Minggu, 12 Februari 2017

PERUBAHAN

Perubahan Demi Perubahan

Ketika sampai di pelabuhan Gresik, Abdul Jalil dan rombongan bersembahyang di tajug agung Gresik yang terletak di depan kediaman syahbandar. Tetapi, saat beristirahat ia terkejut ketika mengetahui penduduk di sekitar tajug agung berbicara dalam bahasa sehari-hari dengan menggunakan kata ganti diri ingsun. Hal itu mengagetkan karena barang setahun lalu ketika ia menghadap Prabu Satmata di Puri Giri Kedhaton, penduduk yang tinggal di sekitar pelabuhan Gresik masih menggunakan kata ganti diri nghulun atau kawula. Ketika ia menanyakan hal itu kepada Syaikh Garigis, yang bernama asli Mathori, imam tajug agung Gresik, ia beroleh jawaban bahwa perubahan yang terjadi di Kadipaten Gresik dan Giri Kedhaton memang baru berlangsung barang lima bulan silam. �

Atas titah Sri Naranatha Giri Kedhaton Susuhunan Ratu Tunggul Khalifatullah Prabu Satmata, seluruh penduduk di tlatah Giri Kedhaton diwajibkan menggunakan kata ganti diri ingsun. Titah itu kemudian diikuti adipati Gresik dan Siddhayu. Malahan, jabatan kepala wisaya dan kepala desa di Giri Kedhaton pun telah dirubah. Jabatan Buyut diganti Ki Ageng. Jabatan Rama diganti Ki Lurah. Para pemimpin wisaya di Giri Kedhaton sekarang ini semuanya menggunakan gelar Ki Ageng seperti di Wanjang, Siwalan, Sumengka, Cangkir, dan Damyan. Kalau tidak salah, pekan depan ini Kadipaten Gresik dan Siddhayu akan ikut juga,� ujar Syaikh Garigis.

Abdul Jalil senang mendengar perubahan itu. Karena itu, ia dan rombongan pergi ke puri Giri Kedhaton untuk menemui Prabu Satmata. Tetapi, di Puri Giri Kedhaton ia ditemui oleh Pangeran Arya Pinatih, paman angkat Prabu Satmata, yang usianya sudah tujuh puluh tiga tahun. Pangeran Arya Pinatih memberi tahu Abdul Jalil jika Prabu Satmata dan putera ketiganya, Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, barang sehari lalu telah pergi ke Surabaya. �Katanya hendak bertemu dengan Raden Kusen Adipati Terung sekalian berziarah ke Ampel Denta,� kata Pangeran Arya Pinatih.

Pangeran Arya Pinatih adalah paman angkat Prabu Satmata. Dia adik kandung Nyai Pinatih, ibu angkat Prabu Satmata. Meski lahir dari keluarga bangsawan Pinatih dari ksatria Manggis, sejak kecil dia diasuh di Gresik secara Islam oleh kakak kandungnya. Dia sangat dihormati sebagai mursyid Tarekat Kubrawiyyah, yaitu tarekat yang dinisbatkan kepada Syaikh Najamuddin Kubra al-Khwarazm. Dia mengambil baiat kepada Raden Ali Murtadho, Raja Pandita Susuhunan Gresik, kakak Raden Ali Rahmatullah. Oleh Raden Ali Murtadho, ia ditunjuk sebagai wakilnya (khalifah). Lantaran selama bertahun-tahun mengajarkan Tarekat Kubrawiyyah di Tajug Agung Giri Kedhaton yang terletak di depan Bangsal Sri Manganti, yaitu kraton Prabu Satmata yang terletak di selatan Puri Giri Kedhaton, maka dia dikenal orang dengan sebutan Syaikh Manganti.

Kemapanan sebagai seorang pangeran kaya raya dan sekaligus khalifah tarekat yang dimuliakan manusia ternyata tidak menjadikan Pangeran Arya Pinatih berpuas diri menikmatinya. Di usianya yang makin senja itu dia sering meninggalkan kediamannya untuk mendakwahkan Kebenaran Islam di pedalaman. Melalui salah seorang kepala wisaya di Tumapel yang menjadi muridnya, yaitu Kyayi Gribik, dia menyebarkan pengaruh Islam di pedalaman hingga ke daerah Sengguruh dan Lumajang di selatan. Hanya pada saat-saat tertentu saja dia kembali ke padepokannya di selatan atau ke purinya yang terletak di Kedhanyang di selatan Puri Giri Kedhaton. Dia dikaruniai dua putera, Pangeran Pringgabhaya dan Pangeran Kedhanyang.

Kedatangan Abdul Jalil dan rombongan yang tak terduga ternyata dengan cepat didengar oleh keluarga Prabu Satmata. Rupanya, selama ini orang-orang sudah banyak membicarakan pandangan-pandangannya yang aneh dan tidak lazim. Itu sebabnya, belum lama Abdul Jalil berbincang-bincang dengan Pangeran Arya Pinatih, putera-putera Prabu Satmata disertai Pangeran Pringgabhaya dan Pangeran Kedhanyang bermunculan dan saling memperkenalkan diri. Para putera Prabu Satmata itu adalah Pangeran Tegal Wangi Dalem Lor, Pangeran Ardi Pandan Dalem Kidul, Pangeran Kembangan Dalem Kulon, dan Pangeran Waruju. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka memohon kepada Pangeran Arya Pinatih agar diperkenankan ikut berbincang-bincang dengan Abdul Jalil.

Selama berbincang-bincang dengan Pangeran Arya Pinatih dan para putera Prabu Satmata, Abdul Jalil menangkap keluasan wawasan dan kedalaman pengetahuan para pangeran tersebut. Tetapi, ia sangat terkejut ketika Pangeran Arya Pinatih menyinggung-nyinggung nama Hasan Ali, orang asal Caruban yang mengaku murid Syaikh Lemah Abang yang bernama asli San Ali Anshar. �Aku curiga dengan pengakuannya. Karena yang kuketahui, nama asli Syaikh Lemah Abang adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil,� kata Pangeran Arya Pinatih.

Abdul Jalil tercenung. Ia tiba-tiba teringat pada Syaikh Datuk Kahfi, guru terkasih sekaligus ayahanda asuhnya, yang pernah menuturkan perihal Raden Anggaraksa, putera Rsi Bungsu yang setelah memeluk Islam diberi nama Hasan Ali. Sesaat ia menangkap sasmita tidak baik tentang Hasan Ali yang mengaku muridnya itu, apalagi dengan menyebutnya dengan nama San Ali Anshar. Ingatan Abdul Jalil pun melesat pada dua orang adik iparnya, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady, yang pernah menuturkan pengkhianatan Ali Anshar. Jangan-jangan, pikir Abdul Jalil, Ali Anshar yang sudah berada di Jawa itu melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan dengan mengatasnamakan dirinya.

Menangkap gelagat tidak baik itu, Abdul Jalil buru-buru menolak pengakuan sepihak Hasan Ali itu dengan pernyataan tegas, �Sesungguhnya, Hasan Ali itu putera Rsi Bungsu, adik dari ibunda asuhku. Dia cucu Prabu Surawisesa, penguasa Galuh Pakuan. Namanya yang asli Raden Anggaraksa. Dia dinamai Hasan Ali oleh ibunda asuhku setelah memeluk agama Islam. Tetapi, kami tidak pernah saling bertemu muka. Karena itu, kalau dia mengaku murid Syaikh Lemah Abang, San Ali Anshar, mungkin itu benar. Tetapi, pasti bukan kami yang dimaksud. Kami sendiri memiliki nama kecil San Ali, namun kami bukan San Ali Anshar. Kami curiga nama itu digunakan seorang pengkhianat bernama Ali Anshar asal negeri Persia yang pernah kukenal di Baghdad. Kepadaku, dia mengaku berasal dari Tabriz dan menggunakan Ali Anshar at-Tabrizi. Belakangan aku diberi tahu jika dia berasal dari Isfahan.�

�Sejak awal aku memang sudah curiga,� kata Pangera Arya Pinatih, �Sebab, di hadapanku ia mengaku bernama Hasan Ali, murid dari Syaikh Lemah Abang, San Ali Anshar. Sedangkan di hadapan Prabu Satmata ia mengaku bernama Bango Samparan, putera Rsi Bungsu dari Pajajaran. Kepada aku, ia mengaku ingin belajar tentang ilmu Kebenaran dari Tareka Kubrawiyyah, namun kepada Prabu Satmata ia mengaku ingin belajar ilmu terawangan dari Tarekat Ni�matullah. Aku makin curiga ketika murid-muridku melaporkan Hasan Ali itu panda mempertunjukkan ilmu sihir.�

Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia benar-benar melihat gelagat tidak baik dari keberadaan Hasan Ali yang mengaku muridnya itu, terutama dalam kaitan dengan San Ali Anshar. Sejenak setelah itu tiba-tiba Ruh al-Haqq di kedalaman kalbunya memberi tahu bahwa justru lewat Hasan Ali dan San Ali Anshar itulah jalan penistaan dan penghinaan yang harus dilaluinya akan terwujud menjadi kenyataan. Ya, lewat Hasan Ali dan Ali Anshar itulah ikatan perjanjianmu dengan Sang Bhumi akan tergenapi, kata Ruh al-Haqq.

Beberapa jenak Abdul Jalil terdiam. Ia segera sadar bahwa jalan kenistaan yang dilaluinya rupanya harus melewati sosok Hasan Ali dan Ali Anshar al-Isfahani. Lantaran itu, ia kemudian menjelaskan dengan jujur masalah perikatan janjinya dengan Sang Bhumi kepada Pangeran Arya Pinatih. Meski awalnya terkejut, pangeran asal Bali yang sudah merasakan pahit getirnya kehidupan itu menyatakan dukungan penuh kepada Abdul Jalil untuk menunaikan tugas mulia itu. Kedua orang putera sang pangeran dan para putera Prabu Satmata pun menyatakan dukungan. Bahkan, Pangeran Arya Pinatih dengan tegas meminta Abdul Jalil untuk membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra di Giri Kedhaton. �Terus terang, aku sudah tidak tahan setiap waktu mendengar ibu-ibu meratap dan hilang ingatan karena anaknya dijadikan korban persembahan di ksetra. Upacara-upacara itu harus diakhiri. Aku dan kemenakanku, Prabu Satmata, sudah berkali-kali mencari jalan terbaik untuk menutup ksetra-ksetra itu. Tapi, belum juga bertemu caranya. Lantaran itu, aku yakin dia akan sepaham denganku, mendukung sepenuhnya usahamu menutup tempat-tempat kebusukan (putikeswara) itu dengan cara membuat tawar daya shaktinya,� kata Pangeran Arya Pinatih.

�Ada berapakah jumlah ksetra di Giri Kedhaton?� tanya Abdul Jalil.

�Ada empat, yaitu Ksetra Adhidewa, Mangare, Dara, dan Indrabhawana.�

Peristiwa amuk yang dilakukan Raden Kusen Adipati Terung ternyata sangat menggemparkan dan menjadi pembicaraan ramai penduduk dari pedalaman hingga pesisir. Hal itu diketahui Abdul Jalil tak lama setelah ia menginjakkan kaki si Surabaya. Sejak turun di panambangan ia sudah mendapati orang-orang sudah membicarakan peristiwa aneh di Japan, Wirasabha, dan Terung. Ketika di Kraton Surabaya ia mendapati hampir semua putera, kerabat dekat, dan siswa Raden Ali Rahmatullah berkumpul di situ. Mereka tampaknya ingin memecahkan masalah rumit, terutama yang sedang membelit penguasa Terung. Di antara mereka itu terlihat Raden Ahmad, Raden Mahdum Ibrahim, Raden Mahmud, Raden Hamzah, Ibrahim al-Gujarati, Raden Kusen, Prabu Satmata, Raden Zainal Abidin Adipati Gresik, Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, Khalifah Husein, Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, dan Arya Bijaya Orob Adipati Tedunan.

Saat beramah-tamah dan saling mengabarkan keselamatan masing-masing, banyak yang bertanya kepada Abdul Jalil tentang perkembangan Caruban setelah memenangkan peperangan melawan Rajagaluh. Abdul Jalil yang sangat prihatin atas �perang� lanjutan setelah kemenangan itu dengan kurang bersemangat menjelaskan, �Apa yang disabdakan Rasulullah Saw. tentang perang yang lebih besar dari Perang Badar telah terjadi di Rajagaluh sekarang ini. Masing-masing orang berperang melawan nafs mereka masing-masing. Karena itu, aku cepat-cepat meninggalkan mereka yang sedang berlomba mengumbar nafsu berkuasa itu. Sekarang ini Sri Mangana beserta para gede sedang sibuk menata pemerintahan baru di Rajagaluh.�

�Kenapa Paman justru meninggalkan Caruban pada saat-saat seperti itu?� tanya Raden Ahmad heran. �Bukankah sekarang ini Paman lebih dibutuhkan di sana?�

�Kalau aku tidak meninggalkan Caruban, fitnah akan bertebaran lebih dahsyat. Orang-orang yang sudah mabuk kekuasaan itu akan memfitnahku dengan tuduhan macam-macam, pada ujungnya yang terkena akibat buruk adalah Sri Mangana. Dengan kepergianku dari Caruban, Sri Mangana dan para gede akan bisa bertindak lebih leluasa menata pemerintahan baru di Rajagaluh,� jawab Abdul Jalil.

�Siapa kira-kira yang jadi penguasa Rajagaluh?�

�Kalau tidak keliru, para gedeng sepakat mengajukan Ki Sukawiyana dari Gunung Ciangkup sebagai calon penguasa Rajagaluh. Aku kira itu pilihan yang tepat. Sebab, Ki Sukawiyana adalah putera Sanghyang Nago yang sangat ditakuti dan disegani. Dia bekas penguasa ksetra. Dengan begitu, orang-orang Rajagaluh pasti tidak ada yang berani menentangnya,� kata Abdul Jalil.

�Yang memilih adipati para gedeng?� sergah Raden Ahmad bagai tak percaya. �Berarti, gagasan wilayah al-Ummah benar-benar dijalankan di Caruban?�

�Tentu saja. Lantaran itu, penduduk Caruban menyebut negerinya Garage, Nagara Gede. Maksudnya, negara yang dipimpin dan diatur oleh para gede. Sedangkan negeri lain masih dikuasai oleh raja,� kata Abdul Jalil.

Setelah membicarakan keadaan di Rajagaluh dan Caruban, terutama pelaksanaan gagasan wilayah al-Ummah, para putera Raden Ali Rahmatullah memberi tahu Abdul Jalil bahwa gagasan wilayah al-Ummah yang pernah ditawarkannya itu sebagian sudah dijalankan di Surabaya, Terung, dan Bubat atas permintaan ayahanda mereka. �Ayahanda kami sebelum wafat telah meminta kepada saudara kami, Raden Kusen, untuk membuat ketetapan mengganti gelar Buyut bagi kepala wisaya dengan gelar Ki Ageng, dan mengganti pula gelar Rama bagi para kepala desa dengan gelar Ki Lurah,� kata Raden Hamzah memaparkan.

�Aku juga sudah melihat perubahan itu di pesisir sejak berangkat dari Caruban. Tapi, benarkah daerah pedalaman yang masuk wilayah Terung dan Bubat juga diubah?� tanya Abdul Jalil ingin tahu.

�Ya, Paman. Semua wisaya dan desa di Kadipaten Surabaya, Terung, dan Bubat telah diubah serentak,� Raden Hamzah menjelaskan. �Wisaya Bukul dipimpin oleh Ki Ageng Bukul, Syaikh Mahmudin, putera Ki Buyut Bukul. Wisaya Sumber Urip dipimpin Ki Ageng Banyu Urip, Ki Wiryo Saroyo, putera Ki Bang Kuning. Wisaya Sapanjang dipimpin oleh Ki Ageng Sapanjang, yaitu adik kami sendiri, Raden Mahmud. Pendek kata, semua wisaya di tlatah Terung dan Bubat seperti Wringin Sapta, Lemah Tulis, Pagedangan, Pagerwaja, Sukadana, Talsewu, Hanyiru, Awang-Awang, Penggiring, Terung, Kapulungan, Kejapanan, Gerongan, Gunung Gangsir, Pandakan, dan Tunggul Wulung semuanya sudah dipimpin oleh para Ki Ageng.�

�Berarti perubahan yang dilakukan para adipati di pesisir itu sesungguhnya mengikuti Surabaya,� kata Abdul Jalil. �Sebab di Bojong, Kendal, Samarang, dan Giri Kedhaton aku mendapati perubahan yang sama di sana.�

�Itu memang benar, Paman. Ayahanda kami juga mengirim utusan ke Giri Kedhaton, Tuban, Demak, Lasem, Japara, Kendal, dan Bojong untuk melakukan perubahan tersebut. Kira-kira tiga bulan lalu, saudara kami Adipati Tedunan Arya Bijaya Orob dan Adipati Siddhayu Yusuf Siddhiq juga mulai melaksanakan perubahan tersebut di wilayahnya,� kata Raden Ahmad.

�Mudah-mudahan dengan memandang kebesaran ayahandamu, perubahan besar bagi tatanan kehidupan di Majapahit akan segera terwujud,� kata Abdul Jalil berharap.

�Tapi, Paman, terus terang saja sampai saat ini kami belum paham dengan makna yang sebenarnya di balik perubahan gelar-gelar jabatan tersebut. Sungguh, ketetapan itu dibuat saudara kami semata-mata karena kepatuhan dan penghormatannya kepada ayahanda kami. Karena kami semua mengetahui jika gagasan itu asalnya dari Paman maka kami mohon penjelasan langsung dari Paman, kenapa gelar-gelar jabatan Buyut dan Rama harus diubah. Kenapa gelar Buyut harus diubah menjadi Ki Ageng dan gelar Rama diubah menjadi Ki Lurah? Kenapa pula para kawula diharuskan menggunakan kata ganti diri ingsun?� tanya Raden Qasim.

�Semua itu tentu terkait dengan tatanan kehidupan lama ke baru. Maksudku, perubahan nilai-nilai lama ke nilai-nilai baru, perubahan dari Tauhid lama ke Tauhid baru yang murni.�

�Tapi kami tidak melihat makna apa-apa di balik perubahan itu, Paman,� Raden Ahmad menyela. �Sebab yang diganti itu, menurut hemat kami, hanya istilah-istilah gelar belaka, yaitu dari Buyut menjadi Ki Ageng, dari Rama menjadi Ki Lurah. Bukankah keberadaan Buyut dan Ki Ageng sesungguhnya tetap sama, yaitu kepala wisaya? Bukankah keberadaan Rama dan Lurah juga sama, yaitu kepala desa?�

�Dilihat dari sisi tata pemerintahan memang tidak ada yang berubah. Sebab, baik gelar Buyut dan Ki Ageng pada dasarnya tetap merupakan gelar bagi mereka yang berkedudukan sebagai kepala wisaya. Demikian juga gelar Rama dan Lurah tetap merupakan gelar bagi kepala desa. Tetapi, jika kita memandang perubahan itu dari sudut pandangan Tauhid maka kita akan segera melihat perbedaan yang mencolok di antara perubahan gelar-gelar tersebut, bagaikan perbedaan malam dengan siang,� tegas Abdul Jalil.

�Kami belum paham, Paman.�

�Sepengetahuanmu, jika seorang Buyut meninggal, apa yang dilakukan oleh kawula di wisaya yang dipimpinnya? Begitu pun jika seorang Rama meninggal, apa yang dilakukan oleh kawula di desa yang dipimpinnya?� tanya Abdul Jalil memancing. �

Penduduk akan memuja batu tanda kematian sang Buyut dan sang Rama sebagai Kabuyutan dan punden Karaman, Paman,� tukas Raden Qasim mulai menangkap makna ucapan Abdul Jalil.

�Dapatkah engkau menghitung jumlah kabuyutan dan punden karaman di wilayah Majapahit atau bahkan yang ada di Kadipaten Surabaya dan Terung saja?�

�Tentu tidak bisa, Paman. Jumlahnya beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu.�

�Nah, dengan diubahnya istilah Buyut menjadi Ki Ageng dan istilah Rama menjadi Ki Lurah, apakah menurutmu arwah mereka akan dipuja oleh penduduk setelah mereka meninggal dunia?� tanya Abdul Jalil.

�Tentu saja tidak, Paman,� Raden Qasim mengangguk-angguk paham.

�Karena itu, dalam upaya menegakkan Tauhid, ketika ayahandamu akan wafat, beliau �menemuiku� dan menyatakan tidak ingin kematiannya diketahui penduduk. Beliau ingin dikuburkan oleh putera-putera dan kerabat secara diam-diam. Beliau tidak ingin makamnya dipuja seperti pendharmaan raja-raja,� kata Abdul Jalil.

�Kami paham, Paman,� kata Raden Ahmad. �Tapi kenapa gelar Sri, Prabu, Adipati, dan Ratu tidak ikut diubah? Bukankah raja-raja itu jika mangkat arwahnya dipuja di candi-candi?�

�Belum waktunya. Kalau kita terburu-buru melakukan perubahan sebelum waktunya, yang akan terjadi adalah kekacauan yang mungkin berujung pada kegagalan. Itu sebabnya, kita harus sabar.�

�Kami paham, Paman. Tapi, mohon Paman jelaskan kepada kami kenapa kita harus merubah tata cara berbahasa dan terutama mengubah kata ganti diri dari nghulun dan kawula menjadi ingsun?� tanya Raden Ahmad.

�Perubahan itu tentu terkait dengan Tauhid, Raden. Ajaran luhur Islam tentang Tauhid, terutama gagasan wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh), tidak akan bisa terwujud di dalam kenyataan jika masing-masing manusia masih menekuk lutut dan merendahkan diri sendiri sebagai budak bagi sesama. Aku kira engkau telah paham bahwa saat Islam pertama kali didakwahkan, masalah pembebasan budak-budak menjadi garapan utama dari perjuangan Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat. Hal itu terjadi bukan karena Islam agama pembebas budak, melainkan lebih karena Islam adalah ajaran Tauhid sejati yang membawa manusia kepada pemujaan satu Ilah: al-Ahad.�

�Jika engkau bertanya kenapa aku memiliki gagasan untuk mengubah kata ganti nghulun dan kawula menjadi ingsun atau aku, maka dasar utama alasanku adalah semata-mata karena Tauhid itu sendiri. Maksudku, keberadaan penduduk Arab dan Majapahit harus dipahami sebagai dua hal yang berbeda. Jika pada zaman Nabi Muhammad Saw. para sahabat berusaha menebus budak-budak Muslim dengan membayar uang tebusan, hal itu tidak akan mungkin bisa dilakukan di Majapahit. Kenapa? Sebab, di Majapahit setiap manusia adalah budak bagi raja dan keluarganya. Itu berarti, bukan uang tebusan budak yang dibutuhkan di negeri seperti Majapahit, melainkan perubahan tatanan nilai-nilai dan kepercayaan baru yang menolak hegemoni pemikiran yang merendahkan manusia. Ya, yang dibutuhkan di Majapahit adalah perubahan cara pikir dan cara pandang yang bertolak dari nilai-nilai luhur penegakan Tauhid. Dengan penjelasanku ini, mudah-mudahan engkau dapat memahami semua gagasan yang aku sampaikan mulai perubahan gelar jabatan, kata ganti diri, sampai gagasan wilayah al-Ummah. Semua itu tujuan utamanya adalah sama, yaitu penegakan Tauhid,� tegas Abdul Jalil.

Read More ->>

Kamis, 09 Februari 2017

TU-LAH SANG NAGA SHESHA

Tu-lah Sang Naga Shesha

Ketika Abdul Jalil dan Syaikh Bentong baru saja melepas pengikut-pengikutnya yang ditugaskan menjadi pamancangah menmen, tanpa terduga-duga datanglah tiga orang pengikutnya secara hampir bersamaan. Yang pertama, Kyayi Tapak Menjangan, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Kendal. Kedua, Ki Wujil Kunting, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Samarang. Ketiga, Ki Saridin, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Japara. Mereka datang berurutan dengan membawa kabar yang sama: di sejumlah desa baru di Kadipaten Kendal, Wirasari, Pengging, dan Lasem telah terjadi peristiwa aneh dan menggemparkan penduduk. �

Jika waktu candikala (senja) datang, bayi-bayi menangis sepanjang malam hingga pagi. Banyak di antara bayi-bayi itu kemudian jatuh sakit dan mati. Gadis-gadis yang belum baligh (dewasa) secara berbarengan tidak sadarkan diri. Mereka menjerit-jerit dan kejang-kejang. Setelah sadar, mereka menuturkan bahwa tubuhnya telah dimasuki ruh kakek atau neneknya. Sedangkan yang tidak pernah sadar, menjadi hilang ingatan. Gila. Ibu-ibu muda banyak membunuhi bayinya tanpa sebab yang jelas. Anak-anak lelaki pun menunjukkan perilaku aneh. Tanpa sebab jelas mereka mengomel, marah-marah, mengamuk, merusak barang-barang, dan bahkan menyerang orang-orang yang berada di dekatnya. Tidak peduli bapak, ibu, adik, dan kakek, semua diserang. Bahkan, sejumlah laki-laki dewasa tanpa sebab yang jelas pula tiba-tiba menganiaya istri dan anak-anaknya sampai mati. Pendek kata, semua orang ketakutan karena penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi di dalam keluarga itu bisa mengenai siapa saja,� kata Kyayi Tapak Menjangan.

Ki Saridin membenarkan penuturan Kyayi Tapak Menjangan dan menambahkan, �Malahan yang sedang marak di Wirasari adalah tawur antar desa. Rumah-rumah dibakar. Lumbung-lumbung dibakar. Pedati, gerobak, wluku, lesung, dan barang apa saja yang ditemui dibakar. Bahkan, sawah-sawah pun dibakar. Penduduk tak bersalah, tak peduli orang tua, perempuan, dan anak-anak diburu-buru, dianiaya, dan dibunuh. Pendek kata, semua orang di sana tidakannya seperti orang kesurupan setan,� kata Ki Saridin.

Abdul Jalil menarik napas berat. Ia merasa perasaan aneh yang dialaminya belakangan ini, yang membuatnya seolah-olah harus pergi meninggalkan gubuknya, ternyata memang isyarat gaib yang diterimanya dalam kaitan dengan peristiwa bersifat adiduniawi sebagaimana dikabarkan ketiga pengikutnya tersebut. Dan ia makin yakin ketika tak lama berbincang-bincang dengan pengikut-pengikut setianya itu, datang pula ke gubuknya dua pengikutnya yang lain, Ki Babat Penjalin, kepala dukuh Lemah Abang di Pamotan, dan Kyayi Menjangan Tumlaka, kepala dukuh Lemah Abang di Giri Kedhaton. Mereka berdua menyampaikan kabar yang sama, yaitu tentang peristiwa aneh yang terjadi pula di Japan, Terung, dan Wirasabha.

Di antara kabar tentang peristiwa aneh dari para pengikutnya itu, yang paling mengejutkannya adalah berita yang disampaikan Kyayi Menjangan Tumlaka tentang amuk yang dilakukan Yang Dipertuan Terung Raden Kusen. Menurut kabar yang didengarnya, penguasa Terung yang dikenal gagah berani dan jago perang itu suatu malam mengamuk seperti orang keranjingan setan. Ia menghunus keris pusakanya dan menikam puterinya sendiri hingga tewas. Para dayang dan prajurit yang menjaga kaputren dibunuh semua. Belum puas dengan apa yang dilakukannya, putera Ario Damar itu membakar Kraton Katerungan dan semua bangunan di sekitarnya sampai rata dengan tanah. Bahkan, dengan amarah yang masih berkobar-kobar Raden Kusen memerintahkan prajuritnya untuk membuat tambak (bendungan) yang menutup aliran Bengawan Terung. Setelah itu, ia dan keluarga pindah ke Bubat. �Menurut kabar yang kami dengar, amuk yang dilakukan oleh Yang Dipertuan Terung itu terjadi akibat kekecewaan mendalam yang dialaminya setelah mengetahui puterinya yang bernama Mas Ayu Tunjung, yang belum menikah dan dijaga ketat di kaputren telah hamil,� kata Kyayi Menjangan Tumlaka.

Abdul Jalil merasakan dadanya sesak. Ia cepat menangkap kebenaran cerita bahwa peristiwa yang dialami Raden Kusen itu sejatinya tidak memiliki kaitan dengan peristiwa-peristiwa aneh yang baru saja dikabarkan oleh para pengikutnya. Ia sangat yakin tindakan amuk Raden Kusesn adalah tindakan wajar bagi seorang penguasa Majapahit yang masih memegang kuat nilai-nilai lama saat mengalami kekecewaan dan dibakar api amarah. Celakanya, peristiwa itu terjadi bertepatan waktu dengan maraknya kabar tentang peristiwa-peristiwa aneh di berbagai tempat. Lantaran itu, orang cenderung mengaitkannya satu sama lain. Untuk mengingatkan para pengikutnya agar tidak terjebak pada cara berpikir otak-atik mathuk, Abdul Jalil bertanya kepada Kyayi Tapak Menjangan, �Andaikata engkau, o Saudaraku, belum mengikuti ajaranku dan mengalami peristiwa seperti yang dialami oleh Adipati Terung, apakah yang akan engkau lakukan?�

Kyayi Tapak Menjangan, bangsawan asal Pajang yang menjadi kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Kendal, dengan ucapan tegas berkata, �Tentu kami akan melakukan hal serupa dengan apa yang dilakukan Yang Mulia Adipati Terung. Anak gadis kami yang memalukan itu tentu akan kami bunuh. Bahkan, lelaki yang telah menistanya akan kami bunuh bersama seluruh keluarganya.�

�Itu berarti, peristiwa yang dialami Pamanda Adipati Terung itu tidak ada kaitan dengan peristiwa aneh yang marak belakangan ini. Jadi, jangan dikait-kaitkan,� kata Abdul Jalil.

�Kami rasa, apa yang Kangjeng Syaikh ucapkan memang benar adanya,� kata Kyayi Menjangan Tumlaka. �Kami pun berpikiran seperti itu. Tetapi, peristiwa aneh dan kejadian menyedihkan di Terung itu telah menjadi bahan pembicaraan seru di kalangan penduduk. Orang-orang begitu ramai menggunjing keadaan mengerikan itu. Mereka bilang, semua kekisruhan itu akibat kutukan. Para janggan dan dukun menyatakan bahwa penduduk yang mendapat tanah bagian dari para adipati itu telah mendirikan bangunan-bangunan tanpa mengikuti ketentuan yang berlaku di kalangan perundagian sehingga mereka terkena tu-lah Sang Naga Shesha.�

�Tu-lah Sang Naga Shesha?� gumam Abdul Jalil.

�Ya,� kata Kyayi Menjangan Tumlaka. �Naga Shesha yang disebut juga dengan nama Naga Basuki atau Naga Karkotaka. Kami kira Kangjeng Syaikh sudah paham soal itu.�

Abdul Jalil menekur sambil memegangi dagunya. Ia menangkap suatu tengara kerumitan yang bakal memerangkap penduduk ke lingkaran jalan buntu, karena terjebak dengan keyakinan-keyakinan purwa yang sudah menebarkan jaring-jaringnya yang mengikat akal budi. Sang Naga Shesha, menurut keyakinan penduduk, adalah raja ular yang sesekali menampakkan wujud sebagai ular berkepala seribu dan kadang-kadang berupa badai merah yang merusak. Dia bersemayam di dalam bumi dan selalu menyemburkan api yang membakar pada senja hari.

Naga Shesha di dalam khazanah cerita Jawa adalah nama naga jelmaan Wisynu, Sang Basuki, yang bermakna penyelamat. Seiring berkembangnya ilmu perundagian (arsitektur), yang menempatkan kepercayaan terhadap Sang Naga Shesha sebagai bagian dari ilmu tata letak tanah, maka penduduk Nusa Jawa meyakini keberadaan ular tersebut dalam kaitan dengan perundagian. Ketika peradaban Majapahit merosot, sistem pengetahuan itu berkembang menjadi sistem yang lebih luas dan mencakup pula pengetahuan tentang hari baik dan hari buruk, yang intisarinya kira-kira seperti ini: �Jika seseorang ingin selamat (basuki), hendaknya jangan berhadapan muka dengan Naga Basuki yang menyemburkan api membakar tiap senjakala.� Bertolak dari keyakinan itu, agar manusia bisa mencapai keselamatan hidup, maka mereka harus mengetahui keberadaan Sang Naga Shesha, terutama arahnya menghadap.

Kepercayaan terhadap Naga Shesha pada masa kejayaan Majapahit memang berbeda dengan yang berkembang kemudian. Jika kaum cerdik cendikia pada masa kejayaan Majapahit, terutama para undagi, mengetahui tentang sistem pengetahuan tersebut dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh para guru suci berdasar rontal Hasta Bhumi dan Wiswakarma, maka di tengah kemerosotan Majapahit, ilmu perundagian ikut merosot, membaur dengan kepercayaan takhayul Campa sehingga menjadi sistem pengetahuan yang dikenal dengan sebutan petungan nagadina, yaitu sistem pengetahuan yang jauh lebih luas dan lebih njlimet dibanding ilmu perundagian. Bahkan, yang menyedihkan, bagian terbesar dari sistem petungan nagadina itu hanya didasari pada kerangka berpikir otak-atik mathuk.

Kabar peristiwa-peristiwa aneh yang disampaikan para kepala dukuh Lemah Abang itu ternyata tidak berhenti pada pengaitan tu-lah Sang Naga Shesha, tetapi lebih berbahaya adalah tersebarnya kasak-kusuk yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan hukuman para dewa, karena orang-orang telah meninggalkan ajaran leluhur untuk mengikuti ajaran baru dari negeri asing. Yang tak kalah berbahaya, kasak-kusuk itu mengaitkan peristiwa aneh tersebut dengan pembukaan dukuh-dukuh Lemah Abang yang tidak sesuai dengan tatanan umum yang berlaku. Dukuh-dukuh Lemah Abang yang dibuka, yang katanya diperuntukkan bagi para wiku, ternyata dijadikan hunian penduduk dari berbagai kalangan. �Hal itulah yang menurut desas-desus telah menimbulkan tu-lah Sang Naga Shesha dan sekaligus amarah para dewa. Lantaran itu, kata mereka, selama menunggu giliran Dukuh Lemah Abang tertimpa bencana, desa-desa di sekitarnya dulu yang menanggung akibat buruk itu,� kata Kyayi Menjangan Tumlaka.

Abdul Jalil menunduk memegangi keningnya. Di benaknya tiba-tiba berkelebat gambaran menyedihkan tentang dukuh-dukuh Lemah Abang yang dikucilkan orang. Tidak cukup di situ, berkelebatan pula gambaran tentang dukuh-dukuh Lemah Abang ramai-ramai diserang penduduk dan dibakar. Di tengah gambaran kobaran api itu berkelebat pula wajah para janggan dan dukun yang menghasut penduduk untuk membenci dan memusuhi warga Dukuh Lemah Abang. Tetapi, kelebatan-kelebatan bayangan itu tidak lama memasuki benaknya. Ia menarik napas dalam-dalam dengan mata terpejam. Ia memasrahkan semua urusan kepada Allah. �Ya Allah, semua kejadian baik dan kejadian buruk mutlak berasal dari kehendak-Mu. Karena itu, kami pasrahkan semua kepada-Mu,� katanya dalam hati.

Setelah berdiam beberapa jenak, ia berkata dengan suara tegar, �Sekarang kembalilah kalian semua ke dukuh masing-masing. Pasrahkan semua kepada Allah. Tetap teguhlah kalian pada prinsip Ngalah. Yakinlah bahwa para janggan, dukun, dan pedagang jimat yang menunggu musibah besar atas Lemah Abang itu akan kecewa karena fitnah yang mereka sebarkan tidak pernah terbukti.�

Sadar peristiwa aneh yang tak terduga itu bakal menjadi petaka besar bagi perubahan yang sedang dirintisnya, Abdul Jalil buru-buru pergi ke Caruban untuk menemui Sri Mangana dan ibunda asuhnya. Ia ingin meminta petunjuk mereka tentang apa yang harus dilakukannya tentang peristiwa-peristiwa aneh yang dialami penduduk Wirasari, Lasem, Pengging, Japan, Terung, dan Wirasabha. Secara kebetulan, saat Abdul Jalil datang, Sri Mangana dan permaisuri sedang memperbincangkan masalah tersebut dengan Raden Sepat, Ki Waruanggang, Ki Tameng, Ki Tedeng, dan Ki Sukawiyana. Raden Sepat adalah undagi (arsitek) termasyhur dari Majapahit yang dikirim Adipati Terung untuk membantu perluasan Tajug Agung Caruban. Dari Raden Sepatlah kabar tentang peristiwa aneh di Japan, Terung, dan Wirasabha itu sampai ke Caruban.

�Jadi peristiwa serupa juga terjadi di Wirasari, Pengging, dan Lasem?� kata Sri Mangana menoleh ke arah permaisurinya dan kemudian berkata kepada Abdul Jalil, �Kami semua sebenarnya sedang membicarakan masalah itu dan berkeinginan memanggilmu. Ternyata engkau sudah datang sendiri. Jadi, biarlah ibundamu yang akan menjelaskannya karena dia tahu banyak tentang masalah itu.�

�Sesungguhnya, apa yang terjadi dengan peristiwa aneh itu, o Ibunda Ratu?�

�Kalau melihat gelagatnya dan penjelasan dari Yang Mulia Raden Sepat, penduduk yang tinggal di pemukiman baru itu terkena tu-lah Sang Naga Shesha, Sang Kalaraja, dan Sang Kala Greha. Sebab, mereka telah melanggar tempat-tempat terlarang,� kata Nyi Indang Geulis.

�Melanggar tempat-tempat terlarang?� gumam Abdul Jalil. �Apakah yang ibunda maksud peristiwa itu berkaitan dengan tempat-tempat khusus seperti Bale Panca Rsi, Bale Panangkilan, Bale Cakrawarti, dan Bale Kapeningan di suatu tempat?�

�Tepat seperti itu. Orang-orang Islam baru (mu�alaf) yang tidak paham tentang Wiswakarmatmaja Tattwa dengan semau-maunya membuka pemukiman baru, bahkan membangun rumah di atas lambang (bangunan lain) secara sembarangan tanpa melakukan upacara prascita (penyucian). Akhirnya, mereka menjadi watang akreb dan berada dalam keadaan yang berbahaya. Kalau sudah begitu, yang disalah-salahkan adalah agama Islam dan terutama ajaranmu yang membuat orang-orang menjadi liar dan tidak tahu aturan,� kata Nyi Indang Geulis.

�Ananda siap menerima curahan segala kesalahan, o Ibunda,� kata Abdul Jalil tenang. �Tetapi, apa yang ananda lakukan, menurut hemat ananda, tidak mungkin menimbulkan keanehan-keanehan seperti itu. Sebab, sebelum ananda membuka dukuh-dukuh Lemah Abang, ananda sudah bertemu dengan para penghuni purwa Nusa Jawa, yaitu para bhuta dan kala dari antara Banu al-Jann. Kami sudah mengadakan kesepakatan dengan mereka. Dan sepengetahuan ananda, mereka tidak mungkin cedera janji seperti manusia. Sementara soal tata cara penyucian tanah, ananda sudah mengikuti semua petunjuk Ibunda Ratu. Jadi, ananda berpikir, pasti ada sebab-sebab lain yang menimbulkan keadaan aneh tersebut.�

�Apakah engkau benar-benar melakukan penyucian tanah dengan upacara pracista seperti yang aku ajarkan?� tanya Nyi Indang Geulis.

�Ananda sudah melakukan semua petunjuk Ibunda Ratu. Karena itu, dukuh-dukuh Lemah Abang yang diniatkan sebagai Jajar Lemah (tanah yang boleh ditempati semua kalangan) tetap terhindar selamat dari peristiwa aneh tersebut. Bahkan, sesuai keinginan Ibunda untuk membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra dan tempat-tempat pemujaan Prthiwi, ananda telah pula melakukan penyucian tanah yang disebut bhumisoddhana dan bhuta-suddhi, dan tentu saja ditambah usaha batin ananda agar apa yang Ibunda Ratu inginkan itu dapat ananda penuhi.�

�Mohon maaf, Tuan Syaikh,� Raden Sepat menyela. �Apakah dalam penyucian tanah itu, Tuan menggunakan sarana jimat yang dirajah aksara AH dan ANG yang dipadukan menjadi satu? Sebab, sesuai petunjuk Wismatattwa, semua bangunan yang berdasarkan widhi widana harus memakai sarana jimat lambang perempuan dan laki-laki yang disatukan dan ditanam di bawah hulu bangunan.�

Abdul Jalil tersentak kaget mendengar pertanyaan Raden Sepat. Cakrawala jiwanya yang semula tertutup kabut tiba-tiba bersinar cemerlang bagai ditimpa matahari. Kemudian dengan suara lain ia berkata, �Kami sudah melakukan itu semua, Yang Mulia. Tapi, kami jadi sadar bahwa justru di situlah letak masalah yang sesungguhnya hingga timbul berbagai masalah aneh sekarang ini.�

�Apakah Tuan Syaikh menggunakan sarana jimat atau batu merah, emas, perak, atau tembaga?�

�Ketika kami menutup Kabhumian di Caruban, yang kami tanam sebagai lambang aksaran AH dan ANG adalah lingga dari puncak Gunung Pulasari dan yoni yang dipuja di Kabhumian. Bahkan, karena perlambang aksara AH dan ANG itulah kami kemudian menamai dukuh-dukuh baru yang kami buka itu dengan Lemah Abang, yang bermakna persatuan lambang laki-laki dan perempuan. Lemah Abang adalah perlambang AH dan ANG, manusia perempuan dan laki-laki, keturunan Adam a.s. dan Hawa a.s.. Lemah Abang adalah perlambang Prthiwi (tanah) yang membentuk tubuh dan jiwa (nafs) manusia, sekaligus perlambang Wisynu (Sang Pemelihara, Rabb) yang memancarkan Ruh Kebenaran (Ruh al-Haqq) dari Paramasyiwa (Rabb ar-Arbab),� papar Abdul Jalil.

�Kami paham itu, Tuan Syaikh. Tetapi, maksud kami, sarana jimat apakah yang Tuan gunakan untuk ditanam di bawah hulu bangunan? Sebab, hal itu sangat menentukan dalam suatu upacara penyucian tanah,� tanya Raden Sepat.

�Kami tidak mengikuti aturan yang lazim, Yang Mulia,� kata Abdul Jalil menjelaskan. �Sebab, yang kami sucikan bukan sepetak atau dua petak tanah, melainkan tanah se-Nusa Jawa. Tanah Majapahit dan Pasundan. Bahkan di balik itu, kami ingin menutup ksetra-ksetra dan tempat-tempat pemujaan Sang Bhumi yang meminta korban manusia dengan cara membuat tawar daya shakti dari tempat-tempat tersebut. Kami sudah mengikat suatu perjanjian dengan Ibunda Prthiwi, Sang Bhumi. Itu sebabnya, kami tidak menggunakan sarana jimat yang lazim.�

�Jika boleh tahu, sarana apakah itu?� tanya Raden Sepat makin penasaran.

�Darah dan keakuan kami.�

�Maksudnya?�

�Pertama-tama, di setiap Dukuh Lemah Abang yang kami buka, kami harus menumpahkan darah sebagai ganti bagi korban-korban yang selama ini dijadikan persembahan di situ. Karena itu, sesuai jumlah dukuh Lemah Abang yang kami buka, seperti itulah jumlah luka bekas sayatan yang ada pada tubuh kami,� kata Abdul Jalil sambil menyingsingkan lengan jubahnya dan menunjukkan bekas luka sayatan yang menghiasi lengannya bagai ukiran.

Semua mata memandang lengan Abdul Jalil sambil menggelengkan kepala. Nyi Indang Geulis sendiri merasakan jantungnya berhenti dan keteguhan hatinya runtuh. Meski ia berusaha menahan rasa iba yang menguasai jiwanya, tak urung ia menitikkan air mata. Dengan suara tersendat bercampur isak pedih ia bertanya lirih, �Kenapa engkau tidak pernah bercerita kepada kami tentang perjanjianmu dengan Ibunda Prthiwi?�

�Ananda kira itu tidak perlu, Ibunda Ratu,� kata Abdul Jalil menutup kembali lengan jubahnya. �Ananda paham, apa yang dilakukan Ibunda Bhumi itu hanyalah suatu ujian. Ujian untuk menguji putera-puteranya, manusia-manusia yang rela berkorban sebagaimana pengorbanan Ibunda Bhumi yang merelakan tubuhnya diinjak-injak dan dilukai oleh putera-puteranya. Dan ananda, selaku putera Ibunda Bhumi, ingin membuktikan bahwa di antara putera-putera Sang Bhumi itu ada yang rela berkorban tanpa meminta imbalan apa-apa. Itu berarti, ananda ingin menunjukkan pada Ibunda Bhumi bahwa ada puteranya yang melebihinya dalam berkorban. Sebab, dengan cara melebihi keikhlasan Ibunda Bhumi saja kekuatan �haus darah� dari Sang Prthiwi itu dapat ditawarkan.�

�Apakah cukup dengan menumpahkan darahmu di dukuh-dukuh Lemah Abang?�

�Tentu saja tidak, o Ibunda Ratu. Sebab, yang lebih mendasar dari perjanjian kami dengan Ibunda Bhumi adalah jati diri kami yang dijadikan jimat di bawah hulu bangunan. Maksud ananda, sebagaimana jimat yang ditanam di bawah hulu bangunan, demikianlah jati diri kami wajib diinjak-injak dan direndahkan oleh setiap manusia yang menghuni permukaan bumi. Itu berarti, setiap manusia harus merendahkan dan menista ananda sebagaimana mereka memperlakukan bumi,� kata Abdul Jalil tegas.

�Kenapa engkau mau mengikat perjanjian seperti itu?� tanya Nyi Indang Geulis dengan air mata bercucuran. �Sungguh aku tak pernah mengira jika permintaanku itu akan berakibat menyengsarakanmu, o Puteraku.�

�Sesungguhnya, ananda sudah menawarkan nyawa ananda kepada Ibunda Bhumi sebagai tebusan bagi upacara korban persembahan manusia. Tetapi, Ibunda Bhumi tidak berkenan. Penebusan seperti itu, menurut Ibunda Bhumi, bisa dilakukan oleh banyak orang. Ibunda Bhumi ingin yang lebih dari itu, yaitu ingin melihat pengorbanan orang-orang yang ikhlas keakuannya diinjak-injak dan dinista sepanjang zaman. Bahkan, dalam perjanjian itu telah ditetapkan pula bahwa jika suatu saat keberadaan ananda diangkat melebihi letak kedudukan tanah, maka saat itulah Ibunda Bhumi akan meminum kembali darah dari manusia-manusia melalui caranya sendiri.�

�Apakah peristiwa-peristiwa aneh itu engkau anggap terkait dengan perjanjianmu?�
�Ananda kira demikian, o Ibunda Ratu,� kata Abdul Jalil. �Sebab, di berbagai tempat ananda mendengar bahwa nama ananda dipuja-puja sebagai dewa penolong dan dipuji setinggi langit oleh kalangan kawula. Dengan demikian, melalui peristiwa aneh itu Sang Bhumi telah mengingatkan kembali kepada ananda akan perjanjian itu dengan caranya. Itu berarti, sekaranglah saatnya orang-orang harus memulai penistaan terhadap ananda. Dan bagi ananda, apa yang dikehendaki Ibunda Bhumi itu sebagai suatu yang wajar dan tidak berlebihan. Sebab, dari Ibunda Bhumilah jasad ananda ini terbentuk. Dari Ibunda Bhumi juga makanan yang memelihara keutuhan jasad ananda ini berasal. Karena itu, jika Ibunda Bhumi menghendaki darah ananda maka ananda akan selalu siap menyediakannya demi kepuasannya. Ananda akan menunjukkan kepada Ibunda Bhumi bahwa tidak semua putera Bhumi adalah makhluk perusak dan penghancur ibunya. Ananda ingin menunjukkan bahwa tidak semua putera-putera Bhumi adalah manusia tak tahu budi. Ananda akan menunjukkan bahwa ananda adalah putera Ibunda Bhumi yang tahu berterima kasih karena ananda telah memakan sesuatu dari Ibunda Bhumi secara haqq dan tidak berlebihan. Ananda ingin menunjukkan bahwa ananda adalah putera Bhumi yang lebih ikhlas dan lebih tanpa pamrih dalam berkorban dibanding Sang Bhumi sendiri.�

Tanpa kembali ke gubuknya di Lemah Abang, Abdul Jalil meninggalkan Caruban dengan disertai Abdul Malik Israil, Ki Waruanggang, Ki Tameng, Raden Sulaiman, Raden Sahid, dan Liu Sung. Ketika bertemu dengan Adipati Bojong Pangeran Danareja, Abdul Jalil diberi tahu di Kadipaten Bojong secara berangsur-angsur sudah diberlakukan tatanan yang sama dengan yang berlaku di Caruban. Jabatan Buyut sebagai kepala wisaya telah diganti dengan jabatan Ki Gede. Jabatan Rama sebagai kepala desa telah diganti, namun bukan Ki Kuwu, melainkan Ki Lurah. �Perubahan itu terutama kami berlakukan di wilayah pesisir. Nanti jika tepat waktunya, daerah pedalaman pun akan menyusul,� kata Pangeran Danareja.

�Wisaya mana sajakah yang sudah diubah?� tanya Abdul Jalil.

�Wilayah pesisir, terutama yang dipimpin oleh pengikut-pengikut Kangjeng Syaikh, yaitu Wanasari, Talang, Pangkah, Suradadi, dan Patarukan.�

Setelah berbincang-bincang lama tentang makna Tauhid di balik perubahan jabatan-jabatan pemerintahan, Abdul Jalil dan rombongan meninggalkan Kadipaten Bojong. Mereka mengunjungi Dukuh Lemah Abang di Kadipaten Kendal, Abdul Jalil memberi tahu tentang perikatan janjinya dengan Sang Bhumi. Kyayi Tapak Menjangan terkejut mendengarnya dan tak dapat mengucapkan kata-kata, kecuali mengungkapkan tanda tanya seseorang yang kebingungan, �Bagaimana mungkin kami bisa ikut-ikutan menista dan merendahkan Kangjeng Syaikh? Bagaimana cara kami melakukannya?�

�Sekarang ini diam adalah yang utama,� kata Abdul Jalil tegas. �Katakan kepada seluruh warga Lemah Abang untuk tidak sekali-kali memuji aku. Maksudku, jika kalian tidak bisa menista dan merendahkan aku maka sebaiknya kalian diam dan tidak memuji aku sekecil apa pun. Diam. Diam. Seribu kali diam.�

Setelah dari Lemah Abang, Abdul Jalil dan rombongan menghadap Pangeran Gandakusuma, adipati Kendal. Sebagaimana di Bojong, usai berbincang tentang peristiwa aneh di pedalaman, sang adipati memberi tahu Abdul Jalil bahwa di wilayah kekuasaannya pun sedang berlangsung pergantian istilah jabatan kepala wisaya dan Buyut menjadi Ki Gede dan jabatan kepala desa dari Rama menjadi Ki Lurah. Tak berbeda dengan Bojong, di Kendal pun perubahan itu dimulai di wilayah pesisir, yaitu di Wisaya Pakalongan, Kedungwuni, Jalasakti, Banyuputih, dan Kaliwungu. Dalam upaya memacu semangat perubahan sang adipati, Abdul Jalil memaparkan makna di balik perubahan-perubahan jabatan itu.

�Sesungguhnya, perubahan istilah itu bukan sekadar mengganti nama, Yang Mulia. Tetapi, ada penegakan Tauhid di dalamnya. Karena itu, pahala Allah yang tak terhingga tercurah kepada mereka yang berjuang menegakkan Tauhid di bumi Allah,� kata Abdul Jalil. Sebagaimana Pangeran Danareja Adipati Bojong, Pangeran Gandakusuma pun berjanji kepada Abdul Jalil akan secepatnya melakukan perubahan serentak di seluruh wilayah kekuasaannya.

Ketika singgah di pelabuhan Samarang, Abdul Jalil mendapati kenyataan yang sama dengan di Bojong dan Kendal, yaitu terjadinya penggantian istilah jabatan pemerintahan. Sementara itu, selain mendapati orang-orang ramai membicarakan peristiwa aneh di Wirasari, Pengging, Kendal, dan Lasem, ia juga beroleh kabar dari para pelaut bahwa di Japara saat itu sedang dibangun pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar (Jawa Kuno: meriam) yang dikerjakan oleh orang-orang Cina ahli senjata asal Palembang, Terung, dan Lawe, ditambah orang-orang asal Kerala di pantai Malabar. Yang disebut bedil besar adalah sejenis gurnita, namun bahan yang digunakan dari besi atau perunggu. Sebutan bedil sendiri berasal dari kata �wedhil�, yaitu istilah yang digunakan oleh orang-orang Kerala.

Senjata bedil dan bedil besar sudah digunakan barang seratus tahun silam oleh orang-orang Majapahit yang membelinya dari pedagang-pedagang India. Sebelumnya, pedagang-pedagang India membeli senjata-senjata api tersebut dari saudagar-saudagar Turki. Kira-kira lima puluh tahun silam, usaha membuat sendiri bedil besar dilakukan untuk kali pertama oleh Ario Damar Adipati Palembang, dengan dibantu ahli-ahli mesiu Cina Palembang dan orang-orang Kerala. Usaha membuat bedil besar, memang dimungkinkan karena tekniknya jauh lebih sederhana dibanding bedil yang rumit. Meski begitu, sejumlah bedil besar hasil pengecoran di Palembang itu meledak saat dicoba dan menelan korban jiwa. Meski bedil besar buatan Palembang belum sempurna, Ario Damar berhasil membangun pabrik mesiu besar di sana.

Ketika Raden Sahun, putera Ario Damar, menjadi adipati Samarang, dibangunlah pabrik pengecoran logam di situ dengan bantuan orang-orang Persia dan Turki yang bermukim di Kerala. Di Samarang itulah bedil besar berhasil disempurnakan dengan pasokan mesiu dari Palembang. Sejak itu bedil besar buatan Samarang diperdagangkan ke berbagai negeri seperti Pasai, Kedah, Malaka, Aceh, Tamiang, bahkan Siam dan Pegu. Tetapi, demi alasan kekuasaan keturunannya, Ario Damar melarang penjualan bedil besar dan mesiu kepada orang-orang Majapahit dan Sunda. Itu sebabnya, orang-orang Majapahit tetap membeli bedil besar dari saudagar-saudagar India dengan harga yang sangat mahal. Bahkan di tengah kemelut perebutan takhta, raja-raja Majapahit tidak mampu lagi membeli bedil besar.

Lantaran kebijakan Ario Damar seperti itu, keberadaan bedil besar banyak didapati orang di Kadipaten Samarang, Demak, Madura, dan Terung, tempat putera-puteranya menjadi penguasa di situ. Malahan, di tengah kekacauan yang berlangsung tak kunjung berhenti di ibu kota Majapahit, hampir seluruh bedil besar milik kerajaan dikuasai oleh Raden Kusen Adipati Terung. Itu sebabnya, di antara penguasa-penguasa Majapahit, kekuatan tempur yang dimiliki Kadipaten Terunglah yang paling kuat karena selain memiliki pasukan gurnita, juga memiliki pasukan bedil besar dan bedil. Di berbagai medan tempur, termasuk dalam peperangan dengan Patih Mahodara, selalu saja pihak Terung beroleh kemenangan.

Seiring perputaran waktu, seiring mangkatnya Ario Damar, pabrik mesiu di Palembang dan pengecoran logam di Samarang mengalami kemunduran dan kemudian ditutup. Pasukan Demak, Samarang, dan Madura tidak lagi menggunakan bedil besar. Satu-satunya putera Ario Damar yang masih menggunakan bedil besar adalah Raden Kusen, Yang Dipertuan Terung. Dan kini, ketika keberadaan bedil besar sudah dilupakan orang, tiba-tiba saja terdengar kabar bahwa di Japara sedang dibangun pabrik mesiu baru, sekaligus dengan pengecoran logam untuk membuat bedil besar. Penggunaan senjata gurnita dalam pertempuran Caruban-Rajagaluh oleh pasukan Terung, rupanya sangat memukau Pangeran Sabrang Lor, anak menantu Raden Patah Adipati Demak, yang ikut terlibat pertempuran membela Caruban. Lantaran itu, tak lama setelah kembali dari Caruban, ia memerintahkan untuk membangun pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar di Japara dengan bantuan para ahli dari Palembang, Terung, Lawe, dan Kerala.

Kabar pembangunan pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar di Japara, bagi Abdul Jalil merupakan tengara yang mengisyaratkan pertumpahan darah antarmanusia di masa depan bakal lebih dahsyat dibanding masa-masa sebelumnya. Penggunaan senjata gurnita untuk menembaki kutaraja Rajagaluh sehingga bangunan-bangunan, pagar kuta, pohon-pohon, manusia, dan margasatwa habis terbakar, paling tidak adalah sebuah gambaran kebinasaan yang sempat mencengangkan Abdul Jalil. Padahal, kerusakan yang diakibatkan bedil besar tentu jauh lebih dahsyat dibanding gurnita, apalagi dibanding senjata-senjata jenis manjanik (pelontar api). Kini, senjata yang dahsyat itu, bedil besar, malah dibuat secara besar-besaran di Japara. Itu berarti, zaman kerusakan akibat datangnya pasukan Dajjal, yang disebut Ya�juj wa Ma�juj, sang perusak yang membawa senjata-senjata penyembur api, telah dekat. Zaman Ya�juj wa Ma�juj dengan bala tentaranya yang berkeliaran merusak bumi telah dekat, dekat, katanya dalam hati.

Ketika membayangkan kedatangan bala tentara Ya�juj wa Ma�juj yang ganas, yang melengkapi diri dengan senjata-senjata penyembur api, tiba-tiba Abdul Jalil tercekat kaget. Di benaknya tiba-tiba membayang bangunan-bangunan peracikan mesiu dan pengecoran bedil besar di bumi Japara. Jika orang-orang Japara membuat bedil besar, katanya dalam hati, apakah itu tidak mengandung makna bahwa mereka pun pada hakikatnya ikut andil dalam upaya merusak bumi. Sebab, penanda utama dari keberadaan Ya�juj wa Ma�juj adalah kawanan manusia yang menggunakan senjata penyembur api untuk menghancurkan bumi dan merampas kehidupan umat manusia.

Dengan pemikiran bahwa senjata-senjata yang disebut bedil besar adalah senjata penghancur yang digunakan Ya�juj wa Ma�juj, Abdul Jalil merasa dadanya sesak dan tenggorokannya kering. Ada semacam rasa sedih menggelayuti jiwanya saat mengingat prajurit-prajurit Japara yang gagah perkasa di medan tempur. Ia sangat menyayangkan bakal hilangnya jiwa ksatria dari pejuang-pejuang itu jika sudah menggunakan senjata bedil besar. Tanpa sadar ia menengadah dan mengangkat tangan ke atas sambil berdoa, �Ya Allah, jangan Engkau golongkan putera-putera kami ke dalam kawanan Ya�juj wa Ma�juj perusak bumi. Jangan pula Engkau jadikan putera-putera kami sebagai kawanan pembawa senjata penyembur api. Jangan Engkau berikan putera-putera kami kemenangan jika mereka menggunakan senjata-senjata penyembur api. Jadikanlah mereka sebagai umat yang membawa rahmat bagi alam semesta.�

Lantaran tidak ingin terkena pengaruh daya setani senjata penyembur api, yaitu senjata yang digunakan Ya�juj wa Ma�juj untuk merusak Kehidupan di muka bumi, usai berdoa Abdul Jalil meminta tukang perahu cepat-cepat meninggalkan Kadipaten Samarang tanpa singgah ke Demak maupun Japara. Ia meminta tukang perahu langsung ke pelabuhan Gresik. Kepada salah seorang warga Lemah Abang, ia mengirim pesan kepada Ki Saridin, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Japara, agar mengingatkan semua warganya untuk tidak dekat-dekat dengan orang-orang yang terlibat dalam pembuatan pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar tersebut.

Read More ->>

Rabu, 08 Februari 2017

KEANEHAN-KEANEHAN

Keanehan-Keanehan

Ketika gemuruh perubahan melanda Bumi Pasundan bagaikan bah membanjiri aliran sungai kehidupan, membobol kemandekan di Rajagaluh dan Dermayu, Abdul Jalil yang sedang berkeliling ke berbagai tempat di Rajagaluh untuk menyampaikan ajaran Sasyahidan tiba-tiba memutuskan kembali ke gubuknya di Lemah Abang. Ia menarik diri dari hiruk pikuk semangat perubahan manusia yang meluap-luap dan menyambar-nyambar dengan ganas itu. Ia menghindar dari gelegak semangat perubahan yang membuat orang-orang berkeliaran, berdesak-desakan, berhimpitan, jungkir balik, tumbang, bangkit kembali, dan kemudian berpacu menyongsong cakrawala baru yang penuh harapan. Ia ingin menjauh dari semua itu. Di dalam gubuknya yang selalu penuh sesak oleh murid-murid, ia sering terlihat duduk merenung menapaki jejak-jejak yang telah dilewatinya.

Di tengah perenungannya menapaki jejak-jejak perubahan yang berliku itu, Abdul Jalil menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat hatinya lega, namun sekaligus khawatir. Lega karena sebuah bentangan cakrawala baru yang gemilang dengan manusia-hewan dan manusia saling berpacu untuk mewujudkan diri menjadi adimanusia. Tetapi, ia juga khawatir karena di tengah gelombang perubahan itu ia melihat terbuka celah-celah bagi sebuah kemungkinan buruk, di mana manusia-manusia yang menjelma menjadi makhluk bayangan nirwujud dan adimanusia-adimanusia yang bakal menduduki puncak-puncak kekuasaan duniawi akan rawan terperosok ke jurang nista pemberhalaan diri sebagai fir�aun-fir�aun.

Di tengah perenungan menilai kembali liku-liku perubahan itu, tiba-tiba muncul Angga, wali nagari Kuningan, di gubuk Abdul Jalil. Kemenakan Sri Mangana itu dengan bingung mengungkapkan kerumitan hidupnya yang nyaris tak bisa diatasinya. Dia mengaku seperti orang yang dibelit ular raksasa gaib. Dia merasa seolah-olah terkungkung oleh kekuatan dahsyat tak kasatmata sehingga untuk bernapas pun sulit. �Semua seperti buntu. Ke mana pun aku hendak melangkah, yang aku temukan adalah bentangan tembok besar. Bahkan yang aku rasakan sekarang, aku seperti berada di dalam kuburan. Tubuhku seperti dihimpit bumi. Aku benar-benar tersiksa, o Saudaraku. Tolonglah aku. Aku tidak mau mati dalam keadaan tidak tahu arah seperti ini,� keluh Angga sambil memegangi kepalanya.

�Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu, o Saudaraku terkasih?� tanya Abdul Jalil.

�Aku ingin engkau membaiat aku. Bimbinglah aku ke jalanmu. Aku sangat yakin engkaulah yang bisa menolongku dari kesempitan yang kualami ini,� kata Angga sambil memegangi tangan Abdul Jalil.

�Apa yang engkau alami ini, menurut hematku, karena engkau telah banyak melupakan-Nya. Karena itu, kembalilah kepada-Nya. Ingatlah Dia sebanyak mungkin, niscaya engkau akan lepas dari penderitaanmu.�

�Aku sudah mengingat-Nya terus dengan bersembahyang. Malahan aku terus memanjatkan doa kepada-Nya. Tetapi, semua bagaikan buntu. Allah yang kusembah tidak menjawab doa-doaku. Padahal, menurut kakek, nenek, ibunda, ayahanda, dan guru agamaku, Allah itu Maha Pemurah. Maha Pengasih. Maha Mengabulkan doa. Kenyataannya, apa yang aku inginkan tidak ada yang terpenuhi sehingga aku jadi ragu dengan semua pelajaran agama yang telah kuperoleh sejak kecil,� kata Angga.

�Jika demikian, kenapa engkau mau minta bimbinganku? Bukankah yang akan aku sampaikan kepadamu tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah disampaikan keluarga dan gurumu?� Abdul Jalil balik bertanya.

�Tidak. Aku yakin yang akan engkau ajarkan tidak sama dengan mereka. Di tengah kesempitan yang menyesakkan ini aku justru melihat bayanganmu berkelebat memasuki ingatanku seperti cahaya matahari menerangi malam yang gelap gulita. Aku yakin isyarat yang aku terima itu benar, meski selama ini yang kuingat tentangmu adalah kecemburuan dan kebencian. Aku yakin hanya engkaulah yang bisa menunjukkan jalan Kebenaran sehingga aku terlepas dari himpitan kehidupan yang menyiksa ini,� kata Angga tiba-tiba merangkul lutut Abdul Jalil.

�Tegaklah dengan gagah menghadapi tantangan hidup, O Saudaraku,� kata Abdul Jalil menegakkan badan Angga. �Aku tidak keberatan membimbingmu ke jalan Kebenaran, asalkan engkau mau menerima syarat utamanya.�

�Apakah syarat itu, o Saudaraku?� tanya Angga ingin tahu.

�Pertama-tama, engkau harus keluar dari dirimu. Maksudku, engkau harus bersedia meninggalkan segala sesuatu yang engkau miliki di dunia ini, terutama keakuanmu yang kerdil. Sebab, keakuanmu yang kerdil itulah yang selama ini telah membuatmu keliru dalam memahami keberadaan-Nya.�

�Apa pun yang engkau tunjukkan akan aku jalankan, apa pun tantangannya.�

Sebagaimana prinsip Abdul Jalil bahwa masalah baiat adalah masalah kesadaran pribadi akibat tergugahnya hati nurani, ia pun membaiat Angga dan mengajarkan jalan lurus (sabil huda) sesuai ajaran Tarekat Akmaliyyah. Abdul Jalil berharap, dengan setia menekuni jalan yang diajarkannya, sang burung gagak akan menjelma sebagai rajawali, rajadiraja burung, pecinta angkasa kesunyian yang perkasa. Tetapi, keterbukaan Abdul Jalil dalam menerima Angga sebagai pengikut ruhani ternyata dianggap sebagai sesuatu yang kurang tepat sehingga menimbulkan ketidaksukaan pengikutnya yang lain. Beberapa murid terang-terangan menyatakan ketidakpahaman mereka terhadap kehadiran Angga di Lemah Abang, terutama dengan baiatnya sebagai pengamal Tarekat Akmaliyyah. Bahkan Liu Sung, pemuka suku Tungsiang Caruban yang selama perang dengan Rajagaluh ditugaskan menjaga Kuta Caruban, tiba-tiba datang ke Lemah Abang dan menyatakan keheranannya atas kesudian Abdul Jalil menerima Angga sebagai pengikut. �Kami khawatir dia akan melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji dengan membawa-bawa nama Tuan Syaikh. Itu akan merugikan semua orang, terutama Tuan Syaikh sendiri. Bukankah selama ini dia sudah sering mempermalukan Sri Mangana dengan tingkahnya yang tidak terpuji?� kata Liu Sung.

�Sesungguhnya, Angga hanyalah manusia sengsara yang menjadi korban dari lingkungan yang membentuknya. Sejak kecil dia hanya menjadi alat orang-orang sekitarnya untuk melampiaskan dendam sehingga dia kebingungan saat menerima akibat dari tindakan-tindakan yang tidak disadarinya,� Abdul Jalil menjelaskan.

�Apakah itu bukan akibat dia selalu dimanja oleh keluarganya?� tanya Liu Sung.

�Paduka Khalifah telah bercerita banyak kepadaku tentang Angga,� kata Abdul Jalil dengan suara perlahan. �Betapa sejak kecil Angga dan saudara-saudaranya sudah dicekoki oleh dendam dan kebencian terhadap kakeknya, Prabu Guru Dewata Prana, dan terutama kepada para pendeta kerajaan. Itu sebabnya, dalam setiap perbedaan sekecil apa pun dengan pihak kerajaan Sunda selalu ditanggapinya secara berlebihan, seolah-olah maharaja Sunda dan semua kekuatan pendukungnya adalah musuh utama yang harus dibinasakan.�

�Kenapa bisa begitu, Tuan Syaikh? Bukankah Prabu Guru Dewata Prana itu kakeknya? Kenapa pula dia sangat membenci pendeta-pendeta kerajaan?�

�Ini sebenarnya rahasia keluarga. Tetapi, kalau kita mengetahuinya maka kita akan paham kenapa Angga dan saudara-saudaranya begitu membenci kakek dan kerabatnya, terutama pendeta-pendeta kerajaan.�

�Bolehkah saya sedikit mengetahuinya?� tanya Liu Sung penasaran.

�Cerita kebencian keluarga Angga itu bermula dari kisah lama tentang nenek Angga yang bernama Jata Mernam, yaitu selir Prabu Guru Dewata Prana, yang oleh orang-orang Caruban dipanggil dengan nama Aci Putih. Sebutan Aci Putih itu sesungguhnya bukan tanpa alasan. Beberapa waktu sebelum kelahiran puterinya yang kelak diberi nama Dewi Siliwangi, Prabu Guru Dewata Prana bermimpi buruk bahwa dari dalam kratonnya tiba-tiba muncul mata air yang berbual-bual, yang makin lama airnya makin menggenangi seluruh kraton. Bahkan akhirnya air itu berubah menjadi bah yang melanda seluruh wilayah kerajaan. Maharaja dan keluarga beserta seluruh kawula hanyut tersapu bah. Mimpi buruk itu oleh para pendeta yang menjadi penasihat ruhaninya ditafsirkan sebagai suatu tengara buruk bagi kerajaan Sunda akibat tersiarnya agama baru. Mereka menganggap bah itu adalah agama baru, yaitu Islam. Dan, mata air itu adalah keluarga maharaja sendiri, yaitu selir bernama Jata Mernam, satu-satunya keluarga maharaja yang beragama Islam.�

Para pendeta menyatakan jika hal itu dibiarkan maka keturunan Jata Mernam akan menimbulkan kerusakan dan kebinasaan bagi kerajaan Sunda. Sebab, yang akan menentang agama baru itu bukan hanya para nayakapraja kerajaan, tetapi juga para bhuta yang tidak suka dengan agama baru tersebut. Lantaran itu, agar mimpi buruk itu tidak menjadi kenyataan, harus diadakan upacara kurban persembahan kepada para bhuta (bhutayajna). Dan sebagai korban persembahan (aci) untuk para bhuta, yang paling tepat adalah selir Prabu Guru Dewata Prana: Puteri Jata Mernam. Dengan demikian, tidak saja para bhuta akan bisa diredam kemarahannya, tetapi mata air itu dengan sendirinya tidak akan lagi mengalirkan sumbernya.

Dengan alasan demi keselamatan kerajaan dan seluruh kawula, Prabu Guru Dewata Prana akhirnya merelakan selirnya, Puteri Jata Mernam, dijadikan aci. Tetapi, dengan alasan Puteri Jata Mernam masih hamil maka pelaksanaan korban itu menunggu hingga ia dilahirkan. Demikianlah, setelah melahirkan seorang bayi perempuan yang dinamai Dewi Siliwangi, Puteri Jata Mernam dijadikan korban untuk para bhuta. Bayi Dewi Siliwangi dijauhkan dari kraton dengan cara dikembalikan kepada kakek dan neneknya, Haji Ma Huang dan Nyi Rara Rudra yang tinggal di Caruban.

Peristiwa mengorbankan Puteri Jata Mernam ini sangat memukul jiwa keluarga Haji Ma Huang dan Nyi Rara Rudra, bahkan penduduk Caruban yang beragama Islam. Lantaran itu, untuk menandai peristiwa tersebut penduduk Caruban sepakat menyebut Puteri Jata Mernam dengan nama Nyi Aci Putih, yang bermakna puteri suci yang menjadi korban persembahan bhutakala. Prabu Guru Dewata Prana sendiri oleh penduduk Caruban disebut dengan gelar Prabu Siliwangi, yaitu sebutan menurut nama puterinya yang lahir dari Puteri Jata Mernam. Hal itu dimaksudkan agar sang prabu selalu teringat kepada keberadaan puterinya, Siliwangi, sekaligus selalu mengingat peristiwa keji itu.

Dewi Siliwangi, ibunda Angga, dibesarkan oleh lingkungan orang-orang yang kecewa dan sakit hari dengan peristiwa itu. Lantaran itu, saat dewasa ia diam-diam menaruh dendam kepada ayahandanya yang sampai hati menjadikan ibundanya sebagai korban persembahan. Ketika ia menikah dan berketurunan, semua puteranya sejak kecil sudah diwarisi bibit kebencian kepada kakeknya, Prabu Guru Dewata Prana, yang dianggapnya sebagai pembunuh ibundanya. �Nah, dari cerita rahasia keluarga ini kita akan memahami kenapa Angga dan saudara-saudaranya begitu membenci kakeknya dan para pendeta kerajaan,� kata Abdul Jalil.

Liu Sung menarik napas berat. Sejenak setelah itu ia menggumam lirih, �Pantas saja Sri Mangana selama ini membiarkan Angga dan saudara-saudaranya bersikap memusuhi sanak kerabatnya sendiri sehingga terkesan ia memanjakan mereka. Rupanya, Sri Mangana bisa memahami hal itu dan memanfaatkannya untuk kepentingan mempertahankan kekuasaannya.�

�Sri Mangana memanfaatkannya untuk kepentingan kekuasaan?� Apa maksudmu?� tanya Abdul Jalil.

�Kami kira, penempatan ayahanda Angga sebagai gedeng di Kemuning dan pengangkatan Angga sebagai penguasa di Kuningan bukan tanpa maksud apa-apa. Tetapi, bukanlah hal itu bisa ditafsirkan bahwa dengan kebijakan itu Sri Mangana dengan cerdik dapat menjaga perbatasan Caruban dengan Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh?�

�Kalau itu, benar sekali. Bahkan karena alasan itu, perbatasan Caruban di selatan ditetapkan di Cigugur, yang mengandung makna suara gemuruh guruh (Sunda: gugur: guruh, gugur), lambang Rudra (Yang Berteriak), perwujudan Syiwa yang dahsyat dan akan menggugurkan semua kekuatan semua makhluk yang akan melintasinya. Sri Mangana seolah memberi peringatan kepada ayahanda dan para saudaranya agar mereka tidak melewati Cigugur. Sebab, Cigugur tidak saja mengandung perlambang nama Rudra, tetapi juga menyembunyikan lambang penderitaan dan rasa sakit hati ibunda Puteri Jata Mernam, Nyi Rara Rudra,� kata Abdul Jalil.

�Seperti itukah makna rahasia di balik nama Cigugur?� gumam Liu Sung terkagum-kagum. �Makanya, selama ini pasukan Galuh dan Talaga seperti tabu melintasi Cigugur. Bahkan kami dengar cerita, Angga dan pengawalnya yang lari ke Kuningan tidak diburu lagi oleh musuhnya ketika memasuki Cigugur. Sungguh mengagumkan kecerdikan Sri Mangana dalam menggunakan perlambang untuk menggetarkan nyali musuh-musuhnya.�

�Tahukah engkau tentang hikmah di balik peristiwa itu?�

�Tentu saja Tuan Syaikh yang lebih tahu.�

�Pertama-tama, tafsiran para pendeta atas mimpi Prabu Guru Dewata Prana itu benar, namun sedikit meleset. Sebab, mata air yang berbual-bual di dalam kraton yang bakal menjadi bah itu bukanlah Puteri Jata Mernam, melainkan putera Prabu Guru Dewata Prana yang lain, yaitu Pangeran Walangsungsang. Para pendeta keliru dalam menafsirkan mata air dengan perempuan dan pancuran dengan laki-laki sehingga Pangeran Walangsungsang luput dari bidikan tafsir mimpi mereka. Sekarang mimpi itu mewujud menjadi kenyataan. Mata air yang berbual-bual dari dalam kraton itu kini telah menjadi bah. Rajagaluh sudah diempaskan. Dermayu tergulung. Bahkan aku mengira, pada gilirannya nanti seluruh Bumi Pasundan, termasuk kraton Pakuan Pajajaran, akan tenggelam dilanda bah Islam yang disebarkan Pangeran Walangsungsang,� kata Abdul Jalil.

�Apakah itu berarti bahwa usaha apa pun yang dilakukan oleh manusia pada dasarnya tidak dapat menolak takdir Ilahi, begitukah Tuan Syaikh?� tanya Liu Sung.

�Itulah makna hakiki dari peristiwa itu,� tegas Abdul Jalil. �Pada dasarnya manusia tidak memiliki kehendak apa pun kecuali apa yang dikehendaki Allah (QS. at-Takwir: 29). Lantaran itu, sekeras apa pun perjuangan orang seorang dalam berusaha, menurut para arif billah, tidak akan menembus tirai takdir (sawabiq al-himami la takhriqu aswar al-aqdar).�

�Jika demikian, sungguh kasihan Angga dan keluarganya yang masih belum dibebaskan-Nya dari terkaman dendam yang merusak jiwa,� kata Liu Sung.

�Lantaran itu, aku menerima kehadirannya dengan rasa syukur dan kemudian memenuhi keinginannya untuk dibaiat. Aku yakin, kehadirannya ke sini bukanlah atas kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak-Nya jua. Aku yakin Allah akan mengakhiri semua dendam yang menguasai jiwanya dengan lantaran amaliah yang kuajarkan. Mudah-mudahan semua kotoran jiwa Angga akan bisa disucikan sehingga dia secepatnya sadar jika dendam kesumat itu hanya membuat rusaknya jiwa,� kata Abdul Jalil.

�Kami juga berharap demikian, Tuan Syaikh.�

Hari-hari selama di Lemah Abang, meski diliputi suasana tenang dan tenteram dengan gelak tawa dan canda ria orang-orang yang patuh dan selalu setia melayaninya, ternyata tidak mampu meredam gejolak jiwa Abdul Jalil yang laksana samudera diaduk badai. Di tengah panah waktu yang melesat, ia merasakan jiwanya seperti kapal yang terombang-ambing dipermainkan gelombang lautan ganas. Bahkan, jauh di kedalaman palung jiwanya ia merasakan tarikan dan sentakan yang menggerus pantai kesadarannya, seolah-olah terkaman kekuatan gaib yang akan melemparkannya dari gubuknya. Ia seolah-olah diseret oleh suatu kekuatan adiduniawi untuk pergi meninggalkan gubuknya tanpa alasan yang jelas. Apa yang dirasakannya sebagai sesuatu yang aneh ditangkapnya sebagai tengara bakal terjadi sesuatu yang akan membuatnya meninggalkan gubuknya, meski ia tidak tahu kapan hal itu akan terjadi.

Ketika ia mengaitkan antara gelegak jiwanya dan liku-liku perjalanan hidupnya di tengah arus perubahan yang telah dilaluinya, ia mendadak terkejut sendiri. Sebab, di hadapannya terpampang dengan jelas sebuah kenyataan yang mengejutkan dan membuatnya makin sadar diri akan kekurangannya. Ia menyaksikan kenyataan betapa tugas yang dijalankannya sebagai penyulut api perubahan belumlah tuntas. Pekerjaan besar untuk menata nilai-nilai kehidupan sebuah bangsa yang ambruk masih belum selesai. Kenyataan itu membuatnya sadar, sekalipun setiap usai memimpin sembahyang isya ia selalu mengajarkan kepada murid-muridnya tentang jalan lurus (sabil huda) bagi manusia di dalam menuju Kebenaran, yaitu jalan lurus yang membebaskan manusia dari rasa takut atas segala sesuatu selain Yang Mahabenar, yang membebaskan manusia dari keputusasaan, yang membebaskan manusia dari perangkap penderitaan dan kesengsaraan, yang membebaskan manusia dari kejahilan, yang membebaskan manusia dari khayalan sesat tentang Kematian maupun Kehidupan, yang menuntun manusia pada Kebenaran hakiki; pada kenyataannya ia tetap merasakan betapa semua itu masih belum cukup. Ya, ia merasa masih belum cukup memberi kepada manusia. Ia merasa selama ini masih belum cukup menyampaikan Kebenaran hakiki kepada manusia. Ia merasa betapa masih cukup banyak tugas yang diembannya dalam membentangkan cakrawala baru itu yang belum terselesaikan dan bahkan terbengkalai.

Sadar bahwa tugas belum selesai dan sesuatu yang tak menyenangkan bakal terjadi, Abdul Jalil buru-buru mengumpulkan mereka yang selama ini telah menunaikan tugas untuk mencatat dan menyusun cerita-cerita, dongeng-dongeng, adab, dan ajaran hidup yang berdasar Tauhid. Karya mereka itulah yang bakal digunakan untuk memperkuat nilai-nilai baru yang telah ditebarnya, yaitu nilai-nilai baru berdasar penghormatan dan keseimbangan yang bakal menggantikan nilai-nilai lama yang sudah tidak sesuai tuntutan perubahan. Di antara mereka itu adalah Raden Sahid, Raden Sulaiman, Ki Gedeng Pasambangan, Syaikh Abdul Malik Israil, Syaikh Bentong, Ki Sarajaya, dan Ki Luwung Seta. Ia merasa senang saat mengetahui mereka ternyata telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, meski belum sempurna.

Raden Sulaiman yang mendampingi Syaikh Bayanullah di Gunung Gundul telah mencatat cerita-cerita dan dongeng keislaman, Persia, dan Melayu. Raden Sulaiman menjelaskan, selama tinggal bersama Syaikh Bayanullah ia telah menyusun sejumlah naskah yang berkaitan dengan tarikh dan keteladanan Nabi Muhammad Saw. yang diberinya judul Babad Makah, Kitab Bayanullah, Hikayat Sayyid Abdullah, Nurbuat, Babar Nabi, Hikayat Nabi Muhammad, Carita Paras Nabi, dan Carita Nabi Nikah. Semua naskah masih ditulis dalam bentuk prosa dengan catatan-catatan. Raden Sahid yang selama beberapa waktu mendampingi Raden Qasim untuk mencatat cerita dan dongeng yang dituturkan Syaikh Bayanullah, mengaku pula bahwa ia telah menyusun sejumlah naskah yang berkaitan dengan kisah kepahlawanan dan pelajaran tasawuf. Ia telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Kitab Martabat Alam Tujuh, Tapel Adam, Kitab Nur Muhammad, Serat Menak, Suluk Rumeksa Ing Wengi, dan saduran Nawa Ruci.

Ki Gedeng Pasambangan mengaku telah mencatat cerita dan dongeng yang terkait dengan adab keluarga muslim. Ia telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Kitab Fatimah, Ilmu Adab, Kitab Piwulang Istri, Smaragama, Carita Panganten Tujuh, Doa dan Mantra Kaluwarga, Doa Istifal, Doa Gua Hira. Syaikh Abdul Malik Israil mengaku telah menyusun cerita dan dongeng serta tuntunan amaliah yang terkait dengan Bani Israil. Ia telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Carita Nabi Yusuf, Sajarah Para Anbiya, Tujuh Asma� Suryaniyyah, Asma� Qamar, Asma� Asha Musa, Doa Nabi Sulaiman, Doa Nabi Daniyyal, dan saduran Kitab Jaljalut. Sementara Syaikh Bentong menyusun naskah yang terkait dengan pranata mangsa dan dongeng Campa. Ia mengaku telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Primbon Palintangan, Primbon Mujarobat, Doa Dzulfaqor, Mantra Tulak Bala, Kitab Ayat Lima Belas, Kitab Ayat Pitu, dan Pantun Sang Kodok.

Abdul Jalil gembira mengetahui naskah-naskah yang dibutuhkannya sebagai salah satu sandaran perubahan nilai-nilai itu telah tersusun, meski masih dalam bentuk prosa dan sebagian masih belum selesai. Dengan suara berkobar-kobar penuh semangat ia berkata, �Ibarat orang maju ke medan perang, semua naskah itu adalah senjata ampuh yang akan menjadi salah satu penentu kemenangan. Lantaran itu, yang kita butuhkan sekarang adalah para prajurit yang unggul dan pandai dalam menggunakan senjata tersebut.�

�Tapi, bagaimana caranya? Apakah naskah itu ditulis dalam jumlah banyak dan kemudian disebarkan ke berbagai tempat?� tanya Abdul Malik Israil.

�Tentu saja tidak mungkin melakukan cara itu,� kata Abdul Jalil. �Sebab, penduduk di Pasundan dan Majapahit yang bisa baca dan tulis hanya kalangan kraton. Padahal, kita ingin menyebarkan ini ke seluruh penduduk. Menurutku, semua naskah harus disebarkan dari mulut ke mulut hingga dipahami semua orang.�

�Aku belum paham maksudmu, o Saudaraku,� kata Abdul Malik Israil.

�Pertama-tama, kita harus mengubah sebagian naskah itu ke dalam bentuk sastra yang mudah dipahami kalangan bawah. Untuk itu, aku akan minta kepada dua orang kepercayaanku, Ki Sarajaya dan Ki Luwung Seta, untuk menuangkan naskah-naskah itu ke dalam bentuk tembang sederhana seperti smaradhana, sinom, lambang, durma, pangkur, pucung, gambuh, kinanthi, dandang gendis, dan megatruh. Setelah itu, kita akan memperbanyak pamancangah menmen, yaitu tukang dongeng keliling yang bertugas menjajakan cerita dan dongeng dari naskah-naskah tersebut kepada penduduk,� kata Abdul Jalil.

�Aku sangat setuju dengan cara itu. Aku sendiri sudah menyiapkan sejumlah muridku untuk tugas itu,� tukas Syaikh Bentong. �Tapi, bagaimana dengan bekal kehidupan mereka selama menjalankan tugas?�

�Tentu saja dari kita,� kata Abdul Jalil. �Selama ini aku sudah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membiayai Raden Sahid dan kawan-kawannya yang berkeliling di pedalaman sebagai pamancangah menmen. Jika ada yang bertanya dari mana aku beroleh uang dan perhiasan? Aku katakan, sebagian aku dapat utang dari Li Han Siang dan sampai sekarang belum lunas.�

Syaikh Abdul Malik Israil yang mendengar ucapan Abdul Jalil tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian dengan menahan geli dia berkata, �Kehendak Allah memang aneh dan sering tak bisa dipahami. Orang-orang yang memiliki iktikad baik untuk berkhidmat kepada masyarakat justru diberi kesempitan dalam kebutuhan duniawi sehingga berutang kesana-kemari. Sementara orang yang berkhidmat kepada diri pribadi justru dilimpahi perbendaharaan duniawi hingga jiwanya terkubur di bawah benda-benda. Aneh sekali. Aneh.�

Read More ->>

Senin, 06 Februari 2017

KESADARAN BURUNG

Kesadaran Burung

Kesadaran burung adalah kesadaran yang diperoleh seorang penempuh (salik) selama tahap-tahap perjalanan ruhani melampaui kedudukan (maqamat) menuju Kesatuan (Tauhid). Bagaikan seekor burung, seorang salik yang sudah mencapai tahap ini akan menyaksikan dunia sebagai tempat hinggap sementara dan dapat ditinggalkan kapan pun dikehendaki. Segala sesuatu yang terkait dengan kecintaan terhadap dunia (hubb ad-dunya) sudah menyingsing bagaikan matahari menyeruak di tengah gumpalan awan hitam. Dunia telah menjadi sesuatu yang rendah di bawahnya. Pada tahap ini sang salik akan merasakan getar-getar cinta (hubb) seorang pecinta (muhibb) untuk mengarahkan pandangan kepada Kekasih (Mahbub) sehingga yang lain (ghair) akan terabaikan.

Kesadaran burung adalah kesadaran sang salik melihat dunia sebagai sekadar tempat berpijak untuk hinggap, makan, istirahat, bermadu kasih, tidur, dan bersarang. Atau, kesadaran makhluk berkedudukan tinggi yang selalu mengarahkan pandangan ke hamparan kehidupan di bawahnya. Atau, kesadaran untuk selalu melimpahkan segala sesuatu dari atas tanpa pernah menengadah dari bawah. Atau, kesadaran untuk selalu memberi tanpa pernah meminta. Atau, kesadaran seorang salik yang sudah di ambang batas antara alam kasatmata dan alam tak kasatmata. Atau, kesadaran untuk memaknai angkasa kosong sebagai Tujuan akhir dari Kebebasan yang didambakannya, meski sayap-sayapnya telah patah dan tubuhnya terbanting menjadi bangkai di muka bumi. Di atas semua gambaran itu, mereka yang sudah memiliki kesadaran burung adalah cermin dari jiwa merdeka yang tak sudi bertekuk lutut kepada sesama, meski kepadanya disediakan sangkar emas dan limpahan makanan.

Meski kesadaran burung nilainya lebih tinggi dibanding kesadaran hewan melata dalam rentang perjalanan ruhani seorang salik, kesadaran burung masih terjenjang berdasarkan tingkat-tingkat kedudukan (maqamat) yang mencitrai makna keburungan. Ada kesadaran burung gagak yang tak mampu terbang tinggi dan jauh: itulah kesadaran yang masih tercekam lingkaran angan-angan (al-wahm) yang memunguti serpihan-serpihan bangkai kamalasan dan cepat lupa diri jika dipuji-puji. Ada kesadaran burung merak yang tak mampu terbang tinggi dan jauh: itulah kesadaran yang cenderung membusungkan dada dan membentangkan bulu-bulu untuk memamerkan keindahan citra dirinya sebagai yang terbaik dan terindah di antara segala burung. Ada pula kesadaran bangau yang pintar bertutur kata, namun cenderung memuji diri dan selalu memamfaatkan �udang-udang� yang percaya pada ucapannya.

Pada tingkat-tingkat kedudukan selanjutnya ada yang disebut kesadaran burung beo, yang cenderung bangga dan berpuas diri bisa berkata-kata menirukan kata-kata orang bijak tanpa tahu maknanya. Ada kesadaran burung pipit yang cenderung berbangga diri hidup dalam kawanan-kawanan dan kemudian membanggakan kawanannya sebagai yang paling baik dan benar. Ada kesadaran burung merpati yang meski mampu terbang tinggi dan jauh, cenderung gampang terbujuk oleh kemapanan sehingga menjadi hewan peliharaan yang jinak. Yang tergagah dan terperkasa adalah kesadaran burung rajawali; sebuah kesadaran yang terbang tinggi dan jauh di tengah kesenyapan angkasa, berkawan kesunyian dan keheningan, bersarang tinggi di puncak tebing karang, tidak makan jika tidak lapar, tidak minum jika tidak haus, dan selalu bertasbih memuji Penciptanya dengan suara garang digetari makna rahasia: haqq�haqq�haqq!

Raden Ketib yang sadar dirinya telah memiliki kesadaran burung sering merasakan kegamangan ketika belajar terbang mengepakkan sayap jiwanya menembus angkasa luas tanpa batas. Ia gamang karena belum tahu apakah kesadaran yang dimilikinya itu kesadaran gagak, bangau, merak, pipit, beo, merpati, atau rajawali. Ia hanya merasa telah menjadi seekor burung yang setiap saat dengan ringan dapat terbang meninggalkan bumi. Di tengah kegamangan itulah ia menyaksikan angkasa sekitarnya penuh dilintasi kelebatan burung yang mengepakkan sayap-sayapnya dengan suara gemuruh; burung gagak hitam, burung bangau yang putih, burung merak yang aneka warna, burung beo yang hitam dengan jambul kuning, burung pipit yang coklat, burung merpati yang kelabu, dan burung rajawali yang coklat bersalut putih.

Di tengah kelepak sayap burung-burung yang terbang memenuhi angkasa itu, tanpa terduga dan terbayangkan sebelumnya tiba-tiba Raden Ketib menyaksikan bayangan Sang Maut membentangkan sayap di atas angkasa Nusa Jawa bagaikan bayangan burung raksasa yang mengerikan. Peristiwa menakjubkan itu disaksikannya ketika ia melakukan perjalanan dari kediaman Pangeran Fadhilah Khan di Caruban ke kediaman Raden Sahid, Susuhunan Kalijaga, di Demak. Sepanjang perjalanan yang dilakukannya itu, baik dengan perahu maupun dengan berjalan kaki, ia terus-menerus mendengar berbagai cerita tentang Sang Maut yang rakus dan tak kenal puas menghirup napas kehidupan yang berpusar-pusar di tengah kelebatan pedang, tombak, panah, dan keris pusaka yang tersebar di gunung, lembah, bukit, hutan, sawah, desa, dan kuta di Nusa Jawa. Bahkan, saat berada di Demak ia mendengar jeritan Sang Maut begitu mengerikan seolah-olah ledakan halilintar yang membelah cakrawala jiwanya.

Para pelaut menuturkan kepadanya, meski Sang Maut tidak seganas dan serakus tahun-tahun sebelumnya, napas kehidupan yang dihirup-Nya pada tahun-tahun belakangan masih menggemakan tembang Kematian di berbagai sudut Nusa Jawa. Di tanah Blambangan yang membentang di timur Nusa Jawa, tembang Kematian masih terdengar mengharu biru di tengah kelepak sayap Sang Maut yang menggemuruh di Pajarakan, Besuki, dan Demung. Sementara para pedagang di pedalaman menuturkan, di tanah Pasir yang menghampar di selatan Nusa Jawa, Sang Maut tengah mengumandangkan kidung Kematian di Bocor, Wirasabha, dan Maron. Melalui pandangan mata batin (�ain al-bashirah), Raden Ketib memang menyaksikan Sang Maut mengejawantahkan keberadaan-Nya laksana hamparan mendung kelabu tersalut cahaya subuh dengan berjuta sayap Kematian mengambang di cakrawala.

Ketika Raden Ketib menjumpai para kawi yang bijak dan waskita sepanjang perjalanan ke Demak, ia beroleh petunjuk bahwa sejak zaman purwakala Sang Maut telah menampakkan kesetiaan dan kecintaan pada Nusa Jawa. Kesetiaan Sang Maut laksanan kesetiaan burung raksasa Kematian di alam dongeng yang setia menunggu Pohon Kehidupan tempatnya bersarang. Selama puluhan abad Sang Maut dengan keganasan tiada tara nyaris tak pernah beranjak dari pohon Kehidupan yang disebut Nusa Jawa. Dari waktu ke waktu, Sang Maut dengan kerakusan menakjubkan menggelar pesta darah, menyantap penghuni Nusa Jawa bagaikan burung raksasa Kematian menyantap kawanan ulat yang memenuhi penjuru pohon.

Aneh, tutur para kawi nan bijak, manusia-manusia penghuni Nusa Jawa yang bagaikan kawanan ulat itu secara ajaib tidak pernah habis, meski dijadikan santapan dalam pesta darah Sang Maut. Ulat-ulat itu terus berdatangan ke Pohon Kehidupan Nusa Jawa. Dengan beriap-riap mereka bermunculan dari pohon-pohon sekitar, seolah-olah sengaja menyuguhkan diri untuk disantap. Demikianlah, sang burung raksasa Kematian akhirnya tak pernah beranjak pergi dari Pohon Kehidupan yang menyuguhkan santapan lezat. Sambil berkicau dan menjerit-jerit garang sang burung raksasa Kematian menyantap dengan lahap manusia-manusia ulat penghuni Pohon Kehidupan Nusa Jawa sebagai makanan kesukaan-Nya.

Kepada Raden Ketib para kawi menuturkan, sejak zaman purwakala Sang Maut telah beribu-ribu kali menjadikan penghuni Nusa Jawa sebagai hidangan lezat dalam pesta darah. Tidak satu pun penghuni Nusa Jawa yang ingat berapa kali perhelatan pesta darah dilakukan. Mereka hanya bisa menandai bahwa citra Kematian bagi penghuni Nusa Jawa adalah berwarna merah laksana darah yang tumpah pada pesta tersebut. Para kawi sejak zaman purwakala menggambarkan kegemaran Sang Maut menyantap penghuni Nusa Jawa itu sebagai kegemaran penghuni Nusa Jawa mengunyah buah pinang dan sirih yang mengeluarkan cairan berwarna merah. Kematian mereka gambarkan sama merahnya dengan air kunyahan sirih dan pinang. Kematian adalah darah. Kematian adalah air kunyahan sirih. Kematian adalah air kunyahan pinang. Kematian adalah merah. Lantaran itu, kata pejah (Jawa Kuno: mati), mengandung perlambang yang sama dengan kata pejah (Jawa Kuno: pinang) yang jika dikunyah menghasilkan air berwarna merah. Kata seda (Jawa Kuno: mati) pun mengandung makna perlambang yang sama dengan kata alirkan air berwarna merah. Bagi penghuni Nusa Jawa, Kematian adalah darah merah. Darah adalah Kematian. Kematian adalah merah. Merah adalah Kematian.

Di tengah kegemaran Sang Maut mengunyah penghuni Nusa Jawa bagaikan kegemaran mereka mengunyah pinang dan sirih, di tengah kuatnya kesan bahwa Kematian adalah darah dan merah, tiba-tiba muncul seorang guru manusia yang dengan aneh mengajarkan manusia untuk �belajar mati�, �belajar mengakrabi Kematian�, dan �mencintai Sang Maut�. Aneh memang. Di tengah orang-orang yang takut dengan Kematian justru ada yang menyampaikan ajaran sebaliknya. Guru manusia itulah yang dikenal dengan nama Syaikh Datuk Abdul Jalil atau masyhur dengan sebutan Syaikh Lemah Abang (tanah merah), Syaikh Sitibrit (tanah merah), Syaikh Jabarantas (yang berpakaian compang-camping), dan Susuhunan Binang (raja merah), yang semuanya merujuk dengan kata merah: lambang Kematian.

Keanehan ajaran Syaikh Lemah Abang tentang Sang Maut dan Kematian di tengah orang-orang yang akrab dengan Kematian ternyata telah menimbulkan berbagai kesan dan pandangan beragam dari mereka yang belum mengenal secara dekat baik pribadi maupun ajaran sang guru manusia tersebut. Ada yang menganggap Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan ajaran sesat: mati adalah hidup dan hidup adalah mati. Ada pula yang menganggap Syaikh Lemah Abang sesat karena telah menyuruh pengikutnya untuk bunuh diri mencari mati. Bahkan, tak kurang ada yang beranggapan Syaikh Lemah Abang adalah Kematian itu sendiri, titisan Hyang Yamadipati Sang Pencabut Nyawa, sehingga siapa pun yang berdekatan dengannya akan mati. Kematian adalah merah. Merah adalah Kematian. Lemah Abang yang bermakna tanah merah adalah tanah Kematian. Lemah Abang adalah tanah larangan, mala ning lemah, yang harus dijauhi.

Ketumpangtindihan dan kegandaan makna kata dalam bahasa Jawa, yang cenderung dikait-kaitkan dengan kerangka pikir otak-atik mathuk, itulah yang ditangkap Raden Ketib ketika ia beroleh penjelasan tentang liku-liku hidup Syaikh Datuk Abdul Jalil dari Raden Sahid yang dijumpainya di Selamirah (batu merah) di kaki Gunung Chandramukha (Merbabu). Rupanya, menurut kesan Raden Ketib, liku-liku hidup Raden Sahid tak jauh berbeda dengan mertuanya, Syaikh Datuk Abdul Jalil. Maksudnya, meski orang mengatakan Syaikh Datuk Abdul Jalil tinggal di Lemah Abang, kenyataan menunjuk bahwa guru manusia itu selalu berkeliaran ke mana-mana untuk menyampaikan ajarannya. Hal serupa menunjuk pula pada Raden Sahid. Kadilangu yang dianggap sebagai kediaman Raden Sahid ternyata hanya merupakan kediaman istri dan putera-puterinya. Raden Sahid sendiri nyaris tak pernah berada di rumah, karena mengikuti jejak mertuanya untuk menyampaikan ajaran Tauhid kepada manusia-manusia yang berada di dalam kegelapan akal dan budi yang diliputi karat kejahilan. Lantaran itu, Raden Sahid dikenal dengan sebutan masyhur Syaikh Malaya (guru ruhani pengelana).

Di bawah cahaya rembulan yang menerangi punggung Gunung Chandramukha, di dalam bayangan atap balai-balai yang berdiri di antara batang-batang pohon randu alas di ujung desa Selamirah, di tengah terkaman rasa dingin malam, Raden Ketib duduk bersila di atas hamparan lampit (tikar rotan). Di hadapannya tersuguh aneka kue lezat yang disediakan murid Raden Sahid, Ki Luwung Salawe (Jawa Kuno: kehampaan sebesar benang), yang menemaninya selama menunggu Raden Sahid. Meski dua belas jenis penganan lezat seperti juwadah, ketan srikaya, arang kambang, serabi, sagon, cucur merah, cucur putih, ketan, wajik, buah jeruk, durian, dan kepundung yang terhidang di depannya sangat menarik selera dan mengandung makna perlambang, Raden Ketib justru sangat terkesan dengan penampilan sederhana lelaki setengah baya itu. Ia menangkap sasmita bahwa Raden Sahid sengaja menguji dirinya dengan perlambang Ki Luwung Salawe dan kedua belas jenis penganan yang disuguhkan itu. Lantaran itu, setelah saling diam beberapa jenak, Raden Ketib bertanya kepada Ki Luwung Salawe, �Maaf Paman, jika boleh tahu, apakah makna perlambang di balik dua belas jajanan yang Paman suguhkan ini?�

Ki Luwung Salawe tersenyum sambil mengangguk-angguk dan berkata dengan nada menguji, �Bagaimana Raden bisa mengira bahwa jajanan yang kami suguhkan memiliki makna perlambang?� �

Saya tidak tahu, Paman,� jawab Raden Ketib polos. �Saya hanya menangkap sasmita bahwa jajanan itu mengandung makna perlambang. Bahkan nama Paman, Luwung Salawe, pun menurut penangkapan saya memiliki makna perlambang yang sangat dalam. Jadi, saya merasa Kangjeng Susuhunan memberi pelajaran kepada saya melalui perlambang-perlambang. Karena itu, saya mohon agar Paman berkenan menerangkan makna perlambang di balik dua belas jenis jajanan ini.� �

Saya tidak akan memaparkan secara rinci tentang makna masing-masing perlambang, tetapi dua belas jajanan itu adalah perlambang pancaran Ahmad bila mim dalam tujuh selubung nafsu manusia, yaitu hayawaniyyah, musawwilah, ammarrah, lawwammah, mulhamah, muthma�innah, wahidah, dan lima tahap pemunculannya menjadi manusia sempurna (insan kamil), yaitu alfah, khasafah, antifah, amarullah, Ahmad.� �

Terima kasih, Paman. Saya sudah paham. Saya paham jika tahap kemunculan Ahmad bila mim sebagai Ahmad sang manusia sempurna tidak bakal terwujud tanpa melalui Luwung Salawe,� kata Raden Ketib. �

Begitu juga ketika Ahmad terserap kembali ke dalam liputan Ahmad bila mim mesti melalui Luwung Salawe,� ujar Ki Luwung Salawe.

Ketika Raden Ketib akan berkata-kata lebih lanjut, terdengar suara orang berdeham dari arah rumah. Raden Ketib menoleh. Di ujung pintu ia melihat Raden Sahid berjalan dengan langkah mantap ke arahnya. Ki Luwung Salawe berdiri dan bergegas ke dalam lalu keluar lagi dengan membawa cerana tempat sirih. Saat Raden Sahid duduk berhadap-hadapan dengan Raden Ketib, Ki Luwung Salawe menempatkan cerana sirih di depannya dan kemudian menghilang ke dalam rumah. Setelah duduk beberapa jenak, Raden Sahid menatap mata Raden Ketib seolah-olah hendak mengukur pedalamannya.

Raden Sahid yang masyhur dikenal orang dengan sebutan Syaikh Malaya adalah laki-laki sederhana, namun diliputi kewibawaan besar. Usianya kira-kira lima puluh tahun lebih sedikit. Tubuhnya lebih tinggi dan lebih tegap dibanding orang Jawa pada umumnya. Kulitnya coklat kemerahan seperti tembaga. Wajahnya bulat seperti memancarkan cahaya keagungan. Hidungnya mancung dengan hiasan kumis tebal di bawahnya. Alisnya yang tebal melengkung laksana pedang. Matanya yang lebar berkilat-kilat memancarkan kewaskitaan rajawali. Sekepal janggut yang menggantung di dagunya menambah kesempurnaan citra seorang guru suci. Pakaian yang dikenakannya sangat sederhana sebagai layaknya orang kebanyakan: baju, celana, jubah, dan destar warna hitam terbuat dari bahan kain kasar. Kain batik kawung yang menutupi bagian bawah tubuhnya terbuat dari bahan kain kasar. Ikat pinggang lebar yang dikenakannya pun terbuat dari bahan kulit yang kasar. Hanya sebilah keris bergagang gading dengan serasa emas yang diselipkan di perutnya yang menjadi penanda bahwa dia bukanlah orang dari kalangan kebanyakan.

Duduk berhadapan beberapa jenak di hadapan Raden Sahid yang berpenampilan bersahaja itu, Raden Ketib merasakan semacam getar kewibawaan seekor harimau menerkam jiwanya. Ia merasakan semacam rasa gentar, galau, kikuk, dan ketundukan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lantaran itu, saat Raden Sahid mempersilakannya menikmati kue-kue yang disuguhkan, ia hanya mengangguk sambil tersenyum blingsatan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Ia hanya menunggu dengan menatap lantai di depannya dengan dada terasa berdebar-debar. Ketika Raden Sahid mengambil sedah (sirih), hapu (kapur), peja (pinang) dan mempersilakannya, barulah ia mengambil sirih dan mengunyahnya. Setelah meludah beberapa kali ke dalam cerana, Raden Sahid pun berkata dengan suara penuh wibawa. �

Jika engkau ingin menangkap citra Syaikh Datuk Abdul Jalil, o kulup, hendaknya engkau mengambil gambaran alam yang tergelar di hadapanmu sebagai perlambang. Jika engkau melihat deretan pohon randu alas yang tegak di depanmu, hendaknya engkau menangkap makna yang sama dari kehidupan manusia yang saling berusaha meninggikan keberadaan diri seperti pohon-pohon yang tegak menjulang itu. Sebab, di tengah pohon-pohon yang tegak meninggi itu Syaikh Datuk Abdul Jalil telah membiarkan dirinya menjadi tanah yang dijadikan tumpuan bagi tegaknya pohon-pohon tersebut. Ya, tanah yang membiarkan pohon-pohon yang tinggi maupun yang rendah tumbuh di atasnya. Tanah yang membiarkan dirinya diinjak-injak dan dilukai oleh para penanam. Tanah yang selalu bersedia merangkul kayu-kayu tumbang yang membusuk. Tanah yang menjadi tumpahnya darah para makhluk di atasnya sejak lahir hingga mati. Tanah yang tak pernah dihargai, tetapi sangat dicintai dan diperebutkan oleh para penghuninya.� �

Jika engkau sudah paham bahwa gambaran Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah tanah maka engkau akan paham bahwa mereka yang menganggapnya sebagai pohon lebat yang berbuah telah keliru dalam memaknai keberadaannya. Sebab, makna di balik perlambang sebatang pohon yang tinggi adalah semakin ia bergerak naik ke atas hingga pucuknya menjulang ke angkasa maka semakin dalam pula akarnya menyusup ke bumi menuju ke dalam kegelapan. Begitulah manusia yang berusaha bermegah-megah ke puncak kemasyhuran, sesungguhnya pada saat yang sama ditarik oleh naluri kegelapan jiwanya ke dalam lubang kejahatan di dalam jiwanya. Itu sebabnya, Syaikh Datuk Abdul Jalil menolak usaha bermegah-megah diri. Sebaliknya, ia berjuang keras membiarkan keberadaan dirinya sebagai tanah sehingga jejak-jejak kemanfaatan hidupnya tak pernah diketahui orang lain, kecuali mereka yang memahami hakikat pohon-pohon dan tanah.� �

Hidup manusia memang seibarat pohon. Semakin ia berusaha meraih Kehidupan sempurna dan abadi bagaikan pohon tumbuh tegak menjulang ke atas, maka kegelapan dan Kematian akan menariknya ke bawah bagaikan akar-akar pohon menembus kegelapan bumi. Itu sebabnya, Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan tentang Kematian agar tumbuh bersemi Kehidupan yang sempurna dan abadi. Kematian dan Kehidupan saling menarik ibarat akar dan pucuk. Di tengah tarik-menarik itulah cakrawala kehidupan manusia akan diwarnai perubahan-perubahan tatanan, sebagaimana pohon-pohon memiliki citra musim yang terus berubah.� �

Apakah itu berarti para pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil tidak boleh terikat dengan keberadaannya, sebagaimana para salik tidak boleh terikat pada duniawi?� tanya Raden Ketib. �

Engkau sudah memahaminya, o kulup,� kata Raden Sahid bijak. �Sebagai seorang pengajar Tauhid, ia telah berjuang keras untuk mendobrak semua sekat yang menghijab Sang Ahad. Lantaran itu, ia telah menegakkan rambu-rambu bagi para pengikutnya agar tidak menempatkan dirinya sebagai hijab bagi Kebenaran. Tentang usahanya mendobrak sekat-sekat hijab itu, pernah aku alami dengan penuh kebingungan setelah aku mengikuti perjalanan bersamanya selama lima tahun mengembara ke berbagai tempat.� �

Sungguh kami merasa beruntung jika Paduka berkenan menuturkan hal tersebut kepada kami,� pinta Raden Ketib berharap. �

Terus terang, sepanjang mengikuti perjalanan membuka dukuh-dukuh bercitra mandala dan mengajarkan Sasyahidan di berbagai tempat di Nusa Jawa, aku sudah seperti anaknya sendiri. Aku malah sudah menganggapnya sebagai pembimbing ruhaniku yang sejati. Aku menganggapnya sebagai mursyid pengejawantahan ar-Rasyid, yang menjadi jalan bagiku menuju Kebenaran (al-Haqq). tetapi, saat aku sudah begitu meyakini anggapanku itu, tiba-tiba ia mengusirku dan tidak mau lagi aku ikuti. Semula aku terkejut dan bingung sebab aku tidak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga aku diusir dan tidak diperbolehkan lagi mengikuti perjalanannya. Saat itu aku rasakan dunia ini seperti runtuh. Aku hampir putus asa. Dan pada detik-detik krisis kepercayaan terhadap diri sendiri itulah tiba-tiba aku ingat akan ajarannya tentang Ngalah (tawakal), yakni memasrahkan segala urusan kepada Gusti Allah.� �

Akhirnya, dengan bekal Ngalah itulah aku hadapkan kiblat hati dan pikiranku hanya kepada Allah. Seluruh keraguanku kusingsingkan. Seluruh keinginanku kusingsingkan. Bahkan, seluruh gantungan harapanku kusingsingkan. Saat semua menyingsing, terbukalah hijab demi hijab yang menyelubungi Kebenaran. Saat itulah aku beroleh pencerahan ruhani sebagaimana yang pernah engkau alami saat mencapai kesadaran burung. Dan ternyata, saat itu pula Syaikh Datuk Abdul Jalil datang menemuiku sambil berkata, �Sesungguhnya, aku mengusirmu dengan tujuan utama agar aku tidak menjadi hijab antara engkau dan Dia.� Saat itulah aku baru sadar tentang ketinggian martabatnya sebagai pengajar Tauhid. Bahkan, setelah itu ia menikahkan aku dengan puterinya Zainab. Sebagai lambang keberhasilanku dalam beroleh pencerahan, ia mengganti nama Zainab menjadi Ratu Arafah.� �

Kami pernah mendengar bahwa Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan martabat tujuh dan membagi kedudukan pengikut-pengikutnya ke dalam jenjang-jenjang kedudukan. Apakah pernikahan Paduka dengan puterinya yang dinamai Ratu Arafah itu memiliki keterkaitan makna dengan kedudukan Paduka sebagai pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil?� tanya Raden Ketib dengan rasa ingin tahu berkobar-kobar.

Raden Sahid terdiam. Beberapa kali dia menarik napas panjang. Sejenak setelah itu dia berkata, �Sesungguhnya, beliau tidak pernah membagi-bagi kedudukan pengikut-pengikutnya. Tetapi, pengikut-pengikutnya sendirilah yang telah membagi-bagi kedudukan masing-masing berdasar tingkatan maqam, yang hal itu dilakukan sangat rahasia. Yang tertinggi di antara pengikut-pengikut adalah yang digolongkan ke dalam kelompok Ahadiyyah, kemudian kelompok Wahdat, kelompok Wahidiyyah, dan seterusnya.� �

Bolehkah kami mengetahui salah satu di antara mereka itu, o Paduka Guru?� pinta Raden Ketib. �

Salah satu di antara pengikutnya yang menggolongkan diri ke dalam kelompok Ahadiyyah adalah Pangeran Karucil (Jawa Kuno: belanga kecil), bangsawan asal Blambangan yang mengajarkan Tauhid di Gunung Argapura. Ia dikenal dengan nama Syaikh Akadiyat. Yang tergolong ke dalam kelompok Wahdat salah satunya adalah Susuhunan Wahdat Cakrawati, ahli wahdat, yang mengajarkan Tauhid di Bonang, Tuban, Komalasa, dan Karang Kemuning. Yang tergolong kelompok Wahidiyyah salah satunya adalah Pangeran Pringgabhaya yang mengajarkan Tauhid di Pamotan. Yang cukup banyak di antara kelompok-kelompok tersebut adalah dari kelompok Wahidiyyah. Mereka menjadi pengajar Tauhid hingga ke luar Nusa Jawa. Bahkan, belakangan aku mendengar kabar ada lagi kelompok ruwahan (arwah), yang dipimpin Kyayi Jasim Latif di Kabumian dan Kyayi Mujasim di Mataram,� kata Raden Sahid. �

Murid-murid Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajar hingga ke luar Nusa Jawa?� gumam Raden Ketib heran. �

Ya, terutama setelah ajarannya dilarang pada masa awal pemerintahan Tranggana, sultan Demak yang sekarang. Saat itulah pengikut-pengikutnya meninggalkan kampung halaman dan menebar ke berbagai tempat di bumi Allah. Sebagai tanda bahwa mereka adalah pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil, mereka menamai kediaman barunya dengan Lemah Abang, Tanah Merah, Batu Merah, Sela Mirah, Lemah Putih, Batu Putih, Lemah Ireng, Kemuning, Karang Kemuning, dan Kajenar,� ujar Raden Sahid. �Kenapa ada merah, putih, hitam, dan kuning? Bukankah beliau hanya membuka Dukuh Lemah Abang?� �

Sesungguhnya, yang ia buka bukan hanya Dukuh Lemah Abang, melainkan empat jenis dukuh yang di masa silam dikenal dengan sebutan caturbhasa mandala. Ia mendirikan mandala-mandala yang dijadikan sebagai tempat berpijak bagi ajaran Islam di Nusa Jawa. Tetapi, karena dukuh pertama yang ia buka adalah Lemah Abang maka ia dikenal orang dengan sebutan Syaikh Lemah Abang,� papar Raden Sahid. �

Mohon ampun Paduka Guru, apakah sesungguhnya makna sejati dari nama Lemah Abang?� Raden Ketib ingin tahu. �Sebab, banyak tempat yang bernama Lemah Abang, namun ternyata tanahnya tidak merah. Selain itu, kenapa pula Syaikh Datuk Abdul Jalil disebut pula dengan nama Syaikh Siti Jenar yang bermakna sang guru ruhani dari tanah kuning? Apakah makna merah dan kuning di dalam nama yang disandangnya?�

Raden Sahid tercenung beberapa saat mendapat pertanyaan dari Raden Ketib. Setelah menarik napas berat beberapa kali dia berkata dengan suara lain, �Nama Lemah Abang, Sitibrit, Siti Jenar, dan Lemah Kuning adalah nama-nama yang menyiratkan makna pengorbanan rahasia anak manusia demi lahirnya zaman baru. Nama-nama itu adalah tonggak-tonggak sejarah perubahan di suatu kurun zaman. Nama-nama yang tetap dikenang meski dibalut bermacam-macam gambaran membingungkan tentang maknanya. Hanya mereka yang memiliki kesadaran burung jua yang dapat mengetahui makna sejati di balik nama-nama itu.�

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers