Kamis, 02 Februari 2017

TEKA-TEKI SANG RAJAWALI

Teka-Teki Sang Rajawali

Ketika Abdul Jalil berpaling dan melihat Cermin Gaib di dalam dirinya, ia melihat kilasan-kilasan perwujudan berupa semacam kabut berasap yang tebal dan bergumpal-gumpal. Kabut berasap yang memancarkan cahaya merah menyala, kuning keemasan, dan hitam pekat. Itulah perlambang kekuasaan dari Yang Mengangkat (ar-Rafi�) dan Yang Menjatuhkan (al-Khafidh), yang menyulut api peperangan sebagai bagian dari kuasa-Nya dalam memelihara keseimbangan alam beserta isinya. Peperangan, apa pun alasan yang melatarinya, adalah keniscayaan dari sunnah Allah (hukum alam), di mana ar-Rafi� dan al-Khafidh selaku Rabb, menjalankan kehendak dari Rabb al-Arbab (Allah) untuk mempergilirkan kejayaan dan keruntuhan di antara manusia (QS. Ali Imran: 140).

Lantaran perang adalah bagian dari sunnah Allah demi keseimbangan alam seisinya, maka bagi mata yang waskita, di tengah gemuruh peperangan itu akan dapat menangkap kuasa-kuasa Ilahi berpusar-pusar dan berkeliaran menentukan arah dan alur peperangan. Sebagai salah satu di antara manusia yang memiliki kewaskitaan, di tengah kecamuk perang Caruban-Rajagaluh itu melihat kehadiran sejumlah kekasih Allah (aulia� Allah), malaikat-malaikat pencabut nyawa, dan makhluk-makhluk halus penghuni purwa Nusa Jawa.

Para kekasih Allah itu tanpa ada yang mengetahui tiba-tiba muncul di tengah galau pertempuran dalam wujud seorang prajurit rendahan, perwira, penabuh genderang, tukang masak, pengungsi, orang gila, dan bahkan manusia-manusia misterius dari alam gaib (ar-rijal al-ghaib). Di tengah gemuruh hujan, beberapa saat menjelang gerbang Kutaraja Rajagaluh akan dibuka, Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, dan Sri Mangana sempat berbincang-bincang dengan Wahisy al-Majdzub, Ibrahim al-Uryan, Syaikh Ahmad al-Bakhathi, tiga orang kekasih Allah yang dikenal dengan perilaku anehnya. Dengan menyamar sebagai juru jalir (pengawas pelacuran), Wahisy telah membawa para pelacur keluar dari kuta tanpa ditanyai ini dan itu oleh para prajurit Caruban yang mengepung kutaraja. Ibrahim al-Uryan dengan tubuh tanpa kain selembar pun menggiring para ibu dan anak-anak keluar dari kuta. Prajurit Caruban yang melihatnya tertawa-tawa dan menganggapnya gila. Sementara Syaikh Ahmad al-Bakhathi membawa para pendeta dan prajurit Rajagaluh yang terluka keluar dari kuta tanpa diketahui para pengepung.

Syarif Hidayatullah yang sekilas melihat perbincangan aneh itu terheran-heran. Bagaimana mungkin orang-orang terhormat seperti Sri Mangana, Syaikh Abdul Jalil, dan bahkan kakeknya sendiri berbincang-bincang dengan tiga gelandangan tidak waras; yang dua orang berpakaian kumal penuh tambalan dan yang seorang lagi telanjang tanpa pakaian. Malahan, dalam berbincang-bincang itu mereka berenam terlihat tertawa-tawa seolah tak peduli dengan keadaan sekitar. Dengan kepala dilingkari tanda tanya, sesaat setelah pertempuran usai, Syarif Hidayatullah bergegas menemui Abdul Jalil yang sedang mengetuk-ngetukkan sebatang kayu pemukul dan bertanya kenapa mereka berbicara akrab dengan tiga orang asing yang kelihatannya tidak waras.

Ketika Abdul Jalil memberi tahu bahwa ketiga orang aneh yang diajaknya berbincang-bincang itu adalah Wahisy, Ibrahim al-Uryan, dan Syaikh Ahmad al-Bakhathi, Syarif Hidayatullah amat terkejut. Sebab, sejak lama ia sering mendengar nama buruk ketiga orang tersebut. Itu sebabnya, dengan suara ditekan tinggi ia memprotes tindakan Abdul Jalil, �Kenapa Paman berbicara akrab dengan mereka? Bukankah ketiga orang itu terkenal di mana-mana sebagai orang tidak waras? Bukankah Wahisy itu orang gila yang suka berkeliaran di rumah-rumah pelacuran? Bukankah Syaikh Ibrahim al-Uryan itu dikenal sebagai orang gila yang suka telanjang jika berkhotbah di mimbar? Bukankah Syaikh Ahmad al-Bakhathi itu dikenal sebagai orang yang suka meludahi orang lain?�

�Mereka adalah kekasih-kekasih Allah, Anakku,� kata Abdul Jalil memutar kayu pemukul yang dibawanya.

�Saya ragu mereka wali Allah, Paman. Bagaimana mungkin kekasih Allah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syari�at Allah? Bagaimana mungkin kekasih Allah melakukan tindakan-tindakan rendah yang memalukan?� tanya Syarif Hidayatullah tak terima.

�Engkau kelak akan mengetahuinya, o Anakku,� kata Abdul Jalil membolak-balik kayu pemukulnya. �Sebab, apa yang engkau lihat dengan mata inderamu tidaklah menunjukkan Kebenaran Sejati tentang sesuatu. Orang-orang seperti Wahisy, misalnya, sekalipun tidur sekamar dengan seratus pelacur tidak akan terkena dosa sebagaimana ditetapkan hukum syari�at. Bahkan aku berani bersaksi, Wahisy tetap suci dan tak ternoda meski ia sudah bergaul dengan ribuan pelacur selama bertahun-tahun.�

�Bagaimana Paman bisa berkata seperti demikian?�

�Sebab aku tahu, jiwa Wahisy sudah menyatu dengan Jiwa Semesta. Dia sudah menjadi makhluk Semesta.�

�Maksud Paman?�

�Dia sudah bukan lagi laki-laki dan bukan pula perempuan. Dia sudah lepas dari jenis kelamin. Hanya tubuh manusiawinya saja yang berkelamin laki-laki, namun jiwanya merupakan semesta. Dan seperti makhluk-makhluk semesta yang lain; bulan, bintang, matahari, malaikat, iblis, Wahisy tidak kenal lagi perbedaan kelamin seperti layaknya manusia dan binatang sehingga kepadanya tidak bisa dikenakan hukum-hukum syari�at yang didasarkan pada penafsiran fiqhiyyah atas ayat-ayat Allah dan sunnah Rasul.�

�Karena itu, o Anakku, jika kelak engkau menjadi seorang guru manusia dan menemui orang-orang seperti Wahisy dan Ibrahim al-Uryan, kenakanlah kepada mereka itu hukum syari�at yang diberlakukan bagi orang gila. Maksudnya, tidak ada hukum syari�at yang melarang orang gila bergaul dengan pelacur. Tidak ada juga hukum syari�at yang melarang orang gila telanjang. Namun, hukum syari�at juga tidak melarang seseorang untuk berbicara dengan orang gila,� Abdul Jalil mendekap kayu pemukulnya.

Syarif Hidayatullah tertawa dan mengangguk-angguk mengisyaratkan bahwa ia sudah memahami masalah itu. Namun saat ia akan kembali ke kemahnya, tiba-tiba bahunya ditarik seseorang dari belakang. Ketika menoleh, ia melihat Syaikh Ibrahim al-Uryan dalam keadaan telanjang duduk di atas punggung seekor sapi. Syarif Hidayatullah yang tak mengetahui bagaimana sang syaikh dan sapi itu dalam sekejap tiba-tiba muncul di belakangnya, dengan tergagap menyampaikan salam. Namun, seperti orang tidak waras yang mengomel sendiri, tanpa menjawab salam Syarif Hidayatullah, Syaikh Ibrahim al-Uryan berkata dengan suara yang lain.

�Lihat burung-burung gagak yang terbang mengepakkan sayap di langit! Mereka berteriak-teriak di angkasa memuji keagungan Sang Maut dan memohon agar Penguasa kerajaan kematian itu turun ke medan perang. Lihat! Lihatlah bagaimana gagak-gagak itu mengiringi Sang Maut turun ke medan perang. Lihat! Apa yang dilakukan para gagak ketika Sang Maut menghantamkan sayap-Nya sehingga mengakibatkan beribu-ribu manusia bergelimpangan tanpa nyawa. Ya, gagak-gagak licik itu berkerumun-kerumun dan sambil memekik-mekik gembira mencabik-cabik mayat-mayat dengan paruhnya yang setajam pedang dan seruncing tombak.�

�Waspada! Waspadalah pada gagak-gagak hitam yang menyembunyikan pamrih serigala dan musang di balik bulu-bulunya yang legam. Tetapi, hendaknya engkau lebih waspada pada kawanan serigala dan musang yang akan keluar dari balik bulu gagak �gagak hitam itu. Sebab, telah termaktub di kitab langit (al-Lauh al-Mahfuzh) bahwa Sang Penentu (al-Muqtadir) telah menggoreskan Pena Mulia (al-qalam al-a�la), bahwa negeri-negeri timur di bawah langit akan dikerumuni dan dijadikan jarahan oleh kawanan serigala dan musang yang membawa malapetaka kegelapan bagi para penghuni bumi. Saat itulah cakrawala di daratan dan di lautan akan tertutupi oleh awan kegelapan sehingga penghuni bumi tidak bisa lagi mengenali satu sama lain karena sejauh mata memandang yang menampak di cakrawala hanyalah benda-benda (thaghut) dan wujud palsu dari angan-angan kosong (al-wahm). Saat itu manusia sudah tinggal menjadi kerangka kosong yang tak memiliki jiwa (ash-shuwar al-qa�imah). Ke mana pun penglihatan diarahkan, yang tampak hanyalah benda-benda yang lain (al-aghyar) yang menyimpang dari Kebenaran (al-Haqq).�

�Aku bukan peramal. Aku bukan tukang sihir. Aku juga bukan �orang berkelebihan� yang dapat melihat gambaran masa depan. Aku hanya seorang tidak waras yang kebetulan melihat dunia masa depan lewat alam khayalku. Ya, aku saksikan bagaimana kapal-kapal berlayar di lautan dan kapal-kapal tertambat di dermaga. Kapal-kapal itu tidak pula memuat manusia dan tidak memuat barang-barang kebutuhan manusia. Sebaliknya, kapal-kapal itu berisi serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa dari Kegelapan yang rakus dan tak pernah kenyang. Sungguh, telah aku saksikan kawanan makhluk mengerikan yang buas dan licik itu menjelma menjadi manusia-manusia berparas mengagumkan dan sangat santun, namun sangat berbahaya. Mereka akan mendatangi manusia dengan senyuman, namun tangan mereka yang tersembunyi di belakang punggungnya menggenggam pisau beracun. Setiap manusia yang lengah dan terpesona oleh ucapan-ucapan manis itu akan ditikamnya.�

�Waspada dan berhati-hatilah engkau, o manusia. Sebab, tikaman pisau beracun manusia-manusia palsu jelmaan serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa itu tidaklah membuat manusia mati. Tikaman pisau beracun itu hanya akan membuat hatimu berubah menjadi biru dan membeku. Tak lama setelah itu, hatimu akan menghitam dan membatu. Kemudian engkau akan menjadi mayat-mayat hidup yang berbaris di bawah perintah mereka. Ya, dunia baru yang dihuni manusia-manusia masa depan akan berisi mayat-mayat hidup yang ditinggal pergi oleh jiwa dan ruhnya. Sementara ruh mayat-mayat hidup itu terbang ke alam ruh (�alam al-arwah), jiwanya bergentayangan menjadi hantu-hantu hitam yang berkeliaran di muka bumi sebagai bayangan-bayangan hitam yang palsu dan menyesatkan. Dan tubuhnya menjadi timbunan daging busuk yang ke mana-mana menebarkan penyakit dan kematian.�

�Demikianlah, penglihatan yang aku tangkap dari dunia masa depan. Sesungguhnya, segala sesuatu yang mengerikan dari masa depan itu tidaklah terjadi kecuali semata-mata karena kehendak-Nya. Sesungguhnya, jika Allah menimpakan marabahaya (mudharat) kepada makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menghindarinya, kecuali Dia sendiri. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menolak kebaikan-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (QS. Yusuf: 107).�

Ketika Syaikh Ibrahim al-Uryan pergi dengan sapinya ke gugusan pohon yang tak lagi berdaun dan menghilang di balik senjakala, Syarif Hidayatullah mendekati Abdul Jalil dan berkata dengan suara tercekat di tenggorokan, �Apa yang pernah Paman ungkapkan tentang Dajjal, Ya�juj wa Ma�juj, yang bakal merusak dan menjarah kehidupan umat manusia barusan telah diungkap pula oleh Syaikh Ibrahim al-Uryan. Apakah yang harus kita lakukan untuk menghadapi mereka?�

�Menyiapkan adimanusia yang siap bertempur di segala medan,� kata Abdul Jalil memainkan kayu pemukul sambil menerawang ke gugusan langit yang mulai gelap. �Sebab, hanya adimanusia yang mampu memimpin manusia-manusia untuk bisa mengalahkan kawanan serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa jejadian itu.�

�Apakah kita akan membangun pertahanan di balik benteng-benteng peradaban sebagaimana pernah Paman katakan?� tanya Syarif Hidayatullah minta penjelasan.

�Ya,� kata Abdul Jalil mengetu-ketukkan kayu pemukulnya ke tanah. �Benteng-benteng peradaban yang dilingkari dinding adat kebiasaan dan syari�at. Benteng-benteng peradaban yang dibangun di atas landasan Tauhid.�

�Tetapi, Paman, apakah dengan itu kita tidak perlu membangun kekuatan bersenjata?�

�Kekuatan bersenjata tetap diperlukan untuk menjaga keseimbangan kekuatan dan memelihara jiwa ksatria para manusia dan adimanusia. Tetapi satu hal yang perlu diingat, aku sangat tidak menghendaki senjata-senjata pemuntah api seperti gurnita yang digunakan pasukan Terung. Sebab, gurnita mengingatkan aku pada senjata yang digunakan pasukan Dajjal, Ya�juj wa Ma�juj, yaitu ajij dalam bentuk yaf�ul dan maf�ul, yang bermakna �semburan api�. Bukankah gurnita itu menyemburkan api? Bukankah senjata gurnita itu yang membakar hutan-hutan di sekitar Kuta Rajagaluh?�

�Memang, dengan senjata-senjata penyembur api semacam gurnita, manusia bisa beroleh kemenangan di medan tempur. Tetapi, pemenang yang agung bukanlah mereka yang berhasil mengalahkan musuh-musuhnya di medan tempur, melainkan mereka yang bisa menaklukkan musuh tanpa pertempuran. Itulah sang pemenang agung sejati. Lantaran itu, menurutku, kita harus menghindari penggunaan senjata-senjata �penyembur api� sebagaimana Ya�juj wa Ma�juj. Sebab, senjata-senjata semacam itu tidak hanya merusak alam dan menghancurkan kehidupan makhluk di muka bumi, tetapi menjungkir-balikkan pula adat kebiasaan ksatria, dan yang paling berbahaya adalah menebarkan daya-daya setani di muka bumi,� kata Abdul Jalil.

�Saya paham, Paman,� kata Syarif Hidayatullah.

�Jika sudah paham, engkau harus berkemas-kemas untuk pergi meninggalkan Caruban.�

�Saya harus meninggalkan Caruban?� gumam Syarif Hidayatullah terkejut.

�Paduka kalifah mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengajakmu ke Banten. Dia akan menguji engkau sebagaimana dia telah menguji Raden Sahid. Ya, dia akan menguji apakah engkau mampu melampaui kemanusiaanmu untuk menjadi adimanusia,� kata Abdul Jalil mengetukkan kayu pemukulnya ke tanah.

�Dengan sukacita saya akan menerima ujian itu Paman,� kata Syarif Hidayatullah mantap.

�Berarti engkau harus siap membangun benteng pertahanan peradaban dan Tauhid di sana dan sekaligus menjadi panglima penguasa benteng,� Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu Syarif Hidayatullah dan kemudian membalikkan badan meninggalkan tempat seraya bertelekan pada tongkat pemukulnya.

�Paman hendak ke mana?�

�Menjalankan tugasku, mengajarkan sasyahidan kepada para calon adimanusia,� sahut Abdul Jalil sambil melangkahkan kaki melewati rumput-rumput dan bebatuan. Ketika sampai di sebuah belokan jalan yang dibatasi sebatang pohon besar tak berdaun, Abdul Jalil berpapasan dengan Pangeran Soka dan para pengawalnya yang membawa harta pampasan di atas kereta-kereta. Setelah saling bertegur sapa, Pangeran Soka berkata, �Kami mendapat amanat dari paduka kalifah, untuk memberikan bagian pampasan kepada Tuan Syaikh.�

�Pampasan perang untukku?� tukas Abdul Jalil heran. �Bukankah aku tidak ikut berperang? Bagaimana mungkin aku bisa mendapat bagian pampasan?�

�Tuan Syaikh telah menjadi pendamping dan penasihat kalifah sehingga berhak mendapat pampasan. Selain itu, kami tidak berani membantah titah paduka kalifah,� kata Pangeran Soka.

�Jika demikian, aku minta agar bagianku diberikan kepada Li Han Siang.�

�Diberikan kepada Li Han Siang?� sergah Pangeran Soka terheran-heran. �Bukankah dia sudah kaya raya?�

�Itu bukan hibah atau sedekah,� kata Abdul Jalil sambil berlalu, �tapi untuk membayar utangku.�

�Tuan Syaikh,� seru Pangeran Soka, �benarkah Tuan Syaikh berutang kepada Li Han Siang?�

�Ya.�

�Kalau boleh tahu, untuk apa Tuan Syaikh berutang? Bukankah orang seperti Tuan Syaikh sudah tidak butuh uang?� tanya Pangeran Soka terheran-heran.

�Apakah anehnya Syaikh Lemah Abang punya utang? Apakah engkau juga menganggap aneh jika mengetahui bahwa Nabi Muhammad Saw. pun pernah berutang?� kata Abdul Jalil melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan ke berbagai tempat dan menyampaikan ajaran sasyahidan, Abdul Jalil sampai ke suatu persimpangan jalan yang terletak di sebuah lembah yang aneh: suatu hamparan tanah berwarna hitam tanpa rumput dan tanpa semak-semak. Bukit-bukit karang yang bertonjolan di permukaan tanah tegak menjulang laksana barisan tombak ditancapkan di tanah berbatu. Di sekitar bukit-bukit karang itu terhampar beratus-ratus lubang tanpa dasar yang akan memerangkap siapa pun makhluk yang kurang waspada. Semua yang tergelar di lembah itu terlihat hitam; tanah, batu, pohon, bukit, awan, langit, bahkan cakrawala. Tidak satu makhluk pun dijumpai Abdul Jalil di lembah itu. Sebab, siapa pun tentu tidak suka datang ke tempat celaka yang disebut �lembah kejahilan� itu.

Tidak berapa jauh setelah Abdul Jalil melangkahkan kaki ke lembah hitam, ia melihat sesosok bayangan hitam manusia sedang duduk merenung di bawah sebongkah batu hitam di kaki bukit. Abdul Jalil mengerutkan kening menajamkan mata dan bertanya, �Siapakah engkau, o sosok hitam yang berkerudung selimut kebingungan?�

�Kami adalah anak-anakmu, o Syaikh Lemah Abang,� kata sosok itu dengan suara gemerisik bagai gesekan batang bambu ditiup angin.

�Kami?� gumam Abdul Jalil mengacungkan kayu pemukulnya. �Berapakah jumlahmu?�

�Jumlah kami sebanyak semut di sarangnya,� kata bayangan hitam manusia itu seraya berdiri. Lalu terlihatlah pemandangan mencengangkan: batu-batu yang terhampar di kaki bayangan hitam manusia itu tiba-tiba ikut berdiri dalam wujud bayangan hitam manusia dan makhluk-makhluk mengerikan dari Kegelapan. Kemudian, dengan suara gemerisik bagai suara ribuan tampah menampi gabah, bayangan-bayangan hitam itu berkata serentak, �Kami adalah cacing-cacing tanah yang telah engkau cipta menjadi hewan melata. Kami telah mengikuti jalan yang engkau bentangkan di hadapan kami agar kami dapat mencapai negeri agung di seberang lembah kejahilan ini dan tinggal di sana sebagai adimanusia. Tetapi, kami tersesat dan tersungkur di lembah ini dan menjadi batu-batu yang sedih dan merana. Sementara beribu-ribu saudara kami malah jatuh terperosok ke dalam lubang-lubang tanpa dasar dan tidak kami ketahui lagi nasibnya. Kami menuntut tanggung jawabmu sebagai ibu dan sekaligus bapak yang telah melahirkan kami ke dunia baru yang mengerikan ini.�

Dengan pandangan penuh kasih Abdul Jalil memandang bayangan-bayangan hitam itu seolah-olah ingin membaca apa yang tertulis di jiwa mereka. Setelah menarik napas beberapa kali, ia berkata dengan suara sebening tetesan air yang jatuh di panci pada malam hari, �Lihat! Lihatlah cahaya gemerlap yang berkilau-kilau di atas tebing-tebing tinggi di tanah seberang itu! Arahkan kiblat hati dan pikiran kalian semua ke sana! Sebab, ke sanalah engkau sekalian harus sampai, yakni negeri agung kediaman para adimanusia.�

�Bukankah selama ini kami telah mengikuti petunjukmu itu? Bukankah kami telah berikrar bahwa tidak ada jalan lain yang harus kami lewati kecuali yang telah dibentangkan oleh Sang Penuntun Agung? Tapi apa yang kami dapatkan? Tidak ada yang lain, kecuali kesengsaraan, penderitaan, dan kesesatan!�

Abdul Jalil menggeram bagai singa dengan wajah merah padam. Seraya mengacungkan tongkat pemukulnya ia berkata lantang, �Tutup mulutmu, he pendusta-pendusta kecil! Aku tahu siapa engkau sesungguhnya. Engkau adalah para pendusta bermulut palsu, berhati palsu, dan berjiwa palsu. Engkau katakan bahwa dirimu telah berikrar untuk tidak mengalihkan kiblat hati dan pikiranmu dari cahaya di seberang lembah itu, namun ikrarmu itu hanya sebatas ucapan di mulutmu yang palsu. Pandangan matamu telah berpaling dari-Nya karena perhatianmu cenderung pada benda-benda yang memesona penglihatanmu. Pendengaran telingamu pun telah pekak dan tidak lagi mendengar suara-Nya. Hatimu yang palsu dan tertutup karat kebendaan tidak dapat lagi menerima benderang cahaya-Nya. Pikiranmu yang palsu dan bercabang-cabang tidak mampu lagi berkiblat kepada-Nya. Lantaran itu, engkau tidak lagi dapat melihat jalan yang benar sesuai petunjuk-Nya sehingga sebagian di antara kalian ada yang tersungkur di lembah kejahilan, bahkan ada yang terperosok ke dalam lubang tanpa dasar.�

�Aku tahu siapa sesungguhnya engkau, he penipu-penipu kecil! Engkau katakan kepada semua orang bahwa engkau adalah orang-orang beriman yang tunduk patuh pada Hukum Suci yang ditetapkan-Nya. Engkau katakan kepadaku bahwa engkau telah menjalankan apa yang telah aku ajarkan dan mengikuti petunjuk jalan yang telah aku berikan. Tetapi, aku katakan kepadamu bahwa engkau telah berdusta. Dusta. Dusta. Seribu kali dusta. Aku tahu, sesungguhnya yang berjalan terseok-seok menyusuri lembah kehidupan bukanlah tubuh, hati, dan pikiranmu, melainkan angan-angan kosong (al-wahm) yang lahir dari lamunan (al-umniyah) jiwamu yang kerdil dan rendah. Ya, yang menjalankan ajaranku adalah angan-angan dan lamunanmu. Sungguh malu aku mendengar engkau mengaku-ngaku sebagai anak-anak yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpiku. Sebab, aku tidak pernah berpikir tentang kekerdilan seekor cacing yang menggeliat di dalam tanah sepanjang zaman. Aku juga tidak pernah bermimpi tentang makhluk-makhluk pemalas yang suka pada pengumbaran nafsu. Malu aku. Malu. Malu. Seribu kali malu.�

�Dengar! Dengarlah, he maling-maling kecil yang mengaku anak-anakku! Akhirilah dustamu! Hentikanlah kebohonganmu! Sadarlah engkau bahwa kehidupan dunia bukanlah kehidupan di surga sebagaimana yang engkau bayangkan dan engkau angankan. Kehidupan dunia tidak bisa engkau nikmati dengan kemalasan dan lamunan-lamunan tentang bidadari dengan sungai susu dan kolalm madu. Kehidupan dunia harus engkau lampaui dengan perjuangan keras yang tak kenal menyerah dan tak kenal pula putus asa, sampai engkau menjadi adimanusia yang mewarisi kehidupan di negeri agung yang penuh keselamatan dan kesentosaan. Tanpa perjuangan keras, mustahil engkau dapat meninggalkan lembah kejahilan ini. Kemalasan dan angan-angan kosongmu akan menjadikan engkau tinggal abadi di lembah kejahilan ini bersama anak, cucu, dan buyutmu.�

�Ayo anak-anakku, sekarang ikutilah jekakku! Sebab, aku akan mengajarkan kepadamu tentang sasyahidan, yaitu kesaksian yang benar tentang Sang Cahaya di atas segala cahaya dan Sang Penuntun Agung, agar kalian semua dapat beroleh Kebenaran (al-Haqq) hidup sejati serta tidak menjadi mayat-mayat berjalan tanpa jiwa dan ruh. Aku akan tunjukkan kepadamu kehidupan adimanusia yang tidak bisa ditundukkan dan diperbudak oleh kawanan serigala dan musang yang akan menguasai bumi.�

�Ayo, kemarilah! Aku akan ajarkan kepadamu jalan Kebenaran yang hakiki. Ketahuilah bahwa sejatinya Kebenaran (al-Haqq) adalah Zat Yang Mahatampak (azh-Zhuhur al-Haqq). Dia tampak pada segala sesuatu (azh-zhahir bi kulli syai�). Dia menampakkan segala sesuatu (azh-hara kulla syai�). Dia yang nyata atas tiap-tiap sesuatu (azh-zhahir li kulli syai�). Sebab, Dia adalah Yang Nyata sebelum segala sesuatu ada (huwa zhahir qabla qujudi kulli syai�). Tetapi, akibat benderang cahaya-Nya, engkau sekalian tidak dapat menyaksikan penampakan diri-Nya. Sementara selubung keakuan yang menyelimuti dirimu makin menghijab mata batin (�ain al-bashirah) yang tersembunyi di dalam dirimu hingga engkau sekalian menjadi buta terhadap-Nya. Lalu di dalam kebutaanmu terhadap-Nya, engkau menjadi budak dari benda-benda.�

�Ayo, sekarang bertobatlah kalian semua untuk kembali setia kepada-Nya. Ucapkanlah persaksian sekali lagi di hadapanku. Persaksianmu kali ini tidak hanya sebatas mulut yang palsu, tetapi kesaksian yang tembus ke hati dan menjadi gerak hidup seluruh tubuh dan jiwamu. Aku katakan kepadamu bahwa kesaksian bukanlah untuk dihafal dan diucapkan berulang-ulang, melainkan untuk dijalani sebagai bagian utama dari kehidupan. Karena itu, ikutilah jejakku meski engkau akan merasakan sakit tak tertahankan!�

�Tahukah engkau apa yang aku maksud dengan mengikuti jejakku dan engkau akan kesakitan? Pertama-tama, engkau harus menyembelih jiwa kekanak-kanakanmu! Lalu, kupas kulit berbulu kemunafikanmu! Lalu, sayat-sayat daging kemalasanmu! Lalu, patahkan tulang-tulang kesombonganmu! Lalu, bersihkan jeroan jiwa busukmu! Lalu, kumpulkan semua keakuanmu dalam tumpukan daging, tulang, dan jeroan! Lalu, bagi-bagikan kepada para fakir agar pengorbanan jiwa dan ragamu sampai kepada-Nya.�

�Sesungguhnya aku tidak pernah mengajarkan kepada engkau sekalian untuk menjadi seorang mutajarrid yang melakukan uzlah meninggalkan kehidupan duniawi. Aku justru mengajarkan kepada engkau sekalian untuk menjadi seorang mutasabbib yang berkhidmat kepada masyarakat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Untuk menjadi seorang mutasabbib, kewajiban utama yang harus dijalani adalah berkorban. Berkorban. Berkorban. Seribu kali berkorban. Berkorban sampai lenyap semua keakuanmu menjadi korban persembahan untuk-Nya.�

Abdul Jalil mengatupkan mulut rapat-rapat dan memandang bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya. Bayangan-bayangan hitam itu makin lama makin banyak karena mereka yang terjerumus ke dalam lubang tanpa dasar pun tiba-tiba berhasil naik ke permukaan dan ikut berkerumun mendengarkan ajaran sasyahidan yang disampaikan Abdul Jalil. Kemudian terjadi sesuatu yang mengherankan, sekumpulan bayangan hitam tiba-tiba berdiri dan berkata dengan suara gemerisik sambil mengepalkan tangannya ke atas, �Sekarang marilah kita bersama-sama menjalankan segala sesuatu yang diajarkan oleh Syaikh Lemah Abang, ibu dan bapak yang melahirkan kita. Marilah kita mulai berjalan melampaui �lembah kejahilan� ini menuju dunia agung tempat kita akan menjadi adimanusia. Sungguh, telah kami rasakan betapa sengsara dan menderitanya menjadi bayangan-bayangan hitam yang tak jelas bentuk dan wujudnya ini. Ayolah, kita mulai perjalanan panjang yang penuh tantangan ini. Ayolah kita capai Cahaya benderang di puncak tebing menjulang itu karena Cahaya itulah kiblat kita.�

Tanpa menunggu waktu, kumpulan bayangan hitam itu membalikkan badan dan melesat di atas tanah melintasi �lembah kejahilan� di tengah tatap dungu dan pandir kawan-kawannya yang masih duduk melamun, asyik mendengarkan cerita yang disampaikan Abdul Jalil. Melihat pemandangan itu Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia sadar tidak banyak manusia yang cukup cerdas untuk menerima ajaran yang disampaikannya. Mereka, keluhnya dalam hati, lebih suka terbuai cerita dan lalmunan daripada menjalani apa yang diajarkannya. Ajaran sasyahidan yang disampaikannya hanya cocok bagi manusia-manusia yang kuat, cerdas, tabah, berani, dan pantang menyerah dalam mewujudkan jati diri menjadi adimanusia.

Rasa bangga memenuhi dadanya saat ia menyaksikan bagaimana sekumpulan bayangan hitam itu bergulat mempertunjukkan keuletan untuk melampaui rintangan di tengah �lembah kejahilan�. Dengan mata berbinar-binar ia melihat anak-anaknya itu saling berlomba untuk mendahului, meski mereka jatuh bangun dan bergulingan di atas bebatuan dan tanah berdebu. Tapi lihat! Lihatlah! Di tengah lembah itu terjadi sesuatu yang menakjubkan; bayangan-bayangan hitam itu, anak-anak Abdul Jalil itu, tiba-tiba melompat tinggi ke atas melampaui tebing-tebing hitam yang tegak menjulang. Ajaib, tubuh mereka menjelma menjadi singa-singa perkasa berbulu kuning kecoklatan. Mereka mengaum dan berlari terus saling mendahului menuju seberang lembah. Singa-singa itu terus berlari dan melompat meninggalkan tebing-tebing, bukit-bukit, jurang-jurang, batu-batu, pohon-pohon, semak-semak, padang pasir, dan lubang-lubang tanpa dasar. Melihat kejadian menakjubkan itu, tanpa sadar Abdul Jalil mengangkat tongkat pemukulnya ke atas dan berseru gembira, �Ayo maju terus! Songsonglah matahari pagimu yang cemerlang dan gilang-gemilang! Melompatlah terus, o anak-anakku! Lampaui kesingaanmu agar engkau menjelma menjadi manusia. Melompatlah terus, o anak-anakku! Lampaui kemanusiaanmu agar engkau menjadi adimanusia!�

Melihat Abdul Jalil mengacung-acungkan tongkat pemukulnya untuk menyemangati kawanan singa yang berlomba melintasi �lembah kejahilan�, bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya tiba-tiba bangkit dan berdiri di samping kanan dan kirinya. Dengan terheran-heran mereka ikut-ikutan melihat ke arah singa-singa yang sedang berpacu melintasi lembah. Namun, dalam penglihatan mereka bukan kawanan singa yang berlomba saling mendahului, melainkan sekumpulan katak hitam yang melompat-lompat di atas tanah berlumpur. Setelah saling memandang dengan tatapan dungu, mereka kemudian bertepuk tangan, bersorak-sorai, tertawa-tawa, dan berteriak-teriak menyemangati katak-katak itu dengan suara gemerisik bagai derik beribu-ribu tonggeret, �Ayo lompat! Jangan mau ketinggalan! Ayo katak, lompati kawanmu! Lompat terus! Lompat!�

Ketika cakrawala terbentang dan bedug subuh ditabuh bertalu-talu, Raden Ketib tersentak dari renungan karena menyaksikan matahari Kebenaran bersinar gemilang dari balik gunung-gunung berkabut di kedalaman jiwanya. Sesaat ia terheran-heran menyaksikan kenyataan itu. Dan ia makin keheranan ketika mendapati dirinya berada di sebuah dunia dengan cakrawala kesadaran baru yang mengubahnya dari seekor kupu-kupu menjadi seekor burung. Ia merasa bumi tiba-tiba menjadi ringan sehingga ia dapat terbang secepat burung ke angkasa. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya. Dunui yang dikenalnya dulu kini berubah menjadi sesuatu yang lain; cakrawala, langit, awan, air, pohon, batu, rumput, embun, dan bahkan tanah yang dipijaknya terasa lain.

Dengan benak dikerumuni tanda tanya, ia menanyakan perubahan yang dialaminya itu kepada Syaikh Datuk Bardud. Namun, putera Syaikh Datuk Abdul Jalil itu tidak menjawab dan hanya memberi isyarat agar ia bertanya pada hati nuraninya sendiri. Pada saat ia akan menanyai hati nuraninya, ia tiba-tiba teringat betapa selama menelusuri jejak berliku dari Syaikh Datuk Abdul Jalil, ia telah mengalami perubahan demi perubahan kesadaran yang berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat seibarat kesadaran telur, ulat, kepompong, kupu-kupu, dan kemudian burung. Ya, ia mendadak teringat bahwa di balik tersingkapnya kesadaran demi kesadaran yang dialaminya itu, yakni saat ia melewati tirai demi tirai dan memasuki matra demi matra yang lebih luas, lebih terang, lebih hakiki, sesungguhnya ia diseret oleh suatu �daya gaib� yang tak diketahui dari mana asalnya. Bahkan, kini, saat ia memasuki kesadaran burung, ia tetap merasa segala sesuatu yang ada pada dirinya dilingkupi oleh �daya gaib� tersebut.

Anehnya, dengan kesadaran barunya itu ia tidak sekadar dapat memahami dengan jelas liku-liku perjuangan Syaikh Datuk Abdul Jalil yang begitu menakjubkan, tetapi ia dapat pula merasakan apa yang dirasakan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil dan mereka yang terlibat di kancah pergulatan sejarah masa lampau. Ia seolah-olah ikut terlibat di dalamnya. Ia merasakan jiwanya ikut terombang-ambing dan terempas bagai air diaduk badai.

Raden Ketib sadar bahwa ia tidak cukup mampu untuk menangkap secara utuh keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil beserta sepak terjangnya yang menakjubkan. Ia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keberadaan utuh Syaikh Datuk Abdul Jalil, kecuali menyebutnya sebagai sosok raksasa pada zamannya: raksasa di dalam pemikiran, raksasa di dalam ajaran, dan raksasa di dalam karya. Dengan demikian, segala usaha manusia untuk mengerdilkan sang raksasa pastilah akan berujung pada kegagalan sebab kodrat hidup seorang raksasa adalah menjadi raksasa. Orang boleh membenamkan sang raksasa di bawah kubangan lumpur, atau menyusupkannya di bawah timbunan sampah, atau menyelipkannya di kandang babi, atau menyurukkannya di lubang semut, namun seorang raksasa yang dikodratkan menjadi raksasa akan selalu menjadi raksasa, tidak akan pernah menjadi anjing apalagi cacing tanah.

Tentang keraksasaan Syaikh Datuk Abdul Jalil, setidaknya diketahui Raden Ketib lewat kesaksian-kesaksian orang-orang dekatnya yang menuturkan keberadaan sang raksasa dengan penuh kekaguman. Bukan hanya Ki Gedeng Pasambangan, Raden Kusen Adipati Terung, Syaikh Maulana Jati, Pangeran Cirebon, Pangeran Pasai Fadhillah Khan, bahkan Raden Sahid yang sangat dihormati di Demak pun tidak dapat menyembunyikan kebanggaan ketika mengungkapkan kesaksiannya tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil. Malah, yang tak pernah diduga-duga oleh Raden Ketib adalah pengakuan Susuhunan Kalijaga itu yang menyatakan bahwa sang raksasa yang dikutuk banyak orang itu sejatinya merupakan mertuanya. �Zainab, puteri beliau, adalah istri pertamaku,� ujar Raden Sahid tegas.

Pengakuan Raden Sahid tak pelak menyingkap tirai rahasia yang selama ini menyelubungi Syaikh Datuk Abdul Jalil dari pengetahuan Raden Ketib. Dengan pengakuan itu, Raden Ketib menangkap kenyataan betapa kehidupan manusia pada dasarnya tidak berdiri sendiri dan tidak pula terlepas dari ikatan antara yang satu dengan yang lain. Kehidupan manusia ibarat rangkaian tali-temali yang saling menjalin. Meski simpul satu dengan simpul yang lain berbeda dalam ukuran dan bentuk, mereka saling menguatkan. Bahkan, keberadaan salah satu simpul tali yang kelihatan paling kusut pun jika diurai dan diamati secara lebih cermat akan memperlihatkan jati diri sebagai ikatan simpul yang paling kuat dan paling menentukan rangkaian tali-temali itu. Demikianlah, keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil sebagai simpul tali yang dianggap paling kusut yang dinista dan dihina sebagai sumber kekusutan seluruh jalinan tali-temali kehidupan manusia, ternyata merupakan simpul tali yang selama puluhan tahun tak pernah putus dan bahkan terus memanjang membuat simpul-simpul baru hingga mirip jaring laba-laba raksasa.

Jaringan tali-temali kehidupan anak manusia yang terikat pada simpul Syaikh Datuk Abdul Jalil setidaknya diketahui Raden Ketib beberapa waktu menjelang Raden Kusen, kakeknya, meninggal dunia. Saat itu, tanpa hujan tanpa angin, Raden Kusen mengirim utusan ke Palembang untuk meminang Nyi Mas Ilir, adik Raden Ketib, untuk dinikahkan dengan Pangeran Wirakusuma, putera Pangeran Cirebon, cucu Sri Mangana. Ketika pesta pernikahan dilangsungkan dan semua kerabat datang, Raden Ketib mendapati sejumlah tamu yang namanya pernah didengarnya berkaitan dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Bahkan, saat Raden Kusen wafat setelah hari ketiga pernikahan, sejumlah orang yang bertakziah diketahui Raden Ketib sebagai pengikut-pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Mereka berkumpul dari berbagai tempat bagaikan gumpalan kabut yang kemudian menghilang dari penglihatan.

Rupanya, secara diam-diam para pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil dengan setia menjalankan gagasan-gagasan yang diwariskannya, baik tentang masyarakat ummah, wilayah al-Ummah, maupun ajaran tarekatnya. Itu sebabnya, sepeninggal Sri Mangana, bukan Pangeran Cirebon yang menggantikannya sebagai kalifah dan ratu Caruban, melainkan Pangeran Muhammad Arifin, putera Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. Hal itu terjadi karena para wali nagari dan gedeng se-Caruban Larang bermusyawarah dan bersepakat menunjuk Pangeran Muhammad Arifin yang menggunakan gelar Pangeran Pasarean. Alasan penunjukan Pangeran Pasarean sebagai kalifah Caruban tidak lain dan tidak bukan karena dia dianggap sebagai orang yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sementara untuk melanjutkan kedudukan ratu sebagai bagian dari tradisi, Pangeran Cirebon diangkat sebagai manggalayuddha karena dianggap mewarisi bakat ayahandanya dalam memimpin militer.

Kekuatan jaringan tali-temali yang diikat oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil tanpa terduga tiba-tiba menjerat Raden Ketib dan mengikatnya sebagai bagian dari jaringan tali-temali raksasa yang tak terlihat mata. Alkisah ketika Raden Ketib bersama-sama dengan Syaikh Datuk Bardud berkeliling ke berbagai tempat untuk bersilaturahmi dan sekaligus menguak teka-teki yang menyelubungi Syaikh Datuk Abdul Jalil, ternyata para gedeng, wali nagari, dan pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil diam-diam mengawasi dan menilainya. Sepekan setelah Raden Kusen wafat tiba-tiba Raden Ketib diundang untuk hadir dalam musyawarah para gedeng di Pekalipan. Ternyata, perwakilan warga Tegal Gubuk dan para gedeng serta kalifah sepakat menunjuk Raden Ketib sebagai gedeng di Tegal Gubuk untuk menggantikan gedeng lama yang meninggal setahun silam. Sebagaimana gedeng terdahulu, Raden Ketib diberi gelar sebutan Ki Gedeng Sura.

Dengan memangku jabatan sebagai gedeng, Raden Ketib sadar tentang kedudukan ruhaninya di tengah gagasan wilayah al-Ummah. Ia sadar belum cukup mampu mencapai kedudukan manusia apalagi adimanusia sebagaimana diharapkan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Namun, ia tetap berusaha untuk menjalankan apa yang diajarkan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil, yaitu berjuang keras melampaui manusia agar menjadi adimansia. Ia pun sadar tidak cukup banyak orang mampu mewadahi gagasan-gagasan, ajaran, dan kekaryaan Syaikh Datuk Abdul Jalil, apalagi untuk menjalankannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Gagasan, ajaran, dan kekaryaan Syaikh Datuk Abdul Jalil terlalu raksasa untuk dipahami dan dijalankan oleh makhluk-makhluk kerdil, sebagaimana ketidakmampuan kawanan burung pipit pencuri padi untuk meneladani rajawali raksasa. Raden Ketib tidak memiliki pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu kecuali melalui sindiran pepatah yang berbunyi: �Bagaikan memberi sebutir permata kepada kawanan kera�. Ya, permata gagasan yang disumbangkan Syaikh Datuk Abdul Jalil hanya dijadikan �permainan� oleh orang-orang yang tidak cukup mampu untuk mewadahi, apalagi menjalaninya.

Melalui Syaikh Datuk Bardud, Raden Ketib memang telah berhasil menyingkap sebagian kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil berdasar kesaksian-kesaksian. Namun, ia merasa betapa kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil masih cukup kuat diselubungi teka-teki. Ada banyak rahasia yang masih tersembunyi. Ia demikian berharap dapat beroleh kesaksian yang lebih utuh dari Raden Sahid dan Pangeran Pasai Fadhillah Khan yang telah menyanggupi untuk menuturkan perikehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Ya, kata Raden Ketib dalam hati, aku berharap dengan kesaksian-kesaksian mereka akan dapat mengetahui lebih utuh tentang kehidupan manusia raksasa yang terselubungi kabut rahasia kehidupan itu.

Ketika Raden Ketib berencana pergi ke Demak bersama Syaikh Datuk Bardud untuk menemui Susuhunan Kalijaga, tanpa terduga-duga Syaikh Datuk Bardud malah berpamitan akan kembali ke Gujarat. �Sesuai pesan beliau, aku harus kembali ke Gujarat,� kata Syaikh Datuk Bardud sambil memegangi bahu Raden Ketib.

Raden Ketib merasakan bibirnya bergetar, tenggorokannya panas, dan dadanya berdegub keras. Ia terguncang dengan kejadian tak terduga itu. Kemudian dengan suara terbata-bata ia berkata, �Jika saya boleh bertanya, kenapa Rakanda tidak tinggal di Caruban saja untuk melanjutkan ajarannya?� �

Ajaran tarekat, maksud Adinda?� Syaikh Datuk Bardud mengerutkan kening. �

Ya.� �

Bukankah Adinda sudah paham bahwa Tarekat Akmaliyyah itu dinisbatkan kepada Allah dan tidak bisa diwariskan berdasar keturunan?� �

Tetapi, Rakanda memiliki kemampuan untuk menjadi guru manusia.� �

Ketahuilah, o Adinda, bahwa dia tidak menginginkan siapa pun di antara putera-puteri dan keluarganya untuk mengaitkan diri dengan namanya. Sebab, dia memiliki prinsip bahwa yang disebut anak bukanlah pewaris titisan darah, melainkan mereka yang mengikuti jalannya dalam melampaui tingkatan manusia menjadi adimanusia. Itulah yang disebut anak. Dia mengatakan sangat malu jika memiliki keturunan binatang. Itu sebabnya, dia memaksa putera dan puterinya untuk mewujudkan diri sebagai adimanusia,� kata Syaikh Datuk Bardud. �

Saya paham itu, Rakanda,� kata Raden Ketib. �Tapi, satu hal yang saya mohon dari Rakanda agar dikabulkan.� �

Apa itu?� �

Di manakah letak makam Syaikh Datuk Abdul Jalil?�

Syaikh Datuk Bardud tertawa. Kemudian sambil menepuk-nepuk bahu Raden Ketib, ia berkata, �Apakah engkau pikir ayahandaku sudah wafat? Sesungguhnya dia hidup, hanya engkau yang tidak mengetahuinya, o Adinda terkasih.� �

Beliau masih hidup?� seru Raden Ketib bagai tersambar petir. �

Ya.� �

Di manakah beliau sekarang tinggal?� �

Aku tidak berhak memberi tahu. Tetapi jika engkau ingin menjadi putera ruhani Syaikh Datuk Abdul Jalil, engkau harus mencari dan menemukan sendiri jawaban dari pertanyaanmu itu. Sebab sebagaimana kita tahu, dia membenci kemalasan. Lantaran itu, dia selalu membawa tongkat pemukul untuk menghardik para pemalas. Dan dia selalu membentengi diri dengan banyak teka-teki untuk mendidik manusia agar tidak malas berpikir dan malas berusaha. Dengan kemampuanmu, o Adinda terkasih, aku yakin engkau akan dapat memecahkan teka-teki ini.� �

Adakah perlambang yang bisa saya jadikan penunjuk arah untu memecahkan teka-teki ini?� �

Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah seekor rajawali pengarung Kesunyian dan pecinta Kehampaan. Di sanalah, di tengah Kehampaan dan Kesunyian itu, engkau akan mendengar jeritannya yang membelah keheningan. Di sanalah, di puncak-puncak tebing yang menjulang mencakar langit, engkau akan menemukan sarangnya,� kata Syaikh Datuk Bardud menegaskan. �

Aku sekarang telah memiliki kesadaran burung, o Rakanda terkasih,� kata Raden Ketib dengan mata berbinar-binar dan dada menggemuruh dikobari semangat. �Aku yakin akan dapat menemukan sarang sang rajawali, meski badai dan ketinggian akan menghadang usahaku terbang ke puncak-puncak tebing menjulang. Aku akan terus terbang! Terbang! Terbang! Meski sayap-sayapku akan patah.� �

Terbanglah ke angkasa kebebasanmu, o Saudaraku. Terbanglah melampaui keburunganmu yang kecil sampai engkau menjelma menjadi rajawali, pengarung Kesunyian dan pecinta Kehampaan. Terbanglah terus sampai sayap-sayapmu menjadi sayap-sayap malaikat yang menembus �tirai gaib� Kehampaan,� ujar Syaikh Datuk Bardud sambil berlalu dan menghilang dalam selimut kabut malam.

Read More ->>

Rabu, 01 Februari 2017

Al-Mir�ah al-Ghaib

Al-Mir�ah al-Ghaib?

Sore setelah pertempuran berakhir, hujan telah reda dan matahari bersinar kemerahan di ufuk barat dengan awan merah menggantung di langit. Abdul Jalil terlihat berjalan menyusuri lorong-lorong Kuta Rajagaluh yang semrawut dipenuhi reruntuhan bangunan, serpihan benda-benda, senjata patah, genagan darah, dan mayat bergelimpangan. Ketika langkah kakinya sampai di puri kediaman raja, tepatnya si Sangga Kamulan, ia menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan: sebuah bentangan Cermin Gaib (al-mir�ah al-ghaib) yang luas antara langit dan bumi tak kelihatan batas-batasnya. Cermin Gaib itu memantulkan beribu-ribu bayangan wajah yang mencitrakan keberadaan adimanusia, manusia, manusia-hewan, binatang buas, binatang melata, dan bahkan makhluk-makhluk pemangsa mengerikan dari Kegelapan.

Cermin Gaib adalah bentangan hijab rahasia yang menyelubungi dan sekaligus merupakan pembatas antara alam kasatmata (�alam asy-Syahadah) dan tidak kasatmata (�alam al-ghaib). Cermin itu memantulkan bayangan keberadaan manusia secara lahiriah (mulk) ke dalam hakikat sejati manusia secara ruhaniah (malakut). Wujud lahiriah tiap-tiap manusia yang menghadap ke bentangan Cermin Gaib itu akan memantulkan kesejatian citra ruhaninya sesuai jati diri masing-masing. Dengan demikian, jati diri masing-masing manusia di depan Cermin Gaib akan memantul sebagai wujud bayangan sejati jiwanya.

Di depan bentangan cermin itu Abdul Jalil termangu-mangu menyaksikan wujud dirinya di tengah kilasan-kilasan wajah yang ganti berganti dan sambung menyambung. Ia menjadi sadar betapa keberadaan dirinya di tengah kecamuk perang itu memang tidak terlibat pertempuran dan membasahi tangannya dengan darah siapa pun. Gambaran kuat yang terekam di relung-relung ingatannya menunjukkan betapa saat ia terbangun dan membuka mata, ia melihat dari celah-celah tendanya sesuatu yang terbang di langit, yang wujudnya tak mampu ia gambarkan: Sang Maut, Rajadiraja Kematian yang terbang dengan garang melingkupi penjuru langit dan bumi, yang melihat semua makhluk dengan mata menyala dan cakar-cakar tajam mengembang dan jutaan sayap yang mengepak. Saat terdengar jeritan dahsyat mengguncang langit, ia melihat Sang Maut mengepakkan sayap-sayap kematian yang menggemuruh bagai badai. Kemudian, dengan lahap Sang Maut menyantap setiap makhluk hidup dengan paruh-Nya yang lebih tajam dari pedang. Sementara di bawah kepak sayap Sang Maut terlihat beratus-ratus ribu makhluk gaib penghuni purwa Nusa Jawa berpesta pora memunguti remah-remah sisa santapan-Nya laksana kawanan semut mengerumuni sisa makanan rajawali di padang rumput.

Ketika ia memalingkan pandangan dari bayangan Sang Maut, ia menyaksikan pemandangan lain yang membuat jantungnya berdentam-dentam, mulutnya terkatup, dan tenggorokannya tercekik. Di hadapannya terlihat beribu-ribu bayangan makhluk setengah manusia setengah binatang yang teraduk-aduk kacau seperti laut diempas badai. Makhluk-makhluk mengerikan itu sambil meraung-raung dan melolong-lolong dengan buas dan ganas saling mencabik satu sama lain. Tak kuasa melihat keganasan itu, ia memejamkan mata. Namun, disaat matanya terpejam, telinganya menangkap suara kepak sayap burung-burung, raungan serigala, geraman singa, auman harimau, lolongan anjing, kuak kerbau, dan tangisan anak burung yang mencicit-cicit. Hiruk pikuk suara terdengar berkerumun di sekitar telinganya. Ia menutup telinga dan berusaha menghalau suara-suara yang terus mengerumuninya itu. Anehnya, semakin telinganya ditutup, semakin ia dengar hiruk suara yang menggiriskan itu.

Akhirnya ia membuka mata dan telinganya. Lalu sadarlah ia betapa yang terlihat ke dalam Cermin Gaib itu bukanlah mata inderanya melainkan mata batinnya (�ain al-bashirah). Yang mendengar suara hiruk pikuk itu bukan telinga inderanya pula melainkan pendengaran batinnya (sam�). Dan di tengah kesadaran itu ia mendapat bisikan dari Ruh al-Haqq bahwa hiruk suara-suara itu sesungguhnya menggemakan getar kebencian yang tersembunyi di kedalaman jiwa makhluk-makhluk yang saling mencabik itu. Ya, suara-suara hiruk itu adalah suara kebencian yang sangat dibencinya.

Mengetahui hiruk suara-suara itu adalah suara kebencian, Abdul Jalil merasa malu dan muak. Ia membalikkan badan dan bergegas meninggalkan tempat laknat itu. Namun, saat ia akan beranjak tiba-tiba telinga batinnya mendengar suara-suara ratapan yang menggema-gema yang memanggil-manggil namanya. �Syaikh Lemah Abang! Syaikh Lemah Abang! Janganlah lari meninggalkan kami! Lihatlah kami! Kami adalah anak-anakmu yang lahir dari dunia baru yang engkau bangun dengan pikiran dan mimpi-mimpimu. Kami adalah anak-anak zaman yang lahir dari kegelapan. Engkaulah ibu dan bapak kami. Janganlah engkau tinggalkan kami!�

Abdul Jalil tercekat mendengar suara-suara itu. Ia merasakan jiwanya tiba-tiba dikuasai oleh rasa belas kasih. Kemudian dengan kata-kata selembut awan ia berkata, �Aku tahu siapa sesungguhnya engkau. Engkau adalah cacing-cacing melata di dalam tanah yang tumbuh menjadi anak-anak harimau dan akan menjelma menjadi adimanusia. Sekarang ini tubuhmu telah menjadi tubuh harimau dan jiwamu pun adalah jiwa harimau. Tetapi, aku katakan kepadamu bahwa ruhmu belumlah ruh manusia. Ruhmu adalah jiwa manusia-hewan yang menyalak penuh kerakusan, kekejian, dendam, dan kebencian. Karena itu, engkau masih membutuhkan waktu untuk menjadi adimanusia seperti yang aku harapkan. Jiwa manusia-hewan yang menguasai kesadaranmu masih membutuhkan waktu dan perjuangan keras untuk bisa menjelma sebagai ruh adimanusia.�

�O Syaikh Lemah Abang! Kami harap engkau tidak memandang kami dari tempatmu yang tinggi. Sebaliknya, engkau harus mematahkan kesombonganmu yang menginginkan seluruh manusia bisa menjelma menjadi sesuatu sesuai mimpi-mimpimu. Engkau tidak bisa mengukur keberadaan manusia dengan menggunakan ukuran dirimu,� suara-suara itu menggeram.

�Apa yang engkau harapkan dariku?�

�Engkau adalah ibu dan bapak yang telah melahirkan kami,� suara-suara itu terdengar bagaikan ciap-ciap anak burung di sarang. �Tunggulah kami! Suapi kami dengan nilai-nilai luhur yang engkau masak dari berbagai jenis makanan jiwa yang menyehatkan dan menguatkan. Susui kami dengan cerita-cerita dan dongeng-dongeng menakjubkan yang menyadarkan keberadaan kami. Tuntun dan bimbing kami meniti jembatan kehidupan agar kami dapat melampaui kemanusiaan dan sampai ke puncak mahligai adimanusia. Pupuklah agar kami bisa tumbuh! Tumbuh menjadi adimanusia sesuai kehendak-Nya dan bukan sesuai kehendakmu.�

Abdul Jalil tertawa. Ia sadar bahwa tiap-tiap jiwa akan tumbuh dan berkembang sesuai kehendak-Nya. Suara-suara itu, katanya dalam hati, benar adanya. Suara-suara itu mengingatkan betapa sombongnya aku yang memimpikan lahirnya adimanusia menurut pikiran dan mimpi-mimpiku. Dan betapa benarnya suara-suara itu yang menginginkan agar aku mematahkan kesombonganku.

Akhirnya, meski rasa muak masih menerkam jiwanya di tengah pertempuran antarbinatang itu, Abdul Jalil merasakan kegembiraan ketika mendapati sekumpulan manusia-hewan bakal adimanusia di dalam Cermin Gaib. Ia bergembira karena seburuk apa pun kumpulan manusia-hewan itu tumbuh, mereka adalah anak-anak harimau yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpinya. Mereka harus dibimbing dan diasuh agar terus tumbuh menjadi manusia dan bahkan adimanusia. Mereka adalah matahari pagi yang sedang merangkak ke tengah hari yang terang-benderang.

Ketika ia membalikkan badan dan menatap Cermin Gaib dengan seksama, ia melihat beratus-ratus bayangan dirinya sebagai kawanan harimau berbulu putih yang seluruh tubuhnya memancarkan cahaya cemerlang. O Yang Mahakuasa, serunya dalam hati, mereka itulah anak-anak zaman yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpiku. Merekalah harimau-harimau perkasa yang bakal melampaui manusia dan menjadi adimanusia. Mereka itulah pahlawan-pahlawan gagah yang maju ke medan perang untuk membela keyakinannya, meski kesucian jiwa mereka masih ternodai amarah dan kebencian. Merekalah harimau-harimau zaman yang akan tumbuh menjadi adimanusia. Merekalah harapan masa depan bagi zaman yang gilang-gemilang.

Saat tengah memandang dengan bangga kawanan harimau berbulu putih cemerlang yang menggeram-geram di tengah cermin itu, ia dikejutkan oleh kelebatan-kelebatan bayangan hitam yang berkerumun di sekelilingnya. Makin lama bayangan-bayangan hitam itu makin beriap-riap dan berdesak-desak laksana gumpalan awan hitam menyesaki penjuru bumi. Bayangan-bayangan hitam itu berkelebatan membentuk aneka rupa perwujudan bayangan; serigala, burung nazar, musang, tikus, dan makhluk-makhluk mengerikan dari Kegelapan. Kemudian, secara menakjubkan, di tengah kelebatan bayangan-bayangan hitam itu terdengar suara gemerisik seperti derik ribuan ular. Suara gemerisik itu makin lama makin menggema, menjadi kata-kata.

�O Syaikh Lemah Abang. Hari ini kami, anak-anak yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpimu, telah memenangkan pertempuran. Musuh-musuh kami telah bergelimpangan tanpa nyawa dan sisanya melarikan diri dengan tubuh penuh luka. Kami telah mengibarkan bendera kemenangan. Kami telah menyanyikan lagu kemenangan. Kami telah beroleh dan membagi-bagi pampasan. Tetapi, kami tidak bisa berhenti sampai di situ. Kami tidak bisa kembali ke rumah dengan setumpuk cerita bualan kepada anak-anak dan istri-istri kami. Kami akan terus bergerak ke depan dan mendaki ke atas untuk melampaui kelemahan kami, sebagaimana yang engkau ajarkan. Kami yang berasal dari kalangan rendah dan lemah, yaitu kawanan binatang melata yang engkau sebut cacing-cacing tanah, telah menunjukkan bukti kekuatan kami sebagai adimanusia. Kami akan berebut menaiki singgasana yang telah kami gulingkan. Kami akan menjadi pengganti singa tua yang sudah tenggelam ditelan air bah perubahan. Kamilah yang kini menjadi penguasa. Kamilah kini yang menentukan arah kehidupan manusia.�

Abdul Jalil tertegun mendengar kata-kata yang mengumandang dari kerumunan bayangan hitam. Kegembiraan dan kebanggaan yang dirasakannya mendadak berubah menjadi kemuakan. Ia menjadi muak melihat bayangan hitam yang berkerumun bagaikan kawanan setan itu. Ia tahu, bayangan-bayangan hitam itu adalah jiwa manusia-hewan yang belum matang dan bakal gagal menjadi adimanusia. Bayangan-bayangan hitam itu adalah citra kepalsuan dari jiwa manusia yang terbelenggu nafsu rendah duniawi. Itu sebabnya, dengan suara getir ia berkata, �Aku tahu siapa sesunggunya engkau, o makhluk-makhluk palsu. Engkau adalah jiwa cacing tanah yang sudah melampaui jiwa binatang melata dan menjelma menjadi binatang buas setingkat musang dan serigala. Tetapi, engkau tidak mampu melampaui jiwa harimau dan jiwa singa, apalagi melampaui jiwa manusia untuk menjadi adimanusia. Dengan menutup-nutupi kelemahan diri, engkau justru akan berbelok arah dan menjadi bayang-bayang dari makhluk yang tidak jelas bentuk dan wujudnya. Engkau telah menjadi hitam sehitam bayang-bayang. Engkau telah menyelewengkan apa yang pernah aku ajarkan dan menggunakan kata-katakku sebagai siasat menipu yang menguntungkan dirimu. Sungguh muak aku. Muak. Muak.�

�Bukankah engkau menghendaki kami berjuang mewujudkan diri dari hewan yang rendah menjadi adimanusia? Bukankah semua yang engkau inginkan telah kami penuhi? Tidakkah engkau menyaksikan bagaimana kami menaklukkan musuh-musuh kami? Tidakkah engkau menyaksikan bagaimana kami membuat para penentang kami bergelimpangan menjadi mayat tak berguna? Tidakkah engkau saksikan bagaimana kami melampaui sesuatu yang lebih tinggi dari kami?� gerutu suara-suara gemerisik itu bagai daun-daun kering diterbangkan angin.

�Jika engkau berkata bahwa dengan menaklukkan musuh-musuhmu maka dirimu akan menjadi adimanusia maka aku katakan bahwa sesungguhnya telah keliru pendengaranmu menerima kata-kata yang telah aku ucapkan. Sebab, melampaui kebinatangan dan kemanusiaan untuk menjadi adimanusia bukanlah seperti engkau melompati selokan dan sungai kecil agar sampai ke seberang. Bukan pula seperti engkau menaklukkan musuh-musuhmu sebagaimana binatang satu menaklukkan binatang yang lain. Seribu kali aku katakan tidak seperti itu.�

�Sekarang buka telingamu lebar-lebar! Yang aku katakan melampaui kebinatangan adalah melampaui naluri-naluri kebinatangan yang tersembunyi di dalam relung-relung jiwamu. Itu sebabnya, yang aku maksud dengan cacing tanah bukanlah hewan melata menjijikkan yang menggeliat-geliat di dalam tanah, melainkan keberadaan jiwamu yang terselubungi oleh hijab Kegelapan (mahjub bi mahdh azh-zhulmah) yang tidak memiliki kesadaran lain, kecuali kesadaran untuk makan dan berketurunan. Yang aku maksud dengan manusia-hewan bukanlah tikus, musang, serigala, harimau, dan singa yang merangkak di permukaan bumi, melainkan keberadaan jiwamu yang terselubungi oleh Cahaya bersama Kegelapan (mahjub bi nur maqrun bi zhulmah). Yang aku maksud dengan manusia bukanlah makhluk berkaki dua yang bisa berpikir, melainkan keberadaan jiwamu yang terhijab oleh pancaran Cahaya (mahjub bi mahdh al-anwar). Sedangkan yang aku maksud dengan adimanusia bukanlah makhluk berkekuatan raksasa yang dapat menaklukkan musuh-musuhnya, melainkan manusia yang sudah berhasil membebaskan diri dari selubung-selubung hijab dan menyaksikan Kebenaran (ma�rifat al-Haqq) melalui pembersihan keilahian dari kemusyrikan (tanzih ar-rububiyyah).�

�Sadarlah, wahai penipu kecil! Janganlah kesukaanmu akan tidur dan bermalas-malas menjadikanmu sebagai pengkhayal dungu. Bangun dan menggeliatlah engkau dari mimpi dan khayalmu. Berpalinglah dari jalan di depanmu karena kiblat hati dan pikiranmu telah menyimpang jauh dari jalan Kebenaran menuju negeri agung kediaman adimanusia. Bangun dan berjuanglah! Merayaplah ke atas! Karena engkau telah terperosok ke dalam sumur tanpa dasar hingga dirimu menjadi gelap laksana bayangan.�

�Jika kami berpaling dan berbalik kiblat, bagaimana dengan takhta kekuasaan yang sudah berada di depan kami?�

�Dengarlah, wahai pencoleng kecil! Engkau tidak cukup pantas menduduki takhta kekuasaan duniawi sebab engkau belum mampu menaklukkan dan menguasai dirimu sendiri. Pantaskah menurutmu memahkotai seekor babi buruk rupa dan merajakannya bagi manusia? Sungguh muak aku dengan ketulian telingamu dan kebutaan matamu. Sungguh muak aku dengan kebebalan otakmu. Aku muak. Muak. Muak. Berkali-kali muak.�

Abdul Jalil berpaling dan meninggalkan bayangan-bayangan hitam yang terus berkerumun mengitarinya bagai gumpalan awan. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia merasa jubahnya ditarik dari belakang. Ia tersentak dan mendengar suara-suara gemerisik itu berkata, �Tinggallah di sini, O Syaik Lemah Abang! Tinggallah di sini! Jangan tinggalkan kami! Kami adalah anak-anakmu. Restuilah kami agar mejadi penguasa bumi. Dukunglah kami agar kami dapat menjadi rajadiraja dunia yang menentukan nasib umat manusia.�

Abdul Jalil merasakan bulu kuduknya merinding ketika melihat bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya itu bergerak mengitarinya dengan tangan mencakar-cakar dan suara gemerisik seperti derik ribuan jangkrik. Ia sadar betapa bayangan itu telingan dan matanya telah tertutup karat sehingga tidak bisa digunakan untuk mendengar dan melihat kenyataan dengan baik. Ketika kerumunan itu makin tak terhitung jumlahnya, ia memungut sepotong kayu dan memukul-mukul sembari berkata, �Tutup mulutmu, he makhluk palsu! Aku muak mendengar ocehan dan igauanmu. Bangunlah engkau dari mimpi kosongmu! Tataplah cermin kenyataan agar engkau dapat melihat siapa sejatinya dirimu. Engkaulah binatang melata yang licik, yang memiliki mata menyala memancarkan api keganasan, kekejaman, kebencian, dan dendam kesumat. Engkaulah binatang rendah yang memiliki mulut berbusa meneteskan liur kelicikan, kepura-puraan, ketidakbersalahan, dan kemabukan pada kekuasaan. O betapa memuakkan engkau. Memuakkan. Memuakkan.�

Tidak lama setelah ia memukul bayangan-bayangan hitam itu dan meninggalkannya pergi, ia melihat ruh seekor singa tua sedang duduk kebingungan di atas sebongkah batu yang mencuat di tengah hamparan air bah. Itulah citra diri Prabu Chakraningrat Yang Dipertuan Rajagaluh di dalam Cermin Gaib. �Inikah raja yang akan digantikan oleh anak-anakku yang sehitam bayangan?� serunya mendekati sang singa dan mengelus-elus rambutnya yang sudah rontok. �Bukankah seekor singa jauh lebih agung dibanding bayangan seribu ekor serigala dan musang?�

Ya, baginya, seekor singa memang lebih agung daripada bayangan hitam kawanan musang. Sebab, setua apa pun usianya, seompong apa pun mulutnya, serontok apa pun rambutnya, ia tetap seekor singa; sang raja rimba. Hanya kelemahan akibat pujian dan sanjungan yang membuat singa tua itu kerasan tinggal di guanya yang sempit dan gelap. Ia tidak sadar bahwa hidup adalah sebuah padang perburuan yang luas dan terus berubah dengan gerakan ke arah depan, tak pernah berhenti, dan tidak pula pernah mundur ke belakang. Singa tua itu tak pernah berusaha untuk melompat keluar gua kesingaannya dan menjelma menjadi manusia. Ketika gerak perubahan hidup melandanya laksana air bah, sang singa kebingungan di dalam guanya. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat oleh seekor singa di tengah terjangan air bah perubahan itu. Ia akhirnya tenggelam diseret arus dan bangkainya tidak pernah diketemukan orang.

Kini, setelah gua yang sempit dan pengap itu kosong, tiba-tiba bayangan-bayangan hitam yang muncul dari gelora bah berkeliaran dan berkerumun mengitari gua. Bayangan-bayangan hitam itu saling desak, saling dorong, saling sikut, saling gigit, dan saling cakar untuk berebut duduk di atas batu singgasana sang singa tua. �Akankah sebuah bayangan hitam lebih agung jika menjadi penguasa gua dibanding seekor singa?� seru Abdul Jalil seolah berkata kepada diri sendiri. �Dihuni singa atau bayangan hitam, sesungguhnya gua tetaplah gua; sebuah keangkeran yang menakutkan bagi manusia. Tetapi, keangkeran yang lahir dari wibawa seekor singa jauh lebih agung dibanding keangkeran yang lahir dari kawanan hantu. Itulah perumpamaan singgasana Rajagaluh jika diduduki Prabu Chakraningrat dan jika diduduki anak-anakku yang belum sempurna menjadi manusia-hewan,� katanya lantang.

Ketika ia memeluk ruh singa tua itu dan membelai rambutnya, ia melihat sekawanan bayangan hitam terbang dalam kerumunan besar di langit laksana gumpalan awan hitam. Kerumunan itu kemudian menukik ke bawah dan mengerumuni tubuhnya. Menyambar-nyambar. Membuat ia harus memutar-mutar potongan kayu di atas kepalanya untuk mengusir kerumunan itu. Ketika potongan kayunya mengenai sesuatu, terdengar jerit kesakitan diikuti suara gemerisik bagai hujan deras tercurah di atap. Sekilas ia menyaksikan puluhan bayangan hitam terempas ke batu-batu dan batang-batang pohon tak berdaun. Ia terbelalak saat melihat puluhan bayangan hitam itu bangkit dan menatap tajam ke arahnya dalam wujud Ki Gedeng Kiban, mantan Adipati Palimanan, dan Rsi Bungsu secara berganti-ganti.

Abdul Jalil berdiri kaku dengan hati ngeri. Ia memandang dengan tatapan nanar ke sosok Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu yang tiba-tiba menjadi puluhan jumlahnya. Ia berpaling ke Cermin Gaib. Terpampanglah gambaran menggetarkan yang menampakkan jati diri makhluk-makhluk licik yang mabuk kekuasaan itu. Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu yang telah berlipat-lipat jumlahnya itu menjelma menjadi makhluk mengerikan dari alam kegelapan yang sulit digambarkan wujudnya. Kepalanya mirip ular dan terbuat dari bahan sejenis batu sungai yang keras. Lidahnya bercabang dengan gigi dan taring tajam berbisa. Kulitnya kasar bersisik dan selalu berubah-ubah sesuai keadaan sekitar. Matanya mirip mata buaya, yang jika menangis tidak meneteskan air mata kesedihan, tetapi mengalirkan genangan air kedustaan yang pahit beracun. Hidungnya mirip hidung anjing yang selalu mengendus-endus membaui segala sesuatu di sekitarnya dengan kecurigaan. Mulutnya mirip babi yang najis dan meneteskan kekejian fitnah dan kebohongan. Hatinya logam sepuhan yang berkilau cemerlang bagai emas, namun berubah legam berkarat ketika disinari cahaya Kebenaran. Limpanya, paru-parunya, empedunya, jantungnya, bahkan usus dan duburnya pun terbuat dari bahan palsu dan beracun.

�Aku tahu siapa sesungguhnya engkau,� kata Abdul Jalil mengacungkan kayu pemukul ke arah bayangan Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu. �Engkau adalah bayangan palsu yang membawa-bawa ajaranku untuk membangun mahligai kekuasaan di atas bumi. Tetapi, karena engkau makhluk palsu maka mahligai yang engkau bangun pun palsu adanya. Kata-katamu palsu. Janjimu palsu. Keringatmu palsu. Air matamu palsu. Air liurmu palsu. Air kencingmu palsu. Tahimu juga palsu. Pendek kata, apa yang keluar dari tubuh makhluk palsu adalah palsu. Palsu. Palsu. Seribu kali palsu.�

Wajah-wajah gelap dan palsu Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu menyeringai. Abdul Jalil sangat terkejut ketika melihat salah satu sosok Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu memudar digantikan oleh sosok wali nagari Kuningan, Angga. Ya, sosok Angga menyeruak keluar dari kerumunan. Ketika ia menegaskan penglihatannya, dilihatnya Angga sebagai seekor gagak yang bulunya rontok dan mengangankan diri sebagai rajawali perkasa. Ibarat dongeng gagak kehilangan daging di paruhnya akibat dipuji serigala, begitulah Angga kehilangan jabatan panglima akibat terlena oleh puja dan puji orang-orang di sekitarnya. Saat gemuruh peperangan terdengar membelah permukaan bumi, Angga hinggap di pohon merenungi nasibnya yang malang.

Citra Angga yang dilihat Abdul Jalil di cermin sebagai burung gagak ternyata memunculkan masalah baru tak lama setelah Caruban memperoleh kemenangan dalam perang. Sebagai gagak yang tak mampu terbang tinggi dan tidak mengetahui jika di atas langit masih ada langit, dia sangat marah dan merasa terhina ketika menerima kabar kemenangan Caruban, terutama saat dia mendengar kegagahan dan keperkasaan Nyi Mas Gandasari, rajawali betina yang dielu-elukan seluruh pasukan karena keberaniannya tak tertandingi.

�Sungguh telah terjadi perubahan tatanan alam ketika seekor burung betina dirajakan mengganti kedudukan sang jantan,� kata Angga kepada berpuluh-puluh gagak tua yang mengerumuninya dengan suara serak dan melengking. Setelah berkaok-kaok melompat-lompat di atas tanah mengais-ngais serpihan daging busuk, gagak-gagak itu berkata serempak. �Jika panji-panji kemenangan dikibarkan di bawah cengkeraman kuku-kuku tajam burung betina bersayap pendek, niscaya matilah seluruh burung jantan akibat tak kuasa menanggung beratnya beban yang bertentangan dengan tatanan alam. Pantaskah burung-burung jantan mengeram dan menunggui sarang. Sementara yang betina terbang ke angkasa memamerkan kegagahan? Pantaskah seekor betina dirajakan atas burung-burung?�

Kecemburuan Angga terhadap kemasyhuran rajawali betina itu nyaris membawa Caruban ke perang lanjutan dalam bentuk penyerangan terhadap Dermayu. Di tengah ketidakpuasan dan rasa penasaran, Angga dengan disertai sejumlah pemuka masyarakat Caruban menghadap Sri Mangana, memohon agar diberi kesempatan untuk menebus kekalahannya yang memalukan. Dengan berkaok-kaok didukung gagak-gagak tua, ia berkata, �O Ratu Ular Laut yang perkasa, kami tidak mampu hidup dengan menanggung segunung aib ini. Para sesepuh pun tidak mampu terbang dengan gagah karena sayap-sayap mereka telah patah oleh timbunan aib. Sungguh berat bagi para burung jantan, o Ratu Ular Laut, jika dipaksa memikul beban tak tertanggungkan ini. Karena itu, kami, para rajawali jantan mohon diberi kepercayaan untuk memimpin pasukan guna menyerbu Dermayu dan mengislamkan Prabu Indrawijaya bersama para nayaka dan penduduknya. Biarlah kemenangan yang kami peroleh nanti akan menjadi obat bagi luka kami yang tak tersembuhkan.�

Sri Mangana menggeram dan menatap tajam Angga dan burung-burung gagak tua. Menurutnya, tidak cukup kuat alasan bagi Caruban untuk menyerang Dermayu. Itu sebabnya, meski didesak oleh para gagak jantan dan bahkan Angga pun telah bersujud di kakinya, ia menolak untuk menyerang Dermayu yang hampir seluruh penduduknya sudah beragama Islam. Namun, Angga yang sudah dirasuk rasa malu dan disakiti rasa terhina tidak putus harapan. Dengan berdalih mau mengislamkan raja Dermayu dan nayakaprajanya, sekembali menghadap kalifah, ia membawa tiga ribu orang laskar gabungan dari Kuningan, Trusmi, Kalisapu, dan Kuta Caruban. Ia dan laskarnya bergerak bagaikan awan terbawa angin ke Kutaraja Dermayu. Di sepanjang perjalanan, dengan pongah laskar-laskarnya berteriak menepuk dada. �Islamkan para pemuja berhala! Sunat Raja Dermayu! Potong kulup kemaluan orang-orang kafir.�

Prabu Indrawijaya, Yang Dipertuan Dermayu, sangat marah mendengar laporan tentang hasrat kemenakannya yang akan menyerang dan mengislamkannya. Kepalanya nyaris meledak ketika ia mendengar tentang caci maki para laskar yang menistanya sebagai kafir yang najis yang akan dipotong kemaluannya. Prabu Indrawijaya benar-benar merasa dihina dan direndahkan. Dengan kesombongan seekor singa tua yang geramannya masih menggetarkan musuh, ia mengaum, �Kehinaan apa yang aku peroleh jika harus menghadapi si mata sipit kulit pucat itu sebagai lawan? Dasar binatang tak tahu diri. Biarlah babi-babi sombong itu berbaris menuju padang penjagalan yang kita siapkan.�

Tanpa keluar dari kratonnya, Prabu Indrawijaya mengirim dua ribu pasukan yang dipimpin Pangeran Lembu Tirta, dua ribu pasukan yang dipimpin Pangeran Kidang Taraju, dan seribu pasukan dipimpin Ki Oyod. Pasukan Dermayu yang gagah perkasa itu dititahkan menghadang Angga dan laskarnya di seberang Sungai Kamal. Demikianlah, saat kedua pasukan bertemu, pecahlah pertarungan sengit yang membuat air Sungai Kamal berwarna merah. Dan ternyata, Angga mengalami nasib tidak lebih baik dari saat ia dan pasukannya dihancurkan pasukan Leuwimunding di hutan Kepuh. Dalam pertempuran itu, laskar yang dipimpin Angga hancur binasa. Hampir tiga ribu orang laskar yang dipimpinnya terbunuh. Sisanya melarikan diri. Angga sendiri dengan susah payah meloloskan diri dengan berpura-pura mati dan menghanyutkan diri hingga muara.

Kabar kehancuran laskar Angga diterima dengan ratap tangis para janda baru dan anak-anak yatim yang makin menggunung jumlahnya. Angga sendiri tidak diketahui keberadaannya. Baru pada hari kesepuluh dia muncul dalam keadaan kuyu untuk menghadap kalifah Caruban. Kemudian dengan kepandaiannya bersilat lidah, ia mengatakan akan siap memimpin kembali pasukan Caruban untuk menggempur Dermayu. Dia mengaku hanyut ke muara hingga terdampar ke pulau Menyawak setelah kalah bertempur di Sungai Kamal. Di pulau itu diberi jimat cupu oleh seorang pertapa tua. �Jimat cupu ini katanya bisa mengeluarkan beribu-ribu prajurit, Yang Mulia,� katanya berusaha meyakinkan.

Sri Mangana yang waskita hanya menggeleng-gelengkan kepala menghadapi kenaifan si burung gagak yang tak tahu diri itu. Namun, kali itu sang kalifah sudah habis kesabaran. Dengan suara menggelegar bagai halilintar ia berkata keras, �Cukup sudah tindakanmu mengobarkan nyawa orang-orang tak bersalah. Hentikan tidakan bodohmu yang sudah menciptakan ribuan janda dan anak-anak yatim! Terbukti sudah bahwa engkau tidak memiliki kecakapan apa-apa di medan tempur. Jikalau sekarang engkau masih berani meminta dukungan untuk menyerang Dermayu maka aku katakan bahwa perang dengan Dermayu tidak perlu dilakukan. Kenapa? Sebab, saudaraku Prabu Indrawijaya beserta seluruh keluarga, nayaka, dan punggawanya telah menghadapku. Saudaraku itu telah menyerahkan kekuasaan atas Dermayu kepada Caruban Larang. Bahkan mereka semua telah berikrar memeluk Islam. Karena itu, pergilah engkau ke Dermayu untuk meminta maaf kepada sang ratu yang sudah menjadi pengikut Muhammad Saw. itu.�

Angga tercengang-cengang mendengar penjelasan Sri Mangana. Ia merasa sangat kecewa karena tidak bisa membuktikan kegagahannya sebagai rajawali jantan. Ia sadar tidak bakal dipercaya lagi oleh Sri Mangana. Itu sebabnya, diam-diam ia menyembunyikan api kebencian terhadap sang rajawali betina. Demikianlah, makhluk bercitra gagak seperti Angga tidak memiliki kemampuan untuk bercermin diri sehingga tidak menyadari keberadaan diri sendiri. Ia tidak mengetahui bahwa takdir telah menempatkannya sebagai seekor gagak, sementara ia membayangkan diri seolah-olah rajawali jantan yang gagah perkasa: raja dari segala burung. Dan sebagaimana Angga, kerumunan bayangan hitam di Cermin Gaib itu akan bergulat untuk memperebutkan kekuasaan tanpa sadar bahwa mereka sesungguhnya adalah bayangan palsu dari manusia-hewan yang rendah. Mereka bukan manusia dan bukan pula adimanusia. Mereka adalah mereka: makhluk-makhluk tak tergambarkan yang lahir dari angan-angan kosong, cacing-cacing tanah, dan makhluk mengerikan dari alam Kegelapan.

Read More ->>

Selasa, 31 Januari 2017

PANGLIMA PUTERI CARUBAN

Panglima Puteri Caruban

Sementara Ki Gedeng Leuwimunding dan pasukan beserta tetunggul Rajagaluh berpacu menuju ke Leuwimunding, pasukan Caruban Larang yang dipimpin Nyi Mas Gandasari tanpa terduga berbalik arah ketika sampai di hutan Gintung di utara Waringin. Pasukan Caruban tidak melanjutkan perjalanan ke arah Leuwimunding, sebaliknya mereka kembali ke Kadipaten Palimanan. Tanpa menimbulkan suara, di bawah lindungan hutan yang lebat dan kabut tebal serta bentangan malam yang hitam, pasukan itu bergerak melintasi hamparan alang-alang, menyeberangi sungai, dan menjelang tengah malam muncul kembali di Balerante yang sudah ditinggalkan pasukan Rajagaluh sore hari sebelumnya.

Malam itu pangkalan pertahanan Balerante hanya dijaga oleh sekitar tiga puluh orang prajurit sehingga tanpa kesulitan berarti Balerante berhasil dikuasai pasukan Caruban. Satu regu penyergap telah melumpuhkan para penjaga. Setelah mengamankan keadaan, pasukan itu diperintahkan untuk beristirahat. Sebab, dengan menguasai Balerante yang jaraknya hanya dua tiga pal dari Kadipaten Palimanan, kemenangan pasukan Caruban sudah terbayang di depan mata sehingga mereka harus beristirahat mengumpulkan tenaga untuk penyerangan esok hari.

Malam itu ketika para prajurit dan tetunggul Caruban Larang sedang beristirahat sambil membayangkan kemenangan esok hari, di tengah liputan kabut bergumpal dan bentangan selimut kegelapan, penduduk Palimanan, tidak kenal tua, muda, laki-laki, perempuan, dan bahkan anak-anak, tiba-tiba keluar beramai-ramai dari rumah masing-masing dengan membawa obor, parang, arit, cangkul, bedog, pentung, dan pisau. Mereka berjalan dalam iring-iringan kecil menuju ujung desa dan bergabung dengan tetangga lain yang sudah berkumpul di sana.

Mereka berbicara satu sama lain dan kemudian membentuk kerumunan-kerumunan kecil seperti kawanan lebah yang mendengung-dengung di sarangnya.

Kerumunan penduduk itu terjadi karena tersebar kabar yang mengatakan saat matahari terbit di cakrawala timur esok pagi, Sri Mangana akan pergi ke Kadipaten Palimanan dengan diiringi pasukannya yang gagah perkasa. Bagaikan memiliki terkaman daya sihir yang dahsyat, kabar kedatangan Sang Ratu Caruban Larang itu menggerakkan seluruh penduduk Palimanan keluar rumah. Mereka seolah-olah dicekam oleh daya pukau yang dahsyat sehingga mereka ingin menekuk lutut di hadapan Duli Paduka Yang Mulia Sri Mangana, ratu yang mereka cintai dan hormati. Hasrat sangat kuat untuk menyembah sang ratu membuat mereka tak kenal tengah malam, tak kenal gelap, tak kenal dingin, di bawah selimut kabut yang pekat, mereka keluar dari rumah masing-masing untuk menuju ke Kadipaten Palimanan.

Malam yang membentangkan selimut hitam di langit Caruban telah menjelmakan keindahan sangat menakjubkan ketika bentangan cakrawalanya ditebari beribu-ribu obor yang menyala di desa-desa yang terletak di sekitar Kadipaten Palimanan hingga desa-desa di lereng Gunung Ceremai. Bagaikan kawanan kunang-kunang yang terbang dalam kerumunan di tengah kegelapan malam, beribu-ribu obor itu terlihat bergerak menuju satu arah. Mereka itulah penduduk dari berbagai desa yang beriring-iringan menuju Kadipaten Palimanan untuk menyambut kehadiran Sri Mangana beserta pasukannya esok hari.

Kehadiran penduduk itu mengejutkan pasukan Caruban Larang yang beristirahat di Balerante. Beberapa prajurit jaga dengan tergopoh-gopoh melaporkan kejadian itu kepada Nyi Mas Gandasari yang terheran-heran menyaksikan orang-orang desa melewati Balerante. �Apakah yang sesungguhnya terjadi? Kenapa mereka beramai-ramai menuju Kadipaten Palimanan? Apakah mereka akan membela sang adipati untuk melawan kita?� tanya Nyi Mas Gandasari ingin tahu.

�Kami sudah menanyai mereka, Nyi Mas, � kata prajurit penjaga.

�Apa jawaban mereka?�

�Mereka hendak pergi ke Kadipaten Palimanan untuk menyambut kehadiran Yang Mulia Sri Mangana. Kata orang, besok pagi Yang Mulia Sri Mangana akan ke Kadipaten Palimanan bersama pasukannya.�

�O begitu.� Nyi Mas Gandasari terburu-buru menemui Syarif Hidayatullah untuk membicarakan hal itu. Ternyata, baik Syarif Hidayatullah maupun tetunggul Caruban Larang yang lain sudah mengetahui peristiwa tak terbayangkan itu. Mereka akhirnya bersepakat untuk membatalkan serangan kilat ke Kadipaten Palimanan esok hari. Mereka tahu bahwa Kadipaten Palimanan bakal kembali ke pangkuan Sri Mangana tanpa perlu menumpahkan darah setetes pun.

Sementara itu, Arya Kiban Adipati Palimanan yang hanya dijaga oleh sekitar seratus orang pengawal tidak dapat berkata-kata ketika memperoleh laporan tentang gerakan beribu-ribu orang yang berbondong-bondong menuju Kadipaten Palimanan. Ia menduga ribuan orang yang bergerak ke Ndalem Kadipatennya itu adalah pasukan Caruban yang dipimpin Sri Mangana. Arya Kiban tiba-tiba merasa seolah-olah sedang mengalami mimpi buruk yang menakutkan. Entah apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja ketika ia berdeham menenangkan diri, ia seperti mendengarkan suara dehamnya bergema di dalam relung-relung jiwanya. Ada semacam kengerian dan kelengangan yang menerkam jiwanya yang tengah diguncang ketakutan. Dan tanpa sadar, dengan suara bergetar ia berkata kepada para pengawalnya, �Kita harus meninggalkan kadipaten sekarang juga.�

Tanpa menunggu waktu, para prajurit pengawal yang juga dicekam ketakkutan itu berhamburan sibuk mengumpulkan istri-istri, anak-anak, dan harta benda sang adipati. Arya Kiban yang gelisah terlihat berdiri kebingungan di Balai Witana. Wajahnya pucat. Dahinya penuh dengan butiran peluh. Tubuhnya basah. Dan napasnya tersengal ketika di benaknya berkelebatan beribu-ribu wajah prajurit Caruban yang menyeringai ganas. Wajah-wajah itu beringas dan buas. Kemudian beribu-ribu mulut menjijikkan dengan gigi bertaring tajam berkerumun dan mengepung menggeram-geram seolah-olah hendak merobek-robek tubuhnya. Bagai orang terbangun dari mimpi buruk, sang adipati berdiri menggigil sambil menyandarkan tubuh pada tiang saka. Ia benar-benar ketakutan. Dengan tatap mata nanar ia menyaksikan para prajurit pengawalnya menyelamatkan harta bendanya dariNdalem Kadipaten. Ia sudah memutuskan, apa pun yang terjadi ia harus secepatnya menjauh dari sini.

Ketika beratus-ratus nyala obor sudah terlihat di sekitar alun-alun Kadipaten Palimanan, Arya Kiban merasakan bulu kuduknya meremang. Ia mendengar teriakan-teriakan marah dan caci maki yang menghujatnya dengan kata-kata kotor yang pernah didengarnya. Ia sadar bahwa tengara kebinasaan sedang mengintai seiring hadirnya orang-orang yang sudah seperti keranjingan setan itu. Bagai disentakkan dari tidur, ia dengan kebingungan melompat ke atas tandu dan dilarikan oleh para pengawalnya untuk menyusul rombongan pengawal lain yang sudah berangkat terlebih dahulu membawa anak-anak dan istri-istrinya.

Anggapan Arya Kiban bahwa ia akan dapat lolos dari sergapan musuh dengan secepatnya keluar lewat pintu belakang ternyata keliru. Saat ia dan para pengawal berada pada jarak sekitar tiga pal di barat Ndalem Kadipaten, ia menyaksikan beratus-ratus bahkan beribu-ribu obor yang menyala laksana lautan api bertebaran di segenap penjuru. Nyala obor itu makin lama makin dekat ke arahnya dengan suara gemuruh derap kaki dan celoteh yang menggema di kegelapan malam.

�Apa yang harus kita lakukan?� gumam Arya Kiban kebingungan.

�Yang Mulia harus menyamar,� kata kepala pengawal.

�Menyamar bagaimana? Menyamar sebagai apa?� Arya Kiban memburu.

�Yang Mulia harus turun dari tandu,� kata kepala pengawal tegas. �Kemudian melepas pakaian dan seluruh atribut adipati. Yang Mulia harus menyamar sebagai penduduk desa.�

�Bagaimana dengan istri-istri dan anak-anakku?�

�Mereka juga harus menyamar.�

Akhirnya, di tengah kengerian yang mencekam, Arya Kiban beserta keluarga dan para pengawal memutuskan untuk menyamar sebagai penduduk desa. Mereka melepas seluruh pakaian dan perhiasan yang gemerlapan yang melumuri wajah dan tangan dengan tanah basah. Mereka teraduk-aduk bersama-sama dengan beribu-ribu orang yang bergerak dalam kerumunan-kerumunan menuju Kadipaten Palimanan. Dan akhirnya, dengan sangat susah payah sang adipati bersama rombongannya berhasil meloloskan diri menuju arah Rajagaluh.

Pagi itu ketika matahari merangkak di ufuk timur terlihat pemandangan yang menakjubkan di Kadipaten Palimanan. Sejauh mata memandang, lautan manusia terhampar memenuhi seluruh penjuru sejak Balai Witana hingga alun-alun, bahkan di luar gerbang kadipaten. Mereka adalah penduduk Palimanan yang datang ke tempat itu sejak malam untuk menghaturkan sembah kepada junjungan mereka Sri Mangana. Hingga matahari naik sepenggalah mereka baru diberi tahu jika Sri Mangana bersama pasukannya akan muncul dari gerbang timur. Ketika akhirnya derit roda kereta perang terdengar di gerbang timur kadipaten, semua orang serentak mengarahkan pandangan ke sana.

Di bawah bayangan gerbang yang memanjang, terlihat pemandangan yang menakjubkan semua orang: sebuah kereta perang dari kayu berukir dengan hiasan emas yang ditarik empat ekor kuda putih keluar dari gerbang diiringi beratus-ratus pasukan berkuda yang diikuti beribu-ribu pasukan tombak. Di samping kanan kereta perang itu terlihat panji-panji hitam bertuliskan kalimah La ilaha illa Allah Muhammad rasul Allah dalam bentuk gambar harimau. Panji-panji itulah yang disebut �Macan Ali�, pataka kebesaran Caruban Larang. Di bawah naungan payung kutlima yang dipegang seorang pengawal ratu, Sri Mangana berdiri tegak dengan surban dan jubah putih berkibaran. Tangan kirinya memegang busur. Tangan kanannya memegang keris Kanta Naga yang terselip di dadanya. Benderang cahaya matahari pagi yang bersinar dari arah belakang, menjelmakan Sri Mangana seolah-olah dewa perang yang turun ke bumi. Dan sebuah pemandangan menakjubkan lain terpampang tatkala kereta perang Paksi Naga Liman yang dikendarai Sri Mangana melaju melintasi alun-alun. Bagaikan digerakkan oleh kekuatan raksasa tak terlihat, tiba-tiba lautan manusia yang melimpah di alun-alun hingga Balai Witana Kadipaten Palimanan itu serentak bersujud dan menyampaikan puja dan puji kepada Ratu Sri Mangana; suaranya menggemuruh sambung-menyambung memenuhi angkasa.

Raja adil disembah, raja lalim disanggah. Begitu kata pepatah. Kehadiran Sri Mangana di Kadipaten Palimanan merupakan bukti nyata dari kebenaran pepatah itu. Penduduk Palimanan yang sejak lahir telah mengenal Sri Mangana sebagai ratunya terbukti tidak dapat dibelokkan kiblat kesetiaannya oleh para petualang, seperti Ki Gedeng Kiban, Ki Gedeng Tegal Karang, Ki Gedeng Kenanga, Ki Demang Dipasara, dan Ki Demang Ardisora. Meski bertahun-tahun para petualang itu menanamkan keyakinan bahwa ratu yang harus disembah oleh penduduk Palimanan adalah Prabu Chakraningrat Yang Dipertuan Rajagaluh, rasa tunduk dan pengabdian mereka terbukti tetap terarah pada junjungan mereka yang sebenarnya, Sri Mangana; sang ratu yang termasyhur adil dan bijaksana. Itu sebabnya, ketika mereka mendengar kabar bahwa ratu mereka akan datang ke Kadipaten Palimanan dengan pasukannya maka mereka pun menyambutnya dengan sukacita. Bahkan, untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan, sejak berangkat dari rumah mereka membawa berbagai jenis senjata. Mereka bertekad akan berkorban jiwa dan raga untuk membela sang ratu yang mereka junjung tinggi dan muliakan itu.

Abdul Jalil yang menunggang kuda di samping kereta perang Sri Mangana hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala saat menyaksikan beribu-ribu orang bersujud menyambut kehadiran ayahandanya. Ia tiba-tiba disentakkan oleh kesadaran bahwa gagasannya tentang masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah pada dasarnya adalah gagasan yang sangat bertentangan dengan adat kebiasaan yang dianut penduduk bumi putera negeri ini. Ia sadar, gagasan yang diilhami pembentukan masyarakat di Yatsrib pada zaman Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat itu memiliki perbedaan mendasar dalam hal adat kebiasaan masyarakat pendukungnya. Orang-orang Arab dan Yahudi, sejak zaman Nabi Muhammad Saw. hingga sekarang tidak memiliki adat kebiasaan bersujud kepada manusia, meski kepada seorang maharaja. Sementara itu, di Bumi Pasundan dan Majapahit, keyakinan tentang Dewaraja yang mewajibkan manusia untuk menekuk lutut menyembah sesamanya justru merupakan keniscayaan. Dengan demikian, menurut hematnya, dibutuhkan kebiasaan yang lebih keras untuk mengubah adat kebiasaan penduduk itu dengan resiko gagal sama sekali atau berhasil lewat penyesuaian-penyesuaian.

Meski tidak mengetahui apa yang berkecamuk di dalam benak Abdul Jalil, Sri Mangana saat menerima para pemuka warga di Balai Witana Kadipaten Palimanan menyatakan bahwa sejak saat ini tatanan yang diberlakukan di Palimanan adalah sama dengan tatanan yang diberlakukan di Caruban. Salah satu tatanan di Caruban yang harus dijalankan saat itu juga adalah meninggalkan adat kebiasaan penduduk untuk bersembah sujud di hadapan raja. Masyarakat Caruban yang ingin menunjukkan hormat kepada rajanya cukup dengan menghadap dan bersalaman sambil mencium tangan raja. Para pemuka warga, tentu sangat terkejut mendengar peraturan baru itu. Namun mereka tidak berani menolaknya. Meski dengan terheran-heran, mereka menyatakan ketundukan dan kesetiaan untuk mengikuti apa saja yang ditetapkan oleh Sri Mangana. Bahkan, mereka menyatakan bahwa ketundukan dan kesetiaan mereka tidak pernah luntur meski selama bertahun-tahun berada di bawah tekanan Ki Gedeng Kiban dan kawan-kawannya yang berkuasa dengan mengatasnamakan warga Palimanan.

Sri Mangana memahami bahwa selama ini baik penduduk maupun para pemukanya telah menjadi korban dari para penguasa gadungan yang mengatasnamakan penduduk untuk meraih kekuasaan. Lantaran itu, di hadapan para pemuka penduduk dan seluruh yang hadir di Balai Witana Kadipaten Palimanan, ia menetapkan keputusan bahwa wilayah Palimanan telah kembali ke pangkuan Caruban Larang dan akan diatur seperti wilayah Caruban Larang yang lain. Maksudnya, setiap penduduk Palimanan yang kini disebut dengan nama masyarakat akan mendapat jatah tanah secukupnya sebagai hak milik. Seperti penduduk Caruban Larang yang lain, masyarakat Palimanan diperkenankan untuk memilih pemimpin di antara mereka sendiri.

Keputusan Sri Mangana itu disambut dengan sukacita oleh seluruh penduduk. Dengan air mata bercucuran mereka menyampaikan puja dan puji kepada ratu yang mereka junjung tinggi. Di tengah semarak kebahagiaan yang meluap-luap itu, para penduduk Palimanan seolah-olah lupa pada peraturan baru yang barusan ditetapkan Sri Mangana: tanpa ada yang memerintah, mereka secara serentak beramai-ramai bersujud dan memuji-muji Sri Mangana sebagai raja yang adil dan bijaksana.

Sementara itu, kabar jatuhnya Kadipaten Palimanan tanpa meneteskan darah setitik pun benar-benar membuat mulut para tetunggul Rajagaluh bungkam. Mereka tidak bisa berkata sesuatu sebab mereka benar-benar merasa terkecoh oleh siasat cemerlang Sri Mangana yang memancing mereka dengan taktik seolah-olah akan menyerang Leuwimunding. Dan mulut mereka pun makin bungkam manakala mendapat laporan susulan bahwa beberapa jenak setelah menguasai Kadipaten Palimanan, Sri Mangana beserta semua pasukannya telah bergerak ke Rajagaluh dan bahkan mengepung Kutaraja dari timur, selatan, dan barat.

�Kita memang tidak bisa berbuat apa-apa.� Pangeran Arya Mangkubhumi akhirnya membuka mulut meski terlihat tak bersemangat. �Tetapi, sudah menjadi tugas kita untuk menyelamatkan Sri Baginda dari kepungan musuh.�

�Tapi Yang Mulia, hamba mendapat laporan bahwa pasukan-pasukan yang membantu Caruban berasal dari Demak dan Majapahit. Malahan, pasukan dari Majapahit katanya menggunakan senjata setan jelmaan naga api. Sepanjang malam senjata-senjata setan itu memuntahkan api dari mulutnya sehingga membakar hutan di selatan kutaraja,� kata Ki Gedeng Leuwimunding.

�Bagaimana engkau percaya senjata itu jelmaan naga api?� tanya Pangeran Arya Mangkubhumi.

�Kata orang, senjata itu memiliki mulut seperti naga yang bisa menyemburkan api. Senjata itu hanya digunakan pada malam hari. Jikalau pagi datang senjata-senjata itu dimasukkan ke dalam kotak-kotak dan diselimuti kain hitam. Bukankah hanya setan yang keluar pada malam hari?� kata Ki Gedeng Leuwimunding.

Pangeran Arya Mangkubhumi terdiam. Ia sendiri sebenarnya bingung mendengar cerita-cerita menakutkan tentang senjata setan bernama gurnita yang digunakan pasukan Majapahit asal Terung. Ia tidak tahu senjata pusaka apa sebenarnya gurnita itu. Menurut kabar yang didengarnya, senjata-senjata setan itu sebesar pohon dan memiliki mulut seperti naga yang mengeluarkan api. Sebagaimana kabar yang menebar, ia diam-diam meyakini bahwa senjata bernama gurnita itu memang pusaka yang digerakkan oleh daya sakti sebangsa ruh naga api. Kayakinannya itu makin kuat manakala ia mendapat laporan bahwa pemimpin pasukan Majapahit itu adalah Ki Wedung, pendeta bhairawa pemimpin ksetra yang baru saja memeluk agama Islam.

Dengan meyakini bahwa pasukan Majapahit menggunakan senjata berkekuatan setan, Pangeran Arya Mangkubhumi sadar bahwa cepat atau lambat kekuatan yang dimiliki Rajagaluh akan runtuh. Sebab, diakui atau tidak diakui, semangat pasukan yang dipimpinnya mengalami keruntuhan akibat menyebarnya cerita tentang kehebatan senjata setan itu. Namun, ia juga sadar bahwa menyelamatkan ayahandanya dari kebinasaan adalah kewajiban utama yang tak bisa diabaikannya. Itu sebabnya, dengan mengancam akan menghukum mati siapa saja di antara tetunggul dan prajurit Rajagaluh yang meninggalkan tugas, ia memerintahkan penyerangan besar-besaran terhadap pasukan Caruban yang mengepung Rajagaluh. �Ki Gedeng Leuwimunding menggempur pasukan musuh yang di sebelah timur. Celeng Igel menggempur pasukan musuh di sebelah barat. Aku sendiri akan menerobos ke kutaraja dari arah utara. Apa pun yang terjadi, raja harus diselamatkan dari musuh,� kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

�Besok pagi, seiring terbitnya sang surya, hamba akan menggempur musuh,� kata Ki Gedeng Leuwimunding bersemangat. �Hamba berharap pasukan dari Sumedang, Maleber, Taraju, Panembong, dan Palimanan berkenan hamba pimpin sehingga hamba dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.�

�Engkau tidak perlu ragu tentang itu. Aku sudah memberi perintah kepada para kepala pasukan agar mematuhimu. Tetapi, yang terpenting engkau harus meyakinkan pasukanmu bahwa jumlah kita lebih banyak dibanding jumlah musuh. Kita masih memiliki sedikitnya 50.000 orang prajurit, sedangkan kekuatan pihak Caruban kurang dari 20.000 orang. Jadi, dengan sedikit memacu semangat pastilah kita akan meraih kemenangan. Yakinkan mereka bahwa kemenangan akan berpihak kepada kita,� kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

�Hamba akan menjalankan tugas sebaik-baiknya,� Ki Gedeng Leuwimunding menyembah. �Hamba mohon restu, mudah-mudahan pasukan yang hamba pimpin berhasil meraih kemenangan.�

Kabut pagi masih menyelimuti lembah yang memisahkan Sungai Waringin dan Kutaraja Rajagaluh ketika satu detasemen pasukan yang dipimpin Ki Demang Surabangsa mengendap-ngendap menuruni tebing sungai dan menyusuri alirannya ke arah hulu. Di dalam sungai itu mereka berjalan tertatih-tatih di atas bebatuan yang licin. Semangat di dalam jiwa mereka meningkat karena yakin akan mudah mengalahkan musuh yang tidak dibantu oleh kekuatan setan jika bertempur pada siang hari. Tugas mereka pagi itu adalah menghancurkan kotak-kotak setan yang dijadikan senjata andalan pasukan Majapahit.

Usaha pasukan Rajagaluh untuk menyergap pasukan Majapahit yang bersenjata naga setan dilakukan setelah para tetunggul Rajagaluh mendapat laporan tempat senjata-senjata setan itu �tidur�. Tanpa menguji ulang kesahihan laporan itu, Pangeran Arya Mangkubhumi yang sudah dicekam kebingungan memerintahkan Ki Demang Surabangsa untuk menghancurkan senjata-senjata setan itu pada pagi hari, yakni saat setan-setan tidur.

Ketika kabut mulai menipis, mereka mendaki tebing sungai. Sambil merangkak mereka merayap ke arah hutan di timur sungai. Mereka membayangkan tidak lama lagi bakal menemukan kotak-kotak setan pasukan Majapahit yang sedang tidur. Namun, saat mereka sampai di tepi hutan dan mendongakkan kepala ke atas, bukan kotak-kotak setan yang mereka temukan melainkan beratus-ratus wajah beringas dengan mata menyala dan mulut menyeringai yang memandang ganas ke arah mereka. Dan yang paling mencengangkan, tangan-tangan dari pemilik wajah beringas itu menggenggam sebilah tombak yang diarahkan kepada mereka.

�He, kenapa berhenti?� teriak seorang prajurit Rajagaluh dari tebing sungai. �Ayo jalan terus!�

Tidak ada jawaban dari arah depan. Beberapa jenak suasana terasa lengang dan mencekam. Namun, sejurus kemudian terdengar teriakan yang diikuti menghamburnya para prajurit yang merayap di dekat hutan ke arah sungai.

�Lari!�

�Kita dijebak!�

Berpuluh-puluh prajurit yang sudah menirap di atas rumput terkejut dan tidak dapat lagi menahan diri. Sambil berteriak-teriak mereka berdiri dan mengambil langkah seribu mengikuti kawan-kawannya. Mereka berlari tanpa aturan, saling tabrak, saling dorong, saling desak, saling sikut, dan saling mengumpat. Suasana di atas tebing sungai benar-benar kacau. Semua prajurit Rajagaluh berlomba untuk lari sekencang-kencangnya menuruni tebing. Namun malang tak dapat dielakkan, pasukan Majapahit asal Terung yang sudah menunggu sejak pagi itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan jeritan perang menggetarkan, mereka melemparkan tombak-tombak ke arah pasukan Rajagaluh yang semrawut di sisi timur sungai.

Terdengar pekik tertahan ketika tombak-tombak yang dilempar pasukan Terung menghujam punggung para prajurit Rajagaluh hingga tembus ke dada. Setelah itu terlihat pemandangan mengerikan; berpuluh-puluh tubuh bertumbangan tanpa nyawa di atas tanah berumput. Darah menggenang dan lengking kematian terdengar sambung-menyambung diikuti ratap kesakitan.

Para prajurit Terung sendiri adalah orang-orang yang sudah terlatih dalam pertempuran. Mereka sangat terampil menggunakan senjata. Begitu selesai melemparkan tombak-tombaknya, mereka menerjang musuh sambil mencabut keris yang terselip di perut. Dan bagaikan orang keranjingan setan, mereka mengamuk dan membinasakan setiap musuh yang berada di dekatnya. Para prajurit Rajagaluh yang lari berdesak-desak di dalam aliran sungai mereka jadikan sasaran utama amukan. Tebing sungai yang semula hijau dirambati rumput dan sulur-suluran tiba-tiba berubah warna. Aliran sungai yang semula jernih mendadak menjadi merah. Dalam peristiwa mengerikan itu Ki Demang Surabangsa tewas terbunuh. Mayatnya terlihat meringkuk di antara tumpukan mayat prajurit yang melindunginya.

Ketika bala bantuan Rajagaluh yang dipimpin Ki Demang Dipasara datang, prajurit-prajurit Majapahit serentak berbalik arah dan menghilang di antara rimbunan hutan dengan meninggalkan ratusan mayat bergelimpangan di aliran sungai. Rupanya mereka sadar bahwa tugas utama mereka adalah menjaga kotak-kotak berisi senjata gurnita, bukan bertempur muka lawan muka dengan pasukan musuh.

Kehancuran pasukan Rajagaluh yang dipimpin Ki Demang Surabangsa dialami juga oleh pasukan Rajagaluh yang lain. Celeng Igel, perwira asal Sumedang yang memimpin pasukan Sumedang dan Panembong, lari terbirit-birit ketika pasukannya dihancurkan oleh pasukan Naga Laut yang dipimpin Abdul Halim Tan Eng Hoat di garis pertahanan barat. Ngabehi Ardisora yang memimpin pasukan asal Taraju dan Maleber dihancurkan oleh pasukan Liman Bhuwana yang dipimpin Syarif Hidayatullah di garis pertahanan timur. Bahkan, pasukan induk Rajagaluh yang dipimpin Ki Gedeng Leuwimunding yang berhasil menerobos pertahanan pasukan Caruban di garis pertahanan timur dapat dipukul mundur oleh pasukan Nyi Mas Gandasari yang dibantu pasukan Pangeran Soka.

Dengan semua kekalahan itu tampaknya tidak ada yang bisa dilakukan pasukan Rajagaluh, kecuali bertahan di dalam kubu pertahanan kutaraja. Para tetunggul Rajagaluh sudah bertekad untuk mempertahankan kutaraja sampai titik darah yang penghabisan. Batang-batang pohon dan berbagai jenis benda telah mereka jadikan halang rintang di jalan-jalan yang dijaga oleh prajurit-prajurit pemanah. Kediaman para pangeran yang telah dikosongkan mereka jadikan kubu pertahanan. Bahkan, tumpukan-tumpukan batu di sepanjang dinding yang mengitari Bangsal Kaprabon mereka siapkan sebagai senjata cadangan.

Menghadapi siasat Rajagaluh yang menggelar rencana perang kuta, Sri Mangana hanya tersenyum menerima laporan-laporan dari para pengintainya. Selaku agra-senapati Caruban Larang, ia tidak berpikir sedikit pun untuk memerintahkan penyerbuan besar-besaran pasukannya ke kutaraja Rajagaluh yang sudah terkepung itu. Ia bahkan menjalankan siasat yang tak pernah terpikirkan lawan, yakni membiarkan seluruh penghuni kutaraja Rajagaluh dicekam kecemasan dan ketakutan akibat sepanjang malam mendengar suara gemuruh senjata gurnita yang memekakkan telinga dan mengguncang dada. Secara diam-diam ia meminta kepada sahabat-sahabatnya para mantan pendeta bhairawa untuk masuk ke kuta pada malam hari dan menculik satu demi satu prajurit Rajagaluh yang berjaga malam.

Siasat Sri Mangana meruntuhkan semangat lawan ternyata menunjukkan hasil gemilang. Setelah empat hari dibingungkan oleh gemuruh senjata setan gurnita, penduduk Kutaraja Rajagaluh dicekam oleh rasa takut akibat munculnya makhluk-makhluk sejenis raksasa yang berkeliaran di dalam kuta dan menculik satu atau dua prajurit Rajagaluh untuk dijadikan santapan. Meski belum satu pun korban penculikan itu ditemukan, cerita-cerita mengerikan tentang makhluk-makhluk raksasa itu telah berkembang sedemikian rupa hingga membuat mereka yang mendengar terbelalak ketakutan.

Dicekam kecemasan, ketakutan, kebingungan, dan kekurangan tidur, para prajurit Rajagaluh yang bertahan di kutaraja terombang-ambing dalam ketidakpastian. Ketika ketidakpastian itu makin menggumpal laksana awan hitam, diam-diam para prajurit Rajagaluh melarikan diri dalam kelompok-kelompok kecil meninggalkan kutaraja. Sejumlah perwira yang kebingungan diam-diam membawa pergi keluarganya dari kutaraja dengan menyamar sebagai penduduk biasa. Untuk meyakinkan pasukan Caruban yang mengepung kuta bahwa mereka penduduk biasa, mereka keluar dari kuta dengan membawa tikar, sirih, padi, ubi, ayam, dan kambing.

Ketika para tetunggul Rajagaluh memperoleh laporan tentang pelarian prajurit-prajurit tersebut, keadaan sudah parah. Persediaan gabah di lumbung kraton lebih dari separo raib. Sejumlah pos penjagaan dijaga oleh orang-orangan dari jerami. Tombak, pedang, panah, busur, dan gada bertumpuk-tumpuk di sejumlah barak. Prajurit yang tersisa pun semangatnya sangat merosot. Dan saat dihitung, jumlah mereka sudah berkurang lebih dari separo, termasuk perwira-perwira yang lari bersama keluarganya.

Kabar larinya para prajurit dari kutaraja itu berusaha ditutup keras oleh para tetunggul Rajagaluh. Perintah Pangeran Arya Mangkubhumi �bersikaplah seolah-olah tidak terjadi sesuatu agar musuh tidak mengetahui peristiwa memalukan ini� dijalankan dengan patuh oleh prajurit yang tersisa. Namun, tetap juga kabar memalukan tersebut menyebar bagaikan sekam diterbangkan angin, terutama saat perwira-perwira yang menyingkir tertangkap oleh prajurit Caruban yang curiga dengan barang bawaan mereka yang mewah. Dari mulut merekalah kabar itu menyebar.

Kendati sudah mengetahui kabar larinya para prajurit dari Kutaraja Rajagaluh, Sri Mangana tidak mengambil tindakan apa pun. Arus berita yang menumpuk di kemahnya dibiarkan menggunung. Tampaknya sang kalifah ingin mengalahkan musuh tanpa menumpahkan banyak darah. Semakin sedikit darah yang tumpah akan semakin baik, begitu ia berkata kepada para penasihatnya.

Para penasihat kalifah seperti Pangeran Raja Sanghara, Syaikh Ibrahim Akbar, Syaikh Lemah Abang, dan Syaikh Bentong dapat memahami perasaan sang kalifah yang tidak cukup tega untuk menumpahkan darah Prabu Chakraningrat dan keluarganya, yang bagaimanapun adalah saudara sedarah dan sedagingnya. Namun beda dengan para penasihat, para tetunggul Caruban yang bertempur di medan perang tidak memahami pemikiran dan perasaan Sri Mangana. Mereka bersikukuh memohon agar sang kalifah secepatnya memerintahkan penyerangan ke kubu pertahanan musuh yang sedang lemah. Dengan semangat berkobar-kobar mereka menyampaikan alasan-alasan tentang pentingnya serangan akhir ke kutaraja musuh untuk meraih kemenangan gemilang. �Jika kita berhasil menduduki Rajagaluh, berarti kita mencatat sejarah bahwa inilah kemenangan pertama umat Islam di negeri ini,� kata Pangeran Sabrang Lor didukung tetunggul yang lain.

Akhirnya, setelah didesak dari berbagai sisi Sri Mangana menyetujui serangan besar-besaran terhadap Kutaraja Rajagaluh yang sudah terkepung itu. Dengan dada dikobari kebanggaan, mereka kemudian bermusyawarah merencanakan siasat penyerbuan. Berdasar laporan para pengintai, mereka mengetahui bahwa titik terlemah dari pertahanan Rajagaluh adalah di gapura alit yang terletak di utara kutaraja. Meski parit yang melingkari gapura alit lebih luas dan jaraknya lebih jauh dibanding parit lain, penjagaan di tempat itu amat lemah karena pos-pos jaganya ditunggui orang-orangan dari jerami.

Rencana yang dirancang manusia sering kali meleset jauh dari harapan. Beda yang dibayangkan dalam angan-angan, beda pula yang dihadapi dalam kenyataan. Ketika beribu-ribu pasukan Caruban mulai menyerbu Kutaraja Rajagaluh, terlihatlah manusia mengepung dari selatan, timur, barat, dan utara laksana gelombang samudera mengepung pulau karang di tengah lautan. Umbul-umbul, bendera, panji-panji, dan tombak teracung naik dan turun bagaikan hutan diterpa angin. Pekik peperangan menggemuruh laksana bukit runtuh. Kaki kuda berlomba dengan kaki para prajurit menuju gerbang di empat penjuru kuta dan yang terbesar di gapura alit di utara kuta.

Ketika cipratan air terdengar dari parit yang terinjak ribuan pasang kaki, disusul prajurit-prajurit yang berebut masuk membelah air menuju ujung parit hingga air merendam dada mereka, terjadi peristiwa yang mencengangkan dan membuat terbelalak mata para penyerbu. Saat itu para penyerbu mendadak terpaku serentak bagai orang kebingungan dan kehilangan akal. Mereka tertegun-tegun bagaikan sedang berada di alam mimpi. Darah mereka tersirap manakala menyaksikan air yang menggenangi parit di sekeliling baluwarti itu menggelegak panas. Beberapa prajurit yang berada di garis depan terlihat berlari-lari menjauhi parit seperti orang tersiram air panas. Yang lebih aneh lagi, mereka menyaksikan dinding-dinding baluwarti yang terbuat dari kayu kusam dan berlumut di depan mereka tiba-tiba hilang dari penglihatan. Mereka merasa seolah-olah telempar ke suatu dunia lain yang tak mereka kenal.

Menghadapi kenyataan mencengangkan itu, para prajurit Caruban yang sebagian besar belum terbebas sama sekali dari kekuasaan takhayul tidak dapat menahan diri. Sambil berteriak-teriak ketakutan mereka berhamburan melarikan diri ke garis belakang. Para kepala pasukan yang berteriak-teriak memerintahkan mereka untuk mundur secara teratur tidak digubris sama sekali. Prajurit Caruban terus berlarian sambil melolong-lolong dengan wajah pucat dan peluh bercucuran menyimbah tubuh.

Kegagalan serangan besar-besaran pasukan Caruban itu membingungkan para tetunggul dan bahkan Nyi Mas Gandasari sendiri selaku panglima. Mereka segera berkumpul di kemah Sri Mangana untuk memohon petunjuk bagaimana mengatasi masalah membingungkan tersebut. Mereka tidak tahu kekuatan sihir apa sebenarnya yang digunakan oleh para tetunggul Rajagaluh hingga membuat para penyerbu lari terbirit-birit ketakutan.

Sri Mangana yang sejak awal tidak berminat menyerbu Kutaraja Rajagaluh terlihat diam menghadapi para tetunggulnya yang kebingungan. Beberapa jenak kemudian, sambil menarik napas panjang ia berkata, �Sesungguhnya, tanpa diserbu pun Rajagaluh akan jatuh. Tetapi kita tidak cukup memiliki kesabaran untuk menunggu barang tiga atau empat hari lagi. Kita cenderung terbawa perasaan bangga diri dan menganggap remeh lawan. Kini, setelah gagal, apa yang harus kita lakukan untuk memulihkan semangat prajurit kita yang runtuh?�

�Kami merasa bersalah, Pamanda Ratu,� ucap Pangeran Sabrang Lor lirih. �Ini akan menjadi pelajaran bagi kami selanjutnya. Sekarang kami memang kebingungan karena tidak mampu memulihkan semangat prajurit yang runtuh. Kami mohon petunjuk dan perintah dari Pamanda Ratu untuk mengatasi hal ini.�

Sri Mangana diam. Ia merenungkan rangkaian cerita kegagalan yang sulit diterima nalar itu. Sebagai orang yang pernah menggeluti ajaran bhairawa, ia menangkap sasmita bahwa peristiwa semacam itu hanya mungkin terjadi akibat daya sakti sebuah Sangga Kamulan, terutama daya sakti yang terpancar dari Palinggih. Di Palinggih itulah sakti dari Purusa dan Atma yang disebut Dewi Mayasih memancarkan daya kekuatan gaibnya. Rupanya, di Palinggih Sangga Kamulan itulah daya sakti Dewi Mayasih memancar ke empat penjuru sebagai Ratu Tangkep Langit, Ratu Teba, Ratu Jalawung, dan Ratu Pangandangan sehingga membuat para penyerbu kebingungan. Ya, daya sakti Dewi Mayasih itulah yang telah menggagalkan serbuan besar-besaran pasukan Caruban ke Kutaraja Rajagaluh.

Beberapa jurus tenggelam dalam renungan dan memahami akar masalah, Sri Mangana tanpa terduga tiba-tiba memerintahkan Pangeran Soka untuk menemui pihak Rajagaluh. Pangeran Soka ditugaskan menyampaikan pesan Sri Mangana kepada Prabu Chakraningrat. Setelah Pangeran Soka pergi ke Rajagaluh, Sri Mangana mendaulat Nyi Mas Gandasari untuk mewakilinya merundingkan perdamaian dengan pihak Rajagaluh. �Pergilah engkau menemui Prabu Chakraningrat di kratonnya. Bertindaklah atas namaku untuk mengajak dia berunding tentang kemungkinan damai antara Caruban Larang dan Rajagaluh.�

Nyi Mas Gandasari dengan takzim menerima tugas itu. Namun, para tetunggul Caruban sangat terkejut dengan keputusan yang mereka anggap tidak lazim. Mereka terheran-heran dan saling pandang seolah berkata, �Bagaimana mungkin Caruban yang sudah berada di atas angin tiba-tiba mengirim utusan untuk merundingkan perdamaian? Bukankah dengan satu pukulan saja Rajagaluh akan tersungkur?

Meski terheran-heran dengan keputusan Sri Mangana, tampaknya para tetunggul Caruban tidak ada yang berani mengungkapkan rasa penasarannya itu. Tampaknya mereka masih ingat bagaimana saat mereka mendesakkan keinginan untuk menyerbu ke Rajagaluh yang berakhir dengan kegagalan itu. Lantaran itu, mereka hanya menunggu hasil dari keputusan kalifah Caruban tersebut. Demikianlah, dengan didampingi Ki Waruanggang, Ki Tameng, Ki Tedeng, dan Ki Sukawiyana, Nyi Mas Gandasari pergi ke Kuta Rajagaluh untuk bertemu dengan Prabu Chakraningrat.

Kabar yang disampaikan Pangeran soka tentang kedatangan Nyi Mas Gandasari ke kraton Rajagaluh seketika menggemparkan pihak Rajagaluh. Para prajurit menari-nari kegirangan dan berebut ke gerbang selatan untuk melihat dari dekat panglima puteri Caruban yang sudah melegenda kecantikannya. Malahan, para tetunggul yang penasaran dengan kabar kecantikan Nyi Mas Gandasari berebut ingin mendampingi Prabu Chakraningrat dalam perundingan damai itu.

Kegemparan yang terjadi di Kutaraja Rajagaluh mencapai puncak ketika suatu pagi Nyi Mas Gandasari dengan didampingi Pangeran Soka dan dikawal empat prajurit bertombak muncul di gerbang selatan. Dengan dandanan mengagumkan bak seorang bidadari, Nyi Mas Gandasari melangkah dengan anggun melewati gerbang. Para prajurit yang berdesak-desak di sepanjang kanan dan kiri jalan terlihat berwajah tolol dengan mulut terngaga ketika memandang Nyi Mas Gandasari berjalan perlahan menuju ke Bangsal Kaprabon. Bahkan saat tubuh Nyi Mas Gandasari dan rombongan lenyap di balik pagar, mereka masih terperangah saling pandang kemudian menggeleng-gelengkan kepala sambil mendecakkan mulut.

Ternyata bukan hanya para prajurit dan perwira Rajagaluh yang terpukau oleh daya pesona kecantikan Nyi Mas Gandasari. Prabu Chakraningrat yang sudah uzur pun tidak mampu menyembunyikan hasrat hatinya yang terpesona dan terkagum-kagum pada kecantikan Nyi Mas Gandasari sehingga lupa jika nyawanya sedang diintai maut. Saat bertemu dengan Nyi Mas Gandasari di Bangsal Kaprabon, Prabu Chakraningrat sedikit pun tidak menyinggung masalah perundingan damai. Bagaikan seseorang yang berhasrat membeli perhiasan yang indah, sang Prabu menanyai Nyi Mas Gandasari tentang ini dan itu, terutama asal usul negeri dan keluarganya. Bahkan, tanpa rasa malu sedikit pun sang raja yang jika berbicara sering terbatuk-batuk itu menyampaikan lamaran agar Nyi Mas Gandasari bekenan menjadi istri kesayangannya. �Jika engkau bersedia menjadi istriku, o Cantik,� kata Prabu Chakraningrat terbatuk-batuk. �Apa pun yang engkau inginkan akan aku penuhi. Seluruh kraton ini beserta isinya akan menjadi milikmu,� katanya merayu.

Nyi Mas Gandasari sebenarnya marah dengan tindakan Prabu Chakraningrat yang dianggapnya tidak tahu diri itu. Namun demi menjalankan tugas dari ayahanda angkatnya, ia harus berpura-pura sangat bersukacita menerima lamaran laki-laki tua bangka itu. Dengan senyum yang dipaksakan ia berkata, �Hamba menerima lamaran Paduka dengan sangat gembira. Tetapi sebelum pernikahan dilakukan, sebagaimana kelaziman adat kebiasaan, hamba ingin melakukan pemujaan ke Sangga Kamulan leluhur paduka. Hamba ingin memohon perkenan dan restu arwah para leluhur Rakanda Prabu agar kehadiran hamba diterima.�

Prabu Chakraningrat merasakan hatinya diguyur air dingin dan nyawanya seolah terbang ke angkasa mendengar jawaban Nyi Mas Gandasari, terutama saat ia dipanggil dengan sebutan �Rakanda Prabu�. Tanpa menunggu waktu dan tanpa berpikir lebih jauh, ia memperkenankan dan bahkan mengantar sendiri Nyi Mas Gandasari ke Sangga Kamulan. Ketika beberapa pengawal raja mendekat, dihardiknya dengan kasar. Akhirnya, hanya Prabu Chakraningrat, Nyi Mas Gandasari, Pangeran Soka, beserta keempat pengawalnya yang pergi ke Sangga Kamulan yang terletak di dalam puri kedaton.

Sangga Kamulan, tempat arwah leluhur Prabu Chakraningrat dipuja, adalah sebuah bangunan suci yang terletak di bagian utara puri. Panjangnya sekitar empat belas depa, lebar tiga belas depa, dan dilingkari tembok bata setinggi tiga depa. Di dalam Sangga Kamulan terdapat empat bangunan utama, yaitu Kamulan, Palinggih, Angrurah, dan Pahyasan. Satu-satunya pintu masuk ke Sangga terletak di selatan dan disebut pamedalan. Di Sangga Kamulan itulah ibunda, kakek, dan nenek Prabu Chakraningrat dari pihak ibu dipuja sebagai Dewa Pitara.

Karena Sangga Kamulan adalah bangunan suci yang hanya boleh dimasuki raja dan keluarga maka Pangeran Soka dan keempat pengawal Nyi Mas Gandasari tidak diperkenankan masuk. Mereka diminta menunggu di depan Pamedalan. Nyi Mas Gandasari yang bakal menjadi keluarga raja tampak kebingungan karena baru pertama kali ia berada di suatu Sangga Kamulan. Ia tidak tahu di mana letak bangunan Palinggih yang dimaksud oleh Sri Mangana. Ia menoleh ke arah pamedalan untuk meminta petunjuk kepada para pengawalnya yang berdiri di depan gapura. Dengan isyarat tangan, salah satu pengawal yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ki Tameng menunjuk letak Palinggi itu tepat di utara sangga yang berseberangan dengan gapura pamedalan.

Prabu Chakraningrat yang sudah dimabuk pesona tampaknya sudah tidak memperhatikan gerak-gerik Nyi Mas Gandasari yang mencurigakan. Bahkan saat Nyi Mas Gandasari mengangkat kandaga emas (peti kecil) di atas Palinggih, Prabu Chakraningrat tidak mengetahuinya karena pandangannya terarah pada pinggul Nyi Mas Gandasari.

Prabu Chakraningrat baru tersadar dirinya telah tertipu ketika ia melihat Nyi Mas Gandasari membalikkan badan. Ia terkejut bukan alang kepalang melihat kandaga emas di Palinggih sudah berada di pelukan Nyi Mas Gandasari. Namun sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Nyi Mas Gandasari sudah melayangkan pukulan menyilang ke arah dagu kanannya. Tanpa sempat berteriak, penguasa Rajagaluh yang sudah tua itu terbanting tubuhnya ke tanah dan pingsan. Sementara itu, dengan gerakan trengginas bagaikan burung sikatan yang lincah, Nyi Mas Gandasari melesat keluar gapura pamedalan.

Rupanya, semua peristiwa yang terjadi di dalam Sangga Kamulan tidak luput dari intaian para pengawal raja yang diam-diam mengikuti ke Sangga Kamulan, meski telah dihardik agar menyingkir oleh sang raja. Saat Nyi Mas Gandasari baru menginjakkan kaki di luar gapura pamedalan, teriakan-teriakan para pengawal raja itu sudah terdengar sahut-menyahut dan sambung-menyambung ke segenap penjuru. Tak kurang dari sepuluh pengawal bersenjata lengkap terlihat berdiri menghadang di depan gapura pamedalan.

Andaikata para pengawal Nyi Mas Gandasari adalah prajurit biasa, mungkin akan terjadi pertempuran sengit. Namun, para pengawal yang sesungguhnya adalah para bekas penguasa ksetra itu memiliki ilmu kadigdayan jauh melebihi prajurit biasa. Mereka tidak memberi kesempatan banyak bagi para pengawal raja untuk menyerang. Dengan menggeram, Ki Tameng tiba-tiba melompat ke depan dan menyergap leher salah seorang pengawal raja. Kemudian dengan kekuatan yang menakjubkan ia mengangkat pengawal itu dengan satu tangan ke atas dan membantingnya ke bawah dengan cara terbalik. Terdengar suara tulang pecah ketika kepala pengawal itu remuk menghantam lantai. Setelah itu, dengan gesit Ki Tameng melompat dan mencengkeram leher salah seorang pengawal yang lain. Mata para pengawal raja terbelalak saat mereka mendengar suara tulang leher patah yang diikuti ambruknya tubuh kawan mereka dengan kepala terkulai.

Menyaksikan peristiwa mengerikan yang berlangsung secepat kilat itu, para pengawal raja berhamburan melarikan diri sambil berteriak-teriak memanggil kawan-kawannya. Sementara itu, dengan isyarat tangan, Nyi Mas Gandasari beserta keempat pengawalnya membagi diri ke dalam tiga kelompok. Satu ke utara, satu ke timur, dan satu lagi ke barat. Bagaikan angin berembus di musim penghujan, para pendekar itu melesat meninggalkan Sangga Kamulan ke arah yang dituju masing-masing. Para pengawal raja dan prajurit lain yang memburu dari belakang tidak mampu mengimbangi kecepatan lari mereka apalagi, hujan yang mulai melebat menghalangi pandangan.

Tawaran perundingan damai Caruban Larang dan Rajagaluh yang disodorkan Nyi Mas Gandasari pada dasarnya adalah siasat yang disusun sangat cermat oleh Sri Mangana. Ibarat pepatah �sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui�, Sri Mangana dengan sangat teliti sudah memperhitungkan keuntungan ganda dari siasatnya itu. Pertama-tama, ia telah memperhitungkan bahwa Prabu Chakraningrat yang dikenalnya sebagai lelaki mata keranjang tentu akan mengabaikan tawaran perdamaian karena terpesona oleh kemolekan Nyi Mas Gandasari. Setelah itu, ia yakin bahwa Nyi Mas Gandasari dengan kecerdasannya akan dapat memasuki Sangga Kamulan dan membawa lari kandaga emas berisi abu jenasah dari guru Prabu Chakraningrat, seorang pertapa perempuan bernama Nagagini, yang dimasukkan ke dalam cupu emas berbentuk ular yang disebut oray mas. Ia sangat yakin Nyi Mas Gandasari dan Pangeran Soka beserta keempat pengawalnya akan mampu membuka gerbang Kuta Rajagaluh dari dalam.

Dengan perhitungan cermat itulah ketika Nyi Mas Gandasari dan rombongan berjalan menuju gerbang selatan Kutaraja Rajagaluh, Sri Mangana menyebar puluhan orang pengintai untuk mengawasi keadaan di dalam kuta. Ternyata penjagaan di gerbang timur, barat, dan utara kosong ditinggal pergi prajurit. Prajurit berbondong-bondong menuju gerbang selatan untuk menyaksikan dari dekat kecantikan Nyi Mas Gandasari yang menurut cerita bagaikan Suprabha, bidadari dari Indraloka yang bermata bintang dan berpinggul indah. Setelah itu Sri Mangna mengirim perintah kepada Pangeran Raja Sanghara, Tun Abdul Qadir, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Pangeran Sabrang Lor, dan pemimpin pasukan Caruban lain yang bersiap-siap di barat, timur, dan utara Kuta Rajagaluh untuk menyiagakan penyerbuan. Untuk menyemangati para prajurit disebarkan kabar bahwa penyerbuan ke Kutaraja Rajagaluh itu akan dipimpin sendiri oleh Sri Mangana.

Awan hitam menggantung di langit dan mulai menebarkan titik-titik hujan ketika Sri Mangana keluar dari kemahnya. Sejurus ia menyapukan pandangan ke langit. Setelah berdiri beberapa jenak dengan penuh wibawa di depan kemahnya, ia mengangkat tangan kanannya ke atas dan berseru, �Berdiri dan angkat tinggi-tinggi panji-panji dan senjatamu. Berteriaklah sekeras-kerasnya agar musuh-musuhmu runtuh nyalinya!�

Seiring seruan Sri Mangana, bangkitlah beribu-ribu prajurit Caruban yang sejak pagi meniarap di sekitar perkemahan kalifah hingga tepi parait yang menghampar di selatan gerbang. Ribuan prajurit itu berlindung di balik alang-alang dan tumpukan jerami kering hingga tak terlihat dari arah gerbang. Begitu bangkit, mereka serentak mengacungkan tombak, panji-panji, umbul-umbul, dan bendera diikuti pekik peperangan yang sambung-menyambung. Dan saat Sri Mangana menaiki kereta perangnya, para prajurit pembawa tombak membenturkan pangkal tombaknya ke tanah secara serentak berulang-ulang sehingga bumi bergetar bagai dilanda gempa.

Gegap-gempita pasukan Caruban di seberang gerbang selatan menarik perhatian para prajurit Rajagaluh yang berkerumun di bagian dalam gerbang selatan kuta untuk menunggu Nyi Mas Gandasari kembali dari Bangsal Kaprabon. Mereka sangat terkejut dan kebingungan ketika melihat beribu-ribu pasukan Caruban telah memenuhi tepi parit sambil mengacungkan tombak dan panji-panji, menyanyikan lagu-lagu dan menantang perang.

�Apakah yang telah terjadi?�

�Bukankah Nyi Mas Gandasari masih di kraton?�

�Apakah perundingan damai gagal?�

�Bagaimana nasib Nyi Mas Gandasari?�

Ketika prajurit Rajagaluh sedang kebingungan melihat ancaman serbuan lawan dari luar gerbang selatan, tiba-tiba gerbang timur, barat, dan utara kutaraja secara berurutan dibuka dari dalam oleh Nyi Mas Gandasari, Pangeran Soka, Ki Tameng, Ki Waruanggang, Ki Tedeng, dan Ki Sukawiyana. Begitu melihat gerbang terbuka, beribu-ribu prajurit Caruban yang sudah bersiaga mengepung kuta berhamburan dan saling berpacu menerobos gerbang. Namun, di mulut gerbang mereka tertahan oleh tubuh kawan-kawannya. Yang belakang mendorong. Yang depan menggeliat berusaha lepas dari himpitan. Yang tengah terjepit dan terdorong-dorong.

Sambil bersorak-sorai mengacung-acungkan tombak dan panji-panji, di tengah hujan lebat dan guntur bersahut-sahutan, prajurit Caruban mengalir masuk bagaikan air bah. Gerbang timur, barat, dan utara berubah laksana pintu air yang jebol mengalirkan air bah yang berpusar dan teraduk-aduk memenuhi penjuru kuta. Prajurit mengalir ke jalan-jalan dan lorong-lorong kuta untuk mencari musuh-musuhnya. Cipratan air yang terinjak ribuan kaki terdengar menggiriskan. Setiap kali para prajurit itu menjumpai prajurit musuh, tanpa ampun mereka akan menggulung dan menghempaskannya menjadi serpihan daging dan genangan darah.

Perwira dan prajurit Rajagaluh yang berada di gerbang selatan bergegas menyambut serbuan musuh yang menggelombang dari ketiga penjuru. Mereka membawa senjata apa saja yang mereka temukan untuk menghadang serbuan musuh yang mengamuk bersama hujan dan angin. Namun, usaha mereka tampaknya sia-sia. Sebab, tanpa peduli dengan pagar pedang dan hutan tombak yang menghadang, pasukan Caruban terus menerjang ke depan dengan meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan bersimbah darah. Mereka bergerak menerjang dan menggulung apa saja yang menghadang. Mereka mengalir bagaikan air hujan yang memenuhi seluruh lorong, jalanan, dan selokan kutaraja.

Di tengah hiruk pikuk pertempuran yang terjadi di jalan-jalan, terutama di gerbang selatan, Pangeran Arya Mangkubhumi yang berada di dalam purinya tampak terkejut ketika mendengar suara berisik di halaman. Ia sadar suara berisik itu bukanlah guntur atau curahan air hujan, melainkan semacam gemerincing senjata yang beradu dan jeritan-jeritan orang kesakitan.

Perang! Itulah kesan awal yang ditangkapnya. Dengan benak dipenuhi tanda tanya ia bergegas keluar kamar dan menjulurkan kepala ke jendela. Dan kepalanya bagai disambar petir ketika dari jendela itu dilihatnya para prajurit pengawalnya sedang bertempur di gerbang puri. Para pengawal dengan gigih berusaha keras menahan serbuan musuh yang menerobos gerbang. Menyaksikan pemandangan tak terduga itu, ia merasakan dadanya sesak dan tenggorokannya kering sehingga untuk meludah pun ia tidak mampu. Apa yang sesungguhnya yang terjadi, gumamnya berulang-ulang dalam hati.

Sewaktu melihat dua tiga orang pengawalnya roboh bersimbah darah di babat senjata musuh, tanpa sadar ia lari ke dalam kamar dan menyambar tombak yang terletak di raknya. Saat itu tidak ada yang terlintas di dalam pikirannya kecuali ikut mengadu jiwa bersama para pengawal dan menikam siapa saja di antara musuh yang mendekat. Namun, sebelum ia melibatkan diri dalam pertempuran tiba-tiba ia melihat Ki Demang Suradipa dan sepuluh orang pengawalnya berlari ke arah puri dengan napas terengah-engah sambil berseru, �Yang Mulia! Yang Mulia!�

Pangeran Arya Mangkubhumi yang sudah berada di pintu puri berdeham dan bertanya, �Ki Demang! Apa yang terjadi? Ada apa ini? Kenapa ada yang menyerang puriku?�

�Orang-orang Caruban telah masuk kuta dan membuat kerusakan, Yang Mulia.�

�Apa? Orang-orang Caruban? Bagaimana mungkin itu terjadi? Bukankah mereka membuat tawaran damai?� gumam Pangeran Arya Mangkubhumi terheran-heran.

�Mereka telah menipu kita, Pangeran. Nyi Mas Gandasari dan Pangeran Soka beserta keempat pengawalnya telah membuka gerbang timur, barat, dan utara dari dalam,� kata Ki Demang Suradipa.

�Jagad Dewa Bhattara!�

�Orang-orang Caruban masuk kuta, mengalir seperti air bah. Mayat prajurit kita bergelimpangan di mana-mana. Darah mengalir seperti sungai. Bangunan-bangunan dirobohkan. Mereka seperti orang-orang kerasukan setan,� lapor Ki Demang Suradipa dengan air mata bercucuran membasahi pipinya yang sudah basah.

�Mana tetunggul Rajagaluh yang lain?� Pangeran Arya Mangkubhumi mengangkat alis kirinya.

�Ki Gedeng Leuwimunding, Ki Dipati Kiban, Celeng Igel, Sanghyang Sutem, Sanghyang Tubur, dan Sanghyang Gempol berhasil meloloskan diri ke utara melewati gapura alit. Mereka lari dengan menyamar sebagai pengungsi,� kata Ki Demang Suradipa.

�Bajingan! Pengecut mereka,� kata Pangeran Arya Mangjubhumi dengan wajah merah padam. �Bagaimana nasib Ramanda Prabu?�

�Kami belum mendapat kabar tentang beliau.�

�Bagaimana ini? Bukankah tugas kalian mengawal keamanan raja?� bentak Pangeran Arya Mangkubhumi. �Bagaimana mungkin kalian bisa mengaku tidak tahu nasib rajamu?�

�Ampun Yang Mulia,� Ki Demang Suradipa mengiba. �Semua pengawal raja diperintahkan menyingkir oleh Sang Prabu sewaktu beliau menemui Nyi Mas Gandasari.�

Pangeran Arya Mangkubhumi tiba-tiba memucat wajahnya. Kemudian dengan suara bergetar ia bertanya. �Di mana kalian terakhir melihat raja?�

�Di Sangga Kamulan, Yang Mulia.�

�Ayo, kalian ikut aku mencari beliau.� Pangeran Arya Mangkubhumi melesat keluar puri dengan langkah lebar. Namun, baru sampai di teras puri ia sudah menyaksikan beratus-ratus prajurit Caruban memenuhi halaman purinya. Sisa-sisa prajurit pengawalnya dengan sekuat tenaga berusaha menahan serangan musuh, meski tubuh mereka sudah penuh luka. Sebagai putera mahkota yang sejak kecil dididik dengan adat kebiasaan ksatria, ia tidak gentar menghadapi musuh yang menghadang berapa pun jumlahnya. Dengan wajah ia menoleh sambil berkata kepada pengawal Ki Demang Suradipa, �Kemarikan busurmu! Aku akan hadapi mereka sebagai ksatria! Ayo, ambil anak panahku di kamar. Layani aku!�

Ketika Pangeran Arya Mangkubhumi menghajar musuh-musuhnya dengan tembakan-tembakan anak panah dibantu Ki Demang Suradipa, terdengar gedoran-gedoran kayu yang ditendang di segenap penjuru puri. Rupanya musuh sudah berhasil masuk. Tetapi, ia tidak menghiraukan dan terus menghujani musuh dengan panah. Ia terus menembakkan panah-panahnya kendati mendengar jerit tangis para perempuan dari dalam puri. Ia terus membidik musuh-musuhnya ketika berpuluh-puluh anak panah yang ditembakkan musuh menghambur ke arahnya.

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers