Senin, 20 Maret 2017

MEZBAH PERSEMBAHAN BARU

Mezbah Persembahan Baru

Malam menggelar permadani hitam dengan hiasan bintang-bintang sebagai sulaman. Kabut tebal yang menyelimuti permukaan bumi Pasai membenamkan kehidupan dalam kesunyian. Di tengah kesenyapan yang melingkupi, sewaktu manusia menggulung tubuh dalam selimut, ketika margasatwa tidur di sarangnya, di saat terkaman hawa dingin menggigit hingga tulang, terlihat tiga sosok bayangan manusia di bawah sebatang pohon besar di hadapan segunduk tanah merah yang masih basah. Mereka adalah Abdul Jalil, Raden Sahid, dan Tughra Hasan Khan, kakak lelaki lain ibu Abdul Jalil. Agak jauh dari mereka, dalam jarak sekitar dua puluh langkah, terlihat bayangan orang-orang duduk berkerumun membentuk lingkaran di bawah pohon. Di antara mereka yang berkerumun itu terlihat Tughril Muhammad Khan dan Fadhillah Khan, putera Tughra Hasan Khan, Abdullah Kandang, Orang Kaya Kenayan, Abdurrahman Singkel, ketiganya murid Abdul Jalil, Shafa dan Bardud, istri dan anak Abdul Jalil, Na�ina Husam, sufi perempuan asal Syiraz, dan belasan pengawal hulubalang dengan senjata terhunus. Suasana terasa senyap. Lengang. Tidak satu pun di antara mereka yang berkerumun itu berkata-kata atau berbisik-bisik. Semua diam membisu seolah dicekam ketegangan.

Di tengah kegelapan malam yang mencekam itu, sesungguhnya Abdul Jalil tengah berziarah ke makam Husein bin Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi, kawan seperjalannya dalam menunaikan ibadah haji belasan tahun silam. Namun, suasana malam itu terasa sangat mencekam akibat perseteruan yang terjadi antara penduduk yang menganut paham Syi�ah itsna Asy�ariyah dan Syi�ah Zaidiyyah, ditambah lagi keterlibatan orang-orang Sunni pengikut Imam Syafi�i dan Hanafi. Suasana ziarah yang harusnya tenang justru keadaannya layaknya perang yang menegangkan. Makam Husein hanya berupa gundukan tanah merah, sengaja disamarkan oleh pengikut-pengikutnya tanpa nisan dengan maksud tidak dibongkar oleh musuh-musuhnya.

Kematian Husein yang mendadak memang sangat mengejutkan Abdul Jalil. Dalam perjalanan laut dari Kozhikode ke Pasai, ia sudah memberi tahu Raden Sahid bahwa ia akan singgah di kediaman sahabat lama yang masih berkerabat dengan Raden Sahid, yaitu Husein yang bernasab al-Abbasi. Namun, saat mereka sampai di Pasai dan singgah di kediaman Tughra Hasan Khan, diperoleh kabar bahwa Husein tewas dibunuh orang tak dikenal.

Menurut Tughra, Husein terbunuh dalam serangan mendadak barang dua pekan sebelum kehadiran Abdul Jalil ke Pasai. Tanpa menduga sebelumnya, Husein yang baru kembali dari kediaman Tughra diserang di tengah gelap malam. Ia terbunuh bersama sepuluh orang pengikutnya dan lima orang pengawal yang dikirim Tughra. Selama ini Husein dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai seorang tokoh agama pengikut Syah Ismail. Lantaran itu, dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi Husein dimusuhi banyak orang.

Husein yang memahami perkembangan suasana diam-diam menemui Tughra dan meminta perlindungan karena kedudukan Tughra sebagai salah seorang hulubalang Kesultanan Pasai. Dalam pertemuan itu, Tughra menyatakan kesediaannya untuk melindungi Husein dan keluarganya. Tughra bahkan menyatakan akan mendamaikan pihak-pihak yang berselisih dalam waktu secepatnya. Untuk membuktikan keseriusannya, ia memerintahkan lima orang prajurit untuk mengawal Husein kembali ke rumahnya. Namun, dalam perjalanan pulang itulah Husein diserang oleh ratusan orang tak dikenal.

Menurut dugaan Tughra, orang-orang yang terlibat pembunuhan itu berasal dari beberapa kelompok. Pertama-tama, penduduk Pasai pengikut Syi�ah Zaidiyyah asal Yaman yang dipimpin Sayyid Hasan al-Muqayyat dan para pendatang asal Kerala yang dipimpin Syarif Ali Musliyar al-Munfashil. Kelompok berikutnya adalah penduduk Pasai penganut Syi�ah Ismailiyyah asal Gujarat yang dipimpin oleh Sayyid Abdul Aziz al-Khala� dan para saudagar Malaka penganut Imam Syafi�i yang dipimpin Tun Abdul Karim. Sementara yang juga diduga kuat ikut memanas-manasi suasana adalah saudagar-saudagar asal Maghrib.

Selama mendengarkan paparan Tughra tentang kemelut �pertarungan� kaum muslimin di Pasai, terutama tentang pembunuhan Husein, Abdul Jalil terdiam. Selama beberapa jenak ia merasakan kegeraman terhadap kepicikan wawasan Syah Ismail yang demi ambisi pribadinya telah mengorbankan banyak nyawa dan penderitaan orang-orang yang tak bersalah. Namun, secepat itu pula ia disadarkan oleh Ruh al-Haqq bahwa Syah Ismail pada hakikatnya hanyalah salah satu dari pemain sandiwara kehidupan yang ditempatkan oleh Sang Sutradara pada alur cerita yang sudah dirancang-Nya. Sadar akan hakikat sejatidi balik peristiwa-peristiwa tragis itu, Abdul Jalil tidak dapat berbuat sesuatu kecuali memuji kebesaran dan keagungan-Nya dengan menggumam lirih.

�Wahai Engkau Yang Maha Menyesatkan! Wahai Engkau Yang Maha Menghinakan! Wahai Engkau Tuannya Iblis! Wahai Engkau Penguasa Setan. Wahai Engkau Yang Mahaagung! Sungguh tidak berubah ketetapan hukum-Mu yang telah Engkau gariskan. Wahai pemilik siksa paling pedih, meski Engkau telah memalingkan �wajah-Mu yang mengerikan (Bhairawa), meski Engkau telah menyingsingkan kegelapan �malam-Mu� (Candika) yang gelap dan penuh darah ke terang siang-Mu yang dipancari cahaya kasih-Mu (Shankara), ketetapan hukum-Mu tidaklah berubah: Korban darah! Korban darah! Seribu kali korban darah! Ya, korban darah untuk santapan Ibunda Bhumi, Sang Prthiwi, beserta para bhuta dan kala.�

�Sungguh sempurna kehendak-Mu, o Yang Mahalanggeng. Engkau memang sudah mengubah persembahan darah manusia di atas mezbah batu sembelihan. Engkau memang sudah menyelubungi mezbah-mezbah batu persembahan darah di ksetra-ksetra dengan selimut rumah-rumah ibadah kaum beriman yang memuji keagungan-Mu dengan kepasrahan. Engkau bentangkan cermin hijab (al-mir�ah al-hajib) di hamparan cakrawala dunia hingga seluruh manusia di permukaan bumi terpukau dengan gemilang kesantunan para pemuja-Mu yang berpendar laksana matahari pagi yang sejuk. Tetapi, kini telah hamba saksikan dengan mata batin (ain al-bashirah), dan hamba pahami dengan fawa�id, betapa di balik bentangan cermin hijab itu sesungguhnya umat-Mu, manusia, dengan diam-diam atau terang-terangan masih banyak yang memuja �citra-Mu� yang mengerikan itu.�

�O Engkau Yang Maha Menyesatkan! O Engkau Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill)! O Engkau Yang Maha Pemberi Bahaya (adh-Dharr)! O Engkau Yang Mahaperkasa! O, Engkau Tuannya Iblis! O, Engkau Yang Maha Memelihara! Sungguh, Engkau telah menganugerahi hamba kemuliaan sehingga hamba bisa menyaksikan dengan mata batin keberadaan mezbah-mezbah baru untuk korban sembelihan yang dibangun saudara-saudara hamba seiman. Engkau telah menjadikan hamba sebagai saksi tentang Keberadaan mezbah-mezbah baru yang dibangun saudara-saudara hamba seiman. Engkau telah mencelikkan penglihatan batin hamba untuk menyaksikan bagaimana saudara-saudara hamba seiman tidak membuat mezbah persembahan dari tumpukan batu yang dipahat, tetapi membangunnya dari tumpukan dalil berdasar tafsiran akal pikiran yang mereka sebut madzhab. Madzhab. Madzhab. Seribu kali Madzhab. Ya, madzhab yang mereka bangun dengan kemegahan itulah yang mereka berhalakan dan mereka jelmakan menjadi mezbah persembahan baru tempat korban sembelihan dipersembahkan. Di atas mezbah-mezbah baru itulah umat-Mu, yang menyebut diri kaum yang pasrah (qaum al-muslimin), menyembelih saudara-saudaranya seiman, dengan harapan mendapat berkah dan ridho-Mu.�

Tughra Hasan Khan yang lamat-lamat mendengar gumam Abdul Jalil mengerutkan kening dan bertanya keheranan, �Engkau bicara apa, o Adikku? Apakah Engkau berbicara dengan Tuhan atau mengajak-Nya bergurau?�

�Aku justru menertawakan kebingunganku sendiri.� Abdul Jalil tersenyum pahit. �Maksudku, setiap kali aku menangkap sekelumit Kebenaran Hakiki yang digelar-Nya di balik gemerlap kehidupan dunia yang kasatmata, saat itu aku menyaksikan ketololanku sendiri. Setiap kali aku menemukan Kebenaran Hakiki yang menyingkapkan tirai jati diri di tengah bayangan maya-Nya, aku dapati diriku seperti anak-anak bermain petak umpet yang selalu kalah. Dalam keadaan itu, mereka yang tidak paham dengan keadaanku akan menduga-duga aku telah bercanda dengan Tuhan. Padahal, aku tidak bercanda dengan-Nya. Justru Dia yang kurasakan mempermainkan aku, seolah Dia sangat suka melihatku kebingungan di tengah kesempurnaan-Nya yang tak terbatas.�

�Tentang ucapan-ucapan aneh yang baru saja engkau ucapkan, apakah berkaitan dengan itu juga?�

�Ya.�

�Coba terangkan kepadaku, kenapa engkau mengatakan kaum muslimin membangun mezbah-mezbah baru? Kenapa engkau menilai mereka menyembelih saudara-saudaranya seiman demi beroleh berkah dan ridho Tuhan?�

�Selama ini aku selalu berpandangan bahwa korban sembelihan darah manusia hanya dilakukan oleh para penganut Bhairawa-Tantra dalam upacara Pancamakara di ksetra-ksetra untuk memuja Prthiwi, Durga, dan Kali. Dengan segenap upaya aku sudah mengusahakan agar upacara menyembelih manusia itu diakhiri. Aku paham bahwa upacara semacam itu adalah ketetapan yang dikehendaki-Nya untuk memenuhi hak-hak Sang Prthiwi. Lantaran itu, aku yakin jika upacara korban darah manusia akan terus berlangsung dalam bentuk lain, seperti peperangan dahsyat di suatu waktu tertentu atau bencana alam atau wabah penyakit. Tapi kini, ketika Kebenaran Hakiki menyingsing di cakrawala jiwaku, aku saksikan kenyataan yang mengejutkan dan tidak kusangka-sangka: betapa di dalam amaliah peribadatan orang-orang Islam pun sesungguhnya hal berkorban darah manusia itu dilakukan juga baik secara diam-diam atau terang-terangan,� kata Abdul Jalil tegas.

�Orang Islam melakukan korban sembelihan manusia?� sergah Tughra terheran-heran, �Aku tidak paham maksud perkataanmu, o Adikku.�

�Kakanda,� kata Abdul Jalil lirih, �Jika kita melihat Kebenaran Hakiki dengan hati yang jernih di balik terbunuhnya Husein, tidaklah kita menyaksikan betapa sejatinya dia adalah korban sembelihan dari orang-orang yang menganggap tindakannya paling benar?�

�Aku kira begitu, tetapi aku masih belum paham maksudmu.�

�Apakah Kakanda mengira bahwa orang-orang yang membunuh Husein merasa bersalah dan berdosa atas apa yang telah mereka lakukan?�

�Tentu saja tidak.�

�Apakah mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan dengan membunuh Husein itu adalah keharusan agama demi tegaknya Kebenaran?�

�Aku kira pikiran mereka memang seperti itu.�

�Apakah mereka merasa bahwa membunuh Husein adalah tindakan memurnikan agama?�

�Kelihatannya memang demikian jalan pikiran mereka.�

�Apakah mereka menganggap bahwa madzhab merekalah yang paling benar?�

�Memang demikian.�

�Nah, jika dilihat dari Kebenaran Hakiki dengan hati yang jernih, bukankah madzhab-madzhab yang dianut oleh para pembunuh Husein itu sejatinya telah diberhalakan? Bukankah kita menyaksikan secara hakiki bahwa madzhab-madzhab itu telah menjadi mezbah persembahan dan Husein adalah korban sembelihannya? Kebenaran Hakiki inilah, o Kakanda, yang tadi aku saksikan bersinar gemilang di cakrawala kesadaranku. Lantaran itu, aku tadi menertawakan kebingunganku yang selama ini menganggap mezbah-mezbah persembahan hanya mutlak milik penganut Bhairawa-Tantra. Aku menertawakan ketololanku yang membayangkan mezbah-mezbah persembahan hanya berbentuk batu yang dipahat dengan korban manusia di atasnya.�

�Kenapa engkau merasa tolol? Bukankah engkau harusnya bersyukur dapat menangkap cahaya Kebenaran Hakiki yang dipancarkan-Nya?�

�Memang, aku sangat bersyukur. Tetapi, selama bertahun-tahun aku telah mengikuti pandangan yang keliru bahwa korban sembelihan manusia hanya dilakukan oleh orang-orang penganut ajaran Bhairawa-Tantra. Bahkan, dalam upaya membuat tawar daya sakti ksetra-ksetra, aku telah rela dan ikhlas menumpahkan darahku di atas batu-batu di berbagai tempat. Kini, ketika sebagian besar ksetra itu telah tawar daya saktinya, justru aku lihat mezbah-mezbah baru untuk sembelihan manusia telah dibangun oleh saudara-saudaraku seiman. Kini, aku saksikan mezbah-mezbah persembahan dari madzhab-madzhab yang diberhalakan telah tumbuh menggantikan ksetra-ksetra. Sekalipun mezbah-mezbah persembahan yang baru itu tersamar dan tidak kasatmata, kenyataan menunjuk bahwa mezbah-mezbah itu akan dijadikan tempat bagi persembahan korban manusia yang tidak lebih sedikit jumlahnya dibanding mezbah-mezbah batu di ksetra-ksetra.�

�Aku paham dengan Kebenaran Hakiki yang engkau peroleh, o Adikku, tetapi janganlah Kebenaran ini engkau ungkapkan kepada orang lain karena bisa menimbulkan salah paham.�

Usai berziarah, di tengah kegelapan yang diselimuti kabut, Abdul Jalil tampak berdiri termangu menatap satu demi satu kerumunan orang yang menunggunya di bawah pohon. Matanya yang setajam binatang malam terlihat berkilat di tengah keremangan. Ketika pandangannya jatuh pada Tughril Muhammad Khan, dengan suara ditekan rendah ia bertanya, �Berapa usiamu sekarang, o Putera saudaraku?�

�Tujuh belas, Paman.�

Abdul Jalil diam. Ia mengalihkan tatapan pada Fadhillah Khan dan bertanya, �Kalau engkau, o Putera saudaraku, berapa usiamu?�

�Lima belas tahun, Paman.�

�Berarti, kalian berdua sudah menginjak dewasa. Sebentar lagi Tughril akan menikah dan beranak-pinak. Lalu Fadhillah akan menyusulnya. Lantaran itu, o Putera saudaraku, sebelum kalian berdua memasuki lautan kehidupan dengan menumpang bahtera yang kalian kemudikan, hendaknya kalian ingat-ingat dan kalian camkan petuah yang akan aku sampaikan kepada kalian berdua sebagai bekal agar kalian selamat sampai ke Pelabuhan tujuan.�

�Kami akan menjadikan pusaka petuah-petuah dari Paman.�

�Pertama-tama,� Abdul Jalil memulai petuahnya, �Wajib bagi kalian untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai satu-satunya cermin yang membiaskan setiap gerak langkah kalian, baik dalam berpikir, berkata-kata, bersikap, dan berperilaku. Sebab, Muhammad Saw. adalah perwujudan dari akhlak mulia (al-khuluk al-Karim), �cermin� yang mengantarai dan sekaligus menjadi penghubung antara Sang Pencipta (al-Khaliq) dan ciptaan (al-khalaq). Semakin kuat kalian mengejawantahkan akhlak mulia yang telah diteladankan Muhammad Saw., maka semakin dekatlah kalian kepada-Nya, ibarat bayangan yang makin dekat kepada Yang Bercermin.�

�Aku tidak akan menjelaskan kepada kalian berdua tentang apa saja dari Muhammad Saw. yang harus kalian jadikan cerminan. Sudah terlalu banyak orang yang mengajarkan sesuatu tentang dia. Sebaliknya, aku hanya akan mengajarkan kepada kalian berdua intisari paling rahasia dari keberadaan Muhammad Saw. selama menjalankan tugas Kenabian di dunia yang berpijak pada satu tiang utama: Kebenaran (al-Haqq).�

�Ketahuilah oleh kalian bahwa Muhammad Saw. adalah pengabdi dan sekaligus penyampai Kebenaran sejati yang tulus, ikhlas, tanpa pamrih, yang tiada tandingan hingga derajatnya melampaui ishthina�. Tahukah kalian di mana letak ketulusan dan keikhlasannya dalam mengabdi kepada Kebenaran sampai melampaui ishthina� ? Tahukah kalian tentang resiko berat yang dihadapi akibat pengabdiannya yang tulus dan ikhlas itu? Dengarkan dan camkan benar-benar apa yang akan aku sampaikan ini.�

�Pertama-tama, Muhammad Saw. mengajarkan Kebenaran tentang Yang Ilahi sebagaimana ajaran yang disampaikan barisan Nabi-Nabi sebelum dia. Padahal, dewasa itu hampir semua bangsa Arab dan terutama kaum Quraisy, kaumnya Muhammad Saw., menganut ajaran �kebenaran� yang berbeda dengan ajaran Nabi-Nabi. Untuk pengabdiannya kepada Kebenaran, Muhammad Saw. harus berhadapan sebagai musuh dengan kaum dan bangsanya sendiri. Seorang diri dia menyampaikan ajaran Tauhid di tengah kejahilan bangsanya.�

�Tidak hanya tentang Yang Ilahi. Ajaran Muhammad Saw. tentang Nabi-Nabi pembawa Kebenaran pun ditandai oleh pengabdian yang tulus dan tanpa pamrih. Di antara keimanan terhadap Nabi-Nabi, terutama dua puluh lima orang Nabi dan Rasul Allah yang wajib diyakini sebagai pembawa Kebenaran, tidak satu pun menunjuk kepada salah satu dhatu leluhur bangsanya, kecuali Ismail a.s. Leluhur suku-suku Arab yang dipuja sebagai sesembahan oleh bangsa Arab justru ditetapkannya sebagai pangkal kemusyrikan yang bertentangan dengan ajaran Kebenaran Tauhid. Bahkan, dengan tulus dan ikhlas Muhammad Saw. mewajibkan para pengikutnya untuk mengimani Kenabian para Nabi Bani Israil seperti Ishak, Ya�kub, Yusuf, Musa, Harun, Yusak, Sulaiman, Daud, Ilyas, Zakaria, Yahya, Isa a.s. dan sebaliknya menolak keilahian dhatu-dhatu leluhur Arab yang dituhankan seperti Latta, Uzza, Manat, dan Hubal. Keikhlasan dalam menempatkan Kebenaran di atas segala itulah yang membuat Muhammad Saw. menempati kedudukan melampaui ishthina�, yaitu kedudukan ruhani orang yang tak terikat keakuan manusiawi lagi.�

�Jika ada orang yang menuduh Muhammad Saw. Memiliki pamrih dalam menyiarkan ajaran Tauhid, tentu akan ada bukti bahwa dia telah mengagungkan dewa-dewa yang disembah bangsanya. Padahal, kenyataan membuktikan bahwa dewa-dewa sesembahan bansa Arab itulah yang justru ditentangnya. Dan sebaliknya, Kebenaran Tauhid yang diajarkan oleh Nabi-Nabi terdahulu termasuk Nabi-Nabi dari antaera Bani Israil yang dia ajarkan untuk menggantikan paganisme yang berkembang dewasa itu. Tauhid adalah Tauhid. Kebenaran adalah Kebenaran. Tidak ada anasir bahasa, bangsa, warna kulit, pangkat, derajat. Itu prinsip dia.�

�Ingat-ingatlah, o Putera-Putera saudaraku, puncak tertinggi dari pengabdian Muhammad Saw. kepada Kebenaran tercermin pada keberhasilan dia dalam menghapus semua pamrih pribadi bagi perjuangannya. Ingatlah sabda Muhammad Saw.: �Katakan Kebenaran sekalipun pahit! (qul al-haqq walau kana muran).� Itulah tonggak pedoman yang mencerminkan keberadaannya sebagai penyampai ajaran Tauhid dan pengabdi Kebenaran. Bahkan, karena kesuciannya dari pamrih-pamrih dalam menyampaikan ajaran Kebenaran maka suara Sang Kebenaran (al-Haqq) mengejawantah dalam wujud Sabda Suci (Kalam Ilahi) yang terungkap lewat lisannya. Sekalipun Muhammad Saw. adalah manusia suci yang menjadi wahana bagi �kelahiran� Sabda Suci Ilahi ke dunia, dia dengan tegas melarang para pengikutnya untuk menyembah selain Allah.�

�Dengan selalu mengingat ketulusan dan keikhlasan Muhammad Saw. dalam mengabdikan diri kepada Kebenaran, hendaknya kalian berdua menjadi sadar dan kemudian bergegas mengikuti langkahnya. Maksudku, sekalipun di dalam aliran darah kita terdapat darah Muhammad Saw., hendaknya jangan ada di antara kita yang membiarkan jiwanya ternodai pamrih-pamrih pribadi. Janganlah ada di antara kita yang mengaku-aku sebagai keturunan Muhammad Saw. dengan pamrih supaya dihormati dan dijadikan panutan manusia. Jangan ada di antara kita yang menyatakan diri sebagai keturunan Muhammad Saw., tetapi menyembunyikan harapan agar bangsa-bangsa pemeluk Islam bertekuk lutut kepada kita. Jangan ada di antara kita yang mengaku keturunan Muhammad Saw. dan kemudian menutup �pintu Kebenaran� dengan memberhalakan diri sebagai satu-satunya penjaga �pintu Kebenaran�. Jangan ada di antara kita yang mengaku-aku keturunan Muhammad Saw. dengan maksud memperoleh keuntungan pribadi, apalagi sekadar sedikit kekayaan dan kekuasaan duniawi.�

�Lantaran itu, ingat dan camkan! Kebenaran Tauhid yang diajarkan Muhammad Saw. tidak mengenal bangsa, bahasa, warna kulit, dan garis keturunan. Kebenaran adalah Kebenaran. Laksana wangi bunga, Kebenaran tidak pernah menyebar-nyebarkan harum-Nya, tetapi semerbak wanginya menebar sendiri ke mana-mana. Jangan sekali-kali kalian menerima Kebenaran berdasar siapa yang membawanya, melainkan terimalah Kebenaran sebagai Kebenaran meski berasal dari orang-orang gelandangan yang tak dihormati manusia. Kebenaran akan terbit sebagai matahari hakiki yang cahanya-Nya bisa disaksikan sebagai bashirah. Hilangkan segala macam pamrih, karena pamrih adalah bagian dari kemusyrikan yang samar,� kata Abdul Jalil.

�Kami akan pusakakan wejangan Paman,� kata Tughril.

Abdul Jalil diam dan bergantian menatap Tughril dan Fadhillah. Sejurus setelah itu, dengan suara yang lain ia berkata penuh wibawa. �Jika kalian nanti mengarungi samudra kehidupan, janganlah kalian tergiur oleh warna-warni �cat� yang menghias �bahtera� yang katanya dibuat dari ayat-ayat Ilahi yang terang dan abadi. Sebab, warna-warni �cat� penghias �bahtera� itu pada dasarnya tidak lebih dari bahan-bahan penghias �bahtera�, yaitu tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Ilahi yang diikat (�iql) oleh serat-serat nalar (�aql) hingga menjadi jalinan tali-temali pemikiran (fikr) yang nisbi jangkauannya.�

�Kenapa aku mengingatkan kalian akan hal ini? Sebab, segala sesuatu yang dibangun di atas bangunan pemikiran yang nisbi jangkauannya akan nisbi pula keberadaannya. Bahan-bahan penghias selalu rentan dan gampang terkelupas dan luntur. Lantaran itu, ingat-ingatlah selalu bahwa Kebenaran yang terkandung di dalam ayat-ayat Ilahi adalah mutlak dan tidak terbantah. Tetapi, penafsiran atas ayat-ayat tersebut berdasar akal pikiran, adalah nisbi. Terbatas. Itu sebabnya, Allah melarang melarang manusia untuk menggunakan pikiran dalam mengenal Sang Pencipta. Pikiran hanyalah piranti yang digunakan untuk mengenal ciptaan-Nya. Dengan demikian, jika ada manusia menggunakan pikiran untuk mengenal Allah, justru hasilnya adalah pengingkaran (kufur) terhadap Kebenaran dan bermuara pada pengkafiran (takfir). Mereka yang menggunakan pikiran untuk mencari Allah pasti akan sesat sehingga �bahtera� yang mereka tumpangi akan kandas ke jajaran karang tajam samudera ruhani dan hancur berkeping-keping dalam Kebinasaan.�

�Tanamkan di hati sanubari kalian berdua, o Putera saudaraku, Kebenaran Sejati tidak bisa diperdebatkan berdasar dali-dalil yang dibangun dari bahan-bahan hasil tafsiran akal pikiran. Kebenaran Sejati hanya bisa dikenal dengan bashirah. Ingat itu: bashirah! Itu sebabnya, hendaknya kalian berdua jangan terperangkap kepada madzhab-madzhab yang saling berebut benar sendiri. Jangan kalian memberhalakan madzhab. Jangan kalian berperang dan membunuh sesamamu demi madzhab yang engkau anggap benar. Jika itu yang kalian lakukan maka kalian sesungguhnya telah membangun mezbah-mezbah persembahan dengan korban sembelihan saudara kalian dari perselisihan madzhab. Menghindarlah kalian dari perselisihan madzhab. Jadilah kalian sebagai bagian dari kaum beriman (qaum al-mu�minin), wakil al-Mu�min di muka bumi (khalifah al-Mu�min fi al-ardh), yang menjadi pembawa keamanan bagi kehidupan makhluk di muka bumi. Citrakan diri kalian sebagai wakil as-Salam di muka bumi (khalifah as-Salam fi al-ardh) yang menjadi bagian dari pembawa dan pemelihara kedamaian di bumi.�

Tughril termangu-mangu mendengar uraian Abdul Jalil. Setelah merenung beberapa jenak, dia berkata dengan nada tanya, �Kami sudah memahami akan apa yang Pamanda sampaikan. Tapi, kami belum paham dengan penjelasan Pamanda tentang mengenal Kebenaran dengan bashirah. Apakah yang Pamanda maksud dengan bashirah? Bagaimanakah cara kita menggunakan bashirah untuk mengenal-Nya?�

�Bashirah adalah piranti yang digunakan Nabi Muhammad Saw. untuk menerangi jalan Kebenaran yang dia lalui dan digunakan pula oleh orang-orang ang mengikutinya (QS. Yusuf: 108). Melalui piranti bashirah itulah Nabi Muhammad Saw. secara khusus mengajarkan kepada sahabat-sahabat dekatnya �cara� dan �jalan� mengenal Allah. Tetapi, ajaran tentang bashirah ini sangatlah rahasia sehingga tidak bisa diungkapkan di tengah manusia ramai. Lantaran itu, aku akan mengajarkan kepadamu pengenalan akan Allah melalui bashirah secara rahasia pula.�

Setelah mengajarkan pengetahuan rahasia tentang bashirah kepada Tughril dan Fadhillah, Abdul Jalil menggandengan dua orang kemenakannya itu berjalan ke arah Na�ina Husam, yang duduk bersimpuh di samping Shafa, istrinya. Na�ina Husam sendiri adalah sufi perempuan asal Syiraz, yang tinggal di Pasai di bawah lindungan Tughra Hasan Khan. Dia meninggalkan negerinya akibat diburu-buru kaki tangan Syah Ismail. Dia mula-mula datang ke negeri Perlak. Namun, di sana suasananya tidak berbeda dengan di Syiraz. Penduduk Perlak yang mendukung keluarga Safawi terlibat pertarungan sengit dengan penduduk yang menentang Syah Ismail. Darah tumpah di mana-mana. Di tengah pertarungan yang mengalirkan darah itulah Na�inah Husam pergi ke Pasai dan berlindung di kediaman Husein al-Abbasi. Ternyata, di Pasai pun pertarungan tak kalah sengit dan bahkan membawa Husein ke alam Kematian. Di tengah kecamuk pertarungan berdarah itulah, atas permintaan keluarga Husein, Na�ina Husam dilindungi oleh Tughra.

Malam itu cahaya bintang yang bertaburan di langit tak mampu menembus kabut yang menyelimuti permukaan bumi dengan keheningan. Suasana makin senyap. Hening. Di tengah keheningan, di bawah tatapan mata semua orang, Abdul Jalil duduk bersila di depan Na�ina Husam sambil merangkul dua orang kemenakannya. Beberapa jenak terdiam, tiba-tiba Abdul Jalil bertepuk tangan sambil melantun sebaris syair:

�Marilah kita bertepuk tangan sambil berseru: berbahagialah engkau yang terlempar dari tanah kelahirannya karena kecintaan yang tulus dan suci kepada Sang Kekasih. Berbahagialah engkau yang mabuk akibat menenggak anggur penderitaan yang diperas dari buah kerinduan yang tak kesampaian. Berbahagialah engkau yang mabuk anggur kerinduan, karena engkau yang mendamba cinta-Nya. Berbahagialah engkau, o Na�ina Husam, sebagaimana kebahagiaan yang telah direguk Rabi�ah, Rumi, Hallaj, Ba Yazid, Attar, Hafiz, Sa�di.�

Na�ina Husam menegakkan wajah. Matanya yang semula sayu tiba-tiba bercahaya. Dengan tatapan penuh gelora, ia memandang wajah Tughril dan Fadhillah ganti-berganti. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan menepuk-nepukkannya ke bahunya beberapa kali. Setelah itu, dengan suara lain dia mengutip syair-syair yang digubah Sa�di.

�Berbahagialah hari-hari mereka yang mabuk cinta Ilahi karena mereka belum atau sudah mengetahui pedihnya obat penawar Ilahi. Merekalah pengemis yang menolak martabat raja dan mereka sangat lama menderita di dalam permohonan mengharap Dia.�

Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu kiri dengan tangan kanannya sambil mengumandangkan syair.

�Wahai engkau yang membandingkan martabat pengemis dengan raja-raja, telah kutangkap citra hidupmu yang tak seekor semut pun pernah menderita karenamu. Sementara raja-raja yang tegak di tengah kemegahan duniawi, hari-harinya selalu diwarnai taburan penderitaan bagi makhluk sekitar. Itulah pertanda utama martabat sang fakir dan sang raja, yang menjadi citra kehidupan dunia sejak masa lalu hingga masa datang.�

Na�ina Husam menengadahkan wajah ke atas menatap bintang gemintang. Dia menepuk-nepuk kembali bahunya. Kemudian dengan air mata berlinang-linang, ia melantunkan syair.

�Kaki tangan Syah Ismail telah memburuku laksana binatang buas yang berbahaya, hanya karena perhatianku selalu kuarahkan kepada Sang Kekasih. Atas titah Syah, mereka menganggapku liar dan karenanya aku harus ditangkap untuk ditundukkan. Sungguh keliru mereka yang menganggap rajawali betina merasa bahagia di dalam sangkar emas dalil-dalil yang mereka cipta. Memang, jiwa-jiwa merpati dan beo bisa berada dalam kerangkeng yang berbeda-beda, tetapi jiwa rajawali-rajawali Ilahi senantiasa merdeka dan Satu.�

�Kaki tangan Syah memaksaku untuk mengikuti jalan akal yang mereka lalui, yaitu jalan yang penuh belokan, putaran, tanjakan, liku-liku membingungkan, dan tebaran jebakan yang membahayakan jiwa. Mereka tidak paham. Akal, sekalipun tinggi dan mulia, bukanlah sang jalan., tetapi cahaya yang menunjukkan jalan. Dengan cahaya akal orang dapat membedakan mana keburukan, mana musuh dan mana kawan, mana benar dan mana batil. Tetapi, dengan seberkas cahaya akal, orang tidak akan mecapai tujuannya sampai dia menemukan jalan itu. Barangsiapa yang telah diberi penerangan jalan, cahaya akalnya akan tenggelam dalam pancaran matahari bashirah yang memancar dari al-Bashir.�

�Aku telah menyaksikan salik-salik penyamar berjiwa serigala dan musang yang ditebar Syah. Mereka berbaris di padang gurun menuju kota-kota dan mengaku membawa berita-berita Kebenaran. Sungguh aneh, mereka yang tidak bisa mendengar suara Kebenaran karena telinga jiwa (sam�) mereka telah pekak tertutup gumpalan awan keakuan, tiba-tiba mengaku sebagai pembawa berita Kebenaran. Sungguh mengerikan mereka, penyamar-penyamar itu. Tubuh mereka berbaris menuju kota-kota, tetapi jiwa mereka terjerat oleh angan-angan kosong laksana laba-laba terjerat jaring-jaring yang ditebar sendiri.�

�Kepada salik-salik sejati, para penempuh jalan Kebenaran, aku sampaikan peringatan kepada kalian: hendaknya jangan sekali-kali mempercayai dan mengikuti mereka yang mengaku-aku pembawa berita Kebenaran. Sebab, mereka adalah para penyamar. Mereka yang mengaku membawa berita Kebenaran sejatinya adalah orang-orang yang bertelinga tuli dan lidahnya bercabang. Sadarkanlah kesadaranmu, o salik-salik sejati, bahwa mengucapkan perkataan atas nama Kebenaran adalah jauh lebih mudah daripada menemukan jalan Kebenaran.�

�Inilah perbedaan antara salik sejati dan salik penyamar, yang pertama adalah Daud yang menyanyikan kidung Zabur, sedang yang kedua adalah gaung nyanyiannya yang memantul di dinding tebal. Atau laksana perbedaan antara �ilm al-tahqiqi dan �ilm al-taqlidi. Yang pertama dijajakan di tengah keheningan dan dibeli oleh Tuhan, sedang yang kedua dijajakan dan diperdagangkan di pasar dan dibeli banyak orang bodoh.�

Abdul Jalil menepuk bahu kanan dan bahu kirinya. Setelah itu, ia menepuk bahu Fadhillah dan Tughril. Kedua orang kemenakannya itu beringsut ke depan, berlutut dan bergantian mencium tangan Na�ina Husam. Meski orang-orang yang berkerumun di sekitar mereka tidak memahami apa yang sesungguhnya terjadi antara Abdul Jalil dan Na�ina Husam yang bersyair itu, Tughril dan Fadhillah menangkap peristiwa itu sebagai pelajaran ruhani yang sangat dalam dan penuh diliputi rahasia jiwa tak terungkapkan.

Keesokan harinya, ketika matahari merambat naik di ufuk timur, Abdul Jalil duduk bersila di dermaga, tak jauh dari kapal yang akan membawanya ke Malaka. Di tengah embusan angin yang menerbangkan sisa-sisa embun pagi, di antara gemuruh ombak dan jeritan burung camar, di sela-sela suara kibaran layar, ia memberikan wejangan kepada orang-orang yang dikasihinya; Ahmad Kandang, Orang Kaya Kenayan, Abdurrahman Singkel, Raden Sahid, Tughril, dan Fadhillah Khan yang bersila takzim di depannya. Dengan suara lain yang meliputi ketenangan dan kewibawaan, ia berkata di tengah desau angin pantai.

�Sesungguhnya, aku menangkap sasmita bahwa kalian berada dalam kebingungan ketika aku beri tahukan tentang hakikat hidayah dan iman dengan sudut pandang lain daripada yang selama ini kalian pahami. Padahal, jika kalian memahami makna Tauhid secara benar, hal yang aku sampaikan itu bukanlah sesuatu yang sulit dipahami.�

�Sekali lagi aku ingatkan kepada kalian bahwa apa yang disebut hidayah adalah pancaran dari Yang Memberi Petunjuk (al-Hadi). Lantaran itu, di dalam hidayah tersimpan daya-daya iman yang merupakan pancaran Yang Memberi Keamanan (al-Mu�min), daya-daya Islam yang merupakan pancaran Yang Memberi Kedamaian (as-Salam), dan daya-daya ruhani lain yang merupakan pancaran Asma�, Shifat, dan Af�al Yang Ilahi, yang kesemua daya itu bermuara ke samudera takwa, yakni pancaran Yang Memberi Kekuatan (al-Qawiy).�

�Dengan memahami hidayah dari sisi Tauhid ini, hendaknya kalian dapat menangkap tanda-tanda keberadaan manusia-manusia yang beroleh anugerah hidayah, hidup mereka senantiasa ditandai oleh keterbimbingan dalam menapaki jalan hidup (sabil huda) yang diterangi cahaya al-Hadi. Jika jalan hidup seseorang sudah diterangi cahaya al-Hadi maka daya-daya iman yang memancar dari al-Mu�min akan menandai pula keberadaan hidupnya. Itu berarti, yang disebut manusia beriman adalah manusia yang bisa mengejawantahkan pancaran al-Mu�min sebagai wakil-Nya di muka bumi (khalifah al-Mu�min fi al-ardh). Sebagai wakil al-Mu�min, manusia-manusia beriman akan menampakkan suasana hati dan pikirannya yang selalu dipancari rasa aman, cenderung pada terciptanya suasana aman dan selalu memberikan keamanan bagi kehidupan di sekitarnya. Lantaran itu, Rasulullah Saw. bersabda: tidaklah beriman orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.�

�Ketahuilah, daya-daya iman secara hakiki tidak terpisah dari daya-daya Islam. Itu berarti, keberadaan seorang manusia beriman selain ditandai oleh keberadaan dirinya yang mengejawantahkan pancaran Sang Pemberi Keamanan (al-Mu�min), juga ditandai oleh keberadaannya sebagai pembawa kedamaian (al-Islam) yang merupakan pancaran Sang Pemberi Kedamaian (as-Salam). Dengan demikian, manusia-manusia yang beroleh hidayah selalu ditandai oleh keberadaan diri sebagai pencipta keamanan dan kedamaian bagi kehidupan di sekitarnya. Mereka yang paling kuat dalam perjuangan mengaktualisasi daya-daya iman dan islam dalam kehidupannya akan beroleh derajat dan maqam tertinggi yang disebut takwa, yaitu pancaran dari Yang Mahakuat (al-Qawiy). Manusia-manusia yang sudah menduduki derajat takwa adalah orang yang paling kuat lahir dan batin di antara manusia, karena mereka telah mampu mewujudkan keberadaan dirinya sebagai wakil Yang Mahakuat di muka bumi (khalifah al-Qawiy fi al-ardh). Mereka itulah adimanusia-adimanusia yang akan dianugerahi kemuliaan (karamah) yang memancar dari al-Karim.�

�Dengan apa yang telah aku sampaikan ini, sesungguhnya telah jelas makna hakiki di balik hidayah dan iman yang bermuara ke samudera takwa dan karamah. Artinya, mereka yang sudah mencapai derajat takwa dan beroleh anugerah karamah dari al-Karim, keberadaannya akan ditandai oleh kemurahan-kemurahan dan kemuliaan-kemuliaan. Itulah citra kaum takwa (qaum al-muttaqin), yang senantiasa menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-�alamin). Dengan demikian, jika kalian dapati ada manusia-manusia yang menyatakan diri sebagai umat Islam yang beriman dan bertakwa tetapi keberadaan dirinya ditandai oleh citra menakutkan, menggelisahkan, menimbulkan ketidakamanan, membuat suasana tidak damai, dan bahkan menebara kematian, maka sesungguhnya mereka itu pendusta. Mereka itulah yang pantas disebut kaum beragama yang tidak beriman. Mereka mengaku muslim, tetapi tidak memiliki ruh Islam. Mereka mengaku beriman, tetapi tidak memiliki iman. Mereka adalah mayat-mayat hidup yang berbahaya bagi kehidupan makhluk.�

Semua mengangguk-angguk mendengar paparan Abdul Jalil. Mereka menangkap kebenaran di dalam ucapan-ucapannya. Setelah terdiam beberapa jenak, Orang Kaya Kenayan bertanya, �Kami paham dan dapat menangkap paparan Tuan Syaikh. Tetapi, yang masih membingungkan kami adalah bagaimana sikap kami dalam menghadapi keadaan kacau di tengah pertarungan ini? Apakah kami harus berpangku tangan agar keadaan menjadi aman dan damai, sementara orang-orang bergelut dalam pertikaian berdarah?�

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara ditekan tinggi ia berkata, �Sungguh keliru mereka yang membayangkan keamanan dan kedamaian sebagai sesuatu yang diam dan tanpa gerak. Sebab, keamanan dan kedamaian adalah sebuah gerak dinamis dari daya-daya kehidupan laksana arus sungai mengikuti alirannya. Dengan demikian, aku katakan bahwa telah keliru orang-orang yang lari meninggalkan kehidupan dan bertapa di gua-gua karena beralasan ingin menjadikan kehidupan dunia aman dan damai. Mereka itu sejatinya adalah orang-orang picik yang menginginkan keamanan dan kedamaian bagi dirinya sendiri. Mereka adalah para pengecut yang menjadi pecundang karena tidak mampu mewujudkan citra dirinya sebagai wakil al-Mu�min di muka bumi dan wakil as-Salam di muka bumi.�

�Ingat dan camkan dalam sanubari kalian! Tugas utama kaum muslim yang beriman adalah memelihara keamanan dan kedamaian karena mereka adalah wakil as-Salam dan al-Mu�min. Itu berarti, jika terjadi suatu masa di mana ketidakamanan dan kekacauan meliputi wilayah di sekitar kaum muslim yang beriman, maka wajib baginya untuk menggunakan kekuatan tangan dan mulutnya untuk menciptakan keamanan dan kedamaian. Bahkan, untuk alasan demi terciptanya keamanan dan kedamaian, orang-orang muslim beriman diwajibkan berperang untuk melindungi orang-orang lemah baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang ditindas dan dianiaya orang-orang zalim (QS. An-Nisa: 75). Orang-orang beriman yang berjuang menjalankan tugasnya dalam menciptakan keamanan dan kedamaian itu akan dilindungi oleh Allah (QS. al-Baqarah: 257).�

�Aku tahu kalian mencemaskan pertikaian antara para penganut Syi�ah dan Sunni akibat tindakan Syah Ismail di negeri Persia. Aku juga tahu kalian mencemaskan keberadaan orang-orang Portugis di Cochazhi yang mengancam penduduk muslim. Sesungguhnya kalian tidak perlu cemas akan semua peristiwa yang terjadi. Sebab, jika Allah menghendaki, tidaklah manusia saling berbunuh-bunuhan. Tetapi, Allah berbuat segala apa yang dikehendaki-Nya (QS. Ali Imran: 200). Jangan sekali-kali kalian menyerang orang-orang yang tidak menyerang kalian. Jangan sekali-kali kalian menyerang orang-orang yang tidak berbuat zalim dan tidak membuat kerusakan. Tetaplah kalian menjadi pelindung bagi orang-orang lemah. Lindungilah mereka dalam keamanan dan kedamaian. Kaum beriman tidak pernah menjadi penyerang dan pembuat kekacauan di muka bumi.�

�Sesungguhnya, kehidupan kalian dengan alam sekitar kalian adalah ibarat sekumpulan orang yang menumpang sebuah kapal. Masing-masing penumpang memiliki hak untuk duduk di tempat yang disediakan bagi mereka. Masing-masing penumpang wajib menghargai hak penumpang lain. Itu sebabnya, jika salah seorang penumpang mengeluarkan alat untuk melubangi kapal maka seluruh penumpang wajib mencegahnya agar semuanya selamat sampai ke pelabuhan tujuan.�

�Andaikata saat berlayar itu ada kapal lain yang berusaha merampas kapal dan menawan penumpangnya maka menjadi kewajiban seluruh penumpang � terutama orang-orang yang kuat (takwa), di antara penjaga keamanan (mu�min) dan kedamaian (muslim) � untuk melawan penyerang itu dengan berbagai cara dan membagi tugas masing-masing. Ada penumpang yang bertugas melawan musuh dengan senjata. Ada yang bertugas melindungi penumpang-penumpang lemah. Ada yang mempertahankan ruang kemudi. Dan ada pula yang mempertahankan keutuhan kapal agar tidak tenggelam. Bahkan, ada yang menyelinap masuk ke kapal musuh untuk menggoyahkan semangat mereka. Demikianlah perumpamaan dari kehidupan orang-orang muslim beriman di sebuah negeri yang diserang musuh.�

�Apa yang harus dilakukan oleh kaum muslim beriman, o Tuan Syaikh, jika kapal yang mereka tumpangi tidak dapat dipertahankan?� tanya Orang Kaya Kenayan.

�Ketidakmampuan mempertahankan kapal mesti dialami lebih dulu oleh para penumpang yang bertugas melawan musuh dengan kekuatan senjata. Jika itu yang terjadi maka menjadi tugas para pelindung penumpang, penjaga ruang kemudi, penjaga keutuhan kapal, dan penyusup untuk mengambil langkah bijaksana sesuai tugas masing-masing. Artinya, demi keselamatan kapal dan seluruh penumpang, dengan lapang dada dan penuh kepasrahan mereka harus mengembalikan segala urusan kepada Yang Mahakuasa (al-Muqtadir).�

�Membiarkan pihak musuh menguasai kapal?� tanya Orang Kaya Kenayan.

�Kalau terpaksa, kenapa tidak?� sahut Abdul Jalil datar. �Sebab, masalah utama dalam peristiwa semacam itu bukanlah kemenangan dalam menguasai kapal, melainkan sejauh mana para penumpang kapal di bawah kekuasaan musuh tetap dapat hidup dengan keyakinannya dan bisa setia melayani Sang Rajadiraja semesta (al-Malik al-Mulki). Apalah artinya kemenangan kuasa duniawi atas sebuah kapal jika para penumpang mengabaikan dan enggan melayani-Nya? Justru pada saat dikuasai musuh itulah para penumpang kapal harus mengukuhkan kembali persaksian Tauhid kepada Sang Rajadiraja semesta; Rabb manusia, Rajadiraja manusia, Sesembahan manusia, dengan menafikan keraguan yang diakibatkan oleh bisikan maya golongan jin dan manusia (QS. an-Nas: 1 � 6). Ya bisikan meragukan dari golongan jin dan manusia tentang kehormatan, kepahlawanan, kesyahidan, kebangsaan, kebebasan, kekuasaan, kepentingan golongan dan keluarga harus dinafikan semua. Sebab, semua itu bersifat maya. Saat itu, hati dan pikiran harus dikiblatkan untuk menyucikan dan memuliakan-Nya. Kesampingkan segala sesuatu selain Dia.�

�Apakah itu berarti para penumpang kapal menyerah total kepada musuh dan menjadi budak mereka?�

�Justru di bawah kekuasaan musuh itulah para penumpang kapal memulai perjuangan yang sesungguhnya dalam menegakkan Tauhid Mulukiyyah,� kata Abdul Jalil.

�Kami belum paham dengan penjelasan Tuan Syaikh tentang Tauhid Mulukiyyah.�

�Camkan dalam kesadaran kalian, o Anak-Anakku! Sesungguhnya, jatuh dan bangunnya suatu bangsa tergantung seutuhnya pada kehendak Sang Rajadiraja semesta; Dia, Maharajadiraja Yang Hakiki (al-Malik al-Haqq al-Mubin), Yang Maha Mengangkat (ar-Rafi�), Yang Memberi Kemuliaan (al-Mu�iz, Yang Memberi Keamanan (al-Mu�min), Yang Memberi Kedamaian (as-Salam). Tetapi, Dia juga Maharajadiraja Penguasa alam jasadi, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Yang Maha Menjatuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Mencabut (al-Qabidh), Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), dan Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim). Itu berarti, bangsa-bangsa yang dihinakan di bawah kaki musuh hendaknya mawas diri. Ya, mawas diri, apakah mereka selama itu sudah benar dalam melayani Sang Maharajadiraja semesta? Sebab, telah tertulis pada lembaran Kitab Suci dan sejarah bangsa-bangsa bahwa kejatuhan suatu bangsa ke dalam kekuasaan bangsa lain lebih banyak disebabkan oleh kenyataan bahwa bangsa bersangkutan telah mengabaikan Sang Maharajadiraja semesta dengan membuat sesembahan (thaghut) lain yang hina dan nista.�

�Sesungguhnya, Sang Maharajadiraja semesta adalah Penguasa semesta ciptaan. Dia menolak disekutukan. Dia ingin dijadikan sebagai satu-satu-Nya kiblat Sesembahan dan Gantungan harapan umat-Nya. Dia Maha Pencemburu dengan sekutu-sekutu. Itu sebabnya, tugas utama para pemimpin kaum muslim beriman di sebuah kapal adalah menciptakan keadaan di mana seluruh penumpang kapal menjadi orang-orang yang bertakwa; yang memuliakan keagungan-Nya sebagai Rabb, Maharajadiraja dan Sesembahan seluruh makhluk. Semua penumpang wajib menjadikan-Nya sebagai Pelabuhan harapan dan Kiblat Tujuan. Para pemumpin kaum muslimin yang beriman dan bertakwa tidak boleh membiarkan para penumpang kapal berlebihan dalam mengumbar kesenangan nafsu; pesta pora menyantap makanan lezat, menenggak khamr sampai mabuk, menari-nari, menyanyi-nyanyi, menikmati kesyahwatan tanpa kendali hingga melanggar aturan yang ditetapkan Sang Maharajadiraja semesta. Demikianlah hukum kauniyah yang menetapkan syarat-syarat agar kapal yang ditumpangi suatu kaum tidak merampas dan dikuasai musuh,� papar Abdul Jalil.

�Apakah mungkin negeri kami nanti jatuh di bawah kaki orang-orang kafir Portugis?� tanya Orang Kaya Kenayan sambil menarik napas berat dan kemudian mengembuskannya keras-keras.

�Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini,� sahut Abdul Jalil dingin, �Tetapi, semua kemungkinan itu tergantung pada ketakwaan orang-orang di suatu negeri.�

�Maksud Tuan Syaikh?�

�Apakah penduduk negeri Pasai selama ini sudah melayani Sang Maharajadiraja semesta dengan setia? Apakah mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesembahan lain? Apakah mereka tidak disibukkan oleh urusan-urusan remeh pemenuhan hasrat nafsu mereka sendiri? Apakah para pejabat negeri ini terdiri atas orang-orang yang setia melayani Sang Maharajadiraja semesta? Apakah rakyat negeri ini setia menjadi hamba-Nya? Apakah rakyat negeri ini hidup di bawah pancaran cahaya akhlak yang mulia sebagaimana diteladankan rasul-Nya? Jawabannya, tergantung kejujuran penduduk negeri ini dalam menangkap makna-makna di balik segala sesuatu yang kelihatan di negeri ini. Apakah yang sejatinya terjadi di negeri ini?�

�Lantaran itu, o Anak-anakku, lewatilah jalan-jalan di negeri ini! Lihatlah dengan seksama kehidupan penduduknya! Periksalah, apakah kalian menemukan orang-orang yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran? Jika kalian tidak mendapati cukup banyak penduduk negeri ini yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran, itu pertanda Sang Maharajadiraja semesta sedang dicekam kemurkaan. Itu berarti, jika waktu yang ditentukan-Nya telah sampai, pasti Dia akan mengirimkan siksaan dan hinaan kepada penduduk yang tidak mencitrakan Keadilan dan Kebenaran sebagai wakil-Nya di muka bumi. Dia akan mengirimkan harimau, singa, serigala, musang, dan hewan melata dari hutan, dari padang belantara, gunung, rawa-rawa, danau, dan lautan untuk merobek-robek negeri ini dalam kekacauan. Darah akan tumpah di mana-mana. Kemudian, dengan cambukan pecut-Nya yang dahsyat Dia akan mendera penduduk dengan kesengsaraan dan penderitaan. Dia akan mengirim perampok yang merampok, penggarong yang menggarong, pencuri yang mencuri, pemerkosa yang memperkosa, penyiksa yang menyiksa, dan pembunuh yang haus darah. Dia akan menekuk lutut penduduk negeri yang ingkar untuk direndahkan sebagai budak bagi bangsa lain. Demikianlah hukuman yang pantas bagi penduduk suatu negeri yang menyekutukan Sang Maharajadiraja semesta.�

Read More ->>

Minggu, 19 Maret 2017

CAMBUK PERINGATAN TUHAN

Cambuk Peringatan Tuhan

Selimut keremangan malam telah disingkapkan oleh fajar gemilang yang terbit dari balik pegunungan Nilgiri yang memunggungi Kozhikode. Gemerisik daun-daun kelapa terdengar lembut dibawa embusan angin yang bertiup dari laut. Kumbang-kumbang beterbangan di tengah embun yang terangkat ke angkasa. Burung-burung berkicau sambil berlompatan di balik rimbun pepohonan. Kokok ayam hutan terdengar nyaring membelah keheningan pagi. Suasana pagi di pinggiran Kozhikode terasa sejuk dan riang, meski sisa-sisa kabut tipis masih terlihat di permukaan tanah.

Agak berbeda dengan suasana di pinggiran kota, di kawasan perkampungan Kozhikode yang menuju arah pusat kota, suasana pagi yang sejuk dan riang itu tidak lagi terasa. Dengung kumbang, kicau burung, kokok ayam hutan, gemerisik daun-daun kelapa, dan sejuknya embun di tengah semburan cahaya mentari pagi tak ada lagi. Suasana pagi diwarnai kesibukan luar biasa dari orang-orang berkeringat yang berjalan hilir mudik di tengah dentang suara palu, gemuruh bising gergaji, detak ladam kuda, derit roda kereta, dan teriakan-teriakan orang menghardik budaknya. Pagi itu suasana memang sibuk sebab kapal-kapal baru buatan galangan kapal Beypore yang dipesan Laksamana Kunjali Marakkar, panglima angkatan laut kepercayaan Samutiru, telah bersandar di pelabuhan Kozhikode. Kapal-kapal itu konon akan digunakan untuk menggempur armada Portugis yang berpangkalan di bandar Cochazhi (Cochin).

Galangan kapal Beypore adalah galangan kapal terbesar di wilayah kekuasaan Samutiru, bahkan terbesar di sepanjang pantai Malabar. Kapal-kapal dan perahu besar pesanan saudagar dari berbagai negeri dibuat di situ oleh tukang-tukang yang terampil yang mewarisi keahlian itu secara turun-temurun. Namun, belakangan ini menurut kabar yang tersebar di kota, segenap tenaga para pembuat kapal di Beypore dikerahkan untuk membuat kapal-kapal dengan ukuran besar. Kapal-kapal itu kabarnya akan dilengkapi dengan meriam-meriam seperti kapal-kapal milik Portugis. Bukan hanya menyiapkan kapal-kapal, Laksamana Kunjali Marakkar kabarnya sedang menyiapkan kekuatan tempur untuk menggempur armada Portugis yang bersekutu dengan raja Cochazi. Sebuah pertempuran besar tampaknya bakal pecah antara kekuatan Kozhikode di satu pihak dengan kekuatan Cochazi dan Portugis di pihak lain.

Tindakan brutal Vasco da Gama membantai jama�ah Muslim Kozhikode yang baru kembali dari tanah suci, membunuh dan memotong-motong tubuh nelayan-nelayan Hindu, menyandera penduduk, menginginkan kematian seluruh penduduk muslim Kozhikode, menembaki kota Kozhikode dengan meriam, dan mengancam-ancam Samutiru, tampaknya berbuntut panjang. Bukan hanya Samutiru dan penduduk Kozhikode yang merasa tertampar harga diri dan kehormatannya, melainkan seluruh penduduk muslim di Bharatnagari tersulut amarahnya dengan tindak biadab itu. Seluruh penduduk muslim Bharatnagari � terutama para saudagar, ulama, dan pemuka masyarakat � berkobar-kobar semangatnya untuk membalas kematian saudara mereka seiman yang sudah direndahkan oleh orang kafir. Tanpa ada yang meminta, saudagar-saudagar muslim dari kota-kota niaga di negeri Dekkan, Gujarat, Bengala, Sokotra, Yaman, Basrah, hingga Mesir diam-diam memberikan dukungan kepada penguasa Kozhikode untuk melawan Portugis.

Semangat perlawanan orang-orang Kozhikode yang berkobar-kobar tampaknya memiliki kaitan dengan watak kota yang melahirkan mereka. Kozhikode pada awalnya bukanlah kota perniagaan. Ia lahir sebagai sebuah benteng pertahanan di wilayah Ponniankara sekitar abad ke dua belas. Benteng itu dibangun oleh raja Emad, Udaiyavar, setelah berhasil menaklukkan Raja Polatthiri. Benteng itu disebut Velapuram dan diserahkan penguasaannya kepada Nediyirippu (Panglima Penakluk) bernama Swami Nambiyathiri Thirumulpad, yang termasyhur dengan sebutan Samutiru atau Samuthiri. Sebagaimana layaknya sebuah benteng, pada perkembangannya di sekitar Velapuram mulai bermunculan pemukiman yang lambat laun tumbuh sebagai kota kecil. Benteng yang menjadi kota kecil itu kemudian disebut orang dengan nama Koyilkotta (istana benteng).

Di bawah kekuasaan Samutiru yang diwariskan secara turun-temurun ke anak cucu, Koyilkotta berkembang menjadi kota perniagaan antara bangsa, terutama akibat pengaruh saudagar-saudagar keturunan Arab yang disebut suku Mappila. Koyilkotta dikenal sebagai salah satu bandar perniagaan rempah-rempah terbesar di India. Lantaran yang berniaga ke Koyilkotta adalah saudagar-saudagar dari berbagai negeri yang jauh, lafal pengucapan untuk menyebut Koyilkotta pun menjadi beragam. Ada yang melafalkan Koyilkotta dengan Kozhikode, ada yang melafalkan Kalikat, Kalifo, dan belakangan orang Portugis melafalkan: Calicut.

Sekalipun Kozhikode telah berkembang menjadi kota niaga antara bangsa, citra keberadaannya sebagai kota benteng tetap tidak sirna dari ingatan penduduk. Itu sebabnya, sejak awal kehadiran orang-orang Portugis yang menipu Samutiru sehingga penduduk menyangka mereka kawanan bajak laut, penduduk sudah menyerang mereka sebagai musuh berbahaya. Bahkan, sejak penduduk berselisih dengan Pedro Alvares Cabral hingga menjadi tindakan ganas Vasco da Gama membombardir kota Kozhikode, keterlibatan penduduk Kozhikode untuk membela kehormatan kotanya sangatlah besar.

Sebagai penguasa, sesungguhnya Samutiru tidak ingin peperangan terjadi di wilayah kekuasaannya. Dalam berselisih dengan Portugis, ia selalu mengambil jalan damai. Saat Vasco da Gama mengancam agar penduduk Muslim Kozhikode dibunuh semua, ia meminta kepada warganya untuk pergi meninggalkan Kozhikode. Untuk menghindari kesalahpahaman dengan maharaja Wijayanagara, ia pun secara halus meminta kepada saudagar-saudagar Mappila yang menjadi abdi maharaja Wijayanagara untuk menyingkir sementara dari Kozhikode. Namun, sikap mengalah Samutiru itu tidak cukup berhasil meredam semangat penduduk. Ketika sebagian warga muslim Kozhikode berlayar ke negeri-negeri di selatan, orang-orang Mappila justru enggan meninggalkan Kozhikode. Mereka menyingkir dari kota, tapi tinggal tidak jauh dari situ. Mereka tinggal di Valapattanam, Thikkodi, Pandalayani, dan Kakkadu. Orang-orang Mappila yang menganggap Kozhikode sebagai negeri kelahirannya memang sulit meninggalkan begitu saja kota yang mengukir jiwa mereka. Alih-alih mengungsi ke kota-kota terdekat, mereka diam-diam menyiapkan kekuatan bersenjata untuk melawan Portugis. Mereka mendorong Laksamana Kunjali Marakkar, pemuka muslim Kozhikode yang terkenal kegagahannya, agar melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Portugis di mana pun berada. Lewat saudagar-saudagarnya, orang-orang Mappila diam-diam membeli bedil, pedang, tombak, dan bedil besar bikinan Kuthiramalika di Tanjore untuk digunakan menyerang orang-orang Portugis.

Sebagaimana warga muslim Kozhikode yang lain, Laksamana Kunjali Marakkar tidak setuju dengan kebijaksanaan Samutiru yang cenderung mengalah kepada Portugis. Mengalah kepada musuh sama maknanya dengan membiarkan Kozhikode kehilangan ruh kepahlawanannya. Laksamana Kunjali Marakkar pun berusaha membangkitkan semangat Samutiru untuk melawan Portugis lewat pengungkapan kembali kisah-kisah keperkasaan leluhur Samutiru yang menjadi penguasa benteng Velapuram. Akhirnya, Samutiru sepakat untuk melawan. Samutiru lalu memerintahkan orang untuk memperbaiki dan memperkuat benteng lama di Kottapadi yang letaknya dekat dengan Kuil Syiwa dan Kuil Vettakkorumakan. Ia menunjuk Parnambi, kepala suku setempat, untuk menjadi penguasa benteng dan sekaligus pelatih keprajuritan di benteng tersebut. Laksamana Kunjali Marakkar pun diberi keleluasaan untuk membangun angkatan laut Kozhikode sekuat mungkin.

Upaya diam-diam Samutiru membangun kekuatan militer tidak diketahui Portugis maupun seteru lamanya, raja Cochazhi. Vasco da Gama dan raja Cochazhi melakukan pembaharuan perjanjian yang pernah dibuatnya dengan Cabral. Vasco da Gama juga mengajak raja Cochazhi untuk membuat persekutuan dagang yang disebut feitoria di Cochazhi. Untuk menunjukkan taring kegarangan sebagai pemenang, Vasco da Gama sengaja membiarkan awak kapalnya mencari hiburan di Kozhikode pada malam hari. Dengan keyakinan bahwa Kozhikode sudah benar-benar bertekuk lutut, Vasco da Gama kembali ke Portugal membawa kapal-kapalnya yang penuh muatan rempah-rempah. Ia sengaja meninggalkan seratus serdadu dan tiga kapal di bawah Francisco d�Albuquerque yang ditugaskan melindungi Cochazhi, dan Duarte Pacheco Pereira yang ditugaskan menjadi penasihat raja Cochazhi, dengan keyakinan bahwa Samutiru tidak akan melakukan tindakan yang bertentangan dengan kepentingan Portugis.

Bagian terbesar penduduk muslim Kozhikode yang disebut suku Mappila adalah orang-orang yang leluhurnya berasal dari negeri Yaman dan Teluk Persia. Berdasar cerita tutur yang samar-samar masih diingat oleh generasi muda Mappila, para dhatu leluhur mereka adalah pejuang pembela ahlul bait dari kalangan Syi�ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Karena musuh mendesak terus dari daratan maka leluhur mereka itu terdesak ke pantai dan lari meninggalkan negerinya lewat laut. Mereka mendarat dan kemudian tinggal di wilayah Kerala serta di sebagian tempat di dalam negeri Wijayanagara. Sebagai pelarian, mereka berusaha bertahan dengan cara berkompromi dengan penduduk sekitar yang beragama Hindu. Sadar dengan keberadaan diri sebagai warga pendatang, mereka melindungkan diri di bawag kekuasaan raja-raja setempat yang beragama Hindu dan bersedia menjadi abdi setia dari raja-raja tersebut.

Tidak banyak catatan sejarah ditulis orang tentang kehidupan dhatu leluhur orang-orang Mappila yang merintis kehidupan awal di negeri tersebut. Serpihan sejarah hanya mencatat bahwa negeri-negeri di selatan Bharatnagari yang termasuk di dalamnya wilayah Kerala tidak pernah sepi dari peperangan. Itu berarti, dhatu leluhur orang-orang Mappila yang lari dari negeri kelahirannya karena kalah perang harus bisa bertahan hidup di negeri baru yang ternyata tidak pernah benar-benar padam dari nyala api peperangan. Sejak pertempuran antar penguasa setempat, Dantidurga dengan Chalukya, orang-orang Mappila seolah-olah dipaksa oleh takdir untuk menyaksikan dan seringkali terlibat dalam pertempuran antarraja besar dan kecil di sekitar mereka. Bersama-sama penduduk pribumi Kerala, mereka berusaha bertahan dari tekanan-tekanan peperangan yang terus membara dari waktu ke waktu.

Boleh jadi akibat kesamaan nasib karena terus-menerus menjadi korban peperangan, orang-orang Mappila keturunan Arab asal Yaman dan Teluk Persia itu pada gilirannya dapat berbaur dengan penduduk setempat yang menganut Hindu dan Jaina. Bukan hanya dalam hal bahasa Malayalam yang mereka gunakan sebagai bahasa ibu, melainkan adat istiadat dan kepercayaan mereka pun menunjukkan hasil perpaduan antara pengaruh Islam-Hindu-Jaina. Lantaran itu, adat istiadat mereka agak berbeda dengan muslim lain di Bharatnagari. Sekalipun hampir seluruh penduduk muslim Kerala mengaku sebagai muslim penganut Sunni dan bermadzhab Syafi�i, secara aneh mereka menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang lazimnya dijalankan oleh penganut Syi�ah, Hindu, dan Jaina.

Sebagaimana lazimnya penganut Syi�ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah, orang-orang muslim Mappila memiliki adat istiadat dan kepercayaan khas, yaitu mengadakan upacara khaul bagi orang yang meninggal. Mereka membacakan talqin kepada jenasah. Mereka memperingati Maulid Nabi Saw. dengan tontonan-tontonan, nyanyian-nyanyian yang disebut Mappila Pattukal, musik, dan upacara makan-makan yang disebut kenduri. Mereka memperingati bulan Muharam dengan upacara-upacara melarung tabut Hasan dan Husein di laut dan membuat bubur Asyura. Mereka suka berziarah ke kubur wali-wali untuk meminta berkah. Mereka melakukan pula upacara yang disebut Nercha untuk meminta perlindungan kepada arwah pelindung suku dan desa, dengan mempersembahkan suguhan utama kue-kue bulat dari tepung beras yang disebut appam. Hampir semua ulama Mappila mengaku bernasab kepada Nabi Muhammad Saw. melalui galur Fatimah az-Zahrah dan Imam Ali bin Abi Thalib.

Adat istiadat dan kepercayaan orang-orang Mappila itu ternyata diikuti begitu saja oleh penduduk asli yang belakangan memeluk Islam. Malahan, mereka tidak sekadar ikut-ikutan adat istiadat orang Mappila, melainkan membaurkannya dengan adat istiadat mereka. Akibatnya, terjadi keanehan-keanehan yang mencengankan dari kebiasaan hidup sehari-hari penduduk muslim di Kerala dan terutama di kota Kozhikode. Penduduk muslim setempat yang umumnya berasal dari suku-suku berkasta rendah dalam tatanan masyarakat Hindu sangat suka menggunakan gelar-gelar asing seperti Syaikh, Khan, Sayyid, Syarif, dan Beg untuk menunjukkan kesetaraan kedudukannya dengan masyarakat muslim yang lain. Hal itu tentu menyulitkan orang untuk membedakan keberadaan mereka dengan suku Mappila maupun dengan saudagar-saudagar Arab pendatang. Ulama-ulama setempat pun, sebagaimana ulama-ulama suku Mappila, secara menakjubkan mengaku memiliki susunan silsilah leluhurnya yang merujuk kepada Nabi Muhammad Saw. melalui galur Fatimah az-Zahrah dan Imam Ali bin Abi Thalib.

Adat istiadat dan kepercayaan kaum muslimin di Kerala ternyata tidak cukup menunjukkan citra budaya yang lazim dijalankan orang-orang Syi�ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Secara nyata, mereka mengikuti pula adat istiadat dan kepercayaan penduduk setempat yang beragama Hindu dan Jaina. Setiap tahun, misalnya, mereka berduyun-duyun datang ke Masjid Pazhayangadi di kota Kondotti untuk mengadakan upacara Nercha selama empat hari dengan sesaji utama kue appam, namun setelah dari masjid mereka biasanya datang ke Kuil Kodungallur untuk mengikuti upacara Bhadrakalipattu, tempat orang Hindu memuja Bhadrakali. Mereka bersembahyang di Masjid Puthangadi, namun setelah itu berziarah ke Kuil Tirumandankunnu di dekatnya, untuk memuja Durga. Penduduk beragama Hindu pun melakukan hal yang sama: setelah berziarah ke Kuil Sri Dharmasatha untuk memuja Ayyappa dengan upacara Petta-Thullal atau Kanni Ayyappa, mereka berziarah ke Masjid Vavar di dekatnya karena Vavar yang muslim adalah sahabat Ayyappa.

Adat istiadat dan kepercayaan kaum muslimin di Kerala memang aneh. Sekalipun dalam kehidupan kemasyarakatan mereka terkenal sangat setia kepada rajanya, dalam hal keruhanian mereka sangat mendewakan ulama-ulama panutannya. Hampir setiap orang Mappila dan muslim Kerala memiliki anggapan bahwa ulama yang mereka jadikan panutan selain adalah keturunan Nabi Muhammad Saw., juga merupakan wali Allah yang suci dari dosa (maksum). Bahkan, keluarga dari ulama pun mereka muliakan sedemikian rupa seolah-olah mereka ikut terpancari kemaksuman tersebut.

Dengan anggapan bahwa ulama yang mereka jadikan panutan adalah keturunan Nabi Muhammad Saw. dan sekaligus wali Allah yang maksum, kepatuhan para pengikut pun menjadi mutlak. Ulama panutan yang umumnya memiliki kepandaian menyembuhkan orang sakit dan memecahkan masalah kehidupan sehari-hari itu menjadi pusat ketergantungan bagi para pengikutnya. Mereka seolah-olah menggantikan peran pendeta dalam masyarakat Hindu, meski mereka paham bahwa di dalam Islam tidak ada kependetaan. Itu sebabnya, saat ulama panutan meninggal, makamnya akan dijadikan pusat ziarah oleh para pengikutnya sebagai makam keramat seorang wali. Untuk mempertahankan adat istiadat dan kepercayaan yang menguntungkan kedudukannya itu, mereka secara turun-temurun mewajibkan kepada semua pengikutnya untuk taklid buta.

Pagi sudah menjelang siang. Matahari tinggi di langit timur. Cahayanya merata di permukaan bumi Kozhikode. Di sebuah rumah besar yang terletak tak jauh dari benteng, di tengah hiruk pikuk orang-orang yang berseliweran di jalan-jalan, di sela-sela embusan angin pantai yang menerpa setiap bangunan di kota, Abdul Jalil duduk bersila di sudut ruangan bersama Raden Sahid dan pemilik rumah, Salim Chandidas, menantu saudagar Ramchandra Gauranga, pengikut setia Bharatchandra Jagaddhatri. Di sampingnya terlihat Bardud, anaknya yang berusia sekitar empat belas tahun, menyandarkan kepalanya ke bahunya.

Siang itu Abdul Jalil sedang menunggu keberangkatan kapal yang bakal membawanya ke Pasai. Menurut jadwal, kapal baru akan berlayar setelah kegelapan menyelimuti bumi. Agak berbeda dengan kelaziman pelayaran sebelumya, di mana kapal-kapal dari Kozhikode dapat berlayar setiap waktu, saat itu orang cenderung memilih berlayar malam. Alasannya, untuk menghindari ancaman kapal-kapal Portugis. Para nakhoda banyak memilih waktu malam untuk membawa kapalnya keluar dari pelabuhan Kozhikode karena saat itu kelasi-kelasi Portugis sibuk menghibur diri di kedai-kedai Cochazhi maupun Kozhikode. Biasanya, dengan mengambil jarak memutar yang cukup jauh dari pantai, kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Kozhidode akan menerobos kegelapan malam tanpa penerangan lampu sampai ke tengah lautan bebas.

Selama menunggu keberangkatan kapal, Abdul Jalil menangkap kegelisahan jiwa Salim Chandidas yang ditutup-tutupi dengan senyum dan keramahan. Itu sebabnya, usai berbincang-bincang tentang gerakan diam-diam penduduk Kozhikode yang mendukung Laksamana Kunjali Marakkar melawan Portugis, Abdul Jalil bertanya dengan nada menyindir, �Apakah setiap akan melepas kapal para saudagar Kozhikode selalu dibayangi kecemasan dan kekhawatiran bakal diserang Portugis?�

Salim Chandidas tercekat kaget. Setelah diam sejenak dia berkata, �Kami kira, semua pemilik kapal di Kozhikode sekarang ini sedang dicekam kegelisahan setiap kali akan melepas kapalnya. Kapal-kapal Kozhikode yang memuat barang perniagaan terutama rempah-rempah, belakangan ini sering tidak kembali ke pangkalannya. Kapal-kapal itu lenyap begitu saja seperti ditelan laut. Menurut kabar yang berkembang, kapal-kapal itu dirampas muatannya dan kemudian ditenggelamkan oleh orang-orang Portugis. Tetapi, tuduhan bahwa Portugis sebagai pelaku tindak kejahatan itu sejauh ini belum bisa dibuktikan karena tidak ada satu orang pun di antara awak kapal yang hilang itu pernah kembali ke pangkalannya.�

�Apakah Laksamana Kunjali Marakkar dan penduduk akan menyerang Portugis jika kedapatan bukti bahwa merekalah pelaku perampasan kapal?� tanya Abdul Jalil.

�Itu sudah pasti, Tuan Syaikh,� kata Salim Chandidas dengan gigi berkerut-kerut menahan amarah, �hal itu kami kira tinggal menunggu waktu saja.�

�Berarti, selama ini kabar yang beredar di kalangan penduduk tentang kapal-kapal niaga yang ditenggelamkan Portugis itu belum bisa dibuktikan kebenarannya? Maksudnya, semua kabar itu masih sangkaan?�

�Bukti nyata memang belum ada, Tuan Syaikh,� kata Salim Chandidas menarik napas panjang dengan wajah makin merah. �Tetapi, secara sederhana orang yang paling awam pun wajib mencurigai Portugis. Sebab, selama beratus-ratus tahun negeri Kozhikode berniaga belum pernah terjadi peristiwa seperti ini. Bayangkan, dalam waktu beberapa bulan sejak kehadiran Portugis sudah belasan kapal niaga Kozhikode yang membawa muatan rempah-rempah raib di tengah laut. Padahal, semua orang mengetahui kapal-kapal Portugis yang berkeliaran di lautan kita itu memiliki tujuan utama membeli rempah-rempah.�

�Jadi, yang raib itu hanya kapal-kapal yang memuat rempah-rempah?�

�Ya.�

�Apakah kapal yang akan kami tumpangi nanti memuat rempah-rempah?�

�Itu memang kapal untuk memuat rempah-rempah. Tetapi, kalau berangkat dari Kozhikode biasanya membawa barang-barang niaga lain untuk ditukar dengan rempah-rempah. Muatan rempah-rempah baru diangkut setelah kapal kembali dari negeri Jawi,� kata Salim Chandidas.

�Tapi, kami dengar kapal-kapal milik orang Cochazhi tidak ada satu pun yang hilang sebab penguasa mereka bersekutu dengan Portugis. Apakah orang-orang Kozhikode tidak bisa menjalin hubungan baik dengan Portugis sebagaimana dilakukan orang Cochazhi?� tanya Abdul Jalil.

�Itu tidak mungkin, Tuan Syaikh,� sahut Salim Chandidas tegas. �Sejak awal kedatangannya, orang-orang Portugis sudah menempatkan diri sebagai kawanan bajak laut yang menipu penguasa Kozhikode. Selain itu, Portugis dengan kekejamannya yang menjijikkan telah membantai penduduk Kozhikode dan mengancam-ancam raja kami. Lantaran itu, baik penduduk muslim maupun Hindu di Kozhikode ini tidak akan sudi berbaik-baik dengan Portugis, sedangkan orang-orang Cochazhi ikut dengan kebijakan penguasanya yang bersahabat dengan Portugis karena mereka orang-orang yang lemah dan kurang percaya diri.�

�Berarti, musuh Kozhikode sekarang ini bertambah berat karena Portugis bersekutu dengan Cochazhi. Bahkan, kabar terakhir yang kami dengar, orang-orang Portugis sedang membangun benteng di tepi sungai Periyar dekat muara,� kata Abdul Jalil.

�Itulah masalah rumit yang sedang kami hadapi. Para penguasa negeri saling berseteru. Tidak ada yang mau mengalah. Dan, Portugis kelihatannya memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingannya sendiri,� kata Salim Chandidas dengan nada kurang bersemangat.

Abdul Jalil termangu-mangu sambil mengelus-elus janggutnya. Ia menangkap sasmita bahwa mendung hitam Kematian sedang menggantung di langit Kozhikode. Tidak lama lagi hujan dan angin peperangan akan melanda negeri itu bersama ledakan halilintar yang mengiringi kedatangan Ya�juj wa Ma�juj. Darah akan membanjir. Sang Maut akan meniup terompet Kematian di tengah mayat-mayat yang berserak di mana-mana. Secara tiba-tiba ingatannya melesat ke Nusa Jawa. Apakah Nusa Jawa juga akan dilintasi mendung hitam Kematian?

Sekejap mengingat Nusa Jawa, ia menangkap sasmita bahwa mendung hitam Kematian tidak akan melintas di langit Nusa Jawa. Sebab, peristiwa pecah belah antarpenguasa sebagaimana yang terjadi di negeri Kerala, sepengetahuannya, sudah tidak terjadi lagi di Nusa Jawa. Para adipati di sepanjang pesisir Nusa Jawa sudah bersatu dalam suatu persekutuan di bawah kepemimpinan Sultan Demak. Persekutuan para penguasa daerah itu memiliki tujuan utama menegakkan Tauhid di tengah kehidupan masyarakat. Persekutuan adipati-adipati itu pun didukung penguasa Majapahit, Japan, dan Blambangan sehingga tidak ada alasan untuk berperang.

Sebagaimana lazimnya tatanan kekuasaan yang didasarkan atas kaidah-kaidah tasawuf, yang menempatkan kekuasaan duniawi di bawah kekuasaan ruhani, demikianlah dalam persekutuan adipati-adipati di Nusa Jawa itu. Sultan Demak dan adipati-adipatinya berada di bawah naungan kekuasaan ruhani para guru suci yang tergabung dalam Majelis Wali Songo, Sultan Demak selaku pemimpin persekutuan adipati wajib menjalankan tatanan agama berdasarkan Tauhid kepada seluruh penduduk. Untuk itu, Sultan Demak selain bergelar Amir al-Mu�minin juga beroleh gelar Khalifah ar-Rasul Sayidin Panatagama dari Majelis Wali Songo. Dengan tatanan kekuasaan sebagaimana diterapkan di Nusa Jawa yang ditegakkan atas asas Tauhid itu, Abdul Jalil sangat yakin jika kekuatan Portugis tidak akan dapat menembus Nusa Jawa. Ia sangat yakin Allah tidak akan menimpakan malapetaka kepada umat yang bertauhid dengan cara menyerahkannya kepada musuh yang keji dan biadab.

Ketika sore tiba, Abdul Jalil dan Raden Sahid terlihat berdiri di sudut jalan yang menuju dermaga Kozhikode. Sambil memandangi kapal-kapal dan perahu-perahu yang diayun-ayun gelombang laut, di tengah kerdipan cahaya kuning matahari yang memantul di permukaan air, Abdul Jalil menangkap sasmita di balik rangkaian penderitaan yang dialami penduduk muslim Kozhikode sejak kehadiran orang-orang Portugis. Orang-orang malang itu sesungguhnya sedang dicambuk oleh peringatan Tuhan melalui keganasan Ya�juj wa Ma�juj dalam wujud orang-orang Portugis. Dengan kobaran dari senjata-senjata penyembur api, ketenangan hidup penduduk muslim Kozhikode dijungkirbalikkan. Sasmita itu sendiri sejatinya sudah ditangkapnya bertahun-tahun silam saat ia berada dalam perjalanan dari Gujarat menuju Goa.

Setelah beberapa jenak merenung-renung tentang sasmita yang ditangkapnya, dengan suara lain ia berkata-kata seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri.

�Sesungguhnya, Allah telah menetapkan perintah agar kaum beriman hanya menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan ilah-ilah selain Dia (QS. al-Baqarah: 21 � 22; an-Nisa:36). Sesungguhnya, jalan yang lurus adalah menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa (QS. Ali Imran: 51). Sebab, Allah adalah Sang Pencipta, Yang Maha Memelihara, Maha Melihat, Mahahalus, Maha Mengetahui (QS. al-An�am: 101 � 103), meliputi segala sesuatu (QS. al-A�raf: 89; al-Anfal: 47; Hud: 92), juga meliputi seluruh manusia (QS. al-Isra: 60).�

�Karena Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Menyesatkan (al-Mudhill) dan Yang Memberi Petunjuk (al-Hadi) yang mengejawantahkan kehendak Zat Yang Mahamutlak secara rahasia selalu berjalin berkelindan dan berganti-ganti dalam menunjuki dan menyesatkan manusia (QS. al-Fathir: 8), melalui pengilhaman terhadap jiwa manusia atas kefasikan dan ketakwaan (QS. asy-Syams: 8), maka manusia sebagai citra ar-Rahman (shurah ar-Rahman) terpilah sesuai Asma�, Af�al dan Shifat-Nya, yaitu menjadi golongan yang disesatkan dan golongan yang diberi petunjuk. Mereka yang disesatkan akan dilimpahi azab Allah yang pedih (QS. Shad: 26).�

�Sesungguhnya, tanda paling terang dari kesesatan dan ketakwaan suatu umat terlihat dari curahan azab dan limpahan rahmat yang diterima masing-masing laksana perbedaan antara pancaran cahaya dan selimut kegelapan. Dia (al-Hadi) mengeluarkan orang beriman dari kegelapan menuju cahaya, sedangkan setan (pengejawantahan kuasa al-Mudhill) mengeluarkan orang ingkar dari cahaya ke dalam kegelapan (QS. al-Baqarah: 256 -257). Mereka yang sesat itu mengikuti jalan thaghut dan menganggap kaum beriman sesat (QS. an-Nisa: 51, 60). Padahal mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah (QS. al-Maidah: 60).�

�O penduduk Kozhikode, kefasikan apa yang sesungguhnya telah kalian lakukan hingga membuat cambuk Allah dilecutkan atas kalian? Sesungguhnya, Allah tidak pernah membinasakan kota-kota kecuali penduduknya telah melakukan kezaliman dan kefasikan (QS. al-Qashash: 59; al-Ankabut: 34). Semoga lecutan cambuk dari-Nya tidak membinasakan, tetapi hanya menjadi peringatan agar kalian kembali meneguhkan Tauhid; semata-mata menyembah Allah dengan benar dan menjauhi penyembahan kepada thaghut.�

Raden Sahid yang mendengar kata-kata Abdul Jalil itu memegang keningnya. Dia berusaha merangkai makna di balik ucapan Abdul Jalil dengan kenyataan pedih yang dialami penduduk Kozhikode, yang dicekam kegelisahan akibat tindakan-tindakan orang Portugis yang ganas. Setelah beberapa jenak merenung, dia bertanya kepada Abdul Jalil, �Apakah Paman menganggap bahwa kemalangan nasib yang dialami orang-orang muslim di Kozhikode berkaitan dengan kemerosotan Tauhid mereka?�

�Itulah sasmita perlambang yang aku tangkap.�

�Kami pun menangkap sasmita seperti Paman. Semula, kami melihat orang-orang muslim di Kozhikode sebagai muslim yang baik dalam akidah. Tetapi, belakangan kami mendapati kenyataan lain di mana kebanyakan mereka itu tanpa sadar telah mengikuti kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang dari prinsip-prinsip Tauhid. Kebanyakan mereka telah menyimpang dari jalan yang benar (fasik). Mereka banyak yang terseret keluar dari jalan Tauhid dan cenderung menjadi umat yang durhakan kepada Allah,� kata Raden Sahid.

�Tahukah engkau, o Anakku, bahwa mereka yang bersembahyang di masjid umumnya hanya kalangan ulama dan murid-muridnya?� tanya Abdul Jalil.

�Ya, kami tahu itu.�

�Tahukah engkau apa yang dilakukan seumumnya penduduk jika mereka datang ke masjid?�

�Kami melihat orang-orang datang ke masjid tidak untuk bersembahyang. Sebaliknya, mereka berziarah ke makam para wali yang terletak di belakang mihrab.�

�Sungguh aneh umat ini. Apakah mereka kaum penyembah Allah atau kaum penyembah kubur?�

�Setahu kami, mereka datang berziarah ke kuburan untuk meminta pertolongan dan berkah dari ahli kubur yang mereka anggap wali.�

�Bagaimana mereka tahu bahwa ahli kubur yang diziarahi dan dijadikan perantara meminta pertolongan itu wali Allah?� kata Abdul Jalil dengan suara ditekan tinggi. �Bukankah keberadaan wali Allah itu dirahasiakan oleh-Nya dari pandangan awam? Tidakkah engkau mengetahui bahwa di dalam tiap-tiap hati dan pikiran muslim di Kozhikode, sejatinya terselip anggapan bahwa setiap ulama panutan mereka adalah wali Allah? Tidakkah engaku mengetahui betapa mereka meyakini jika ulama-ulama mereka itu suci dan terbebas dari dosa (maksum) seperti Nabi Saw., sehingga patut bagi penduduk untuk memuja kuburan mereka? Tidakkah engkau mengetahui, o Anakku, berapa banyak penduduk muslim Kozhikode yang berziarah ke makam-makam untuk mencari berkah agar keinginan nafsunya terpenuhi? Tahukah engkau, selain meminta berkah ke kuburan ulama yang mereka anut, mereka juga sering kedapatan meminta berkah ke Kuil Durga dan Bhadrakali dengan mengikuti upacara-upacara yang mengancam prinsip-prinsip Tauhid?�

�Tahukah engkau betapa banyak di antara kaum muslimin Kozhikode diam-diam memelihara ular rumah (sarpa-kavu) yang mereka dapat dari Kuil Mannarasala tempat memuja Nagaraja? Tahukah engkau betapa mereka meyakini jika ular-ular itu bisa memberikan berkah keselamatan terhadap mereka? Dan, tahukah engkau berapa banyak di antara mereka yang tewas akibat dipatuk ular peliharaan itu?�

�Ya, kami tahu itu.�

�Tidakkah engkau mengetahui juga bagaimana ulama-ulama Kozhikode hampir selalu mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa berdoa langsung kepada Allah adalah sesuatu hal yang mustahil bisa dilakukan, karena manusia terlalu kotor dan penuh dosa? Tahukah engkau bahwa mereka mewajibkan kepada pengikut-pengikutnya untuk menggunakan wasilah kepada wali-wali dalam memohon pertolongan Allah dan yang diwalikan itu ternyata adalah diri ulama itu sendiri?�

�Kami tahu itu, Paman. Mereka berdalih dengan iktibar bahwa orang awam biasa tidak akan mungkin bisa bertemu raja tanpa melewati pengawal kerajaan atau orang-orang yang dekat dengan raja. Sementara, para wali Allah adalah sahabat-sahabat Allah yang senantiasa berkenan menjadi wasilah untuk menyampaikan doa umat kepada Allah Yang Mahasuci. Tapi Paman, bukankah wasilah melalui wali-wali diperbolehkan bagi orang awam?�

�Wasilah tidak dilarang asalkan yang dijadikan wasilah adalah benar-benar wali Allah yang sempurna (kamil al-mukamil). Tapi, berapa banyak di antara ulama atau kuburan yang disucikan orang-orang itu sesungguhnya tidak terkait dengan keberadaan wali Allah? Tidakkah engkau mengetahui, ulama Kozhikode dari waktu ke waktu selalu berusaha meyakinkan para pengikutnya agar mempercayai bahwa mereka adalah wali Allah? Padahal, berapa banyak di antara mereka itu sejatinya adalah pembohong besar? Mereka banyak yang berbohong mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw. dengan membuat susunan silsilah palsu.�

�Sungguh menyedihkan nasib umat muslim di negeri ini. Sebab, mereka dipimpin oleh ulama-ulama yang tidak mencerminkan citra pewaris Nabi: Suka menumpuk kekayaan. Gemar menghimpun tanah wakaf untuk dijadikan milik pribadi. Mempekerjakan murid-murid di tanah-tanah itu tanpa upah sepeser pun. Lalu, menempatkan diri sebagai pengabsah bagi kebijakan-kebijakan penguasa yang sering menzalimi masyarakat. Melipat-lipat dan membentuk tafsiran ayat-ayat Allah sesuai kepentingan penguasa yang menyuap mereka. Menata dalil-dalil untuk menguntungkan kepentingan mereka. Sungguh, kemuliaan dan keluhuran ulama sebagai wakil al-Alim di muka bumi telah mereka tukar dengan pengabdian membuta kepada harta benda dan kekuasaan. Mereka tanpa punya rasa malu telah menekuk lutut dan memperbudak diri sendiri kepada penguasa dengan imbalan sangat murah,� kata Abdul Jalil tegas.

�Apakah mereka akan dibinasakan Allah?�

�Aku tidak menangkap sasmita bahwa mereka bakal dibinasakan Allah,� kata Abdul Jalil datar. �Aku hanya menangkap sasmita mereka sedang dicambuk oleh murka Allah, seolah-olah hewan gembala dihardik agar tidak menyimpang jauh dari padang gembalaan. Aku menangkap sasmita, mereka sedang diperingatkan Allah dengan bahasa perlambang agar tidak larut di dalam lingkungan yang merusak tiang-tiang penyangga Tauhid. Tetapi, aku tidak yakin mereka bisa cepat tanggap dan sadar akan kekeliruannya. Aku malah melihat mereka bakal bercerai-berai, diusir dari tanah kelahirannya oleh cambuk Allah.�

�Apakah itu bermakna bahwa Allah akan mencambuk mereka dengan lebih keras lagi?�

�Kelihatannya akan seperti itu,� kata Abdul Jalil. �Tapi tahukah engkau, o Anakku, sesungguhnya pada bagian manakah perilaku ulama Kozhikode itu yang paling berbahaya bagi prinsip-prinsip Tauhid?�

�Menurut hemat kami, ada beberapa hal dari perilaku ulama Kozhikode yang kami anggap berbahaya bagi akidah Islamiyyah. Pertama-tama, mereka membiarkan pengikutnya menjadi lintah darat asal mereka tidak lupa memberi setoran. Mereka membuta-tuli terhadap larangan-larangan Allah mengenai riba. Yang tak kalah memuakkan dan menjijikkan, mereka suka sekali mengabsahkan kewalian sebuah kuburan dengan harapan setiap bulan mendapat setoran uang dari juru kunci penunggu kubur. Bahkan yang lebih memuakkan, mereka tanpa kenal malu bertengkar dengan sesama ulama untuk berebut jabatan mursyid tarekat. Sepengetahuan kami, banyak di antara mereka itu sejatinya tidak memenuhi syarat untuk menduduki jabatan mursyid, tetapi berkukuh menduduki jabatan mursyid karena alasan nasab. Bahkan, kami sering mendapati terjadinya perseteruan sengit antarmursyid yang berujung pada pertumpahan darah para jama�ah.�

�Itulah yang aku katakan berbahaya bagi Tauhid. Sebab mengabsahkan riba, �memperdagangkan� kuburan dengan modal kebohongan, memutar-balik ayat-ayat suci untuk kepentingan kekuasaan, dan bertarung memperebutkan kemursyidan adalah tindak kefasikan yang tidak boleh dibiarkan. Coba renungkan, betapa berbahayanya jika mursyid satu sama lain mengkafirkan dan menghalalkan darah masing-masing. Bagaimana mungkin guru-guru tarekat yang seharusnya berakhlak mulia dan menjadi panutan tiba-tiba menjelma wujud diri sebagai tukang fitnah, tukang hasut, tukang mengkafirkan sesamanya, dan suka mencelakakan guru tarekat lain demi kepentingan pribadi? Sungguh, keadaan ini akan merobek-robek citra ajaran tasawuf yang agung dan suci,� kata Abdul Jalil.

�Apakah kita perlu memberi peringatan kepada mereka, Paman?�

�Sesungguhnya tidak perlu,� kata Abdul Jalil datar. �Sebab, yang wajib kita utamakan adalah menjaga Tauhid saudara-saudara kita di Nusa Jawa.�

�Bukankah kita berkewajiban mengingatkan saudara-saudara kita seiman di mana pun berada?�

�Itu memang benar, Anakku. Tetapi, engkau harus tahu bahwa pada masing-masing tempat dan masing-masing kaum, sejatinya sudah ada orang-orang yang ditugaskan Allah untuk memelihara dan menjaga keseimbangan. Mereka akan menjalankan tugas tanpa peduli apakah mereka akan dimusuhi atau didukung kaumnya. Masing-masing mereka tidak boleh melanggar wilayah yang lain.�

�Maksud Paman, apakah mereka itu wali-wali Allah?�

�Satu saat nanti engkau akan mengetahui rahasia itu.�

Read More ->>

Jumat, 17 Maret 2017

SYAIKH MALAYA

Syaikh Malaya

Perbincangan antara Abdul Jalil dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tentang hidayah al-Hadi dan karamah al-auliya�, ternyata membingungkan Raden Sahid. Ungkapan-ungkapan yang dikemukakan Abdul Jalil tentang Asma�, Shifat, dan Af�al Allah dalam kaitan dengan hidayah, salamah, amanan, takwa, karamah masih sulit dipahaminya. Sebagai seorang salik yang selalu dibimbing dan diarahkan oleh Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, dan Jumad al-Kubra, Raden Sahid sudah terbiasa menanyakan hal-hal terkait penempuhan ruhani yang sulit dipahami. Ketika mereka menempuh perjalanan ke Dwarasamudra dan sampai di tepi hutan yang membentang di kaki Pegunungan Malaya yang bersambung dengan Pegunungan Nilgiri, Raden Sahid bertanya ini dan itu tentang ketidakpahamannya dalam mencerna ungkapan yang disampaikan Abdul Jalil kepada Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

Tidak seperti biasa, Abdul Jalil ternyata tidak menjawab sepatah kata pun pertanyaan Raden Sahid tentang hidayah al-Hadi dan karamah al-auliya�. Sebaliknya, dengan suara ditekan keras Abdul Jalil malah menyatakan akan mengakhiri kebersamaan mereka. �Seekor rajawali yang dibiasakan tinggal dengan kawanan bebek tidak akan pernah bisa terbang mengepakkan sayap sebagai pengarung kesunyian angkasa. Karena itu, sebagai rajawali muda, engkau harus ditendang dari atas bukit agar jatuh ke jurang sehingga nalurimu untuk mengepakkan sayap akan muncul dengan sendirinya,� katanya sambil berlalu.

�Tapi Paman,� kata Raden Sahid dengan bibir bergetar dan dada naik turun, �sekarang ini kita sedang berada jauh di negeri orang. Bagaimana mungkin Paman bisa sampai hati meninggalkan saya sendirian?�

�Itulah yang aku maksud dengan bukit dan jurang tempatmu jatuh melayang menuju kebinasaan. Jadilah rajawali perkasa jika engkau ingin selamat dan aman sampai ke Tujuan.�

�Tapi saya masih butuh bimbingan Paman.�

Abdul Jalil tidak menjawab. Tanpa menoleh, ia melangkah cepat dan menghilang di balik pepohonan. Raden Sahid tercengang kebingungan melihat sikap Abdul Jalil yang begitu dingin. Ia merasakan kegentaran merayapi jiwanya. Kemudian dengan pandang mengiba, ia menyampaikan keheranannya kepada Abdul Malik Israil, �Bagaimana ini, Eyang? Kenapa Paman tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan kita? Apakah saya telah melakukan kesalahan? Apa yang harus kita lakukan di tempat yang jauh ini?�

�Dia tidak meninggalkan kita,� kata Abdul Malik Israil dingin, �dia meninggalkan engkau sendirian.�

�Meninggalkan saya sendiri? Kenapa Eyang berkata demikian?�

�Karena aku pun akan pergi meninggalkanmu sendirian.�

�Eyang?� seru Raden Sahid dengan dada berdebar-debar.

�Engkau yang selama ini selalu butuh bimbingan, hendaknya berani berdiri tegak untuk menguji kemampuan dan kedewasaan ruhanimu. Semua salik harus dilepas agar mandiri dalam melampaui tantangan yang menghadangnya. Bukankah selama ini engkau selalu kami bimbing seperti anak-anak yang harus dituntun ke mana-mana? Tidakkah engkau punya harapan untuk bisa menembus alam gaib dengan kemampuan sendiri dan bukan diajak oleh orang lain? Tidakkah engkau sadar bahwa Kebenaran hanya bisa dikenal oleh pribadi dalam kesendirian?�

�Tapi Eyang ... �

Abdul Malik Israil tidak menyahut. Dia membalikkan badan dan melangkah ke arah hutan. Dalam beberapa jenak tubuhnya sudah menghilang di balik pepohonan. Suasana sejuk yang melingkupi pinggiran hutan dengan desau angin dan kicau burung tiba-tiba dirasakan hambar dan getir oleh Raden Sahid. Bagaikan orang kebingungan di persimpangan jalan, ia termangu-mangu dengan tatapan menerawang kejauhan seolah ingin mencari sesuatu yang tersembunyi di balik barisan gunung-gunung yang diselimuti awan.

Bagi Raden Sahid sendiri, masalah yang dirasakan paling berat bukanlah karena ia ditinggal sendiri di negeri yang jauh. Sebab, pengalaman ruhani yang dialaminya selama menyertai Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil telah menumbuhkan kesadaran pemikiran bahwa keberadaannya sebagai manusia senantiasa dalam liputan Allah SWT.. Yang dirasakannya paling berat justru keterpisahannya yang mendadak dengan para pembimbing ruhani yang selama ini dijadikannya gantungan harapan dalam menempuh perjalanan ruhani. Ia merasa betapa berat berpisahan dengan para guru ruhani yang sudah sangat dekat dan mengikat jiwa itu.

Selama mengikuti Abdul Jalil di pedalaman Nusa Jawa, Raden Sahid memang pernah mendengar cerita tentang persahabatan sejati antara Jalaluddin Rumi dengan Syamsuddin at-Tabrizi yang dipatahkan oleh takdir Ilahi, hingga membuat merana jiwa Jalaluddin Rumi. Saat itu Raden Sahid hanya bisa memahami rangkaian cerita tersebut sebagai bagian dari lingkaran kehidupan para sufi yang tidak lazim. Bahkan, ia sempat menilai Jalaluddin Rumi sebagai seorang sufi cengeng karena menjadi patah hati karena ditinggal pergi sahabat dan sekaligus guru ruhaninya. Tetapi, sekarang ia sendiri merasa tidak berdaya. Ia merasa seperti burung yang patah kedua sayapnya. Selama tiga hari tiga malam ia hanya duduk termangu-mangu di pinggir hutan tanpa peduli sengatan panas matahari dan dinginnya udara malam hari yang menggigit dan mengoyak-koyak tubuhnya.

Memasuki hari keempat dari ketidakberdayaannya, suatu senja saat angin bertiup kencang dengan suara gemuruh, Raden Sahid sekonyong-konyong bangkit dan melangkah gontai ke sebongkah batu yang tegak di bawah pohon cendana. Di dalam tatapan matanya yang nanar, di antara gumpalan kabut yang mulai menyelimuti permukaan tanah, ia melihat sosok manusia bertubuh kecil berdiri di atas bongkahan batu tersebut. Antara sadar dan tidak, di tengah rentangan kesadaran antara tidur dan jaga, ia berusaha menegaskan penglihatannya. Menurut penglihatannya, sosok manusia kecil berkulit hitam itu sangat aneh perwujudannya: tidak hidup dan tidak pula mati. Tidak bergerak, tetapi tidak pula diam. Tidak berkata-kata, tetapi tidak pula menutup mulut. Sederhana tetapi rumit. Meliputi tetapi diliputi. Memancar tetapi mengisap. Terbit tetapi menyingsing. Dia, manusia aneh itu, keberadaannya tidak dapat diungkapkan secara utuh dengan bahasa manusia.

Di tengah ketakjubannya menyaksikan sosok manusia aneh, tiba-tiba saja ia merasakan cakrawala baru kesadaran jiwanya tersingkap seiring terbitnya nur lawami� di kedalaman jiwanya, laksana matahari terbit di pagi hari. Dan laksana seorang pecinta keindahan sedang menikmati kicau burung, harum bunga-bunga, segar rerumputan, gemerisik angin, dan lincahnya margasatwa yang berkejaran di sebuah taman indah, ia merasakan pemahaman fawa�id yang tersembunyi di relung-relung jiwanya tiba-tiba terbuka, bagai bunga mekar menebarkan keharuman yang memesona kumbang-kumbang pengetahuan ruhani. Dengan pemahaman fawa�id itu, ia menangkap pengetahuan gaib yang membentangkan kesadaran bahwa sosok aneh yang disaksikannya itu adalah Rishi Agastya, putera Varuna dengan Urvashi, yang lahir dari tempayan (kumbhayoni). Dialah guru suci yang diyakini sebagai titisan Syiwa. Kemudian, bagaikan menyaksikan rangkaian peristiwa yang panjang dan berliku dalam waktu yang sangat singkat, Raden Sahid menangkap segala sesuatu terkait dengan sang rishi bertubuh kecil dan berkulit hitam itu.

Pada masa silam, barang empat puluh abad ke belakang, bumi Jambhudwipa (India) dihuni oleh bangsa-bangsa berkulit hitam yang hidup dilimpahi kemakmuran dan kedamaian. Bangsa-bangsa itu sebagian tinggal di kota-kota berbenteng yang penuh dipadati bangunan megah. Tetapi, kedamaian hidup manusia di dunia tak pernah langgeng. Tanpa diduga dan disangka-sangka, datanglah serbuan bangsa-bangsa pengembara dari arah utara. Mereka adalah bangsa Arya yang berkulit putih, bermata biru, dan berambut emas. Kota-kota berbenteng bangsa kulit hitam yang tegak dilimpahi kemakmuran dan kedamaian itu satu demi satu dikuasai oleh para penyerbu yang dipimpin dewa utama mereka: Indra. Karena keberhasilannya dalam menaklukkan kota-kota berbenteng yang dibangun bangsa kulit hitam, Indra termasyhur dengan nama besar: Sang Puramdara (penakluk benteng).

Sebagaimana lazimnya para pemenang, bangsa penyerbu kulit putih itu menghinakan bangsa-bangsa kulit hitam sebagai budak nista tak bermartabat. Tetapi, hinaan dan nistaan para penyerbu kulit putih tidak melemahkan penduduk kulit hitam, sebaliknya membangkitkan perlawanan di mana-mana. Muncul perlawanan pahlawan dari laut bernama Vritra, mengamuk dan mengobrak-abrik Indraloka. Tetapi, kelicikan Indra berhasil mematahkan perlawanan Vritra. Setelah itu, bermunculan terus perlawanan dari pahlawan-pahlawan kulit hitam seperti Hiranyakasipu, Paulana, Kesin, Niwatakawaca, dan Kalakeya. Dan seperti nasib penentang Indra, para pahlawan kulit hitam itu jatuh satu demi satu digilas kelicikan Sang Surapati (Indra).

Di antara perlawanan gigih yang dilakukan bangsa kulit hitam terhadap bangsa kulit putih, yang termasyhur adalah yang dilakukan tiga bersaudara dari wangsa Rakshasa: Mali � Malyawan � Sumali. Meski ketiganya mengalami kegagalan sebagaimana pahlawan kulit hitam lain, cucu Sumali yang bernama Rahuwana (Sang Penunggu Rahu), Maharaja Langka, melakukan perlawanan hebat hingga mengobrak-abrik Indraloka dan mengalahkan Indra. Sebagai pahlawan bangsa kulit hitam, Rahuwana memperoleh bermacam-macam gelar kehormatan: Mahaprabhavam Rajyam (Raja yang kekuasaannya besar), Vitabhaya (manusia yang rasa takutnya hilang), Yuddhanipuna (pahlawan yang cakap dalam perang), Dasamuka (yang berkepala sepuluh; Rahu), Ravana (yang menjerit; Rudra), Amitrajit (penakluk musuh).

Di tengah gemuruh perubahan di utara, yang ditandai lambang perkawinan Syiwa dan Parvati, yang dihadiri dewa-dewi, pergilah Rishi Agastya ke selatan. Sang Rishi yang terhormat, yang bertubuh pendek dan berkulit hitam, tidak membangun kekuatan senjata untuk melawan para penyerbu kulit putih dari utara yang dipimpin Indra. Putera Varuna dengan Urvashi itu membangun sangam (akademi) di Dakshinakasi di wilayah hutan Pancavati, di Gunung Malaya, dan kemudian di bukit Pothigai di negeri Pandya. Ia mendidik 12 orang siswa utama dan mengajarkan kepada para siswanya di sangam tentang ilmu ketabiban, ilmu perbintangan, filsafat, tata krama, upacara-upacara keagamaan, mantra-mantra, ilmu hitam, dan ilmu batiniah. Untuk mengukuhkan keberadaan peradaban bangsa kulit hitam, sang rishi menyusun tata bahasa Dravida, bangsa keturunan Dewi Ida.

Ketika keperkasaan Rahuwana dihancurkan oleh Ramachandra yang didukung para pengkhianat seperti Bhibhisana dan Sugriwa, di tengah tumpasnya ksatria-ksatria Langka yang unggul, di antara jerit tangis perempuan dan anak-anak wangsa Rakshasa yang diburu-buru dan dibunuh, keagungan dan kemuliaan Rishi Agastya tidak tergoyahkan. Para cendikiawan dan brahmana kulit putih, bahkan Indra sendiri, datang dengan penuh hormat memohon berkah dari sang rishi kulit hitam. Para Rakshasa yang diburu-buru, berlindung di bawah kaki seroja sang rishi. Demikianlah, sang rishi yang lahir dari tempayan (Drona) itu dimuliakan oleh manusia, baik yang berkulit putih maupun yang berkulit hitam, sebagai seorang guru suci yang diyakini titisan Mahaguru yang bersthana di Kailasa. Dialah Agastya, Sang Kumbhayoni, Drona, Acosti, yang dikenal dengan nama masyhur Bhattara Guru. Dialah kulaguru dan sekaligus cikal bakal leluhur raja-raja Yavadvipa, Yavanadwipa, Malayadvipa, Varunadvipa, dan Suvarnadvipa.

Pemahaman fawa�id tentang Sang Agastya yang meresap ke segenap cakrawala kesadaran Raden Sahid tiba-tiba tersambung dan menyingkapkan tirai kesadaran tentang sosok Syaikh Lemah Abang yang meninggalkan dirinya di kesunyian hutan di kaki Pegunungan Malaya itu. Bagaikan menemukan dua bentuk yang sama meski waktu dan tempat berbeda, ia melihat kesamaan apa yang dilakukan Rishi Agastya dengan sangam dan siswa-siswanya serta apa yang dilakukan Syaikh Lemah Abang dengan paguron dan dukuh-dukuh di Lemah Abang dan Kajenar yang dibukanya. Ia menjadi paham kenapa Syaikh Lemah Abang tidak pernah peduli dengan amukan kabar yang membadai terkait dengan kemunculan Syah Ismail di Persia dan Portugis di Bharatnagari. Rupanya, tebaran nilai-nilai dan ajaran Kebenaran yang disampaikan kepada murid-muridnya lewat paguron dan dukuh-dukuh adalah benteng jiwa manusia yang sulit ditembus oleh keperkasaan prajurit maupun tajamnya senjata. Sebagaimana hal itu telah dibuktikan oleh Rishi Agastya di masa lampau.

Di tengah ketakjuban Raden Sahid merasakan pemahaman fawa�id dalam menangkap kenyataan hakiki yang disinari nur lawami�, tiba-tiba sosok kecil aneh itu, Sang Agastya, berkata-kata kepada Raden Sahid melalui al-ima� yang jika diungkap dalam bahasa manusia berbunyi:

�O, engkau yang lahir bersama fajar, telah menyingsing kegelapan nafsu-nafsu rendahmu oleh pancaran cahaya rahasia pengetahuan. Sebab, orang yang memiliki pengetahuan tinggi memiliki pancaran cahaya rahasia (Rgveda VII. 76:4). Terangilah kegelapan dunia dengan cahaya rahasiamu, laksana Varuna memancarkan pengetahuan kepada orang-orang yang tertutupi ketidaktahuan. Sesungguhnya, seorang guru yang menanamkan pengetahuan ke dalam jiwa siswa-siswanya adalah ibarat matahari menerangi cakrawala siang dan rembulan serta bintang-bintang menerangi cakrawala malam dengan cahayanya yang cemerlang. Para guru adalah matahari yang menyebarkan terang (Rgveda VII. 79:2). Karena itu, seorang guru adalah orang yang sudah memperoleh pencerahan jiwa dan dia tidak akan menutup keingintahuan para siswanya (Atharvaveda XX. 21:2).�

�Seorang guru akan menjadi benderang cahaya pengetahuan yang memesona jika memiliki kecerdasan seorang sarjana serta pandai dalam merangkai bahasa laksana seorang penyair. Sebab, kecerdasan dan kebijaksanaan adalah pengejawantahan dewa-dewa (Atharvaveda VI. 123:3). Sedangkan bahasa adalah sabda Tuhan yang ada di mana-mana meliputi langit dan bumi. Sabda berembus bagaikan angin. Sabda menciptakan seluruh alam semesta (Rgveda X. 125:8). Sabda adalah kekuatan yang teragung. Sabda di pertajam dengan ilmu pengetahuan (Atharvaveda XIX. 9:3).�

�Seorang sarjana dan sekaligus penyair memiliki pemahaman mendalam tentang bahasa sebagai pancaran sabda dan pengetahuan. Lantaran itu, seorang sarjana-penyair dapat melihat Kebenaran, sekalipun di dalam air samudera. Sarjana-penyair bercahaya laksana matahari. Sarjana-penyair mengetahui rahasia kitab suci dan kenyataan-kenyataan tersembunyi. Demikianlah, seorang guru yang sarjana dan penyair adalah pembangun sebuah bangsa. Tetapi, hendaknya selalu engkau ingat-ingat, o, engkau yang telah lahir untuk kali kedua (dwijati), bahwa tugas utama seorang guru yang sarjana sekaligus penyair adalah menebarkan cahaya Pengetahuan melalui sraddha (keimanan) sampai seseorang menyadari Kebenaran Ilahi yang hakiki ((keimanan) sampai seseorang menyadari Kebenaran Ilahi yang hakiki (Yajurveda. XIX. 30).�

Suatu pagi, saat ujung fajar masih menempel di gumpalan awan dan lekukan gunung-gunung, Raden Sahid melangkah di tengah keindahan dengan kesadaran baru seorang salik yang relung-relung jiwanya sudah terpancari nur lawami� dan pemahaman fawa�id. Dengan ketakjuban yang mencengangkan, ia memandang bunga-bunga yang bergoyang di atas rerumputan yang dibasahi embun dengan kumbang-kumbang dan kupu-kupu beterbangan di tengah semilir angin. Ia takjub dan tercengang karena saat itu untuk kali pertama ia menangkap keharuman bunga, kesejukan embun, kesegaran rumput, kemerduan dengung kumbang, kepak sayap kupu-kupu yang gemulai, dan semilir angin dengan pandangan dan perasaan yang lain. Ia menangkap kenyataan aneh, betapa segala gerak dari makhluk yang terhampar di sekitarnya pada hakikatnya adalah pernyataan puja dan puji (tasbih) kepada Sang Pencipta. Keanekaragaman dalam bentuk, warna, gerak, dan suara makhluk yang tak terhitung jumlahnya itu ternyata satu jua ujung dan pangkalnya: semua makhluk adalah pengejawantahan Keagungan dan Kemuliaan Sang Pencipta.

Ketika Raden Sahid mulai menuruni bukit dengan dada terasa lapang dan perasaan meluapkan kegembiraan, seorang brahmin muda berwajah agung datang menghampiri dan menyapanya dalam bahasa Melayu. Bagaikan telah mengenal Raden Sahid selama bertahun-tahun, brahmin muda itu dengan penuh keakraban mengajaknya melakukan pengembaraan ruhani agar cakrawala kesadaran mereka tersingkap lebih luas dalam memaknai cahaya Kebenaran. Dengan pancaran nur lawami� yang membentangkan pemahaman fawa�id pada kesadarannya, Raden Sahid menangkap sasmita bahwa kehadiran dan sekaligus ajakan brahmin muda itu adalah semata-mata karena kehendak Allah semata. Itu sebabnya, tanpa menaruh keberatan ia menerima ajakan sang brahmin.

Dengan ketakjuban seorang salik yang baru belajar terbang mengepakkan sayap, ia mengikuti ke mana pun brahmin muda itu mengajaknya mengembara. Berbagai tempat yang disucikan para brahmin seperti Kamakostipuri, Kaveri, Sri Rangam, Har-ksetra, dan bahkan Gunung Risabha telah dikunjunginya. Tanpa terasa, telah tujuh puluh hari tujuh puluh malam ia telah melakukan pengembaraan. Memasuki hari ke tujuh puluh tujuh, sang brahmin muda mengajaknya ke Gunung Malaya, bekas kediaman Rishi Agastya. Tanpa berkata sepatah pun, sang brahmin muda meninggalkannya seorang diri di tengah kesunyian hutan kayu cendana yang menebarkan wangi ke segenap penjuru penciumannya.

Di tengah keheningan pagi, ketika angin bertiup menebarkan wangi cendana dan harumnya bunga-bunga rumput, Raden Sahid duduk di tepi sungai kecil berair jernih yang mengalir ke lembah. Dengan hati diliputi keindahan, ia memandang batu-batu yang terendam sambil merenungkan kembali pengembaraan yang baru saja dijalaninya. Hidup manusia, gumamnya dalam hati, ibarat air yang mengalir dari mata air menuju samudera. Pada saat lahir dari rahim bumi, semua air bening dan jernih. Tetapi, seiring perjalanannya menuju samudera, air sering harus jatuh ke dalam aliran sungai, jeram, selokan, terusan, dan muara yang keruh. Di hamparan samudera itulah air kembali dijernihkan dan disucikan menjadi gumpalan awan agar bisa jatuh ke permukaan bumi, lalu meresap ke dalam perut bumi untuk lahir kembali sebagai air.

Memahami hidup manusia sebagaimana air, ia menangkap sasmita bahwa harkat dan kedudukan manusia di tengah kehidupan pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan air. Yang paling jernih di antara air adalah yang tidak ternodai oleh lumuran lumpur kehidupan. Demikianlah, manusia yang paling jernih dan mulia kedudukannya adalah yang kesadarannya tidak ternodai oleh benda-benda dan nafsu rendah duniawi. Lantaran itu, ia memahami kenapa dalam tatanan masyarakat Hindu, kedudukan para brahmana yang tidak terikat benda-benda dan nafsu rendah duniawi ditempatkan di atas manusia lain. Dan yang terendah di antara manusia adalah kalangan sudra dan paria, yakni manusia-manusia yang kesadaran hidupnya ditimbuni benda-benda dan nafsu rendah duniawi.

Kisah Bhisma dan nelayan tukang ikan adalah cerita bijak tentang harkat dan kedudukan manusia. Bhisma ditempatkan sebagai manusia berkedudukan mulia (brahmana), sedangkan nelayan sebagai manusia berkedudukan rendah (sudra). Bhisma, putera Santanu, putera mahkota Hastina, datang ke sebuah desa nelayan untuk melamar Rara Amis (gadis bau ikan), anak nelayan, sebagai istri ayahandanya yang sedang mabuk kepayang oleh cinta. Bhisma adalah ksatria sejati yang dengan tulus ingin berbakti kepada ayahandanya. Ia rela berkorban apa saja asalkan ayahandanya berbahagia. Beda Bhisma, beda pula nelayan. Melihat kesempatan emas di balik kabar mabuk cintanya sang raja terhadap puterinya, sang nelayan mengajukan syarat yang wajib dilaksanakan jika Bhisma bersungguh-sungguh ingin melamar puterinya untuk mendampingi raja Hastina. Pertama-tama, sang nelayan menginginkan puterinya, Rara Amis, berkedudukan sebagai permaisuri raja.

Dengan ketulusan seorang ksatria, Bhisma menyanggupi untuk menerima syarat sang nelayan. Tetapi, kesanggupan Bhisma itu belum cukup bagi sang nelayan. Dengan tanpa rasa malu sedikit pun, dia mengajukan syarat kedua: putera dari Rara Amis dan Santanu harus menjadi putera mahkota dan kelak menjadi raja Hastina jika Santanu mangkat. Untuk kali kedua, Bhisma menyatakan kesediaan untuk melepas haknya atas takhta Hastina. Bhisma berjanji akan menjadikan putera Rara Amis dan Santanu sebagai raja Hastina kelak. Tetapi, kesanggupan Bhisma itu pun belum cukup juga memuaskan kerakusan dan keserakahan sudra sang nelayan. Dengan pongah, sang nelayan mengajukan syarat berikut: dia tidak ingin hak atas takhta yang sudah dimiliki oleh cucunya akan diganggu oleh keturunan Bhisma. Sang nelayan dengan tegas menginginkan agar Bhisma tidak memiliki keturunan. Demikianlah, sang ksatria sejati, Bhisma, berikrar di hadapan sang nelayan untuk tidak menikah seumur hidup agar tidak memiliki keturunan yang bisa mengancam takhta yang dikuasai cucu sang nelayan.

Sepanjang pengembaraannya bersama sang brahmin muda, Raden Sahid menyaksikan betapa penduduk golongan sudra yang dijumpainya di desa-desa hampir semua menunjukkan sikap dan perilaku seperti sang nelayan. Orang-orang sudra yang disaksikan Raden Sahid adalah orang-orang yang selalu mengedepankan keakuan pribadinya dan cenderung memenuhi alam pikirannya dengan benda-benda dan angan-angan kosong. Untuk kepentingan-kepentingan remeh temeh terkait kebutuhan menumpuk benda-benda, tanpa segan-segan orang sudra akan melakukan tindakan rendah menyembah kekuatan alam dengan menyembelih anak-anaknya sebagai korban. Bahkan, sering kali Raden Sahid menemukan sekumpulan orang sudra memuja kawanan tikus di sebuah kuil yang diyakini dapat memberi berkah keselamatan dan kemakmuran.

Dengan memahami tatanan masyarakat Hindu yang kedudukannya berjenjang yang dikenal dengan catur warna dan kasta, Raden Sahid pun pada gilirannya menangkap hakikat yang sama di dalam ajaran Islam yang dianutnya. Meski di dalam Islam tidak dikenal pemilahan secara tegas atas kehidupan masyarakat dalam jenjang-jenjang, pemilahan itu sebenarnya terjadi juga secara alamiah. Manusia yang dianggap menempati kedudukan paling tinggi dalam Islam adalah yang paling takwa. Padahal, ukuran takwa adalah kemampuan orang seorang untuk hidup meneladani Nabi Muhammad Saw., yang ditandai dengan keterlepasan diri dari benda-benda (zuhud) dan tanpa pamrih (ikhlas). Demikianlah, dikalangan masyarakat Muslim, keberadaan seorang guru sufi yang hidup menjauhi keduniawian (zuhud) dan tanpa pamrih sangat dimuliakan oleh umat, saat wafat pun kubur mereka diziarahi.

Ketika merenung-renung tentang tinggi dan rendahnya harkat serta kedudukan manusia berdasar tingkat keterikatan terhadap benda-benda dan nafsu rendah duniawi, tiba-tiba Raden Sahid dikejutkan oleh hadirnya brahmin muda yang muncul laksana angin. Lebih terkejut lagi, sang brahmin tidak datang seorang diri, tetapi dengan orang yang selama ini ditunggu-tunggunya, Syaikh Lemah Abang. Raden Sahid benar-benar terperangah takjub ketika Syaikh Lemah Abang menjelaskan bahwa brahmin muda yang mengajaknya mengembara itu tiada lain adalah Bharatchandra Jagaddhatri, Pangeran Wijayanagara yang mengasingkan diri sebagai brahmin.

Dalam perjumpaan tak tersangka-sangka itu, Raden Sahid merasakan kegembiraan yang meluap-luap hingga dadanya menjadi sangat lapang. Ia menuturkan semua pengalaman ruhani yang dialaminya, terutama saat berjumpa dengan Rishi Agastya yang menyingkapkan tirai hijab yang menyelubungi kesadaran jiwanya. �Kami menangkap sasmita, Rishi Agastya menyampaikan perlambang agar kami mengikuti jejaknya dalam menghadapi serbuan bangsa-bangsa kulit putih. Rishi Agastya bahkan seperti meminta agar kami menjadi guru yang sebijaksana sarjana dan pandai mengolah bahasa sepiawai penyair.�

�Bukankah selama ini engkau telah menyaksikan apa yang telah aku lakukan?� gumam Abdul Jalil.

�Kami baru menyadarinya sekarang, Paman.�

�Tahukah engkau, kenapa aku berjuang keras mewujudkan ajaran Jawa (Tauhid) lewat dukuh-dukuh yang tersebar di penjuru Nusa Jawa?� tanya Abdul Jalil seperti menguji.

�Saya belum tahu, Paman.�

�Tanyakan saja pada Paduka Brahmin Bharatchandra Jagaddhatri!�

�Bertanya kepadanya?� tanya Raden Sahid heran.

Abdul Jalil mengangguk. Bharatchandra Jagaddhatri yang melihat Raden Sahid masih terheran-heran, tanpa ditanya langsung berkata, �Apa yang dilakukan saudaraku dengan ajaran Adwayashastra (Ilmu Tauhid) yang disampaikannya kepada penduduk Nusa Jawa, sesungguhnya berkaitan dengan bakal berubahnya tatanan kehidupan manusia di dunia.�

�Perubahan tatanan kehidupan manusia?� gumam Raden Sahid makin heran.

�Ya, perubahan yang menjungkirkan tatanan lama ke tatanan baru.�

�Kami belum paham dengan penjelasan Paduka.�

�Jika dari dahulu hingga sekarang ini para pecinta benda-benda dan pengumbar nafsu rendah badani selalu ditempatkan pada kedudukan terendah, maka di masa datang merekalah yang bakal menduduki tempat tertinggi dalam tatanan kehidupan manusia. Manusia dihormati karena memiliki kekayaan melimpah atas benda-benda. Manusia dimuliakan karena menduduki jabatan dan pangkat dalam pemerintahan duniawi. Manusia ditakuti karena memiliki kekuatan senjata pembasmi kehidupan. Manusia disegani karena memiliki kepandaian menipu manusia lain. Sementara orang-orang suci yang menjauhi keduniawian akan dihina sebagai manusia tolol dan lemah,� kata Bharatchandra Jagaddhatri.

�Apakah itu berarti, kekuasaan dunia akan dipegang orang-orang sudra?�

�Kekuasaan dunia akan dikuasai para pecinta benda-benda dan pengumbar nafsu rendah badani. Mereka akan datang ke berbagai penjuru bumi untuk merampok benda-benda dan mengumbar nafsu-nafsu rendah badani mereka di mana-mana. Tidak ada satu pun kekuatan manusia yang dapat melawan mereka, kecuali kekuatan manusia-manusia yang bernaung di bawah Adwayasashtra yang menjauhi gemerlap harta benda dan mengikat kuat nafsu-nafsu rendah badaninya di bawah kendali hati yang dipancari cahaya Ilahi. Lantaran aku mengetahui bakal terjadinya perubahan tatanan itu, aku tinggalkan takhta untuk mengajarkan Adwayasashtra kepada manusia. Dan sekarang ini, tengara bakal terjadinya perubahan tatanan itu sudah mulai menampakkan wajahnya.�

�Kami paham, yang Paduka maksudkan wajah dari perubahan itu adalah orang-orang Portugis kelaparan yang mencari kemakmuran di negara lain. Mereka itulah kawanan pecinta harta benda yang bakal merampas dan merampok harta benda penduduk. Mereka itulah kawanan saudagar rakus yang bakal menguasai bandar-bandar perniagaan di seluruh negeri. Mereka itulah kawanan pecinta kekuasaan yang bakal menjajah negeri-negeri dan memperbudak penduduknya. Mereka kawanan dari makhluk-makhluk bayangan yang bakal menjadikan penduduk negeri sebagai mayat-mayat hidup tak berjiwa,� kata Raden Sahid.

Bharatchandra Jagaddhatri tertawa mendengar kata-kata Raden Sahid yang bergelora. Dia menepuk-nepuk bahu Raden Sahid sambil membisikkan sesuatu ke telinganya. Sejenak setelah itu, dia membalikkan badan dan melangkah ke arah hutan dan menghilang di balik pepohonan. Abdul Jalil yang berdiri di samping Raden Sahid tanpa menoleh bertanya lirih, �Dia membisikkan apa ke telingamu?�

�Rsir viprah pura-eta jananam.�

�Tahukah engkau artinya?�

�Kalau tidak salah, seorang rishi harus melihat ke arah depan dan bersikap bijaksana.�

�Itu kurang tepat, yang dia maksud adalah seorang guru harus memiliki wawasan ke depan dan bersikap bijaksana. Itu berarti, dia berharap engkau bisa menjadi guru yang bijaksana bagi umat manusia, bukan pertapa yang mengasingkan diri dari kehidupan duniawi,� kata Abdul Jalil.

�Saya paham, Paman.�

�Karena itu, mulai sekarang orang akan menyebut namamu Syaikh Malaya. Sebab, engkau telah beroleh pencerahan di Gunung Malaya melalui Rishi Agastya,� kata Abdul Jalil.

�Saya menerima sebutan itu dengan suka cita, Paman. Tetapi, ada satu hal yang ingin saya tanyakan kepada Paman,� kata Raden Sahid.

�Pertanyaan tentang apa itu?�

�Kenapa Paman meninggalkan saya?�

�Aku tidak ingin menjadi hijab antara dirimu dengan-Nya.�

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers