pasti akan sesat sehingga �bahtera� yang mereka tumpangi akan kandas ke jajaran karang tajam samudera ruhani dan hancur berkeping-keping dalam Kebinasaan.�

�Tanamkan di hati sanubari kalian berdua, o Putera saudaraku, Kebenaran Sejati tidak bisa diperdebatkan berdasar dali-dalil yang dibangun dari bahan-bahan hasil tafsiran akal pikiran. Kebenaran Sejati hanya bisa dikenal dengan bashirah. Ingat itu: bashirah! Itu sebabnya, hendaknya kalian berdua jangan terperangkap kepada madzhab-madzhab yang saling berebut benar sendiri. Jangan kalian memberhalakan madzhab. Jangan kalian berperang dan membunuh sesamamu demi madzhab yang engkau anggap benar. Jika itu yang kalian lakukan maka kalian sesungguhnya telah membangun mezbah-mezbah persembahan dengan korban sembelihan saudara kalian dari perselisihan madzhab. Menghindarlah kalian dari perselisihan madzhab. Jadilah kalian sebagai bagian dari kaum beriman (qaum al-mu�minin), wakil al-Mu�min di muka bumi (khalifah al-Mu�min fi al-ardh), yang menjadi pembawa keamanan bagi kehidupan makhluk di muka bumi. Citrakan diri kalian sebagai wakil as-Salam di muka bumi (khalifah as-Salam fi al-ardh) yang menjadi bagian dari pembawa dan pemelihara kedamaian di bumi.�

Tughril termangu-mangu mendengar uraian Abdul Jalil. Setelah merenung beberapa jenak, dia berkata dengan nada tanya, �Kami sudah memahami akan apa yang Pamanda sampaikan. Tapi, kami belum paham dengan penjelasan Pamanda tentang mengenal Kebenaran dengan bashirah. Apakah yang Pamanda maksud dengan bashirah? Bagaimanakah cara kita menggunakan bashirah untuk mengenal-Nya?�

�Bashirah adalah piranti yang digunakan Nabi Muhammad Saw. untuk menerangi jalan Kebenaran yang dia lalui dan digunakan pula oleh orang-orang ang mengikutinya (QS. Yusuf: 108). Melalui piranti bashirah itulah Nabi Muhammad Saw. secara khusus mengajarkan kepada sahabat-sahabat dekatnya �cara� dan �jalan� mengenal Allah. Tetapi, ajaran tentang bashirah ini sangatlah rahasia sehingga tidak bisa diungkapkan di tengah manusia ramai. Lantaran itu, aku akan mengajarkan kepadamu pengenalan akan Allah melalui bashirah secara rahasia pula.�

Setelah mengajarkan pengetahuan rahasia tentang bashirah kepada Tughril dan Fadhillah, Abdul Jalil menggandengan dua orang kemenakannya itu berjalan ke arah Na�ina Husam, yang duduk bersimpuh di samping Shafa, istrinya. Na�ina Husam sendiri adalah sufi perempuan asal Syiraz, yang tinggal di Pasai di bawah lindungan Tughra Hasan Khan. Dia meninggalkan negerinya akibat diburu-buru kaki tangan Syah Ismail. Dia mula-mula datang ke negeri Perlak. Namun, di sana suasananya tidak berbeda dengan di Syiraz. Penduduk Perlak yang mendukung keluarga Safawi terlibat pertarungan sengit dengan penduduk yang menentang Syah Ismail. Darah tumpah di mana-mana. Di tengah pertarungan yang mengalirkan darah itulah Na�inah Husam pergi ke Pasai dan berlindung di kediaman Husein al-Abbasi. Ternyata, di Pasai pun pertarungan tak kalah sengit dan bahkan membawa Husein ke alam Kematian. Di tengah kecamuk pertarungan berdarah itulah, atas permintaan keluarga Husein, Na�ina Husam dilindungi oleh Tughra.

Malam itu cahaya bintang yang bertaburan di langit tak mampu menembus kabut yang menyelimuti permukaan bumi dengan keheningan. Suasana makin senyap. Hening. Di tengah keheningan, di bawah tatapan mata semua orang, Abdul Jalil duduk bersila di depan Na�ina Husam sambil merangkul dua orang kemenakannya. Beberapa jenak terdiam, tiba-tiba Abdul Jalil bertepuk tangan sambil melantun sebaris syair:

�Marilah kita bertepuk tangan sambil berseru: berbahagialah engkau yang terlempar dari tanah kelahirannya karena kecintaan yang tulus dan suci kepada Sang Kekasih. Berbahagialah engkau yang mabuk akibat menenggak anggur penderitaan yang diperas dari buah kerinduan yang tak kesampaian. Berbahagialah engkau yang mabuk anggur kerinduan, karena engkau yang mendamba cinta-Nya. Berbahagialah engkau, o Na�ina Husam, sebagaimana kebahagiaan yang telah direguk Rabi�ah, Rumi, Hallaj, Ba Yazid, Attar, Hafiz, Sa�di.�

Na�ina Husam menegakkan wajah. Matanya yang semula sayu tiba-tiba bercahaya. Dengan tatapan penuh gelora, ia memandang wajah Tughril dan Fadhillah ganti-berganti. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan menepuk-nepukkannya ke bahunya beberapa kali. Setelah itu, dengan suara lain dia mengutip syair-syair yang digubah Sa�di.

�Berbahagialah hari-hari mereka yang mabuk cinta Ilahi karena mereka belum atau sudah mengetahui pedihnya obat penawar Ilahi. Merekalah pengemis yang menolak martabat raja dan mereka sangat lama menderita di dalam permohonan mengharap Dia.�

Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu kiri dengan tangan kanannya sambil mengumandangkan syair.

�Wahai engkau yang membandingkan martabat pengemis dengan raja-raja, telah kutangkap citra hidupmu yang tak seekor semut pun pernah menderita karenamu. Sementara raja-raja yang tegak di tengah kemegahan duniawi, hari-harinya selalu diwarnai taburan penderitaan bagi makhluk sekitar. Itulah pertanda utama martabat sang fakir dan sang raja, yang menjadi citra kehidupan dunia sejak masa lalu hingga masa datang.�

Na�ina Husam menengadahkan wajah ke atas menatap bintang gemintang. Dia menepuk-nepuk kembali bahunya. Kemudian dengan air mata berlinang-linang, ia melantunkan syair.

�Kaki tangan Syah Ismail telah memburuku laksana binatang buas yang berbahaya, hanya karena perhatianku selalu kuarahkan kepada Sang Kekasih. Atas titah Syah, mereka menganggapku liar dan karenanya aku harus ditangkap untuk ditundukkan. Sungguh keliru mereka yang menganggap rajawali betina merasa bahagia di dalam sangkar emas dalil-dalil yang mereka cipta. Memang, jiwa-jiwa merpati dan beo bisa berada dalam kerangkeng yang berbeda-beda, tetapi jiwa rajawali-rajawali Ilahi senantiasa merdeka dan Satu.�

�Kaki tangan Syah memaksaku untuk mengikuti jalan akal yang mereka lalui, yaitu jalan yang penuh belokan, putaran, tanjakan, liku-liku membingungkan, dan tebaran jebakan yang membahayakan jiwa. Mereka tidak paham. Akal, sekalipun tinggi dan mulia, bukanlah sang jalan., tetapi cahaya yang menunjukkan jalan. Dengan cahaya akal orang dapat membedakan mana keburukan, mana musuh dan mana kawan, mana benar dan mana batil. Tetapi, dengan seberkas cahaya akal, orang tidak akan mecapai tujuannya sampai dia menemukan jalan itu. Barangsiapa yang telah diberi penerangan jalan, cahaya akalnya akan tenggelam dalam pancaran matahari bashirah yang memancar dari al-Bashir.�

�Aku telah menyaksikan salik-salik penyamar berjiwa serigala dan musang yang ditebar Syah. Mereka berbaris di padang gurun menuju kota-kota dan mengaku membawa berita-berita Kebenaran. Sungguh aneh, mereka yang tidak bisa mendengar suara Kebenaran karena telinga jiwa (sam�) mereka telah pekak tertutup gumpalan awan keakuan, tiba-tiba mengaku sebagai pembawa berita Kebenaran. Sungguh mengerikan mereka, penyamar-penyamar itu. Tubuh mereka berbaris menuju kota-kota, tetapi jiwa mereka terjerat oleh angan-angan kosong laksana laba-laba terjerat jaring-jaring yang ditebar sendiri.�

�Kepada salik-salik sejati, para penempuh jalan Kebenaran, aku sampaikan peringatan kepada kalian: hendaknya jangan sekali-kali mempercayai dan mengikuti mereka yang mengaku-aku pembawa berita Kebenaran. Sebab, mereka adalah para penyamar. Mereka yang mengaku membawa berita Kebenaran sejatinya adalah orang-orang yang bertelinga tuli dan lidahnya bercabang. Sadarkanlah kesadaranmu, o salik-salik sejati, bahwa mengucapkan perkataan atas nama Kebenaran adalah jauh lebih mudah daripada menemukan jalan Kebenaran.�

�Inilah perbedaan antara salik sejati dan salik penyamar, yang pertama adalah Daud yang menyanyikan kidung Zabur, sedang yang kedua adalah gaung nyanyiannya yang memantul di dinding tebal. Atau laksana perbedaan antara �ilm al-tahqiqi dan �ilm al-taqlidi. Yang pertama dijajakan di tengah keheningan dan dibeli oleh Tuhan, sedang yang kedua dijajakan dan diperdagangkan di pasar dan dibeli banyak orang bodoh.�

Abdul Jalil menepuk bahu kanan dan bahu kirinya. Setelah itu, ia menepuk bahu Fadhillah dan Tughril. Kedua orang kemenakannya itu beringsut ke depan, berlutut dan bergantian mencium tangan Na�ina Husam. Meski orang-orang yang berkerumun di sekitar mereka tidak memahami apa yang sesungguhnya terjadi antara Abdul Jalil dan Na�ina Husam yang bersyair itu, Tughril dan Fadhillah menangkap peristiwa itu sebagai pelajaran ruhani yang sangat dalam dan penuh diliputi rahasia jiwa tak terungkapkan.

Keesokan harinya, ketika matahari merambat naik di ufuk timur, Abdul Jalil duduk bersila di dermaga, tak jauh dari kapal yang akan membawanya ke Malaka. Di tengah embusan angin yang menerbangkan sisa-sisa embun pagi, di antara gemuruh ombak dan jeritan burung camar, di sela-sela suara kibaran layar, ia memberikan wejangan kepada orang-orang yang dikasihinya; Ahmad Kandang, Orang Kaya Kenayan, Abdurrahman Singkel, Raden Sahid, Tughril, dan Fadhillah Khan yang bersila takzim di depannya. Dengan suara lain yang meliputi ketenangan dan kewibawaan, ia berkata di tengah desau angin pantai.

�Sesungguhnya, aku menangkap sasmita bahwa kalian berada dalam kebingungan ketika aku beri tahukan tentang hakikat hidayah dan iman dengan sudut pandang lain daripada yang selama ini kalian pahami. Padahal, jika kalian memahami makna Tauhid secara benar, hal yang aku sampaikan itu bukanlah sesuatu yang sulit dipahami.�

�Sekali lagi aku ingatkan kepada kalian bahwa apa yang disebut hidayah adalah pancaran dari Yang Memberi Petunjuk (al-Hadi). Lantaran itu, di dalam hidayah tersimpan daya-daya iman yang merupakan pancaran Yang Memberi Keamanan (al-Mu�min), daya-daya Islam yang merupakan pancaran Yang Memberi Kedamaian (as-Salam), dan daya-daya ruhani lain yang merupakan pancaran Asma�, Shifat, dan Af�al Yang Ilahi, yang kesemua daya itu bermuara ke samudera takwa, yakni pancaran Yang Memberi Kekuatan (al-Qawiy).�

�Dengan memahami hidayah dari sisi Tauhid ini, hendaknya kalian dapat menangkap tanda-tanda keberadaan manusia-manusia yang beroleh anugerah hidayah, hidup mereka senantiasa ditandai oleh keterbimbingan dalam menapaki jalan hidup (sabil huda) yang diterangi cahaya al-Hadi. Jika jalan hidup seseorang sudah diterangi cahaya al-Hadi maka daya-daya iman yang memancar dari al-Mu�min akan menandai pula keberadaan hidupnya. Itu berarti, yang disebut manusia beriman adalah manusia yang bisa mengejawantahkan pancaran al-Mu�min sebagai wakil-Nya di muka bumi (khalifah al-Mu�min fi al-ardh). Sebagai wakil al-Mu�min, manusia-manusia beriman akan menampakkan suasana hati dan pikirannya yang selalu dipancari rasa aman, cenderung pada terciptanya suasana aman dan selalu memberikan keamanan bagi kehidupan di sekitarnya. Lantaran itu, Rasulullah Saw. bersabda: tidaklah beriman orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.�

�Ketahuilah, daya-daya iman secara hakiki tidak terpisah dari daya-daya Islam. Itu berarti, keberadaan seorang manusia beriman selain ditandai oleh keberadaan dirinya yang mengejawantahkan pancaran Sang Pemberi Keamanan (al-Mu�min), juga ditandai oleh keberadaannya sebagai pembawa kedamaian (al-Islam) yang merupakan pancaran Sang Pemberi Kedamaian (as-Salam). Dengan demikian, manusia-manusia yang beroleh hidayah selalu ditandai oleh keberadaan diri sebagai pencipta keamanan dan kedamaian bagi kehidupan di sekitarnya. Mereka yang paling kuat dalam perjuangan mengaktualisasi daya-daya iman dan islam dalam kehidupannya akan beroleh derajat dan maqam tertinggi yang disebut takwa, yaitu pancaran dari Yang Mahakuat (al-Qawiy). Manusia-manusia yang sudah menduduki derajat takwa adalah orang yang paling kuat lahir dan batin di antara manusia, karena mereka telah mampu mewujudkan keberadaan dirinya sebagai wakil Yang Mahakuat di muka bumi (khalifah al-Qawiy fi al-ardh). Mereka itulah adimanusia-adimanusia yang akan dianugerahi kemuliaan (karamah) yang memancar dari al-Karim.�

�Dengan apa yang telah aku sampaikan ini, sesungguhnya telah jelas makna hakiki di balik hidayah dan iman yang bermuara ke samudera takwa dan karamah. Artinya, mereka yang sudah mencapai derajat takwa dan beroleh anugerah karamah dari al-Karim, keberadaannya akan ditandai oleh kemurahan-kemurahan dan kemuliaan-kemuliaan. Itulah citra kaum takwa (qaum al-muttaqin), yang senantiasa menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-�alamin). Dengan demikian, jika kalian dapati ada manusia-manusia yang menyatakan diri sebagai umat Islam yang beriman dan bertakwa tetapi keberadaan dirinya ditandai oleh citra menakutkan, menggelisahkan, menimbulkan ketidakamanan, membuat suasana tidak damai, dan bahkan menebara kematian, maka sesungguhnya mereka itu pendusta. Mereka itulah yang pantas disebut kaum beragama yang tidak beriman. Mereka mengaku muslim, tetapi tidak memiliki ruh Islam. Mereka mengaku beriman, tetapi tidak memiliki iman. Mereka adalah mayat-mayat hidup yang berbahaya bagi kehidupan makhluk.�

Semua mengangguk-angguk mendengar paparan Abdul Jalil. Mereka menangkap kebenaran di dalam ucapan-ucapannya. Setelah terdiam beberapa jenak, Orang Kaya Kenayan bertanya, �Kami paham dan dapat menangkap paparan Tuan Syaikh. Tetapi, yang masih membingungkan kami adalah bagaimana sikap kami dalam menghadapi keadaan kacau di tengah pertarungan ini? Apakah kami harus berpangku tangan agar keadaan menjadi aman dan damai, sementara orang-orang bergelut dalam pertikaian berdarah?�

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara ditekan tinggi ia berkata, �Sungguh keliru mereka yang membayangkan keamanan dan kedamaian sebagai sesuatu yang diam dan tanpa gerak. Sebab, keamanan dan kedamaian adalah sebuah gerak dinamis dari daya-daya kehidupan laksana arus sungai mengikuti alirannya. Dengan demikian, aku katakan bahwa telah keliru orang-orang yang lari meninggalkan kehidupan dan bertapa di gua-gua karena beralasan ingin menjadikan kehidupan dunia aman dan damai. Mereka itu sejatinya adalah orang-orang picik yang menginginkan keamanan dan kedamaian bagi dirinya sendiri. Mereka adalah para pengecut yang menjadi pecundang karena tidak mampu mewujudkan citra dirinya sebagai wakil al-Mu�min di muka bumi dan wakil as-Salam di muka bumi.�

�Ingat dan camkan dalam sanubari kalian! Tugas utama kaum muslim yang beriman adalah memelihara keamanan dan kedamaian karena mereka adalah wakil as-Salam dan al-Mu�min. Itu berarti, jika terjadi suatu masa di mana ketidakamanan dan kekacauan meliputi wilayah di sekitar kaum muslim yang beriman, maka wajib baginya untuk menggunakan kekuatan tangan dan mulutnya untuk menciptakan keamanan dan kedamaian. Bahkan, untuk alasan demi terciptanya keamanan dan kedamaian, orang-orang muslim beriman diwajibkan berperang untuk melindungi orang-orang lemah baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang ditindas dan dianiaya orang-orang zalim (QS. An-Nisa: 75). Orang-orang beriman yang berjuang menjalankan tugasnya dalam menciptakan keamanan dan kedamaian itu akan dilindungi oleh Allah (QS. al-Baqarah: 257).�

�Aku tahu kalian mencemaskan pertikaian antara para penganut Syi�ah dan Sunni akibat tindakan Syah Ismail di negeri Persia. Aku juga tahu kalian mencemaskan keberadaan orang-orang Portugis di Cochazhi yang mengancam penduduk muslim. Sesungguhnya kalian tidak perlu cemas akan semua peristiwa yang terjadi. Sebab, jika Allah menghendaki, tidaklah manusia saling berbunuh-bunuhan. Tetapi, Allah berbuat segala apa yang dikehendaki-Nya (QS. Ali Imran: 200). Jangan sekali-kali kalian menyerang orang-orang yang tidak menyerang kalian. Jangan sekali-kali kalian menyerang orang-orang yang tidak berbuat zalim dan tidak membuat kerusakan. Tetaplah kalian menjadi pelindung bagi orang-orang lemah. Lindungilah mereka dalam keamanan dan kedamaian. Kaum beriman tidak pernah menjadi penyerang dan pembuat kekacauan di muka bumi.�

�Sesungguhnya, kehidupan kalian dengan alam sekitar kalian adalah ibarat sekumpulan orang yang menumpang sebuah kapal. Masing-masing penumpang memiliki hak untuk duduk di tempat yang disediakan bagi mereka. Masing-masing penumpang wajib menghargai hak penumpang lain. Itu sebabnya, jika salah seorang penumpang mengeluarkan alat untuk melubangi kapal maka seluruh penumpang wajib mencegahnya agar semuanya selamat sampai ke pelabuhan tujuan.�

�Andaikata saat berlayar itu ada kapal lain yang berusaha merampas kapal dan menawan penumpangnya maka menjadi kewajiban seluruh penumpang � terutama orang-orang yang kuat (takwa), di antara penjaga keamanan (mu�min) dan kedamaian (muslim) � untuk melawan penyerang itu dengan berbagai cara dan membagi tugas masing-masing. Ada penumpang yang bertugas melawan musuh dengan senjata. Ada yang bertugas melindungi penumpang-penumpang lemah. Ada yang mempertahankan ruang kemudi. Dan ada pula yang mempertahankan keutuhan kapal agar tidak tenggelam. Bahkan, ada yang menyelinap masuk ke kapal musuh untuk menggoyahkan semangat mereka. Demikianlah perumpamaan dari kehidupan orang-orang muslim beriman di sebuah negeri yang diserang musuh.�

�Apa yang harus dilakukan oleh kaum muslim beriman, o Tuan Syaikh, jika kapal yang mereka tumpangi tidak dapat dipertahankan?� tanya Orang Kaya Kenayan.

�Ketidakmampuan mempertahankan kapal mesti dialami lebih dulu oleh para penumpang yang bertugas melawan musuh dengan kekuatan senjata. Jika itu yang terjadi maka menjadi tugas para pelindung penumpang, penjaga ruang kemudi, penjaga keutuhan kapal, dan penyusup untuk mengambil langkah bijaksana sesuai tugas masing-masing. Artinya, demi keselamatan kapal dan seluruh penumpang, dengan lapang dada dan penuh kepasrahan mereka harus mengembalikan segala urusan kepada Yang Mahakuasa (al-Muqtadir).�

�Membiarkan pihak musuh menguasai kapal?� tanya Orang Kaya Kenayan.

�Kalau terpaksa, kenapa tidak?� sahut Abdul Jalil datar. �Sebab, masalah utama dalam peristiwa semacam itu bukanlah kemenangan dalam menguasai kapal, melainkan sejauh mana para penumpang kapal di bawah kekuasaan musuh tetap dapat hidup dengan keyakinannya dan bisa setia melayani Sang Rajadiraja semesta (al-Malik al-Mulki). Apalah artinya kemenangan kuasa duniawi atas sebuah kapal jika para penumpang mengabaikan dan enggan melayani-Nya? Justru pada saat dikuasai musuh itulah para penumpang kapal harus mengukuhkan kembali persaksian Tauhid kepada Sang Rajadiraja semesta; Rabb manusia, Rajadiraja manusia, Sesembahan manusia, dengan menafikan keraguan yang diakibatkan oleh bisikan maya golongan jin dan manusia (QS. an-Nas: 1 � 6). Ya bisikan meragukan dari golongan jin dan manusia tentang kehormatan, kepahlawanan, kesyahidan, kebangsaan, kebebasan, kekuasaan, kepentingan golongan dan keluarga harus dinafikan semua. Sebab, semua itu bersifat maya. Saat itu, hati dan pikiran harus dikiblatkan untuk menyucikan dan memuliakan-Nya. Kesampingkan segala sesuatu selain Dia.�

�Apakah itu berarti para penumpang kapal menyerah total kepada musuh dan menjadi budak mereka?�

�Justru di bawah kekuasaan musuh itulah para penumpang kapal memulai perjuangan yang sesungguhnya dalam menegakkan Tauhid Mulukiyyah,� kata Abdul Jalil.

�Kami belum paham dengan penjelasan Tuan Syaikh tentang Tauhid Mulukiyyah.�

�Camkan dalam kesadaran kalian, o Anak-Anakku! Sesungguhnya, jatuh dan bangunnya suatu bangsa tergantung seutuhnya pada kehendak Sang Rajadiraja semesta; Dia, Maharajadiraja Yang Hakiki (al-Malik al-Haqq al-Mubin), Yang Maha Mengangkat (ar-Rafi�), Yang Memberi Kemuliaan (al-Mu�iz, Yang Memberi Keamanan (al-Mu�min), Yang Memberi Kedamaian (as-Salam). Tetapi, Dia juga Maharajadiraja Penguasa alam jasadi, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Yang Maha Menjatuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Mencabut (al-Qabidh), Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), dan Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim). Itu berarti, bangsa-bangsa yang dihinakan di bawah kaki musuh hendaknya mawas diri. Ya, mawas diri, apakah mereka selama itu sudah benar dalam melayani Sang Maharajadiraja semesta? Sebab, telah tertulis pada lembaran Kitab Suci dan sejarah bangsa-bangsa bahwa kejatuhan suatu bangsa ke dalam kekuasaan bangsa lain lebih banyak disebabkan oleh kenyataan bahwa bangsa bersangkutan telah mengabaikan Sang Maharajadiraja semesta dengan membuat sesembahan (thaghut) lain yang hina dan nista.�

�Sesungguhnya, Sang Maharajadiraja semesta adalah Penguasa semesta ciptaan. Dia menolak disekutukan. Dia ingin dijadikan sebagai satu-satu-Nya kiblat Sesembahan dan Gantungan harapan umat-Nya. Dia Maha Pencemburu dengan sekutu-sekutu. Itu sebabnya, tugas utama para pemimpin kaum muslim beriman di sebuah kapal adalah menciptakan keadaan di mana seluruh penumpang kapal menjadi orang-orang yang bertakwa; yang memuliakan keagungan-Nya sebagai Rabb, Maharajadiraja dan Sesembahan seluruh makhluk. Semua penumpang wajib menjadikan-Nya sebagai Pelabuhan harapan dan Kiblat Tujuan. Para pemumpin kaum muslimin yang beriman dan bertakwa tidak boleh membiarkan para penumpang kapal berlebihan dalam mengumbar kesenangan nafsu; pesta pora menyantap makanan lezat, menenggak khamr sampai mabuk, menari-nari, menyanyi-nyanyi, menikmati kesyahwatan tanpa kendali hingga melanggar aturan yang ditetapkan Sang Maharajadiraja semesta. Demikianlah hukum kauniyah yang menetapkan syarat-syarat agar kapal yang ditumpangi suatu kaum tidak merampas dan dikuasai musuh,� papar Abdul Jalil.

�Apakah mungkin negeri kami nanti jatuh di bawah kaki orang-orang kafir Portugis?� tanya Orang Kaya Kenayan sambil menarik napas berat dan kemudian mengembuskannya keras-keras.

�Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini,� sahut Abdul Jalil dingin, �Tetapi, semua kemungkinan itu tergantung pada ketakwaan orang-orang di suatu negeri.�

�Maksud Tuan Syaikh?�

�Apakah penduduk negeri Pasai selama ini sudah melayani Sang Maharajadiraja semesta dengan setia? Apakah mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesembahan lain? Apakah mereka tidak disibukkan oleh urusan-urusan remeh pemenuhan hasrat nafsu mereka sendiri? Apakah para pejabat negeri ini terdiri atas orang-orang yang setia melayani Sang Maharajadiraja semesta? Apakah rakyat negeri ini setia menjadi hamba-Nya? Apakah rakyat negeri ini hidup di bawah pancaran cahaya akhlak yang mulia sebagaimana diteladankan rasul-Nya? Jawabannya, tergantung kejujuran penduduk negeri ini dalam menangkap makna-makna di balik segala sesuatu yang kelihatan di negeri ini. Apakah yang sejatinya terjadi di negeri ini?�

�Lantaran itu, o Anak-anakku, lewatilah jalan-jalan di negeri ini! Lihatlah dengan seksama kehidupan penduduknya! Periksalah, apakah kalian menemukan orang-orang yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran? Jika kalian tidak mendapati cukup banyak penduduk negeri ini yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran, itu pertanda Sang Maharajadiraja semesta sedang dicekam kemurkaan. Itu berarti, jika waktu yang ditentukan-Nya telah sampai, pasti Dia akan mengirimkan siksaan dan hinaan kepada penduduk yang tidak mencitrakan Keadilan dan Kebenaran sebagai wakil-Nya di muka bumi. Dia akan mengirimkan harimau, singa, serigala, musang, dan hewan melata dari hutan, dari padang belantara, gunung, rawa-rawa, danau, dan lautan untuk merobek-robek negeri ini dalam kekacauan. Darah akan tumpah di mana-mana. Kemudian, dengan cambukan pecut-Nya yang dahsyat Dia akan mendera penduduk dengan kesengsaraan dan penderitaan. Dia akan mengirim perampok yang merampok, penggarong yang menggarong, pencuri yang mencuri, pemerkosa yang memperkosa, penyiksa yang menyiksa, dan pembunuh yang haus darah. Dia akan menekuk lutut penduduk negeri yang ingkar untuk direndahkan sebagai budak bagi bangsa lain. Demikianlah hukuman yang pantas bagi penduduk suatu negeri yang menyekutukan Sang Maharajadiraja semesta.�

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers