Senin, 30 Januari 2017

PERANG CARUBAN-RAJAGALUH

Perang Caruban-Rajagaluh

Kabar terpukul mundurnya pasukan Rajagaluh di berbagai garis depan medan tempur oleh laskar muslim Caruban diterima Prabu Chakraningrat dengan darah mendidih dan kepala nyaris meledak. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa para ksatria yang dibangga-banggakan dan diunggulkannya itu bisa kalah oleh para laskar, kawanan gelandangan rendah yang tidak ketahuan asal usulnya dan tidak memiliki ketrampilan perang. Bagaimana mungkin para ksatria mulia yang gagah perkasa bisa dikalahkan kaum sudra hina dan mleccha rendahan, gumamnya berulang-ulang sambil hilir mudik di balairung.

Ketika Pangeran Arya Mangkubhumi dan para tetunggul menghadap, Prabu Chakraningrat tidak dapat menahan amarah. Dengan suara dikobari api ia menghardik putera mahkota dan para perwiranya, �Aku berpikir kalian telah menjadi lemah karena sibuk berpesta pora dan mengumbar kesenangan. Sungguh memalukan, para ksatria kebanggaan Rajagaluh bisa dengan mudah dikalahkan oleh orang-orang rendah dari kalangan sudra, paria, mleccha, domba, kewel, dan potet.�

Pangeran Arya Mangkubhumi dan para tetunggul diam. Mereka membiarkan sang raja melampiaskan amarah. Baru setelah amarah sang raja mereda, mereka menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari kekalahan pasukan yang dipimpinnya. Prabu Chakraningrat sendiri akhirnya tidak bisa berkata apa-apa kecuali menerima kenyataan itu meski merasa pahit dan getir. Bahkan saat para tetunggul yang dibanggakannya itu memohon agar ia menantang perang Sri Mangana demi menyelamatkan harga diri para ksatria, ia penuhi juga tanpa bertanya ini dan itu. Demikianlah, demi mempertahankan harga diri dan kehormatan para ksatria, ia memerintahkan sang manghuri (sekretaris negara) untuk menuliskan ucapannya ke atas sepucuk surat yang ditujukan kepada saudaranya, Sri Mangana.

Betapa menyedihkan manusia yang hidup bermegah-megah dilimpahi kekayaan dalam mimpi, namun melarat dan sengsara ketika terbangun. Betapa kasihan manusia yang menyambut bangsa lain dengan kehormatan dan kemuliaan, namun memperlakukan bangsa sendiri sehina dan senista binatang. Betapa memalukan manusia yang merusakbinasakan budaya leluhurnya, namun membangun budaya bangsa lain yang tak dikenalnya. Betapa dungu manusia yang mengusir para ksatria mulia dari takhta persahabatan, namun menjadikan para gelandangan sebagai sahabat. Betapa pandirnya manusia yang digambarkan pepatah �anak di pangkuan dilepaskan, beruk di hutan disusukan�.

Menerima dan membaca surat dari Prabu Chakraningrat, Sri Mangana tersenyum. Ia kemudian memerintahkan Haji Musa, adik Syaikh Bentong, untuk menuliskan surat balasan kepada Yang Dipertuan Rajagaluh.

Apa yang engkau inginkan, wahai pecinta dunia? Apakah engkau belum puas dengan istana-istana indah dan gemerlap yang engkau bangun dari tetesan darah dan keringat kawulamu? Apakah engkau belum puas menipu kawulamu dengan cerita-cerita palsu tentang Dewaraja? Apakah engkau berpikir bahwa kehidupan di dunia ini adalah kekal dan abadi seperti abadinya kekuasaan yang engkau kangkangi?

Aku katakan kepadamu, o pecinta dunia, bahwa kehidupan selalu mengalir seperti sungai. Sebagaimana rembulan memiliki saat purnama dan saat sabit, demikianlah kehidupan selalu berubah dan berganti-ganti. Hanya mereka yang dungu dan pandir yang menganggap kehidupan tidak berubah. Hanya mereka yang berhati batu yang menganggap kehidupan di dunia ini mandeg. Hanya mereka yang buta oleh kenikmatan nafsulah yang mengingkari perubahan sebagai keniscayaan hidup di dunia.

Buka telingamu lebar-lebar dan dengarkan kata-kataku, o pecinta dunia! Bahwa telah aku saksikan dan aku dengar sendiri, bagaimana jiwa para pecinta dunia membeku dan kaku seperti mayat dibungkus selimut. Aku saksikan dan aku dengar jiwa mereka menjelma menjadi hantu menakutkan yang dikitari oleh pengikut-pengikutnya, para dukun dan tukang sihir dan peramal. Kemudian, dengan menyeringai bengis hantu itu memamerkan taringnya, yang membuat seluruh kawula tersungkur ketakutan. Dan bagaikan serigala lapar, begitulah hantu jelmaan para pecinta dunia itu menginjak-injak tubuh manusia, mengalirkan darah orang-orang tak bersalah, mengisap darah orang miskin dan papa, menjilati nanah busuk para gelandangan, dan menakut-nakuti musuh-musuhnya dengan pedang berkarat.

Apakah sesungguhnya yang engkau inginkan, wahai pecinta dunia? Apakah engkau ingin tetap menjadi penguasa duniamu yang berkarat dan membusuk? Ataukah engkau ingin menjadi hantu yang berkeliaran memamerkan taring untuk menakut-nakuti kawulamu?

Prabu Chakraningrat terbakar amarah saat membaca surat balasan dari Sri Mangana. Ia menitahkan sang manghuri untuk membalasnya dengan isi yang lebih tegas.

Aku merasa sebaiknya Tuan menghadapkan pasukan Caruban dengan Rajagaluh sebagai pertarungan ksatria melawan ksatria, sebagaimana pertarungan antara Kurawa dan Pandawa di Kurusetra. Sebagai saudara yang dididik dengan nilai-nilai ksatria dan hidup sesuai dharma ksatria, aku memohon kepada Tuan, agar Tuan tidak mempermalukan saudara Tuan di depan arwah leluhur, dengan membiarkan saudara Tuan menghadapi kawanan gelandangan yang Tuan pelihara. Marilah kita bertempur sebagai ksatria!

Sri Mangana tersenyum bangga membaca surat balasan dari Prabu Chakraningrat. Ia sadar, cepat atau lambat Caruban memang harus terlibat perang dengan Rajagaluh, bahkan mungkin dengan Talaga, Galuh Pakuan, dan Dermayu. Namun, surat balasan yang dikirim oleh penguasa Rajagaluh telah mendorongnya untuk mempercepat keterlibatan Caruban di medan tempur. Sebab, apa pun yang terjadi ia tidak sampai hati melukai hati seorang ksatria dengan menorehkan luka akibat sayatan rasa malu.

Sri Mangana sendiri adalah ratu yang dipercaya oleh maharaja Pakuan Pajajaran, Prabu Guru Dewata Prana, untuk menjaga kekuasaan laut kerajaan Sunda. Ia dikenal sebagai ahli strategi perang (yuddhawira sadah) dan cakap dalam peperangan (yuddha-nipuna). Itu sebabnya, ia tidak akan mungkin menolak tantangan Prabu Chakraningrat. Ia pasti akan meladeni tantangan perang penguasa Rajagaluh itu secara ksatria. Namun sesuai gelarnya, Sri Mangana, yang berarti cahaya kekuasaan ular laut, ia bukanlah orang yang gegabah dalam mengambil keputusan. Ia sangat berhati-hati. Dan dalam hal tantangan Prabu Chakraningrat, ia tahu pasti bahwa Yang Dipertuan Rajagaluh itu tidak bertindak sendiri. Ia mengetahui di belakang saudara tirinya itu tersembunyi kekuatan penguasa Galuh Pakuan, Talaga, Dermayu, Palutungan, Maleber, Panembong, Taraju, Sumedang Larang, dan Batu Layang.

Untuk menghadapi kekuatan Rajagaluh yang diam-diam didukung banyak pihak itu dibutuhkan siasat yang tepat sekaligus penataan kekuatan yang baik dan tak terbaca lawan. Ia sadar bahwa dalam menghadapi Rajagaluh, ia tidak sekadar dituntut menyiagakan kekuatan pasukannya untuk bertempur, tetapi juga menyiapkan kemungkinan terjadinya serangan tak terduga dari Talaga, Galuh Pakuan, dan Dermayu. Ia benar-benar sadar betapa kekuatan pasukannya yang kurang dari 30.000 orang ditambah sekitar 4.600 laskar muslim itu tidak mungkin dibenturkan dengan pasukan Rajagaluh yang jumlah pasukannya 100.000 orang lebih.

�Menurut perkiraanmu, kapan kira-kira bala bantuan dari timur sampai ke Caruban?� tanya Sri Mangana kepada Abdul Jalil, yang dipanggilnya ke Ndalem Pekalipan beberapa saat setelah ia menerima surat tantangan dari Prabu Chakraningrat.

�Ananda perkirakan dalam sepekan ini mereka mestinya sudah sampai ke sini,� kata Abdul Jalil menjelaskan. �Apakah keadaan di medan tempur mengalami perubahan sehingga Ramanda Ratu menanyakan mereka?�

�Di medan tempur laskar muslim Caruban tetap menang, namun Prabu Chakraningrat mengirimkan surat tantangan langsung kepadaku. Dia mengajak perang terbuka antara Rajagaluh dan Caruban,� kata Sri Mangana.

�Ramanda Ratu akan melayani tantangan itu?�

�Hmm,� Sri Mangana mengangguk dan berkata, �Jika tidak dilayani, nanti orang akan menganggap islam sebagai agama yang tidak mengajarkan nilai-nilai ksatria. Islam akan dianggap sebagai agama yang dipeluk para pembual dan penipu yang berjiwa pengecut. Tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan orang-0rang Rajagaluh ketika mereka mendengar Sayyid Habibullah al-Mu�aththal kabur dari Caruban?�

�Tapi, Rajagaluh dibantu banyak pihak. Jumlah pasukannya jauh lebih besar dibanding jumlah pasukan Caruban. Kalau harus dibenturkan berhadap-hadapan, tentunya pasukan Caruban akan kalah,� gumam Abdul Jalil.

�Justru itu yang diinginkan Prabu Chakraningrat. Karena itu, dia menantang perang antar ksatria, sebagaimana saat Kurawa bertempur dengan Pandawa dalam Bharatayudha,� kata Sri Mangana.

�Aku memang sudah mengambil keputusan untuk menyiasati keadaan ini.�

�Aku akan menunda mengirimkan surat balasan kepada Prabu Chkraningrat selama sepekan. Biarkan dia berpikir aku ketakutan menerima tantangannya. Tetapi, selama sepekan itu aku akan membuat kejutan-kejutan untuknya.�

�Sesungguhnya Allah SWT. bersama hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.�

Selama rentang waktu sepekan sambil menunggu kedatangan bala bantuan dari luar Caruban, Sri Mangana melakukan tindakan-tindakan mengejutkan yang bertujuan meruntuhkan semangat pihak Rajagaluh. Tanpa terduga-duga ia mengumumkan terbentuknya kesatuan Naga Laut yang dipimpin oleh Bhatamantri (perwira tinggi) Abdul Halim Tan Eng Hoat, Cina muslim asal Majapahit, putera Abdurrahman Tan King Ham. Kesatuan baru itu terdiri atas seribu pasukan laut Caruban ditambah dua ribu laskar muslim Cina. Abdul Halim Tan Eng Hoat dibantu oleh tiga orang bhrtyamantri (perwira menengah), yaitu Tumenggung Jaya Orean, Abdul Karim Wang Tao, dan Abdul Razaq Wu Lien.

Kabar itu oleh Sri Mangana sengaja disebarkan ke Palimanan dan Rajagaluh sehingga para tetunggul Rajagaluh bertanya-tanya tentang tujuan utama di balik pembentukan kesatuan Naga Laut. Namun, saat para tetunggul Rajagaluh membicarakan kesatuan baru itu tiba-tiba Sri Mangana mengumumkan terbentuknya kesatuan Liman Bhuwana yang dipimpin oleh Bhatamantri Syarif Hidayatullah, wali nagari Gunung Jati. Kesatuan baru itu terdiri atas seribu pasukan berkuda dan seribu pasukan tombak Caruban ditambah dua ribu laskar muslim Arab dan Persia. Syarif Hidayatullah dibantu lima orang bhrtyamantri, yaitu Syaikh Duyuskhani, Abdul Rahim Rumi, Abdul Rahman Rumi, Abdul Qadir al-Baghdady, dan Abdul Qahhar al-Baghdady.

Ketika orang-orang Rajagaluh masih sibuk membicarakan kesatuan Naga Laut dan Liman Bhuwana, Sri Mangana mengumumkan lagi pembentukan kesatuan baru, yaitu Paksi Raja yang dipimpin Bhatamantri Tun Abdul Qadir, wali nagari Sindangkasih, pemimpin para pemberontak asal Malaka. Kesatua Paksi Raja terdiri atas seribu pasukan laut Caruban ditambah tiga ribu laskar muslim asal Malaka, Campa, Keling, Pegu, Yawana, Kendal, dan Palembang. Tun Abdul Qadir dibantu empat bhrtyamantri, yaitu wali nagari Gegesik, Li Han Siang, Syaikh Bentong, dan Haji Shang Shu.

Ketika para tetunggul Rajagaluh dengan sangat hati-hati membicarakan pembentukan tiga kesatuan baru itu, terjadi peristiwa yang mengguncangkan jiwa mereka. Tanpa terduga-duga, tiba-tiba saja Sri Mangana menunjuk seorang pendekar puteri termasyhur, Nyi Mas Gandasari, sebagai agra-senopati (panglima tinggi) Caruban Larang.

Kabar pengangkatan Nyi Mas Gandasari dengan cepat berkobar membakar amarah para tetunggul Rajagaluh bagaikan api membakar ilalang. Para tetunggul Rajagaluh merasakan panas api membakar tubuh mereka dari telapak kaki hingg ujung rambut. Keputusan itu dianggap sebagai tamparan bagi para tetunggul Rajagaluh. Sebab, menurut mereka, pengangkatan Nyi Mas Gandasari pada dasarnya adalah siasat licik Sri Mangana untuk menghalang-halangi Prabu Surawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan, dalam peperangan Caruban-Rajagaluh. Menurut mereka, Sri Mangana memanfaatkan kepercayaan yang diyakini banyak orang yang menyatakan bahwa Prabu Surawisesa tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh seorang perempuan hing wanojaha kang pangawijing. Semenjak lama sudah tersebar kasak-kusuk yang menyatakan bahwa Nyi Mas Gandasari sengaja diasuh sejak kecil oleh Sri Mangana karena disiapkan untuk tujuan menghadapi Prabu Surawisesa.

Sebenarnya, mereka yang merasa gerah dan tidak suka dengan pengangkatan Nyi Mas Gandasari sebagai agra-senapati Caruban bukan hanya pihak Rajagaluh. Sejumlah pemuka masyarakat dan tetunggul Caruban Larang pun diam-diam banyak yang menyayangkan keputusan Sri Mangana yang mereka anggap tidak bijaksana. Mereka menganggap seorang perempuan terlarang menjadi pemimpin laki-laki, apalagi dalam perang. Mereka memang tidak berani terang-terangan menentang keputusan Sri Mangana, tetapi bara api ketidakpuasan telah mereka sulut di dalam jiwa para pengikutnya. Dan bara api itu terlihat kobarannya manakala Angga, wali nagari Kuningan, dan Ki Demang Singagati, mantri kepercayaannya, dengan terang-terangan mengemukakan keberatan mereka kepada Sri Mangana atas penunjukan Nyi Mas Gandasari sebagai agra-senapati Caruban.

Menghadapi keberatan wali nagari Kuningan dan Ki Demang Singagati itu, Sri Manganan mengumpulkan para pemuka masyarakat dan tetunggul Caruban untuk memusyawarahkan keputusannya tersebut. Ternyata, terjadi beda pendapat yang sengit tentang masalah itu. Para pemuka warga keturunan Campa menyatakan dukungan penuh karena adat istiadat mereka menganut asas keibuan sehingga tampilnya pemimpin perempuan dapat diterima asalkan memiliki kemampuan. Syaikh Duyuskhani dan para pengikutnya mendukung Nyi Mas Gandasari dengan alasan agra-senapati perempuan adalah seorang sayyidah keturunan Fatimah az-Zahrah, puteri Nabi Muhammad Saw.. Namun, para pemuka warga Arab, Cina, dan Pegu menyatakan keberatan atas dasar ketentuan syari�at Islam. Menurut mereka, tidak ada satu pun dalil yang membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin bagi laki-laki.

Sadar bahwa perbedaan pendapat di tengah suasana genting akan sangat merugikan, akhirnya Sri Mangana memutuskan untuk memegang sendiri jabatan agra-senapati Caruban Larang dan memilih dua orang panglima wakil senapati di medan tempur, yaitu wali nagari Kuningan dan Nyi Mas Gandasari. Ia menyatakan bahwa keputusannya itu untuk menguji kemampuan mereka berdua di bidang olah tempur dan keprajuritan. Keputusan Sri Mangana disepakati oleh semua pihak, meski di dalam hati masih ada pihak yang tidak puas dengan keterlibatan perempuan dalam masalah pertempuran. Pihak itu beranggapan tempat perempuan berkiprah bukan di medan tempur, melainkan di dapur dan kamar tidur.

Ketika surat jawaban kepada Prabu Chakraningrat baru saja dikirim dan ketika orang masih sibuk membicarakan langkah-langkah Sri Mangana yang menggemparkan, terjadi kegemparan lain di Muara Jati. Orang-orang yang tinggal di sekitar pelabuhan dikejutkan oleh mendaratnya bala bantuan dari luar Caruban Larang. Mula-mula orang menyaksikan sekitar seribu pasukan turun dari kapal-kapal di pelabuhan Muara Jati. Pasukan itu mengibarkan umbul-umbul dan bendera warna merah dan hitam. Panji-panjinya berwarna hitam bergambar bulan sabit yang ditulisi kaligrafi La ilaha illa Allah. Penduduk dengan terheran-heran melihat pasukan itu berbaris menuju Kuta Caruban dengan membawa kotak-kotak besar berjumlah sekitar dua puluh lima buah. Pasukan itu merupakan bala bantuan dari Majapahit asal Kadipaten Terung yang dipimpin oleh Ki Wedung, adik kandung Patih Demak Ki Wanasalam. Kotak-kotak besar yang dibawa pasukan Majapahit itu disebut gurnita (Jawa Kuni: halilintar, gemuruh, gaduh). Konon berasal dari Palembang. Jika tutup-tutup kotak itu dibuka akan terdengar suara gemuruh dan kilatan halilintar yang akan membakar apa saja yang ada di depannya.

Tidak lama setelah pasukan Majapahit asal Kadipaten Terung meninggalkan Muara Jati, mendaratlah secara berturut-turut pasukan dari berbagai kadipaten lain, yaitu seribu orang pasukan dari Kadipaten Demak dipimpin oleh Pangeran Sabrang Lor, putera Adipati Demak Raden Patah. Pasukan ini mengibarkan panji-panji hijau bergambar kura-kura dan petir. Setelah itu mendarat sekitar lima ratus orang pasukan dari Kadipaten Samarang dipimpin Pangeran Welang, mengibarkan panji-panji kuning bergambar kepala yaksa. Disusul tujuh ratus orang pasukan dari Kadipaten Kendal, dipimpin Pangeran Soka, mengibarkan panji-panji putih bergambar kepala harimau; lima ratus orang pasukan dari Kadipaten Japara dipimpin Pangeran Luhung, mengibarkan panji-panji hitam bergambar bintang dan api menyala; lima ratus orang dari Giri Kedhaton dipimpin Ki Buyut Gresik, mengibarkan panji-panji putih bergambar trisula; tujuh ratus orang pasukan dari Surabaya dipimpin Pangeran Kejawan, mengibarkan panji-panji merah bergambar ayam jago. Tak ketinggalan rombongan kecil para pendeta bhairawa dari berbagai ksetra yang dihubungi oleh Nyi Indang Geulis dan Nyi Muthmainah, ikut berdatangan ke Caruban Larang untuk membantu Sri Mangana bertempur menghadapi Rajagaluh.

Kehadiran bala bantuan dari luar Caruban menimbulkan semarak yang membangkitkan semangat penduduk Caruban. Sepanjang jalan menuju Kuta Caruban orang-orang terlihat berdiri di pinggir jalan mengelu-elukan mereka. Alun-alun Kuta Caruban yang biasanya lengang tiba-tiba hiruk pikuk diwarnai prajurit yang mempersiapkan barisan dan peralatan tempur.

Di tengah hiruk persiapan perang pasukan Caruban itu terjadi peristiwa tidak tersangka-sangka dan tak terbayangkan sebelumnya. Para pendeta bhairawa pemimpin ksetra-ksetra yang datang ke Caruban menyatakan diri sebagai pemeluk Islam. Keinginan itu lahir terutama setelah mereka berbincang-bincang dengan Sri Mangana dan Abdul Jalil serta setelah mereka menyaksikan sendiri lambang-lambang pada panji-panji yang dikibarkan pasukan dari berbagai kadipaten muslim yang mereka kesankan sebagai lambang Syiwa. Mereka makin yakin bahwa Islam adalah penjelmaan baru Syiwa-Budha, apalagi setelah mereka mengetahui sendiri bentuk pemerintahan kalifah Caruban yang menganut asas kesederajatan dan tidak membeda-bedakan manusia berdasar keturunan, yaitu tatanan ideal yang diidamkan oleh para penganut ajaran bhairawa.

Dengan disaksikan para sesepuh dan tetunggul Caruban, Balal Bisvas, wali nagari Gegesik, pertama-tama menyatakan memeluk Islam beserta seluruh keluarga dan pengikutnya. Ia mendapat nama baru Suranenggala. Setelah itu Ki Wedung, pemimpin pasukan Terung, menyatakan bahwa dia sudah mengucapkan dua kalimah syahadat di Wirasabha, beberapa saat sebelum berangkat ke Caruban. Wiku Suta Lokeswara tak ketinggalan mengikrarkan keislaman dan memperoleh nama baru Ki Waruanggang. Sanghyang Bango Samparan, pemimpin ksetra di Gunung Cangak, mengikrarkan keislaman dan memperoleh nama baru Ki Tameng. Wiku Danumaya, putera Ajar Semana, pemimpin ksetra di Gunung Merapi, sepupu Nyi Indang Geulis, menyatakan memeluk Islam dan memperoleh nama baru Ki Tedeng. Sementara Ki Golok Cabang, putera Sanghyang Nago, pemimpin ksetra Gunung Ciangkup, menyatakan memeluk Islam dan memperoleh nama baru Ki Sukawiyana.

Kabar masuk Islamnya para pendeta bhairawa pemimpin ksetra itu sangat mengejutkan orang-orang Rajagaluh sekaligus menyulut api amarah mereka. Mereka merasa telah dikhianati oleh para pemangsa manusia itu. Beberapa waktu lalu mereka telah mengirimkan utusan yang membawa berbagai hadiah dan persembahan ke Gunung Ciangkup, Gunung Kumbha (ng), Gunung Cangak, dan Arga Liwung untuk mendapat dukungan dari ksetra-ksetra tersebut. Meski belum memperoleh kepastian dukungan, mereka sangat yakin bahwa para pemimpin ksetra itu akan mendukung mereka. Ternyata, tanpa mereka duga-duga, para pemimpin ksetra di gunung-gunung keramat itu malah datang kepada Sri Mangana dan menyatakan memeluk Islam. Berarti, pihak yang mereka bayangkan akan menjadi kawan justru menjadi lawan.

Kemarahan yang sudah membakar para tetunggul Rajagaluh itu seketika berubah menjadi kecemasan ketika mereka mendengar kabar dari para telik sandhi bahwa Pangeran Raja Sanghara (Sansekerta: Raja Penghancur Jagad), adik kandung Sri Mangana, telah meninggalkan Kraton Pakuan Pajajaran. Sang pangeran pergi dengan membawa lima ratus orang pasukan berkuda. Tidak ada yang tahu ke mana ia dan pasukannya pergi. Belakangan muncul kabar yang menyatakan Pangeran Raja Sanghara bersama pasukan berkudanya muncul di Kuta Caruban dan menyatakan ikrar memeluk Islam.

Lembah Girinatha yang terhampar di kaki Gunung Ceremai diselimuti kabut pagi yang membekukan mayat-mayat yang bergelimpangan di atas rerumputan. Cahaya matahari pagi yang menyapu permukaan bumi telah menjelmakan lembah itu seolah-olah terbakar api. Merah. Semerah darah yang mengering di tubuh tak bernyawa itu.

Itulah pemandangan hasil pertempuran di hari pertama antara pasukan Caruban Larang yang dipimpin oleh wali nagari Kuningan dan pasukan Rajagaluh yang dipimpin oleh Adipati Palimanan Arya Kiban. Mayat-mayat yang bergelimpangan itu sebagian besar adalah mayat-mayat prajurit Rajagaluh.

Kata orang, kemenangan yang diraih wali nagari Kuningan pada pertempuran hari pertama itu banyak ditentukan oleh siasat cemerlang pihak Kuningan yang mengutamakan penghancuran cerita kemasyhuran gajah tunggangan Adipati Palimanan. Untuk menandingi gajah terkenal itu, wali nagari Kuningan mengendarai kuda hitam bernama Sang Winduhaji, konon berupa kuda perkasa keturunan kuda sembrani yang bisa terbang.

Saat dua panglima itu berhadap-hadapan di medan tempur, sasaran utama yang diincar-incar oleh wali nagari Kuningan bukanlah Adipati Kiban, melainkan gajah tunggangannya yang ditakuti oleh prajurit Kuningan. Demikianlah, saat wali nagari Kuningan yang dibantu Ki Demang Singagati, Ki Anggarunting, dan Ki Anggasura berhasil menjungkalkan Sang Bango dengan tujuh batang tombak di lehernya, semangat pasukan Kuningan pun menjadi berkobar-kobar. Sebaliknya, semangat pasukan Rajagaluh padam. Akhirnya, pada pertempuran hari pertama itu pasukan Rajagaluh berantakan. Barisan depan bertumbangan bagaikan alang-alang dibabat parang. Barisan belakang mundur ke Palimanan, sedangkan barisan tengah lari tunggang langgang meninggalkan senjatanya. Bahkan, Adipati Kiban sendiri lari terbirit-birit dari medan tempur tak tentu arah sehingga saat orang-orang menemukannya ia dalam keadaan bingung di pantai Dermayu.

Keberhasilan gemilang memukul berantakan pasukan Rajagaluh membuat dada wali nagari Kuningan membusung dan kepalanya membesar. Ia mabuk kemenangan. Tanpa berpikir lebih jauh, dengan kegembiraan meluap-luap ia memerintahkan pasukannya untuk memburu dan memusnahkan sisa-sisa pasukan Rajagaluh. Para prajurit Kuningan yang juga sedang mabuk kemenangan dengan gembira berangkat menunaikan perintah. Tanpa kenal lelah, sejak sore hingga malam mereka membagi diri dalam kelompok-kelompok kecil dan berkeliaran di sekitar lembah Girinatha untuk memburu dan memusnahkan sisa-sisa pasukan Rajagaluh yang mereka temukan.

Ketika matahari terbit di hari kedua peperangan, kelompok-kelompok kecil pasukan Kuningan telah kembali dari perburuan. Sebagian mereka terlihat memanggul lima atau enam kepala musuh. Sebagian lagi terlihat mengikat rambut sepuluh sampai lima belas kepala musuh di pelana kudanya. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang membawa satu kepala. Dengan langkah terseok mereka kembali ke induk pasukan. Sekalipun kebanggaan akan kemenangan terlihat membias di wajah mereka, di pagi hari pada perang hari kedua itu mereka terlihat sangat lelah dan mengantuk. Mereka tampak kurang bersemangat saat menata barisan, padahal hari itu mereka harus bersiap-siaga menghadapi pertempuran.

Dalam pertempuran di hari kedua, pasukan Rajagaluh yang berpangkalan di Kepuh berjumlah sekitar 10.000 orang dan dipimpin oleh Ki Gedeng Leuwimunding. Pasukan itu terdiri atas tiga ribu pasukan tombak, dua ribu pasukan pedang, seribu pasukan gada, seribu pasukan berkuda, dan tiga ribu pasukan panah. Sejak dini hari Ki Gedeng Leuwimunding sudah menerima laporan kekalahan Adipati Kiban. Itu sebabnya, ia sangat berhati-hati pada pertempuran hari kedua itu. Ia memutuskan untuk menggunakan formasi tempur yang disebut kananabyuha (Sansekerta: gelar perang �hutan�), karena formasi tempur Bajrapanjarabyuha (Sansekerta: gelar perang �sangkar intan�) yang digunakan Adipati Kiban terbukti dapat dihancurkan musuh.

Pagi hari ketika pasukan Kuningan sedang mengatur barisan di lembah Girinatha, Ki Gedeng Leuwimunding menempatkan tiga ribu pasukan panahnya di hutan Kepuh yang terletak di utara Girinatha dalam bentuk setengah lingkaran. Tiga ribu pasukan tombak ditempatkannya di selatan hutan dalam jarak sekitar satu pal. Mereka ditugaskan menunggu kedatangan pasukan Kuningan. Dengan kibaran umbul-umbul dan bendera warna kuning serta merah, prajurit-prajurit penombak itu menghentakkan tombaknya ke tanah secara serentak hingga terdengar suara gemuruh bagaikan gempa. Kemudian, secara bergantian mereka menantang-nantang dan mengejek-ejek pasukan Kuningan.

Ki Gedeng Leuwimunding yang duduk gagah di atas gajah tunggangannya di dalam hutan terlihat gelisah, meski dikitari pasukan berkuda dan pasukan pembawa gada. Ketika di kejauhan ia menyaksikan debu mengepul dan titik-titik hitam bergerak ke arahnya, ia memanggil para perwiranya dan mewanti-wanti, �Pasukan Kuningan sudah bergerak kemari. Jangan ada yang menyerang sebelum ada perintahku.� Setelah menyampaikan beberapa petunjuk, ia menyemangati pasukannya dengan janji. �Siapa saja yang dapat membawa satu kepala musuh akan mendapat sepuluh pikul padi (6,2 kuintal).�

Gelar perang Kananabyuha yang digelar di hutan Kepuh oleh Ki Gedeng Leuwimunding ternyata berhasil mengecoh pasukan lawan. Pasukan Kuningan yang pada hari sebelumnya meluluhlantakkan pasukan Adipati Kiban sangat marah ditantang dan diejek oleh pasukan tombak Rajagaluh. Dengan dada dikobari api amarah, mereka menyerang pasukan tombak Rajagaluh. Sambil memaki-maki mereka berpacu menerjang musuh laksana awan hitam tertiup angin. Kaki-kaki kuda yang berkeringat saling mendahului dengan kaki prajurit pembawa pedang dan pasukan tombak. Namun, saat jarak mereka dengan pasukan terdepan Rajagaluh hanya sekitar tiga puluh tombak tiba-tiba mereka mendengar pasukan Rajagaluh berteriak keras secara serentak. Mereka terkejut mendengar suara gemuruh laksana halilintar itu.

Seketika terlihat pemandangan mengerikan. Di tengah suara gemuruh itu beribu-ribu tombak tampak melesat bagaikan awan hitam. Pasukan Kuningan yang sudah berlari ke arah musuh tersentak kaget. Pasukan berkuda yang berada di barisan terdepan serentak menarik tali kekang keras-keras. Sementara pasukan pedang dan tombak yang melaju berusaha menghentikan laju kakinya dengan mata memandang ngeri ke atas. Namun, usaha mereka terlambat. Dalam sekejap terdengar jerit kematian yang diikuti bertumbangannya tubuh kuda dan penunggangnya serta tubuh prajurit Kuningan ke tanah bagai batang padi tertiup angin.

Menyaksikan pemandangan tak terduga itu, para kepala pasukan Kuningan berteriak-teriak memerintahkan mundur pasukannya. Namun, pekik kesakitan dan jerit kematian para prajurit menenggelamkan suara mereka. Prajurit-prajurit Kuningan di barisan tengah tetap merangsak ke depan, terutama ketika mereka melihat pasukan tombak musuh melarikan diri setelah melempar tombaknya.

�Mereka lari!�

�Kejar!�

Melihat barisan tengah pasukan Kuningan menerjang ke depan untuk memburu pasukan tombak Rajagaluh, Ki Gedeng Leuwimunding menyadari bahwa saat pembalasan telah tiba. Dari atas gajah tunggangannya, ia menunggu dengan hati cemas masuknya pasukan Kuningan ke dalam jarak tembak pasukan panahnya. Waktu tiba-tiba ia rasakan berjalan sangat lambat.

Sementara itu, wali nagari Kuningan yang menyadari bahwa pasukannya sedang memasuki perangkap musuh berusaha meneriaki mereka agar mundur. Namun sampai suaranya serak, para prajurit yang sudah mabuk kemenangan itu terus memburu pasukan musuh yang lari ke arah hutan. Saat prajurit-prajuritnya berada di tepi hutan, ia terperangah menyaksikan gemuruh bayangan hitam bagai kawanan serangga melesat dari antara pepohonan hutan. Rupanya, bayangan hitam mirip serangga itu adalah hujan anak panah. Bagaikan sedang bermimpi, sang adipati menyaksikan prajurit-prajuritnya berjumpalitan dan bertumbangan ke tanah dengan tubuh memerah dihiasi anak panah. Pasukan berkuda yang dibanggakannya bergelimpangan di tanah meregang nyawa.

Wali nagari Kuningan yang masih terbelalak menyaksikan kehancuran pasukannya, tiba-tiba merasakan bulu kuduknya berdiri ketika melihat beratus-ratus pasukan berkuda musuh yang diikuti beribu-ribu pasukan pedang dan gada keluar berbondong-bondong dari balik pohon-pohon hutan bagaikan kawanan semut menyerbu ke arahnya. Umbul-umbul dan bendera yang dikibarkan musuh berkebaran di tengah acungan tombak dan kelebatan pedang. Pekik peperangan terdengar menggemuruh, sahut-menyahut, dan sambung-menyambung laksana guruh. Pasukan Kuningan yang kelelahan dan mengantuk serta kehilangan semangat tempur itu melakukan perlawanan dengan sisa kekuatan yang ada. Tetapi, perlawanan setengah hati itu akhirnya membuat mereka semburat tak tentu arah; sebagian meloloskan diri ke lereng Gunung Ceremai, namun sebagian terbesar di antara mereka menghadap Sang Maut.

Dengan susah payah wali nagari Kuningan, Ki Demang Singagati, Ki Anggasura, dan Ki Anggarunting berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Rajagaluh. Meski mereka berhasil selamat mencapai Pancalang dan meneruskan perjalanan ke Kuningan, pasukan mereka sudah hancur binasa. Tidak kurang dari tiga ribu prajurit Kuningan terbunuh pada hari kedua pertempuran. Sedang pihak Rajagaluh hanya kehilangan sekitar empat ratus prajurit. Menurut sisa-sisa prajurit Kuningan yang berhasil meloloskan diri, mayat kawan-kawan mereka bergelimpangan antara hutan Kepuh hingga Pancalang. Sebagian besar di antara mayat-mayat itu saat ditemukan sudah tidak berkepala lagi.

Kabar kehancuran pasukan Kuningan disambut pilu di seluruh Caruban. Tidak kenal siang tidak kenal malam, orang membicarakan kekalahan pahit itu dengan kecemasan dan ketakutan berlebihan. Sejumlah besar pengungsi di Kalisapu diam-diam mulai meninggalkan gubuk dan tendanya menuju Mundu, Pengarengan, bahkan ke Bojong, Kendal, Samarang, dan Demak. Pada saat seperti itu tiba-tiba berkeliaran �kambing hitam� yang dijadikan sasaran hujatan dan kecaman karena dianggap sebagai binatang celaka paling bersalah yang menjadi penyebab kekalahan itu. Kambing hitam itulah Syaikh Lemah Abang.

Entah siapa yang memulai, di tengah kecemasan dan ketakutan yang mencekam jiwa penduduk dan pengungsi Caruban, tersebar kasak-kusuk yang mengaitkan kekalahan pasukan Kuningan dengan khotbah-khotbah Abdul Jalil kepada para laskar muslim di Pancalang, Jamaras, Plumbon, dan Gunung Jati. Akibat Syaikh Lemah Abang melarang para pejuang muslim membawa jimat dan pusaka sakti saat berperang, begitu kasak-kusuk itu menyebar, maka kebinasaan pun dialami pasukan Kuningan yang maju ke medan perang tanpa membawa �bekal� apa pun. Bahkan, di dalam khotbah-khotbahnya itu Syaikh Lemah Abang mengajarkan orang-orang untuk mencintai kematian dan mencari mati sehingga mengakibatkan kehancuran bagi pasukan Kuningan.

�Pokoknya, mulai sekarang jangan didengar khotbah syaikh sesat itu.�

�Kita sebut saja dia dengan gelar Sang Pengkhotbah Kematian.�

�Aku dengar-dengar, arwah prajurit-prajurit Kuningan yang terbunuh sekarang ini menjadi budak Syaikh Lemah Abang. Mereka sengaja dikorbankan untuk menambah hebat ilmunya.�

Ketika Sri Mangana mendengar kasak-kusuk yang menghujat Syaikh Lemah Abang sebagai orang yang paling bersalah dalam kekalahan pasukan Kuningan, ia mengumpulkan seluruh pemuka masyarakat dan tetunggul Caruban di Bangsal Manguntur. Wali nagari Kuningan yang hadir didampingi Ki Demang Singagati, Ki Anggasura, dan Ki Anggarunting dengan berurai air mata menyatakan penyesalannya kepada Sri Mangana atas ketidakmampuan mereka dalam memimpin pasukan.

Sri Mangana yang sudah memperoleh laporan lengkap tentang jalannya pertempuran, dengan penuh wibawa mengingatkan wali nagari Kuningan tentang kekeliruan-kekeliruan yang telah dilakukannya selama pertempuran. �Ada tiga sebab utama yang menurut hematku menjadi penyebab dari kekalahanmu. Pertama-tama, saat engkau tidak menyetujui kebijakanku menunjuk Nyi Mas Gandasari sebagai agra-senapati. Tanpa mengetahui kemampuan orang lain, engkau hanya mengemukakan alasan bahwa seorang perempuan tidak boleh memimpin para lelaki. Sekarang ini, kenyataan menunjukkan bahwa engkau dan pasukanmu yang bertempur di Kepuh hancur berantakan digilas pasukan Leuwimunding. Sementara Nyi Mas Gandasari yang membawa pasukan Liman Bhuwana berhasil menghancurkan pasukan Rajagaluh di Tegal Karang. Bahkan dua orang manggala Rajagaluh, yaitu Tumenggung Bhaya Pethak dan Arya Pekik, menyerah dan ditawan. Bagaimana ini? Apakah aku yang salah memilih orang atau engkau yang terlalu takkabur dan menilai diri terlalu tinggi?�

�Kami mengaku salah, Paduka,� kata wali nagari Kuningan pasrah.

�Kekeliruanmu yang kedua,� kata Sri Mangana dingin, �setelah mengalahkan pasukan adipati Palimanan, engkau mabuk kemenangan dan lupa daratan. Engkau memerintahkan pasukanmu untuk memburu musuh dan memberikan hadiah bagi tiap kepala musuh yang didapatkan masing-masing prajurit. Itu perintah apa? Tidakkah engkau sadar jika kebiasaan memenggal kepala dan merusak jenasah dalam perang adalah kebiasaan buruk orang-orang kafir yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam? Bagaimana mungkin engkau sebagai pemimpin orang-orang beriman bisa memerintahkan orang memenggal kepala mayat dan merusak jenasah?�

�Kami khilaf, Paduka,� wali nagari Kuningan berkata lemah. �Kami mohon dihukum.�

�Aku tahu, engkau ingin membalas tindakan yang sama yang dilakukan musuh terhadap pasukanmu. Tetapi, engkau lupa bahwa memenggal kepala mayat dan merusak jenasah diharamkan dalam Islam. Sepanjang sejarah yang diteladankan Nabi Muhammad Saw., tidak pernah terjadi tindakan merusak dan memenggal kepala mayat. Bahkan saat jenasah Sayyidina Hamzah, pamanda Nabi Muhammad Saw., dirusak orang-orang kafir Quraisy dan jantungnya dimakan oleh Hindun, tidak menjadikan beliau dan orang-orang Islam gelap mata dan meniru tindakan Hindun. Sebab, kalau tindakan merusak jenasah Sayyidina Hamzah itu dibalas dengan cara yang sama, apa yang membedakan seseorang itu masuk ke dalam golongan beriman dan bukan golongan beriman? Apa yang membedakan keharusan seorang muslim untuk meneladani Nabi Muhammad Saw. jika mereka meniru tindakan Hindun?�

�Kami salah. Kami benar-benar salah dan tak berguna. Kami mohon diberi hukuman.�

�Dan kesalahanmu yang ketiga, engkau dan seluruh pasukan yang engkau pimpin menggantungkan hidup dan mati pada jimat dan pusakan bikinan dukun dan jawara lepus. Aku tidak tahu sudah berapa banyak dana yang engkau hamburkan untuk membeli keris, cincin bermata akik, badong, akar bahar, kutang antakusuma, kuku dan kumis macan, rajah-rajah, juga kalung rantai babi yang engkau anggap bertuah. Aku juga tidak tahu berapa banyak dana yang dibelanjakan prajuritmu untuk membeli benda-benda tak berguna itu. Yang aku tahu, semua jimat dan pusaka yang dijadikan bekal andalan oleh prajuritmu itu tidak berguna. Buktinya, mereka terbunuh beramai-ramai di medan perang. Mana kekuatan sakti dari benda-benda itu?�

�Aku tidak melarang siapa pun di antara penduduk Caruban untuk memiliki benda-benda apa pun yang disukainya. Tetapi sebagai seorang pemimpin, aku mencontohkan bahwa hidupku tidak tergantung pada benda apa pun. Perlu kalian ketahui, semua benda-benda kraton yang pernah dianggap bertuah, yang berasal dari Gunung Ciangkup, Gunung Kumbha (ng), Gunung Cangak, Gunung Liwung, dan Gunung Merapi seperti caping, badong, bedog, baju waring, topong, umbul-umbul, dan batok bolu telah aku buang ke lautan. Segala benda bertuah tidak lagi dimiliki oleh kalifah Caruban. Sebab, tuah dan keramat, bagi kalifah, tidak terletak di benda-benda tetapi di dalam diri manusia. Beritakan apa yang aku katakan ini kepada semua orang. Kabarkan kepada mereka bahwa di kraton Caruban sudah tidak ada benda-benda pusaka karena semua tuah dan keramat telah disatukan di dalam diri orang yang paling takwa di antara manusia,� kata Sri Mangana.

Para hadirin diam mendengar uraian Sri Mangana. Sebagian di antara mereka memahami simpang-siur yang berkembang selama ini adalah sesuatu yang salah. Namun di antara para hadirin, yang paling merasa gerah adalah para jawara, dukun, dan jajadug. Mereka seolah-olah ditampar oleh kalifah Caruban di hadapan orang banyak tanpa bisa membela diri. Saat api amarah di pedalaman jiwa mereka bagaikan hutan terbakar, berkelebatanlah bayangan Abdul Jalil di benak mereka sebagai sasaran yang harus mereka lumat dan musnahkan.

Sri Mangana yang menangkap pertanda ketidakpuasan atas ucapannya, kemudian melanjutkan kata-katanya, �Sekarang ini telah terbukti bahwa Angga, wali nagari Kuningan, gagal menjalankan tugas sebagai panglima yang mewakili senapati di medan tempur. Pasukannya yang berjumlah empat ribu telah terbunuh lebih dari tiga ribu orang. Sisanya yang kembali ke Kuningan menurut laporan hanya tiga ratus orang. Yang lain hilang entah ke mana. Sebaliknya, Nyi Mas Gandasari, panglima puteri Caruban dengan dukungan wali nagari Gunung Jati, menunjukkan keberhasilan dalam menjalankan tugasnya.�

�Dengan kenyataan ini, jelas-jelas sekarang hanya Nyi Mas Gandasari satu-satunya panglima yang mewakili senapati di medan tempur. Sebab, pasukannya masih utuh. Karena itu, aku tawarkan kepada siapa saja di antara pendekar laki-laki di Caruban ini yang merasa mampu menggantikan kedudukan Nyi Mas Gandasari. Silakan maju ke depan untuk menggantikannya. Ambillah kedudukan panglima Caruban dan rebutlah kemenangan yang gemilang daripada yang sudah ditunjukkan Nyi Mas Gandasari. Tetapi ingat, jabatan panglima bukan untuk main-main dan coba-coba karena yang dipertaruhkan dalam pertempuran ini adalah nyawa prajurit Caruban yang memiliki anak-anak dan istri. Sehingga, kegagalan dalam menjalankan tugas akan mendapat imbalan hukuman pancung. Tawaranku ini berlaku kapan saja dan tidak dibatasi waktu. Siapa saja pendekar yang berani dan mampu silakan menggantikan Nyi Mas Gandasari, sebab, yang kita butuhkan dalam pertempuran ini adalah kenyataan dan bukannya dalil-dalil yang masih diperdebatkan kebenarannya.�

Para tetunggul dan pemuka masyarakat Caruban menunduk diam. Mereka tidak ada yang berani mengangkat wajah menatap Sri Mangana. Mereka merasa tidak bisa menyampaikan hujah-hujah lagi untuk menentang penunjukan Nyi Mas Gandasari sebagai panglima yang sudah membuktikan kehebatannya di medan perang. Namun, di kalangan para jawara, dukun, dan jajadug, keadaan yang diwarnai nuansa ketidakpuasan itu tetap saja dikaitkan dengan keberadaan sang kambing hitam Abdul Jalil. Sambil mengedipkan mata satu sama lain, mereka bersepakat untuk menyamakan sudut pandang bahwa pengangkatan Nyi Mas Gandasari sebagai panglima puteri Caruban pada dasarnya lebih disebabkan karena dia adalah saudara tua Syaikh Lemah Abang, tukang sihir yang sudah menguasai Sri Mangana dengan kekuatan sihirnya.

Ibarat pepatah �nasi sudah menjadi bubur�, tidak ada gunanya kekalahan pasukan Kuningan disesali. Sebab sesuai hukum perang, ada pihak yang kalah dan ada pula pihak yang menang. Sesungguhnya, kekalahan pasukan Kuningan di hutan Kepuh telah diimbangi dengan kekalahan pasukan Rajagaluh pimpinan Tumenggung Bhaya Petak dan Arya Pekik di Tegal Karang. Bahkan kemenangan Nyi Mas Gandasari itu semakin meruntuhkan semangat para tetunggul Rajagaluh yang sudah dicekam oleh keyakinan bahwa kekalahan Prabu Surawisesa terletak di tangan prajurit perempuan. Semangat mereka bertambah padam terutama setelah Yang Dipertuan Galuh Pakuan menarik pasukannya yang diperbantukan ke Rajagaluh.

Kabar ditariknya sekitar 30.000 orang pasukan Galuh Pakuan dari Rajagaluh diterima pihak Caruban dengan gembira. Setelah memperhitungkan secara matang kekuatan dan kelemahan Rajagaluh, Sri Mangana memutuskan untuk melakukan serangan besar-besaran ke Kutaraja Rajagaluh dengan menggunakan kekuatan pasukan gabungan Caruban Larang dan pasukan dari kadipaten-kadipaten pesisir Nusa Jawa. Dengan serangan serentak itu dipastikan Rajagaluh akan kalang kabut, terutama saat mereka mendengar keterlibatan pasukan Majapahit dan Demak. Dengan melibatkan pasukan Majapahit asal Terung, kata Sri Mangana dalam hati, pihak Rajagaluh pasti runtuh nyalinya.

Memang, sejak kedatangan pasukan Majapahit asal Terung dengan kotak-kotak sakti yang disebut gurnita, orang tak henti-hentinya berbicara tentang senjata dahsyat asal Palembang itu. Baik prajurit Rajagaluh, baik prajurit Caruban Larang, seperti tak kenal bosan membicarakan kotak-kotak keramat itu. Ada yang menduga kotak-kotak itu berisi arwah dan ada pula yang menduga berisi mayat orang sakti. Bahkan tak kurang ada yang menduga kotak-kotak itu berasal dari kahyangan dan merupakan anugerah dewa-dewa.

Dalam masalah menata kekuatan dan siasat perang, Sri Mangana sangat tertutup. Berbeda dengan masalah-masalah pemerintahan yang selalu dimusyawarahkannya dengan banyak pihak, dalam mengatur siasat perang ia hanya mengajak bicara beberapa gelintir orang yang dianggapnya memiliki kemampuan di bidang tersebut. Untuk menjalankan rencana penyerbuan ke Kutaraja Rajagaluh, Sri Mangana mengajak musyawarah Pangeran Raja Sanghara, Pangeran Sabrang Lor, Nyi Mas Gandasari, dan Tun Abdul Qadir.

Dalam rencana penyerbuan ke Kutaraja Rajagaluh itu, ia mengemukakan gagasan untuk membagi kekuatan Caruban menjadi dua. Kekuatan pertama akan diserahkan kepada Nyi Mas Gandasari dengan tugas utama menyerang Kuta Rajagaluh dari timur. Kekuatan kedua akan dipimpinnya sendiri dengan tugas utama menyerang Kuta Rajagaluh dari selatan. �Pasukan yang aku bawa hanya sepertiga dari seluruh kekuatan pasukan gabungan. Aku memiliki banyak informasi bahwa ibukota Rajagaluh hanya dijaga oleh pasukan pengawal raja. Seluruh kekuatan Rajagaluh disiagakan di Palimanan.�

�Apakah tidak mungkin saat kita mengepung Kuta Rajagaluh, pihak musuh yang berpangkalan di Palimanan tiba-tiba menerobos dan menyerang Kuta Caruban?� tanya Pangeran Sabrang Lor.

�Paman sudah memperhitungkan itu, Ananda,� kata Sri Mangana tenang. �Pertama-tama, kita harus memancing pasukan Rajagaluh di Palimanan agar keluar dari pangkalan dengan cara seolah-olah kita akan menyerang Leuwimunding. Saat mereka keluar, pasukan kita akan masuk ke Palimanan. Dari Palimanan kita langsung menggempur Rajagaluh. Sementara itu, Kuta Caruban sudah kosong dari penduduk dan dijaga oleh dua ribu pasukan yang terlatih. Andaikata pihak Rajagaluh menerobos dan menyerang Kuta Caruban, para prajurit pengawal kuta akan melawan dengan melakukan perang kuta. Mereka akan menimbulkan kesulitan bagi pasukan Rajagaluh karena mereka lebih menguasai keadaan kuta dibanding pasukan Rajagaluh,� Sri Mangana menjelaskan.

�Jika demikian, apa tugas kami sebagai pasukan dari luar Caruban?� tanya Pangeran Sabrang Lor.

�Ananda kami tunjuk sebagai panglima bagi pasukan dari pesisir. Ananda akan membawa pasukan yang Ananda pimpin bersama pasukanku ke Rajagaluh. Kita akan bahu membahu merebut ibukota musuh dengan terlebih dulu merebut Palimanan.�

Akhirnya, semua hadirin sepakat mendukung rencana yang diajukan Sri Mangana. Nyi Mas Gandasari, panglima puteri Caruban, ditugaskan memimpin penyerbuan ke Kuta Rajagaluh dari arah timur, dengan membawahi 20.000 orang prajurit. Ia dibantu oleh perwira-perwira dan penasihat-penasihat unggul, seperti Pangeran Soka, Pangeran Pandyunan, Pangeran Kadhyaksan, Wali Nagari Gegesik, Abdul Karim Wang Tao, Wali Nagari Gunung Jati, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Wali Nagari Susukan, Abdul Razaq Wu Lien, Wali Nagari Cangkuang, Abdul Qadir al-Baghdady, Syaikh Bentong, Li Han Siang, Abdul Qahhar al-Baghdady, Syaikh Ibrahim Akbar, dan Haji Shang Shu. Sedangkan Sri Mangana akan memimpin 6.000 prajurit gabungan Caruban dan Demak, dibantu oleh perwira-perwira dan penasihat-penasihat unggulan seperti Pangeran Raja Sanghara, Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Luhung, Pangeran Kejawan, Wali Nagari Losari, Syaikh Duyuskhani, Wali Nagari Sindangkasih, Abdul Malik Israil, Ki Wedung, Ki Waruanggang, Ki Tameng, Ki Tedeng, Ki Sukawiyana, dan Syaikh Lemah Abang.

Dalam rencana penyerbuan itu, Raden Qasim dan Raden Mahdum Ibrahim tidak dilibatkan. Mereka diminta oleh Sri Mangana dan Abdul Jalil untuk kembali ke Surabaya menemui ayahandanya, dengan alasan untuk memohonkan doa bagi kemenangan pasukan Caruban. Namun saat Raden Mahdum Ibrahim bergeming dengan tatap mata curiga menerima tugas itu, Abdul Jalil mendekatinya dan berbisik lirih, �Semalam ayahanda Raden mendatangiku lewat �alam al-khayal. Beliau berpamitan akan kembali ke hadirat-Nya.�

Raden Mahdum Ibrahim tersentak kaget. Dengan suara bergetar ia berkata lirih, �Semalam saya juga bermimpi didatangi beliau. Tapi, beliau tidak berkata apa-apa. Beliau hanya tersenyum.�

�Beliau juga mendatangi Sri Mangana dan memberi isyarat akan kembali ke hadirat-Nya.�

�Apakah beliau tidak berpesan apa-apa?� tanya Raden Mahdum Ibrahim.

�Beliau tidak berpesan apa-apa. Tetapi aku bisa menduga-duga, beliau tidak ingin kabar wafatnya diketahui banyak orang. Beliau ingin dimakamkan sendiri oleh tangan putera-putera dan cucu-cucunya,� kata Abdul Jalil menarik napas berat.

Raden Mahdum Ibrahim tertunduk diam. Setelah itu, ia menyalami dan merangkul Abdul Jalil sambil membisikkan sesuatu.

Sementara itu, saat Sri Mangana dan para tetunggul Caruban menyusun siasat penyerbuan besar-besaran, Ki Gedeng Leuwimunding dan pasukannya justru sedang merayakan pesta kemenangan. Di tengah hujan yang terus menerus mengguyur bumi, prajurit Leuwimunding terlihat menari-nari dan melantunkan tembang sambil menenggak arak dan merangkul ronggeng. Mereka tenggelam dalam sukacita dimabuk kemenangan. Mereka seolah-olah tidak peduli kawan-kawan mereka dihancurkan pasukan Caruban di Tegal Karang. Mereka terus menari-nari, menembang, menenggak arak, berteriak-teriak, menikmati kehangatan tubuh ronggeng dan perempuan penghibur.

Ketika pesta merayakan kemenangan itu sudah berlangsung empat hari, Ki Gedeng Leuwimunding berencana menghentikannya dan menata kembali pasukannya untuk pertempuran berikutnya. Kemenangan mutlak yang diraihnya di hutan Kepuh telah membuat dadanya membusung dan kepalanya membesar. Pujian dan sanjungan yang diterimanya dari Prabu Chakraningrat dan tetunggul Rajagaluh telah membuatnya mabuk kebesaran dan lupa diri. Itu sebabnya, dengan keyakinan diri berlebih ia menyatakan kepada para tetunggul Rajagaluh bahwa pada hari kelima kemenangannya, ia akan menggempur Kuta Caruban. �Aku sudah beroleh kepastian bahwa Kuta Caruban sesungguhnya kosong ditinggalkan penduduknya. Dengan pasukan yang aku pimpin, ditambah pasukan yang dipimpin Ki Demang Surabangsa dan Ngabehi Ardisora, aku yakin bisa menghadiahkan kemenangan kepada Sang Prabu Chakraningrat,� Ki Gedeng Leuwimunding berkata jumawa.

Kesombongan Ki Gedeng Leuwimunding ternyata tidak berlangsung lama. Pada saat ia menghadiri jamuan yang diadakan Adipati Kiban di Balai Witana Kadipaten Palimanan bersama para tetunggul Rajagaluh, wajahnya menjadi pucat pasi ketika ia diberi tahu oleh Pangeran Arya Mangkubhumi bahwa sekitar 15.000 orang prajurit Caruban sedang bergerak dari Tegal Karang menuju Glagahamba terus ke Babakan. �Menurut laporan para telik sandhi, pasukan itu bergerak terus ke barat. Dan menurut dugaan, pasukan itu akan menyerbu Leuwimunding,� kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

Ki Gedeng Leuwimunding yang saat datang ke Kadipaten Palimanan terlihat membusungkan dada dan mendongakkan kepala saat berjalan, tiba-tiba meringkuk tanpa daya mendengar ucapan Pangeran Arya Mangkubhumi. Wajahnya pucat. Bibirnya pun mendadak bergetar dan lututnya gemetaran. Kemudian dengan suara tergagap-gagap ia menggumam, �Kalau demikian, saya harus ke sana. Ya, ya, saya harus segera ke Leuwimunding.� �

Itu memang harus engkau lakukan,� sergah Pangeran Arya Mangkubhumi tak senang, �sebab jatuhnya Leuwimunding adalah sama maknanya dengan jatuhnya Kutaraja Rajagaluh.�

�Bagaimana dengan rencana penyerbuan hamba ke Kuta Caruban, o Pangeran?� tanya Ki Gedeng Leuwimunding untuk menutupi kegentaran yang merayapi hatinya. �Apakah harus dibatalkan?�

�Jika engkau menginginkan pasukanmu dijagal di sana, berangkatlah ke Kuta Caruban.�

�Dijagal?� Ki Gedeng Leuwimunding tercengang. �Bukankah Kuta Caruban sudah kosong?�

�Bodoh kau!� teriak Pangeran Arya Mangkubhumi jengkel. �Yang Dipertuan Caruban menyiagakan pasukan pilihan di kutarajanya. Entah berapa ribu jumlahnya, yang jelas, pamanku yang cerdik dan perkasa itu sengaja memasang jebakan untuk memerangkap orang-orang sombong seperti engkau.�

�Kalau demikian, hamba mohon restu, Pangeran.� Ki Gedeng Leuwimunding menyembah. �Hamba dan pasukan akan berangkat ke Leuwimunding sekarang juga.�

�Berangkatlah,� kata Pangeran Arya Mangkubhumi dingin. �Kita nanti bertemu di Leuwimunding karena pasukanku sudah berangkat lebih dulu ke sana.�

Read More ->>

Minggu, 29 Januari 2017

AJARAN TENTANG HIDUP DAN MATI

Ajaran Tentang Hidup dan Mati

Sekalipun cukup jauh dari garis depan medan tempur, selentingan berita sekecil apa pun di sana selalu sampai ke Lemah Abang. Rupanya, Tun Abdul Qadir diam-diam telah membentuk semacam lingkaran warta di berbagai tempat yang saling menyambung. Melalui lingkaran warta yang dikuasai kaki tangan pemberontak asal kampung pulau Upih di Malaka itulah semua perkembangan di garis depan pertempuran dapat diketahui bahkan hingga ke Lemah Abang.

Simpang-siur berita dari medan tempur yang sampai ke Lemah Abang ternyata sering menyedihkan dan bahkan menjengkelkan, terutama bagi Abdul Jalil. Sebab, berita-berita yang sampai ke Lemah Abang nyaris berisi kekonyolan-kekonyolan laskar muslim Caruban yang sulit dinalar. Suatu saat datang kabar yang memberitakan tunggang langgangnya laskar muslim Caruban dari medan tempur karena pasukan Rajagaluh dipimpin oleh Ki Gedeng Leuimunding. Pasalnya, nama Munding (Sunda: kerbau) dibayangkan sebagai kerbau. Ki Gedeng Leuimunding dikesankan sebagai manusia siluman berkepala kerbau. Sehingga, saat berhadapan dengan pasukan Leuimunding, mereka lari tunggang langgang sebelum bertempur dengan alasan takut menghadapi siluman kerbau.

Belum dingin berita kekonyolan laskar muslim Caruban itu, muncul berita menggembirakan tetapi juga menjengkelkan. Laskar muslim Caruban yang berhasil memukul mundur pasukan Rajagaluh di Jamaras tidak berani mengejar musuh yang menyeberangi sungai karena mereka meyakini bahwa siapa saja yang berperang lalu menyeberangi sungai itu akan kejatuhan sial. Keberhasilan mereka memukul mundur pasukan Rajagaluh diyakini akibat kesalahan pasukan Rajagaluh yang telah menyeberangi sungai. Sementara laskar Caruban di Plumbon diberitakan meninggalkan pangkalannya di Sindangmekar dan mundur hingga Cempaka gara-gara pasukan Rajagaluh yang dipimpin oleh Ki Demang Surabangsa menyerang dari Girinatha. Laskar Caruban tidak saja ketakutan dengan kabar yang mengatakan bahwa gajah tunggangan Ki Demang Surabangsa adalah jelmaan Bhattara Gana, tetapi juga ketakutan karena mereka menyangka Ki Demang Surabangsa adalah titisan Sanghyang Girinatha.

Kekonyolan laskar muslim Caruban ternyata tidak hanya berlangsung di antara laskar-laskar muslim Sunda, Jawa, Cina, Campa, dan Melayu. Laskar muslim Caruban asal Baghdad yang dipimpin oleh Syaikh Duyuskhani ternyata terkena pengaruh takhayul pula. Mereka yang sejak lahir tinggal di Baghdad yang ramai dan gemerlapan ternyata mengalami tekanan yang sangat berat di pangkalan mereka yang terletak di hutan Pancalang. Entah siapa yang mengawali, tiba-tiba di antara mereka tersebar cerita-cerita tentang jin dan ruh jahat penunggu hutan yang suka mengganggu orang asing. Mereka menganggap perwira-perwira Rajagaluh yang tidak mempan ditusuk tombak dan ditebas pedang sebagai bukan manusia, melainkan setan. Akibatnya, sering kali mereka lari tunggang langgang saat mendapati kenyataan salah satu musuh mereka tidak terluka saat dipanah atau ditombak.

Tidak tahan mendengar berita-berita konyol tentang laskar muslim Caruban yang lari dari medan tempur karena takhayul, Abdul Jalil pergi ke Pancalang untuk menemui Syaikh Duyuskhani dan para pengikutnya. Di sana ternyata Abdul Jalil menemui Syaikh Duyuskhani dalam keadaan yang menyedihkan. Tubuhnya kurus, matanya cekung, pakaiannya kotor dan lusuh, suaranya serak, dan kalau berjalan dipapah oleh murid-muridnya. Kepada Abdul Jalil, guru agama yang pantang menyerah itu menyatakan kebingungannya menghadapi laskar yang dipimpinnya. �Segala usaha saya untuk membangkitkan semangat mereka sudah menemui jalan buntu. Mereka takut kepada sesuatu yang tidak berdasar. Satu kelompok demi satu kelompok lari dari medan tempur. Untung saudara ipar Tuan Syaikh dan pengikutnya datang sehingga laskar kita tidak lari,� kata Syaikh Duyuskhani.

�Mereka memang bukan prajurit. Karena itu, sulit berharap mereka bisa berani tempur seperti yang kita harapkan, meski berulang-ulang meyakinkan mereka dengan dalil-dalil,� kata Abdul Jalil.

�Sekarang ini terserah bagaimana cara Tuan Syaikh memacu mereka. Saya sudah tidak mampu meyakinkan mereka. Saya hanyalah guru agama yang tidak paham tentang perang,� kata Syaikh Duyuskhani pasrah. �Bahkan sebelum Tuan Syaikh datang kemari, saya baru saja menyerahkan kepemimpinan laskar kepada adik ipar Tuan Syaikh, Abdul Qadir al-Baghdady.�

Akhirnya, atas permohonan Syaikh Duyuskhani, Abdul Jalil berkhotbah di hadapan para laskar asal Baghdad, termasuk dua orang adik iparnya. Abdul Jalil menyampaikan khotbah tentang Kehidupan dan Kematian, dengan maksud agar para pejuang pembaharuan itu tidak takut menghadapi pertempuran. Dengan suara yang lain ia berkata, �Ketahuilah, o putera-putera Muhammad Saw., bahwa kabar-kabar menyedihkan tentang tunngang langgangnya laskar Caruban dari medan tempur sejatinya cerminan dari rasa takut terhadap Mati. Berbagai alasan yang mereka kemukakan seperti berperang melawan setan, diganggu jin penunggu sungai, dikejar-kejar ruh jahat pemakan manusia, dan bahkan munculnya bintang al-Murikh (Mars) sebagai pertanda kekalahan, sejatinya adalah ungkapan rasa takut akan Mati yang tidak terkendali.�

�Ketahuilah oleh kalian semua bahwa Sang Maut tidak pernah datang terlambat dan tidak pula pernah datang terlalu cepat. Dia selalu datang pada saat yang tepat. Karena itu, wahai engkau sekalian yang pernah lahir ke dunia dan menjadi bagian dari kehidupan dunia, bersiagalah kalian semua untuk menyongsong Sang Maut dengan cara yang gagah dan penuh kemenangan di mana pun kalian berada.�

�Sungguh telah keliru mereka mengatakan Kematian adalah akhir dari Kehidupan. Sebab, apa yang disebut Sang Maut (al-Mumit) sejatinya adalah Satu Diri dengan Sang Hidup (al-Hayy). Hanya mereka yang bodoh dan lancang mulut yang mengatakan Kematian adalah akhir dari Kehidupan. Apakah mereka sangka Allah bisa mati tidak bernyawa? Aku katakan sekali lagi, sungguh bodoh dan lancang mulut mereka yang mengatakan Mati sebagai Sesuatu yang tidak bernyawa.�

�Aku ajarkan kepada kalian suatu pandangan yang benar tentang Kematian: bahwa Sang Maut adalah Sisi lain dari Sang Hidup, namun sekaligus adalah Satu Diri yang sama, seibarat keping mata uang dengan sisi yang berbeda. Karena itu, bagi mereka yang sadar, Kematian adalah nama lain dari kelahiran. Sebab, mereka yang mati di dunia ini pada hakikatnya lahir di dunia lain yang lebih luas dan lebih abadi, seibarat bayi lahir dari alamnya yang sempit dan gelap di kandungan ibu ke alam dunia. Dan sebagaimana bayi-bayi yang lahir selalu terkejut dan menangis karena memperoleh kesadaran baru, begitulah tiap-tiap manusia yang meninggalkan dunia dan lahir di alam kematian akan terkejut karena mendapatkan kesadaran baru (QS. at-Takatsur: 1-2).�

�Lihatlah perilaku kupu-kupu yang lahir dari kepompong, kepompong lahir dari ulat, dan ulat lahir dari telur. Demikianlah perilaku manusia dalam melintasi Kehidupan dan Kematian. Kematian dan Kehidupan adalah suatu keadaan di mana kesadaran makhluk meningkat seiring matra yang mereka lampaui. Itu sebabnya, aku katakan kepada kalian bahwa telah keliru mereka yang mengatakan bahwa manusia hanya sekali hidup dan sekali mati. Sebab, sebagaimana telur melahirkan ulat dan ulat melahirkan kepompong dan dari kepompong lahir kupu-kupu, demikianlah manusia melintasi Kehidupan dan Kematian berkali-kali sampai kembali ke Asal Sejati (QS. al-Baqarah:28).�

�Jika Sang Maut pada hakikatnya adalah sama dengan Sang Hidup, jika mati adalah sama hakikatnya dengan lahir, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk takut mati. Sesungguhnya, rasa takut pada Sang Maut selalu berpangkal pada kecintaan terhadap dunia yang fana. Manusia mencintai dunia karena beranggapan dunia adalah abadi dan mereka mengikatkan diri pada dunia seerat-eratnya. Tetapi, celaka dan celakalah orang-orang yang terikat kuat pada dunia, karena ibarat ulat mereka menolak menjadi kepompong. Padahal, untuk hidup yang lebih baik ulat hendaknya menjadi kepompong. Ulat yang menolak menjadi kepompong pasti akan menjadi mangsa hewan pemakan ulat dan ia akan lahir kembali sebagai tahi sang hewan pemangsa.�

�Jika kalian memahami apa yang aku ajarkan ini maka tidak ada pilihan lain bagi kalian dalam menyongsong Sang Maut yang pasti datang itu. Pertama, kalian sadar dan dengan gagah perkasa menyongsong Sang Maut dengan keinginan menjadi makhluk baru yang seindah kupu-kupu. Makhluk baru yang terbang di alam bebas mengisap saripati madu yang mengalir dari wangi bunga-bunga. Atau pada pilihan kedua, kalian ketakutan menghadapi Sang Maut dengan keinginan menjadi ulat perusak yang merayap-rayap di dedaunan, yang akan berakhir menjadi tahi hewan.�

�Memang, dalam menghadapi Sang Maut, masing-masing manusia memiliki gambaran yang berbeda. Tetapi, aku katakan kepada kalian bahwa sangat keliru mereka yang menduakan gambaran hakiki Hidup dan Mati. Sebab, mereka yang mengaku mencintai Sang Hidup hendaknya mencintai pula Sang Maut. Mereka yang mencintai Kehidupan tetapi membenci Kematian adalah orang yang belum mengenal Tuhan dalam makna sejati asma�, shifat, dan af�al Ilahi. Mereka masih mendua dalam Tauhid.�

�Aku ajarkan kepada kalian bahwa Sang Maut dan Sang Hidup tidaklah terpisah jauh dan tidak pula dekat dengan makhluk. Mati dan Hidup tidak berada di luar dan tidak berada di dalam diri makhluk. Tetapi, setiap makhluk terikat dan berada di dalam liputan Maut dan Hidup. Sebab, kita, makhluk tak berdaya ini, adalah wujud yang tergantung (mumkin al-wujud), sedangkan Mati dan Hidup adalah Citra Hakiki dari Wujud Mutlak (al-Wujud al-Muthlaq). Sebagaimana hidup dan mati ikan berada di dalam air, demikianlah hidup dan mati kita berada di dalam liputan-Nya. Aku tahu bahwa apa yang aku ajarkan ini sulit dicerna oleh pikiran awam yang sudah terjajah oleh berbagai bentuk takhayul yang membayangkan Kematian adalah bagian dari kegelapan yang dipenuhi banyak hantu dan setan menakutkan. Karena itu, aku akan mengajarkan kepada kalian sesuatu yang baru: belajar mati! Meski kedengaran aneh, dengan belajar mati kalian akan mengenal Sang Maut dalam asma�, shifat, dan af�al. Sehingga, kelak saat Sang Maut membentangkan sayap kematian dan mencengkeram kuku-kuku sakarat al-maut yang tajam, tidak menjadikan kalian gentar dan ketakutan.�

�Aku katakan kepada kalian, dengan belajar mati maka kalian akan mengenal Sang Maut sehingga akan menghilangkan keraguan dan kegentaran kalian menghadapi-Nya. Di saat ajal kalian tidak akan menyeringai, meringis, tersengal-sengal, tercekik-cekik, meraung-raung, dan mengorok seperti hewan sekarat. Hadapilah Sang Maut dengan ramah dan penuh sukacita sebab engkau yang sudah mengenal-Nya akan disambut dengan kemegahan dan kemuliaan seorang sahabat dan kekasih. Engkau akan dimahkotai bunga-bunga surgawi karena telah kembali sebagai pahlawan dengan kemenangan besar.�

Para laskar asal Baghdad, baik yang Arab baik yang Persia, tercengang-cengang mendengar khotbah Abdul Jalil. Sebagian besar di antara mereka tidak memahami intisari khotbah. Hanya Syaikh Duyuskhani, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady, dan beberapa pemuka laskar yang paham.

Untuk memahamkan makna khotbah yang disampaikannya, Abdul Jalil secara bergilir mengajarkan �belajar mati� kepada pemuka-pemuka laskar. Mula-mula ia memandikan dan mengafani Syaikh Duyuskhani sebagaimana layaknya orang mati. Setelah itu, ia membujurkan tubuh Syaikh Duyuskhani dan membisikkan �jalan� (sabil) dan �cara� (thariq) mendaki tangga menuju hadirat-Nya.

Para laskar berkerumun dan berdesak-desak menyaksikan apakah yang akan terjadi dengan Syaikh Duyuskhani. Selama menyaksikan Syaikh Duyuskhani �belajar mati� di bawah bimbingan Abdul Jalil, mereka menahan napas dalam ketegangan. Dengan pandangan nanar mereka saksikan betapa Syaikh Duyuskhani terbujur kaku seolah-olah orang mati. Mereka saling pandang ketika dalam waktu yang lama Syaikh Duyuskhani tidak terbangun. Mereka khawatir dia benar-benar mati.

Setelah cukup lama membiarkan Syaikh Duyuskhani terbujur bagai orang mati, Abdul Jalil membisikkan sesuatu ke telinganya. Syaikh Duyuskhani membuka mata. Sejenak setelah itu dia terbangun dan celingukan seperti orang baru terjaga dari mimpi. Saat melihat para laskar berdesak-desak mengitarinya, dia baru sadar jika barang beberapa jenak lalu ia telah �belajar mati� di bawah bimbingan Syaikh Lemah Abang. Dan saat ia melihat Syaikh Lemah Abang berada di hadapannya, tak dapat ditahan lagi ia menjatuhkan diri menyembah dan mencium kakinya sambil berkata, �Saya mohon, hendaknya Tuan Syaikh mengembalikan saya ke Kematian. Sungguh, saya tidak tahan lagi hidup di dunia fana ini setelah mengetahui dan merasakan pelukan mesra Kematian. Saya mohon. Sekali lagi, saya mohon sudilah Tuan Syaikh mengembalikan saya ke alam Kematian.�

Abdul Jalil menarik bahu Syaikh Duyuskhani dan memintanya duduk di depannya. Kemudian dengan suara lain ia berkata, �Sesungguhnya, apa yang Tuan Syaikh rasakan adalah bagian terkecil dari Kematian. Tuan Syaikh tidak boleh larut oleh perasaan sebab Tuan Syaikh belum benar-benar mengenal-Nya. Tuan Syaikh harus kembali ke alam dunia dan menjalankan tugas Tuan Syaikh yang belum selesai. Sebab, memaksakan datangnya Sang Maut adalah sama maknanya dengan bunuh diri, bukan kemuliaan yang diperoleh melainkan kehinaan.�

�Kepada kalian semua, o putera-putera Muhammad Saw., aku katakan bahwa rasa bahagia dan nikmat yang dirasakan oleh Syaikh Duyuskhani saat �belajar mati� sebenarnya terikat dengan keberadaan jiwanya yang sudah bisa menyingsingkan keterikatan dengan hal-hal duniawi dan pamrih pribadi. Sebab, bagi mereka yang masih sangat kuat terikat kecintaan pada dunia dan pamrih pribadi, bukan saja akan kesulitan mengenal Sang Maut, melainkan akan merasakan penderitaan dan kesengsaraan. Bagi mereka, �belajar mati� akan sama maknanya dengan menambah rasa takut terhadap Kematian. Karena itu, o wahai putera-putera Muhammad Saw., jika kalian ingin merasakan kebahagiaan dan kenikmatan sebagaimana yang dialami Syaikh Duyuskhani, hendaknya kalian mulai belajar mengarahkan kiblat hati dan pikiran kalian kepada Dia Yang Tunggal. Jangan ingat apa pun saat kalian berada di medan tempur kecuali Yang Maha Esa. La ilaha illa Allah ! Jika pada saat itu kalian dijemput oleh Sang Maut maka kalian akan meninggalkan dunia ini dan lahir sebagai makhluk baru di alam Kematian yang tak tergambarkan indah dan nikmatnya. Itu berarti, kalian tidak perlu �belajar mati� karena kalian telah mati secara benar.�

Api pertempuran mengamuk tidak hanya di garis depan, tetapi juga membara di berbagai desa yang tersebar di perbatasan Rajagaluh dengan Caruban Larang, dari Padamatang di selatan Bobos hingga Tegal Karang di barat Jamaras, bahkan berkobar pula di Glagahamba di selatan Susukan. Gerakan serentak laskar-laskar yang tak pernah diperhitungkan itu membuat pasukan Rajagaluh porak-poranda di berbagai pos pertahanannya. Pangeran Arya Mangkubhumi, manggalayuddha Rajagaluh, memerintahkan pasukannya untuk mundur teratur dan bertahan di garis pertahanan yang sudah ditentukan, yaitu di Girinatha, Kepuh, Balerante, Lungbenda, Kedung Bunder, dan Palimanan.

Para tetunggul perang Rajagaluh seperti Adipati Kiban, Ki Demang Dipasara, Ki Gedeng Leuwimunding, Ki Demang Surabangsa, Ngabehi Ardisora, Sanghyang Gempol, Sanghyang Mayak, Sanghyang Tubur, Sanghyang Sogol, dan Celeng Igel telah bersumpah untuk menghadang gerak maju laskar-laskar muslim Caruban ke Palimanan. Sebab, membiarkan Palimanan jatuh ke tangan laskar sama maknanya dengan kehancuran nama besar mereka sebagai pahlawan berdarah biru gagah perkasa yang takluk di bawah telapak kaki para laskar yang beranggotakan kalangan rendah tak berkasta.

Pasukan Rajagaluh sendiri sebenarnya bukanlah tandingan laskar muslim Caruban baik dalam hal jumlah prajurit, persenjataan, keterampilan perang, dan mental keprajuritan. Itu sebabnya, selama berlangsung pertempuran yang terkesan tarik-ulur itu, pasukan Rajagaluh cenderung menjadikan laskar muslim Caruban sebagai �kawan berlatih� di medan tempur. Sejak pertempuran awal pecah di Bobos, pihak Rajagaluh kehilangan tak lebih dari lima puluh prajurit, sementara laskar muslim Caruban lebih enam ratus yang terbunuh. Keadaan itu memang sengaja dibiarkan oleh para tetunggul Rajagaluh untuk membiasakan prajurit-prajuritnya menghadapi suasana perang sehingga saat menghadapi pasukan Caruban kelak mereka tidak akan canggung.

Amukan api pertempuran yang berkobar serentak di berbagai desa laksana padang alang-alang terbakar itu tak pelak mengejutkan para tetunggul Rajagaluh. Mereka tidak pernah menduga bahwa para laskar muslim Caruban bisa melakukan perlawanan dengan begitu fanatik, dengan semangat tinggi untuk mati, menerjang musuh tanpa peduli keselamatan diri. Sementara itu, pasukan Rajagaluh yang tak pernah menduga bakal mendapat perlawanan yang begitu gigih, dengan terheran-heran mundur dan sebagian malah lari kocar-kacir meninggalkan senjata di medan tempur.

Keheranan para tetunggul Rajagaluh terhadap peristiwa pertempuran yang memalukan itu baru diketahui sebab-sebabnya ketika mereka berkumpul di Palimanan untuk membahas masalah tersebut. Saat itu, berdasar laporan Rsi Bungsu, diketahuilah bahwa di balik kobaran api perlawanan laskar muslim Caruban yang dahsyat terdapat sosok Syaikh Lemah Abang yang termasyhur kepiawaiannya dalam menghasut.

�Tukang sihir celaka itu telah menyihir para laskar dan penduduk desa untuk melawan kita. Jadi, saat bertempur sesungguhnya para laskar itu sedang berada dalam pengaruh sihir Syaikh Lemah Abang. Mereka dalam keadaan tidak sadar,� kata Rsi Bungsu.

�Tapi, bagaimana mungkin dia bisa menyihir beribu-ribu orang dalam waktu yang sama,� kata Pangeran Arya Mangkubhumi, manggalayuddha Rajagaluh. �Sebab, sepengetahuanku, pengaruh sihir hanya bisa dilakukan pada beberapa orang saja dalam waktu yang tidak lama. Padahal, selama hampir sepekan pertempuran di berbagai medan, beribu-ribu laskar menyerang tak kenal siang dan malam.�

�Sesungguhnya, Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan kepada para laskar suatu ilmu sihir dahsyat yang disebut mati mawat, pengaruh gaib kematian. Dia bilang, hidup ini adalah mati dan mati adalah hidup. Lewat ilmu itu, tukang sihir laknat tersebut memerintah para laskar untuk menerobos batas Kematian dan Kehidupan seperti orang melewati pintu,� Rsi Bungsu membelok-belokkan tangannya, menggambarkan ajaran yang disampaikan Abdul Jalil.

Para tetunggul Rajagaluh yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana nekat dan ngawurnya laskar muslim Caruban saat bertempur, seolah-olah mereka keranjingan ruh setan, mau tidak mau mempercayai ucapan Rsi Bungsu. Itu sebabnya, mereka sepakat untuk membahas pemecahan masalah yang tak pernah mereka bayangkan itu. Namun setelah berputar-putar dengan berbagai alasan masing-masing, mereka sampai pada simpulan bahwa ujung dari masalah yang rumit itu adalah kalifah Caruban Larang, Sri Mangana. Mereka sepakat bahwa untuk menghindarkan rasa malu akibat kemungkinan kalah dalam pertempuran mendatang, hendaknya penguasa Caruban Larang dilibatkan. Maksudnya, pasukan Rajagaluh harus bertempur melawan pasukan Caruban Larang, bukan menghadapi laskar muslim.

�Kalaupun kita kalah maka kita tidak perlu malu karena kita dikalahkan oleh saudara kita sendiri. Kita tidak malu karena sebagai ksatria kita kalah oleh ksatria lain. Tetapi, kalau kita sampai kalah dengan laskar gelandangan yang tidak terhormat itu maka itu sama artinya dengan kita membiarkan wajah kita dilumuri kotoran. Itu sangat memalukan. Memalukan.� Pangeran Arya Mangkubhumi berang.

�Apakah kita akan menyerang langsung Kuta Caruban?� tanya Rsi Bungsu.

�Itu tindakan tolol,� sergah Pangeran Arya Mangkubhumi yang diam-diam tidak suka dengan Rsi Bungsu yang dinilainya culas dan licik. �Sebab, kita tidak tahu seberapa besar kekuatan pasukan Caruban Larang.�

�Menurut kabar, kekuatan pasukan Caruban Larang tidak lebih dari sepuluh ribu. Padahal, kekuatan pasukan kita lebih dari seratus ribu prajurit.� Rsi Bungsu meyakinkan.

�Sepuluh ribu itu hanya dugaanmu saja. Sebab setahuku, sudah lebih tujuh tahun silam pamanda ratu menggalang kekuatan militer. Karena itu, jumlah sepuluh ribu adalah dugaan yang mengada-ada. Bahkan kalaupun benar jumlah pasukan Caruban sepuluh ribu, belum tentu kita dapat mengalahkannya dengan mudah. Bukankah kekalahan pasukan kita membuktikan bahwa menghadapi laskar muslim tak terlatih yang jumlahnya tidak sampai sepuluh ribu saja sudah membuat kita kocar-kacir, apalagi menghadapi pasukan Caruban Larang yang terlatih,� kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

Melihat keadaan makin memanas antardua sepupu itu, para tetunggul Rajagaluh berusaha melerai dengan cara bersepakat untuk menyerahkan masalah itu kepada junjungan mereka, Prabu Chakraningrat, Yang Dipertuan Rajagaluh. Mereka sadar, untuk melibatkan kalifah Caruban Larang dalam perang tidak mungkin terjadi tanpa melibatkan Prabu Chakraningrat.

Sementara itu, di tengah kegembiraan laskar muslim Caruban yang meraih kemenangan di berbagai medan tempur, terdapat kelompok-kelompok penduduk Caruban yang diam-diam menerima kabar itu dengan geram dan sakit hati. Mereka adalah para jawara, dukun, jajadug, dan pedagang jimat. Mereka geram dan sakit hati karena kemenangan yang diperoleh laskar muslim Caruban itu dikabarkan akibat hasutan Syaikh Lemah Abang yang mengajarkan ilmu mati mawat. Dengan ilmu tersebut, para laskar maju ke medan tempur tanpa membawa perangkat jimat, haekal, dan jampi-jampi. Dengan kemenangan-kemenangan itu, mereka merasa cepat atau lambat sumber nafkah mereka akan terancam hilang.

�Kita tidak bisa membiarkan Tuan Syaikh keparat itu meluaskan pengaruhnya kepada laskar karena dia akan meracuni pikiran mereka untuk tidak mempercayai lagi keampuhan jimat, haekal, dan jampi-jampi,� kata Ki Badong, tukang gembleng yang termasyhur kesaktiannya.

�Aku dengar-dengar, dia melarang para laskar yang maju ke medan tempur membawa jimat dan haekal. Dia mengatakan bahwa jimat dan haekal adalah cerminan jiwa pengecut sehingga tidak pantas dibawa oleh para pejuang beriman,� sahut Hargo Belah, jajadug berewokan yang suaranya mirip perempuan.

�Itu �kan sama artinya dengan menghina kita,� kata Ki Badong.

�Syaikh jahanam itu malah mengingatkan dalam khotbahnya bahwa siapa saja di antara laskar yang mempercayai jimat, haekal, dan jampi-jampi maka selama empat puluh hari ibadahnya tidak diterima. Dan andaikata mereka membawa jimat itu mati maka matinya dalam keadaan musyrik,� kata Hargo Belah.

�Ini benar-benar penghinaan yang tidak bisa dibiarkan,� kata Ki Badong dengan dada dikobari api. �Bahkan yang paling menyakitkan, dalam khotbahnya dia mengecam tradisi gemblak di kalangan jawara dan jajadug. Dia menyamakan tradisi gemblak dengan tindakan sesat umat Nabi Luth yang dilaknat Gusti Allah. Dia bahkan mengatakan bahwa keyakinan daya sakti yang diperoleh dari gemblakan sebagai kepercayaan setan. Bukankah itu menyindir engkau, o Kawan.�

Hargo Belah, yang sampai usia enam puluh tahun tidak menikah karena suka gemblakan, tersulut amarah mendengar penjelasan Ki Badong. Ia benar-benar merasa ditelanjangi dan dipermalukan oleh Syaikh Lemah Abang. Ia tidak bisa menerima hujatan Syaikh Lemah Abang terhadap perilaku perkelaminan antara lelaki dan lelaki sebagai kepercayaan setan yang sesat. Itu sebabnya, dengan kepala memuai dan dada terbakar, ia berkata meledak-ledak, �Apa yang sekarang harus kita perbuat untuk menghancurkan si keparat itu, Ki?�

�Kita hubungi para jawara, dukun, jajadug, dan pedagang jimat yang ada di Caruban dan Sunda. Kita harus bersatu untuk menyingkirkan syaikh keparat itu dari muka bumi,� Ki Badong mengertak gigi menahan amarah.

�Kita akan mengeroyok dan membunuhnya beramai-ramai.�

�Tidak, tidak boleh kita berlaku demikian. Sebab, itu akan menyulut amarah para pengikutnya.�

�Lalu apa yang akan kita lakukan?�

�Kita angkat kabar tentang banyaknya korban dalam pertempuran tanpa jimat-jimat dan haekal-haekal itu. Kita sebarkan rasa gentar di hati para laskar bahwa mereka akan celaka dan terbunuh secara sia-sia jika maju ke medan tempur tanpa dukungan jimat, haekal, dan jampi-jampi. Bukti banyaknya korban tewas di berbagai tempat dalam pertempuran itu akan kita jadikan bukti,� kata Ki Badong.

�Itu cara yang sangat baik, Ki,� kata Hargo Belah genit. �Aku akan membuat pertunjukan terbuka untuk memamerkan ilmu kawedukan, aji kememayam, pangabaran, karosan, kateguhan, dan pangerutan.�

�Jangan! Jangan pamer ilmu dulu,� kata Ki Badong memohon.

�Kenapa Ki?� tanya Hargo Belah heran.

�Sebab, dalam khotbah-khotbahnya syaikh bedebah itu mengatakan bahwa sangat banyak ilmu kekebalan dan kesaktian yang palsu. Dia menyebut ilmu sulap sebagai ilmu yang menipu dengan kelihaian memperdaya orang. Bahkan dia memberi tahu para laskar bahwa cara untuk menguji keampuhan jimat, haekal, dan jampi-jampi adalah di medan perang. Dia berkata begini: �Jika datang kepadamu orang yang mengaku jawara, jajadug, dan dukun, kemudian mereka memamerkan keampuhan jimat dan haekalnya dengan mengiriskan dan menyabetkan pedang ke tubuhnya, maka waspadalah. Sebab, sekarang ini banyak penipu yang menggunakan ilmu sulap untuk memperoleh keuntungan. Mereka menjual jimat, haekal, dan jampi-jampi yang katanya dapat menolak Kematian. Tetapi aku katakan kepada kalian, berapa banyak orang yang telah diselamatkan jimat-jimat dan haekal itu? Kenapa dalam pertempuran para pembawa jimat dan haekal itu bergelimpangan menjadi mayat? Sungguh, para penipu itu tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya yang mencelakakan orang lain.� Demikianlah, Kawan, mulutnya yang lancang itu menghasut para laskar agar meragukan keampuhan ilmu kesaktian kita.�

Hargo Belah menggeram marah. Napasnya terengah-engah dibakar api amarah. Ia bayangkan tubuh Syaikh Lemah Abang sebagai adonan tepung yang bisa dilumat-lumat sampai hancur lebur tanpa bentuk. Lalu adonan itu ia banting-banting dan tekuk-tekuk seperti jajan. Setelah itu, ia bayangkan tubuh Syaikh Lemah Abang dilemparkannya ke penggorengan dan kemudian disantapnya hangat-hangat. �Tunggulah pembalasanku, Syaikh tengik,� gumamnya dengan gigi gemeletuk. �Tunggulah saat kematianmu, wahai syaikh keparat. Aku akan mengunyah-ngunyah dan memamah tubuhmu seperti jajan sampai tubuhmu luluh menjadi isi ususku dan keluar menjadi tahiku.�

Read More ->>

Jumat, 27 Januari 2017

MENYIAPKAN PERANG PERADABAN

Menyiapkan Perang Peradaban �

Benarkah keadaan di Majapahit jauh lebih buruk dibanding Sunda?� tanya Sri Mangana kepada Abdul Jalil. �

Ananda kira demikianlah keadaannya,� kata Abdul Jalil menjelaskan. �Di sana orang hidup tanpa naungan hukum yang pasti. Para pejabat mengisi hari-hari hidupnya dengan pesta pora dan memeras kawula. Padepokan dan asrama terlantar. Kawula hidup dalam kemiskinan karena diburu bermacam-macam pajak. Bahkan, kesombongan para adipati yang suka berperang makin menjerumuskan kehidupan di Majapahit ke jurang kebinasaan. Semua orang ingin menang sendiri. Semua orang ingin menjadi penguasa tanpa mengukur kemampuan diri.� �

Menurutmu, kenapa keadaan itu bisa terjadi?� tanya Sri Mangana.

�Pertama-tama, nilai-nilai yang dianut di Majapahit sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, terutama setelah generasi-generasi penguasa makin merosot karena dilumpuhkan oleh kemewahan dan sanjungan. Kedua, lingkaran pejabat yang berasal dari kalangan kebanyakan yang berjiwa kerdil dan berwawasan sempit sangat mempengaruhi kebijakan maharaja dan roda pemerintahan. Hukum diperjualbelikan. Agama diperdagangkan. Jabatan dijadikan sarana utama untuk memperkaya diri. Kejahatan dilakukan secara kait-mengait dan sambung-menyambung, bahkan acap kali dilakukan dengan cara bergotong-royong,� kata Abdul Jalil.

�Apakah menurutmu peranan pejabat-pejabat yang berasal dari kalangan kebanyakan itu sangat besar dalam menjerumuskan Majapahit ke jurang kebinasaan?� Sri Mangana meminta penjelasan.

�Ananda menyimpulkan begitu. Sejak para penegak hukum, pejabat tinggi kerajaan, nayakapraja, dan punggawa berdarah biru disembelih beramai-ramai oleh para kawula yang mengamuk di kutaraja saat terjadi penyerbuan Prabu Girindrawarddhana, keagunagan dan kemuliaan Majapahit benar-benar sudah berakhir. Orang-orang dari kalangan kebanyakan yang menggantikan kedudukan mereka terbukti hanyalah golongan berderajat sampah yang berjiwa kerdil dan berakhlak bejat. Sehingga setinggi apa pun jabatan yang bisa mereka raih di pemerintahan, tetap tidak bisa mengubah jiwa dan akhlak mereka. Semakin tinggi jabatan mereka, semakin jahat dan nista perbuatan yang mereka lakukan.�

�Jika memang Majapahit mengalami kehancuran karena tampilnya orang-orang kebanyakan,� kata Sri Mangana dengan suara yang lain, �bagaimana pula dengan gagasanmu tentang wilayah al-Ummah?�

Abdul Jalil tersentak kaget ketika ditanya balik oleh Sri Mangana. Setelah diam beberapa jenak, ia berkata, �Setelah ananda berkeliling ke berbagai tempat di Majapahit dan membicarakan gagasan wilayah al-Ummah dengan berbagai pihak yang mumpuni, ananda telah menyadari sejumlah kelemahan dari gagasan tersebut. Itu sebabnya, pelaksanaan wilayah al-Ummah di Majapahit pun disesuaikan dengan keadaan.�

�Apakah di sana gagasanmu itu diterima dan dijalankan?�

�Berkat dukungan sepupu jauh ananda, Raden Ali Rahmatullah, di Majapahit telah terbentuk dua khilafah. Pertama-tama, para penguasa Madura sepakat memilih Sayyid Husayn sebagai kalifah Madura. Setelah itu, para penguasa pesisir Nusa Jawa sepakat memilih Prabu Satmata sebagai kalifah di Majapahit,� papar Abdul Jalil.

�Berarti, semua unsur khilafah di Madura dan Majapahit itu diduduki oleh para bangsawan darah biru. Benarkah itu, o Puteraku?�

�Benarlah demikian, o Ramanda Ratu.�

�Jika demikian, apa beda antara wilayah al-Ummah dan kerajaan?�

�Gambaran wadag khilafah dan kerajaan bisa saja sama. Tetapi, tata aturan dan daya hidup di antara keduanya jelas sangat berbeda. Ibarat sebuah lomba pacuan kuda, tata aturan kerajaan menetapkan bahwa kuda yang boleh mengikuti hanyalah kuda asal gurun yang warna bulunya hitam, coklat, dan putih. Kuda-kuda asal gurun yang memiliki warna jragem dan abu-abu dilarang ikut pacuan. Sementara, tata aturan khilafah tidak membatasi asal-usul kuda, apakah kuda Arab, kuda Persia, ataukah kuda Cina, bahkan kuda warna apa pun boleh ikut pacuan. Yang terkuat dan terperkasa di antara kuda-kuda itulah yang bakal menjadi pemenang.�

�Selama gagasan khilafah ini diterapkan di Caruban dan Majapahit, memang terbukti hampir seluruh jabatan dipegang oleh ningrat darah biru. Tetapi, pada masa datang tidak tertutup kemungkinan adanya tokoh dari kalangan kebanyakan yang bisa naik menjadi bagian terpenting dari khilafah. Selama perjalanan ananda ke sepanjang pesisir utara Nusa Jawa dan pedalaman Majapahit, ananda telah melihat gerak langkah orang-orang kebanyakan dalam berpacu menaiki tangga kekuasaan. Patih Mahodara yang berkuasa di Daha, misalnya, asal-usulnya adalah seorang abdi dari Adipati Pamadegan. Bahkan ananda sempat berbincang-bincang dengan Adi-Andayaningrat, adipati Pengging, yang tiada lain adalah putera Ki Bajul Sengara, buyut di Wisaya Kedung Srengenge. Dia diangkat menjadi adipati dan dijadikan menantu oleh Prabu Kertawijaya karena pengabdian dan kemampuannya yang tinggi dalam membela panji-panji Majapahit.�

�Sesungguhnya, dengan gagasan khilafah yang ananda tawarkan, berbagai ketidakmungkinan yang tak teratasi dalam tatanan kerajaan akan dapat dilampaui. Cerita Karna anak kusir Adiratha, misalnya, tidak perlu menumbuhkan dendam berkelanjutan akibat putera-putera Pandu menghinanya sebagai orang yang tak layak mengikuti lomba karena bukan dari kalangan ningrat darah biru. Dengan demikian, jelaslah bahwa gagasan khilafah yang ananda tawarkan adalah gagasan yang memberikan kemungkinan bagi siapa saja yang mau berjuang keras untuk meraih kemenangan. Tidak peduli apakah orang seorang dari kalangan brahmana, ksatria, waisya, sudra, paria, mleccha, mambang, kewel, domba, bahkan potet sekalipun dapat menjadi pimpinan, asal memenuhi prasyarat-prasyarat dan berhasil melampaui ujian-ujian yang menghadang di tengah jalan.�

�Pengalaman ananda selama berada di pedalaman Majapahit mengajarkan bahwa tetesan darah biru yang seharusnya menduduki tempat tertinggi, sering kedapatan terpuruk ke jurang hina karena dilemahkan dan dilumpuhkan oleh kemewahan dan sanjungan. Sebaliknya, mereka yang tak jelas asal-usulnya dapat menjadi gagah perkasa karena dikuatkan oleh ujian dan tantangan hidup yang keras. Karena itu, ananda berharap agar gagasan khilafah ini tidak dianggap sebagai usaha memberi kesempatan luas bagi kalangan kebanyakan untuk berkuasa dan menutup kesempatan bagi kalangan darah biru untuk melanggengkan kekuasaan. Sekali-kali tidak boleh dianggap begitu. Gagasan khilafah memberi kesempatan kepada semua kalangan tanpa membeda-bedakan asal usul. Jika ternyata yang memegang tampuk kekuasaan di dalam khilafah adalah para ningrat darah biru maka itulah keniscayaan yang harus diakui bahwa mereka adalah orang-orang yang mewarisi keunggulan. Dan, hal itu hanya mungkin terjadi dengan perjuangan keras sesuai tata aturan yang disepakati,� kata Abdul Jalil.

�Menurutmu, butuh waktu berapa lama kalangan kebanyakan bisa mengisi jabatan-jabatan penting di dalam wilayah al-Ummah di Caruban Larang ini?� tanya Sri Mangana.

�Ananda tidak bisa mengira-ngira,� kata Abdul Jalil dengan suara yang lain. �Sebab, sampai saat sekarang ini ananda masih belum melihat satu pun di antara masyarakat ummah yang berasal dari kalangan kebanyakan yang mampu membebaskan diri dari jiwa budak yang menjajahnya. Mereka masih suka meminta daripada memberi. Mereka masih suka tinggal di alam mimpi daripada menghadapi dunia nyata. Mereka masih suka dilindungi daripada melindungi. Mereka masih suka menghamba daripada mempertuan diri sendiri.�

�Dan tahukah engkau, kenapa Kuta Caruban sekarang ini kosong ditinggalkan penduduk?�

�Abdul Jalil tertawa kecut dan berkata, �Karena bagian terbesar penduduknya adalah kalangan kebanyakan yang berjiwa budak, yaitu orang-orang yang mengkhayal hidup mapan di dunia, namun menolak kerja keras dan enggan menerima akibat samping yang tidak menyenangkan dari yang didambakannya. Bahkan, saat melewati gubuk-gubuk dan tenda-tenda pengungsi di Kalisapu, ananda mendengarkan sendiri bagaimana mereka menyalahkan dan mencaci maki ananda sebagai penyebab kesengsaraan mereka.�

�Tapi, engkau tak perlu khawatir,� kata Sri Mangana, �sebab apa yang engkau rintis di Lemah Abang telah menunjukkan hasil. Warga di sana telah berubah menjadi penduduk yang gagah berani. Menurut laporan-laporan yang aku terima, di bawah pimpinan Sang Lokajaya, mereka berani menghadang dan merampok para bangsawan Galuh Pakuan. Tanpa kenal takut mereka melintasi perbatasan Caruban-Galuh Pakuan seperti anak-anak singa melompati sungai kecil di padang perburuan.�

�Mohon ampun, Ramanda Ratu. Jika boleh tahu, siapakah Sang Lokajaya yang membuat kekacauan antara Japura hingga Luragung itu? Kenapa pula dia bisa memimpin penduduk Lemah Abang tanpa sepengetahuan ananda?� tanya Abdul Jalil ingin tahu.

�Raden Sahid.�

�Raden Sahid putera Adipati Tuban?� gumam Abdul Jalil terkejut.

Sri Mangana mengangguk sambil tersenyum.

�Tapi Ramanda Ratu, menurut ananda, usia Raden Sahid masih terlalu muda untuk tugas seperti itu.�

�Apakah engkau juga berpikir bahwa dia terlalu muda untuk menjadi wali nagari Kalijaga? Bukankah selama ini tidak ada satu bukti yang menunjuk bahwa Raden Sahid telah diuji oleh satu tantangan berat sehingga membuatnya pantas menduduki jabatan wali nagari Kalijaga? Nah, tugas yang aku bebankan kepadanya itu adalah bagian dari langkahku untuk menguji kepantasannya menjadi wali nagari Kalijaga. Bukankah itu tidak bertentangan dengan gagasanmu?� kata Sri Mangana.

�Sungguh benar apa yang Ramanda Ratu lakukan.�

�Di sana pun aku tidak melepaskannya sendiri,� kata Sri Mangana. �Tun Abdul Qadir, wali nagari Sindangkasih, aku beri kepercayaan untuk mendampingi dan membimbingnya. Sebab, pemberontak asal pulau Upih di Malaka itu aku ketahui kemampuannya sangat mengagumkan dalam bertempur maupun mempengaruhi orang-orang. Aku berharap Raden Sahid dapat belajar dengan baik kepadanya.�

Sekalipun rasa kasih sebagai ayah dan hasrat menunaikan amanah istri tercinta sangat kuat menghendaki Abdul Jalil mengasuh sendiri puterinya, ia dengan berat hati akhirnya menyerahkan puterinya kepada ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, dan kakaknya, Nyi Muthmainah. Ia sadar, sebagai orang yang disibukkan oleh berbagai urusan terkait dengan perubahan yang menggelombang, kehadiran seorang puteri kecil yang membutuhkan perhatian akan sangat mengganggu tugas-tugasnya. Di samping itu, ia tidak memiliki cukup pengalaman dalam mendidik seorang anak perempuan. Karena itu, permintaan ibunda asuh dan kakaknya untuk mengasuh Zainab tidak bisa ditolaknya.

Keputusan Abdul Jalil untuk menyerahkan pengasuhan puterinya kepada ibunda asuh dan kakaknya terbukti merupakan langkah yang tepat. Sebab, saat ia dan Raden Sulaiman menginjakkan kaki di Lemah Abang, di sana terlihat perubahan yang sangat mengejutkan. Desa yang dibuka dan dikembangkannya itu tiba-tiba berubah menjadi hunian orang-orang kasar dan ganas, yaitu para begal dan bromocorah. Setiap orang yang ditemuinya di jalan-jalan dan bahkan di luar Lemah Abang terlihat membawa kelewang dan tombak terhunus. Wajah mereka kotor dan tidak ramah. Abdul Jalil teringat pada kata-kata Sri Mangana bahwa sejak Japura hingga Luragung kehidupan manusia menjadi tidak aman karena dikacaukan oleh kaki tangan Sang Lokajaya, begal sakti mandraguna. Dan yang terbanyak di antara kaki tangan Sang Lokajaya adalah orang-orang asal Lemah Abang yang kejam dan ganas.

Ia bersyukur puterinya ditinggalkan di Kuta Caruban. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan jika sang puteri yang terbiasa hidup dalam kelemahlembutan para perempuan itu harus tinggal di lingkungan Lemah Abang yang berubah kasar dan menakutkan. Ya, Lemah Abang yang penduduknya dikenal ramah dan rendah hati itu kini telah berubah menjadi tempat menyeramkan. Bahkan yang sulit dibayangkan, bagaimana Raden Sahid yang berpenampilan santun dan lemah lembut itu bisa berperan menjadi pemimpin para begal dan bromocorah yang ganas.

Abdul Jalil sendiri sempat terkejut saat menginjakkan kaki di Japura. Sebab, belum lagi ia melintasi batas gerbang Japura tiba-tiba ia didatangi beramai-ramai oleh sekitar tiga puluh begal dan bromocorah yang kasar dan menakutkan. Ia sempat menarik jubah Raden Sulaiman yang berancang-ancang lari akibat mengira akan diserang oleh orang-orang kasar itu. Ternyata para begal dan bromocorah kasar itu tidak menyerang rombongannya. Sebaliknya, mereka mendekat ke arahnya dengan berbaris ke belakang. Kemudian, sambil merunduk hormat mereka menyalami dan mencium tangannya secara bergantian. Mereka memperkenalkan diri sebagai penduduk Lemah Abang, murid-murid Abdul Jalil. Mereka mengaku mendapat tugas khusus dari wali nagari Kalijaga untuk membuat kekacauan antara Japura hingga Luragung.

�Tahukah kalian, siapakah yang memimpin gerakan ini?� Abdul Jalil menguji.

�Kami di bawah perintah Sang Lokajaya, Tuan Syaikh,� jawab mereka nyaris serentak.

�Tahukah kalian siapa Sang Lokajaya itu?� tanya Abdul Jalil.

Mereka menggelengkan kepala dan saling memandang satu sama lain. Abdul Jalil tersenyum menyaksikan keluguan dan kepolosan mereka. Diam-diam ia sangat memuji kehebatan Sri Mangana dalam mengatur siasat perang yang sebelumnya tak pernah dibayangkannya. Rupanya, pikir Abdul Jalil, dengan cara membuat kekacauan hanya dibutuhkan kekuatan sekitar dua ribu orang untuk menjaga perbatasan Caruban-Galuh Pakuan yang sangat panjang. Bahkan, para pengacau yang sebagian adalah warga Lemah Abang itu tidak mengetahui jika pemimpin mereka , Sang Lokajaya, sejatinya adalah Raden Sahid, wali nagari Kalijaga sendiri.

�Berapa jumlah seluruh warga Lemah Abang yang ikut berjuang?� tanya Abdul Jalil.

�Tujuh ratus tiga puluh orang, Tuan Syaikh.�

�Bukankah jumlah penduduk Lemah Abang lebih dari seribu orang?� tanya Abdul Jalil minta penjelasan. �Ke mana pula yang lain?�

�Mengungsi ke Pengarengan dan Mundu, Tuan Syaikh.�

�Bagaimana dengan rumah, tanah, dan harta benda mereka?�

�Kami dititipi untuk menjaganya, Tuan Syaikh.�

Abdul Jalil menggertak gigi menahan marah. Kemudian dengan suara ditekan tinggi ia berkata, �Mulai sekarang semua tanah, rumah, dan harta benda yang ada di Lemah Abang adalah milik kalian yang telah berjuang mempertahankan hak milik dengan gagah berani. Mereka yang berjiwa pengecut dan mau menikmati kemapanan tanpa mau berkorban tidak lagi memiliki hak apa pun di Lemah Abang. Jika kelak keadaan sudah aman dan mereka datang untuk meminta kembali hak miliknya, katakan kepada mereka bahwa segala sesuatu yang ada di atas bumi Lemah Abang tidak diwariskan kepada para pemalas berjiwa pengecut. Itulah ketentuan yang berlaku di Lemah Abang. Aku berharap kalian bisa membagi secara adil apa yang kalian terima ini sesuai peran dan jasa kalian dalam mempertahankan desa kalian.�

Setelah berbincang-bincang dengan para pengikutnya yang berperan menjadi orang-orang kasar dan ganas, Abdul Jalil dan Raden Sulaiman pergi ke Lemah Abang. Dengan diiring dalam arak-arakan panjang, ia menuju pondoknya yang terletak di samping Tajug Lemah Abang. Namun saat tiba di sana, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Di pondoknya ternyata sudah menunggu saudara sepupunya, Syaikh Bayanullah dan istri, serta imam Masjid Demak, Raden Mahdum Ibrahim. Mereka sedang berbincang-bincang dengan Tun Abdul Qadir dan Raden Sahid tentang berbagai hal mengenai perubahan di Caruban.

Setelah saling melepas rindu, Syaikh Bayanullah menuturkan jika ia sempat terkejut saat kali pertama menginjakkan kaki di Lemah Abang. �Menurut kabar, engkau telah menjadi seorang guru agama di Lemah Abang. Namamu dikenal sebagai Syaikh Lemah Abang. Tapi, sewaktu ke sini aku justru dihadang oleh orang-orang kasar yang membawa senjata. Untung saja aku menyebut namamu dan mengaku saudaramu sehingga aku diantar ke sini. Sepanjang perjalanan aku sempat berpikir jangan-jangan engkau bukan guru agama, melainkan pemimpin lanun. Aku baru paham setelah saudara kita, Tun Abdul Qadir, menjelaskan,� Syaikh Bayanullah tertawa terkekeh-kekeh.

Ternyata, bukan hanya Syaikh Bayanullah yang dihadang anak buah Sang Lokajaya, bahkan Raden Mahdum Ibrahim yang baru kembali dari Pasir Luhur pun dihadang di hutan Jatisari dekat Luragung.

�Atas nama Sri Mangana, kalifah Caruban Larang, aku memohonkan maaf. Mereka melakukan itu demi tugas negara,� kata Abdul Jalil.

�Kami sudah tahu itu. Aku pribadi benar-benar bangga kepada para pemberani ini. Bahkan, nama Sang Lokajaya pertama kali aku dengar saat aku berada di Pasir Luhur,� kata Raden Mahdum Ibrahim.

�O ya, bagaimanakah dengan berita Yang Dipertuan Pasir Luhur?� tanya Abdul Jalil. �Apakah beliau berkenan menolak tawaran Galuh Pakuan untuk bersekutu?�

�Alhamdulillah, adipati Pasir Luhur menyatakan tidak akan membantu Galuh Pakuan. Bahkan dia menyatakan akan mengirimkan bala bantuan untuk mendukung Caruban Larang,� lapor Raden Mahdum Ibrahim.

�Pangeran Banyak Belanak bersedia mendukung Sri Mangana?� gumam Abdul Jalil heran.

�Ya, terutama setelah aku menyampaikan pesan dari Adipati Demak bahwa Yang Dipertuan Pasir Luhur akan memperoleh wilayah Galuh Pakuan jika mendukung Caruban Larang,� ujar Raden Mahdum Ibrahim.

�Bagaimana kita bisa mempercayainya jika kita tahu bahwa dia bersaudara dengan penguasa Galuh?�

�Dia sudah mengikrarkan keislaman di hadapanku,� kata Raden Mahdum Ibrahim.

�Alhamdulillah,� kata Abdul Jalil. �Mudah-mudahan dia membantu perjuangan Caruban bukan semata-mata karena ada janji untuk memberikan Galuh Pakuan kepadanya.�

�Kalaupun dia akhirnya bisa menguasai Galuh Pakuan, aku kira tidak keliru. Dia banyak bercerita kepadaku tentang nasibnya yang disia-siakan oleh ayahandanya, Prabu Guru Dewata Prana. Dia merasa dengan dijadikan menantu raja Pasir Luhur sesungguhnya ayahandanya telah membuangnya. Lantaran itu, dibanding saudara-saudaranya, dia merasa tidak beroleh apa-apa dari ayahandanya. Hanya karena kebetulan semua keturunan adipati Pasir Luhur perempuan maka dia berkesempatan menggantikannya saat sang mertua meninggal dunia,� kata Raden Mahdum Ibrahim menjelaskan.

Sudah hampir tujuh puluh usia Syaikh Bayanullah. Sebuah hitungan yang tidak sedikit bagi usia manusia. Namun, di usianya yang senja itu tubuh Syaikh Bayanullah masih terlihat kukuh. Baik saat berjalan, duduk, maupun berbicara tidak ada kesan bahwa dalam lima atau sepuluh tahun mendatang tubuhnya bakal tumbang. Dia kukuh, meski kerut-kerut kekeriputan sudah membayangi wajahnya. Gigi geliginya masih tampak utuh dan mengkilat hitam karena dipoles air sirih yang dikunyahnya setiap hari. Bahkan yang paling menakjubkan, meski sudah hidup lebih dari tiga dasawarsa di Makah, dia tetap tidak kehilangan jati diri sebagai orang Melayu yang teguh memegang adat istiadatnya.

Keberadaan Syaikh Bayanullah yang bagaikan �tak lapuk karena hujan dan tak lekang terkena panas� itu pada gilirannya mengilhami Abdul Jalil yang sedang mencari bentuk sempurna dari citra masyarakat ummah. Orang-orang yang teguh memegang citra diri seperti Syaikh Bayanullah itulah, kata Abdul Jalil dalam hati, yang seharusnya menjadi penanda utama anggota-anggota masyarakat ummah. Sebab, hanya orang-orang yang teguh dan ulet dalam menjaga citra diri seperti Syaikh Bayanullah itulah yang akan tahan di dalam menghadapi gempuran kawanan Dajjal yang bakal merusak dan memporakporandakan tatanan kehidupan, terutama tatanan keimanan umat manusia.

Abdul Jalil sadar bahwa kemungkinan terburuk dari perjuangan menegakkan tatanan baru itu adalah kekalahan pahit yang dialami para pembaharu di medan tempur. Apakah dengan kekalahan di medan tempur akan bermakna kegagalan bagi usaha-usaha pembaharuan? Tentu saja tidak demikian. Sebab, kalah di medan tempur bukan berarti takluk di palagan pemikiran dan tatanan hidup. Itu berarti, piranti-piranti �perang peradaban� hendaknya dipersiapkan sebaik-baiknya untuk memperkuat benteng jiwa para pembaharu. Dan piranti terdahsyat untuk itu adalah adab dan adat istiadat yang justru tidak begitu dalam dipahami Abdul Jalil.

Sadar akan kelemahan diri yang tidak begitu mendalam memahami adab dan adat istiadat, Abdul Jalil pun memohon kepada Syaikh Bayanullah dan Raden Mahdum Ibrahim untuk mengatasi masalah tersebut. Syaikh Bayanullah sudah terbukti tidak hanya mengetahui dengan mendalam adat istiadat Melayu, tetapi pandai pula bercerita tentang riwayat hidup nabi-nabi dan menghafal di luar kepala dongeng-dongeng Melayu dan Persia. Dengan kemampuannya itu, Syaikh Bayanullah diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai baru untuk diselaraskan dengan nilai-nilai lama. Nilai-nilai gabungan itulah yang akan disebarluaskan dan dijadikan acuan utama dalam menegakkan nilai baik dan buruk, benar dan salah, haram dan halal, serta pantas dan tidak pantas dalam kehidupan masyarakat ummah. Dengan kuatnya benteng pertahanan adab dan adat istiadat, masyarakat ummah dapat bertahan dalam menghadapi terpaan badai kehidupan dari berbagai penjuru dunia, termasuk prahara yang ditimbulkan oleh Dajjal kelak.

Syaikh Bayanullah tampaknya paham dengan kesulitan yang dihadapi saudara sepupunya itu. Itu sebabnya, dengan dibantu Raden Mahdum Ibrahim, Raden Sahid, dan Tun Abdul Qadir, ia menyiasati perubahan tatanan baru itu dengan menyiapkan piranti-piranti adab dan adat istiadat dalam menghadapi perubahan. Sebagai orang-orang yang pernah tinggal di Malaka, baik Syaikh Bayanullah, Raden Mahdum Ibrahim, Abdul Jalil, maupun Tun Abdul Qadir tidak menemui banyak kesulitan dalam menyatukan pandangan untuk menyiasati perubahan. Mereka sadar bahwa pertempuran dengan para penguasa Bumi Pasundan hanyalah suatu pertempuran kecil yang kemungkinan akan dimenangkan para pembaharu. Namun, pertempuran yang lebih dahsyat dalam menghadapi Dajjal di kelak kemudian hari, kecil kemungkinan para pembaharu bisa memenangkannya. Para pembaharu akan terjajah dan tertindas di bawah kekuasaan Dajjal dan Ya�juj wa Ma�juj, pengikutnya. Lantaran itu, untuk menghadapi kemungkinan terburuk tersebut dibutuhkan landasan iman yang kuat bagi umat islam untuk bertahan di bawah penindasan Dajjal. Untuk itu, mereka sepakat menetapkan pepatah Melayu �syarak bersendi adat dan adat bersendi syarak� sebagai dasar utama di dalam menata nilai-nilai dasar adab dan adat istiadat.

�Umat Islam hendaknya bisa meniru buah salak,� kata Syaikh Bayanullah mengambil ibarat. �Kulitnya hitam, buahnya putih, dan bijinya hitam. Jika dikupas, terlihat buah yang segar. Jika buah dimakan, tinggallah biji. Dan dari biji itu akan lahir salak-salak baru yang rasanya manis sepanjang masa. Karena itu, hendaknya iman orang Islam seperti biji salak yang keras, liat, dan tak bisa dimakan orang. Adab orang Islam hendaknya seperti buah salak yang manis dan segar. Dan penampilan orang Islam hendaknya seperti kulit salak yang tersusun rapi dan saling mengait menutupi jati dirinya.�

�Dengan meniru keberadaan buah salak maka siapa pun di antara makhluk yang ingin menguasai orang-orang Islam hendaknya bersedia untuk bersusah payah mengambilnya dari pohonnya yang penuh duri. Jika orang sudah berhasil mengambil buah salak maka ia harus mengupas terlebih dulu kulitnya. Setelah itu, ia baru memakan buah yang melindungi biji. Dengan demikian, para pemangsa salak hanya bisa mengunyah dan memamah buah salak untuk mengenyangkan perut dan memuaskan hasratnya. Orang tetap tidak bisa menyentuh biji salak. Demikianlah, keimanan orang-orang Islam hendaknya dipertahankan di balik lapisan adab dan adat istiadat.�

�Kami berharap buah-buah salak itu tetap menunjukkan asal tumbuhnya,� kata Raden Mahdum Ibrahim, �sehingga orang bisa mengetahui perbedaan salak Jawa, salak Sunda, dan salak Malaka. Dan masing-masing salak harus mengatakan, kamilah salak yang paling manis.�

Apa yang dikemukakan Syaikh Bayanullah dan Raden Mahdum Ibrahim pada hakikatnya tidak berbeda dengan apa yang dikemukakan Abdul Malik Israil al-Gharnatah. Ta�ashub (kebanggaan) terhadap keberadaan jati diri hendaknya dibangkitkan sebagai penanda keberagaman citra hidup manusia. Orang Jawa harus bangga dengan kejawaannya. Orang Sunda harus bangga dengan kesundaannya. Orang-orang Caruban yang berasal dari berbagai macam bangsa, harus bangga dengan keragamannya. Untuk itu, dibutuhkan piranti-piranti adab dan adat istiadat penanda keberadaan masing-masing puak bangsa. Namun, di atas semua usaha penyiapan piranti adab dan adat istiadat itu, Abdul Jalil tetap menganggap berbahaya keberadaan takhayul Campa yang ternyata sudah membaur dengan takhayul Cina, Sunda, dan Majapahit, yang terbukti melemahkan dan membodohkan manusia. Lantaran itu, ia diam-diam menyiapkan piranti khusus untuk menghadapi perkembangan takhayul-takhayul celaka itu dengan cara mengajarkan sasyahidan kepada masyarakat ummah melalui Lemah Abang-Lemah Abang yang tersebar di berbagai tempat, meski untuk itu ia harus menghadapi akibat besar; dimusuhi oleh kelompok-kelompok pemimpin yang ingin melestarikan kekuasaan dengan membodohkan masyarakat dengan takhayul.

Setelah merasa cukup menyiapkan piranti adab dan adat istiadat, sebagai salah satu ujian untuk mengukur keampuhannya, Syaikh Bayanullah, Raden Mahdum Ibrahim, dan Tun Abdul Qadir mendaulat Raden Sahid untuk menanamkan perangkat nilai-nilai itu kepada masyarakat yang tinggal di wilayah antara Japura dan Luragung. Sebagaimana Sri Mangana mendapuk Raden Sahid sebagai Sang Lokajaya, mereka mendapuk Raden Sahid sebagai amancangah menmen (tukang dongeng keliling) yang memperkenalkan dongeng-dongeng Melayu dan Persia di antara dongeng-dongeng Sunda. Hal itu dilakukan karena Raden Sahid ternyata tak kalah piawai dalam mendongeng dibanging Syaikh Bayanullah. Dengan tugas itu Raden Sahid akan menjalankan peran ganda yang berbeda, yaitu sebagai kepala begal dan bromocorah sekaligus sebagai tukang dongeng keliling. Sementara itu, Syaikh Bayanullah dengan Raden Sulaiman akan tinggal di Pajarakan di lereng Gunung Gundul untuk menyebarkan nilai-nilai baru itu kepada penduduk di perbatasan Caruban � Galuh � Talaga.

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers