Senin, 06 Februari 2017

KESADARAN BURUNG

Kesadaran Burung

Kesadaran burung adalah kesadaran yang diperoleh seorang penempuh (salik) selama tahap-tahap perjalanan ruhani melampaui kedudukan (maqamat) menuju Kesatuan (Tauhid). Bagaikan seekor burung, seorang salik yang sudah mencapai tahap ini akan menyaksikan dunia sebagai tempat hinggap sementara dan dapat ditinggalkan kapan pun dikehendaki. Segala sesuatu yang terkait dengan kecintaan terhadap dunia (hubb ad-dunya) sudah menyingsing bagaikan matahari menyeruak di tengah gumpalan awan hitam. Dunia telah menjadi sesuatu yang rendah di bawahnya. Pada tahap ini sang salik akan merasakan getar-getar cinta (hubb) seorang pecinta (muhibb) untuk mengarahkan pandangan kepada Kekasih (Mahbub) sehingga yang lain (ghair) akan terabaikan.

Kesadaran burung adalah kesadaran sang salik melihat dunia sebagai sekadar tempat berpijak untuk hinggap, makan, istirahat, bermadu kasih, tidur, dan bersarang. Atau, kesadaran makhluk berkedudukan tinggi yang selalu mengarahkan pandangan ke hamparan kehidupan di bawahnya. Atau, kesadaran untuk selalu melimpahkan segala sesuatu dari atas tanpa pernah menengadah dari bawah. Atau, kesadaran untuk selalu memberi tanpa pernah meminta. Atau, kesadaran seorang salik yang sudah di ambang batas antara alam kasatmata dan alam tak kasatmata. Atau, kesadaran untuk memaknai angkasa kosong sebagai Tujuan akhir dari Kebebasan yang didambakannya, meski sayap-sayapnya telah patah dan tubuhnya terbanting menjadi bangkai di muka bumi. Di atas semua gambaran itu, mereka yang sudah memiliki kesadaran burung adalah cermin dari jiwa merdeka yang tak sudi bertekuk lutut kepada sesama, meski kepadanya disediakan sangkar emas dan limpahan makanan.

Meski kesadaran burung nilainya lebih tinggi dibanding kesadaran hewan melata dalam rentang perjalanan ruhani seorang salik, kesadaran burung masih terjenjang berdasarkan tingkat-tingkat kedudukan (maqamat) yang mencitrai makna keburungan. Ada kesadaran burung gagak yang tak mampu terbang tinggi dan jauh: itulah kesadaran yang masih tercekam lingkaran angan-angan (al-wahm) yang memunguti serpihan-serpihan bangkai kamalasan dan cepat lupa diri jika dipuji-puji. Ada kesadaran burung merak yang tak mampu terbang tinggi dan jauh: itulah kesadaran yang cenderung membusungkan dada dan membentangkan bulu-bulu untuk memamerkan keindahan citra dirinya sebagai yang terbaik dan terindah di antara segala burung. Ada pula kesadaran bangau yang pintar bertutur kata, namun cenderung memuji diri dan selalu memamfaatkan �udang-udang� yang percaya pada ucapannya.

Pada tingkat-tingkat kedudukan selanjutnya ada yang disebut kesadaran burung beo, yang cenderung bangga dan berpuas diri bisa berkata-kata menirukan kata-kata orang bijak tanpa tahu maknanya. Ada kesadaran burung pipit yang cenderung berbangga diri hidup dalam kawanan-kawanan dan kemudian membanggakan kawanannya sebagai yang paling baik dan benar. Ada kesadaran burung merpati yang meski mampu terbang tinggi dan jauh, cenderung gampang terbujuk oleh kemapanan sehingga menjadi hewan peliharaan yang jinak. Yang tergagah dan terperkasa adalah kesadaran burung rajawali; sebuah kesadaran yang terbang tinggi dan jauh di tengah kesenyapan angkasa, berkawan kesunyian dan keheningan, bersarang tinggi di puncak tebing karang, tidak makan jika tidak lapar, tidak minum jika tidak haus, dan selalu bertasbih memuji Penciptanya dengan suara garang digetari makna rahasia: haqq�haqq�haqq!

Raden Ketib yang sadar dirinya telah memiliki kesadaran burung sering merasakan kegamangan ketika belajar terbang mengepakkan sayap jiwanya menembus angkasa luas tanpa batas. Ia gamang karena belum tahu apakah kesadaran yang dimilikinya itu kesadaran gagak, bangau, merak, pipit, beo, merpati, atau rajawali. Ia hanya merasa telah menjadi seekor burung yang setiap saat dengan ringan dapat terbang meninggalkan bumi. Di tengah kegamangan itulah ia menyaksikan angkasa sekitarnya penuh dilintasi kelebatan burung yang mengepakkan sayap-sayapnya dengan suara gemuruh; burung gagak hitam, burung bangau yang putih, burung merak yang aneka warna, burung beo yang hitam dengan jambul kuning, burung pipit yang coklat, burung merpati yang kelabu, dan burung rajawali yang coklat bersalut putih.

Di tengah kelepak sayap burung-burung yang terbang memenuhi angkasa itu, tanpa terduga dan terbayangkan sebelumnya tiba-tiba Raden Ketib menyaksikan bayangan Sang Maut membentangkan sayap di atas angkasa Nusa Jawa bagaikan bayangan burung raksasa yang mengerikan. Peristiwa menakjubkan itu disaksikannya ketika ia melakukan perjalanan dari kediaman Pangeran Fadhilah Khan di Caruban ke kediaman Raden Sahid, Susuhunan Kalijaga, di Demak. Sepanjang perjalanan yang dilakukannya itu, baik dengan perahu maupun dengan berjalan kaki, ia terus-menerus mendengar berbagai cerita tentang Sang Maut yang rakus dan tak kenal puas menghirup napas kehidupan yang berpusar-pusar di tengah kelebatan pedang, tombak, panah, dan keris pusaka yang tersebar di gunung, lembah, bukit, hutan, sawah, desa, dan kuta di Nusa Jawa. Bahkan, saat berada di Demak ia mendengar jeritan Sang Maut begitu mengerikan seolah-olah ledakan halilintar yang membelah cakrawala jiwanya.

Para pelaut menuturkan kepadanya, meski Sang Maut tidak seganas dan serakus tahun-tahun sebelumnya, napas kehidupan yang dihirup-Nya pada tahun-tahun belakangan masih menggemakan tembang Kematian di berbagai sudut Nusa Jawa. Di tanah Blambangan yang membentang di timur Nusa Jawa, tembang Kematian masih terdengar mengharu biru di tengah kelepak sayap Sang Maut yang menggemuruh di Pajarakan, Besuki, dan Demung. Sementara para pedagang di pedalaman menuturkan, di tanah Pasir yang menghampar di selatan Nusa Jawa, Sang Maut tengah mengumandangkan kidung Kematian di Bocor, Wirasabha, dan Maron. Melalui pandangan mata batin (�ain al-bashirah), Raden Ketib memang menyaksikan Sang Maut mengejawantahkan keberadaan-Nya laksana hamparan mendung kelabu tersalut cahaya subuh dengan berjuta sayap Kematian mengambang di cakrawala.

Ketika Raden Ketib menjumpai para kawi yang bijak dan waskita sepanjang perjalanan ke Demak, ia beroleh petunjuk bahwa sejak zaman purwakala Sang Maut telah menampakkan kesetiaan dan kecintaan pada Nusa Jawa. Kesetiaan Sang Maut laksanan kesetiaan burung raksasa Kematian di alam dongeng yang setia menunggu Pohon Kehidupan tempatnya bersarang. Selama puluhan abad Sang Maut dengan keganasan tiada tara nyaris tak pernah beranjak dari pohon Kehidupan yang disebut Nusa Jawa. Dari waktu ke waktu, Sang Maut dengan kerakusan menakjubkan menggelar pesta darah, menyantap penghuni Nusa Jawa bagaikan burung raksasa Kematian menyantap kawanan ulat yang memenuhi penjuru pohon.

Aneh, tutur para kawi nan bijak, manusia-manusia penghuni Nusa Jawa yang bagaikan kawanan ulat itu secara ajaib tidak pernah habis, meski dijadikan santapan dalam pesta darah Sang Maut. Ulat-ulat itu terus berdatangan ke Pohon Kehidupan Nusa Jawa. Dengan beriap-riap mereka bermunculan dari pohon-pohon sekitar, seolah-olah sengaja menyuguhkan diri untuk disantap. Demikianlah, sang burung raksasa Kematian akhirnya tak pernah beranjak pergi dari Pohon Kehidupan yang menyuguhkan santapan lezat. Sambil berkicau dan menjerit-jerit garang sang burung raksasa Kematian menyantap dengan lahap manusia-manusia ulat penghuni Pohon Kehidupan Nusa Jawa sebagai makanan kesukaan-Nya.

Kepada Raden Ketib para kawi menuturkan, sejak zaman purwakala Sang Maut telah beribu-ribu kali menjadikan penghuni Nusa Jawa sebagai hidangan lezat dalam pesta darah. Tidak satu pun penghuni Nusa Jawa yang ingat berapa kali perhelatan pesta darah dilakukan. Mereka hanya bisa menandai bahwa citra Kematian bagi penghuni Nusa Jawa adalah berwarna merah laksana darah yang tumpah pada pesta tersebut. Para kawi sejak zaman purwakala menggambarkan kegemaran Sang Maut menyantap penghuni Nusa Jawa itu sebagai kegemaran penghuni Nusa Jawa mengunyah buah pinang dan sirih yang mengeluarkan cairan berwarna merah. Kematian mereka gambarkan sama merahnya dengan air kunyahan sirih dan pinang. Kematian adalah darah. Kematian adalah air kunyahan sirih. Kematian adalah air kunyahan pinang. Kematian adalah merah. Lantaran itu, kata pejah (Jawa Kuno: mati), mengandung perlambang yang sama dengan kata pejah (Jawa Kuno: pinang) yang jika dikunyah menghasilkan air berwarna merah. Kata seda (Jawa Kuno: mati) pun mengandung makna perlambang yang sama dengan kata alirkan air berwarna merah. Bagi penghuni Nusa Jawa, Kematian adalah darah merah. Darah adalah Kematian. Kematian adalah merah. Merah adalah Kematian.

Di tengah kegemaran Sang Maut mengunyah penghuni Nusa Jawa bagaikan kegemaran mereka mengunyah pinang dan sirih, di tengah kuatnya kesan bahwa Kematian adalah darah dan merah, tiba-tiba muncul seorang guru manusia yang dengan aneh mengajarkan manusia untuk �belajar mati�, �belajar mengakrabi Kematian�, dan �mencintai Sang Maut�. Aneh memang. Di tengah orang-orang yang takut dengan Kematian justru ada yang menyampaikan ajaran sebaliknya. Guru manusia itulah yang dikenal dengan nama Syaikh Datuk Abdul Jalil atau masyhur dengan sebutan Syaikh Lemah Abang (tanah merah), Syaikh Sitibrit (tanah merah), Syaikh Jabarantas (yang berpakaian compang-camping), dan Susuhunan Binang (raja merah), yang semuanya merujuk dengan kata merah: lambang Kematian.

Keanehan ajaran Syaikh Lemah Abang tentang Sang Maut dan Kematian di tengah orang-orang yang akrab dengan Kematian ternyata telah menimbulkan berbagai kesan dan pandangan beragam dari mereka yang belum mengenal secara dekat baik pribadi maupun ajaran sang guru manusia tersebut. Ada yang menganggap Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan ajaran sesat: mati adalah hidup dan hidup adalah mati. Ada pula yang menganggap Syaikh Lemah Abang sesat karena telah menyuruh pengikutnya untuk bunuh diri mencari mati. Bahkan, tak kurang ada yang beranggapan Syaikh Lemah Abang adalah Kematian itu sendiri, titisan Hyang Yamadipati Sang Pencabut Nyawa, sehingga siapa pun yang berdekatan dengannya akan mati. Kematian adalah merah. Merah adalah Kematian. Lemah Abang yang bermakna tanah merah adalah tanah Kematian. Lemah Abang adalah tanah larangan, mala ning lemah, yang harus dijauhi.

Ketumpangtindihan dan kegandaan makna kata dalam bahasa Jawa, yang cenderung dikait-kaitkan dengan kerangka pikir otak-atik mathuk, itulah yang ditangkap Raden Ketib ketika ia beroleh penjelasan tentang liku-liku hidup Syaikh Datuk Abdul Jalil dari Raden Sahid yang dijumpainya di Selamirah (batu merah) di kaki Gunung Chandramukha (Merbabu). Rupanya, menurut kesan Raden Ketib, liku-liku hidup Raden Sahid tak jauh berbeda dengan mertuanya, Syaikh Datuk Abdul Jalil. Maksudnya, meski orang mengatakan Syaikh Datuk Abdul Jalil tinggal di Lemah Abang, kenyataan menunjuk bahwa guru manusia itu selalu berkeliaran ke mana-mana untuk menyampaikan ajarannya. Hal serupa menunjuk pula pada Raden Sahid. Kadilangu yang dianggap sebagai kediaman Raden Sahid ternyata hanya merupakan kediaman istri dan putera-puterinya. Raden Sahid sendiri nyaris tak pernah berada di rumah, karena mengikuti jejak mertuanya untuk menyampaikan ajaran Tauhid kepada manusia-manusia yang berada di dalam kegelapan akal dan budi yang diliputi karat kejahilan. Lantaran itu, Raden Sahid dikenal dengan sebutan masyhur Syaikh Malaya (guru ruhani pengelana).

Di bawah cahaya rembulan yang menerangi punggung Gunung Chandramukha, di dalam bayangan atap balai-balai yang berdiri di antara batang-batang pohon randu alas di ujung desa Selamirah, di tengah terkaman rasa dingin malam, Raden Ketib duduk bersila di atas hamparan lampit (tikar rotan). Di hadapannya tersuguh aneka kue lezat yang disediakan murid Raden Sahid, Ki Luwung Salawe (Jawa Kuno: kehampaan sebesar benang), yang menemaninya selama menunggu Raden Sahid. Meski dua belas jenis penganan lezat seperti juwadah, ketan srikaya, arang kambang, serabi, sagon, cucur merah, cucur putih, ketan, wajik, buah jeruk, durian, dan kepundung yang terhidang di depannya sangat menarik selera dan mengandung makna perlambang, Raden Ketib justru sangat terkesan dengan penampilan sederhana lelaki setengah baya itu. Ia menangkap sasmita bahwa Raden Sahid sengaja menguji dirinya dengan perlambang Ki Luwung Salawe dan kedua belas jenis penganan yang disuguhkan itu. Lantaran itu, setelah saling diam beberapa jenak, Raden Ketib bertanya kepada Ki Luwung Salawe, �Maaf Paman, jika boleh tahu, apakah makna perlambang di balik dua belas jajanan yang Paman suguhkan ini?�

Ki Luwung Salawe tersenyum sambil mengangguk-angguk dan berkata dengan nada menguji, �Bagaimana Raden bisa mengira bahwa jajanan yang kami suguhkan memiliki makna perlambang?� �

Saya tidak tahu, Paman,� jawab Raden Ketib polos. �Saya hanya menangkap sasmita bahwa jajanan itu mengandung makna perlambang. Bahkan nama Paman, Luwung Salawe, pun menurut penangkapan saya memiliki makna perlambang yang sangat dalam. Jadi, saya merasa Kangjeng Susuhunan memberi pelajaran kepada saya melalui perlambang-perlambang. Karena itu, saya mohon agar Paman berkenan menerangkan makna perlambang di balik dua belas jenis jajanan ini.� �

Saya tidak akan memaparkan secara rinci tentang makna masing-masing perlambang, tetapi dua belas jajanan itu adalah perlambang pancaran Ahmad bila mim dalam tujuh selubung nafsu manusia, yaitu hayawaniyyah, musawwilah, ammarrah, lawwammah, mulhamah, muthma�innah, wahidah, dan lima tahap pemunculannya menjadi manusia sempurna (insan kamil), yaitu alfah, khasafah, antifah, amarullah, Ahmad.� �

Terima kasih, Paman. Saya sudah paham. Saya paham jika tahap kemunculan Ahmad bila mim sebagai Ahmad sang manusia sempurna tidak bakal terwujud tanpa melalui Luwung Salawe,� kata Raden Ketib. �

Begitu juga ketika Ahmad terserap kembali ke dalam liputan Ahmad bila mim mesti melalui Luwung Salawe,� ujar Ki Luwung Salawe.

Ketika Raden Ketib akan berkata-kata lebih lanjut, terdengar suara orang berdeham dari arah rumah. Raden Ketib menoleh. Di ujung pintu ia melihat Raden Sahid berjalan dengan langkah mantap ke arahnya. Ki Luwung Salawe berdiri dan bergegas ke dalam lalu keluar lagi dengan membawa cerana tempat sirih. Saat Raden Sahid duduk berhadap-hadapan dengan Raden Ketib, Ki Luwung Salawe menempatkan cerana sirih di depannya dan kemudian menghilang ke dalam rumah. Setelah duduk beberapa jenak, Raden Sahid menatap mata Raden Ketib seolah-olah hendak mengukur pedalamannya.

Raden Sahid yang masyhur dikenal orang dengan sebutan Syaikh Malaya adalah laki-laki sederhana, namun diliputi kewibawaan besar. Usianya kira-kira lima puluh tahun lebih sedikit. Tubuhnya lebih tinggi dan lebih tegap dibanding orang Jawa pada umumnya. Kulitnya coklat kemerahan seperti tembaga. Wajahnya bulat seperti memancarkan cahaya keagungan. Hidungnya mancung dengan hiasan kumis tebal di bawahnya. Alisnya yang tebal melengkung laksana pedang. Matanya yang lebar berkilat-kilat memancarkan kewaskitaan rajawali. Sekepal janggut yang menggantung di dagunya menambah kesempurnaan citra seorang guru suci. Pakaian yang dikenakannya sangat sederhana sebagai layaknya orang kebanyakan: baju, celana, jubah, dan destar warna hitam terbuat dari bahan kain kasar. Kain batik kawung yang menutupi bagian bawah tubuhnya terbuat dari bahan kain kasar. Ikat pinggang lebar yang dikenakannya pun terbuat dari bahan kulit yang kasar. Hanya sebilah keris bergagang gading dengan serasa emas yang diselipkan di perutnya yang menjadi penanda bahwa dia bukanlah orang dari kalangan kebanyakan.

Duduk berhadapan beberapa jenak di hadapan Raden Sahid yang berpenampilan bersahaja itu, Raden Ketib merasakan semacam getar kewibawaan seekor harimau menerkam jiwanya. Ia merasakan semacam rasa gentar, galau, kikuk, dan ketundukan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lantaran itu, saat Raden Sahid mempersilakannya menikmati kue-kue yang disuguhkan, ia hanya mengangguk sambil tersenyum blingsatan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Ia hanya menunggu dengan menatap lantai di depannya dengan dada terasa berdebar-debar. Ketika Raden Sahid mengambil sedah (sirih), hapu (kapur), peja (pinang) dan mempersilakannya, barulah ia mengambil sirih dan mengunyahnya. Setelah meludah beberapa kali ke dalam cerana, Raden Sahid pun berkata dengan suara penuh wibawa. �

Jika engkau ingin menangkap citra Syaikh Datuk Abdul Jalil, o kulup, hendaknya engkau mengambil gambaran alam yang tergelar di hadapanmu sebagai perlambang. Jika engkau melihat deretan pohon randu alas yang tegak di depanmu, hendaknya engkau menangkap makna yang sama dari kehidupan manusia yang saling berusaha meninggikan keberadaan diri seperti pohon-pohon yang tegak menjulang itu. Sebab, di tengah pohon-pohon yang tegak meninggi itu Syaikh Datuk Abdul Jalil telah membiarkan dirinya menjadi tanah yang dijadikan tumpuan bagi tegaknya pohon-pohon tersebut. Ya, tanah yang membiarkan pohon-pohon yang tinggi maupun yang rendah tumbuh di atasnya. Tanah yang membiarkan dirinya diinjak-injak dan dilukai oleh para penanam. Tanah yang selalu bersedia merangkul kayu-kayu tumbang yang membusuk. Tanah yang menjadi tumpahnya darah para makhluk di atasnya sejak lahir hingga mati. Tanah yang tak pernah dihargai, tetapi sangat dicintai dan diperebutkan oleh para penghuninya.� �

Jika engkau sudah paham bahwa gambaran Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah tanah maka engkau akan paham bahwa mereka yang menganggapnya sebagai pohon lebat yang berbuah telah keliru dalam memaknai keberadaannya. Sebab, makna di balik perlambang sebatang pohon yang tinggi adalah semakin ia bergerak naik ke atas hingga pucuknya menjulang ke angkasa maka semakin dalam pula akarnya menyusup ke bumi menuju ke dalam kegelapan. Begitulah manusia yang berusaha bermegah-megah ke puncak kemasyhuran, sesungguhnya pada saat yang sama ditarik oleh naluri kegelapan jiwanya ke dalam lubang kejahatan di dalam jiwanya. Itu sebabnya, Syaikh Datuk Abdul Jalil menolak usaha bermegah-megah diri. Sebaliknya, ia berjuang keras membiarkan keberadaan dirinya sebagai tanah sehingga jejak-jejak kemanfaatan hidupnya tak pernah diketahui orang lain, kecuali mereka yang memahami hakikat pohon-pohon dan tanah.� �

Hidup manusia memang seibarat pohon. Semakin ia berusaha meraih Kehidupan sempurna dan abadi bagaikan pohon tumbuh tegak menjulang ke atas, maka kegelapan dan Kematian akan menariknya ke bawah bagaikan akar-akar pohon menembus kegelapan bumi. Itu sebabnya, Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan tentang Kematian agar tumbuh bersemi Kehidupan yang sempurna dan abadi. Kematian dan Kehidupan saling menarik ibarat akar dan pucuk. Di tengah tarik-menarik itulah cakrawala kehidupan manusia akan diwarnai perubahan-perubahan tatanan, sebagaimana pohon-pohon memiliki citra musim yang terus berubah.� �

Apakah itu berarti para pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil tidak boleh terikat dengan keberadaannya, sebagaimana para salik tidak boleh terikat pada duniawi?� tanya Raden Ketib. �

Engkau sudah memahaminya, o kulup,� kata Raden Sahid bijak. �Sebagai seorang pengajar Tauhid, ia telah berjuang keras untuk mendobrak semua sekat yang menghijab Sang Ahad. Lantaran itu, ia telah menegakkan rambu-rambu bagi para pengikutnya agar tidak menempatkan dirinya sebagai hijab bagi Kebenaran. Tentang usahanya mendobrak sekat-sekat hijab itu, pernah aku alami dengan penuh kebingungan setelah aku mengikuti perjalanan bersamanya selama lima tahun mengembara ke berbagai tempat.� �

Sungguh kami merasa beruntung jika Paduka berkenan menuturkan hal tersebut kepada kami,� pinta Raden Ketib berharap. �

Terus terang, sepanjang mengikuti perjalanan membuka dukuh-dukuh bercitra mandala dan mengajarkan Sasyahidan di berbagai tempat di Nusa Jawa, aku sudah seperti anaknya sendiri. Aku malah sudah menganggapnya sebagai pembimbing ruhaniku yang sejati. Aku menganggapnya sebagai mursyid pengejawantahan ar-Rasyid, yang menjadi jalan bagiku menuju Kebenaran (al-Haqq). tetapi, saat aku sudah begitu meyakini anggapanku itu, tiba-tiba ia mengusirku dan tidak mau lagi aku ikuti. Semula aku terkejut dan bingung sebab aku tidak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga aku diusir dan tidak diperbolehkan lagi mengikuti perjalanannya. Saat itu aku rasakan dunia ini seperti runtuh. Aku hampir putus asa. Dan pada detik-detik krisis kepercayaan terhadap diri sendiri itulah tiba-tiba aku ingat akan ajarannya tentang Ngalah (tawakal), yakni memasrahkan segala urusan kepada Gusti Allah.� �

Akhirnya, dengan bekal Ngalah itulah aku hadapkan kiblat hati dan pikiranku hanya kepada Allah. Seluruh keraguanku kusingsingkan. Seluruh keinginanku kusingsingkan. Bahkan, seluruh gantungan harapanku kusingsingkan. Saat semua menyingsing, terbukalah hijab demi hijab yang menyelubungi Kebenaran. Saat itulah aku beroleh pencerahan ruhani sebagaimana yang pernah engkau alami saat mencapai kesadaran burung. Dan ternyata, saat itu pula Syaikh Datuk Abdul Jalil datang menemuiku sambil berkata, �Sesungguhnya, aku mengusirmu dengan tujuan utama agar aku tidak menjadi hijab antara engkau dan Dia.� Saat itulah aku baru sadar tentang ketinggian martabatnya sebagai pengajar Tauhid. Bahkan, setelah itu ia menikahkan aku dengan puterinya Zainab. Sebagai lambang keberhasilanku dalam beroleh pencerahan, ia mengganti nama Zainab menjadi Ratu Arafah.� �

Kami pernah mendengar bahwa Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan martabat tujuh dan membagi kedudukan pengikut-pengikutnya ke dalam jenjang-jenjang kedudukan. Apakah pernikahan Paduka dengan puterinya yang dinamai Ratu Arafah itu memiliki keterkaitan makna dengan kedudukan Paduka sebagai pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil?� tanya Raden Ketib dengan rasa ingin tahu berkobar-kobar.

Raden Sahid terdiam. Beberapa kali dia menarik napas panjang. Sejenak setelah itu dia berkata, �Sesungguhnya, beliau tidak pernah membagi-bagi kedudukan pengikut-pengikutnya. Tetapi, pengikut-pengikutnya sendirilah yang telah membagi-bagi kedudukan masing-masing berdasar tingkatan maqam, yang hal itu dilakukan sangat rahasia. Yang tertinggi di antara pengikut-pengikut adalah yang digolongkan ke dalam kelompok Ahadiyyah, kemudian kelompok Wahdat, kelompok Wahidiyyah, dan seterusnya.� �

Bolehkah kami mengetahui salah satu di antara mereka itu, o Paduka Guru?� pinta Raden Ketib. �

Salah satu di antara pengikutnya yang menggolongkan diri ke dalam kelompok Ahadiyyah adalah Pangeran Karucil (Jawa Kuno: belanga kecil), bangsawan asal Blambangan yang mengajarkan Tauhid di Gunung Argapura. Ia dikenal dengan nama Syaikh Akadiyat. Yang tergolong ke dalam kelompok Wahdat salah satunya adalah Susuhunan Wahdat Cakrawati, ahli wahdat, yang mengajarkan Tauhid di Bonang, Tuban, Komalasa, dan Karang Kemuning. Yang tergolong kelompok Wahidiyyah salah satunya adalah Pangeran Pringgabhaya yang mengajarkan Tauhid di Pamotan. Yang cukup banyak di antara kelompok-kelompok tersebut adalah dari kelompok Wahidiyyah. Mereka menjadi pengajar Tauhid hingga ke luar Nusa Jawa. Bahkan, belakangan aku mendengar kabar ada lagi kelompok ruwahan (arwah), yang dipimpin Kyayi Jasim Latif di Kabumian dan Kyayi Mujasim di Mataram,� kata Raden Sahid. �

Murid-murid Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajar hingga ke luar Nusa Jawa?� gumam Raden Ketib heran. �

Ya, terutama setelah ajarannya dilarang pada masa awal pemerintahan Tranggana, sultan Demak yang sekarang. Saat itulah pengikut-pengikutnya meninggalkan kampung halaman dan menebar ke berbagai tempat di bumi Allah. Sebagai tanda bahwa mereka adalah pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil, mereka menamai kediaman barunya dengan Lemah Abang, Tanah Merah, Batu Merah, Sela Mirah, Lemah Putih, Batu Putih, Lemah Ireng, Kemuning, Karang Kemuning, dan Kajenar,� ujar Raden Sahid. �Kenapa ada merah, putih, hitam, dan kuning? Bukankah beliau hanya membuka Dukuh Lemah Abang?� �

Sesungguhnya, yang ia buka bukan hanya Dukuh Lemah Abang, melainkan empat jenis dukuh yang di masa silam dikenal dengan sebutan caturbhasa mandala. Ia mendirikan mandala-mandala yang dijadikan sebagai tempat berpijak bagi ajaran Islam di Nusa Jawa. Tetapi, karena dukuh pertama yang ia buka adalah Lemah Abang maka ia dikenal orang dengan sebutan Syaikh Lemah Abang,� papar Raden Sahid. �

Mohon ampun Paduka Guru, apakah sesungguhnya makna sejati dari nama Lemah Abang?� Raden Ketib ingin tahu. �Sebab, banyak tempat yang bernama Lemah Abang, namun ternyata tanahnya tidak merah. Selain itu, kenapa pula Syaikh Datuk Abdul Jalil disebut pula dengan nama Syaikh Siti Jenar yang bermakna sang guru ruhani dari tanah kuning? Apakah makna merah dan kuning di dalam nama yang disandangnya?�

Raden Sahid tercenung beberapa saat mendapat pertanyaan dari Raden Ketib. Setelah menarik napas berat beberapa kali dia berkata dengan suara lain, �Nama Lemah Abang, Sitibrit, Siti Jenar, dan Lemah Kuning adalah nama-nama yang menyiratkan makna pengorbanan rahasia anak manusia demi lahirnya zaman baru. Nama-nama itu adalah tonggak-tonggak sejarah perubahan di suatu kurun zaman. Nama-nama yang tetap dikenang meski dibalut bermacam-macam gambaran membingungkan tentang maknanya. Hanya mereka yang memiliki kesadaran burung jua yang dapat mengetahui makna sejati di balik nama-nama itu.�

Read More ->>

Kamis, 02 Februari 2017

TEKA-TEKI SANG RAJAWALI

Teka-Teki Sang Rajawali

Ketika Abdul Jalil berpaling dan melihat Cermin Gaib di dalam dirinya, ia melihat kilasan-kilasan perwujudan berupa semacam kabut berasap yang tebal dan bergumpal-gumpal. Kabut berasap yang memancarkan cahaya merah menyala, kuning keemasan, dan hitam pekat. Itulah perlambang kekuasaan dari Yang Mengangkat (ar-Rafi�) dan Yang Menjatuhkan (al-Khafidh), yang menyulut api peperangan sebagai bagian dari kuasa-Nya dalam memelihara keseimbangan alam beserta isinya. Peperangan, apa pun alasan yang melatarinya, adalah keniscayaan dari sunnah Allah (hukum alam), di mana ar-Rafi� dan al-Khafidh selaku Rabb, menjalankan kehendak dari Rabb al-Arbab (Allah) untuk mempergilirkan kejayaan dan keruntuhan di antara manusia (QS. Ali Imran: 140).

Lantaran perang adalah bagian dari sunnah Allah demi keseimbangan alam seisinya, maka bagi mata yang waskita, di tengah gemuruh peperangan itu akan dapat menangkap kuasa-kuasa Ilahi berpusar-pusar dan berkeliaran menentukan arah dan alur peperangan. Sebagai salah satu di antara manusia yang memiliki kewaskitaan, di tengah kecamuk perang Caruban-Rajagaluh itu melihat kehadiran sejumlah kekasih Allah (aulia� Allah), malaikat-malaikat pencabut nyawa, dan makhluk-makhluk halus penghuni purwa Nusa Jawa.

Para kekasih Allah itu tanpa ada yang mengetahui tiba-tiba muncul di tengah galau pertempuran dalam wujud seorang prajurit rendahan, perwira, penabuh genderang, tukang masak, pengungsi, orang gila, dan bahkan manusia-manusia misterius dari alam gaib (ar-rijal al-ghaib). Di tengah gemuruh hujan, beberapa saat menjelang gerbang Kutaraja Rajagaluh akan dibuka, Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, dan Sri Mangana sempat berbincang-bincang dengan Wahisy al-Majdzub, Ibrahim al-Uryan, Syaikh Ahmad al-Bakhathi, tiga orang kekasih Allah yang dikenal dengan perilaku anehnya. Dengan menyamar sebagai juru jalir (pengawas pelacuran), Wahisy telah membawa para pelacur keluar dari kuta tanpa ditanyai ini dan itu oleh para prajurit Caruban yang mengepung kutaraja. Ibrahim al-Uryan dengan tubuh tanpa kain selembar pun menggiring para ibu dan anak-anak keluar dari kuta. Prajurit Caruban yang melihatnya tertawa-tawa dan menganggapnya gila. Sementara Syaikh Ahmad al-Bakhathi membawa para pendeta dan prajurit Rajagaluh yang terluka keluar dari kuta tanpa diketahui para pengepung.

Syarif Hidayatullah yang sekilas melihat perbincangan aneh itu terheran-heran. Bagaimana mungkin orang-orang terhormat seperti Sri Mangana, Syaikh Abdul Jalil, dan bahkan kakeknya sendiri berbincang-bincang dengan tiga gelandangan tidak waras; yang dua orang berpakaian kumal penuh tambalan dan yang seorang lagi telanjang tanpa pakaian. Malahan, dalam berbincang-bincang itu mereka berenam terlihat tertawa-tawa seolah tak peduli dengan keadaan sekitar. Dengan kepala dilingkari tanda tanya, sesaat setelah pertempuran usai, Syarif Hidayatullah bergegas menemui Abdul Jalil yang sedang mengetuk-ngetukkan sebatang kayu pemukul dan bertanya kenapa mereka berbicara akrab dengan tiga orang asing yang kelihatannya tidak waras.

Ketika Abdul Jalil memberi tahu bahwa ketiga orang aneh yang diajaknya berbincang-bincang itu adalah Wahisy, Ibrahim al-Uryan, dan Syaikh Ahmad al-Bakhathi, Syarif Hidayatullah amat terkejut. Sebab, sejak lama ia sering mendengar nama buruk ketiga orang tersebut. Itu sebabnya, dengan suara ditekan tinggi ia memprotes tindakan Abdul Jalil, �Kenapa Paman berbicara akrab dengan mereka? Bukankah ketiga orang itu terkenal di mana-mana sebagai orang tidak waras? Bukankah Wahisy itu orang gila yang suka berkeliaran di rumah-rumah pelacuran? Bukankah Syaikh Ibrahim al-Uryan itu dikenal sebagai orang gila yang suka telanjang jika berkhotbah di mimbar? Bukankah Syaikh Ahmad al-Bakhathi itu dikenal sebagai orang yang suka meludahi orang lain?�

�Mereka adalah kekasih-kekasih Allah, Anakku,� kata Abdul Jalil memutar kayu pemukul yang dibawanya.

�Saya ragu mereka wali Allah, Paman. Bagaimana mungkin kekasih Allah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syari�at Allah? Bagaimana mungkin kekasih Allah melakukan tindakan-tindakan rendah yang memalukan?� tanya Syarif Hidayatullah tak terima.

�Engkau kelak akan mengetahuinya, o Anakku,� kata Abdul Jalil membolak-balik kayu pemukulnya. �Sebab, apa yang engkau lihat dengan mata inderamu tidaklah menunjukkan Kebenaran Sejati tentang sesuatu. Orang-orang seperti Wahisy, misalnya, sekalipun tidur sekamar dengan seratus pelacur tidak akan terkena dosa sebagaimana ditetapkan hukum syari�at. Bahkan aku berani bersaksi, Wahisy tetap suci dan tak ternoda meski ia sudah bergaul dengan ribuan pelacur selama bertahun-tahun.�

�Bagaimana Paman bisa berkata seperti demikian?�

�Sebab aku tahu, jiwa Wahisy sudah menyatu dengan Jiwa Semesta. Dia sudah menjadi makhluk Semesta.�

�Maksud Paman?�

�Dia sudah bukan lagi laki-laki dan bukan pula perempuan. Dia sudah lepas dari jenis kelamin. Hanya tubuh manusiawinya saja yang berkelamin laki-laki, namun jiwanya merupakan semesta. Dan seperti makhluk-makhluk semesta yang lain; bulan, bintang, matahari, malaikat, iblis, Wahisy tidak kenal lagi perbedaan kelamin seperti layaknya manusia dan binatang sehingga kepadanya tidak bisa dikenakan hukum-hukum syari�at yang didasarkan pada penafsiran fiqhiyyah atas ayat-ayat Allah dan sunnah Rasul.�

�Karena itu, o Anakku, jika kelak engkau menjadi seorang guru manusia dan menemui orang-orang seperti Wahisy dan Ibrahim al-Uryan, kenakanlah kepada mereka itu hukum syari�at yang diberlakukan bagi orang gila. Maksudnya, tidak ada hukum syari�at yang melarang orang gila bergaul dengan pelacur. Tidak ada juga hukum syari�at yang melarang orang gila telanjang. Namun, hukum syari�at juga tidak melarang seseorang untuk berbicara dengan orang gila,� Abdul Jalil mendekap kayu pemukulnya.

Syarif Hidayatullah tertawa dan mengangguk-angguk mengisyaratkan bahwa ia sudah memahami masalah itu. Namun saat ia akan kembali ke kemahnya, tiba-tiba bahunya ditarik seseorang dari belakang. Ketika menoleh, ia melihat Syaikh Ibrahim al-Uryan dalam keadaan telanjang duduk di atas punggung seekor sapi. Syarif Hidayatullah yang tak mengetahui bagaimana sang syaikh dan sapi itu dalam sekejap tiba-tiba muncul di belakangnya, dengan tergagap menyampaikan salam. Namun, seperti orang tidak waras yang mengomel sendiri, tanpa menjawab salam Syarif Hidayatullah, Syaikh Ibrahim al-Uryan berkata dengan suara yang lain.

�Lihat burung-burung gagak yang terbang mengepakkan sayap di langit! Mereka berteriak-teriak di angkasa memuji keagungan Sang Maut dan memohon agar Penguasa kerajaan kematian itu turun ke medan perang. Lihat! Lihatlah bagaimana gagak-gagak itu mengiringi Sang Maut turun ke medan perang. Lihat! Apa yang dilakukan para gagak ketika Sang Maut menghantamkan sayap-Nya sehingga mengakibatkan beribu-ribu manusia bergelimpangan tanpa nyawa. Ya, gagak-gagak licik itu berkerumun-kerumun dan sambil memekik-mekik gembira mencabik-cabik mayat-mayat dengan paruhnya yang setajam pedang dan seruncing tombak.�

�Waspada! Waspadalah pada gagak-gagak hitam yang menyembunyikan pamrih serigala dan musang di balik bulu-bulunya yang legam. Tetapi, hendaknya engkau lebih waspada pada kawanan serigala dan musang yang akan keluar dari balik bulu gagak �gagak hitam itu. Sebab, telah termaktub di kitab langit (al-Lauh al-Mahfuzh) bahwa Sang Penentu (al-Muqtadir) telah menggoreskan Pena Mulia (al-qalam al-a�la), bahwa negeri-negeri timur di bawah langit akan dikerumuni dan dijadikan jarahan oleh kawanan serigala dan musang yang membawa malapetaka kegelapan bagi para penghuni bumi. Saat itulah cakrawala di daratan dan di lautan akan tertutupi oleh awan kegelapan sehingga penghuni bumi tidak bisa lagi mengenali satu sama lain karena sejauh mata memandang yang menampak di cakrawala hanyalah benda-benda (thaghut) dan wujud palsu dari angan-angan kosong (al-wahm). Saat itu manusia sudah tinggal menjadi kerangka kosong yang tak memiliki jiwa (ash-shuwar al-qa�imah). Ke mana pun penglihatan diarahkan, yang tampak hanyalah benda-benda yang lain (al-aghyar) yang menyimpang dari Kebenaran (al-Haqq).�

�Aku bukan peramal. Aku bukan tukang sihir. Aku juga bukan �orang berkelebihan� yang dapat melihat gambaran masa depan. Aku hanya seorang tidak waras yang kebetulan melihat dunia masa depan lewat alam khayalku. Ya, aku saksikan bagaimana kapal-kapal berlayar di lautan dan kapal-kapal tertambat di dermaga. Kapal-kapal itu tidak pula memuat manusia dan tidak memuat barang-barang kebutuhan manusia. Sebaliknya, kapal-kapal itu berisi serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa dari Kegelapan yang rakus dan tak pernah kenyang. Sungguh, telah aku saksikan kawanan makhluk mengerikan yang buas dan licik itu menjelma menjadi manusia-manusia berparas mengagumkan dan sangat santun, namun sangat berbahaya. Mereka akan mendatangi manusia dengan senyuman, namun tangan mereka yang tersembunyi di belakang punggungnya menggenggam pisau beracun. Setiap manusia yang lengah dan terpesona oleh ucapan-ucapan manis itu akan ditikamnya.�

�Waspada dan berhati-hatilah engkau, o manusia. Sebab, tikaman pisau beracun manusia-manusia palsu jelmaan serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa itu tidaklah membuat manusia mati. Tikaman pisau beracun itu hanya akan membuat hatimu berubah menjadi biru dan membeku. Tak lama setelah itu, hatimu akan menghitam dan membatu. Kemudian engkau akan menjadi mayat-mayat hidup yang berbaris di bawah perintah mereka. Ya, dunia baru yang dihuni manusia-manusia masa depan akan berisi mayat-mayat hidup yang ditinggal pergi oleh jiwa dan ruhnya. Sementara ruh mayat-mayat hidup itu terbang ke alam ruh (�alam al-arwah), jiwanya bergentayangan menjadi hantu-hantu hitam yang berkeliaran di muka bumi sebagai bayangan-bayangan hitam yang palsu dan menyesatkan. Dan tubuhnya menjadi timbunan daging busuk yang ke mana-mana menebarkan penyakit dan kematian.�

�Demikianlah, penglihatan yang aku tangkap dari dunia masa depan. Sesungguhnya, segala sesuatu yang mengerikan dari masa depan itu tidaklah terjadi kecuali semata-mata karena kehendak-Nya. Sesungguhnya, jika Allah menimpakan marabahaya (mudharat) kepada makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menghindarinya, kecuali Dia sendiri. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menolak kebaikan-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (QS. Yusuf: 107).�

Ketika Syaikh Ibrahim al-Uryan pergi dengan sapinya ke gugusan pohon yang tak lagi berdaun dan menghilang di balik senjakala, Syarif Hidayatullah mendekati Abdul Jalil dan berkata dengan suara tercekat di tenggorokan, �Apa yang pernah Paman ungkapkan tentang Dajjal, Ya�juj wa Ma�juj, yang bakal merusak dan menjarah kehidupan umat manusia barusan telah diungkap pula oleh Syaikh Ibrahim al-Uryan. Apakah yang harus kita lakukan untuk menghadapi mereka?�

�Menyiapkan adimanusia yang siap bertempur di segala medan,� kata Abdul Jalil memainkan kayu pemukul sambil menerawang ke gugusan langit yang mulai gelap. �Sebab, hanya adimanusia yang mampu memimpin manusia-manusia untuk bisa mengalahkan kawanan serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa jejadian itu.�

�Apakah kita akan membangun pertahanan di balik benteng-benteng peradaban sebagaimana pernah Paman katakan?� tanya Syarif Hidayatullah minta penjelasan.

�Ya,� kata Abdul Jalil mengetu-ketukkan kayu pemukulnya ke tanah. �Benteng-benteng peradaban yang dilingkari dinding adat kebiasaan dan syari�at. Benteng-benteng peradaban yang dibangun di atas landasan Tauhid.�

�Tetapi, Paman, apakah dengan itu kita tidak perlu membangun kekuatan bersenjata?�

�Kekuatan bersenjata tetap diperlukan untuk menjaga keseimbangan kekuatan dan memelihara jiwa ksatria para manusia dan adimanusia. Tetapi satu hal yang perlu diingat, aku sangat tidak menghendaki senjata-senjata pemuntah api seperti gurnita yang digunakan pasukan Terung. Sebab, gurnita mengingatkan aku pada senjata yang digunakan pasukan Dajjal, Ya�juj wa Ma�juj, yaitu ajij dalam bentuk yaf�ul dan maf�ul, yang bermakna �semburan api�. Bukankah gurnita itu menyemburkan api? Bukankah senjata gurnita itu yang membakar hutan-hutan di sekitar Kuta Rajagaluh?�

�Memang, dengan senjata-senjata penyembur api semacam gurnita, manusia bisa beroleh kemenangan di medan tempur. Tetapi, pemenang yang agung bukanlah mereka yang berhasil mengalahkan musuh-musuhnya di medan tempur, melainkan mereka yang bisa menaklukkan musuh tanpa pertempuran. Itulah sang pemenang agung sejati. Lantaran itu, menurutku, kita harus menghindari penggunaan senjata-senjata �penyembur api� sebagaimana Ya�juj wa Ma�juj. Sebab, senjata-senjata semacam itu tidak hanya merusak alam dan menghancurkan kehidupan makhluk di muka bumi, tetapi menjungkir-balikkan pula adat kebiasaan ksatria, dan yang paling berbahaya adalah menebarkan daya-daya setani di muka bumi,� kata Abdul Jalil.

�Saya paham, Paman,� kata Syarif Hidayatullah.

�Jika sudah paham, engkau harus berkemas-kemas untuk pergi meninggalkan Caruban.�

�Saya harus meninggalkan Caruban?� gumam Syarif Hidayatullah terkejut.

�Paduka kalifah mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengajakmu ke Banten. Dia akan menguji engkau sebagaimana dia telah menguji Raden Sahid. Ya, dia akan menguji apakah engkau mampu melampaui kemanusiaanmu untuk menjadi adimanusia,� kata Abdul Jalil mengetukkan kayu pemukulnya ke tanah.

�Dengan sukacita saya akan menerima ujian itu Paman,� kata Syarif Hidayatullah mantap.

�Berarti engkau harus siap membangun benteng pertahanan peradaban dan Tauhid di sana dan sekaligus menjadi panglima penguasa benteng,� Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu Syarif Hidayatullah dan kemudian membalikkan badan meninggalkan tempat seraya bertelekan pada tongkat pemukulnya.

�Paman hendak ke mana?�

�Menjalankan tugasku, mengajarkan sasyahidan kepada para calon adimanusia,� sahut Abdul Jalil sambil melangkahkan kaki melewati rumput-rumput dan bebatuan. Ketika sampai di sebuah belokan jalan yang dibatasi sebatang pohon besar tak berdaun, Abdul Jalil berpapasan dengan Pangeran Soka dan para pengawalnya yang membawa harta pampasan di atas kereta-kereta. Setelah saling bertegur sapa, Pangeran Soka berkata, �Kami mendapat amanat dari paduka kalifah, untuk memberikan bagian pampasan kepada Tuan Syaikh.�

�Pampasan perang untukku?� tukas Abdul Jalil heran. �Bukankah aku tidak ikut berperang? Bagaimana mungkin aku bisa mendapat bagian pampasan?�

�Tuan Syaikh telah menjadi pendamping dan penasihat kalifah sehingga berhak mendapat pampasan. Selain itu, kami tidak berani membantah titah paduka kalifah,� kata Pangeran Soka.

�Jika demikian, aku minta agar bagianku diberikan kepada Li Han Siang.�

�Diberikan kepada Li Han Siang?� sergah Pangeran Soka terheran-heran. �Bukankah dia sudah kaya raya?�

�Itu bukan hibah atau sedekah,� kata Abdul Jalil sambil berlalu, �tapi untuk membayar utangku.�

�Tuan Syaikh,� seru Pangeran Soka, �benarkah Tuan Syaikh berutang kepada Li Han Siang?�

�Ya.�

�Kalau boleh tahu, untuk apa Tuan Syaikh berutang? Bukankah orang seperti Tuan Syaikh sudah tidak butuh uang?� tanya Pangeran Soka terheran-heran.

�Apakah anehnya Syaikh Lemah Abang punya utang? Apakah engkau juga menganggap aneh jika mengetahui bahwa Nabi Muhammad Saw. pun pernah berutang?� kata Abdul Jalil melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan ke berbagai tempat dan menyampaikan ajaran sasyahidan, Abdul Jalil sampai ke suatu persimpangan jalan yang terletak di sebuah lembah yang aneh: suatu hamparan tanah berwarna hitam tanpa rumput dan tanpa semak-semak. Bukit-bukit karang yang bertonjolan di permukaan tanah tegak menjulang laksana barisan tombak ditancapkan di tanah berbatu. Di sekitar bukit-bukit karang itu terhampar beratus-ratus lubang tanpa dasar yang akan memerangkap siapa pun makhluk yang kurang waspada. Semua yang tergelar di lembah itu terlihat hitam; tanah, batu, pohon, bukit, awan, langit, bahkan cakrawala. Tidak satu makhluk pun dijumpai Abdul Jalil di lembah itu. Sebab, siapa pun tentu tidak suka datang ke tempat celaka yang disebut �lembah kejahilan� itu.

Tidak berapa jauh setelah Abdul Jalil melangkahkan kaki ke lembah hitam, ia melihat sesosok bayangan hitam manusia sedang duduk merenung di bawah sebongkah batu hitam di kaki bukit. Abdul Jalil mengerutkan kening menajamkan mata dan bertanya, �Siapakah engkau, o sosok hitam yang berkerudung selimut kebingungan?�

�Kami adalah anak-anakmu, o Syaikh Lemah Abang,� kata sosok itu dengan suara gemerisik bagai gesekan batang bambu ditiup angin.

�Kami?� gumam Abdul Jalil mengacungkan kayu pemukulnya. �Berapakah jumlahmu?�

�Jumlah kami sebanyak semut di sarangnya,� kata bayangan hitam manusia itu seraya berdiri. Lalu terlihatlah pemandangan mencengangkan: batu-batu yang terhampar di kaki bayangan hitam manusia itu tiba-tiba ikut berdiri dalam wujud bayangan hitam manusia dan makhluk-makhluk mengerikan dari Kegelapan. Kemudian, dengan suara gemerisik bagai suara ribuan tampah menampi gabah, bayangan-bayangan hitam itu berkata serentak, �Kami adalah cacing-cacing tanah yang telah engkau cipta menjadi hewan melata. Kami telah mengikuti jalan yang engkau bentangkan di hadapan kami agar kami dapat mencapai negeri agung di seberang lembah kejahilan ini dan tinggal di sana sebagai adimanusia. Tetapi, kami tersesat dan tersungkur di lembah ini dan menjadi batu-batu yang sedih dan merana. Sementara beribu-ribu saudara kami malah jatuh terperosok ke dalam lubang-lubang tanpa dasar dan tidak kami ketahui lagi nasibnya. Kami menuntut tanggung jawabmu sebagai ibu dan sekaligus bapak yang telah melahirkan kami ke dunia baru yang mengerikan ini.�

Dengan pandangan penuh kasih Abdul Jalil memandang bayangan-bayangan hitam itu seolah-olah ingin membaca apa yang tertulis di jiwa mereka. Setelah menarik napas beberapa kali, ia berkata dengan suara sebening tetesan air yang jatuh di panci pada malam hari, �Lihat! Lihatlah cahaya gemerlap yang berkilau-kilau di atas tebing-tebing tinggi di tanah seberang itu! Arahkan kiblat hati dan pikiran kalian semua ke sana! Sebab, ke sanalah engkau sekalian harus sampai, yakni negeri agung kediaman para adimanusia.�

�Bukankah selama ini kami telah mengikuti petunjukmu itu? Bukankah kami telah berikrar bahwa tidak ada jalan lain yang harus kami lewati kecuali yang telah dibentangkan oleh Sang Penuntun Agung? Tapi apa yang kami dapatkan? Tidak ada yang lain, kecuali kesengsaraan, penderitaan, dan kesesatan!�

Abdul Jalil menggeram bagai singa dengan wajah merah padam. Seraya mengacungkan tongkat pemukulnya ia berkata lantang, �Tutup mulutmu, he pendusta-pendusta kecil! Aku tahu siapa engkau sesungguhnya. Engkau adalah para pendusta bermulut palsu, berhati palsu, dan berjiwa palsu. Engkau katakan bahwa dirimu telah berikrar untuk tidak mengalihkan kiblat hati dan pikiranmu dari cahaya di seberang lembah itu, namun ikrarmu itu hanya sebatas ucapan di mulutmu yang palsu. Pandangan matamu telah berpaling dari-Nya karena perhatianmu cenderung pada benda-benda yang memesona penglihatanmu. Pendengaran telingamu pun telah pekak dan tidak lagi mendengar suara-Nya. Hatimu yang palsu dan tertutup karat kebendaan tidak dapat lagi menerima benderang cahaya-Nya. Pikiranmu yang palsu dan bercabang-cabang tidak mampu lagi berkiblat kepada-Nya. Lantaran itu, engkau tidak lagi dapat melihat jalan yang benar sesuai petunjuk-Nya sehingga sebagian di antara kalian ada yang tersungkur di lembah kejahilan, bahkan ada yang terperosok ke dalam lubang tanpa dasar.�

�Aku tahu siapa sesungguhnya engkau, he penipu-penipu kecil! Engkau katakan kepada semua orang bahwa engkau adalah orang-orang beriman yang tunduk patuh pada Hukum Suci yang ditetapkan-Nya. Engkau katakan kepadaku bahwa engkau telah menjalankan apa yang telah aku ajarkan dan mengikuti petunjuk jalan yang telah aku berikan. Tetapi, aku katakan kepadamu bahwa engkau telah berdusta. Dusta. Dusta. Seribu kali dusta. Aku tahu, sesungguhnya yang berjalan terseok-seok menyusuri lembah kehidupan bukanlah tubuh, hati, dan pikiranmu, melainkan angan-angan kosong (al-wahm) yang lahir dari lamunan (al-umniyah) jiwamu yang kerdil dan rendah. Ya, yang menjalankan ajaranku adalah angan-angan dan lamunanmu. Sungguh malu aku mendengar engkau mengaku-ngaku sebagai anak-anak yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpiku. Sebab, aku tidak pernah berpikir tentang kekerdilan seekor cacing yang menggeliat di dalam tanah sepanjang zaman. Aku juga tidak pernah bermimpi tentang makhluk-makhluk pemalas yang suka pada pengumbaran nafsu. Malu aku. Malu. Malu. Seribu kali malu.�

�Dengar! Dengarlah, he maling-maling kecil yang mengaku anak-anakku! Akhirilah dustamu! Hentikanlah kebohonganmu! Sadarlah engkau bahwa kehidupan dunia bukanlah kehidupan di surga sebagaimana yang engkau bayangkan dan engkau angankan. Kehidupan dunia tidak bisa engkau nikmati dengan kemalasan dan lamunan-lamunan tentang bidadari dengan sungai susu dan kolalm madu. Kehidupan dunia harus engkau lampaui dengan perjuangan keras yang tak kenal menyerah dan tak kenal pula putus asa, sampai engkau menjadi adimanusia yang mewarisi kehidupan di negeri agung yang penuh keselamatan dan kesentosaan. Tanpa perjuangan keras, mustahil engkau dapat meninggalkan lembah kejahilan ini. Kemalasan dan angan-angan kosongmu akan menjadikan engkau tinggal abadi di lembah kejahilan ini bersama anak, cucu, dan buyutmu.�

�Ayo anak-anakku, sekarang ikutilah jekakku! Sebab, aku akan mengajarkan kepadamu tentang sasyahidan, yaitu kesaksian yang benar tentang Sang Cahaya di atas segala cahaya dan Sang Penuntun Agung, agar kalian semua dapat beroleh Kebenaran (al-Haqq) hidup sejati serta tidak menjadi mayat-mayat berjalan tanpa jiwa dan ruh. Aku akan tunjukkan kepadamu kehidupan adimanusia yang tidak bisa ditundukkan dan diperbudak oleh kawanan serigala dan musang yang akan menguasai bumi.�

�Ayo, kemarilah! Aku akan ajarkan kepadamu jalan Kebenaran yang hakiki. Ketahuilah bahwa sejatinya Kebenaran (al-Haqq) adalah Zat Yang Mahatampak (azh-Zhuhur al-Haqq). Dia tampak pada segala sesuatu (azh-zhahir bi kulli syai�). Dia menampakkan segala sesuatu (azh-hara kulla syai�). Dia yang nyata atas tiap-tiap sesuatu (azh-zhahir li kulli syai�). Sebab, Dia adalah Yang Nyata sebelum segala sesuatu ada (huwa zhahir qabla qujudi kulli syai�). Tetapi, akibat benderang cahaya-Nya, engkau sekalian tidak dapat menyaksikan penampakan diri-Nya. Sementara selubung keakuan yang menyelimuti dirimu makin menghijab mata batin (�ain al-bashirah) yang tersembunyi di dalam dirimu hingga engkau sekalian menjadi buta terhadap-Nya. Lalu di dalam kebutaanmu terhadap-Nya, engkau menjadi budak dari benda-benda.�

�Ayo, sekarang bertobatlah kalian semua untuk kembali setia kepada-Nya. Ucapkanlah persaksian sekali lagi di hadapanku. Persaksianmu kali ini tidak hanya sebatas mulut yang palsu, tetapi kesaksian yang tembus ke hati dan menjadi gerak hidup seluruh tubuh dan jiwamu. Aku katakan kepadamu bahwa kesaksian bukanlah untuk dihafal dan diucapkan berulang-ulang, melainkan untuk dijalani sebagai bagian utama dari kehidupan. Karena itu, ikutilah jejakku meski engkau akan merasakan sakit tak tertahankan!�

�Tahukah engkau apa yang aku maksud dengan mengikuti jejakku dan engkau akan kesakitan? Pertama-tama, engkau harus menyembelih jiwa kekanak-kanakanmu! Lalu, kupas kulit berbulu kemunafikanmu! Lalu, sayat-sayat daging kemalasanmu! Lalu, patahkan tulang-tulang kesombonganmu! Lalu, bersihkan jeroan jiwa busukmu! Lalu, kumpulkan semua keakuanmu dalam tumpukan daging, tulang, dan jeroan! Lalu, bagi-bagikan kepada para fakir agar pengorbanan jiwa dan ragamu sampai kepada-Nya.�

�Sesungguhnya aku tidak pernah mengajarkan kepada engkau sekalian untuk menjadi seorang mutajarrid yang melakukan uzlah meninggalkan kehidupan duniawi. Aku justru mengajarkan kepada engkau sekalian untuk menjadi seorang mutasabbib yang berkhidmat kepada masyarakat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Untuk menjadi seorang mutasabbib, kewajiban utama yang harus dijalani adalah berkorban. Berkorban. Berkorban. Seribu kali berkorban. Berkorban sampai lenyap semua keakuanmu menjadi korban persembahan untuk-Nya.�

Abdul Jalil mengatupkan mulut rapat-rapat dan memandang bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya. Bayangan-bayangan hitam itu makin lama makin banyak karena mereka yang terjerumus ke dalam lubang tanpa dasar pun tiba-tiba berhasil naik ke permukaan dan ikut berkerumun mendengarkan ajaran sasyahidan yang disampaikan Abdul Jalil. Kemudian terjadi sesuatu yang mengherankan, sekumpulan bayangan hitam tiba-tiba berdiri dan berkata dengan suara gemerisik sambil mengepalkan tangannya ke atas, �Sekarang marilah kita bersama-sama menjalankan segala sesuatu yang diajarkan oleh Syaikh Lemah Abang, ibu dan bapak yang melahirkan kita. Marilah kita mulai berjalan melampaui �lembah kejahilan� ini menuju dunia agung tempat kita akan menjadi adimanusia. Sungguh, telah kami rasakan betapa sengsara dan menderitanya menjadi bayangan-bayangan hitam yang tak jelas bentuk dan wujudnya ini. Ayolah, kita mulai perjalanan panjang yang penuh tantangan ini. Ayolah kita capai Cahaya benderang di puncak tebing menjulang itu karena Cahaya itulah kiblat kita.�

Tanpa menunggu waktu, kumpulan bayangan hitam itu membalikkan badan dan melesat di atas tanah melintasi �lembah kejahilan� di tengah tatap dungu dan pandir kawan-kawannya yang masih duduk melamun, asyik mendengarkan cerita yang disampaikan Abdul Jalil. Melihat pemandangan itu Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia sadar tidak banyak manusia yang cukup cerdas untuk menerima ajaran yang disampaikannya. Mereka, keluhnya dalam hati, lebih suka terbuai cerita dan lalmunan daripada menjalani apa yang diajarkannya. Ajaran sasyahidan yang disampaikannya hanya cocok bagi manusia-manusia yang kuat, cerdas, tabah, berani, dan pantang menyerah dalam mewujudkan jati diri menjadi adimanusia.

Rasa bangga memenuhi dadanya saat ia menyaksikan bagaimana sekumpulan bayangan hitam itu bergulat mempertunjukkan keuletan untuk melampaui rintangan di tengah �lembah kejahilan�. Dengan mata berbinar-binar ia melihat anak-anaknya itu saling berlomba untuk mendahului, meski mereka jatuh bangun dan bergulingan di atas bebatuan dan tanah berdebu. Tapi lihat! Lihatlah! Di tengah lembah itu terjadi sesuatu yang menakjubkan; bayangan-bayangan hitam itu, anak-anak Abdul Jalil itu, tiba-tiba melompat tinggi ke atas melampaui tebing-tebing hitam yang tegak menjulang. Ajaib, tubuh mereka menjelma menjadi singa-singa perkasa berbulu kuning kecoklatan. Mereka mengaum dan berlari terus saling mendahului menuju seberang lembah. Singa-singa itu terus berlari dan melompat meninggalkan tebing-tebing, bukit-bukit, jurang-jurang, batu-batu, pohon-pohon, semak-semak, padang pasir, dan lubang-lubang tanpa dasar. Melihat kejadian menakjubkan itu, tanpa sadar Abdul Jalil mengangkat tongkat pemukulnya ke atas dan berseru gembira, �Ayo maju terus! Songsonglah matahari pagimu yang cemerlang dan gilang-gemilang! Melompatlah terus, o anak-anakku! Lampaui kesingaanmu agar engkau menjelma menjadi manusia. Melompatlah terus, o anak-anakku! Lampaui kemanusiaanmu agar engkau menjadi adimanusia!�

Melihat Abdul Jalil mengacung-acungkan tongkat pemukulnya untuk menyemangati kawanan singa yang berlomba melintasi �lembah kejahilan�, bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya tiba-tiba bangkit dan berdiri di samping kanan dan kirinya. Dengan terheran-heran mereka ikut-ikutan melihat ke arah singa-singa yang sedang berpacu melintasi lembah. Namun, dalam penglihatan mereka bukan kawanan singa yang berlomba saling mendahului, melainkan sekumpulan katak hitam yang melompat-lompat di atas tanah berlumpur. Setelah saling memandang dengan tatapan dungu, mereka kemudian bertepuk tangan, bersorak-sorai, tertawa-tawa, dan berteriak-teriak menyemangati katak-katak itu dengan suara gemerisik bagai derik beribu-ribu tonggeret, �Ayo lompat! Jangan mau ketinggalan! Ayo katak, lompati kawanmu! Lompat terus! Lompat!�

Ketika cakrawala terbentang dan bedug subuh ditabuh bertalu-talu, Raden Ketib tersentak dari renungan karena menyaksikan matahari Kebenaran bersinar gemilang dari balik gunung-gunung berkabut di kedalaman jiwanya. Sesaat ia terheran-heran menyaksikan kenyataan itu. Dan ia makin keheranan ketika mendapati dirinya berada di sebuah dunia dengan cakrawala kesadaran baru yang mengubahnya dari seekor kupu-kupu menjadi seekor burung. Ia merasa bumi tiba-tiba menjadi ringan sehingga ia dapat terbang secepat burung ke angkasa. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya. Dunui yang dikenalnya dulu kini berubah menjadi sesuatu yang lain; cakrawala, langit, awan, air, pohon, batu, rumput, embun, dan bahkan tanah yang dipijaknya terasa lain.

Dengan benak dikerumuni tanda tanya, ia menanyakan perubahan yang dialaminya itu kepada Syaikh Datuk Bardud. Namun, putera Syaikh Datuk Abdul Jalil itu tidak menjawab dan hanya memberi isyarat agar ia bertanya pada hati nuraninya sendiri. Pada saat ia akan menanyai hati nuraninya, ia tiba-tiba teringat betapa selama menelusuri jejak berliku dari Syaikh Datuk Abdul Jalil, ia telah mengalami perubahan demi perubahan kesadaran yang berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat seibarat kesadaran telur, ulat, kepompong, kupu-kupu, dan kemudian burung. Ya, ia mendadak teringat bahwa di balik tersingkapnya kesadaran demi kesadaran yang dialaminya itu, yakni saat ia melewati tirai demi tirai dan memasuki matra demi matra yang lebih luas, lebih terang, lebih hakiki, sesungguhnya ia diseret oleh suatu �daya gaib� yang tak diketahui dari mana asalnya. Bahkan, kini, saat ia memasuki kesadaran burung, ia tetap merasa segala sesuatu yang ada pada dirinya dilingkupi oleh �daya gaib� tersebut.

Anehnya, dengan kesadaran barunya itu ia tidak sekadar dapat memahami dengan jelas liku-liku perjuangan Syaikh Datuk Abdul Jalil yang begitu menakjubkan, tetapi ia dapat pula merasakan apa yang dirasakan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil dan mereka yang terlibat di kancah pergulatan sejarah masa lampau. Ia seolah-olah ikut terlibat di dalamnya. Ia merasakan jiwanya ikut terombang-ambing dan terempas bagai air diaduk badai.

Raden Ketib sadar bahwa ia tidak cukup mampu untuk menangkap secara utuh keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil beserta sepak terjangnya yang menakjubkan. Ia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keberadaan utuh Syaikh Datuk Abdul Jalil, kecuali menyebutnya sebagai sosok raksasa pada zamannya: raksasa di dalam pemikiran, raksasa di dalam ajaran, dan raksasa di dalam karya. Dengan demikian, segala usaha manusia untuk mengerdilkan sang raksasa pastilah akan berujung pada kegagalan sebab kodrat hidup seorang raksasa adalah menjadi raksasa. Orang boleh membenamkan sang raksasa di bawah kubangan lumpur, atau menyusupkannya di bawah timbunan sampah, atau menyelipkannya di kandang babi, atau menyurukkannya di lubang semut, namun seorang raksasa yang dikodratkan menjadi raksasa akan selalu menjadi raksasa, tidak akan pernah menjadi anjing apalagi cacing tanah.

Tentang keraksasaan Syaikh Datuk Abdul Jalil, setidaknya diketahui Raden Ketib lewat kesaksian-kesaksian orang-orang dekatnya yang menuturkan keberadaan sang raksasa dengan penuh kekaguman. Bukan hanya Ki Gedeng Pasambangan, Raden Kusen Adipati Terung, Syaikh Maulana Jati, Pangeran Cirebon, Pangeran Pasai Fadhillah Khan, bahkan Raden Sahid yang sangat dihormati di Demak pun tidak dapat menyembunyikan kebanggaan ketika mengungkapkan kesaksiannya tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil. Malah, yang tak pernah diduga-duga oleh Raden Ketib adalah pengakuan Susuhunan Kalijaga itu yang menyatakan bahwa sang raksasa yang dikutuk banyak orang itu sejatinya merupakan mertuanya. �Zainab, puteri beliau, adalah istri pertamaku,� ujar Raden Sahid tegas.

Pengakuan Raden Sahid tak pelak menyingkap tirai rahasia yang selama ini menyelubungi Syaikh Datuk Abdul Jalil dari pengetahuan Raden Ketib. Dengan pengakuan itu, Raden Ketib menangkap kenyataan betapa kehidupan manusia pada dasarnya tidak berdiri sendiri dan tidak pula terlepas dari ikatan antara yang satu dengan yang lain. Kehidupan manusia ibarat rangkaian tali-temali yang saling menjalin. Meski simpul satu dengan simpul yang lain berbeda dalam ukuran dan bentuk, mereka saling menguatkan. Bahkan, keberadaan salah satu simpul tali yang kelihatan paling kusut pun jika diurai dan diamati secara lebih cermat akan memperlihatkan jati diri sebagai ikatan simpul yang paling kuat dan paling menentukan rangkaian tali-temali itu. Demikianlah, keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil sebagai simpul tali yang dianggap paling kusut yang dinista dan dihina sebagai sumber kekusutan seluruh jalinan tali-temali kehidupan manusia, ternyata merupakan simpul tali yang selama puluhan tahun tak pernah putus dan bahkan terus memanjang membuat simpul-simpul baru hingga mirip jaring laba-laba raksasa.

Jaringan tali-temali kehidupan anak manusia yang terikat pada simpul Syaikh Datuk Abdul Jalil setidaknya diketahui Raden Ketib beberapa waktu menjelang Raden Kusen, kakeknya, meninggal dunia. Saat itu, tanpa hujan tanpa angin, Raden Kusen mengirim utusan ke Palembang untuk meminang Nyi Mas Ilir, adik Raden Ketib, untuk dinikahkan dengan Pangeran Wirakusuma, putera Pangeran Cirebon, cucu Sri Mangana. Ketika pesta pernikahan dilangsungkan dan semua kerabat datang, Raden Ketib mendapati sejumlah tamu yang namanya pernah didengarnya berkaitan dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Bahkan, saat Raden Kusen wafat setelah hari ketiga pernikahan, sejumlah orang yang bertakziah diketahui Raden Ketib sebagai pengikut-pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Mereka berkumpul dari berbagai tempat bagaikan gumpalan kabut yang kemudian menghilang dari penglihatan.

Rupanya, secara diam-diam para pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil dengan setia menjalankan gagasan-gagasan yang diwariskannya, baik tentang masyarakat ummah, wilayah al-Ummah, maupun ajaran tarekatnya. Itu sebabnya, sepeninggal Sri Mangana, bukan Pangeran Cirebon yang menggantikannya sebagai kalifah dan ratu Caruban, melainkan Pangeran Muhammad Arifin, putera Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. Hal itu terjadi karena para wali nagari dan gedeng se-Caruban Larang bermusyawarah dan bersepakat menunjuk Pangeran Muhammad Arifin yang menggunakan gelar Pangeran Pasarean. Alasan penunjukan Pangeran Pasarean sebagai kalifah Caruban tidak lain dan tidak bukan karena dia dianggap sebagai orang yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sementara untuk melanjutkan kedudukan ratu sebagai bagian dari tradisi, Pangeran Cirebon diangkat sebagai manggalayuddha karena dianggap mewarisi bakat ayahandanya dalam memimpin militer.

Kekuatan jaringan tali-temali yang diikat oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil tanpa terduga tiba-tiba menjerat Raden Ketib dan mengikatnya sebagai bagian dari jaringan tali-temali raksasa yang tak terlihat mata. Alkisah ketika Raden Ketib bersama-sama dengan Syaikh Datuk Bardud berkeliling ke berbagai tempat untuk bersilaturahmi dan sekaligus menguak teka-teki yang menyelubungi Syaikh Datuk Abdul Jalil, ternyata para gedeng, wali nagari, dan pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil diam-diam mengawasi dan menilainya. Sepekan setelah Raden Kusen wafat tiba-tiba Raden Ketib diundang untuk hadir dalam musyawarah para gedeng di Pekalipan. Ternyata, perwakilan warga Tegal Gubuk dan para gedeng serta kalifah sepakat menunjuk Raden Ketib sebagai gedeng di Tegal Gubuk untuk menggantikan gedeng lama yang meninggal setahun silam. Sebagaimana gedeng terdahulu, Raden Ketib diberi gelar sebutan Ki Gedeng Sura.

Dengan memangku jabatan sebagai gedeng, Raden Ketib sadar tentang kedudukan ruhaninya di tengah gagasan wilayah al-Ummah. Ia sadar belum cukup mampu mencapai kedudukan manusia apalagi adimanusia sebagaimana diharapkan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Namun, ia tetap berusaha untuk menjalankan apa yang diajarkan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil, yaitu berjuang keras melampaui manusia agar menjadi adimansia. Ia pun sadar tidak cukup banyak orang mampu mewadahi gagasan-gagasan, ajaran, dan kekaryaan Syaikh Datuk Abdul Jalil, apalagi untuk menjalankannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Gagasan, ajaran, dan kekaryaan Syaikh Datuk Abdul Jalil terlalu raksasa untuk dipahami dan dijalankan oleh makhluk-makhluk kerdil, sebagaimana ketidakmampuan kawanan burung pipit pencuri padi untuk meneladani rajawali raksasa. Raden Ketib tidak memiliki pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu kecuali melalui sindiran pepatah yang berbunyi: �Bagaikan memberi sebutir permata kepada kawanan kera�. Ya, permata gagasan yang disumbangkan Syaikh Datuk Abdul Jalil hanya dijadikan �permainan� oleh orang-orang yang tidak cukup mampu untuk mewadahi, apalagi menjalaninya.

Melalui Syaikh Datuk Bardud, Raden Ketib memang telah berhasil menyingkap sebagian kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil berdasar kesaksian-kesaksian. Namun, ia merasa betapa kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil masih cukup kuat diselubungi teka-teki. Ada banyak rahasia yang masih tersembunyi. Ia demikian berharap dapat beroleh kesaksian yang lebih utuh dari Raden Sahid dan Pangeran Pasai Fadhillah Khan yang telah menyanggupi untuk menuturkan perikehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Ya, kata Raden Ketib dalam hati, aku berharap dengan kesaksian-kesaksian mereka akan dapat mengetahui lebih utuh tentang kehidupan manusia raksasa yang terselubungi kabut rahasia kehidupan itu.

Ketika Raden Ketib berencana pergi ke Demak bersama Syaikh Datuk Bardud untuk menemui Susuhunan Kalijaga, tanpa terduga-duga Syaikh Datuk Bardud malah berpamitan akan kembali ke Gujarat. �Sesuai pesan beliau, aku harus kembali ke Gujarat,� kata Syaikh Datuk Bardud sambil memegangi bahu Raden Ketib.

Raden Ketib merasakan bibirnya bergetar, tenggorokannya panas, dan dadanya berdegub keras. Ia terguncang dengan kejadian tak terduga itu. Kemudian dengan suara terbata-bata ia berkata, �Jika saya boleh bertanya, kenapa Rakanda tidak tinggal di Caruban saja untuk melanjutkan ajarannya?� �

Ajaran tarekat, maksud Adinda?� Syaikh Datuk Bardud mengerutkan kening. �

Ya.� �

Bukankah Adinda sudah paham bahwa Tarekat Akmaliyyah itu dinisbatkan kepada Allah dan tidak bisa diwariskan berdasar keturunan?� �

Tetapi, Rakanda memiliki kemampuan untuk menjadi guru manusia.� �

Ketahuilah, o Adinda, bahwa dia tidak menginginkan siapa pun di antara putera-puteri dan keluarganya untuk mengaitkan diri dengan namanya. Sebab, dia memiliki prinsip bahwa yang disebut anak bukanlah pewaris titisan darah, melainkan mereka yang mengikuti jalannya dalam melampaui tingkatan manusia menjadi adimanusia. Itulah yang disebut anak. Dia mengatakan sangat malu jika memiliki keturunan binatang. Itu sebabnya, dia memaksa putera dan puterinya untuk mewujudkan diri sebagai adimanusia,� kata Syaikh Datuk Bardud. �

Saya paham itu, Rakanda,� kata Raden Ketib. �Tapi, satu hal yang saya mohon dari Rakanda agar dikabulkan.� �

Apa itu?� �

Di manakah letak makam Syaikh Datuk Abdul Jalil?�

Syaikh Datuk Bardud tertawa. Kemudian sambil menepuk-nepuk bahu Raden Ketib, ia berkata, �Apakah engkau pikir ayahandaku sudah wafat? Sesungguhnya dia hidup, hanya engkau yang tidak mengetahuinya, o Adinda terkasih.� �

Beliau masih hidup?� seru Raden Ketib bagai tersambar petir. �

Ya.� �

Di manakah beliau sekarang tinggal?� �

Aku tidak berhak memberi tahu. Tetapi jika engkau ingin menjadi putera ruhani Syaikh Datuk Abdul Jalil, engkau harus mencari dan menemukan sendiri jawaban dari pertanyaanmu itu. Sebab sebagaimana kita tahu, dia membenci kemalasan. Lantaran itu, dia selalu membawa tongkat pemukul untuk menghardik para pemalas. Dan dia selalu membentengi diri dengan banyak teka-teki untuk mendidik manusia agar tidak malas berpikir dan malas berusaha. Dengan kemampuanmu, o Adinda terkasih, aku yakin engkau akan dapat memecahkan teka-teki ini.� �

Adakah perlambang yang bisa saya jadikan penunjuk arah untu memecahkan teka-teki ini?� �

Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah seekor rajawali pengarung Kesunyian dan pecinta Kehampaan. Di sanalah, di tengah Kehampaan dan Kesunyian itu, engkau akan mendengar jeritannya yang membelah keheningan. Di sanalah, di puncak-puncak tebing yang menjulang mencakar langit, engkau akan menemukan sarangnya,� kata Syaikh Datuk Bardud menegaskan. �

Aku sekarang telah memiliki kesadaran burung, o Rakanda terkasih,� kata Raden Ketib dengan mata berbinar-binar dan dada menggemuruh dikobari semangat. �Aku yakin akan dapat menemukan sarang sang rajawali, meski badai dan ketinggian akan menghadang usahaku terbang ke puncak-puncak tebing menjulang. Aku akan terus terbang! Terbang! Terbang! Meski sayap-sayapku akan patah.� �

Terbanglah ke angkasa kebebasanmu, o Saudaraku. Terbanglah melampaui keburunganmu yang kecil sampai engkau menjelma menjadi rajawali, pengarung Kesunyian dan pecinta Kehampaan. Terbanglah terus sampai sayap-sayapmu menjadi sayap-sayap malaikat yang menembus �tirai gaib� Kehampaan,� ujar Syaikh Datuk Bardud sambil berlalu dan menghilang dalam selimut kabut malam.

Read More ->>

Rabu, 01 Februari 2017

Al-Mir�ah al-Ghaib

Al-Mir�ah al-Ghaib?

Sore setelah pertempuran berakhir, hujan telah reda dan matahari bersinar kemerahan di ufuk barat dengan awan merah menggantung di langit. Abdul Jalil terlihat berjalan menyusuri lorong-lorong Kuta Rajagaluh yang semrawut dipenuhi reruntuhan bangunan, serpihan benda-benda, senjata patah, genagan darah, dan mayat bergelimpangan. Ketika langkah kakinya sampai di puri kediaman raja, tepatnya si Sangga Kamulan, ia menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan: sebuah bentangan Cermin Gaib (al-mir�ah al-ghaib) yang luas antara langit dan bumi tak kelihatan batas-batasnya. Cermin Gaib itu memantulkan beribu-ribu bayangan wajah yang mencitrakan keberadaan adimanusia, manusia, manusia-hewan, binatang buas, binatang melata, dan bahkan makhluk-makhluk pemangsa mengerikan dari Kegelapan.

Cermin Gaib adalah bentangan hijab rahasia yang menyelubungi dan sekaligus merupakan pembatas antara alam kasatmata (�alam asy-Syahadah) dan tidak kasatmata (�alam al-ghaib). Cermin itu memantulkan bayangan keberadaan manusia secara lahiriah (mulk) ke dalam hakikat sejati manusia secara ruhaniah (malakut). Wujud lahiriah tiap-tiap manusia yang menghadap ke bentangan Cermin Gaib itu akan memantulkan kesejatian citra ruhaninya sesuai jati diri masing-masing. Dengan demikian, jati diri masing-masing manusia di depan Cermin Gaib akan memantul sebagai wujud bayangan sejati jiwanya.

Di depan bentangan cermin itu Abdul Jalil termangu-mangu menyaksikan wujud dirinya di tengah kilasan-kilasan wajah yang ganti berganti dan sambung menyambung. Ia menjadi sadar betapa keberadaan dirinya di tengah kecamuk perang itu memang tidak terlibat pertempuran dan membasahi tangannya dengan darah siapa pun. Gambaran kuat yang terekam di relung-relung ingatannya menunjukkan betapa saat ia terbangun dan membuka mata, ia melihat dari celah-celah tendanya sesuatu yang terbang di langit, yang wujudnya tak mampu ia gambarkan: Sang Maut, Rajadiraja Kematian yang terbang dengan garang melingkupi penjuru langit dan bumi, yang melihat semua makhluk dengan mata menyala dan cakar-cakar tajam mengembang dan jutaan sayap yang mengepak. Saat terdengar jeritan dahsyat mengguncang langit, ia melihat Sang Maut mengepakkan sayap-sayap kematian yang menggemuruh bagai badai. Kemudian, dengan lahap Sang Maut menyantap setiap makhluk hidup dengan paruh-Nya yang lebih tajam dari pedang. Sementara di bawah kepak sayap Sang Maut terlihat beratus-ratus ribu makhluk gaib penghuni purwa Nusa Jawa berpesta pora memunguti remah-remah sisa santapan-Nya laksana kawanan semut mengerumuni sisa makanan rajawali di padang rumput.

Ketika ia memalingkan pandangan dari bayangan Sang Maut, ia menyaksikan pemandangan lain yang membuat jantungnya berdentam-dentam, mulutnya terkatup, dan tenggorokannya tercekik. Di hadapannya terlihat beribu-ribu bayangan makhluk setengah manusia setengah binatang yang teraduk-aduk kacau seperti laut diempas badai. Makhluk-makhluk mengerikan itu sambil meraung-raung dan melolong-lolong dengan buas dan ganas saling mencabik satu sama lain. Tak kuasa melihat keganasan itu, ia memejamkan mata. Namun, disaat matanya terpejam, telinganya menangkap suara kepak sayap burung-burung, raungan serigala, geraman singa, auman harimau, lolongan anjing, kuak kerbau, dan tangisan anak burung yang mencicit-cicit. Hiruk pikuk suara terdengar berkerumun di sekitar telinganya. Ia menutup telinga dan berusaha menghalau suara-suara yang terus mengerumuninya itu. Anehnya, semakin telinganya ditutup, semakin ia dengar hiruk suara yang menggiriskan itu.

Akhirnya ia membuka mata dan telinganya. Lalu sadarlah ia betapa yang terlihat ke dalam Cermin Gaib itu bukanlah mata inderanya melainkan mata batinnya (�ain al-bashirah). Yang mendengar suara hiruk pikuk itu bukan telinga inderanya pula melainkan pendengaran batinnya (sam�). Dan di tengah kesadaran itu ia mendapat bisikan dari Ruh al-Haqq bahwa hiruk suara-suara itu sesungguhnya menggemakan getar kebencian yang tersembunyi di kedalaman jiwa makhluk-makhluk yang saling mencabik itu. Ya, suara-suara hiruk itu adalah suara kebencian yang sangat dibencinya.

Mengetahui hiruk suara-suara itu adalah suara kebencian, Abdul Jalil merasa malu dan muak. Ia membalikkan badan dan bergegas meninggalkan tempat laknat itu. Namun, saat ia akan beranjak tiba-tiba telinga batinnya mendengar suara-suara ratapan yang menggema-gema yang memanggil-manggil namanya. �Syaikh Lemah Abang! Syaikh Lemah Abang! Janganlah lari meninggalkan kami! Lihatlah kami! Kami adalah anak-anakmu yang lahir dari dunia baru yang engkau bangun dengan pikiran dan mimpi-mimpimu. Kami adalah anak-anak zaman yang lahir dari kegelapan. Engkaulah ibu dan bapak kami. Janganlah engkau tinggalkan kami!�

Abdul Jalil tercekat mendengar suara-suara itu. Ia merasakan jiwanya tiba-tiba dikuasai oleh rasa belas kasih. Kemudian dengan kata-kata selembut awan ia berkata, �Aku tahu siapa sesungguhnya engkau. Engkau adalah cacing-cacing melata di dalam tanah yang tumbuh menjadi anak-anak harimau dan akan menjelma menjadi adimanusia. Sekarang ini tubuhmu telah menjadi tubuh harimau dan jiwamu pun adalah jiwa harimau. Tetapi, aku katakan kepadamu bahwa ruhmu belumlah ruh manusia. Ruhmu adalah jiwa manusia-hewan yang menyalak penuh kerakusan, kekejian, dendam, dan kebencian. Karena itu, engkau masih membutuhkan waktu untuk menjadi adimanusia seperti yang aku harapkan. Jiwa manusia-hewan yang menguasai kesadaranmu masih membutuhkan waktu dan perjuangan keras untuk bisa menjelma sebagai ruh adimanusia.�

�O Syaikh Lemah Abang! Kami harap engkau tidak memandang kami dari tempatmu yang tinggi. Sebaliknya, engkau harus mematahkan kesombonganmu yang menginginkan seluruh manusia bisa menjelma menjadi sesuatu sesuai mimpi-mimpimu. Engkau tidak bisa mengukur keberadaan manusia dengan menggunakan ukuran dirimu,� suara-suara itu menggeram.

�Apa yang engkau harapkan dariku?�

�Engkau adalah ibu dan bapak yang telah melahirkan kami,� suara-suara itu terdengar bagaikan ciap-ciap anak burung di sarang. �Tunggulah kami! Suapi kami dengan nilai-nilai luhur yang engkau masak dari berbagai jenis makanan jiwa yang menyehatkan dan menguatkan. Susui kami dengan cerita-cerita dan dongeng-dongeng menakjubkan yang menyadarkan keberadaan kami. Tuntun dan bimbing kami meniti jembatan kehidupan agar kami dapat melampaui kemanusiaan dan sampai ke puncak mahligai adimanusia. Pupuklah agar kami bisa tumbuh! Tumbuh menjadi adimanusia sesuai kehendak-Nya dan bukan sesuai kehendakmu.�

Abdul Jalil tertawa. Ia sadar bahwa tiap-tiap jiwa akan tumbuh dan berkembang sesuai kehendak-Nya. Suara-suara itu, katanya dalam hati, benar adanya. Suara-suara itu mengingatkan betapa sombongnya aku yang memimpikan lahirnya adimanusia menurut pikiran dan mimpi-mimpiku. Dan betapa benarnya suara-suara itu yang menginginkan agar aku mematahkan kesombonganku.

Akhirnya, meski rasa muak masih menerkam jiwanya di tengah pertempuran antarbinatang itu, Abdul Jalil merasakan kegembiraan ketika mendapati sekumpulan manusia-hewan bakal adimanusia di dalam Cermin Gaib. Ia bergembira karena seburuk apa pun kumpulan manusia-hewan itu tumbuh, mereka adalah anak-anak harimau yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpinya. Mereka harus dibimbing dan diasuh agar terus tumbuh menjadi manusia dan bahkan adimanusia. Mereka adalah matahari pagi yang sedang merangkak ke tengah hari yang terang-benderang.

Ketika ia membalikkan badan dan menatap Cermin Gaib dengan seksama, ia melihat beratus-ratus bayangan dirinya sebagai kawanan harimau berbulu putih yang seluruh tubuhnya memancarkan cahaya cemerlang. O Yang Mahakuasa, serunya dalam hati, mereka itulah anak-anak zaman yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpiku. Merekalah harimau-harimau perkasa yang bakal melampaui manusia dan menjadi adimanusia. Mereka itulah pahlawan-pahlawan gagah yang maju ke medan perang untuk membela keyakinannya, meski kesucian jiwa mereka masih ternodai amarah dan kebencian. Merekalah harimau-harimau zaman yang akan tumbuh menjadi adimanusia. Merekalah harapan masa depan bagi zaman yang gilang-gemilang.

Saat tengah memandang dengan bangga kawanan harimau berbulu putih cemerlang yang menggeram-geram di tengah cermin itu, ia dikejutkan oleh kelebatan-kelebatan bayangan hitam yang berkerumun di sekelilingnya. Makin lama bayangan-bayangan hitam itu makin beriap-riap dan berdesak-desak laksana gumpalan awan hitam menyesaki penjuru bumi. Bayangan-bayangan hitam itu berkelebatan membentuk aneka rupa perwujudan bayangan; serigala, burung nazar, musang, tikus, dan makhluk-makhluk mengerikan dari Kegelapan. Kemudian, secara menakjubkan, di tengah kelebatan bayangan-bayangan hitam itu terdengar suara gemerisik seperti derik ribuan ular. Suara gemerisik itu makin lama makin menggema, menjadi kata-kata.

�O Syaikh Lemah Abang. Hari ini kami, anak-anak yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpimu, telah memenangkan pertempuran. Musuh-musuh kami telah bergelimpangan tanpa nyawa dan sisanya melarikan diri dengan tubuh penuh luka. Kami telah mengibarkan bendera kemenangan. Kami telah menyanyikan lagu kemenangan. Kami telah beroleh dan membagi-bagi pampasan. Tetapi, kami tidak bisa berhenti sampai di situ. Kami tidak bisa kembali ke rumah dengan setumpuk cerita bualan kepada anak-anak dan istri-istri kami. Kami akan terus bergerak ke depan dan mendaki ke atas untuk melampaui kelemahan kami, sebagaimana yang engkau ajarkan. Kami yang berasal dari kalangan rendah dan lemah, yaitu kawanan binatang melata yang engkau sebut cacing-cacing tanah, telah menunjukkan bukti kekuatan kami sebagai adimanusia. Kami akan berebut menaiki singgasana yang telah kami gulingkan. Kami akan menjadi pengganti singa tua yang sudah tenggelam ditelan air bah perubahan. Kamilah yang kini menjadi penguasa. Kamilah kini yang menentukan arah kehidupan manusia.�

Abdul Jalil tertegun mendengar kata-kata yang mengumandang dari kerumunan bayangan hitam. Kegembiraan dan kebanggaan yang dirasakannya mendadak berubah menjadi kemuakan. Ia menjadi muak melihat bayangan hitam yang berkerumun bagaikan kawanan setan itu. Ia tahu, bayangan-bayangan hitam itu adalah jiwa manusia-hewan yang belum matang dan bakal gagal menjadi adimanusia. Bayangan-bayangan hitam itu adalah citra kepalsuan dari jiwa manusia yang terbelenggu nafsu rendah duniawi. Itu sebabnya, dengan suara getir ia berkata, �Aku tahu siapa sesunggunya engkau, o makhluk-makhluk palsu. Engkau adalah jiwa cacing tanah yang sudah melampaui jiwa binatang melata dan menjelma menjadi binatang buas setingkat musang dan serigala. Tetapi, engkau tidak mampu melampaui jiwa harimau dan jiwa singa, apalagi melampaui jiwa manusia untuk menjadi adimanusia. Dengan menutup-nutupi kelemahan diri, engkau justru akan berbelok arah dan menjadi bayang-bayang dari makhluk yang tidak jelas bentuk dan wujudnya. Engkau telah menjadi hitam sehitam bayang-bayang. Engkau telah menyelewengkan apa yang pernah aku ajarkan dan menggunakan kata-katakku sebagai siasat menipu yang menguntungkan dirimu. Sungguh muak aku. Muak. Muak.�

�Bukankah engkau menghendaki kami berjuang mewujudkan diri dari hewan yang rendah menjadi adimanusia? Bukankah semua yang engkau inginkan telah kami penuhi? Tidakkah engkau menyaksikan bagaimana kami menaklukkan musuh-musuh kami? Tidakkah engkau menyaksikan bagaimana kami membuat para penentang kami bergelimpangan menjadi mayat tak berguna? Tidakkah engkau saksikan bagaimana kami melampaui sesuatu yang lebih tinggi dari kami?� gerutu suara-suara gemerisik itu bagai daun-daun kering diterbangkan angin.

�Jika engkau berkata bahwa dengan menaklukkan musuh-musuhmu maka dirimu akan menjadi adimanusia maka aku katakan bahwa sesungguhnya telah keliru pendengaranmu menerima kata-kata yang telah aku ucapkan. Sebab, melampaui kebinatangan dan kemanusiaan untuk menjadi adimanusia bukanlah seperti engkau melompati selokan dan sungai kecil agar sampai ke seberang. Bukan pula seperti engkau menaklukkan musuh-musuhmu sebagaimana binatang satu menaklukkan binatang yang lain. Seribu kali aku katakan tidak seperti itu.�

�Sekarang buka telingamu lebar-lebar! Yang aku katakan melampaui kebinatangan adalah melampaui naluri-naluri kebinatangan yang tersembunyi di dalam relung-relung jiwamu. Itu sebabnya, yang aku maksud dengan cacing tanah bukanlah hewan melata menjijikkan yang menggeliat-geliat di dalam tanah, melainkan keberadaan jiwamu yang terselubungi oleh hijab Kegelapan (mahjub bi mahdh azh-zhulmah) yang tidak memiliki kesadaran lain, kecuali kesadaran untuk makan dan berketurunan. Yang aku maksud dengan manusia-hewan bukanlah tikus, musang, serigala, harimau, dan singa yang merangkak di permukaan bumi, melainkan keberadaan jiwamu yang terselubungi oleh Cahaya bersama Kegelapan (mahjub bi nur maqrun bi zhulmah). Yang aku maksud dengan manusia bukanlah makhluk berkaki dua yang bisa berpikir, melainkan keberadaan jiwamu yang terhijab oleh pancaran Cahaya (mahjub bi mahdh al-anwar). Sedangkan yang aku maksud dengan adimanusia bukanlah makhluk berkekuatan raksasa yang dapat menaklukkan musuh-musuhnya, melainkan manusia yang sudah berhasil membebaskan diri dari selubung-selubung hijab dan menyaksikan Kebenaran (ma�rifat al-Haqq) melalui pembersihan keilahian dari kemusyrikan (tanzih ar-rububiyyah).�

�Sadarlah, wahai penipu kecil! Janganlah kesukaanmu akan tidur dan bermalas-malas menjadikanmu sebagai pengkhayal dungu. Bangun dan menggeliatlah engkau dari mimpi dan khayalmu. Berpalinglah dari jalan di depanmu karena kiblat hati dan pikiranmu telah menyimpang jauh dari jalan Kebenaran menuju negeri agung kediaman adimanusia. Bangun dan berjuanglah! Merayaplah ke atas! Karena engkau telah terperosok ke dalam sumur tanpa dasar hingga dirimu menjadi gelap laksana bayangan.�

�Jika kami berpaling dan berbalik kiblat, bagaimana dengan takhta kekuasaan yang sudah berada di depan kami?�

�Dengarlah, wahai pencoleng kecil! Engkau tidak cukup pantas menduduki takhta kekuasaan duniawi sebab engkau belum mampu menaklukkan dan menguasai dirimu sendiri. Pantaskah menurutmu memahkotai seekor babi buruk rupa dan merajakannya bagi manusia? Sungguh muak aku dengan ketulian telingamu dan kebutaan matamu. Sungguh muak aku dengan kebebalan otakmu. Aku muak. Muak. Muak. Berkali-kali muak.�

Abdul Jalil berpaling dan meninggalkan bayangan-bayangan hitam yang terus berkerumun mengitarinya bagai gumpalan awan. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia merasa jubahnya ditarik dari belakang. Ia tersentak dan mendengar suara-suara gemerisik itu berkata, �Tinggallah di sini, O Syaik Lemah Abang! Tinggallah di sini! Jangan tinggalkan kami! Kami adalah anak-anakmu. Restuilah kami agar mejadi penguasa bumi. Dukunglah kami agar kami dapat menjadi rajadiraja dunia yang menentukan nasib umat manusia.�

Abdul Jalil merasakan bulu kuduknya merinding ketika melihat bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya itu bergerak mengitarinya dengan tangan mencakar-cakar dan suara gemerisik seperti derik ribuan jangkrik. Ia sadar betapa bayangan itu telingan dan matanya telah tertutup karat sehingga tidak bisa digunakan untuk mendengar dan melihat kenyataan dengan baik. Ketika kerumunan itu makin tak terhitung jumlahnya, ia memungut sepotong kayu dan memukul-mukul sembari berkata, �Tutup mulutmu, he makhluk palsu! Aku muak mendengar ocehan dan igauanmu. Bangunlah engkau dari mimpi kosongmu! Tataplah cermin kenyataan agar engkau dapat melihat siapa sejatinya dirimu. Engkaulah binatang melata yang licik, yang memiliki mata menyala memancarkan api keganasan, kekejaman, kebencian, dan dendam kesumat. Engkaulah binatang rendah yang memiliki mulut berbusa meneteskan liur kelicikan, kepura-puraan, ketidakbersalahan, dan kemabukan pada kekuasaan. O betapa memuakkan engkau. Memuakkan. Memuakkan.�

Tidak lama setelah ia memukul bayangan-bayangan hitam itu dan meninggalkannya pergi, ia melihat ruh seekor singa tua sedang duduk kebingungan di atas sebongkah batu yang mencuat di tengah hamparan air bah. Itulah citra diri Prabu Chakraningrat Yang Dipertuan Rajagaluh di dalam Cermin Gaib. �Inikah raja yang akan digantikan oleh anak-anakku yang sehitam bayangan?� serunya mendekati sang singa dan mengelus-elus rambutnya yang sudah rontok. �Bukankah seekor singa jauh lebih agung dibanding bayangan seribu ekor serigala dan musang?�

Ya, baginya, seekor singa memang lebih agung daripada bayangan hitam kawanan musang. Sebab, setua apa pun usianya, seompong apa pun mulutnya, serontok apa pun rambutnya, ia tetap seekor singa; sang raja rimba. Hanya kelemahan akibat pujian dan sanjungan yang membuat singa tua itu kerasan tinggal di guanya yang sempit dan gelap. Ia tidak sadar bahwa hidup adalah sebuah padang perburuan yang luas dan terus berubah dengan gerakan ke arah depan, tak pernah berhenti, dan tidak pula pernah mundur ke belakang. Singa tua itu tak pernah berusaha untuk melompat keluar gua kesingaannya dan menjelma menjadi manusia. Ketika gerak perubahan hidup melandanya laksana air bah, sang singa kebingungan di dalam guanya. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat oleh seekor singa di tengah terjangan air bah perubahan itu. Ia akhirnya tenggelam diseret arus dan bangkainya tidak pernah diketemukan orang.

Kini, setelah gua yang sempit dan pengap itu kosong, tiba-tiba bayangan-bayangan hitam yang muncul dari gelora bah berkeliaran dan berkerumun mengitari gua. Bayangan-bayangan hitam itu saling desak, saling dorong, saling sikut, saling gigit, dan saling cakar untuk berebut duduk di atas batu singgasana sang singa tua. �Akankah sebuah bayangan hitam lebih agung jika menjadi penguasa gua dibanding seekor singa?� seru Abdul Jalil seolah berkata kepada diri sendiri. �Dihuni singa atau bayangan hitam, sesungguhnya gua tetaplah gua; sebuah keangkeran yang menakutkan bagi manusia. Tetapi, keangkeran yang lahir dari wibawa seekor singa jauh lebih agung dibanding keangkeran yang lahir dari kawanan hantu. Itulah perumpamaan singgasana Rajagaluh jika diduduki Prabu Chakraningrat dan jika diduduki anak-anakku yang belum sempurna menjadi manusia-hewan,� katanya lantang.

Ketika ia memeluk ruh singa tua itu dan membelai rambutnya, ia melihat sekawanan bayangan hitam terbang dalam kerumunan besar di langit laksana gumpalan awan hitam. Kerumunan itu kemudian menukik ke bawah dan mengerumuni tubuhnya. Menyambar-nyambar. Membuat ia harus memutar-mutar potongan kayu di atas kepalanya untuk mengusir kerumunan itu. Ketika potongan kayunya mengenai sesuatu, terdengar jerit kesakitan diikuti suara gemerisik bagai hujan deras tercurah di atap. Sekilas ia menyaksikan puluhan bayangan hitam terempas ke batu-batu dan batang-batang pohon tak berdaun. Ia terbelalak saat melihat puluhan bayangan hitam itu bangkit dan menatap tajam ke arahnya dalam wujud Ki Gedeng Kiban, mantan Adipati Palimanan, dan Rsi Bungsu secara berganti-ganti.

Abdul Jalil berdiri kaku dengan hati ngeri. Ia memandang dengan tatapan nanar ke sosok Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu yang tiba-tiba menjadi puluhan jumlahnya. Ia berpaling ke Cermin Gaib. Terpampanglah gambaran menggetarkan yang menampakkan jati diri makhluk-makhluk licik yang mabuk kekuasaan itu. Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu yang telah berlipat-lipat jumlahnya itu menjelma menjadi makhluk mengerikan dari alam kegelapan yang sulit digambarkan wujudnya. Kepalanya mirip ular dan terbuat dari bahan sejenis batu sungai yang keras. Lidahnya bercabang dengan gigi dan taring tajam berbisa. Kulitnya kasar bersisik dan selalu berubah-ubah sesuai keadaan sekitar. Matanya mirip mata buaya, yang jika menangis tidak meneteskan air mata kesedihan, tetapi mengalirkan genangan air kedustaan yang pahit beracun. Hidungnya mirip hidung anjing yang selalu mengendus-endus membaui segala sesuatu di sekitarnya dengan kecurigaan. Mulutnya mirip babi yang najis dan meneteskan kekejian fitnah dan kebohongan. Hatinya logam sepuhan yang berkilau cemerlang bagai emas, namun berubah legam berkarat ketika disinari cahaya Kebenaran. Limpanya, paru-parunya, empedunya, jantungnya, bahkan usus dan duburnya pun terbuat dari bahan palsu dan beracun.

�Aku tahu siapa sesungguhnya engkau,� kata Abdul Jalil mengacungkan kayu pemukul ke arah bayangan Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu. �Engkau adalah bayangan palsu yang membawa-bawa ajaranku untuk membangun mahligai kekuasaan di atas bumi. Tetapi, karena engkau makhluk palsu maka mahligai yang engkau bangun pun palsu adanya. Kata-katamu palsu. Janjimu palsu. Keringatmu palsu. Air matamu palsu. Air liurmu palsu. Air kencingmu palsu. Tahimu juga palsu. Pendek kata, apa yang keluar dari tubuh makhluk palsu adalah palsu. Palsu. Palsu. Seribu kali palsu.�

Wajah-wajah gelap dan palsu Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu menyeringai. Abdul Jalil sangat terkejut ketika melihat salah satu sosok Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu memudar digantikan oleh sosok wali nagari Kuningan, Angga. Ya, sosok Angga menyeruak keluar dari kerumunan. Ketika ia menegaskan penglihatannya, dilihatnya Angga sebagai seekor gagak yang bulunya rontok dan mengangankan diri sebagai rajawali perkasa. Ibarat dongeng gagak kehilangan daging di paruhnya akibat dipuji serigala, begitulah Angga kehilangan jabatan panglima akibat terlena oleh puja dan puji orang-orang di sekitarnya. Saat gemuruh peperangan terdengar membelah permukaan bumi, Angga hinggap di pohon merenungi nasibnya yang malang.

Citra Angga yang dilihat Abdul Jalil di cermin sebagai burung gagak ternyata memunculkan masalah baru tak lama setelah Caruban memperoleh kemenangan dalam perang. Sebagai gagak yang tak mampu terbang tinggi dan tidak mengetahui jika di atas langit masih ada langit, dia sangat marah dan merasa terhina ketika menerima kabar kemenangan Caruban, terutama saat dia mendengar kegagahan dan keperkasaan Nyi Mas Gandasari, rajawali betina yang dielu-elukan seluruh pasukan karena keberaniannya tak tertandingi.

�Sungguh telah terjadi perubahan tatanan alam ketika seekor burung betina dirajakan mengganti kedudukan sang jantan,� kata Angga kepada berpuluh-puluh gagak tua yang mengerumuninya dengan suara serak dan melengking. Setelah berkaok-kaok melompat-lompat di atas tanah mengais-ngais serpihan daging busuk, gagak-gagak itu berkata serempak. �Jika panji-panji kemenangan dikibarkan di bawah cengkeraman kuku-kuku tajam burung betina bersayap pendek, niscaya matilah seluruh burung jantan akibat tak kuasa menanggung beratnya beban yang bertentangan dengan tatanan alam. Pantaskah burung-burung jantan mengeram dan menunggui sarang. Sementara yang betina terbang ke angkasa memamerkan kegagahan? Pantaskah seekor betina dirajakan atas burung-burung?�

Kecemburuan Angga terhadap kemasyhuran rajawali betina itu nyaris membawa Caruban ke perang lanjutan dalam bentuk penyerangan terhadap Dermayu. Di tengah ketidakpuasan dan rasa penasaran, Angga dengan disertai sejumlah pemuka masyarakat Caruban menghadap Sri Mangana, memohon agar diberi kesempatan untuk menebus kekalahannya yang memalukan. Dengan berkaok-kaok didukung gagak-gagak tua, ia berkata, �O Ratu Ular Laut yang perkasa, kami tidak mampu hidup dengan menanggung segunung aib ini. Para sesepuh pun tidak mampu terbang dengan gagah karena sayap-sayap mereka telah patah oleh timbunan aib. Sungguh berat bagi para burung jantan, o Ratu Ular Laut, jika dipaksa memikul beban tak tertanggungkan ini. Karena itu, kami, para rajawali jantan mohon diberi kepercayaan untuk memimpin pasukan guna menyerbu Dermayu dan mengislamkan Prabu Indrawijaya bersama para nayaka dan penduduknya. Biarlah kemenangan yang kami peroleh nanti akan menjadi obat bagi luka kami yang tak tersembuhkan.�

Sri Mangana menggeram dan menatap tajam Angga dan burung-burung gagak tua. Menurutnya, tidak cukup kuat alasan bagi Caruban untuk menyerang Dermayu. Itu sebabnya, meski didesak oleh para gagak jantan dan bahkan Angga pun telah bersujud di kakinya, ia menolak untuk menyerang Dermayu yang hampir seluruh penduduknya sudah beragama Islam. Namun, Angga yang sudah dirasuk rasa malu dan disakiti rasa terhina tidak putus harapan. Dengan berdalih mau mengislamkan raja Dermayu dan nayakaprajanya, sekembali menghadap kalifah, ia membawa tiga ribu orang laskar gabungan dari Kuningan, Trusmi, Kalisapu, dan Kuta Caruban. Ia dan laskarnya bergerak bagaikan awan terbawa angin ke Kutaraja Dermayu. Di sepanjang perjalanan, dengan pongah laskar-laskarnya berteriak menepuk dada. �Islamkan para pemuja berhala! Sunat Raja Dermayu! Potong kulup kemaluan orang-orang kafir.�

Prabu Indrawijaya, Yang Dipertuan Dermayu, sangat marah mendengar laporan tentang hasrat kemenakannya yang akan menyerang dan mengislamkannya. Kepalanya nyaris meledak ketika ia mendengar tentang caci maki para laskar yang menistanya sebagai kafir yang najis yang akan dipotong kemaluannya. Prabu Indrawijaya benar-benar merasa dihina dan direndahkan. Dengan kesombongan seekor singa tua yang geramannya masih menggetarkan musuh, ia mengaum, �Kehinaan apa yang aku peroleh jika harus menghadapi si mata sipit kulit pucat itu sebagai lawan? Dasar binatang tak tahu diri. Biarlah babi-babi sombong itu berbaris menuju padang penjagalan yang kita siapkan.�

Tanpa keluar dari kratonnya, Prabu Indrawijaya mengirim dua ribu pasukan yang dipimpin Pangeran Lembu Tirta, dua ribu pasukan yang dipimpin Pangeran Kidang Taraju, dan seribu pasukan dipimpin Ki Oyod. Pasukan Dermayu yang gagah perkasa itu dititahkan menghadang Angga dan laskarnya di seberang Sungai Kamal. Demikianlah, saat kedua pasukan bertemu, pecahlah pertarungan sengit yang membuat air Sungai Kamal berwarna merah. Dan ternyata, Angga mengalami nasib tidak lebih baik dari saat ia dan pasukannya dihancurkan pasukan Leuwimunding di hutan Kepuh. Dalam pertempuran itu, laskar yang dipimpin Angga hancur binasa. Hampir tiga ribu orang laskar yang dipimpinnya terbunuh. Sisanya melarikan diri. Angga sendiri dengan susah payah meloloskan diri dengan berpura-pura mati dan menghanyutkan diri hingga muara.

Kabar kehancuran laskar Angga diterima dengan ratap tangis para janda baru dan anak-anak yatim yang makin menggunung jumlahnya. Angga sendiri tidak diketahui keberadaannya. Baru pada hari kesepuluh dia muncul dalam keadaan kuyu untuk menghadap kalifah Caruban. Kemudian dengan kepandaiannya bersilat lidah, ia mengatakan akan siap memimpin kembali pasukan Caruban untuk menggempur Dermayu. Dia mengaku hanyut ke muara hingga terdampar ke pulau Menyawak setelah kalah bertempur di Sungai Kamal. Di pulau itu diberi jimat cupu oleh seorang pertapa tua. �Jimat cupu ini katanya bisa mengeluarkan beribu-ribu prajurit, Yang Mulia,� katanya berusaha meyakinkan.

Sri Mangana yang waskita hanya menggeleng-gelengkan kepala menghadapi kenaifan si burung gagak yang tak tahu diri itu. Namun, kali itu sang kalifah sudah habis kesabaran. Dengan suara menggelegar bagai halilintar ia berkata keras, �Cukup sudah tindakanmu mengobarkan nyawa orang-orang tak bersalah. Hentikan tidakan bodohmu yang sudah menciptakan ribuan janda dan anak-anak yatim! Terbukti sudah bahwa engkau tidak memiliki kecakapan apa-apa di medan tempur. Jikalau sekarang engkau masih berani meminta dukungan untuk menyerang Dermayu maka aku katakan bahwa perang dengan Dermayu tidak perlu dilakukan. Kenapa? Sebab, saudaraku Prabu Indrawijaya beserta seluruh keluarga, nayaka, dan punggawanya telah menghadapku. Saudaraku itu telah menyerahkan kekuasaan atas Dermayu kepada Caruban Larang. Bahkan mereka semua telah berikrar memeluk Islam. Karena itu, pergilah engkau ke Dermayu untuk meminta maaf kepada sang ratu yang sudah menjadi pengikut Muhammad Saw. itu.�

Angga tercengang-cengang mendengar penjelasan Sri Mangana. Ia merasa sangat kecewa karena tidak bisa membuktikan kegagahannya sebagai rajawali jantan. Ia sadar tidak bakal dipercaya lagi oleh Sri Mangana. Itu sebabnya, diam-diam ia menyembunyikan api kebencian terhadap sang rajawali betina. Demikianlah, makhluk bercitra gagak seperti Angga tidak memiliki kemampuan untuk bercermin diri sehingga tidak menyadari keberadaan diri sendiri. Ia tidak mengetahui bahwa takdir telah menempatkannya sebagai seekor gagak, sementara ia membayangkan diri seolah-olah rajawali jantan yang gagah perkasa: raja dari segala burung. Dan sebagaimana Angga, kerumunan bayangan hitam di Cermin Gaib itu akan bergulat untuk memperebutkan kekuasaan tanpa sadar bahwa mereka sesungguhnya adalah bayangan palsu dari manusia-hewan yang rendah. Mereka bukan manusia dan bukan pula adimanusia. Mereka adalah mereka: makhluk-makhluk tak tergambarkan yang lahir dari angan-angan kosong, cacing-cacing tanah, dan makhluk mengerikan dari alam Kegelapan.

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers