Selasa, 21 Maret 2017

AL-MARATIB AL-WUJUD

Al-Maratib al-Wujud

     Dalam usianya yang seabad lebih, Malaka yang semula hanya muara tak berpenghuni telah menjelma menjadi bandar perniagaan antara bangsa yang sangat menakjubkan. Berpuluh-puluh kapal besar dan kecil yang berasal dari berbagai negeri berlabuh di situ. Setiap hari kapal-kapal ukuran besar dan kecil silih berganti sandar di dermaga. Tiang-tiangnya yang teracung ke atas berderet laksana barisan tombak yang menghutan. Dari lambung kapal-kapal itu mengalir berbagai jenis barang niaga dari berbagai negeri; sutra, porselen, kain, kapur barus, kayu cendana, beras, pala, cengkeh, lada, timah, kayu gelondongan, emas, batu permata, dan budak.

Bandar Malaka sendiri terletak di muara sungai Malaka dan terbelah oleh sungai tersebut dari barat ke timur. Di bagian selatan sungai terletak bukit Malaka yang berdiri tegak dilingkari pohon-pohon kelapa dan sepetak hutan kecil. Di bagian kaki bukit Malaka terletak istana sultan dan masjid megah, anggun, dan mewah dikitari bangunan-bangunan besar kediaman para pejabat kerajaan. Bentangan jalan-jalan yang rapi dengan tanaman berbunga di kedua sisinya terlihat indah dan sejuk. Jalan-jalan itu membentang berliku menghubungkan kawasan istana dengan pelabuhan dan kutaraja.

Agak jauh dari bukit Malaka terdapat bukit kecil lain yang disebut orang dengan nama Bukit Cina. Bukit Cina adalah kediaman Puteri Hang Li Po, anak kaisar Yung Lo, yang dipersunting Sultan Mansyur Syah, kakek Sultan Mahmud Syah. Para pangeran keturunan Sultan Mansyur Syah dan Puteri Hang Li Po hanya sedikit yang terlibat di pemerintahan. Mereka umumnya menjadi saudagar. Mereka masih tinggal di Bukit Cina, meski jaraknya cukup jauh dari pusat perniagaan di kutaraja. Dengan tetap tinggal di Bukit Cina, mereka seolah-olah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar Sultan Malaka.

Tidak jauh dari muara sungai Malaka terdapat jembatan besar yang terbuat dari balok-balok kayu ukuran raksasa. Itulah jembatan yang menghubungkan kawasan istana dengan kutaraja dan pelabuhan. Agak beda dengan kawasan istana sultan, di bagian kutaraja Malaka yang terletak di utara sungai tinggal berbagai jenis manusia dari bermacam bangsa dan beragam lapisan kedudukan. Jika di kawasan sekitar istana di selatan sungai suasananya terasa tenang dan terkesan mewah, kawasan kutaraja di utara sungai itu menampilkan suasana gaduh dan hingar-bingar. Bangunan-bangunan besar berjejal-jejal dan berhimpit dengan bangunan-bangunan kecil. Ada rumah kediaman para saudagar. Ada gudang-gudang penimbunan barang niaga. Ada rumah peduduk kebanyakan. Ada toko-toko, rumah makan, rumah gadai, pasar, kedai-kedai kecil, bedeng-bedeng kumuh tempat kuli dan tukang, dan barak-barak kotor hunian sementara budak-budak. Lorong-lorong sempit dan pengap terselip di antara bangunan-bangunan. Beberapa ruas jalan yang agak lebar menebarkan debu jika dilewati.

Setiap hari, sejak fajar menyingsing di ufuk timur, citra kehidupan Malaka sebagai bandar antara bangsa sudah terlihat dalam bentuk kelebatan manusia yang terseret arus kesibukan luar biasa. Gerakan orang-orang yang berkelebat begitu cepat laksana biji-biji gabah ditampi di tampah. Sejauh mata memandang ke jalan-jalan dari arah pelabuhan ke kutaraja, yang terlihat adalah kelebatan orang-orang yang hilir mudik dari satu tempat ke tempat lain, seolah-olah mereka mengejar sesuatu yang tidak terlihat mata telanjang. Ya, gerakan cepat orang-orang yang hilir mudik dan berlari tersengal-sengal dengan tubuh bersimbah peluh sambil memanggul karung, memikul barang dagangan, menggotong balok, mendorong gerobak, menenteng keranjang, menyunggi barang. Sementara yang lain terlihat bergegas mengendarai kereta, diangkut tandu, naik pedati, menunggang kuda di tengah kepulan debu dan teriakan-teriakan orang yang memerintah serta gaduhnya celoteh kuli-kuli pengangkut yang berseliweran.

Barang seabad silam, di muara tempat bandar Malaka terletak masih belum dihuni orang. Sebatang pohon Malaka yang dijadikan tempat berteduh Parameswara, pangeran pemberontak asal Majapahit asal Palembang, adalah satu-satunya saksi bisu tentang bagaimana bandar niaga antara bangsa itu bermula. Parameswara dan para pengikutnya itulah penghuni pertama muara sungai Malaka itu. Dalam hitungan tahun sejak hunian pertama di Malaka dibuka, utusan Kaisar Yung Lo bernama Laksamana Yin Ching mengunjugi tempat baru itu. Enam tahun kemudian, Laksamana Cheng Ho datang pula ke Malaka. Dua tahun setelah kehadiran Cheng Ho, Parameswara menghadap Kaisar Yung Lo ke Beijing.

Tak lama sekembali dari Beijing, Parameswara memeluk Islam ketika menikahi puteri asal Pasai. Ia menggunakan nama muslim: Megat Iskandar Syah. Sejak masuk Islamnya Parameswara, Malaka dengan cepat menjadi bandar perniagaan yang ramai ketika disinggahi para saudagar Muslim dari Cina, India, Arab, Persia, Turki, dan Nusantara. Bahkan, karena letak Malaka yang berada di tengah lintasan perniagaan dari utara ke selatan itu maka dengan cepat ia tumbuh menjadi bandar antara bangsa.

Setelah dua puluh empat tahun berkuasa di Malaka, Megat Iskandar Syah mangkat. Ia digantikan oleh puteranya, Muhammad Syah yang bergelar Seri Maharaja. Ia meneruskan kebijakan ayahandanya. Seri Maharaja memiliki dua orang putera. Yang sulung bernama Raja Kassim, ibunya berasal dari kalangan jelata berdarah Tamil. Putera kedua, Raja Ibrahim, ibunya berdarah biru, puteri Sultan Rokan. Saat Seri Maharaja mangkat, Raja Ibrahim dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Seri Parameswara Dewa Syah. Namun, tak sampai setahun berkuasa Raja Ibrahim diserang oleh kakak tirinya, Raja Kassim, yang didukung kaum muslim Tamil yang dipimpin Tun Ali. Dukungan Tun Ali dapat dipahami karena ia adalah kakak kandung dari ibunda Raja Kassim. Raja Ibrahim pun terbunuh. Raja Kassim kemudian menggantikan dedudukannya dengan gelar Muzaffar Syah.

Ketika takhta Malaka diduduki Muzaffar Syah inilah tampil seorang negarawan ulung bernama Tun Perak yang menduduki jabatan Bendahara Paduka Raja (Perdana Menteri). Dengan kecerdasan dan kepiawaiannya menata pemerintahan, Malaka diarahkan menjadi kekuatan maritim yang heba. Berbagai negeri sekitar Malaka seperti Perak, Pahang, Johor, Kelantan, Rokan, Aru, Siak, Kampar, Indragiri, Riau, dan Lingga ditaklukkan. Malaka melengkapi kekuatan armadanya dengan senjata-senjata bikinan Jawa. Lantaran armada Malaka sudah sedemikian rupa kuat maka sewaktu pasukan dari Siam menyerbu, terjadi pertempuran sengit di dekat Muar yang berakibat hancur binasanya pasukan Siam.

Ketika Muzaffar Syah mangkat, ia digantikan oleh puteranya, Raja Abdullah, yang bergelar Mansyur Syah. Di bawah Mansyur Syah, Malaka maju pesat terutama karena kehebatan Bendahara Tun Perak dan Laksamana Hang Tuah. Pada zaman Mansyur Syah inilah kebudayaan Melayu tumbuh dengan pesat dan menancapkan akar-akarnya. Mansyur Syah digantikan oleh puteranya yang bergelar Alauddin Riayat Syah, kemenakan Bendahara Tun Perak. Ketika Alauddin Riayat Syah mangkat, ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Mahmud Syah.

Pada saat Mahmud Syah berkuasa, Bendahara Tun Perak sudah tua dan kemudian meninggal. Ia digantikan oleh Tun Putih, yang sudah tua juga. Belum dua tahun menjabat, Tun Putih meninggal. Ia digantikan oleh Tun Mutahir, anak Tun Ali. Sebagaimana ayahandanya, Tun Mutahir mendapat dukungan golongan muslim Tamil. Untuk menunjukkan kehebatan diri, tak lama setalah menjadi Bendahara Raja, Tun Mutahir menaklukkan Kedah dan Patani. Namun, Tun Mutahir bukanlah seorang pemimpin yang baik. Ia dikenal sebagai pejabat curang dan kejam yang mabuk kekuasaan, gila pangkat, dan rakus kekayaan. Ia tidak segan menghabisi lawan-lawan politiknya atau siapa saja yang dianggap melawan kebijakannya yang sering konyol.

Ibarat pepatah �bapak kencing berdiri anak kencing berlari�, sifat buruk Tun Mutahir itu dengan cepat diikuti oleh bawahannya. Hampir setiap hidung di segenap penjuru negeri Malaka mengetahui jika Tun Mutahir dan pejabat kerajaan bawahannya adalah komplotan pejabat tengik yang suka makan suap. Peraturan-peraturan dibuat menurut kepentingan pihak-pihak yang bisa menyuap. Peraturan-peraturan terkait konsesi perdagangan, peraturan tata niaga, penetapan hukum peradilan, penentuan kepangkatan dan jabatan, semuanya tergantung kepada berapa besar orang seorang bisa menyuap pejabat tertingi. Celakanya, Tun Mutahir tidak tahu kapan waktu yang tepat ia harus berhenti. Tanpa sadar, ia menganggap keberadaannya sebagai Bendahara Raja adalah sama dengan pemilik kekuasaan tertinggi, yaitu sultan. Ia bahkan merasa lebih tinggi dari sultan. Itu sebabnya, dengan berbagai cara yang licik dan busuk ia menyingkirkan pejabat-pejabat yang setia kepada sultan. Ia bahkan memfitnah Laksamana Hang Tuah hingga pahlawan gagah berani itu dijatuhi hukuman mati oleh sultan. Setelah yakin kekuasaan sultan lemah, ia dengan semau-maunya menjalankan pemerintahan yang korup dan nepotis.

Tindakan Tun Mutahir yang sewenang-wenang itu ternyata menimbulkan reaksi. Tanpa ada yang menggalang, diam-diam bermunculan pihak-pihak di lingkungan kerajaan yang melakukan perlawanan terhadapnya. Pejabat-pejabat tinggi dan rendahan, meski tak banyak jumlahnya, diam-diam menggalang kekuatan untuk mendukung kekuasaan sultan. Gerakan itu ternyata disambut baik oleh sultan yang merasa tak berdaya.

Di bawah Sultan Mahmud Syah, pada usianya yang sudah lebih seabad, Malaka memang telah menjadi bandar antara bangsa yang sangat ramai dan makmur. Malaka dihuni tak kurang dari 120.000 jiwa. Malaka menjadi gantungan harapan bagi anak negeri untuk menapaki kemakmuran. Malangnya, akibat kekuasaan Tun Mutahir dan kaki tangannya yang tercela, kehidupan di Malaka yang sekilas tampak makmur itu malah menebarkan suasana pengap, tengik, busuk, dan menyesakkan bagi mereka yang memiliki hati nurani. Pedagang-pedagang kecil, petani, nelayan, dan pejabat-pejabat jujur yang menamba sesuap nasi nyaris tidak ada yang terbebas dari lilitan hutang. Kegiatan berutang dengan bunga yang semula dilakukan di rumah-rumah gadai, pada gilirannya telah berkembang di tengah penduduk laksana jamur di musim hujan. Siapa saja di antara penduduk Malaka yang punya uang, dapat menjadi lintah darat yang bebas mengisap darah sesamanya tanpa kenal ampun. Para petugas kerajaan yang beroleh suap dari para lintah darat sering kedapatan menjelma dalam wujud tukang tagih yang menakutkan.

Di tengah suasana pengap, tengik, busuk, dan menyesakkan hati nurani itulah Abdul Jalil menginjakkan kakinya untuk kali kedua di Malaka. Sebagai manusia yang hidup diterangi hati nurani, setelah hampir tiga dasawarsa meninggalkan Malaka, ia tiba-tiba merasakan dirinya seolah-olah orang asing yang belum pernah ke Malaka. Entah apa yang telah berubah dari bandar itu, ia tidak tahu. Ia hanya merasa tak mengenal lagi kota itu. Sejak turun dari kapal menuju pusat kota dengan diikuti istri, anak, dan Raden Sahid, ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah asing dengan bangunan-bangunan dan orang-orang yang tak dikenalnya. Ia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan bandar Malaka, bandar niaga ini benar-benar telah berubah dan nyaris tak dikenal lagi, katanya dalam hati.

Setelah menyusuri sekitar pelabuhan sambil melihat-lihat perubahan keadaan sekitarnya, Abdul Jalil berjalan lambat-lambat melintasi jalan yang menuju arah pusat kota. Di persimpangan jalan yang menuju arah kantor syahbandar, ia menghentikan langkah. Dengan pandangan nanap, ia menyaksikan arus cepat gerakan orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya. Ia menangkap semacam keanehan gerak dari orang-orang yang hilir mudik itu. Beberapa jenak kemudian ia menoleh ke arah Raden Sahid dan bertanya, �Menurut pandanganmu, o Anakku, apakah yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang hilir mudik itu?�

Raden Sahid yang diam-diam mengamati kesibukan orang-orang itu tidak segera menjawab. Dia merenung sejenak. Setelah itu, dia menelan ludah dan berkata, �Menurut hemat kami, sesungguhnya orang-orang yang hilir mudik di jalanan itu tidak melakukan apa-apa, Paman.�

�Tidak melakukan apa-apa?� gumam Abdul Jalil dengan kening berkerut. �Kalau mereka tidak melakukan apa-apa, kenapa mereka berlari membawa beban dengan keringat bercucuran bagaikan hewan pemikul beban didera tuannya?�

�Menurut hemat kami, sesungguhnya mereka sedang terseret arus sungai kehidupan duniawi yang deras, Paman. Mereka timbul tenggelam dihanyutkan oleh air bah kebendaan yang bakal membenamkan mereka ke dalam endapan lumpur kebinasaan yang pekat.�

�Itu jawaban yang arif. Itu menunjukkan cakrawala kesadaranmu sudah diterangi nur lawami� dan kalbumu sudah dipancari pemahaman fawa�id. Tetapi masih perlu ditingkatkan,� ujar Abdul Jalil.

�Kami mohon bimbingan Paman.�

�Aku katakan bahwa pernyataanmu itu sudah benar, o Anakku,� kata Abdul Jalil dengan mata memandang gumpalan awan yang berlayar di langit. �Betapa orang-orang itu sejatinya memang tidak melakukan pekerjaan apa-apa. Mereka hanya terseret air bah kebendaan di sungai kehidupan duniawi tanpa mereka sadari. Tetapi, cobalah engkau resapi lebih jernih tentang hakikat terdalam dari sungai kehidupan duniawi itu. Resapi ia dengan benderang kecemerlangan nur lawami� di bentangan cakrawala kesadaranmu. Resapi ia dengan terang dan luasnya pemahaman fawa�id di kedalaman semesta kalbumu. Resapi dengan lebih jernih akan hakikat yang maujud dan Yang Wujud.�

�Gunakan penglihatan mata batin untuk menangkap rahasia keberadaan wilayah nirbendawi (malakut) yang tersembunyi di balik wilayah jasadi (mulki) sejauh yang bisa engkau tangkap. Resapi dengan tenang hakikat terdalam di balik perlambang keberadaan mata air, lekukan dan liku-liku sungai, tinggi dan rendah dasar sungai, arus, muara, lautan, dan air yang mengalir di sungai kehidupan duniawi. Resapi semua itu dengan kalbu yang jernih! Resapi kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Ilahi sampai engkau tangkap nuansa Kehadiran al-Malik al-Mulki di balik segala sesuatu yang maujud! Lalu saksikan Kebenaran Sejati di balik semua itu dengan mata batin yang jernih! Saksikan Kehadiran Yang Serba Meliputi (Hadrah al-Jam�) yang tersembunyi di balik kehadiran sesuatu (hadrah) sejauh yang bisa engkau tangkap tingkatan-tingkatannya (al-maratib al-wujud)! Aku berharap, engkau akan dapat menangkap rahasia hakiki di balik kehidupan orang-orang yang terseret arus kehidupan duniawi yang terpampang di hadapanmu itu.�

Raden Sahid diam. Dengan tenang dia duduk bersila dan memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam dan kemudian mengaturnya. Dia berusaha mengikuti semua petunjuk yang diberikan Abdul Jalil. Setelah merasa tenang dalam mengatur napas, ia mulai mendaki empat tangga menuju matra alam al-ghaib, yaitu istighfar � shalawat � tahlil � nafs al-haqq. Dia menyelaraskan kiblat hati dan pikiran kepada titik di antara kedua matanya. Dia tidak mempedulikan panas matahari yang mulai menyengat. Dia tidak mempedulikan suara hiruk pikuk dan teriakan orang-orang di sekitarnya yang terseret air bah kehidupan duniawi.

Ketika pendakiannya sampai pada nafs al-haqq, tiba-tiba saja ia merasakan tangan kiri Abdul Jalil menyentuh tengkuknya. Sejenak setelah itu, dia merasakan telapak tangan kanan Abdul Jalil menutupi kedua matanya sehingga kegelapan melingkupi penglihatan indriawinya. Seiring terhamparnya kegelapan dalam indera penglihatannya, dia sekonyong-konyong merasakan keanehan terjadi pada dirinya. Secara menakjubkan, dia merasa seolah-olah tidak berada di suatu tempat di Malaka dan tidak pula berada di suatu tempat di muka bumi. Dia merasa seperti berada di dunia lain, yang keadaannya hampir sama dengan saat dia bertemu Maharisi Agastya di gunung Malaya. Bahkan, suasana yang meliputinya dia rasakan jauh lebih menakjubkan lagi.

Tertegun merasakan keadaan yang meliputinya begitu aneh, tanpa terduga dia mengalami peristiwa yang sangat menajubkan bagai berada di alam mimpi: di tengah kegelapan penglihatan indriawinya itu, tiba-tiba memancar cahaya menyilaukan nur lawami� yang terang benderang dari antara kedua matanya. Cahaya itu sangat terang dan menyilaukan. Ketika dia tercengang, tiba-tiba nur lawami� yang hampir membutakan itu meluncur cepat laksana kilat, menyambar relung-relung kedalaman kalbunya.

Bagaikan orang terbangun dari tidur, dia tertegun-tegun kebingungan karena cahaya nur lawami� yang disaksikannya itu memancar jauh lebih terang daripada yang pernah dia saksikan sebelumnya. Sedetik kemudian, di tengah ketakjuban dan ketertegunan, dia merasakan kesadaran baru demi kesadaran baru menyingkapkan kegelapan jiwanya, laksana tirai penutup disibakkan. Secara perlahan-lahan tetapi cepat, ia merasakan kesadaran barunya terkuak laksana ular yang keluar dari selongsong kulitnya. Atau, seperti kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Atau, anak ayam keluar dari cangkang telurnya. Atau, hewan penghuni liang untuk kali pertama keluar dari liangnya. Dan, seiring tersingkapnya kesadaran baru demi kesadaran barunya itu, dia mendapati kenyataan menakjubkan tergelar di hadapannya. Melalui cahaya di antara kedua matanya itu, dia seperti memiliki mata ketiga yang melihat kenyataan di sekitarnya dengan penglihatan yang berbeda.

Dengan mata ketiga itu, tiba-tiba cakrawala kehidupan yang tergelar di hadapannya ia saksikan sebagai pemandangan yang luar biasa ajaib: sejauh mata ketiga itu memandang, yang tampak adalah perwujudan dari segala sesuatu yang maujud di sekitarnya dengan tingkat kehadiran yang mustahil dijabarkan dengan nalar. Dia tidak tahu apakah tingkat-tingkat kehadiran itu merupakan tingkatan yang maujud dari wilayah jasadi (mulki) hingga wilayah nirbendawi (malakut), ataukah itu merupakan tingkatan kesadaran dirinya yang berlapis-lapis laksana kesadaran cacing � kadal � kucing � harimau � burung. Dia tidak mampu menjabarkannya. Saat berada pada puncak kesadaraun dan sekaligus penglihatan mata ketiga itu, tersingkaplah bentangan cakrawala pemahaman fawa�id yang luar biasa yang jauh melebihi apa yang pernah dialami dan dirasakannya. Dia terperangah takjub karena di hadapannya secara ajaib terpampang pemandangan menakjubkan yang sebelumnya belum pernah ia lihat dan ketahui.

Bagaikan berada di alam mimpi, ia menyaksikan dengan sangat jelas kilasan-kilasan lembut dari perwujudan segala sesuatu yang tegelar di hadapannya, laksana bentangan suatu matra kehidupan di dalam samudera raya. Sejauh mata memandang, yang tampak maujud di dalam samudera raya itu adalah perwujudan menakjubkan dari anasir-anasir yang saling mengait, mulai anasir yang paling padat hingga anasir yang paling halus sampai yang nirbendawi. Aneh sekali penglihatan itu. Ajaib. Semua perwujudan yang menampak terlihat dengan terang tingkat-tingkat kehadirannya beserta seluruh anasir pembentuknya, di mana kehadiran wilayah jasadi seolah-olah terhubung saling meliputi dengan kehadiran wilayah nirbendawi dan terus terangkai dalam liputan kehadiran wilayah Ilahi (al-Malik al-Mulki).

Sesaat dia tertegun-tegun dalam pesona atas pemandangan mencengangkan itu. Betapa ajaibnya penglihatan batin yang disaksikan mata ketiganya itu: yang maujud menampakkan jati diri dalam rangkaian tingkatan-tingkatan saling meliputi dengan yang nirbendawi sampai kepada liputan Yang Wujud. Inikah yang disebut al-maratib al-wujud, yaitu tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud dalam tanazzul? Dia makin tertegun dan terpesong ketika menyaksikan berbagai bentuk maujud di sekitarnya yang berubah-ubah sangat menakjubkan: bangunan-bangunan, pohon-pohon, batu-batu, kapal-kapal, lautan awan kapas di langit, manusia-manusia yang hilir mudik di sekitarnya, hewan peliharaan yang berjalan, burung-burung yang terbang di angkasa, bahkan iring-iringan semut yang merambat di pepohonan, tampil sebagai bentuk-bentuk aneh yang berseliweran di dalam �air� samudera raya. Seluruh bentuk aneh itu terkait satu sama lain. Semua saling berjalin berkelindan tak terpisah. Ke mana pun mereka bergerak, mereka selalu terkait dan selalu berada di dalam liputan anasir �air� samudera raya. Bahkan, anasir air yang meliputi mereka itu secara menakjubkan diliputi oleh anasir �api� samudera api. Anasir api pun diliputi anasir �kilatan halilintar� dari samudera petir. Anasir kilatan halilintar pun diliputi anasir �cahaya� dari samudera cahaya. Demikianlah, saling meliputi antara anasir satu dan anasir lain itu terjadi secara menakjubkan, dari anasir terpadat hingga yang bersifat lebih halus hingga nirbendawi.

Sesungguhnya, pemandangan aneh yang disaksikannya itu tidaklah tepat benar dibandingkan dengan matra kehidupan makhluk di dalam laut. Sebab, segala sesuatu yang maujud di dalam penglihatan batinnya itu menampakkan anasir-anasir pembentuknya yang hadir secara bertingkat. Pemandangan ajaib itu bisa diibaratkan seperti bentangan kain yang terlihat seluruh anasir pembentuknya, mulai dari jalinan benang, lalu benang dibentuk dari jalinan kapas, kapas dibentuk dari serat-serat kapas, terus ke anasir terkecil, hingga yang nirbendawi. Namun, gambaran itu pun tidak tepat benar karena tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud memang tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu kecuali secara sedikit sekali. Di tengah ketakjubannya itu, dia merasakan kesadarannya makin terserap manakala mata ketiganya menayaksikan pelihatan ajaib yang mencengngkan atas manusia-manusia yang berseliweran di sekitarnya.

Secara ajaib, dia menyaksikan pancaran tujuh cahaya benderang berpendar-pendar tak terbayangkan keindahan dan kelembutannya pada tiap-tiap pribadi manusia. Pancaran cahaya pertama tampak berpendar tepat dia atas kepala setiap manusia dengan jarak sekitar sejengkal di atas ubun-ubun. Cahaya itu berwarna putih cemerlang. Besarnya seukuran telur angsa. Cahaya putih itu berpendar dengan tingkat kecemerlangan yang tidak sama.

Tepat di kening, di antara dua mata masing-masing manusia, memancar cahaya putih-kebiruan sebesar uang logam yang berpendar dengan tingkat kecemerlangan tidak sama pula. Lalu, tepat di ujung bawah tenggorokan masing-masing manusia, terlihat cahaya lembayung-kemerahan sebesar telur merpati berpendar-pendar dengan tingkat cemerlang yang juga tidak sama. Di bawahnya, di bagian dada terlihat pancaran cahaya putih-gemerlap sebesar kepalan tangan orang dewasa. Cahaya putih gemerlap itu sangat menyilaukan laksana pantulan batu permata. Sebagaimana pancaran cahaya yang lain, tingkat kecemerlangan cahaya di dada itu tidak sama pula, bahkan sangat banyak di antaranya yang terlihat sangat redup.

Raden Sahid sadar bahwa penglihatan ajaib yang disaksikannya itu adalah penglihatan bashirah yang akan menyingsing dan sirna manakala dia melibatkan nalarnya. Itu sebabnya, dia membiarkan keajaiban-keajaiban penglihatan itu membentang di cakrawala pemahaman fawa�id tanpa perlu ia bertanya tentang ini dan itu. Demikianlah ia menyaksikan lagi pancaran cahaya kuning-terang berpendar sebesar telur ayam di bawah pusar manusia-manusia itu dengan tingkat terang yang tidak sama. Setelah itu, dia saksikan pancaran cahaya putih-kuning-merah-biru-hitam pada bagian tengah tulang belakangnya. Dan terakhir, dia saksikan pancaran cahaya biru-kehitaman yang redup di ujung tulang ekor masing-masing manusia. Besar cahaya itu seukuran ekor harimau, tetapi memanjang seperti ular. Cahaya di ujung tulang ekor manusia itu memiliki tingkat keredupan yang tidak sama pula.

Raden Sahid tidak mengetahui makna di balik tujuh pancaran cahaya yang berpendar itu. Dia hanya bisa tercenagang-cengang menyaksikannya. Betapa aneh dua berkas cahaya di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor manusia itu. Setiap kali cahaya putih-cemerlang yang memancar di atas ubun-ubun manusia berpendar terang dan redup, saat itulah dia menyaksikan sosok dari makhluk-makhluk itu bergerak dan melakukan berbagai kegiatan kehidupan. Hal yang sama terjadi ketika cahaya biru-kehitaman yang memanjang di ujung tulang ekor manusia-manusia itu berpendar terang atau redup. Cahaya di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor itu seolah merupakan saluran utama kehidupan yang menentukan gerak hidup orang seorang. Sementara saat cahaya di dada yang berwarna putih-cemerlang kristal itu memancar, makhluk-makhluk itu berpikir, berangan-angan, dan berbicara. Sungguh ajaib dan menakjubkan sosok manusia-manusia itu dalam penglihatan batin. Mereka terlihat seperti boneka yang digerakkan oleh daya gaib dari cahaya yang memancar di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor. Mereka berpikir, berangan-angan, dan berbicara karena dipancari cahaya yang memancar dari dadanya.

Raden Sahid tidak tahu berapa lama dia menyaksikan kenyataan menakjubkan dari kehidupan manusia lewat pemahaman fawa�id di kedalaman kalbu yang dipancari nur lawami� itu. Dia hanya merasakan mata ketiganya makin tercelikkan ketika menyaksikan perwujudan hakiki dari perlambang-perlambang kehadiran jasadi dan nirbendawi yang bertingkat-tingkat itu. Namun, akibat peglihatan batin yang sangat mencengangkan itu, dia menjadi termangu-mangu kebingungan seperti orang linglung ketika usai mengalami peristiwa ajaib, terserap oleh suatu daya pesona dahsyat yang memukau kesadaran manusiawinya.

Melihat Raden Sahid tercengang-cengang linglung kebingungan, Abdul Jalil tertawa. Ia paham, pengaruh tersingkapnya (kasf) kesadaran baru yang luas (basth) terlalu cepat, sebagaimana pernah ia alami saat dibimbing oleh Misykat al-Marhum di gunung Uhud, dapat membuat orang seorang mengalami keguncangan jiwa (majnun) selama kurun waktu tertentu, karena akal pikiran dan kalbunya belum selaras. Itu sebabnya, ia tidak akan bertanya tentang pengalaman ruhani yang dialami Raden Sahid dengan bahasa lisan, melainkan dengan bahasa perlambang (isyarah) yang langsung menembus ke dalam mahligai kalbunya. Demikianlah, melalui isyarah, Raden Sahid mengungkapkan pengalaman ruhani yang baru saja dialaminya, yang jika dipaparkan dalam bahasa lisan manusia kira-kira berbunyi:

�Sesungguhnya, di balik keberadaan sungai kehidupan duniawi yang bermuara ke samudera Wujud (bahr al-wujud) itu telah kami saksikan betapa sejatinya Allah tidak tersembunyi karena Dia tidak pernah tidak hadir. Sesungguhnya, kami telah saksikan bahwa di balik yang maujud sejatinya tersembunyi Yang Wujud dalam tingkatan-tingkatan kehadiran (al-maratib al-wujud), ibarat keberadaan anasir nirbendawi, anasir air, anasir makhluk air, anasir angin, anasir ombak, anasir buih, dan anasir pantai yang membentuk samudera kehidupan semesta. Kami menyaksikan dengan mata batin betapa sesungguhnya di balik keberadaan sebuah bentangan samudera kehidupan semesta, sejatinya tersembunyi perlambang Keberadaan Hakiki antara yang maujud dan Yang Wujud. Kami menyaksikan dengan bashirah hakikat turunnya (tanazzul) Yang Wujud ke wilayah pemunculan kehadiran (maujud) secara bertingkat-tingkat dalam bentuk perlambang mengejawantahnya Shifat, Af�al, dan Asma�-Nya dalam rangkaian al-Malik � malakut � mulki.�

Abdul Jalil tertawa. Setelah itu, dengan suara lain ia berkata dalam bahasa perlambang, �Benarlah apa yang engkau ungkapkan itu, o Anakku. Sebab, sejatinya di balik kehadiran (hadrah) segala sesuatu yang maujud di alam semesta ini tidak ada yang terlepas atau terpisah sama sekali dari Kehadiran Zat Wajib al-Wujud, yaitu Zat Yang Serba Meliputi segala sesuatu yang diperbuat makhluk (QS. al-Anfal: 47; Hud: 92; al-Isra�: 60). Segala ciptaan-Nya berasal dari-Nya dan senantiasa berada di dalam liputan kekuasaan-Nya. Dia Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahazahir, Mahabatin, dan Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu (QS. al-Hadid: 3). Karena Dia meliputi segala sesuatu maka ke mana pun engkau menghadapkan wajah, di situ terpampang wajah-Nya (QS. al-Baqarah: 115). Dan segala sesuatu yang maujud pasti rusak binasa bentuknya kecuali wajah-Nya (QS. al-Qashash: 88).�

�Sungguh, dengan mata batin yang jernih, engkau telah berhasil menangkap sasmita kehadiran penyaksian (hadrah asy-syuhudiyyah) di balik sungai kehidupan duniawi yang sedang menghanyutkan manusia-manusia yang terseret air bah kebendaan di dalamnya itu. Engkau telah berhasil menyaksikan rahasia Ilahi tentang bagaimana sejatinya tiap-tiap makhluk ubun-ubunnya berada di dalam genggaman-Nya (QS. Hud: 56). Engkau telah merasakan dan mempersaksikan makna rahasia dari sabda-Nya bahwa Dia lebih dekat daripada urat lehermu (QS. Qaf: 16). Engkau telah menyaksikan tanda-tanda Allah di bumi maupun di dalam dirimu (QS. adz-Dzariyat: 20-21). Engkau telah berhasil menyaksikan bahwa Dia adalah Cahaya langit dan bumi (QS. an-Nur: 35). Jika nanti maqam yang engkau capai makin meningkat maka engkau akan dapat menangkap sasmita kehadiran maka engkau akan dapat menangkap sasmita kehadiran penyaksian tentang Dia sebagai Cahaya di Atas Cahaya (QS. an-Nur: 35), sehingga engkau akan dapat mengetahui siapa orang yang dibimbing al-Hadi dan siapa orang yang disesatkan al-Mudhill.�

�Apakah yang Paman maksud dengan kehadiran penyaksian (hadrah asy-syuhudiyyah)? Adakah itu berhubungan dengan Yang Maha Menyaksikan (Asy-Syahid)? Kami mohon bimbingan.�

�Sesungguhnya, sasmita Kebenaran yang engkau tangkap dari keberadaan sungai kehidupan duniawi dalam bentuk perlambang samudera raya beserta anasir-anasir pembentuknya itu pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari Kehadiran Asma (Hadrah al-Asma�) yang memancar dari Zat Mahatunggal Yang Serba Meliputi (Hadrah adz-Dzatiyyah). Sesungguhnya, engkah telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik Mata Air yang menjadi sumber sungai kehidupan duniawi itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Mencipta (al-Khaliq), Yang Mahaawal (al-Awwal), Yang Maha Memulai (al-Mubdi). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik aliran sungai kehidupan duniawi yang mengalir itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahahidup (al-Hayy), Yang Maha Berlimpah (al-Wajid), Yang Mahanyata (azh-Zhahir). Engkau juga telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik tinggi rendah permukaan dan dasar sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Merendahkan (al-Mudzill), Yang Maha tinggi (al-�Ali), Yang Maha membentuk (al-Mushawwir).�

�Sungguh, engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik luas dan sempitnya tepian sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Menyempitkan (al-Qabith), Yang Maha Meluaskan (al-Bhasit), Yang Maha Menjaga (al-Muhaimin). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik arus sungai yang deras maupun yang lembut itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahalembut (al-Latif), Yang Maha Memaksa (al-Qahhar), Yang Maha Memberi Bahaya (adh-Dharr). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik lekukan dan liku-liku sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahalurus (al-Hadi), Yang Maha Membelokkan (al-Mudhill), Yang Maha Menentukan (al-Muqtadir). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik muara sungai kehidupan sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Maha Menghimpun (al-Jami�), Yang Maha Membuka (al-Fattah), Yang Maha Memajukan (al-Muqaddim).�

�Engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik lautan kehidupan dan gumpalan awan yang menurunkan hujan rahmat dari angkasa duniawi itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Mahaluas (al-Washiy), Yang Mahabesar (al-Kabir), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Mahakokoh (al-Matin), Yang Mahamandiri (ash-Shamad), Yang Mahaakhir (al-Akhir), Yang Maha Meyiksa (al-Muntaqim), Yang Maha Mematikan (al-Mumit), Yang Maha Menghidupkan (al-Muhyi), Yang Mahaperkasa (al-Jabbar), Yang Maha Menyucikan (at-Tawwab), dan Segala Asma�, Af�al, Shifat Yang Serba Maha.�

�Ya, engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik semua atribut dan perlambang Kehadiran Asma�, Af�al, dan Shifat-Nya itu sejatinya tersembunyi Hakikat dari Zat Mutlak (Dzat al-Muthlaqah): Zat Murni (Dzat al-Bahat) Yang Tersembunyi (al-Bathin), Zat yang tak diketahui siapa pun kecuali Dia (kunhi Dzat), Zat Yang Cinta Diketahui (al-Wadud), Zat Yang Mencipta (al-Khaliq) segala ciptaan (makhluk) untuk Menyaksikan (asy-Syahid) Keesaan (al-Wahid), Kemuliaan (al-Majid), Kesucian (al-Muta�ali), Keluhuran (al-Jalil), Kekuasaan (al-Qadir), Kemurahan (al-Karim), Keagungan (al-�Azhim), Kesucian (al-Quddus), dan Kemahamutlakan seluruh Kehadiran (Hadhrah) Asma�, Shifat, Af�al, dan Dzat-Nya yang memancar dari tahap Haahuut-Lahut-Jabarut-Malakut-Mitsal-Nasut. Demikianlah, engkau telah berhasil menangkap makna hakiki kehadiran penyaksian (hadhrah asy-syuhudiyyah) dari tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud (al-maratib al-wujud) di alam semesta raya yang tak terukur luasnya ini.�

�Kami paham, Paman,� kata Raden Sahid dengan wajah berbinar-binar. �Tapi, bolehkah kami menyimpulkan bahwa sejatinya di balik yang maujud ini bukanlah hamparan Kehampaan, melainkan suatu Kepenuhan? Sebab, yang kami saksikan di balik yang maujud itu adalah Kepenuhan Ilahi yang meliputi segala. Dalam penglihatan mata batin kami, kami menyaksikan segala sesuatu yang maujud di wilayah jasadi (mulki) sejatinya berada di dalam liputan Yang Wujud, ibarat gelembung-gelembung udara kosong di dalam air.�

�Janganlah engkau menyimpulkan sesuatu yang engkau saksikan melalui mata batin dengan akal pikiranmu. Sebab, hal itu akan menjerat hakikat Kebenaran yang tersembunyi di balik rahasia-Nya. Engkau akan terpeleset oleh nalar untuk menafikan azh-Zhahir dan mengisybatkan al-Bathin. Lantaran itu, cukup arif jika engkau menilai apa yang engkau saksikan sebagai tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud itu dengan istilah sederhana tetapi rumit: awang-awang, yaitu ungkapan yang mewakili makna Kehampaan sekaligus Kepenuhan. Janganlah kata-kata itu ditafsir-tafsir lagi dengan nalar sehingga Keduanya menjadi terpisah sendiri-sendiri sebagai Kehampaan dan Kepenuhan yang saling Berdiri sendiri satu sama lain, atau Kedua-nya bisa saling menyatu Satu sama lain. Apa yang telah engkau saksikan tidak boleh ditafsir-tafsir.�

�Ingat dan camkan, apa yang engkau saksikan denga bashirah tidak akan peernah bisa dijabarkan dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Ingat dan camkan pula, tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud yang sudah engkau saksikan itu jelas-jelas menunjukkan tatanan hukum yang sangat sempurna dalam �pemunculan� hingga ke tingkat maujud. Itu berarti, tidak akan mungkin Zat Yang Wujud bercampur baur (imtizaj) dengan yang maujud. Zat Yang Wujud juga tidak akan mungkin menjadi satu (ittihad) dengan yang maujud, apalagi sampai menjelma (hall) dalam wilayah jasadi (mulki). Dengan demikian, jika ada orang seorang dengan kekuatan akal budinya menyimpulkan bahwa Zat Yang Wujud dapat berinkarnasi (hulul), bercampur baur (imtizaj), menyatu (ittihad), dan meyakini bahwa ruh bisa berpindah-pindah (naskh al-arwah) maka sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui bahwa di hamparan alam gaib sejatinya terdapat ketetapan hukum Sempurna yang mengatur kehadiran masing-masing tingkatan (al-maratib) �pemunculan� dari Yang Wujud hingga yang maujud, melalui tujuh tahap dengan lapisan selubung berpuluh-puluh ribu hijab.�

�Kami memahami petunjuk Paman tentang tingkatan-tingkatan �pemunculan� Yang Wujud melalui tujuh tahap. Tetapi kami masih bingung dengan masing-masing tingkatan kehadiran, terutama yang terkait dengan keberadaan piranti bahasa pada masing-masing tingkat. Kami masih sulit membedakan makna hakiki di balik bahasa indriawi, bahasa malakut, dan bahasa rabb pada masing-masing kehadiran. Kami mohon penjelasan dan bimbingan tentang itu, Paman,� kata Raden Sahid suatu malam, beberapa hari setelah pengalaman yang menggetarkan jiwanya itu berlalu.

�Ingat dan resapi, o Anakku! Pada tingkat kehadiran wilayah jasadi (mulki), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung antaranasir adalah bahasa yang bisa ditangkap panca indera. Itulah bahasa yang mengalir dari mulut dan diserap oleh indera pendengaran. Itulah bahasa yang bisa dipahami oleh nafs pada masing-masing makhluk. Dengan bahasa ini, Adam a.s. mengenal nama-nama. Pada tingkat kehadiran wilayah nirbendawi (malakut), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung antaranasir adalah bahasa perlambang (isyarah) yang hanya bisa dipahami maknanya oleh Ruh al-Idhafi lewat pendengaran batin (sam�). Sementara pada tingkat Kehadiran wilayah Ilahi (al-Malik), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung adalah bahasa tanpa kata tanpa perlambang yang disebut al-ima�, yaitu bahasa rabb yang hanya bisa ditangkap oleh Ruh al-Haqq dan al-Haqq,� Abdul Jalil menjelaskan.

�Apakah yang disebut bahasa malakut itu sama dengan bahasa ruh yang biasa digunakan oleh para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa saat mereka mengalami kerawuhan (kehadiran) arwah dewata yang hidup langgeng?� tanya Raden Sahid.

�Sepengetahuanku, bahasa malakut itu sama dengan bahasa ruh yang dimaksud para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa. Aku katakan tidak sama sebab setahuku belakangan ini banyak di antara pengamal ajaran Pangiwa, yang berasal dari kalangan kebanyakan, telah keliru memaknai daya yang memancar dari kantha-mula atau dar al-khanja-rah sebagai bahasa ruh yang bersumber dari ruh suci Ilahi. Padahal, kantha-mula adalah salah satu �tempat pengungkapan� (al-mahall) bagi mengalir keluarnya daya-daya kejahatan dan kebaikan, di mana daya kejahatan dan daya kebaikan itu muncul dengan cara diilhamkan kepada manusia melalui jalan kefasikan dan jalan ketakwaan (QS. asy-Syams: 8). Dengan begitu, keberadaan kantha-mula atau dar al-khanjarah itu memiliki dua kemungkinan: ia bisa menjadi jalan bagi memancarnya ilham jalan ketakwaan yang akan membawa orang seorang mengungkapkan Kebenaran lewat lisannya, atau sebaliknya ia juga bisa menjadi jalan bagi memancarnya ilham jalan kefasikan, yang akan memancarkan jalan Kesesatan (ablasa) lewat lisannya.�

�Jika suatu saat engkau mendapati orang seorang mengatakan bahwa dia telah mengalami kehadiran arwah suci dewata yang langgeng, sebagaimana diungkapkan para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa, maka ujilah pengakuannya itu dengan pendengaran batin, sebagaimana sudah pernah engkau gunakan saat bertemu Yang Mulia Rishi Agastya di gunung Malaya. Dengan pendengaran batin, engkau akan mudah mengetahui apakah ajaran seseorang itu igauan, sabda kesesatan, ujar kebohongan, atau benar-benar ungkapan ruh suci Yang Ilahi lewat bahasa perlambang atau lewat bahasa tanpa kata tanpa perlambang. Dengan menguji lewat pendengaran batin maka engkau akan mendapati bukti nyata apa yang sejatinya diujarkan seseorang itu.�

�Sungguh telah sering aku jumpai orang seorang yang menjadi pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa yang mengaku-aku mengalami kerawuhan ruh suci yang mahalanggeng. Mereka berceloteh dan mengomel tidak karuan seperti orang mabuk, tetapi mereka tidak mengetahui makna dari apa yang mereka ucapkan. Mereka dengan yakin diri menyatakan bahwa celoteh dan omelan itu adalah bahasa ruh suci yang tak terpahami. Sesungguhnya, dipandan dari sisi batiniah, mereka adalah orang-orang terhijab yang sedang terperangkap jaring angan-angan kosong (al-wahm) yang terpintal dari serat-serat tali lamunan kosong (al-umniyah). Mereka terperangkap ke dalam lingkaran kusut jaring imajinasi nirwujud (al-mumtani�) yang menebarkan jaring-jaring kesesatan (al-idhlal) yang dibentangkan Sang Penyesat (al-Mudhill) melalui Iblis beserta daya-dayanya.�

�Sesungguhnya, apa yang mereka ucapkan dalam celoteh dan omelan itu pada hakikatnya adalah ungkapan kehadiran ilham kefasikan yang memancar dari kuasa nirwujud (ablasa) yang tersembunyi di dalam nafs manusia, yaitu di relung-relung mahligai kantha-mula atau dar al-khanjarah. Celoteh dan omelan itu bukanlah bahasa ruh suci yang mahalanggeng melainkan ungkapan kehadiran ilham kefasikan yang akan menghijab manusia dari Kebenaran. Itu sebabnya, mereka yang terperangkap pada jalan kefasikan yang ditebari jaring-jaring al-wahm dan al-idhlal yang kosong tak bermakna itu, akan terbelenggu dalam kerangkeng hijab dirinya dan jauh (bu�d) dari Kebenaran Sejati. Mereka adalah manusia menyedihkan karena kesadaran jiwanya sudah dikuasai imajinasi nirwujud yang tidak memiliki kiblat yang Benar ke arah Tauhid.�

�Dengan uraianku ini, telah jelaslah bahwa mereka adalah manusia-manusia yang telah terkuasai oleh daya-daya sang nirwujud (ablasa). Dapat dipastikan mereka tidak akan pernah bisa menangkap keindahan bahasa perlambang (isyarah) yang tersembunyi di balik bahasa jiwa. Mereka tidak akan bisa menangkap benderang cemerlangnya bahasa tanpa kata tanpa perlambang. Mereka tidak akan pernah bisa menyingkap tirai-tirai gaib yang menyelubungi kemaujudan alam semesta ini. Pada ujungnya, mereka tidak akan pernah menyaksikan Kebenaran Hakiki dari Yang Wujud. Sungguh, mereka itu sejatinya hanya orang-orang yang dipermain-mainkan oleh angan-angan kosong mereka sendiri. Pengalaman-pengalaman ruhani dangkal yang mereka alami bukanlah penyingkapan tirai-tirai kegaiban, melainkan sekadar pengejawantahan khayalan-khayalan nirwujud yang menyesatkan,� papar Abdul Jalil.

�Berarti, mereka tergolong orang-orang terhijab yang selama hidup tidak akan pernah bisa menembus rahasia alam gaib dan tidak pula mampu memahami bahasa rabb?� tanya Raden Sahid.

�Itu sudah pasti. Sebab, al-ima� tidak pernah memancar lewat kantha-mula atau dar al-khanjarah dalam bentuk celoteh dan omelan tak terpahami yang bisa ditangkap indera pendengaran. Al-ima� hanya mungkin memancar dari dar al-khanjarah jika �tempat� itu sudah disucikan dari nafsu-nafsu sehingga menjadi tempat suci yang disebut bait al-qaddisah. Jika nanti engkau sudah terbiasa menggunakan pendengaran batin dan lancar enggunakan bahasa isyarah dan al-ima�, maka engkau tidak saja akan mengetahui ucapan dusta para pembohong, melainkan dapat pula mengetahui bahwa di balik ayat-ayat Al-Qur�an yang dilafazkan itu sejatinya tersembunyi bahasa rabb. Itu sebabnya, ayat-ayat Al-Qur�an yang muncul sebagai bahasa insani lewat bait al-qaddisah pada diri Nabi Muhammad Saw. tidak bisa dipalsukan satu huruf pun, karena orang-orang beriman yang sudah memahami bahasa isyarah dan al-ima� dengan mudah akan mengetahui pemalsuan-pemalsuan yang dilakukan orang zalim.�

�Maksudnya, engkau harus pandai-pandai menyembunyikan kemampuan itu dan sekaligus menyembunyikan jati dirimu. Jika satu saat nanti datang kepadamu orang-orang jahil yang menantang-nantangmu untuk mengadu kehebatan dalam menempuh jalan ruhani, tetapi orang itu masih menggunakan bahasa lisan, maka wajiblah bagimu untuk menghindar. Bersikaplah seolah-olah engkau bodoh dan tidak memiliki pengetahuan ruhani. Lebih baik dirimu dianggap bodoh oleh mereka daripada engkau meladeni mereka, karena orang-orang jahil itu akan terperosok ke lembah ketakaburan yang mengundang murka Allah. Biarlah mereka memuji-muji kehebatan diri dengan menjadikanmu tumpuan pijakan.�

�Kami akan pusakakan petunjuk Paman. Kami sangat ingin menggunakan pendengaran batin, bahasa isyarah, dan al-ima� dengan lancar, meski kami sadar hal itu tidak gampang. Butuh latihan keras dan waktu panjang. Kami ingin Paman tidak pernah bosan membimbing kami,� kata Raden Sahid takzim.

�Engkau sudah tidak perlu bimbingan lagi. Engkau ibarat burung, bisa terbang sendiri mengarungi angkasa luas. Tetapi, satu hal yang wajib engkau ingat: jangan engkau berbuat zalim dengan mengungkapkan pengetahuan ini kepada mereka yang tidak berhak. Pengetahuan ini sangat rahasia. Engkau harus pandai-pandai menyembunyikan kemampuan ini dan sekaligus menyembunyikan jati dirimu,� Abdul Jalil mewanti-wanti.

�Kami akan pusakakan wejangan Paman. Tetapi, bagaimanakah cara kami untuk mengajarkan kepada para murid yang belajar kepada kami dalam menjelaskan perbedaan tingkat-tingkat bahasa, terutama untuk menguji pengakuan orang seorang yang mengaku kehadiran ruh suci?�

�Secara sederhana, untuk menguji apakah orang seorang itu benar-benar mengungkapkan bahasa ruh suci yang mahalanggeng atau sedang terperangkap jerat-jerat al-wahm, engkau dapat menggunakan ukuran penalaran yang cerdas, yaitu membandingkan pertentangan-pertentangan antara apa yang mereka ucapkan dengan perilaku dan perbuatan yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh, telah bertahun-tahun aku telah mengenal para pemuja Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa. Selama itu pula aku sering menangkap citra keberadaan mereka dengan penanda sikap dan perilaku yang mengejawantahkan citra sang nirwujud. Mereka itu orang-orang yang citra dirinya ditandai sikap takabur, menilai terlalu tinggi diri sendiri, suka merendahkan manusia lain, membanggakan kekuatan diri, kuat ananiyyah (egois), tidak mau disaingi, penuh dendam dan iri hati, suka mengaku-aku, hidup dibimbing nafsu, kejam, pintar bicara, banyak siasat, cinta kebendaan, dan berlebihan dalam segala hal. Dengan sikap dan perilaku yang mengejawantahkan citra sang nirwujud maka citra diri mereka ditandai oleh pertentangan (munaza�ah) dari citra diri mereka, yang hal itu akan terungkap dalam ketidaksesuaian dan pertentangan antara kata dan perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari.�

�Jika suatu saat engkau bertemu dengan orang-orang semacam mereka, berhati-hatilah engkau. Sebab, mereka adalah pengejawantahan citra sang nirwujud. Tanda-tanda mereka itu mudah diketahui. Umumnya tanda-tanda itu seperti ini: jika mereka berkata-kata yang menakjubkan tentang cinta kasih maka yang mereka perbuat adalah tindak kekejaman dan kebrutalan yang menjijikkan. Jika mereka berbicara tentang kerendahhatian maka yang mereka perbuat adalah pamer ketakaburan dan kecongkakan. Jika mereka berbicara tentang kedermawanan maka yang mereka perbuat adalah merampas, merampok, menggarong, menjarah, dan mengisap sesama. Jika mereka berbicara menakjubkan tentang peradaban maka yang mereka perbuat adalah tindak kebiadaban yang memalukan orang beradab. Jika mereka berbicara tentang kemerdekaan dan kesetaraan maka yang mereka perbuat adalah menindas, menjajah, dan memperbudak sesama.�

�Dengan ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan itu, di mana pun mereka datang di suatu tempat maka saat itulah mereka akan menebarkan malapetaka bagi makhluk di tempat tersebut. Mereka akan menjadi pangkal kesengsaraan bagi makhluk lain. Sebab, mereka tidak saja akan menjadi perampok, penggarong, penjarah, perampas, penjajah, dan penindas, melainkan akan menjadi penyesat pula bagi manusia yang mempercayai ucapan mereka. Waspadalah terhadap mereka. Tetapi satu hal yang wajib engkau waspadai, o Anakku, bahwa kecenderungan-kecenderungan semacam mereka itu tidak selalu sama bentuknya dalam tiap masa. Maksudku, kecenderungan itu bisa muncul dalam berbagai bentuk dan ajaran yang berbeda dengan ajaran Pangiwa dan ajaran pemuja Prthiwi. Tidak menutup kemungkinan kecenderungan itu akan engkau dapati pada orang-orang yang mengenakan jubah keislaman atau jubah agama lain yang kelihatan santun dan baik,� kata Abdul Jalil.

Raden Sahid menarik napas panjang. Dia merasakan kelegaan memenuhi dadanya. Lalu, dengan suara lain dia berkata, �Kami akan pusakakan petunjuk Paman. Kami sekarang ini benar-benar merasa berbahagia. Sebab, ucapan Paman bahwa Allah tidak tersembunyi karena Allah tidak pernah tidak hadir baru dapat kami pahami dengan sebenarnya sekarang ini.�

�Itu berarti engkau telah mengetahui dengan bashirah sebagian rahasia kekuasaan-Nya.�

�Terima kasih Paman.�

�Sebagai tanda bahwa engkau telah menapakkan kaki sebagai al-arif billah yang sudah memenuhi syarat untuk menjadi pembimbing ruhani, aku berikan ijasah untukmu dalam wujud: Ratu Arofah,� kata Abdul Jalil memegang kedua bahu Raden Sahid.

�Kami terima ijasah sebagai pusaka.�

�Tapi, tahukah engkau apa yang aku maksud dengan Ratu Arofah?�

�Kami tidak tahu, Paman.�

�Dia adalah Zainab, puteriku. Aku berikan ia kepadamu sebagai ijasah yang menandai bahwa engkau boleh mengajarkan apa yang telah aku ajarkan kepadamu. Lantaran engkau telah �mengetahui� rahasia-rahasia kekuasaan-Nya melalui bashirah maka ijasah itu aku sebut dengan nama Ratu Arofah.�

�Kami pusakakan ijasah yang agung dan mulia itu.�

�Tapi ada satu hal yang harus engkau ingat-ingat, o Anakku.�

�Kami mohon petunjuk dan bimbingan.�

�Ucapan-ucapanku seperti �Allah tidak pernah tidak hadir� hendaknya engkau jadikan rahasia. Sebab, ucapan itu menjadi sesuatu yang benar jika diucapkan seorang guru kepada sang penempuh (salik) dalam menuntun ke arah ketercelikan mata hati untuk mengenal-Nya. Tetapi, ucapan itu menjadi suatu kezaliman jika disampaikan kepada kalangan awam yang keadaan jiwanya masih terhijab. Sehingga, mengungkapkan rahasia Kebenaran ini kepada awam bisa diibaratkan seperti seorang penyair mengungkapkan keindahan syair-syairnya kepada orang tuli,� sahut Abdul Jalil.

Read More ->>

Senin, 20 Maret 2017

MEZBAH PERSEMBAHAN BARU

Mezbah Persembahan Baru

Malam menggelar permadani hitam dengan hiasan bintang-bintang sebagai sulaman. Kabut tebal yang menyelimuti permukaan bumi Pasai membenamkan kehidupan dalam kesunyian. Di tengah kesenyapan yang melingkupi, sewaktu manusia menggulung tubuh dalam selimut, ketika margasatwa tidur di sarangnya, di saat terkaman hawa dingin menggigit hingga tulang, terlihat tiga sosok bayangan manusia di bawah sebatang pohon besar di hadapan segunduk tanah merah yang masih basah. Mereka adalah Abdul Jalil, Raden Sahid, dan Tughra Hasan Khan, kakak lelaki lain ibu Abdul Jalil. Agak jauh dari mereka, dalam jarak sekitar dua puluh langkah, terlihat bayangan orang-orang duduk berkerumun membentuk lingkaran di bawah pohon. Di antara mereka yang berkerumun itu terlihat Tughril Muhammad Khan dan Fadhillah Khan, putera Tughra Hasan Khan, Abdullah Kandang, Orang Kaya Kenayan, Abdurrahman Singkel, ketiganya murid Abdul Jalil, Shafa dan Bardud, istri dan anak Abdul Jalil, Na�ina Husam, sufi perempuan asal Syiraz, dan belasan pengawal hulubalang dengan senjata terhunus. Suasana terasa senyap. Lengang. Tidak satu pun di antara mereka yang berkerumun itu berkata-kata atau berbisik-bisik. Semua diam membisu seolah dicekam ketegangan.

Di tengah kegelapan malam yang mencekam itu, sesungguhnya Abdul Jalil tengah berziarah ke makam Husein bin Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi, kawan seperjalannya dalam menunaikan ibadah haji belasan tahun silam. Namun, suasana malam itu terasa sangat mencekam akibat perseteruan yang terjadi antara penduduk yang menganut paham Syi�ah itsna Asy�ariyah dan Syi�ah Zaidiyyah, ditambah lagi keterlibatan orang-orang Sunni pengikut Imam Syafi�i dan Hanafi. Suasana ziarah yang harusnya tenang justru keadaannya layaknya perang yang menegangkan. Makam Husein hanya berupa gundukan tanah merah, sengaja disamarkan oleh pengikut-pengikutnya tanpa nisan dengan maksud tidak dibongkar oleh musuh-musuhnya.

Kematian Husein yang mendadak memang sangat mengejutkan Abdul Jalil. Dalam perjalanan laut dari Kozhikode ke Pasai, ia sudah memberi tahu Raden Sahid bahwa ia akan singgah di kediaman sahabat lama yang masih berkerabat dengan Raden Sahid, yaitu Husein yang bernasab al-Abbasi. Namun, saat mereka sampai di Pasai dan singgah di kediaman Tughra Hasan Khan, diperoleh kabar bahwa Husein tewas dibunuh orang tak dikenal.

Menurut Tughra, Husein terbunuh dalam serangan mendadak barang dua pekan sebelum kehadiran Abdul Jalil ke Pasai. Tanpa menduga sebelumnya, Husein yang baru kembali dari kediaman Tughra diserang di tengah gelap malam. Ia terbunuh bersama sepuluh orang pengikutnya dan lima orang pengawal yang dikirim Tughra. Selama ini Husein dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai seorang tokoh agama pengikut Syah Ismail. Lantaran itu, dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi Husein dimusuhi banyak orang.

Husein yang memahami perkembangan suasana diam-diam menemui Tughra dan meminta perlindungan karena kedudukan Tughra sebagai salah seorang hulubalang Kesultanan Pasai. Dalam pertemuan itu, Tughra menyatakan kesediaannya untuk melindungi Husein dan keluarganya. Tughra bahkan menyatakan akan mendamaikan pihak-pihak yang berselisih dalam waktu secepatnya. Untuk membuktikan keseriusannya, ia memerintahkan lima orang prajurit untuk mengawal Husein kembali ke rumahnya. Namun, dalam perjalanan pulang itulah Husein diserang oleh ratusan orang tak dikenal.

Menurut dugaan Tughra, orang-orang yang terlibat pembunuhan itu berasal dari beberapa kelompok. Pertama-tama, penduduk Pasai pengikut Syi�ah Zaidiyyah asal Yaman yang dipimpin Sayyid Hasan al-Muqayyat dan para pendatang asal Kerala yang dipimpin Syarif Ali Musliyar al-Munfashil. Kelompok berikutnya adalah penduduk Pasai penganut Syi�ah Ismailiyyah asal Gujarat yang dipimpin oleh Sayyid Abdul Aziz al-Khala� dan para saudagar Malaka penganut Imam Syafi�i yang dipimpin Tun Abdul Karim. Sementara yang juga diduga kuat ikut memanas-manasi suasana adalah saudagar-saudagar asal Maghrib.

Selama mendengarkan paparan Tughra tentang kemelut �pertarungan� kaum muslimin di Pasai, terutama tentang pembunuhan Husein, Abdul Jalil terdiam. Selama beberapa jenak ia merasakan kegeraman terhadap kepicikan wawasan Syah Ismail yang demi ambisi pribadinya telah mengorbankan banyak nyawa dan penderitaan orang-orang yang tak bersalah. Namun, secepat itu pula ia disadarkan oleh Ruh al-Haqq bahwa Syah Ismail pada hakikatnya hanyalah salah satu dari pemain sandiwara kehidupan yang ditempatkan oleh Sang Sutradara pada alur cerita yang sudah dirancang-Nya. Sadar akan hakikat sejatidi balik peristiwa-peristiwa tragis itu, Abdul Jalil tidak dapat berbuat sesuatu kecuali memuji kebesaran dan keagungan-Nya dengan menggumam lirih.

�Wahai Engkau Yang Maha Menyesatkan! Wahai Engkau Yang Maha Menghinakan! Wahai Engkau Tuannya Iblis! Wahai Engkau Penguasa Setan. Wahai Engkau Yang Mahaagung! Sungguh tidak berubah ketetapan hukum-Mu yang telah Engkau gariskan. Wahai pemilik siksa paling pedih, meski Engkau telah memalingkan �wajah-Mu yang mengerikan (Bhairawa), meski Engkau telah menyingsingkan kegelapan �malam-Mu� (Candika) yang gelap dan penuh darah ke terang siang-Mu yang dipancari cahaya kasih-Mu (Shankara), ketetapan hukum-Mu tidaklah berubah: Korban darah! Korban darah! Seribu kali korban darah! Ya, korban darah untuk santapan Ibunda Bhumi, Sang Prthiwi, beserta para bhuta dan kala.�

�Sungguh sempurna kehendak-Mu, o Yang Mahalanggeng. Engkau memang sudah mengubah persembahan darah manusia di atas mezbah batu sembelihan. Engkau memang sudah menyelubungi mezbah-mezbah batu persembahan darah di ksetra-ksetra dengan selimut rumah-rumah ibadah kaum beriman yang memuji keagungan-Mu dengan kepasrahan. Engkau bentangkan cermin hijab (al-mir�ah al-hajib) di hamparan cakrawala dunia hingga seluruh manusia di permukaan bumi terpukau dengan gemilang kesantunan para pemuja-Mu yang berpendar laksana matahari pagi yang sejuk. Tetapi, kini telah hamba saksikan dengan mata batin (ain al-bashirah), dan hamba pahami dengan fawa�id, betapa di balik bentangan cermin hijab itu sesungguhnya umat-Mu, manusia, dengan diam-diam atau terang-terangan masih banyak yang memuja �citra-Mu� yang mengerikan itu.�

�O Engkau Yang Maha Menyesatkan! O Engkau Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill)! O Engkau Yang Maha Pemberi Bahaya (adh-Dharr)! O Engkau Yang Mahaperkasa! O, Engkau Tuannya Iblis! O, Engkau Yang Maha Memelihara! Sungguh, Engkau telah menganugerahi hamba kemuliaan sehingga hamba bisa menyaksikan dengan mata batin keberadaan mezbah-mezbah baru untuk korban sembelihan yang dibangun saudara-saudara hamba seiman. Engkau telah menjadikan hamba sebagai saksi tentang Keberadaan mezbah-mezbah baru yang dibangun saudara-saudara hamba seiman. Engkau telah mencelikkan penglihatan batin hamba untuk menyaksikan bagaimana saudara-saudara hamba seiman tidak membuat mezbah persembahan dari tumpukan batu yang dipahat, tetapi membangunnya dari tumpukan dalil berdasar tafsiran akal pikiran yang mereka sebut madzhab. Madzhab. Madzhab. Seribu kali Madzhab. Ya, madzhab yang mereka bangun dengan kemegahan itulah yang mereka berhalakan dan mereka jelmakan menjadi mezbah persembahan baru tempat korban sembelihan dipersembahkan. Di atas mezbah-mezbah baru itulah umat-Mu, yang menyebut diri kaum yang pasrah (qaum al-muslimin), menyembelih saudara-saudaranya seiman, dengan harapan mendapat berkah dan ridho-Mu.�

Tughra Hasan Khan yang lamat-lamat mendengar gumam Abdul Jalil mengerutkan kening dan bertanya keheranan, �Engkau bicara apa, o Adikku? Apakah Engkau berbicara dengan Tuhan atau mengajak-Nya bergurau?�

�Aku justru menertawakan kebingunganku sendiri.� Abdul Jalil tersenyum pahit. �Maksudku, setiap kali aku menangkap sekelumit Kebenaran Hakiki yang digelar-Nya di balik gemerlap kehidupan dunia yang kasatmata, saat itu aku menyaksikan ketololanku sendiri. Setiap kali aku menemukan Kebenaran Hakiki yang menyingkapkan tirai jati diri di tengah bayangan maya-Nya, aku dapati diriku seperti anak-anak bermain petak umpet yang selalu kalah. Dalam keadaan itu, mereka yang tidak paham dengan keadaanku akan menduga-duga aku telah bercanda dengan Tuhan. Padahal, aku tidak bercanda dengan-Nya. Justru Dia yang kurasakan mempermainkan aku, seolah Dia sangat suka melihatku kebingungan di tengah kesempurnaan-Nya yang tak terbatas.�

�Tentang ucapan-ucapan aneh yang baru saja engkau ucapkan, apakah berkaitan dengan itu juga?�

�Ya.�

�Coba terangkan kepadaku, kenapa engkau mengatakan kaum muslimin membangun mezbah-mezbah baru? Kenapa engkau menilai mereka menyembelih saudara-saudaranya seiman demi beroleh berkah dan ridho Tuhan?�

�Selama ini aku selalu berpandangan bahwa korban sembelihan darah manusia hanya dilakukan oleh para penganut Bhairawa-Tantra dalam upacara Pancamakara di ksetra-ksetra untuk memuja Prthiwi, Durga, dan Kali. Dengan segenap upaya aku sudah mengusahakan agar upacara menyembelih manusia itu diakhiri. Aku paham bahwa upacara semacam itu adalah ketetapan yang dikehendaki-Nya untuk memenuhi hak-hak Sang Prthiwi. Lantaran itu, aku yakin jika upacara korban darah manusia akan terus berlangsung dalam bentuk lain, seperti peperangan dahsyat di suatu waktu tertentu atau bencana alam atau wabah penyakit. Tapi kini, ketika Kebenaran Hakiki menyingsing di cakrawala jiwaku, aku saksikan kenyataan yang mengejutkan dan tidak kusangka-sangka: betapa di dalam amaliah peribadatan orang-orang Islam pun sesungguhnya hal berkorban darah manusia itu dilakukan juga baik secara diam-diam atau terang-terangan,� kata Abdul Jalil tegas.

�Orang Islam melakukan korban sembelihan manusia?� sergah Tughra terheran-heran, �Aku tidak paham maksud perkataanmu, o Adikku.�

�Kakanda,� kata Abdul Jalil lirih, �Jika kita melihat Kebenaran Hakiki dengan hati yang jernih di balik terbunuhnya Husein, tidaklah kita menyaksikan betapa sejatinya dia adalah korban sembelihan dari orang-orang yang menganggap tindakannya paling benar?�

�Aku kira begitu, tetapi aku masih belum paham maksudmu.�

�Apakah Kakanda mengira bahwa orang-orang yang membunuh Husein merasa bersalah dan berdosa atas apa yang telah mereka lakukan?�

�Tentu saja tidak.�

�Apakah mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan dengan membunuh Husein itu adalah keharusan agama demi tegaknya Kebenaran?�

�Aku kira pikiran mereka memang seperti itu.�

�Apakah mereka merasa bahwa membunuh Husein adalah tindakan memurnikan agama?�

�Kelihatannya memang demikian jalan pikiran mereka.�

�Apakah mereka menganggap bahwa madzhab merekalah yang paling benar?�

�Memang demikian.�

�Nah, jika dilihat dari Kebenaran Hakiki dengan hati yang jernih, bukankah madzhab-madzhab yang dianut oleh para pembunuh Husein itu sejatinya telah diberhalakan? Bukankah kita menyaksikan secara hakiki bahwa madzhab-madzhab itu telah menjadi mezbah persembahan dan Husein adalah korban sembelihannya? Kebenaran Hakiki inilah, o Kakanda, yang tadi aku saksikan bersinar gemilang di cakrawala kesadaranku. Lantaran itu, aku tadi menertawakan kebingunganku yang selama ini menganggap mezbah-mezbah persembahan hanya mutlak milik penganut Bhairawa-Tantra. Aku menertawakan ketololanku yang membayangkan mezbah-mezbah persembahan hanya berbentuk batu yang dipahat dengan korban manusia di atasnya.�

�Kenapa engkau merasa tolol? Bukankah engkau harusnya bersyukur dapat menangkap cahaya Kebenaran Hakiki yang dipancarkan-Nya?�

�Memang, aku sangat bersyukur. Tetapi, selama bertahun-tahun aku telah mengikuti pandangan yang keliru bahwa korban sembelihan manusia hanya dilakukan oleh orang-orang penganut ajaran Bhairawa-Tantra. Bahkan, dalam upaya membuat tawar daya sakti ksetra-ksetra, aku telah rela dan ikhlas menumpahkan darahku di atas batu-batu di berbagai tempat. Kini, ketika sebagian besar ksetra itu telah tawar daya saktinya, justru aku lihat mezbah-mezbah baru untuk sembelihan manusia telah dibangun oleh saudara-saudaraku seiman. Kini, aku saksikan mezbah-mezbah persembahan dari madzhab-madzhab yang diberhalakan telah tumbuh menggantikan ksetra-ksetra. Sekalipun mezbah-mezbah persembahan yang baru itu tersamar dan tidak kasatmata, kenyataan menunjuk bahwa mezbah-mezbah itu akan dijadikan tempat bagi persembahan korban manusia yang tidak lebih sedikit jumlahnya dibanding mezbah-mezbah batu di ksetra-ksetra.�

�Aku paham dengan Kebenaran Hakiki yang engkau peroleh, o Adikku, tetapi janganlah Kebenaran ini engkau ungkapkan kepada orang lain karena bisa menimbulkan salah paham.�

Usai berziarah, di tengah kegelapan yang diselimuti kabut, Abdul Jalil tampak berdiri termangu menatap satu demi satu kerumunan orang yang menunggunya di bawah pohon. Matanya yang setajam binatang malam terlihat berkilat di tengah keremangan. Ketika pandangannya jatuh pada Tughril Muhammad Khan, dengan suara ditekan rendah ia bertanya, �Berapa usiamu sekarang, o Putera saudaraku?�

�Tujuh belas, Paman.�

Abdul Jalil diam. Ia mengalihkan tatapan pada Fadhillah Khan dan bertanya, �Kalau engkau, o Putera saudaraku, berapa usiamu?�

�Lima belas tahun, Paman.�

�Berarti, kalian berdua sudah menginjak dewasa. Sebentar lagi Tughril akan menikah dan beranak-pinak. Lalu Fadhillah akan menyusulnya. Lantaran itu, o Putera saudaraku, sebelum kalian berdua memasuki lautan kehidupan dengan menumpang bahtera yang kalian kemudikan, hendaknya kalian ingat-ingat dan kalian camkan petuah yang akan aku sampaikan kepada kalian berdua sebagai bekal agar kalian selamat sampai ke Pelabuhan tujuan.�

�Kami akan menjadikan pusaka petuah-petuah dari Paman.�

�Pertama-tama,� Abdul Jalil memulai petuahnya, �Wajib bagi kalian untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai satu-satunya cermin yang membiaskan setiap gerak langkah kalian, baik dalam berpikir, berkata-kata, bersikap, dan berperilaku. Sebab, Muhammad Saw. adalah perwujudan dari akhlak mulia (al-khuluk al-Karim), �cermin� yang mengantarai dan sekaligus menjadi penghubung antara Sang Pencipta (al-Khaliq) dan ciptaan (al-khalaq). Semakin kuat kalian mengejawantahkan akhlak mulia yang telah diteladankan Muhammad Saw., maka semakin dekatlah kalian kepada-Nya, ibarat bayangan yang makin dekat kepada Yang Bercermin.�

�Aku tidak akan menjelaskan kepada kalian berdua tentang apa saja dari Muhammad Saw. yang harus kalian jadikan cerminan. Sudah terlalu banyak orang yang mengajarkan sesuatu tentang dia. Sebaliknya, aku hanya akan mengajarkan kepada kalian berdua intisari paling rahasia dari keberadaan Muhammad Saw. selama menjalankan tugas Kenabian di dunia yang berpijak pada satu tiang utama: Kebenaran (al-Haqq).�

�Ketahuilah oleh kalian bahwa Muhammad Saw. adalah pengabdi dan sekaligus penyampai Kebenaran sejati yang tulus, ikhlas, tanpa pamrih, yang tiada tandingan hingga derajatnya melampaui ishthina�. Tahukah kalian di mana letak ketulusan dan keikhlasannya dalam mengabdi kepada Kebenaran sampai melampaui ishthina� ? Tahukah kalian tentang resiko berat yang dihadapi akibat pengabdiannya yang tulus dan ikhlas itu? Dengarkan dan camkan benar-benar apa yang akan aku sampaikan ini.�

�Pertama-tama, Muhammad Saw. mengajarkan Kebenaran tentang Yang Ilahi sebagaimana ajaran yang disampaikan barisan Nabi-Nabi sebelum dia. Padahal, dewasa itu hampir semua bangsa Arab dan terutama kaum Quraisy, kaumnya Muhammad Saw., menganut ajaran �kebenaran� yang berbeda dengan ajaran Nabi-Nabi. Untuk pengabdiannya kepada Kebenaran, Muhammad Saw. harus berhadapan sebagai musuh dengan kaum dan bangsanya sendiri. Seorang diri dia menyampaikan ajaran Tauhid di tengah kejahilan bangsanya.�

�Tidak hanya tentang Yang Ilahi. Ajaran Muhammad Saw. tentang Nabi-Nabi pembawa Kebenaran pun ditandai oleh pengabdian yang tulus dan tanpa pamrih. Di antara keimanan terhadap Nabi-Nabi, terutama dua puluh lima orang Nabi dan Rasul Allah yang wajib diyakini sebagai pembawa Kebenaran, tidak satu pun menunjuk kepada salah satu dhatu leluhur bangsanya, kecuali Ismail a.s. Leluhur suku-suku Arab yang dipuja sebagai sesembahan oleh bangsa Arab justru ditetapkannya sebagai pangkal kemusyrikan yang bertentangan dengan ajaran Kebenaran Tauhid. Bahkan, dengan tulus dan ikhlas Muhammad Saw. mewajibkan para pengikutnya untuk mengimani Kenabian para Nabi Bani Israil seperti Ishak, Ya�kub, Yusuf, Musa, Harun, Yusak, Sulaiman, Daud, Ilyas, Zakaria, Yahya, Isa a.s. dan sebaliknya menolak keilahian dhatu-dhatu leluhur Arab yang dituhankan seperti Latta, Uzza, Manat, dan Hubal. Keikhlasan dalam menempatkan Kebenaran di atas segala itulah yang membuat Muhammad Saw. menempati kedudukan melampaui ishthina�, yaitu kedudukan ruhani orang yang tak terikat keakuan manusiawi lagi.�

�Jika ada orang yang menuduh Muhammad Saw. Memiliki pamrih dalam menyiarkan ajaran Tauhid, tentu akan ada bukti bahwa dia telah mengagungkan dewa-dewa yang disembah bangsanya. Padahal, kenyataan membuktikan bahwa dewa-dewa sesembahan bansa Arab itulah yang justru ditentangnya. Dan sebaliknya, Kebenaran Tauhid yang diajarkan oleh Nabi-Nabi terdahulu termasuk Nabi-Nabi dari antaera Bani Israil yang dia ajarkan untuk menggantikan paganisme yang berkembang dewasa itu. Tauhid adalah Tauhid. Kebenaran adalah Kebenaran. Tidak ada anasir bahasa, bangsa, warna kulit, pangkat, derajat. Itu prinsip dia.�

�Ingat-ingatlah, o Putera-Putera saudaraku, puncak tertinggi dari pengabdian Muhammad Saw. kepada Kebenaran tercermin pada keberhasilan dia dalam menghapus semua pamrih pribadi bagi perjuangannya. Ingatlah sabda Muhammad Saw.: �Katakan Kebenaran sekalipun pahit! (qul al-haqq walau kana muran).� Itulah tonggak pedoman yang mencerminkan keberadaannya sebagai penyampai ajaran Tauhid dan pengabdi Kebenaran. Bahkan, karena kesuciannya dari pamrih-pamrih dalam menyampaikan ajaran Kebenaran maka suara Sang Kebenaran (al-Haqq) mengejawantah dalam wujud Sabda Suci (Kalam Ilahi) yang terungkap lewat lisannya. Sekalipun Muhammad Saw. adalah manusia suci yang menjadi wahana bagi �kelahiran� Sabda Suci Ilahi ke dunia, dia dengan tegas melarang para pengikutnya untuk menyembah selain Allah.�

�Dengan selalu mengingat ketulusan dan keikhlasan Muhammad Saw. dalam mengabdikan diri kepada Kebenaran, hendaknya kalian berdua menjadi sadar dan kemudian bergegas mengikuti langkahnya. Maksudku, sekalipun di dalam aliran darah kita terdapat darah Muhammad Saw., hendaknya jangan ada di antara kita yang membiarkan jiwanya ternodai pamrih-pamrih pribadi. Janganlah ada di antara kita yang mengaku-aku sebagai keturunan Muhammad Saw. dengan pamrih supaya dihormati dan dijadikan panutan manusia. Jangan ada di antara kita yang menyatakan diri sebagai keturunan Muhammad Saw., tetapi menyembunyikan harapan agar bangsa-bangsa pemeluk Islam bertekuk lutut kepada kita. Jangan ada di antara kita yang mengaku keturunan Muhammad Saw. dan kemudian menutup �pintu Kebenaran� dengan memberhalakan diri sebagai satu-satunya penjaga �pintu Kebenaran�. Jangan ada di antara kita yang mengaku-aku keturunan Muhammad Saw. dengan maksud memperoleh keuntungan pribadi, apalagi sekadar sedikit kekayaan dan kekuasaan duniawi.�

�Lantaran itu, ingat dan camkan! Kebenaran Tauhid yang diajarkan Muhammad Saw. tidak mengenal bangsa, bahasa, warna kulit, dan garis keturunan. Kebenaran adalah Kebenaran. Laksana wangi bunga, Kebenaran tidak pernah menyebar-nyebarkan harum-Nya, tetapi semerbak wanginya menebar sendiri ke mana-mana. Jangan sekali-kali kalian menerima Kebenaran berdasar siapa yang membawanya, melainkan terimalah Kebenaran sebagai Kebenaran meski berasal dari orang-orang gelandangan yang tak dihormati manusia. Kebenaran akan terbit sebagai matahari hakiki yang cahanya-Nya bisa disaksikan sebagai bashirah. Hilangkan segala macam pamrih, karena pamrih adalah bagian dari kemusyrikan yang samar,� kata Abdul Jalil.

�Kami akan pusakakan wejangan Paman,� kata Tughril.

Abdul Jalil diam dan bergantian menatap Tughril dan Fadhillah. Sejurus setelah itu, dengan suara yang lain ia berkata penuh wibawa. �Jika kalian nanti mengarungi samudra kehidupan, janganlah kalian tergiur oleh warna-warni �cat� yang menghias �bahtera� yang katanya dibuat dari ayat-ayat Ilahi yang terang dan abadi. Sebab, warna-warni �cat� penghias �bahtera� itu pada dasarnya tidak lebih dari bahan-bahan penghias �bahtera�, yaitu tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Ilahi yang diikat (�iql) oleh serat-serat nalar (�aql) hingga menjadi jalinan tali-temali pemikiran (fikr) yang nisbi jangkauannya.�

�Kenapa aku mengingatkan kalian akan hal ini? Sebab, segala sesuatu yang dibangun di atas bangunan pemikiran yang nisbi jangkauannya akan nisbi pula keberadaannya. Bahan-bahan penghias selalu rentan dan gampang terkelupas dan luntur. Lantaran itu, ingat-ingatlah selalu bahwa Kebenaran yang terkandung di dalam ayat-ayat Ilahi adalah mutlak dan tidak terbantah. Tetapi, penafsiran atas ayat-ayat tersebut berdasar akal pikiran, adalah nisbi. Terbatas. Itu sebabnya, Allah melarang melarang manusia untuk menggunakan pikiran dalam mengenal Sang Pencipta. Pikiran hanyalah piranti yang digunakan untuk mengenal ciptaan-Nya. Dengan demikian, jika ada manusia menggunakan pikiran untuk mengenal Allah, justru hasilnya adalah pengingkaran (kufur) terhadap Kebenaran dan bermuara pada pengkafiran (takfir). Mereka yang menggunakan pikiran untuk mencari Allah pasti akan sesat sehingga �bahtera� yang mereka tumpangi akan kandas ke jajaran karang tajam samudera ruhani dan hancur berkeping-keping dalam Kebinasaan.�

�Tanamkan di hati sanubari kalian berdua, o Putera saudaraku, Kebenaran Sejati tidak bisa diperdebatkan berdasar dali-dalil yang dibangun dari bahan-bahan hasil tafsiran akal pikiran. Kebenaran Sejati hanya bisa dikenal dengan bashirah. Ingat itu: bashirah! Itu sebabnya, hendaknya kalian berdua jangan terperangkap kepada madzhab-madzhab yang saling berebut benar sendiri. Jangan kalian memberhalakan madzhab. Jangan kalian berperang dan membunuh sesamamu demi madzhab yang engkau anggap benar. Jika itu yang kalian lakukan maka kalian sesungguhnya telah membangun mezbah-mezbah persembahan dengan korban sembelihan saudara kalian dari perselisihan madzhab. Menghindarlah kalian dari perselisihan madzhab. Jadilah kalian sebagai bagian dari kaum beriman (qaum al-mu�minin), wakil al-Mu�min di muka bumi (khalifah al-Mu�min fi al-ardh), yang menjadi pembawa keamanan bagi kehidupan makhluk di muka bumi. Citrakan diri kalian sebagai wakil as-Salam di muka bumi (khalifah as-Salam fi al-ardh) yang menjadi bagian dari pembawa dan pemelihara kedamaian di bumi.�

Tughril termangu-mangu mendengar uraian Abdul Jalil. Setelah merenung beberapa jenak, dia berkata dengan nada tanya, �Kami sudah memahami akan apa yang Pamanda sampaikan. Tapi, kami belum paham dengan penjelasan Pamanda tentang mengenal Kebenaran dengan bashirah. Apakah yang Pamanda maksud dengan bashirah? Bagaimanakah cara kita menggunakan bashirah untuk mengenal-Nya?�

�Bashirah adalah piranti yang digunakan Nabi Muhammad Saw. untuk menerangi jalan Kebenaran yang dia lalui dan digunakan pula oleh orang-orang ang mengikutinya (QS. Yusuf: 108). Melalui piranti bashirah itulah Nabi Muhammad Saw. secara khusus mengajarkan kepada sahabat-sahabat dekatnya �cara� dan �jalan� mengenal Allah. Tetapi, ajaran tentang bashirah ini sangatlah rahasia sehingga tidak bisa diungkapkan di tengah manusia ramai. Lantaran itu, aku akan mengajarkan kepadamu pengenalan akan Allah melalui bashirah secara rahasia pula.�

Setelah mengajarkan pengetahuan rahasia tentang bashirah kepada Tughril dan Fadhillah, Abdul Jalil menggandengan dua orang kemenakannya itu berjalan ke arah Na�ina Husam, yang duduk bersimpuh di samping Shafa, istrinya. Na�ina Husam sendiri adalah sufi perempuan asal Syiraz, yang tinggal di Pasai di bawah lindungan Tughra Hasan Khan. Dia meninggalkan negerinya akibat diburu-buru kaki tangan Syah Ismail. Dia mula-mula datang ke negeri Perlak. Namun, di sana suasananya tidak berbeda dengan di Syiraz. Penduduk Perlak yang mendukung keluarga Safawi terlibat pertarungan sengit dengan penduduk yang menentang Syah Ismail. Darah tumpah di mana-mana. Di tengah pertarungan yang mengalirkan darah itulah Na�inah Husam pergi ke Pasai dan berlindung di kediaman Husein al-Abbasi. Ternyata, di Pasai pun pertarungan tak kalah sengit dan bahkan membawa Husein ke alam Kematian. Di tengah kecamuk pertarungan berdarah itulah, atas permintaan keluarga Husein, Na�ina Husam dilindungi oleh Tughra.

Malam itu cahaya bintang yang bertaburan di langit tak mampu menembus kabut yang menyelimuti permukaan bumi dengan keheningan. Suasana makin senyap. Hening. Di tengah keheningan, di bawah tatapan mata semua orang, Abdul Jalil duduk bersila di depan Na�ina Husam sambil merangkul dua orang kemenakannya. Beberapa jenak terdiam, tiba-tiba Abdul Jalil bertepuk tangan sambil melantun sebaris syair:

�Marilah kita bertepuk tangan sambil berseru: berbahagialah engkau yang terlempar dari tanah kelahirannya karena kecintaan yang tulus dan suci kepada Sang Kekasih. Berbahagialah engkau yang mabuk akibat menenggak anggur penderitaan yang diperas dari buah kerinduan yang tak kesampaian. Berbahagialah engkau yang mabuk anggur kerinduan, karena engkau yang mendamba cinta-Nya. Berbahagialah engkau, o Na�ina Husam, sebagaimana kebahagiaan yang telah direguk Rabi�ah, Rumi, Hallaj, Ba Yazid, Attar, Hafiz, Sa�di.�

Na�ina Husam menegakkan wajah. Matanya yang semula sayu tiba-tiba bercahaya. Dengan tatapan penuh gelora, ia memandang wajah Tughril dan Fadhillah ganti-berganti. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan menepuk-nepukkannya ke bahunya beberapa kali. Setelah itu, dengan suara lain dia mengutip syair-syair yang digubah Sa�di.

�Berbahagialah hari-hari mereka yang mabuk cinta Ilahi karena mereka belum atau sudah mengetahui pedihnya obat penawar Ilahi. Merekalah pengemis yang menolak martabat raja dan mereka sangat lama menderita di dalam permohonan mengharap Dia.�

Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu kiri dengan tangan kanannya sambil mengumandangkan syair.

�Wahai engkau yang membandingkan martabat pengemis dengan raja-raja, telah kutangkap citra hidupmu yang tak seekor semut pun pernah menderita karenamu. Sementara raja-raja yang tegak di tengah kemegahan duniawi, hari-harinya selalu diwarnai taburan penderitaan bagi makhluk sekitar. Itulah pertanda utama martabat sang fakir dan sang raja, yang menjadi citra kehidupan dunia sejak masa lalu hingga masa datang.�

Na�ina Husam menengadahkan wajah ke atas menatap bintang gemintang. Dia menepuk-nepuk kembali bahunya. Kemudian dengan air mata berlinang-linang, ia melantunkan syair.

�Kaki tangan Syah Ismail telah memburuku laksana binatang buas yang berbahaya, hanya karena perhatianku selalu kuarahkan kepada Sang Kekasih. Atas titah Syah, mereka menganggapku liar dan karenanya aku harus ditangkap untuk ditundukkan. Sungguh keliru mereka yang menganggap rajawali betina merasa bahagia di dalam sangkar emas dalil-dalil yang mereka cipta. Memang, jiwa-jiwa merpati dan beo bisa berada dalam kerangkeng yang berbeda-beda, tetapi jiwa rajawali-rajawali Ilahi senantiasa merdeka dan Satu.�

�Kaki tangan Syah memaksaku untuk mengikuti jalan akal yang mereka lalui, yaitu jalan yang penuh belokan, putaran, tanjakan, liku-liku membingungkan, dan tebaran jebakan yang membahayakan jiwa. Mereka tidak paham. Akal, sekalipun tinggi dan mulia, bukanlah sang jalan., tetapi cahaya yang menunjukkan jalan. Dengan cahaya akal orang dapat membedakan mana keburukan, mana musuh dan mana kawan, mana benar dan mana batil. Tetapi, dengan seberkas cahaya akal, orang tidak akan mecapai tujuannya sampai dia menemukan jalan itu. Barangsiapa yang telah diberi penerangan jalan, cahaya akalnya akan tenggelam dalam pancaran matahari bashirah yang memancar dari al-Bashir.�

�Aku telah menyaksikan salik-salik penyamar berjiwa serigala dan musang yang ditebar Syah. Mereka berbaris di padang gurun menuju kota-kota dan mengaku membawa berita-berita Kebenaran. Sungguh aneh, mereka yang tidak bisa mendengar suara Kebenaran karena telinga jiwa (sam�) mereka telah pekak tertutup gumpalan awan keakuan, tiba-tiba mengaku sebagai pembawa berita Kebenaran. Sungguh mengerikan mereka, penyamar-penyamar itu. Tubuh mereka berbaris menuju kota-kota, tetapi jiwa mereka terjerat oleh angan-angan kosong laksana laba-laba terjerat jaring-jaring yang ditebar sendiri.�

�Kepada salik-salik sejati, para penempuh jalan Kebenaran, aku sampaikan peringatan kepada kalian: hendaknya jangan sekali-kali mempercayai dan mengikuti mereka yang mengaku-aku pembawa berita Kebenaran. Sebab, mereka adalah para penyamar. Mereka yang mengaku membawa berita Kebenaran sejatinya adalah orang-orang yang bertelinga tuli dan lidahnya bercabang. Sadarkanlah kesadaranmu, o salik-salik sejati, bahwa mengucapkan perkataan atas nama Kebenaran adalah jauh lebih mudah daripada menemukan jalan Kebenaran.�

�Inilah perbedaan antara salik sejati dan salik penyamar, yang pertama adalah Daud yang menyanyikan kidung Zabur, sedang yang kedua adalah gaung nyanyiannya yang memantul di dinding tebal. Atau laksana perbedaan antara �ilm al-tahqiqi dan �ilm al-taqlidi. Yang pertama dijajakan di tengah keheningan dan dibeli oleh Tuhan, sedang yang kedua dijajakan dan diperdagangkan di pasar dan dibeli banyak orang bodoh.�

Abdul Jalil menepuk bahu kanan dan bahu kirinya. Setelah itu, ia menepuk bahu Fadhillah dan Tughril. Kedua orang kemenakannya itu beringsut ke depan, berlutut dan bergantian mencium tangan Na�ina Husam. Meski orang-orang yang berkerumun di sekitar mereka tidak memahami apa yang sesungguhnya terjadi antara Abdul Jalil dan Na�ina Husam yang bersyair itu, Tughril dan Fadhillah menangkap peristiwa itu sebagai pelajaran ruhani yang sangat dalam dan penuh diliputi rahasia jiwa tak terungkapkan.

Keesokan harinya, ketika matahari merambat naik di ufuk timur, Abdul Jalil duduk bersila di dermaga, tak jauh dari kapal yang akan membawanya ke Malaka. Di tengah embusan angin yang menerbangkan sisa-sisa embun pagi, di antara gemuruh ombak dan jeritan burung camar, di sela-sela suara kibaran layar, ia memberikan wejangan kepada orang-orang yang dikasihinya; Ahmad Kandang, Orang Kaya Kenayan, Abdurrahman Singkel, Raden Sahid, Tughril, dan Fadhillah Khan yang bersila takzim di depannya. Dengan suara lain yang meliputi ketenangan dan kewibawaan, ia berkata di tengah desau angin pantai.

�Sesungguhnya, aku menangkap sasmita bahwa kalian berada dalam kebingungan ketika aku beri tahukan tentang hakikat hidayah dan iman dengan sudut pandang lain daripada yang selama ini kalian pahami. Padahal, jika kalian memahami makna Tauhid secara benar, hal yang aku sampaikan itu bukanlah sesuatu yang sulit dipahami.�

�Sekali lagi aku ingatkan kepada kalian bahwa apa yang disebut hidayah adalah pancaran dari Yang Memberi Petunjuk (al-Hadi). Lantaran itu, di dalam hidayah tersimpan daya-daya iman yang merupakan pancaran Yang Memberi Keamanan (al-Mu�min), daya-daya Islam yang merupakan pancaran Yang Memberi Kedamaian (as-Salam), dan daya-daya ruhani lain yang merupakan pancaran Asma�, Shifat, dan Af�al Yang Ilahi, yang kesemua daya itu bermuara ke samudera takwa, yakni pancaran Yang Memberi Kekuatan (al-Qawiy).�

�Dengan memahami hidayah dari sisi Tauhid ini, hendaknya kalian dapat menangkap tanda-tanda keberadaan manusia-manusia yang beroleh anugerah hidayah, hidup mereka senantiasa ditandai oleh keterbimbingan dalam menapaki jalan hidup (sabil huda) yang diterangi cahaya al-Hadi. Jika jalan hidup seseorang sudah diterangi cahaya al-Hadi maka daya-daya iman yang memancar dari al-Mu�min akan menandai pula keberadaan hidupnya. Itu berarti, yang disebut manusia beriman adalah manusia yang bisa mengejawantahkan pancaran al-Mu�min sebagai wakil-Nya di muka bumi (khalifah al-Mu�min fi al-ardh). Sebagai wakil al-Mu�min, manusia-manusia beriman akan menampakkan suasana hati dan pikirannya yang selalu dipancari rasa aman, cenderung pada terciptanya suasana aman dan selalu memberikan keamanan bagi kehidupan di sekitarnya. Lantaran itu, Rasulullah Saw. bersabda: tidaklah beriman orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.�

�Ketahuilah, daya-daya iman secara hakiki tidak terpisah dari daya-daya Islam. Itu berarti, keberadaan seorang manusia beriman selain ditandai oleh keberadaan dirinya yang mengejawantahkan pancaran Sang Pemberi Keamanan (al-Mu�min), juga ditandai oleh keberadaannya sebagai pembawa kedamaian (al-Islam) yang merupakan pancaran Sang Pemberi Kedamaian (as-Salam). Dengan demikian, manusia-manusia yang beroleh hidayah selalu ditandai oleh keberadaan diri sebagai pencipta keamanan dan kedamaian bagi kehidupan di sekitarnya. Mereka yang paling kuat dalam perjuangan mengaktualisasi daya-daya iman dan islam dalam kehidupannya akan beroleh derajat dan maqam tertinggi yang disebut takwa, yaitu pancaran dari Yang Mahakuat (al-Qawiy). Manusia-manusia yang sudah menduduki derajat takwa adalah orang yang paling kuat lahir dan batin di antara manusia, karena mereka telah mampu mewujudkan keberadaan dirinya sebagai wakil Yang Mahakuat di muka bumi (khalifah al-Qawiy fi al-ardh). Mereka itulah adimanusia-adimanusia yang akan dianugerahi kemuliaan (karamah) yang memancar dari al-Karim.�

�Dengan apa yang telah aku sampaikan ini, sesungguhnya telah jelas makna hakiki di balik hidayah dan iman yang bermuara ke samudera takwa dan karamah. Artinya, mereka yang sudah mencapai derajat takwa dan beroleh anugerah karamah dari al-Karim, keberadaannya akan ditandai oleh kemurahan-kemurahan dan kemuliaan-kemuliaan. Itulah citra kaum takwa (qaum al-muttaqin), yang senantiasa menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-�alamin). Dengan demikian, jika kalian dapati ada manusia-manusia yang menyatakan diri sebagai umat Islam yang beriman dan bertakwa tetapi keberadaan dirinya ditandai oleh citra menakutkan, menggelisahkan, menimbulkan ketidakamanan, membuat suasana tidak damai, dan bahkan menebara kematian, maka sesungguhnya mereka itu pendusta. Mereka itulah yang pantas disebut kaum beragama yang tidak beriman. Mereka mengaku muslim, tetapi tidak memiliki ruh Islam. Mereka mengaku beriman, tetapi tidak memiliki iman. Mereka adalah mayat-mayat hidup yang berbahaya bagi kehidupan makhluk.�

Semua mengangguk-angguk mendengar paparan Abdul Jalil. Mereka menangkap kebenaran di dalam ucapan-ucapannya. Setelah terdiam beberapa jenak, Orang Kaya Kenayan bertanya, �Kami paham dan dapat menangkap paparan Tuan Syaikh. Tetapi, yang masih membingungkan kami adalah bagaimana sikap kami dalam menghadapi keadaan kacau di tengah pertarungan ini? Apakah kami harus berpangku tangan agar keadaan menjadi aman dan damai, sementara orang-orang bergelut dalam pertikaian berdarah?�

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara ditekan tinggi ia berkata, �Sungguh keliru mereka yang membayangkan keamanan dan kedamaian sebagai sesuatu yang diam dan tanpa gerak. Sebab, keamanan dan kedamaian adalah sebuah gerak dinamis dari daya-daya kehidupan laksana arus sungai mengikuti alirannya. Dengan demikian, aku katakan bahwa telah keliru orang-orang yang lari meninggalkan kehidupan dan bertapa di gua-gua karena beralasan ingin menjadikan kehidupan dunia aman dan damai. Mereka itu sejatinya adalah orang-orang picik yang menginginkan keamanan dan kedamaian bagi dirinya sendiri. Mereka adalah para pengecut yang menjadi pecundang karena tidak mampu mewujudkan citra dirinya sebagai wakil al-Mu�min di muka bumi dan wakil as-Salam di muka bumi.�

�Ingat dan camkan dalam sanubari kalian! Tugas utama kaum muslim yang beriman adalah memelihara keamanan dan kedamaian karena mereka adalah wakil as-Salam dan al-Mu�min. Itu berarti, jika terjadi suatu masa di mana ketidakamanan dan kekacauan meliputi wilayah di sekitar kaum muslim yang beriman, maka wajib baginya untuk menggunakan kekuatan tangan dan mulutnya untuk menciptakan keamanan dan kedamaian. Bahkan, untuk alasan demi terciptanya keamanan dan kedamaian, orang-orang muslim beriman diwajibkan berperang untuk melindungi orang-orang lemah baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang ditindas dan dianiaya orang-orang zalim (QS. An-Nisa: 75). Orang-orang beriman yang berjuang menjalankan tugasnya dalam menciptakan keamanan dan kedamaian itu akan dilindungi oleh Allah (QS. al-Baqarah: 257).�

�Aku tahu kalian mencemaskan pertikaian antara para penganut Syi�ah dan Sunni akibat tindakan Syah Ismail di negeri Persia. Aku juga tahu kalian mencemaskan keberadaan orang-orang Portugis di Cochazhi yang mengancam penduduk muslim. Sesungguhnya kalian tidak perlu cemas akan semua peristiwa yang terjadi. Sebab, jika Allah menghendaki, tidaklah manusia saling berbunuh-bunuhan. Tetapi, Allah berbuat segala apa yang dikehendaki-Nya (QS. Ali Imran: 200). Jangan sekali-kali kalian menyerang orang-orang yang tidak menyerang kalian. Jangan sekali-kali kalian menyerang orang-orang yang tidak berbuat zalim dan tidak membuat kerusakan. Tetaplah kalian menjadi pelindung bagi orang-orang lemah. Lindungilah mereka dalam keamanan dan kedamaian. Kaum beriman tidak pernah menjadi penyerang dan pembuat kekacauan di muka bumi.�

�Sesungguhnya, kehidupan kalian dengan alam sekitar kalian adalah ibarat sekumpulan orang yang menumpang sebuah kapal. Masing-masing penumpang memiliki hak untuk duduk di tempat yang disediakan bagi mereka. Masing-masing penumpang wajib menghargai hak penumpang lain. Itu sebabnya, jika salah seorang penumpang mengeluarkan alat untuk melubangi kapal maka seluruh penumpang wajib mencegahnya agar semuanya selamat sampai ke pelabuhan tujuan.�

�Andaikata saat berlayar itu ada kapal lain yang berusaha merampas kapal dan menawan penumpangnya maka menjadi kewajiban seluruh penumpang � terutama orang-orang yang kuat (takwa), di antara penjaga keamanan (mu�min) dan kedamaian (muslim) � untuk melawan penyerang itu dengan berbagai cara dan membagi tugas masing-masing. Ada penumpang yang bertugas melawan musuh dengan senjata. Ada yang bertugas melindungi penumpang-penumpang lemah. Ada yang mempertahankan ruang kemudi. Dan ada pula yang mempertahankan keutuhan kapal agar tidak tenggelam. Bahkan, ada yang menyelinap masuk ke kapal musuh untuk menggoyahkan semangat mereka. Demikianlah perumpamaan dari kehidupan orang-orang muslim beriman di sebuah negeri yang diserang musuh.�

�Apa yang harus dilakukan oleh kaum muslim beriman, o Tuan Syaikh, jika kapal yang mereka tumpangi tidak dapat dipertahankan?� tanya Orang Kaya Kenayan.

�Ketidakmampuan mempertahankan kapal mesti dialami lebih dulu oleh para penumpang yang bertugas melawan musuh dengan kekuatan senjata. Jika itu yang terjadi maka menjadi tugas para pelindung penumpang, penjaga ruang kemudi, penjaga keutuhan kapal, dan penyusup untuk mengambil langkah bijaksana sesuai tugas masing-masing. Artinya, demi keselamatan kapal dan seluruh penumpang, dengan lapang dada dan penuh kepasrahan mereka harus mengembalikan segala urusan kepada Yang Mahakuasa (al-Muqtadir).�

�Membiarkan pihak musuh menguasai kapal?� tanya Orang Kaya Kenayan.

�Kalau terpaksa, kenapa tidak?� sahut Abdul Jalil datar. �Sebab, masalah utama dalam peristiwa semacam itu bukanlah kemenangan dalam menguasai kapal, melainkan sejauh mana para penumpang kapal di bawah kekuasaan musuh tetap dapat hidup dengan keyakinannya dan bisa setia melayani Sang Rajadiraja semesta (al-Malik al-Mulki). Apalah artinya kemenangan kuasa duniawi atas sebuah kapal jika para penumpang mengabaikan dan enggan melayani-Nya? Justru pada saat dikuasai musuh itulah para penumpang kapal harus mengukuhkan kembali persaksian Tauhid kepada Sang Rajadiraja semesta; Rabb manusia, Rajadiraja manusia, Sesembahan manusia, dengan menafikan keraguan yang diakibatkan oleh bisikan maya golongan jin dan manusia (QS. an-Nas: 1 � 6). Ya bisikan meragukan dari golongan jin dan manusia tentang kehormatan, kepahlawanan, kesyahidan, kebangsaan, kebebasan, kekuasaan, kepentingan golongan dan keluarga harus dinafikan semua. Sebab, semua itu bersifat maya. Saat itu, hati dan pikiran harus dikiblatkan untuk menyucikan dan memuliakan-Nya. Kesampingkan segala sesuatu selain Dia.�

�Apakah itu berarti para penumpang kapal menyerah total kepada musuh dan menjadi budak mereka?�

�Justru di bawah kekuasaan musuh itulah para penumpang kapal memulai perjuangan yang sesungguhnya dalam menegakkan Tauhid Mulukiyyah,� kata Abdul Jalil.

�Kami belum paham dengan penjelasan Tuan Syaikh tentang Tauhid Mulukiyyah.�

�Camkan dalam kesadaran kalian, o Anak-Anakku! Sesungguhnya, jatuh dan bangunnya suatu bangsa tergantung seutuhnya pada kehendak Sang Rajadiraja semesta; Dia, Maharajadiraja Yang Hakiki (al-Malik al-Haqq al-Mubin), Yang Maha Mengangkat (ar-Rafi�), Yang Memberi Kemuliaan (al-Mu�iz, Yang Memberi Keamanan (al-Mu�min), Yang Memberi Kedamaian (as-Salam). Tetapi, Dia juga Maharajadiraja Penguasa alam jasadi, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Yang Maha Menjatuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Mencabut (al-Qabidh), Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), dan Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim). Itu berarti, bangsa-bangsa yang dihinakan di bawah kaki musuh hendaknya mawas diri. Ya, mawas diri, apakah mereka selama itu sudah benar dalam melayani Sang Maharajadiraja semesta? Sebab, telah tertulis pada lembaran Kitab Suci dan sejarah bangsa-bangsa bahwa kejatuhan suatu bangsa ke dalam kekuasaan bangsa lain lebih banyak disebabkan oleh kenyataan bahwa bangsa bersangkutan telah mengabaikan Sang Maharajadiraja semesta dengan membuat sesembahan (thaghut) lain yang hina dan nista.�

�Sesungguhnya, Sang Maharajadiraja semesta adalah Penguasa semesta ciptaan. Dia menolak disekutukan. Dia ingin dijadikan sebagai satu-satu-Nya kiblat Sesembahan dan Gantungan harapan umat-Nya. Dia Maha Pencemburu dengan sekutu-sekutu. Itu sebabnya, tugas utama para pemimpin kaum muslim beriman di sebuah kapal adalah menciptakan keadaan di mana seluruh penumpang kapal menjadi orang-orang yang bertakwa; yang memuliakan keagungan-Nya sebagai Rabb, Maharajadiraja dan Sesembahan seluruh makhluk. Semua penumpang wajib menjadikan-Nya sebagai Pelabuhan harapan dan Kiblat Tujuan. Para pemumpin kaum muslimin yang beriman dan bertakwa tidak boleh membiarkan para penumpang kapal berlebihan dalam mengumbar kesenangan nafsu; pesta pora menyantap makanan lezat, menenggak khamr sampai mabuk, menari-nari, menyanyi-nyanyi, menikmati kesyahwatan tanpa kendali hingga melanggar aturan yang ditetapkan Sang Maharajadiraja semesta. Demikianlah hukum kauniyah yang menetapkan syarat-syarat agar kapal yang ditumpangi suatu kaum tidak merampas dan dikuasai musuh,� papar Abdul Jalil.

�Apakah mungkin negeri kami nanti jatuh di bawah kaki orang-orang kafir Portugis?� tanya Orang Kaya Kenayan sambil menarik napas berat dan kemudian mengembuskannya keras-keras.

�Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini,� sahut Abdul Jalil dingin, �Tetapi, semua kemungkinan itu tergantung pada ketakwaan orang-orang di suatu negeri.�

�Maksud Tuan Syaikh?�

�Apakah penduduk negeri Pasai selama ini sudah melayani Sang Maharajadiraja semesta dengan setia? Apakah mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesembahan lain? Apakah mereka tidak disibukkan oleh urusan-urusan remeh pemenuhan hasrat nafsu mereka sendiri? Apakah para pejabat negeri ini terdiri atas orang-orang yang setia melayani Sang Maharajadiraja semesta? Apakah rakyat negeri ini setia menjadi hamba-Nya? Apakah rakyat negeri ini hidup di bawah pancaran cahaya akhlak yang mulia sebagaimana diteladankan rasul-Nya? Jawabannya, tergantung kejujuran penduduk negeri ini dalam menangkap makna-makna di balik segala sesuatu yang kelihatan di negeri ini. Apakah yang sejatinya terjadi di negeri ini?�

�Lantaran itu, o Anak-anakku, lewatilah jalan-jalan di negeri ini! Lihatlah dengan seksama kehidupan penduduknya! Periksalah, apakah kalian menemukan orang-orang yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran? Jika kalian tidak mendapati cukup banyak penduduk negeri ini yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran, itu pertanda Sang Maharajadiraja semesta sedang dicekam kemurkaan. Itu berarti, jika waktu yang ditentukan-Nya telah sampai, pasti Dia akan mengirimkan siksaan dan hinaan kepada penduduk yang tidak mencitrakan Keadilan dan Kebenaran sebagai wakil-Nya di muka bumi. Dia akan mengirimkan harimau, singa, serigala, musang, dan hewan melata dari hutan, dari padang belantara, gunung, rawa-rawa, danau, dan lautan untuk merobek-robek negeri ini dalam kekacauan. Darah akan tumpah di mana-mana. Kemudian, dengan cambukan pecut-Nya yang dahsyat Dia akan mendera penduduk dengan kesengsaraan dan penderitaan. Dia akan mengirim perampok yang merampok, penggarong yang menggarong, pencuri yang mencuri, pemerkosa yang memperkosa, penyiksa yang menyiksa, dan pembunuh yang haus darah. Dia akan menekuk lutut penduduk negeri yang ingkar untuk direndahkan sebagai budak bagi bangsa lain. Demikianlah hukuman yang pantas bagi penduduk suatu negeri yang menyekutukan Sang Maharajadiraja semesta.�

Read More ->>

Minggu, 19 Maret 2017

CAMBUK PERINGATAN TUHAN

Cambuk Peringatan Tuhan

Selimut keremangan malam telah disingkapkan oleh fajar gemilang yang terbit dari balik pegunungan Nilgiri yang memunggungi Kozhikode. Gemerisik daun-daun kelapa terdengar lembut dibawa embusan angin yang bertiup dari laut. Kumbang-kumbang beterbangan di tengah embun yang terangkat ke angkasa. Burung-burung berkicau sambil berlompatan di balik rimbun pepohonan. Kokok ayam hutan terdengar nyaring membelah keheningan pagi. Suasana pagi di pinggiran Kozhikode terasa sejuk dan riang, meski sisa-sisa kabut tipis masih terlihat di permukaan tanah.

Agak berbeda dengan suasana di pinggiran kota, di kawasan perkampungan Kozhikode yang menuju arah pusat kota, suasana pagi yang sejuk dan riang itu tidak lagi terasa. Dengung kumbang, kicau burung, kokok ayam hutan, gemerisik daun-daun kelapa, dan sejuknya embun di tengah semburan cahaya mentari pagi tak ada lagi. Suasana pagi diwarnai kesibukan luar biasa dari orang-orang berkeringat yang berjalan hilir mudik di tengah dentang suara palu, gemuruh bising gergaji, detak ladam kuda, derit roda kereta, dan teriakan-teriakan orang menghardik budaknya. Pagi itu suasana memang sibuk sebab kapal-kapal baru buatan galangan kapal Beypore yang dipesan Laksamana Kunjali Marakkar, panglima angkatan laut kepercayaan Samutiru, telah bersandar di pelabuhan Kozhikode. Kapal-kapal itu konon akan digunakan untuk menggempur armada Portugis yang berpangkalan di bandar Cochazhi (Cochin).

Galangan kapal Beypore adalah galangan kapal terbesar di wilayah kekuasaan Samutiru, bahkan terbesar di sepanjang pantai Malabar. Kapal-kapal dan perahu besar pesanan saudagar dari berbagai negeri dibuat di situ oleh tukang-tukang yang terampil yang mewarisi keahlian itu secara turun-temurun. Namun, belakangan ini menurut kabar yang tersebar di kota, segenap tenaga para pembuat kapal di Beypore dikerahkan untuk membuat kapal-kapal dengan ukuran besar. Kapal-kapal itu kabarnya akan dilengkapi dengan meriam-meriam seperti kapal-kapal milik Portugis. Bukan hanya menyiapkan kapal-kapal, Laksamana Kunjali Marakkar kabarnya sedang menyiapkan kekuatan tempur untuk menggempur armada Portugis yang bersekutu dengan raja Cochazi. Sebuah pertempuran besar tampaknya bakal pecah antara kekuatan Kozhikode di satu pihak dengan kekuatan Cochazi dan Portugis di pihak lain.

Tindakan brutal Vasco da Gama membantai jama�ah Muslim Kozhikode yang baru kembali dari tanah suci, membunuh dan memotong-motong tubuh nelayan-nelayan Hindu, menyandera penduduk, menginginkan kematian seluruh penduduk muslim Kozhikode, menembaki kota Kozhikode dengan meriam, dan mengancam-ancam Samutiru, tampaknya berbuntut panjang. Bukan hanya Samutiru dan penduduk Kozhikode yang merasa tertampar harga diri dan kehormatannya, melainkan seluruh penduduk muslim di Bharatnagari tersulut amarahnya dengan tindak biadab itu. Seluruh penduduk muslim Bharatnagari � terutama para saudagar, ulama, dan pemuka masyarakat � berkobar-kobar semangatnya untuk membalas kematian saudara mereka seiman yang sudah direndahkan oleh orang kafir. Tanpa ada yang meminta, saudagar-saudagar muslim dari kota-kota niaga di negeri Dekkan, Gujarat, Bengala, Sokotra, Yaman, Basrah, hingga Mesir diam-diam memberikan dukungan kepada penguasa Kozhikode untuk melawan Portugis.

Semangat perlawanan orang-orang Kozhikode yang berkobar-kobar tampaknya memiliki kaitan dengan watak kota yang melahirkan mereka. Kozhikode pada awalnya bukanlah kota perniagaan. Ia lahir sebagai sebuah benteng pertahanan di wilayah Ponniankara sekitar abad ke dua belas. Benteng itu dibangun oleh raja Emad, Udaiyavar, setelah berhasil menaklukkan Raja Polatthiri. Benteng itu disebut Velapuram dan diserahkan penguasaannya kepada Nediyirippu (Panglima Penakluk) bernama Swami Nambiyathiri Thirumulpad, yang termasyhur dengan sebutan Samutiru atau Samuthiri. Sebagaimana layaknya sebuah benteng, pada perkembangannya di sekitar Velapuram mulai bermunculan pemukiman yang lambat laun tumbuh sebagai kota kecil. Benteng yang menjadi kota kecil itu kemudian disebut orang dengan nama Koyilkotta (istana benteng).

Di bawah kekuasaan Samutiru yang diwariskan secara turun-temurun ke anak cucu, Koyilkotta berkembang menjadi kota perniagaan antara bangsa, terutama akibat pengaruh saudagar-saudagar keturunan Arab yang disebut suku Mappila. Koyilkotta dikenal sebagai salah satu bandar perniagaan rempah-rempah terbesar di India. Lantaran yang berniaga ke Koyilkotta adalah saudagar-saudagar dari berbagai negeri yang jauh, lafal pengucapan untuk menyebut Koyilkotta pun menjadi beragam. Ada yang melafalkan Koyilkotta dengan Kozhikode, ada yang melafalkan Kalikat, Kalifo, dan belakangan orang Portugis melafalkan: Calicut.

Sekalipun Kozhikode telah berkembang menjadi kota niaga antara bangsa, citra keberadaannya sebagai kota benteng tetap tidak sirna dari ingatan penduduk. Itu sebabnya, sejak awal kehadiran orang-orang Portugis yang menipu Samutiru sehingga penduduk menyangka mereka kawanan bajak laut, penduduk sudah menyerang mereka sebagai musuh berbahaya. Bahkan, sejak penduduk berselisih dengan Pedro Alvares Cabral hingga menjadi tindakan ganas Vasco da Gama membombardir kota Kozhikode, keterlibatan penduduk Kozhikode untuk membela kehormatan kotanya sangatlah besar.

Sebagai penguasa, sesungguhnya Samutiru tidak ingin peperangan terjadi di wilayah kekuasaannya. Dalam berselisih dengan Portugis, ia selalu mengambil jalan damai. Saat Vasco da Gama mengancam agar penduduk Muslim Kozhikode dibunuh semua, ia meminta kepada warganya untuk pergi meninggalkan Kozhikode. Untuk menghindari kesalahpahaman dengan maharaja Wijayanagara, ia pun secara halus meminta kepada saudagar-saudagar Mappila yang menjadi abdi maharaja Wijayanagara untuk menyingkir sementara dari Kozhikode. Namun, sikap mengalah Samutiru itu tidak cukup berhasil meredam semangat penduduk. Ketika sebagian warga muslim Kozhikode berlayar ke negeri-negeri di selatan, orang-orang Mappila justru enggan meninggalkan Kozhikode. Mereka menyingkir dari kota, tapi tinggal tidak jauh dari situ. Mereka tinggal di Valapattanam, Thikkodi, Pandalayani, dan Kakkadu. Orang-orang Mappila yang menganggap Kozhikode sebagai negeri kelahirannya memang sulit meninggalkan begitu saja kota yang mengukir jiwa mereka. Alih-alih mengungsi ke kota-kota terdekat, mereka diam-diam menyiapkan kekuatan bersenjata untuk melawan Portugis. Mereka mendorong Laksamana Kunjali Marakkar, pemuka muslim Kozhikode yang terkenal kegagahannya, agar melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Portugis di mana pun berada. Lewat saudagar-saudagarnya, orang-orang Mappila diam-diam membeli bedil, pedang, tombak, dan bedil besar bikinan Kuthiramalika di Tanjore untuk digunakan menyerang orang-orang Portugis.

Sebagaimana warga muslim Kozhikode yang lain, Laksamana Kunjali Marakkar tidak setuju dengan kebijaksanaan Samutiru yang cenderung mengalah kepada Portugis. Mengalah kepada musuh sama maknanya dengan membiarkan Kozhikode kehilangan ruh kepahlawanannya. Laksamana Kunjali Marakkar pun berusaha membangkitkan semangat Samutiru untuk melawan Portugis lewat pengungkapan kembali kisah-kisah keperkasaan leluhur Samutiru yang menjadi penguasa benteng Velapuram. Akhirnya, Samutiru sepakat untuk melawan. Samutiru lalu memerintahkan orang untuk memperbaiki dan memperkuat benteng lama di Kottapadi yang letaknya dekat dengan Kuil Syiwa dan Kuil Vettakkorumakan. Ia menunjuk Parnambi, kepala suku setempat, untuk menjadi penguasa benteng dan sekaligus pelatih keprajuritan di benteng tersebut. Laksamana Kunjali Marakkar pun diberi keleluasaan untuk membangun angkatan laut Kozhikode sekuat mungkin.

Upaya diam-diam Samutiru membangun kekuatan militer tidak diketahui Portugis maupun seteru lamanya, raja Cochazhi. Vasco da Gama dan raja Cochazhi melakukan pembaharuan perjanjian yang pernah dibuatnya dengan Cabral. Vasco da Gama juga mengajak raja Cochazhi untuk membuat persekutuan dagang yang disebut feitoria di Cochazhi. Untuk menunjukkan taring kegarangan sebagai pemenang, Vasco da Gama sengaja membiarkan awak kapalnya mencari hiburan di Kozhikode pada malam hari. Dengan keyakinan bahwa Kozhikode sudah benar-benar bertekuk lutut, Vasco da Gama kembali ke Portugal membawa kapal-kapalnya yang penuh muatan rempah-rempah. Ia sengaja meninggalkan seratus serdadu dan tiga kapal di bawah Francisco d�Albuquerque yang ditugaskan melindungi Cochazhi, dan Duarte Pacheco Pereira yang ditugaskan menjadi penasihat raja Cochazhi, dengan keyakinan bahwa Samutiru tidak akan melakukan tindakan yang bertentangan dengan kepentingan Portugis.

Bagian terbesar penduduk muslim Kozhikode yang disebut suku Mappila adalah orang-orang yang leluhurnya berasal dari negeri Yaman dan Teluk Persia. Berdasar cerita tutur yang samar-samar masih diingat oleh generasi muda Mappila, para dhatu leluhur mereka adalah pejuang pembela ahlul bait dari kalangan Syi�ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Karena musuh mendesak terus dari daratan maka leluhur mereka itu terdesak ke pantai dan lari meninggalkan negerinya lewat laut. Mereka mendarat dan kemudian tinggal di wilayah Kerala serta di sebagian tempat di dalam negeri Wijayanagara. Sebagai pelarian, mereka berusaha bertahan dengan cara berkompromi dengan penduduk sekitar yang beragama Hindu. Sadar dengan keberadaan diri sebagai warga pendatang, mereka melindungkan diri di bawag kekuasaan raja-raja setempat yang beragama Hindu dan bersedia menjadi abdi setia dari raja-raja tersebut.

Tidak banyak catatan sejarah ditulis orang tentang kehidupan dhatu leluhur orang-orang Mappila yang merintis kehidupan awal di negeri tersebut. Serpihan sejarah hanya mencatat bahwa negeri-negeri di selatan Bharatnagari yang termasuk di dalamnya wilayah Kerala tidak pernah sepi dari peperangan. Itu berarti, dhatu leluhur orang-orang Mappila yang lari dari negeri kelahirannya karena kalah perang harus bisa bertahan hidup di negeri baru yang ternyata tidak pernah benar-benar padam dari nyala api peperangan. Sejak pertempuran antar penguasa setempat, Dantidurga dengan Chalukya, orang-orang Mappila seolah-olah dipaksa oleh takdir untuk menyaksikan dan seringkali terlibat dalam pertempuran antarraja besar dan kecil di sekitar mereka. Bersama-sama penduduk pribumi Kerala, mereka berusaha bertahan dari tekanan-tekanan peperangan yang terus membara dari waktu ke waktu.

Boleh jadi akibat kesamaan nasib karena terus-menerus menjadi korban peperangan, orang-orang Mappila keturunan Arab asal Yaman dan Teluk Persia itu pada gilirannya dapat berbaur dengan penduduk setempat yang menganut Hindu dan Jaina. Bukan hanya dalam hal bahasa Malayalam yang mereka gunakan sebagai bahasa ibu, melainkan adat istiadat dan kepercayaan mereka pun menunjukkan hasil perpaduan antara pengaruh Islam-Hindu-Jaina. Lantaran itu, adat istiadat mereka agak berbeda dengan muslim lain di Bharatnagari. Sekalipun hampir seluruh penduduk muslim Kerala mengaku sebagai muslim penganut Sunni dan bermadzhab Syafi�i, secara aneh mereka menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang lazimnya dijalankan oleh penganut Syi�ah, Hindu, dan Jaina.

Sebagaimana lazimnya penganut Syi�ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah, orang-orang muslim Mappila memiliki adat istiadat dan kepercayaan khas, yaitu mengadakan upacara khaul bagi orang yang meninggal. Mereka membacakan talqin kepada jenasah. Mereka memperingati Maulid Nabi Saw. dengan tontonan-tontonan, nyanyian-nyanyian yang disebut Mappila Pattukal, musik, dan upacara makan-makan yang disebut kenduri. Mereka memperingati bulan Muharam dengan upacara-upacara melarung tabut Hasan dan Husein di laut dan membuat bubur Asyura. Mereka suka berziarah ke kubur wali-wali untuk meminta berkah. Mereka melakukan pula upacara yang disebut Nercha untuk meminta perlindungan kepada arwah pelindung suku dan desa, dengan mempersembahkan suguhan utama kue-kue bulat dari tepung beras yang disebut appam. Hampir semua ulama Mappila mengaku bernasab kepada Nabi Muhammad Saw. melalui galur Fatimah az-Zahrah dan Imam Ali bin Abi Thalib.

Adat istiadat dan kepercayaan orang-orang Mappila itu ternyata diikuti begitu saja oleh penduduk asli yang belakangan memeluk Islam. Malahan, mereka tidak sekadar ikut-ikutan adat istiadat orang Mappila, melainkan membaurkannya dengan adat istiadat mereka. Akibatnya, terjadi keanehan-keanehan yang mencengankan dari kebiasaan hidup sehari-hari penduduk muslim di Kerala dan terutama di kota Kozhikode. Penduduk muslim setempat yang umumnya berasal dari suku-suku berkasta rendah dalam tatanan masyarakat Hindu sangat suka menggunakan gelar-gelar asing seperti Syaikh, Khan, Sayyid, Syarif, dan Beg untuk menunjukkan kesetaraan kedudukannya dengan masyarakat muslim yang lain. Hal itu tentu menyulitkan orang untuk membedakan keberadaan mereka dengan suku Mappila maupun dengan saudagar-saudagar Arab pendatang. Ulama-ulama setempat pun, sebagaimana ulama-ulama suku Mappila, secara menakjubkan mengaku memiliki susunan silsilah leluhurnya yang merujuk kepada Nabi Muhammad Saw. melalui galur Fatimah az-Zahrah dan Imam Ali bin Abi Thalib.

Adat istiadat dan kepercayaan kaum muslimin di Kerala ternyata tidak cukup menunjukkan citra budaya yang lazim dijalankan orang-orang Syi�ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Secara nyata, mereka mengikuti pula adat istiadat dan kepercayaan penduduk setempat yang beragama Hindu dan Jaina. Setiap tahun, misalnya, mereka berduyun-duyun datang ke Masjid Pazhayangadi di kota Kondotti untuk mengadakan upacara Nercha selama empat hari dengan sesaji utama kue appam, namun setelah dari masjid mereka biasanya datang ke Kuil Kodungallur untuk mengikuti upacara Bhadrakalipattu, tempat orang Hindu memuja Bhadrakali. Mereka bersembahyang di Masjid Puthangadi, namun setelah itu berziarah ke Kuil Tirumandankunnu di dekatnya, untuk memuja Durga. Penduduk beragama Hindu pun melakukan hal yang sama: setelah berziarah ke Kuil Sri Dharmasatha untuk memuja Ayyappa dengan upacara Petta-Thullal atau Kanni Ayyappa, mereka berziarah ke Masjid Vavar di dekatnya karena Vavar yang muslim adalah sahabat Ayyappa.

Adat istiadat dan kepercayaan kaum muslimin di Kerala memang aneh. Sekalipun dalam kehidupan kemasyarakatan mereka terkenal sangat setia kepada rajanya, dalam hal keruhanian mereka sangat mendewakan ulama-ulama panutannya. Hampir setiap orang Mappila dan muslim Kerala memiliki anggapan bahwa ulama yang mereka jadikan panutan selain adalah keturunan Nabi Muhammad Saw., juga merupakan wali Allah yang suci dari dosa (maksum). Bahkan, keluarga dari ulama pun mereka muliakan sedemikian rupa seolah-olah mereka ikut terpancari kemaksuman tersebut.

Dengan anggapan bahwa ulama yang mereka jadikan panutan adalah keturunan Nabi Muhammad Saw. dan sekaligus wali Allah yang maksum, kepatuhan para pengikut pun menjadi mutlak. Ulama panutan yang umumnya memiliki kepandaian menyembuhkan orang sakit dan memecahkan masalah kehidupan sehari-hari itu menjadi pusat ketergantungan bagi para pengikutnya. Mereka seolah-olah menggantikan peran pendeta dalam masyarakat Hindu, meski mereka paham bahwa di dalam Islam tidak ada kependetaan. Itu sebabnya, saat ulama panutan meninggal, makamnya akan dijadikan pusat ziarah oleh para pengikutnya sebagai makam keramat seorang wali. Untuk mempertahankan adat istiadat dan kepercayaan yang menguntungkan kedudukannya itu, mereka secara turun-temurun mewajibkan kepada semua pengikutnya untuk taklid buta.

Pagi sudah menjelang siang. Matahari tinggi di langit timur. Cahayanya merata di permukaan bumi Kozhikode. Di sebuah rumah besar yang terletak tak jauh dari benteng, di tengah hiruk pikuk orang-orang yang berseliweran di jalan-jalan, di sela-sela embusan angin pantai yang menerpa setiap bangunan di kota, Abdul Jalil duduk bersila di sudut ruangan bersama Raden Sahid dan pemilik rumah, Salim Chandidas, menantu saudagar Ramchandra Gauranga, pengikut setia Bharatchandra Jagaddhatri. Di sampingnya terlihat Bardud, anaknya yang berusia sekitar empat belas tahun, menyandarkan kepalanya ke bahunya.

Siang itu Abdul Jalil sedang menunggu keberangkatan kapal yang bakal membawanya ke Pasai. Menurut jadwal, kapal baru akan berlayar setelah kegelapan menyelimuti bumi. Agak berbeda dengan kelaziman pelayaran sebelumya, di mana kapal-kapal dari Kozhikode dapat berlayar setiap waktu, saat itu orang cenderung memilih berlayar malam. Alasannya, untuk menghindari ancaman kapal-kapal Portugis. Para nakhoda banyak memilih waktu malam untuk membawa kapalnya keluar dari pelabuhan Kozhikode karena saat itu kelasi-kelasi Portugis sibuk menghibur diri di kedai-kedai Cochazhi maupun Kozhikode. Biasanya, dengan mengambil jarak memutar yang cukup jauh dari pantai, kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Kozhidode akan menerobos kegelapan malam tanpa penerangan lampu sampai ke tengah lautan bebas.

Selama menunggu keberangkatan kapal, Abdul Jalil menangkap kegelisahan jiwa Salim Chandidas yang ditutup-tutupi dengan senyum dan keramahan. Itu sebabnya, usai berbincang-bincang tentang gerakan diam-diam penduduk Kozhikode yang mendukung Laksamana Kunjali Marakkar melawan Portugis, Abdul Jalil bertanya dengan nada menyindir, �Apakah setiap akan melepas kapal para saudagar Kozhikode selalu dibayangi kecemasan dan kekhawatiran bakal diserang Portugis?�

Salim Chandidas tercekat kaget. Setelah diam sejenak dia berkata, �Kami kira, semua pemilik kapal di Kozhikode sekarang ini sedang dicekam kegelisahan setiap kali akan melepas kapalnya. Kapal-kapal Kozhikode yang memuat barang perniagaan terutama rempah-rempah, belakangan ini sering tidak kembali ke pangkalannya. Kapal-kapal itu lenyap begitu saja seperti ditelan laut. Menurut kabar yang berkembang, kapal-kapal itu dirampas muatannya dan kemudian ditenggelamkan oleh orang-orang Portugis. Tetapi, tuduhan bahwa Portugis sebagai pelaku tindak kejahatan itu sejauh ini belum bisa dibuktikan karena tidak ada satu orang pun di antara awak kapal yang hilang itu pernah kembali ke pangkalannya.�

�Apakah Laksamana Kunjali Marakkar dan penduduk akan menyerang Portugis jika kedapatan bukti bahwa merekalah pelaku perampasan kapal?� tanya Abdul Jalil.

�Itu sudah pasti, Tuan Syaikh,� kata Salim Chandidas dengan gigi berkerut-kerut menahan amarah, �hal itu kami kira tinggal menunggu waktu saja.�

�Berarti, selama ini kabar yang beredar di kalangan penduduk tentang kapal-kapal niaga yang ditenggelamkan Portugis itu belum bisa dibuktikan kebenarannya? Maksudnya, semua kabar itu masih sangkaan?�

�Bukti nyata memang belum ada, Tuan Syaikh,� kata Salim Chandidas menarik napas panjang dengan wajah makin merah. �Tetapi, secara sederhana orang yang paling awam pun wajib mencurigai Portugis. Sebab, selama beratus-ratus tahun negeri Kozhikode berniaga belum pernah terjadi peristiwa seperti ini. Bayangkan, dalam waktu beberapa bulan sejak kehadiran Portugis sudah belasan kapal niaga Kozhikode yang membawa muatan rempah-rempah raib di tengah laut. Padahal, semua orang mengetahui kapal-kapal Portugis yang berkeliaran di lautan kita itu memiliki tujuan utama membeli rempah-rempah.�

�Jadi, yang raib itu hanya kapal-kapal yang memuat rempah-rempah?�

�Ya.�

�Apakah kapal yang akan kami tumpangi nanti memuat rempah-rempah?�

�Itu memang kapal untuk memuat rempah-rempah. Tetapi, kalau berangkat dari Kozhikode biasanya membawa barang-barang niaga lain untuk ditukar dengan rempah-rempah. Muatan rempah-rempah baru diangkut setelah kapal kembali dari negeri Jawi,� kata Salim Chandidas.

�Tapi, kami dengar kapal-kapal milik orang Cochazhi tidak ada satu pun yang hilang sebab penguasa mereka bersekutu dengan Portugis. Apakah orang-orang Kozhikode tidak bisa menjalin hubungan baik dengan Portugis sebagaimana dilakukan orang Cochazhi?� tanya Abdul Jalil.

�Itu tidak mungkin, Tuan Syaikh,� sahut Salim Chandidas tegas. �Sejak awal kedatangannya, orang-orang Portugis sudah menempatkan diri sebagai kawanan bajak laut yang menipu penguasa Kozhikode. Selain itu, Portugis dengan kekejamannya yang menjijikkan telah membantai penduduk Kozhikode dan mengancam-ancam raja kami. Lantaran itu, baik penduduk muslim maupun Hindu di Kozhikode ini tidak akan sudi berbaik-baik dengan Portugis, sedangkan orang-orang Cochazhi ikut dengan kebijakan penguasanya yang bersahabat dengan Portugis karena mereka orang-orang yang lemah dan kurang percaya diri.�

�Berarti, musuh Kozhikode sekarang ini bertambah berat karena Portugis bersekutu dengan Cochazhi. Bahkan, kabar terakhir yang kami dengar, orang-orang Portugis sedang membangun benteng di tepi sungai Periyar dekat muara,� kata Abdul Jalil.

�Itulah masalah rumit yang sedang kami hadapi. Para penguasa negeri saling berseteru. Tidak ada yang mau mengalah. Dan, Portugis kelihatannya memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingannya sendiri,� kata Salim Chandidas dengan nada kurang bersemangat.

Abdul Jalil termangu-mangu sambil mengelus-elus janggutnya. Ia menangkap sasmita bahwa mendung hitam Kematian sedang menggantung di langit Kozhikode. Tidak lama lagi hujan dan angin peperangan akan melanda negeri itu bersama ledakan halilintar yang mengiringi kedatangan Ya�juj wa Ma�juj. Darah akan membanjir. Sang Maut akan meniup terompet Kematian di tengah mayat-mayat yang berserak di mana-mana. Secara tiba-tiba ingatannya melesat ke Nusa Jawa. Apakah Nusa Jawa juga akan dilintasi mendung hitam Kematian?

Sekejap mengingat Nusa Jawa, ia menangkap sasmita bahwa mendung hitam Kematian tidak akan melintas di langit Nusa Jawa. Sebab, peristiwa pecah belah antarpenguasa sebagaimana yang terjadi di negeri Kerala, sepengetahuannya, sudah tidak terjadi lagi di Nusa Jawa. Para adipati di sepanjang pesisir Nusa Jawa sudah bersatu dalam suatu persekutuan di bawah kepemimpinan Sultan Demak. Persekutuan para penguasa daerah itu memiliki tujuan utama menegakkan Tauhid di tengah kehidupan masyarakat. Persekutuan adipati-adipati itu pun didukung penguasa Majapahit, Japan, dan Blambangan sehingga tidak ada alasan untuk berperang.

Sebagaimana lazimnya tatanan kekuasaan yang didasarkan atas kaidah-kaidah tasawuf, yang menempatkan kekuasaan duniawi di bawah kekuasaan ruhani, demikianlah dalam persekutuan adipati-adipati di Nusa Jawa itu. Sultan Demak dan adipati-adipatinya berada di bawah naungan kekuasaan ruhani para guru suci yang tergabung dalam Majelis Wali Songo, Sultan Demak selaku pemimpin persekutuan adipati wajib menjalankan tatanan agama berdasarkan Tauhid kepada seluruh penduduk. Untuk itu, Sultan Demak selain bergelar Amir al-Mu�minin juga beroleh gelar Khalifah ar-Rasul Sayidin Panatagama dari Majelis Wali Songo. Dengan tatanan kekuasaan sebagaimana diterapkan di Nusa Jawa yang ditegakkan atas asas Tauhid itu, Abdul Jalil sangat yakin jika kekuatan Portugis tidak akan dapat menembus Nusa Jawa. Ia sangat yakin Allah tidak akan menimpakan malapetaka kepada umat yang bertauhid dengan cara menyerahkannya kepada musuh yang keji dan biadab.

Ketika sore tiba, Abdul Jalil dan Raden Sahid terlihat berdiri di sudut jalan yang menuju dermaga Kozhikode. Sambil memandangi kapal-kapal dan perahu-perahu yang diayun-ayun gelombang laut, di tengah kerdipan cahaya kuning matahari yang memantul di permukaan air, Abdul Jalil menangkap sasmita di balik rangkaian penderitaan yang dialami penduduk muslim Kozhikode sejak kehadiran orang-orang Portugis. Orang-orang malang itu sesungguhnya sedang dicambuk oleh peringatan Tuhan melalui keganasan Ya�juj wa Ma�juj dalam wujud orang-orang Portugis. Dengan kobaran dari senjata-senjata penyembur api, ketenangan hidup penduduk muslim Kozhikode dijungkirbalikkan. Sasmita itu sendiri sejatinya sudah ditangkapnya bertahun-tahun silam saat ia berada dalam perjalanan dari Gujarat menuju Goa.

Setelah beberapa jenak merenung-renung tentang sasmita yang ditangkapnya, dengan suara lain ia berkata-kata seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri.

�Sesungguhnya, Allah telah menetapkan perintah agar kaum beriman hanya menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan ilah-ilah selain Dia (QS. al-Baqarah: 21 � 22; an-Nisa:36). Sesungguhnya, jalan yang lurus adalah menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa (QS. Ali Imran: 51). Sebab, Allah adalah Sang Pencipta, Yang Maha Memelihara, Maha Melihat, Mahahalus, Maha Mengetahui (QS. al-An�am: 101 � 103), meliputi segala sesuatu (QS. al-A�raf: 89; al-Anfal: 47; Hud: 92), juga meliputi seluruh manusia (QS. al-Isra: 60).�

�Karena Asma�, Af�al, dan Shifat Yang Menyesatkan (al-Mudhill) dan Yang Memberi Petunjuk (al-Hadi) yang mengejawantahkan kehendak Zat Yang Mahamutlak secara rahasia selalu berjalin berkelindan dan berganti-ganti dalam menunjuki dan menyesatkan manusia (QS. al-Fathir: 8), melalui pengilhaman terhadap jiwa manusia atas kefasikan dan ketakwaan (QS. asy-Syams: 8), maka manusia sebagai citra ar-Rahman (shurah ar-Rahman) terpilah sesuai Asma�, Af�al dan Shifat-Nya, yaitu menjadi golongan yang disesatkan dan golongan yang diberi petunjuk. Mereka yang disesatkan akan dilimpahi azab Allah yang pedih (QS. Shad: 26).�

�Sesungguhnya, tanda paling terang dari kesesatan dan ketakwaan suatu umat terlihat dari curahan azab dan limpahan rahmat yang diterima masing-masing laksana perbedaan antara pancaran cahaya dan selimut kegelapan. Dia (al-Hadi) mengeluarkan orang beriman dari kegelapan menuju cahaya, sedangkan setan (pengejawantahan kuasa al-Mudhill) mengeluarkan orang ingkar dari cahaya ke dalam kegelapan (QS. al-Baqarah: 256 -257). Mereka yang sesat itu mengikuti jalan thaghut dan menganggap kaum beriman sesat (QS. an-Nisa: 51, 60). Padahal mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah (QS. al-Maidah: 60).�

�O penduduk Kozhikode, kefasikan apa yang sesungguhnya telah kalian lakukan hingga membuat cambuk Allah dilecutkan atas kalian? Sesungguhnya, Allah tidak pernah membinasakan kota-kota kecuali penduduknya telah melakukan kezaliman dan kefasikan (QS. al-Qashash: 59; al-Ankabut: 34). Semoga lecutan cambuk dari-Nya tidak membinasakan, tetapi hanya menjadi peringatan agar kalian kembali meneguhkan Tauhid; semata-mata menyembah Allah dengan benar dan menjauhi penyembahan kepada thaghut.�

Raden Sahid yang mendengar kata-kata Abdul Jalil itu memegang keningnya. Dia berusaha merangkai makna di balik ucapan Abdul Jalil dengan kenyataan pedih yang dialami penduduk Kozhikode, yang dicekam kegelisahan akibat tindakan-tindakan orang Portugis yang ganas. Setelah beberapa jenak merenung, dia bertanya kepada Abdul Jalil, �Apakah Paman menganggap bahwa kemalangan nasib yang dialami orang-orang muslim di Kozhikode berkaitan dengan kemerosotan Tauhid mereka?�

�Itulah sasmita perlambang yang aku tangkap.�

�Kami pun menangkap sasmita seperti Paman. Semula, kami melihat orang-orang muslim di Kozhikode sebagai muslim yang baik dalam akidah. Tetapi, belakangan kami mendapati kenyataan lain di mana kebanyakan mereka itu tanpa sadar telah mengikuti kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang dari prinsip-prinsip Tauhid. Kebanyakan mereka telah menyimpang dari jalan yang benar (fasik). Mereka banyak yang terseret keluar dari jalan Tauhid dan cenderung menjadi umat yang durhakan kepada Allah,� kata Raden Sahid.

�Tahukah engkau, o Anakku, bahwa mereka yang bersembahyang di masjid umumnya hanya kalangan ulama dan murid-muridnya?� tanya Abdul Jalil.

�Ya, kami tahu itu.�

�Tahukah engkau apa yang dilakukan seumumnya penduduk jika mereka datang ke masjid?�

�Kami melihat orang-orang datang ke masjid tidak untuk bersembahyang. Sebaliknya, mereka berziarah ke makam para wali yang terletak di belakang mihrab.�

�Sungguh aneh umat ini. Apakah mereka kaum penyembah Allah atau kaum penyembah kubur?�

�Setahu kami, mereka datang berziarah ke kuburan untuk meminta pertolongan dan berkah dari ahli kubur yang mereka anggap wali.�

�Bagaimana mereka tahu bahwa ahli kubur yang diziarahi dan dijadikan perantara meminta pertolongan itu wali Allah?� kata Abdul Jalil dengan suara ditekan tinggi. �Bukankah keberadaan wali Allah itu dirahasiakan oleh-Nya dari pandangan awam? Tidakkah engkau mengetahui bahwa di dalam tiap-tiap hati dan pikiran muslim di Kozhikode, sejatinya terselip anggapan bahwa setiap ulama panutan mereka adalah wali Allah? Tidakkah engaku mengetahui betapa mereka meyakini jika ulama-ulama mereka itu suci dan terbebas dari dosa (maksum) seperti Nabi Saw., sehingga patut bagi penduduk untuk memuja kuburan mereka? Tidakkah engkau mengetahui, o Anakku, berapa banyak penduduk muslim Kozhikode yang berziarah ke makam-makam untuk mencari berkah agar keinginan nafsunya terpenuhi? Tahukah engkau, selain meminta berkah ke kuburan ulama yang mereka anut, mereka juga sering kedapatan meminta berkah ke Kuil Durga dan Bhadrakali dengan mengikuti upacara-upacara yang mengancam prinsip-prinsip Tauhid?�

�Tahukah engkau betapa banyak di antara kaum muslimin Kozhikode diam-diam memelihara ular rumah (sarpa-kavu) yang mereka dapat dari Kuil Mannarasala tempat memuja Nagaraja? Tahukah engkau betapa mereka meyakini jika ular-ular itu bisa memberikan berkah keselamatan terhadap mereka? Dan, tahukah engkau berapa banyak di antara mereka yang tewas akibat dipatuk ular peliharaan itu?�

�Ya, kami tahu itu.�

�Tidakkah engkau mengetahui juga bagaimana ulama-ulama Kozhikode hampir selalu mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa berdoa langsung kepada Allah adalah sesuatu hal yang mustahil bisa dilakukan, karena manusia terlalu kotor dan penuh dosa? Tahukah engkau bahwa mereka mewajibkan kepada pengikut-pengikutnya untuk menggunakan wasilah kepada wali-wali dalam memohon pertolongan Allah dan yang diwalikan itu ternyata adalah diri ulama itu sendiri?�

�Kami tahu itu, Paman. Mereka berdalih dengan iktibar bahwa orang awam biasa tidak akan mungkin bisa bertemu raja tanpa melewati pengawal kerajaan atau orang-orang yang dekat dengan raja. Sementara, para wali Allah adalah sahabat-sahabat Allah yang senantiasa berkenan menjadi wasilah untuk menyampaikan doa umat kepada Allah Yang Mahasuci. Tapi Paman, bukankah wasilah melalui wali-wali diperbolehkan bagi orang awam?�

�Wasilah tidak dilarang asalkan yang dijadikan wasilah adalah benar-benar wali Allah yang sempurna (kamil al-mukamil). Tapi, berapa banyak di antara ulama atau kuburan yang disucikan orang-orang itu sesungguhnya tidak terkait dengan keberadaan wali Allah? Tidakkah engkau mengetahui, ulama Kozhikode dari waktu ke waktu selalu berusaha meyakinkan para pengikutnya agar mempercayai bahwa mereka adalah wali Allah? Padahal, berapa banyak di antara mereka itu sejatinya adalah pembohong besar? Mereka banyak yang berbohong mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw. dengan membuat susunan silsilah palsu.�

�Sungguh menyedihkan nasib umat muslim di negeri ini. Sebab, mereka dipimpin oleh ulama-ulama yang tidak mencerminkan citra pewaris Nabi: Suka menumpuk kekayaan. Gemar menghimpun tanah wakaf untuk dijadikan milik pribadi. Mempekerjakan murid-murid di tanah-tanah itu tanpa upah sepeser pun. Lalu, menempatkan diri sebagai pengabsah bagi kebijakan-kebijakan penguasa yang sering menzalimi masyarakat. Melipat-lipat dan membentuk tafsiran ayat-ayat Allah sesuai kepentingan penguasa yang menyuap mereka. Menata dalil-dalil untuk menguntungkan kepentingan mereka. Sungguh, kemuliaan dan keluhuran ulama sebagai wakil al-Alim di muka bumi telah mereka tukar dengan pengabdian membuta kepada harta benda dan kekuasaan. Mereka tanpa punya rasa malu telah menekuk lutut dan memperbudak diri sendiri kepada penguasa dengan imbalan sangat murah,� kata Abdul Jalil tegas.

�Apakah mereka akan dibinasakan Allah?�

�Aku tidak menangkap sasmita bahwa mereka bakal dibinasakan Allah,� kata Abdul Jalil datar. �Aku hanya menangkap sasmita mereka sedang dicambuk oleh murka Allah, seolah-olah hewan gembala dihardik agar tidak menyimpang jauh dari padang gembalaan. Aku menangkap sasmita, mereka sedang diperingatkan Allah dengan bahasa perlambang agar tidak larut di dalam lingkungan yang merusak tiang-tiang penyangga Tauhid. Tetapi, aku tidak yakin mereka bisa cepat tanggap dan sadar akan kekeliruannya. Aku malah melihat mereka bakal bercerai-berai, diusir dari tanah kelahirannya oleh cambuk Allah.�

�Apakah itu bermakna bahwa Allah akan mencambuk mereka dengan lebih keras lagi?�

�Kelihatannya akan seperti itu,� kata Abdul Jalil. �Tapi tahukah engkau, o Anakku, sesungguhnya pada bagian manakah perilaku ulama Kozhikode itu yang paling berbahaya bagi prinsip-prinsip Tauhid?�

�Menurut hemat kami, ada beberapa hal dari perilaku ulama Kozhikode yang kami anggap berbahaya bagi akidah Islamiyyah. Pertama-tama, mereka membiarkan pengikutnya menjadi lintah darat asal mereka tidak lupa memberi setoran. Mereka membuta-tuli terhadap larangan-larangan Allah mengenai riba. Yang tak kalah memuakkan dan menjijikkan, mereka suka sekali mengabsahkan kewalian sebuah kuburan dengan harapan setiap bulan mendapat setoran uang dari juru kunci penunggu kubur. Bahkan yang lebih memuakkan, mereka tanpa kenal malu bertengkar dengan sesama ulama untuk berebut jabatan mursyid tarekat. Sepengetahuan kami, banyak di antara mereka itu sejatinya tidak memenuhi syarat untuk menduduki jabatan mursyid, tetapi berkukuh menduduki jabatan mursyid karena alasan nasab. Bahkan, kami sering mendapati terjadinya perseteruan sengit antarmursyid yang berujung pada pertumpahan darah para jama�ah.�

�Itulah yang aku katakan berbahaya bagi Tauhid. Sebab mengabsahkan riba, �memperdagangkan� kuburan dengan modal kebohongan, memutar-balik ayat-ayat suci untuk kepentingan kekuasaan, dan bertarung memperebutkan kemursyidan adalah tindak kefasikan yang tidak boleh dibiarkan. Coba renungkan, betapa berbahayanya jika mursyid satu sama lain mengkafirkan dan menghalalkan darah masing-masing. Bagaimana mungkin guru-guru tarekat yang seharusnya berakhlak mulia dan menjadi panutan tiba-tiba menjelma wujud diri sebagai tukang fitnah, tukang hasut, tukang mengkafirkan sesamanya, dan suka mencelakakan guru tarekat lain demi kepentingan pribadi? Sungguh, keadaan ini akan merobek-robek citra ajaran tasawuf yang agung dan suci,� kata Abdul Jalil.

�Apakah kita perlu memberi peringatan kepada mereka, Paman?�

�Sesungguhnya tidak perlu,� kata Abdul Jalil datar. �Sebab, yang wajib kita utamakan adalah menjaga Tauhid saudara-saudara kita di Nusa Jawa.�

�Bukankah kita berkewajiban mengingatkan saudara-saudara kita seiman di mana pun berada?�

�Itu memang benar, Anakku. Tetapi, engkau harus tahu bahwa pada masing-masing tempat dan masing-masing kaum, sejatinya sudah ada orang-orang yang ditugaskan Allah untuk memelihara dan menjaga keseimbangan. Mereka akan menjalankan tugas tanpa peduli apakah mereka akan dimusuhi atau didukung kaumnya. Masing-masing mereka tidak boleh melanggar wilayah yang lain.�

�Maksud Paman, apakah mereka itu wali-wali Allah?�

�Satu saat nanti engkau akan mengetahui rahasia itu.�

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers