Minggu, 29 Januari 2017

AJARAN TENTANG HIDUP DAN MATI

Ajaran Tentang Hidup dan Mati

Sekalipun cukup jauh dari garis depan medan tempur, selentingan berita sekecil apa pun di sana selalu sampai ke Lemah Abang. Rupanya, Tun Abdul Qadir diam-diam telah membentuk semacam lingkaran warta di berbagai tempat yang saling menyambung. Melalui lingkaran warta yang dikuasai kaki tangan pemberontak asal kampung pulau Upih di Malaka itulah semua perkembangan di garis depan pertempuran dapat diketahui bahkan hingga ke Lemah Abang.

Simpang-siur berita dari medan tempur yang sampai ke Lemah Abang ternyata sering menyedihkan dan bahkan menjengkelkan, terutama bagi Abdul Jalil. Sebab, berita-berita yang sampai ke Lemah Abang nyaris berisi kekonyolan-kekonyolan laskar muslim Caruban yang sulit dinalar. Suatu saat datang kabar yang memberitakan tunggang langgangnya laskar muslim Caruban dari medan tempur karena pasukan Rajagaluh dipimpin oleh Ki Gedeng Leuimunding. Pasalnya, nama Munding (Sunda: kerbau) dibayangkan sebagai kerbau. Ki Gedeng Leuimunding dikesankan sebagai manusia siluman berkepala kerbau. Sehingga, saat berhadapan dengan pasukan Leuimunding, mereka lari tunggang langgang sebelum bertempur dengan alasan takut menghadapi siluman kerbau.

Belum dingin berita kekonyolan laskar muslim Caruban itu, muncul berita menggembirakan tetapi juga menjengkelkan. Laskar muslim Caruban yang berhasil memukul mundur pasukan Rajagaluh di Jamaras tidak berani mengejar musuh yang menyeberangi sungai karena mereka meyakini bahwa siapa saja yang berperang lalu menyeberangi sungai itu akan kejatuhan sial. Keberhasilan mereka memukul mundur pasukan Rajagaluh diyakini akibat kesalahan pasukan Rajagaluh yang telah menyeberangi sungai. Sementara laskar Caruban di Plumbon diberitakan meninggalkan pangkalannya di Sindangmekar dan mundur hingga Cempaka gara-gara pasukan Rajagaluh yang dipimpin oleh Ki Demang Surabangsa menyerang dari Girinatha. Laskar Caruban tidak saja ketakutan dengan kabar yang mengatakan bahwa gajah tunggangan Ki Demang Surabangsa adalah jelmaan Bhattara Gana, tetapi juga ketakutan karena mereka menyangka Ki Demang Surabangsa adalah titisan Sanghyang Girinatha.

Kekonyolan laskar muslim Caruban ternyata tidak hanya berlangsung di antara laskar-laskar muslim Sunda, Jawa, Cina, Campa, dan Melayu. Laskar muslim Caruban asal Baghdad yang dipimpin oleh Syaikh Duyuskhani ternyata terkena pengaruh takhayul pula. Mereka yang sejak lahir tinggal di Baghdad yang ramai dan gemerlapan ternyata mengalami tekanan yang sangat berat di pangkalan mereka yang terletak di hutan Pancalang. Entah siapa yang mengawali, tiba-tiba di antara mereka tersebar cerita-cerita tentang jin dan ruh jahat penunggu hutan yang suka mengganggu orang asing. Mereka menganggap perwira-perwira Rajagaluh yang tidak mempan ditusuk tombak dan ditebas pedang sebagai bukan manusia, melainkan setan. Akibatnya, sering kali mereka lari tunggang langgang saat mendapati kenyataan salah satu musuh mereka tidak terluka saat dipanah atau ditombak.

Tidak tahan mendengar berita-berita konyol tentang laskar muslim Caruban yang lari dari medan tempur karena takhayul, Abdul Jalil pergi ke Pancalang untuk menemui Syaikh Duyuskhani dan para pengikutnya. Di sana ternyata Abdul Jalil menemui Syaikh Duyuskhani dalam keadaan yang menyedihkan. Tubuhnya kurus, matanya cekung, pakaiannya kotor dan lusuh, suaranya serak, dan kalau berjalan dipapah oleh murid-muridnya. Kepada Abdul Jalil, guru agama yang pantang menyerah itu menyatakan kebingungannya menghadapi laskar yang dipimpinnya. �Segala usaha saya untuk membangkitkan semangat mereka sudah menemui jalan buntu. Mereka takut kepada sesuatu yang tidak berdasar. Satu kelompok demi satu kelompok lari dari medan tempur. Untung saudara ipar Tuan Syaikh dan pengikutnya datang sehingga laskar kita tidak lari,� kata Syaikh Duyuskhani.

�Mereka memang bukan prajurit. Karena itu, sulit berharap mereka bisa berani tempur seperti yang kita harapkan, meski berulang-ulang meyakinkan mereka dengan dalil-dalil,� kata Abdul Jalil.

�Sekarang ini terserah bagaimana cara Tuan Syaikh memacu mereka. Saya sudah tidak mampu meyakinkan mereka. Saya hanyalah guru agama yang tidak paham tentang perang,� kata Syaikh Duyuskhani pasrah. �Bahkan sebelum Tuan Syaikh datang kemari, saya baru saja menyerahkan kepemimpinan laskar kepada adik ipar Tuan Syaikh, Abdul Qadir al-Baghdady.�

Akhirnya, atas permohonan Syaikh Duyuskhani, Abdul Jalil berkhotbah di hadapan para laskar asal Baghdad, termasuk dua orang adik iparnya. Abdul Jalil menyampaikan khotbah tentang Kehidupan dan Kematian, dengan maksud agar para pejuang pembaharuan itu tidak takut menghadapi pertempuran. Dengan suara yang lain ia berkata, �Ketahuilah, o putera-putera Muhammad Saw., bahwa kabar-kabar menyedihkan tentang tunngang langgangnya laskar Caruban dari medan tempur sejatinya cerminan dari rasa takut terhadap Mati. Berbagai alasan yang mereka kemukakan seperti berperang melawan setan, diganggu jin penunggu sungai, dikejar-kejar ruh jahat pemakan manusia, dan bahkan munculnya bintang al-Murikh (Mars) sebagai pertanda kekalahan, sejatinya adalah ungkapan rasa takut akan Mati yang tidak terkendali.�

�Ketahuilah oleh kalian semua bahwa Sang Maut tidak pernah datang terlambat dan tidak pula pernah datang terlalu cepat. Dia selalu datang pada saat yang tepat. Karena itu, wahai engkau sekalian yang pernah lahir ke dunia dan menjadi bagian dari kehidupan dunia, bersiagalah kalian semua untuk menyongsong Sang Maut dengan cara yang gagah dan penuh kemenangan di mana pun kalian berada.�

�Sungguh telah keliru mereka mengatakan Kematian adalah akhir dari Kehidupan. Sebab, apa yang disebut Sang Maut (al-Mumit) sejatinya adalah Satu Diri dengan Sang Hidup (al-Hayy). Hanya mereka yang bodoh dan lancang mulut yang mengatakan Kematian adalah akhir dari Kehidupan. Apakah mereka sangka Allah bisa mati tidak bernyawa? Aku katakan sekali lagi, sungguh bodoh dan lancang mulut mereka yang mengatakan Mati sebagai Sesuatu yang tidak bernyawa.�

�Aku ajarkan kepada kalian suatu pandangan yang benar tentang Kematian: bahwa Sang Maut adalah Sisi lain dari Sang Hidup, namun sekaligus adalah Satu Diri yang sama, seibarat keping mata uang dengan sisi yang berbeda. Karena itu, bagi mereka yang sadar, Kematian adalah nama lain dari kelahiran. Sebab, mereka yang mati di dunia ini pada hakikatnya lahir di dunia lain yang lebih luas dan lebih abadi, seibarat bayi lahir dari alamnya yang sempit dan gelap di kandungan ibu ke alam dunia. Dan sebagaimana bayi-bayi yang lahir selalu terkejut dan menangis karena memperoleh kesadaran baru, begitulah tiap-tiap manusia yang meninggalkan dunia dan lahir di alam kematian akan terkejut karena mendapatkan kesadaran baru (QS. at-Takatsur: 1-2).�

�Lihatlah perilaku kupu-kupu yang lahir dari kepompong, kepompong lahir dari ulat, dan ulat lahir dari telur. Demikianlah perilaku manusia dalam melintasi Kehidupan dan Kematian. Kematian dan Kehidupan adalah suatu keadaan di mana kesadaran makhluk meningkat seiring matra yang mereka lampaui. Itu sebabnya, aku katakan kepada kalian bahwa telah keliru mereka yang mengatakan bahwa manusia hanya sekali hidup dan sekali mati. Sebab, sebagaimana telur melahirkan ulat dan ulat melahirkan kepompong dan dari kepompong lahir kupu-kupu, demikianlah manusia melintasi Kehidupan dan Kematian berkali-kali sampai kembali ke Asal Sejati (QS. al-Baqarah:28).�

�Jika Sang Maut pada hakikatnya adalah sama dengan Sang Hidup, jika mati adalah sama hakikatnya dengan lahir, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk takut mati. Sesungguhnya, rasa takut pada Sang Maut selalu berpangkal pada kecintaan terhadap dunia yang fana. Manusia mencintai dunia karena beranggapan dunia adalah abadi dan mereka mengikatkan diri pada dunia seerat-eratnya. Tetapi, celaka dan celakalah orang-orang yang terikat kuat pada dunia, karena ibarat ulat mereka menolak menjadi kepompong. Padahal, untuk hidup yang lebih baik ulat hendaknya menjadi kepompong. Ulat yang menolak menjadi kepompong pasti akan menjadi mangsa hewan pemakan ulat dan ia akan lahir kembali sebagai tahi sang hewan pemangsa.�

�Jika kalian memahami apa yang aku ajarkan ini maka tidak ada pilihan lain bagi kalian dalam menyongsong Sang Maut yang pasti datang itu. Pertama, kalian sadar dan dengan gagah perkasa menyongsong Sang Maut dengan keinginan menjadi makhluk baru yang seindah kupu-kupu. Makhluk baru yang terbang di alam bebas mengisap saripati madu yang mengalir dari wangi bunga-bunga. Atau pada pilihan kedua, kalian ketakutan menghadapi Sang Maut dengan keinginan menjadi ulat perusak yang merayap-rayap di dedaunan, yang akan berakhir menjadi tahi hewan.�

�Memang, dalam menghadapi Sang Maut, masing-masing manusia memiliki gambaran yang berbeda. Tetapi, aku katakan kepada kalian bahwa sangat keliru mereka yang menduakan gambaran hakiki Hidup dan Mati. Sebab, mereka yang mengaku mencintai Sang Hidup hendaknya mencintai pula Sang Maut. Mereka yang mencintai Kehidupan tetapi membenci Kematian adalah orang yang belum mengenal Tuhan dalam makna sejati asma�, shifat, dan af�al Ilahi. Mereka masih mendua dalam Tauhid.�

�Aku ajarkan kepada kalian bahwa Sang Maut dan Sang Hidup tidaklah terpisah jauh dan tidak pula dekat dengan makhluk. Mati dan Hidup tidak berada di luar dan tidak berada di dalam diri makhluk. Tetapi, setiap makhluk terikat dan berada di dalam liputan Maut dan Hidup. Sebab, kita, makhluk tak berdaya ini, adalah wujud yang tergantung (mumkin al-wujud), sedangkan Mati dan Hidup adalah Citra Hakiki dari Wujud Mutlak (al-Wujud al-Muthlaq). Sebagaimana hidup dan mati ikan berada di dalam air, demikianlah hidup dan mati kita berada di dalam liputan-Nya. Aku tahu bahwa apa yang aku ajarkan ini sulit dicerna oleh pikiran awam yang sudah terjajah oleh berbagai bentuk takhayul yang membayangkan Kematian adalah bagian dari kegelapan yang dipenuhi banyak hantu dan setan menakutkan. Karena itu, aku akan mengajarkan kepada kalian sesuatu yang baru: belajar mati! Meski kedengaran aneh, dengan belajar mati kalian akan mengenal Sang Maut dalam asma�, shifat, dan af�al. Sehingga, kelak saat Sang Maut membentangkan sayap kematian dan mencengkeram kuku-kuku sakarat al-maut yang tajam, tidak menjadikan kalian gentar dan ketakutan.�

�Aku katakan kepada kalian, dengan belajar mati maka kalian akan mengenal Sang Maut sehingga akan menghilangkan keraguan dan kegentaran kalian menghadapi-Nya. Di saat ajal kalian tidak akan menyeringai, meringis, tersengal-sengal, tercekik-cekik, meraung-raung, dan mengorok seperti hewan sekarat. Hadapilah Sang Maut dengan ramah dan penuh sukacita sebab engkau yang sudah mengenal-Nya akan disambut dengan kemegahan dan kemuliaan seorang sahabat dan kekasih. Engkau akan dimahkotai bunga-bunga surgawi karena telah kembali sebagai pahlawan dengan kemenangan besar.�

Para laskar asal Baghdad, baik yang Arab baik yang Persia, tercengang-cengang mendengar khotbah Abdul Jalil. Sebagian besar di antara mereka tidak memahami intisari khotbah. Hanya Syaikh Duyuskhani, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady, dan beberapa pemuka laskar yang paham.

Untuk memahamkan makna khotbah yang disampaikannya, Abdul Jalil secara bergilir mengajarkan �belajar mati� kepada pemuka-pemuka laskar. Mula-mula ia memandikan dan mengafani Syaikh Duyuskhani sebagaimana layaknya orang mati. Setelah itu, ia membujurkan tubuh Syaikh Duyuskhani dan membisikkan �jalan� (sabil) dan �cara� (thariq) mendaki tangga menuju hadirat-Nya.

Para laskar berkerumun dan berdesak-desak menyaksikan apakah yang akan terjadi dengan Syaikh Duyuskhani. Selama menyaksikan Syaikh Duyuskhani �belajar mati� di bawah bimbingan Abdul Jalil, mereka menahan napas dalam ketegangan. Dengan pandangan nanar mereka saksikan betapa Syaikh Duyuskhani terbujur kaku seolah-olah orang mati. Mereka saling pandang ketika dalam waktu yang lama Syaikh Duyuskhani tidak terbangun. Mereka khawatir dia benar-benar mati.

Setelah cukup lama membiarkan Syaikh Duyuskhani terbujur bagai orang mati, Abdul Jalil membisikkan sesuatu ke telinganya. Syaikh Duyuskhani membuka mata. Sejenak setelah itu dia terbangun dan celingukan seperti orang baru terjaga dari mimpi. Saat melihat para laskar berdesak-desak mengitarinya, dia baru sadar jika barang beberapa jenak lalu ia telah �belajar mati� di bawah bimbingan Syaikh Lemah Abang. Dan saat ia melihat Syaikh Lemah Abang berada di hadapannya, tak dapat ditahan lagi ia menjatuhkan diri menyembah dan mencium kakinya sambil berkata, �Saya mohon, hendaknya Tuan Syaikh mengembalikan saya ke Kematian. Sungguh, saya tidak tahan lagi hidup di dunia fana ini setelah mengetahui dan merasakan pelukan mesra Kematian. Saya mohon. Sekali lagi, saya mohon sudilah Tuan Syaikh mengembalikan saya ke alam Kematian.�

Abdul Jalil menarik bahu Syaikh Duyuskhani dan memintanya duduk di depannya. Kemudian dengan suara lain ia berkata, �Sesungguhnya, apa yang Tuan Syaikh rasakan adalah bagian terkecil dari Kematian. Tuan Syaikh tidak boleh larut oleh perasaan sebab Tuan Syaikh belum benar-benar mengenal-Nya. Tuan Syaikh harus kembali ke alam dunia dan menjalankan tugas Tuan Syaikh yang belum selesai. Sebab, memaksakan datangnya Sang Maut adalah sama maknanya dengan bunuh diri, bukan kemuliaan yang diperoleh melainkan kehinaan.�

�Kepada kalian semua, o putera-putera Muhammad Saw., aku katakan bahwa rasa bahagia dan nikmat yang dirasakan oleh Syaikh Duyuskhani saat �belajar mati� sebenarnya terikat dengan keberadaan jiwanya yang sudah bisa menyingsingkan keterikatan dengan hal-hal duniawi dan pamrih pribadi. Sebab, bagi mereka yang masih sangat kuat terikat kecintaan pada dunia dan pamrih pribadi, bukan saja akan kesulitan mengenal Sang Maut, melainkan akan merasakan penderitaan dan kesengsaraan. Bagi mereka, �belajar mati� akan sama maknanya dengan menambah rasa takut terhadap Kematian. Karena itu, o wahai putera-putera Muhammad Saw., jika kalian ingin merasakan kebahagiaan dan kenikmatan sebagaimana yang dialami Syaikh Duyuskhani, hendaknya kalian mulai belajar mengarahkan kiblat hati dan pikiran kalian kepada Dia Yang Tunggal. Jangan ingat apa pun saat kalian berada di medan tempur kecuali Yang Maha Esa. La ilaha illa Allah ! Jika pada saat itu kalian dijemput oleh Sang Maut maka kalian akan meninggalkan dunia ini dan lahir sebagai makhluk baru di alam Kematian yang tak tergambarkan indah dan nikmatnya. Itu berarti, kalian tidak perlu �belajar mati� karena kalian telah mati secara benar.�

Api pertempuran mengamuk tidak hanya di garis depan, tetapi juga membara di berbagai desa yang tersebar di perbatasan Rajagaluh dengan Caruban Larang, dari Padamatang di selatan Bobos hingga Tegal Karang di barat Jamaras, bahkan berkobar pula di Glagahamba di selatan Susukan. Gerakan serentak laskar-laskar yang tak pernah diperhitungkan itu membuat pasukan Rajagaluh porak-poranda di berbagai pos pertahanannya. Pangeran Arya Mangkubhumi, manggalayuddha Rajagaluh, memerintahkan pasukannya untuk mundur teratur dan bertahan di garis pertahanan yang sudah ditentukan, yaitu di Girinatha, Kepuh, Balerante, Lungbenda, Kedung Bunder, dan Palimanan.

Para tetunggul perang Rajagaluh seperti Adipati Kiban, Ki Demang Dipasara, Ki Gedeng Leuwimunding, Ki Demang Surabangsa, Ngabehi Ardisora, Sanghyang Gempol, Sanghyang Mayak, Sanghyang Tubur, Sanghyang Sogol, dan Celeng Igel telah bersumpah untuk menghadang gerak maju laskar-laskar muslim Caruban ke Palimanan. Sebab, membiarkan Palimanan jatuh ke tangan laskar sama maknanya dengan kehancuran nama besar mereka sebagai pahlawan berdarah biru gagah perkasa yang takluk di bawah telapak kaki para laskar yang beranggotakan kalangan rendah tak berkasta.

Pasukan Rajagaluh sendiri sebenarnya bukanlah tandingan laskar muslim Caruban baik dalam hal jumlah prajurit, persenjataan, keterampilan perang, dan mental keprajuritan. Itu sebabnya, selama berlangsung pertempuran yang terkesan tarik-ulur itu, pasukan Rajagaluh cenderung menjadikan laskar muslim Caruban sebagai �kawan berlatih� di medan tempur. Sejak pertempuran awal pecah di Bobos, pihak Rajagaluh kehilangan tak lebih dari lima puluh prajurit, sementara laskar muslim Caruban lebih enam ratus yang terbunuh. Keadaan itu memang sengaja dibiarkan oleh para tetunggul Rajagaluh untuk membiasakan prajurit-prajuritnya menghadapi suasana perang sehingga saat menghadapi pasukan Caruban kelak mereka tidak akan canggung.

Amukan api pertempuran yang berkobar serentak di berbagai desa laksana padang alang-alang terbakar itu tak pelak mengejutkan para tetunggul Rajagaluh. Mereka tidak pernah menduga bahwa para laskar muslim Caruban bisa melakukan perlawanan dengan begitu fanatik, dengan semangat tinggi untuk mati, menerjang musuh tanpa peduli keselamatan diri. Sementara itu, pasukan Rajagaluh yang tak pernah menduga bakal mendapat perlawanan yang begitu gigih, dengan terheran-heran mundur dan sebagian malah lari kocar-kacir meninggalkan senjata di medan tempur.

Keheranan para tetunggul Rajagaluh terhadap peristiwa pertempuran yang memalukan itu baru diketahui sebab-sebabnya ketika mereka berkumpul di Palimanan untuk membahas masalah tersebut. Saat itu, berdasar laporan Rsi Bungsu, diketahuilah bahwa di balik kobaran api perlawanan laskar muslim Caruban yang dahsyat terdapat sosok Syaikh Lemah Abang yang termasyhur kepiawaiannya dalam menghasut.

�Tukang sihir celaka itu telah menyihir para laskar dan penduduk desa untuk melawan kita. Jadi, saat bertempur sesungguhnya para laskar itu sedang berada dalam pengaruh sihir Syaikh Lemah Abang. Mereka dalam keadaan tidak sadar,� kata Rsi Bungsu.

�Tapi, bagaimana mungkin dia bisa menyihir beribu-ribu orang dalam waktu yang sama,� kata Pangeran Arya Mangkubhumi, manggalayuddha Rajagaluh. �Sebab, sepengetahuanku, pengaruh sihir hanya bisa dilakukan pada beberapa orang saja dalam waktu yang tidak lama. Padahal, selama hampir sepekan pertempuran di berbagai medan, beribu-ribu laskar menyerang tak kenal siang dan malam.�

�Sesungguhnya, Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan kepada para laskar suatu ilmu sihir dahsyat yang disebut mati mawat, pengaruh gaib kematian. Dia bilang, hidup ini adalah mati dan mati adalah hidup. Lewat ilmu itu, tukang sihir laknat tersebut memerintah para laskar untuk menerobos batas Kematian dan Kehidupan seperti orang melewati pintu,� Rsi Bungsu membelok-belokkan tangannya, menggambarkan ajaran yang disampaikan Abdul Jalil.

Para tetunggul Rajagaluh yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana nekat dan ngawurnya laskar muslim Caruban saat bertempur, seolah-olah mereka keranjingan ruh setan, mau tidak mau mempercayai ucapan Rsi Bungsu. Itu sebabnya, mereka sepakat untuk membahas pemecahan masalah yang tak pernah mereka bayangkan itu. Namun setelah berputar-putar dengan berbagai alasan masing-masing, mereka sampai pada simpulan bahwa ujung dari masalah yang rumit itu adalah kalifah Caruban Larang, Sri Mangana. Mereka sepakat bahwa untuk menghindarkan rasa malu akibat kemungkinan kalah dalam pertempuran mendatang, hendaknya penguasa Caruban Larang dilibatkan. Maksudnya, pasukan Rajagaluh harus bertempur melawan pasukan Caruban Larang, bukan menghadapi laskar muslim.

�Kalaupun kita kalah maka kita tidak perlu malu karena kita dikalahkan oleh saudara kita sendiri. Kita tidak malu karena sebagai ksatria kita kalah oleh ksatria lain. Tetapi, kalau kita sampai kalah dengan laskar gelandangan yang tidak terhormat itu maka itu sama artinya dengan kita membiarkan wajah kita dilumuri kotoran. Itu sangat memalukan. Memalukan.� Pangeran Arya Mangkubhumi berang.

�Apakah kita akan menyerang langsung Kuta Caruban?� tanya Rsi Bungsu.

�Itu tindakan tolol,� sergah Pangeran Arya Mangkubhumi yang diam-diam tidak suka dengan Rsi Bungsu yang dinilainya culas dan licik. �Sebab, kita tidak tahu seberapa besar kekuatan pasukan Caruban Larang.�

�Menurut kabar, kekuatan pasukan Caruban Larang tidak lebih dari sepuluh ribu. Padahal, kekuatan pasukan kita lebih dari seratus ribu prajurit.� Rsi Bungsu meyakinkan.

�Sepuluh ribu itu hanya dugaanmu saja. Sebab setahuku, sudah lebih tujuh tahun silam pamanda ratu menggalang kekuatan militer. Karena itu, jumlah sepuluh ribu adalah dugaan yang mengada-ada. Bahkan kalaupun benar jumlah pasukan Caruban sepuluh ribu, belum tentu kita dapat mengalahkannya dengan mudah. Bukankah kekalahan pasukan kita membuktikan bahwa menghadapi laskar muslim tak terlatih yang jumlahnya tidak sampai sepuluh ribu saja sudah membuat kita kocar-kacir, apalagi menghadapi pasukan Caruban Larang yang terlatih,� kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

Melihat keadaan makin memanas antardua sepupu itu, para tetunggul Rajagaluh berusaha melerai dengan cara bersepakat untuk menyerahkan masalah itu kepada junjungan mereka, Prabu Chakraningrat, Yang Dipertuan Rajagaluh. Mereka sadar, untuk melibatkan kalifah Caruban Larang dalam perang tidak mungkin terjadi tanpa melibatkan Prabu Chakraningrat.

Sementara itu, di tengah kegembiraan laskar muslim Caruban yang meraih kemenangan di berbagai medan tempur, terdapat kelompok-kelompok penduduk Caruban yang diam-diam menerima kabar itu dengan geram dan sakit hati. Mereka adalah para jawara, dukun, jajadug, dan pedagang jimat. Mereka geram dan sakit hati karena kemenangan yang diperoleh laskar muslim Caruban itu dikabarkan akibat hasutan Syaikh Lemah Abang yang mengajarkan ilmu mati mawat. Dengan ilmu tersebut, para laskar maju ke medan tempur tanpa membawa perangkat jimat, haekal, dan jampi-jampi. Dengan kemenangan-kemenangan itu, mereka merasa cepat atau lambat sumber nafkah mereka akan terancam hilang.

�Kita tidak bisa membiarkan Tuan Syaikh keparat itu meluaskan pengaruhnya kepada laskar karena dia akan meracuni pikiran mereka untuk tidak mempercayai lagi keampuhan jimat, haekal, dan jampi-jampi,� kata Ki Badong, tukang gembleng yang termasyhur kesaktiannya.

�Aku dengar-dengar, dia melarang para laskar yang maju ke medan tempur membawa jimat dan haekal. Dia mengatakan bahwa jimat dan haekal adalah cerminan jiwa pengecut sehingga tidak pantas dibawa oleh para pejuang beriman,� sahut Hargo Belah, jajadug berewokan yang suaranya mirip perempuan.

�Itu �kan sama artinya dengan menghina kita,� kata Ki Badong.

�Syaikh jahanam itu malah mengingatkan dalam khotbahnya bahwa siapa saja di antara laskar yang mempercayai jimat, haekal, dan jampi-jampi maka selama empat puluh hari ibadahnya tidak diterima. Dan andaikata mereka membawa jimat itu mati maka matinya dalam keadaan musyrik,� kata Hargo Belah.

�Ini benar-benar penghinaan yang tidak bisa dibiarkan,� kata Ki Badong dengan dada dikobari api. �Bahkan yang paling menyakitkan, dalam khotbahnya dia mengecam tradisi gemblak di kalangan jawara dan jajadug. Dia menyamakan tradisi gemblak dengan tindakan sesat umat Nabi Luth yang dilaknat Gusti Allah. Dia bahkan mengatakan bahwa keyakinan daya sakti yang diperoleh dari gemblakan sebagai kepercayaan setan. Bukankah itu menyindir engkau, o Kawan.�

Hargo Belah, yang sampai usia enam puluh tahun tidak menikah karena suka gemblakan, tersulut amarah mendengar penjelasan Ki Badong. Ia benar-benar merasa ditelanjangi dan dipermalukan oleh Syaikh Lemah Abang. Ia tidak bisa menerima hujatan Syaikh Lemah Abang terhadap perilaku perkelaminan antara lelaki dan lelaki sebagai kepercayaan setan yang sesat. Itu sebabnya, dengan kepala memuai dan dada terbakar, ia berkata meledak-ledak, �Apa yang sekarang harus kita perbuat untuk menghancurkan si keparat itu, Ki?�

�Kita hubungi para jawara, dukun, jajadug, dan pedagang jimat yang ada di Caruban dan Sunda. Kita harus bersatu untuk menyingkirkan syaikh keparat itu dari muka bumi,� Ki Badong mengertak gigi menahan amarah.

�Kita akan mengeroyok dan membunuhnya beramai-ramai.�

�Tidak, tidak boleh kita berlaku demikian. Sebab, itu akan menyulut amarah para pengikutnya.�

�Lalu apa yang akan kita lakukan?�

�Kita angkat kabar tentang banyaknya korban dalam pertempuran tanpa jimat-jimat dan haekal-haekal itu. Kita sebarkan rasa gentar di hati para laskar bahwa mereka akan celaka dan terbunuh secara sia-sia jika maju ke medan tempur tanpa dukungan jimat, haekal, dan jampi-jampi. Bukti banyaknya korban tewas di berbagai tempat dalam pertempuran itu akan kita jadikan bukti,� kata Ki Badong.

�Itu cara yang sangat baik, Ki,� kata Hargo Belah genit. �Aku akan membuat pertunjukan terbuka untuk memamerkan ilmu kawedukan, aji kememayam, pangabaran, karosan, kateguhan, dan pangerutan.�

�Jangan! Jangan pamer ilmu dulu,� kata Ki Badong memohon.

�Kenapa Ki?� tanya Hargo Belah heran.

�Sebab, dalam khotbah-khotbahnya syaikh bedebah itu mengatakan bahwa sangat banyak ilmu kekebalan dan kesaktian yang palsu. Dia menyebut ilmu sulap sebagai ilmu yang menipu dengan kelihaian memperdaya orang. Bahkan dia memberi tahu para laskar bahwa cara untuk menguji keampuhan jimat, haekal, dan jampi-jampi adalah di medan perang. Dia berkata begini: �Jika datang kepadamu orang yang mengaku jawara, jajadug, dan dukun, kemudian mereka memamerkan keampuhan jimat dan haekalnya dengan mengiriskan dan menyabetkan pedang ke tubuhnya, maka waspadalah. Sebab, sekarang ini banyak penipu yang menggunakan ilmu sulap untuk memperoleh keuntungan. Mereka menjual jimat, haekal, dan jampi-jampi yang katanya dapat menolak Kematian. Tetapi aku katakan kepada kalian, berapa banyak orang yang telah diselamatkan jimat-jimat dan haekal itu? Kenapa dalam pertempuran para pembawa jimat dan haekal itu bergelimpangan menjadi mayat? Sungguh, para penipu itu tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya yang mencelakakan orang lain.� Demikianlah, Kawan, mulutnya yang lancang itu menghasut para laskar agar meragukan keampuhan ilmu kesaktian kita.�

Hargo Belah menggeram marah. Napasnya terengah-engah dibakar api amarah. Ia bayangkan tubuh Syaikh Lemah Abang sebagai adonan tepung yang bisa dilumat-lumat sampai hancur lebur tanpa bentuk. Lalu adonan itu ia banting-banting dan tekuk-tekuk seperti jajan. Setelah itu, ia bayangkan tubuh Syaikh Lemah Abang dilemparkannya ke penggorengan dan kemudian disantapnya hangat-hangat. �Tunggulah pembalasanku, Syaikh tengik,� gumamnya dengan gigi gemeletuk. �Tunggulah saat kematianmu, wahai syaikh keparat. Aku akan mengunyah-ngunyah dan memamah tubuhmu seperti jajan sampai tubuhmu luluh menjadi isi ususku dan keluar menjadi tahiku.�

Read More ->>

Jumat, 27 Januari 2017

MENYIAPKAN PERANG PERADABAN

Menyiapkan Perang Peradaban �

Benarkah keadaan di Majapahit jauh lebih buruk dibanding Sunda?� tanya Sri Mangana kepada Abdul Jalil. �

Ananda kira demikianlah keadaannya,� kata Abdul Jalil menjelaskan. �Di sana orang hidup tanpa naungan hukum yang pasti. Para pejabat mengisi hari-hari hidupnya dengan pesta pora dan memeras kawula. Padepokan dan asrama terlantar. Kawula hidup dalam kemiskinan karena diburu bermacam-macam pajak. Bahkan, kesombongan para adipati yang suka berperang makin menjerumuskan kehidupan di Majapahit ke jurang kebinasaan. Semua orang ingin menang sendiri. Semua orang ingin menjadi penguasa tanpa mengukur kemampuan diri.� �

Menurutmu, kenapa keadaan itu bisa terjadi?� tanya Sri Mangana.

�Pertama-tama, nilai-nilai yang dianut di Majapahit sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, terutama setelah generasi-generasi penguasa makin merosot karena dilumpuhkan oleh kemewahan dan sanjungan. Kedua, lingkaran pejabat yang berasal dari kalangan kebanyakan yang berjiwa kerdil dan berwawasan sempit sangat mempengaruhi kebijakan maharaja dan roda pemerintahan. Hukum diperjualbelikan. Agama diperdagangkan. Jabatan dijadikan sarana utama untuk memperkaya diri. Kejahatan dilakukan secara kait-mengait dan sambung-menyambung, bahkan acap kali dilakukan dengan cara bergotong-royong,� kata Abdul Jalil.

�Apakah menurutmu peranan pejabat-pejabat yang berasal dari kalangan kebanyakan itu sangat besar dalam menjerumuskan Majapahit ke jurang kebinasaan?� Sri Mangana meminta penjelasan.

�Ananda menyimpulkan begitu. Sejak para penegak hukum, pejabat tinggi kerajaan, nayakapraja, dan punggawa berdarah biru disembelih beramai-ramai oleh para kawula yang mengamuk di kutaraja saat terjadi penyerbuan Prabu Girindrawarddhana, keagunagan dan kemuliaan Majapahit benar-benar sudah berakhir. Orang-orang dari kalangan kebanyakan yang menggantikan kedudukan mereka terbukti hanyalah golongan berderajat sampah yang berjiwa kerdil dan berakhlak bejat. Sehingga setinggi apa pun jabatan yang bisa mereka raih di pemerintahan, tetap tidak bisa mengubah jiwa dan akhlak mereka. Semakin tinggi jabatan mereka, semakin jahat dan nista perbuatan yang mereka lakukan.�

�Jika memang Majapahit mengalami kehancuran karena tampilnya orang-orang kebanyakan,� kata Sri Mangana dengan suara yang lain, �bagaimana pula dengan gagasanmu tentang wilayah al-Ummah?�

Abdul Jalil tersentak kaget ketika ditanya balik oleh Sri Mangana. Setelah diam beberapa jenak, ia berkata, �Setelah ananda berkeliling ke berbagai tempat di Majapahit dan membicarakan gagasan wilayah al-Ummah dengan berbagai pihak yang mumpuni, ananda telah menyadari sejumlah kelemahan dari gagasan tersebut. Itu sebabnya, pelaksanaan wilayah al-Ummah di Majapahit pun disesuaikan dengan keadaan.�

�Apakah di sana gagasanmu itu diterima dan dijalankan?�

�Berkat dukungan sepupu jauh ananda, Raden Ali Rahmatullah, di Majapahit telah terbentuk dua khilafah. Pertama-tama, para penguasa Madura sepakat memilih Sayyid Husayn sebagai kalifah Madura. Setelah itu, para penguasa pesisir Nusa Jawa sepakat memilih Prabu Satmata sebagai kalifah di Majapahit,� papar Abdul Jalil.

�Berarti, semua unsur khilafah di Madura dan Majapahit itu diduduki oleh para bangsawan darah biru. Benarkah itu, o Puteraku?�

�Benarlah demikian, o Ramanda Ratu.�

�Jika demikian, apa beda antara wilayah al-Ummah dan kerajaan?�

�Gambaran wadag khilafah dan kerajaan bisa saja sama. Tetapi, tata aturan dan daya hidup di antara keduanya jelas sangat berbeda. Ibarat sebuah lomba pacuan kuda, tata aturan kerajaan menetapkan bahwa kuda yang boleh mengikuti hanyalah kuda asal gurun yang warna bulunya hitam, coklat, dan putih. Kuda-kuda asal gurun yang memiliki warna jragem dan abu-abu dilarang ikut pacuan. Sementara, tata aturan khilafah tidak membatasi asal-usul kuda, apakah kuda Arab, kuda Persia, ataukah kuda Cina, bahkan kuda warna apa pun boleh ikut pacuan. Yang terkuat dan terperkasa di antara kuda-kuda itulah yang bakal menjadi pemenang.�

�Selama gagasan khilafah ini diterapkan di Caruban dan Majapahit, memang terbukti hampir seluruh jabatan dipegang oleh ningrat darah biru. Tetapi, pada masa datang tidak tertutup kemungkinan adanya tokoh dari kalangan kebanyakan yang bisa naik menjadi bagian terpenting dari khilafah. Selama perjalanan ananda ke sepanjang pesisir utara Nusa Jawa dan pedalaman Majapahit, ananda telah melihat gerak langkah orang-orang kebanyakan dalam berpacu menaiki tangga kekuasaan. Patih Mahodara yang berkuasa di Daha, misalnya, asal-usulnya adalah seorang abdi dari Adipati Pamadegan. Bahkan ananda sempat berbincang-bincang dengan Adi-Andayaningrat, adipati Pengging, yang tiada lain adalah putera Ki Bajul Sengara, buyut di Wisaya Kedung Srengenge. Dia diangkat menjadi adipati dan dijadikan menantu oleh Prabu Kertawijaya karena pengabdian dan kemampuannya yang tinggi dalam membela panji-panji Majapahit.�

�Sesungguhnya, dengan gagasan khilafah yang ananda tawarkan, berbagai ketidakmungkinan yang tak teratasi dalam tatanan kerajaan akan dapat dilampaui. Cerita Karna anak kusir Adiratha, misalnya, tidak perlu menumbuhkan dendam berkelanjutan akibat putera-putera Pandu menghinanya sebagai orang yang tak layak mengikuti lomba karena bukan dari kalangan ningrat darah biru. Dengan demikian, jelaslah bahwa gagasan khilafah yang ananda tawarkan adalah gagasan yang memberikan kemungkinan bagi siapa saja yang mau berjuang keras untuk meraih kemenangan. Tidak peduli apakah orang seorang dari kalangan brahmana, ksatria, waisya, sudra, paria, mleccha, mambang, kewel, domba, bahkan potet sekalipun dapat menjadi pimpinan, asal memenuhi prasyarat-prasyarat dan berhasil melampaui ujian-ujian yang menghadang di tengah jalan.�

�Pengalaman ananda selama berada di pedalaman Majapahit mengajarkan bahwa tetesan darah biru yang seharusnya menduduki tempat tertinggi, sering kedapatan terpuruk ke jurang hina karena dilemahkan dan dilumpuhkan oleh kemewahan dan sanjungan. Sebaliknya, mereka yang tak jelas asal-usulnya dapat menjadi gagah perkasa karena dikuatkan oleh ujian dan tantangan hidup yang keras. Karena itu, ananda berharap agar gagasan khilafah ini tidak dianggap sebagai usaha memberi kesempatan luas bagi kalangan kebanyakan untuk berkuasa dan menutup kesempatan bagi kalangan darah biru untuk melanggengkan kekuasaan. Sekali-kali tidak boleh dianggap begitu. Gagasan khilafah memberi kesempatan kepada semua kalangan tanpa membeda-bedakan asal usul. Jika ternyata yang memegang tampuk kekuasaan di dalam khilafah adalah para ningrat darah biru maka itulah keniscayaan yang harus diakui bahwa mereka adalah orang-orang yang mewarisi keunggulan. Dan, hal itu hanya mungkin terjadi dengan perjuangan keras sesuai tata aturan yang disepakati,� kata Abdul Jalil.

�Menurutmu, butuh waktu berapa lama kalangan kebanyakan bisa mengisi jabatan-jabatan penting di dalam wilayah al-Ummah di Caruban Larang ini?� tanya Sri Mangana.

�Ananda tidak bisa mengira-ngira,� kata Abdul Jalil dengan suara yang lain. �Sebab, sampai saat sekarang ini ananda masih belum melihat satu pun di antara masyarakat ummah yang berasal dari kalangan kebanyakan yang mampu membebaskan diri dari jiwa budak yang menjajahnya. Mereka masih suka meminta daripada memberi. Mereka masih suka tinggal di alam mimpi daripada menghadapi dunia nyata. Mereka masih suka dilindungi daripada melindungi. Mereka masih suka menghamba daripada mempertuan diri sendiri.�

�Dan tahukah engkau, kenapa Kuta Caruban sekarang ini kosong ditinggalkan penduduk?�

�Abdul Jalil tertawa kecut dan berkata, �Karena bagian terbesar penduduknya adalah kalangan kebanyakan yang berjiwa budak, yaitu orang-orang yang mengkhayal hidup mapan di dunia, namun menolak kerja keras dan enggan menerima akibat samping yang tidak menyenangkan dari yang didambakannya. Bahkan, saat melewati gubuk-gubuk dan tenda-tenda pengungsi di Kalisapu, ananda mendengarkan sendiri bagaimana mereka menyalahkan dan mencaci maki ananda sebagai penyebab kesengsaraan mereka.�

�Tapi, engkau tak perlu khawatir,� kata Sri Mangana, �sebab apa yang engkau rintis di Lemah Abang telah menunjukkan hasil. Warga di sana telah berubah menjadi penduduk yang gagah berani. Menurut laporan-laporan yang aku terima, di bawah pimpinan Sang Lokajaya, mereka berani menghadang dan merampok para bangsawan Galuh Pakuan. Tanpa kenal takut mereka melintasi perbatasan Caruban-Galuh Pakuan seperti anak-anak singa melompati sungai kecil di padang perburuan.�

�Mohon ampun, Ramanda Ratu. Jika boleh tahu, siapakah Sang Lokajaya yang membuat kekacauan antara Japura hingga Luragung itu? Kenapa pula dia bisa memimpin penduduk Lemah Abang tanpa sepengetahuan ananda?� tanya Abdul Jalil ingin tahu.

�Raden Sahid.�

�Raden Sahid putera Adipati Tuban?� gumam Abdul Jalil terkejut.

Sri Mangana mengangguk sambil tersenyum.

�Tapi Ramanda Ratu, menurut ananda, usia Raden Sahid masih terlalu muda untuk tugas seperti itu.�

�Apakah engkau juga berpikir bahwa dia terlalu muda untuk menjadi wali nagari Kalijaga? Bukankah selama ini tidak ada satu bukti yang menunjuk bahwa Raden Sahid telah diuji oleh satu tantangan berat sehingga membuatnya pantas menduduki jabatan wali nagari Kalijaga? Nah, tugas yang aku bebankan kepadanya itu adalah bagian dari langkahku untuk menguji kepantasannya menjadi wali nagari Kalijaga. Bukankah itu tidak bertentangan dengan gagasanmu?� kata Sri Mangana.

�Sungguh benar apa yang Ramanda Ratu lakukan.�

�Di sana pun aku tidak melepaskannya sendiri,� kata Sri Mangana. �Tun Abdul Qadir, wali nagari Sindangkasih, aku beri kepercayaan untuk mendampingi dan membimbingnya. Sebab, pemberontak asal pulau Upih di Malaka itu aku ketahui kemampuannya sangat mengagumkan dalam bertempur maupun mempengaruhi orang-orang. Aku berharap Raden Sahid dapat belajar dengan baik kepadanya.�

Sekalipun rasa kasih sebagai ayah dan hasrat menunaikan amanah istri tercinta sangat kuat menghendaki Abdul Jalil mengasuh sendiri puterinya, ia dengan berat hati akhirnya menyerahkan puterinya kepada ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, dan kakaknya, Nyi Muthmainah. Ia sadar, sebagai orang yang disibukkan oleh berbagai urusan terkait dengan perubahan yang menggelombang, kehadiran seorang puteri kecil yang membutuhkan perhatian akan sangat mengganggu tugas-tugasnya. Di samping itu, ia tidak memiliki cukup pengalaman dalam mendidik seorang anak perempuan. Karena itu, permintaan ibunda asuh dan kakaknya untuk mengasuh Zainab tidak bisa ditolaknya.

Keputusan Abdul Jalil untuk menyerahkan pengasuhan puterinya kepada ibunda asuh dan kakaknya terbukti merupakan langkah yang tepat. Sebab, saat ia dan Raden Sulaiman menginjakkan kaki di Lemah Abang, di sana terlihat perubahan yang sangat mengejutkan. Desa yang dibuka dan dikembangkannya itu tiba-tiba berubah menjadi hunian orang-orang kasar dan ganas, yaitu para begal dan bromocorah. Setiap orang yang ditemuinya di jalan-jalan dan bahkan di luar Lemah Abang terlihat membawa kelewang dan tombak terhunus. Wajah mereka kotor dan tidak ramah. Abdul Jalil teringat pada kata-kata Sri Mangana bahwa sejak Japura hingga Luragung kehidupan manusia menjadi tidak aman karena dikacaukan oleh kaki tangan Sang Lokajaya, begal sakti mandraguna. Dan yang terbanyak di antara kaki tangan Sang Lokajaya adalah orang-orang asal Lemah Abang yang kejam dan ganas.

Ia bersyukur puterinya ditinggalkan di Kuta Caruban. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan jika sang puteri yang terbiasa hidup dalam kelemahlembutan para perempuan itu harus tinggal di lingkungan Lemah Abang yang berubah kasar dan menakutkan. Ya, Lemah Abang yang penduduknya dikenal ramah dan rendah hati itu kini telah berubah menjadi tempat menyeramkan. Bahkan yang sulit dibayangkan, bagaimana Raden Sahid yang berpenampilan santun dan lemah lembut itu bisa berperan menjadi pemimpin para begal dan bromocorah yang ganas.

Abdul Jalil sendiri sempat terkejut saat menginjakkan kaki di Japura. Sebab, belum lagi ia melintasi batas gerbang Japura tiba-tiba ia didatangi beramai-ramai oleh sekitar tiga puluh begal dan bromocorah yang kasar dan menakutkan. Ia sempat menarik jubah Raden Sulaiman yang berancang-ancang lari akibat mengira akan diserang oleh orang-orang kasar itu. Ternyata para begal dan bromocorah kasar itu tidak menyerang rombongannya. Sebaliknya, mereka mendekat ke arahnya dengan berbaris ke belakang. Kemudian, sambil merunduk hormat mereka menyalami dan mencium tangannya secara bergantian. Mereka memperkenalkan diri sebagai penduduk Lemah Abang, murid-murid Abdul Jalil. Mereka mengaku mendapat tugas khusus dari wali nagari Kalijaga untuk membuat kekacauan antara Japura hingga Luragung.

�Tahukah kalian, siapakah yang memimpin gerakan ini?� Abdul Jalil menguji.

�Kami di bawah perintah Sang Lokajaya, Tuan Syaikh,� jawab mereka nyaris serentak.

�Tahukah kalian siapa Sang Lokajaya itu?� tanya Abdul Jalil.

Mereka menggelengkan kepala dan saling memandang satu sama lain. Abdul Jalil tersenyum menyaksikan keluguan dan kepolosan mereka. Diam-diam ia sangat memuji kehebatan Sri Mangana dalam mengatur siasat perang yang sebelumnya tak pernah dibayangkannya. Rupanya, pikir Abdul Jalil, dengan cara membuat kekacauan hanya dibutuhkan kekuatan sekitar dua ribu orang untuk menjaga perbatasan Caruban-Galuh Pakuan yang sangat panjang. Bahkan, para pengacau yang sebagian adalah warga Lemah Abang itu tidak mengetahui jika pemimpin mereka , Sang Lokajaya, sejatinya adalah Raden Sahid, wali nagari Kalijaga sendiri.

�Berapa jumlah seluruh warga Lemah Abang yang ikut berjuang?� tanya Abdul Jalil.

�Tujuh ratus tiga puluh orang, Tuan Syaikh.�

�Bukankah jumlah penduduk Lemah Abang lebih dari seribu orang?� tanya Abdul Jalil minta penjelasan. �Ke mana pula yang lain?�

�Mengungsi ke Pengarengan dan Mundu, Tuan Syaikh.�

�Bagaimana dengan rumah, tanah, dan harta benda mereka?�

�Kami dititipi untuk menjaganya, Tuan Syaikh.�

Abdul Jalil menggertak gigi menahan marah. Kemudian dengan suara ditekan tinggi ia berkata, �Mulai sekarang semua tanah, rumah, dan harta benda yang ada di Lemah Abang adalah milik kalian yang telah berjuang mempertahankan hak milik dengan gagah berani. Mereka yang berjiwa pengecut dan mau menikmati kemapanan tanpa mau berkorban tidak lagi memiliki hak apa pun di Lemah Abang. Jika kelak keadaan sudah aman dan mereka datang untuk meminta kembali hak miliknya, katakan kepada mereka bahwa segala sesuatu yang ada di atas bumi Lemah Abang tidak diwariskan kepada para pemalas berjiwa pengecut. Itulah ketentuan yang berlaku di Lemah Abang. Aku berharap kalian bisa membagi secara adil apa yang kalian terima ini sesuai peran dan jasa kalian dalam mempertahankan desa kalian.�

Setelah berbincang-bincang dengan para pengikutnya yang berperan menjadi orang-orang kasar dan ganas, Abdul Jalil dan Raden Sulaiman pergi ke Lemah Abang. Dengan diiring dalam arak-arakan panjang, ia menuju pondoknya yang terletak di samping Tajug Lemah Abang. Namun saat tiba di sana, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Di pondoknya ternyata sudah menunggu saudara sepupunya, Syaikh Bayanullah dan istri, serta imam Masjid Demak, Raden Mahdum Ibrahim. Mereka sedang berbincang-bincang dengan Tun Abdul Qadir dan Raden Sahid tentang berbagai hal mengenai perubahan di Caruban.

Setelah saling melepas rindu, Syaikh Bayanullah menuturkan jika ia sempat terkejut saat kali pertama menginjakkan kaki di Lemah Abang. �Menurut kabar, engkau telah menjadi seorang guru agama di Lemah Abang. Namamu dikenal sebagai Syaikh Lemah Abang. Tapi, sewaktu ke sini aku justru dihadang oleh orang-orang kasar yang membawa senjata. Untung saja aku menyebut namamu dan mengaku saudaramu sehingga aku diantar ke sini. Sepanjang perjalanan aku sempat berpikir jangan-jangan engkau bukan guru agama, melainkan pemimpin lanun. Aku baru paham setelah saudara kita, Tun Abdul Qadir, menjelaskan,� Syaikh Bayanullah tertawa terkekeh-kekeh.

Ternyata, bukan hanya Syaikh Bayanullah yang dihadang anak buah Sang Lokajaya, bahkan Raden Mahdum Ibrahim yang baru kembali dari Pasir Luhur pun dihadang di hutan Jatisari dekat Luragung.

�Atas nama Sri Mangana, kalifah Caruban Larang, aku memohonkan maaf. Mereka melakukan itu demi tugas negara,� kata Abdul Jalil.

�Kami sudah tahu itu. Aku pribadi benar-benar bangga kepada para pemberani ini. Bahkan, nama Sang Lokajaya pertama kali aku dengar saat aku berada di Pasir Luhur,� kata Raden Mahdum Ibrahim.

�O ya, bagaimanakah dengan berita Yang Dipertuan Pasir Luhur?� tanya Abdul Jalil. �Apakah beliau berkenan menolak tawaran Galuh Pakuan untuk bersekutu?�

�Alhamdulillah, adipati Pasir Luhur menyatakan tidak akan membantu Galuh Pakuan. Bahkan dia menyatakan akan mengirimkan bala bantuan untuk mendukung Caruban Larang,� lapor Raden Mahdum Ibrahim.

�Pangeran Banyak Belanak bersedia mendukung Sri Mangana?� gumam Abdul Jalil heran.

�Ya, terutama setelah aku menyampaikan pesan dari Adipati Demak bahwa Yang Dipertuan Pasir Luhur akan memperoleh wilayah Galuh Pakuan jika mendukung Caruban Larang,� ujar Raden Mahdum Ibrahim.

�Bagaimana kita bisa mempercayainya jika kita tahu bahwa dia bersaudara dengan penguasa Galuh?�

�Dia sudah mengikrarkan keislaman di hadapanku,� kata Raden Mahdum Ibrahim.

�Alhamdulillah,� kata Abdul Jalil. �Mudah-mudahan dia membantu perjuangan Caruban bukan semata-mata karena ada janji untuk memberikan Galuh Pakuan kepadanya.�

�Kalaupun dia akhirnya bisa menguasai Galuh Pakuan, aku kira tidak keliru. Dia banyak bercerita kepadaku tentang nasibnya yang disia-siakan oleh ayahandanya, Prabu Guru Dewata Prana. Dia merasa dengan dijadikan menantu raja Pasir Luhur sesungguhnya ayahandanya telah membuangnya. Lantaran itu, dibanding saudara-saudaranya, dia merasa tidak beroleh apa-apa dari ayahandanya. Hanya karena kebetulan semua keturunan adipati Pasir Luhur perempuan maka dia berkesempatan menggantikannya saat sang mertua meninggal dunia,� kata Raden Mahdum Ibrahim menjelaskan.

Sudah hampir tujuh puluh usia Syaikh Bayanullah. Sebuah hitungan yang tidak sedikit bagi usia manusia. Namun, di usianya yang senja itu tubuh Syaikh Bayanullah masih terlihat kukuh. Baik saat berjalan, duduk, maupun berbicara tidak ada kesan bahwa dalam lima atau sepuluh tahun mendatang tubuhnya bakal tumbang. Dia kukuh, meski kerut-kerut kekeriputan sudah membayangi wajahnya. Gigi geliginya masih tampak utuh dan mengkilat hitam karena dipoles air sirih yang dikunyahnya setiap hari. Bahkan yang paling menakjubkan, meski sudah hidup lebih dari tiga dasawarsa di Makah, dia tetap tidak kehilangan jati diri sebagai orang Melayu yang teguh memegang adat istiadatnya.

Keberadaan Syaikh Bayanullah yang bagaikan �tak lapuk karena hujan dan tak lekang terkena panas� itu pada gilirannya mengilhami Abdul Jalil yang sedang mencari bentuk sempurna dari citra masyarakat ummah. Orang-orang yang teguh memegang citra diri seperti Syaikh Bayanullah itulah, kata Abdul Jalil dalam hati, yang seharusnya menjadi penanda utama anggota-anggota masyarakat ummah. Sebab, hanya orang-orang yang teguh dan ulet dalam menjaga citra diri seperti Syaikh Bayanullah itulah yang akan tahan di dalam menghadapi gempuran kawanan Dajjal yang bakal merusak dan memporakporandakan tatanan kehidupan, terutama tatanan keimanan umat manusia.

Abdul Jalil sadar bahwa kemungkinan terburuk dari perjuangan menegakkan tatanan baru itu adalah kekalahan pahit yang dialami para pembaharu di medan tempur. Apakah dengan kekalahan di medan tempur akan bermakna kegagalan bagi usaha-usaha pembaharuan? Tentu saja tidak demikian. Sebab, kalah di medan tempur bukan berarti takluk di palagan pemikiran dan tatanan hidup. Itu berarti, piranti-piranti �perang peradaban� hendaknya dipersiapkan sebaik-baiknya untuk memperkuat benteng jiwa para pembaharu. Dan piranti terdahsyat untuk itu adalah adab dan adat istiadat yang justru tidak begitu dalam dipahami Abdul Jalil.

Sadar akan kelemahan diri yang tidak begitu mendalam memahami adab dan adat istiadat, Abdul Jalil pun memohon kepada Syaikh Bayanullah dan Raden Mahdum Ibrahim untuk mengatasi masalah tersebut. Syaikh Bayanullah sudah terbukti tidak hanya mengetahui dengan mendalam adat istiadat Melayu, tetapi pandai pula bercerita tentang riwayat hidup nabi-nabi dan menghafal di luar kepala dongeng-dongeng Melayu dan Persia. Dengan kemampuannya itu, Syaikh Bayanullah diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai baru untuk diselaraskan dengan nilai-nilai lama. Nilai-nilai gabungan itulah yang akan disebarluaskan dan dijadikan acuan utama dalam menegakkan nilai baik dan buruk, benar dan salah, haram dan halal, serta pantas dan tidak pantas dalam kehidupan masyarakat ummah. Dengan kuatnya benteng pertahanan adab dan adat istiadat, masyarakat ummah dapat bertahan dalam menghadapi terpaan badai kehidupan dari berbagai penjuru dunia, termasuk prahara yang ditimbulkan oleh Dajjal kelak.

Syaikh Bayanullah tampaknya paham dengan kesulitan yang dihadapi saudara sepupunya itu. Itu sebabnya, dengan dibantu Raden Mahdum Ibrahim, Raden Sahid, dan Tun Abdul Qadir, ia menyiasati perubahan tatanan baru itu dengan menyiapkan piranti-piranti adab dan adat istiadat dalam menghadapi perubahan. Sebagai orang-orang yang pernah tinggal di Malaka, baik Syaikh Bayanullah, Raden Mahdum Ibrahim, Abdul Jalil, maupun Tun Abdul Qadir tidak menemui banyak kesulitan dalam menyatukan pandangan untuk menyiasati perubahan. Mereka sadar bahwa pertempuran dengan para penguasa Bumi Pasundan hanyalah suatu pertempuran kecil yang kemungkinan akan dimenangkan para pembaharu. Namun, pertempuran yang lebih dahsyat dalam menghadapi Dajjal di kelak kemudian hari, kecil kemungkinan para pembaharu bisa memenangkannya. Para pembaharu akan terjajah dan tertindas di bawah kekuasaan Dajjal dan Ya�juj wa Ma�juj, pengikutnya. Lantaran itu, untuk menghadapi kemungkinan terburuk tersebut dibutuhkan landasan iman yang kuat bagi umat islam untuk bertahan di bawah penindasan Dajjal. Untuk itu, mereka sepakat menetapkan pepatah Melayu �syarak bersendi adat dan adat bersendi syarak� sebagai dasar utama di dalam menata nilai-nilai dasar adab dan adat istiadat.

�Umat Islam hendaknya bisa meniru buah salak,� kata Syaikh Bayanullah mengambil ibarat. �Kulitnya hitam, buahnya putih, dan bijinya hitam. Jika dikupas, terlihat buah yang segar. Jika buah dimakan, tinggallah biji. Dan dari biji itu akan lahir salak-salak baru yang rasanya manis sepanjang masa. Karena itu, hendaknya iman orang Islam seperti biji salak yang keras, liat, dan tak bisa dimakan orang. Adab orang Islam hendaknya seperti buah salak yang manis dan segar. Dan penampilan orang Islam hendaknya seperti kulit salak yang tersusun rapi dan saling mengait menutupi jati dirinya.�

�Dengan meniru keberadaan buah salak maka siapa pun di antara makhluk yang ingin menguasai orang-orang Islam hendaknya bersedia untuk bersusah payah mengambilnya dari pohonnya yang penuh duri. Jika orang sudah berhasil mengambil buah salak maka ia harus mengupas terlebih dulu kulitnya. Setelah itu, ia baru memakan buah yang melindungi biji. Dengan demikian, para pemangsa salak hanya bisa mengunyah dan memamah buah salak untuk mengenyangkan perut dan memuaskan hasratnya. Orang tetap tidak bisa menyentuh biji salak. Demikianlah, keimanan orang-orang Islam hendaknya dipertahankan di balik lapisan adab dan adat istiadat.�

�Kami berharap buah-buah salak itu tetap menunjukkan asal tumbuhnya,� kata Raden Mahdum Ibrahim, �sehingga orang bisa mengetahui perbedaan salak Jawa, salak Sunda, dan salak Malaka. Dan masing-masing salak harus mengatakan, kamilah salak yang paling manis.�

Apa yang dikemukakan Syaikh Bayanullah dan Raden Mahdum Ibrahim pada hakikatnya tidak berbeda dengan apa yang dikemukakan Abdul Malik Israil al-Gharnatah. Ta�ashub (kebanggaan) terhadap keberadaan jati diri hendaknya dibangkitkan sebagai penanda keberagaman citra hidup manusia. Orang Jawa harus bangga dengan kejawaannya. Orang Sunda harus bangga dengan kesundaannya. Orang-orang Caruban yang berasal dari berbagai macam bangsa, harus bangga dengan keragamannya. Untuk itu, dibutuhkan piranti-piranti adab dan adat istiadat penanda keberadaan masing-masing puak bangsa. Namun, di atas semua usaha penyiapan piranti adab dan adat istiadat itu, Abdul Jalil tetap menganggap berbahaya keberadaan takhayul Campa yang ternyata sudah membaur dengan takhayul Cina, Sunda, dan Majapahit, yang terbukti melemahkan dan membodohkan manusia. Lantaran itu, ia diam-diam menyiapkan piranti khusus untuk menghadapi perkembangan takhayul-takhayul celaka itu dengan cara mengajarkan sasyahidan kepada masyarakat ummah melalui Lemah Abang-Lemah Abang yang tersebar di berbagai tempat, meski untuk itu ia harus menghadapi akibat besar; dimusuhi oleh kelompok-kelompok pemimpin yang ingin melestarikan kekuasaan dengan membodohkan masyarakat dengan takhayul.

Setelah merasa cukup menyiapkan piranti adab dan adat istiadat, sebagai salah satu ujian untuk mengukur keampuhannya, Syaikh Bayanullah, Raden Mahdum Ibrahim, dan Tun Abdul Qadir mendaulat Raden Sahid untuk menanamkan perangkat nilai-nilai itu kepada masyarakat yang tinggal di wilayah antara Japura dan Luragung. Sebagaimana Sri Mangana mendapuk Raden Sahid sebagai Sang Lokajaya, mereka mendapuk Raden Sahid sebagai amancangah menmen (tukang dongeng keliling) yang memperkenalkan dongeng-dongeng Melayu dan Persia di antara dongeng-dongeng Sunda. Hal itu dilakukan karena Raden Sahid ternyata tak kalah piawai dalam mendongeng dibanging Syaikh Bayanullah. Dengan tugas itu Raden Sahid akan menjalankan peran ganda yang berbeda, yaitu sebagai kepala begal dan bromocorah sekaligus sebagai tukang dongeng keliling. Sementara itu, Syaikh Bayanullah dengan Raden Sulaiman akan tinggal di Pajarakan di lereng Gunung Gundul untuk menyebarkan nilai-nilai baru itu kepada penduduk di perbatasan Caruban � Galuh � Talaga.

Read More ->>

Kamis, 26 Januari 2017

PARA PENGHINDAR KEMATIAN

Para Penghindar Kematian

Pantai Kalisapu yang terletak di selatan pelabuhan Muara Jati adalah salah satu tempat yang dijadikan hunian sementara para pengungsi asal Kuta Caruban. Dilihat dari laut tampak gubuk-gubuk beratap ilalang dan tenda-tenda kain sejak tepian pantai hingga ke kaki Gunung Jati yang melatarbelakanginya. Bagaikan bercak-bercak hitam dan putih, berkerumun-kerumun di antara batang-batang pohon kelapa. Gubuk dan tenda itu sulit digambarkan karena sudah tak karuan warnanya, kumuh, penuh dilepoti tanah dan pasir berlumpur. Semakin didekati, kekumuhannya makin sulit digambarkan, karena bukan hanya warnanya yang tak karuan, melainkan bau menyengat yang mengitarinya membuat bulu kuduk meremang. Sapi, kerbau, dan kambing yang ditambat di batang-batang pohon kelapa dekat gubuk-gubuk telah membuat perut serasa diremas-remas dan kepala pening. Sementara puluhan bebek dan ayam yang ditempatkan di kandang-kandang bambu kotor, memberikan andil tidak sedikit dalam menebarkan kemuakan.

Di pengujung musim hujan ini deretan gubuk dan tenda kumuh itu terus-menerus diguyur hujan lebat disertai angin dan halilintar. Jika hujan melebat, debu merah yang menempel di daunan dan atap-atap terlihat berdesak-desakan turun menuju permukaan tanah, menggenang, dan kemudian menjadi kubangan keruh berwarna coklat kemerahan. Tidak hanya debu, tetapi tahi sapi, tahi kerbau, tahi kambing, tahi bebek, dan tahi ayam pun berbaris bersama air hujan menuju kubangan demi kubangan. Hujan yang tak kenal waktu telah mengubah tanah menjadi kubangan lumpur berupa gumpalan lempung bercampur kotoran mirip sawah yang baru dibajak dan ditaburi rabuk. Bagaikan kerumunan makhluk aneh, gubuk dan tenda kumuh itu meringkuk kedinginan di tengah kubangan lumpur raksasa. Tidak ada suara di situ selain rintik hujan, desau angin, gemuruh guruh, ledakan halilintar, tangis anak kecil, dan gerutu orang-orang yang mengutuk hujan tak kenal istirahat.

Selama empat pekan lebih tinggal di dalam gubuk-gubuk dan tenda-tenda kumuh itu, para pengungsi selalu menggerutu. Mereka menggerutu karena hujan telah membuat tanah becek dan berlumpur dan kemudian mengalir ke dalam gubuk. Mereka menggerutu pada nyamuk-nyamuk ganas yang mengisap darah. Mereka menggerutu karena persediaan makanan sudah habis dan air untuk minum pun sangat keruh. Mereka menggerutu dan bahkan berkeluh-kesah ketika salah satu anggota keluarga jatuh sakit.

Bagi para pengungsi, bukan hanya debu, pasir, tanah, dan hujan yang teraduk menjadi kubangan lumpur bergumpal lempung. Jiwa mereka pun dari waktu ke waktu diaduk-aduk oleh kecemasan, ketakutan, kegamangan, dan kebingungan akibat peperangan yang berkecamuk dengan simpang-siur berita yang tidak menentu. Jiwa mereka sekeruh lumpur dan teraduk-aduk. Ketidakpastian telah membanting-banting jiwa dan raga. Di tengah keremukluluhan itulah mereka dengan harap-harap cemas akan menanya siapa saja di antara orang yang datang ke situ tentang ini dan itu sekitar kecamuk perang. Bahkan di tengah hujan lebat pun, dengan bertudung daun pisang, para lelaki akan keluar dari gubuk untuk menanya siapa saja di antara orang-orang yang datang; apakah perang masih berlanjut atau sudah selesai.

Sebelum senja turun, ketika peperangan memasuki pekan kelima, serombongan orang sekitar lima belas jumlahnya terlihat beriringan melewati hunian para pengungsi di Kalisapu. Mereka berjalan dari arah pelabuhan Muara Jati ke Gunung Jati. Mereka adalah Abdul Jalil, Syarif Hidayatullah, Raden Qasim, Raden Sulaiman, Abdul Halim Tan Eng Hoat putera Abdurrahman Tan King Ham, Wiku Suta Lokeswara dan siswa-siswanya. Saat berangkat dari pelabuhan Kendal rombongan itu berjumlah empat puluh orang, namun di Kebon Pesisir rombongan itu dibagi dua. Yang pertama, Abdul Malik Israil dan istri cucunya, Nyi Tepasari, bersama para pengawal menuju Kuta Caruban melalui Sungai Suba. Rombongan kedua, Abdul Jalil dan kawan-kawan yang mendarat di Muara Jati dengan tujuan ingin menyaksikan kebenaran kabar yang menuturkan banyak pengungsi di Kalisapu menderita karena kekurangan makan dan diganyang penyakit.

Saat Abdul Jalil dan rombongan mendekati hunian para pengungsi, hujan sudah mulai reda, namun rintik-rintiknya masih tersisa membasahi apa saja yang ada di sana. Ketika kaki-kaki mereka yang kotor dilepoti lumpur melintas di atas jalan becek, beberapa kepala terjulur dari balik tenda untuk melihat kedatangan mereka.

Tiga orang lelaki Cina setengah baya terlihat melesat dari dalam tenda yang sebagian robek-robek. Kemudian, dengan sikap penuh selidik, mereka bertanya kepada Abdul Jalil dan rombongan tentang maksud dan tujuan datang ke tempat ini. Mereka juga bertanya ini dan itu, termasuk apakah perang sudah selesai atau belum. Namun, mereka menjadi terheran-heran dan curiga ketika mendapat jawaban bahwa rombongan itu akan ke Kuta Caruban.

�Kami ini orang Kuta Caruban, Tuan-Tuan,� kata lelaki yang mengenakan baju dan celana panjang hitam potongan Cina dengan wajah diliputi kecurigaan. �Di kuta sedang tidak aman. Kami mengungsi ke sini karena di kuta orang sedang perang. Kenapa Tuan-Tuan ini malah mau ke sana?�

�Kami ada urusan penting yang harus diselesaikan di Kuta Caruban,� sahut Syarif Hidayatullah.

�Kalau boleh tahu, urusan apa?� tanyanya dengan sorot mata makin diliputi kecurigaan.

�Kami mau menemui kalifah Caruban Larang, Sri Mangana,� Abdul Halim Tan Eng Hoat menyela dengan nada tinggi. Ia menangkap isyarat bahwa para lelaki Cina itu mencurigai mereka sebagai penjarah. �Kami ingin membantu perjuangan beliau melawan Yang Dipertuan Rajagaluh. Sebaliknya, Tuan-Tuan ini yang mengaku sebagai penduduk Kuta Caruban, kenapa berada di sini? Tidakkah Tuan-Tuan seharusnya wajib membantu pertahanan Kuta Caruban tempat rumah, tanah, dan harta benda Tuan-Tuan berada?�

�Pemimpin kami, Kongcu Ling Tan, telah mati terbunuh dalam perang. Kami yang tua-tua ini tidak pandai perang. Kami harus menjaga istri dan anak-anak juga keluarga kami. Kami tinggal di tempat ini karena ada kabar orang-orang Rajagaluh akan menyerbu Kuta Caruban,� katanya beralasan.

�Bagaimana dengan tanah, rumah, dan harta benda Tuan di Kuta Caruban?� tanya Raden Qasim menyela.

�Kami sudah tinggalkan budak di sana untuk jaga rumah dan barang-barang,� jawab lelaki Cina itu.

�Tuan mempercayakan rumah dan harta Tuan kepada budak-budak?� Raden Qasim minta penegasan.

�Ya, Tuan.�

�Tidakkah Tuan sudah mengetahui jika peraturan baru yang dibuat kalifah Caruban melarang semua penduduk untuk memelihara dan berjual beli budak-budak?� tanya Raden Qasim menatap tajam lelaki Cina itu.

�Ee, maksud kami bukan budak. Maksud kami, kacung. Ya, ya, maksud kami orang upahan.�

Raden Qasim mendengus dan berkata perlahan meminta pertimbangan kepada Abdul Halim Tan Eng Hoat, �Bagaimana ini? Orang-orang ini jelas sudah menyalahi peraturan kalifah.�

�Karena sudah ada bukti bahwa mereka adalah orang tak berguna, orang yang mau enak sendiri dan tidak mau susah, maka rumah dan hartanya hendaknya diberikan kepada orang-orang yang telah bertaruh nyawa menjaganya. Itu hukum perang yang berlaku di mana saja.� Abdul Halim Tan Eng Hoat sambil berpaling meminta pertimbangan Syarif Hidayatullah, �Bukankah demikian, Saudaraku?�

�Ya, sebagai wali nagari Kuta Caruban, engkau harus tegas memutuskan hal itu agar menjadi pelajaran bagi yang lain,� kata Syarif Hidayatullah kepada Raden Qasim. �Karena kalau sikap orang tak berguna itu ditiru yang lain, akan berat bagi perjuangan kita di kelak kemudian hari.�

�Aku akan lakukan itu setelah menghadap kalifah.�

Sementara itu, Abdul Jalil merasakan kepedihan menyayat hatinya saat mendengar Ling Tan gugur dalam perang. Sambil mengucapkan inna li Allahi wa inna ilaihi raji�un, ia menarik napas panjang. Bayangan Ling Tan, Abdurrahman Ling Tan, pemimpin warga Cina asal Junti itu berkelebatan memasuki relung-relung ingatannya. Abdurrahman Ling Tan adalah peranakan Cina yang memiliki pengaruh kuat di kalangan penduduk setempat karena ayahandanya, Tumenggung Wangsanegara, adalah orang Sunda yang menjadi pejabat pangasalan (pengawal raja) di Caruban Larang. Ia dikenal sebagai orang yang jujur, tegas, pemberani, dan dermawan. Lantaran itu, warga Cina perantauan dan keturunannya di Junti lebih suka dipimpin Abdurrahman Ling Tan bahkan sampai saat mereka pindah ke Kuta Caruban. Sekalipun Abdurrahman Ling Tan seorang muslim yang taat, penduduk Cina yang dipimpinnya sebagian besar bukan muslim.

Membandingkan keempat lelaki Cina pengungsi itu dengan Abdurrahman Ling Tan memang seperti membandingkan bumi dan langit. Abdurrahman Ling Tan sejak kecil dididik di lingkungan bangsawan Sunda dan keluarga saudagar Cina jelas-jelas menunjukkan jiwa ksatria yang memiliki rasa tanggung jawab besar dan kerelaan untuk berkorban. Ia gugur dalam memperjuangkan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Sementara ketiga lelaki Cina pengungsi itu, yang mungkin berasal dari kalangan orang kebanyakan, tidak sedikit pun menunjukkan jiwa ksatria yang bertanggung jawab dan rela berkorban, meski untuk sekadar melindungi rumah, tanah, dan harta benda milik sendiri. Mereka memang memelihara budak-budak, namun sesungguhnya mereka sendirilah orang-orang yang bermental budak. Mereka orang-orang yang mendamba kemapanan hidup di dunia, namun enggan bersusah payah. Mereka datang jika keadaan menguntungkan dan akan buru-buru menyingkir jika keadaan merugi.

Akhirnya, tanpa memperkenalkan diri dan tanpa menanyai ketiga orang Cina itu, Abdul Jalil dan rombongan meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan menyusuri tanah berlumpur dan berbau busuk di antara gubuk dan tenda yang tak karuan bentuk dan warnanya. Sepanjang perjalanan itu Abdul Jalil merenungkan keanehan pemikiran dan perilaku para pengungsi yang tercermin dari gerutu dan keluh-kesah mereka. Mereka mengatakan terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri dari Kematian yang berkeliaran akibat perang. Anehnya, mereka tidak mempersiapkan kemungkinan lain bahwa Kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja tanpa perlu ditandai perang. Tampaknya, para pengungsi secara merata hampir tidak ada yang mempersiapkan bekal untuk menghadapi Kematian yang sewaktu-waktu dapat merenggut hidup mereka. Hari-hari dari rentang kehidupan mereka disibukkan untuk mengurus sapi, kerbau, kambing, bebek, ayam, perhiasan, tikar butut, bantal, dan pakaian-pakaian kumal. Bukankah mereka sejatinya lebih tepat disebut sebagai orang-orang yang berusaha menyelamatkan harta benda dan ternak daripada orang yang menyelamatkan nyawa dari Kematian? Bukankah ucapan mereka tentang �menyelamatkan diri dari Kematian� itu pada hakikatnya hanya sebuah kebohongan? Sebab, mereka sejatinya tidak pernah ingat mati dan tidak siap menghadapi Kematian.

Liku-liku kehidupan yang dijalaninya dengan berbagai gambaran manusia dari aneka bangsa telah memahamkan Abdul Jalil tentang betapa kuat kalangan orang-orang kebanyakan terjajah oleh kekuasaan kebendaan (thaghut). Rupanya, pikir Abdul Jalil, kiblat hati dan pikiran dari kalangan itu lebih terarah pada kebendaan. Kehidupan sehari-hari mereka lebih banyak diwarnai oleh ingatan tentang harta benda dan bayangan-bayangan kelezatan. Mereka adalah orang-orang lemah yang gampang terseret bayangan nafsu rendah duniawi. Mereka tidak pernah siap menghadapi kesulitan dan tantangan dalam dunia nyata yang tergelar di hadapannya. Mereka selalu menggerutu dan berkeluh kesah saat menghadapi ujian, namun lupa daratan jika beroleh kesenangan. Ya, merekalah manusia berderajat rendah pendamba dunia. Mereka adalah para pemimpi kenikmatan dunia tetapi dihajar oleh cambuk ganas kenyataan hidup. Mereka mendamba hidup abadi, namun yang diperoleh justru kebinasaan. Mereka para pengkhayal yang terperosok ke jurang kehidupan maya di bawah bayang-bayang Sang Penyesat. Mereka para penghindar Kematian, namun jalan yang mereka pilih justru menuju altar Kematian. Dan Kematian yang tak kenal kenyang dan lapar itu sepanjang waktu dengan lahap menyantap mereka sebagai hidangan kesukaan.

Sepanjang perjalanan melewati gubuk dan tenda pengungsi, baik Abdul Jalil maupun anggota rombongan yang lain terus-menerus mendengar gerutu dan keluh-kesah mereka yang menganggap tempat itu sebagai neraka. Malah tak kurang di antara pengungsi itu berdoa dengan suara keras, namun intinya seolah-olah menyalahkan Tuhan yang telah menimbulkan kesengsaraan bagi mereka. Namun, di antara gerutu dan keluh-kesah itu ada yang sangat mengejutkan dan tak pernah disangka-sangka.

�Kalau saja Syaikh Lemah Abang tidak bikin ulah, pasti tidak akan ada perang laknat ini.�

�Memang, pangkal dari semua bencana ini adalah Tuan Syaikh celaka itu. Aku dengar-dengar orang satu itu memang bikin masalah terus. Kata orang, sejak kecil dia sudah menimbulkan kekisruhan di Caruban ini.�

�Aku memang pernah dengar cerita itu. Katanya, dia itu orang yang tidak tanggung jawab. Suka bikin kisruh. Setelah keadaan kisruh, dia minggat. Yang susah adalah orang-orang yang ditinggalkan.�

�Sekarang ini, kata orang-orang dia minggat entah ke mana.�

�Ee, hati-hati kau. Kalau bicara jangan keras-keras! Kata orang, dia itu tukang sihir yang jahat.�

�Alah, tukang sihir apa. Kalau dia sakti, pasti sudah disihirnya orang-orang Rajagaluh yang memusuhinya.�

�Ya, kita doakan saja mudah-mudahan tukang sihir laknat itu cepat-cepat mati disambar petir!�

Wiku Suta Lokeswara yang berjalan di samping Abdul Jalil dengan jelas mendengar kasak-kusuk dan gerutuan yang diucapkan keras-keras itu. Ia menghentikan langkah dan menajamkan telinga untuk mengetahui dari gubuk mana suara itu diucapkan. Sebagai seorang mantan juru demung (kepala rumah tangga kraton), ia menangkap gelagat tidak beres pada ucapan-ucapan itu. Tanpa terduga, dengan gerakan kilat ia melangkah ke pintu salah satu gubuk dan menjulurkan tangan kirinya ke dalam. Sedetik setelah itu ia menarik tangannya keluar dan terlihatlah pemandangan menakjubkan. Wiku Suta Lokeswara mencengkeram tengkuk seorang laki-laki muda yang pucat pasi. Kemudian dengan sekali sentakan, tubuh laki-laki tak berdaya itu terangkat ke atas. Namun, saat ia kelihatan akan membanting orang di cengkeramannya itu, Abdul Jalil buru-buru menyergah, �Apa yang akan Paduka Wiku lakukan?�

�Makhluk laknat ini seorang telik sandhi (mata-mata) yang menyusup ke kalangan pengungsi.�

�Kami mohon, sudilah kiranya Paduka Wiku melepaskannya,� Abdul Jalil memohon.

�Heh, bagaimana Tuan Syaikh ini? Bukankah tiap-tiap telik sandhi harus dibunuh? Bukankah seorang telik sandhi lebih berbahaya daripada seribu prajurit?�

�Paduka Wiku, jika dia memang terbukti telik sandhi maka biarlah prajurit Caruban yang menangkapnya. Tapi, kita belum punya cukup bukti jika dia seorang telik sandhi. Kita menduga dia telik sandhi karena kebetulan kita mendengar dia menggerutu dan mengumpat salah satu di antara kita. Kami menganggap yang dia lakukan itu bukan suatu kesalahan,� kata Abdul Jalil.

�Tapi Paman,� Syarif Hidayatullah menyela, �ucapan orang ini sangat berbahaya. Apa yang dia ucapkan bisa mempengaruhi orang lain.�

�Aku tidak melihat ada ucapannya yang berbahaya,� kata Abdul Jalil tenang, �sebab yang dia umpat adalah aku, Syaikh Lemah Abang. Andaikata yang dia umpat adalah Sri Mangana, kalifah Caruban Larang, atau engkau, wali nagari Gunung Jati, maka dia dapat dituduh melakukan tindakan yang membahayakan. Dia bisa dituduh telik sandhi. Tapi, yang dia umpat adalah aku. Ya, aku yang dia umpat. Dan aku ini orang biasa. Aku bukan pejabat negara. Aku bukan apa-apa. Aku hanya seorang guru di kampung kecil. Jadi menurutku, bukan suatu kesalahan jika dia mengumpat dan mencaci maki aku.�

Mendengar ucapan Abdul Jalil, Wiku Sura Lokeswara menghela napas panjang dan kemudian melemparkan tubuh laki-laki yang dicengkeramnya itu ke atas tanah. Tubuh laki-laki itu terguling-guling berlepot lumpur. Secepat itu dia berusaha bangkit, namun tubuhnya terguling. Akhirnya, dengan gemetaran dan tubuh kotor penuh lumpur laki-laki muda itu merangkak dan menyembah di hadapan Abdul Jalil sambil mengiba memohon ampun. Abdul Jali menarik bahu laki-laki itu ke atas dan berkata, �Berdirilah! Tidak boleh ada manusia berlutut dan menyembah kepada sesama manusia. Tetapi, mulai sekarang berhati-hatilah engkau jika berbicara. Sebab, celaka dan tidaknya seseorang sering kali disebabkan oleh ketidakmampuannya dalam menjaga mulut.�

Dengan membungkuk-bungkuk dan mengucapkan terima kasih, laki-laki itu melangkah terseok-seok masuk ke dalam gubuknya. Setelah melihat laki-laki itu menghilang, Abdul Jalil berkata kepada Syarif Hidayatullah dan Raden Qasim, �Mulai sekarang kalian berdua harus bisa membiasakan diri untuk tahan mendengarkan aku dicaci maki dan diumpat-umpat oleh siapa pun di antara manusia. Sebab, dalam perubahan besar ini aku telah memilih kedudukan sebagai tanah pijakan bagi bangunan yang sedang kita tegakkan bersama, yaitu bangunan baru masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah.�

�Mulai sekarang, aku berharap kalian berdua memandang tatanan yang sedang kita tegakkan bersama ini dalam ibarat bangunan baru. Kita adalah anasir yang membentuk dan memberi daya hidup bangunan tersebut. Sri Mangana, misalnya, harus kita ibaratkan sebagai dinding bangunanyang berperan utama melindungi penghuni dan mencitrai keindahan bangunan. Raden Sahid dapat kita ibaratkan sebagai tiang saka yang menopang atap dan memperkuat bangunan. Raden Qasim dapat diibaratkan menjadi kusen pintu. Dan engkau, anakku, dapat diibaratkan menjadi atap yang memayungi dan memperindahnya. Sahabatku Abdul Malik Israil dapat diibaratkan sebagai salah satu tukangnya. Sementara yang lain adalah ibarat bagian-bagian yang melengkapi keutuhan bangunan tersebut. Dan di dalam usaha menegakkan bangunan baru itu, aku telah memilih peran sebagai tanah tempat bangunan baru itu ditegakkan.�

�Di Surabaya, aku sudah menyatakan kepada saudaraku, Raden Ali Rahmatullah, bahwa di dalam membangun tatanan baru di Majapahit, aku telah menetapkan kedudukan diriku sebagai tanah yang menjadi pijakan bagi bangunan baru tersebut. Dan sebagaimana lazimnya tanah maka menjadi kewajiban asasi bagi kedudukannya untuk diinjak-injak, dilukai dengan cangkul, dikencingi, diberaki, dijadikan tempat buangan sampah, namun sekaligus sebagai tempat orang bercocok tanam dan mendirikan bangunan. Sekalipun tidak pernah diperhitungkan dalam menegakkan bangunan, di atas tanah itulah sejatinya tiap-tiap bangunan bisa berdiri. Tanpa tanah yang diinjak-injak, tidak mungkin bagunan-bangunan bisa ditegakkan. Bahkan agar orang bisa berdiri tegak pun, dibutuhkan tanah untuk tempat berpijak.�

�Dengan memahami hakikat tatanan baru yang sedang kita tegakkan seibarat bangunan, hendaknya kalian sadar bahwa kedudukanku harus rendah di hadapan manusia sebagaimana kedudukan tanah. Bahkan andaikata nanti bangunan baru itu sudah tegak dengan megah dan orang-orang mengagumi keindahannya, pastilah orang tidak akan ada yang mengagumi dan memuji tanah tempat bangunan tersebut berdiri. Hanya bagian-bagian dari bangunan itulah yang menyadari dan dapat menghargai kedudukan tanah tempatnya berdiri. Karena itu, jika sewaktu-waktu kalian berdua mendapati aku dicaci maki, diumpat, dikutuk, dan direndahkan orang, hendaknya kalian tidak merasa tersinggung atau marah. Bahkan sebaliknya, jika kalian berdua mendapati aku dipuji orang seolah-olah aku adalah dewa dari langit maka kewajiban kalianlah untuk merendahkanku sesuai kedudukanku sebagai tanah. Ingat-ingatlah selalu kalian akan pesanku ini. Ingat-ingatlah bahwa aku adalah tanah. Tanah. Tanah. Seribu kali tanah. Sebagaimana kedudukan tanah, keberadaanku pun wajiblah diinjak-injak dan direndahkan oleh siapa pun yang ingin berdiri tegak di atasku. Hendaknya kalian ketahui bahwa sebutan Syaikh Lemah Abang yang diberikan orang kepadaku bukanlah suatu kebetulan, melainkan justru merupakan cerminan kedudukanku sebagaimana dikehendaki-Nya.�

Syarif Hidayatullah dan Raden Qasim tercengang mendengar uraian Abdul Jalil. Mereka menangkap sebuah kebenaran di dalam kata-kata Abdul Jalil. Namun, dengan kenyataan itu mereka tiba-tiba merasakan betapa berat tanggungan jiwa yang harus dipikul guru manusia yang sangat mereka hormati itu. Sejurus mereka tenggelam ke dalam lamunan diri; mengingat bagaimana para peserta pertemuan di Masjid Ampel Denta mengecam dan menjadikan sosok Abdul Jalil sebagai bahan ejekan. Masih segar dalam ingatan mereka bagaimana sebagian anggota Bhayangkari Islah menjadikan Abdul Jalil sebagai sasaran kemarahan dan gerutuan. Dan kini pun mereka baru saksikan para pengungsi yang tidak mengerti persoalan ikut mengumpat dan mencaci maki manusia malang itu. Akhirnya, baik Syarif Hidayatullah maupun Raden Qasim tidak berani membayangkan apa yang bakal dialami Abdul Jalil pada masa datang. Mereka tidak berani melewati batas angan-angan untuk membayangkan lebih jauh tentang rentang hidup penggagas tatanan baru itu. Namun, rekaman ingatan tentang liku-liku hidup yang telah mereka alami bersama Abdul Jalil, sebagaimana mereka saksikan dan mereka rasakan sendiri, telah membuat mereka terheran-heran dengan kumparan nasib yang membelit orang yang mereka hormati itu.

Ujian berat (bala�) selalu ditimpakan kepada para nabi, wali, dan orang-orang semisal mereka, demikian sabda Nabi Muhammad Saw.. Sebagai salah seorang anggota Jama�ah Karamah al-Auliya�, Abdul Jalil tampaknya tak luput dari keniscayaan sabda Nabi Saw. tersebut.

Ketika Caruban Larang diamuk peperangan, diterkam ketakutan, diguncang ketegangan, diintai ancaman kematian, dan diwarnai semrawut kehidupan para pengungsi yang berduyun-duyun menghindari keganasa perang, terjadi peristiwa yang tak tersangka-sangka. Barang dua pekan setelah perang berkecamuk, datanglah serombongan orang yang mengaku asal negeri Baghdad ke Giri Amparan Jati. Rombongan yang berjumlah sekitar empat puluh orang itu dipimpin oleh Abdul Qadir dan Abdul Qahhar bin Abdul Malik al-Baghdady, dua orang adik ipar Abdul Jalil, yakni adik lain ibu dari Fatimah, istri pertama Abdul Jalil. Yang tak terduga, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar datang dengan membawa serta puteri Abdul Jalil yang sudah berusia delapan tahun dan membawa pula kabar duka tentang kematian istri Abdul Jalil barang tiga bulan silam akibat sakit keras di Wadi al-Ubayyid, di tengah perjalanan dari Karbala ke Nukhayb sewaktu Syaikh Abdul Malik al-Baghdady dan pengikut-pengikutnya diburu-buru oleh penguasa Baghdad.

Karena Abdul Jalil tidak berada di tempat, rombongan asal Baghdad itu ditampung di Giri Amparan Jati. Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady yang belum lepas dari rasa gentar akibat diburu-buru penguasa Baghdad, sangat cemas ketika mengetahui mereka berada di sebuah daerah yang sedang dicekam peperangan. Mereka selalu menanyakan kapan saudara ipar mereka kembali dengan harapan mereka akan diungsikan ke tempat yang lebih aman. Namun, harapan mereka tidak kesampaian karena Abdul Jalil yang mereka temui ternyata dengan tegas menolak mencarikan mereka tempat aman yang jauh dari perang. Dengan suara yang lain ia berkata, �Sesungguhnya, di mana pun tempat di dunia ini adalah aman selama kalian bernaung di bawah lindungan Sang Penyelamat (as-Salam). Betapa salahnya kalian memandang jika Kematian hanya berkeliaran di tengah peperangan. Sebab, tidak ada dalil yang mengatakan bahwa Sang Maut (al-Mumit) bersemayam di atas langit medan tempur, merentangkan sayap dan cakar-Nya untuk memangsa setiap orang yang berada di sana. Apakah kalian pikir di tempat yang jauh dari medan tempur tidak ada Sang Maut? Tidakkah kalian sadar bahwa Sang Maut berada di mana pun Sang Hidup berada, karena Sang Maut adalah Wajah yang lain dari Sang Hidup (al-Hayy).�

Merasa keinginannya tidak dipenuhi, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady tidak menyerah. Mereka berusaha mempengaruhi Abdul Jalil melalui kemenakan mereka, Zainab, puteri Abdul Jalil. Mereka beralasan bahwa keinginan untuk jauh dari daerah perang itu sesungguhnya demi keselamatan kemenakan mereka, yakni darah dan daging Abdul Jalil sendiri. Kemenakan mereka itu telah piatu dan karenanya harus diselamatkan sesuai amanat kakak mereka, Fatimah. �Kami jauh-jauh ke negeri ini hanya memenuhi amanat kakak kami,� Abdul Qahhar berharap.

Abdul Jalil bergeming dari pandangannya. Dengan suara dingin ia berkata, �Jika kalian berdua takut maka kalian berdua akan aku tempatkan di Kalisapu atau di Pantai Mundu bersama-sama dengan para pengungsi yang berjiwa pengecut. Tetapi perlu kalian ketahui, puteriku akan aku tempatkan di sini, di tengah kancah peperangan ini agar dia bisa merasakan panasnya hawa perang yang akan menempa keberanian di dalam jiwanya. Aku akan ajarkan kepada dia bahwa di mana pun dia berada senantiasa berada dalam liputan Kematian dan Kehidupan. Tidak ada yang menjamin jika dia aku tunggui dan aku tempatkan di daerah aman maka dia akan selamat dan terus hidup. Sebaliknya, tidak ada yang menjamin bahwa dengan tinggal di daerah perang, dia akan celaka dan terbunuh.�

Akhirnya, setelah mendengar uraian Abdul Jalil secara panjang dan lebar, baik Abdul Qadir maupun Abdul Qahhar al-Baghdady menyatakan kesediaannya untuk tinggal di Caruban. Mereka merasa kepalang basah jauh dari tanah kelahiran dan mereka tentu saja tidak mau dinilai pengecut. Bahkan, mereka kemudian meminta untuk bergabung dengan laskar Caruban asal Baghdad yang dipimpin Syaikh Duyuskhani. Demikianlah, setelah menyerahkan Zainab kepada Abdul Jalil, kedua orang putera Syaikh Abdul Malik al-Baghdady beserta empat puluh orang pengikutnya itu diantar oleh tiga santri Giri Amparan Jati ke Pancalang, yaitu pangkalan pertahanan laskar muslim Caruban.

Sementara itu, Abdul Jalil diam-diam merasakan keanehan ketika ia diberi tahu oleh kedua orang adik iparnya tentang kematian istrinya. Aneh, katanya dalam hati, kabar kematian istriku ternyata tidak mengejutkan aku. Ya, aku tidak terkejut. Tidak menangis. Tidak pula meratap. Entah kenapa aku seolah-olah sudah menangkap tengara kematian istriku, Fatimah, barang setahun silam dari alam bawah sadarku. Lantaran itu, kabar duka dari Abdul Qadir dan Abdul Qahhar kurasakan seolah-olah hanya sebagai penyingkap selubung rahasia yang selama ini menutupi kenyataan kematian Fatimah.

Manusia hidup memang memiliki riwayat yang panjang dan berliku-liku, gumam Abdul Jalil dalam hati, namun adakalanya riwayat manusia sangat pendek dan tidak bersambung sebagaimana riwayat Nafsa dan Fatimah, dua orang perempuan yang pernah bersemayam penuh keindahan di dalam relung-relung jiwaku. Mereka berdua kini sudah kembali menghadap hadirat-Nya. Namun Fatimah, istriku, merki riwayatnya sangat pendek ternyata masih bersambung. Ia masih meninggalkan citra keindahannya dalam wujud puteri kecil kami, Aisyah, yang oleh kakeknya namanya diubah menjadi Zainab. Ya, inilah kebersambungan riwayat Fatimah, yang kini diserahkan kepadaku untuk kujaga dan kuantarkan ke gerbang kehidupan yang sesuai dengan jati dirinya.

Sekalipun Abdul Jalil tidak merasa terkejut mendengar kabar kematian istrinya, sebagai manusia ia tidak lepas dari rasa pedih yang mencakari jiwanya. Selama beberapa jenak ia termangu-mangu sambil membelai rambut puteri semata wayang yang duduk di pangkuannya. Ia bayangkan betapa berat perjalanan yang dilakukan istrinya saat melintasi padang gurun ganas dari Karbala hingga Wadi al-Ubayyid. Fatimah yang sejak kecil hidup penuh kemanjaan dan dilimpahi kasih orang-orang yang mencintainya tentu sangat menderita saat diterkam keganasan gurun yang buas.

Seperti rekaman bayangan yang terpampang di bentangan ingatannya, Abdul Jalil menyaksikan bayangan Fatimah mengelebat di dalam benaknya. Fatimah yang menggigil kedinginan di malam hari dan terengah-engah kepanasan di siang hari. Fatimah yang tubuhnya lemah tak berdaya, menggeliat sekarat terpanggang ganasnya gurun. Fatimah yang bibirnya pecah-pecah karena kehausan. Mata Fatimah yang mirip mata Nafsa itu meredup dengan linangan air mata pada saat-saat terakhir menyaksikan puterinya, Zainab, yang akan ditinggal untuk selamanya. Ah, betapa menderitanya engkau, Fatimah, setelah bertahun-tahun ditinggal suami dengan segala kerinduanmu, ternyata yang datang menjemputmu adalah Sang Maut.

Bayangan yang berkelebatan di dalam benaknya itu menyingsing dalam keremangan jiwa manakala dari kedalaman kalbunya terbit matahari kenangan yang menyinari sosok Fatimah. Fatimah binti Abdul Malik al-Baghdady adalah citra abadi seorang istri, seorang perempuan, yang kuat perkasa, penuh daya hidup, dan teguh dalam menghadapi tantangan. Meski merasa pahit saat ditinggalkan sebagai ibu muda, ia tetap tabah menjalani hidup dalam kesendirian mengasuh puterinya. Betapa kuat. Betapa tabah. Fatimah tidak pernah menyerah menghadapi kesulitan yang bagaimanapun rumitnya. Bahkan pada saat-saat terakhir menjelang ajal, menurut Abdul Qadir, ia masih sempat berpesan agar puterinya diserahkan kepada sang ayah supaya dibimbing ke jalan Kebenaran (al-Haqq).

Abdul Jalil sendiri hanya bisa menarik napas panjang saat Abdul Qadir menyampaikan amanat terakhir Fatimah. Di tengah kecamuk perang dan beban berat seorang penggagas pembaharuan yang dimusuhi banyak orang, menjadi seorang ayah dan sekaligus ibu bagi seorang puteri bukanlah hal ringan. Sementara ayahanda mertuanya, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, tidak ketinggalan menitipkan pula sebuah amanah berupa �perintah� agar ia memberikan hukuman kepada Ali Anshar at-Tabrizi. Rupanya Ali Anshar telah berkhianat hingga menyebabkan Syaikh Abdul Malik al-Baghdady dan pengikutnya diburu-buru penguasa Baghdad. Ali Anshar, menurut Abdul Qadir, ditengarai pergi ke Nusa Jawa untuk melampiaskan dendam kesumatnya kepada Abdul Jalil. Dan tentu saja, amanah istri dan ayahanda mertuanya itu menambah berat beban yang harus dipikulnya di tengah ketidakpastian keadaan yang membayanginya.

Andaikata Abdul Jalil orang biasa, pastilah dengan beban berat yang makin menumpuk di pundaknya itu ia akan tumbang dan jatuh ke dalam lumpur pekat kehidupan yang membuatnya sulit bernapas. Atau setidaknya, benak di kepalanya akan memuai dan meleleh. Atau hatinya terbakar dan meledak berkeping-keping. Namun, di tengah tumpukan beban itu ia terlihat sangat tabah. Sebagai anggota Jama�ah Karamah al-Aulia�, cermin pengejawantahan al-Waly, jiwanya ditempatkan pada kedudukan yang lebih tinggi dibanding jiwa manusia seumumnya. Jiwanya disemayamkan di sebuah gunung menjulang yang dilindungi tebing batu sangat kuat. Di tengah berat beban yang harus dipikulnya, jiwanya justru terluput dari percikan rasa takut, khawatir, dan sedih yang berkepanjangan.

Dengan kedudukan jiwa yang tinggi, ia dapat melihat dengan jelas segala pusaran kehidupan yang tergelar di bawahnya. Sehingga saat segunung masalah beriringan menaiki tangga menara dan menghampirinya, ia selalu menyambutnya dengan menengadahkan wajah ke atas. Ia memasrahkan segala sesuatu yang menghampirinya kepada al-Wakil, Zat yang memelihara penyerahan segala urusan. Dengan jiwanya yang sudah tercerahkan, ia senantiasa menyerahkan seluruh hidupnya hanya kepada al-Waly, Zat yang melindungi. Sebesar dan seberat apa pun beban masalah yang dipikulnya tak pernah dianggapnya sebagai sesuatu yang terpisah dari kehendak-Nya; Wama tasya�una illa an yasya�a Allahu rabb al-alamin. Ia senantiasa mengembalikan segala sesuatu yang berasal dari-Nya kepada-Nya; inna li Allahi wa inna ilaihi raji�un.

Sekalipun jiwanya terpelihara di tempat tinggi, sebagai manusia yang dha�if, ia tidak luput dari terkaman rasa sedih dan duka. Namun berbeda dengan manusia seumumnya, rasa sedih dan duka itu tak pernah lama merajalela menguasai jiwanya. Beberapa jenak tenggelam dalam lamunan yang memedihkan akibat mendengar kabar kematian istrinya, ia sudah disentakkan oleh tarikan kesadaran akibat bisikan Ruh al-Haqq.

�Sadarlah engkau, o Rajawali, pengarung kesunyian sejati. Engkau bukan burung-burung kecil yang terbang dalam kawanan-kawanan untuk mencuri padi di sawah. Engkau juga bukan gurung gagak pemakan bangkai. Pun engkau bukan binatang melata yang merayap di muka bumi dengan perutnya. Engkau Rajawali, raja segala burung yang terbang tinggi di angkasa dan bersarang di tebing-tebing karang yang tegak menggapai langit. Engkau tidak makan jika tidak lapar. Engkau tidak minum jika tidak kehausan. Engka selalu memandang ke bawah dengan mata menyala, menyaksikan kehidupan makhluk yang melata di permukaan bumi. Engkau terbang sendiri tanpa kawan. Tetapi, engkau tidak bersedih karena kawanmu adalah Kehampaan. Ketika engkau menjerit: Haqq! Haqq! Kehampaan menjawab dengan pantulan gema yang menggetarkan penjuru langit dan bumi. Sadarilah, o Rajawali, bahwa kodratmu adalah sendiri dan berteman dengan Kehampaan.�

Dengan bisikan Ruh al-Haqq, ia tetap tersadarkan meski kesedihan dan derita mengepung segenap penjuru jiwa. Ia sadar tentang kehendak-Nya di balik rahasia kehidupan yang digelar di depannya. Betapa kematian istri dan kehadiran Zainab, puterinya, di tengah kecamuk perang itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah bagian dari liku-liku ujian-Nya yang harus dilampaui. Puterinya yang telah piatu itu dihadirkan-Nya di tengah keadaan sulit ini untuk menguji keteguhannya dalam menjaga kiblat hati dan pikiran kepada Yang Maha Berkehendak. Dan sebagaimana rajawali, ia terus mengepakkan sayap-sayap jiwanya mengarungi kesunyian menuju Kehampaan Sejati.

Bagi para pengarung kesunyian seperti Abdul Jalil, makna suka dan duka, sedih dan gembira, bahagia dan menderita, hidup dan mati, sangat berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan apa yang dipahami oleh orang kebanyakan. Sebab, duka cita dan kesedihan yang dikaitkan dengan penghiburan oleh orang kebanyakan sering dimaknai dengan arti kegembiraan yang menyenangkan hati; habis duka cita terbitlah sukacita, di mana ada suka di situ ada duka, sedih dan gembira ibarat siang dan malam yang saling berganti. Sementara bagi pengarung kesunyian seperti Abdul Jalil, duka cita dan kesedihan dipandang sebagai sesuatu yang terkait dengan keberadaan dan ketiadaan. Suka dan duka, sedih dan gembira, bahagia dan derita, hanya muncul ketika seseorang menganggap keakuan dirinya ada. Namun, kegandaan itu akan menyingsing manakala keakuan seseorang ditiadakan dan ditenggelamkan ke dalam Aku Semesta: Kehampaan Sejati.

Tidak berbeda dalam hal memaknai suka dan duka, dalam memaknai kehidupan pribadi pun orang seperti Abdul Jalil berbeda dengan manusia seumumnya. Baik ruang, baik waktu, baik kehidupan yang tergelar di dalamnya, dengan segala kekuatan alamiahnya seolah-olah menempatkan Abdul Jalil sebagai orang yang tidak diberi kesempatan cukup banyak untuk mengurus kehidupan pribadi. Bahkan, untuk meresapi kesedihan dan memanjakan puteri semata wayangnya pun ia seolah-olah tidak diberi peluang barang sejenak. Ketika ia baru tersentak oleh kesadaran setelah terlena beberapa saat mengenang istri dan melepas rindu kepada puterinya, ia sudah dikejutkan oleh kabar laskar muslim Caruban yang berduyun-duyun melarikan diri dari medan tempur di Jamaras. Abdul Malik Israil yang baru saja kembali dari Kuta Caruban muncul menemuinya. �Apa yang dulu engkau takutkan, o Sahabatku, kini telah terbukti menjadi kenyataan pahit.�

�Apakah yang telah terjadi, o Sahabat?� tanya Abdul Jalil minta penjelasan.

�Ratusan laskar muslim Caruban yang dipimpin Abdul Karim Wang Tao dan Abdul Razaq Wu Lien terbirit-birit melarikan diri dari medan tempur karena tidak kuasa mengendalikan setan takhayul yang menguasai jiwa dan pikiran mereka,� kata Abdul Malik Israil menggeleng-geleng kepala. �Mereka lari ketakutan demi mendengar kabar panglima Rajagaluh, Adipati Kiban, mengendarai gajah yang muncul dari Gunung Liman. Gajah itu konon bernama Sang Bango.�

�Kenapa pula dengan gajah tunggangan Adipati Kiban itu?�

�Para laskar berpikir gajah bernama Sang Bango itu adalah gajah siluman bersayap dan bisa terbang seperti burung bangau. Karena itu, saat mereka berhadap-hadapan dengan pasukan Rajagaluh yang dipimpin oleh Adipati Kiban, mereka lari tunggang langgang karena takut dengan gajah siluman itu,� kata Abdul Malik Israil.

�Astaghfirullah al-azhim,� Abdul Jalil mendecakkan mulut sambil menggeleng-gelengkan kepala. �Apa yang harus kita lakukan menghadapi manusia-manusia yang sudah dibodohkan dan dilemahkan oleh takhayul itu?�

�Menurut hematku, mereka harus diberi kekuatan baru yang sesuai dengan naluri mereka.�

�Apakah kita harus mengenalkan kepada mereka takhayul-takhayul baru?�

�Tentu saja tidak,� kata Abdul Malik Israil, �Mereka harus kita bawa secara perlahan-lahan untuk mengenal Tauhid melalui tahapan-tahapan, yaitu melalui pengenalan kekuatan gaib doa, hizb, wafak, dan khasiat ayat-ayat al-Qur�an untuk keperluan hidup sehari-hari. Aku kira, dengan cara itu mereka akan dapat kita arahkan ke pusat Kebenaran, meski harus melewati jalan berliku dan berbelit-belit.�

�Sesungguhnya, aku khawatir mereka akan terperangkap ke lingkaran takhayul lain. Tetapi, jika itu yang harus dilakukan maka sebaiknya engkau beserta Syaikh Ibrahim Akbar dan Syaikh Bentong bekerja sama membina mereka ke arah itu. Engkau bisa mengajari orang-orang dengan amalan-amalan yang pernah dijalankan Bani Israil di masa lampau, yang menggunakan bahasa Suryan (bahasa Arab kuno). Biarlah Syaikh Ibrahim Akbar dan Syaikh Bentong mengajari mereka tentang wafak dan hizb. Aku sendiri akan mengajar sasyahidan, karena aku tidak pandai dalam hal hizb, wafak, doa, dan pengenalan khasiat ayat-ayat al-Qur�an. Aku hanya mengajarkan sasyahidan sebagaimana tugas itu dibebankan Bhayangkari Islah kepadaku.� Abdul Jalil tiba-tiba teringat pada sosok Dang Hyang Semar, yang bagian terbesar di antara pengikutnya adalah kalangan Tu-gul yang awam dan hidupnya penuh dilingkari gegwantuhuan. Akankah Islam mengalami nasib seperti Kapitayan yang diajarkan Dang Hyang Semar, tanyanya dalam hati, yakni hanya dijadikan keyakinan �topeng� oleh kalangan awam yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Yang Mahatunggal.

Di tengah kegelapan malam Kematian membentangkan sayap dan mencengkeramkan kuku-kuku tajamnya di atas langit Caruban Larang, memperdengarkan suara-Nya yang melengking, meruntuhkan nyali seluruh makhluk hidup. Meski tidak semua orang mengetahui apa yang disebut Kematian, bagi mereka yang waskita, Kematian adalah sisi lain dari Kehidupan. Kematian dan Kehidupan ibarat sosok dan bayangan yang berhadap-hadapan di depan cermin yang sama. Sebagaimana Kehidupan yang tak pernah kekurangan dan berkurang dalam menumbuhkan segala sesuatu yang hidup, Kematian pun tidak pernah kekenyangan dan tidak pernah pula terpuaskan, meski setiap waktu Dia melahap jiwa-jiwa segala sesuatu yang hidup.

Di tengah intaian Kematian, di antara kesenyapan dan kegelapan yang melingkari Kuta Caruban, Abdul Jalil menggandeng puterinya menyusuri jalanan yang lengang. Di depannya berjalan Wiku Suta Lokeswara, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Abdul Malik Israil, Syarif Hidayatullah, Raden Sulaiman, dan Raden Qasim. Sepanjang menyusuri jalan-jalan tampaklah bahwa Kuta Caruban benar-benar ditinggalkan oleh sebagian besar penghuninya. Rumah dan bangunan yang teronggok di tengah kegelapan terlihat bagaikan bayangan hantu. Satu dua memang terlihat nyala pelita, namun selebihnya hanya kegelapan yang mengambang di permukaan bumi bersama selimut kabut.

Sekalipun pada malam hari Kuta Caruban sunyi dan lengang, jangan dikira orang tak dikenal dapat bebas masuk ke rumah-rumah yang kosong ditinggal penghuninya. Berpuluh-puluh dan bahkan beratus-ratus pasang mata setidaknya mengintai setiap gerakan di tengah kegelapan. Sesekali terlihat bayangan-bayangan hitam bergerak sangat cepat dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Andaikata saat itu ada orang tak dikenal yang berniat jahat hendak mencuri atau menjarah kuta, dapat dipastikan mereka akan berhadapan dengan Kematian. Bahkan, karena keadaan itu para pemilik rumah yang sedang mengungsi pun tidak ada yang berani ke kuta dan masuk ke rumahnya pada malam hari.

Ketika Abdul Jalil menanyakan keadaan yang begitu mencekam di Kuta Caruban kepada Sri Mangana, ia diberi tahu jika mereka yang berkeliaran di malam hari itu adalah prajurit-prajurit Caruban. Jumlah mereka sekitar seribu orang. Mereka memang disiagakan untuk menjaga keamanan di kuta. Siang hari mereka ditugaskan berjalan seorang-seorang dari satu tempat ke tempat yang lain secara bergilir. Setiap kali mereka sampai di tempat yang ditentukan, mereka akan berganti pakaian dan berjalan lagi ke tempat yang lain. Dengan cara itu, pada pagi dan siang hari Kuta Caruban menjadi semarak seolah-olah masih dihuni oleh banyak penduduk. Menjelang sore, sebagian di antara prajurit-prajurit itu akan berbaris dengan pakaian prajurit menuju Pekalipan.

Siasat menempatkan seribu prajurit di Kuta Caruban, menurut Sri Mangana, terpaksa dilakukan karena sejak hari kedua pertempuran, Kuta Caruban sudah mulai ditinggalkan penduduk yang mendengar berita-berita menyeramkan tentang keganasan perang. Memasuki hari kelima terjadi lagi pengungsian lebih besar ketika tersebar bahwa Abdurrahman Ling Tan gugur. Saat itu tidak peduli penduduk Cina pengikut Abdul Karim Wang Tao dan Abdul Razaq Wu Lien, semua beramai-ramai meninggalkan Kuta Caruban. Memasuki hari ketujuh pertempuran, penduduk asal Baghdad di Kalijaga pengikut Syaikh Duyuskhani bersama penduduk Sunda dan Jawa ikut kabur meninggalkan kuta. Sebagian bergerak ke arah selatan, ke pantai Mundu dan Pangarengan, sebagian lagi ke arah utara, ke pantai Kalisapu dan Muara Jati.

Sri Mangana sendiri mengaku tidak menduga jika pertempuran akan terjadi secepat itu. Lantaran itu, akunya, ia sempat kelabakan menempatkan pasukan Caruban Larang yang berjumlah sekitar 30.000 orang untuk menjaga perbatasan yang begitu panjang. Pada saat pecah pertempuran di Bobos antara pasukan Rajagaluh dan Kuningan, ia mengutus Abdurrahman Ling Tan dan Abdul Karim Wang Tao untuk membantu pasukan Kuningan dengan kekuatan sekitar tiga ratus laskar. �Kekuatan Rajagaluh terlalu besar untuk dilawan Kuningan meski ditambah tiga ratus laskar. Sebab, Rajagaluh mendapat bantuan pasukan dari Talaga dan Galuh Pakuan. Akhirnya, pasukan Kuningan dan laskar Caruban berhasil dipukul mundur dan pecah menjadi dua. Pasukan Kuningan terpukul mundur ke selatan hingga ke Singkup. Sedangkan laskar yang dipimpin Abdurrahman Ling Tan dan Abdul Karim Wang Tao terpukul mundur hingga ke Plumbon. Bahkan, Abdurrahman Ling Tan gugur saat menghadang gerak maju musuh di Warugede,� kata Sri Mangana memaparkan lika-liku jalannya pertempuran.

�Apakah Rajagaluh menyerang dengan mendadak tanpa alasan sehingga Ramanda Ratu tidak siap menghadapinya?� tanya Abdul Jalil meminta penjelasan. �Kenapa pula yang bertempur adalah pasukan Kuningan? Dan bagaimana mungkin pertempuran pertama pecah di Bobos, yang termasuk ke dalam wilayah Palimanan?�

�Ya, itu semua gara-gara si Angga, wali nagari Kuningan yang tidak dapat menahan diri,� Sri Mangana memaparkan. �Saat dia hendak ke Giri Amparan Jati untuk memberi tahu Syarif Hidayatullah bahwa adik perempuannya, Ong Tien, istri Syarif Hidayatullah, telah melahirkan seorang putera, ia bertemu dengan wahuta (pemungut pajak) Rajagaluh, Ki Dipasara. Ki Dipasara ingin menemui Syarif Hidayatullah untuk membicarakan kewajiban membayar pajak kepada Yang Dipertuan Rajagaluh. Namun, Syarif Hidayatullah tidak ada di tempat. Penasaran mengetahui pejabat Rajagaluh berada di Giri Amparan Jati, Angga pun meminta penjelasan Ki Dipasara tentang kehadirannya di situ. Jawaban Ki Dipasara yang menyatakan bahwa kehadirannya di situ untuk kepentingan memungut pajak dari Giri Amparan Jati menyulut amarahnya. Menurutnya, Giri Amparan Jati adalah bagian dari Caruban Larang sehingga Rajagaluh tidak berhak memungut pajak. Lalu terjadi selisih paham yang berujung pecahnya peperangan.�

�Berarti pihak Rajagaluh sengaja mencari gara-gara.�

�Itu memang bagian dari perang siasat Rajagaluh. Tetapi, si Angga rupanya tidak bisa menahan sabar. Dia terpancing. Bahkan yang sangat aku sesalkan, dia memimpin pasukan Kuningan untuk menyerang pasukan Rajagaluh yang berpangkalan di Bobos tanpa memberi tahu aku,� kata Sri Mangana.

�Jadi, pihak Kuningan yang memulai serangan?� tanya Abdul Jalil kaget.

�Itulah kecerobohan anak muda yang terlalu bangga diri dan cenderung meremehkan orang lain. Angga sangat yakin bahwa sekuat apa pun pasukan kafir akan dapat dihancurkannya dengan pedang. Dan ternyata dia terkejut ketika pasukannya dihancurkan pasukan Rajagaluh di Bobos. Bahkan, dia mengaku seperti bermimpi saat menyaksikan pasukan yang dibanggakannya lari tunggang langgang dari medan tempur,� kata Sri Mangana.

�Tetapi, ananda dengar si Angga sampai sekarang ini masih memimpin pasukan di Singkup, sedangkan laskar muslim dipimpin Abdulkarim Wang Tao dan Abdul Razaq Wu Lien bertahan di Plumbon dan Jamaras. Sementara itu, laskar pimpinan Syaikh Duyuskhani bertahan di Pancalang.�

�Aku memang menghukum Angga dengan menempatkannya sebagai pemimpin perang pasukan Kuningan. Aku tidak ingin Caruban Larang terlibat pertempuran langsung dengan Rajagaluh. Karena itu, yang membantu pasukan Kuningan adalah laskar-laskar dan prajurit-prajurit yang menyamar sebagai laskar,� ujar Sri Mangana.

�Berarti perang ini hanya perang antara Kuningan dan Rajagaluh?� tanya Abdul Jalil heran.

�Ya. Tetapi, akhirnya nanti akan melibatkan Caruban. Karena itu, kita semua saat ini dituntut sabar dan kuat menahan tekanan-tekanan pihak luar yang berusaha memancing kita ke perang terbuka. Sekarang ini kita masih memiliki waktu untuk memperkuat pertahanan,� kata Sri Mangana.

Mendengar penjelasan Sri Mangana, bukan hanya Abdul Jalil yang kagum dengan kecerdikan sang kalifah dalam menyiasati keadaan yang genting itu, Wiku Suta Lokeswara yang mantan pejabat tinggi Majapahit pun tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji langkah-langkah cemerlang tersebut. Bahkan, semua hadirin mendecakkan mulut penuh kekaguman ketika Sri Mangana memaparkan bagaimana ia menata 30.000 orang prajuritnya untuk menghadapi ancaman dari Galuh Pakuan, Talaga, Rajagaluh, dan Dermayu yang sewaktu-waktu dapat menyerang wilayah Caruban Larang. Dengan luasnya wilayah Caruban Larang dan ancaman musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat, sebenarnya keberadaan 30.000 orang prajurit tidaklah berarti apa-apa, namun dengan siasat yang sulit dibayangkan, Sri Mangana telah menatanya sebagai kekuatan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Abdul Jalil sendiri sangat menyayangkan kecerobohan wali nagari Kuningan yang telah memulai perang. Namun, ia paham mengapa Angga sangat berani mengambil tindakan tanpa sepengetahuan Sri Mangana. Mereka mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat. Ibu Angga, Ratu Siliwangi, adalah kakak lain ibu Sri Mangana yang sejak kecil diasuh bersama di Caruban. Ong Wi, ayah Angga, adalah putera saudagar Palembang bernama Ong Te yang kenal dengan Prabu Guru Dewata Prana melalui Tuan Milinadi, saudagar Palembang yang berniaga di negeri Sunda. Ong Wi dapat menjadi gedeng di Kuningan karena menikahi Ratu Siliwangi. Pernikahan Ratu Siliwangi dengan Ong Wi, meski disetujui Prabu Dewata Prana, tidak disukai oleh saudara-saudaranya. Itu sebabnya, saudara-saudara Ratu Siliwangi memanggil Ong Wi dengan sebutan Ngewalarang yang bermakna �orang yang paling dibenci�. Dari perkawinan dengan Ratu Siliwangi, Ong Wi mendapat dua orang anak yaitu Angga dan Selalarang. Sedang dari istrinya yang lain, yaitu seorang perempuan Cina, Ong Wi memiliki tiga orang anak, Ong Tien, Anggasura, dan Anggarunting. Rupanya, kedekatan darah dengan Sri Mangana itulah yang membuat Angga sering melakukan tindakan-tindakan yang berlebihan dan kadangkala tidak terpuji.

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers