Rabu, 22 Maret 2017

KUE APPAM DAN ORANG-ORANG TAKUT

Kue Appam dan Orang-Orang Takut

   Pada pengujung abad ke-16 pelabuhan Muara Jati (sekarang Cirebon) merupakan pelabuhan yang rama melebihi pelabuhan Dermayu (Indramayu). Dari berbagai tempat di pedalaman hingga berbagai bandar besar di timur dan barat, perahu dan kapal membongkar dan memunggah muatan di situ. Kawasan di sekitar pelabuhan yang semula merupakan hutan pohon kelapa telah ditumbuhi bangunan-bangunan besar: gudang-gudang, galangan kapal, kantor syahbandar, kantor pabean, pasar ikan, kedai-kedai makanan, dan sekumpulan rumah yang berkerumun di perkampungan nelayan yang terletak di sebelah selatan pelabuhan.

Abdul Jalil yang kembali ke Caruban beserta istri dan anaknya terkejut sewaktu menginjakkan kaki di dermaga pelabuhan Muara Jati. Ia merasa ada sesuatu yang berubah di situ. Matanya yang tajam memandang ke jajaran pohon kelapa yang menghutan di sepanjang pantai sebelah utara pelabuhan. Saat itu cahaya matahari sore yang tersisa di cakrawala sudah meredup kemerahan ditabiri awan kapas yang tampak menaungi pohon-pohon kelapa yang bayangannya memanjang dan menghitam seolah menyatu dengan selimut senjakala. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada sesuatu yang baru: di antara pohon-pohon kelapa yang menghutan di utara pelabuhan, terlihat kerumunan rumah baru berdesak-desakkan dengan sebuah tajug beratap tingkat tiga, tajug khas Kerala, terlihat berdiri tegak di ujung selatan kampung.

Abdul Jalil heran dan bertanya-tanya dalam hati kapan kerumunan rumah baru itu dibangun orang di situ. Barang setahun silam, saat ia untuk kali terakhir meninggalkan Caruban, kawasan di utara pelabuhan itu masih berupa hutan kelapa. Setelah terdiam sejenak, ia mendatangi perkampungan baru itu. Namun, di tengah perjalanan ia melihat dua orang pemuda sedang berjalan sambil bercanda. Mereka berbicara satu sama lain dengan menggunakan bahasa Malayalam, bahasa yang digunakan penduduk Kerala.

Ketika jarak mereka sudah dekat, Abdul Jalil menyapa mereka dengan bahasa Malayalam. Dua pemuda itu terkejut dan buru-buru menghormat takzim saat melihat orang yang menyapa mereka mengenakan jubah dan surban warna hitam. Mereka cepat sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang ulama yang wajib mereka hormati. Lantaran itu, dengan sikap sangat merendah mereka menyalami Abdul Jalil. Mereka memperkenalkan diri sebagai Ali Ladka Musliyar dan Hasan Mali Pokkar, warga Muara Jati asal Kozhikode. Rupanya, mereka menduga Abdul Jalil orang Mappila yang baru datang ke Caruban. Dengan sedikit pertanyaan dari Abdul Jalil, mereka mengaku sebagai pengungsi dari Kozhikode karena dicari-cari Portugis. �Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami setelah Portugis menembaki kota dengan meriam dan mengancam akan membunuh seluruh warga muslim Kozhikode,� ujar Ali Ladka Musliyar.

�Berapa orang warga Kozhikode yang menyingkir waktu itu?� tanya Abdul Jalil ingin tahu.

�Sekitar dua ribu orang, Tuan Syaikh.�

�Semuanya tinggal di sini?�

�Tidak Tuan Syaikh. Yang tinggal di sini hanya empat ratus orang. Saudara kami yang lain ada yang tinggal di Pasai, Malaka, Demak, Tuban, dan Gresik,� kata Ali Ladka Musliyar.

�Siapa pemimpin kalian di sini?�

�Lebai Musa Chenda, Tuan Syaikh.�

�Kalian dipimpin seorang lebai? Seorang saudagar?� tanya Abdul Jalil heran.

�Maksud kami, di Caruban ini kami memang dipimpin oleh Lebai Musa Chenda. Sebab, Yang Dipertuan Caruban menunjuk dia sebagai pemimpin kami. Tetapi, panutan kami yang sebenarnya adalah Tuan Guru Kasim Kharab Andhkar. Beliau adalah guru dari Lebai Musa Chenda, Tuan Syaikh.�

Abdul Jalil diam. Ia ingat, saat berada di Kozhikode ia pernah mendengar nama Musa Chenda, seorang saudagar kaya, yang menjadi salah seorang pemimpin penyerangan terhadap armada Portugis yang dipimpin Pedro Alvares Cabral. Ternyata, saudagar kaya itu sekarang tinggal di Muara Jati. Setelah diam sejenak, ia bertanya, �Akan ke manakah kalian sekarang ini?�

�Kami mau ke tajug, Tuan Syaikh. Nanti bakdal maghrib ada upacara Nercha.�

�O begitu,� kata Abdul Jalil, �Tapi mana kue appam kalian?�

�Adik-adik kami sudah membawanya ke tajug, Tuan Syaikh.�

�Oya, apakah kalian sudah mendengar kabar tentang serbuan pasukan Kozhikode di bawah Laksamana Kunjali Marakkar ke pangkalan Portugis di Cochazhi?�

�Pasukan Kozhikode menyerang Portugis di Cochazhi? Kami belum mendengar kabar itu, Tuan Syaikh,� seru Ali Ladka Musliyar dengan mata berbinar-binar dan dada naik turun. �Kapan peristiwa itu terjadi?�

�Kira-kira tiga pekan lalu. Aku dengar kabar itu saat berada di Malaka.�

�Apakah Yang Mulia Laksamana Kunjali Marakkar berhasil menghancurkan armada Portugis?�

�Aku tidak tahu pasti. Aku hanya mendengar kalau orang-orang Portugis dan Raja Cochazhi lari tunggang langgang meninggalkan kota. Kantor dan gudang-gudang mereka dihancurkan. Orang bilang, mereka bersembunyi di pulau Vypin,� tegas Abdul Jalil.

Dengan wajah diliputi kegembiraan, Ali Ladka Musliyar dan Hasan Mali Pokkar saling pandang. Kemudian, dengan dada naik turun mereka buru-buru berpamitan kepada Abdul Jalil untuk kembali ke kampungnya. �Kami harus menyampaikan kabar gembira ini kepada saudara-saudara kami. Terima kasih, Tuan Syaikh. Terima kasih.�

Abdul Jalil tertawa melihat dua pemuda Kerala itu membalikkan badan, berlari pulang ke rumahnya.

Ketika akan melanjutkan perjalanan ke tajug di kampung orang-orang Kerala, Abdul Jalil melihat sekawanan anak laki-laki beranjak dewasa datang dari arah perkampungan nelayan di selatan. Anak-anak berusia sepuluh hingga tiga belas tahun itu menyunggi tampah berisi kue appam dan pisang. Kelihatannya mereka memiliki tujuan yang sama dengan dua pemuda Kozhikode, yaitu ke tajug untuk mengikuti upacara Nercha. Abdul Jalil menyapa salah seorang anak yang paling besar. Anak laki-laki yang kemudian diketahui bernama Enceng itu adalah anak nelayan setempat. Dia mengaku akan pergi ke tajug untuk mengikuti upacara Kenduri Neja bersama warga kampung baru. Bakdal maghrib, ungkap Enceng, semua penduduk akan berkumpul di tajug untuk mengikuti kenduri Neja dengan membawa sesaji kue Appam dan pisang.

�Ada hajat apakah orang-orang mengadakan Kenduri Neja maghrib nanti?� tanya Abdul Jalil tersenyum geli karena Enceng mengucapkan nercha dengan lafal neja, yang secara kebetulan di dalam bahasa Sunda bermakna permohonan.

�Negeri Caruban sedang perang, Tuan Syaikh. Orang-orang kafir dari Galuh Pakuwan keluar sarang. Mereka akan menyerang kuta dan membunuh semua penduduk. Semua orang ketakutan. Kami mengikuti Kenduri Neja untuk meminta tolong arwah leluhur dan arwah-arwah pelindung desa agar berkenan memberikan perlindungan kepada kami semua,� ujar Enceng polos.

�Caruban sedang berperang?� seru Abdul Jalil terkejut, �Caruban diserang Galuh Pakuwan?�

�Apakah Tuan Syaikh belum mengetahui kabar itu?�

Abdul Jalil diam. Sejurus kemudian ia menguji keberanian anak yang baru beranjak dewasa itu dengan bertanya, �Jika negeri Caruban sedang perang, kenapa engkau dan kawan-kawanmu tidak ikut berperang mengangkat senjata? Kenapa engkau tidak membantu Yang Dipertuan Caruban melawan serangan musuh?�

Enceng terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, setelah menoleh ke arah kawan-kawannya, dengan terbata-bata dia berkata, �Kami belum dianggap dewasa, Tuan Syaikh. Bapak dan kakak-kakak kami sudah berangkat ke medan perang dipimpin Ki Dipati Suranenggala. Ibu kami menyuruh kami mengikuti Kenduri Neja agar arwah leluhur kami dan arwah pelindung desa kami berkenan melindungi bapak dan kakak-kakak kami.�

�Tolong jelaskan kepada aku, o Anak Muda, kenapa engkau membawa kue appam dan pisang?� tanya Abdul Jalil ingin mengetahui pemahaman Enceng tentang kue appam yang digunakannya sebagai sesaji dalam Kenduri Neja, yang di negeri asalnya, Kerala, disebut upacara Nercha. �Bukankah orang Caruban tidak pernah menggunakan kue appam dalam kenduri?�

�Kami tidak tahu, Tuan Syaikh. Kami hanya mengikuti perintah ibu kami. Ibu kami pun mengikuti suruhan guru mengaji kami, Tuan Guru Kasim Kharab Andhkar,� kata Enceng polos.

�Apakah ibumu tidak pernah memberi tahumu tentang guna dan manfaat dari kue appam dalam upacara Kenduri Neja itu?� tanya Abdul Jalil.

�Pernah, Tuan Syaikh. Ibu kaimi menerangkan jika kue appam adalah sesaji yang sangat disukai arwah leluhur dan arwah pelindung desa.�

�Apakah menurutmu arwah masih suka menyantap makanan dunia seperti kue appam?�

�Kami tidak tahu, Tuan Syaikh. Kami hanya mengikuti apa yang diajarkan ibu kami. Menurutnya, arwah orang mati memang suka sekali mengisap saripati kue appam.�

�Selain arwah orang mati suka saripati kue appam, apa lagi yang dikatakan ibumu?�

�Kata ibu, kue appam sangat berguna bagi kehidupan di alam kubur dan di alam akhirat,� kata Enceng.

�Kue appam sangat berguna di alam kubur dan alam akhirat?�

�Itu benar, Tuan Syaikh.�

�Apa maksudnya? Tolong jelaskan. Aku belum paham.�

�Menurut ibu, kue appam bisa dijadikan alat perlindungan dalam kehidupan sesudah mati.�

�Kue appam bisa dijadikan sarana perlindungan sesudah mati?� Abdul Jalil mengerutkan kening.

�Benar demikian, Tuan Syaikh.�

�Alat perlindungan apa yang engkau maksud, o Anak Muda?�

�Menurut ibu, kue appam bisa digunakan untuk melindungi diri dari hal-hal mengerikan baik di alam kubur maupun di alam akhirat.�

�Melindungi diri dari hal-hal mengerikan? Aku masih belum paham. Apa maksudnya itu?�

�Bukankah di padang mahsyar di akhirat nanti, pada waktu kiamat, matahari jaraknya hanya sejengkal di atas kepala manusia? Bukankah saat itu seluruh makhluk akan kepanasan dan banyak di antaranya yang terbakar hangus? Pada saat itulah, menurut ibu kami, kue appam yang pernah disajikan pada upacara Kenduri Neja akan bisa dijadikan payung untuk menaungi kita dari sengatan panas matahari,� kata Enceng.

�Kue appam untuk payung?� Abdul Jalil menarik napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. �Adakah kegunaan lain kue appam selain itu?�

�Ada, Tuan Syaikh.�

�Apa itu?�

�Menurut ibu kami, kalau kita di alam kubur dipukuli malaikat dengan gada, kue appam bisa dijadikan perisai untuk menangkis pukulan malaikat yang bertubi-tubi.�

�O begitu,� ujar Abdul Jalil terbahak. �Kalau begitu, pisang yang disajikan bersama kue appam itu tentunya akan bisa dijadikan senjata untuk melawan malaikat?�

�Memang begitu yang diajarkan ibu kepada kami, Tuan Syaikh. Kami hanya mengikuti petunjuk ibu.�

Abdul Jalil tertawa dan mempersilakan Enceng dan kawan-kawannya ke tajug. Kemudian, dengan tatapan lain, ia memandang Enceng dan kawan-kawannya yang berjalan beriringan menyunggi kue appam. Ia termangu sambil menarik napas panjang berulang-ulang. Dari sekilas peristiwa yang ditemuinya, ia mendapati kenyataan betapa keyakinan orang-orang muslim asal Kerala yang aneh itu begitu cepat diikuti oleh penduduk awam, terutama para perempuan dan anak-anak. Ia mengira, cepat atau lambat keyakinan-keyakinan aneh itu akan menular ke tempat lain seperti Samarang, Demak, Jepara, Tuban, dan Gresik yang dijadikan tempat mengungsi orang-orang Kerala. Ia paham, betapa keyakinan aneh itu akan cepat diikuti kalangan awam yang sedang diguncang peristiwa menggetarkan seperti perang dan bencana, terutama pada saat jiwa manusia dicekam rasa takut yang berkeliaran bagai kawanan hantu di tengah kegelapan. Ya, ia sadar betapa keyakinan-keyakinan aneh itu jauh lebih sederhana dan memiliki cekam gegwantuhwan (takhayul) dibanding ajaran Tauhid yang disampaikannya melalui Sasyahidan yang butuh penalaran, perenungan, wawasan, kebijaksanaan, dan amaliah yang tidak menarik.

Senja itu, ketika awan kapas berubah menjadi gumpalan mendung hitam, Abdul Jalil dengan istri dan anaknya terlihat berjalan di antara batang-batang pohon kelapa menuju pondok Pesantren Giri Amparan Jati. Sejak mengikuti sembahyang maghrib di tajug orang-orang Kozhikode hingga perjalanan ke pondok, ia menangkap suasana mencekam membias pada wajah setiap orang yang dijumpainya. Di jalan ia melihat hampir setiap wajah diliputi rasa was-was dan curiga. Semua orang yang berada di luar rumah selalu membawa senjata dan mengawasi siapa saja yang mereka temui dengan pandang penuh kecurigaan.

Di tengah perjalanan, ketika berada di Kalisapu, ia bertemu dengan Ki Gedeng Jatimerta yang sedang mengumpulkan penduduk Kalisapu untuk diajak ke medan perang menghadapi musuh. Berdasar penuturan Ki Gedeng Jatimerta, ia mengetahui jika keadaan Caruban saat itu memang sedang genting, karena terancam serbuan besar-besaran pasukan Galuh Pakuwan. Pasukan Galuh Pakuwan yang memiliki tetunggul-tetunggul sakti mandraguna dan masih didukung pula oleh tetunggul dari Talaga dan Rajagaluh telah bergerak menuju kuta Caruban. Jumlah seluruh kekuatan mereka, kabarnya, lebih dari setengah juta pasukan.

Sekalipun Caruban sedang dicekam suasana genting, dengan penduduk yang merasa cemas akibat simpang-siurnya kabar yang tak jelas sumbernya, suasana sangat berbeda dengan rentang waktu Caruban bertempur melawan Rajagaluh. Saat menghadapi Galuh Pakuwan sekarang ini tidak ada satu pun di antara penduduk Caruban yang mengungsi. �Seluruh penduduk Caruban telah bertekad untuk mempertahankan tanah miliknya sampai titik darah yang penghabisan. Seluruh penduduk sudah bersumpah akan melawan sampai titik darah terakhir.�

Mendengar tekad penduduk itu, Abdul Jalil sangat senang. Sebab, apa yang telah diajarkannya, terutama tentang hak milik pribadi dari wakil al-Malik di muka bumi, telah dipahami dan dijadikan sikap hidup oleh penduduk Caruban. Bahkan, para Gede sebagai kepala wisaya dan sekaligus pemimpin kabilah pun telah memiliki sikap yang tegas dan jelas dalam menempatkan keberadaan dirinya sebagai wakil al-Malik (khalifah al-Malik fi al-ardh) sekaligus wakil al-Wakil (khalifah al-Wakil fi al-ardh) yang dipilih penduduk, yaitu dengan tanggap dan tangkas menggalang kekuatan penduduk yang diwakilinya untuk melawan musuh yang akan menyerang wilayahnya. Caruban memang pantas disebut Garage, Nagara Gede, pejabat daerah yang dipimpin dan diatur oleh para Gede, pejabat daerah yang dipilih masyarakat, kata Abdul Jalil dalam hati.

Setelah berbincang-bincang beberapa bentar dengan Ki Gedeng Jatimerta, Abdul Jalil melanjutkan perjalanan ke Giri Amparan Jati. Ternyata, suasana mencekam tetap ia rasakan sampai saat ia memasuki gerbang pondok pesantren. Ia mendapati setiap wajah yang dijumpai selalu ditandai ketegangan. Wajah-wajah yang pucat, kuyu, dan sorot mata yang diliputi rasa curiga. Empat-lima orang anak laki-laki berusia belasan tahun dan anak-anak kecil yang merupakan santri pondok, ia lihat berkeliaran di sekitar gerbang dengan membawa obor dan sarung yang diisi bongkahan batu. Anak-anak itu memandang curiga kepada siapa saja yang tidak mereka kenal. Beberapa di antara mereka terlihat membawa pentungan kayu. Dengan mengendap-endap, mereka menyelinap di balik batang pohon-pohon jati yang menghutan di sekitar pondok.

Abdul Jalil menarik napas panjang melihat suasana yang melingkupi pesantren tempat ia pernah di tempa itu. Suasana asri dan damai yang mencitrai pesantren, saat-saat senja hari seperti sekarang ini selalu diwarnai alunan suara anak-anak mengaji atau menghafal pelajaran dengan nyanyian, tiba-tiba telah berubah mencekam. Benderang nyala pelita yang menghiasi tiap-tiap bangunan di lingkungan pesantren tidak lagi terlihat. Semua pelita dipadamkan. Sejauh mata memandang, hanya keremangan senjakala menyelimuti pohon-pohon jati dengan kelebatan bayangan santri-santri kecil di sekitar gerbang. Sejauh telinga mendengar, hanya nyanyian serangga dan cacing tanah yang terdengar bersahutan di tengah gemerisik daun-daun jati kering yang diserakkan angin ke berbagai arah.

Suasana mencekam di pondok berubah hiruk pikuk ketika Abdul Jalil yang disertai istri dan anaknya memasuki kawawan dalam pondok. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja berpuluh-puluh santri yang rata-rata terdiri atas anak-anak usia sepuluh dan dua belas tahun berhamburan dari berbagai arah bagaikan kawanan lebah keluar sarang. Dengan berteriak-teriak dan sebagian menangis ketakutan, mereka berebut saling berdesak dan dorong untuk mendekati Abdul Jalil. Mereka yang di depan berebut menyalami sambil menciumi tangan Abdul Jalil. Tidak cukup menyalami dan mencium tangan, mereka merangkul dan menciumi kaki Abdul Jalil. Bahkan, santri-santri di belakang mereka berebut memegangi dan menarik-narik jubahnya. Mereka terlibat saling desak dan saling dorong sehingga istri dan anak Abdul Jalil tergeser oleh pusaran arus santri sampai tersingkir keluar gerbang pondok.

Abdul Jalil kebingungan dikerubuti santri-santri kecil itu buru-buru menyambar bahu seorang santri agak besar yang berada di dekatnya. Dengan sekali sentakan, ia mendekatkan wajah santri itu ke wajahnya sambil berkata dengan suara ditekan tinggi, �Kenapa engkau dan kawan-kawanmu berteriak-teriak dan menangis ketakutan seperti orang tidak beriman? Di manakah kakak-kakak kalian?�

Santri itu terbelalak ketakutan. Air matanya bercucuran membasahi pipi. Dengan suara bergetar dan terbata-bata dia berkata, �Orang-orang Galuh Pakuwan mengepung kuta Caruban, Kangjeng Syaikh. Desa-desa dibakar. Prajurit Caruban banyak yang terbunuh. Kakak-kakak kami semua berangkat ke medan perang menghadapi musuh. Di pondok tidak ada yang memimpin. Semua orang pergi meninggalkan kami.�

Abdul Jalil menarik napas panjang dan mengembuskannya keras-keras. Ia sadar betapa serbuan Galuh Pakuwan kali ini tidak main-main. Tekanan dari berbagai sisi tampak sekali dilakukan pihak Galuh Pakuwan untuk mengguncang Caruban yang sedang tidak siap tempur. Sadar akan apa yang sedang terjadi, setelah terdiam beberapa jenak, ia mengangkat tangan kanannya ke atas memberi isyarat kepada semua santri agar duduk tenang. Kegaduhan pun terjadi, tapi setelah itu berangsur-angsur tenang. Santri-santri kecil dengan berdesakan duduk mengerumuni Abdul Jalil seperti anak-anak ayam meminta perlindungan induknya.

Ketika Abdul Jalil akan memberikan wejangan kepada santri-santri kecil yang dicekam ketakutan itu, tanpa sengaja ia melihat ke bagian bawah bukit. Ia tercekat ketika melihat puluhan nyala obor bergerak di antara bebatuan yang bertonjolan menuju pondok. Ia mengerutkan kening. Ia tidak tahu siapa orang-orang yang naik ke pondok dengan membawa obor itu. Ia menajamkan penglihatan dan pendengaran ketika obor-obor itu semakin dekat dan mendengar suara puluhan kaki menginjak ranting dan daun-daun jati kering. Lalu, terdengar celoteh gaduh dari orang-orang yang membawa obor itu. Ia merasa lega ketika mendengar namanya disebut-sebut di tengah celotehan gaduh itu. Rupanya, malam itu kabar kedatangannya ke Giri Amparan Jati telah disebarkan oleh orang-orang Kalisapu ke desa-desa di sekitar Gunung Jati. Akibatnya, penduduk sekitar Gunung Jati yang sedang dicekam ketakukan berbondong-bondong pergi ke pondok pesantren untuk menemuinya.

Tidak berbeda jauh dengan para santri, penduduk desa-desa di sekitar Gunung Jati yang sedang dicekam ketakutan itu begitu masuk halaman pondok sudah berdesak-desak dan berebut mendekati Abdul Jalil. Yang di bagian depan menyalami dan mencium tangannya. Yang terdekat merangkul lututnya. Sementara yang agak jauh menarik-narik jubahnya, bahkan yang tersungkur berusaha mencium kakinya. Lalu dengan suara gaduh bersahutan mereka beramai-ramai memohon agar Abdul Jalil berkenan menyelamatkan mereka dari serbuan orang-orang Galuh Pakuwan. Mereka memohon agar Abdul Jalil berkenan memanjatkan do�a kepada Allah. Mereka sangat yakin do�a Abdul Jalil pasti dikabulkan Allah. Ketika Abdul Jalil termangu-mangu tidak menunjukkan tanggapan, mereka mengiba dan menangis serta memohon agar Abdul Jalil mau berdoa bagi keselamatan negeri Caruban beserta penduduknya.

Abdul Jalil bergeming. Sejurus kemudian dengan penuh kasih, ia memandang orang-orang desa dan santri-santri kecil yang duduk berkerumun mengitarinya. Ia melihat wajah-wajah ketakutan yang menengadah penuh harapan. Ia menangkap jiwa-jiwa yang runtuh ke jurang tanpa harapan pada wajah-wajah itu. Ia tidak ingin ketakutan yang dirasakan penduduk itu meledak menjadi keputusasaan dan bahkan kepanikan. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk memberikan penguatan jiwa khotbah Tauhid. Sebab, hanya dengan kesadaran Tauhid, rasa takut orang seorang terhadap selain Allah dapat dikalahkan. Lalu, di tengah beratus-ratus wajah ketakutan orang-orang yang mengitarinya itu, ia memulai khotbahnya.

�Dengarlah, hai anak-anak dan saudara-saudaraku, janganlah engkau sekalian pernah melupakan Allah, Tuhan, Penciptamu, Zat Yang Maha Melindungi (al-Waliy) dan Maha Menjaga (al-Muhaimin). Ingatlah selalu akan Dia di mana pun engkau sekalian berada. Memintalah pertolongan hanya kepada-Nya dalam kesempitan maupun keluasan. Jangan sekali-kali engkau sekalian melalaikan Allah. Jangan pernah membiarkan orang-orang fasik menggoyahkan imanmu dengan mengatakan bahwa Allah tidak akan menolong umat-Nya yang memohon pertolongan. Jangan pernah meragukan sedikit pun akan pertolongan-Nya. Karena Dia adalah Perisai dan Senjata pelindung bagi kaum beriman. Lantaran itu, jika engkau sekalian merasa sebagai kaum beriman, jangan lagi ada syak dan ragu menggelayuti hati kalian, meski kalian mendengar kabar dan kemudian menyaksikan sendiri beratus ribu musuh mengepungmu. Pertolongan-Nya pasti akan datang jika kalian benar-benar orang beriman dan bertakwa.�

�Camkanlah, o anak-anak dan saudara-saudaraku, bahwa Allah, Zat Yang Maha Mendengar, selalu mendengar doa dari mulut hamba-Nya yang tidak menipu dan tidak suka berdusta. Allah, Zat Yang Maha Melihat, selalu melihat kesucian hati hamba-Nya yang tidak diselubungi kefasikan dan kemunafikan. Allah, Zat Yang Maha Mengetahui, selalu mengetahui kelempengan pikiran hamba-Nya yang tidak dinodai angan-angan palsu dan kejahilan. Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa, selalu menerima dan mengabulkan doa hamba-Nya yang tidak pernah menajiskan nama-Nya dengan kemusyrikan dan kejahilan.�

�Sekarang ini, hai anak-anak dan saudara-saudaraku, marilah kita memuji keagungan dan kemuliaan Allah, Zat Yang Mahasuci, Yang Maha Mencipta, Maha Melindungi, dan Maha Memelihara hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Hadapkanlah kiblat hati dan pikiran kalian hanya kepada-Nya. Teguhkan konsentrasimu hanya kepada-Nya. Jangan biarkan bayangan manusia, pohon, batu, kayu, batu nisan, gunung, dan segala sesuatu yang maujud di alam ini melintas di dalam ingatanmu. Teguhkan ingatanmu bahwa tidak ada sesuatu yang patut diingat kecuali Allah: Cahaya di atas segala cahaya. Ingatlah hanya Allah. Allah. Seribu kali hanya Allah.�

Abdul Jalil diam dan memejamkan mata. Para santri kecil dan orang tua pun diam. Mereka berusaha menyatukan hati dan pikiran untuk diarahkan kepada Allah sesuai petunjuk Abdul Jalil. Suasana berubah sepi dan senyap. Hanya desah napas dan isak tangis lirih terdengar menembus kesenyapan di antara desau angin yang meluruhkan daun-daun jati. Setelah suasana benar-benar hening, dengan suara lain yang digetari wibawa, Abdul Jalil mulai berdzikir, menyebut Asma Allah dengan suara lirih. Meski lirih, seluruh yang hadir terpesona mendengar kemerduan suaranya. Ketika seluruh jama�ah mengikuti dzikir, menyebut-nyebut Asma Allah seperti dicontohkan Abdul Jalil, terdengar suara bergelombang seperti ombak lautan yang susul-menyusul dan sambung-menyambung, yang membuat semua orang merasa seperti ditarik oleh daya pesona yang memukau kesadaran. Ketika pribadi-pribadi yang berdzikir sudah disatukan di dalam Asma Allah yang mengalun indah laksana musik surgawi, Abdul Jalil mengucapkan doa kepada Allah dengan suara keras.

�Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Maha Melindungi! Engkaulah Pelindung bagi hamba-Mu yang tertindas! Engkaulah Pelindung di waktu sempit dan sesak! Engkaulah Pembela semua hamba-Mu yang setia memuja dan menyembah hanya kepada-Mu! Engkau tidak pernah meninggalkan hamba-Mu yang mengagungkan nama-Mu. Engkau senantiasa merentangkan sayap-sayap rahmat-Mu untuk menaungi hamba-Mu yang mencintai-Mu. Hanya kepada-Mu, o Allah, hamba-Mu yang ditimpa kesusahan ini berserah diri.�

�Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Maha Memelihara! Engkaulah Gembala bagi hama-Mu di padang gembalaan duniawi yang dihuni hewan-hewan pemangsa ganas. Bimbing dan gembalakan kami, hamba-Mu, di padang gembalaan-Mu yang subur dan penuh limpahan keselamatan. Lindungi kami, hamba-Mu, dari intaian para pemangsa yang haus darah. Jauhkan kami, hamba-Mu, dari orang-orang fasik. Jauhkan kami, hamba-Mu, dari orang-orang tamak, loba, serakah, lalim, kejam, penindas, yang mulutnya penuh fitnah dan sumpah serapah. Gembalakan kami, hewan peliharaan-Mu, ke padang gembalaan yang aman dan penuh dilimpahi kedamaian. Jangan biarkan kami jatuh ke jurang kefasikan. Jangan biarkan kami memasuki gua singa. Peliharalah kami dari segala kejahatan makhluk ciptaan-Mu. Lindungilah kami dari panah-panah musuh yang dibidikkan dari tempat gelap. Engkau adalah Pelindung kami. Engkau adalah Perisai kami.�

�Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Maha kuasa! Engkau, al-Malik al-Mulki, Zat Yang Berkuasa atas segala ciptaan yang Engkau cipta! Kami, hamba-Mu, berlindung di bawah naungan kuasa-Mu. Kuatkan hati kami dari keraguan yang meruntuhkan iman. Teguhkanlah hati kami dari kegoyahan jiwa yang menggeragoti iman. Kibarkan bendera kemenangan di atas menara ruh kami yang tegak di dalam benteng keimanan yang kukuh. Lindungilah benteng kami dengan tentara-tentara-Mu (jundullah) yang memenuhi langit dan bumi! Biarlah tentara-tentara-Mu menghancurkan musuh kami dengan angin prahara, hujan badai, tanah longsor, genangan lumpur, pohon-pohon yang tumbang, dan sambaran halilintar! Halaulah musuh-musuh yang mengintai kami dengan cara-Mu yang tidak kami ketahui! Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Mahaagung! Kami berpasrah diri melindungkan diri di dalam naungan keagungan-Mu!�

Setelah berdoa dengan sura keras, Abdul Jalil tiba-tiba terdiam dengan tangan tetap menengadah ke atas. Ia berdoa tanpa bersuara. Orang-orang terus berdzikir dengan mata terpejam dan air mata bercucuran. Ketika Abdul Jalil akan mengakhiri doa dengan membaca shalawat, terjadi sesuatu yang mengejutkan semua orang. Saat itu, tiba-tiba terdengar suara guruh bersahutan di empat penjuru langit disusul sambaran halilintar menghajar bumi. Selama beberapa kejap, pemandangan di sekitar pondok pesantren menjadi terang-benderang oleh keredap cahaya halilintar. Sedetik kemudian, hujan turun sangat lebat seperti tumpahan air bah dicurahkan dari langit disambung embusan angin yang bertiup membadai.

Perubahan alam yang mendadak itu membuat semua hati tercekam dan mulut bungkam. Orang-orang saling pandang. Beberapa jenak kemudian, dengan suara gaduh mereka berdesak-desak berusaha mendekati Abdul Jalil sambil menangis dan berteriak-teriak memuji kebesaran Allah. Mereka yakin doa yang baru saja dipanjatkan Abdul Jalil telah diterima Allah dengan pertanda halilintar dan hujan angin. Peristiwa alam itu pun mereka yakini sebagai tengara hadirnya tentara Allah yang bakal menceraiberaikan musuh yang sudah mengepung Caruban.

Read More ->>

Selasa, 21 Maret 2017

TENGARA MURKA TUHAN

Tengara Murka Tuhan

    Suatu siang, ketika Abdul Jalil mengajak Raden Sahid pergi ke pelabuhan, tanpa tersangka-sangka mereka berpapasan dengan serombongan orang di depat kantor syahbandar. Mereka tampaknya akan ke kutaraja. Abdul Jalil berhenti mendadak. Kemudian dengan suara lirih tetapi agak ditekan, ia berkata kepada Raden Sahid. �Kalau tidak keliru, itu seperti rombongan orang-orang dari Surabaya.�

Raden Sahid menghentikan langkah dan melihat iring-iringan orang di depannya. Dilihat dari penampilan, pakaian, payung, dan lambang-lambang yang dibawa, rombongan itu tampaknya memang berasal dari Surabaya. Orang yang diusung di atas tandu, yang belakangan diketahui sebagai Pangeran Arya Kediri, adalah putera ketiga Raden Kusen Adipati Surabaya. Pangeran Arya Kediri selama itu dikenal sebagai anak muda gagah berani. Ia dipercaya ayahandanya mengepalai pasukan pengalasan Surabaya. Ia selalu berjaya dalam berbagai pertempuran. Lantaran kemenangan-kemenangan yang selalu diraihnya itulah, orang kemudian menyebutnya dengan gelar terhormat: Pangeran Tundhung Musuh.

Pangeran Arya Kediri datang ke Malaka didampingi Raden Muhammad Yusuf, putera Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu. Mereka berdua dikenal sebagai sahabat dekat. Melalui Raden Muhammad Yusuf yang memiliki keluarga terpandang di Malaka, Pangeran Arya Kediri menancapkan kekuatan untuk melindungi saudagar-saudagar asal Surabaya yang berniaga di Malaka. Dalam suatu perbincangan singkat dengan Pangeran Arya Kediri dan Raden Muhammad Yusuf, Abdul Jalil mengetahui jika salah satu alasan kehadiran putera Raden Kusen itu ke Malaka adalah untuk berdagang senjata. Rupanya, melalui bantuan Raden Muhammad Yusuf dan keluarganya, Pangeran Arya Kediri dapat membangun kekuatan dan sekaligus mengembangkan kantor perwakilan dagang di Malaka, terutama pemasaran bedil besar (meriam) buatan Sapanjang dan Jepara. Selain bedil besar, dijual juga mesiu buatan Palembang dan Samarang.

Menurut Pangeran Arya Kediri dan Raden Muhammad Yusuf, dalam hal mutu, bedil besar buatan Sapanjang dan Jepara tidak kalah dibanding meriam-meriam terbaik buatan Kerala dan Turki. Dalam tiga empat kali uji coba mutu senjata, aku Pangeran Arya Kediri, pihaknya sudah mendapat pesanan dari Sultan Malaka, Sultan Brunei, dan Sultan Sulu. �Sultan Malaka Mahmud Syah memesan seratus bedil besar dari bahan kuningan dan tujuh puluh bedil besar dari bahan besi. Sultan Brunei Nakhoda Ragam Bolkiah memesan lima puluh bedil besar dari bahan besi. Sedang Sultan Sulu Kamaluddin Hasyim Abu Bakar memesan empat puluh bedil besar dari besi.�

�Malam nanti kami akan bertemu dengan Hiyoshi, saudagar asal Hakata dari negeri Jepun. Orang-orang Jepun kelihatannya sangat tertarik dengan bedil besar dan bedil,� kata Pangeran Arya Kediri bangga.

�Bedil besar itu dibuat di Sapanjang? Maksudnya, Sapanjang di selatan Surabaya?� gumam Abdul Jalil sambil mengerutkan kening seolah belum percaya.

�Pengecoran di Terung sudah ditutup. Sebagai pengganti, dibikin pengecoran baru di Sapanjang. Yang mengepalai pengecoran adalah Raden Mahmud Pangeran Sapanjang, putera Susuhunan Rahmatullah.�

�Apakah di Sapanjang dan Jepara orang-orang sudah bisa membuat bedil?� tanya Abdul Jalil.

�Orang-orang kami belum mampu membuat bedil yang bagus. Dalam beberapa kali uji coba, laras bedil yang dibuat orang-orang kita selalu pecah setelah dipakai menembak dua tiga kali. Jadi, untuk bedil kita masih membelinya dari saudagar-saudagar Kerala dan Bengali. Tetapi, kami menawarkan bedil-bedil itu kepada siapa saja yang berminat, termasuk kepada orang-orang Jepun,� kata Pangeran Arya Kediri.

Abdul Jalil mengangguk-angguk sambil menarik napas berat. Penjelasan Pangeran Arya Kediri tentang meningkatnya perniagaan bedil besar buatan Jawa telah semakin menyadarkannya bahwa tengara kerusakan dahsyat yang bakal ditimbulkan oleh senjata penyembur api itu makin mendekati kenyataan. Ia sadar bahwa sebuah perubahan besar akibat hadirnya Ya�juj wa Ma�juj, cambuk api yang bakal digunakan Allah untuk menghajar bumi dan penghuninya, semakin dekat waktunya. Itu berarti, ujian bagi manusia beriman yang teraduk-aduk bersama azab bagi manusia yang lalai semakin dekat menghampiri dunia.

Ketika Abdul Jalil tengah merenungkan keterkaitan antara azab Allah dan maraknya perdagangan senjata penyembur api, ia dikejutkan oleh pekikan Raden Sahid. Ia menoleh dan mendapati Raden Sahid berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi. Menangkap gelagat kurang baik, Abdul Jalil bertanya tentang apa yang sedang dialami bakal menantunya itu. Dengan bibir gemetar dan terbata-bata Raden Sahid berkata, �Kami menyaksikan orang-orang di depan itu memiliki ekor.�

Abdul Jalil tertawa, lalu sambil menepuk bahu Raden Sahid ia berbisik, �Bersyukurlah, engkau telah dianugerahi pengetahuan gaib untuk mengetahui keberadaan manusia berekor. Bersyukurlah!�

�Kenapa mereka diberi perlambang memiliki ekor?� tanya Raden Sahid heran.

�Bukankah engkau sudah menyaksikan tujuh cahaya pada tubuh manusia?� bisik Abdul Jalil. �Yang engkau saksikan itu adalah orang-orang yang hidupnya digerakkan oleh cahaya yang memanjang di ujung tulang ekornya. Itulah tanda manusia yang hidupnya terbimbing nafsu rendah hewani.�

Raden Sahid mengangguk paham. Tetapi, bagi Abdul Jalil, anggukan Raden Sahid itu justru makin menguatkan sasmita yang ditangkapnya sehubungan dengan bakal menggeletarnya cambuk Tuhan atas Malaka. Ya, Malaka. Malaka lambang kemakmuran bumi yang menebarkan suasana pengab, tengik, busuk, dan menyesakkan jiwa dengan nilai-nilai kebenaran yang jungkir balik, pancaran gemilang kelezatan duniawi yang menyilapkan banyak manusia dari mengingat Tuhan. Tampaknya, Malaka sedang menunggu giliran dihajar oleh lecutan cambuk api yang menggeletar di tengah gemuruh murka Ilahi.

Tengara bakal dilecutnya Malaka oleh cambuk api murka Ilahi makin kuat ditangkap getarannya oleh Abdul Jalil manakala ia diajak oleh Pangeran Arya Kediri ke sebuah tempat pelatihan militer di selatan kutaraja. Tempat itu berupa alun-alun yang luas dikitari barak prajurit, gudang perbekalan, gudang senjata, istal, dan kandan gajah. Di bagian tengah alun-alun terlihat barang sepuluh orang-orangan dari jerami yang dipancang pada kayu, sebagai sasaran bidikan bedil dan anak panah. Sejumlah prajurit yang berdiri berjajar terlihat membawa bedil di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Asap tipis masih mengepul dari moncong bedil ketika mereka dengan teriakan keras melompat ke arah orang-orangan jerami sambil mengayunkan pedang.

Sebagian dari prajurit yang tinggal di barak-barak itu berasal dari Jawa. Mereka dibayar oleh sultan sebagai tentara sewaan dengan upah tinggi. �Kebanyakan mereka berasal dari Surabaya, Siddhayu, Gresik, Terung, dan Demak. Mereka sangat berani dan terampil menggunakan berbagai jenis senjata,� ujar Pangeran Arya Kediri bangga.

Abdul Jalil hanya manggut-manggut mendengarnya. Setelah diam sejurus, ia bertanya, �Kenapa sultan menyewa prajurit dari Jawa? Apakah penduduk Malaka enggan menjadi prajurit?�

�Sepengetahuan kami, sultan memperkuat diri dengan prajurit-prajurit sewaan dari Jawa lebih disebabkan oleh kepentingan mengimbangi kekuatan Bendahara Raja Tun Mutahir yang didukung orang-orang Keling. Bahkan, belakangan Tun Mutahir didukung pula oleh pengungsi-pengungsi asal Kerala. Sultan merasa Tun Mutahir telah bertindak terlalu jauh merongrong kekuasaannya sehingga keberadaan sultan tak lebih dari boneka tak berdaya. Sultan yang merasa berdarah Majapahit itu ingin menunjukkan kekuatannya dengan mendatangkan prajurit-prajurit unggul dari Jawa.�

Abdul Jalil diam. Dalam diam ia menangkap sasmita betapa rapuhnya usaha Sultan Malaka dalam memperkuat pertahanan diri. Jika sultan merasa kuat dengan dukungan pasukan sewaan yang besar jumlahnya maka sejatinya sultan seperti sedang membangun benteng dari jaring laba-laba yang rapuh dan mudah hancur. Sebab, seberapa kuatkah kesetiaan prajurit sewaan? Bukankah mereka setiap waktu bisa mengalihkan pengabdian kepada tuan yang membayar sewa lebih mahal?

Pada awal abad ke � 16, di mana-mana tempat yang dihuni penduduk muslim, tak terkecuali Malaka, sedang berlangsung pertarungan sengit antara pengikut Syi�ah dan Sunni. Akal sehat dan persaudaraan kaum muslim (ukhuwah Islamiyyah) sepertinya telah tersapu dari permukaan bumi dan tenggelam ke dalam lautan kebencian tak bertepi. Matahari Kebenaran makin lama makin jauh bersembunyi di balik bukit-bukit permusuhan yang dikobari api amarah dan dialiri sungai darah. Fitrah manusia sebagai citra ar-Rahman (shurah ar-Rahman) telah menjelma dalam bentuk kawanan setan bertubuh api yang ganas dan haus darah. Saat itu Sang Maut seolah-olah memanjangkan bayangan-Nya dan menjulurkan cakar-Nya sampai ke bagian tergelap dari relung-relung terdalam jiwa manusia.

Di tengah bayangan kelam Sang Maut yang mengintai di balik cakrawala Kehidupan, di tengah permusuhan orang-orang Syi�ah dan Sunni, Abdul Jalil dengan didampingi istri, anak, dan Raden Sahid terlihat berjalan menelusuri lorong-lorong sempit di bandar Malaka yang diapit bangunan-bangunan di kedua sisinya. Beberapa saat lalu ia baru saja bertemu dan singgah sejenak di rumah Khoja Hasib al-Tughyan, seorang kenalan lamanya, yang terletak di tepi utara sungai Malaka. Ia tidak menyangka Khoja masih tetap sebagai Hasyib al-Tughyan yang pernah dikenalnya barang tiga dasawarsa silam; seorang anak muda yang secara ajaib tidak pernah terpengaruh putaran roda waktu. Wajahnya, matanya, bibirnya, hidungnya, kulitnya, rambutnya, dan bahkan bentuk tubuhnya tetap tidak berubah barang secuil pun. Khoja tetap seorang pemuda yang sepertinya tidak pernah tua apalagi sampai kulitnya keriput dan punggungnya bongkok lalu tumbang ke bumi.

Tidak berbeda dengan penampilannya yang tidak pernah berubah tua, Khoja juga tidak berubah dalam sikap dan perbuatan. Dia selalu bersikap tegas, jujur, polos, suka berterus terang, dan yang menakjubkan, ingatannya sangat kuat sehingga sekecil apa pun peristiwa yang diketahuinya tidak akan pernah dilupakannya. Melalui dia, Abdul Jalil mendapat cerita singkat tentang Syaikh Abul Mahjuubin dan ketiga orang anaknya; Abul Maisir sang penjudi, Abul Khamrun sang pemabuk, dan Abul Kadzib sang penipu. Dengan suara gemerisik bagaikan daun-daun kering diembus angin, Khoja bertutur.

�Manusia dekil yang kita kenal sebagai Syaikh Abul Mahjuubin ternyata hidup tidak lama setelah engkau pergi meninggalkan Malaka, o Sahabat. Rupanya, dia yang hidup dari mengisap darah manusia, di dalam tubuhnya bersarang kawanan hewan pengisap darah: lintah. Itu sebabnya, berapa banyak pun darah yang dia isap selalu tidak cukup memuaskan kawanan lintah yang menghirup setiap tetes darah yang mengalir di tubuhnya. Bahkan, semakin banyak darah yang diisapnya, semakin rakus lintah-lintah itu mengganas dan mengisap darah yang mengalir di tubuhnya. Ketika darah yang diisapnya diperebutkan oleh ketiga orang anaknya, sehingga pasokan darah di tubuhnya berkurang, lintah-lintah ganas itu dengan rakus mengisap semua cairan dan menggeragoti organ-organ tubuhnya hingga ke tulang dan sumsum. Dan, saat Sang Maut menghantamkan sayap Kematian ke hulu tenggorokannya, tubuh celaka makhluk dekil pengisap darah itu sudah tinggal tulang terbalut kulit. Dengan mata terbelalak dan wajah pucat pasi ia meregang nyawa karena sebelumnya ia tidak pernah menduga jika nyawanya bakal dicabut secepat itu.�

�Pembohong seperti Syaikh Abul Mahjuubin memang harus hidup dilingkari kebohongan demi kebohongan sehingga pada saat mati pun ia masih juga diliputi kebohongan. Para murid dan keluarga yang menunggui Syaikh Abul Mahjuubin saat menjelang sakaratul maut, dengan kelincahan lidahnya memberikan kesaksian palsu bahwa mereka telah menyaksikan gurunya mati dengan tersenyum sambil mengucap kalimat: la ilaha illa Allah! Padahal, saat itu malaikat, jin, setan, cicak, nyamuk, semut, dan aku yang berada di sana mempersaksikan bahwa Abul Mahjuubin mati secara su�ul khatimah, karena mengumpati Tuhan yang dianggapnya telah menyiksanya dengan penyakit yang tak kunjung sembuh.�

�Aku malah menyaksikan, bagaimana tidak lama setelah mayat manusia lintah itu dikubur, ketiga orang anaknya merancang kebohongan dengan membuat surat warisan palsu yang terkait dengan pembagian harta peninggalan ayahanda mereka. Mereka tanpa malu sedikit pun saling bertengkar, merebut warisan. Mereka mengeluarkan banyak uang untuk menyuap hakim dan saksi palsu. Mereka menyuap pejabat-pejabat korup agar berkenan membela mereka masing-masing. Walhasil, tidak sampai tiga bulan seluruh kekayaan yang sudah dikumpulkan dengan penuh kecurangan oleh Syaikh Abul Mahjuubin selama bertahun-tahun itu lenyap seperti tersapu angin prahara. Demikianlah, pada bulan keempat setelah kematian Syaikh Abul Mahjuubin, orang melihat Abul Maisir dan Abul Khamrun hidup menggelandang di pasar-pasar sebagai orang setengah waras. Sedang Abul Kadzib, anak bungsunya, diketahui orang keluar masuk gedung pengadilan dan dijatuhi hukuman dera berulang-ulang akibat tidak bisa meninggalkan kebiasaannya menipu.�

�Sungguh menyedihkan akhir cerita manusia pecinta duniawi seperti Syaikh Abul Mahjuubin dan putera-puteranya,� gumam Abdul Jalil menarik napas panjang.

�Mudah-mudahan kita tidak digolongkan-Nya sebagai kawanan manusia tengik seperti mereka.�

Ketika Abdul Jalil dan Khoja sedang memperbincangkan kehadiran orang-orang Kerala pendukung Tun Mutahir, muncul Thalib al-Akhbar, saudara sepupu Khoja, membawa kabar mengejutkan: barang lima hari lalu Laksamana Kunjali Marakkar, panglima angkatan laut Kozhikode, dengan kekuatan 280 buah kapal perang dan pasukan berjumlah 50.000 orang menggempur bandar Cochazhi (Cochin). Raja Cochazhi dan orang-orang Portugis sekutunya yang tak menduga bakal mendapat serangan mendadak itu terkejut bukan alang kepalang. Francisco d�Albuquerque sampai serak suaranya berteriak-teriak memimpin gerak mundur pasukannya yang hanya seratus orang itu dari Cochazhi. Duarte Pacheco Pereira yang mendampingi raja Cochazhi tidak dapat berbuat sesuatu kecuali menyarankan agar sang raja yang dikawal delapan ratus orang serdadu sewaan dan pengawal-pengawalnya itu untuk menyingkir dari kota. Setelah berhasil menguasai bandar, ungkap Thalib al-Akhbar, para prajurit dan pejuang Kozhikode beramai-ramai menghancurkan kantor persekutuan dagang (feitoria) Portugis � Cochazhi beserta gudang-gudangnya.

Setelah menyingkir dari bandar, Portugis dan raja Cochazhi membawa sisa-sisa pasukannya ke pulau Vypin. Portugis kemudian melanjutkan pembangunan benteng kayu di pulau itu untuk menahan serbuan yang dilakukan prajurit dan pejuang-pejuang Kozhikode. Portugis menamai benteng kayu itu dengan sebutan Castelo de Cima. Di benteng itulah, menurut kabar, Portugis dan raja Cochazhi melakukan perlawanan dengan taktik dan strategi perang Eropa yang sangat berbeda dengan yang diterapkan Laksamana Kunjali Marakkar.

Kabar serbuan Laksamana Kunjali Marakkar ke Cochazhi yang membuat Portugis dan sekutunya tunggang-langgang, ternyata dengan cepat menyebar ke bandar-bandar perniagaan di selatan, termasuk Malaka. Hal itu diketahui Abdul Jalil ketika ia berbincang-bincang dengan Syaikh Dara Putih, adik lain ibu Syaikh Jumad al-Kubra, dan Datuk Musa, saudara sepupunya, di rumahnya yang terletak di kampung Pulau Upih. Anehnya, orang-orang Malaka kelihatan tidak sedikit pun menganggap serius kabar pertempuran Laksamana Kunjali Marakkar dengan Portugis itu. Mereka seolah-olah menganggap peristiwa itu sebagai sesuatu yang biasa, sebagaimana layaknya peristiwa perselisihan antarsaudagar atau antarpenguasa bandar. Mereka justru jauh lebih menganggap serius perselisihan antara pengikut Sunni dan Syi�ah.

Sekalipun dalam memperbincangkan berbagai masalah terkait nasib umat Islam yang semrawut itu Abdul Jalil dinilai memiliki pandangan berbeda dalam menyikapinya, baik Datuk Musa, Syaikh Dara Putih, dan Raden Sahid sama-sama sepakat dengan kesimpulan Abdul Jalil bahwa bertubi-tubinya masalah rumit yang dihadapi umat Islam belakangan ini bukanlah suatu peristiwa kebetulan. Mereka sepakat, keberadaan umat Islam yang belakangan ini dijungkirbalikkan dalam berbagai peristiwa pedih laksana tanah sawah dijungkir balik bajak adalah sebuah pertanda bahwa Sang Pencipta sedang menyiapkan suatu rencana bagi umat-Nya. Khusus tentang pertarungan antara pengikut Syi�ah dan Sunni, mereka melihat adanya suatu keanehan. Pemuka-pemuka Syi�ah maupun Sunni yang bertempur ternyata sama-sama mengaku sebagai golongan Alawiyyin, keturunan Imam Ali bin Abi Thalib, yang bertuhankan Allah, berkitab suci Al-Qur�an, bernabi Muhammad Saw, berkiblat Ka�bah sehingga tidak jelas siapa sesungguhnya yang benar dan siapa yang berbohong dalam pengakuan-pengakuan sepihak di tengah pertikaian itu.

Selama memperbincangkan masalah perseteruan Syi�ah dan Sunni, Abdul Jalil diam-diam menangkap kenyataan tentang kerasnya sikap Syaikh Dara Putih terhadap mereka yang dianggap memihak dan mendukung Syah Ismail. Meski Syaikh Dara Putih menyatakan tidak memihak salah satu pihak yang berseteru, kenyataan menunjuk bahwa dia tidak segan membuat fatwa untuk menghalalkan darah siapa pun di antara manusia yang terbukti mendukung Syah Ismail. Kerasnya sikap Syaikh Dara Putih itu, menurut hemat Abdul Jalil, kemungkinan bersumber dari kemarahan tak terkendali adik Syaikh Jumad al-Kubra itu ketika mendengar cerita tentang tindakan-tindakan brutal Syah Ismail dalam menghancurkan tarekat-tarekat di bumi Persia. Sebab, dengan penghancuran tarekat-tarekat itu, garis silsilah nasab para Alawiyyin � Syaikh Dara Putih termasuk di dalamnya � menjadi kacau dan bahkan terputus sehingga keabsahan silsilah mereka sewaktu-waktu layak diragukan.

Menghadapi guru tarekat yang masih dijerat oleh keberpihakan dan pamrih seperti Syaikh Dara Putih, Abdul Jalil tentu saja tidak mau mengimbangi. Sebaliknya, ia berusaha mengalihkan alur pembicaraan dengan membahas masalah kemerosotan akhlak dan jungkir baliknya nilai-nilai yang sedang berlangsung di Malaka, dengan terlebih dulu mengungkap latar di balik peperangan Kozhikode di satu pihak dengan Portugis dan penguasa Cochazhi di pihak lain. Sebagaimana pandangannya yang selalu berpusat pada Tauhid, Abdul Jalil menyimpulkan bahwa pertumpahan darah yang menimbulkan korban jiwa di Kozhikode, Cochazhi, Perlak, Pasai, dan Malaka belakangan ini pada hakikatnya adalah rangkaian panjang dari lecutan demi lecutan cambuk Allah untuk mengingatkan umat-Nya yang sedang berada di jalan kefasikan.

Setelah menguraikan berbagai hal terkait nasib pedih yang dialami kaum muslimin di Kozhikode, yang kemungkinan akan mengalami kekalahan dalam pertempuran lanjutan, Abdul Jalil tanpa terduga menyarankan agar Datuk Musa, sepupunya, melakukan hijrah, membawa keluarganya meninggalkan Malaka ke daerah pedalaman. Alasan Abdul Jalil sederhana, yakni pusaran kehidupan di Malaka sesungguhnya telah diluapi genangan arus sungai kehidupan yang dibanjiri air bah kebendaan. Keadaan itu, menurutnya, cepat atau lambat akan mendatangkan murka Allah sebagaimana telah terjadi pada umat-umat terdahulu.

�Tumpahnya darah muslim di suatu tempat, apa pun alasannya, menurut hematku, mesti memiliki hubungan tali-temali dengan lecutan cambuk Tuhan. Peristiwa berdarah di Kozhikode dan Cochazhi. Peristiwa berdarah di Perlak, Pasai dan Malaka, meski dengan latar berbeda, pada dasarnya satu juga pangkalnya, yaitu peringatan Tuhan. Jika kita masih tidak sadar juga dengan peringatan-Nya itu maka lecutan cambuk Tuhan berikutnya akan menggeletar lebih dahsyat dengan rasa sakit yang tak tertanggungkan,� ujar Abdul Jalil.

�Bagaimana engkau, o Saudaraku, bisa menilai kalau Malaka bakal dilecut cambuk Tuhan seperti Kozhikode dan Cochazhi?� tanya Datuk Masa seperti belum memahami sepenuhnya makna di balik ucapan Abdul Jalil.

Abdul Jalil terdiam. Sejenak kemudian dengan suara lain ia berkata, �Selama menjejakkan kaki untuk kali kedua di Malaka, aku telah melihat genangan lumpur kemerosotan akhlak yang diakibatkan oleh meluapnya sungai kehidupan duniawi yang dibanjiri air bah kebendaan. Di hampir setiap penjuru kota aku melihat manusia-manusia malang bertubuh kurus meringkuk tak berdaya di tengah genangan lumpur. Mereka tidak bisa bergerak bebas karena sekujur tubuhnya dililit ular beludak utang yang beranak-pinak tak terhitung jumlahnya. Sungguh, telah aku saksikan kawanan ular riba beriap-riap masuk ke rumah penduduk dan mematuk para penghuninya dengan racunnya yang mematikan.�

�Renungkan, o Saudaraku, jika sebuah kota sudah padat dihuni ular riba beracun ganas, maka seluruh penduduk yang menghuni kota itu lambat laun akan terkena pula racun yang mematikan. Penduduk yang terkena racun berbisa dari gigi-geligi ular riba itu pasti akan limbung dan terhuyung-huyung kebingungan. Kenapa mereka limbung dan terhuyung-huyung kebingungan? Sesungguhnya, mereka saat itu berada di antara kesadaran ular dan kesadaran manusia. Kesadaran mereka terombang-ambing di antara dua dunia yang berbeda, yaitu dunia manusia dan dunia hewan melata. Mereka itulah yang disebut makhluk siluman: hewan bukan manusia pun bukan. Makin banyak manusia yang terkena racun riba akan semakin banyak manusia yang menjadi siluman. Sebagaimana kisah umat di masa silam yang terombang ambing di antara alam manusia dan alam hewan, murka Tuhan akan menghambur dari segenap penjuru. Lecutan cambuk Tuhan akan menggeletar di mana-mana untuk memisahkan kembali batas-batas wilayah kesadaran manusia dan hewan. Demikianlah, penduduk negeri yang hidup berdampingan dengan kawanan ular riba sehingga menjelma menjadi siluman, pasti akan merasakan lecutan cambuk Tuhan yang pedih.�

�Apakah hanya karena riba yang merajalela di negeri ini sudah bisa menjadi penyebab penduduknya dilecut oleh cambuk Tuhan? Tidakkah penduduk Malaka yang lain masih cukup banyak yang baik? Tidakkah saudaraku melihat orang-orang yang menjalankan shalat jama�ah di masjid-masjid?� tanya Datuk Musa.

Abdul Jalil tercenung sesaat. Setelah itu, ia berkata seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, �Jika hukum di sebuah negeri telah disulap menjadi barang dagangan semurah kue-kue di pasar maka akan turunlah murka Allah. Dia mengirim para perampok, penggarong, pencuri, penyiksa, dan pembunuh yang ganas di tengah penduduk. Kawanan makhluk jahat itulah pengejawantan cambuk Tuhan yang menghukum penduduk negeri celaka itu. Jika ada yang bertanya kenapa Tuhan murka ketika hukum diperdagangkan di suatu negeri? Aku katakan, Tuhan murka karena di balik keberadaan sebuah hukum, sejatinya tersembunyi Kehadiran Ilahi (Hadrah al-Ilahiyyah) yang meliputi Asma�, Af�al, dan Shifat-Nya, yaitu Kebenaran pancaran al-Haqq, Kelurusan pancaran al-Hadi, Penghisaban pancaran al-Hasib, Penghukuman pancaran al-Hakam, Pengayoman pancaran al-Waly, Pembalasan pancaran al-Muntaqim, Keseimbangan pancaran al-Muqsith, Kebijaksanaan pancaran al-Hakim, dan Keadilan pancaran al-�Adl.�

�Sungguh celaka para hakim yang menggunakan nama Ilahi, al-Hakim, untuk menista hukum dan keadilan demi kepentingan diri pribadi. Sungguh celaka seribu kali celaka penjahat-penjahat tengik yang menjual murah al-Hakim dan al-�Adl demi pengumbaran nafsu rendahnya. Sungguh celaka mereka. Mereka tidak saja menghianati al-Hakim, tetapi juga al-�Adl, al-Hakam, al-Haqq, al-Hadi, al-Hasib, al-Waly, al-Muntaqim, al-Muqsith. Mereka telah memerosokkan diri ke dalam lingkaran murka-Nya yang akan membenamkan mereka ke dalam lumpur kehidupan benda-benda yang busuk beracun. Mereka akan menjelma menjadi kaum penyekutu Tuhan (qaum al-musyrikin); kaum pemuja benda-benda yang melampaui batas (thaghut); kaum musyrikin yang paling dikutuk Tuhan. Sesungguhnya, mereka telah membenamkan diri mereka sendiri ke dalam genangan lumpur nafsu kebendaan sehingga mata hati mereka buta (ummi), telinga jiwa mereka tuli (shamam), dan suara kebenaran ruhnya bisu (bakam). Mereka itulah kawanan makhluk terkutuk karena kesadaran jiwa mereka sudah tertutup oleh benda-benda, seibarat besi-besi, seibarat besi-besi rongsokan ditutupi karat tebal.�

�Aku katakan: celaka! Seribu kali celaka manusia yang telah merendahkan dan menista makna hakiki Kebenaran pancaran al-Haqq, Kelurusan pancaran al-Hadi, Penghukuman pancaran al-Hakam, Keadilan pancaran al-�Adl, dan Kebijaksanaan pancaran al-Hakim untuk menjadi sekadar uang recehan (al-fakkah al-nuqud). Sebab, mereka dengan kesadaran kaum penyekutu Tuhan yang jahil telah mengkhianati dan menista Asma�, Af�al, dan Shifat Ilahi. Mereka dengan kejahilannya telah membuka (fakka) kecaman (naqada) atas diri sendiri dan keluarganya, yaitu kejahilan yang bakal mengangakan paruh burung (manaqid) neraka di mana mereka akan dijadikan santapan utamanya. Akankah Allah sebagai Rabb dari Semua Rabb (Rabb al-Arbab) membiarkan para pengkhianat yang menista Asma�, Af�al, dan Shifat-Nya itu bergembira ria menikmati hasil pengkhianatannya?�

�Tidakkah engkau saksikan dengan mata indriawi dan mata batin, o manusia, bagaimana para pejabat di negeri ini telah mengaku-akku sebagai hamba setia pentadbiran Kerajaan(hukumah malakiyyah), padahal mereka itu sejatinya adalah hamba thaghut? Tidakkah engkau saksikan sikap dan perilaku para pembantu sultan yang jauh dari adab orang beriman? Tidakkah engkau ketahui bahwa para hamba pentadbiran kerajaan itu telah menjadi penyeleweng nista yang menjijikkan? Sungguh, telah aku saksikan dengan mata indriawi dan mata batin bagaimana mereka yang menduduki jabatan Bendahara Raja, Wazir, Qadi, Temenggung, Laksamana, Menteri-hulubalang, Syahbandar, Penghulu Balai, Penghulu Bendahari Yang di dalam, Penghulu Bendahari Yang di luar, Penghulu Istana, Penghulu Jenang, hingga pegawai rendahan di kerajaan ini telah memanfaatkan kekuasaan yang mereka miliki untuk memenuhi kehendak nafsunya.�

�Sementara itu, telah aku saksikan pula bagaimana para ulama wakil al-�Alim di muka bumi (khalifah al-�Alim fi al-ardh) di negeri ini banyak yang telah menjadi pengabdi setia penguasa baik sultan maupun bendahara raja. Mereka tidak melakukan tugas dan kewajibannya sebagai penyebar ilmu, penyampai kebenaran, penegak akhlak, penunjuk bagi yang sesat jalan, sumber fatwa, dan sosok panutan yang jadi keteladanan umat. Mereka justru banyak yang berlaku zalim, dengan imbalan murah mereka telah memutarbalik ayat-ayat Allah untuk mengabsahkan �pembenaran� terhadap kebijakan penguasa. Mereka sibuk menumpuk kekayaan dan mengibarkan panji-panji kemasyhuran pribadi. Mereka membangun dinding-dinding kemunafikan untuk melindungi kepentingan pribadinya. Dan dari dalam dinding-dinding kemunafikannya itu mereka diam-diam sering membidikkan panah-panah fitnah beracun terhadap ulama lain yang berbeda kepentingan.�

�Sungguh, mereka semua telah bersekongkol dalam kejahatan menjijikkan. Mereka telah menjadi pengkhianat citra Ilahi yang tersembunyi di balik Asma�, Shifat, danAf�al Zat Yang Maha Merajai (al-Malik al-Mulki) dan Maha Mengetahui (al-�Alim) segala sesuatu. Seluruh penduduk negeri pun sudah mafhum bahwa nilai kebenaran, kekuasaan, kesetiaan, kehormatan, dan kemuliaan di negeri ini ditentukan oleh kepintaran menjilat dan menyuap. Jika ada di antara penduduk yang berkata bahwa dia masih melihat orang-orang bersembahyang di masjid-masjid, maka aku katakan bahwa bagi mereka yang memiliki mata batin akan menyaksikan betapa sebagian besar di antara mereka yang bersembahyang itu sejatinya tanpa membawa iman. Betapa banyak di antara mereka seusai sembahyang menjadi perampok, penggarong, pencuri, perampas, penyiksa, dan pembunuh. Betapa banyak di antara orang-orang yang bersembahyang itu lebih cocok disebut kaum beragama yang tidak beriman. Akankah Tuhan tidak mengetahui kemunafikan makhluk-makhluk terkutuk itu? Akankah Tuhan membiarkan makhluk-makhluk terkutuk itu mengkhianati dan menista citra keagungan Asma�, Af�al, dan Shifat-Nya?�

�Sesungguhnya para pengkhianat Tuhan itu sama bejatnya dengan pelacur, tetapi kedudukan mereka jauh lebih rendah dan nista. Kenapa aku katakan para hakim pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati al-Hakim, al-Hakam, al-�Adl, al-Haqq, al-Hadi, al-Hasib, al-Waly, al-Malik al-Mulki, al-�Alim, dan al-Karim itu lebih rendah dan lebih nista dibanding pelacur? Sebab, pelacur adalah manusia-manusia yang mengkhianati citra ar-rahim, yang diambil dari nama-Nya, yaitu ar-Rahim (hadits Qudsy: ar-rahim syaqaqtu laha asma�an min ismi). Para pelacur telah berkhianat karena memperdagangkan citra ar-Rahim dengan harga murah. Tetapi aku katakan, kedudukan para pelacur jauh lebih tinggi dibanding hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi yang mereka wakili.�

�Jika engkau bertanya kenapa aku menempatkan kedudukan pelacur lebih tinggi dibanding hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi? Maka aku katakan, kedudukan pelacur memang lebih tinggi daripada mereka. Sebab di mana pun pelacur-pelacur berada, mereka selalu sadar akan kedudukannya yang rendah dan nista di mata manusia dan dalam pandangan Tuhan. Pelacur-pelacur selalu sadar bahwa mereka adalah orang kotor yang berlumur dosa. Tetapi para hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi justru menganggap diri mereka mulia dan terhormat di hadapan manusia dan Tuhan. Sungguh muak aku melihat mereka. Muak. Muak. Seribu kali muak. Lantaran itu, jika hukuman Allah untuk para penzina yang menista citra ar-Rahim adalah rajam maka hukuman apakah yang paling layak untuk hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Tuhannya? Salahkah aku jika mengatakan bahwa negeri Malaka yang penuh diliputi kebusukan oleh tindakan penduduknya itu sejatinya sedang terancam lecutan cambuk Tuhan yang tak terbayangkan pedihnya?�

�Aku paham tentang apa yang engkau ucapkan, o Saudaraku,� kata Datuk Musa. �Tetapi, apa yang akan aku lakukan di pedalaman? Bukankah aku ini seorang saudagar, bukan guru agama yang zuhud?�

�Aku tidak menyarankan engkau hijrah dari bandar Malaka untuk menjadi pertapa. Aku juga tidak menyarankan engkau tinggal sangat jauh dari Malaka. Aku hanya menyarankan engkau berhijrah dengan keluargamu dari bandar Malaka dengan tujuan utama menghindari kuatnya pengaruh kebendaan dan sekaligus membangun benteng Tauhid baru di pedalaman. Aku tahu, ini sangat berat bagi saudagar besar sepertimu yang selama ini terseret pusaran benda-benda dan uang dengan hitungan untung dan rugi. Tetapi, aku yakin engkau akan mampu menjadi guru agama penegak Tauhid,� kata Abdul Jalil.

�Terus terang, itu yang aku susah laksanakan,� Datuk Musa menarik napas berat. �Sebagaimana engkau tahu, sejak muda aku sudah bergelut dengan dunia perniagaan. Bagaimana mungkin aku menjadi guru agama? Bagaimana mungkin aku yang terbiasa di kota besar harus tinggal di pedalaman yang sepi? Di samping itu, bekal apa yang aku punyai untuk menjadi guru agama?�

�Tidakkah engkau sudah paham dengan kehidupan Rasulullah Saw.? bukankah dia awalnya juga seorang saudagar? Jika Rasulullah Saw. yang dikenal sebagai saudagar bisa menjadi pengajar Tauhid termasyhur sepanjang zaman, apakah suatu hal mustahil jika engkau sebagai keturunannya mengikuti jejaknya? Bukankah dia tidak pernah memiliki pengalaman menjadi guru agama?� kata Abdul Jalil.

�Rasulullah Saw. memang sudah dipilih Allah untuk menjalankan risalah-Nya. Tapi aku? Siapakah aku ini? Bisa apa akku dalam hal agama?� Datuk Musa berkelit.

�Rasulullah Saw. adalah seorang ummi, yang tidak bisa membaca dan menulis. Dia tidak pernah belajar pengetahuan agama dari siapa pun. Dia tidak pernah kenal agama-agama besar. Bahkan saat pertama kali bertemu Jibril a.s., dia tidak mengetahui jika Jibril adalah malaikat utusan Allah. Dia benar-benar tidak memiliki pengetahuan apa-apa yang bisa dijadikan pijakan untuk menyampaikan risalah Ilahi. Tetapi, dia dengan segala keterbatasannya bersedia meninggalkan perniagaan demi perjuangan menegakkan Tauhid. Dia rela meninggalkan tanah kelahirannya demi menyampaikan risalah Ilahi. Dia rela kehilangan semua harta kekayaannya demi tersiarnya ajaran suci pembimbing manusia ke jalan Tauhid. Sementara engkau? Bukankah sejak kecil engkau sudah dididik dalam lingkungan agama yang ketat? Bukankah pengetahuan tentang agama jauh lebih luas dan mendalam dibanding kawan-kawanmu sesama saudagar? Bukankah sebagai murid ruhani Syaikh Dara Putih, masalah Tauhid bukan sesuatu yang asing bagimu?�

�Sesungguhnya, menurut penilaianku, engkau adalah laki-laki yang takut dengan bayangan angan-anganmu sendiri yang memanjang dalam kegelapan alam pikiranmu. Engkau takut berkata benar di tengah dunia perniagaan yang penuh kecurangan dan kelicikan. Sebab, dengan berkata benar maka bayangan angan-anganmu akan mengatakan bahwa engkau akan kehilangan sekian banyak keuntungan dan malah akan terputus dari hubungan dengan saudagar lain. Engkau bahkan sangat takut oleh bayangan angan-anganmu tentang keberadaan dirimu yang akan ditertawakan para saudagar ketika berkata benar dalam berniaga. Bayangan angan-angan yang engkau takuti itu, o Saudaraku, pernah dialami oleh Nabi Yunus a.s. saat diperintah Allah berdakwah di negeri Niniveh. Apakah engkau ingin mengalami nasib seperti Nabi Yunus yang ditelan ikan raksasa karena ingin menghindari perintah?� tanya Abdul Jalil.

Datuk Musa menarik napas panjang berulang-ulang. Dia mengakui dalam hati bahwa kesadarannya saat itu memang sedang diaduk-aduk oleh bayangan angan-angan yang menakutkan yang memanjang dan melingkar-lingkar dari alam pikirannya sendiri. Setelah merenung-renung beberapa jenak, ia mengembuskan napas sambil berkata, �Jika harus hijrah meninggalkan bandar Malaka, aku pikir itu bukan sesuatu yang susah bagiku. Tetapi, apa yang bisa aku lakukan di luar Malaka? Aku tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk menjadi guru agama.�

�Engkau boleh berkilah dengan macam-macam alasan, o Saudaraku. Tetapi bagi mereka yang memiliki penglihatan batin, tidak akan syak lagi bahwa engkau sejatinya telah menduduki maqam cukup tinggi dalam dunia ruhani. Untuk itu, aku berani memintakan kepada Syaikh Dara Putih, mursyid panutanmu, agar dia berkenan mengangkatmu sebagai khalifahnya. Sebab menurut penilaianku, engkau sudah layak menduduki jabatan khalifah Tarekat Kubrawiyyah. Bukankah demikian, Tuan Syaikh?� tanya Abdul Jalil memandang Syaikh Dara Putih.

Syaikh Dara Putih mengangguk dan berkata, �Sesungguhnya, sudah cukup lama aku akan membicarakan hal ini kepadanya, Tuan Syaikh. Tetapi aku khawatir timbul fitnah bahwa aku memiliki pamrih pribadi. Maklum, tidak semua orang di negeri ini memiliki kearifan seperti Tuan Syaikh.�

�Ya, kami paham dengan kekhawatiran Tuan,� kata Abdul Jalil mengalihkan pandangan ke arah Datuk Musa. �Lantaran itu, sebagai batu ujian pertama bagi engkau, o Saudaraku, cepat-cepatlah engkau hijrah ke pedalaman. Biarlah rumah kediamanmu yang megah ini dijadikan tempat oleh Syaikh Dara Putih untuk mengajarkan Tauhid di kota yang terancam murka Tuhan ini. Engkau tidak perlu menaruh curiga bahwa dia akan menjadikan rumah ini sebagai miliknya pribadi.�

�O tidak, Saudaraku,� tukas Datuk Musa tergagap, �Aku justru akan mengamanatkan rumah ini kepada guruku untuk dijadikan tempat pengajar Tauhid yang utama. Tetapi, aku sendiri belum tahu apa yang harus aku lakukan jika tinggal di pedalaman.�

�Engkau hendaknya menjadi pengajar Tauhid di tempatmu yang baru. Maksudku, sudah waktunya engkau menjadi khalifah tarekat yang mengajarkan Tarekat Kubrawiyyah kepada masyarakat. Mudah-mudahan dengan semakin banyak orang mengajar tarekat maka nilai-nilai Tauhid akan tegak di negeri ini,� kata Abdul Jalil.

Datuk Musa termangu-mangu. Dia merasakan ada sesuatu yang disentakkan keras dari dadanya sehingga dia merasa kehilangan sesuatu dari dadanya. Ia merasakan semacam kekosongan menguasai jiwanya. Sejenak kemudian dia bertanya, �Kenapa engkau sangat yakin jika Malaka bakal dilecut cambuk Tuhan, o Saudaraku? Apakah menurutmu negeri Jawa tidak akan terkena lecutan cambuk Tuhan?�

�Semua negeri sesungguhnya selalu diintai oleh murka Tuhan. Tidak terkecuali negeri Jawa, sewaktu-waktu akan luluh-lantak dilecut cambuk-Nya jika penduduknya telah menyeleweng dari Tauhid. Jika aku berani berkata bahwa Malaka akan dilecut cambuk Tuhan, itu bukan mengada-ada. Sebab, telah aku saksikan dengan mata indriawi dan mata batinku, betapa para penguasa dan ulama di negeri ini beserta kaki tangannya telah memberhalakan pangkat, jabatan, kekuasaan, kekayaan, kemasyhuran. Mereka sibuk berselisih merebut kedudukan duniawi seolah-olah kehidupan di dunia ini langgeng. Fitnah pun bergentayangan seperti hantu.�

�Suka atau tidak suka, kebenaran harus diungkapkan. Sesungguhnya, aku dan engkau telah tahu bahwa kebanyakan orang di bandar Malaka ini telah menjadi buta mata hatinya, tuli telinga jiwanya, dan kelu lidah ruhaninya akibat terseret nafsu rendah duniawi. Dengan pandangan mata batin, kita akan menyaksikan bahwa jiwa mereka adalah jiwa lintah darat, buaya darat, serigala licik, musang penipu, dan burung nazar pemakan bangkai. Dengan keganasan menakjubkan, kita telah menyaksikan bagaimana mereka memangsa sesamanya. Sungguh menjijikkan mereka itu bagiku. Jijik aku. Seribu kali jijik.�

�Jika engkau bertanya tentang kemungkinan negeri Jawa akan dihajar cambuk Tuhan, maka aku katakan bahwa hal itu tidak akan terjadi selama pemimpin-pemimpin di sana menjalankan tugas dengan baik. Ketahuilah, o Saudaraku, di Jawa sudah terbentuk suatu tatanan pemerintahan yang berasaskan Tauhid. Di Jawa sekarang ini selain terdapat sultan sebagai pemimpin persekutuan raja-raja, juga terdapat sebuah Majelis Guru Suci (syura al-masyayikh) yang beranggotakan para pemimpin ruhani yang disebut Wali Songo. Majelis itu anggotanya terdiri atas para guru suci tarekat-tarekat. Mereka memiliki peran dan tugas utama mengatur kehidupan penduduk dalam hal Tauhid. Majelis itu mempersatukan dan sekaligus menjadi naungan ruhani bagi kadipaten-kadipaten di Nusa Jawa. Majelis berkewajiban menegakkan akidah dan akhlak bagi seluruh penduduk negeri. Mereka memiliki tugas utama menyusun rancangan dakwa untuk mentauhidkan penduduk dan menyerahkan rancangan tersebut kepada sultan untuk dilaksanakan. Majelis memiliki kewenangan untuk melantik sultan yang merupakan pemimpin tertinggi dari persekutuan raja-raja di Nusa Jawa. Majelis berhak mengontrol tindakan sultan dan raja-raja di Jawa yang berkaitan dengan pelaksanaan agama. Majelis juga berhak menolak pelantikan sultan yang dinilai kurang mampu atau kurang sesuai menurut ketentuan agama.�

�Dengan tatanan baru yang diterapkan di Jawa itu, tugas utama seorang sultan, di samping mengatur pemerintahan, adalah menjalankan rancangan Majelis Wali Songo untuk mentauhidkan seluruh penduduk negeri. Sebab, dengan bertauhidnya penduduk sebuah negeri hingga kebanyakan di antara mereka itu menduduki martabat orang-orang yang takwa (qaum al-muttaqin), dipastikan Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi (QS. al-A�raf: 96) sehingga masalah keamanan, ketentraman, kedamaian, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan akan datang dengan sendirinya. Dengan demikian, selama Majelis Wali Songo, sultan, dan raja-raja di Nusa Jawa setia menjalankan tugas masing-masing, pastilah negeri Jawa akan terhindar dari lecutan cambuk Tuhan yang pedih.�

�Sejauh ini aku menyaksikan sendiri betapa Majelis Wali Songo, sultan, dan raja-raja di Jawa telah menjalankan tugasnya dengan baik. Pengajaran Tauhid berlangsung ramai di Nusa Jawa. Lantaran itu, aku yakin negeri Jawa tidak akan dilecut oleh cambuk Tuhan. Aku yakin Portugis tidak akan bisa menginjakkan kaki di Nusa Jawa. Sementara di Malaka, di mana sultan dan bendahara raja sibuk berebut kuasa, akidah penduduk menjadi sangat merosot karena para ulama ikut terlibat dalam perebutan itu. Dan sebagaimana yang sudah kita saksikan bersama, setiap orang mengetahui bagaimana di Malaka ini hukum peradilan diperjualbelikan dengan murah, peraturan niaga dipermainkan di tengah suap, keadilan dijungkirbalikkan oleh penawar tertinggi, fatwa palsu yang memutar-balik ayat Ilahi, dan riba yang mencekik tersebar merata di mana-mana. Kebenaran sudah tersilap oleh bayangan hitam benda-benda, kaum beragama saling bunuh, fitnah merajalela, kecurangan menyelinap di segenap penjuru, kejahatan menggumpal laksana awan yang siap menurunkan hujan. Akankah keberkahan Ilahi melimpahi negeri ini?� kata Abdul Jalil.

�Aku paham,� kata Datuk Musa. �Aku berencana akan membuka pemukiman baru di dekat Sepang, kampung halaman istriku. Tetapi daerah itu terkenal sangat angker. Aku tidak memiliki pengetahuan sedikit pun untuk membuka daerah-daerah gawat semacam itu.�

�Biarlah Raden Sahid tinggal beberapa waktu untuk membantumu membuka daerah-daerah baru. Dia sudah bertahun-tahun bersamaku membuka daerah-daerah baru di Jawa. Aku kira, engkau cukup membuka empat tempat di sekitar Malaka,� kata Abdul Jalil.

�Empat tempat?� seru Datuk Musa heran.

�Ya, di tempat yang memiliki kaitan dengan perlambang tanah merah, kuning, putih, dan hitam.�

�Kenapa harus empat? Kenapa harus merah, kuning, putih, dan hitam?� Datuk Musa belum paham.

�Sebab, jasadmu terbentuk dari tanah yang melambangkan empat jenis nafsu: Lawwammah adalah anasir tanah berwarna hitam, Sufliyyah adalah anasir air berwarna kuning, Ammarah adalah anasir api berwarna merah, dan Muthma�innah adalah anasir angin berwarna putih. Keempat jenis nafsu itu harus dipancari oleh cahaya ruh yang memancar dari-Nya, yaitu Ruh al-Idhafi, Ruh al-Haqq, dan al-Haqq. Tanpa dipancari cahaya Kebenaran dari al-Haqq maka manusia akan tinggal dalam kesesatan karena hidupnya dikuasai nafsu-nafsunya yang gelap.�

Read More ->>

AL-MARATIB AL-WUJUD

Al-Maratib al-Wujud

     Dalam usianya yang seabad lebih, Malaka yang semula hanya muara tak berpenghuni telah menjelma menjadi bandar perniagaan antara bangsa yang sangat menakjubkan. Berpuluh-puluh kapal besar dan kecil yang berasal dari berbagai negeri berlabuh di situ. Setiap hari kapal-kapal ukuran besar dan kecil silih berganti sandar di dermaga. Tiang-tiangnya yang teracung ke atas berderet laksana barisan tombak yang menghutan. Dari lambung kapal-kapal itu mengalir berbagai jenis barang niaga dari berbagai negeri; sutra, porselen, kain, kapur barus, kayu cendana, beras, pala, cengkeh, lada, timah, kayu gelondongan, emas, batu permata, dan budak.

Bandar Malaka sendiri terletak di muara sungai Malaka dan terbelah oleh sungai tersebut dari barat ke timur. Di bagian selatan sungai terletak bukit Malaka yang berdiri tegak dilingkari pohon-pohon kelapa dan sepetak hutan kecil. Di bagian kaki bukit Malaka terletak istana sultan dan masjid megah, anggun, dan mewah dikitari bangunan-bangunan besar kediaman para pejabat kerajaan. Bentangan jalan-jalan yang rapi dengan tanaman berbunga di kedua sisinya terlihat indah dan sejuk. Jalan-jalan itu membentang berliku menghubungkan kawasan istana dengan pelabuhan dan kutaraja.

Agak jauh dari bukit Malaka terdapat bukit kecil lain yang disebut orang dengan nama Bukit Cina. Bukit Cina adalah kediaman Puteri Hang Li Po, anak kaisar Yung Lo, yang dipersunting Sultan Mansyur Syah, kakek Sultan Mahmud Syah. Para pangeran keturunan Sultan Mansyur Syah dan Puteri Hang Li Po hanya sedikit yang terlibat di pemerintahan. Mereka umumnya menjadi saudagar. Mereka masih tinggal di Bukit Cina, meski jaraknya cukup jauh dari pusat perniagaan di kutaraja. Dengan tetap tinggal di Bukit Cina, mereka seolah-olah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar Sultan Malaka.

Tidak jauh dari muara sungai Malaka terdapat jembatan besar yang terbuat dari balok-balok kayu ukuran raksasa. Itulah jembatan yang menghubungkan kawasan istana dengan kutaraja dan pelabuhan. Agak beda dengan kawasan istana sultan, di bagian kutaraja Malaka yang terletak di utara sungai tinggal berbagai jenis manusia dari bermacam bangsa dan beragam lapisan kedudukan. Jika di kawasan sekitar istana di selatan sungai suasananya terasa tenang dan terkesan mewah, kawasan kutaraja di utara sungai itu menampilkan suasana gaduh dan hingar-bingar. Bangunan-bangunan besar berjejal-jejal dan berhimpit dengan bangunan-bangunan kecil. Ada rumah kediaman para saudagar. Ada gudang-gudang penimbunan barang niaga. Ada rumah peduduk kebanyakan. Ada toko-toko, rumah makan, rumah gadai, pasar, kedai-kedai kecil, bedeng-bedeng kumuh tempat kuli dan tukang, dan barak-barak kotor hunian sementara budak-budak. Lorong-lorong sempit dan pengap terselip di antara bangunan-bangunan. Beberapa ruas jalan yang agak lebar menebarkan debu jika dilewati.

Setiap hari, sejak fajar menyingsing di ufuk timur, citra kehidupan Malaka sebagai bandar antara bangsa sudah terlihat dalam bentuk kelebatan manusia yang terseret arus kesibukan luar biasa. Gerakan orang-orang yang berkelebat begitu cepat laksana biji-biji gabah ditampi di tampah. Sejauh mata memandang ke jalan-jalan dari arah pelabuhan ke kutaraja, yang terlihat adalah kelebatan orang-orang yang hilir mudik dari satu tempat ke tempat lain, seolah-olah mereka mengejar sesuatu yang tidak terlihat mata telanjang. Ya, gerakan cepat orang-orang yang hilir mudik dan berlari tersengal-sengal dengan tubuh bersimbah peluh sambil memanggul karung, memikul barang dagangan, menggotong balok, mendorong gerobak, menenteng keranjang, menyunggi barang. Sementara yang lain terlihat bergegas mengendarai kereta, diangkut tandu, naik pedati, menunggang kuda di tengah kepulan debu dan teriakan-teriakan orang yang memerintah serta gaduhnya celoteh kuli-kuli pengangkut yang berseliweran.

Barang seabad silam, di muara tempat bandar Malaka terletak masih belum dihuni orang. Sebatang pohon Malaka yang dijadikan tempat berteduh Parameswara, pangeran pemberontak asal Majapahit asal Palembang, adalah satu-satunya saksi bisu tentang bagaimana bandar niaga antara bangsa itu bermula. Parameswara dan para pengikutnya itulah penghuni pertama muara sungai Malaka itu. Dalam hitungan tahun sejak hunian pertama di Malaka dibuka, utusan Kaisar Yung Lo bernama Laksamana Yin Ching mengunjugi tempat baru itu. Enam tahun kemudian, Laksamana Cheng Ho datang pula ke Malaka. Dua tahun setelah kehadiran Cheng Ho, Parameswara menghadap Kaisar Yung Lo ke Beijing.

Tak lama sekembali dari Beijing, Parameswara memeluk Islam ketika menikahi puteri asal Pasai. Ia menggunakan nama muslim: Megat Iskandar Syah. Sejak masuk Islamnya Parameswara, Malaka dengan cepat menjadi bandar perniagaan yang ramai ketika disinggahi para saudagar Muslim dari Cina, India, Arab, Persia, Turki, dan Nusantara. Bahkan, karena letak Malaka yang berada di tengah lintasan perniagaan dari utara ke selatan itu maka dengan cepat ia tumbuh menjadi bandar antara bangsa.

Setelah dua puluh empat tahun berkuasa di Malaka, Megat Iskandar Syah mangkat. Ia digantikan oleh puteranya, Muhammad Syah yang bergelar Seri Maharaja. Ia meneruskan kebijakan ayahandanya. Seri Maharaja memiliki dua orang putera. Yang sulung bernama Raja Kassim, ibunya berasal dari kalangan jelata berdarah Tamil. Putera kedua, Raja Ibrahim, ibunya berdarah biru, puteri Sultan Rokan. Saat Seri Maharaja mangkat, Raja Ibrahim dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Seri Parameswara Dewa Syah. Namun, tak sampai setahun berkuasa Raja Ibrahim diserang oleh kakak tirinya, Raja Kassim, yang didukung kaum muslim Tamil yang dipimpin Tun Ali. Dukungan Tun Ali dapat dipahami karena ia adalah kakak kandung dari ibunda Raja Kassim. Raja Ibrahim pun terbunuh. Raja Kassim kemudian menggantikan dedudukannya dengan gelar Muzaffar Syah.

Ketika takhta Malaka diduduki Muzaffar Syah inilah tampil seorang negarawan ulung bernama Tun Perak yang menduduki jabatan Bendahara Paduka Raja (Perdana Menteri). Dengan kecerdasan dan kepiawaiannya menata pemerintahan, Malaka diarahkan menjadi kekuatan maritim yang heba. Berbagai negeri sekitar Malaka seperti Perak, Pahang, Johor, Kelantan, Rokan, Aru, Siak, Kampar, Indragiri, Riau, dan Lingga ditaklukkan. Malaka melengkapi kekuatan armadanya dengan senjata-senjata bikinan Jawa. Lantaran armada Malaka sudah sedemikian rupa kuat maka sewaktu pasukan dari Siam menyerbu, terjadi pertempuran sengit di dekat Muar yang berakibat hancur binasanya pasukan Siam.

Ketika Muzaffar Syah mangkat, ia digantikan oleh puteranya, Raja Abdullah, yang bergelar Mansyur Syah. Di bawah Mansyur Syah, Malaka maju pesat terutama karena kehebatan Bendahara Tun Perak dan Laksamana Hang Tuah. Pada zaman Mansyur Syah inilah kebudayaan Melayu tumbuh dengan pesat dan menancapkan akar-akarnya. Mansyur Syah digantikan oleh puteranya yang bergelar Alauddin Riayat Syah, kemenakan Bendahara Tun Perak. Ketika Alauddin Riayat Syah mangkat, ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Mahmud Syah.

Pada saat Mahmud Syah berkuasa, Bendahara Tun Perak sudah tua dan kemudian meninggal. Ia digantikan oleh Tun Putih, yang sudah tua juga. Belum dua tahun menjabat, Tun Putih meninggal. Ia digantikan oleh Tun Mutahir, anak Tun Ali. Sebagaimana ayahandanya, Tun Mutahir mendapat dukungan golongan muslim Tamil. Untuk menunjukkan kehebatan diri, tak lama setalah menjadi Bendahara Raja, Tun Mutahir menaklukkan Kedah dan Patani. Namun, Tun Mutahir bukanlah seorang pemimpin yang baik. Ia dikenal sebagai pejabat curang dan kejam yang mabuk kekuasaan, gila pangkat, dan rakus kekayaan. Ia tidak segan menghabisi lawan-lawan politiknya atau siapa saja yang dianggap melawan kebijakannya yang sering konyol.

Ibarat pepatah �bapak kencing berdiri anak kencing berlari�, sifat buruk Tun Mutahir itu dengan cepat diikuti oleh bawahannya. Hampir setiap hidung di segenap penjuru negeri Malaka mengetahui jika Tun Mutahir dan pejabat kerajaan bawahannya adalah komplotan pejabat tengik yang suka makan suap. Peraturan-peraturan dibuat menurut kepentingan pihak-pihak yang bisa menyuap. Peraturan-peraturan terkait konsesi perdagangan, peraturan tata niaga, penetapan hukum peradilan, penentuan kepangkatan dan jabatan, semuanya tergantung kepada berapa besar orang seorang bisa menyuap pejabat tertingi. Celakanya, Tun Mutahir tidak tahu kapan waktu yang tepat ia harus berhenti. Tanpa sadar, ia menganggap keberadaannya sebagai Bendahara Raja adalah sama dengan pemilik kekuasaan tertinggi, yaitu sultan. Ia bahkan merasa lebih tinggi dari sultan. Itu sebabnya, dengan berbagai cara yang licik dan busuk ia menyingkirkan pejabat-pejabat yang setia kepada sultan. Ia bahkan memfitnah Laksamana Hang Tuah hingga pahlawan gagah berani itu dijatuhi hukuman mati oleh sultan. Setelah yakin kekuasaan sultan lemah, ia dengan semau-maunya menjalankan pemerintahan yang korup dan nepotis.

Tindakan Tun Mutahir yang sewenang-wenang itu ternyata menimbulkan reaksi. Tanpa ada yang menggalang, diam-diam bermunculan pihak-pihak di lingkungan kerajaan yang melakukan perlawanan terhadapnya. Pejabat-pejabat tinggi dan rendahan, meski tak banyak jumlahnya, diam-diam menggalang kekuatan untuk mendukung kekuasaan sultan. Gerakan itu ternyata disambut baik oleh sultan yang merasa tak berdaya.

Di bawah Sultan Mahmud Syah, pada usianya yang sudah lebih seabad, Malaka memang telah menjadi bandar antara bangsa yang sangat ramai dan makmur. Malaka dihuni tak kurang dari 120.000 jiwa. Malaka menjadi gantungan harapan bagi anak negeri untuk menapaki kemakmuran. Malangnya, akibat kekuasaan Tun Mutahir dan kaki tangannya yang tercela, kehidupan di Malaka yang sekilas tampak makmur itu malah menebarkan suasana pengap, tengik, busuk, dan menyesakkan bagi mereka yang memiliki hati nurani. Pedagang-pedagang kecil, petani, nelayan, dan pejabat-pejabat jujur yang menamba sesuap nasi nyaris tidak ada yang terbebas dari lilitan hutang. Kegiatan berutang dengan bunga yang semula dilakukan di rumah-rumah gadai, pada gilirannya telah berkembang di tengah penduduk laksana jamur di musim hujan. Siapa saja di antara penduduk Malaka yang punya uang, dapat menjadi lintah darat yang bebas mengisap darah sesamanya tanpa kenal ampun. Para petugas kerajaan yang beroleh suap dari para lintah darat sering kedapatan menjelma dalam wujud tukang tagih yang menakutkan.

Di tengah suasana pengap, tengik, busuk, dan menyesakkan hati nurani itulah Abdul Jalil menginjakkan kakinya untuk kali kedua di Malaka. Sebagai manusia yang hidup diterangi hati nurani, setelah hampir tiga dasawarsa meninggalkan Malaka, ia tiba-tiba merasakan dirinya seolah-olah orang asing yang belum pernah ke Malaka. Entah apa yang telah berubah dari bandar itu, ia tidak tahu. Ia hanya merasa tak mengenal lagi kota itu. Sejak turun dari kapal menuju pusat kota dengan diikuti istri, anak, dan Raden Sahid, ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah asing dengan bangunan-bangunan dan orang-orang yang tak dikenalnya. Ia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan bandar Malaka, bandar niaga ini benar-benar telah berubah dan nyaris tak dikenal lagi, katanya dalam hati.

Setelah menyusuri sekitar pelabuhan sambil melihat-lihat perubahan keadaan sekitarnya, Abdul Jalil berjalan lambat-lambat melintasi jalan yang menuju arah pusat kota. Di persimpangan jalan yang menuju arah kantor syahbandar, ia menghentikan langkah. Dengan pandangan nanap, ia menyaksikan arus cepat gerakan orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya. Ia menangkap semacam keanehan gerak dari orang-orang yang hilir mudik itu. Beberapa jenak kemudian ia menoleh ke arah Raden Sahid dan bertanya, �Menurut pandanganmu, o Anakku, apakah yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang hilir mudik itu?�

Raden Sahid yang diam-diam mengamati kesibukan orang-orang itu tidak segera menjawab. Dia merenung sejenak. Setelah itu, dia menelan ludah dan berkata, �Menurut hemat kami, sesungguhnya orang-orang yang hilir mudik di jalanan itu tidak melakukan apa-apa, Paman.�

�Tidak melakukan apa-apa?� gumam Abdul Jalil dengan kening berkerut. �Kalau mereka tidak melakukan apa-apa, kenapa mereka berlari membawa beban dengan keringat bercucuran bagaikan hewan pemikul beban didera tuannya?�

�Menurut hemat kami, sesungguhnya mereka sedang terseret arus sungai kehidupan duniawi yang deras, Paman. Mereka timbul tenggelam dihanyutkan oleh air bah kebendaan yang bakal membenamkan mereka ke dalam endapan lumpur kebinasaan yang pekat.�

�Itu jawaban yang arif. Itu menunjukkan cakrawala kesadaranmu sudah diterangi nur lawami� dan kalbumu sudah dipancari pemahaman fawa�id. Tetapi masih perlu ditingkatkan,� ujar Abdul Jalil.

�Kami mohon bimbingan Paman.�

�Aku katakan bahwa pernyataanmu itu sudah benar, o Anakku,� kata Abdul Jalil dengan mata memandang gumpalan awan yang berlayar di langit. �Betapa orang-orang itu sejatinya memang tidak melakukan pekerjaan apa-apa. Mereka hanya terseret air bah kebendaan di sungai kehidupan duniawi tanpa mereka sadari. Tetapi, cobalah engkau resapi lebih jernih tentang hakikat terdalam dari sungai kehidupan duniawi itu. Resapi ia dengan benderang kecemerlangan nur lawami� di bentangan cakrawala kesadaranmu. Resapi ia dengan terang dan luasnya pemahaman fawa�id di kedalaman semesta kalbumu. Resapi dengan lebih jernih akan hakikat yang maujud dan Yang Wujud.�

�Gunakan penglihatan mata batin untuk menangkap rahasia keberadaan wilayah nirbendawi (malakut) yang tersembunyi di balik wilayah jasadi (mulki) sejauh yang bisa engkau tangkap. Resapi dengan tenang hakikat terdalam di balik perlambang keberadaan mata air, lekukan dan liku-liku sungai, tinggi dan rendah dasar sungai, arus, muara, lautan, dan air yang mengalir di sungai kehidupan duniawi. Resapi semua itu dengan kalbu yang jernih! Resapi kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Ilahi sampai engkau tangkap nuansa Kehadiran al-Malik al-Mulki di balik segala sesuatu yang maujud! Lalu saksikan Kebenaran Sejati di balik semua itu dengan mata batin yang jernih! Saksikan Kehadiran Yang Serba Meliputi (Hadrah al-Jam�) yang tersembunyi di balik kehadiran sesuatu (hadrah) sejauh yang bisa engkau tangkap tingkatan-tingkatannya (al-maratib al-wujud)! Aku berharap, engkau akan dapat menangkap rahasia hakiki di balik kehidupan orang-orang yang terseret arus kehidupan duniawi yang terpampang di hadapanmu itu.�

Raden Sahid diam. Dengan tenang dia duduk bersila dan memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam dan kemudian mengaturnya. Dia berusaha mengikuti semua petunjuk yang diberikan Abdul Jalil. Setelah merasa tenang dalam mengatur napas, ia mulai mendaki empat tangga menuju matra alam al-ghaib, yaitu istighfar � shalawat � tahlil � nafs al-haqq. Dia menyelaraskan kiblat hati dan pikiran kepada titik di antara kedua matanya. Dia tidak mempedulikan panas matahari yang mulai menyengat. Dia tidak mempedulikan suara hiruk pikuk dan teriakan orang-orang di sekitarnya yang terseret air bah kehidupan duniawi.

Ketika pendakiannya sampai pada nafs al-haqq, tiba-tiba saja ia merasakan tangan kiri Abdul Jalil menyentuh tengkuknya. Sejenak setelah itu, dia merasakan telapak tangan kanan Abdul Jalil menutupi kedua matanya sehingga kegelapan melingkupi penglihatan indriawinya. Seiring terhamparnya kegelapan dalam indera penglihatannya, dia sekonyong-konyong merasakan keanehan terjadi pada dirinya. Secara menakjubkan, dia merasa seolah-olah tidak berada di suatu tempat di Malaka dan tidak pula berada di suatu tempat di muka bumi. Dia merasa seperti berada di dunia lain, yang keadaannya hampir sama dengan saat dia bertemu Maharisi Agastya di gunung Malaya. Bahkan, suasana yang meliputinya dia rasakan jauh lebih menakjubkan lagi.

Tertegun merasakan keadaan yang meliputinya begitu aneh, tanpa terduga dia mengalami peristiwa yang sangat menajubkan bagai berada di alam mimpi: di tengah kegelapan penglihatan indriawinya itu, tiba-tiba memancar cahaya menyilaukan nur lawami� yang terang benderang dari antara kedua matanya. Cahaya itu sangat terang dan menyilaukan. Ketika dia tercengang, tiba-tiba nur lawami� yang hampir membutakan itu meluncur cepat laksana kilat, menyambar relung-relung kedalaman kalbunya.

Bagaikan orang terbangun dari tidur, dia tertegun-tegun kebingungan karena cahaya nur lawami� yang disaksikannya itu memancar jauh lebih terang daripada yang pernah dia saksikan sebelumnya. Sedetik kemudian, di tengah ketakjuban dan ketertegunan, dia merasakan kesadaran baru demi kesadaran baru menyingkapkan kegelapan jiwanya, laksana tirai penutup disibakkan. Secara perlahan-lahan tetapi cepat, ia merasakan kesadaran barunya terkuak laksana ular yang keluar dari selongsong kulitnya. Atau, seperti kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Atau, anak ayam keluar dari cangkang telurnya. Atau, hewan penghuni liang untuk kali pertama keluar dari liangnya. Dan, seiring tersingkapnya kesadaran baru demi kesadaran barunya itu, dia mendapati kenyataan menakjubkan tergelar di hadapannya. Melalui cahaya di antara kedua matanya itu, dia seperti memiliki mata ketiga yang melihat kenyataan di sekitarnya dengan penglihatan yang berbeda.

Dengan mata ketiga itu, tiba-tiba cakrawala kehidupan yang tergelar di hadapannya ia saksikan sebagai pemandangan yang luar biasa ajaib: sejauh mata ketiga itu memandang, yang tampak adalah perwujudan dari segala sesuatu yang maujud di sekitarnya dengan tingkat kehadiran yang mustahil dijabarkan dengan nalar. Dia tidak tahu apakah tingkat-tingkat kehadiran itu merupakan tingkatan yang maujud dari wilayah jasadi (mulki) hingga wilayah nirbendawi (malakut), ataukah itu merupakan tingkatan kesadaran dirinya yang berlapis-lapis laksana kesadaran cacing � kadal � kucing � harimau � burung. Dia tidak mampu menjabarkannya. Saat berada pada puncak kesadaraun dan sekaligus penglihatan mata ketiga itu, tersingkaplah bentangan cakrawala pemahaman fawa�id yang luar biasa yang jauh melebihi apa yang pernah dialami dan dirasakannya. Dia terperangah takjub karena di hadapannya secara ajaib terpampang pemandangan menakjubkan yang sebelumnya belum pernah ia lihat dan ketahui.

Bagaikan berada di alam mimpi, ia menyaksikan dengan sangat jelas kilasan-kilasan lembut dari perwujudan segala sesuatu yang tegelar di hadapannya, laksana bentangan suatu matra kehidupan di dalam samudera raya. Sejauh mata memandang, yang tampak maujud di dalam samudera raya itu adalah perwujudan menakjubkan dari anasir-anasir yang saling mengait, mulai anasir yang paling padat hingga anasir yang paling halus sampai yang nirbendawi. Aneh sekali penglihatan itu. Ajaib. Semua perwujudan yang menampak terlihat dengan terang tingkat-tingkat kehadirannya beserta seluruh anasir pembentuknya, di mana kehadiran wilayah jasadi seolah-olah terhubung saling meliputi dengan kehadiran wilayah nirbendawi dan terus terangkai dalam liputan kehadiran wilayah Ilahi (al-Malik al-Mulki).

Sesaat dia tertegun-tegun dalam pesona atas pemandangan mencengangkan itu. Betapa ajaibnya penglihatan batin yang disaksikan mata ketiganya itu: yang maujud menampakkan jati diri dalam rangkaian tingkatan-tingkatan saling meliputi dengan yang nirbendawi sampai kepada liputan Yang Wujud. Inikah yang disebut al-maratib al-wujud, yaitu tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud dalam tanazzul? Dia makin tertegun dan terpesong ketika menyaksikan berbagai bentuk maujud di sekitarnya yang berubah-ubah sangat menakjubkan: bangunan-bangunan, pohon-pohon, batu-batu, kapal-kapal, lautan awan kapas di langit, manusia-manusia yang hilir mudik di sekitarnya, hewan peliharaan yang berjalan, burung-burung yang terbang di angkasa, bahkan iring-iringan semut yang merambat di pepohonan, tampil sebagai bentuk-bentuk aneh yang berseliweran di dalam �air� samudera raya. Seluruh bentuk aneh itu terkait satu sama lain. Semua saling berjalin berkelindan tak terpisah. Ke mana pun mereka bergerak, mereka selalu terkait dan selalu berada di dalam liputan anasir �air� samudera raya. Bahkan, anasir air yang meliputi mereka itu secara menakjubkan diliputi oleh anasir �api� samudera api. Anasir api pun diliputi anasir �kilatan halilintar� dari samudera petir. Anasir kilatan halilintar pun diliputi anasir �cahaya� dari samudera cahaya. Demikianlah, saling meliputi antara anasir satu dan anasir lain itu terjadi secara menakjubkan, dari anasir terpadat hingga yang bersifat lebih halus hingga nirbendawi.

Sesungguhnya, pemandangan aneh yang disaksikannya itu tidaklah tepat benar dibandingkan dengan matra kehidupan makhluk di dalam laut. Sebab, segala sesuatu yang maujud di dalam penglihatan batinnya itu menampakkan anasir-anasir pembentuknya yang hadir secara bertingkat. Pemandangan ajaib itu bisa diibaratkan seperti bentangan kain yang terlihat seluruh anasir pembentuknya, mulai dari jalinan benang, lalu benang dibentuk dari jalinan kapas, kapas dibentuk dari serat-serat kapas, terus ke anasir terkecil, hingga yang nirbendawi. Namun, gambaran itu pun tidak tepat benar karena tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud memang tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu kecuali secara sedikit sekali. Di tengah ketakjubannya itu, dia merasakan kesadarannya makin terserap manakala mata ketiganya menayaksikan pelihatan ajaib yang mencengngkan atas manusia-manusia yang berseliweran di sekitarnya.

Secara ajaib, dia menyaksikan pancaran tujuh cahaya benderang berpendar-pendar tak terbayangkan keindahan dan kelembutannya pada tiap-tiap pribadi manusia. Pancaran cahaya pertama tampak berpendar tepat dia atas kepala setiap manusia dengan jarak sekitar sejengkal di atas ubun-ubun. Cahaya itu berwarna putih cemerlang. Besarnya seukuran telur angsa. Cahaya putih itu berpendar dengan tingkat kecemerlangan yang tidak sama.

Tepat di kening, di antara dua mata masing-masing manusia, memancar cahaya putih-kebiruan sebesar uang logam yang berpendar dengan tingkat kecemerlangan tidak sama pula. Lalu, tepat di ujung bawah tenggorokan masing-masing manusia, terlihat cahaya lembayung-kemerahan sebesar telur merpati berpendar-pendar dengan tingkat cemerlang yang juga tidak sama. Di bawahnya, di bagian dada terlihat pancaran cahaya putih-gemerlap sebesar kepalan tangan orang dewasa. Cahaya putih gemerlap itu sangat menyilaukan laksana pantulan batu permata. Sebagaimana pancaran cahaya yang lain, tingkat kecemerlangan cahaya di dada itu tidak sama pula, bahkan sangat banyak di antaranya yang terlihat sangat redup.

Raden Sahid sadar bahwa penglihatan ajaib yang disaksikannya itu adalah penglihatan bashirah yang akan menyingsing dan sirna manakala dia melibatkan nalarnya. Itu sebabnya, dia membiarkan keajaiban-keajaiban penglihatan itu membentang di cakrawala pemahaman fawa�id tanpa perlu ia bertanya tentang ini dan itu. Demikianlah ia menyaksikan lagi pancaran cahaya kuning-terang berpendar sebesar telur ayam di bawah pusar manusia-manusia itu dengan tingkat terang yang tidak sama. Setelah itu, dia saksikan pancaran cahaya putih-kuning-merah-biru-hitam pada bagian tengah tulang belakangnya. Dan terakhir, dia saksikan pancaran cahaya biru-kehitaman yang redup di ujung tulang ekor masing-masing manusia. Besar cahaya itu seukuran ekor harimau, tetapi memanjang seperti ular. Cahaya di ujung tulang ekor manusia itu memiliki tingkat keredupan yang tidak sama pula.

Raden Sahid tidak mengetahui makna di balik tujuh pancaran cahaya yang berpendar itu. Dia hanya bisa tercenagang-cengang menyaksikannya. Betapa aneh dua berkas cahaya di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor manusia itu. Setiap kali cahaya putih-cemerlang yang memancar di atas ubun-ubun manusia berpendar terang dan redup, saat itulah dia menyaksikan sosok dari makhluk-makhluk itu bergerak dan melakukan berbagai kegiatan kehidupan. Hal yang sama terjadi ketika cahaya biru-kehitaman yang memanjang di ujung tulang ekor manusia-manusia itu berpendar terang atau redup. Cahaya di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor itu seolah merupakan saluran utama kehidupan yang menentukan gerak hidup orang seorang. Sementara saat cahaya di dada yang berwarna putih-cemerlang kristal itu memancar, makhluk-makhluk itu berpikir, berangan-angan, dan berbicara. Sungguh ajaib dan menakjubkan sosok manusia-manusia itu dalam penglihatan batin. Mereka terlihat seperti boneka yang digerakkan oleh daya gaib dari cahaya yang memancar di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor. Mereka berpikir, berangan-angan, dan berbicara karena dipancari cahaya yang memancar dari dadanya.

Raden Sahid tidak tahu berapa lama dia menyaksikan kenyataan menakjubkan dari kehidupan manusia lewat pemahaman fawa�id di kedalaman kalbu yang dipancari nur lawami� itu. Dia hanya merasakan mata ketiganya makin tercelikkan ketika menyaksikan perwujudan hakiki dari perlambang-perlambang kehadiran jasadi dan nirbendawi yang bertingkat-tingkat itu. Namun, akibat peglihatan batin yang sangat mencengangkan itu, dia menjadi termangu-mangu kebingungan seperti orang linglung ketika usai mengalami peristiwa ajaib, terserap oleh suatu daya pesona dahsyat yang memukau kesadaran manusiawinya.

Melihat Raden Sahid tercengang-cengang linglung kebingungan, Abdul Jalil tertawa. Ia paham, pengaruh tersingkapnya (kasf) kesadaran baru yang luas (basth) terlalu cepat, sebagaimana pernah ia alami saat dibimbing oleh Misykat al-Marhum di gunung Uhud, dapat membuat orang seorang mengalami keguncangan jiwa (majnun) selama kurun waktu tertentu, karena akal pikiran dan kalbunya belum selaras. Itu sebabnya, ia tidak akan bertanya tentang pengalaman ruhani yang dialami Raden Sahid dengan bahasa lisan, melainkan dengan bahasa perlambang (isyarah) yang langsung menembus ke dalam mahligai kalbunya. Demikianlah, melalui isyarah, Raden Sahid mengungkapkan pengalaman ruhani yang baru saja dialaminya, yang jika dipaparkan dalam bahasa lisan manusia kira-kira berbunyi:

�Sesungguhnya, di balik keberadaan sungai kehidupan duniawi yang bermuara ke samudera Wujud (bahr al-wujud) itu telah kami saksikan betapa sejatinya Allah tidak tersembunyi karena Dia tidak pernah tidak hadir. Sesungguhnya, kami telah saksikan bahwa di balik yang maujud sejatinya tersembunyi Yang Wujud dalam tingkatan-tingkatan kehadiran (al-maratib al-wujud), ibarat keberadaan anasir nirbendawi, anasir air, anasir makhluk air, anasir angin, anasir ombak, anasir buih, dan anasir pantai yang membentuk samudera kehidupan semesta. Kami menyaksikan dengan mata batin betapa sesungguhnya di balik keberadaan sebuah bentangan samudera kehidupan semesta, sejatinya tersembunyi perlambang Keberadaan Hakiki antara yang maujud dan Yang Wujud. Kami menyaksikan dengan bashirah hakikat turunnya (tanazzul) Yang Wujud ke wilayah pemunculan kehadiran (maujud) secara bertingkat-tingkat dalam bentuk perlambang mengejawantahnya Shifat, Af�al, dan Asma�-Nya dalam rangkaian al-Malik � malakut � mulki.�

Abdul Jalil tertawa. Setelah itu, dengan suara lain ia berkata dalam bahasa perlambang, �Benarlah apa yang engkau ungkapkan itu, o Anakku. Sebab, sejatinya di balik kehadiran (hadrah) segala sesuatu yang maujud di alam semesta ini tidak ada yang terlepas atau terpisah sama sekali dari Kehadiran Zat Wajib al-Wujud, yaitu Zat Yang Serba Meliputi segala sesuatu yang diperbuat makhluk (QS. al-Anfal: 47; Hud: 92; al-Isra�: 60). Segala ciptaan-Nya berasal dari-Nya dan senantiasa berada di dalam liputan kekuasaan-Nya. Dia Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahazahir, Mahabatin, dan Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu (QS. al-Hadid: 3). Karena Dia meliputi segala sesuatu maka ke mana pun engkau menghadapkan wajah, di situ terpampang wajah-Nya (QS. al-Baqarah: 115). Dan segala sesuatu yang maujud pasti rusak binasa bentuknya kecuali wajah-Nya (QS. al-Qashash: 88).�

�Sungguh, dengan mata batin yang jernih, engkau telah berhasil menangkap sasmita kehadiran penyaksian (hadrah asy-syuhudiyyah) di balik sungai kehidupan duniawi yang sedang menghanyutkan manusia-manusia yang terseret air bah kebendaan di dalamnya itu. Engkau telah berhasil menyaksikan rahasia Ilahi tentang bagaimana sejatinya tiap-tiap makhluk ubun-ubunnya berada di dalam genggaman-Nya (QS. Hud: 56). Engkau telah merasakan dan mempersaksikan makna rahasia dari sabda-Nya bahwa Dia lebih dekat daripada urat lehermu (QS. Qaf: 16). Engkau telah menyaksikan tanda-tanda Allah di bumi maupun di dalam dirimu (QS. adz-Dzariyat: 20-21). Engkau telah berhasil menyaksikan bahwa Dia adalah Cahaya langit dan bumi (QS. an-Nur: 35). Jika nanti maqam yang engkau capai makin meningkat maka engkau akan dapat menangkap sasmita kehadiran maka engkau akan dapat menangkap sasmita kehadiran penyaksian tentang Dia sebagai Cahaya di Atas Cahaya (QS. an-Nur: 35), sehingga engkau akan dapat mengetahui siapa orang yang dibimbing al-Hadi dan siapa orang yang disesatkan al-Mudhill.�

�Apakah yang Paman maksud dengan kehadiran penyaksian (hadrah asy-syuhudiyyah)? Adakah itu berhubungan dengan Yang Maha Menyaksikan (Asy-Syahid)? Kami mohon bimbingan.�

�Sesungguhnya, sasmita Kebenaran yang engkau tangkap dari keberadaan sungai kehidupan duniawi dalam bentuk perlambang samudera raya beserta anasir-anasir pembentuknya itu pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari Kehadiran Asma (Hadrah al-Asma�) yang memancar dari Zat Mahatunggal Yang Serba Meliputi (Hadrah adz-Dzatiyyah). Sesungguhnya, engkah telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik Mata Air yang menjadi sumber sungai kehidupan duniawi itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Mencipta (al-Khaliq), Yang Mahaawal (al-Awwal), Yang Maha Memulai (al-Mubdi). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik aliran sungai kehidupan duniawi yang mengalir itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahahidup (al-Hayy), Yang Maha Berlimpah (al-Wajid), Yang Mahanyata (azh-Zhahir). Engkau juga telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik tinggi rendah permukaan dan dasar sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Merendahkan (al-Mudzill), Yang Maha tinggi (al-�Ali), Yang Maha membentuk (al-Mushawwir).�

�Sungguh, engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik luas dan sempitnya tepian sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Menyempitkan (al-Qabith), Yang Maha Meluaskan (al-Bhasit), Yang Maha Menjaga (al-Muhaimin). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik arus sungai yang deras maupun yang lembut itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahalembut (al-Latif), Yang Maha Memaksa (al-Qahhar), Yang Maha Memberi Bahaya (adh-Dharr). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik lekukan dan liku-liku sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahalurus (al-Hadi), Yang Maha Membelokkan (al-Mudhill), Yang Maha Menentukan (al-Muqtadir). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik muara sungai kehidupan sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Menghimpun (al-Jami�), Yang Maha Membuka (al-Fattah), Yang Maha Memajukan (al-Muqaddim).�

�Engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik lautan kehidupan dan gumpalan awan yang menurunkan hujan rahmat dari angkasa duniawi itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahaluas (al-Washiy), Yang Mahabesar (al-Kabir), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Mahakokoh (al-Matin), Yang Mahamandiri (ash-Shamad), Yang Mahaakhir (al-Akhir), Yang Maha Meyiksa (al-Muntaqim), Yang Maha Mematikan (al-Mumit), Yang Maha Menghidupkan (al-Muhyi), Yang Mahaperkasa (al-Jabbar), Yang Maha Menyucikan (at-Tawwab), dan Segala Asma�, Af�al, Shifat Yang Serba Maha.�

�Ya, engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik semua atribut dan perlambang Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat-Nya itu sejatinya tersembunyi Hakikat dari Zat Mutlak (Dzat al-Muthlaqah): Zat Murni (Dzat al-Bahat) Yang Tersembunyi (al-Bathin), Zat yang tak diketahui siapa pun kecuali Dia (kunhi Dzat), Zat Yang Cinta Diketahui (al-Wadud), Zat Yang Mencipta (al-Khaliq) segala ciptaan (makhluk) untuk Menyaksikan (asy-Syahid) Keesaan (al-Wahid), Kemuliaan (al-Majid), Kesucian (al-Muta�ali), Keluhuran (al-Jalil), Kekuasaan (al-Qadir), Kemurahan (al-Karim), Keagungan (al-�Azhim), Kesucian (al-Quddus), dan Kemahamutlakan seluruh Kehadiran (Hadhrah) Asma�, Shifat, Af�al, dan Dzat-Nya yang memancar dari tahap Haahuut-Lahut-Jabarut-Malakut-Mitsal-Nasut. Demikianlah, engkau telah berhasil menangkap makna hakiki kehadiran penyaksian (hadhrah asy-syuhudiyyah) dari tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud (al-maratib al-wujud) di alam semesta raya yang tak terukur luasnya ini.�

�Kami paham, Paman,� kata Raden Sahid dengan wajah berbinar-binar. �Tapi, bolehkah kami menyimpulkan bahwa sejatinya di balik yang maujud ini bukanlah hamparan Kehampaan, melainkan suatu Kepenuhan? Sebab, yang kami saksikan di balik yang maujud itu adalah Kepenuhan Ilahi yang meliputi segala. Dalam penglihatan mata batin kami, kami menyaksikan segala sesuatu yang maujud di wilayah jasadi (mulki) sejatinya berada di dalam liputan Yang Wujud, ibarat gelembung-gelembung udara kosong di dalam air.�

�Janganlah engkau menyimpulkan sesuatu yang engkau saksikan melalui mata batin dengan akal pikiranmu. Sebab, hal itu akan menjerat hakikat Kebenaran yang tersembunyi di balik rahasia-Nya. Engkau akan terpeleset oleh nalar untuk menafikan azh-Zhahir dan mengisybatkan al-Bathin. Lantaran itu, cukup arif jika engkau menilai apa yang engkau saksikan sebagai tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud itu dengan istilah sederhana tetapi rumit: awang-awang, yaitu ungkapan yang mewakili makna Kehampaan sekaligus Kepenuhan. Janganlah kata-kata itu ditafsir-tafsir lagi dengan nalar sehingga Keduanya menjadi terpisah sendiri-sendiri sebagai Kehampaan dan Kepenuhan yang saling Berdiri sendiri satu sama lain, atau Kedua-nya bisa saling menyatu Satu sama lain. Apa yang telah engkau saksikan tidak boleh ditafsir-tafsir.�

�Ingat dan camkan, apa yang engkau saksikan denga bashirah tidak akan peernah bisa dijabarkan dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Ingat dan camkan pula, tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud yang sudah engkau saksikan itu jelas-jelas menunjukkan tatanan hukum yang sangat sempurna dalam �pemunculan� hingga ke tingkat maujud. Itu berarti, tidak akan mungkin Zat Yang Wujud bercampur baur (imtizaj) dengan yang maujud. Zat Yang Wujud juga tidak akan mungkin menjadi satu (ittihad) dengan yang maujud, apalagi sampai menjelma (hall) dalam wilayah jasadi (mulki). Dengan demikian, jika ada orang seorang dengan kekuatan akal budinya menyimpulkan bahwa Zat Yang Wujud dapat berinkarnasi (hulul), bercampur baur (imtizaj), menyatu (ittihad), dan meyakini bahwa ruh bisa berpindah-pindah (naskh al-arwah) maka sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui bahwa di hamparan alam gaib sejatinya terdapat ketetapan hukum Sempurna yang mengatur kehadiran masing-masing tingkatan (al-maratib) �pemunculan� dari Yang Wujud hingga yang maujud, melalui tujuh tahap dengan lapisan selubung berpuluh-puluh ribu hijab.�

�Kami memahami petunjuk Paman tentang tingkatan-tingkatan �pemunculan� Yang Wujud melalui tujuh tahap. Tetapi kami masih bingung dengan masing-masing tingkatan kehadiran, terutama yang terkait dengan keberadaan piranti bahasa pada masing-masing tingkat. Kami masih sulit membedakan makna hakiki di balik bahasa indriawi, bahasa malakut, dan bahasa rabb pada masing-masing kehadiran. Kami mohon penjelasan dan bimbingan tentang itu, Paman,� kata Raden Sahid suatu malam, beberapa hari setelah pengalaman yang menggetarkan jiwanya itu berlalu.

�Ingat dan resapi, o Anakku! Pada tingkat kehadiran wilayah jasadi (mulki), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung antaranasir adalah bahasa yang bisa ditangkap panca indera. Itulah bahasa yang mengalir dari mulut dan diserap oleh indera pendengaran. Itulah bahasa yang bisa dipahami oleh nafs pada masing-masing makhluk. Dengan bahasa ini, Adam a.s. mengenal nama-nama. Pada tingkat kehadiran wilayah nirbendawi (malakut), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung antaranasir adalah bahasa perlambang (isyarah) yang hanya bisa dipahami maknanya oleh Ruh al-Idhafi lewat pendengaran batin (sam�). Sementara pada tingkat Kehadiran wilayah Ilahi (al-Malik), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung adalah bahasa tanpa kata tanpa perlambang yang disebut al-ima�, yaitu bahasa rabb yang hanya bisa ditangkap oleh Ruh al-Haqq dan al-Haqq,� Abdul Jalil menjelaskan.

�Apakah yang disebut bahasa malakut itu sama dengan bahasa ruh yang biasa digunakan oleh para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa saat mereka mengalami kerawuhan (kehadiran) arwah dewata yang hidup langgeng?� tanya Raden Sahid.

�Sepengetahuanku, bahasa malakut itu sama dengan bahasa ruh yang dimaksud para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa. Aku katakan tidak sama sebab setahuku belakangan ini banyak di antara pengamal ajaran Pangiwa, yang berasal dari kalangan kebanyakan, telah keliru memaknai daya yang memancar dari kantha-mula atau dar al-khanja-rah sebagai bahasa ruh yang bersumber dari ruh suci Ilahi. Padahal, kantha-mula adalah salah satu �tempat pengungkapan� (al-mahall) bagi mengalir keluarnya daya-daya kejahatan dan kebaikan, di mana daya kejahatan dan daya kebaikan itu muncul dengan cara diilhamkan kepada manusia melalui jalan kefasikan dan jalan ketakwaan (QS. asy-Syams: 8). Dengan begitu, keberadaan kantha-mula atau dar al-khanjarah itu memiliki dua kemungkinan: ia bisa menjadi jalan bagi memancarnya ilham jalan ketakwaan yang akan membawa orang seorang mengungkapkan Kebenaran lewat lisannya, atau sebaliknya ia juga bisa menjadi jalan bagi memancarnya ilham jalan kefasikan, yang akan memancarkan jalan Kesesatan (ablasa) lewat lisannya.�

�Jika suatu saat engkau mendapati orang seorang mengatakan bahwa dia telah mengalami kehadiran arwah suci dewata yang langgeng, sebagaimana diungkapkan para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa, maka ujilah pengakuannya itu dengan pendengaran batin, sebagaimana sudah pernah engkau gunakan saat bertemu Yang Mulia Rishi Agastya di gunung Malaya. Dengan pendengaran batin, engkau akan mudah mengetahui apakah ajaran seseorang itu igauan, sabda kesesatan, ujar kebohongan, atau benar-benar ungkapan ruh suci Yang Ilahi lewat bahasa perlambang atau lewat bahasa tanpa kata tanpa perlambang. Dengan menguji lewat pendengaran batin maka engkau akan mendapati bukti nyata apa yang sejatinya diujarkan seseorang itu.�

�Sungguh telah sering aku jumpai orang seorang yang menjadi pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa yang mengaku-aku mengalami kerawuhan ruh suci yang mahalanggeng. Mereka berceloteh dan mengomel tidak karuan seperti orang mabuk, tetapi mereka tidak mengetahui makna dari apa yang mereka ucapkan. Mereka dengan yakin diri menyatakan bahwa celoteh dan omelan itu adalah bahasa ruh suci yang tak terpahami. Sesungguhnya, dipandan dari sisi batiniah, mereka adalah orang-orang terhijab yang sedang terperangkap jaring angan-angan kosong (al-wahm) yang terpintal dari serat-serat tali lamunan kosong (al-umniyah). Mereka terperangkap ke dalam lingkaran kusut jaring imajinasi nirwujud (al-mumtani�) yang menebarkan jaring-jaring kesesatan (al-idhlal) yang dibentangkan Sang Penyesat (al-Mudhill) melalui Iblis beserta daya-dayanya.�

�Sesungguhnya, apa yang mereka ucapkan dalam celoteh dan omelan itu pada hakikatnya adalah ungkapan kehadiran ilham kefasikan yang memancar dari kuasa nirwujud (ablasa) yang tersembunyi di dalam nafs manusia, yaitu di relung-relung mahligai kantha-mula atau dar al-khanjarah. Celoteh dan omelan itu bukanlah bahasa ruh suci yang mahalanggeng melainkan ungkapan kehadiran ilham kefasikan yang akan menghijab manusia dari Kebenaran. Itu sebabnya, mereka yang terperangkap pada jalan kefasikan yang ditebari jaring-jaring al-wahm dan al-idhlal yang kosong tak bermakna itu, akan terbelenggu dalam kerangkeng hijab dirinya dan jauh (bu�d) dari Kebenaran Sejati. Mereka adalah manusia menyedihkan karena kesadaran jiwanya sudah dikuasai imajinasi nirwujud yang tidak memiliki kiblat yang Benar ke arah Tauhid.�

�Dengan uraianku ini, telah jelaslah bahwa mereka adalah manusia-manusia yang telah terkuasai oleh daya-daya sang nirwujud (ablasa). Dapat dipastikan mereka tidak akan pernah bisa menangkap keindahan bahasa perlambang (isyarah) yang tersembunyi di balik bahasa jiwa. Mereka tidak akan bisa menangkap benderang cemerlangnya bahasa tanpa kata tanpa perlambang. Mereka tidak akan pernah bisa menyingkap tirai-tirai gaib yang menyelubungi kemaujudan alam semesta ini. Pada ujungnya, mereka tidak akan pernah menyaksikan Kebenaran Hakiki dari Yang Wujud. Sungguh, mereka itu sejatinya hanya orang-orang yang dipermain-mainkan oleh angan-angan kosong mereka sendiri. Pengalaman-pengalaman ruhani dangkal yang mereka alami bukanlah penyingkapan tirai-tirai kegaiban, melainkan sekadar pengejawantahan khayalan-khayalan nirwujud yang menyesatkan,� papar Abdul Jalil.

�Berarti, mereka tergolong orang-orang terhijab yang selama hidup tidak akan pernah bisa menembus rahasia alam gaib dan tidak pula mampu memahami bahasa rabb?� tanya Raden Sahid.

�Itu sudah pasti. Sebab, al-ima� tidak pernah memancar lewat kantha-mula atau dar al-khanjarah dalam bentuk celoteh dan omelan tak terpahami yang bisa ditangkap indera pendengaran. Al-ima� hanya mungkin memancar dari dar al-khanjarah jika �tempat� itu sudah disucikan dari nafsu-nafsu sehingga menjadi tempat suci yang disebut bait al-qaddisah. Jika nanti engkau sudah terbiasa menggunakan pendengaran batin dan lancar enggunakan bahasa isyarah dan al-ima�, maka engkau tidak saja akan mengetahui ucapan dusta para pembohong, melainkan dapat pula mengetahui bahwa di balik ayat-ayat Al-Qur�an yang dilafazkan itu sejatinya tersembunyi bahasa rabb. Itu sebabnya, ayat-ayat Al-Qur�an yang muncul sebagai bahasa insani lewat bait al-qaddisah pada diri Nabi Muhammad Saw. tidak bisa dipalsukan satu huruf pun, karena orang-orang beriman yang sudah memahami bahasa isyarah dan al-ima� dengan mudah akan mengetahui pemalsuan-pemalsuan yang dilakukan orang zalim.�

�Maksudnya, engkau harus pandai-pandai menyembunyikan kemampuan itu dan sekaligus menyembunyikan jati dirimu. Jika satu saat nanti datang kepadamu orang-orang jahil yang menantang-nantangmu untuk mengadu kehebatan dalam menempuh jalan ruhani, tetapi orang itu masih menggunakan bahasa lisan, maka wajiblah bagimu untuk menghindar. Bersikaplah seolah-olah engkau bodoh dan tidak memiliki pengetahuan ruhani. Lebih baik dirimu dianggap bodoh oleh mereka daripada engkau meladeni mereka, karena orang-orang jahil itu akan terperosok ke lembah ketakaburan yang mengundang murka Allah. Biarlah mereka memuji-muji kehebatan diri dengan menjadikanmu tumpuan pijakan.�

�Kami akan pusakakan petunjuk Paman. Kami sangat ingin menggunakan pendengaran batin, bahasa isyarah, dan al-ima� dengan lancar, meski kami sadar hal itu tidak gampang. Butuh latihan keras dan waktu panjang. Kami ingin Paman tidak pernah bosan membimbing kami,� kata Raden Sahid takzim.

�Engkau sudah tidak perlu bimbingan lagi. Engkau ibarat burung, bisa terbang sendiri mengarungi angkasa luas. Tetapi, satu hal yang wajib engkau ingat: jangan engkau berbuat zalim dengan mengungkapkan pengetahuan ini kepada mereka yang tidak berhak. Pengetahuan ini sangat rahasia. Engkau harus pandai-pandai menyembunyikan kemampuan ini dan sekaligus menyembunyikan jati dirimu,� Abdul Jalil mewanti-wanti.

�Kami akan pusakakan wejangan Paman. Tetapi, bagaimanakah cara kami untuk mengajarkan kepada para murid yang belajar kepada kami dalam menjelaskan perbedaan tingkat-tingkat bahasa, terutama untuk menguji pengakuan orang seorang yang mengaku kehadiran ruh suci?�

�Secara sederhana, untuk menguji apakah orang seorang itu benar-benar mengungkapkan bahasa ruh suci yang mahalanggeng atau sedang terperangkap jerat-jerat al-wahm, engkau dapat menggunakan ukuran penalaran yang cerdas, yaitu membandingkan pertentangan-pertentangan antara apa yang mereka ucapkan dengan perilaku dan perbuatan yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh, telah bertahun-tahun aku telah mengenal para pemuja Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa. Selama itu pula aku sering menangkap citra keberadaan mereka dengan penanda sikap dan perilaku yang mengejawantahkan citra sang nirwujud. Mereka itu orang-orang yang citra dirinya ditandai sikap takabur, menilai terlalu tinggi diri sendiri, suka merendahkan manusia lain, membanggakan kekuatan diri, kuat ananiyyah (egois), tidak mau disaingi, penuh dendam dan iri hati, suka mengaku-aku, hidup dibimbing nafsu, kejam, pintar bicara, banyak siasat, cinta kebendaan, dan berlebihan dalam segala hal. Dengan sikap dan perilaku yang mengejawantahkan citra sang nirwujud maka citra diri mereka ditandai oleh pertentangan (munaza�ah) dari citra diri mereka, yang hal itu akan terungkap dalam ketidaksesuaian dan pertentangan antara kata dan perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari.�

�Jika suatu saat engkau bertemu dengan orang-orang semacam mereka, berhati-hatilah engkau. Sebab, mereka adalah pengejawantahan citra sang nirwujud. Tanda-tanda mereka itu mudah diketahui. Umumnya tanda-tanda itu seperti ini: jika mereka berkata-kata yang menakjubkan tentang cinta kasih maka yang mereka perbuat adalah tindak kekejaman dan kebrutalan yang menjijikkan. Jika mereka berbicara tentang kerendahhatian maka yang mereka perbuat adalah pamer ketakaburan dan kecongkakan. Jika mereka berbicara tentang kedermawanan maka yang mereka perbuat adalah merampas, merampok, menggarong, menjarah, dan mengisap sesama. Jika mereka berbicara menakjubkan tentang peradaban maka yang mereka perbuat adalah tindak kebiadaban yang memalukan orang beradab. Jika mereka berbicara tentang kemerdekaan dan kesetaraan maka yang mereka perbuat adalah menindas, menjajah, dan memperbudak sesama.�

�Dengan ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan itu, di mana pun mereka datang di suatu tempat maka saat itulah mereka akan menebarkan malapetaka bagi makhluk di tempat tersebut. Mereka akan menjadi pangkal kesengsaraan bagi makhluk lain. Sebab, mereka tidak saja akan menjadi perampok, penggarong, penjarah, perampas, penjajah, dan penindas, melainkan akan menjadi penyesat pula bagi manusia yang mempercayai ucapan mereka. Waspadalah terhadap mereka. Tetapi satu hal yang wajib engkau waspadai, o Anakku, bahwa kecenderungan-kecenderungan semacam mereka itu tidak selalu sama bentuknya dalam tiap masa. Maksudku, kecenderungan itu bisa muncul dalam berbagai bentuk dan ajaran yang berbeda dengan ajaran Pangiwa dan ajaran pemuja Prthiwi. Tidak menutup kemungkinan kecenderungan itu akan engkau dapati pada orang-orang yang mengenakan jubah keislaman atau jubah agama lain yang kelihatan santun dan baik,� kata Abdul Jalil.

Raden Sahid menarik napas panjang. Dia merasakan kelegaan memenuhi dadanya. Lalu, dengan suara lain dia berkata, �Kami akan pusakakan petunjuk Paman. Kami sekarang ini benar-benar merasa berbahagia. Sebab, ucapan Paman bahwa Allah tidak tersembunyi karena Allah tidak pernah tidak hadir baru dapat kami pahami dengan sebenarnya sekarang ini.�

�Itu berarti engkau telah mengetahui dengan bashirah sebagian rahasia kekuasaan-Nya.�

�Terima kasih Paman.�

�Sebagai tanda bahwa engkau telah menapakkan kaki sebagai al-arif billah yang sudah memenuhi syarat untuk menjadi pembimbing ruhani, aku berikan ijasah untukmu dalam wujud: Ratu Arofah,� kata Abdul Jalil memegang kedua bahu Raden Sahid.

�Kami terima ijasah sebagai pusaka.�

�Tapi, tahukah engkau apa yang aku maksud dengan Ratu Arofah?�

�Kami tidak tahu, Paman.�

�Dia adalah Zainab, puteriku. Aku berikan ia kepadamu sebagai ijasah yang menandai bahwa engkau boleh mengajarkan apa yang telah aku ajarkan kepadamu. Lantaran engkau telah �mengetahui� rahasia-rahasia kekuasaan-Nya melalui bashirah maka ijasah itu aku sebut dengan nama Ratu Arofah.�

�Kami pusakakan ijasah yang agung dan mulia itu.�

�Tapi ada satu hal yang harus engkau ingat-ingat, o Anakku.�

�Kami mohon petunjuk dan bimbingan.�

�Ucapan-ucapanku seperti �Allah tidak pernah tidak hadir� hendaknya engkau jadikan rahasia. Sebab, ucapan itu menjadi sesuatu yang benar jika diucapkan seorang guru kepada sang penempuh (salik) dalam menuntun ke arah ketercelikan mata hati untuk mengenal-Nya. Tetapi, ucapan itu menjadi suatu kezaliman jika disampaikan kepada kalangan awam yang keadaan jiwanya masih terhijab. Sehingga, mengungkapkan rahasia Kebenaran ini kepada awam bisa diibaratkan seperti seorang penyair mengungkapkan keindahan syair-syairnya kepada orang tuli,� sahut Abdul Jalil.

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers