Jumat, 20 Januari 2017

KHOTBAH PEMBAHARUAN

Khotbah Pembaharuan

Ketika Abdul Jalil kembali ke Lemah Abang dengan diikuti Abdul Malik Israil, Ballal Bisvas, Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, Raden Qasim, Abdurrahman Rumi, dan Abdurrahim Rumi, ia sangat terkejut menyaksikan tempat yang ditinggalkannya tak lebih dari dua bulan itu sudah berubah menjadi desa hunian yang ramai. Tajug Agung dengan tujuh rumah di kanan dan kirinya, yang merupakan hunian pertama di Lemah Abang, tiba-tiba sudah dikepung oleh ratusan rumah dengan beberapa warung dan pasar desa. Ia masih terheran-heran ketika wajah-wajah baru penghuni Lemah Abang dengan penuh hormat menyambut kedatangannya dan menyatakan diri sebagai muridnya. Dengan sangat takzim mereka memanggil Abdul Jalil dengan sebutan baru: Syaikh Lemah Abang (Tuan Guru dari Lemah Abang).

Usai memimpin sembahyang berjama�ah di Tajug Agung, Abdul Jalil menanyakan kepada murid-muridnya tentang perubahan di Lemah Abang yang begitu mengejutkan. Para murid pun kemudian menuturkan bagaimana perubahan menakjubkan itu terjadi. Meski awalnya heran, dengan penjelasan para muridnya, Abdul Jalil akhirnya memahami kenapa desa yang dibukanya bisa berkembang begitu pesat dan menakjubkan.

Ternyata kunci pertumbuhan pesat Lemah Abang itu terletak pada kebijakan Abdul Jalil sendiri yang menghibahkan tanah kepada siapa saja yang berhasarat tinggal di tempat baru itu. Dalam waktu kurang dari sebulan sejak ia berkeliling ke pedalalman Bumi Pasundan, tutur para murid, tak kurang dari delapan puluh kepala keluarga datang ke Lemah Abang. Mereka mendirikan rumah di sekitar Tajug Agung dan mengubah padang alang-alang untuk dijadikan lahan partanian. Dan jumlah itu terus bertambah dari waktu ke waktu.

Abdul Jalil sendiri sesungguhnya sudah memperkirakan kebijakannya membagi-bagikan tanah anugerah dari Sri Mangana akan disambut gembira oleh para kawula Caruban Larang yang belum mengenal hak kepemilikan. Namun, ia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan sambutan begitu gegap gempita sehingga dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak desa litu dibuka dan pernyataan hibah itu disebarluaskan, Lemah Abang talah menjadi desa ramai yang dihuni oleh sekitar seribu warga dengan jumlah rumah sekitar dua ratus empat puluh. Seluruh tanah yang dihibahkan dengan jumlah dua ratus jung (560 hektar) itu sufah habis tanpa sisa. Menurut para murid, beberapa warga baru yang tinggal di selatan pasar desa tidak kebagian tanah garapan.

Setelah mengetahui seluk beluk perkembangan Lemah Abang, malam itu juga usai memimpin sembahyang isya, Abdul Jalil berkhotbah di depan warga yang meluber hingga ke teras dan halaman Tajug Agung. Dengan penampilan yang memesona Abdul Jalil berkata, �Sekarang ini aku katakan kepada engkau sekalian, o warga baru Lemah Abang, yang mengikrarkan diri sebagai murid-muridku. Hal pertama yang wajib kalian ingat sebagai murid adalah mengikuti ajaran-ajaran yang aku sampaikan dengan baik dan penuh kepatuhan. Pelajaran pertama dariku yang harus benar-benar kalian pahami serta kalian jadikan amaliah dalam kehidupan sehari-hari adalah memegang teguh ajaran tentang hakikat manusia dan tatanan hidup yang layak baginya. Apakah kalian semua bersedia untuk menerima ajaranku itu?�

Bagikan gemuruh suara ribuan lebah, warga serantak menyatakan kesediaan untuk menerima, mematuhi, dan mengamalkan ajaran yang akan disampaikan oleh Syaikh Lemah Abang. Setelah suara gaduh berlangsung beberapa bentar, keadaan tenang kembali. Abdul Jalil kemudian melanjutkan khotbah.

�Pertama-tama, yang wajib kalian ketahui adalah ajaranku tantang manusia. Sebagai murid-muridku, kalian wajib memiliki keyakinan utama bahwa sejak manusia lahir di dunia yang fana ini tiap-tiap pribadi memiliki fitrah keagungan dan kemuliaan sebagai makhluk paling sempurna keturunan Adam a.s.. Sebagai makhluk paling sempurna yang disebut adimanusia (al-insan al-kamil), kalian semua dicipta oleh Allah dengan maksud dijadikan wakil-Nya di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).�

Sesungguhnya rahasia agung di balik kesemmpurnaan adimanusia terletak pada kenyataan bahwa di dalam tubuh manusia yang terbuat dari tanah liat tersembunyi ruh bersifat Ilahiyyah yang ditiupkan oleh Allah saat penciptaan manusia pertama. Oleh karena adanya tiupan ruh itu maka makhluk yang sudah dicipta lebih dahulu, yaitu para malaikat, serentak sujud kepada manusia pertama tersebut, yakni Adam a.s.. Iblis, makhluk yang dicipta lebih dahulu dari Adam a.s., tetapi tidak mengetahui tentang tiupan ruh tersebut, menolak sujud. Iblis menganggap Adam a.s. hanyalah makhluk rendah yang terbuat dari anasir tanah belaka. Lantaran sikapnya yang keras mengingkari keagungan dan kemuliaan Adam a.s., Iblis dimurkai dan dilaknati Allah (QS Shad: 71 � 8 ).�

�Jika di dunia ini kalian menemukan ajaran, aturan, pandangan, dan tindakan dari orang seorang yang mengingkari keagungan dan kemuliaan manusia maka itulah cerminan dari sifat Iblis yang terkutuk. Jika kalian mendapati ada ajaran yang menista manusia sebagai makhluk rendah yang tubuhnya terbuat dari daging yang bakal membusuk dan karenanya harus direndahkan maka itulah ajaran Iblis. Jika kalian menemukan ada manusia yang suka merendahkan dan menista sesamanya maka itulah manusia Iblis. Pendek kata, apa pun yang terkait dengan penghinaan dan penistaan atas hakikat manusia adalah bertentangan dengan ajaranku.�

�Dengan memahami keyakinan bahwa manusia adalah wakil Allah di muka bumi, maka hal pertama yang harus disadari oleh setiap manusia yang mengaku muridku adalah membiasakan diri untuk selalu menyatakan ikrar bismillah (dengan atas nama Allah) dalam setiap gerak kehidupan yang dijalankannya. Dengan selalu menyatakan ikrar bismillah dalam memulai segala pekerjaan seperti makan, minum, mandi, bersolek, berpakaian, memasak, berjalan, menaiki kendaraan, bergaul dengan istri, membaca kitab, bahkan saat hendak tidur maka kalian akan selalu ingat dan sadar bahwa kalian adalah wakil Allah di dunia ini. Sementara itu, dengan melengkapi ucapan bismillah menjadi bismillahirrahmanirrahim (dengan atas nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang), maka kalian akan selalu ingat dan sadar diri bahwa kalian adalah wakil Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang di muka bumi (khalifah ar-Rahman wa ar-Rahim fi al-ardh). Itu berarti, kalian akan selalu ingat bahwa dalam kehidupan di dunia ini kalian wajib menjadi manusia yang memiliki sifat pemurah dan penyayang sebagaimana sifat Dia yang kalian wakili. Sehingga, dengan selalu ingat akan itu, kalian tidak akan berbuat aniaya di muka bumi ini.�

�Tetapi, keyakinan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna belum cukup untuk membuktikan keagungan dan kemuliaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Karena, ruh bersifat Ilahiyyah yang ada pada diri manusia banyak yang tidak kuat menanggung beban yang dipikulkan oleh nafsu rendah badani manusia. Ruh suci yang bersemayam di dalam diri manusia banyak yang tak berdaya menghadapi kuasa nafsu badani manusia yang rendah. Ruh suci yang tersembunyi di dalam hakikat manusia banyak yang terperangkap di dalam jaring-jaring kejahilan yang dicipta oleh nafsu rendah badani manusia.�

�Tahukah kalian apakah nafsu rendah badani manusia itu? Nafsu rendah badani manusia adalah jiwa manusia yang cenderung berhasrat kuat mencintai kebendaan. Akibat kecenderungannya itu maka dia bertekuk lutut di hadapan manusia lain sambil berkata, �Bebanilah punggungku dengan kebohongan-kebohongan dan janji-janji palsu, o Tuanku, agar aku dengan penuh sukacita dapat memamerkan kesetiaanku kepada Tuan yang bisa memberiku sekadar makanan dan benda-benda. Sesungguhnya aku adalah jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda beban yang akan menderita sakit jika punggungku tidak Tuan bebani. Tubuhku akan merasa remuk dan aku malas bekerja jika Tuan belum menderaku dengan cambuk. Telingaku akan tuli dan jiwaku akan merana jika Tuan belum mencacimakiku dengan hinaan.�

�Sesungguhnya nafsu rendah badani manusia selalu berubah-ubah sesuai ruang dan waktu di mana ia berada. Jika di berbagai negeri mereka selalu mengaku sebagai jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda, jiwa kuda beban yang selalu ingin memikul beban, maka di Bumi Pasundan dan Majapahit mereka cenderung berkata begini, �Pasanglah kuk penarik bajak atau pedati yang terbuat dari kebohongan dan janji palsu di punggungku, o Tuanku, agar aku dapat membuktikan pengabdianku kepada Tuan yang memberiku kandang dan pangan sekadarnya. Sesungguhnya aku adalah jiwa kerbau, jiwa kuda penarik kereta, jiwa sapi perah, dan jiwa anjing peliharaan yang akan menderita jika tidak menjalankan tugasku sesuai perintah Tuan. Dera tubuhku dengan cambukmu agar aku menjadi giat bekerja. Perah susuku agar aku menjadi sehat sentosa.� �

Wahai saudara-saudaraku, warga Lemah Abang yang mengaku murid-muridku, apakah engkau sekalian ingin selamanya menjadi makhluk rendah pembawa beban seperti keledai, unta, kuda beban, kerbau? Inginkah kalian selamanya berlutut di depan manusia lain dengan beban di punggung? Inginkah kalian selamanya menerima deraan, caci-maki dan hinaan dari sesamamu?� �

Sebagai guru di antara manusia aku ajarkan kepada kalian bahwa Adam a.s. tidak diciptakan oleh Allah untuk tujuan menjadi keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan bagi makhluk lain. Adam a.s., leluhurmu, diciptakan oleh Allah menjadi wakil Allah di muka bumi. Adam a.s. diciptakan untuk diagungkan dan dimuliakan oleh makhluk lain.� �

Dengarlah, o Saudara-saudaraku, aku katakan kepada kalian bahwa sejak saat ini kalian harus berani memulai perlawanan terhadap kekuasaan nafsu rendah badani manusia yang bersemayam di dalam dirimu sendiri. Lawanlah hantu buruk rupa dari nafsu rendah badani kalian itu. Siram wajahnya yang dipulas bedak kebohongan dan gincu kepalsuan itu dengan air keberanian yang mengalir dari sungai kebenaran. Biarkan dia malu dengan wajahnya yang buruk penuh pulasan itu. Sesungguhnya nafsu badani yang mencengkeramkan kuku tajamnya yang beracun itu adalah hantu yang selalu menakut-nakuti dirinya sendiri. Karena itu, bentangkan cermin kebenaran di dalam jiwamu dan hadapkan ke wajahnya agar ia malu melihat gambar dirinya sebagai keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan.�

�Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, sesungguhnya hal yang paling ditakuti oleh nafsu rendah badani adalah cermin kebenaran dan udara kebebasan. Sebab, jiwa sejati dari nafsu rendah badani adalah yang takut berkata benar dan ngeri hidup di alam kebebasan. Sebagai seorang guru, aku katakan bahwa mulai sekarang kalian harus melawan kekuasaan nafsu rendah badani yang menjajah dirimu sendiri. Jangan biarkan ia mendiktemu untuk tetap setia pada hasrat dan keinginan rendahnya yang akan menjadikan kalian keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Kalian harus berjuang keras untuk membangunkan ruh keagungan dan kemuliaan diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Kalian harus berjuang untuk mewujudkan diri sebagai makhluk paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain. Perbaharuilah jiwamu yang lama dengan jiwa yang baru!�

�Aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa aku mengajarkan manusia agar memiliki keberanian meninggalkan dunia pengap dengan tatanan lama yang selama ini diikutinya secara membuta berdasarkan petunjuk dari nafsu rendah badani. Sebab, telah terbukti bahwa tatanan lama itu menyesatkan manusia dari jalan yang benar, yakni jalan yang harus dilewati wakil Allah di muka bumi. Tatanan lama itu telah memerangkap manusia ke dalam kandang-kandang kotor yang diperuntukkan bagi keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Karena itu, tinggalkanlah dunia pengap dengan tatanan lama itu, meski nafsu rendah badani akan menghadang dan menakut-nakutimu dengan ancaman kesulitan dan kesengsaraan hidup di dunia.�

�Untuk meninggalkan tatanan lama yang menyesatkan itu, kepada kalian aku beri tahu tentang empat jiwa yang menyemangati ruh yang wajib kalian jadikan pusaka: dialah jiwa kebenaran, jiwa keberanian, jiwa ketabahan, dan jiwa kebebasan. Dengan empat jiwa yang menyemangati ruh itu, kalian akan dapat meninggalkan nafsu rendah badani dan melintasi jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda beban, jiwa kerbau, jiwa sapi perah, dan jiwa anjing peliharaan. Jika kalian berjuang keras bersama-sama dengan keempat jiwa dari ruh itu maka kalian tidak hanya akan mengalahkan nafsu rendah badani, tetapi juga dapat melampaui keberadaam kalian sebagai manusia untuk menjadi adimanusia, yakni wakil Allah di muka bumi yang membuat para malaikat bersujud.�

Bagaikan cahaya matahari terbit di pagi hari, khotbah yang disampaikan Abdul Jalil menerangi cakrawala jiwa para pendengarnya. Namun, Abdul Jalil sadar bahwa terang matahari pengetahuan yang menyinari jiwa murid-muridnya adalah terang mentari pagi yang masih diselimuti kabut dan embun. Abdul Jalil paham tidak semua pendengar memahami khotbahnya. Itu sebabnya, ia merasa berkewajiban untuk membuat lebih terang cakrawala jiwa para pengikutnya. Sebagaimana khotbah pertama, khotbah berikutnya disampaikan Abdul Jalil di Tajug Agung Lemah Abang seusai memimpin sembahyang isya. Dengan pandangan penuh kasih kepada para muridnya, ia memulai khotbah dengan suara digetari perasaan lain.

�Seperti telah aku ajarkan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa fitrah dari Sang Pencipta (al-Khaliq) yang diberikan kepada manusia adalah keagungan dan kemuliaan sebagai wakil Allah di muka bumi. Itu sebabnya, setiap orang yang mengaku sebagai muridku hendaknya memulai hidup baru dengan pandangan dan sikap hidup yang baru pula. Mereka yang mengaku muridku wajib menyadari keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki �kuasa-kuasa kodrati� untuk menjadi adimanusia wakil Allah di muka bumi.�

�Jika kalian telah sadar bahwa kalian adalah makhluk paling sempurna yang bisa meraih kedudukan sebagai wakil Allah di muka bumi, maka hendaknya masing-masing dari kalian berpegang pada tatanan hukum Ilahi (syari�at) yang bersumber dari sabda Allah dan teladan Nabi Muhammad Saw. (sunnah ar-rasul). Tanpa menggunakan pedoman hukum Ilahi, kalian akan kehilangan arah dalam usaha mewujudkan diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Bukankah di manapun manusia berada selalu diatur oleh aturan-aturan hukum yang sesuai dengan lingkungannya? Demikianlah, aku katakan bahwa hukum Ilahi merupakan pedoman yang wajib diikuti oleh mereka yang meyakini bahwa manusia adalah citra wakil Allah di muka bumi.�

�Dengan menyadari keberadaan diri sebagai calon adimanusia dan wakil Allah di muka bumi, maka di dalam tatanan hukum Ilahi termaktub larangan bagi siapa saja yang mengaku orang beriman untuk berlutut dan bersujud kepada sesama makhluk di jagad raya ini. Lantaran ketetapan hukum Ilahi seperti itu maka kalian � yang yakin bahwa manusia dirancang sebagai wakil Allah di muka bumi � dilarang berlutut dan bersujud menyembah pohon, batu, kuburan, gunung, bulan, bintang, matahari, binatang, makhluk gaib, dan sesama manusia. Sebab, tidaklah pantas seorang wakil menyembah sesama wakil atau yang lebih rendah lagi.�

�Jika selama ini aku masih melihat sebagian dari kalian berlutut dan menyembah raja-rajamu dan pemimpin-pemimpinmu maka mulai sekarang semua itu hendaknya harus diubah. Sebab, tidak ada tatanan hukum Ilahi yang �mengharuskan� kalian berlutut dan menyembah kepada selain Allah. Lantaran itu, semua kebiasaan itu harus diperbaharui dengan tatanan baru yang sesuai dengan kodratmu sebagi wakil Allah di muka bumi: jangan berlutut dan menyembah sesuatu selain Dia yang telah mengangkatmu sebagai waki-Nya.�

�Namun, dalam mengamalkan ajaran ini, kalian juga harus ingat bahwa menurut tatanan hukum Ilahi terlarang bagi kalian untuk mencela dan menista manusia lain yang masih melakukan penyembahan kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Tidak ada hak bagi kalian untuk mencela orang lain yang tidak sepaham dengan kalian. Sesungguhnya, bagi masing-masing kelompok manusia telah terdapat ketentuan jalan masing-masing. Dan sesungguhnya, segala sesuatu yang terkait dengan penyembahan Allah adalah mutlak atas kehendak-Nya sendiri untuk disembah dengan berbagai nama dan cara. Karena itu, kalian jangan mencela cara-cara yang digunakan orang lain dalam menyembah Allah yang tidak sesuai dengan caramu.�

�Jika ada di antara kalian yang bertanya bagaimanakah tatana baru yang sesuai bagi para wakil Allah di muka bumi? Kukatakan kepada kalian bahwa tatanan yang berlaku di kediaman kalian, Lemah Abang ini, adalah bukti dari tatanan baru tersebut. Aku katakan tatanan di Lemah Abang adalah tatanan baru sebab ia adalah tatanan yang ditegakkan berdasarkan hukum Ilahi yang diperuntukkan bagi para wakil Allah.�

�Jika selama ini kalian mengikuti tatanan lama secara membuta maka sekarang kalian akan mengikuti tatanan baru yang bersumber dari hukum Ilahi. Jika kalian belum paham dengan tatanan baru yang aku maksudkan itu maka sekarang aku akan menerangkan kepada kalian. Adapun tatanan baru yang ditegakkan di Lemah Abang ini adalah tatanan yang berdiri di atas asas-asas hukum Ilahi yang sesuai dengan fitrah wakil Allah di muka bumi.�

�Sungguh telah terdapat tatanan lama, di berbagai belahan bumi, yang menetapkan bahwa setiap penghuni sebuah negeri yang bukan �raja� adalah kumpulan manusia malang yang telah ditekuk oleh kebohongan yang mengatakan bahwa mereka adalah keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang setia. Di Bumi Pasundan dan Majapahit, misalnya, mereka itu disebut kawula (budak) yang tidak diakui keberadaannya sebagai pribadi manusia. Lantaran itu, mereka tidak mempunyai hak apa pun atas hidupnya sendiri. Sementara raja dan keluarganya serta orang-orang di sekitarnya, setiap saat dan setiap tempat dapat mengambil apa saja yang dimiliki kawula, termasuk mengambil nyawa tanpa hak.�

�Tatanan yang tidak memanusiakan manusia itulah yang harus ditingglkan karena tatanan itu menista dan merendahkan harkat dan martabat manusia. Ya, tatanan lama bikinan manusia itulah yang harus diperbaharui oleh tatanan yang bersumber dari sabda Allah dan teladan hidup Nabi Saw.. Karena terbukti sudah bahwa tatanan lama itu menjerumuskan manusia dari kedudukan wakil Allah di muka bumi menjadi kawanan keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang hina dina yang menggantungkan hidup kepada tuannya.�

�Sebagai bukti adanya tatanan baru yang bersumber dari hukum Ilahi di Lemah Abang, desa yang baru kita bangun dengan cucuran keringat kita sendiri ini, berlaku ketentuan mutlak yang mewajibkan setiap orang yang mengaku muridku untuk meninggalkan mimpi buruk itu. Semua muridku wajib meninggalkan tatanan lama yang dibangun di atas kebohongan dan dusta itu. Aku katakan sekali lagi, setiap warga Lemah Abang atau setiap orang yang mengaku muridku tidak boleh lagi tunduk dan patuh pada tatanan yang dibangun oleh para pendusta. Murid-muridku tidak boleh membiarkan dirinya dijadikan keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang tunduk di bawah kekuasaan manusia lain.�

�Keberadaan masing-masing pribadi manusia sebagai calon wakil-wakil Allah di muka bumi, di Lemah Abang ini, wajib diakui, dihargai, dan dihormati. Itulah asas tatanan baru berdasar hukum Ilahi yang aku maksud. Ingat-ingat! Siapa saja yang berada di Lemah Abang ini sama kedudukan dan derajatnya sebagai manusia. Semua sesaudara, keturunan Adam a.s.. Sebagaimana para raja yang menyatakan diri mereka sebagai pengejawantahan Tuhan di dunia, begitulah semua manusia di Lemah Abang ini harus dipandang sebagai pengejawantahan Tuhan di dunia. Di Lemah Abang ini setiap manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi. Di Lemah Abang ini tidak ada raja dan tidak ada kawula. Tidak ada gusti dan tidak ada hamba sahaya. Semua manunggal sebagai anak cucu Adam a.s.. Semua adalah sesaudara karena semua berkedudukan sebagai wakil Allah.�

�Jika di antara kalian ada yang bertanya apakah tatanan baru ini adalah hasil olah pikiran Syaikh Lemah Abang sendiri? Aku katakan kepada kalian bahwa seribu tahun silam peraturan ini sudah pernah oleh seorang laki-laki buta huruf yang agung dan mulia di kota bernama Yatsrib yang terletak di negeri Arabia. Beliau adalah Nabi Muhammad Saw.. Saat itu tidak ada perbedaan derajat antara Bilal bin Rabah yang bekas budak dan bangsawan serta saudagar kaya seperti Utsman bin Affan. Setiap manusia dihargai sebagai pribadi yang utuh. Beliau mengajarkan tiap-tiap manusia baik raja maupun budak akan diminti pertanggungjawaban secara pribadi atas segala apa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia.�

�Dengan memahami bahwa tatanan yang berlaku di Lemah Abang ini hanya meniru tatana hukum Ilahi yang sudah pernah diterapkan seribu tahun silam maka sesungguhnya tatanan ini tidaklah baru. Jikalau aku sebut tatanan ini baru karena memang baru di Bumi Pasundan dan Majapahit. Sebagaimana saat tatanan itu diterapkan pada zaman Nabi Muhammad Saw., saat sekarang pun tatanan itu banyak menghadapi tantangan dan rintangan. Sebab, dengan tatanan baru itu sesungguhnya sangat banyak para pendusta dan pencinta nafsu duniawi akan dirugikan. Lantaran itu, kalian harus menyiapkan dan menyiagakan diri untuk berhadapan dengan mereka yang mengutuki tatanan baru yang kita berlakukan di Lemah Abang ini.�

Abdul Jalil berhenti sejenak sambil matanya menyapu ke halaman Tajug Agung yang penuh disesaki warga. Ia meninggalkan mimbar dan berjalan ke arah teras Tajug Agung. Setelah berdiri dan menarik napas panjang, ia melanjutkan khotbahnya dengan suara yang lain.

�Wahai saudara-saudaraku, warga Lemah Abang yang mengaku muridku, kepadamu aku akan menerangkan dan menjabarkan tentang makna adimanusia sebagai wakil Allah di muka bumi dan tatanan hukum Ilahi yang menyertainya sebagai keniscayaan yang harus diwujudkan dalam sehari-hari. Kenapa ini harus kujelasjabarkan kepada kalian? Karena hanya dengan memahami apa yang akan aku jelaskan dan jabarkan ini, kalian semua akan beroleh keselamatan hidup yang sejati.�

�Pertama-tama, hendaknya kalian semua menyadari bahwa dengan menduduki derajat adimanusia dan menyandang jabatan wakil Allah di muka bumi, sesungguhnya secara fitrah keberadaan kalian merupakan manusia menyandang nama (asma�), sifat (shifat), perbuatan (af�al) Allah. Maksudnya, dengan didudukkan pada derajat adimanusia, sesungguhnya kalian memancarkan citra makhluk mulia yang mewakili Yang Mahasempurna di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), yaitu pancaran citra wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).�

�Dengan menyadari bahwa antara adimanusia dan wakil Allah di muka bumi adalah sama pada makna hakiki dalam asma�, shifat, dan af�al maka sesungguhnya tiap-tiap manusia secara fitrah juga menduduki jabatan wakil Yang Zahir di muka bumi (khalifah azh-Zhahir fi al-ardh), wakil Yang Batin di muka bumi (khalifah al-Bhatin fi al-ardh), wakil Yang Maha Menguasai di muka bumi (khalifah al-Malik fi al-ardh), wakil Yang Maha Pemberi Rezeki di muka bumi (khalifah al-Razaq fi al-ardh), wakil Yang Maha Pemurah di muka bumi (khalifah ar-Rahman fi al-ardh), wakil Yang Maha Menghakimi di muka bumi (khalifah al-Hakam fi al-ardh), wakil Yang Maha Memelihara di muka bumi (khalifah al-Hafizh fi al-ardh), dan seterusnya. Dan semua makna hakiki asma�, shifat, dan af�al itu menyatu secara seimbang dan sempurna pada citra al-Haqq yang ditiupkan oleh-Nya saat menyempurnakan kejadian wakil-Nya. Sehingga, hakikat sejati keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi sesungguhnya tercitrakan secara utuh pada kedudukan wakil al-Haqq di muka bumi (khalifah al-Haqq fi al-ardh).�

�Dengan memahami dan menyadari bahwa tiap-tiap manusia adalah wakil al-Haqq di muka bumi maka keberadaan tiap-tiap manusia wajib diakui, dihargai, dan dihormati sebagai pribadi yang memiliki hak-hak fitrah sebagai makhluk paling sempurna. Tahukah kalian apa yang dinamakan hak-hak filtrah manusia sebagai wakil al-Haqq? Yaitu, hak diakui keberadaannya melalui kebebasan menyampaikan Kebenaran. Itulah hak paling fitrah dari wakil al-Haqq di muka bumi yang wajib dihargai dan dihormati.�

�Tidak peduli seseorang berkedudukan sebagai raja, pangeran, nayakapraja, pedagang, petani, kuli, bahkan budak sekalipun, secara fitrah memiliki hak untuk bebas menyatakan kebenaran. Sebab, dengan menyatakan Kebenaranlah sesungguhnya orang-seorang diakui keberadaannya sebagai manusia. Bahkan, yang dianggap paling mulia di antara wakil al-Haqq dalam mewujudkan hak fitrahnya adalah mereka yang berani menyampaikan Kebenaran kepada penguasa zalim yang tidak mengakui hak manusia lain. Sesungguhnya, mengingkari keberadaan manusia sebagai pribadi yang mewakili al-Haqq di muka bumi adalah sama artinya dengan mengingkari keberadaan al-Haqq. Itu sebuah kekufuran yang wajib ditentang dan dijauhkan dalam kehidupan.�

�Tahukah kalian apa yang disebut mengakui, menghargai, dan menghormati keberadaan tiap-tiap pribadi manusia yang mempunyai hak fitrah untuk bebas menyuarakan Kebenaran? Jika engkau mengakui keberadaan seekor burung dan membiarkannya berkicau maka itulah yang kuibaratkan dengan mengakui, menghargai, dan menghormati keberadaan tiap-tiap pribadi manusia. Sebab, kicau burung adalah suara Kebenaran yang dinyanyikan lewat bahasa burung. Demikianlah, mengakui, menghargai, dan menghormati manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah seibarat engkau mengakui keberadaan burung yang bebas membuat sarang untuk berkembang biak dan bebas berkicau di tempat mana pun di muka bumi. Sungguh merupakan kezaliman jika dengan kekuatan tanganmu engkau rusakkan sarang burung dan engkau larang burung-burung berkicau memuji keagungan Penciptanya.�

�Pada masa lalu, barang seribu tahun silam, pengakuan terhadap keberadaan manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi pernah diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw. yang dilanjutkan oleh keempat sahabat yang menjadi penerusnya. Saat itu tiap-tiap manusia dihargai dan dihormati haknya untuk menyuarakan Kebenaran. Itu sebabnya, seorang bekas budak berkulit hitam yang menyampaikan gagasan adzan, cara memanggil orang untuk bersembahyang, oleh Nabi Muhammad Saw. diterima dan dijadikan bagian dari peribadatan yang berlaku sampai sekarang ini. Karena itu, setiap kali kalian mendengar suara adzan dikumandangkan, hendaknya kalian mengingat bahwa penggagas panggilan untuk bersembahyang itu bukanlah raja dan bukan pula bangsawan, melainkan bekas budak kulit hitam bernama Bilal bin Rabah.�

�Sebagai bukti lain bahwa keberadaan tiap-tiap pribadi manusia diakui sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah kisah yang menuturkan tentang seorang sahabat Nabi yang buta bernama Ibnu Maktum. Karena Nabi Muhammad Saw. sempat mengabaikan manusia buta itu dan lebih mengutamakan bangsawan Quraisy maka beliau ditegur Allah. Lantaran itu, setiap kali Nabi bertemu Ibnu Maktum, beliau selalu berkata, �Wahai sahabat, yang membuatku ditegur Tuhanku.�

�Dengan apa yang telah aku paparkan ini, jelaslah sudah bahwa pengakuan, penghargaan, dan penghormatan terhadap manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah semata-mata atas kehendak-Nya. Itu sebabnya, Nabi Muhammad Saw. sebagai penyampai Kebenaran Ilahi menjalankan amanah-Nya itu dengan sempurna. Dan karena aku adalah ulama pewaris Nabi (al-ulama� waratsat al-anbiya�) maka aku pun berkewajiban untuk meneladani beliau. Kalian sebagai murid-muridku hendaknya mengikuti jejakku, yaitu mengakui, menghargai, dan menghormati manusia lain terutama suara Kebenaran yang disampaikannya.� �

Jika selama ini baik di Bumi Pasundan maupun Majapahit terdapat tatanan yang mengatur bahwa siapa pun di antara kawula tidak mempunyai hak apa-apa, karena yang memiliki hak atas segala hak adalah raja, maka kukatakan kepada kalian bahwa tatanan itu sekarang sudah diubah di Lemah Abang ini. Tatanan usang itu harus diperbaharui. Jika selama ini terdapat tatanan yang menetapkan bahwa siapa pun di antara kawula tidak memiliki hak untuk menyuarakan Kebenaran, karena yang berhak mengatakan ini dan itu tentang Kebenaran hanya sang raja, maka kukatakan bahwa tatanan itu pun harus diperbaharui. Maksudku, sejak ini, diawali di Lemah Abang, tidak boleh lagi ada anggapan bahwa yang diakui keberadaannya hanya sang raja, yang wajib didengar kata-katanya sebagai titah hanya sabda sang raja.�

�Untuk membuktikan bahwa apa yang telah aku sampaikan bukanlah angan-angan kosong dan bukan pula impian pembual, di Lemah Abang ini akan menerapkan peraturan yang mengakui, menghargai, dan menghormati tiap-tiap pribadi manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi. Di Lemah Abang ini kalian semua diakui sebagai pribadi-pribadi yang mempunyai hak untuk menyampaikan Kebenaran.�

�Hal kedua yang wajib kalian ketahui sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah keberadaan kalian diakui dalam hal �hak milik� atas sesuatu. Di Lemah Abang ini, ibarat burung yang memiliki sarang dan bebas berkicau, kalian pun telah diakui memiliki sebidang tanah, sepetak rumah, dan harta secukupnya yang bisa kalian jadikan sarana untuk kehidupan kalian di dunia yang fana. Kalian pun dengan bebas dapat menyuarakan Kebenaran. Di Lemah Abang ini hak masing-masing manusia dihargai dan dihormati karena masing-masing warga sadar bahwa semua adalah wakil al-Haqq.�

�Jika kepada kalian ada yang bertanya kenapa di Lemah Abang masing-masing warga memiliki sebidang tanah, sepetak rumah, dan harta benda? Katakan kepada penanya itu bahwa kalian adalah wakil al-Haqq dan sekaligus wakil al-Malik. Sesungguhnya sedikit �hak milik� dalam bentuk tanah, rumah, dan harta yang kalian punyai adalah bagian dari lambang keberadaan kalian sebagai wakil Yang Maha Memiliki (khalifah al-Malik fi al-ardh). Jika Yang Maha Memiliki (al-Malik) adalah Pemilik alam semesta maka sebagai wakil-Nya di muka bumi, fitrah kalian adalah memiliki sebagian kecil milik-Nya sebagai amanat untuk menguji kesetiaan kalian dalam menjalankan tugas sebagai wakil-Nya.�

�Kenapa kepemilikan tanah, rumah, dan harta para muridku aku sebut dengan istilah �hak milik� dari wakil al-HaqqI dan wakil al-Malik? Sebab untuk menjaga keseimbangan tatanan kehidupan wakil-wakil Allah di muka bumi, citra al-Haqq dan al-Malik tidak bisa dipisahkan. Maksudnya, jika kalian hanya menganggap dirimu sebagai wakil al-Malik maka engkau akan cenderung memiliki segala sesuatu dengan tanpa hak. Engkau cenderung menyamai-Nya sebagai pemilik segala. Dan, engkau akan cenderung melanggar hak sesamamu. Jika itu yang terjadi maka timbullah kekacauan di dalam tatanan kehidupan bersama karena wakil al-Malik telah menjadi pesaing dari al-Malik. Ujung dari semua itu adalah keterjerumusan manusia dari kedudukan wakil al-Malik di muka bumi menjadi budak nafsu rendah badani. Lantaran keberadaan manusia adalah sebagai wakil al-Haqq dan sekaligus wakil al-Malik maka manusia wajib mengikuti tatanan hukum Ilahi yang menetapkan ketentuan halal, haram, dan syubat dalam hal perolehan �hak milik� para wakil Allah di muka bumi.�

�Dengan memahami bahwa di Lemah Abang ini kalian telah mempunyai tanah, rumah, dan harta sebagai �hak milik� maka hendaknya kalian pertahankan hak milik itu sebagai pusaka. Karena tanah, rumah, dan harta yang kalian miliki itu diamanatkan al-Haqq dan al-Malik untuk wakil-Nya di muka bumi. Siapa pun di antara manusia yang akan merampas hak milik kalian, hendaknya kalian lawan mereka dengan sekuat daya dan segenap kekuatan. Sebab, dengan melawan para perampas itu maka kalian sesungguhnya telah menunjukkan keberadaan diri sebagai wakil al-Haqq dan wakil al-Malik.�

�Tetapi, perlu kalian pahami bahwa melawan para perampas hak kalian tidak selalu dengan cara mengangkat senjata dan bertempur melawan mereka. Jika engkau berdiam diri, namun tidak menjalankan titah dan keinginan para perampas itu, sesungguhnya engkau telah melakukan perlawanan. Jika kalian mengajak mereka mengadu hujjah dengan kata-kata maka sesungguhnya kalian telah melakukan perlawanan juga. Dan jika kalian merasa kuat untuk melawan kekuatan para perampas hak itu, bolehlah kalian menggunakan kekerasan sebagaimana yang telah mereka lakukan, namun jangan sampai melampaui batas. Jika kalian terbunuh dalam mempertahankan hak milik kalian, maka kalian termasuk syahid karena kalian terbunuh saat mempertahankan amanat Allah secara benar.�

�Selain hak milik kalian atas tanah, rumah, dan harta benda dihargai serta dihormati, hak milik kalian atas keluarga juga dihargai dan dihormati di Lemah Abang ini. Sebab, kalian juga adalah wakil Yang Maha Menjaga dan Maha Memberi Kebahagiaan di muka bumi (khalifah al-Muhaimin fi al-ardh). Sesungguhnya anak-anak dan istri kalian adalah titipan dari al-Muhaimin yang diamanatkan kepada kalian, wakil-Nya, untuk kalian jaga dan kalian bahagiakan. Sebagaimana hak milik kalian atas tanah, rumah, dan harta benda, sebagai wakil al-Muhaimin pun kalian tidak lepas dari kedudukan wakil al-Haqq. Kalian adalah wakil al-Haqq dan wakil al-Muhaimin sekaligus. Sehingga, hukum Ilahi menetapkan bahwa setiap manusia hendaknya membangun keluarga dengan cara-cara yang hak.�

�Karena citra al-Haqq tidak terpisah dari citra al-Muhaimin dalam pembentukan keluarga maka keluarga-keluarga yang diakui, dihargai, dan dihormati di Lemah Abang ini adalah keluarga yang dibangun atas asas-asas yang benar (haqq) menurut hukum Ilahi. Istri yang kalian miliki, kalian jaga, dan kalian bahagiakan itu wajiblah istri yang diperoleh dari hasil pernikahan yang sah menurut syari�at agama. Peraturan lama yang mengatakan bahwa istri harus diperoleh dengan cara membawa lari anak orang sebagai lambang kejantanan, tidak berlaku di Lemah Abang ini. Sebab, melarikan anak orang dan kemudian menyetubuhinya tanpa akad nikah merupakan perbuatan zina. Anak yang lahir dari hubungan seperti itu adalah anak haram (haram zadah).�

�Sungguh aku berpesan kepada kalian agar menjaga Lemah Abang ini dengan baik. Jangan jadikan tempat ini sebagai tempat perzinahan. Jangan jadikan tempat ini sebagai hunian anak-anak haram hasil zina. Jangan jadikan tempat ini sarang penyamun, kediaman manusia-manusia tamak yang suka merampas hak orang lain. Dan yang penting kalian ingat, janganlah kalian tinggal lebih lama lagi di tempat ini jika keinginan kalian sebagai wakil al-Muhaimin telah menyimpang dari ketentuan yang ditetapkan al-Haqq. Maksudnya jangan engkau jaga dan bahagiakan istri-istri dan anak-anakmu dengan melanggar hak orang lain. Hiduplah dengan hak sesuai hukum Ilahi.�

�Dengan menyadari keberadaan diri sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Malik, dan wakil al-Muhaimin, hendaknya kalian tidak sekali-kali membiarkan orang lain merampas anak-anak dan istri kalian. Mereka adalah �hak milik� yang wajib kalian jaga dan kalian bahagiakan. Karena itu, tolaklah siapa pun di antara manusia yang meminta anak-anak dan istri kalian, apakah itu untuk alasan mereka akan dijadikan gundik dan hamba raja atau dijadikan wadal bagi pembangunan atau tumbal bagi upacara-upacara darah. Tolak dan lawan para perampas hak itu. Pertahankan keluarga kalian sebagaimana kalian mempertahankan hidup dan mati kalian sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Malik, dan wakil al-Muhaimin. Dengan mempertahankan hak milik kalian atas keluarga, sesungguhnya kalian telah mempertahankan amanat-Nya secara hak. Jika kalian mati maka kalian akan tercatat sebagai syuhada. Kalian akan mati syahid.�

Beberapa jenak Abdul Jalil berhenti. Dengan penuh kasih ia menyapukan pandang ke murid-muridnya yang terperangah seolah-olah menyaksikan dan mendengarkan dongeng yang memesona. Kemudian dengan berapi-api ia meneruskan khotbahnya.

�Satu hal lagi yang penting kalian ingat-ingat, bahwa sebagaimana margasatwa yang bebas dalam menapaki kehidupannya, begitulah hendaknya bagi tiap-tiap warga di Lemah Abang mempunyai hak fitrah untuk memilih sesuatu yang sesuai dengan kehendaknya. Warga Lemah Abang bebas memilih agama, cara mencari nafkah, pemimpin, tatanan hidup, dan kumpulan yang sesuai keinginannya selama tidak melanggar hak-hak manusia lain. Sesungguhnya, dalam penciptaan wakil-Nya di muka bumi, Dia telah menganugerahi manusia tangan, kaki, tubuh, nafsu, akal, dan ruh sehingga manusia menjadi makhluk paling sempurna di jagad raya. Kesempurnaannya itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain dalam kewenangan memilih. Sebab, keberadaan adimanusia juga menyandang atribut wakil Yang Maha Menentukan di muka bumi (khalifah al-Muqtadir fi al-ardh). Sehingga, dengan kedudukan itu tiap-tiap manusia secara fitrah memiliki hak untuk memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri sepanjang pilihan itu tidak melanggar hak manusia lain.�

�Dengan memahami keberadaan manusia sebagai wakil al-Muqtadir maka kelirulah anggapan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya manusia mutlak tidak memiliki hak untuk memilih apa pun bagi hidupnya. Semua tergantung pada ketentuan Allah. Itu pandangan Jabariyyah yang mengingkari keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Sebaliknya, keliru pula anggapan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya pilihan mutlak ada pada tangan manusia. Itu pandangan Qadariyyah yang mengingkari kekuasaan al-Muqtadir dalam menentukan kehidupan wakil-Nya.�

�Jika ada yang bertanya kenapa manusia sebagai wakil al-Muqtadir memiliki hak fitrah untuk memilih agama, maka aku katakan bahwa masing-masing atribut Ilahi yang disandang manusia saling terkait satu dengan yang lain. Di atas itu semua, pertentangan masing-masing atribut itu adalah citra kesempurnaan dari hakikat asma�, shifat, dan af�al-Nya. Lantaran kewakilan manusia begitu sempurna dalam mencitrakan asma�, shifat, dan af�al Allah maka diwajibkan bagi manusia untuk menjalani hidup dengan berpedoman pada hukum suci Ilahi demi terwujudnya tatanan yang seimbang dalam kehidupan di bumi.�

�Sesungguhnya, keberadaan manusia sebaagai wakil al-Muqtadir terkait dengan atribut yang lain, yaitu wakil Yang Memberi Petunjuk di muka bumi (khalifah al-Hadi fi al-ardh). Sementara al-Hadi membentangkan �jalan-jalan� untuk mencapai-Nya (wa alladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana). Itu sebabnya, tidak satu pun manusia boleh memaksa orang lain agar menganut agama atau satu jalan tertentu. Tidak boleh ada paksaan dalam agama (la ikraha fi ad-din). Sebab, hak fitrah dari wakil al-Hadi sekadar �menyampaikan� petunjuk (huda) kebenaran (haqq). Seorang manusia yang mengangkat dirinya menjadi penunjuk jalan Kebenaran dan mengatakan apa yang diyakini itu sebagai satu-satunya jalan Kebenaran, maka sesungguhnya dia telah merampas wewenang Dia, Yang diwakilinya. Orang seperti itu telah menjadi pesaing bagi Allah. Sesungguhnya, orang semacam itu telah durhaka terhadap kehendak Allah.�

�Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, bahwa rahasia atas agama-agama adalah mutlak milik-Nya. Tidak satu pun di antara wakil-Nya yang berhak ikut campur menentukan ke arah mana �wajah al-Hadi� dihadapkan atau dengan cara bagaimana Dia disembah hamba-Nya. Tidak satu pun di antara wakil-Nya boleh berkata: �Allah harus disembah dengan cara begini dan begitu. Yang ini benar dan yang itu salah. Surga itu kecil dan karenanya hanya muat untuk saya dan jama�ah saya. Neraka itu besar untuk seluruh makhluk di luar jama�ah saya.�

�Sesungguhnya, jika manusia telah meyakini diri sebagai pemilik Kebenaran maka dia telah merampas hak Allah dan bahkan menista Allah dengan fitnah yang keji. Sebab, orang-orang yang menganggap dirinya sebagai pemilik Kebenaran akan berkata begini di dalam hatinya: �Sesungguhnya, Allah adalah Tuhan Yang Mahakejam dan Mahatidak adil. Sebab, Dia mencipta surga hanya untuk aku dan jama�ahku yang segelintir jumlahnya, sedangkan makhluk lain disiksanya dengan azab pedih di neraka.�

�Jika dalam kehidupan di dunia ini kalian menemukan manusia-manusia seperti itu, jauhilah mereka. Sesungguhnya merekalah orang-orang yang sakit qalbu-nya. Sesungguhnya, aku katakan kepada kalian semua, bahwa Dia, Allah, adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang disembah manusia dari segala agama. Tuhan yang disembah margasatwa, gunung, hutan, lautan, bumi, bulan, bintang, matahari, setan, iblis, jin , serta seluruh makhluk yang kasatmata maupun yang gaib. Dan sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw., bahwa beliau hanyalah penyampai Kebenaran, maka hendaknya kalian pun jangan melampaui beliau, kiblat panutan kita.�

�Dengan memahami bahwa dalam masalah agama tidak boleh ada paksaan maka, tidak Islam, tidak Hindu tidak Budha, semuanya dihargai hak hidupnya di Lemah Abang ini. Warga Hindu dan Budha yang ingin membangun tempat ibadah di Lemah Abang tidak perlu segan atau takut. Dirikan tempat-tempat ibadah untuk memuja kebesaran Ilahi, Tuhan sarwa sekalian alam, Sang Pencipta, Yang Berkehendak disembah dengan segala macam cara oleh berbagai makhluk ciptaan-Nya baik yang gaib maupun yang kasatmata.�

Untuk itu, ingat-ingatlah selalu, dengan anugerag yang serba sempurna itu, sebagai wakil al-Kamal di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), selain bebas menentukan pilihan dalam beragama, kalian pun mempunyai hak fitrah untuk memilih cara terbaik mencari nafkah. Dengan tangan, kaki, akal, nafsu, dan hati nurani yang kalian miliki, kalian bebas mencari nafkah selama itu tidak melanggar hak manusia lain.�

�Dengan selalu bersyukur karena menyadari keberadaan diri sebagai wakil Yang Mahasempurna di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), terlarang bagi penghuni Lemah Abang untuk menjadi peminta-minta. Sebab, dengan menjadi peminta-minta sesungguhnya orang seorang telah mengingkari keberadaan dirinya sebagai wakil Yang Maha Pembalas di muka bumi (khalifah asy-Syaku fi al-ardh). Sungguh celaka manusia yang tidak tahu balas budi atas anugerah kesempurnaan yang diberikan al-Kamal kepadanya.�

�Dengan kesadaran diri sebagai wakil al-Kamal dan wakil asy-Syakur, kalian pun wajib menolak usaha manusia lain yang akan menjerumuskan kalian ke dalam perbudakan, kecuali jika kalian memang menghendakinya. Sebagaimana atribut-atribut Ilahi yang terkait dalam citra wakil al-Haqq, sebagai wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, dan wakil asy-Syakur pun sesungguhnya kalian tetaplah wakil al-Haqq; sehingga di dalam kebebasan mencari nafkah harus diikuti dengan cara-cara yang hak. Janganlah sekali-kali kalian melanggar hak orang lain.�

�Yang tak kalah penting di antara hak fitrah memilih itu adalah yang terkait dengan kehendak bebas memilih pemimpin. Sebagai wakil al-Muqtadir di muka bumi (khalifah al-Muqtadir fi al-ardh), kalian memiliki hak untuk menentukan siapa di antara manusia di dalam golonganmu yang pantas menjadi pemimpinmu. Jika selama ini, di dalam tatanan lama, kalian tidak dilibatkan dalam menentukan siapa pemimpin yang sesuai dengan yang kalian kehendaki maka mulai sekarang hal itu wajib ditinggalkan. Di Lemah Abang akan segera diadakan pemilihan pemimpin berdasarkan pilihan warga. Sebab, tidak ada kehidupan makhluk tanpa pemimpin.�

�Dengan kesadaran sebagai wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, wakil asy-Syakur, dan wakil al-Haqq, maka hendaknya kalian jangan sekali-kali membiarkan orang lain melanggar, menentukan atau merampas hak fitrah kalian, baik dalam hal memilih agama, menentukan cara mencari nafkah, dan memilih pemimpin. Jangan biarkan orang-orang jahat memaksa kalian untuk berlutut dan bersujud di hadapan batu, pohon, kuburan, gunung, bulan, bintang, dan manusia lain. Jangan pula kalian membiarkan orang-orang keji menjadikan kalian dan anak-anak kalian sebagai budak belian yang terampas kemerdekaannya. Jangan biarkan mereka menjadikanmu dan anak-anakmu mencari nafkah sebagai keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Jangan biarkan orang memperbudak dirimu dan anak keturunanmu. Lawanlah mereka yang merasa berhak memilihkan jalan hidup kalian dan anak-anak kalian sebagai budak hina, karena sejatinya engkau sekalian adalah wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, dan wakil al-Haqq yang memiliki hak fitrah memilih yang terbaik bagi diri sendiri.�

Abdul Jalil berhenti beberapa bentar. Ia saksikan pancaran harapan berkilau-kilau dari mata murid-murid yang mendengarkan khotbahnya. Setelah menarik napas panjang, ia melanjutkan lagi khotbahnya.

�Sebagai penghuni tempat bernama Lemah Abang yang sadar akan keberadaan dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi, sesungguhnya kalian memiliki tujuan dan kiblat yang sama, yaitu menjalankan tugas sebagai wakil Allah. Lantaran tujuan dan kiblat kalian sebagai kumpulan pribadi adalah sama maka keberadaan kalian sebagai kumpulan pribadi itu disebut kabilah (qabilah). Aku katakan kiblat kalian sama, sebab baik kalian yang beragama Islam maupun Hindu dan Budha tidak lagi tunduk bersujud kepada sesama makhluk. Yang muslim hanya menyembah Allah. Yang Hindu hanya menyembah Syiwa. Yang Budha hanya menyembah Budha. Sesungguhnya berbagai nama-Nya itu adalah satu jua hakikat-Nya: Tuhan Yang Tak Terbayangkan. Yang Tak Tergambarkan oleh kata-kata. Yang Tak Terbandingkan. Yang Tak Terjangkau pancaindera. Esa. Memenuhi segala.�

�Namun, ingatlah bahwa sebagai sebuah kabilah kalian hanya bisa mencapai tujuan yang kalian arah dalam lingkup kecil yang terbatas, yaitu sebagai sesama warga Lemah Abang dan beberapa desa di sekitarnya. Sedangkan kehidupan ini tidak hanya terbatas di Lemah Abang dan desa-desa di sekitarnya. Itu sebabnya, untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan lebih tinggi sebagai wakil al-Kamal maka kalian harus menjadi bagian dari kumpulan manusia dari kabilah lain. Kumpulan-kumpulan manusia dari kabilah lain dengan prinsip kesetaraan dan kesederajatan sebagai sesama wakil al-Kamal itulah yang disebut ra�yat (ra�iyat), yang bermakna kumpulan dari cabang-cabang anak manusia.�

�Sebagaimana kabilah, ra�yat memiliki makna kumpulan manusia yang memiliki kiblat dan tujuan yang sama, namun skalanya lebih besar. Di dalam kumpulan manusia yang disebut ra�yat, tempat, agama, suku, warna kulit, dan bidang pekerjaan tidak menjadi alat pengikat utama. Alat pengikat utama adalah tujuan yang sama dari pribadi-pribadi di dalam ra�yat tersebut. Namun satu hal yang wajib kalian ingat adalah ra�yat hanya memiliki makna bersatunya tujuan dan kiblat yang sama. Ra�yat belum memiliki makna bergerak bersama. Ra�yat belum melangkah seiya-sekata sebagai gerakan. Karena itu, agar ada gerak hidup dan langkah yang nyata menuju tujuan yang dikehendaki ra�yat maka hendaknya pribadi-pribadi dari ra�yat itu harus saling bekerja untuk bergerak. Dan, ra�yat yang sudah saling bekerja sama untuk bergerak itulah yang disebut masyarakat, yakni pribadi-pribadi dari ra�yat yang melakukan kerja sama (musyarakat).�

�Karena baik ra�yat maupun masyarakat berpangkal pada kabilah maka tujuan maupun gerakan kerja sama itu, di dalam ra�yat atau masyarakat harus memiliki kiblat yang sama. Agar masyarakat memiliki tujuan dan kiblat yang sama dan sekaligus bergerak bersama maka hendaknya masyarakat itu bercirikan ummah, yakni �gerak ke depan� (amam). Dengan demikian, kumpulan-kumpulan manusia sebagai tatanan baru kehidupan yang dimulai di Lemah Abang ini hendaknya disebut �masyarakat ummah� yang tujuan dan gerakannya didasarkan pada musyawarah bersama para wakil Allah di muka bumi.�

Abdul Jalil diam sejenak. Ia memandang wajah-wajah pendengar khotbahnya yang tercengang-cengang bagai mendengarkan dongeng menakjubkan. Sekilas Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa tidak semua pendengar memahami maksudnya. Bahkan, beberapa di antara mereka yang paham terlihat ragu-ragu seolah mereka hendak diajak mewujudkan sebuah mimpi yang mengerikan.

�Aku paham jika banyak di antara kalian masih dicekam oleh rasa takut dan ragu untuk mengamalkan ajaranku dan mengikuti tatanan baru di Lemah Abang ini. Selama berpuluh bahkan beratus tahun kalian hidup di lingkungan yang tidak mengenal hak-hak fitrah seorang manusia, wakil Allah di muka bumi. Selama beratus tahun kalian tidak mengetahui jika kalian adalah wakil Allah di muka bumi, yang memiliki �kuasa-kuasa kodrati� dari asma�, shifat, dan af�al Allah. Selama ini yang diakui keberadaannya sebagai wakil Tuhan hanya raja. Sementara kalian selama ini ditempatkan sebagai kawula, yang tidak memiliki hak apa pun termasuk hak atas hidup kalian sendiri.�

�Kini aku katakan kepada kalian semua bahwa di Lemah Abang ini sudah tidak ada lagi peraturan yang membedakan kedudukan orang seorang sebagai kawula dan sebagai gusti. Kumpulan manusia di Lemah Abang inilah yang disebut kabilah, sebagai bagian dari masyarakat ummah, yaitu kumpulan pribadi manusia yang mempunyai hak milik atas tanah dan kekayaan pribadi, hak milik atas keluarga, hak milik atas agama, hak untuk mencari nafkah, hak untuk memilih pemimpin. Kumpulan manusia yang memiliki tujuan dan kiblat yang sama yakni mewujudkan jati diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Jika nanti ada pihak-pihak yang mengancam keselamatan kalian maka bekerjasamalah kalian dengan kabilah lain sehingga terbentuk ra�yat dan masyarakat ummah. Insya Allah, dengan bekerjasama dengan manusia lain sebagai masyarakat ummah, kalian akan kuat sentosa menghadapi segala tantangan dan rintangan.�

�Jika di antara kalian ada yang bertanya kenapa ra�yat Lemah Abang harus bekerja sama dengan sesama anggota ra�yat? Maka, aku akan balik bertanya, apakah engkau yang sudah memahami intisari khotbah-khotbahku tentang keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi benar-benar berani dan mampu mewujudkannya seorang diri? Aku memahami bahwa tiap-tiap kalian masih dihantui oleh rasa takut untuk mempertahankan hak-hak yang kalian miliki sebagai wakil Allah.�

�Tidakkah kalian pernah melihat seekor semut yang susah payah membawa sebutir nasi? Kesulitan seekor semut itu teratasi jika ia bekerja sama dengan kawan-kawannya. Ibarat semut-semut membawa sebutir nasi ke sarang, begitulah kumpulan kalian di sebut masyarakat ummah. Nah, dengan akal dan budimu hendaknya engkau sekalian dapat memahami kenapa kalian harus bekerja sama dengan sesama kalian dalam kesetaraan dan kesederajatan. Dengan bekerja sama sesungguhnya kalian akan menjadi lebih kuat sentosa dalam mencapai tujuan yang kalian kehendaki.�

�Dengan alasan bahwa masing-masing kalian harus memperkuat diri dan meneguhkan keberanian maka menjadi keharusan mendasar bagi kalian untuk bekerja sama dengan pribadi-pribadi lain. Sepuluh pribadi yang ketakutan, jika bekerja sama sebagai pribadi-pribadi yang merasa senasib dan sepenanggungan, maka akan menjadi sepuluh pribadi yang kuat dan pemberani. Karena itu, bersatu padulah kalian dalam wadah kabilah, ra�yat, dan masyarakat ummah untuk menghadapi segala kesulitan yang bakal menghadang di tengah jalan.�

�Sesungguhnya sangat banyak manusia rakus dan serakah yang akan tidak suka dan membenci ajaranku di Lemah Abang ini. Mereka tidak akan segan-segan untuk menumpas ajaranku dan tatanan baru di Lemah Abang yang mereka anggap mengancam kepentingan pribadi mereka. Tetapi, aku katakan kepada kalian, lawanlah dengan segenap kuasa dan kemampuanmu mereka-mereka yang akan menghancurkan harapan kalian. Kalian wajib mempertahankan hak-hak kalian yang telah terampas.�

Para warga baru Lemah Abang tercengang-cengang. Belum pernah mereka mendengar ajaran tentang kehidupan dan tatanan baru sebagaimana diuraikan Abdul Jalil. Usai mendengar khotbah sang pembuka desa, warga berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil untuk membicarakan berbagai hal terkait pelaksanaan ajaran dan tatanan baru tersebut. Mereka berbincang-bincang dari malam hingga dini hari.

Bagaikan matahari yang terus merambat ke puncak langit dengan sinar yang makin terang dan panas, Abdul Jalil menerangi cakrawala kesadaran warga Lemah Abang dengan khotbah-khotbahnya yang cemerlang. Bagaikan margasatwa yang berlarian di padang kehidupan setelah dicekam kegelapan malam, dengan kegembiraan meluap-luap warga Lemah Abang menyambut khotbah-khotbah Abdul Jalil. Laksana margasatwa menyambut kehangatan cahaya matahari sehingga dengan cahaya itu mereka dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk.

Seperti sebelumnya, khotbah berikutnya disampaikan Abdul Jalil usai memimpin sembahyang isya di Tajug Agung Lemah Abang. Namun, malam itu mereka yang hadir di Tajug Agung bukan hanya warga Lemah Abang. Beratus-ratus warga dari desa sekitar Lemah Abang ikut hadir untuk mendengarkan khotbah yang memesona. Malam itu Abdul Jalil berkhotbah di teras Tajug Agung agar suaranya bisa didengar oleh hadirin yang berjejal-jejal hingga ke halaman. Dengan suara berapi-api mengobarkan semangat ia menyadarkan manusia lewat khotbahnya.

�Seperti telah kukatakan kepada kalian bahwa tiap-tiap manusia adalah wakil Allah di muka bumi maka hendaknya kalian mampu memahami makna itu dalam arti yang sebenarnya. Jangan kalian terperangkap oleh akal dan nafsumu yang kerdil dengan memaknai �kalifah� Allah dalam menguasai bumi beserta isinya. Sekali-kali tidak demikian maknanya. Sebab, jika kalian terperangkap pada makna itu maka kalian akan beranggapan bahwa Allah telah mempusakakan bumi dan segala isinya kepada wakil-Nya.�

�Sesungguhnya kata �kalifah� dalam kaitan dengan hakikat khalifah Allah fi al-ardh merujuk pada al-Wakil, yaitu salah satu nama-Nya. Itu sebabnya, selain menyandang kedudukan sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Hakim, wakil al-Muhaimin, wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, wakil asy-Syakur, wakil al-Hakam, wakil ar-Rahman, dan wakil ar-Rahim, sesungguhnya manusia juga wakil al-Wakil di muka bumi (khalifah al-Wakil fi al-ardh). Artinya, manusia menjadi wakil Yang Maha Memelihara penyerahan tiap-tiap urusan. Itu bermakna, tiap-tiap manusia yang menyadari keberadaan dirinya sebagai wakil al-Wakil di muka bumi akan memahami bahwa hak fitrah yang dimilikinya hanyalah sebagai pemelihara dan pengelola bumi. Seorang wakil al-Wakil dilarang menguras kekayaan dan merusak segala sumber daya yang terkandung di permukaan maupun di perut bumi milik Allah.�

�Jika kalian bertanya kenapa manusia tidak menguasai dan mewarisi bumi? Kenapa manusia hanya berwenang memelihara dan mengelola bumi? Aku katakan kepada kalian agar mengingat ajaran yang pernah aku sampaikan sebelumnya. Sesungguhnya manusia terbentuk atas dua anasir utama, yaitu tanah dan ruh suci yang ditiupkan Sang Pencipta saat leluhur manusia diciptakan di surga. Itu sebabnya dalam menjalankan tugas sebagai wakil Allah di muka bumi, seorang manusia tidak diperkenankan mengikatkan kiblat hati dan pikirannya kepada bumi. Bumi bukanlah hunian asal manusia. Sebab, bumi bukan tempat manusia kembali setelah mati. Bumi hanya hunian sementara. Bumi akan menjadi tempat kembali tubuh kalian yang terbuat dari tanah. Karena itu, kalian semua yang sadar bahwa ruh suci manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah (inna li Allahi wa inna ilaihi raji�un), hendaknya tidak mencintai segala sesuatu melebihi kecintaanmu kepada Dia dari mana ruh suci berasal. Janganlah kalian terjerat oleh bujuk rayu nafsu rendah badani untuk mencintai bumi beserta segala isinya, karena hal itu akan menyesatkanmu dari jalan Kebenaran-Nya.�

�Ada di antara kalian yang bertanya kepadaku tentang tatanan baru di Lemah Abang yang didasarkan pada kesetaraan dan kesederajatan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Menurut pamahamannya, tatanan itu sudah tersedia sebagai keniscayaan, seolah-olah kitab ajaib yang jatuh dari langit. Kemudian, karena keajaibannya, maka tatanan dari langit itu wajib dihargai dan dihormati oleh semua orang. Tiap-tiap warga, menurut pamahaman ini, wajib dihargai keberadaan dan seluruh perilakunya. Jika pemahaman seperti itu yang kalian tangkap dari apa yang pernah aku ajarkan maka sesungguhnya kalian telah keliru memahami tatanan baru yang kumaksudkan.�

�Aku memang telah berkata bahwa di Lemah Abang tidak ada perbedaan antara gusti dan kawula. Tidak ada raja, tidak ada hamba sahaya. Semua warga setara dan sederajat. Semua manunggal dalam persaudaraan. Namun, satu hal yang wajib kalian ingat bahwa fitrah manusia sebagai keturunan Adam a.s. sesungguhnya bertingkat-tingkat sesuai kadar ketakwaannya. Karena itu, sungguh keliru mereka yang menelan mentah-mentah ucapanku dengan berkata, �Menurut ajaran Syaikh Lemah Abang, semua manusia adalah sama dan sebangun. Sama tinggi. Sama rendah. Sama warna. Sama rupa. Sama derajat.�

�Sungguh picik mereka yang menafsirkan ucapanku tentang kesetaraan dan kesederajatan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi dengan pemahaman seperti itu. Sebab, sebagaimana namanya, Lemah Abang bermakna tanah merah subur yang memberikan kesempatan sama bagi semua benih untuk tumbuh. Di tanah ini tidak ada perbedaan benih ini boleh tumbuh dan benih itu terlarang tumbuh. Benih apa pun boleh tumbuh di Lemah Abang. Tetapi, waktu dan perilaku alam akan menguji daya tumbuh masing-masing benih. Benih yang kuat dan mampu menghadapi tantangan alam akan tumbuh besar dan sentosa dengan akar-akar yang kuat serta buah yang lebat. Namun, benih yang lemah dan tidak mampu mengatasi tantangan alam akan meranggas, merana, layu, dan mati. Demikianlah perumpamaan tentang tatanan baru di Lemah Abang.�

�Lihatlah, o Saudara-saudaraku, hamparan rumput alang-alang di sekitarmu! Jika engkau cermat mengamatinya maka akan engkau dapati kenyataan bahwa tidak ada rumput yang sama tinggi. Tanaman padi pun tidak ada yang sama tinggi. Demikian pun, pohon-pohon hutan yang sama jenisnya tidak ada yang sama tinggi. Sebab, tinggi dan rendah adalah tatanan alam (sunnah Allah) yang tidak bisa diganggu gugat. Dapatkah sungai mengalirkan air jika dasarnya tidak terdapat perbedaan tinggi dan rendah?�

�Sebagaimana tatanan alam yang sudah tergelar, di Lemah Abang pun pada gilirannya akan terdapat perbedaan tinggi dan rendah derajat manusia. Tetapi berbeda dengan di tempat lain yang menata kedudukan tinggi dan rendah berdasarkan suku, warna kulit, agama, dan keturunan; tatanan tinggi dan rendah kedudukan orang seorang di Lemah Abang ini ditentukan oleh kemampuannya dalam mewujudkan citra diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Karena itu, yang tertinggi derajatnya di antara penduduk Lemah Abang nanti adalah pahlawan-pahlawan yang berhasil menaklukkan monster ganas di dalam dirinya, yang disebut nafsu rendah badani. Dia yang tertinggi adalah pahlawan-pahlawan yang kembali ke tengah kaumnya dengan membawa bendera kemenangan dan disambut dengan suka cita oleh kaumnya. Dia yang dianugerahi gelar �sang pembunuh monster ganas� di dalam diri sendiri. Pahlawan-pahlawan itulah yang dielu-elukan kaumnya sebagai pelindung dan penjaga kehidupan dan gangguan monster-monster ganas. Dan pahlawan-pahlawan itu, menurut hukum suci Ilahi, disebut dengan gelar agung: qaum al-muttaqin!�

�Aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa kekalifahan manusia sesungguhnya adalah sebuah rentangan kedudukan antara binatang (al-an�am), manusia (al-insan), dan adimanusia (al-insan al-kamil). Karena itu, untuk mencapai kekalifahan, tiap-tiap manusia wajib melewati dan melampaui kebinatangan dan kemanusiaannya. Kekalifahan adalah palagan pertempuran tempat masing-masing manusia menguji diri. Hanya mereka yang bersungguh-sungguh, berani, tawakal, dan memiliki harapanlah yang bisa mencapai kedudukan kalifah. Mereka yang tidak bersungguh-sungguh, penakut, malas, gampang putus asa, dan tidak memiliki harapan tidak akan pernah bisa melampaui kedudukan kalifah dan tinggal selamanya dalan kedudukan binatang.�

�Ketahuilah, pada saat manusia berjuang melampaui kebinatangan dan kemanusiaan untuk mencapai kekalifahan, sesungguhnya akan terdapat orang-orang berjiwa keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Mereka itulah orang-orang yang terikat kecintaan pada diri pribadi secara berlebihan, kiblat hidupnya terarah pada bumi dan kebendaan. Mereka orang-orang yang berada pada kedudukan binatang. Merekalah manusia berderajat rendah yang berjalan terseok-seok di permukaan bumi karena punggungnya memanggul beban keinginan nafsu dan pamrih duniawi yang berat. Makin lama mereka berjalan makin terseok langkahnya karena tubuh makin lemah tak kuat menanggung beban. Sementara itu, beban yang dipanggulnya berangsur-angsur menjelma menjadi monster mengerikan yang mengisap darah dan otak mereka.�

�Ketika beban berat yang dipanggul sudah tak mampu lagi disangga maka mereka yang berjiwa binatang itu akan menjelma jadi binatang bagi sesamanya. Ia akan memangsa sesamanya untuk memenuhi hasrat dan keinginan monster nafsunya yang haus darah. Bahkan mereka akhirnya lebih ganas dari monster yang dipanggulnya. Mereka akan menjadi penebar petaka dan ketakutan bagi penghuni bumi.�

�Sementara itu, yang lebih tinggi derajatnya dari golongan binatang ini adalah golongan manusia. Mereka adalah orang-orang yang sadar akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki �kuasa-kuasa kodrati� adimanusia untuk menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi. Tetapi, mereka hanya mampu memahaminya dalam tingkat pemikiran dan pemahaman belaka. Mereka banyak menemui kegagalan dalam mewujudkan kekalifahan dalam amaliah kehidupan sehari-hari. Mereka itulah orang-orang yang masih cenderung menafsirkan kekalifahannya terkait dengan kepentingan-kepentingan pribadinya. Mereka sering terjebak pada sikap dan tidakan yang tidak adil dan melampaui batas, meski mereka sadar bahwa hal itu tidak benar.�

�Manusia tertinggi di antara manusia adalah mereka yang sudah dapat mewujudkan keberadaan dirinya sebagai adimanusia, yakni manusia sempurna (al-insan al-kamil) yang menjadi wakil Allah di muka bumi. Mereka itulah adimanusia yang telah berhasil menaklukkan monster-monster ganas yang bersembunyi di dalam dirinya. Mereka itulah pahlawan-pahlawan pemberani yang sudah mengepakkan sayap-sayapnya dan terbang ke angkasa meninggalkan tanah berlumpur penuh biji emas yang memanggil-manggil dengan rayuan menggiurkan. Mereka penjaga keseimbangan hidup di bumi. Mereka pemelihara sejati bumi, namun mereka tidak berhasrat terikat dengan bumi. Merekalah penegak keadilan yang berjuang untuk kelestarian bumi beserta isinya. Merekalah pahlawan-pahlawan yang selalu didambakan kehadirannya oleh penghuni bumi karena selalu menjadi rahmat bagi lingkungannya.�

�Jika kalian bertanya bagaimana mewujudkan kehidupan seorang wakil Allah di muka bumi? Kukatakan kepada kalian bahwa seorang wakil Allah bukanlah penumpuk kekayaan berlebih dengan alasan untuk warisan anak cucu. Sebab, mereka yang menjadi penumpuk kekayaan berlebih sesungguhnya telah berbuat tidak adil baik terhadap diri sendiri maupun terhadap anak dan cucu: mereka itulah makhluk rendah yang tergolong sebagai penzalim diri sendiri dan keturunan. Kukatakan tidak adil dan bahkan zalim terhadap diri sendiri dan keturunan karena dengan tindakan menumpuk kekayaan berlebihan itu sesungguhnya mereka telah menzalimi kesucian ruh yang bersemayam di dalam dirinya. Mereka adalah manusia yang terperosok ke jurang kehinaan sebagai makhluk rendah yang mengumbar hasrat nafsu. Jiwa mereka senantiasa diliputi rasa khawatir dan ragu dalam meniti hidup.�

�Jika kalian bertanya apakah mewariskan harta benda berlebih untuk anak cucu merupakan tidakan tidak adil dan zalim? Aku katakan, sungguh telah berbuat tidak adil dan zalim siapa pun di antara manusia yang mewariskan harta benda berlebih kepada anak dan cucunya. Mewariskan harta benda berlimpah berarti seseorang tidak saja telah menjerumuskan anak dan cucunya ke dalam jurang ketamakan, tetapi juga melumpuhkan semangat mereka untuk berjuang menghadapi tantangan hidup. Sesungguhnya kecintaan manusia terhadap anak cucu yang diwujudkan dalam bentuk warisan harta benda berlebih adalah jaring-jaring malapetaka yang justru membahayakan kehidupan para pewaris itu sendiri.�

�Jika di antara kalian ada yang ingin mengetahui siapakah di antara manusia yang tidak berkeinginan mewariskan harta benda kepada keturunannya? Aku tunjukkan kepada kalian bahwa manusia terhormat itu adalah Guru Agung manusia panutanku, Sang Adimanusia, Nabi Muhammad Saw.. Pada zamanya beliau adalah pemimpin umat dan pemegang kunci perbendaharaan Baitul Mal dari sebuah kekuasaan yang membentang di seluruh jazirah Arabia. Tetapi, beliau hidup di samping masjid. Tiap hari sering mengganjal perutnya dengan batu karena lapar. Ketika beliau wafat tidak meninggalkan secuil pun warisan kepada putera puteri dan cucu-cucunya. Satu-satunya warisan yang ditinggalkan untuk seluruh manusia adalah Kitab Allah dan keteladanan hidupnya.�

�Sesungguhnya, sebagaimana perilaku Nabi Muhammad Saw., keempat orang sahabat penggantinya adalah adimanusia yang telah terbukti membentangkan cermin kewakilan mereka atas asma�, shifat, dan af�al Allah sebagaimana diteladankan Nabi Muhammad Saw. Sementara itu, karena aku sangat ingin meneladani perikehidupan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya maka aku pun sudah bertekad untuk tidak mewariskan secuil pun harta benda kepada anak keturunanku. Sebagaimana telah kalian ketahui semua, tanah shima (bebas pajak) anugerah dari Sri Mangana telah kubagi-bagikan tanpa sisa kepada kalian. Lantaran itu, sekarang aku tidak memiliki apa-apa lagi. Sejak ini aku akan tinggal di gubug kecil di sampig Tajug Agung.�

�Dengan mengungkap apa yang terkait dengan perilaku Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya, yang telah kuikuti jejaknya itu, janganlah kalian sangka aku mengungkit-ungkit pemberianku kepada kalian, apalagi untuk sekedar pamer kebajikan. Sesungguhnya aku menghendaki agar kalian, yang telah mengakui aku sebagai guru, tidak hidup berlebihan. Ingat-ingatlah bahwa kalian hidup di dunia ini hanya berhak memelihara dan mengelola bumi. Kalian hanya sementara tinggal di sini. Itu sebabnya, jika ada di antara kalian yang mengambil tanah berlebihan dengan alasan yang ini dan yang itu untuk bagian anakku dan yang di sana untuk bagian cucuku, maka hentikanlah itu. Cukuplah kalian mengambil bagian untuk dirimu dan keluargamu sesuai kebutuhan. Kelebihan tanahmu hendaknya engkau berikan kepada saudaramu yang belum kebagian tanah.�

�Aku katakan kepada kalian bahwa warisan yang paling berharga bagi anak dan cucu kalian sesungguhnya adalah bekal iman dan ilmu. Dengan dua bekal itu engkau telah membentangkan jalan keselamatan bagi anak dan cucumu. Sebab, dengan bekal iman dan ilmu sesungguhnya engkau sekalian telah menyerahkan segala urusan keturunanmu kepada al-�Alim. Dan, ingat-ingatlah selalu bahwa ciri utama dari keberadaan seorang wakil Allah di muka bumi adalah menjadi rahmat bagi makhluk yang lain.�

Ketika Abdul Jalil usai berkhotbah dan berjalan ke arah gubugnya, bubarlah para pendengar. Sebagian kembali ke rumah masing-masing. Sebagian berkerumun dalam kelompok-kelompok untuk membicarakan intisari khotbah. Namun, saat Abdul Jalil akan masuk ke pintu gubugnya, salah seorang pendengar yang datang dari desa lain bertanya, �Bagaimana Tuan Syaikh bisa berkata bahwa manusia yang terikat kecintaan pada bumi dan kebendaan berkedudukan sebagai binatang? Bagaimana Tuan Syaikh bisa menilai rendah kecintaan manusia pada benda hingga menyetarakan mereka sebagai binatang?�

Abdul Jalil yang tak menduga bakal ditanya, terdiam beberapa saat tak menjawab. Sejurus kemudian terdengar keributan di utara desa. Sebagian warga yang sedang berjalan ke rumah masing-masing berhamburan bagai air lautan diaduk. Keributan pun makin hingar-bingar ketika orang-orang berteriak sahut-menyahut dan sambung-menyambung.

Ketika salah seorang murid dengan bercucuran keringat mendekat, Abdul Jalil bertanya, �Apakah sesungguhnya yang sedang terjadi?�

�Orang-orang mengejar babi ngepet, Tuan Syaikh,� sahut sang murid.

�Babi ngepet?� gumam Abdul Jalil sambil memandang orang yang baru saja bertanya kepadanya. �Bukankah itu binatang jadi-jadian yang menurut cerita berasal dari manusia pecinta kebendaan? Bukankah kecintaan terhadap benda bisa menjadikan manusia dalam wujud hina, yaitu binatang yang najis?�

�Maafkan kami, Tuan Syaikh,� kata sang penanya blingsatan dengan muka kecut. �Kami sekarang memahami apa yang telah Tuan Syaikh jelaskan.�

Read More ->>

Kamis, 19 Januari 2017

AL-WAHM

Al-Wahm

Pengharapan (al-raja�) beriringan dengan amal. Pengharapan tanpa amal adalah tebaran jaring-jaring lamunan kosong (al-umniyyah). Sedang tebaran jaring-jaring lamunan kosong adalah kekuatan yang cenderung menuntun manusia ke perangkap angan-angan kosong (al-wahm) yang menjerat. Bagi seorang penempuh jalan ruhani (salik), perangkap al-wahm haruslah dihindari dan dilampaui. Sebab, perangkap al-wahm adalah hijab tebal yang menyelubungi manusia untuk dapat menyaksikan Kebenaran Ilahi.

Terjerat ke perangkap al-wahm itulah yang sesungguhnya dialami oleh Raden Sahid dan Raden Qasim saat keduanya meniti jalan ruhani (suluk) sebagai salik. Terpesona oleh kisah Abdul Jalil tentang Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri, putera mahkota Wijayanagar yang menjadi brahmin pengembara, mereka berdua mengangankan dapat meraih kehidupan ruhani yang agung sebagaimana sang putera mahkota. Namun, pengalaman ruhani yang belum matang mengakibatkan mereka jatuh ke perangkap al-wahm.

Hari-hari yang mereka lewati lebih banyak dihabiskan di sebuah gua yang terletak di belakang pesantren dan di hadapan makam Syaikh Datuk Kahfi. Mereka beranggapan bahwa dengan menghindari berbagai urusan duniawi dan menenggelamkan diri ke dalam kekhusyukan maka mereka akan beroleh karunia ruhani (al-warid) sebagaimana yang telah diperoleh Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri. Saat berada di hadapan makam Syaikh Datuk Kahfi mereka berharap arwah gurunya itu berkenan memohonkan kepada Allah SWT. agar melimpahi mereka dengan berbagai kemurahan karunia ruhani.

Kerasnya semangat (sawabiq al-himam) yang dilakukan Raden Sahid dan Raden Qasim dalam perjuangan memperoleh karunia ruhani ternyata tidak menghasilkan apa-apa, bahkan menjadi penyebab kacaunya jadwal pembelajaran di pesantren. Bagaikan tak kenal siang dan malam, Raden Shid dan Raden Qasim lebih banyak terlihat bertafakur di dalam gua dan di depan makam Syaikh Datuk Kahfi.

Abdul Jalil sendiri semula tidak mengetahui perihal keterperangkapan Raden Sahid dan Raden Qasim ke dalam jeratan al-wahm. Ia mengetahui hal itu secara kebetulan ketika berziarah ke makam Nyi Babadan, istri Syarif Hidayatullah yang meninggal beberapa hari setelah kepergian Abdul Jalil ke Gunung Pulasari. Saat ia bersama Syarif Hidayatullah berziarah, mereka mendapati Raden Sahid dan Raden Qasim sedang bertafakur di depan makam Syaikh Datuk Kahfi.

Sebagai orang yang sudah kenyang mengunyah dan memamah serta menelan pahitnya perjalanana ruhani, Abdul Jalil menangkap sasmita ada ketidakberesan yang terjadi pada kedua orang adik seperguruannya itu. Itu sebabnya, ia menanyakan kepada Syarif Hidayatullah tentang mereka berdua. Betapa terkejut ia saat Syarif Hidayatullah memberi tahu bahwa baik Raden Sahid maupun Raden Qasim sesungguhnya sudah melakukan pengasingan diri beberapa waktu setelah Syaikh Datuk Kahfi wafat.

�Kenapa engkau tidak memberi tahu aku?�

�Bukankah hal itu biasa, Paman?� ujar Syarif Hidayatullah. �Bukankah tidak salah mereka bertafakur di hadapan makam Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi? Sebab, seingat saya, sesungguhnya orang-orang yang meninggal ndi jalan Allah itu tidaklah mati, bahkan mereka hidup, hanya kita yang tidak menyadari keberadaannya (QS al-Baqarah:154). Bukankah demikian, Paman?�

�Bagi manusia yang mengharapkan karunia ruhani dari Allah SWT., apa yang mereka lakukan memang tidak keliru,� ujar Abdul Jalil menjelaskan. �Tetapi bagi manusia yang mengharap Kebenaran Ilahi, jelas apa yang mereka lakukan merupakan kekeliruan besar. Yang penting engkau pahami, o Anakku, bahwa tanpa pengetahuan rahasia yang bisa menyingkap alam gaib, tidak seorang pun manusia bisa berhubungan dengan ruh seorang ahli kubur. Jika berhubungan denganruh ahli kubur saja tidak bisa, apa lagi berhubungan dengan Sang Kebenaran (al-Haqq).�

�Apakah beda karunia ruhani Ilahi dan Kebenaran Ilahi?�

�Jika seseorang mengharap aku memberikan uang, pakaian, makanan, dan berbagai hal yang aku miliki maka itulah ibarat dari karunia Ilahi. Tetapi jika seseorang berharap bisa menjadi kawanku, sahabat karibku, kekasihku maka itulah ibarat dari Kebenaran Ilahi. Ketahuilah, sesungguhnya mereka berdua bukanlah golongan orang yang biasa yang cukup puas dengan karunia Ilahi. Mereka bisa menjadi sahabat dan bahkan kekasih Allah SWT..�

�Saya paham, Paman.�

Sambil terbatuk-batuk Abdul Jalil melangkah ke arah kedua orang adik seperguruannya dan bertanya, �Apakah sesungguhnya yang telah kalian lakukan di hadapan makam guru agung?�

�Mohon ampun, Pamanda,� kata Raden Sahid. �Kami berdua sedang melakukan iktikaf agar kami beroleh karunia dari-Nya.�

�Kenapa beriktikaf di depan makam guru agung? Apakah kalian berdua hanya menginginkan karunia ruhani dari-Nya?� tanya Abdul Jalil dengan suara ditekan.

�Kami berdua merasa tidak punya kemampuan apa-apa untuk bisa menghadap hadirat-Nya. Itu sebabnya, kami memohon bantuan wasilah kepada guru agung kami yang suci agar menyampaikan hajat kami kepada-Nya. Kami berdua pun tidak berani berharap lebih dari sekedar beroleh karunia ruhani dari-Nya.�

�Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, bahwa keinginanmu untuk menghindari urusan duniawi dengan melakukan iktikaf di makam guru agung dapat dikata sebagai getar nafsu kalian yang tersembunyi (asy-syahwat al-khafiyyah). Hal itu menyebabkan keterperangkapan kalian berdua ke dalam jerat al-wahm yang penuh ditebari jaring-jaring lamunan kosong (al-umniyyah). Aku katakan demikian karena kalian berdua belum mengetahui dengan pasti apakah Allah SWT sudah menempatkan diri kalian ke dalam golongan orang-orang yang memang ditentukan-Nya hidup menjauhi urusan duniawi. Perlu Adinda berdua pahami bahwa kerasnya semangat (sawabiq al-himam) yang telah Adinda tunjukkan sesungguhnya tidak mampu menembus takdir-Nya (aswar al-aqdar).�

�Ingat-ingatlah, o Saudara saudaraku, bahwa amal perbuatan hanyalah sebuah bentuk kerangka yang tegak dan tidak hidup (shuwar qa�imah). Hanya nilai keikhlasan (sirr al-ikhlash) jua yang memberikan ruh hidup kepadanya. Itu sebabnya, amal yang telah kalian berdua jalankan selama ini pada hakikatnya hanya menjadi kerangka tegak dan tidak hidup. Seperti arca batu. Dikatakan begitu karena kalian berdua tidak benar-benar ikhlas melakukannya. Kalian berdua masih mengharap turunnya karunia ruhani dari-Nya.�

Mendengar uraian Abdul Jalil yang tajam tentang jalan ruhani, Raden Sahid dan Raden Qasim terdiam. Di dalam diam itu mereka akhirnya memahami kenapa Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi begitu bangga dan sering menjadikan Abdul Jalil sebagai sosok siswa yang harus diteladani. Mereka sadar bahwa kakak seperguruan mereka itu memang memiliki kelebihan dibanding para siswa Syaikh Datuk Kahfi yang lain. Akhirnya, setelah beberapa jenak terdiam, Raden Sahid berkata, Pamanda Abdul Jalil, kami berdua mohon dengan segala hormat sudilah kiranya Pamanda membimbing kami meniti jalan Kebenaran. Sebab menurut guru agung, Pamandalah siswa yang diharapkan menggantikan kedudukan beliau. Bahkan, sejak kami berdua datang beliau selalu meminta agar kami sabar menunggu kepulangan Pamanda dari rantau. Beliau selalu menyebut Pamanda dengan gelar Sang Pajuningrat, yaitu baji pembelah dunia.�

�Guru agung pernah berkata demikian?� Abdul Jalil tersentak heran.

�Kami berdua tidak menambah dan tidak mengurangi apa yang telah beliau ucapkan.�

Abdul Jalil termangu-mangu. Ia menatap tajam Raden Sahid dan Raden Qasim ganti-berganti seolah-olah hendak mengukur pedalaman kedua adik seperguruannya. Beberpa jenak setelah itu ia bertanya, �Apakah kalian berdua apakah memang sering tafakur di depan makam Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi?�

�Hampir setiap hari kami berdua ke sini,� sahut Raden Sahid.

�Jika kalian berdua akan belajar dariku tentang rahasia Kebenaran-Nya di balik kehidupan yang fana ini,� kata Abdul Jalil tegas, �maka pertama-tama yang harus dipahami adalah kenyataan yang menyatakan bahwa apa yang telah kalian berdua lakukan dengan bertafakur di depan makam guru agung kita adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Sebab, yang kalian hadapi itu sesunguhnya hanya gundukan tanah berisi jasad ramanda dan ibunda guru agung. Arwah beliau berdua tidak berada di kuburan. Arwah beliau berdua sudah tidur damai di alam arwah. Itu sebabnya, jangan sekali-kali kalian mengganggu kedamaian mereka berdua.�

�Selain itu, ada satu hal yang wajib kalian ingat-ingat! Jika kalian belum dikaruniai pengetahuan rahasia untuk bisa menembus alam gaib, jangan sekali-kali kalian tafakur di depan kuburan. Sesungguhnya tindakan bertafakur berlama-lama di suatu kuburan, meski itu kuburan guru agung, adalah tindakan yang berbahaya. Sebab, setiap saat bisa saja manusia terperangkap oleh bisikan setan yang bersembunyi di dalam nafsunya. Dan, biasanya setan akan membuat seolah-olah bisikan itu berasal dari ruh ahli kubur bersangkutan.�

�Kami berdua mohon petunjuk, o Pamanda.�

�Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, sesungguhnya Kebenaran tidak berada di kuburan, tidak di pepohonan, tidak di bebatuan, tidak di gunung, dan tidak pula di lautan. Sesungguhnya Kebenaran bersemayam di dalam dan sekaligus di luar diri manusia sendiri. Kebenaran tidak terikat, tetapi juga tidak terlepas sama sekali dari keberadaan manusia. Hanya saja, manusia belum menyadarinya.�

�Kami pusakakan petunjuk Pamanda,� sembah Raden Sahid dan Raden Qasim takzim.

�Hal kedua yang harus selalu kalian ingat,� kata Abdul Jalil, �sekalipun Kebenaran bersemayam di dalam diri manusia sendiri, pada hakikatnya ia tidak terperangkap di dalam tubuh manusia. Ia tidak bisa dibayang-bayangkan seperti sebilah pedang yang berada di dalam sarungnya. Sebab, secara hakiki Kebenaran tidak berada di dalam dan tidak berada di luar diri manusia. Kebenaran tidak terpisah dari diri manusia.� �

Kami pusakakan petunjuk Pamanda.�

�Hal ketiga yang juga harus dicamkan,� ujar Abdul Jalil, �jangan pernah kalian mengandalkan kekuatan akal (�aql) semata-mata untuk menemukan Kebenaran Sejati. Sebab, �aql yang tidak diterangi petunjuk (hidayah) dari-Nya, justru akan mengikat (�iql) dan memerangkap manusia ke dalam jaring-jaring kejahilan yang menyesatkan.� �

Hal keempat yang tidak boleh dilupakan,� kata Abdul Jalil dengan suara ditekan, �kalian berdua jangan pernah berpikir bahwa Kebenaran secara kebetulan bisa menghampiri seorang pemalas yang tidak mencari-Nya. Kebenaran bukan hak tukang mimpi. Kebenaran juga bukan hak para pembual. Ingat-ingatlah selalu, o Saudara-saudaraku, bahwa peristiwa Nabi Muhammad Saw. menerima Wahyu Ilahi9 di Gua Hira bukanlah peristiwa kebetulan. Lima belas tahun sebelum beroleh Kebenaran Sejati beliau telah berjuang keras meakukan pencarian dengan tanpa kenal lelah dan putus asa. Siapa yang bisa mengingkari Kebenaran sejarah bahwa beliau telah beriktikaf di Gua Hira selama lima belas tahun? Jika kalian berdua membaca liku-liku kehidupan yang beliau jalani maka kalian akan mendapati kenyataan betapa sesungguhnya beliau bukanlah pemalas, bukan pengkhayal, dan bukan pula pembual. Itu sebabnya, jika Adinda berdua hendak berjuang keras mencari Kebenaran, teladanilah jalan hidup beliau!�

�Kami akan pusakakan dan selalu mengingat petunjuk Pamanda.�

Setelah memberi petunjuk jalan ruhani secukupnya kepada Raden Sahid dan Raden Qasim, Abdul Jalil berangkat ke Kuta Caruban untuk menghadap Sri Mangana. Namun, tanpa diduga seorang santri menghadap dan melapor ada tamu asing menunggu di bawah pondok. Ternyata tamu asing itu adalah Abdul Malik Israil al-Gharnatah, kakek Syarif Hidayatullah.

Abdul Malik Israil menyatakan bahwa kehadirannya ke Giri Amparan Jati untuk menyampaikan kabar jatuhnya Granada ke tangan pasangan Ratu Isabella, penguasa Castilla, dan Raja Ferdinand, penguasa Aragon. �Kekuasaan Islam telah jatuh di Andalusia, namun bakal tumbuh di tempat lain, yakni di tanah timur. Karena itu, kehadiranku ke tempat ini juga untuk melihat apakah benih-benih keislaman sudah tumbuh di sini di mana aku harapkan cucuku ikut memupuk dan memeliharanya.�

Bagi Abdul Jalil sendiri, kabar jatuhnya Granada adalah sebagai �cambuk� yang melecut jiwanya agar lebih giat berjuang menjalankan tugas sebagai anggota Jama�ah Karamah al- Auliya� yang ditempatkan di Nusa Jawa. Kepada Abdul Malik Israil yang lebih tua dan lebih luas pengetahuannya ia memaparkan semua gagasan dan langkah yang bakal ditempuhnya untuk mewujudkan tatanan baru kehidupan masyarakat di Caruban Larang, yang merupakan lahan subur bagi tumbuhnya benih keislaman. Kemudian ia berterus terang tentang kelemahannya di dalam memahami ilmu siyasah (politik) dan kenegaraan. Ia memohon Abdul Malik Israil untuk mengkritik dan sekaligus memberi masukan bagi gagasan dan langkah-langkahnya.

Ternyata, gagasan dan langkah perjuangan Abdul Jalil yang dikritik Abdul Malik Israil adalah pengembangan Pondok Pesantren Giri Amparan Jati. Menurut Abdul Malik Israil, pengembangan lembaga pendidikan Islam itu terlalu mengacu pada pengetahuan berdasarkan nalar. �Memang sangat ideal membawa manusia ke jalan terang akal melalui tradisi bernalar para failasuf. Tetapi, kenyataan membuktikan bahwa tradisi yang dikembangkan di bumi Andalusia itu telah hancur dilanda kefanatikan buta. Itu sebabnya, aku akan sangat bergembira jika tempat ini dijadikan pusat pengembangan pendidikan ruhani masyarakat sebagaimana Lemah Abang,� kata Abdul Malik Israil.

�Apakah itu berarti kita membangun basis keimanan berdasarkan akar tradisi dan budaya?�

�Tepat, itu yang aku maksudkan,� kata Abdul malik Israil. �Kalau kita bercermin pada sejarah, sesungguhnya keberadaan Bani Israil sangat tergantung pada kelestarian tradisi dan budaya mereka. Puak-puak Bani Israil yang sudah terusir dari negerinya selama beribu-ribu tahun tetap menunjukkan jati dirinya dengan memegang erat tradisi dan budaya warisan leluhurnya. Karena itu, sebagaimana Bani Israil dapat bertahan dari musuh-musuhnya , demikianlah hendaknya bangunan masyarakat di negeri ini engkau tegakkan di atas sendi-sendi tradisi dan budayanya.�

�Itu berarti, membangun tradisi bernalar harus dibelakangkan dan jika mungkin hanya dilakukan sedikit orang,� Abdul Jalil menarik napas berat.

�Aku kira itulah pilihan yang bijaksana,� kata Abdul Malik Israil. �Engkau harus membangkitkan kebanggaan (ta�ashahub) terhadap jati diri budaya pengikut-pengikutmu. Dengan cara itu engkau dapat membangun benteng-benteng yang sulit ditembus pasukan Dajjal yang bakal menyerbu dunia.�

Abdul Jalil mengangguk-anggukkan kepala. Ia sadar akan kebenaran di balik kata-kata Abdul Malik Israil. Ia akan mengubah kembali sistem pembelajaran di Pondok Pesantren Giri Amparan Jati. �Tetapi jika aku mengikuti saranmu, o Sahabat, akankah aku membiarkan tumbuh dan berkembangnya tradisi dan budaya orang-orang muslim asal Campa yang penuh dilingkari takhayul dan kurafat? Tidakkah engkau tahu mereka telah mencemaskanku karena menulari masyarakat setempat dengan tradisi dan budaya mereka yang bertentangan dengan akal sehat?�

�Engkau tidak bisa mengubah tradisi dan budaya suatu bangsa, kecuali dengan tradisi dan budaya yang sesuai dengan naluri mereka. Maksudku, jika orang-orang Campa memang bukan tergolong bangsa yang memiliki tradisi bernalar maka hendaknya kita menyampaikan Kebenaran kepada mereka sesuai dengan naluri mereka,� kata Abdul malik Israil.

�Berarti kita harus berkompromi dengan kepercayaan mereka tentang ratusan jenis hantu, ramalan nasib, hitungan hari baik dan buruk, mengeramatkan batu dan kuburan, masalah tabu, sampai menghitung keberuntungan dan kesialan orang berdasar suara tokek?� sergah Abdul Jalil.

�Justru di tengah beratnya medan juang itulah kemuliaan membentangkan permadani kehormatannya di hadapanmu. Sesungguhnya nasib malang yang dialami bangsa Campa, Sunda, dan Jawa tidak jauh berbeda dengan nasib yang pernah dialami Bani Israil, yakni pada saat kemunduran peradabannya mereka cenderung terperangkap pada kerangka pikir mengaitkan satu hal dengan hal lain berdasar bunyi suara dan makna kata (othak-athik mathuk). Lantaran kecenderungan itu sangat kuat, Bani Israil sering menghujat nabi-nabi mereka dengan cerita-cerita dusta yang merendahkan derajat para utusan Allah itu.�

Ketika mereka memaknai nama leluhur mereka Ya�kub (Ya�acob) dengan arti �penipu� maka lahirlah kisah yang menuturkan bahwa Nabi Ya�kub a.s. telah menipu saudaranya dalam memperoleh berkat dari ayahandanya, Ishak. Untuk menutupi makna �penipu� pada identitas keturunan Ya�kub a.s., lahirlah kisah ia bergelut dengan manusia jelmaan Tuhan sehingga Ya�kub a.s. disebut Yisrail. Begitulah, keturunan Nabi Ya�kub a.s. menyebut dirinya Bani Israil untuk menghindari kesan kepenipuan dalam nama Ya�acob.�

�Akan halnya orang-orang Moab, mereka pun memaknai nama suku itu berdasarkan bunyi suara dan makna kata. Karena Moab ditafsirkan me-ab (dari ayah) maka dilahirkanlah kisah bahwa Nabi Luth a.s. telah berzinah dengan puteri-puteri kandungnya sehingga lahir orang Moab. Begitulah kisah-kisah miring tentang utusan-utusan Allah yang suci berlaku di kalangan Bani Israil akibat perangkap pikiran itu. Sehingga, seluruh nabi Bani Israil adalah orang-orang yang tidak sempurna dan tercela; Nuh a.s mabuk dan tidur telanjang lalu mengutuk Kana�an, puteranya; Daud a.s berzina dengan istri Uria, Batsyeba; Ibrahim menikahi saudaranya lain ibu, Sarah.�

�Jika kita telusuri nasib malang yang selalu dialami Bani Israil dari waktu ke waktu, bagian terbesar di antaranya adalah akibat kebiasaan mereka membuat cerita-cerita tercela yang menista dan menghina nabi-nabi utusan Allah. Untuk menghindari terulangnya kecenderungan itu, ajaran Islam dengan tegas menetapkan sifat maksum, amanah, fathanah atas nabi-nabi utusan Tuhan. Ketetapanyang menjadi rukun itu tak bisa ditawar sehingga dengan itu semua penganut Islam menampik mutlak citra buruk yang dialamatkan kepada nabi-nabi suci Bani Israil itu.�

�Aku kira, dengan uraianku ini telah jelas bahwa tugas yang engkau jalankan adalah tugas mahaberat, seibarat tugas nabi-nabi Bani Israil dalam menghadapi kaumnya. Itu berarti, engkau harus siap-siap diperosokkan ke dalam lumpur fitnah dan kenistaan karena ingin membawa kaummu kepada Kebenaran Sejati.�

Setelah berbincang-bincang tentang berbagai hal terkait dengan usaha pembangunan tatanan baru masyarakat di Nusa Jawa, Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil memperbincangkan Syarif Hidayatullah yang baru ditinggal wafat istri tercintanya. Abdul Maik Israil mengusulkan cucunya itu segera dicarikan istri lagi agar tidak terus-menerus teringat pada istrinya. Lantaran di Giri Amparan Jati ada Syarifah, adik Abdurrahman dan Abdurrahim Rumi, yang sudah berusia sebelas tahun, maka disepakatilah untuk menikahkannya dengan Syarif Hidayatullah. Hari itu juga secara sederhana Syarifah dan Syarif Hidayatullah dinikahkan.

Saat upacara pernikahan baru saja usai datanglah serombongan tamu asing berjumlah sekitar empat puluh orang. Tamu-tamu itu mengaku berasal dari negeri Wijayanagar, dipimpin oleh seorang pendeta kulit hitam bernama Ballal Bisvas. �Kami utusan Yang Mulia Brahmin Agung Malaya. Kami dititahkan untuk menemui Tuan Syaikh Abdul Jalil di Negeri Caruban. Kami dititahkan untuk membantu perjuangan Tuan Syaikh semampu yang kami bisa,� ujarnya takzim.

�Brahmin Agung Malaya?� Abdul Jalil mengerutkan kening. Berpikir sejenak dan kemudian berkata, �Apakah yang Tuan Pendeta maksudkan Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri?�

�Benarlah demikian, Tuan Syaikh.�

Abdul Jalil termangu-mangu memandang Ballal Bisvas. Ia merenungkan makna ruhani di balik kehadiran para utusan sahabatnya itu. Saat kali pertama bertemu dengan Ballal Bisvas, Abdul Jalil mendapat isyarat dari Ruh al-Haqq bahwa ia sedang berhadapan dengan seorasng pendeta bhairawa yang memiliki kesaktian luar biasa. Apakah maksud Sang Brahmin Agung mengirimkan pendeta bhairawa untuk mendukung perjuangannya? Apakah perjuangannya akan diwarnai oleh pertumpahan darah seperti pernah dikatakan Sri Mangana saat ia menyampaikan gagasan membangun tatanan baru?

Ketika malam menghiasi langit Caruban Larang dengan taburan bintang-gemintang yang berkilau-kilau cemerlang, Abdul Jalil berdiri tegak di samping Sri Mangana yang menatap nanar para santri Giri Amparan Jati yang tengah menimbuni pendharmaan Bhattari Prthiwi di Kabhumian dengan tanah. Malam itu, sesuai petunjuk arwah Bhattari Prthiwi, Syiwalingga yang dibawa Abdul Jalil dari puncak Gunung Pulasari telah disatukan dengan yoni perlambang pemujaan Shang Bhumi. Sesuai keinginan almarhumah yang tidak ingin diganggu lagi oleh para keturunannya maka Abdul Jalil pun menimbun pendharmaan tersebut.

Menurut rencana, di sebelah utara bekas pendharmaan itu akan dibangun tajug. Ketika sepintas melihat pandangan mata Sri Mangana, Abdul Jalil memahami ada semacam beban yang menggelayuti perasaan ayahanda asuhnya. Penimbunan pendharmaan itu bukan hanya memisahkan ikatan Sri Mangana dengan leluhurnya, melainkan juga terkait dengan kedudukannya sebagai chakrabhumi. Untuk menghibur sekaligus menyadarkan ayahanda asuhnya, Abdul Jalil berkata seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, �Orang-orang Sunda, seperti orang-orang Jawa, tidak memperbolehkan arwah leluhurnya beristirahat di alam keabadian dengan tenang. Mereka selalu memaksa arwah leluhurnya untuk memenuhi semua keinginan dengan cara membuat senang arwah leluhur lewat sesaji, puji-pujian, dan doa. Sementara itu, mereka tidak mengetahui apa sesungguhnya yang sedang dialami oleh leluhurnya di alam kubur.�

Mendengar ucapan Abdul Jalil, Sri Mangana menarik napas berat dan mengembuskannya keras-keras lewat hidung. Kemudian dengan suara berat ia berkata, �Sesungguhnya aku sadar bahwa sudah selayaknya arwah leluhurku Bhattari Prthiwi beristirahat di alam keabadian. Namun, entah kenapa di dalam benakku masih terbayang sesuatu yang kuat tentang pendharmaannya.�

�Kenangan memang sulit dihapuskan, apalagi jika terekam sejak masa kecil,� ujar Abdul Jalil menjelaskan. �Sebab, kenagan ibarat bayangan yang terus mengikuti kemanapun kita pergi.�

�Itulah yang jadi masalahku sekarang ini.�

�Ramanda Ratu ingat cerita saat Rasulullah Saw. mendakwahkan Islam pertama kali?�

�Ya, kenapa?�

�Jika Ramanda Ratu mencermati para pengikut Nabi Muhammad Saw. yang disebut as-sabiqun awwalun maka Ramanda Ratu akan mendapati betapa bagian terbesar dari pengikut beliau tersebut adalah kalangan muda, sedangkan pihak-pihak yang menentang dan memusuhi beliau saat itu dipelopori orang-orang lanjut usia.�

Apakah maknanya itu, o Puteraku?�

�Kalangan muda yang menerima ajakan Islam sesungguhnya bukan saja disebabkan oleh hidayah yang mereka terima dari Allah SWT, melainkan rekaman kenangan mereka terhadap ajaran yang menganggap Tuhan berbentuk batu dan kayu yang dipahat itu belum terlalu kuat berurat dan berakar. Sementara kalangan tua yang memusuhi Nabi Muhammad Saw. selain tidak beroleh hidayah dari Allah SWT, juga rekaman kenangan terhadap ajaran lama mereka sudah berurat akar selama puluhan tahun. Bahkan pamanda Nabi Muhammad Saw., Abu Thalib, yang berjiwa mulia dan selalu membela dan melindunginya, tergolong kalangan tua yang sudah tercekam oleh ajaran lama tersebut sehingga dia sulit melepaskannya.�

�Jika demikian, berarti rekaman kenangan itu sangat menentukan bagi kita dalam menuju-Nya.�

�Memang demikian adanya, Ramanda Ratu,� kata Abdul Jalil. �Bukankah saat menjelang ajal seseorang ditentukan oleh rekaman kenangannya? Bukankah karena alasan itu jua jarang sekali kita jumpai orang menghadapi sakaratul maut dengan hanya mengingat Allah SWT? bukankah karena alasan itu Rasulullah Saw menjamin bahwa barang siapa di antara manusia pada akhir hayatnya bisa mengucap �tidak ada Tuhan selain Allah� � la ilaha illa Allah � bakal masuk surga Allah tanpa hisab?�

�Jika demikian, adakah cara yang bisa dilakukan untuk menghapus rekaman kenangan dari ingatan kita?� Sri Mangana minta penjelasan. �Jujur saja aku katakan, saat ini aku masih sulit melepas pengaruh berbagai ajaran yang kuserap dari lingkungan sekitarku.�

�Hanya dengan bimbingan (huda) dari Allah SWT yang mengalir dari rahmah-Nya maka semua kenangan manusia yang kuat dapat menyingsing sehingga terbentang jalan lurus menuju hadirat-Nya,� ujar Abdul Jalil. �

Bagaimana caranya agar kita bisa mendapat bimbingan dan rahmah-Nya?� �

Bukankah Ramanda Ratu sesungguhnya sudah berada di bawah bimbingan-Nya? Bukankah Ramanda Ratu sudah sampai pada tanah sekat (barzakh) di antara dua lautan dan bahkan telah bertemu Nabi Khidir a.s.?�

�Aku sendiri heran, kenapa perjalananku bisa terhenti dasn aku merasa seolah-olah tidak beranjak ke mana-mana. Maju tidak mundur pun tidak. Apa yang sesungguhnya sedang aku alami?�

�Menurut hemat ananda, wirid yang Ramanda Ratu amalkan mungkin hanya bisa mengantarkan Ramanda Ratu sampai menembus tirai Kebenaran Ilahi.�

�Maksudnya bagaimana?� tanya Sri Mangana heran.

�Sesungguhnya, wirid diamalkan agar orang beroleh karunia ruhani. Suatu karunia ruhani dapat menyebabkan kegaiban (ghaibah), namun dapat juga menyebabkan kegilaan (majnun). Jadi, wirid yang Ramanda Ratu amalkan sesungguhnya telah berhasil mendatangkan kegaiban bagi Ramanda Ratu. Sehingga, ya sudah, sampai di kegaiban itu saja anugerah dari-Nya melimpahi Ramanda Ratu.�

�Kenapa aku tidak bisa melanjutkan perjalanan ruhaniku?�

�Sebab, yang Ramanda Ratu pahami selama ini memang terbatas pada keinginan beroleh karunia ruhani dari Allah SWT.. Artinya, Ramanda Ratu sesungguhnya tidak berjuang menuju Dia,� ujar Abdul Jalil.

�Astaghfirullah!� seru Sri Mangana dengan nada menyesal. �Sungguh bodoh aku. Selama ini aku tidak membedakan antara berjalan menuju karunia-Nya atau menuju Dia.�

�Sesungguhnya bukan masalah bodoh atau tidak bodoh, Ramanda Ratu. Tetapi, Allah SWT. memang belum menetapkan waktu yang tepat bagi Ramanda Ratu untuk berjalan lurus ke arah-Nya. Sesungguhnya Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi pernah menyuruh ananda untuk mengingatkan Ramanda Ratu tentang hal ini. Namun, saat itu ananda merasa waktunya belum sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, di samping ananda juga merasa segan sebagai anak menggurui ayahnya.�

�Sesungguhnya tidak perlu ada perasaan segan atau tidak segan dalam masalah ini. Bukankah jalan ruhani tidak dibatasi usia dan tidak pula dibatasi oleh kedudukan ayah dan anak? Karena itu, aku memohon kepada engkau, o Puteraku, untuk mengajarkan kepadaku Jalan Lurus menuju-Nya.�

�Ananda tidak akan menjadikan Ramanda Ratu sebagai murid,� kata Abdul Jalil. �Sebab, Ramanda Ratu sudah berjalan jauh hingga di perbatasan antara dua lautan. Jadi, ananda hanya akan memberi sebuah petunjuk yang bisa digunakan untuk meniti jembatan (shirath) ajaib ke arah-Nya. Ananda katakan ajaib karena jembatan itu bisa menjauhkan sekaligus mendekatkan jarak mereka yang meniti dengan tujuan yang hendak dicapai.� �

Sebagaimana kisah Nabi Musa a.s. dalam perjalanan mencari Khidir a.s., jembatan itu memiliki empat bagian matra yang masing-masing memiliki pintu. Pertama, matra istighfar yang berisi perlambang Nabi Musa a.s. bersama pemuda (al-fata) menjumpai Khidir a.s. di perbatasan antara dua lautan. Kedua, matra salawat yang berisi perlambang Khidir a.s. melubangi perahu. Ketiga, matra tahlil yang berisi perlambang Khidir a.s. membunuh anak. Keempat, matra nafs al-haqq yang berisi perlambang Khidir a.s. menegakkan dinding yang di bawahnya tersembunyi Perbendaharaan.� �

Apakah penjelasan dari makna perlambang matra istighfar?� �

Bagi kalangan awam, istighfar lazimnya dipahami sebagai upaya memohon ampun kepada al-Ghaffar sehingga mereka beroleh ampunan (maghfirah). Tetapi bagi para salik, istighfar adalah upaya memohon pembebasan dari �belenggu� keakuan kepada al-Ghaffar sehingga beroleh maghfirah yang menyingkap tabir ghain yang menyelubungi manusia. Sesungguhnya, di dalam Asma� al-Ghaffar terangkum makna Maha Pengampun dan juga makna Maha Menutupi, Maha Menyembunyikan dan Maha Menyelubungi.� �

Sesungguhnya perjalanan Ramanda Ratu telah sampai ke bagian jembatan yang disebut matra istighfar. Tabir ghain yang menyelubungi keakuan Ramanda Ratu telah menyingsing. Ramanda Ratu telah menyaksikan Khidir a.s.. Namun, karena Ramanda Ratu terperangkap pada keinginan untuk beroleh karunia-Nya, maka Ramanda Ratu hanya berputar-putar di matra istighfar yang penuh diliputi gambaran-gambaran indah karunia-Nya.� �

Itulah kekeliruan yang baru aku sadari sekarang ini,� kata Sri Mangana. �Tapi, bagaimana caraku meninggalkan matra istighfar menuju matra salawat? Apakah makna perlambang matra salawat?� �

Melubangi perahu seperti yang dilakukan Khidir a.s.,� kata Abdul Jalil menjelaskan. �

Kenapa perahu harus dilubangi?� �

Tanpa melubangi perahu, sang salik tidak akan mengetahui hakikat sejati Lautan Wujud (bahr al-wujud). Tanpa melubangi perahu maka kedudukan salik tidak jauh berbeda dengan kedudukan para nelayan; memanfaatkan perahu untuk mencari ikan (pahala) dan berbagai karunia-Nya yang terhampar di permukaan Lautan Wujud, yang selain bergelombang dahsyat juga berisiko dihadang Sang Rajadiraja (al-Malik al-Mulki) yang setiap saat akan merampas perahu-perahu yang baik.� �

Di antara salawat ini sang salik harus menyadari kehambaannya kepada Yang Maha Terpuji (Ahmad) sebagai Sumber segala kejadian. Di matra itu sang salik harus menjadi ghulam yang baik dan berbakti kepada Sumbernya, yakni pancaran Air Kehidupan yang mengalir dari lubang perahu yang dibuat Khidir a.s.. Ghulam yang durhaka dan mengingkari kehambaannya kepada Yang Terpuji harus dibunuh. Sang salik yang tenggelam ke dalam matra salawat ini disebut fana ke dalam Rasulallah (fana fi rasul),� papar Abdul Jalil. �

Aku paham, Air Kehidupan yang memancar dari lubang itu sesungguhnya sama hakikatnya dengan Air Kehidupan yang tergelar di hamparan Lautan Wujud. Walau demikian, tanpa melalui Air Kehidupan yang mengalir dari lubang maka salik tidak akan mencapai Air Kehidupan yang tergelar di Lautan Wujud. Benar demikian, o Puteraku?� �

Benarlah demikian, o Ramanda Ratu.� �

Sekarang terangkanlah kepadaku tentang matra tahlil.� �

Matra tahlil adalah matra Keesaan. Matra Tauhid. Inilah matra Kesatuan Wujud; Lautan Wujud sama hakikatnya dengan Air Kehidupan. Ibarat ungkapan kesaksian tidak ada ilah selain Allah (la ilaha illa Allah), demikianlah di matra ini terungkap kesaksian tidak ada air lain yang tergelar di hamparan Lautan Wujud kecuali Air Kehidupan (Ab al-Hayy) yang mengalir dari Sang Hidup (al-Hayy). Inilah matra yang diibaratkan dalam perlambang dinding yang ditegakkan Khidir a.s. yang di bawahnya tersembunyi Perbendaharaan.� �

Jika demikian, apakah makna matra nafs al-haqq?� �

Matra nafs al-haqq adalah matra rahasia yang tidak bisa diuraikan. Sebab, matra ini menyangkut Perbendaharaan Tersembunyi yang terdapat di bawah dinding. Tak ada satu pun di antara makhluk yang mengetahui keberadaan-Nya, kecuali memang dikehendaki-Nya. Jika Al-Qur�an saja tidak memberikan penjelasan tentang apa sesungguhnya Perbendaharaan, tentunya manusia tidak boleh mengkhayal-khayal tentang Perbendaharaan itu. Gambaran Nabi Musa a.s. yang berpisah dengan Khidir a.s. di matra itu adalah kearifan dari Sang Pencerita untuk tidak mengungkapkan apa yang tidak dapat dipahami pendengar-Nya.� �

Aku kira, aku sudah paham dengan uraianmu, o Puteraku,� kata Sri Mangana. �Sekarang bimbinglah aku ke dalam perjalanan meniti jembatan (shirath) itu menuju-Nya.�

Read More ->>

GUNUNG PULASARI

Gunung Pulasari

Hidup ibarat mata air di tengah padang belantara. Tidak hanya hewan liar yang menggunakan airnya, tetapi para gembala dan hewan ternaknya yang kehausan pula. Juga, kawanan burung yang kelelahan akibat terbang seharian. Serangga air. Katak. Ular. Demikianlah, mata air kehidupan di dunia yang disebut Nusa Jawa dijadikan persinggahan berbagai makhluk hidup mulai dari manusia, hewan liar, ternak, tetumbuhan, unggas, serangga, dan bahkan makhluk gaib berbadan halus yang disebut gandharwa, peri, mambang, siluman, dan bangsa jin dengan berbagai sukunya.

Golongan yang disebut terakhir ini, makhluk gaib berbadan halus, adalah penghuni Nusa Jawa jauh sebelum pulau ini dihuni bangsa manusia. Sebagaimana lazimnya bangsa yang ada lebih dahulu dibandingkan manusia, para makhluk gaib tersebut selalu merasa sebagai makhluk yang lebih sempurna keberadaannya baik dari kesempurnaan jati diri, ketinggian akal, kemuliaan peradaban, dan keluhuran budaya. Manusia, dalam pandangan mereka, adalah makhluk yang lebih rendah derajatnya tidak ubahnya seperti manusia memandang binatang. Lantaran merasa lebih tinggi derajatnya itulah maka makhluk berbadan halus tersebut menganggap wajar memangsa bangsa manusia sebagaimana manusia menganggap wajar memangsa bangsa binatang.

Menurut keyakinan sebagian orang-orang Islam, para makhluk gaib yang disebut umum dengan nama bangsa jin adalah makhluk berbadan halus keturunan al-Jann. Lantaran itu mereka disebut Banu al-Jann (keturunan al-Jann), yaitu makhluk yang dicipta dari api beracun (nar al-samum) yang menyala-nyala (marij al-nar) (QS al-Hijr:27 ; ar-Rahman:15). Mereka adalah makhluk seketurunan yang merupakan kegandaan dari Sang Iblis (QS al-Kahfi:50). Dan lantaran itu, seperti juga Iblis melihat Adam a.s. sebagai makhluk baru terbuat dari tanah, para jin memandang manusia sebagai keturunan Adam a.s. yang rendah dan tidak memiliki ruh bersifat Ilahiyyah. Namun, saat mereka mengetahui ternyata ada menusia yang bisa menunjukkan kekuatan dan kekuasaan ruh bersifat Ilahiyyah di dalam dirinya, maka mereka pun akan tunduk penuh hormat dan bersedia patuh di bawah perintah manusia tersebut.

Abdul Jalil yang telah menunjukkan kekuatan dan kuasa ruh Ilahiyyah di dalam dirinya, kepada Setan Kabir, mekhluk gaib penguasa Caruban, dalam waktu singkat menjadi bahan pembicaraan di antara para raja makhluk gaib se-Nusa Jawa. Sebagian di antara mereka adayang menganggap Abdul Jalil sebagai pengganti Dang Hyang Semar, yakni manusia yang mamiliki kelenihan ruhani (linuwih) yang harus ditunduki dan dipatuhi di segenap penjuru Nusa Jawa. Namun, tak kurang ada di antara mereka yang ingin menguji lebih dulu kebenaran cerita Setan Kabir tersebut. Sesuai permintaan Abdul Jalil untuk menemui mereka pada saat paro terang bulan Badra, sekitar dua ratus raja makhluk gaib se-Nusa Jawa yang diundang Setan Kabir berkumpul beramai-ramai di puncak Gunung Pulasari, di tanah Banten. Sebagian yakin dengan cerita Setan Kabir, sebagian lagi penuh prasangka.

Abdul Jalil sendiri tidak tahu kenapa ia memilih Gunung Pulasari sebagai tempat yang tepat untuk menemui para raja makhluk gaib Nusa Jawa. Ia hanya berpikir jika menemui mereka di Gunung Pulasari maka ia akan dengan mudah mengetahui di mana letak lingga batu yang dimaksud oleh arwah Ratu Sthri Bhattari Prthiwi. Seperti sebuah kebetulan, saat berjalan menuju Gunung Pulasari ia mengetahui cerita dari penduduk sekitar bahwa sejak zaman dahulu kala Pulasari telah menjadi gunung yang dikeramatkan. Bahkan menurut cerita para pertapa, para sesepuh di Nusa Jawa meyakini Gunung Pulasari sebagai Kailasa � sthana Syiwa � yang berada di Nusa Jawa. Itu sebabnya, wilayah di antara kaki Gunung Pulasari dan Gunung Karang disebut dengan nama Sura, yang bermakna wilayah Sang Sura (Sansekerta: gagah berani, Pahlawan, Dewa), yakni wilayah Syiwa, Sang Pemberani, Sang Mahapahlawan yang telah menunjukkan menelan racun kalakutha untuk menyelamatkan dunia dari kebinasaan. Lantaran meminum racun kalakutha, kerongkongannya menjadi biru sehingga Syiwa pun disebut dengan nama Sang Nilakantha (Sansekerta: Si Kerongkongan Biru).

Di wilayah yang disebut Sura itu terdapat dua tempat untuk upacara Ma-lima (pancamakara) bagi penganut Bhairawa-Tantra. Tempat pertama disebut Mandalasari, yang bermakna lingkaran suci tempat upacara Ma-lima digelar. Upacara Ma-lima meliputi Mamsa (memakan daging), Matsya (memakan ikan), Madya (meminum arak), Maithuna (bersetubuh), Mudra (bersamadi). Tempat kedua disebut Mandalawangi, yang bermakna ksetralaya yaitu lingkaran suci tempat puluhan bahkan ratusan mayat ditumpuk untuk upacara suci penobatan para Pu Palyat (pendeta Bhairawa) yang sudah dianggap sempurna di mana bau busuk mayat-mayat itu dirasakan sebagai tebaran bau wangi semerbak.

Sejak menginjakkan kaki di wilayah Sura, terutama saat melewati Mandalawangi, Abdul Jalil menyaksikan dengan mata batinnya (�ain al-bashirah) beribu-ribu gandharwa (surasaciwa), mambang (dewayoni), dan peri pengawal Syiwa, Sang Bhairawa Bhutaswara. Meski di sepanjang menuju puncak Pulasari tercium bau wangi bunga mandara dan sesekali diselingi bau busuk mayat, ia tidak mempedulikannya. Ia terus melangkah tertatih-tatih menuju puncak. Setiap kali melangkah ia saksikan para peri dan mambang berhamburan di sekitarnya bagai air laut diaduk gelombang yang berpusar-pusar.

Sementara itu, ketika para raja makhluk gaib penghuni Nusa Jawa yang sudah berada di puncak Gunung Pulasari melihat Abdul Jalil mendaki susah payah dengan kaki bengkak dan terompah robek, mereka menyuruh Setan Kabir untuk menyambutnya dengan didampingi seorang raja jin dari Kalapabernama Sapuregel. Dengan kecepatan angin Setan Kabir dan Sapuregel melesat turun. Saat keduanya sampai di depan Abdul Jalil, mereka mengucap salam dan berkata, �Jika paduka menghendaki, kami bisa membawa paduka dengan cepat ke punacak Gunung Pulasari. Paduka tidak perlu susah payah berjalan kaki.�

Abdul Jalil menjawab salam dan berujar, �Terima kasih, aku akan berjalan sendiri untuk menunjukkan rasa syukurku kepada Dia yang telah memberiku dua kaki dan daya kekuatan manusiawi untuk bisa sampai ke atas.�

�Tetapi dengan kekuatan dan kuasa ruh yang paduka miliki, paduka bisa memerintahkan kami untuk mempermudah perjalanan paduka mencapai puncak.�

�Aku tidak akan menggunakan kekuatan dan kuasa ruh yang disemayamkan-Nya di dalam diriku untuk memerintah siapa pun tanpa kehendak-Nya,� sahut Abdul Jalil kemudian mengalihkan pembicaraan. �O ya, siapakah yang bersamamu itu, Setan Kabir.�

�Dia raja di Kalapa, paduka,� jawab Setan Kabir. �Dia bernama Sapuregel.�

�Apakah Sapuregel yang kedatonnya di dekat muara?�

�Bagaimana paduka bisa tahu?� tukas Sapuregel terheran-heran.

Abdul Jalil tersenyum. �Kehidupan ibarat sebuah sumur yang penuh diliputi kegembiraan, namun jika banyak orang berhati kotor dan bermulut najis beramai-ramai meminum air sumur maka malapetaka jua yang akan ditimbulkan sumur itu. Air sumur jernih yang bisa dipakai bercermin itu tiba-tiba akan berubah menjadi keruh dan beracun karena dibaui oleh napas mereka yang berhati busuk dan bermulut najis.�

�Yang mulia,� seru Sapuregel semakin heran, �bagaimana paduka bisa tahu kedaton saya berada di sebuah sumur tua? Siapakah gerangan sesungguhnya paduka?�

�Aku hanyalah manusia biasa keturunan Adam a.s. Aku Cuma dianugerahi-Nya dengan pengetahuan tentang gaib secara sangat sedikit. Masih banyak yang tidak aku ketahui.�

Sapuregel mengangguk-angguk dan memandang Abdul Jalil dengan takjub. Rupanya Setan kabir telah bercerita banyak tentang Abdul Jalil kepadanya. Itu sebabnya, diam-diam dia bertekad mendukung Abdul Jalil untuk menggantikan kedudukan Dang Hyang Semar sebagaimana perjanjian yang telah dibuat kakeknya. Ia yakin seorang Abdul Jalil tentunya akan menjadi manusia bijak sebagaimana Dang Hyang Semar, guru loka yang tidak akan menjadi malapetaka bagi bangsanya.

Ketika Abdul Jalil sampai di tepi puncak Gunung Pulasari, ia langsung disambut oleh tujuh sosok yang merupakan para raja dari makhluk gaib hijau, kuning, merah, hitam, putih, jingga, dan biru. Mereka dengan penuh hormat berdiri menyambut kedatangannya. Ketujuh makhluk gaib itu memperkenalkan diri. Sosok pertama mengaku raja para makhluk gaib hijau (ratuning jim ijo) bernama Sri Prabu Danapati. Kedatonnya disebut Jongtara. Para pengawal dan raja bawahannya semua tampil serba hijau mulai dari pakaian, ketopong, umbul-umbul, panji-panji, lambang kebesaran, permata hiasan, bahkan perisai dan senjatanya.

Yang kedua, penguasa makhluk gaib kuning (ratuning jim kuning) bernama Ratu Wijanarka. Kedatonnya terletak di Imantara. Para pengawal dan raja bawahannya berpenampilan serba kuning. Yang ketiga, penguasa makhluk gaib merah (ratune jim abang) bernama Sri Naranatha. Kedatonnya berada di Balbera. Sebagaimana makhluk gaib hijau dan kuning, makhluk gaib merah termasuk bangsa yang paling besar jumlahnya. Sementara makhluk gaib putih, hitam, jingga, dan biru memimpin bangsa yang lebih sedikit jumlahnya. Penguasa makhluk gaib putih bernama Prabu Anggaskara. Kedatonnya di Madyantara. Penguasa makhluk gaib hitam bernama Ratu Manonbhawa. Kedatonnya di Megantara. Penguasa makhluk gaib jingga bernama Prabu Manitara. Kedatonnya berada di Sarpengtara. Penguasa makhluk gaib biru bernama Prabu Tamantara. Kedatonnya di Abhyantara.

Bagaikan menyambut maharaja agung yang dimuliakan, ketujuh makhluk gaib itu mengantar Abdul Jalil berjalan ke arah sebuah batu datar yang terletak di depan tugu batu berbentuk lingga. Batu datar dan tugu batu itu ditata seolah-olah singgasana seorang ratu.

Tanpa curiga sedikit pun Abdul Jalil berjalan sambil menyapukan pandangan ke arah kerumunan para raja makhluk gaib yang duduk berkitar membentuk setengah lingkaran. Saat jarak Abdul Jalil dengan batu datar dan tugu tinggal dua tombak, ketujuh makhluk gaib itu mendaulatnya untuk duduk di atas batu datar tersebut. Didaulat seperti itu Abdul Jalil terhenyak seolah dihentakkan oleh suatu kekuatan gaib dari dalam relung-relung jiwanya. Untuk beberapa saat ia berdiri termangu-mangu sambil menatap batu datar dan tugu yang terletak berhadap-hadapan. Sedetik sesudah itu Ruh al-Haqq di kedalaman jiwanya memberitahu bahwa tugu batu itu sesungguhnya lingga lambang pemujaaan Syiwa, sedangkan ketujuh raja makhluk gaib itu sesungguhnya hendak mengujinya.

Mengetahui tugu batu itu lambang pemujaan Syiwa, Abdul Jalil maju mendekat. Kemudian dengan mengucap salam melalui al-ima� , ia mengelus puncak tugu batu sambil menyapa dengan hormat. Kekuatan gaib yang tersembunyi di dalam tugu batu membalas sapaannya dengan al-ima� . saat itulah Abdul Jalil mengetahui jika tugu batu tersebut adalah Syiwalingga yang dipuja orang sebagai pratima Syiwa, Sang Girinatha, Bhutaswara, Rudra, Bhairawa, Mahakala, Mahadewa, Mahaguru, Chandrasekara, Nilakanta, Maheswara. Gunung Pulasari sendiri, tempat Syiwalingga terletak, dianggap sebagai Gunung Kailasa tempat Syiwa ber-sthana. Dan nama Pulasari (yang dibalur darah) menggambarkan puncak Kailasa yang berwarna merah jingga; yang selalu dilimpahi cahaya matahari, sejuk, diliputi nyanyian burung, disemarakkan bunga-bunga abadi, diwarnai nyanyian gandharwa, dan diramaikan kelincahan para peri serta mambang.

Beberapa jenak berhadap-hadapan dengan Syiwalingga, Abdul Jalil mengetahui bahwa sesungguhnya lingga itulah yang sesungguhnya disebut-sebut oleh arwah Ratu Stri Bhattari Prthiwi sebagai salah satu sarana untuk menyempurnakan perjalanan jiwanya menuju Brahman. Itu sebabnya, setelah menghormat atas nama Syiwa dan Parwati, Abdul Jalil mengangkat Syiwalingga dan meletakkannya di atas batu datar yang berada di depannya.

Para raja makhluk gaib yang bersila melingkar � terutama ketujuh penguasa makhluk gaib yang berdiri di belakang Abdul Jalil � ternganga mulutnya dan terbelalak matanya menyaksikan tindakan yang dilakukan Abdul Jalil. Mereka segera sadar bahwa usaha mereka untuk membuat Abdul Jalil memunggungi Syiwalingga telah gagal. Bahkan, tanpa terduga Abdul Jalil justru meletakkan lingga itu di atas batu datar sebagaimana letak sesungguhnya. Menyadari kegagalannya itulah para raja makhluk gaib beramai-ramai berlutut dan menundukkan kepala. Mereka merasa kalah karena siasatnya untuk memerangkap Abdul Jalil telah diketahui. Dan, itu berarti mereka harus mengakui keberadaan Abdul Jalil sebagai Guru Loka Nusa Jawa, pengganti Dang Hyang Semar yang harus mereka patuhi semua perintahnya.

Abdul Jalil yang mengetahui siasat licik para raja makhluk gaib itu tidak marah. Ia sadar naluri jin pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan leluhurnya, Sang Iblis, yang cenderung menyesatkan manusia (QS al-An�am:128). Itu sebabnya, setelah meletakkan Syiwalingga di atas batu datar, Abdul Jalil berdiri di sampingnya dan berkata, �Aku beritahukan kepada kalian bahwa sesungguhnya bangsa manusia dan bangsa jin tidaklah diciptakan kecuali semata-mata untuk memuja dan menyembah-Nya (QS adz-Dzariyat:56). Sesungguhnya bangsa kalian dicipta dari api beracun (QS al-Hijr:27), sedangkan bangsa manusia dicipta dari tanah liat (QS al-Hijr:28). Meskipun bangsa kalian merasa lebih unggul dan lebih mulia daripada manusia, hendaknya kalian tahu bahwa pada manusia tersembunyi ruh bersifat Ilahiyyah yang menjadikan seluruh makhluk bersujud kepadanya (QS al-Hijr:29-30) kecuali leluhurmu, Sang Iblis, yang membanggakan asal kejadiannya (QS al-Hijr:33).� �

Sekalipun di antara bangsa manusia memiliki rasa permusuhan dengan leluhur kalian, Sang Iblis, aku tidak menilai Sang Iblis sebagai musuhku. Aku justru menganggap kehadiran Sang Iblis sebagai pengejawantahan Dia, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), yang bertugas utama menjadi peneguh Keesaan Allah SWT, agar manusia yang kepadanya ditiupkan ruh Ilahiyyah tidak terperangkap kepada kebanggaan diri berlebih yang menganggap mereka sama dengan Allah SWT. Dia Yang Maha Mengetahui (al-�Alim) telah memberitahuku bahwa sesungguhnya Sang Iblis senantiasa mengintai semua gerak-gerik manusia yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).�

�Barang siapa di antara manusia ada yang tergoda oleh keakuan pribadinya untuk melakukan pengambilalihan kuasa Allah, meski hanya di dalam lintasan pikiran, yaitu ingin menyamai Allah SWT dengan mengatakan bahwa ia sama dengan Dia, Zat Yang Meniupkan ruh Ilahiyyah ke tubuhnya, maka merekalah sasaran utama Sang Iblis. Ketika leluhur bangsa manusia, Adam a.s., digoda oleh keakuan untuk hidup abadi � ingin sama dengan Yang Maha Kekal (al-Baqi) � ia menjadi korban tipuan Sang Iblis. Ia memakan buah dari Pohon Keabadian (syajarah al-khuld) yang terlarang dan kemudian justru memperoleh murka Allah SWT (QS al-A�raf:20-24).�

�Tidak berbeda dengan anggapanku terhadap Sang Iblis, demikianlah anggapanku terhadap kalian sebagai hamba Allah SWT yang mengawal ke-Esaan-Nya. Kalian adalah ujian bagiku. Saat kalian menghendaki agar aku memunggungi tugu lingga, aku sadari hal itu sebagai suatu ujian berat yang kalian sajikan untukku. Itu sebabnya, aku berterima kasih kalian yang selalu mengingatkan akan kedudukanku sebagai wakil-Nya, tidak lebih. Kehadiranku di sini hanyalah untuk memperkenalkan diri kepada kalian semua bahwa akulah pewaris ajaran Kapitayan yang telah disempurnakan menjadi ajaran Islam. Sesungguhnya tidak ada yang berubah dari ajaran Kapitayan dengan kehadiran ajara Islam. Sesungguhnya Islam bukan ajaran baru, melainkan hanya penyempurna bagi ajaran-ajaran Tauhid yang sudah ada sebelumnya.�

�Karena aku adalah pewaris ajaran Muhammad Saw., maka aku nyatakan kepada kalian bahwa ajaran yang akan aku sampaikan kepada manusia tidak hanya terbatas di Nusa Jawa, tetapi di semua tempat di permukaan bumi yang mau menerimanya. Dan lantaran itu, aku nyatakan kepada kalian bahwa aku tidak akan menduduki jabatan Guru Loka Nusa Jawa sebagaimana Dang Hyang Semar. Ini semua adalah kehendak-Nya semata bahwa gerak kehidupan akan terus berubah dari waktu ke waktu menuju kesempurnaan.�

�Sebagaimana bangsa manusia yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sesungguhnya bangsa kalian pun mengalami perubahan pula. Jika leluhur kalian, Sang Iblis, adalah makhluk yang dianugerahi-Nya naluri selalu memusuhi manusia, demi keesaan-Nya, maka di antara keturunannya ternyata ada yang menerima Kebenaran Ilahi yang disampaikan manusia. Aku tahu bahwa Hama bin Him bin Laqiz bin Iblis adalah pemuka di antara bangsa kalian yang telah menerima Kebenaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. perlu kalian ketahui, beberapa waktu sebelum ke sini aku telah ditemui oleh Yang Terhormat Syaikh Abi Yusuf, guru agung dan pemuka bangsa kalian yang beragama Islam. Dia menyatakan kepadaku bahwa sebagian di antara kalian telah menjadi pengikutnya.�

�Karena segala sesuatu telah berubah maka aku pun akan melakukan sedikit perubahan atas butir-butir perjanjian yang telah disepakati oleh Dang Hyang Semar dna leluhur kalian. Pertama, di antara bangsa kalian yang telah beriman dan memeluk Islam telah ditetapkan larangan meminum darah saudara-saudaramu dari bangsa manusia yang beriman dalam agama Islam. Akan tetapi, tetap diperbolehkan meminum darah manusia yang memeluk Islam tetapi yang tidak beriman. Kedua, di antara bangsa kalian yang bukan pemeluk Islam telah ditetapkan larangan meminum darah manusia beriman yang bukan pemeluk Islam. Yang diperbolehkan adalah meminum darah manusia pemeluk Islam dan yang bukan pemeluk Islam yang juga tidak beriman. Namun, kalian semua tetap bebas menjalankan naluri kalian untuk menyimpangkan manusia dari jalan Kebenaran. Sebab, aku sendiri tak kuasa menentang kehendak-Nya yang telah menetapkan ketentuan tentang banyaknya jumlah bangsa manusia dan bangsa jin yang bakal menjadi penghuni jahanam (QS al-A�raf:179 ; Hud:119).� �

Sebagai makhluk penghuni alam gaib, kalian tentu telah tahu siapa sesungguhnya manusia-manusia beriman, baik pemeluk Islam mau pun yang bukan pemeluk Islam yang memuja Allah SWT dan siapa di antara mereka yang memuja hawa nafsunya. Kalian lebih tahu siapa manusia yang serakah hingga buta mata hatinya dan tuli pendengaran jiwanya. Kalian pun lebih tahu siapa yang suara nuraninya sudah bisu akibat jiwanya sesak dihuni taghut. Mangsalah mereka itu. Sebab, semua itu adalah kehendak-Nya semata demi menjaga kelestarian bumi dan kelangsungan hidup penghuninya.�

�Kepada kalian, o bangsa jin yang bukan pemeluk Islam, di lereng gunung tadi aku telah ditemui oleh Yang Dipertuan Gunung Pulasari, Ki Dilah, yang tidak lain adalah pemuka dan guru agung kalian. Dia mengatakan kepadaku telah mengetehui adanya perubahan dahsyat yang bakal terjadi di dunia manusia yang sebelumnya juga sudah terjadi di dunia kalian. Itu sebabnya, dia mempersilakan aku untuk menuntun kalian di jalanku. Tetapi, kukatakan kepadanya bahwa memimpin kalian adalah bukan tugasku. Karenanya, tetaplah kalian mengikutinya. Sesungguhnya masing-masing bangsa memiliki pemimpin sendiri sesuai kebangsaannya. Tidak dibenarkan bangsa manusia memimpin bangsa jin atau sebaliknya.�

Dengan tatap tak percaya para raja jin memandang Abdul Jalil seusai mendengar yang baru saja dikemukakannya. Pemuka makhluk gaib merah yang berasal dari Wirabhumi bernama Balabatu berdiri dan berkata, �Jika paduka menolak kedudukan guru loka Nusa Jawa, apakah paduka akan mengubah butir yang lain dari perjanjian leluhur kami dengan Dang Hyang Semar?� �

Sekali-kali tidak, o Balabatu.� �

Jika demikian, kenapa paduka melarang kami yang bukan pemeluk Islam untuk meminum darah manusia bukan pemeluk Islam? Bukankah itu peraturan yang tidak adil?� �

Apa yang menurutmu tidak adil?� �

Jumlah penduduk Islam di Nusa Jawa sangat sedikit sehingga larangan meminum darah manusia beragama Islam sesungguhnya tidak memiliki pengaruh apa-apa pada pelaksanaan pesta darah kami. Sebaliknya, paduka telah memberi keleluasaan di antara saudara-saudara kami yang beragama Islam untuk meminum darah manusia yang bukan Islam. Bukankah peraturan itu tidak adil karena menguntungkan salah satu pihak di antara kami?� protes Balabatu. �

Ketahuilah, o Balabatu, seiring perubahan yang terjadi di kalangan manusia, sesungguhnya tidak lama lagi di Nusa Jawa akan terjadi perubahan besar bahwa manusia akan beramai-ramai memeluk Islam. Engkau pun tidak akan bisa menghitung jumlah umat Islam di kelak kemudian hari. Jika engkau dan saudara-saudaramu bersabar barang sebentar waktu maka engkau dan saudara-saudaramu akan jauh lebih beruntung daripada saudara-saudaramu yang memeluk Islam dalam pelaksanaan pesta darah itu.� �

Selain itu, engkau camkan dan ingat-ingat benar bahwa yang aku tetapkan sebagai larangan bagi kalian yang bukan pemeluk Islam adalah meminum darah manusia beriman yang bukan beragama Islam. Larangan pun berlaku bagi saudara-saudaramu yang beragama Islam untuk tidak meminum darah manusia beriman di antara umat Islam. Ingat-ingat benar perbedaan antara manusia beriman dan manusia sebagai pemeluk suatu agama.� �

Berarti, paduka sesungguhnya tidak melarang tradisi pesta darah bangsa kami?� �

Benar demikian adanya,� sahut Abdul Jalil. �Sebab, telah termaktub di dalam Kitab Allah bahwa binatang (al-dabbah) yang terjahat adalah manusia yang tuli, bisu, dan tidak mau mengerti (QS al-Anfal: 22). Mereka mempertuhankan hawa nafsu tak ubahnya seperti hewan (al-an�am), bahkan lebih sesat (QS al-Furqan: 43-44). Mereka itulah yang digolongkan sebagai manusia tidak beriman, entah mereka itu mengaku Islam atau beragama lain. Itu berarti, kalian bebas memilih siapa di antara manusia tidak beriman yang hidupnya lebih sesat daripada hewan untuk kalian jadikan mangsa dalam pesta darah. Sebab, manusia-manusia sesat pemuja hawa nafsu yang ruhnya telah tertutup sama sekali oleh kegelapan sesungguhnya tidak ubahnya kawanan hewan yang halal bagi kalian, sebagaimana hewan yang merayap di permukaan bumi dihalalkan bagi manusia.� �

Bahkan jika mereka mengaku-aku sebagai umat Islam, namun ternyata mereka terbukti sebagai golongan manusia tidak beriman maka kalian pun boleh memangsanya. Sebab, tidak kurang di antara manusia yang mengaku Islam dan berikrar hanya menjadi pemuja dan penyembah Allah SWT. ternyata adalah pemuja hawa nafsunya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang terhijab dari kebenaran Ilahi. Mereka tidak sedikit pun mencerminkan wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh) yang memancarkan citra insani (al-basyar) sekaligus citra Ilahi (ruh), yang membuat para malaikat bersujud. Mereka benar-benar telah menjadi makhluk seperti persangkaan Sang Iblis, yaitu manusia (al-basyar) yang semata-mata tercipta dari bahan tanah.� �

Mulut mereka memang telah mengikrarkan persaksian (syahadat) Tauhid, tetapi hati dan pikiran mereka telah tertutup bagi Kebenaran Yang Tunggal. Tubuh mereka memang bergerak-gerak melakukan penyembahan kepada Allah (shalat), namun kiblat hati dan pikiran mereka tertuju pada taghut (materi). Perut mereka lapar dan tenggorokan mereka kehausan akibat puasa (shaum), namun mulut mereka menebar najis. Hati dan pikiran mereka mengembara ke mana-mana, tidak sedikit pun tertuju kepada Allah SWT.. Harta benda yang mereka miliki diperoleh secara tidak halal. Saat mereka membagi-baginya sebagai zakat, infak, dan sadaqah tidaklah diniatkan untuk mendapatkan ridho Allah SWT., tetapi dengan tujuan utama mencari pujian dan kemasyhuran duniawi. Mereka ibarat hewan, tidak bisa lagi diperingatkan, karena mata hatinya sudah buta, telinga jiwanya tuli, suara nuraninya bisu, akal pikirannya tumpul.� �

Sungguh telah jelas bagiku bahwa manusia apa pun agamanya � entah Islam, entah Hindu, entah Budha � telah terpilah menjadi tiga golongan. Pertama, golongan manusia beragama yang beriman semurni permata. Mereka itulah pemuja Tuhan sejati yang tidak mengharapkan sesuatu kecuali ridho Tuhan. Kedua, adalah golongan manusia beragama yang beriman seperti emas campuran. Mereka itulah pemuja Tuhan yang hati dan pikirannya diliputi pamrih pribadi mengharapkan kenikmatan duniawi dan akhirat. Ketiga, golongan manusia beragama yang tidak beriman. Nafsu mereka seperti batu yang menutupi pintu kecemerlangan ruhani. Golongan yang terakhir ini adalah para pemuja hawa nafsu dan materi yang selalu berteriak-teriak menyatakan diri sebagai pemuja Tuhan sejati.� �

Kelompok dari golongan ketiga itulah yang sesungguhnya disebut golongan ingkar (kufr) dan munafik. Mereka sesungguhnya tidak mengenal Tuhan yang gaib. Mereka rakus, tamak, serakah, dan tak pernah puas dengan apa yang telah diperoleh. Dengan keserakahan dan ketamakannya mereka selalu menyandang citra makhluk perusak bumi. Mereka itulah yang halal kalian mangsa. Sebab, bumi tidak akan cukup memuat keserakahan mereka. Hari-hari dari kehidupan mereka senantiasa dicitrai oleh bencana dan malapetaka yang mereka timbulkan bagi kehidupan di sekitarnya. Mereka selalu menjadi binatang bagi sesamanya.� �

Sebagai makhluk penghuni alam gaib, kalian tentu telah tahu tentang siapa sesungguhnya manusia-manusia beriman yang memuja Allah SWT. dan siapa di antara mereka yang memuja hawa nafsunya. Kalian lebih tahu siapa manusia yang serakah hingga buta mata hatinya dan tuli pendengaran jiwanya. Kalian pun lebih tahu siapa yang suara nuraninya sudah bisu akibat jiwanya sesak dihuni taghut. Mangsalah mereka itu. Sebab, semua itu adalah kehendak-Nya semata demi menjaga kelestarian bumi dan kelangsungan hidup penghuninya.�

Para raja makhluk gaib termangu-mangu mendengar uraian Abdul Jalil. Mereka semua terdiam. Namun, beberapa jenak kemudian raja makhluk gaib dari Pakuan yang bernama Kareteg meminta penjelasan tentang �pagar halilintar� yang dibentangkan Abdul Jalil di sepanjang pantai utara Bumi Pasundan. �Para kawula kami sangat cemas dan ketakutan dengan adanya �pagar halilintar� itu. Apakah paduka ingin memasang perangkap yang berbahaya bagi kawula kami?�

Abdul Jalil mengerutkan kening. Ia tidak paham dengan istilah �pagar halilintar� yang dikemukakan Kareteg. Namun, sesaat kemudian ia teringat pada sarana (Tu-mbal) yang telah ia tebar di beberapa tempat yang disebutnya Lemah Abang. Rupanya rangkaian doa yang dilafazkan para santri yang ditinggal di Lemah Abang telah mendatangkan kekuatan adiduniawi di mana para makhluk gaib melihatnya seperti kilatan halilintar. Menyadari hal itu Abdul Jalil pun menjelaskan, �Sesungguhnya aku tidak bermaksud membuat �pagar halilintar� yang bakal mencelakakan bangsa kalian. Aku hanya memberi tengara kepada bangsa kalian bahwa di tempat-tempat yang kalian saksikan ada pancaran cahaya halilintar, itulah tempat aku membuka hunian-hunian baru bagi manusia. Selama kalian masih melihat kilatan cahaya itu hendaknya kalian tidak mendekat apalagi mengganggu. Namun, jika kalian sudah tidak melihat kilatan cahaya itu lagi maka kalian boleh mendekati tempat itu dan mengganggu penghuninya.� �

Berarti �pagar halilintar� itu tidak berlangsung terus-menerus?� tanya Kareteg. �

Jika penghuni tempat-tempat bernama Lemah Abang sudah menjadi pemuja taghut maka kilatan cahaya itu tidak akan kalian saksikan. Jadi, apa pun yang kalian saksikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia manusia, pada dasarnya tidak mengubah hukum kauniyah yang berlaku.�

Ketika fajar mulai menjelang dan puncak Gunung Pulasari telah disaput warna merah, para raja makhluk gaib Nusa Jawa kembali ke kediaman masing-masing. Setelah mengangkat batu lingga ke atas pangkuannya, Abdul Jalil menebarkan tanah yang dibawanya ke seputar batu datar sambil membaca do�a penolak kejahatan jin. Saat baru usai membaca doa tiba-tiba ia sadar betapa di samping kanannya telah berdiri seseorang yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya.

Abdul Jalil menoleh. Ia melihat orang yang berdiri di samping kanannya adalah laki-laki berusia lebih setengah abad dan berpakaian brahmana. Wajah laki-laki itu teduh. Matanya bulat lebar. Hidungnya mancung. Rambutnya diikat tiga gulungan ke atas, sementara kumis dan janggutnya menjuntai ke dada. Laki-laki itu memancarkan wibawa seorang pertapa.

Sepintas melihat sorot mata brahmana itu, Abdul Jalil sudah menangkap pancaran kecurigaan akibat batu lingga yang dipangkunya. Tanpa menunggu ditanya ia langsung memperkenalkan diri sekaligus mengungkapkan niatnya untuk membawa lingga tersebut atas permintaan arwah Ratu Sthri Bhattari Prthiwi yang didaharmakan di Kabhumian, Caruban Larang.

Mendengar pengakuan Abdul Jalil, brahmana itu ganti memperkenalkan diri sebagai Brahmana Kandali, pemimpin para Rsigana Domas, yakni delapan ratus orang resi yang tinggal di Gunung Pulasari. Setelah itu, masih dengan tatap mata penuh curiga dia berkata, �Mata hati saya menyaksikan betapa Tuan adalah orang jujur yang berjiwa bersih. Namun, mata indriawi saya melihat Tuan dengan penuh curiga. Wajah Tuan bukan wajah orang Sunda. Pakaian Tuan adalah pakaian orang Islam. Tuan datang ke puncak Pulasari dengan mengangkat Syiwalingga yang kami puja. Jika Tuan mengatakan bahwa apa yang Tuan lakukan adalah atas permohonan arwah Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi, tolong jelaskan kepada kami ketidaksesuaian antara penglihatan mata hati dan mata indriawi saya ini.�

Abdul Jalil menarik napas panjang sambil memejamkan mata menembus keheningan persemayaman Ruh al-Haqq di kedalaman jiwanya. Beberapa jenak setelah melintasi relung-relung keheningan jiwanya tiba-tiba ia menyaksikan kelebatan bayangan sosok Rishi Punarjanma, diikuti sentuhan Ruh al-Haqq yang mengisyaratkannya untuk berbicara seputar pendeta yang meninggal di Arafah itu. Mengikuti petunjuk Ruh al-Haqq, ia membuka mata dan berkata, �Saya tidak bisa menjelaskan ketidaksesuaian antara tangkapan mata hati dan mata indriawi Tuan. Namun, jika hal itu terjadi pada diri saya maka saya lebih mempercayai penglihatan mata hati saya.� �

Bisakah Tuan memberi contoh kepada saya jika ketidaksesuaian itu pernah terjadi pada Tuan, agar bisa saya jadikan pedoman dalam perjalanan ruhani saya.�

�Ada sebuah pengalaman yang pernah saya alami, namun sangat tidak masuk akal untuk diterima oleh orang yang mengagungkan pandangan indriawi. Namun, bagi mereka yang percaya bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil bagi kehendak Yang Mahakuasa, apa yang akan saya ceritakan itu tentu akan dipercaya sebagai kebenaran tak tersanggah,� kata Abdul Jalil.

�Cerita tentang apakah itu, Tuan?�

�Cerita tentang seorang pendeta Hindu tua asal Banten Girang yang melakukan ibadah haji ke tanah suci umat Islam, yaitu Makkah di tanah Arab. Pendeta tersebut meninggal di tanah Arafah tepat saat hari Arafah. Dia bahkan meninggal di atas pangkuan saya,� Abdul Jalil memaparkan.

�Pendeta tua asal Banten Girang?� Brahmana Kandali tercekat keheranan. Sambil mengernyitkan kening dia bertanya, �Siapakah namanya?�

�Kepada saya beliau mengaku bernama Rishi Punarjanma,� ujar Abdul Jalil. �Beliau mengaku memiliki seorang putera bernama Nirartha yang tinggal di negeri Daha. Katanya, puteranya itu diasuh oleh adiknya yang bernama Wiku Suta Lokeswara, seorang pendeta Bhairawa penganut Syiwa-Budha.�

Brahmana Kandali tampak tergetar mendengar penjelasan Abdul Jalil. Keringat sebesar butiran kacang menyimbah keningnya. Napasnya mulai naik turun. Matanya berkaca-kaca. Kemudian dengan bibir bergetar ia bertanya, �Bagaimana mungkin guru agung kami Rishi Punarjanma menjalankan ibadah ke tanah suci orang-orang Islam yang letaknya di negeri Arab?�

�Segala sesuatu sesungguhnya tergantung mutlak pada kehendak Sanghyang Tunggal.� Abdul Jalil menyebut nama Tuhan seperti Dang Hyang Semar pernah menyebutnya demikian. �Tapi jika dijelaskan secara manusiawi sesuai pengakuan beliau, sesungguhnya kehadiran beliau ke tanah suci umat Islam adalah semata-mata �kekeliruan� tempat belaka. Maksudnya, niat utama beliau sesungguhnya hendak melakukan pradaksina di Gunung Kailasa, yaitu tempat Syiwa ber-sthana. Namun, arus nasib telah membawanya ke Makkah dan Arafah setelah kapal yang ditumpangi terempas gelombang dan beliau ditolong oleh para pelaut Arab. Beliau bahkan mengira tugu batu raksasa yang terletak di Jabal Rahmah adalah Syiwalingga yang telah beliau lihat di dalam mimpinya. Itu sebabnya, beliau melakukan pradaksina, mengitari Jabal Rahma. Beliau meninggal akibat kelelahan dan kepanasan.�

Brahmana Kandali tak dapat lagi menahan gejolak perasaannya. Ia mengucurkan air mata dan berkata tersendat-sendat, �Tuan, apakah Tuan merawat jenasah beliau dengan baik?�

�Saya dan saudara-saudara saya yang menunaikan ibadah haji telah menguburkan beliau dengan baik.�

�Apakah beliau tidak meninggalkan pesan apa-apa sebelum meninggal?�

�Beliau meminta agar saya menemui puteranya, Nirartha, di negeri Daha,� kata Abdul Jalil, untuk menyampaikan pesan bahwa beliau telah kembali ke Syiwapada karena setia kepada Syiwamarga. Setelah saya kembali dari sini, saya akan berusaha pergi ke negeri Daha untuk menyampaikan pesan Rishi Punarjanma kepada puteranya. Saya tidak tahu kenapa saya harus memenuhi amanat Rishi Punarjanma yang syari�at agamanya tidak sama dengan syari�at agama saya. Saya hanya merasa bahwa mata hati, telinga, jiwa, dan suara nurani saya memerintahkan saya untuk melakukan hal itu.�

Brahmana Kandali duduk berlutut di depan Abdul Jalil. Dengan tangan menyembah ia berkata, �Tuan, terimalah permohonan maaf kami akibat kecurigaan kami yang berlebihan terhadap Tuan. Terimalah juga sembah hormat kami, o Tuan yang mulia, atas segala budi baik yang Tuan telah berikan kepada guru agung kami Rishi Punarjanma. Sungguh, tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikan hati Tuan yang begitu luas laksana samudera yang berkenan menerima berbagai aliran sungai dengan begitu tulus.�

�Kami percaya apa yang telah Tuan ceritakan tentang Rishi Punarjanma adalah benar belaka. Sebab, tidak ada orang di negeri Banten ini yang mengetahui beliau memiliki putera bernama Nirartha yang tinggal di negeri Daha dan ikut dengan Wiku Suta Lokeswara, kecuali kami dan beberapa orang saudara kami pemuka Rsigana Domas yang tak pernah turun gunung ini. Itu berarti Tuan benar-benar telah bertemu dengan guru agung kami.�

�Sudah merupakan kewajiban manusia untuk saling menolong di antara sesamanya tanpa melihat latar bangsa, bahasa, dan agama. Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi sesamanya dan seburuk-buruk manusia adalah yang selalu menjadi bencana bagi sesamanya.�

�Sungguh, sekarang kami percaya kepada Tuan. Kami percaya Tuan benar-benar memenuhi permintaan Ratu Sthri Bhattari Prthiwi untuk membawa Syiwalingga ke Caruban Larang. Sesungguhnya tidak ada satu pun di antara manusia yang berhak mengatakan bahwa Syiwalingga itu miliknya. Sebab, Syiwalingga senantiasa dijaga dan dipelihara oleh Bhattara Syiwa sendiri. Jika Syiwalingga harus dipindahkan dari puncak Gunung Pulasari ke Caruban Larang maka hal itu tentunya adalah atas kehendak Bhattara Syiwa sendiri.�

�Memang demikian kenyataannya saat saya memohon perkenan kepada Syiwalingga ini.�

�Tuan sudah meminta izin Bhattara Syiwa? Tuan bisa berhubungan dengan Bhattara Syiwa melalui Syiwalingga?�

�Sesungguhnya saya hanya mengenal nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Syiwa,� ujar Abdul Jalil. �Semalam Dia, Syiwa yang dipuja lewat perlambang Syiwalingga ini, menyapa saya sebagai pengejawantahan Sang Girinatha, Bhutaswara, Rudra, Bhairawa, dan Mahakala. Dia telah berkenan mengizinkan saya membawa Lingga ini ke Caruban Larang sesuai permohonan Bhattari Prthiwi.�

�Tuan,� tanya Brahmana Kandali, �kenapa Bhattara Syiwa membiarkan Syiwalingga itu Tuan bawa ke Caruban Larang? Bukankah hal itu akan mengubah kedudukan Gunung Pulasari sebagai sthana Syiwa?�

�Tidak ada sesuatu yang berubah tanpa kehendak-Nya. Sesungguhnya perubahan yang akan terjadi atas sthana Syiwa di Gunung Pulasari ini semata-mata atas kehendak-Nya juga. Pada masa datang para pemuja Syiwa hendaknya mengikuti pesan Sang Girinatha kepada saya, yaitu tidak harus pergi ke sthana Syiwa di puncak Gunung Pulasari untuk melakukan upacara di Syiwamandala. Sebab, sebenarnya dengan Kebenaran yang sesungguhnya Syiwa berada di mana saja bersama-sama dengan pemuja-Nya yang mengetahui Kulatattwa.�

�Tuan,� seru Brahmana Kandali heran, �bagaimana Tuan yang beragama Islam bisa tahu tentang Kulatattwa?�

�Syiwa yang disebut dengan berbagai nama telah memberitahuku demikian.�

�Jika demikian, tahukah Tuan kenapa Syiwa menghendaki terjadi perubahan seperti itu?�

�Sebab tidak lama lagi akan datang Dajjal Sang Penyesat yang akan membawa manusia ke zaman malapetaka. Pengikut Sang Penyesat akan membawa manusia ke jalan kebinasaan dengan mengingkari keberadaan Tuhan secara benar. Sang Penyesat dengan pesonanya akan membalik kiblat berpikir manusia. Jika saya dan seluruh umat Islam meyakini bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta sebagaimana keyakinan Tuan dan saudara-saudara Tuan yang beragama Hindu, maka Sang Penyesat akan mengatakan bahwa manusialah yang mencipta Tuhan. Jika manusia tidak mencipta Tuhan maka Tuhan tentunya tidak ada.�

�Sesungguhnya mereka adalah para pembohong dan penyesat umat manusia yang bakal membawa kerusakan di permukaan bumi. Tidak umat Islam, tidak umat Hindu, tidak umat Budha, jika menjadi pengikut Dajjal maka akan sesat juga jadinya. Mereka sesungguhnya orang-orang yang sudah buta mata hatinya, tuli telinga jiwanya, dan bisu suara nuraninya. Mereka tidak bisa melihat sesuatu kecuali benda-benda yang kasatmata. Mereka tidak percaya ruh. Mereka tidak percaya adanya hidup setelah mati. Bahkan, andaikata mereka berbicara tentang agama maka sesungguhnya mereka telah menipu karena bagi mereka agama adalah �alat� yang bisa mereka gunakan untuk membenarkan perilaku mereka yang jahat.�

�Apakah kehadiran mereka menandai bakal datangnya zaman Kaliyuga?�

�Kira-kira begitu di dalam keyakinan agama Tuan.�

�Siapakah yang Tuan maksud sebagai Dajjal Sang Penyesat itu?�

�Jika Tuan pernah mendengar cerita tentang Sang Hantaga, saudara Dang Hyang Semar, tentunya Tuan pernah mendengar tokoh bernama Si Kere, putera Sang Hantaga,� ujar Abdul Jalil.

�Ya, ketika kanak-kanak kami pernah mendengar cerita semacam itu.�

�Dajjal Penyesat adalah anak cucu Si Kere,� ujar Abdul Jalil. �Mereka hidup di negeri miskin dan selalu kekurangan makan. Itu sebabnya, mereka akan datang ke negeri-negeri subur tempat padi ditanam dan berbagai jenis emas serta permata didapatkan. Mereka datang untuk menjarah dan merampok harta kekayaan negeri-negeri subur. Mereka akan merampas harta benda penduduk. Mereka akan memperbudak penduduk. Mereka akan mengganti kepercayaan agama penduduk. Mereka akan memaksa penduduk mengikuti kepercayaan dan adat istiadat mereka. Dan yang paling berbahaya, mereka akan menjungkirbalikkan kepercayaan penduduk yang memuja Tuhan agar sejalan dengan kepercayaan mereka yang sesat dan menyesatkan, yaitu tidak mempercayai segala sesuatu yang bersifat gaib.�

�Tuan,� Brahmana Kandali memohon. �Ajarkan kami pengetahuan ruhani yang Tuan miliki. Bimbinglah kami meniti jalan Kebenaran menuju-Nya. Angkatlah kami menjadi siswa Tuan. Kami yakin, guru agung kami, Rishi Punarjanma, mengirim Tuan ke sini tentu dengan maksud agar Tuan menjadi panutan kami. Kami pun bersedia melepas agama kami jika itu memang diisyaratkan menjadi siswa Tuan. Kami tidak ingin hidup di zaman Kaliyuga tanpa bimbingan guru yang sudah mengejawantahkan keberadaan-Nya.�

�Tuan Brahmana, saya tidak keberatan Tuan hendak belajar menempuh jalan ruhani kepada saya. Tetapi, saya tidak pernah mensyaratkan seseorang harus berpindah agama untuk menjadi siswa saya. Sebab, masalah agama � dalam makna syari�at � bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Sungguh, tidak ada paksaan dalam agama. Dan sudah menjadi keyakinan saya, sesungguhnya telah menjadi kehendak-Nya semata bahwa umat manusia harus hidup beraneka ragam baik dalam hal kebangsaan, bahasa, budaya, maupun agama.�

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers