Senin, 27 Maret 2017

WEJANGAN TERAKHIR

Wejangan Terakhir

    Di tengah gemuruh suara Sang Maut mengisap napas-Nya di permukaan bumi Demak, bertiup angin dari barat yang membawa kabar sangat mengejutkan: gabungan armada Jawa yanga menyerang Malaka mengalami kekalahan telak. Dari 90 kapal yang berangkat, hanya sepuluh kapal perang jenis jung yang berlapis besi dan sepuluh kapal perbekalan yang kembali. Beribu-ribu prajurit asal Samarang, Tetegal, Tedunan, Rembang, Tuban, Siddhayu, Demak, Japara, Kendal, dan Pati tenggelam bersama kapal yang mereka tumpangi ke dasar laut.

Ketika semua dada terasa sesak dan semua mata meneteskan air mata kepedihan akibat peristiwa memalukan itu, terjadi peristiwa yang membuat semua mata terpejam dan semua hati tergetar. Satuan-satuan bersenjata yang dipimpin alim ulama Demak, yang dengan ganas telah menertibkan Kehidupan beragama di setiap sudut Kadipaten Demak, tiba-tiba mengarahkan pandangan ke kadipaten lain: Samarang, Japara, Tetegal, Kendal, Rembang, Siddhayu, dan Tedunan. Lalu, dengan gerakan sangat menakjubkan laksana kawanan hewan buas keluar sarang, mereka beriringan dengan suara gemuruh menerjang desa-desa yang terletak di sekitar Lemah Abang sambil meneriakkan takbir. Para alim dan pasukan tombaknya itu rupanya mendapat perintah untuk menyerang desa-desa di sekitar dukuh-dukuh Lemah Abang dengan tuduhan-tuduhan tanpa dasar. Sebagaimana peristiwa mengerikan yang telah terjadi di Demak, dengan alasan menertibkan agama Islam yang telah disimpangkan penduduk, satuan-satuan bersenjata tombak pimpinan alim ulama itu melakukan perburuan dan penjagalan terhadap siapa saja di antara manusia yang dituduh mengajarkan agama tanpa izin, menyelewengkan agama, menyebarkan ajaran sesat, atau murtad dari agama Islam.

Warga di kadipaten-kadipaten yang kebanyakan hanya mendengar kabar burung tentang kekejaman satuan-satuan bersenjata itu, dengan terheran-heran menyaksikan sendiri bagaimana tindakan ganas dan brutal manusia-manusia tak berjiwa yang menyebut diri barisan alim ulama pengawal agama Islam itu. Mereka saling pandang dan saling bertanya dengan keheranan.

Bagaimana mungkin alim ulama yang merupakan tokoh agama bisa memiliki pasukan bersenjata dan menggunakannya untuk menekan, menakuti, mengancam, dan bahkan membunuh orang-orang yang tidak sepaham? Bukankah sejak zaman purwakala belum pernah ada agamawan yang memiliki pasukan? Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku pengawal agama Islam yang suci memiliki kebiasaan meminum dan menjilati darah orang-orang yang dibunuhnya? Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku beriman gemar merusak mayat, memotongi telinga dan alat kemaluan orang-orang yang dibunuh sebagai kesenangan? Bagaimana mungkin sebuah agama ditertibkan lewat tekanan, ancaman, teror, dan pembunuhan? Bagaimana mungkin citra sebuah agama yang damai yang menjanjikan keselamatan justru menimbulkan ketakutan dan kepanikan, karena orang-orang yang mengaku pengawal agama tersebut dengan keberingasan dan kebengisan tak terbayangkan menciptakan ladang mayat dan sungai darah?

Bagi sebagian besar penduduk yang keluarga, kerabat, tetangga, kawan, atau kenalannya menjadi korban keganasan satuan-satuan bersenjata pimpinan alim ulama Demak itu, mereka tidak bisa memahami peristiwa biadab itu sebagai sesuatu yang bisa dibenarkan oleh nurani. Mereka seumumnya menganggap peristiwa itu sebagai sesuatu yang sangat membingungkan. Sebab, citra Islam yang selama itu mereka pahami sebagai penyempurnaan ajaran Syiwa-Buda ternyata sangat berbeda dengan citra Islam yang dipahami alim ulama yang memiliki satuan-satuan bersenjata, baik dalam amaliah ibadah maupun istilah-istilah keagamaan sehari-hari. Mereka yang sehari-hari biasa menggunakan istilah-istilah sembahyang, puasa, swarga, neraka, langgar, tajug, Hyang Manon, Kangjeng, Nabi, pandhita, susuhunan, wiku, kiai, ki, dukuh, destar, aksamala, bebet, dan dodot cukup kebingungan dengan istilah-istilah yang digunakan anggota-anggota satuan bersenjata dan alim ulamanya seperti shalat, shaum, firdaus, jahannam, mushala, masjid, Allah Subhanahu wa Ta�ala, Muhammad Saw, alim ulama, syaikh, habaib, khwajah, tasbih, ghamis, surban, sarung, kopiah.

Istilah-istilah itu makin membingungkan ketika orang menyaksikan keganasan anggota satuan-satuan bersenjata tombak yang memaklumkan diri sebagai pengawal Islam agama Keselamatan. Mereka heran dengan kepongahan orang-orang bersenjata yang mengaku-aku bahwa Tuhan yang paling Benar adalah Tuhannya, sedang tuhan orang lain adalah tuhan-tuhanan alias tuan palsu. Mereka heran dan menganggap pengakuan sepihak itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin agama Islam yang menjanjikan keselamatan, di tangan para pengaku-aku itu justru menjadikan banyak manusia tidak selamat? Bagaimana mungkin agama Islam yang digembar-gemborkan sebagai agama kedamaian justru menimbulkan kekisruhan? Bagaimana mungkin Kebenaran Ilahi dan keimanan orang seorang dalam mengenal Tuhan diukur dengan bilah tombak? Betapa mengherankan, tanpa alasan yang jelas sejumlah pemuka agama Islam di berbagai desa disembelih begitu saja karena dituduh murtad.

Tindak kekerasan yang dilakukan alim ulama asing dengan satuan-satuan bersenjatanya itu memunculkan kesan miring bagi penduduk pedalaman Jawa dalam memaknai Islam. Bagian terbesar penduduk yang semula memahami Islam sebagai ajaran penyempurna Syiwa-Buda, yaitu ajaran yang damai penuh toleransi dan pembawa keselamatan sebagaimana telah disampaikan para guru suci terdahulu, terutama ajaran Syaikh Siti Jenar dan pengikut-pengikutnya, ternyata mendapati wajah dan jiwa yang berbeda dengan agama Islam yang dianut alim ulama bersenjata asal Demak. Islam yang mereka saksikan datang bersama para alim itu adalah citra sebuah agama yang ganas tak kenal ampun dan berlumur darah. Islam yang mereka saksikan datang dari Demak sama menjijikkannya dengan ajaran Bhairawa-Tantra yang dianut bhairawa-bhairawi peminum darah. Muara dan ketidakpahaman penduduk atas citra Islam yang dibawa alim ulama Demak dan satuan-satuan bersenjatanya itu adalah tumbuh suburnya sikap antipati terhadap sesuatu yang bersifat asing yang dibayangkan akan menjajah dan membahayakan keberadaan penduduk bumiputera. Dan entah bagaimana awalnya, tiba-tiba istilah-istilah agama Jawa dan agama Arab mulai digunakan orang untuk membedakan wajah agama yang dianut penduduk asli dan agama yang dianut warga asing.

Abdul Jalil yang menyaksikan adegan demi adegan kekerasan aitu dengan perasaan malu tak terlukiskan tidak dapat berbuat sesuatu kecuali diam, laksana sebongkah batu di sungai dangkal berair jernih. Ia benar-benar sebongkah batu yang menyaksikan semua tindakan alim ulama yang bertopeng agama, tapi melumuri tangannya dengan darah manusia. Ia menyaksikan semua gerak-gerik alim ulama yang melakukan kejahatan atas titah seorang penguasa duniawi. Ia menyaksikan semua tindaka alim ulama yang melakukan pembunuhan demi imbalan sepetak tanah perdikan dan hadiah-hadiah dari sultan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Diam. Seribu kali diam. Namun, di tengah kecamuk perasaannya yang teraduk-aduk dalam diam itu, ia sadar betapa citra dirinya sebagai salah seorang pendakwah ajaran Kebenaran Islam sesungguhnya telah hilang bersama terbangnya nyawa-nyawa kaum muslimin yang menjalankan Islam menurut ajaran yang didakwahkannya. Ia yang dulu telah mendakwahkan bahwa Islam adalah penyempurna ajaran Syiwa-Buda, ternyata tidak berbuat sesuatu ketika apa yang didakwahkannya itu dihancurbinasakan oleh orang-orang terbawa badai yang terbuang dari negerinya dan mencari kemapanan hidup di negeri orang. Ia tidak melakukan apa pun � bahkan sekedar mengingatkan lewat lisan � untuk mencegah kekeliruan tindakan yang dilakukan para alim beserta pasukan tombaknya. Ia merasa semua yang telah dirintisnya telah sirna tersapu prahara bersama lenyapnya citra dirinya sebagai juru dakwah. Ia merasa benar-benar telah menjadi sebongkah batu.

Ketika ia meresapi keterkaitan makna antara peristiwa memalukan itu dan keterlepasan-keterlepasan citra diri yang dialaminya, hingga membuat keberadaan dirinya tak lebih dari sebongkah batu, terjadilah sesuatu yang selama ini sudah ditunggu-tunggunya sebagai bagian dari keterlepasan yang sangat berat.

Badai Kebinasaan yang diembuskan Sang Maut telah berpusar-pusar melanda permukaan bumi dan perlahan-lahan mulai mendekati caturbhasa mandala dan lemah larangan yang telah ditegakkannya selama berpuluh tahun dengan taruhan nyawa. Seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan sandiwara, ia menyaksikan bagaimana para pemuka agama di desa-desa yang berhasil meloloskan diri dari serangan satuan-satuan bersenjata asal Demak beriringan mencari perlindungan ke dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar. Lantaran dukuh Lemah Abang jumlahnya lebih banyak dibanding Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar, maka mereka hampir semuanya bersembunyi dan meminta perlindungan ke Lemah Abang.

Abdul Jalil sadar, cepat atau lambat ia bakal menyaksikan kehancuran dukuh-dukuh yang mengabadikan karya besarnya itu. Untuk itu, ia berusaha melepaskan segala keterkaitan dirinya dengan tempat-tempat bersejarah itu. Ia ingin melupakan semua kenangan yang menghubungkan dirinya dengan dukuh-dukuh yang ditinggali murid-muridnya itu. Namun, hal itu tentu saja tidak mudah. Sebab, rangkaian kenangan yang menandai jejak langkahnya di dukuh-dukuh itu telah menjadi taman indah Tauhid yang menebarkan wangi bunga-bunga Kebenaran. Menghapus rangkaian kenangan yang telah mewujud menjadi keindahan akan menimbulkan rasa kehilangan yang menyesakkan dada. Itu sebabnya, pada saat ia menyaksikan para alim dengan satuan-satuan bersenjatanya yang memburu orang-orang yang mereka tuduh ahli bid�ah dan penyeleweng agama mendekat ke dukuh-dukuh Lemah Abang, tanpa ia sadari tiba-tiba ia sudah bergerak dan tahu-tahu sudah berada di dukuh Lemah Abang yang terletak di Kadipaten Samarang. Hiruk pun pecah ketika Ki Wujil Kunting, pemimpin dukuh dan pengikut-pengikutnya mengetahui kedatangan Abdul Jalil. Beramai-ramai mereka mengerumuninya. Menyaksikan wajah pengikut-pengikutnya yang diliputi ketegangan itu, ia merasa trenyuh. Lalu, dengan penuh kasih ia berkata kepada mereka dengan suara lain yang terdengar aneh.

�Sebagaimana perilaku alam yang terus berulang bersama putaran waktu, begitulah waktu senja dari hidupku telah datang menjemput. Dia akan mengajakku terbang ke langit hampa yang luas tanpa batas. Melayang-layang sendiri memaknai kesendirian di tengah liputan Yang Mahasendiri. Aku akan kembali bersama waktu senjaku menikmati ketenag-damaian di mahligai keabadian-Nya yana azali. Bersama waktu senjaku, hendaknya diketahui oleh semua manusia yang memiliki keterkaitan denganku, bahwa aku yang disebut manusia dengan berbagai nama; San Ali, Syaikh Datuk Abdul Jalil, Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Siti Jenar, Syaikh Sitibrit, dan Susuhunan Binang adalah manusia biasa yang lahir ke dunia dalam keadaan telanjang tidak membawa apa-apa. Lantaran itu, aku kembali pun dalam keadaan telanjang tidak membawa apa-apa. Aku datang dari Allah dan akan kebali kepada-Nya. Inna li Alahi wa inna ilaihi raji�un.�

�Buka telinga indriawimu dan buka pula telinga batinmu untuk mengingat-ingat pesanku yang terakhir. Aku yang lahir telanjang dan bakal kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan telanjang tidak akan pernah meninggalkan sesuatu yang bersifat kebendaan yang bisa engkau kaitkan denganku. Aku tidak meninggalkan warisan apa-apa dalam bentuk benda-benda duniawi; rumah, harta benda, kitab, pusaka, murid, keluarga, dukuh, atau apa pun. Yang aku wariskan kepada manusia hanyalah ajaran rahasia berupa awrad yang tidak boleh ditulis atau disimpan di dalam sesuatu yang bisa dibendakan. Lantaran itu, jika di suatu masa ada manusia mengaku-aku pengikutku dengan menunjukkan bukti ini dan itu berupa benda atau bukti-bukti pengakuan nasab, sesungguhnya dia itu pendusta yang bakal menyesatkan banyak orang.�

�Jika ada yang bertanya tentang makna apa di balik awrad yang aku wariskan. Aku katakan, ia ibarat sebutir biji nangka, yang aku tinggalkan sebagai satu-satunya warisan. Seperti biji nangka yang memuat hakikat batang, dahan, ranting, daun, bunga, akar, dan buah yang akan tumbuh dengan baik di tanah subur yang terawat, begitulah awrad rahasia itu jika kalian tanam di jiwa yang baik dan dirawat dengan baik akan tumbuh menjadi pohon ruhani Kemanusiaan Sempurna. Buah dari pohon ruhani Kemanusiaan Sempurna itu bisa kalian bagi-bagi kepada siapa pun yang membutuhkan. Tetapi, biji dari buah nangka itu akan tumbuh lagi jika ditanam di tanah yang sesuai. Dengan demikian, selama kalian setia memelihara dan mewariskan awrad yang aku tinggalkan maka saat itu pula kalian telah mewarisi warisanku. Inilah pesan-pesanku terakhir yang hendaknya kalian pusakakan: jadikan awrad rahasia dariku itu sebagai satu-satunya warisan dariku untuk wahana kembali menuju Sang Pencipta. Jadikanlah ia wahana menuju inna li Allahi wa inna ilaihi raji�un !�

�Pesanku yang hendaknya kalian ingat-ingat adalah yang terkait dengan keberadaan jasad dan tubuhku. Maksudnya, jika satu saat nanti kalian mendapati tubuh jasadku terbujur tanpa nyawa karena ruhku telah kembali kepada-Nya, hendaknya kalian kuburkan jenasahku tanpa tanda apa pun yang bersifat bendawi. Jangan biarkan siapa pun di antara manusia yang mengetahui jika itu kuburanku. Jangan buat manusia datang menziarahiku. Sebab, aku tidak ingin menjadi hijab setitik noktah pun bagi manusia dalam berhubungan dengan Penciptanya. Biarkan aku terkubur sebagai tanah yang diinjak-injak manusia. Biarkan jasad tubuh anak Adam a.s. ini kembali menjadi tanah.�

Para pengikut yang tak kuasa menahan haru mendengar wejangan guru ruhani yang mereka cintai serentak menjatuhkan diri dan merangkul kaki Abdul Jalil sambil mencucurkan air mata. Ki Wujil Kunting yang terlihat tegar pun tak kuasa menahan haru. Dengan napas tersengal menahan tangis, dia bersimpuh dan bertanya. �Jika Kangjeng Syaikh kembali kepada-Nya tanpa meninggalkan bekas bendawi, bagaimana kami dapat mengingat paduka yang telah menyalakan api kesadaran di jiwa kami tentang Tauhid? Bagaimana kami dapat melepaskan kerinduan kami kepada Kangjeng Syaikh?�

Abdul Jalil tertawa. Kemudian, dengan suara digetari kepahitan ia berkata, �Bukankah sudah aku katakan bahwa aku tidak ingin menjadi hijab bagi manusia dalam memuja Penciptanya? Bukankah sudah aku katakan bahwa aku hanya meninggalkan awrad rahasia yang tak boleh ditulis? Apakah itu kurang cukup? Apakah kalian masih belum paham juga dengan maksudku?�

�Kami paham maksud paduka Syaikh. Tapi, kami hanya manusia biasa yang memiliki kerinduan pada rupa dan rasa. Sedang kami paham bahwa Sang Wujud tidak bisa dirupakan dan dirasakan kecuali melalui wahana ciptaan-Nya yang maujud. Jadi, bagaimana cara kami melampiaskan kerinduan jiwa kami kepada-Nya tanpa melalui ciptaan-Nya yang kami kenal seperti Kangjeng Syaikh?�

Abdul Jalil diam. Ia tidak memberikan jawaban. Ia paham, terlalu banyak hal yang tidak dapat dijelaskan kepada pengikut-pengikutnya. Namun, ia sadar bahwa semua itu adalah kehendak Allah semata. Lantaran itu, ia memasrahkan semua urusan yang terkait dengan pengikut-pengikunya itu kepada-Nya. Beberapa jenak kemudian, ia pun berkata dengan suara tegar diliputi getar-getar keanehan.

�Jika kalian membaca Kitab Suci Al-Qur�an dan memahami Sabda Suci Ilahi di kitab tersebut sebagai rangkaian huruf Arab dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya, maka ia akan menjadi seperti pemahaman kalian. Ia akan menjadi Sabda Suci Ilahi yang dilafazkan mulut manusia. Ia hanya akan menjadi rangkaian huruf-huruf bermakna. Ia akan menjadi Kalam al-Lafzhiyyah. Tetapi, jika kalian memahami Sabda Suci Ilahi itu sebagai Firman Ilahi yang pernah terucap lewat lisan Muhammad Saw. Maka Ia akan menjadi seperti pemahaman kalian. Ia akan menjadi Sabda Ilahi yang terucap lewat lisan Yang Terpuji Saw.. Ia akan menjadi Kalam an-Nafsiyyah. Dan, jika kalian memahami bahwa Yang Terpuji Saw. adalah pancaran dari Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad), maka Sabda Suci Ilahi pun akan kalian pahami sebagai sabda-Nya. Ia akan menjadi Kalam Ilahiyyah.�

�Demikian pula dengan awrad rahasia yang telah aku tinggalkan kepada kalian sebagai warisan satu-satunya itu. Jika kalian mengamalkan awrad rahasia dengan pemahaman bahwa aku pun telah mengamalkannya maka kalian akan merasakan kehadiranku di situ. Sebab, seibarat biji nangka yang tumbuh di �tanah� bernama Abdul Jalil, demikianlah biji nangka itu akan tumbuh di jiwa mereka yang mengamalkannya. Jika kalian lewat awrad itu dapat merasakan kehadiranku maka satu saat kelak kalian akan merasakan kehadiran hadrath Abu Bakar ash-Shiddiq, yang mewariskan awrad rahasia itu kepadaku. Dan ujungnya, kalian akan merasakan kehadiran Dia yang mewariskan awrad rahasia itu kepada hadrath Abu Bakar ash-Shiddiq. Itu berarti, muara dari kerinduan kalian kepada aku adalah Yang Terpuji (Ahmad) yang merupakan pengejawantahan Yang Maha Terpuji (al-Hamid).�

�Dengan penjelasanku ini, hendaknya kalian sadar bahwa muara dari segala sesuatu yang terkait denganku adalah Dia, Yang Mahamutlak. Jika kalian menemukan manusia mengaku-aku sebagai pelanjut ajaranku tetapi muara daari pengakuannya itu terarah kepada dirinya pribadi, maka aku katakan bahwa dia adalah pendusta yang bakal menyesatkan manusia. Mulai sekarang ini hendaknya kalian ketahui bahwa siapa pun di antara manusia yang mengaku sebagai pengikut Syaikh Siti Jenar, Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Sitibrit, atau Susuhunan Binang, sesungguhnya gelar-gelar masyhur dari manusia bernama Abdul Jalil itu adalah tempelan sesaat yang menyelebungi makna terdalam dari jati diriku. Maksudnya, hendaknya kalian ketahui bahwa aku yang kalian ikuti sejatinya adalah pengikut Muhammad Saw., citra Kemuliaan dari Yang Maha Terpuji. Itu berarti, pengamal ajaranku yang paham dengan apa yang telah aku ajarkan tidak akan pernah membawa-bawa namaku. Mereka akan menisbatkan jalan ruhani (tarekat) yang diamalkannya kepada Allah semata. Demikianlah, kalian akan mendapati ajaranku dalam nama-nama yang dinisbatkan kepada-Nya, seperti Akmaliyyah (al-Kamal), Haqqmaliyyah (al-Haqq), Khaliqiyyah (al-Khaliq), Sattariyyah (as-Sattar), Kubrawiyyah (al-Kabir), Wahidiyyah (al-Wahid), dan sebagainya.�

�Kami memahami wejangan Kangjeng Syaikh. Tapi, apakah Kangjeng Syaikh akan benar-benar meninggalkan kami semua?� tanya Ki Wujil Kunting mengiba.

�Adakah Kehidupan di dunia ini yang tidak saling tinggal meninggalkan? Kenapakah engkau ini bertanya sesuatu yang menggelikan sepertinya engkau ini seorang anak kecil?�

�Kami tidak ingin berpisah dengan Kangjeng Syaikh. Kami rela berkorban nyawa asalkan kami tetap bersama-sama dengan Kangjeng Syaikh. Jika Kangjeng Syaikh kelak kembali kepada-Nya, kami ingin merawat dan menguburkan junjungan kami dengan tangan kami sendiri.�

Abdul Jalil tertawa. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, �Wujil � Wujil, bagaimana engkau bisa merawat dan mengubur jenasahku jika waktu kematianku saja engkau belum tahu? Apakah engkau yakin kalau aku mati lebih dulu daripada engkau? Sungguh aku minta, janganlah kepedihan membuat engkau melakukan hal-hal yang tidak benar. Jangan berandai-andai dengan masa depan. Sebab, apa yang aku ajarkan adalah kekinian. Kini. Masa depan adalah angan-angan. Masa lampau adalah kenang-kenangan. Semua akan bermakna jika ditarik ke masa kini.�

�Kami paham akan Kebenaran wejangan Kangjeng Syaikh. Kami mohon, sudilah Kangjeng Syaikh memberi kami wejangan terakhir sebelum kita saling berpisah. Sebab, kami menangkap sasmita yang sudah padukan sampaikan bahwa tidak lama lagi kita akan saling berpisah. Apakah yang sebaiknya kami lakukan, o Kangjeng Syaikh?� kata Ki Wujil Kunting sambil memegangi jubah Abdul Jalil.

�Ingat-ingatlah selalu bahwa dunia yang kita diami ini adalah kehinaan (danayah), rendah (daniyyun), bendawi (dunyawiyyun), dekat (adna). Kita semua di dunia ini hanya tinggal untuk sementara. Singkat. Kita semua tinggal di dunia ini sekadar menjalani �hukuman� yang diwariskan leluhur kita: Adam a.s. yang terperosok ke jurang kefanaan insani karena nafsu (hawa). Kita semua sejatinya berada di dalam kerangkeng nafsu. Tetapi, jika saatnya untuk pembebasan datang, kita semua bakal kembali kepada-Nya. Lantaran itu, tugas utama kita sebagai anak keturunan Adam adalah mencari jalan pembebasan untuk melepaskan diri dari kerangkeng nafsu. Agar kita dapat bebas dan kembali kepada-Nya sebagai manusia merdeka yang ridho dan diridhoi.�

�Hendaknya kalian camkan bahwa dengan berjuang membebaskan diri dari kerangkeng nafsu, dan jika kalian berhasil, maka kalian akan menjadi manusia baru. Laksana kupu-kupu yang terbebas dari kepompongnya, begitulah kalian akan lahir sebagai manusia baru yang disebut adimanusia: insan kamil, yakni citra wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-Ardh) sebagaimana dikehendaki-Nya. Hendaknya kalian ingat-ingat dan kalian pusakakan wejangan terakhirku ini: bahwa mereka yang disebut adimanusia bukanlah manusia raksasa yang memiliki kekuatan tubuh dan akal luar biasa, bukan pula manusia yang memiliki kemampuan menaklukkan dunia dengan kekuasaan tubuh dan akalnya itu. Sebaliknya, adimanusia adalah manusia-manusia yang sudah merdeka dari kerangkeng nafsunya dan mencapai tahap Tauhid tertinggi dalam mengenal Sang Pencipta dan mengejawantahkan citra kekhalifahan-Nya.�

�Aku pesankan dan aku wanti-wanti kepada kalian bahwa akan datang Dajjal dan bala tentaranya yang akan membalikkan kiblat penilaian umat manusia tentang adimanusia sebagaimana yang aku ajarkan. Dajjal dan balatentaranya akan menyatakan bahwa adimanusia adalah manusia yang memiliki kekuatan tubuh luar biasa akal cerdas tak tertandingi, harta benda berlimpah, pengetahuan ilmu duniawi mengagumkan, senjata-senjata pemusnah dahsyat, dan penakluk bangsa-bangsa lemah di dunia. Sungguh, aku katakan bahwa penilaian Dajjal tentang adimanusia itu adalah sesat. Sesat. Seribu kali sesat. Jika kalian mengikutinya maka kalian pun akan sesat pula.�

�Aku beri tahukan kepada kalian tentang makna adimanusia dalam pandangan Sang Pencipta melalui Sabda Suci-Nya yang termaktub dalam Kitab Suci al-Qur�an, yang jika ditafsirkan kira-kira begini maknanya:

�Ketahuilah, o manusia, di antara puak bangsa-bangsa manusia, yang paling mulia adalah manusia yang paling takwa (QS.al-Hujurat: 13). Siapakah manusia takwa itu? Dia adalah manusia yang selalu mengingat Aku, meski keteguhan jiwanya digoyahkan setan dan diperosokkan kawan-kawan dekatnya agar tersesat (QS.al-A�raf: 201 � 202). Dia hanya takut kepada Aku (QS.al-Baqarah: 41). Dia mentauhidkan Aku dan takut hanya kepada-Ku (QS.al-Nahl: 2). Dia hanya menyembah Aku dan takut hanya kepada-Ku (QS.al-A�raf: 65). Itulah adimanusia. Insan kamil. Itulah manusia-manusia unggul yang di mana pun berada selalu bersama Aku (QS.al-Baqarah: 194; at-Taubah: 123). Dia selalu berada di dalam lindungan-Ku (QS.al-Jatsiyah: 19). Dia tidak akan dihisab atas dosa-dosanya (QS.al-An�am: 69). Dia kelak akan menemui Aku (QS.al-Baqarah: 223).�

�Sekarang, jelaslah bagi kalian bahwa adimanusia yang aku maksudkan adalah manusia-manusia merdeka yang sudah berhasil membebaskan diri dari kerangkeng nafsunya. Itulah manusia-manusia yang sudah mentauhidkan Allah dalam makna yang sebenarnya. Itulah manusia-manusia unggul. Insan kamil. Manusia sempurna. Ingatkah kalian akan kisah Fir�aun, maharajadiraja Mesir yang memiliki kekuatan tubuh dan akal yang luar biasa, kekayaan tak terhitung, istana-istana megah dan mewah, bala tentara perkasa yang menakutkan, senjata-senjata pembunuh yang mematikan, kehormatan, dan kemuliaan atas bangsa-bangsa manusia? Ingatkah kalian akan Fir�aun yang disembah manusia? Meski ada yang mengatakan bahwa Fir�aun adalah adimanusia yang berkuasa di zamannya, aku katakan sebaliknya bahwa Fir�aun bukan adimanusia. Dia bukan adimanusia. Sebab, dia adalah seorang manusia yang terpenjara di dalam kerangkeng nafsunya. Jiwa Fir�aun adalah jiwa cacing yang menggeliat di dalam lumpur duniawi yang menjijikkan.�

�Sebaliknya, aku katakan kepada kalian, bahwa yang disebut adimanusia di zaman itu bukanlah Fir�aun dan bukan pula dukun-dukun sakti yang mengitarinya. Adimanusia pada zaman itu adalah Musa a.s.: laki-laki yang tidak punya rumah, tidak punya harta benda, tidak punya pangkat dan kedudukan, tidak punya tentara, tidak punya apa-apa. Manusia hanya mengenal dia sebagai salah seorang pemuka budak Bani Israil. Musa itulah adimanusia pada zamannya. Sebab, dia adalah pemuka di antara manusia-manusia merdeka yang dipilih-Nya. Musa adalah manusia yang takwa dan bertauhid kepada-Nya.�

�Ingatkah kalian akan detik-detik ketika Islam disampaikan Muhammad Saw. di jazirah Arabia? Ingatkah kalian tentang kekuasaan-kekuasaan duniawi yang mengitari jazirah Arabia saat itu? Siapakah manusia yang saat itu tidak mengenal keagungan an-Najasi Maharajadiraja Habasyah? Siapakah manusia yang tidak mengenal kebesaran Heraklius Maharajadiraja Rum? Siapakah manusia yang tidak mengenal kehebatan Chosroes II Maharajadiraja Persia? Siapakah manusia yang saat itu tidak mengenal para maharajadiraja yang kuat, cerdas, berlimpah harta benda, berkekuatan luar biasa, berpasukan mengerikan yang membawa senjata penghancur? Siapa manusia zaman itu yang tidak mengenal kehebatan mereka?�

�Tapi, aku katakan kepada kalian bahwa mereka para maharajadiraja itu bukanlah adimanusia yang aku maksudkan. Mereka hanyalah penguasa-penguasa duniawi yang terbelenggu dan terpenjara di dalam kerangkeng nafsunya. Jiwa mereka adalah jiwa hewan melata yang tak mampu melepaskan diri dari lumpur duniawi. Sedang adimanusia pada zaman itu yang aku maksudkan, tidak lain dan tidak bukan adalah Muhammad Saw.: laki-laki buta huruf dari padang pasir, tidak punya rumah, tidak punya harta benda, tidak punya pangkat dan kedudukan duniawi, tidak punya apa-apa yang bersifat duniawiyah, yang tinggal di masjid dan ketika wafat tidak meninggalkan secuil pun warisan harta. Dialah adimanusia. Insan kamil. Manusia sempurna. Manusia Yang Terpuji (Muhammad) citra pengejawantahan Yang Maha Terpuji (al-Hamid). Dialah, sang guru pengajar Tauhid, yang paling tinggi ketakwaannya di hadapan Allah. Dialah adimanusia terbesar sepanjang zaman. Dialah manusia Tauhid yang dipilih-Nya.�

�Dengan uraianku ini, jelaslah sudah bahwa sebagai manusia-manusia yang bakal menjadi adimanusia, hendaknya kalian tidak menimbun kesadaran Tauhid kalian dengan benda-benda duniawi yang menjijikkan. Kalian adalah para pejuang pembebasan yang akan menjadi orang-orang merdeka. Lantaran itu, jika ada di antara manusia ingin membangun kerajaan surga di dunia, hendaknya kalian jauhi mereka. Sebab, mereka itu sejatinya sedang membangun neraka bagi manusia dirinya dan manusia lain. Mereka sedang membangun kerangkeng-kerangkeng nafsu yang membahayakan manusia. Jika kalian dapati para pemuja duniawi sudah berkuasa dan merajalela dengan kejahatannya, hendaknya kalian hijrah! Hijrah! Hijrahlah kalian sebagaimana diteladankan Muhammad Saw.! Tinggalkan kediamanmu. Bumi Allah sangat luas. Di mana pun kalian berada dan kapan pun kalian hidup, selama kalian bertauhid kepada-Nya dan berjuang keras membebaskan diri dari kerangkeng nafsu-nafsu, maka kalian akan menjadi selamat sentosa menjadi adimanusia. Kalian akan selalu bersama-Nya.�

Read More ->>

TIUPAN BADAI KEMATIAN

Tiupan Badai Kematian

    Sadar dirinya sudah memegang kekuasaan di Nusa Jawa, meski hanya kekuasaan agama, Tranggana merasakan semangatnya terbang ke angkasa bersama ular hitam bermahkota emas yang bersemayam di relung jiwanya. Dari atas ketinggian hasratnya yang melayang-layang laksana burung alap-alap itu, ia menyapukan pandangan ke setiap sudut Kehidupan di wilayah kekuasaannya. Saat itulah ia menyaksikan secercah cahaya harapan yang membentang di garis cakrawala, yang menurut perhitungannya dapat digunakan untuk membangun kekuatan baru yang akan memperkokoh kuasa dan wibawanya sebagai sayidin panatagama di Nusa Jawa. Secercah harapan yang disaksikannya itu adalah keberadaan orang-orang terbawa badai, yaitu orang-orang yang terusir dari negeri kelahiran akibat perang dan mereka hidup tanpa harapan di rantau. Orang-orang terbawa badai itu pasti akan memasrahkan kesetiaan mutlak kepadanya jika ia bisa memberikan makna bagi kehidupan mereka. Sebab, mereka dipastikan akan setia mutlak kepada siapa saja yang bisa memberi makna dan harapan, sebagaimana kesetiaan Karna kepada Duryudana, raja Hastina, yang mengangkatnya sebagai raja Angga. Ya, kesetiaan mutlak Karna, anak kusir tanpa derajat dan tanpa pangkat yang tak punya harapan, yang baru beroleh makna hidup dan kehormatan setelah Duryudana mengangkatnya menjadi raja.

Salah satu langkah nyata Tranggana untuk membangun kekuatan yang mengukuhnak kuasa dan wibawanya adalah ia tidak segan mengawinkan sauradi-saudari, kemenakan, dan putera-puterinya dengan putera-puteri adipati-adipati, guru-guru suci, kepala-kepala marga, pemuka-pemuka penduduk berpengaruh. Setelah menikahkan adiknya yang bernama Nyi Mas Ratu Winong dengan Pangeran Arya Terung, Tranggana menikahkan lagi dua orang adiknya yang lain, Nyi Mas Ratu Pembayun dan Nyi Mas Ratu Nyawa, dengan dua orang putera Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati dari istri Syarifah Bahgdad, yaitu Pangeran Jayakelana dan Pangeran Bratakelana. Syarif Hidayatullah yang merupakan anggota Majelis Wali Songo, sekaligus menantu yang mewakili Ratu Caruban Sri Mangana, menyatakan dukungan kepadanya. Itu berarti,Tranggana memiliki tiga kekuatan pendukung, yaitu Kerajaan Caruban Larang, Kerajaan Pasir, dan Kadipaten Sengguruh. Ia juga nikahkan seorang puterinya yang baru berusia sepuluh tahun, Nyi Mas Ratu Aria Japara, dengan seorang nakhoda asal negeri Cina bernama Thio Bin Tang. Dengan mengambil menantu seorang nakhoda Cina berpengaruh maka penduduk Cina pelarian di Nusa Jawa akan menjadi pendukungnya. Ia yakin, lewat menantunya itu, para pemukim Cina yang terhempas badai bakal menjadi abdi-abdinya yang setia.

Selain melalui pernikahan, Tranggana menempuh langkah lain untuk memperkuat pengaruh, yaitu mengangkat sejumlah guru tarekat yang memiliki banyak pengikut sebagai penasihat-penasihat utama di kesultanan. Mereka itu adalah Susuhunan Rajeg, Syaikh Maulana Maghribi, Susuhunan Mantingan, Syaikh Dara Putih, Susuhunan Udung, Syaikh Khwaja Zainal Akbar Badakhsi, Syaikh Najmuddin Bakharsi, dan Syaikh Abdullah Sambar Khan. Mereka dianugerahi tanah perdikan yang luas untuk mengembangkan ajarannya. Murid-murid terbaik para guru tarekat diangkat menjadi nayaka kesultanan yang akan bekerjasama dengan rekan-rekannya mengatur tata kehidupan beragama penduduk Nusa Jawa. Mereka diangkat sebagai kali (qadhi), ketib (khatib), penghulu, merbot, dan imamuddin yang merupakan pejabat keagamaan di tingkat pusat sampai desa. Lalu, dengan alasan demi tersebarluasnya dakwah Islam dan tertatanya Kehidupan beragama di Nusa Jawa, ia mengirim nayaka-nayaka keagamaannya ke kadipaten-kadipaten di luar Demak untuk menjalankan tugas membantu para adipati menata Kehidupan beragama di wilayah kekuasaan masing-masing. Melalui nayaka-nayaka keagamaannya itu ia dapat memantau dan mengawasi semua gerak-gerik para adipati di pesisir.

Sementara, untuk memperoleh dukungan lebih kuat dari orang-orang terbawa badai, Tranggana menganugerahkan tanah-tanah perdikan kepada alim ulama di antara mereka, terutama para alim yang memiliki banyak pengikut di antara penduduk setempat. Mereka diberi kewenangan untuk menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk di Nusa Jawa. Kepada mereka, Tranggana menganugerahi gelar-gelar kebangsawanan seperti Kyayi Ageng, Kyayi Anom, Kyayi, dan Raden. Tranggana berpikir, dengan gelar-gelar kebangsawanan itu mereka akan menjadi abdi-abdi setianya. Sebab, ia telah mengangkat derajat mereka dari kedudukan wong kabur kanginan menjadi bangsawan yang dihormati.

Anugerah tanah perdikan dan gelar kebangsawanan dari Tranggana disambut gembira oleh para alim di antara orang-orang terbawa badai itu. Namun demikian, karena yang tinggal lebih dahulu di Demak adalah alim ulama asal Campa dan Kerala yang sudah memiliki pengaruh cukup kuat di kalangan penduduk bumi putera, maka merekalah yang paling beruntung dengan kebijakan tersebut. Di antara mereka yang beruntung itu adalah alim ulama yang kelak dikenal penduduk dengan nama terhormat: Kyayi Ageng Kali Podang, Kyayi Ageng Kaliputu, Kyayi Ageng Germi, Kyayi Ageng Medini, Kyayi Ageng Panawangan, Kyayi Ageng Hujung Semi, Kyayi Ageng Tajug, Kyayi Telingsing, Kyayi Sun Ging, Kyayi Anom Martani, Raden Ketib Anom Maranggi, dan Raden Pengulu Terkesi.

Ketika dukungan terhadap kedudukan Tranggana sebagai sayidin panatagama semakin kuat, terjadi langkah lanjutan untuk memperkuat kedudukan para pendukung tersebut. Tanpa ada yang menduga, tiba-tiba Tranggana membuat kebijakan aneh: memberi kebebasan kepada para guru tarekat dan para alim yang memiliki pengikut untuk membentuk satuan-satuan bersenjata yang anggotanya berasal dari pengikut-pengikut mereka. Lebih aneh lagi, Tranggana memberikan tugas khusus kepada pasukan Suranata, satuan pengawalnya yang bersenjata tombak, untuk melatih satuan-satuan bersenjata bentukan para guru tarekat dan para alim tersebut. Para petani, perajin, tukang, pedagang kecil, penyadap enau, dan nelayan berbondong-bondong ke kediaman para alim panutannya untuk bergabung ke dalam satuan-satuan bersenjata tombak yang memiliki tugas utama melindungi guru suci dan alim ulama panutan mereka. Dalam waktu singkat, di tlatah Demak bermunculan satuan-satuan bersenjata tombak di pesantren-pesantren, padepokan-padepokan, dan masjid-masjid. Satuan-satuan itu secara khusus dilatih dan dikoordinasi oleh pasukan Suranata, pengawal sultan.

Di tengah gemuruh bangkitnya satuan-satuan bersenjata itu, Tranggana menancapkan bayangan kekuasaannya di pedalaman Nusa Jawa dengan mengangkat Raja Pasir Prabu Banyak Belanak sebagai panglima Demak di pedalaman dengan gelar Senapati Mangkubhumi dan menghadiahinya seorang selir asal Kadipaten Pati. Selir itu adalah puteri almarhum Adipati Pati Kayu Bralit yang bersama saudara lelakinya, Raden Darmakusuma, melarikan diri dan meminta perlindungan ke Demak. Raja Pasir ditugaskan menjalankan dakwah Islam di pedalaman, sekaligus menggalang kekuatan dengan adipati-adipati di pedalaman yang belum tergabung dalam persekutuan adipati pesisir. Lalu, sebagaimana di Demak, di Pasir pun dibentuk satuan-satuan bersenjata tombak yang dipimpin alim ulama yang dikirim dari Demak.

Sementara, untuk memperkuat kedudukan di luar pesisir utara Jawa, Tranggana berusaha menancapkan kuasa dan wibawanya di ujung timur Madura di Kadipaten Sumenep. Menurut kabar, dengan alasan yang tidak masuk akal dan terkesan dibuat-buat, Pangeran Kanduruwan, adik tiri Tranggana, tiba-tiba mengaku menjalankan titah Ratu Stri Maskumambang, Yang Dipertuan Japan yang sudah tua, untuk menggempur Kadipaten Sumenep dengan didukung pasukan dari Wirasabha dan Japan. Pangeran Kanduruwan datang ke Sumenep untuk menghukum adipati Sumenep yang telah dianggap menolak keinginan nafsu syahwat Ratu Japan yang sudah tua itu.

Saat itu yang menjadi adipati Sumenep adalah Aria Wanabaya, putera Patih Sumenep, Aria Banyak Modang. Aria Wanabaya yang anak patih itu dapat menjadi adipati karena menikahi puteri Adipati Sumenep Aria Wigananda. Karena Aria Wigananda tidak memiliki putera maka saat ia meninggal kedudukannya digantikan sang menantu, Aria Wanabaya. Lalu, untuk memperkuat kekuasaannya, Aria Wanabaya mengangkat saudara kandungnya menjadi patih Sumenep dengan gelar: Tumenggung Tan Kondur. Kemudian untuk mensahkan kekuasaannya, Aria Wanabaya meminta perkenan Ratu Stri Maskumambang di Japan yang dianggap penerus Majapahit. Namun, tindakan Aria Wanabaya itu malah memunculkan masalah dengan Pangeran Kanduruwan, yang merasa lebih berhak atas Kadipaten Sumenep dibanding Aria Wanabaya, karena kakek buyutnya dari pihak ibu adalah raja Sumenep, Kuda Panolih. Adik tiri Tranggana itu menganggap Aria Wanabaya tidak lebih berhak menjadi adipati Sumenep dibanding dirinya yang keturunan Kuda Panolih.

Menurut gari nasab, Raden Ali Fida� yang termasyhur disebut Susuhunan Padusan, putera Raden Ali Murtadho Raja Pandhita Gresik, kakek Pangeran Kanduruwan dari pihak ibu, adalah menantu Kuda Panolih. Raden Ali Fida� menikahi puteri tertua Kuda Panolih, kakak kandung Aria Wigananda. Dari pernikahan itu lahir Nyi Malaka, ibunda Pangeran Kanduruwan, yang setelah dinikahi Raden Patah Adipati Bintara tinggal di Randu Sanga. Nyi Malaka adalah kemenakan Aria Wiraganda. Dengan demikian, ketika Aria Wiraganda meninggal tanpa meninggalkan keturunan laki-laki maka Pangeran Kanduruwan merasa lebih berhak atas takhta Sumenep dari pada anak patih. Namun, untuk mempersingkat jalan menuju Kadipaten Sumenep, Pangeran Kanduruwan menggunakan nama besar Ratu Japan yang masih dipatuhi di pedalaman Jawa dan Madura. Demikianlah, Pangeran Kanduruwan menggempur Aria Wanabaya. Adipati Sumenep itu terbunuh di purinya (kelak dikenal penduduk dengan nama Pangeran Sedeng Puri). Segera setelah Pangeran Kanduruwan menjadi adipati di Sumenep, ia menyatakan dukungan kepada kekuasaan Sultan Demak.

Setelah menangkap sasmita bahwa kilasan penglihatan batinnya atas citra Sang Maut yang memanjangkan bayang-bayang-Nya di langit Demak bakal mewujud dalam kenyataan, Abdul Jalil buru-buru menyingkir dari bumi sengketa yang sudah mulai basah oleh siraman minyak yang ditumpahkan Tranggana. Ia ingin menjauh dari tempat yang akan terbakar oleh amukan api ambisi sultan baru itu. Ia tidak ingin menyaksikan citra bayangan Sang Maut menebar Kebinasaan di depan matanya, tanpa sedikit pun ia boleh melakukan sesuatu. Ia tidak ingin menyaksikan manusia-manusia tak bersalah melolong-lolong ketakutan, berlari kebingungan menghindari kejaran makhluk-makhluk ganas berdarah dingin yang membiaskan bayangan wajah Sang Maut. Ia tidak ingian menyaksikan beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu bangsa jin sambil tertawa-tawa menyantap manusia-manusia tak berdaya. Ia tidak ingin menyaksikan tangan-tangan yang menggapai-gapai ke arahnya meminta tolong tanpa sedikit pun ia mampu memberikan pertolongan. Namun, semua keinginannya untuk menghindar dari apa yang sudah dikemukakan Ahmad at-Tawallud itu ternyata hancur. Saat itu tanpa sengaja ia menyasikan kilasan penglihatan batin yang lain lagi.

Wajah Sang Maut terpampang mengerikan di balik awarn kelabu yang bergumpal-gumpal dengan seringai wajah mengerikan. Citra wajah Sang Maut tampak menaungi bayangan kelam-Nya yang berkeliaran dalam wujud makhluk-makhluk bertubuh api yang melayang-layang dan turun ke permukaan bumi merasuki jiwa manusia. Lalu, mausia-manusia yang jiwanya sudah kerasukan makhluk-makhluk bertubuh api itu tiba-tiba menjadi garang. Mereka menyemburkan bara api dari mulutnya. Seiring gerakan manusia-manusia kerasukan itu, terlihatlah gumpalan asap hitam menyelimuti permukaan bumi yang dikobari nyala api yang membakar hangus jiwa manusia-manusia tak berdaya.

Usai menyaksikan kilasan penglihatan batin yang mencengangkan itu, Abdul Jalil memutuskan untuk menunda kepergiannya meninggalkan kuta Demak. Namun, belum lagi ia beranjak jauh, ia sudah didatangi orang-orang suruhan Gagak Cemani, yang menyampaikan pesan bahwa saat itu terjadi peristiwa-peristiwa janggal di Kadipaten Demak.

Di Kadipaten Demak, dalam beberapa hari belakangan muncul kasak-kusuk yang membicarakan kebiasaan-kebiasaan penduduk sekitar Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang yang dianggap tidak lazim, yaitu memperbincangkan masalah agama. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja berkembang anggapan bahwa kebiasaan itu merupakan sesuatu yang sangat tidak pantas. Melanggar tabu. Melanggar hukum. Padahal, sejak masa Sultan Abdurrahman Suryan Alam, kebiasaan penduduk membincang masalah agama tidak diganggu-gugat, malah dianjurkan demi cepatnya perkembangan agama Islam, sehingga bukan hal aneh ketika orang melihat penduduk membincang masalah agama di surau, tajug, bale banjar, bahkan di dangau di tengah sawah. Di antara penduduk yang paling giat membincang masalah agama adalah mereka yang tinggal di desa-desa yang terpengaruh ajaran Syaikh Lemah Abang.

Namun, kebiasaan yang sudah menguat itu tiba-tiba dianggap sebagai sesutau yang melanggar tabu dan hukum. Belakangan, sultan yang baru, Tranggana mengubah kebijakan ayahandanya itu. Tranggana kelihatannya sangat dipengaruhi alim ulama Mappila asal Kerala yang menekankan taklid buta kepada pengikutnya sehingga menganggap kebiasaan warga yang biasa membincang masalah-masalah agama sebagai sesuatu yang berbahaya. Tampaknya, para alim Mappila yang didewakan pengikutnya sebagai wali Allah itu merasa terancam dengan daya kritis warga. Selain itu, Tranggana sendiri kelihatannya tidak suka dengan sikap kesederajatan yang ditunjukkan oleh warga pengikut Syaikh Lemah Abang di Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang. Sejak terpuruk menjadi sultan yang hanya mengurusi masalah agama, ia mendapat banyak laporan tentang perilaku penduduk di sekitar Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang yang tidak sekadar membincang agama, tetapi juga masalah pemilihan sultan dan adipati-adipati. Seluruh penduduk yang tinggal di sekitar Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang, menurut laporan, mendukung kepemimpinan Adipati Hunus yang naik takhta karena dipilih. Semua laporan itu makin mengkhawatirkan Tranggana sebab dapat menjadi anasir penentang kekuasaannya kelak. Rupanya, pengaruh ajaran Syaikh Lemah Abang telah meracuni penduduk, termasuk saudaraku, kata Tranggana dalam hati.

Kemarahan Tranggana makin memuncak ketika alim ulama Mappila yang sejak tingga di negeri asalnya suka menjilat kepada penguasa, memanas-manasinya dengan perilaku penduduk yang sudah teracuni oleh ajaran Syaikh Lemah Abang. Mereka yang merasa terancam oleh daya kritis penduduk Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang itu, dengan alasan demi kepentingan kekuasaan dan dukungan dari alim ulama, memohon agar Tranggana membuat keputusan untuk melarang ajaran Syaikh Lemah Abang. Namun, Tranggana yang memahami masalah pemerintahan tidak mengabulkan permohonan alim ulama Mappila tersebut, dengan alasan waktu yang belum tepat dan jaringan persaudaraan para pengikut Syaikh Lemah Abang yang sangat luas dan kuat. Tranggana berjanji jika telah sampai waktu yang tepat, pastilah Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang akan ditundukkan baik dengan siasat pendekatan kekeluargaan maupun dengan kekerasan.

Ternyata, bukan hanya Tranggana yang dipengaruhi alim ulama Mappila. Adipati Hunus pun dipengaruhi pula oleh mereka yang diam-diam sudah menanamkan pengaruh kuat di kalangan penduduk pesisir lewat tradisi-tradisi yang sarat kurafat dan takhayul. Mereka berusaha membakar semangat jihad Adipati Hunus dengan dalil-dalil agama dan dongeng-dongeng takhayul Kerala, dengan tujuan agar sang pemegang kekuasaan atas angkatan perang Jawa itu mengambil tindakan tegas menggempur bangsa �kafir� Portugis. Adipati Hunus sendiri yang sebenarnya sudah mempersiapkan sebuah serangan ke Malaka, karena saudagar-saudagar Japara yang berniaga di bandar tersebut barang empat tahun lalu telah dihina oleh Sultan Malaka, seperti api disiram minyak saja menyikapi hasutan alim ulama Mappila itu. Tanpa berpikir panjang, ia berjanji secepatnya akan menggempur Portugis di Malaka dan kalau berhasil akan dilanjutkan menggempur Cochiza dan Kozhikode.

Sesungguhnya, tak berbeda dengan Tranggana, Adipati Hunus diam-diam memperkuat kedudukannya sebagai raja Jawa untuk mengimbangi langkah-langkah Tranggana dalam memperkuat kekuasaan. Beberapa saat ketika ia mendengar Tranggana menikahkan saudari-saudari iparnya dengan putera-putera Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati, buru-buru ia meminang puteri Syarif Hidayatullah yang lain dari pernikahan dengan Nyi Tepasari, ia berpikir, selain menjadi menantu seorang guru suci yang masyhur di Caruban, ia juga menjadi cucu menantu Menak Lampor Adipati Tepasana, sehingga kekuatan adipati-adipati di wilayah Blambangan yang umumya masih kafir akan berpihak kepadanya. Meski Yang Dipertuan Caruban Sri Mangana menyatakan dukungan kepada Tranggana, dengan menikahi puteri Syarif Hidayatullah yang juga menantu Sri Mangana, kedudukan Caruban akan berada di tengah-tengah jika sewaktu-waktu ia terlibat perselisihan bersenjata dengan Tranggana.

Ketika di Kadipaten Pati terjadi kemelut perebutan kekuasaan antara putera mahkota Raden Darmakusuma dan saudaranya Raden Jatikusuma, Adipati Hunus berpihak kepada Raden Jatikusuma yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya. Ia mengangkat Raden Jatikusuma sebagai adipati Pati, dengan nama Kayu Bralit II, mengikuti nama ayahandanya. Ia tidak sekadar mengangkat sahabatnya itu sebagai pejabat adipati, tetapi memperkuatnya pula dengan pasukan dari Japara. Raden Darmakusuma yang tersingkir lari ke Wirasari bersama keluarganya dan meminta perlindungan kepada sultan Demak. Adik perempuan Raden Darmakusuma inilah yang dihadiahkan Tranggana sebagai selir Raja Pasir Prabu Banyak Belanak.

Sementara, melalui Raden Muhammad Yusuf Adipati Siddhayu, yang merupakan kerabatnya dari pihak ayah, Adipati Hunus menyampaikan pinangan kepada puteri Sultan Malaka. Sultan yang saat itu mengungsi di Bentam menerima baik pinangannya. Sultan Malaka sangat berharap Yang Dipertuan Japara dapat mengambil tindakan tegas terhadap Portugis di Malaka. Demikianlah, dengan bergabungnya semua kekuatan yang bakal mendukungnya � persekutuan adipati ditambah Tepasana, Pati, Malaka, dan Lawe � Adipati Hunus merasa kebesaran Majapahit di masa lampau akan dapat ditegakkan kembali sehingga ia akan menjadi raja agung yang paling besar di zamannya.

Besarnya kekuasaan yang diterima Adipati Hunus yang masih sangat muda usia itu ternyata telah mendorong sikap gegabah dan cepat bangga dirinya. Dukungan dari kerabat dan sahabat-sahabat membuatnya besar kepala. Hari-hari dari kesibukannya memperkuat armada tempur nyaris tak pernah sepi dari puja dan puji tentang kehebatan pasukannya yang paling perkasa di dunia. Ia bangga dengan kapalnya yang dilengkapi meriam-meriam besar yang diikat di geladak kapal, tanpa peduli dengan laporan-laporan tentang bentuk kapal-kapal Portugis yang selalu unggul dalam pertempuran laut. Hari-hari dilewatinya dengan semangat bertempur yang menyala-nyala. Semangat tempurnya makin menyala dan berkobar-kobar ketika seorang Portugis muslim bernama Khwaja Zainal Abidin, yang sangat ahli dalam membuat dan mengoperasikan meriam, yang bekerja di galangan kapal Demak, diperbantukan Tranggana kepadanya untuk membantu perbaikan mutu pengecoran meriam di Japara. Meski awalnya ia curiga dan khawatir dengan orang kiriman Tranggana itu, pada akhirnya ia malah sangat mempercayainya. Bahkan, Khwaja Zainal Abidin yang memiliki nama asli Francisco Barbosa diangkat sebagai penasihat utamanya. Atas nasihat Khwaja, ia memerintahkan kapal-kapal perang Japara yang akan menggempur Malaka dilapisi bahan besi.

Di tengah kesibukan Pangeran Hunus mempersiapkan kekuatan untuk menggempur Malaka dan maraknya kasak-kusuk yang memasalahkan kebiasaan penduduk membincang agama, Tranggana tanpa alasan jelas mendadak memerintahkan para nayaka keagamaannya untuk menertibkan penduduk di kuta Demak yang mengajar agama maupun yang memperbincangkan masalah-masalah agama tanpa wewenang. Lalu, penangkapan-penangkapan pun dilakukan terhadap penduduk yang dianggap bersalah karena mengajarkan agama tanpa izin dari nayaka keagamaan yang ditunjuk sultan. Penangkapan juga dilakukan terhadap penduduk yang kedapatan memperbincangkan masalah agama tanpa melibatkan alim ulama yang ditunjuk sultan. Mereka yang ditangkap itu ada yang dikurung, dicambuk, diusir dari kampung, bahkan beberapa orang di antaranya tak pernah kembali ke desanya.

Ketika armada gabungan Japara, Demak, Pati, Tuban, Samarang, Siddhayu, Rembang, Tetegal, Kendal, dan Tedunan bergerak dan beriringan dari pelabuhan Japara ke barat dengan tujuan utama Malaka, di tengah hingar-bingar penduduk yang mengelu-elukan kegagahan dan kehebatan para pahlawan yang akan menghancurkan kaum kafir, Abdul Jalil yang terpusar aliran manusia di sepanjang pantai tiba-tiba menyaksikan lagi citra bayangan wajah Sang Maut menaungi langit Demak. Ia menangkap sasmita, bayangan wajah Sang Maut yang mengintai di balik gumpalan awan itu tidak lama lagi akan turun ke permukaan bumi, laksana kilatan halilintar yang menyambar-nyambar dalam wujud badai Kematian yang mengerikan.

Penglihatan batin yang berulang-ulang ditangkap Abdul Jalil, ternyata mewujud dalam kenyataan dua tiga hari setelah keberangkatan armada gabungan tersebut. Ketika semua ksatria, pahlawan, pendekar, dan prajurit yang berada di atas kapal-kapal itu sedang dibakar semangat tempur untuk menghalau orang-orang Peranggi (Portugis) dari Malaka, di tengah warga yang masih membincang keperkasaan kapal-kapal raksasa yang dilapisi besi dan dilengkapi meriam-meriam besar, di saat semua orang memuji keagungan dan kebesaran Adipati Hunus Sinuhun Natapraja Amir al-Mukminin Senapati Jimbun Sabrang, penduduk kuta Demak justru melihat iring-iringan barisan orang berjubah putih mengibarkan panji-panji putih dan bersenjata tombak bergerak keluar dari kuta Demak. Lalu, seperti kawanan hewan buas haus darah yang kelaparan, iring-iringan demi iring-iringan barisan putih itu menyebar dan berkeliaran menuju desa-desa di tlatah Demak, terutama desa-desa yang terletak tidak jauh dari Randu Sanga, kediaman Pangeran Panggung.

Ketika sampai di ujung desa-desa yang dituju, alim ulama yang memimpin iring-iringan pasukan bertombak itu menghentikan langkah tepat di jalan utama desa. Kemudian, dengan suara lantang mereka berteriak keras menyitir ayat-ayat al-Qur�an, �Sesungguhnya, agama yang diridhoi di sisi Allah adalah Islam (QS. Ali Imran: 19). Barangsiapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidak akan diterima daripadanya (QS. Ali Imran: 85). Sebab itu, orang-orang yang mengaku beragama Islam tetapi masih mencari-cari tafsiran lain sehingga menjadikan Islam bukan Islam, akan sia-sialah usahanya itu. Orang muslim semacam itu sesungguhnya telah murtad karena membuat agama baru. Dan, tidak ada hukuman paling tepat dari orang-orang yang murtad kecuali Kematian.�

Seiring berakhirnya suara sang alim, terdengar suara gemuruh orang-orang meneriakkan takbir, mengagungkan kebesaran Allah, sambil mengacung-acungkan tombak. Disertai pekikan perang sahut-menyahut, iring-iringan barisan seba putih itu bergerak cepat dahulu-mendahului memasuki desa. Suara derap langkah dan pekikan yang membelah ketenangan mengejutkan penduduk. Semua mata diarahkan pada suara gemuruh. Semua mata pun membelalak ketika menyaksikan peristiwa tak tersangka-sangka yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan: tombak-tombak menghambur, mata-mata terbelalak, pedang-pedang berkelebat, mulut-mulut terngaga, tangan-tangan menggapai ke atas, leher-leher tersembelih, darah semburat ke mana-mana, dada-dada berlubang, kepala-kepala bergelindingan, serta tubuh-tubuh bertumbangan di atas bumi di tengah jerit Kematian dan lolongan ketakutan. Para alim dengan satuan-satuan bersenjata tombak, abdi setia Sultan Tranggana, sedang menjalankan tugas suci melakukan penertiban terhadap penduduk yang telah menyelewengkan agama, menghina alim ulama, membangun agama baru, murtad dari agama. Demikian kabar yang tersebar dari mulut ke mulut yang seketika menyulut rasa takut setiap orang.

Rupanya, setelah merasa waktu yang ditunggunya tiba, Tranggana, dengan tindakan yang sangat tidak terduga, menjulurkan tangan kekuasaannya untuk memperkukuh kuasa dan wibawanya sebagai sayidin panatagama. Para pemuka agama yang mengajar agama tanpa izin dan penduduk yang suka membincang masalah agama tanpa melibatkan alim ulama didatangi oleh satuan-satuan bersenjata tombak yang dipimpin alim ulama utusan sultan. Mula-mula para alim itu berusaha menggiring mereka untuk mengiblatkan kesetiaan hanya kepada sultan Demak. Para pemuka agama yang menerima akan diberikan izin mengajar dan diangkat menjadi abdi setia sultan dan beroleh hadiah-hadiah. Sementara, mereka yang menolak atau mereka yang dinilai masih menduakan kesetiaan kepada selain sultan dikenai tuduhan-tuduhan berat, seperti mengajarkan agama tanpa izin, menyelewengkan agama, mengikuti paham sesat, memberikan pelajaran agama yang berbahaya kepada umat, berseberangan dengan paham dan madzhab resmi yang dianut sultan, bahkan murtad. Para pemuka agama yang tidak menduga bakal diserang oleh orang-orang bersenjata itu tidak memiliki pilihan lain kecuali pasrah dan menerima kematian. Bagi yang sempat menyelamatkan diri, mereka menyelinap pergi meninggalkan rumah dan keluarga.

Di tengah tiupan badai Kebinasaan yang diembuskan Tranggana yang menyambar-nyambar ganas itu, Abdul Jalil berdiri tegak bagai tugu batu dengan rasa malu menguasai seluruh jiwanya. Ia benar-benar malu menyaksikan kekejaman dan kebrutalan kaki tangan Tranggana yang mengatasnamakan agama untuk melampiaskan desakan nafsu rendah kekuasaan duniawi. Ia malu dengan orang-orang yang menyandang gelar alim ulama dan bahkan guru suci, tetapi tugas utamanya merangkak di depan penguasa duniawi dan menjalankan semua tugas yang dititahkan sang penguasa kepada mereka. Ia sungguh merasakan bagaimana rasa malu itu menjalar di jiwanya dan perlahan-lahan naik dari telapak kaki menerobos ke ubun-ubun. Ia malu sungguh malu ketika menyaksikan tubuh-tubuh manusia tak bernyawa bertumbangan ke atas tanah di tengah tawa kegirangan orang-orang yang mengaku prajurit-prajurit Allah (jundullah), pengawal agama. Saat itu ia benar-benar ingin memalingkan muka dan menjauhi pemandangan terkutuk itu. Namun, ia segera sadar bahwa apa yang disaksikannya itu adalah bagian dari perjalanan dirinya menjadi �yang sendiri�, sehingga ia tidak dapat berbuat sesuatu kecuali membiarkannya begitu saja sebagai sesuatu yang sudah dikehendaki-Nya. Bahkan ia hanya memejamkan mata dan menahan napas ketika mendapat kabar bahwa Pangeran Panggung, saudara sultan yang juga muridnya, dinyatakan buron dan desa Randu Sanga diratakan dengan tanah, seluruh penghuninya diusir keluar dari wilayah Kadipaten Demak.

Abdul Jalil sadar, derajat ruhani �yang sendiri� yang sudah diperolehnya dengan perlambang nawalah dari Misykat al-Marhum, pada hakikatnya bukanlah suatu kedudukan yang utuh dan sempurna sebagai penanda kedudukannya. Citra al-fard yang disandangnya bukan sesuatu yang �sudah jadi� sebagaimana pangkat dan jabatan yang diperoleh seorang punggawa dari rajanyae ia bukan buah yang sudah matang dan tinggal dipetik di pohonnya. Ia bukan pula seperti pengantin yang menggambarkan persatuan dua orang mempelai di pelaminan. Ia bahkan bukan suatu kedudukan (maqam), keadaan (hal), tingkatan (makanah), atau derajat (martabat) yang bisa disebut �sudah mapan� secara utuh dan sempurna. Sebaliknya, kedudukan ruhani �yang sendiri� yang disandangnya hendaknya dipahami sebagai suatu proses �untuk menjadi�. Itu berarti, ia yang sudah ditempatkan pada kedudukan ruhani �yang sendiri� dengan pertanda nawalah bukanlah seseorang yang sudah menjadi �yang sendiri� dalam makna utuh, melainkan ia adalah seseorang yang sedang berada pada kedudukan �akan menjadi� atau �untuk menjadi� atau �bakal menjadi� seseorang yang menduduki derajat ruhani �yang sendiri�.

Abdul Jalil sadar, menjadi �yang sendiri� tidak berarti harus hidup mengucilkan diri meninggalkan Kehidupan duniawi dengan menjadi pertapa yang mengasingkan diri di gua-gua atau hutan-hutan. Sebaliknya, menjadi �yang sendiri� harus dimaknai sebagai proses pelepasan dari segala sesuatu yang melekat, terikat, terhubung, terjalin, atau memiliki kaitan dengan keberadaan �aku� yang sedang mengalami proses menjadi �yang sendiri�. Lantaran itu, ia merasa dituntut oleh suatu keharusan untuk menyiapkan diri menjadi �aku� yang �tunggal�, �aku� yang �terkucil�, �aku� yang tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan segala citra kemanusiaan. Ia sadar sesadar-sadarnya bahwa keakuannya sedang mengalami �proses menjadi� sesuatu yang benar-benar tunggal, sebatang kara, mufrad, tiada duanya, esa yang unik; sebuah ketunggalan yang mencerminkan citra Keberadaan Yang Tunggal Tak Terbandingkan (al-Fard).

Sadar bahwa sebagai seseorang yang sedang mengalami proses menjadi �yang sendiri� akan melampaui proses pelepasan-pelepasan segala citra diri yang masih menempel pada dirinya, Abdul Jalil pun dalam menjalani proses tersebut membiarkan semuanya terjadi sesuai kehendak-Nya. Ia membiarkan keakuannya ditinggalkan, dilepaskan, dijauhkan, dibersihkan, dan disucikan dari segala sesuatu yang bersifat �tempelan� sementara, seperti nama besar, kedudukan dan derajat ruhani, karya, jasa, amaliah, dan segala sesuatu yang menyangkut citra diri kemanusiaan kecuali Yang Tunggal Tak Terbandingkan. Ia sadar, rentang waktu yang harus ia lampaui untuk menjadi �yang sendiri� adalah rentang waktu yang sangat panjang dan tidak diketahui kapan berak hirnya. Ia sadar, selama itu pula ia akan merasakan waktu berjalan sangat lambat dengan kehilangan demi kehilangan citra dirinya, sampai semua yang �menempel� pada keakuannya habis tak tersisa.

Read More ->>

DUA PENGUASA BEREBUT KUASA

Dua Penguasa Berebut Kuasa

    Paparan Ahmad Mubasyarah at-Tawallud tentang amukan badai Kebinasaan di berbagai negeri di barat seketika mengingatkan Abdul Jalil tentang pemukiman-pemukiman baru orang-orang asing di Surabaya, Gresik, Tuban, Lasem, dan Demak yang dijumpainya selama ia berkeliling mengunjugi dukuh-dukuh larangan dan caturbhasa mandala. Rupanya, tiupan dahsyat badai Kebinasaan yang melanda bumi Persia, Khanat Bukhara, Samarkand, Ferghana, dan Afghan telah menimbulkan ketakutan penduduk di negeri tersebut. Kekalahan, kekejaman, kemenangan, kebiadaban, kegagahan, ketertindasan, kepongahan, kebencian, keberanian, kekuatan, dan ketidakberdayaan yang tumpang tindih di tengah bayangan Kematian telah mengaduk-aduk jiwa manusia-manusia yang kalah. Di tengah hiruk Kebinasaan tersebut, para pemuka pihak yang kalah, para pemimpin marga yang enggan tunduk kepada pemenang, guru-guru ruhani dan murid-muridnya yang teraniaya, dan warga yang ketakutan terpusar dalam ketidakberdayaan yang membingungkan. Mereka saling pandang dan saling bincang. Lalu, mereka bersepakat meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari keselamatan di negeri lain.

Seperti layaknya hewan yang mengetahui ke mana harus bersembunyi ketika bahaya mengancam, manusia-manusia kalah yang jiwanya didera ketakutan dan pikirannya diaduk-aduk kebingungan itu pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka, menuju negeri yang tersembunyi di balik kabut; negeri surgawi penuh harapan dengan gunung-gunungnya yang biru dilimpahi kesuburan, biji-bijian menguning membentuk bukit-bukit makanan, buah-buahan ranum menyegarkan, susu dan madu melimpah ruah, gemericik air sungai yang mengumandangkan nyanyian Kehidupan, dan senyuman ramah penghuninya yang setengah telanjang; surga dunia yang sejak zaman kuno disebut orang negeri Jawi (sebutan pelaut-pelaut Arab untuk pulau-pulau Nusantara di masa silam) yang terhampar laksana untaian permata zamrud di tengah lautan.

Ketika waktu berlalu dan cakrawala Kehidupan terbit dengan harapan baru, para pencari keselamatan itu telah terlihat bermunculan di sepanjang pantai negeri Jawi. Dengan ketakjuban luar biasa, mereka yang merasa telah sampai di negeri surgawi itu beramai-ramai tinggal di negeri harapan yang mereka impikan. Mereka mendatangi penguasa-penguasa negeri dan dengan bahasa isyarat mereka meminta izin tinggal di situ. Penduduk negeri Jawi yang terheran-heran melihat kehadiran orang-orang asing di negeri mereka, menyebut mereka sebagai wong kabur kanginan (orang-orang terbawa badai) asal negeri Rum, yaitu negeri kediaman orang-orang berwajah rupawan di negeri Atas Angin di angkasa.

Tercekam oleh paparan Ahmad at-Tawallud dan penglihatan batin yang disaksikannya di atas langit Demak, Abdul Jalil ingin mengetahui apakah gerangan yang sedang terjadi di negeri Demak sehingga memiliki kaitan dengan badai Kebinasaan yang sudah mengamuk lebih dulu di barat. Apakah kedatangan orang-orang yang terbawa badai dari negeri-negeri tersebut bakal menjadi salah satu penyebab berembusnya badai Kebinasaan di Nusa Jawa? Apakah yang sesungguhnya terjadi di Kesultanan Demak setelah mangkatnya Sultan Abdurrahman Surya Alam Senapati Jimbun Panembahan Palembang Sayidin Panatagama?

Usai mengantar guru terkasihnya, ia buru-buru menemui Gagak Cemani, seorang pengikutnya yang tinggal di kuta Demak. Ia menitipkan istri dan puteranya kepada Gagak Cemani. Setelah itu, seorang diri ia melangkahkan kaki menuju Masjid Agung Demak. Namun, saat berada di alun-alun ia merasakan hawa aneh melingkupi daerah tersebut. Tanpa sengaja ia menangkap kelebatan empat sosok bayangan hitam yang melintas cepat di depannya dalam jarak sekitar sepuluh tombak. Ia tahu bayangan yang berkelebat itu bukanlah manusia, melainkan bangsa jin. Lalu, dengan bahasa perlambang ia memanggil mereka. Keempat bayangan hitam itu berhenti seketika dan melesat berbalik arah. Ternyata, mereka adalah Ratu Rara Dhenok, jin penguasa Demak. Ia didampingi Ratu Banjaransari, jin penguasa Pengging, Sapujagad, jin penguasa Jipang, dan Barat Katiga, jin penguasa Samarang. Dengan terheran-heran, Abdul Jalil melihat keempat pemuka jin itu dan bertanya, �Ada keperluan apakah sehingga kalian yang datang dari Jipang, Pengging, dan Samarang berada di Demak?�

Ratu Banjaransari dengan sikap sangat hormat menjawab, �Kami sedang merencanakan pesta, paduka.�

�Pesta darah, maksudmu?� sergah Abdul Jalil.

�Benar Paduka.�

�Apakah itu karena ada kemelut pergantian kekuasaan di Demak?�

�Paduka sudah lebih tahu tentang itu.�

Abdul Jalil diam. Ia sadar, cepat atau lambat badai Kebinasaan akan berembus dengan dahsyat di Nusa Jawa. Ia sadar, berkuasanya dua orang raja setelah mangkatnya Sultan Abdurrahman Surya Alam akan berbuntut pesta darah para jin. Sebab, perebutan pengaruh masing-masing raja yang akan memanfaatkan apa saja yang bisa mereka gunakan untuk mengukuhkan kekuasannya. Orang-orang terbawa badai sangat mungkin akan dijadikan alat oleh salah satu di antara dua penguasa tersebut untuk memperkuat kekuasaannya. Itu berarti, embusan badai Kebinasaan yang akan memporak-porandakan keberadaan umat Islam di Nusa Jawa tidak akan dapat dihindari lagi. Para jin pasti akan mensyukuri Kebinasaan itu dalam pesta darah yang menjadi hak mereka dari zaman ke zaman.

Tengara bakal berembusnya badai Kebinasaan di Nusa Jawa makin kuat ditangkap Abdul Jalil manakala ia menyaksikan kenyataan-kenyataan yang berkaitan dengan keberadaan orang-orang terbawa badai itu, bagaikan sebuah rangkaian cerita yang sudah diatur.

Tidak lama setelah kedatangan orang-orang terbawa badai asal Persia, Khanat Bukhara, Samarkand, Ferghana, dan Afghan, datang pula orang-orang terbawa badai asal Goa dan Malaka yang negerinya jatuh ke tangan Portugis. Tidak lama setelah itu, di sepanjang pantai utara Nusa Jawa terlihat iring-iringan jung besar dan kecil yang memuat penduduk muslim asal daratan Cina. Mereka adalah saudagar-saudagar Cina yang lari dari tanah kelahiran akibat amukan badai Kebinasaan yang berembus dari istana Kaisar Langit. Menurut kabar yang beredar, berita pengkhianatan saudagar-saudagar Cina Cochizha yang menawarkan bantuan kepada Portugis yang disusul jatuhnya Malaka, telah membuat Kaisar Langit sangat murka, terutama ketika para pangeran tua asal Malaka, keturunan Sultan Mansyur Syah dan Puteri Hang Li Po, menghadap dan membenarkan kabar pengkhianatan tersebut.

Kaisar Langit yang ingin melindungi kerajaannya dari pengkhianatan kemudian mengambil tindakan tegas: mengeluarkan titah pembakaran atas semua kapal milik saudagar di seluruh negeri. Seiring bergemanya titah tersebut, berembuslah angin berapi yang makin lama makin membesar menjadi badai Kebinasaan yang menghancurleburkan semua kapal milik saudagar Cina yang berserak di sepanjang pantai daratan Cina. Tanpa peduli apakah saudagar tersebut memiliki hubungan dengan saudagar Cochizha, pembinasaan terus dilakukan dengan sangat ganas dan tak kenal ampun. Kepulan asap dan kobaran api memenuhi garis pantai Cina yang memanjang dari selatan ke utara, laksana naga api mengamuk. Celakanya, bagian terbesar saudagar Cina yang berniaga di lautan adalah muslim seperti saudagar-saudagar Cina Cochizha.

Di tengah amukan badai berapi yang tak memilih-milih sasaran itu, ikut terbakarlah perahu-perahu kecil dan sebagian rumah para saudagar. Bingung, panik, takut, dan rasa putus asa menerka jiwa orang-orang tak bersalah yang berlarian di tengah gemerecik runtuhnya benda-benda yang hangus menghitam. Bayangan wajah Kematian tampak menyeringai ganas di cakrawala negeri Cina. Ke mana pun orang berpaling, hanya bayangan wajah Kematian yang terpampang mengerikan. Sekumpulan demi sekumpulan manusia tak bersalah itu meloloskan diri dari terkaman Kematian. Dengan jung-jung dan perahu-perahu kecil yang tersisa, mereka berduyun-duyun membawa keluarganya pergi meninggalkan tanah kelahiran, mengarungi lautan menuju negeri surgawi harapan di laut selatan. Sebagaimana orang-orang terbawa badai sebelumnya, para saudagar Cina yang terusir dari negerinya itu tinggal di pantai-pantai negeri Jawi.

Di tengah hiruk menjamurnya pemukiman baru orang-orang terbawa badai itu, menyeruakah seekor ular hitam bermahkota emas dari reruntuhan jiwa pewaris kesultanan Demak: Tranggana. Penguasa yang diamuk amarah akibat kehilangan kuasa dan wibawa itu tiba-tiba merasakan tubuhnya digetari semangat berkobar-kobar ketika menyaksikan tumbuhnya hunian-hunian baru pemukim asing di wilayahnya. Ular hitam bermahkota emas yang selama bertahun-tahun selalu menggulung dalam tidur beku, tiba-tiba mendongakkan kepala dan mendorong jiwanya untuk mendaki puncak kekuasaan yang telah melemparkannya ke jurang memalukan sebagai raja tanpa mahkota. �Bangkit dan pimpinlah bangsa-bangsa yang datang terbawa angin itu untuk merebut kekuasaanmu!� titah ular hitam bermahkota emas kepada Tranggana dengan suara mendesis-desis.

Tranggana, putera Sultan Demak, belum genap dua puluh lima usianya ketika menggantikan takhta ayahandanya. Ia dikenal orang sebagai pangeran yang sangat suka mengumbar nafsu, menikmati kesenangan-kesenangan syahwat. Ia seolah tidak pernah peduli dengan masalah pemerintahan sebagaimana kakaknya, Pangeran Sabrang Lor. Ia sangat bangga dikelilingi perempuan cantik yang menyanjung dan memujinya. Dalam usia lima belas tahun ia sudah memiliki tiga empat orang anak dari selir-selirnya. Lantaran hari-hari hidupnya penuh warna-warni kesenangan, tidak satu pun orang menduga ia bakal naik takhta menggantikan ayahandanya. Sehingga, saat ia naik takhta menjadi Yang Dipertuan Demak, orang mendecakkan mulut menahan napas.

Memang banyak yang terkejut dengan kenaikan mendadak Tranggana ke takhta kesultanan. Pada saat ayahandanya mangkant, orang hanya memilih harapan kepada putera sultan tertua, Pangeran Sabrang Lor. Namun, tidak ada yang menyangka, belum genap tiga tahun berkuasa, ketika akan dinobatkan menjadi pemimpin persekutuan adipati-adipati pesisir dengan gelar sultan oleh Majelis Wali Songo, tiba-tiba Pangeran Sabrang Lor sakit keras dan meninggal secara mendadak. Kebingungan pun terjadi di antara keluarga sultan sebab sepeninggalnya, putera Sultan Abdurrahman Surya Alam dari permaisuri Ratu Asyiqah yang memiliki hak atas takhta hanyalah Tranggana, karena saudaranya yang lain, Pangeran Kanduruwan yang menjadi manghuri (sekretaris negara) Ratu Sri Maskumambang di Japan, dan adiknya, Pangeran Panggung, yang tinggal di Randu Sanga, adalah putera-putera sultan dari selir. Dengan demikian, meski semua mengetahui jika Tranggana bukan pemimpin dan negarawan unggul seperti ayahandanya dan kakaknya, semua tidak memiliki pilihan lain untuk tidak memilihnya sebagai penguasa baru Demak.

Sekalipun keluarga dan kerabat sultan akhirnya sepakat menunjuk Tranggana sebagai Yang Dipertuan Demak, untuk jabatan sultan-pemimpin tertinggi persekutuan adipati-adipati pesisir utara Jawa-dibutuhkan kesepakatan para adipati yang tergabung dalam persekutuan tersebut untuk memilihnya. Tapi, kabar tentang kelakuan buruk Tranggana sudah didengar tiap telinga dan disaksikan setiap mata sehingga diam-diam para adipati pesisir tidak bersimpati kepadanya. Pada saat seperti itu adipati Tedunan, Rembang, Tetegal, Samarang, dan Siddhayu memanfaatkan keadaan untuk mempengaruhi adipati yang lain agar tidak memilih Tranggana sebagai pemimpin tertinggi persekutuan. Lalu, terjadi perubahan sejarah yang tidak terduga-duga. Dengan alasan mengikuti kaidah-kaidah khalifah yang sudah disepakati bersama, para adipati pesisir utara Jawa yang berkumpul di Masjid Agung Demak memilih Pangeran Hunus Adipati Japara, adik ipar Tranggana, sebagai pemimpin tertinggi mereka. Mereka memberi gelar penguasa pilihan mereka itu: Adipati Hunus Senapati Jimbun Sabrang.

Kesepakatan para adipati pesisir utara Jawa untuk memilih Pangeran Hunus sebagai pemimpin tertinggi mereka adalah sama maknanya dengan menunjuk adipati Japara itu sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan (adipati) dan komando angkatan perang (senapati) yang menggantikan kedudukan mertuanya, Sultan Abdurrahman Surya Alam. Itu berarti, Pangeran Hunuslah satu-satunya penguasa yang memiliki kewenangan untuk mengerahkan kekuatan militer di seluruh kadipaten pesisir. Hal itu tidak bisa ditafsirkan lain, kecuali: kedudukan pemimpin tertinggi persekutuan adipati pesisir utara Jawa telah pindah dari Demak ke Japara. Bahkan, dengan naiknya Pangeran Hunus sebagai pengganti mertuanya, menunjuk bukti betapa persekutuan marga Orob yang berkuasa di Kadipaten Tedunan, Rembang, Tetegal, dan Siddhayu telah berhasil menggalang kekuatan besar di Nusa Jawa.

Tindakan para adipati memilih Pangeran Hunus adalah tamparan keras bagi Tranggana.ia menganggap tindakan itu merupakan usaha terang-terangan untuk meminggirkannya dari kekuasaan atas Jawa yang diwariskan ayahandanya. Tindakan para adipati itu bagi Tranggana adalah persengkongkolan jahat yang telah mengerdilkan kekuasaannya menjadi tidak lebih luas dari wilayah Kadipaten Demak. Itu adalah suatu penghinaan besar. Yang paling menyakitkan hati, Pangeran Panggung, saudara tirinya justru mendukung kepemimpinan Pangeran Hunus dengan alasan sesuai kaidah-kaidah khalifah, kekuasaan yang sah adalah yang sesuai dengan hasil pemilihan yang disepakati. Padahal kakak kandung Pangeran Panggung, yaitu Pangeran Kanduruwan, tegas-tegas menyatakan dukungan kepadanya.

Andaikata tidak disadarkan 0leh sahabatnya, Pangeran Zainal Abidin Susuhunan Dalem Timur, putera Prabu Satmata Susuhunan Giri Kedhaton, Tranggana yang sudah dibakar amarah akibat tersingkir dari takhta kesultanan itu akan mengambil jalan pintas: merebut kekuasaan dari tangan Pangeran Hunus dengan kekerasan. Ia akan menggempur adipati Samarang, Pangeran Mangkubhumi, putera Pangeran Pandanarang, saudara sepupu yang dianggapnya berkhianat. Ia juga akan menyingkirkan saudara tirinya, Pangeran Panggung, yang dianggapnya berkhianat pula. Jika hal itu terjadi, dipastikan ia akan terperosok ke jurang kehancuran karena Pangeran Hunus didukung oleh kerabat dan sahabat-sahabatnya yang menjadi adipati di Rembang, Tetegal, Japara, Tedunan, Siddhayu, Samarang. Sementara, Pangeran Panggung pun memiliki hubungan kuat dengan pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang karena ia adalah murid Syaikh Lemah Abang.

Akhirnya, berkat nasihat dari Susuhunan Dalem Timur, Tranggana mengurungkan niat, baik merebut kekuasaan dari Pangeran Hunus maupun keinginan menggempur adipati Samarang dan membunuh saudara tirinya, Pangeran Panggung. Ia sadar, kedudukannya sebagai pewaris takhta sedang berada pada rentangan masa yang sulit. Ia sadar, dirinya tidak saja telah ditinggalkan kuasa dan wibawa, tetapi keluarganya pun sudah terpecah-belah dalam kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan. Dibanding adik iparnya, Pangeran Hunus, ia bukanlah apa-apa karena keberadaannya tidak lebih dari seekor singa tanpa gigi tanpa cakar yang duduk di depan gua.

Tranggana yang sudah dikuasai nafsu berkuasa itu ternyata tidak menyerah. Ia yang sudah dicekam harapan untuk berkuasa sebagai raja Jawa sebagaimana ayahandanya, diam-diam melakukan usaha-usaha yang sangat hati-hati untuk menyusun kekuatan demi mewujudkan harapannya. Ia menyadari, saat itu satu-satunya tiang penopang kekuasaannya yang bisa diandalkannya hanyalah Majelis Wali Songo, yang kebetulan dipimpin oleh sahabatnya, Pangeran Zainal Abidin Susuhunan Dalem Timur. Ia juga menyadari hanya Majelis Wali Songolah satu-satunya majelis yang memiliki kewenangan untuk melantik seorang adipati pemimpin persekutuan dengan gelar sutan, selain berwenang menganugerahi gelar keagamaan Sayidin Panatagama kepada sultan.

Sadar dirisnya terjepit di tengah rentangan waktu yang makin mendesak, Tranggana diam-diam menggeliat untuk tidak berdiam diri menunggu nasib. Ia sadar, di tengah keterjepitan kedudukannya itu ia harus berpacu dengan waktu untuk berlomba kecepatan menghambat jadwal pelantikan Pangeran Hunus sebagai sultan. Diam-diam ia berusaha keras agar Pangeran Hunus hanya dilantik oleh Majelis Wali Songo sebagai adipati dan senapati, sebagaimana hasil pemilihan adipati-adipati. Itu berarti, jabatan sayidin panatagama yang belum diperoleh Pangeran Hunus dari Majelis Wali Songo akan direbutnya. Tranggana berpikir, biarlah untuk sementara dia menjadi pemimpin keagamaan asalkan memiliki wilayah kekuasaan di pesisir Jawa. Untuk menggapai tujuan itu, ia harus mendapatkan simpati dari Majelis Wali Songo. Lalu, Tranggana pun mengumumkan rencana perluasan Masjid Agung Demak yang akan dijadikan masjid agung terbesar dan termegah di Nusa Jawa sekaligus menjadi salah satu tempat pertemuan Majelis Wali Songo paling terhormat.

Siasat Tranggana memperluas Masjid Agung Demak terbukti membawa hasil tak terduga-duga. Pertama-tama, pelantikan sultan hasil pilihan adipati-adipati yang akan dilakukan di Masjid Agung Demak menjadi tertunda sampai pengerjaan perluasan masjid selesai. Selama rentang waktu perluasan masjid, Tranggana memperkuat kedudukan dengan memanfaatkan semuda hal yang dapat dimanfaatkan. Secara diam-diam ia mengirim saudarinya, Nyi Mas Ratu Winong, ke Wirasabha untuk dinikahi oleh saudara sepupunya, Pangeran Arya Terung, putera Raden Kusen. Alih-alih menikahkan adik perempuannya, Tranggana menyuruh Pangeran Arya Terung untuk meminta hak atas Kadipaten Sengguruh yang dikuasai Raden Pramana, putera Patih Mahodara. Merasa nasihat Tranggana itu sangat baik, Pangeran Arya Terung membawa pasukan dari Wirasabha dan menggempur Kadipaten Sengguruh dari arah utara. Tanpa kesulitan berarti, Pangeran Arya Terung mengalahkan dan mengusir Raden Pramana, yang menjadi adipati di Sengguruh. Pangeran Arya Terung kemudian mengangkat diri menjadi adipati Sengguruh. Para pemuka penduduk di Kadipaten Sengguruh menerima baik kepemimpinan Arya Terung, sebab mereka menganggap Kadipaten Sengguruh adalah bagian dari kekuasaan Bhre Tumapel, kakek buyut Pangeran Arya Terung dari pihak ibu, sehingga putera Raden Kusen itu dianggap lebih berhak menjadi adipati di Sengguruh daripada Raden Pramana yang hanya keturunan seorang patih. Dengan berkuasanya Pangeran Arya Terung di Sengguruh, Tranggana telah memiliki satu kekuatan pendukung di pedalaman Nusa Jawa.

Ketika perluasan masjid Demak selesai dan peresmiannya dihadiri Majelis Wali Songo, terjadilah peristiwa langka yang sebelumnya belum pernah terjadi: Majelis Wali Songo tiba-tiba melantik dua orang penguasa dengan kekuasaan dan kewenangan dan gelar berbeda. Pertama-tama, Majelis Wali Songo melantik Tranggana sebagai sultan dengan gelar kebesaran Sultan Ahmad Abdul Arifin Ki Mas Palembang Sayidin Panatagama. Dengan gelar itu, Tranggana secara sah telah memiliki kekuasaan ruhani untuk mengatur kehidupan beragama penduduk di Nusa Jawa. Itu berarti, Tranggana telah memegang otoritas kekuasaan di bidang agama, yakni sayidin panatagama yang merupakan pelaksana kekuasaan Majelis Wali Songo selaku pemimpin ruhani umat (imam al-ummah).

Setelah melantik Tranggana, Majelis Wali Songo melantik Pangeran Hunus yang telah dipilih para adipati-adipati persekutuan adipati dengan gelar kebesaran Adipati Hunus Sinihun Natapraja Amir al-Mukminin Senapati Jimbun Sabrang. Dengan dikukuhkannya gelar Adipati Hunus pada Pangeran Hunus dan gelar Ki Mas Palembang pada Tranggana, sesungguhnya Majelis Wali Songo secara simbolik tidak saja telah memilahkan secara tegas kekuasaan sultan dan adipati dengan wewenangnya masing-masing, tetapi yang tak kalah penting adalah memilahkan kedudukan garis nasab masing-masing, di mana nama Hunus sama makna dengan Orob menunjuk bahwa pemilik nama tersebut adalah bagian dari marga Orob, bangsawan asal Lawe, Barunadwipa, sedang nama Ki Mas Palembang menunjuk bahwa pemilik nama adalah keturunan sultan pertama Demak, Panembahan Palembang. Dengan kebijakan itu, api di dalam sekam yang selama itu membara di bawah permukaan Kesultanan Demak untuk sementara dapat dipadamkan, karena dua orang penguasa pengganti Sultan Abdurrahman Surya Alam sudah memiliki kedudukan dan kewenangan sendiri-sendiri, baik kedudukan dalam garis nasab maupun kedudukan di dalam mengatur kekuasaan masing-masing; sultan Demak berkedudukan di Demak dan Adipati Hunus berkedudukan di Japara.

Read More ->>

CITRA BAYANGAN SANG MAUT

Citra Bayangan Sang Maut

    Ketika hari menjelang sore, Abdul Jalil mengantar Ahmad at-Tawallud ke pelabuhan Demak. Guru ruhani terkasihnya itu ingin sampai di sana sebelum senja sebab kapal yang ditumpanginya akan berlayar sebelum hari gelap. Saat mereka berjalan sambil berbincang-bincang di tepi pantai, tiba-tiba Abdul Jalil menyaksikan kilasan penglihatan batin yang membuat darahnya tersirap dan langkahnya terhenti. Saat itu, tanpa terduga-duga di bentangan langit barat yang mulai memerah terpampang citra wajah Sang Maut yang memanjangkan bayang-bayang-Nya hingga garis cakrawala. Bayangan yang terus memanjang itu diselimuti semacam kabut tipis yang membentuk gambaran aneka rupa perwujudan yang menampakkan seringai wajah Kematian yang mengerikan. Sekejap kemudian, wajah Kematian itu semburat dan mewujud dalam bentuk makhluk-makhluk setengah manusia berdarah dingin yang mengerikan wujudnya; matanya semenyala mata serigala, gigi-geliginya setajam pedang, cakar-cakarnya seruncing tombak, raungannya sedahsyat seribu singa, dan embusan napasnya sepanas tungku. Kemudian, makhluk-makhluk mengerikan itu dengan keganasan tak terlukiskan memburu beribu-ribu dan bahkan beratus-ratus ribu makhluk hidup.

Abdul Jalil menahan napas dan merasakan dadanya sesak menyaksikan penglihatan batin yang mengerikan. Dengan suara tergetar ia bertanya kepada Ahmad at-Tawallud, �Apakah Tuan menyaksikan bayangan Sang Maut di cakrawala sebagaimana yang kami saksikan? Apakah itu memiliki keterkaitan dengan jalan yang harus kami lampaui untuk menjadi �yang sendiri�?�

Ahmad at-Tawallud berdiri di samping Abdul Jalil dengan mata menatap ke garis cakrawala yang mulai kabur. Setelah diam sejurus, ia berkata dengan suara lain, �Aku menyaksikan apa yang Tuan saksikan. Apa yang Tuan saksikan barusan dapat Tuan tafsirkan memiliki kaitan dengan jalan yang akan Tuan lampaui untuk menjadi �yang sendiri�. Sebab, tatkala bayangan Sang Maut menebar Kebinasaan atas orang-orang di sekitar Tuan, tidak sedikit pun Tuan diperbolehkan untuk berbuat sesuatu guna menolong mereka. Tuan yang dikenal orang sebagai manusia luhur budi yang selalu berbagi keberlebih-kelimpahan dan rela berkorban untuk yang lain, saat itu harus melepas citra diri Tuan. Tuan harus menjadi sesuatu yang tidak berguna manfaat apa pun di saat Tuan dengan mudah dapat memberi guna dan manfaat. Tuan harus ikhlas melepas semua desakan hati nurani, meski pahit. Tuan harus membiarkan manusia-manusia yang Tuan kasihi melolong-lolong ketakutan, berlarian menghindari kejaran makhluk-makhluk ganas berdarah dingin jelmaat bayangan Kematian. Tuan harus dapat menahan rasa sakit tak terkatakan ketika menyaksikan beratus-ratus bahkan beribu-ribu tangan manusia tak berdaya menggapai-gapai ke arah Tuan untuk meminta tolong, tanpa sedikit pun Tuan memberikan pertolongan.�

�Seberat itukah jaan yang harus aku lampaui untuk menjadi �yang sendiri�?� Abdul Jalil merasakan dadanya semakin sesak.

�Tuan akan terus menyaksikan bagaimana ganas dan brutalnya makhluk-makhluk mengerikan bayangan Sang Maut meraung, mencabik-cabik, mengoyak-koyak, dan merobek-robek semua mangsa dengan gigi geligi dan cakar-cakarnya yang tajam serta runcing. Tuan akan menyaksikan bagaimana mereka pamer keganasan,a mengunyah-kunyah, memamah, dan menelan mangsa-mangsanya di depan Tuan. Tuan harus diam menyaksikan itu semua. Tuan harus diam. Diam. Sebab, Tuan bukan siapa-siapa lagi,� kata Ahmad at-Tawallud menepuk bahu Abdul Jalil.

�Tapi beri tahukan kepada kami, kenapa bayangan Sang Maut terpampang di langit barat?�

�Sebab, bayangan Kematian yang Tuan saksikan itu adalah citra bayangan Sang Maut yang sudah menebar Kebinasaan di barat dan kemudian terbawa angin ke negeri Tuan.�

�Dapatkah Tuan menceritakan kepada kami tentang apa yang sebenarnya telah terjadi di barat negeri kami?�

Ahmad at-Tawallud diam dengan mata menerawang ke garis cakrawala. Beberapa bentar kemudian ia duduk di atas hamparan pasir dan memberi isyarat agar Abdul Jalil duduk di sampingnya. Setelah itu, dengan suara lain dia mulai bercerita tentang badai Kebinasaan yang telah melanda negeri-negeri di sebelah barat.

Di negeri Persia, bayangan Sang Maut kembali muncul dalam wujud Syah Ismail yang mengamuk tidak lama setelah ia berhasil menguasai Herat. Sebagaimana saat kemenangan yang pernah diraih di Tabriz dan Shiraz, usai menaklukkan Herat, sang mahdi, reinkarnasi tuhan itu, segera menudingkan telunjuk ke tempat-tempat �kedurhakaan yang penuh kenajisan�: makam-makam para sufi, dan zawiyyah-zawiyyah tarekat yang bertebaran di Herat. Lalu seiring tudingan tangan sang tuhan, terdengarlah suara gemuruh amukan badai yang menggiriskan yang membuat makam-makam para sufi terbongkar, khanaqah-khanaqah berantakan, zawiyyah-zawiyyah porak-poranda, para penempuh jalan Kebenaran berpentalan terempas ke tepi jurang Kematian. Seringai wajah Kematian yang mengerikan tampak melayang-layang di atas ubun-ubun siapa saja di antara manusia yang menolak kemahdian dan keilahian Syah Ismail.

Tangisan pilu terdengar di sudut-sudut rumah ketika makam sufi besar Jami terbongkar porak-poranda dan rata dengan tanah dilanda amukan badai Kebinasaan yang diembuskan Syah Ismail. Para pengikut Tarekat Khalwatiyyah kocar-kacir dan ari tunggang langgang, berjalan terhuyung-huyung meninggalkan khanaqah-khanaqah dan zawiyyah-zawiyyah. Mereka tidak mampu menahan terjangan badai Kebinasaan yang susul-menyusul dan sambung-menyambung menebar Kematian. Dengan langkah gontai dan terseok-seok, mereka, dengan sisa-sisa terakhir tenaganya, berjuang menyelamatkan Kehidupan mereka ke wilayah Turki Usmani dan meminta perlindungan kepada Sultan Turki Usmani: Bayazid. Sementara, para pengikut Tarekat Kubrawiyyah Nurbakhsyi bersembunyi di lubang-lubang gua dan ruang-ruang bawah tanah karena pemimpin mereka, Qawamuddin bin Muhammad Nurbakhsyi, diintai bayangan Sang Maut yang berkeliaran bersama gumpalan awan Kematian dan badai Kebinasaan yang tak kenal ampun.

Bayangan Sang Maut yang mengembuskan badai Kebinasaan di Herat ternyata berembus pula dengan dahsyat di Khanat Bukhara. Seringai keganasan wujudnya membayang dalam wajah dingin penguasa dinasti Shaybanid, yang menghempaskan Kehidupan para pemimpin suku-suku Uzbek yang mengangkat senjata bagi kemerdekaan negerinya. Sebagaimana di Persia, di Khanat Bukhara, seiring gemuruh badai Kebinasaan yang melanda, terdengar jeritan panjang sahut-menyahut di tengah hingar ringkik kuda, gemerincing senjata, derap kaki, caci maki, dan sumpah serapah. Pada saat semua pandangan diarahkan ke garis cakrawala, terbelalaklah semua mata menyaksikan pemandangan yang meremangkan bulu kuduk: genangan darah mengalir bagaikan sungai, mayat-mayat bertumpuk membentuk bukit-bukit, bangkai-bangkai kuda berkaparan, pedang-pedang patah, anak-anak panah menghutan di palagan, dan jiwa-jiwa beterbangan ke angkasa. Ke mana pun pandangan diarahkan, baik di wilayah Tashkent di utara, baik di lembah Ferghana di timur, baik di lembah Afghan di selatan, baik di oasis Khwarazm di mulut Amu Darya di barat, hanya bayangan wajah Sang Maut yang terpampang ganas, mengintai dan mengepung Kehidupan makhluk.

Ketika badai Kebinasaan masih bergulung-gulung melumat Kehidupan makhluk di Khanat Bukhara, di negeri Ferghana yang terletak di sebelah timurnya berembus badai Kebinasaan yang menggemuruh bersama debu dan hutan panji-panji yang dikibarkan Zahiruddin Muhammad Babur, Yang Dipertuan Ferghana dan Samarkand. Badai Kebinasaan itu dengan ganas menerobos ke selatan, melintasi lembah, pegunungan, ngarai dan jurang, melanda negeri Afghan. Laksana Indra, Sang Puramdara, penakluk benteng, Babur memamerkan kekejaman luar biasa saat menaklukkan Samarkand dan menghancurkan gerakan oposisi yang menentangnya itu berteriak lebih garang di lembah Afghan. Lalu, dengan keganasan hewan buas kelaparan, Babur menggiring badai Kebinasaan melanda lembah subur Punjab di Bharatnagari. Ke arah mana pun orang berpaling, yang terlihat hanyalah bayangan Babur sebagai citra bayangan Sang Maut. Di mana pun Babur berada, orang akan menyaksikan pengejawantahan Sang Maut yang mewujud dalam bentuk hutan panji, bendera, dan tombak yang bergerak serempak di antara meriam-meriam, pedang-pedang, perisai-perisai, panah-panah, senapan-senapan, dan dentam-dentam ladam kuda yang menggemuruh di tengah bahana nyanyian perang membelah angkasa. Perang! Perang! Perang!

Sementara bayangan Sang Maut berkeliaran memangsa bangsa-bangsa muslim di Persia, Khanat Bukhara, Samarkand, Ferghana, Afghan, dan Punjab, di anak benua India bertiup badai Kebinasaan yang tidak kalah dahsyat.

Alfonso d�Albuquerque, gubernur Portugis di India, menyeringai dan mengembuskan napas Kematian di tengah debur ombak, kibaran layar, dentum meriam, letusan senapan, gemerincing pedang, dan pekik kemenangan pasukannya. Alfonso d�Albuquerque adalah ksatria tuhan yang datang ke Bharatnagari setelah Vasco da Gama. Ia lahir di Alandra, dekat Lisbon hambir delapan windu silam, anak kedua Gonzalio d�Albuquerque, Senhor de Villa Verde. Sejak muda, di bawah Raja Alfonso V, ia sudah terlibat pertempuran dengan orang-orang Islam di Afrika Utara. Lantaran pengalaman masa mudanya itu, sebagaimana Vasco da Gama, ia beranggapan bahwa di dunia ini hanya ada dua agama yang saling bermusuhan, yaitu Kristen dan Islam.

Alfonso d�Albuquerque datang ke India bersama sepupunya, Dom Francisco d�Alameda. Sebagai ksatria tuhan yang termasyhur kegagahannya di medan tempur, ketika tiba di India ia langsung terlibat dalam pembangunan benteng yang disiapkan sebagai �ladang pembantaian� bagi musuh-musuh tuhan. Dom Francisco d�Alameda diangkat menjadi gubernur Portugis pertama di India dan berjaya menghancurkan armada Samutiru Yang Dipertuan Kozhikode. Tidak lama kemudian, d�Almadea digantikan d�Albuquerque, yang sebelumnya telah menaklukkan bandar Socotra dan Ormuz, di mulut Laut Merah. Tidak mau kalah dengan prestasi Vasco da Gama, sang ksatria tuhan d�Albuquerque melengkapi kemenangan armada laut d�Alameda dengan menggempur Kozhikode.

Dengan semangat ksatria tuhan yang membawa panji-panji kebesaran agama, d�Albuquerque memimpin pasukannya, prajurit-prajurit tuhan yang gagah berani. Bagaikan malaikat Kematian memburu mangsa, mereka bergerak cepat laksana awan hitam bersama gemuruh badai Kebinasaan, melanda pasukan Kozhikode yang dipanglimai Laksamana Kunjali Marakkar. Dalam waktu sangat singkat, sang ksatria tuhan dan pasukannya telah menjadikan Kozhikode sebagai rumah jagal raksasa yang penuh dengan bukit mayat dan bangkai hewan, genangan darah, senapan berserak, tombak patah, baju zirah terbelah, dan bau Kematian yang menusuk ke relung-relung jiwa.

Kemenangan yang dicapai d�Albuquerque di Kozhikode adalah bagian dari kemenangan-kemenangan yang telah diraihnya sebagai ksatria tuhan tak terkalahkan. Sanjungan dan pujian nyaris tak pernah jauh darinya. Nama d�Albuquerque selalu disebut dengan penuh kekaguman sepanjang jalur pelayaran antara India hingga Portugal. Sebagai pemenang, ia tidak sadar jika dirinya telah mabuk sanjungan dan pujian. Antara mabuk dan sadar, ia secara tiba-tiba mengumbar kebanggaan akan kehebatan diri sebagai ksatria tuhan yang tidak kalah hebat dibanding Vasco da Gama. Kemudian, dengan kepongahan ksatria tuhan tak terkalahkan, ia menggiring armadanya ke Goa, bandar niaga kedua terpenting di wilayah Kesultanan Bijapur, yang terletak di sebuah pulau di muara sungai Mandovi. Dengan kegagahan ksatria tuhan, ia dengan gampang merebut benteng Pangim. Penduduk Goa yang sudah mendengar kehebatan pasukan Portugis semenjak Vasco da Gama beramai-ramai mendatangi ksatria tuhan baru, d�Albuquerque. Mereka menyatakan kesediaan kotanya dijadikana bagian dari wilayah Kerajaan Portugal.

Sementara, kemenangan d�Albuquerque atas Goa untuk kali kesekian mengejutkan para panglima perang Bharatnagari, yang selama berabad-abad cenderung menilai secara berlebihan kehebatan diri di medan tempur berdasar ukuran darah kebangsawanan, keberanian, kesaktian, siasat gelar perang, maupun besarnya jumlah pasukan. Para panglima yang bangga dengan nilai-nilai ksatria dan kepahlawanan dalam bertempur tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan-kenyataan aneh terkait dengan kekuatan-kekuatan baru kemiliteran Portugis yang memiliki sudut pandang berbeda dengan apa yang selama ini mereka pahami. Senapan yang selama itu lebih banyak digunakan untuk memeriahkan pesta pada upacara perkawinan dan penyambutanaaaa tamu terhormat atau perayaan-perayaan keagamaan, terbukti di tangan Portugis menjadi alat pembunuh yang ampuh. Mereka dengan terpaksa harus menggeleng-gelengkan kepala ketika menyaksikan keuletan, ketangguhan, kekompakan, dan keberanian satuan-satuan kecil pasukan Portugis yang mampu menahan musuh berjumlah puluhan kali lipat dengan hanya bersenjatakan senapan-senapan. Mereka tidak tahu rahasia apa di balik kekuatan orang-orang kulit putih itu hingga mereka menjadi orang-orang yang ulet, tangguh, kompak dan pantang menyerah selama menghadapi musuh.

Keuletan dan ketangguhan pasukan Portugis di bawah Francisco d�Albuquerque selama menghadapi serangan besar-besaran Panglima Kunjali Marakkar di Cochizha barang sewindu silam memang telah menjadi buah bibir yang tak ada habisnya di anak benua India. Orang dengan berdecak kagum berkata terheran-heran, bagaimana mungkin Portugis yang hanya berkekuatan tiga kapal dengan 100 orang serdadu ditambah 300 orang tentara bayaran Malabar dan 5000 orang pengawal Raja Cochizha, mampu menahan gempuran pasukan Kozhikode yang berkekuatan 280 buah kapal dan 50.000 orang tentara selama lima bulan? Bagaimana mungkin kekuatan kecil Portugis itu dengan sangat gemilang akhirnya berhasil memukul baik kekuatan Laksamana Kunjali Marakkar yang lebih besar itu sampai terlempar keluar Cochizha?

Keuletan dan ketangguhan itu kini teruji lagi ketika pasukan Portugis di bawah Alfonso d�Albuquerque berhasil menahan serbuan Adil Shah, Sultan Bijapur, yang membawa 50.000 orang prajurit mengepung Goa. D�Albuquerque dean pasukannya tidak menyerah setelah dikepung tiga bulan oleh pasukan Bijapur, meski kekurangan bahan pangan dan amunisi. Baru setelah empat bulan terkepung, d�Albuquerque dan pasukannya mundur meninggalkan Goa, dengan kapal-kapal rusak berat karena menerobos kepungan pasukan Bijapur. Namun, saat datang bantuan dari Portugis berupa 23 kapal perang dan 2000 orang serdadu pilihan, pada 25 November 1510 d�Albuquerque menyerang kembali Goa. Dalam tempo hanya sehari, ia telah mengubah Goa menjadi rumah jagal raksasa yang mengerikan: mayat-mayat dengan tubuh hangus berserpihan dan ceceran darah berserakan di bawah intaian ratusan gagak yang berteriak-teriak serak di angkasa.

Usai menaklukkan Goa, d�Albuquerque yang sudah mabuk kemenangan mengarahkan pandangan ke Malaka, bandar perniagaan penting di timur, sebuah batu loncatan bagi Portugis untuk mencapai negeri rempah-rempah. Sudah sejak awal d�Albuquerque meneterkan liur hendak mencaplok bandar terkenal kaya raya itu. Saat itu ia memiliki alasan kuat untuk menggempur dan menguasai bandar kaya tersebut, karena penguasa Malaka barang setahun silam telah menolak tawarannya untuk berniaga dan malah menawan pelaut-pelaut yang dikirimnya di bawah Diego Lopez d�Sequeira. Hasrat d�Albuquerque makin berkobar ketika saudagar-saudagar Cina muslim Cochizha memberikan dukungan, baik menyangkut keterangan-keterangan tentang kelemahan bandar Malaka maupun tawaran jung-jung mereka untuk mengangkut pasukan Portugis ke Malaka, tentunya, dengan imbalan yang memadai.

Menurut kabar, Malaka saat itu sedang diguncang kemelut akibat persekongkolan Tun Mutahir yang merencanakan suatu pembunuhan terhadap sultan. Meski persekongkolan itu terbongkar dan Tun Mutahir beserta keluarganya dihukum bunuh, keruwetan yang ditimbulkan bendahara jahat itu masih membelit Malaka. Kebobrokan akhlak pejabat-pejabat tinggi kerajaan yang menular ke pegawai-pegawai rendahan masih kuat bercokol di tubuh aparat kesultanan Malaka. Melalui liku-liku kebobrokan akhlak para pejabat dan pegawai kesultanan itulah setumpuk laporan Ruy de Araujo tentang peta pertahanan bandar Malaka dapat diselundupkan keluar tahanan hingga jatuh ke tangan d�Albuquerque. Setelah memahami kelemahan pertahanan Malaka, pada 25 Juli 1511 d�Albuquerque menggempur Malaka. Pecah pertempuran sengit. Sultan dengan didukung tentara bayarannya melawan. Meriam berdentuman dari kedua belah pihak. Sekalipun d�Albuquerque sempat mendaratkan pasukannya, sultan berhasil menghalau mereka kembali ke kapalnya.

Seiring kembalinya pasukan Portugis ke kapal, terlihatlah pemandangan mengerikan dari bekas jejak-jejak bayangan Sang Maut: mayat-mayat bergelimpangan dan bertumpuk di hampir setiap jengkal bandar Malaka. Bangunan-bangunan hangus mengepulkan asap dengan kobaran api menjilat-jilat ke angkasa. Meriam-meriam berserakan. Senapan-senapan berceceran. Anak panah bertumpang tindih dengan tombak-tombak patah. Meriam-meriam yang berdentuman dari kapal-kapal Portugis telah mengejawantahkan citra bayangan Sang Maut. Alfonso d�Albuquerque, sang ksatria tuhan, membuktikan bahwa dirinya tidak kalah ganas dibanding Vasco da Gama.

Selama berada di kapalnya, setelah mundur dari bandar Malaka, d�Albuquerque memperoleh laporan-laporan lebih lengkap tentang keadaan musuhnya. Di antara laporan-laporan itu, yang terpenting bagi d�Albuquerque adalah laporan tentang kecilnya nyali prajurit-prajurit Malaka yang berakibat pada rendahnya semangat tempur mereka. Dengan laporan itu, jelas sudah bagi d�Albuquerque bahwa kekuatan inti yang diandalkan sultan Malaka adalah tentara bayaran asal Jawa, Persia, dan Kerala. Sebagai ksatria tuhan yang berpengalaman, d�Albuquerque mengirim orang-orangnya untuk melumpuhkan tentara-tentara bayaran itu dengan tawaran harga yang lebih tinggi. Kemudian, setelah yakin kekuatan musuh terbelah, pada 10 Agustus 1511 d�Albuquerque melakukan serbuan besar-besaran ke Malaka. Tanpa kesulitan berarti pasukannya berhasil mendarat kembali di bandar Malaka. Meski perlawanan sengit dilakukan sultan dan pasukannya, akibat sebagian di antara tentara bayaran asal Jawa sudah berpindah tuan karena tergiur tawaran gaji yang lebih tinggi, maka porak-porandalah pertahanan sultan. D�Albuquerque bersama pasukannya meraih kejayaan gemilang. Prajurit-prajurit Portugis yang berkemenangan itu kemudian menjarah kekayaan Malaka. Mereka menjarah apa saja barang perniagaan yang terdapat di Malaka; kain sutra, gading, emas lantakan, perhiasan, batu mulia, keramik, aneka jenis senjata. Di antara barang-barang hasil jarahan itu terdapat 3000 buah meriam yang terbuat dari kuningan dan 2000 buah meriam yang terbuat dari besi, yang semua senjata berat itu didatangkan dari Jawa.

Setelah Malaka jatuh, Sultan Mahmud Syah, dengan dikawal sisa-sisa pasukannya meninggalkan ibu kota. Ia membangun kubu pertahanan di Pagoh yang terletak di tepi sungai Muar. Namun, d�Albuquerque yang khawatir kalau Sultan Mahmud Syah akan merebut kembali Malaka segera memburunya. Dengan dukungan 400 orang prajurit Portugis, 600 orang tentara bayaran Jawa, dan 300 orang tentara bayaran Pegu (Burma), d�Albuquerque menggempur kubu Sultan Mahmud Syah di Pagoh. Sultan tua yang sudah lelah itu tak kuasa menahan serbuan d�Albuquerque. Ia mundur ke hulu sungai Muar sampai ke wilayah Pahang. Setahun setelah di Pahang, sultan menggempur Pagoh, tapi ia kalah dan lari hingga ke Bentam. Usaha sultan merebut kembali bandar-bandarnya dari tangan Portugis mengakibatkan terjadinya perang berlarut-larut. Perang! Perang! Perang!

Read More ->>

Jumat, 24 Maret 2017

AL-FARD

Al-Fard

Setelah tinggal selama empat puluh hari di lingkungan Kraton Pengging dan menjadi salah satu penyebab bagi masuk Islamnya Pangeran Kebo Kenanga, dengan diiringi tangis pedih para pemuka penduduk yang menjadi muridnya, Abdul Jalil meneruskan perjalanan ke arah timur untuk berbagi keberlebih-kelimpahan. Memang, empat puluh hari adalah sebuah rentang waktu yang terlalu pendek bagi seseorang untuk melakukan perubahan. Namun, dalam keterbatasan waktu yang menghimpit itulah Abdul Jalil menunjukkan kelebihan yang sulit dicari tolok bandingan pada zamannya: menjadi penggerak utama sebuah perubahan.

Jejak yang ditinggalkan Abdul Jalil, yang mengarah pada terjadinya perubahan tatanan kehidupan masyarakat, dari tatanan yang berdasarkan gagasan catur-warna dan kasta menjadi masyarakat ummah, terlihat pada kebijaksanaan raja Pengging yang memberlakukan peraturan baru menyangkut status kependudukan warga kerajaan yang beragama Islam. Di dalam peraturan itu ditetapkan bahwa penduduk kerajaan yang berasal dari kalangan rendah seperti Dhapur, Kewel, Domba, Sasak, Potet, dan Mambang yang kedudukannya sangat hina dan nista di tengah masyarakat, seketika akan disetarakan dengan penduduk yang lain. Ketetapan raja itu sangat mengejutkan para bangsawan dan warga kerajaan. Bagaimana mungkin kalangan rendah dan hina papa itu bisa diberi status sederajat dengan warga kerajaan? Bagaimana mungkin manusia berkasta rendah dapat disejajarkan dengan manusia luhur berkasta tinggi? Bukankah perubahan itu akan merusak tatanan yang sudah berlaku beribu tahun? Bagaimana mungkin Prabu Andayaningrat bisa menista peraturan agamanya sendiri?

Keterkejutan para bangsawan dan warga Pengging adalah keterkejutan yang ke sekian kali. Sebelum itu, mereka sudah dikejutkan oleh kabar yang nyaris tidak masuk akal: mahkota Pangeran Kebo Kanigara telah diserahkan kepada adiknya, Pangeran Kebo Kenanga, setelah putera mahkota tersebut kalah bertaruh dengan Syaikh Siti Jenar. Di saat orang masih ramai membincang peristiwa aneh itu, telah tersiar lagi kabar yang sangat tak terduga-duga: raja dan putera mahkota Pengging yang baru, Pangeran Kebo Kenanga, menyatakan memeluk agama Islam.

Perubahan bertubi-tubi yang terjadi di Pengging tak pelak lagi telah membuat semua mata diarahkan kepada sosok Abdul Jalil. Sebagian memandang dengan penuh kekaguman, tapi tidak sedikit yang memandangnya dengan mata menyembunyikan api kemarahan. Sejumlah pendeta kerajaan yang benci, menjulukinya dengan gelar hebat: si lidah menyala, si pengacau, si pembuat kisruh, dan si perusak tatanan. Abdul Jalil sendiri tidak peduli dengan pandangan dan penilaian yang dibidikkan orang ke arah dirinya. Dengan tegar, seolah tidak terjadi sesuatu, ia terus melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Tanpa peduli dengan hantu-hantu fitnah yang berkeliaran mengerumuninya, ia dengan penuh sukacita menyemburkan api menyala dari lidahnya untuk menghangatkan manusia yang kedinginan atau mencurahkan air segar dari mulutnya yang berkelebih-kelimpahan kepada manusia yang kehausan. Laksana bongkahan batu karang di tengah telaga yang bergeming diterpa hujan, badai, dan panas, di tengah gemuruh kecaman, caci maki, umpatan, fitnah, dan ancaman, ia dengan ramah memberikan keberlebih-kelimpahannya kepada makhluk yang menghampirinya.

Tanpa kenal lelah, ia ajarkan kepada manusia tentang cara bercermin yang benar. Bercermin untuk mengenal diri sendiri sebagai citra ar-Rahman. Ia sulut dan kobarkan semangat perlawanan manusia terhadap keterbatasan diri sendiri. Ia ajarkan kepada manusia-manusia yang mengikuti jalannya tentang kewajiban dasar manusia untuk berjuang mewujudkan diri menjadi adimanusia (insan kamil). Ia ajarkan kepada mereka cara-cara sederhana bagi manusia untuk melampaui liku-liku jalan menanjak dan menurun yang terentang antara martabat hewan dan adimanusia. Ia ajarkan semua yang ia punyai sampai tuntas tanpa sisa. Ia buka tangannya lebar-lebar sampai tak ada lagi sisa di genggamannya. Lalu, dengan pengetahuannya yang mendalam tentang jiwa manusia dan pengalaman ruhaninya yang matang, ia meneguhkan kepercayaan diri para pengikutnya terhadap keberadaan diri mereka sebagai makhluk paling agung dan mulia di jagad raya. Ia untkapkan kepada mereka rahasia Ilahiyyah yanmeng tersembunyi di daam diri setiap manusia, yang dengan rahasia tersebut orang seorang akan memiliki senjata untuk berjuang mewujudkan diri menjadi adimanusia. Ya, adimanusia, insan kamil, wakil Allah di muka bumi, makhluk yang menduduki derajat paling tinggi dan paling mulia di antara segala makhluk di jagad raya, yaitu wakil Allah yang menjadikan para malaikat bersujud kepadanya.

Setelah merasa cukup berbagi selama empat puluh hari di Pengging, dengan meninggalkan panji-panji persamaan derajat di antara warga kerajaan, Abdul Jalil melanjutkan perjalanan ke arah timur. Tanpa kenal lelah ia telusuri hutan jati, bukit padas, jurang, lembah, dan jalanan berbatu. Ia hanya singgah di beberapa desa untuk sekadar beristirahat, ketika melihat istrinya sangat kelelahan. Setelah sepekan berjalan, ia sampai di Pamantingan, daerah keramat tempat orang memuja Dewi Manting (dewi kesuburan). Di tempat itu ia memutuskan untuk tinggal dan mengajar penduduk sekitar. Ia berharap, dengan tinggal di tempat terkucil yang terletak di tengah hutan jati ituta orang tidak akan banyak yang mengenalnya. Namun, ibarat ratu lebah yang ke mana pun pergi selalu diikuti lebah-lebah, begitulah kehadiran Abdul Jalil di Pamantingan secepat embusan angin sudah menjadi buah bibir penduduk sekitar. Kemunculan Abdul Jalil di tempat itu pun dalam hitungan hari diikuti munculnya beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu manusia dari berbagai kalangan yang datang berduyun-duyun mengerumuninya untuk beroleh berkah keselamatan. Di antara mereka yang datang dan mengambil baiat kepadanya adalah para bangsawan, pemuka penduduk, ruhaniwan, dan cerdik cendikia pencari Kebenaran. Mereka itu adalah Ki Ageng Tarub, Ki Buyut Brati, Ki Ageng Gabus, Kyayi Ageng Bulu, Pngerban Pandanarum, Pangeran Sukalila, Pangeran Matahun, Pangeran Rajegwesi.

Diserbu berarus-ratus dan bahkan beribu-ribu orang yagn meminta berkah, Abdul Jalil untuk kali ke sekian merasa dihadapkan pada persoalan yang membingungkan. Dikatakan membingungkan karena setelah melampaui keadaan (hal), tingkatan (makanah), derajat (martabat), dan kedudukan (maqam) ruhani yang tak terhitung, ia tetap merasa sebagai orang bodoh yang belum banyak mengetahui rahasia di balik kehendak Allah atas dirinya. Ia sering terheran-heran dan kebingungan menghadapi hal-hal tak terduga: ia diberhalakan manusia di saat ia meyakini jika kedudukannya sebagai �yang terendah� dalam perubahan tatanan itu makin mendekati kenyataan. Bagaimana mungkin ia yang sejak awal perubahan tatanan kehidupan baru sudah menempatkan diri pada kedudukan di bawah seibarat tanah tempat berpijak, tiba-tiba diserbu beribu-ribu orang dan disanjung-sanjung manusia setinggi langit?

Bingung dan terheran-heran dengan kenyataan yang dialaminya, Abdul Jalil dalam suatu sembahyang malam mengungkapkan keterbatasan dirinya itu kepada Allah, Rabb al-Arbab, yang belakangan ia rasakan seperti menutup Diri di balik selimut al-Haqq. Ia mengungkapkan ketidakpahamannya terhadap kehendak Rabb al-Arbab atas dirinya yang mendadak diberhalakan manusia. Ia mengungkapkan rasa khawatirnya, betapa keadaan itu akan mengancam ajaran Tauhid yang selama itu diajarkannya. Ia mengungkapkan semua keheranan dan ketidakmengertiannya. Ia mengungkapkan semua. Semua. Namun, sampai jauh malam ia tidak mendapat secuil pun jawaban dari-Nya. Barulah pada detik-detik menjelang subuh ia beroleh jawaban sangat singkat dari Allah melalui al-Haqq yang menerobos relung-relung pedalaman ruhnya lewat al-ima�, yang jika diungkapkan denga bahasa manusia, kira-kira intinya:

�Siapa yang memberimu hak untuk memilih? Siapa yang memberimu hak untuk mengetahui sesuatu melebihi apa yang Ku-kehendaki?�

Abdul Jalil tersentak kaget. Ia seketika sadar, jawaban itu sejatinya merupakan sebuah perubahan dahsyat yang sedang berlangsung atas jalan hidupnya. Sehingga, ia wajib memasrahkan utuh semua urusan dirinya kepada-Nya. Ia pun segera sadar, inilah rentang waktu di mana keberlebih-kelimpahannya akan berakhir. Ia sadar, segala sesuatu harus terjadi sesuai waktu yang ditetapkan-Nya. Tidak bisa diundur dan tidak bisa pula diajukan. Demikianlah, setelah kesadaran demi kesadaran terdalamnya terkuak, ia menutup diri di dalam kamar dan tidak bicara selama berhari-hari

Ketika rentang waktu seratus hari berlalu dan Abdul Jalil meninggalkan Pamantingan, ia memutuskan untuk tidak memilih tempat lain lagi untuk tinggal dan mengajar. Sebaliknya, ia melanjutkan perjalanan ke arah timur sepanjang pedalaman, mengunjugi dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala daan lemah larangan yang telah dibukanya, lalu berputar dan berbalik arah ke arah barat sepanjang pantai utara, dengan tujuan akhir tanah kelahiran, Caruban. Sesuai rencana, sepanjang perjalanan itu ia akan singgah di dukuh-dukuh yang tersebar di berbagai tempat tersebut, untuk mengetahui apakah tanaman yang telah ditebarnya telah tumbuh dengan baik atau merana tak berkembang. Ia gembira sekaligus takjub ketika melihat ladang persemaian yang dibukanya telah tumbuh subur menjadi tempat penyebaran benih-benih unggul yang memberikan manfaat bagi Kehidupan di sekitarnya.

Di tengah kegembiraan menyaksikan kesuburan pengajaran Tauhid di dukuh-dukuh yang dibukanya itu, Abdul Jalil tiba-tiba melihat setan muncul dalam wujud bayangan palsu dirinya, dengan tujuan utama menodai dan meyimpangkan kemurnian ajaran Tauhid yang disampaikannya. Hal itu ia ketahui ketika beberapa murid terkemukanya melaporkan munculnya dukuh-dukuh baru bernama Lemah Abang dan Kajenar, yang letaknya tidak jauh dari dukuh-dukuh Lemah Abang dan Kajenar yang dibukanya. �Di negeri Daha sekarang ini saja sudah ada dua dukuh Kajenar. Yang satu di barat kutaraja, yaitu dukuh Kajenar yang paduka buka. Yang satu lagi, dukuh Kajenar di dekat Tirwan, yang dibuka seorang guru suci bernama San Ali Anshar. Kami tidak tahu berapa dukuh lagi nanti yang muncul,� kata Kyayi Pocanan.

Menerima laporan kemunculan dukuh-dukuh baru bercitra Lemah Abang dan Lemah Kuning, Abdul Jalil tiahdak merasa terkejut dan khawatir. Tengara bakal munculnya setan yang akan menyimpangkan ajarannya ke arah kesesatan yang sesesat-sesatnya telah ia tangkap bertahun-tahun silam, saat ia bertemu Pangeran Arya Pinatih di Bangsal Sri Manganti di Giri Kedhaton. Munculnya orang bernama Hasan Ali alias Bango Samparan, yang mengaku murid Syaikh Lemah Abang yang bernama asli San Ali Anshar, telah ia tangkap sebagai tengara tentang bakal munculnyaq setan yang menyaru dalam wujud bayangan palsu dirinya. Lalu, setan itu akan melakukan penyelewengan besar-besaran terhadap ajaran yang sudah disampaikannya kepada manusia. Ia merasa betapa kemunculan setan itu akan menjadi salah satu penyebab yang menggenapi perjanjiannya dengan Sang Prthiwi, yaitu mengobarkan keakuannya sebagai Putera Sang Bhumi (Ksitiputera) yang akan disembelih sebagai santapan Mahaksitiputra, Putera Teragung Sang Bhumi, Sang Bhoma Narakasura.

Sadar munculnya setan yang menyaru dirinya itu adalah tengara keniscayaan baginya untuk mengakhiri jalan dharmanya membagi-bagi sisa keberlebih-kelimpahannya, Abdul Jalil tidak berkomentar apa-apa menanggapi kemunculan dukuh-dukuh baru di sekitar caturbhasa mandala yang dibukanya. Ia hanya meminta kepada murid-murid terkemukanya untuk berdiam diri. Kepada murid-murid terkemukanya itu, ia memberikan wejangan singkat:

�Ketahuilah, o engkau yang memiliki mata indriawi dan penglihatan batin! Bahwa telah menjadi kodrat Kehidupan, di mana kehadiran sesuatu yang haqq selalu diikuti oleh sesuatu yang batil, laksana siang yang terang benderang diikuti malam yang gelap gulita. Itu sebabnya, jika suatu ketika engkau sekalian berada di suatu masa yang tak jelas batas-batas terang dan gelapnya, karena bumi diliputi gumpalan awan, atau diselimuti gerhana, atau di ambang fajar dan senjakala, di mana antara yang haqq dan yang batil tidak jelas, maka saat itu diamlah! Diam! Seribu kali diam!�

�Ketahuilah, o engkau yang memiliki penglihatan batin! Bahwa dengan diam, mata hatimu (�ain al-bashirah) yang tersembunyi di relung-relung jiwamu akan menangkap tengara Kebenaran yang muncul laksana matahari kembar, yaitu matahari yang sebenarnya dan bayangan palsunya. Dengan demikian, o engkau yang melihat dengan mata batin, engkau akan menemukan aku dan bayangan palsuku berdiri di ujung jalan Kebenaran. Saat itu, engkau akan sulit membedakan antanra aku dan bayangan palsuku. Sebab, ibarat matahari di pagi dan sore hari yang sama-sama merah cahayanya, demikianlah citra diriku dan citra diri bayangan palsuku itu sama-sama menebarkan cahaya merah keraguan di hati sanubarimu. Lantaran itu, aku beri tahukan kepada engkau sekalian tentang tanda-tanda yang bisa engkau jadikan pedoman untuk membedakan keberadaanku dan keberadaan bayangan palsuku.�

�Pertama-tama, jika engkau sekalian bertemu dan berjabat tangan dengan aku maka engkau akan mendapati tanganmu bersih tanpa bekas apa pun. Sebaliknya, jika engkau sekalian menjabat tangan bayangan palsuku maka engkau akan mendapati bekas tanda pamrih berwarna hitam di telapak tanganmu. Segera lari menjauhlah kalian dari bayangan palsuku jika melihat tanda hitam itu, karena tanda itu akan melebar dan membesar, hingga menutupi seluruh tubuh dan jiwamu. Bekas tanda hitam pamrih itu akan membuatmu terhijab dari jalan Kebenaran dan bahkan akan mementalkanmu jauh-jauh dari jalan-Nya sampai engkau terperosok ke jurang Kesesatan.�

�Aku beri tahukan kepadamu bahwa jalan Kebenaran adalah jalan berliku-liku dan berkelok-kelok, terjal, curam, dan carut-marut membingungkan jika tidak diterangi cahaya matahari Kebenaran. Jalan Kebenaran yang terhampar pada Kitab Suci hanya mungkin dilewati hingga ke mahligai Kebenaran Sejati jika ia diterangi cahaya matahari Kebenaran yang tersembunyi di langit batin. Jika suatu saat nanti engkau sekalian mendapati bayangan palsuku mengaku-aku sebagai diriku, maka bentangkanah jalan Kebenaran Kitab Suci dan berjalanlah di bawah pancaran cahaya matahari Kebenaran yang menerangi penglihatan mata batinmu. Dengan piranti Kitab Suci sebagai jalan Kebenaran dan penglihatan mata batin sebagai cahaya matahari Kebenaran, engkau sekalian dengan mudah akan bisa membedakan mana Syaikh Siti Jenar yang sesungguhnya dan mana pula yang bayangan palsunya. Ujilah kemunculan setan pengaku-aku itu dengan Kitab Suci dan penglihatan mata batin, niscaya engkau sekalian akan menemukan Kebenaran bahwa dia, bayangan palsuku, itu hanyalah bayangan maya fatamorgana yang menyesatkan.�

�Ketahuilah oleh engkau sekalian, o para penempuh jalan ruhani yang berjalan di bentangan jalan Kebenaran, bahwa aku akan meninggalkan hiruk Kehidupan yang melingkupi bumi manusia ini. Aku akan pergi ke duniaku sendiri. Aku tidak bisa mendampingi kalian terus-menerus. Aku tidak bisa berkata ini dan itu ketika bermunculan setan-setan penyesat yang menyaru diriku. Lantaran itu, diamlah dan pasrahkan semua urusan kepada-Nya!�

Sewaktu perjalanan yang dilakukannya sampai di Giri Kedhaton, Abdul Jalil mendapati orang sedang sibuk mempersiapkan peringatan khaul kesembilan wafatnya Prabu Satmata Sri Naranatha Giri Kedhaton Susuhunan Ratu Tunggul Khalifatullah. Ia buru-buru menemui Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, putera Prabu Satmata yang menggantikan kedudukan ayahandanya baik sebagai raja Giri Kedhaton maupun guru suci Tarekat Ni�matullah. Saat bertemu dengan Pangeran Zainal Abidin yang disebut orang dengan gelar Susuhunan Dalem Timur, ia beroleh kabar yang mengejutkan, terkait dengan Majelis Wali Songo. Setelah Prabu Satmata Susuhuna Giri Kedhaton mangkat, anggota majelis lain yang meninggal adalah Pangeran Arya Pinatih Susuhunan Giri Gajah, Khalifah Husein Imam Madura, dan Syaikh Jumad al-Kubra. �Kakek kami, Susuhunan Giri Gajah digantikan oleh putera Eyang Susuhunan Ampel Denta, Raden Qasim. Yang Mulia Khalifah Husein digantikan oleh putera sulungnya, Usman Haji. Yang Mulia Syaikh Jumad al-Kubra digantikan oleh adiknya, Syaikh Dara Pethak. Sementara Paman, yang tak pernah terdengar kabarnya, digantikan oleh Raden Sahid Susuhunan Kalijaga. Yang menunjuk Raden Sahid sebagai pengganti Paman adalah Syaikh Dara Putih,� kata Pangeran Zainal Abidin menjelaskan.

�Kenapa Syaikh Manganti Susuhunan Giri Gajah diganti Raden Qasim? Apakah ia meninggalkan wasiat agar digantikan Raden Qasim?� tanya Abdul Jalil.

�Kakek kami memang berwasiat seperti itu.�

�Bagaimana dengan putera-puteranya?�

�Pangeran Pringgabhaya menjadi kepala wisaya di Pamwatan dan mengepalai keluarga Bajul di sepanjang Bengawan Sori hingga muara. Sementara, Pangeran Kedhanyang menggantikan kakek kami sebagai guru suci di Sri Manganti,� Pangeran Zainal Abidin menerangkan.

Abdul Jalil mengangguk-angguk. Setelah itu ia berkata, �Tapi, tadi sewaktu aku sembahyang di masjid, aku dengar kabar jika di Demak sekarang ini ada ratu kembar: Yang Dipertuan Demak dan Yang Dipertuan Japara. Bagaimana itu? Apakah yang sudah terjadi sepeninggal Sultan Abdurahman Surya Alam Senapati Jimbun Panembahan Palembang Sayidin Panatagama? Kenapa bisa ada dua penguasa?�

�Semula yang mengganti sultan adalah Pangeran Sabrang Lor, putera sulung sultan. Tapi, belum genap tiga tahun dia mangkat. Sekarang ini Tranggana, yang menjadi Sultan Demak.�

�Tranggana?� gumam Abdul Jalil heran, �Putera sultan yang suka mengumbar nafsu kesenangan itu?�

�Benar Paman. Kami juga tidak mengira kalau dia bakal naik takhta.�

�Bagaimana para adipati dapat memilih dia sebagai sultan?�

�Maaf Paman. Tranggana belum utuh menggantikan kedudukan ayahandanya. Sebab, para adipati yang tergabung dalam persekutuan telah sepakat menunjuk saudara iparnya, Pangeran Hunus Adipati Japara, sebagai adipati dan senapati. Jadi sekarang ini penguasa Demak yang berwenang memimpin persekutuan adipati se-Nusa Jawa adalah Pangeran Hunus,� kata Pangeran Zainal Abidin.

�Mungkin itu yang disebut penduduk dengan istilah ratu kembar. Apakah itu tidak menimbulkan masalah?� tanya Abdul Jalil ingin penjelasan.

�Kami berusaha memecahkan masalah itu dengan membagi kekuasaan menjadi dua, yaitu kekuasaan duniawi yang dipegang Pangeran Hunus dan kekuasaan ruhani yang dipegang Tranggana. Pangeran Hunus menduduki jabatan adipati dan senapati, sedang Tranggana menduduki jabatan sayidin panatagama yang hanya mengurusi masalah keagamaan. Jadi, meski ia bergelar sultan tetapi kekuasaannya hanya di bidang agama.�

Abdul Jalil diam. Ia tidak ingin terlibat dengan masalah-masalah rumit seputar pemerintahan, karena ia sudah menangkap sasmita bakal mengalami perubahan jalan hidup yang sangat dahsyat. Itu sebabnya, usai mengikuti upacara peringatan khaul Prabu Satmata, ia beserta istri dan anaknya bergegas meninggalkan Giri Kedhaton ke barat. Sepanjang perjalanan mengunjungi dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala dan lemah larangan, Abdul Jalil justru mendapati kenyataan yang sangat menggembirakan hatinya. Sebab, tatanan kehidupan masyarakat ummah di kawasan pesisir terlihat jauh lebih baik dibanding kehidupan di pedalaman. Bukan saja bandar-bandar di pesisir dimakmurkan oleh perdagangan dari pedalaman ke pesisir, melainkan perniagaan antara bangsa pun membawa kelimpahan yang menakjubkan. Kemakmuran benar-benar melimpah di pesisir seolah sulit ditemukan orang fakir. Tajug dan masjid tegak di mana-mana. Pesantren dan khanaqah pun tumbuh seperti jamur. Di tengah berlimpahnya kemakmuran itu, tatanan kehidupan masyarakat pesisir jauh terasa lebih aman dan tertib dibanding pedalaman karena diterapkannya undang-undang hukum yang disebut Angger-Angger Suryangalam, yakni hukum yang diberlakukan di Kadipaten Demak dan seluruh kadipaten sekutunya. Keadaan itu sangat berbeda dengan di pedalaman, di mana hukum Majapahit Kutaramanawa sudah compang-camping dan menjadi barang dagangan yang sangat murah sehingga tak mampu membawa ketertiban apalagi keadilan.

Ketika perjalanan yang dilakukannya mencapai Demak, Abdul Jalil melakukan sembahyang di Masjid Agung Demak yang telah diperluas dan diperindah dengan segala kemegahan. Para arsitek dan tukang yang diserahi tugas memperluas masjid adalah orang-orang Mappila asal Kerala. Lantaran itu, rancang bangun masjid baru itu mirip dengan masjid Kerala, yaitu beratap limas tingkat tiga. Masjid baru itu merupakan masjid terbesar di Nusa Jawa dan dijadikan salah satu tempat bertemunya Majelis Wali Songo. Sebenarnya, setelah bersembahyang Abdul Jalil berniat akan singgah ke kraton menemui Tranggana untuk mengingatkan bahaya dari takhta kekuasaan sebagai amanah Ilahi. Namun, baru saja ia berjalan dari masjid ke alun-alun, tiba-tiba ia tersentak kaget karena menjumpai sesuatu yang sedikit pun tidak pernah diduganya: bertemu muka dengan sahabat penunjuk jalan Kebenaran yang sangat dihormatinya, guru ruhani yang dimuliakan dan pembimbing jalan lurus yang membawanya ke lingkaran Jama�ah Karamah al-Auliya�, yaitu Ahmad Mubasyarah at-Tawallud.

Seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Abdul Jalil terperangah kebingungan menatap wajah Ahmad at-Tawallud yang seperti tidak termakan usia. Dengan wajah berbinar-binar penuh kegembiraan, ia menyalami, merangkul, mencium pipi, dan kemudian berlutut sambil memegangi kaki guru tercintanya itu. Lama ia terdiam seolah ingin menumpahkan kerinduannya sebagai anak lewat kaki guru yang dihormatinya. Setelah diam beberapa jurus, ia bertanya dengan suara bergetar, �Apakah yang membuat Tuan, guru suci kami, datang ke negeri yang jauh tersembunyi di balik kabut ini?�

Ahmad at-Tawallud tidak buru-buru menjawab. Sebaliknya, dia mengusap kepala si kecil Fardun yang dipangku Shafa sambil bertanya, �Berapa usianya?�

�Satu tahun delapan bulan,� jawab Shafa.

�Siapa namanya?�

�Fardun.�

Ahmad at-Tawallud tertawa. Lalu dengan suara lain dia berkata, �Nama anak ini Fardun, terkait dengan tugasku. Maksudku, aku sekarang ini sedang mengemban tugas dari Misykat al-Marhum untuk mencari engkau, o Tuan Abdul Jalil, untuk memberikan jubah kehormatan (an-nawalah), sebagai tanda bahwa engkau telah menjadi �orang yang sendiri� (fard). Sebab, telah beberapa waktu ini Misykat al-Marhum mengaku tidak lagi dapat memantau dan mengawasi keberadaan Tuan. Ternyata, barang setahun delapan bulan silam Tuan sudah mengetahui kedudukan Tuan itu.�

�Maaf Tuan, apakah dengan itu berarti kami sudah tidak menjadi anggota Jama�ah Karamah al-Auliya�?�

�Tidak hanya itu.�

�Maksudnya?�

�Keberadaan Tuan sebagai apa pun sudah selesai,� kata Ahmad at-Tawallud lepas. �Artinya, Tuan tidak boleh lagi menjadi guru manusia atau menjadi apa pun yang berkaitan dengan urusan duniawiah. Tuan harus meninggalkan segala-galanya. Tuan telah dipilih-Nya untuk menjadi kekasih-Nya yang setia. Kekasih yang tidak memalingkan kiblat kepada yang lain kecuali kepada-Nya. Dia menginginkan Tuan utuh sebagai pribadi tanpa predikat dan atribut apa pun. Tuan akan dijadikan-Nya sebagai Abdul Jalil (hamba Yang Mahaagung) dalam makna yang sebenar-benarnya. Tuan akan dijadikan sebagai �yang sendiri�, kekasih �Yang Tunggal� (al-Fard).�

Abdul Jalil tersungkur mencium tanah. Bersujud syukur atas anugerah yang tak pernah dibayangkan dan diimpikannya itu. Dengan air mata bercucuran ia menangis terisak-isak sampai tubuhnya terguncang-guncang. Ia merasakan seluruh aliran darahnya mengalir deras laksana air sungai. Ia merasakan napasnya bertiup laksana angin pegunungan bertiup di musim kemarau. Ia benar-benar merasa hilang diri. Hanya rasa rindu yang tak kesampaian ia rasakan naik perlahan-lahan dari dada hingga ke ubun-ubun.

Berbeda dengan Abdul Jalil yang menerima anugerah dari al-Fard dengan penuh kesyukuran, Shafa justru terheran-heran dan kebingungan menyaksikan kenyataan terkait nasib suaminya. Dengan benak dipenuhi tanda tanya, dia bertanya kepada Ahmad at-Tawallud, �Apakah dengan menjadi �yang sendiri� dan menjadi kekasih Yang Tunggal, suami kami sudah kehilangan segala-galanya? Apakah dia akan kehilangan juga istri dan anak-anak yang dikasihinya?�

�Ananda,� kata Ahmad at-Tawallud lembut, �Secara manusiawi, Tuan Abdul Jalil tetaplah suami ananda dan ayahanda dari putera-puteranya. Tetapi, secara ruhaniah dia adalah mutlak milik-Nya. Sebab itu, jika ananda melihat ke dalam relung-relung jiwa suami ananda maka yang akan ananda dapati adalah Kehampaan. Kosong. Kepenuhan. Pepat. Yang ada hanyala Yang Tunggal dan Tak Terbandingkan. Tidak ada yang lain lagi.�

�Apakah tidak ada sedikit ruang yang tersisa bagi kami, istri dan anak-anaknya?�

�Dia Mahasuci. Maha Pencemburu. Tidak mau disekutukan. Tidak mau diduakan. Jika di dalam relung-relung jiwa orang-orang seperti suami ananda masih terdapat ruang untuk yang lain, maka yang lain itu akan dihapus dan dihancurkan tanpa sisa.�

�Lalu bagaimana dengan nasib kami, o Tuan?� tanya Shafa minta penegasan dengan air mata bercucuran.

�Ananda janganlah berpikir dangkal sebagaimana pemikiran orang kebanyakan pada umumnya, yang selalu bertanya begini: Bagaimana nasibku dan nasib anak-anakku? Apa yang diberikan Tuhan untukku? Apa yang diberikan suamiku untuk aku? Bagaimana hak-hakku sebagai istri dan bagaimana pula hak anak-anakku sebagai anak? Sungguh, aku katakan kepada ananda bahwa sebagai istri seorang penempuh jalan ruhani, hendaknya ananda berpikir yang sebaliknya dari pandangan umum orang kebanyakan. Ananda harus berpikir begini: bagaimana seharusnya saya mengabdi secara benar kepada Allah, Sang Pencipta! Bagaimana aku dapat melayani Allah dengan sebaik-baiknya. Sebesar apakah pengorbanan yang harus aku lakukan untuk berbakti kepada-Nya? Bukankah dengan melayani dan mengabdi kepada kekasih Allah, sejatinya aku sudah melayani dan mengabdi kepada-Nya? Bukankah semua yang ada di dalam dan di luar diriku pada hakikatnya adalah milik-Nya? Pantaskah aku menentang Dia Yang mengambil milik-Nya?�

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers