Selasa, 17 Januari 2017

TANAH SAMIDDHA

Tanah Samiddha �

Aku benar-benar heran dengan tingkah laku manusia bernama Rsi Bungsu itu,� ujar Sri Mangana suatu malam kepada Abdul Jalil dalam perbincangan di Bale Rangkang. �Seluruh hidupnya seolah-olah diabdikan untuk memuja setan dendam dan iblis kebencian yang berkuasa di hatinya. Kalau kuingat-ingat, selama aku mengenal dia sebagai kemenakanku, belum terlihat satu pun kebaikan yang pernah dilakukannya. Entah dia itu jelmaan iblis atau apa, sepengetahuanku, dia selalu menjadi bencana bagi orang lain.� �

Tapi Ramanda Ratu, sepengetahuan ananda, Pamanda Rsi Bungsu tidak punya alasan untuk memusuhi Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi. Bukankah selama ini beliau berdua tidak pernah berselisih?� �

Memang, antara Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi dan Rsi Bungsu tak pernah terjadi perselisihan,� ujar Sri Mangana. �Namun, sejak Raden Anggaraksa, puteranya, memeluk Islam dan meminta perlindungan kepada uwaknya di Giri Amparan Jati, api kebencian telah membakar hatinya yang sudah hangus menghitam itu. Itu sebabnya, tanpa hujan tanpa angin, tiba-tiba ia memerintahkan sekawanan begal yang dipimpin Bergola Hideung untuk menjarah dan membakar seluruh bangunan yang ada di Giri Amparan Jati. Untung yang terbakar hanya tiga pondok hunian siswa.� �

Dia menduga perbuatan busuknya itu tidak akan diketahui. Namun, sejak awal kejadian aku sudah menangkap keanehan peristiwa itu. Pertama, belum pernah terdengar cerita di Bumi Pasundan ini ada kawanan begal merampok padepokan. Kedua, kejahatan itu dilakukan di Caruban Larang, tanah samiddha yang disucikan. Ketiga, kawanan Bergola Hideung tidak menjarah apa-apa, tetapi hanya menculik Raden Anggaraksa. Ini tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan Rsi Bungsu. Dan, dugaanku ternyata tidak meleset. Saat beberapa orang anak buah Bergola Hideung tertangkap, mereka mengaku bahwa sesungguhnya yang memerintahkan pembakaran Padepokan Giri Amparan Jati adalah Rsi Bungsu.�

Abdul Jalil tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengar uraian Sri Mangana. Melihat putera asuhnya hanya tersenyum, Sri Mangana bertanya keheranan, �Kenapa engkau tersenyum mendengar ceritaku, o Puteraku? Apakah engkau tidak marah melihat kekurangajaran Rsi Bungsu yang sudah menista padepokan tempatmu menimba ilmu?� �

Ramanda Ratu, ananda memang sedih dan marah melihat hasil perbuatan Pamanda Rsi Bungsu, apalagi jika melihat perbuatan-perbuatannya pada masa lalu. Namun, dalam memahami hal ini ananda tidak mau terperangkap oleh pandangan perseorangan yang bersifat pribadi. Maksudnya, ananda tidak mau melihat hasil perbuatan Pamanda Rsi Bungsu sebagai perbuatan pribadi seorang manusia jahat bernama Rsi Bungsu yang bejay akhlaknya. Sebaliknya, ananda ingin melihat apa yang sesungguhnya telah terjadi di balik perbuatan Pamanda Rsi Bungsu itu. Maksud ananda, kenapa Pamanda Rsi Bungsu bisa berbuat begitu jahat? Apa yang menyebabkan dia selalu melakukan perbuatan tetcela? Dan, anasir-anasir apa sesungguhnya yang menjadikan Pamanda Rsi Bungsu menjadi jahat?� �

Apakah engkau akan mengatakan bahwa sesungguhnya yang menjadikan Rsi Bungsu itu manusia terkutuk yang selalu melakukan perbuatan jahat adalah Allah �Azza wa Jalla?� tanya Sri Mangana. �

Kita tidak perlu berbicara terlalu jauh tentang persoalan itu, o Ramanda Ratu,� ujar Abdul Jalil dengan suara direndahkan. �Kita bicarakan saja tentang apa sesungguhnya yang telah diperbuat Allah SWT. terhadap Pamanda Rsi Bungsu yang jahat itu. Tidakkah Ramanda Ratu menangkap jeritan pilu dan rintihan pedih Pamanda Rsi Bungsu di tengah-tengah perbuatan jahatnya? Tidakkah Ramanda Ratu menangkap keputusasaan Pamanda Rsi Bungsu dengan peristiwa keislaman putera laki-laki tunggalnya? Cobalah Ramanda Ratu renungkan sekejap saja, bagaimana seandainya Ramanda Ratu berada pada kedudukan Pamanda Rsi Bungsu.�

Sebagai raja yang sudah puluhan tahun merasakan pahit dan getir kehidupan, Sri Mangana paham apa yang dimaksud oleh putera asuhnya. Dengan menggumam seolah-olah berkata kepada dirinya sendiri dia berkata, �Rsi Bungsu dalam pandanganku tak lebih dari seekor anjing hutan yang kelaparan, tetapi lehernya diikat tali yang kuat. Saat melihat segumpal daging segar ia menggeram dan meneteskan air liur. Namun setiap kali ia meronta berusaha menerkam dan menyantap daging itu, selalu saja tali yang mengikat lehernya itu mencekiknya. Tali itu terlalu kuat untuk diputuskan oleh rontaan tubuh, gigitan taring, atau cakaran kukunya. Kini saat anjing tua itu sudah sangat kelaparan dan kehilangan daya, tiba-tiba ia dikebiri pula oleh pemeliharanya. Ya Allah, siksa dan azab apa yang Engkau timpakan kepada manusia celaka itu?� �

Ramanda Ratu,� Abdul Jalil menyela, �kenapa Ramanda Ratu membayangkan Pamanda Rsi Bungsu seperti seekor anjing tua yang dikebiri?� �

Sebab, dia tidak akan memiliki keturunan yang meneruskan kehidupannya,� ujar Sri Mangana. �

Bukankah Raden Anggaraksa keturunan Pamanda Rsi Bungsu?� �

Sampai usianya masuk tiga puluh tahun dia tidak mau menikah. Malah sekarang ini dia memeluk Islam. Bukankah itu sama artinya dengan dikebiri bagi Rsi Bungsu?� �

Ramanda Ratu,� Abdul Jalil tersenyum, �mohon sudilah Ramanda Ratu memaafkan Pamanda Rsi Bungsu atas apa yang telah diperbuatnya terhadap Padepokan Giri Amparan Jati. Sebab, saat ini beliau sedang dijepit dan dipanggang oleh neraka kehidupan dunianya. Tidakkah Ramanda Ratu bisa membayangkan bagaimana azab dan derita yang dirasakan Pamanda Rsi Bungsu saat ini? Putera lelaki satu-satunya yang menjadi gantungan harapan telah lepas dari pangkuan. Siapakah yang akan meneruskan kebanggaan Pamanda Rsi Bungsu jika putera terkasih penerus keturunannya tidak berkenan menikah dan malah mengikuti agama yang lain pula? Adakah siksa dan derita yang melebihi pedihnya laki-laki tua yang bangga dengan darah birunya, tetapi tidak memiliki anak dan cucu pewaris kemurnian dan kemuliaan darahnya?�

Sri Mangana menarik napas panjang. Dia bisa memahami jalan pikiran putera asuhnya. Kemudian dengan suara ditekan dia bertanya, �Jika demikian, apa yang harus aku perbuat untuk dia?� �

Ramanda Ratu tidak perlu lagi memerintahkan orang untuk mencari dan membunuh Pamanda Rsi Bungsu. Biarkanlah Allah sendiri yang menghukum Pamanda Rsi Bungsu dengan cara-Nya. Sesungguhnya, hukuman Allah jauh lebih pedih dibanding hukuman yang pernah dibayangkan manusia.�

Sri Mangana mengangguk-angguk dan berkata, �Aku pikir itu keputusan yang terbaik. Berita terakhir yang aku dengar menyebutkan Raden Anggaraksa berhasil meloloskan diri dari sergapan ayahandanya dan saat ini dia berada di Giri Kedaton meminta perlindungan kepada Prabu Satmata. Aku yakin Rsi Bungsu sekarang ini pasti sedang kebingungan.� �

Mudah-mudahan Allah memberi perlindungan kepada Raden Anggaraksa dan segera menyadarkan Pamanda Rsi Bungsu.� �

Tapi ada satu hal yang perlu engkau ketahui tentang Rsi Bungsu, o Puteraku,� ujar Sri Mangana. �

Apakah itu, o Ramanda Ratu?� �

Sesungguhnya, saat ini Rsi Bungsu belum lepas dari buruan orang-orang Pakuan Pajajaran. Sebab, dia telah dua kali mengulang kesalahan yang sama. Pertama, ketika dia merancang pembunuhan Ki Danusela dan membohongi Sri Prabu Guru Dewataprana Ratu Haji di Pakuan Pajajaran untuk menyerang Pakuwuan Caruban. Kedua, dia menyuruh Bergola Hideung, pemimpin kawanan begal, membakar Padepokan Giri Amparan Jati.� �

Ramanda Ratu,� tanya Abdul Jalil heran, �jika orang-orang Pakuan Pajajaran marah kepada Pamanda Rsi Bungsu akibat membohongi Sri Prabu Guru Dewataprana Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, itu masih bisa saya pahami. Tetapi, bagaimana mungkin mereka bisa marah terhadap tindakan Pamanda Rsi Bungsu yang menyuruh kawanan begal membakar Giri Amparan Jati? Bukankah orang-orang Pakuan Pajajaran tidak terkait dengan Padepokan Giri Amparan Jati?� �

Ketahuilah, o Puteraku, bahwa kesalahan terbesar Rsi Bungsu adalah dua kali membuat kekisruhan di wilayah Caruban Larang. Itulah kesalahan besar tak terampunkan. Sebab, tidak ada satu pun manusia yang berbuat kekacauan di tanah ini, bahkan kekuasaan maharaja sekalipun,� jelas Sri Mangana. �

Kenapa bisa demikian, o Ramanda Ratu?� �

Sepanjang ingatanmu, sejak engkau lahir hingga pergi berkelana, pernahkah engkau menyaksikan kekisruhan terjadi di bumi tumpah darahmu ini?� �

Belum pernah, kecuali saat Pamanda Rsi Bungsu merebut Pakuwuan Caruban.� �

Ketentraman terpelihara di sini karena tanah ini bernama Caruban Larang.� �

Saya belum paham, o Ramanda Ratu.� �

Ketahuilah, o Puteraku, sesungguhnya nama sebenar tanah tumpah darahmu ini adalah Carubana. Caru berarti persembahan. Bana berarti hutan. Jadi, Carubana bermakna hutan untuk persembahan. Maksudnya, hutan Carubana ini sesungguhnya adalah sebuah samiddha, yaitu hutan yang kayu-kayunya tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain kecuali untuk upacara-upacara persembahan kepada dewata dan arwah leluhur. Hutan samiddha disucikan dan terlarang bagi siapa pun yang tidak berhak memasukinya,� papar Sri Mangana. �

Apakah ketentuan itu sudah berlaku sejak lama?� �

Aku tidak tahu pasti sejak kapan tempat ini menjadi samiddha. Tetapi sejak zaman kuno, menurut cerita, tanah ini sudah menjadi batas antara Bumi Pasundan dan Bumi Jawa. Engkau tentu masih ingat batas sebelah timur dari Caruban Larang adalah Cipamali (Sungai Pamali), yakni sungai larangan. Dikatakan sungai larangan karena sejak zaman kuno sungai itu tidak boleh diakui sebagai milik raja-raja Sunda maupun raja-raja Jawa.� �

Cipamali adalah sungai pembatas, tanah larangan milik Sang Bhumi, Bhattari Pratiwi, leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa. Itu sebabnya, sejak zaman baheula, telah ada semacam kesepakatan antara raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa bahwa mereka yang ditunjuk sebagai pemelihara samiddha Carubana � tanah khusus milik Sang Bhumi � adalah para keturunan raja yang berdarah campuran. Engkau tentunya masih ingat kenapa ayahandamu, Ki Danusela, bisa menjadi Kuwu? Sebab, ayahandamu itu berdarah campuran Jawa-Sunda.� �

Ayahanda saya berdarah campuran Sunda-Jawa?� �

Ya, karena ayahanda beliau, Ki Danusetra, adalah putera Kaki Palupa dan Nyai Kundisari. Kaki Palupa orang Sunda, sedangkan Nyai Kundisari berasal dari Negeri Mataram. Ki Danusetra memiliki dua saudara lain ibu, yaitu Ki Kumbharawa dan Endang Sasmitapura. Namun, sejak kecil Ki Danusetra diasuh oleh saudara tua Nyai Kundisari yang bernama Rishi Suryya Wisesa, seorang pendeta Bhairawa (Pu Palyat) di Gunung Dieng di tanah Mataram. Ki Danusetra kemudian menikahi seorang perempuan asal Galuh Pakuan dan tinggal di Galuh Pakuan. Beliau mengabdi kepada Prabu Niskala Wastu Kencana, kakek buyutku. Ki Danusetra memiliki dua orang putera yaitu, Ki Danuwarsih dan Ki Danusela, yang tak lain adalah ayahandamu, Kuwu Caruban. Jadi, baik kakek maupun ibunda Ki Danuwarsih dan Ki Danusela adalah orang-orang Sunda.� �

Jika penguasa Caruban Larang harus berdarah campuran, bagaimana dengan Ramanda Ratu sendiri? Bukankah Ramanda Ratu tidak berdarah campuran?� tanya Abdul Jalil. �

Semula aku menganggap diriku adalah putera Sunda asli. Tetapi ayahandaku, Sri Prabu Guru Dewataprana Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, menyatakan bahwa ibunda kandungku, Nyi Subanglarang, sesungguhnya puteri berdarah campuran Sunda-Campa. Sebab istri Ki Gedeng Tapa, Nyi Ratna Karanjang, adalah seorang perempuan Campa asal Malaka. Lantaran aku dianggap sebagai putera raja yang berdarah campuran maka aku sah ditabalkan sebagai ratu yang berkuasa atas samiddha Caruban ini.� �

Nenek Ramanda Ratu orang Campa asal Malaka?� tanya Abdul Jalil. �Jangan-jangan beliau kenal dengan keluarga kakek saya.� �

Memang benarlah demikian,� kata Sri Mangana. �Syaikh Datuk Kahfi pernah bercerita tentang nenekku, Nyi Ratna Karanjang. Nenekku kenal baik dengan kakekmu karena mereka bertetangga. Bahkan, menurut Syaikh Datuk Kahfi, justru atas jasa nenekku itulah ayahanda kandungmu, Syaikh Datuk Sholeh, yang saat itu menjadi buruan penguasa Malaka bisa tinggal di Caruban Larang. Tidak hanya itu, para pengungsi Campa yang berserakan akibat perang saudara pada masa Raja Indrawarman III dapat tinggal menjadi penduduk di berbagai tempat di Bumi Pasundan adalah atas jasa baik nenekku.� �

Pernikahan kakek dengan nenekku sesungguhnya terjadi melalui jasa saudara tua kakekku, yaitu Nyi Rara Rudra. Beliau bersuamikan orang Campa, Haji Ma Huang, yang saat di Campa bertetangga dengan keluarga nenekku. Puteri Nyi Rara Rudra yang bernama Jata Mernam, tapi lazim dikenal dengan sebutan Aci Putih, dipersunting oleh ayahandaku, Prabu Siliwangi.� �

Ananda pernah mendengar cerita bahwa ibunda Ramanda Ratu pergi ke Malaka bersama Nyi Rara Rudra dan Haji Ma Huang. Berarti, ibunda Ramanda Ratu memang memiliki keluarga di Malaka.� �

Ya, memang demikian adanya,� ujar Sri Mangana. �Bahkan Syaikh Hasanuddin, pengasuh Padepokan Kuro di Karawang, sesungguhnya adalah saudara sepupu Nyi Ratna Karanjang, nenekku.� �

Jadi, cerita Ramanda Ratu dahulu yang menuturkan bahwa Nyi Subanglarang belajar agama Islam kepada Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Shiddiq berarti sesungguhnya dia tidak belajar kepada orang lain, tetapi kepada kerabatnya sendiri. Benarkah demikian?� �

Memang, jika ditelusuri seperti itu ceritanya. Tetapi, aku mengetahui hal itu justru setelah diberi tahu oleh ayahandaku dan aku sahihkan cerita itu kepada Syaikh Datuk Kahfi.�

Abdul Jalil termangu-mangu mendengar semua uraian Sri Mangana. Ia merasa betapa sesungguhnya dunia ini sangat sempit hingga ke mana ia berada seolah-olah dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Kesebatangkaraan yang pernah ia rasakan selama tahun-tahun pengembaraannya ternyata menjadi bukti bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang sebatangkara di dunia ini. Kesebatangkaraan, nyatanya, hanya ada akibat ketidaktahuan seseorang akan keberadaan jati dirinya sebagai bagian dari keturunan Adam a.s.. Hal itu juga terjadi akibat enggan bersilaturahmi, sempit wawasan, membanggakan warna tetesan darah, dan kekerdilan jiwa.

Caruban Larang, tanah samiddha, tanah khusus milik Sang Bhumi, ternyata adalah tanah yang memiliki sifat terbuka seperti sifat bumi yang membiarkan dirinya dihuni berbagai makhluk yang kasatmata maupun yang tidak kasatmata. Dengan kekhusussannya sebagai wilayah Sang Bhumi, Caruban Larang tidaklah menjadi tanah terbuka yang membiarkan berbagai ragam bangsa tinggal di situ; Sunda, Jawa, Cina, Campa, Melayu, Arab, India, Persia, dan Pegu berbaur menjadi satu. Sehingga, samiddha Caruban yang semula dimaksudkan sebagai tanah khusus milik Sang Bhumi berupa hutan larangan yang hasil kayunya hanya untuk sarana persembahan kepada dewa-dewa dan arwah leluhur, justru menjadi tanah yang terbuka untuk hunian segala bangsa. Dan lantaran itu, Caruban oleh penduduk setempat sering dimaknai sebagai Carub, yakni campuran berbagai macam bangsa.

Kenyataan terkait dengan keberadaan tanah samiddha Caruban yang tertutup tetapi sekaligus terbuka itu setidaknya telah menjadi salah satu sumber bagi lahirnya sejumlah pandangan, gagasan, wacana, dan wawasan Abdul Jalil dalam memaknai citra baru kehidupan manusia yang ingin diwujudkannya di tengah kebekuan dan kemandekan zaman. Bertolak dari samiddha Caruban, Abdul Jalil mengangankan lahirnya komunitas baru yang terbuka, tetapi sekaligus berpribagi kuat. Hanya masyarakat yang terbuka dan berkepribadian kuatlah yang akan dapat bertahan menghadapi perubahan sejarah yang sering kali sangat kejam dan keras.

Keberadaan tanah samiddha Caruban akhirnya menggugah kesadaran Abdul Jalil untuk menanyakan status tanah itu kepada Sri Mangana. �Seingat ananda, setelah peristiwa kekisruhan di Pakuwuan Caruban sepeninggal Ayahanda Ki Danusela, Pamanda Raden Kusen telah menyatakan bahwa Pakuwuan Caruban tidak lagi berada di bawah kekuasaan Maharaja Sunda, tetapi di bawah Demak. Apakah hal itu tidak menyalahi ketentuan Caruban sebagai samiddha? Apakah hal itu tidak menimbulkan masalah dengan orang-orang Sunda?� �

Tentu saja keputusan sepihak Raden Kusen itu menimbulkan kemarahan semua orang Sunda dan hampir saja terjadi perang besar. Bahkan lantaran itu, aku pun akhirnya membuka penyamaranku yang sudah kulakukan bertahun-tahun. Selam ini pihak Kerajaan Sunda hanya mengenalku sebagai Ki Samadullah, Kuwu yang menggantikan Ki Danusela atas perkenan Raden Kusen, adik Adipati Demak. Saat suasana meruncing aku pun akhirnya mengaku jika sesungguhnya pengganti Ki Danusela bukanlah orang lain, melainkan Pangeran Walangsungsang, putera Raden Pamanah Rasa, cucu Prabu Dewa Niskala. Itu berarti, Kuwu Caruban yang baru adalah putera Maharaja Sunda karena Raden Pamanah Rasa setelah dilantik menjadi Maharaja Sunda berganti nama menjadi Abhiseka Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.� �

Setelah utusan dari Pakuan Pajajaran yakin bahwa aku memang cucu Prabu Dewa Niskala, yang berarti pula putera Prabu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran, maka bergembiralah ayahandaku karena puteranya yang hilang telah ditemukan kembali. Lalu diputuskanlah oleh ayahandaku untuk menyelesaikan perkara samiddha melalui jalan damai perundingan. Demikianlah, setelah melalui beberapa kali pertemuan akhirnya kedua belah pihak yang berselisih mencapai kesepakatan, yaitu menunjuk Ario Abdullah Yang Dipertuan Palembang sebagai penengah. Namun, saat utusan dari Pakuan Pajajaran sampai ke Palembang, Yang Mulia Ario Abdillah ternyata sudah meninggal dan kedudukannya digantikan oleh Pangeran Surodirejo, putera Raden Kusen yang masih belum dewasa yang bergelar Adipati Widarakandang. Pangeran Surodirejo yang masih didampingi beberapa orang walinya itu akhirnya menunjuk Tuan Milinadi untuk mewakili Palembang dalam menengahi masalah perebutan samiddha Caruban.� �

Tuan Milinadi adalah saudagar Palembang yang memiliki hubungan dekat baik dengan Maharaja Sunda maupun dengan Adipati Demak. Di samping itu, Tuan Milinadi yang sudah sangat tua itu dikenal dekat dengan Yang Mulia Ario Abdillah dan mengetahui seluk-beluk keluarga serta kerabat Yang Dipertuan Palembang itu. Akhirnya, dengan penengah Tuan Milinadi, diambil kata sepakat oleh kedua pihak untuk mengembalikan Caruban Larang sebagai samiddha milik Sang Bhumi.� �

Maksudnya, baik pihak Demak maupun pihak Sunda tidak berhak mengakui Caruban Larang sebagai wilayahnya. Caruban Larang dianggap sebagai tanah khusus milik leluhur. Di dalam kesepakatan itu kedua belah pihak juga setuju untuk mengangkat aku sebagai penguasa samiddha Caruban, menggantikan Ki Danusela. Bahkan, sebagai pemangku Khabumian aku diberi jabatan yang lebih tinggi, yaitu dari jabatan pangraksabhumi (Penjaga Kabhumian) menjadi chakrabhumi (Penguasa Kabhumian).� �

Sesungguhnya, di balik pengangkatanku sebagai chakrabhumi terdapat kesepakatan antara pihak Demak dan Kerajaan Sunda unguk menampik kekuasaan Maharaja Majapahit Bhre Kretabhumi atas samiddha Caruban. Itu berarti, pengakuan Bhre Kretabhumi atas seluruh wilayah samiddha Caruban tidak lagi diakui. Dan, itu juga berarti dengan pengangkatanku sebagai chakrabhumi, baik pihak Kadipaten Demak maupun Kerajaan Sunda merasa diuntungkan. Sebab, aku adalah putera Maharaja Sunda sekaligus mewakili orang-orang di Bumi Pasundan.� �

Bagaimana mungkin kedua belah pihak bisa sepakat menunjuk Yang Mulia Ario Abdillah sebagai penengah? Bukankah itu sesungguhnya akan merugikan pihak Sunda karena Yang Mulia Ario Damar sangat mungkin memihak puteranya, yaitu Yang Dipertuan Demak?� Abdul Jalil minta penegasan. �

Aku sendiri semula tidak paham tentang hal itu,� sahut Sri Mangana, �tetapi akhirnya ayahandaku menjelaskan bahwa Yang Mulia Ario Abdillah sesungguhnya seorang putera raja berdarah Majapahit-Sunda.� �

Yang Mulia Ario Abdillah berdarah campuran Majapahit-Sunda?� Abdul Jalil heran. �

Ya. Sebab, kakek beliau yang bernama Kaki Palupa adalah kepala prajurit pembawa gada (rakryan atandha ing palu-palu) Kerajaan Sunda. Kaki Palupa termasuk salah satu pengikut setia kakek buyutku, Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat, yang berhasil lolos dari malapetaka di Bubat. Beliau bisa lolos dari maut karena memiliki ilmu sakti seratus ribu hulubalang. Kaki Palupa kemudian menjadi pendeta Bhairawa (Pu Palyat) di hutan Wanasalam yang terletak di sebelah selatan ibu kota Majapahit.� �

Menurut cerita, Kaki Palupa menikah dengan Nini Palupuy, puteri perwira Sunda (rakryan bhatamantri) Soang Sasaka, yang gugur dalam peristiwa Bubat. Dari pernikahan itu lahirlah dua orang anak, yaitu seorang putera dan puteri. Yang pertama bernama Ki Wanasalam, patih di Kadipaten Demak. Yang kedua, Nyi Endang Sasmitapura, yang dinikahi Prabu Kertawijaya dan kemudian melahirkan Yang Mulia Ario Abdillah.� �

Kaki Palupa kemudian menikah lagi dengan Nyai Kundisari, adik seorang pendeta Bhairawa bernama Rishi Suryya Wisesa, yang bertapa di Gunung Dieng. Hasil pernikahan Kaki Palupa dan Nyai Kundisari melahirkan Ki Danusetra yang diasuh oleh uwaknya di Gunung Dieng. Nah, dengan mengetahui adanya ikatan darah Majapahit-Sunda di dalam tubuh keturunan Kaki Palupa maka tidak salah jika pihak Sunda kemudian memilih Yang Mulia Ario Abdillah sebagai penengah dalam masalah perebutan samiddha Caruban Larang. Dan, Tuan Milinadi, sahabat Yang Mulia Ario Abdillah, mengetahui juga hal ikatan darah tersebut, termasuk keberadaan samiddha Caruban Larang sebagai wilayah khusus milik Sang Bhumi.� �

Saya paham sekarang, Ramanda Ratu,� Abdul Jalil manggut-manggut. �Sekarang saya bisa memahami kenapa orang-orang Pakuan Pajajaran sangat marah kepada Pamanda Rsi Bungsu yang merusak Padepokan Giri Amparan Jati. Kemarahan mereka pastilah bukan karena Pamanda Rsi Bungsu mendalangi pembakaran padepokan, melainkan karena padepokan yang dirusak itu berada di samiddha Caruban yang mereka sucikan.� �

Benarlah apa yang engkau katakan itu, o Puteraku. Karena itu, aku berharap engkau mengikuti jejak Guru Agung Syaik Datuk Kahfi. Maksudku, meski niat utama beliau membangun padepokan di tanah larangan ini adalah semata-mata untuk mengembangkan dakwa Islam, beliau tetap menghormati kepercayaan orang-orang setempat. Beliau memahami bahwa sesungguhnya Padepokan Giri Amparan Jati yang terletak di samiddha Caruban tidak hanya dianggap sebagai milik orang-orang muslim, tetapi juga dianggap sebagai milik semua orang Sunda dan Jawa, tidak peduli apakah dia Muslim, Hindu atau Budha,� ujar Sri Mangana.

Ibarat panglima perang yang wajib mengetahui keadaan medan tempur sebelum peperangan dimulai, dengan didampingi Sri Mangana, Abdul Jalil berkeliling ke seluruh sudut Kutha Caruban untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Sebelum mengetahui dan memahami kehidupan manusia yang tinggal di permukaan bumi Caruban Larang, ia ingin mengetahui secara lebih mendalam tentang nama-nama tempat di daerah itu.

Abdul Jalil sadar betapa di balik nama-nama tempat yang ada di permukaan bumi, sesungguhnya tersembunyi makna sejarah yang dalam dari kehidupan manusia masa silam yang terkait dengan kehidupan masa kini dan mendatang. Ia sadar bahwa kehidupan manusia pada hakikatnya adalah rangkaian sejarah yang sambung-menyambung ibarat untaian perhiasan kalung mutiara. Lantaran itu, ia tidak ingin menuangkan gagasan dan impiannya membangun sejarah kehidupan baru dengan membinasakan seluruh sisa kehidupan lama yang bisa dimanfaatkan sebagai akar penguat.

Kutha Caruban yang disaksikan Abdul Jalil dalam perjalanan kelilingnya memang sudah jauh berbeda dengan saat ia tinggalkan belasan tahun silam. Dermaga pelabuhan yang terletak di Muara Jati telah dibangun lebih besar dan lebih kukuh. Dermaga baru itu tiap hari ramai disandari kapal-kapal besar. Setiap hari terlihat iring-iringan gerobak, kuda, pedati, dan kuli angkut bergerak hilir-mudik dari pelabuhan ke arah Kutha Caruban.

Bangsal Pakuwuan yang kecil sudah berubah menjadi Bangsal Kaprabon yang dibangun dari kayu jati berukir dengan atap bertingkat tiga. Jika dilihat dari jalan atau pantai, Bangsal Kaprabon tampak sangat kokoh dan megah seolah-olah tidak kalah dengan Bangsal Manguntur milik Maharaja Sunda di Kutharaja Pakuan Pajajaran. Di depan Bangsal Kaprabon terhampar alun-alun yang luas. Di antara alun-alun dan Bangsal Kaprabon terdapat Siti Hinggil (Lemah Wungkuk). Di sebelah utara alun-alun berdiri Tajug Agung (masjid agung) Caruban. Di sebelah barat alun-alun terdapat pasar. Di sebelah timur alun-alun berdiri bangunan Kadhyaksan, tempat para pejabat kehakiman (adhiyaksa) bekerja.

Di bagian belakang Bangsal Kaprabon, yang dibatasi dinding tinggi, adalah wilayah puri kediaman pribadi raja. Di dalamnya terdapat Bale Rangkang, Parapuri, Purasabha, Kaputrian, dan Kebon Raja. Agak jauh ke arah selatan tetapi masih di dalam dinding baluwarti (benteng) terdapat kawasan hunian pejabat khusus pembantu raja, yakni para pakring (mangilala drwya haji). Kawasan hunian pejabat pangkring itu disebut Pakringan.

Di sebelah barat Pakringan, masih di dalam dinding baluwarti, terdapat sebuah wilayah suci yang disebut Pakalangan, yakni tempat batu suci (sang hyang susuk) kerajaan ditempatkan di sebuah lingkaran keramat. Lingkaran itu dianggap keramat dan suci karena untuk upacara pancamakara atau yang lazim disebut Ma-lima, yakni upacara Bhairawa-Tantra. Para pejabat pakring memiliki tugas utama menjaga dan memelihara kawasan Pakalangan yang keramat tersebut.

Kebon Raja adalah tamansari yang luas dan indah, di dalamnya terdapat taman air yang sangat indah ditumbuhi bunga teratai. Di Kebon Raja itulah para puteri dan keluarga raja yang lain bercengkrama dan bersukacita. Tak jauh di sebelah timur Bangsal Kaprabon, di luar dinding baluwarti terdapat Pagajahan, yakni tempat orang menambatkan gajah milik raja. Di selatan Pagajahan terdapat sebuah bangunan besar dengan menara pengawas yang disebut Jagasatru, yakni satuan penjaga yang bertugas menangkis kekuatan pihak musuh (apinggel kana langsaran kalih kalawan jagasatru). Tugas utama satuan Jagasatru ini selain menjaga Lawang Gede (gapura agung) juga memeriksa orang-orang yang akan menghadap raja.

Di luar dinding baluwarti, di selatan Pagajahan terdapat deretan bangunan bale-bale tempat menginap para utusan dari wilayah taklukan (sekawat bhumi) yang disebut Pakawatan. Setiap tahun sekali para utusan dari daerah taklukan (kawat) itu menghadap raja dengan membawa upeti (bulu bekti). Baik para kawat maupun mereka yang ingin menghadap raja hendaknya memiliki hati yang bersih. Itu sebabnya, mereka biasanya menginap dulu di beberapa bale-bale yang disebut suci manah (suci hati dan pikiran).

Bagian kutha yang paling ramai adalah kawasan jalan yang membentang antara Katandhan hingga Pasukatan. Sebab, di Katandhan terletak kantor panca tandha (pejabat-pejabat pengawas pabean) dan di Pasukatan terletak kantor juru sukat (pengawas ukuran timbangan dan penarik retribusi). Setiap hari, dari pagi hingga sore, berbagai jenis angkutan mulai gerobak sampai pedati melintasi kawasan ini. Di Katandhan inilah para saudagar membayar pungutan pajak dan cukai atas barang-barang yang diangkut dari Kutha Caruban maupun yang diturunkan ke Kutha Caruban.

Semua barang yang diturunkan maupun diangkut dari Kutha Caruban akan diawasi ukuran penimbangannya dan kemudian dipungut biaya retribusi sesuai berat dan banyaknya. Berbagai jenis barang dagangan dari Caruban yang sangat laris dibeli orang adalah alat-alat dari tembaga yang dibuat di Pasayangan (Jawa Kuno: tempat pande tembaga). Selain itu, barang dagangan yang juga laris dibeli orang dari Caruban adalah peralatan gerabah, seperti periuk, belanga, tempayan, gentong, dan guci yang dibuat di Pandyunan (Jawa Kuno: tempat pembuat dyun, gerabah).

Di antara sejumlah tempat yang dikunjungi Abdul Jalil dan Sri Mangana di Kutha Caruban, yang paling mengesankan adalah tempat yang disebut Kabumen (Kabhumian), kediaman Sang Bhumi, yang ditandai oleh tanah lapang dengan sebuah gundukan tanah di tengah dan tumpukan batu-batu persegi ukuran besar dan sebuah yoni kuno terletak di atasnya. Sri Mangana menjelaskan bahwa di situlah sesungguhnya pusat samiddha Caruban karena yang disebut Kabhumian adalah Kerajaan Leluhur (Medang Kamulan) raja-raja Sunda.

Menurut Sri Mangana, sejak zaman lampau para penguasa samiddha Caruban selalu menduduki jabatan rangkap. Pertama, jabatan penguasa wilayah samiddha Caruban yang menyandang gelar ratu, bhre, prabu anom, sri, adipati, kuwu. Kedua, jabatan pemangku Kabhumian yang mempunyai tugas khusus memelihara kediaman dhatu leluhur (Sang hyang Dharma Kamulan), yaitu Sang Bhumi beserta upacara-upacara pemujaannya. Jabatan pemangku itu disebut mangkubhumi, pangraksabhumi, chakrabhumi.

Pada saat Prabu Niskala Wastu Kancana berkuasa, ungkap Sri Mangana, yang ditunjuk sebagai penguasa samiddha Caruban adalah cucunya, Dyah Surawijaya Bhre Singhapura, yaitu keturunan yang diperoleh dari hasil pernikahan puterinya, Tohaan di Galuh, dengan Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit. Sedangkan yang ditunjuk sebagai mangkubhumi, pemangku Kabhumian, adalah Ratu Kasmaya, putera Prabu Garbha Menak, cucu Prabu Niskala Wastu Kancana. Ratu Kasmaya menikah dengan sepupunya, kakak Dyah Surawijaya yang bernama Dyah Suragharini Bhre Singhapura.

Pengangkatan Dyah Surawijaya sebagai penguasa samiddha Caruban sesungguhnya bertentangan dengan adat kebiasaan yang berlaku di Caruban Larang, yaitu kepewarisan berdasarkan garis ibu. Seharusnya yang menjadi penguasa samiddha adalah Dyah Suragharini. Itu sebabnya, Dyah Surawijaya tidak lama memerintah. Dia meninggal tanpa keturunan. Kemudian mangkubhumi Singhapura, Ratu Kasmaya, naik jabatan menjadi penguasa samiddha Caruban. Putera Ratu Kasmaya yang bernama Ki Gedeng Tapa menggantikan kedudukannya, yaitu menjadi mangkubhumi Singhapura.

Ketika Ratu Kasmaya uzur, jabatan penguasa samiddha diserahkan kepada Ki Gedeng Tapa menjadi penguasa samiddha, jabatan mangkubhumi diberikan kepada Ki Danusela, adik Ki Danuwarsih, putera Ki Danusetra. Jabatan itu jatuh ke tangan Ki Danusela karena pernikahannya dengan Ratu Arumsari, puteri Dyah Suragharini, yakni adik lain ibu Ki Gedeng Tapa.

Ki Gedeng Tapa sendiri menjabat kedudukan Raja Singhapura hanya beberapa tahun, menunggu Ratu Arumsari dewasa. Setelah Ratu Arumsari dewasa dan menikah dengan Ki Danusela maka jabatan itu diserahkan kepada suaminya. Demikianlah, Ki Danusela kemudian menduduki jabatan rangkap, yakni sebagai penguasa samiddha, jabatan kuwu (jabatan di bawah akuwu), sekaligus jabatan pemangku Kabhumian.

Turunnya jabatan Ki Danusela dari bhre (raja) menjadi kuwu disebabkan oleh kenyaaan bahwa ia sesungguhnya hanya putera menantu dari keturunan Majapahit dan tidak termasuk keluarga raja. Itu sebabnya, Ki Danusela akhirnya hanya bergelar Kuwu sekaligus pangraksabhumi. Tetapi, belakangan jabatan pangraksabhumi diserahkan kepada Raden Walangsungsang, cucu Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Danusela meninggal, Raden Walangsungsang merangkap kedua jabatan itu lagi, yakni sebagai Kuwu samiddha Caruban sekaligus pemangku Kabhumian, tempat suci kediaman Sang Bhumi. Bahkan, saat jabatannya dinaikkan dari kuwu menjadi raja muda (prabu anom), jabatan pangraksabhumi pun dinaikkan menjadi chakrabhumi.

Sesungguhnya, yang disebut Sang Bhumi, pemilik wilayah suci Kabhumian, adalah leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa. Itu sebabnya, sejak zaman purba wilayah samiddha ini disebut dengan berbagai nama seperti Kretabhumi (ditegakkan di bawah lindungan Sang Bhumi), Carubana (hutan untuk persembahan), Ceribon (Sunda Kuno: cereibu-an: wilayah warisan ibu), atau Puser Bhumi (pusat wilayah Sang Bhumi). Semua sebutan itu menunjuk makna bahwa wilayah ini bukanlah milik manusia. Adapun leluhur yang didharmakan di Kabhumian adalah seorang ratu puteri bernama Ratu Purbasari yang masyhur dengan nama Ratu Stri Bhattari Prthiwi.

Ratu Stri Bhattari Prthiwi adalah leluhur raja-raja Sunda. Ia puteri bungsu Prabu Dharmasatyadewa (Prabu Siung Wanara) Maharaja Pasir Batang (Kerajaan Galuh Negara Tengah) yang beribu kota di Bojong. Ibunda Ratu Stri Bhattari Prthiwi adalah permaisuri sang maharaja, yaitu Ratu Niti-Iswari. Meskipun ia merupakan puteri bungsu dari tujuh bersaudara, karena kecerdasan, kebijaksanaan, kesetiaan, dan kepeduliannya terhadap para kawula sangat tinggi maka ia ditunjuk ayahandanya untuk menggantikan kedudukan sebagai raja.

Ketika Prabu Dharmasatyadewa mangkat, takhta Kerajaan Pasir Batang justru diduduki oleh kakaknya tertua, Ratu Purba Larang. Dengan naik takhtanya Ratu Purba Larang maka terjadilah perselisihan dengan Ratu Purbasari yang berusaha merebut kembali takhta Pasir Batang yang menjadi haknya. Dalam perjuangan melawan saudari tuanya itu, Ratu Purbasari didukung oleh suaminya Sri Maharaja Jayabhupati Wisynumurti Samarawijaya Harogawarddhana Wikramotunggadewa Maharaja Sunda. Sebagai permaisuri Maharaja Sunda, Ratu Purbasari dianugerahi gelar Ratu Stri Bhattari Prthiwi.

Sri Maharaja Jayabhupati sendiri sesungguhnya masih kerabat Ratu Stri Bhattari Prthiwi, yaitu keturunan Wangsa Sanjaya dari galur Rahyang Tamperan. Menurut silsilah, baik Ratu Stri Bhattari Prthiwi maupun Sri Maharaja Jayabhupati adalah keturunan kedua belas Rahyang Tamperan dari galur Maharaja Mataram Raka i Watukara Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu.

Leluhur keduanya terpisah pada leluhur yang bernama Raka i Layang Dyah Tulodong Sri Sajjanasatmata Nuragatunggadewa yang memiliki dua orang adik lain ibu, yaitu Raka i Hino Pu Kethudara dan Raka i Sirikan Pu Samarawikranta. Baik Dyah Tulodong maupun Pu Kethudara dan Pu Samarawikranta adalah cucu Maharaja Mataram Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu karena mereka bertiga adalah putera Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksayaksaya.

Ketika Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksayaksaya mangkat, yang menggantikan takhtanya adalah Raka i Layang Dyah Tulodong dengan gelar Sri Sajjanasatmata Nuragatunggadewa. Adiknya, Pu Kethudara, diangkat menjadi mahapatih. Sedangkan adiknya yang lain, Pu Samarawikranta, diangkat menjadi raja muda di Galuh Lalean yang beribu kota di Adi Mulya dengan gelar Prabu Hari Murti. Demikianlah, Dyah Tulodong merupakan leluhur Sri Maharaja Jayabhupati. Sementara itu, Prabu Hari Murti adalah leluhur Ratu Purbasari.

Ketika terjadi kemelut dalam pemerintahan Dyah Wawa Sri Wijayaloka, pengganti Tulodong, kekuasaan terpecah menjadi dua. Pertama, menantu Dyah Wawa yang bernama Raka i Hino Pu Sindok Sri Isanatunggawijaya membangun kekuasaan di wilayah timur dengan kedaton di Watu Galuh. Kedua, Prabu Arya Galuh putera Prabu Hari Murti tetap berkuasa di Adi Mulya.

Ketika cucu Prabu Arya Galuh yang bernama Prabu Dharmasatyadewa naik takhta, Kerajaan Galuh Lalean bergeser ke arah barat. Nama Galuh Lalean diganti menjadi Pasir Batang (Galuh Nagara Tengah) dan ibu kotanya dipindahkan dari Adi Mulya ke Bojong.

Sementara itu, di antara keturunan Pu Sindok lahirlah Sri Jayabhupati, putera Sri Makutawangsawarddhana. Sri Jayabhupati membangun kekuasaan di Bumi Pasundan segera setelah kekuasaan saudaranya, Sri Dharmawangsa Tguh, di Wwotan Mas dihancurkan oleh Aji Wurawari dari Lwwaram. Ibu Sri Jayabhupati adalah puteri Sunda yang dikenal dengan nama Sri Kahulunan, cucu Raka i Sirikan Pu Samarawikranta, penguasa Palutungan.

Menurut cerita, Palutungan adalah milik Ratu Pastika, puteri Pu Catura dan saudari Pu Munggu, yang dijadikan permaisuri oleh Maharaja Mataram Raka i Kayuwangi Sri Sajjanotsawatungga. Dengan demikian, ibunda Sri Jayabhupati merupakan keturunan kelima Ratu Pastika. Karena merasa sebagai keturunan Ratu Pastika Kahulunan dan putera Sri Kahulunan maka ia merasa berhak atas Palutungan sehingga ia kemudian membangun kekuasaan di situ.

Sri Jayabhupati dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana serta sangat memperhatikan kehidupan kawulanya. Anehnya, diam-diam orang menjulukinya dengan sebutan bernada merendahkan, yaitu Prabu Lutung Kasarung (Sunda: penguasa Sungai Cilutung yang sesat jalan). Sri Jayabhupati disebut raja sesat jalan karena dia telah murtad dari agama yang dianut ayahanda dan ibunda serta leluhurnya. Seluruh kawula Kerajaan Palutungan dan semua leluhur Sri Maharaja Jayabhupati adalah pemuja Wisynu, sementara Sri Jayabhupati justru menjadi pemuja Syiwa Mahaguru. Dan lantaran itu, selain disebut dengan nama Prabu Lutung Kasarung, ia juga disebut Guru Minda yang bermakna �yang berpindah (memuja) Sang Syiwa Mahaguru.�

Sri Jayabhupati sangat berhasrat memperluas wilayah kekuasaannya. Itu sebabnya, ia kemudian memindahkan kedatonnya dari kaki Gunung Chakrabhuwana di hulu Sungai Cilutung ke arah wilayah dekat muara. Ia kemudian membangun angkatan perang yang kuat dan menggunakan nama Abhiseka Wisynumurti Samarawijaya (Dewa Wisynu penguasa muara yang penuh kemenangan) dan menamai kerajaannya yang baru dengan Singhapura (kerajaan Sang Narasingha, jelmaan Wisynu). Anehnya, meski ia menggunakan lambang-lambang Waisnawa, prasasti-prasasti yang dikeluarkannya selalu memuji-muji Agastya, Sang Kumbhayoni, yaitu Syiwa Mahaguru.

Sri Maharaja Jayabhupati berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke barat, ke bekas Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Aruteun. Bahkan, Kerajaan Pasir Batang pun berhasil dijadikan sebagai wilayah taklukan (sakawat bhumi). Dengan keberhasilan menaklukkan Pasir Batang atau Galuh Nagara Tengah maka kerajaannya kemudian dinamakan Galuh Singhapura dan Sri Jayabhupati kemudian menggunakan gelar Maharaja.

Pasangan Sri Maharaja Jayabhupati dan permaisuri Ratu Stri Bhattari Prthiwi berkuasa sangat lama. Mereka dikenal sebagai pasangan maharaja dan maharani yang adil, bijaksana, dan dicintai seluruh kawulanya. Dari perkawinan mereka lahirlah empat putera, yaitu Sang Lingga Hyang, Dewi Purnawati, Dewi Surabhi, dan Sang Surendra. Sementara itu, Sri Maharaja Jayabhupati memiliki dua orang selir, yaitu Ratu Wulansari dan Ratu Sudhiwati. Ratu Wulansari adalah puteri Sri Prabu Dharmawangsa Tguh, Maharaja Kahuripan. Dari Ratu Wulansari lahirlah empat orang putera, yaitu Sang Dharmaraja, Sang Suryyanagara, Dewi Nirmala, dan Dewi Sughara. Sedangkan dari Ratu Sudhiwati lahir dua putera, yaitu Sang Wirakusuma dan Sang Wikramajaya.

Karena Ratu Stri Bhattari Prthiwi adalah permaisuri dan sekaligus puteri mahkota Maharaja Pasir Batang maka yang ditetapkan sebagai putera mahkota Galuh Singhapura adalah Sang Lingga Hyang, putera sulungnya. Namun saat Ratu Stri Bhattari Prthiwi dan Sri Maharaja Jayabhupati mangkat, terjadi perebutan kekuasaan. Sang Dharmaraja, putera Sri Maharaja Jayabhupati dari Dewi Wulansari menuntut bagian haknya atas takhta Galuh Singhapura.

Khawatir bakal pecah perselisihan yang menumpahkan darah maka atas kesepakatan para sesepuh kerajaan dibagilah kerajaan menjadi dua yaitu, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Singhapura. Disepakati pula bahwa pembatas kedua wilayah kerajaan adalah gunung tempat Sri Jayabhupati didharmakan. Kerajaan yang wilayahnya terletak di sebelah utara gunung disebut Singhapura yang beribu kota di Purwawinangun dengan raja Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya. Sedangkan kerajaan yang wilayahnya berada di sebelah selatan gunung disebut Galuh dan beribu kota di Dharmaraja dengan raja Sri Prabu Dharmaraja. Agar batas-batas wilayah kedua kerajaan mudah diingat oleh masing-masing pihak maka wilayah Kerajaan Singhapura disebut dengan nama Bumi Ceribon (bahasa Sunda Kuno: cere-ibu-an: wilayah warisan ibu) yang bermakna wilayah kerajaan warisan sang ibu yang membentang dari wilayah Singhapura hingga Pasir Batang (Galuh Negara Tengah). Sementara itu, gunung pembatas wilayah Bumi Ceribon disebut Gunung Ceremai (bahasa Sunda Kuno: cere-ama-i: wilayah warisan bapak) yang bermakna gunung pembatas wilayah kerajaan warisan sang bapak yang membentang di seluruh daerah pedalaman.

Sang Lingga Hyang yang naik takhta Singhapura dengan nama Abhiseka Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya itu beroleh warisan dari ibundanya. Sejak itu dibuatlah peraturan bahwa pewaris yang berhak atas Kerajaan Singhapura adalah keturunan Ratu Stri Bhattari Prthiwi dengan Sri Maharaja Jayabhupati Wisynumurti Samarawijaya.

Untuk menandai keabsahan kekuasaannya sebagai Raja Singhapura maka Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya menjadikan pendharmaan Bhattari Prthiwi sebagai Kerajaan Leluhur (Medang Kamulan), yakni tempat kerajaan suci arwah Sang (ibu) Prthiwi. Bertolak dari nama Sang (ibu) Prthiwi itulah kemudian lahir sebutan Sang Bhumi (Sansekerta: Prthiwi: bumi, dunia, tanah). Tempat pendharmaan itu kemudian disebut dengan nama Kabhumian (wilayah khusus milik Sang Bhumi).

Di sebelah selatan Kerajaan Leluhur Kabhumian Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya membangun tempat khusus untuk kediaman para kubja (Sansekerta: orang bungkuk), yang menurut peraturan di kerajaan-kerajaan lama bertugas menjadi pengiring puteri. Tak jauh dari kediaman para kubja terdapat gundukan bukit kecil yang dijadikan Ksiti Inggil (tanah atau bumi mulia) yang disebut Lemah Wungkuk, yakni tempat Watu Gilang untuk menobatkan raja-raja keturunan Ratu Stri Bhattari Prthiwi. Orang-orang percaya bahwa pada saat penobatan raja, Sang Bhumi akan datang memberkati sang raja dengan diiringi para kubja. Bahkan, saat Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya melakukan ziarah (siddhayatra) ke Kabhumian selalu disambut dan diiringi oleh para kubja yang diyakini mengiring arwah ibundanya, Bhattari Prthiwi Sang (ibu) Bhumi.

Sementara itu, tempat pendharmaan Sri Maharaja Jayabhupati di lereng Gunung Ceremai dijadikan Kerajaan Leluhur oleh Raja Galuh Sri Prabu Dharmaraja. Ia dipuja sebagai Syiwa Mahaguru Sang Girinatha. Pendharmaan Sri Maharaja Jayabhupati yang disucikan dan dijadikan Kerajaan Leluhur itu disebut Linggasasana.

Menurut catatan sejarah, sesungguhnya pembagian kerajaan berdasarkan pewarisan garis keturunan ibu dan bapak yang terjadi di antara kerutunan Ratu Stri Bhattari Prthiwi dengan Sri Maharaja Jayabhupati itu bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada masa akhir pemerintahan Prabu Stri Bhattari Parwati, terjadi juga perselisihan perebutan takhta berdasarkan hak kepewarisan garis bapak dan ibu. Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi, yang saat muda bernama Ratu Juwa, adalah puteri Kartikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha dengan Sri Maharani Simha, Maharaja Kalingga.

Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi adalah Raja Madang Mataram yang beribu kota di Pragawatipura, yakni di sekitar tempuran Sungai Praga dan Sungai Helo. Menurut cerita, Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prtiwi menikah dengan Prabu Purbasora, sepupunya, dan memiliki dua keturunan, yaitu Sang Sannaha dan Rakryan Narayana.

Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi yang diam-diam tertarik dengan ajaran Shakta Bhairawa sering berhubungan dengan Raja Galuh, Prabu Kalakutha Sang Racun Agung (Sang Mandi Minyak), yang menjadi penganut Bhairawa-Tantra. Dari pelbagai upacara pancamakara, Ma-lima, akhirnya mengakibatkan lahirnya anak Sang Mandi Minyak, yaitu Sang Sanna.

Semula Sang Mandi Minyak enggan mengakui Sanna sebagai anak. Itu sebabnya, Sang Sanna dibuang dan dibesarkan di �tegal ksetra�. Akhirnya, Sang Mandi Minyak mengakui Sang Sanna sebagai anak setelah melihat tanda-tanda menakjubkan dari anak tersebut. Setelah Sang Sanna dewasa, ia dinikahkan dengan saudarinya, Sang Sannaha. Lantaran riwayat Sang Sanna sejak lahir hingga menikah dianggap keliru maka ia kerap disebut orang dengan nama lain �Salah�.

Ketika Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi mangkat, dia didharmakan di daerah barat ibu kota Pragawatipura, tepatnya di tepi timur Sungai Wluku-loh (Jawa Kuno: sungai bajak, subur). Pendharmaan itu disucikan sebagai Kerajaan Leluhur oleh para keturunannya. Bertolak dari nama Parwati Tunggal Prthiwi itulah pendharmaan itu kemudian disebut Kabhumian (Sansekerta: Prthiwi: bumi, dunia, tanah) yang bermakna wilayah khusus Sang Bhumi.

Kabhumian tempat Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi didharmakan itulah yang menjadi pusat wilayah suci Kerajaan Mataram (Sansekerta:Mataram: ibu negeri, tanah air) yang mendatangkan kemakmuran. Daerah di sekitar Kabhumian disebut Patanahan (kediaman sang tanah, bumi). Kawasan berlimpah kesuburan yang membentang antara Sungai Wluku-loh dan Sungai Praga yang sering dijadikan medan perang perebutan takhta di antara keturunan Sang Bhumi kemudian disebut dengan nama Bagelen (Sansekerta: Bhaga-halina: warisan ibu yang subur).

Seiring mangkatnya Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi, terjadilah perebutan takhta. Rakryan Narayana yang telah diberi bagian wilayah utara ingin menguasai seluruh wilayah kekuasaan ibundanya. Dengan dukungan bala tentara dari Sriwijaya, Rakryan Narayana berhasil merebut takhta Mataram. Ibu kota Pragawatipura diduduki dan ia dinobatkan sebagai Maharaja Mataram dengan gelar Syailendra.

Sang Sannaha dan Sanna berhasil lolos dari ibu kota Pragawatipura. Mereka menyingkir ke arah utara ke kawasan antara Gunung Chandramukha (Merbabu) dan Gunung Chandrageni (Merapi). Atas jasa Maharishi Bhannu Mas, Sang Sannaha yang sedang hamil tua diungsikan ke timur, ke kediaman Maharishi Bhannu Wangi, saudara kembar Maharishi Bhannu Mas. Di sana, di tanah timur itu, lahirlah putera Sang Sannaha yang diberi nama Rake Jambri.

Akhirnya, Sang Sanna dengan sisa-sisa prajuritnya memimpin serangan menghadapi kekuatan Syailendra yang didukung oleh Sriwijaya. Sang Sanna berhasil menghalau pasukan Sriwijaya dari Pragawatipura dan memburunya hingga ke pangkalan induknya di Pamiridan. Di Pamiridan pasukan Sriwijaya yang bergabung dengan induknya bertempur sengit melawan pasukan Mataram yang dipimpin Sang Sanna. Dalam sebuah pertempuran yang sengit, pasukan Mataram berhasil mematahkan kekuatan pasukan Sriwijaya yang mundur ke arah barat. Orang-orang bilang, konon, tempat pasukan Mataram berhasil memukul mundur pasukan Sriwijaya itu diabadikan dengan nama Balapulang (Jawa Kuno: bala tentara kembali).

Setelah berhasil mematahkan kekuatan Syailendra, saudara dan sekaligus iparnya, Sang Sanna menegakkan lagi kekuasaan Mataram warisan ibundanya. Namun, ia meninggalkan kedaton lama dan membangun kedaton baru di sebelah timur ibu kota lama. Sang Sanna memberi banyak anugerah kepada mereka yang berjasa membantunya. Putera Maharishi Bhannu Mas ia angkat sebagai raja muda. Kepada mereka yang setia ia bagi-bagikan tanah simha (perdikan). Sanna termasyhur sebagai maharaja agung dan bijaksana yang disegani kawan maupun lawan. Bahkan saudaranya, Syailendra, yang kalah itu diampuni dan dibiarkan hidup sebagai raja yang berkuasa di pantai utara.

Kekuasaan Sanna diwariskan kepada puteranya, Rake Jambri, yang masyhur disebut Sang Ratu Sanjaya. Sang Ratu Sanjaya menyatakan diri sebagai penguasa Mataram (ibu). Ratu Sanjaya inilah dhatu leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa dari Sanjayawangsa. Sedangkan Syailendra menjadi dhatu leluhur raja-raja Jawa dan raja-raja Sriwijaya dari Sailendrawangsa. Demikianlah, Prabu Stri Purbasari Bhattari Prthiwi yang didharmakan di Kabhumian di Bumi Caruban adalah keturunan kedua belas dari Raka i Mataram Ratu Sanjaya dan keturunan keempat belas dari Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi yang didharmakan di kabhumian Pragawatipura di Bumi Mataram.

Penjelasan panjang lebar Sri Mangana tentang siapa sesungguhnya yang didharmakan di tempat yang disebut Kabhumian itu dibenarkan oleh Abdul Jalil yang melalui cara gaib membuktikan kebenaran cerita tersebut. Untuk membuktikan bahwa ia telah menghubungi secara gaib arwah Bhattari Prthiwi, Abdul Jalil menyinggung leluhur almarhumah yang jarang dikenal nama pribadinya, yakni Rahyang Tamperan. �Apakah leluhur Bhattari Prthiwi yang disebut Rahyang Tamperan itu bernama pribadi Sang Wariga Agung? Benarkah nama Rahyang Tamperan diberikan orang karena beliau menjadi pertapa?� �

Benar sekali dan aku mempercayaimu. Sebab, nama itu hanya diketahui oleh keluarga Maharaja Sunda yang pernah membaca naskah-naskah kuno di Kapustakaan Pakuan Pajajaran,� ujar Sri Mangana. �

Bukankah Sang Manarah, putera Rahyang Tamperan, kemudian mendirikan kerajaan baru di Jawa dengan ibu kota di Wwotan yang terletak di kaki Gunung Pananggusama?� �

Benar demikian adanya.� �

Dan, tempat Rahyang Tamperan pertama kali menginjakkan kaki di Jawa disebut orang dengan nama Desa Turun Hyang?� �

Aku percaya kepadamu karena apa yang engkau ungkapkan itu sesungguhnya menjadi pengetahuan rahasia keluarga Maharaja Sunda.�

Meski Abdul Jalil dan Sri Mangana sama-sama meyakini susur galur trah raja-raja Sunda dan Jawa, Abdul Jalil memiliki pandangan yang berbeda dengan Sri Mangana khususnya tentang leluhur yang didharmakan di Kabhumian. Jika Sri Mangana menilai pemujaan terhadap Sang Bhumi sebagai keniscayaan adat bagi raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa, Abdul Jalil justru menilai hal-hal terkait dengan pemujaan tersebut sesungguhnya harus diakhiri. �Ada satu hal yang perlu Ramanda Ratu ketahui tentang keinginan beliau, leluhur Ramanda Ratu yang dipuja di Kabhumian ini,� kata Abdul Jalil. �

Apa sesungguhnya keinginan beliau yang dipuja di Kabhumian ini?� �

Beliau ingin beristirahat dengan tenang di alam kelanggengan,� Abdul Jalil menjelaskan, �sebab telah berbilang abad beliau selalu diganggu dan disibukkan oleh berbagai macam urusan duniawi para keturunannya. Beliau kelihatan sangat menderita.� �

Jadi, bagaimanakah ini? Apa yang harus aku perbuat untuk memenuhi keinginan beliau?� �

Semua itu tergantung pada kebijaksanaan Ramanda Ratu.� �

Maksudnya?� �

Ramanda Ratu adalah Sang Chakrabhumi, penguasa Kabhumian. Jika Ramanda Ratu mencintai jabatan maka Ramanda Ratu tidak perlu memenuhi keinginan beliau. Ramanda Ratu setiap saat bisa meminta bantuan dari arwah beliau untuk menyelesaikan urusan-urusan duniawi semua raja keturunan beliau. Tetapi, jika Ramanda Ratu mencintai beliau sebagai leluhur yang telah berjasa mewariskan segala kemuliaan di antara manusia maka Ramanda Ratu harus merelakan jabatan chakrabhumi untuk diakhiri selama-lamanya agar beliau bisa beristirahat dengan tenang di alam kelanggengan.�

Sri Mangana terperangah mendengar penjelasan Abdul Jalil. Lama dia terdiam dan merenung. Setelah itu dengan nada ragu-ragu ia berkata, �Ketahuilah, o Puteraku, sesungguhnya aku tidak memberati jabatan apa pun di dunia ini. Tetapi dengan cara bagaimana aku bisa mengakhiri jabatan chakrabhumi? Bukankah hal itu akan membangkitkan amarah seluruh penghuni Bumi Pasundan?� �

Hal itu tidak akan terjadi, Ramanda Ratu.� �

Kenapa bisa demikian?� �

Menurut petunjuk arwah Ratu Stri Bhattari Prthiwi, segalah Tu-ah dan Tu-lah yang memancar dari Kabhumian akan sirna jika yoni tempat memuja beliau ditutup dengan lingga suci yang terletak di puncak Gunung Pulasari di tanah Banten. Jika petunjuk beliau itu terlaksana maka tidak saja Tu-ah dan Tu-lah dari Kabhumian ini akan sirna, tetapi orang pun akan tersilap melupakan Kabhumian,� jelas Abdul Jalil. �

Kenapa harus lingga yang berada di puncak Gunung Pulasari?� �

Karena yang menempatkan lingga itu adalah Sri Maharaja Jayabhupati, suami Ratu Stri Bhattari Prthiwi.�

Sri Mangana termangu-mangu mendengar penjelasan Abdul Jalil. Dia tidak memikirkan tentang disirnakannya Tu-ah dan Tu-lah dari Kabhumian, tetapi justru merenungkan syarat lingga suci dari puncak Gunung Pulasari di tanah Banten. Bukankah Gunung Pulasari dianggap gunung keramat tempat Dewa Syiwa bersemayam? Apakah ada rahasia di balik keberadaan yoni Caruban dan lingga di Banten sehingga keduanya memiliki ikatan yang kuat? Caruban Larang sebagai samiddha jelas menyediakan kayu-kayu untuk persembahan kepada leluhur dan dewa-dewa. Sementara itu, upacara sesaji persembahan justru dilakukan di Banten dengan pusat di Gunung Pulasari, Gunung Karang, dan Gunung Lancar.

Abdul Jalil yang melihat Sri Mangana termenung lama kemudian berkata, �Sesungguhnya, menguasai wilayah samiddha Caruban dan wilayah Banten sama artinya dengan mewarisi takhta Kerajaan Sunda yang diwariskan oleh Sri Maharaja Jayabhupati dan Ratu Stri Bhattari Prthiwi. Sebab tanpa wilayah Caruban Larang dan wilayah Banten, sesungguhnya Kerajaan Sunda hanyalah hamparan bumi biasa, yakni tanah tak bertuan yang dihuni hewan dan manusia liar yang tak bisa diatur.� �

Maksudnya?� �

Sekalipun Ramanda Ratu bukan putera mahkota, Ramanda Ratu akan menjadi pewaris takhta Kerajaan Sunda jika Ramanda Ratu dapat menguasai Caruban Larang dan Banten. Sebab dengan dikuasainya Caruban Larang dan Banten, sesungguhnya takhta kekuasaan raja-raja Sunda sudah kehilangan Tu-ah dan Tu-lah. Tanpa Caruban dan Banten, takhta Kerajaan Sunda tidak memiliki wibawa apa-apa.�

Selain Kabhumian, tempat bersejarah di Caruban Larang yang dikunjungi Abdul Jalil dan Sri Mangana adalah Palimanan yang terletak di sebelah barat Kutha Caruban. Daerah itu, menurut Sri Mangana, disebut Palimanan karena digunakan orang sebagai tempat memuja Bhattara Ganesha. Menurut cerita, pada masa silam hewan gajah dipuja sebagai penjelmaan Ganesha, putera Parwati. Tempat pemujaan Ganesha yang dikeramatkan itu dibangun oleh Sri Jayabhupati, pemuja Syiwa, dan disebut dengan nama Palimanan (Jawa Kuno: tempat gajah). Di Palimanan gajah-gajah liar dilepas bebas dan terlarang untuk diganggu. Seiring bergulirnya waktu, pemujaan terhadap Sang Ganesha pernah memudar selama berpuluh tahun. Hal itu, konon, membuat marah Sang Ganesha. Lalu terjadilah bencana terbunuhnya Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda di Bubat beserta para pengikut, termasuk permaisuri dan puterinya oleh Sang Gajah Mada, Mahapatih Majapahit.

Para sesepuh Sunda yang tak menduga bakal terjadi peristiwa memilukan itu meyakini bahwa peristiwa tragis di Bubat bukanlah peristiwa biasa, melainkan memiliki kaitan dengan amarah Sang Ganesha yang murka akibat tidak lagi dipuja di Palimanan. Menurut keyakinan para sesepuh, Sang Ganesha, dewa gajah yang marah itu, menitis kepada Mahapatih Gajah Mada dan mengirim pesan kepada raja-raja Sunda agar mereka memuja kembali putera Syiwa itu.

Dengan keyakinan seperti itu, demi menolak bala bencana yang lebih dahsyat akibat amarah Sang Ganesha Sanghyang Ganapati, atas saran para sesepuh, putera Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat, yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana, memperbaiki kembali tempat pemujaan bagi Sang Ganesha di Palimanan. Para sesepuh berharap dengan diperbaiki dan dipujanya kembali Sang Ganesha di Palimanan, diharapkan amarah dewa gajah itu dapat diredam. Sementara itu, untuk menangkal pengaruh buruk akibat kemarahan Sang Ganesha, gajah-gajah yang dipuja kembali di Palimanan sebagian ditangkap dan ditambat di Pagajahan untuk dijinakkan dengan mantra-mantra. �

Lepas benar atau tidak pandangan para sesepuh itu,� ujar Sri Mangana, �yang jelas, sejak Sang Ganesha dipuja kembali di Palimanan dan kemudian ditambat dan dijinakkan dengan mantra-mantra di Pagajahan, terbukti pengaruh jahat dari Sang Gajah tidak terjadi lagi atas Bumi Pasundan. Sejarah mencatar, Sang Gajah Mada, Mahapatih Majapahit, tidak pernah menginjakkan kaki ke Bumi Pasundan.� �

Saya memahami keyakinan itu, Ramanda Ratu,� kata Abdul Jalil. �Tapi jika saya boleh tahu, pada masa pemerintahan kakek buyut Ramanda Ratu, yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana, Negeri Caruban Larang dijadikan samiddha dan Kerajaan Singhapura menjadi wilayah kecil. Apakah Kerajaan Singhapura yang pernah dipimpin Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya itu sudah runtuh?� �

Ya, seperti kebiasaan raja-raja Sunda dan Jawa, runtuhnya kerajaan selalu disebabkan oleh perebutan takhta di antara keturunan sang raja. Kerajaan Galuh Singhapura yang besar pecah menjadi dua pada masa Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya dan Sri Prabu Dharmaraja. Sepeninggal Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya terjadi perebutan di antara keturunannya.� �

Menurut cerita, pada masa akhir pemerintahan Prabu Lingga Wastu Sang Surugana, cucu dari Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya, terjadi perebutan sengit hingga putera mahkota beserta pengikutnya melarikan diri ke barat dan membangun kerajaan baru. Putera mahkota itulah yang kemudian menjadi raja dengan gelar Prabu Susuk Tunggal Sang Haliwungan (penguasa Sungai Liwung). Sepeninggal Prabu Susuk Tunggal ternyata terjadi lagi perebutan takhta hingga putera mahkota Sang Pulanggana mendirikan kerajaan baru di sebelah timur, yaitu Galuh Pakuan. Sang Pulanggana bergelar Prabu Banyak Larang. Beliau itulah kakek dari Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja yang mangkat di Bubat.� �

Jika demikian, menurut hemat ananda, Kerajaan Singhapura yang besar akhirnya terlantar karena diperintah oleh raja-raja yang lemah. Benarkah demikian?� tanya Abdul Jalil. �

Begitulah adanya sehingga pada masa kakek buyutku berkuasa bukan saja kraton Singhapura menjadi tidak terurus dan merana, melainkan pendharmaan Prabu Stri Bhattari Prthiwi di Kabhumian pun tak terawat. Kawasan itu benar-benar terlantar hingga ditumbuhi rumput alang-alang sehingga disebut Tegal Alang-Alang.� �

Tapi seingat ananda, belum pernah ananda mendengar nama Cerebon untuk daerah Caruban Larang ini. Apakah nama itu merupakan sebutan lama untuk Caruban?� tanya Abdul Jalil. �

Nama Cerebon memang digunakan pada masa Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya untuk membedakan wilayahnya dengan wilayah Sang Dharmaraja. Namun, istilah itu tenggelam seiring tenggelamnya Singhapura. Itu sebabnya, aku ingin mengungkapkan kembali nama itu tetapi dengan makna ganda,� ujar Sri Mangana. �

Makna ganda yang bagaimanakah yang Ramanda Ratu maksud?� �

Selain bermakna wilayah warisan ibu (Sunda: cere-ibu-an), Cerebon juga akan bermakna warisan Sang Udang (Sunda: cere-rebon),� ujar Sri Mangana. �

Warisan Sang Udang?� Abdul Jalil heran. �Siapakah yang dimaksud Sang Udang?� �

Akulah yang dimaksud Sang Udang,� kata Sri Mangana. �Akulah yang akan menegakkan dinasti Udang bagi keturunanku di Bumi Pasundan ini.� �

Ramanda Ratu adalah Sang Udang?� Abdul Jalil kembali terheran-heran. �Ananda belum memahami maksudnya. Kenapa Ramanda Ratu menganggap diri sebagai udang?� �

Sesungguhnya, saat lahir aku dinamai Hurang Sasaka (Sunda: udang pusaka). Nama itu untuk mengingat penderitaan ayahandaku saat tersingkir dari Galuh Pakuan dan mengabdi kepada Ki Gedeng Sindangkasih, syahbandar (juru labuhan) di pelabuhan Muara Jati. Selama bertahun-tahun ayahandaku ditugaskan menjadi pengawas pelabuhan ikan (juru iwak) sampai beliau diambil menantu oleh Ki Gedeng Sindangkasih.� �

Juru labuhan Muara Jati sendiri ada di bawah kewenangan Raja Singhapura yang saat itu dipegang oleh kakek buyutku, Ratu Kasmaya. Selama menjadi juru iwak itulah ayahandaku mengenal ibundaku, puteri mangkubhumi Singhapura. Akhirnya, ayahandaku menikah dengan ibundaku. Ketika Ki Gedeng Sindangkasih meninggal, ayahandaku menggantikan kedudukannya sebagai juru labuhan.�

Bermula dari Muara Jati, ayahandaku menyusun kekuatan. Beliau dibantu para pengungsi dari Campa yang dibawa Tuan Milinadi, orang Campa yang menjadi saudagar di Palembang. Beliau kemudian menjadi raja Singhapura dan menggunakan nama Siliwangi, yang dipungut dari kata Sili (sejenis ikan laut) dan wangi. Rupanya, pengalaman menjadi juru iwak itu sangat berkesan di dalam hatinya. Itu sebabnya, saat lahir aku dinamai Hurang Sasaka. Bahkan, kraton yang beliau bangun di Singhapura dinamai Kraton Pangurangan (kediaman Sang Udang), yaitu kraton yang terletak di utara kraton lama Purwwawinangun.� �

Jika nama Ramanda Ratu saat lahir adalah Hurang Sasaka, kenapa diubah menjadi Walangsungsang? Bukankah sangat jauh beda makna antara udang dengan belalang?� �

Nama Walangsungsang diberikan ketika aku dewasa dan mulai sering berselisih pendapat dengan ayahandaku, terutama soal agama. Beliau rupanya sangat sedih dan marah melihat kecenderunganku kepada agama Islam yang begitu kuat. Akhirnya, beliau mengganti namaku dengan nama Walangsungsang yang bermakna �yang jungkir balik dalam ketidakpastian� (walang-walang sungsang) dan mengangkatku sebagai pejabat parang sungsang (watek i jro). Kemudian aku pun pergi meninggalkan Pakuan Pajajaran.� �

Jikalau nama Ramanda Ratu yang sesungguhnya adalah Hurang Sasaka,� lanjut Abdul Jalil, �maka ananda dapat memahami kenapa putera sulung Ramanda Ratu disebut dengan nama Pangeran Cerebon yang bermakna pewaris Sang Udang. Ananda juga bisa paham kenapa puteri Ramanda Ratu dinamai Pakungwati yang bermakna Puteri Udang.�

Sri Mangana mengangguk-angguk sambil menyapukan pandangan ke gugusan awan yang menggantung di langit dan kemudian berkata, �Bahkan aku berencana untuk menamai Kutha Caruban ini dengan nama baru Kutha Cerebon, yang bermakna kutha udang yang harum, diambil dari kata cere (Jawa Kuno: wangi uttama ning dhupa ngaranya minyak cere) dan rebon (Jawa Kuno: udang sungai).� �

Ananda berdoa semoga keinginan Ramanda Ratu yang mulia itu akan tercapai. Setiap waktu orang menyebut Cerebon akan selalu teringat kepada Ramanda Ratu sebab Ramanda Ratulah yang telah membangun pakuwuan kecil Caruban menjadi kutha yang makmur dan sejahtera. Ananda berharap orang tidak akan pernah lupa bahwa Ramanda Ratu adalah raja yang membangun tempat ibadah (tajug) pertama di Jalagrahan (Jawa Kuno: menjala gerhana) yang merupakan bekas pakalangan suci (ksetra) upacara Bhairawa-Tantra. Ananda juga berharap orang tidak akan pernah lupa bahwa Ramanda Ratulah raja yang pertama kali membangun Tajug Agung di Kutha Caruban ini.� �

Siapakah yang bisa mengingkari kenyataan bahwa pelindung dan pengembang agama Islam di Caruban Larang adalah Ramanda Ratu? Siapakah yang bisa mengingkari bahwa Ramanda Ratu adalah raja yang adil dan bijaksana, yaitu raja yang bisa melindungi dan mengayomi seluruh penduduk Caruban Larang yang berasal dari pelbagai negeri dengan berbagai agama yang berbeda? Mudah-mudahan doa ananda dikabulkan oleh Allah, Sang Penentu (al-Muqtadir).�

Sri Mangana menadahkan tangan mengamini doa Abdul Jalil.

Usai berdoa Abdul Jalil bertanya, �Sesungguhnya, di mana sajakah batas-batas samiddha Caruban ini, o Ramanda Ratu?� �

Menurut kakekku Ki Gedeng Tapa dan dibenarkan oleh Ki Danusela, batas sebelah timur samiddha Caruban sama dengan batas wilayah Kerajaan Singhapura Lama, yaitu membentang di Bumi Ceribon, dengan batas di sebelah timur mulai dari Sungai Pamali sampai ke tempuran Sungai Cigunung. Batas sebelah selatan mulai tempuran Sungai Cigunung sampai ke Cigugur di kaki Gunung Ceremai. Batas sebelah barat dari Pegunungan Kromong hingga tepi timur Sungai Cimanuk. Sementara itu, di sebelah utara berbataskan Junti,� papar Sri Mangana menegaskan.

Mendengar penjelasan Sri Mangana, Abdul Jalil termangu-mangu takjub dan diam-diam memuji kehebatan ayahanda asuhnya yang merintis kembali pembangunan Kerajaan Caruban Larang dari reruntuhan kerajaan lama Singhapura. Ia masih ingat benar betapa saat ia pergi meninggalkan Bhumi Caruban belasan tahun silam, Kutha Caruban hanya sebuah ibu kota dari pakuwuan yang sangat sepi. Bale Pakuwuan saat itu berdiri dengan dikitari beberapa belas rumah. Dermaga Muara Jati pun hanya merupakan pelabuhan kecil yang disandari perahu-perahu kecil. Sementara griya pakuwuan tempat tinggal pribadi kuwu terletak di Caruban Girang, yang jaraknya cukup jauh dari Bale Pakuwuan.

Kini, dalam tempo sekitar tujuh belas tahun, Kutha Caruban telah berubah menjadi kutharaja yang jauh lebih besar dan lebih ramai dibandingkan dengan Dermayu. Bale Pakuwuan yang dibangun menjadi Bangsal Kaprabon telah menjelma menjadi istana raja yang megah dan indah dilingkari tembok baluwarti. Bangunan-bangunan besar tempat nayakapraja bekerja ditata selayaknya kutharaja kerajaan besar. Bekas Kerajaan Leluhur Kabhumian dibangun lebih megah. Lemah Wungkuk yang terlantar pun telah dibangun kembali sebagai Siti Hinggil kerajaan. Bahkan, alur perdagangan tidak saja dibuka bagi pedagang-pedagang pedalaman, tetapi dibuka pula bagi saudagar-saudagar mancanegara. Sungguh, hanya manusia besar yang mampu melahirkan karya besar, kata Abdul Jalil dalam hati memuji ayahanda asuhnya.

Read More ->>

Senin, 16 Januari 2017

KEMBALI KE SARANG

Kembali ke Sarang

Abdul Jalil, anak negeri yang lahir dalam kepedihan seorang yatim dan tumbuh di tengah hiruk pikuk sejarah dan ketidakpastian zaman, adalah manusia yang hanyut diseret arus nasib hingga terlempar jauh dari bumi tumpah darahnya yang diliputi kegelapan. Kerinduannya akan kebenaran telah mengubah arus kehidupannya menjadi sesuatu yang mencengangkan zamannya. Dengan kenaifan seorang anak dari negeri yang sedang dilanda kegelapan, ia saksikan gilang-gemilangnya kota antarabangsa, Baghdad. Di kota sumber pengetahuan dan pusat peradaban itulah ia sadari keberadaan dirinya yang laksana setitik air sedang terbawa arus menuju ke samudera kehidupan tak bertepi.

Dengan kesadaran diri bagai setitik air, Abdul Jalil membiarkan dirinya hanyut mengikuti liku-liku sungai nasib hingga ke muara. Di muara nasib itu ia dapati dirinya hanyut terbawa pusaran air ke tengah samudera kemanusiaan. Dengan ketakjuban setitik air, ia terbawa terbang ke angkasa oleh kumparan nasib menjadi setitik air jernih di tengah gumpalan awan. Lalu jatuhlah ia ke tanah suci sebagai setitik air di tengah rinai hujan yang mengguyur padang belantara. Dan, tercenganglah ia saat menyadari betapa dirinya telah berada di Mata Air Suci Abadiyang merupakan Sumber segala sumber air kehidupan. Kesadarannya tersingkap (kasyf), kekeruhan (ghain) jiwanya tersibak, jiwanya terjernihkan (zawa�id), mata hatinya (�ain al-bashirah) tercelikkan. Ia pun menjadi sadar betapa di dalam setitik air itu sesungguhnya tersimpan hakikat mata air, sungai, telaga, air terjun, muara, samudera, awan, hujan, angin, dan getar kehidupan sejati.

Kini, setelah diseret kembali oleh arus nasib pengembaraan panjang pencarian jati diri tentang asal usul kejadian dari mana segala sesuatu berawal, ia telah menjadi anak negeri yang terjaga di antara bangsanya yang masih terlelap tidur. Seiring terbitnya matahari pagi kehidupan, ia dengan didampingi Syarif Hidayatullah kembali ke tanah kelahirannya di Caruban Larang dengan tugas utama untuk membangunkan saudara-saudara sebangsanya yang sedang mengalami mimpi buruk; terjerat jaring-jaring kejahilan yang mereka pintal sendiri menjadi tali-temali yang membahayakan kehidupan seluruh negeri.

Ibarat pepatah setinggi-tinggi burung terbang akhirnya kembali ke sarang juga, begitulah Abdul Jalil kembali dari pengembaraan melanglang buana langsung menuju ke sarang asalnya, Padepokan Giri Amparan Jati, tempat ia sebagai telur telah ditetaskan dan dibesarkan oleh induknya. Ia pun bersyukur saat mendapati guru agung yang telah mengukir jiwanya, Syaikh Datuk Kahfi, berada dalam keadaan sehat tak kurang suatu apa pun, meski usianya sudah lebih tujuh puluh tahun.

Dengan air mata bercucuran menyaksikan anak asuh, saudara sepupu, dan murid terkasih yang senantiasa dirindukannya, Syaikh Datuk Kahfi bergumam dengan suara bergetar, �Ya Allah, terima kasih. Engkau telah mengabulkan permohonan hamba untuk tidak memanggil hamba ke hadirat-Mu sebelum bertemu kembali dengan anak yang hamba rindukan ini. Kini, hamba telah siap menghadap-Mu, Ya Ilahi Rabbi, Gantungan jiwa hamba.�

Abdul Jalil tidak berkata sesuatu. Ia hanya bersujud ke haribaan Syaikh Datuk Kahfi. Ia seperti terlempar kembali ke rentangan masa kecil saat ia bermanja dengan sang guru yang berperan sebagai pengganti ayahandanya itu. Ia seolah ingin merasakan kembali kehangatan kasih guru agung yang sangat dihormati dan dimuliakannya. Sementara itu, menghadapi sikap Abdul Jalil yang bagai mengurai masa silam, Syaikh Datuk Kahfi tersenyum bahagia dengan air mata berlinang-linang membasahi kelopak matanya. Kemudian dengan suara tersendat-sendat ia berkata, �Anakku, di ujung usiaku yang sudah senja ini, tidak ada lagi yang aku inginkan dari sisa hidupku kecuali ingin melihatmu kembali dengan selamat dan berharap engkau berhasil menemukan apa yang engkau cari. Jika engkau tidak keberatan, aku mohon agar engkau berkenan menuturkan tentang apa saja yang telah engkau alami dan engkau peroleh dari pencarianmu selama ini. Sebab, hari-hari dari hidupku sejak kepergianmu selalu kuisi dengan doa agar kelak aku bisa bertemu kembali denganmu dan bisa mendengar kisahmu menemukan Kebenaran Sejati. Di atas itu semua, o Anakku, hanya satu harapan yang aku harapkan darimu, yaitu engkau bisa menjadi penuntunku saat aku menghadapi ajal.�

Abdul Jalil tercekat mendengar ucapan Syaikh Datuk Kahfi. Ia menangkap betapa arif guru agungnya itu dalam menentukan pilihan hidup yang beragam. Harapan utamanya agar dituntun saat menghadapi ajal telah menunjukkan kewaskitaan yang menakjubkan. Sebab, pada detik-detik menjelang ajal itulah sesungguhnya citra keselamatan dan ketidakselamatan seorang manusia tercermin. Lantaran itu, sambil mencium tangan Syaikh Datuk Kahfi, Abdul Jalil berkata, �Sungguh, Allah SWT. telah membentangkan jalan keselamatan atas Ramanda Guru. Semua perjuangan Ramanda Guru yang tak kenal lelah dan tak kenal menyerah dalam menerangi jalan hidup manusia telah menuai hasil. Ramanda Guru telah dianugerahi pengetahuan rahasia oleh-Nya untuk bisa memilih jalan terang keselamatan.� �

Jalan keselamatan Allah SWT. untukku? Aku dianugerahi-Nya pengetahuan untuk bisa memilih jalan terang keselamatan? Apa maksud semua ini, o Anakku?� tanya Syaikh Datuk Kahfi heran. �

Harapan Ramanda Guru untuk bisa dituntun secara benar saat menjelang ajal adalah bukti bahwa Ramanda Guru telah dianugerahi pengetahuan rahasia oleh Yang Ilahi. Sebab, tidak banyak orang tahu bahwa citra keselamatan dan citra ketidakselamatan manusia akan terlihat saat ia menjelang ajal. Betapa banyak manusia yang bibirnya bergerak-gerak dan tangannya tak henti-henti memutar biji tasbih berdzikir menyebut Asma Allah, namun saat menjelang ajal justru hilang akal dan tidak bisa mengingat Allah.� �

Rasulullah Saw. sudah menyatakan jaminan bahwa barang siapa di antara manusia saat menjelang ajal bisa berujar tidak ada sesembahan yang lain selain Allah (La ilaha illa Allah), ia bakal masuk surga tanpa hisab. Namun, prasyarat sederhana itu ternyata menjadi masalah maharumit manakala dihadapkan pada kenyataan hidup. Bahkan, jumlah umat Islam yang bisa mengucap La ilaha illa Allah dalam makna yang sebenarnya saat menjelang ajal bisa dihitung dengan jari. Karena itu, o Ramanda Guru, sungguh arif keinginan paduka yang menempatkan tuntunan yang benar saat menjelang ajal itu sebagai pilihan utama. Sebab, di situlah terletak kunci rahasia keselamatan yang hampir selalu dilalaikan manusia,� kata Abdul Jalil.

Syaikh Datuk Kahfi mengangguk haru mendengar uraian Abdul Jalil. Dia menangkap sasmita bahwa saudara sepupu sekaligus siswa kesayangannya itu kiranya telah menemukan hakikat Kebenaran yang selama ini dicarinya. Dengan suara bergetar dia berkata, �Aku tahu, o Anakku, bahwa engkau telah menemukan apa yang engkau cari selama ini. Karena itu, ajarilah aku tentang jalan Kebenaran Sejati menuju-Nya.� �

Ananda tidak berani berlaku tidak pantas kepada paduka, Ramanda Guru,� ujar Abdul Jalil sambil menghaturkan sembah. �Ananda hanyalah seorang siswa. Justru dari Ramanda Guru jua ananda selama ini berhasil mengatasi berbagai rintangan. Bahkan, ananda yakin Allah SWT. telah mengajarkan jalan Kebenaran Sejati kepada Ramanda Guru.� �

Engkau benar sekali, Anakku. Memang Allah SWT. selama ini telah mengajarkan jalan Kebenaran kepadaku. Namun, jalan Kebenaran yang aku lewati itu belum selesai aku lintasi. Kini Allah SWT. menyuruhku agar meminta engkau menuntun aku melewati lintasan jalan akhir kebenaran-Nya. Maklum, mungkin aku sudah tua bangka, rabun, dan tidak kuat lagi berjalan di atas jalan Kebenaran-Nya sehingga aku harus dituntun oleh yang lebih muda dan yang lebih tahu arah.�

Abdul Jalil tersenyum kagum mendengar ucapan Syaikh Datuk Kahfi. Ia tahu bahwa saudara sepupu sekaligus guru agungnya itu memang dikenalnya sebagai orang cerdik dan sangat piawai dalam memainkan kaidah-kaidah ilmu manthiq (ilmu logika). Rupanya, usia tua tidak menjadikannya lemah dalam berpikir. Diam-diam Abdul Jalil bersyukur karena selama hampir lima belas tahun ia telah dibimbing untuk menggunakan kecerdasan akalnya oleh seorang guru cerdik seperti Syaikh Datuk Kahfi. Ia pun harus mengakui bahwa dalam menggunakan nalar berpikir, jejak-jejak yang ditinggalkan Syaikh Datuk Kahfi di benaknya masih sangat jelas mencitrai kerangka dan alur berpikirnya.

Setelah berbincang-bincang cukup lama, tiba-tiba Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa ada sesuatu yang terjadi pada ibunda asuhnya, Nyi Rara Anjung, yang tidak ia lihat sejak ia menginjakkan kaki ke padepokan. Dengan tergesa ia bertanya, �Ampun seribu ampun, o Ramanda Guru, di manakah gerangan ibunda saya? Kenapa sejak tadi ananda tidak melihat beliau?�

Syaikh Datuk Kahfi tidak menjawab. Diam seribu bahasa. Hanya air matanya tiba-tiba jatuh bercucuran membasahi pipinya yang keriput. Setelah beberapa jenak terisak dia berkata tersendat-sendat, �Ibundamu kurang beruntung, o Anakku. Barang tiga bulan yang lalu dia telah dipanggil menghadap hadirat-Nya. Sungguh menyedihkan, dia tidak sempat melihat putera kesayangannya kembali dari rantau.� �

Inna li Allahi wa inna ilaihi raji�un,� desah Abdul Jalil menarik napas panjang dan berat. �

Sesungguhnya, ibundamu tidak sakit apa-apa. Dia masih sangat sehat. Tapi aku kira dia sangat terkejut dan terpukul jiwanya.� �

Ada kejadian apakah sebenarnya, o Ramanda Guru, sehingga ibunda saya terpukul jiwanya?� �

Salah satunya peristiwa Raden Anggaraksa masuk Islam.� �

Raden Anggaraksa, putera Pamanda Rsi Bungsu?� �

Ya.� �

Apa yang membuat ibunda terpukul dengan masuk Islamnya Raden Anggaraksa?� �

Ceritanya panjang, o Anakku. Tapi, pangkalnya justru bermula dari keinginan keras Raden Anggaraksa memeluk Islam. Hal itu telah membuat marah ayahandanya yang sangat melarang keras keinginannya itu. Tetapi ia nekat dan melarikan diri dari rumah. Ia meminta perlindungan ibundamu. Ia membaca syahadat di masjid Amparan Jati dan kemudian tinggal di sini sampai dua bulan lebih. Namanya kuganti menjadi Hasan Ali, nama yang mirip denganmu.� �

Namun, tanpa terduga tiba-tiba padepokan ini diserang para begal yang dipimpin Bergola Hideung. Tiga pondok tempat siswa tinggal dibakar. Anehnya, para begal itu tidak merampok apa-apa kecuali menculik Hasan Ali. Nah, peristiwa aneh itulah yang rupanya memukul jiwa ibundamu. Bermalam-malam dia tidak bisa tidur dan terus-menerus menangis. Dia tidak saja khawatir dengan nasib kemenakannya, tetapi sifat buruk adiknya yang tak pernah bisa berubah itu pun benar-benar membuatnya sangat sedih.� �

Jadi, ibunda saya sudah tahu jika yang menyuruh para begal itu adalah Pamanda Rsi Bungsu?� �

Aku kira ibundamu lebih paham sifat adiknya itu.� �

Di manakah ibunda saya dimakamkan?� �

Di sebelah kiri tajug.� �

Ananda mohon izin berziarah ke makam beliau.� �

Sebentar,� Syaikh Datuk Kahfi menyela, �siapakah pemuda tampan di belakangmu itu?� �

Dia Syarif Hidayatullah, putera dari Syarif Mahmud al-Yamani, cucu Syaikh Syarif Abdullah al-Yamani. Ibundanya adalah puteri Abdul Malik Israil al-Gharnatah, sahabat saya. Jika ditinjau dari nasabnya, Syarif Hidayatullah masih sedarah dengan kita.� �

Berarti dia dari golongan Alawiyyin.� �

Benar, tapi dia dari golongan Syarif, keturunan Imam Hasan. Bahkan, kakeknya, Syaikh Syarif Abdullah al-Yamani adalah wali Allah yang di antara segolongannya disebut dengan nama rahasia Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri.�

Syaikh Datuk Kahfi mengangguk-angguk sambil memandangi Syarif Hidayatullah yang beringsut ke arahnya, menyalami, dan mencium tangannya. Lama dia memandangi Syarif Hidayatullah seolah-olah hendak mengukur pedalamannya. Bagaikan menyaksikan bias cahaya rembulan di malam hari, begitulah dia menangkap pancaran kemuliaan yang tersembunyi di dalam diri Syarif Hidayatullah.

Tanpa terasa telah hampir seharian Abdul Jalil menuturkan liku-liku perjalanan pencariannya. Namun ia terkejut ketika usai ziarah ke makam ibundanya, tiba-tiba Syaikh Datuk Kahfi memperkenalkan keluarganya yang baru; istri keduanya, Nyi Halimah, dan tiga orang kemenakan Nyi Halimah, yaitu Abdurrahman Rumi, Abdurrahim Rumi, dan Siti Syarifah.

Tentang keluarga barunya itu, menurut Syaikh Datuk Kahfi, sesungguhnya terkait dengan kepergian Abdul Jalil dari padepokan. Saat Abdul Jalil meninggalkan padepokan barang tiga bulan, Syaikh Datuk Kahfi dengan terpaksa pergi meninggalkan Giri Amparan Jati mencari Abdul Jalil hingga ke Baghdad. Kepergian Syaikh Datuk Kahfi sendiri sesungguhnya akibat desakan, rasa iba, sekaligus rasa bersalahnya terhadap seorang saudara sepupunya yang bernama Muthmainah, yang terus memohon agar Abdul Jalil dapat kembali ke padepokan.

Selama di Baghdad Syaikh Datuk Kahfi tinggal di rumah salah seorang kenalannya yang bernama Sulaiman Rumi. Dia kemudian dinikahkan dengan saudari Sulaiman Rumi yang bernama Halimah. Setelah tinggal kira-kira tiga tahun di Baghdad dan usai menunaikan ibadah Haji, Syaikh Datuk Kahfi kembali ke Giri Amparan Jati dengan membawa serta istri dan anak-anak Sulaiman Rumi yang masih kecil. Rupanya, saat itu Sulaiman Rumi sedang dikejar-kejar oleh penguasa Baghdad karena dituduh sebagai pendukung keluarga Shafawy.

Mendengar penuturan Syaikh Datuk Kahfi, Abdul Jalil mengerutkan kening dan bertanya, �Siapakah sepupu Ramanda Guru yang bernama Nyi Muthmainah itu? Mengapa dia mendesak Ramanda Guru untuk mencari ananda?�

Syaikh Datuk Kahfi menunduk dengan air mata berlinang-linang. Kemudian dengan terisak-isak dia berkata, �Muthmainah sesungguhnya kakakmu lain ibu. Dia adalah puteri ayahandamu dengan Nyi Fatimah binti Abdul Malik Khan, asal Gujarat yang tinggal di Negeri Pasai.�

Abdul Jalil merasakan kilat menyambar kepalanya. Ia sangat terkejut dengan kenyataan yang tak pernah dibayangkannya itu. Kemudian dengan terburu-buru ia bertanya, �Jadi, saya masih memiliki seorang saudari? Kenapa Ramanda Guru tidak pernah menceritakan hal itu kepada saya?� �

Aku dan ayahanda asuhnya, Ki Samadullah, telah terikat janji dengan ayahanda angkatmu, Ki Danusela. Kami berdua terikat janji untuk tidak menceritakan kepada siapa pun tentang jati dirimu. Karena, beliau akan mengangkatmu sebagai Kuwu Caruban, penggantinya kelak. Jika orang-orang tahu bahwa engkau bukan putera kandung Ki Danusela, pastilah kelak mereka akan menolakmu untuk menggantikan kedudukannya sebagai Kuwu Caruban. Tapi, ternyata Allah berkehendak lain. Rsi Bungsu sudah membuka semua rahasia tentang jati dirimu,� jelas Syaikh Datuk Kahfi. �

Tetapi, kenapa setelah ayahanda meninggal Ramanda Guru tidak menceritakannya kepada saya?� �

Saat itu semua sedang kalut. Keributan terjadi di mana-mana. Engkau sendiri tahu bagaimana keadaan waktu itu. Aku baru sadar saat Muthmainah datan ke sini dan menangis, memintaku untuk mencarimu yang telah pergi entah ke mana.� �

Jika demikian,� sahut Abdul Jalil, �di manakah selama ini kakak saya tinggal?� �

Muthmainah diangkat anak oleh ayahanda asuhmu, Ki Samadullah. Tetapi dia tinggal di Selapandan, dititipkan di bawah asuhan Ki Gedeng Selapandan. Dia sengaja dijauhkan darimu demi memenuhi janji kami kepada Ki Danusela.� �

Manusia pada hakikatnya hanya berusaha, tetapi Allah jua yang menentukan dan mengatur segala sesuatu,� gumam Abdul Jalil seolah kepada diri sendiri sambil menarik napas dalam-dalam. �

Bahkan sesungguhnya engkau masih memiliki seorang kakak lagi yang sekarang ini tinggal di Pasai. Namanya Tughra Hasan Khan. Ia kakak kandung Muthmainah. Tetapi, sejak kecil ia diasuh oleh kakak ibundamu yang bernama Tughril Ahmad Khan,� kata Syaikh Datuk Kahfi. �

Mahasuci Allah, Zat Yang Berkuasa mengatur kehidupan makhluk sesuai kehendak-Nya.� �

Justru karena aku merasa telah berusaha mengubah sesuatu yang bertentangan dengan syari�at maka akibatnya menjadi kacau,� gumam Syaikh Datuk Kahfi pedih. �Sampai kini aku masih merasa bersalah terhadap Muthmainah, meski dia sudah memaafkan aku. Aku selalu merasa bahwa tekadnya untuk tidak menikah sebelum bertemu denganmu adalah hukuman yang berat bagiku. Aku selalu merasakan lecutan cambuk mendera hatiku setiap kali aku berbicara tentang dia.� �

Jadi, kaka saya sampai sekarang belum menikah?� �

Ya, karena dia sudah bersumpah untuk tidak menikah sebelum bertemu denganmu.� �

Berapa usaianya sekarang?� �

Dia setahun di atasmu.� �

Ananda ingin sekali menemuinya. Ananda ingin mensyukuri nikmat-Nya yang telah menggelarkan kenyataan bahwa ananda bukanlah putera tunggal dan bukan pula sebatangkara.� �

Sesungguhnya, tidak ada manusia yang sebatangkara di dunia ini,� ujar Syaikh Datuk Kahfi. �

Saat ananda tadi diberi tahu bahwa ibunda telah kembali ke hadirat-Nya, sempat ananda bayangkan Ramanda Guru tentu sangat kesepian hidup sendiri. Ternyata, Ramanda Guru sudah memiliki keluarga baru.�

Disinggung tentang keluarga barunya, Syaikh Datuk Kahfi menuturkan bahwa beberapa bulan sebelum keberangkatan Abdul Jalil meninggalkan Nagari Caruban, datanglah dua gadis kecil bernama Umi Kalsum dan Siti Zainab ke Padepokan Kuro di Karawang. Usia mereka sekitar delapan dan sembilan tahunan. Mereka meminta perlindungan kepada Syaikh Hasanuddin karena ayahanda Umi Kalsum, Sayyid Maulana Waly al-Islam, dan ayahanda Nyai Siti Zainab, Syaikh Suta Maharaja, gugur dalam pertempuran mempertahankan Kadipaten Samarang dari serbuan pasukan Demak yang dipimpin Adipati Lembusora.

Sesungguhnya, Umi Kalsum masih tergolong kerabat Syaikh Datuk Kahfi karena ayahandanya adalah putera Sayyid Jamaluddin Husein, saudara kanduk Syaikh Datuk Isa Malaka. Sayyid Maulana Waly al-Islam adalah sepupu Syaikh Datuk Ahmad dan Syaikh Datuk Sholeh. Umi Kalsum memiliki tidak kakak lelaki, yaitu Sayyid Kalkum, Sayyid Adurrahman, dan Sayyid Abdullah. Namun akibat porak-porandanya kekuatan Kadipaten Samarang, Sayyid Kalkum lari ke Negeri Benggala, Sayyid Abdurrahman lari ke Gujarat, dan Sayyid Abdullah menyingkir ke lereng Gunuhng Merbabu. Di sana dia disebut orang dengan nama Syaikh Jatiswara.

Sementara Siti Zainab pun tergolong kerabat Syaikh Datuk Kahfi karena ayahandanya adalah putera Sri Prabu Kertawijaya dengan Ratu Darawati, puteri asal Campa yang merupakan adik ipar Sayyid Ibrahim al-Ghozi as-Samarkandi, putera Sayyid Jamaluddin Husein. Jadi, baik Umi Kalsum dan Siti Zainab sesungguhnya masih terhitung kerabat karena mereka berdua adalah cucu Sayyid Jamaluddin Husein.

Selama beberapa waktu kedua gadis kecil itu tinggal di Padepokan Kuro. Tergugah oleh rasa iba melihat nasib mereka maka Syaikh Datuk Kahfi meminta keduanya tinggal di Padepokan Giri Amparan Jati sekaligus menemani Nyi Rara Anjung, yang akan ditinggalkan selama dia pergi mencari San Ali. �Saat aku kembali dari Baghdad dengan istri dan ketiga orang kemenakan istriku yang masih belum dewasa, mereka kuasuh bersama-sama dengan Umi Kalsum dan Siti Zainab. Setelah cukup umur mereka aku nikahkan. Abdurrahman Rumi aku nikahkan dengan Umi Kalsum. Abdurrahim Rumi aku nikahkan dengan Siti Zainab.� �

Jika ananda boleh bertanya, dengan nama Rumi, benarkah keluarga baru Ramanda Guru sesungguhnya bukan orang Baghdad?� �

Memang, Baha�uddin Rumi, ayah mertuaku, adalah orang asal Persia yang tinggal di Konya, Turki. Tetapi, karena beliau diburu penguasa yang menuduhnya sebagai pendukun keluarga Shafawy maka beliau kemudian berpindah-pindah dan akhirnya tinggal di Baghdad.�

Kenangan adalah bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun manusia berada. Semua kenangan, manis maupun pahit, tidak pernah bisa ditinggalkan. Laksana bayangan, ia akan terus mengendap di relung-relung jiwa manusia. Kenangan memang tidak terpisah dengan kesan. Itu sebabnya, kesan seseorang terhadap sesuatu, sebagaimana kenangan baik manis maupun pahit, cenderung tidak berubah sekalipun kenyataan telah berubah.

Ketidaksesuaian antara kenangan dan kesan di satu sisi dan kenyataan di sisi lain, setidaknya dialami Abdul Jalil saat ia dengan didampingi Syarif Hidayatullah menghadap ayahanda dan ibunda asuhnya di Kraton Caruban Larang. Sejak berangkat dari Padepokan Giri Amparan Jati hingga menapakkan kaki di halaman Bale Rangkang, yang terbayang di benaknya adalah wajah dan sosok Ki Samadullah dan Nyi Indang Geulis sebagaimana yang pernah ia kenal dulu. Ia juga membayangkan suasana kraton yang tak jauh berbeda seperti saat masih menjadi Pakuwuan Caruban.

Namun, beda yang dibayangkan ternyata beda pula yang terpampang sebagai kenyataan. Ketika Abdul Jalil menginjakkan kaki di halaman Bangsal Kaprabon (kantor raja) di lingkungan Kraton Caruban Larang, ia justru termangu keheranan menyaksikan perubahan yang begitu dahsyat dari bumi tumpah darahnya itu. Ternyata ia salah. Kraton Caruban Larang yang sekarang tidak sama dengan Pakuwuan Caruban sebagaimana ia kenal dulu.

Pakuwuan Caruban yang dulu dikenalnya berubah dengan sangat menakjubkan. Bangsal Kaprabon yang terdiri atas tiga bangunan besar � Bangsal Manguntur, Bangsal Sri Manganti, dan Bangsal Prabhayaksa � yang menggantikan pendapa pakuwuan, terlihat tegak menjulang bagaikan bangsal seorang maharaja agung. Di belakang Bangsal Kaprabon yang dibatasi dinding baluwarti (benteng) membentang kawasan puri kediaman pribadi raja. Di dalamnya terdapat Bale Rangkang, Parapuri, Purasabha, Kaputrian, dan Kebon Raja. Sementara agak jauh ke arah tenggara terlihat menara pengawas jagasatru.

Kesalahan kesan itu terulang saat ia mengurai kembali kenangan manis masa kecil di tanah kelahiran yang telah berbelas tahun ditinggalkannya. Ia tercekam oleh kenangan belaian kasih yang tulus dari ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, yang tiba-tiba berkelebatan memasuki ingatannya. Kesabaran ibunda asuhnya yang penuh perhatian mengurus segala kebutuhannya itu tiba-tiba membayang lagi di pelupuk matanya. Ia juga membayangkan kesabaran ayahanda asuhnya yang sering mengantarnya berkeliling ke desa-desa sekitar pakuwuan.

Ternyata kesan yang terbayang di benak Abdul Jalil salah lagi. Ketika menginjakkan kaki ke Bale Rangkang yang masuk ke dalam wilayah puri, ia benar-benar terkejut saat berhadap-hadapan dengan Ki Samadullah. Ayahanda asuhnya itu kini telah menjadi Raja Muda (prabu anom) Caruban Larang dengan gelar Sri Mangana. Sri Mangana bukan lagi sosok laki-laki muda bernama Ki Samadullah yang pernah dikenalnya dulu. Kesan Abdul Jalil tentang ayahanda asuhnya benar-benar salah.

Meski demikian, ia tetap dapat menangkap wajah dan sosok Sri Mangana yang masih mencerminkan citra Ki Samadullah. Hanya saja, kehidupan telah mengubahnya menjadi laki-laki gagah dan penuh wibawa di usianya yang setengah abad lebih itu. Tubuhnya jangkung. Kulitnya kuning. Wajahnya bulat dihiasi kumis tebal dan dagunya digantungi janggut. Sorot matanya tajam laksana rajawali. Siapa saja yang berhadapan dengannya akan menunduk tak kuasa menatap pancaran wibawanya. Di atas semua perubahan itu, berdasarkan kesan Abdul Jalil, Sri Mangana dalam pandangannya sekarang adalah perwujudan citra diri Ki Samadullah yang sudah matang.

Penampilan keseharian Sri Mangana memang tidak berbeda dengan penampilan Ki Samadullah yang pernah dikenalnya, yakni selalu diliputi kesahajaan. Malam itu Sri Mangana yang sedang tidak dinas terlihat duduk bersila di atas permadani tebal bikinan Persia yang digelar di Bale Rangkang. Ia hanya mengenakan kain putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya dari perut hingga ke lutut. Kepalanya gundul ditumbuhi rambut halus dengan beberapa uban dibiarkan terbuka tanpa destar.

Kata orang, saat berdinas sebagai raja pun Sri Mangana selalu terlihat bersahaja, malah sangat bersahaja dibandingkan dengan para raja di Bumi Pasundan yang lain. Ia tidak pernah terlihat mengenakan mahkota emas bertatah intan permata. Ia juga tidak pernah terlihat mengenakan perhiasan tubuh sebagaimana lazimnya pakaian kebesaran para raja di Bumi Pasundan. Saat berdinas sebagai raja tubuhnya yang gagah hanya ditutupi jubah putih. Kepalanya ditutupi destar polos putih. Semuanya dibuat dari kain katun kasar dan tanpa hiasan. Satu-satunya benda mewah yang melekat di tubuhnya adalah sebilah keris bergagang gading berukir kepala naga dengan serasa emas dan hiasan intan permata gemerlapan. Keris itu masyhur disebut orang: Kanta Naga.

Menurut cerita, keris Kanta Naga adalah anugerah dari ayahanda Raja Caruban Larang, Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran. Keris tersebut dianugerahkan bersamaan dengan pelantikan Pangeran Walangsungsang menjadi raja muda Caruban Larang dengan gelar Abhiseka Sri Mangana. Penganugerahan keris pusaka dan nama abhiseka itu sesungguhnya menyiratkan makna yang selaras, yakni pengakuan terhadap keberadaan raja muda Caruban Larang sebagai penjaga wilayah lautan bagi Kerajaan Sunda. Kanta Naga (Sansekerta: dinding naga) adalah perlambang kubu (benteng) yang melingkari Kerajaan Sunda laksana seekor naga, sedangkan nama Abhiseka Sri Mangana (Sansekerta: cahaya kekuasaan sang ular laut) adalah perlambang sang panglima penjaga kubu.

Meski telah menduduki jabatan yang sangat penting di Kerajaan Sunda, sebagaimana sifat ular laut (mang), Sri Mangana tetap terlihat bersahaja dan tenang. Dengan kesahajaan dan ketenangannya itu ia sangat dihormati dan dimuliakan laksana maharaja agung. Kata-katanya menjadi sabda dan perintahnya menjadi titah tak tersanggah. Seluruh penghuni Caruban Larang baik yang tinggal di sekitar Kutha Caruban, lingkungan kraton di desa-desa di lereng gunung tunduk patuh di bawah kuasa dan wibawanya yang luar biasa.

Sri Mangana sendiri selain dikenal sebagai orang yang bersahaja, juga dikenal sebagai raja yang ramah dan suka bergaul dengan berbagai jenis manusia mulai raja-raja, pangeran, saudagar, ruhaniwan, kepala desa, pedagang kecil, bahkan perajin dan nelayan. Ia juga dikenal sebagai pelindung kaum fakir miskin, penegak keadilan, dan pemberi pengayoman bagi yang lemah. Harta kekayaannya senantiasa terbuka bagi mereka yang membutuhkan. Ia dikenal sebagai raja yang sangat saleh dan taat menjalankan perintah agamanya. Setiap sore usai menjalankan tugas sebagai raja muda ia selalu menyempatkan diri mengajar agama di Tajug Jalagrahan.

Kegagahan dan kewibawaan yang memancar dari pribadi Sri Mangana sesungguhnya merupakan warisan dari para leluhurnya, yaitu para raja Sunda yang agung dan mulia. Semua orang percaya, darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah biru para Raja Agung Bumi Pasundan. Semua sesepuh Caruban mengatakan bahwa Sri Mangana adalah putera Prabu Siliwangi, Maharaja Sunda yang termasyhur dengan gelar kebesaran Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Jika dirunut ke atas, galur leluhur Sri Mangana setelah Prabu Siliwangi adalah Prabu Dewa Niskala, Prabu Niskala Wastu Kancana, Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat (Maharaja yang gugur di Bubat), Prabu Banyak Wangi (Sang Adubasu), Prabu Banyak Larang (Sang Pulanggana), Prabu Susuk Tunggal (Sang Haliwungan), Prabu Lingga Wastu (Sang Surugana), Prabu Lingga Wesi (Sang Halu Wesi), Prabu Lingga Hyang (Bhattara Hyang Purnawijaya), Ratu Stri Purbasari Bhattari Prthiwi, Prabu Dharmastyadewa (Prabu Siung Wanara), Prabu Lingga Sakti, Prabu Arya Galuh (Sang Rawisrengga), dan Raka I Sirikan Pu Samarawikranta.

Adapun Raka I Sirikan Pu Samarawikranta adalah Raja Galuh Lalean pertama yang dikenal dengan nama Abhiseka Prabu Hari Murti Ratu Haji di Adi Mulya. Dia adalah putera Maharaja Mataram Raka I Watukara Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu dan adik lain ibu Sri Maharaja Daksottama Bahubajra Pratipaksayaksaya. Dyah Balitung adalah putera Raka I Kayuwangi Dyah Lokapala Sri Sajjanotsawatungga. Raka I Kayuwangi putera Raka I Pikatan Pu Manuku Sang Jatiningrat.

Raka i Pikatan Pu Manuku Sang Jatiningrat adalah putera Sri Mani Raja Wwotan Mas. Sri Mani putera Sang Manarah Brahmanaraja, yakni Sang Surottama pendiri Wwotan Mas. Sang Surottama putera Rahyang Tamperan (Sang Wariga Agung). Rahyang Tamperan putera Sri Maharaja Raka I Mataram Ratu Sanjaya, yang tak lain adalah putera Sang Sannaha dengan Maharaja Sanna. Dan, Sang Sannaha adalah puteri Prabu Stri Parwati Tunggal Prthiwi. Prabu Stri Parwati Tunggal Prthiwi adalah puteri hasil perkawinan Prabu Kartikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha dengan Sri Maharani Simha, pendiri Kerajaan Kalingga. Dengan demikian, jika ditarik ke atas para leluhur Sri Mangana adalah para raja Sunda keturunan Sri Purnawarman Bhimaparakramadipa, Maharaja Tarumanagara, karena baik Kartikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha maupun Sri Maharani Simha adalah keturunan Maharaja Tarumanagara.

Meski darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah para Raja Bumi Pasundan, berbeda dengan selazimnya para ningrat yang bangga dengan darah birunya, Sri Mangana, pangeran yang pernah lari dari lingkungan istana dan hidup sebagai orang kebanyakan itu, tidak membeda-bedakan keberadaan manusia berdasarkan warna kulit dan aliran darah. Ia selalu terlihat bersahaja, meski telah menduduki takhta Caruban Larang. Kesahajaannya itu setidaknya tercermin saat ia menerima putera asuhnya, Abdul Jalil, di Bale Rangkang, balai tamu pribadi raja di dalam Kraton Caruban Larang. Bagi Abdul Jalil, penerimaan dirinya di Bale Rangkang itu mengandung makna betapa sesungguhnya ayahanda asuhnya tidak pernah berubah sedikit pun dalam sikap dan kesahajaan. Bahkan, setelah menjadi raja pun ia tetap mengakui Abdul Jalil sebagai putera, bagian dari keluarga dalamnya.

Kesan keakraban antara putera dan ibunda serta ayahanda asuh yang pernah dibangun sejak masa kecil ternyata tidak berubah. Hal itu terlihat, saat mereka usai melepas rindu dan berbincang-bincang tentang keadaan masing-masing, ketika Sri Mangana mempertemukan Abdul Jalil dengan para selir dan putera-puterinya. Yang mengejutkan, ia memperkenalkan Abdul Jalil sebagai putera sulung yang selalu dirindukan kedatangannya.

Tidak berbeda jauh dengan Sri Mangana, Nyi Indang Geulis, sang permaisuri yang adalah ibunda asuh Abdul Jalil, dalam pertemuan itu juga tampil seperti biasanya, yakni sangat bersahaja sehingga tidak mengesankan bahwa dia adalah permaisuri raja. Dia tidak mengenakan perhiasan berlebih di tubuhnya, kecuali dua pasang giwang emas dengan hiasan permata sebesar butiran kacang. Meski demikian, keanggunan dan kewibawaan seorang permaisuri memancar agung dari citra dirinya. Sejumlah uban yang tampak menyelip di rambutnya yang hitam tidak menghapus gari-garis kecantikan yang masih membias di wajahnya.

Bagi Abdul Jalil, ibunda asuh yang dihadapinya malam itu, meski sudah berubah dalam tampilan, yakni lebih tua dan lebih berwibawa, tidaklah berubah dalam sikap. Ibunda asuhnya itu seperti tidak peduli bahwa ia telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang telah merasakan pahit dan getir kehidupan. Ibunda asuhnya seolah-olah tetap menganggap San Ali kecil yang bisa digendong, ditimang, dimanja, dan diawasi gerak-geriknya. Di atas itu semua, Abdul Jalil menangkap kesan bahwa ibunda asuhnya kini telah berubah menjadi perempuan yang tegas, penuh semangat, tegar, berwibawa, bahkan cenderung menguasai.

Kesan yang ditangkap Abdul Jalil tampaknya tidak keliru. Malam itu setiap orang yang berada di Bale Rangkang, baik Sri Mangana, Abdul Jalil, Syarif Hidayatullah, para selir maupun putera-puteri raja, lebih banyak menjadi pemirsa dan pendengar pembicaraan sang permaisuri. Mereka tidak berbicara jika tidak diperintah. Mereka tidak menjawab jika tidak ditanya. Saat diresapi lebih mendalam, terhampar kenyataan yang menunjukkan betapa di antara sang raja dan keluarganya yang memiliki pancaran kharisma sejatinya bukanlah sang raja, melainkan sang permaisuri, Nyi Indang Geulis.

Saat Abdul Jalil tertegun-tegun menyaksikan betapa ibunda asuhnya menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir di Bale Rangkang, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seruan Ruh al-Haqq yang menggema dari kedalaman jiwanya, yang jika dipaparkan dalam bahasa manusia intinya kira-kira berbunyi: �Ketahuilah, o Abdul Jalil, sesungguhnya perempuan perkasa itu adalah penghulu para perempuan pada zamannya. Dia adalah perempuan yang paling sabar pada zamannya sehingga di mana pun dia berada selalu bersama-sama dengan Yang Mahasabar (ash-Shabur). Sesungguhnya, tanpa keberadaan perempuan mulia itu, sudah lama Raja Caruban Larang tumbang ke bumi memunguti remah-remah kehidupan dan menelan kekalahan yang pahit.� �

Ayahanda asuhmu memang lahir dari kalangan darah biru sebagai ksatria yang memiliki sifat pemberani, penuh semangat, tahan menderita, dan pantang menyerah. Namun, ia adalah manusia yang sembrono, kurang perhitungan, meledak-ledak, tidak pedulian, dan cenderung nekat. Sehingga, dengan sifatnya itu ia cenderung gampang terperosok ke jurang kekalahan. Sesungguhnya, tanpa pengendalian dan arahan dari permaisurinya, dia tidak akan pernah berhasil melampaui berbagai tantangan kehidupan. Tanpa istrinya, ia tidak akan pernah menjadi raja. Dan, jika engkau saksikan ke kedalaman hatinya, sesungguhnya jauh di relung-relung terdalam dirinya tersembunyi kekuatan kelam dari ilmu sakti seratus ribu hulubalang yang diperolehnya dari Gunung Kumbha(ng).�

Abdul Jalil tersentak kaget. Kemudian dengan tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala ia memandang ibunda asuhnya penuh ketakjuban. Sungguh, mereka yang melihat ibunda asuhnya dari penglihatan indriawi tidak akan mampu menangkap kenyataan betapa di dalam penampilan ibunda asuhnya yang tegas, penuh semangat, berwibawa, dan cenderung menguasai itu sesungguhnya tersembunyi kesabaran yang tak tertandingi. Bahkan, lantaran kesabarannya itulah dia diangkat menjadi penghulu para perempuan yang dicintai Allah pada zamannya.

Kemuliaan Nyi Indang Geulis sendiri baru tersingkap sebagian ketika hari sudah larut dan semua yang hadir sudah beristirahat, kecuali Abdul Jalil yang masih duduk di Bale Rangkang bersama Sri Mangana dan Sang Permaisuri. Dengan tidak menutup-nutupi apa yang telah diterimanya dari Ruh al-Haqq, Abdul Jalil berkata, �Barusan tadi ananda mendapat isyarat gaib yang menyatakan bahwa sesungguhnya Ibunda adalah penghulu para perempuan yang paling agung dan mulia pada zaman ini. Ibunda adalah perempuan yang paling sabar sehingga di mana pun Ibunda berada, selalu bersama-sama dengan Yang Mahasabar (ash-Shabur). Apakah sesungguhnya amaliah ibadah yang telah Ibunda lakukan sehingga Ibunda berkedudukan begitu mulia di hadapan-Nya?�

Mendengar kata-kata Abdul Jalil, ganti Nyi Indang Geulis tercengang keheranan. Dengan suara bergetar dia bertanya, �O Puteraku terkasih, dari mana engkau mengetahui jika ibundamu ini selama bertahun-tahun berjuang menahan kesabaran sampai tidak lagi bisa membedakan apa yang disebut sabar dan tidak sabar? Bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa sekaran aku sudah menyerahkan segala urusan hanya kepada Yang Mahasabar? Bagaimana engkau bisa tahu jika sekarang ini tidak ada yang bisa membuatku marah karena sesungguhnya aku sudah tidak memiliki sesuatu yang bisa membuatku marah?�

Abdul Jalil tidak bisa menjawab. Ia terdiam selama beberapa jenak. Saat suasana hening tiba-tiba Sri Mangana berkata, �Engkau tidak perlu bertanya kepada puteramu bagaimana ia bisa mengetahui pedalamanmu yang aku pun tidak pernah mengetahuinya. Tetapi perlu engkau ketahui, o Adinda, bahwa dulu sewaktu puteramu masih kecil, guru agung kita, Syaikh Datuk Kahfi, pernah mengungkapkan suatu rahasia tentang puteramu itu kepadaku. Beliau saat itu berkata bahwa puteramu kelak akan menjadi kekasih Allah. Dan, aku diminta untuk melindunginya meski dengan taruhan nyawaku. Nah, Adinda, aku kira puteramu mengetahui pedalamanmu karena ia telah diberi tahu oleh Dia Yang Mengasihinya.�

Dengan mata berkaca-kaca Nyi Indang Geulis bertanya, �Benarkah ucapan ayahandamu itu, o Puteraku?� �

Ibunda,� kata Abdul Jalil tenang, �sesungguhnya untuk mengetahui apakah kita tergolong kekasih Allah atau bukan tergantung pada penilaian jujur kita terhadap diri sendiri. Maksud ananda, apakah kita sudah meyakini dengan jujur bahwa kiblat hati dan pikiran tertuju utuh hanya kepada Allah? Jika kita yakin sepenuh jiwa dan raga bahwa hati dan pikiran kita benar-benar hanya terarah kepada Allah maka sesungguhnya Allah telah mengasihi kita. Itu berarti sudah menjadi kekasih-Nya.�

Nyi Indang Geulis tersedu sedan mendengar penjelasan putera asuhnya. Kemudian dengan air mata berlinang-linang dia mengungkapkan dengan jujur keadaan jiwanya saat itu. Dia jelaskan kepada suami dan putera asuhnya bahwa saat itu sesungguhnya dia sudah tidak lagi merasakan keterikatan yang kuat dengan suami dan putera-puterinya. �Bukan aku tidak mencintai mereka, o Puteraku. Tapi, aku merasa ada semacam jarak gaib yang telah memisahkan aku dengan mereka. Aku sendiri tidak tahu apa sesungguhnya yang sedang aku alami.� �

Ibunda, sesungguhnya keindahan perjalanan hidup manusia bukanlah saat ia berada di puncak kehidupan yang sejati. Ibarat seseorang mendaki gunung, keindahan perjalanan hidup bukanlah kebanggaan dan bukan pula kegembiraan saat ia berada di puncak. Melainkan, liku-liku perjuangan saat ia meninggalkan rumah, keluarga, kampung halaman, dan merangkak di antara tebing-tebing yang curam itulah keindahan dari sebuah perjalanan hidup.� �

Karena itu, o Ibunda, sangatlah wajar jika Ibunda saat ini yang sudah berada di puncak justru merasakan ada jarak gaib yang memisahkan ibunda dengan suami, putera-puteri, dan segala sesuatu yang Ibunda miliki. Karena, Ibunda sudah berada di puncak kehidupan yang sejati. Saat ini sejauh Ibunda menyapukan pandangan, hanya langit luas, gumpalan awan, gugusan sawah, hutan, desa-desa, aliran sungai, dan lautan saja yang tampak di kejauhan. Ibunda tidak merasa memiliki semuanya. Ada jarak yang memisahkan Ibunda dengan mereka. Bahkan, jika dirasa-rasakan saat ini Ibunda sesungguhnya tegak sendirian di puncak gunung kehidupan. Ibunda hanya dikawani rasa sunyi, senyap, hening, dan hampa. Dan, sesungguhnya rasa hampa yang meliputi Ibunda, yakni rasa hampa yang tak terjangkau akal, tak tersentuh pikiran, tak terbayangkan, tak terbandingkan, itulah hakikat sejati dari kedekatan Ibunda dengan Sang Hampa (laisa kamitslihi syaiun) yaitu Sang Mahaada (al-Wujud), Yang Zhahir dan Batin.� �

Benarlah apa yang engkau ucapkan, o Puteraku,� ujar Nyi Indang Geulis. �Saat ini aku merasakan sesuatu yang aneh pada jiwaku. Aku merasakan jiwaku kosong, tetapi sekaligus penuh. Ketika kuintai kekosongan yang kudapati justru kepenuhan. Ketika kuanggap penuh, ia justru kosong. Karena itu, tidak ada kesedihan, kegembiraan, kekecewaan, sukacita, dan berbagai jenis perasaan yang bisa masuk dan bersemayam di dalam hatiku. Sungguh! Selama ini tidak ada satu pun orang yang bisa menjelaskan kepadaku apa sesungguhnya yang telah aku alami ini. Sebab, aku tidak pernah mengungkapkannya, bahkan kepada ayahandamu pun aku tidak pernah bercerita.� �

Berbahagialah Ibunda yang telah sampai di puncak kehidupan sejati. Tetapi jika ananda boleh tahu, laku kesabaran apa yang telah Ibunda laksanakan sehingga Ibunda bisa mencapai kedudukan yang begitu mulia di hadapan-Nya?�

Nyi Indang Geulis diam sejenak seolah mengingat-ingat. Beberapa saat kemudian dia bercerita bahwa pada awalnya dia sangat terkesan oleh wejangan Syaikh Datuk Kahfi saat mengupas hakikat agama. Menurut Syaikh Datuk Kahfi, pada hakikatnya apa yang disebut agama adalah ajaran yang melatih, menekan, bahkan memaksa manusia untuk menahan dan mengekang diri dari dorongan keakuan. Pengekangan diri, menurut Syaikh Datuk Kahfi, bisa menjadi siksaan bagi mereka yang mencintai kehidupan duniawi. Tetapi sebaliknya, pengekangan akan menjadi kegembiraan bagi para pencari Kebenaran Sejati.

Ajaran agama yang dimaknai pengekangan diri itu ternyata memiliki arti yang luas dan mendalam. Sebab, telah terbukti bahwa segala sesuatu yang terkait dengan amaliah ibadah yang diajarkan oleh agama-agama yang benar, pada hakikatnya dinilai sebagai penyiksaan oleh para pecinta kehidupan duniawi. Orang-orang Hindu yang melakukan upawasa (puasa), menjalankan dharma, melakukan yoga-samadi, menjalani wairagya, oleh para pecinta kehidupan duniawi dianggap telah melakukan kebodohan dalam bentuk penyiksaan diri. Padahal, bagi para pencari Kebenaran Sejati, tanpa perjuangan keras mengekang dan menyiksa diri, seorang manusia tidak akan pernah menjadi orang-orang suci yang tercerahkan seperti para Rishi, Brahmana, Sannyasin, dan Sadhu.

Orang-orang muslim pun jika dilihat dari pandangan para pecinta kehidupan duniawi tidak lepas dari kecenderungan mengekang dan menyiksa diri. Itu tercermin dari ketentuan ajaran Islam untuk berkhitan, berpuasa menahan lapar dan dahaga sebulan penuh, bersembahyang wajib sehari lima kali ditambah sembahyang sunnah, berzakat dan bersedekah mengeluarkan harta, menunaikan ibadah haji, dan berbagai ibadah nawafil yang lain yang oleh para pecinta tubuh dianggap sebagai kebodohan dan penyiksaan diri. �

Saat aku bertanya kepada guru agung apakah amaliah ibadah yang paling menyiksa, tetapi paling utama bagi seorang perempuan?� ujar Nyi Indang Geulis, �beliau menjawab: sabar dan ikhlas dimadu.� �

Ah, ananda tadi sudah mengira ketika Ibunda memperkenalkan dua selir Ramanda Ratu beserta putera dan puterinya,� Abdul Jalil tersenyum lebar. �Ananda sudah menduga Ibunda pasti melewati jalur pintas yang luar biasa berat itu.� �

Tapi tungguh dulu,� tukas Nyi Indang Geulis. �Sesungguhnya bukan aku yang dimadu oleh ayahandamu, sebaliknya aku yang sengaja memadukan diriku.� �

Maksud Ibunda?� �

Yang merencanakan semua perkawinan ramandamu adalah aku. Padahal, saat itu ramandamu sedikit pun tidak memiliki niat untuk menikah lagi.� �

Mahasuci Allah,� gumam Abdul Jalil. �Dia telah membentangkan jalan-jalan menuju-Nya dengan cara yang tak terduga dan tak terpikirkan. Tetapi sebagaimana yang ananda tadi jelaskan, keindahan bagi sang pemenang bukanlah saat ia meraih kemenangan. Keindahan bagi pendaki gunung bukanlah saat ia berada di puncak, melainkan justru perjuangan menuju puncak itulah perjalanan yang terindah.� �

Benarlah apa yang engkau ucapkan itu, o Puteraku,� kata Nyi Indang Geulis. �Saat aku sendirian di puncak dan kemudian teringat akan masa-masa jahil ketika aku masih menjadi pecinta kehidupan duniawi, sering aku menertawakan sendiri kebodohan diriku. Saat itu betapa tidak tahu malunya aku karena menganggap segala apa yang mengitariku adala mutlak milikku. Suami, anak-anak, keluarga, perhiasan, harta benda, rumah, kehormatan, kemuliaan, dan sanjungan kuanggap sebagai milikku yang tak bisa diganggu gugat. Ketika itu aku sungguh-sungguh merasa diriku seperti iblis jahat yang tidak pernah rela melihat manusia lain beroleh keberuntungan, kegembiraan, kebahagiaan, dan kemuliaan yang melebihi diriku. Semuanya seolah-olah harus kuakui sebagai milikku.� �

Berkali-kali aku tanya diriku apakah sesungguhnya beban tanggungan yang paling berat bagi manusia? Kuperoleh jawaban: beban tanggungan terberat bagi manusia adalah keangkuhan dan kepongahan seekor merak yang dengan sombong membentangkan ekornya di bawah intaian harimau pemangsa. Atau, kebanggaan seekor gajah yang membanggakan kebesaran tubuhnya yang terperosok ke perigi. Atau, nyanyian seekor burung yang berkicau di sangkar emas. Atau, kelincahan seekor kijang yang diincar panah pemburu. Itu berarti, sesungguhnya beban tanggungan terberat bagi manusia adalah beban keakuan yang menjadikan manusia sebagai hewan pengangkut beban. Ya, beban keakuan yang menyebabkan jiwa manusia berlutut seperti kuda yang memohon punggungnya ditunggangi beban. Adakah kejahilan yang melebihi kebodohan dan ketololan manusia yang sudah diperbudak beban keakuan diri yang mengendalikan jalan hidupnya?� �

Syukurlah, kejahilan jiwaku yang gelap, pengap, dan panas laksana api itu berangsur-angsur pupus digantikan pancaran keindahan ketika aku lewati liku-liku pendakian hidup yang curam dan terjal. Perlahan-lahan tetapi pasti, aku tanggalkan beban keakuan yang memberati punggungku. Aku lepaskan keterikatanku pada suami. Aku lepas rasa kepemilikanku terhadap suami. Saat itu aku yakinkan sepenuh jiwaku bahwa sesungguhnya suamiku bukanlah milikku. Suamiku adalah milik Allah. Demikian pun, aku tekan rasa kepemilikanku untuk bisa bersabar dan ikhlas menyaksikan perempuan lain � para maduku � menikmati kebahagiaan bersama suamiku. Ah, betapa indah saat aku bergulat mati-matian memerangi diriku sendiri. Betapa indahnya saat aku menitikkan air mata di lereng terjal pendakianku. Dan, betapa indah saat awal aku gapai puncak kemenanganku.� �

Jika Ibunda tidak keberatan, bolehkah ananda mendengarkan kisah indah Ibunda saat berjuang menaklukkan diri sendiri, agar nanti bisa ananda ceritakan kepada istri-istri ananda. Biarlah mereka berdua meneladani keteguhan dan ketegaran Ibunda mertuanya yang telah berhasil meraih kemenangan dan mengibarkan bendera kejayaan,� ujar Abdul Jalil.

Seperti tanpa beban apa pun Nyi Indang Geulis menuturkan liku-liku cerita yang melatari perkawinan suaminya. Mula-mula, ia memaparkan kenyataan betapa selama bertahun-tahun perkawinannya ternyata tidak dikaruniai keturunan. Namun, saat itu dia tidak pernah merasakan keadaan itu sebagai sesuatu yang berat karena dia selalu menumpahkan kasih sayang seorang ibu kepada putera asuhnya, San Ali. �Tetapi, semenjak kepergianmu, o Puteraku, aku rasakan hidupku tiba-tiba menjadi sepi dan lengang. Apa yang aku rasakan itu ternyata dirasakan juga oleh ramandamu. Akhirnya, aku meminta saran guru agung. Dan, beliau menuturkan tentang ketentuan hukum kauniyah adanya pertemuan dan perpisahan, di mana keberadaan agama pada hakikatnya adalah melatih manusia untuk tulus mengikuti hukum kauniyah itu dengan pengekangan-pengekangan dan bahkan penyiksaan diri,� ujar Nyi Indang Geulis.

Langkah awal yang dilakkukannya untuk mengekang diri, ungkap Nyi Indang Geulis, adalah memohon kepada Syaikh Datuk Kahfi untuk menikahkan suaminya dengan Nyai Retna Riris, puteri almarhum Ki Danusela. Mula-mula Syaikh Datuk Kahfi terkejut dengan permohonan itu, namun akhirnya ia bisa memahami. Pernikahan itu terjadi dan hasilnya adala seorang putera yang dinamai Pangeran Cirebon.

Mendengar uraian Nyi Indang Geulis bahwa istri kedua Sri Mangana adalah puteri Ki Danusela, Abdul Jalil tercekat kaget. Sebab, sepengetahuannya, Ki Danusela, ayahanda angkatnya itu, tidak memiliki keturunan seorang pun. Itu sebabnya dengan penasaran ia bertanya, �Apakah Ibunda maksud Ki Danusela, ayahanda Nyi Retna Riris itu adalah ayahanda saya?� �

Ya, benar begitu, Puteraku.� �

Bukankah beliau tidak memiliki keturunan seorang pun?� �

Dari ibundamu Nyi Ratu Inten Dewi, beliau memang tidak memiliki keturunan. Namun, dari istrinya yang bernama Ratu Arumsari, puteri Yang Dipertuan Singhapura, beliau memiliki puteri bernama Nyi Retna Riris.� �

Kenapa ananda tidak pernah tahu akan hal itu?� �

Tentang itu tanyalah ayahandamu sebab ayahandamu lebih tahu tentang persoalan itu.�

Abdul Jalil menarik napas berat dan kemudian memandang Sri Mangana dengan tatapan memohon. Sri Mangana yang tidak sampai hati menyaksikan putera asuhnya terombang-ambing ketidakpastian, akhirnya bercerita. �

Ketahuilah, o Puteraku, bahwa sesungguhnya ayahandamu memang memiliki istri selain ibundamu, yaitu Ratu Arumsari. Dan, sesungguhnya Ratu Arumsari adalah bibiku karena dia adala puteri Ratu Surantaka. Sedangkan Ratu Surantaka adalah saudara lain ibu dari kakekku, Ki Gedeng Tapa. Ratu Surantaka adalah putera kakek buyutku, Prabu Kasmaya dengan Ratu Suragharini Bhre Singhapura, puteri Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit.� �

Karena di dalam diri Ratu Arumsari mengalir darah Majapahit maka atas perintah ayahandaku, Prabu Guru Dewata Prana, Ki Danusela menikahinya. Tujuannya tidak lain untuk memasukkan semua kekuatan Majapahit di Bumi Pasundan ke dalam lingkungan kekuasaan Maharaja Sunda. Bahkan, beberapa waktu setelah ayahandamu meninggal dan aku menikahi Nyi Retna Riris, datanglah utusan dari Pakuan Pajajaran yang membawa pesan Sri Maharaja agar aku menikahi puteri Ki Danusela itu. Saat itu aku katakan kepada utusan itu bahwa sesungguhnya aku telah menikahinya beberapa waktu lalu sebelum perintah itu aku terima.� �

Jika demikian, Nyi Retna Riris adalah saudara angkat saya?� �

Demikianlah sebenarnya. Dia sekarang bernama Nyi Kencana Larang?� �

Jika demikian, tentunya Nyi Kencana Larang masih sepupu Ibunda Nyi Indang Geulis.� �

Benarlah demikian, o Puteraku, karena ayahanda Nyi Kencana Larang adalah adik Ki Danuwarsih, ayahanda ibundamu Nyi Indang Geulis.� �

Tapi, kenapa perkawinan itu dilakukan secara diam-diam dan seolah-olah rahasia?� �

Sebab, di balik niat perkawinan ayahandamu dengan Ratu Arumsari tersembunyi iktikad untuk menghilangkan pengaruh Majapahit. Itu sebabnya, setelah penguasa Singhapura, Dyah Surawijaya Bhre Singhapura, meninggal, yang menggantikannya adalah kakekku, Ki Gedeng Tapa, yakni kemenakan tirinya. Di bawah kakekku itulah nama Singhapura diam-diam ditenggelamkan oleh nama Pasambangan.�

Abdul Jalil mengangguk-angguk. Ia memahami penjelasan ayahanda asuhnya itu. Ia sadar bahwa di balik perkawinan-perkawinan itu sesungguhnya terselip hasrat perebutan kekuasaan yang dahsyat. Lantaran tak ingin terperangkap ke dalam lingkaran setan tak berujung pangkal, ia pun meminta ibundanya, Nyi Indang Geulis, untuk melanjutkan kisah perjuangan menaklukkan keakuannya.

Nyi Indang Geulis melanjutkan cerita dengan menuturkan kehadiran seorang ulama asal Negeri Campa bernama Syaikh Ibrahim Akbar bersama puterinya, Nyai Rasa Jati. Syaikh Ibrahim Akbar adalah sepupu Raden Ali Rahmatullah, Bupati Surabaya. Semula Syaikh Ibrahim Akbar tinggal di rumah kerabatnya, Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Siddhiq, di Padepokan Kuro, Karawang. Tak lama sesudah itu ia dan puterinya tinggal di Junti dan kemudian di Giri Amparan Jati.

Bersimpati terhadap nasib tak beruntung yang dialami Syaikh Ibrahim Akbar dan puterinya, akhirnya Nyi Indang Geulis meminta agar Syaikh Datuk Kahfi menikahkan Nyai Rasa Jati dengan suaminya. Keinginan Nyi Indang Geulis itu pun dikabulkan oleh Syaikh Datuk Kahfi. Dari pernikahan itu Sri Mangana dikaruniai tujuh puteri, yaitu Nyai Rara Konda, Nyai Rara Sejati, Nyai Jatimerta, Nyai Jamaras, Nyai Mertasinga, Nyai Campa, dan Nyai Rasa Melasih.

Pergulatan Nyi Indang Geulis untuk menaklukkan diri sendiri ternyata berbuah kegembiraan yang tidak pernah diduganya. Saat dia sudah tidak lagi mengharapkan kelahiran seorang bayi dari rahimnya, tiba-tiba saja dia hamil. Padahal, saat itu usia perkawinannya sudah lebih dari dua puluh tahun. Lalu lahirlah seorang puteri yang dinamai Pakungwati. �Lahirnya puteriku itu sempat membuatku berpaling. Puteriku sempat menjadi buah hatiku dan kuanggap sebagai milikku yang paling berharga. Tetapi, kemudian aku sadari bahwa dia sesungguhnya milik-Nya, yang digunakan untuk menguji keteguhan hati dan kesetiaanku kepada-Nya.�

Nyi Muthmainah yang masyhur disebut Nyi Mas Gandasari, puteri angkat Raja Caruban Larang, Sri Mangana, adalah perempuan yang sangat cantik. Tubuhnya tinggi dan terkesan sangat jangkung dibandingkan dengan perempuan Sunda seumumnya. Mukanya bulat telur. Bentuk matanya bulat indah dengan bulu mata lebat. Namun, di balik mata yang indah itu memancar sorot ketegaran sebongkah bukit karang tak tergoyahkan. Hidungnya tinggi dan mancung. Bibirnya berbentuk sangat indah, tetapi selalu mengatup.

Penampakan fisik Nyi Mas Gandasari adalah penampilan perempuan yang lahir dari macam-macam anasir bangsa. Dari ibundanya mengalir darah Hindustan dan Mongolia karena leluhurnya adalah keturunan Janghiz Khan yang menaklukkan Hindustan dan mendirikan Dinasti Moghul. Sedangkan dari ayahandanya mengalir darah Arab-Hindustan-Campa karena neneknya dari pihak ayah adalah seorang muslimah asal Campa yang tinggal di Malaka. Dan, boleh jadi karena mewarisi berbagai-bagai aliran darah maka naluri yang mengendap di kedalaman jiwa Nyi Mas Gandasari agak berbeda dengan seumumnya perempuan Sunda. Baju warna hitam penutup tubuh bagian bawah, memang terlihat aneh bagi seumumnya perempuan di Bumi Pasundan yang hanya menutup bagian bawah tubuhnya � sebatas perut ke bawah lutut � dengan kain. Sementara itu, sebilah keris yang terselip di dadanya menunjukkan Nyi Mas Gandasari adalah seekor singa betina pada zamannya; singa betina yang ditakuti binatang jantan yang bukan singa.

Menurut cerita orang-orang Caruban Larang, Nyi Mas Gandasari merupakan puteri Syaikh Datuk Sholeh yang diangkat anak oleh Raja Caruban Larang untuk dijadikan panglima perempuan Caruban Larang yang bakal mengalahkan penguasa Galuh Pakuan. Sebab, menurut ramalan, Yang Dipertuan Galuh, Ratu Aji Surawisesa, Sang Putera Mahkota Pakuan Pajajaran, yang tidak lain adalah saudara lain ibu Sri Mangana, konon tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh seorang perempuan hing wanojaha kang pangawijing. Entah benar entah tidak cerita orang-orang Caruban Larang yang berkembang dari mulut ke mulut itu, yang jelas orang akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri keberadaan Nyi Mas Gandasari sebagai pendekar wanita yang sakti mandraguna; wanojaha linggihing pangelmu wuleding raga kang sakti mandraguna; wanojaha pangestu mungguhing sesanggah.

Sementara menurut cerita orang-orang Galuh Pakuan, Nyi Mas Gandasari sengaja disiapkan sebagai alat oleh Sri Mangana untuk merebut takhta Pakuan Pajajaran yang sudah jelas-jelas menjadi hak Ratu Aji Surawisesa, sang putera mahkota, yakni putera Prabu Guru Dewata Prana dari permaisuri. Niat Sri Mangana itu setidaknya terlihat saat terjadi kekisruhan di Pakuwuan Caruban. Saat itu, Ki Danusela, Kuwu Caruban, adalah menantu Ratu Aji Surawisesa. Namun, saat Ki Danusela meninggal secara misterius dan kedudukannya digantikan oleh Rsi Bungsu, putera Ratu Aji Surawisesa, justru Sri Mangana merebutnya dengan kekerasan bersama-sama dengan orang Demak. Bahkan setelah menduduki jabatan Kuwu, Sri Mangana masih belum puas dan meminta kepada ayahandanya agar dianugerahi jabatan Raja Caruban Larang.

Entah yang benar orang-orang Caruban Larang atau orang-orang Galuh Pakuan, orang umumnya hampir tidak peduli dengan pertikaian dua bersaudara tersebut dalam memperebutkan kekuasaan. Hari demi hari orang-orang justru seperti tidak ada bosan-bosannya membicarakan kecantikan, kegagahan, sekaligus kesaktian Nyi Mas Gandasari. Ibarat wangi bunga yang memabukkan kumbang-kumbang jantan, begitulah keharuman nama Nyi Mas Gandasari telah memabukkan banyak lelaki. Namun setiap kali datang kumbang hendak membaui keharumannya, Nyi Mas Gandasari selalu menghalau mereka dengan duri-durinya yang tajam.

Orang bilang jumlah kumbang jantan yang luka tertusuk duri bunga Gandasari sudah tidak terhitung. Di antara beberapa kumbang jantan yang terbanting dari kelopak bunga harum Gandasari yang diingat orang adalah Ki Gedeng Plered, Ki Gedeng Dermayu, Ki Gedeng Pekandangan, Ki Gedeng Paluamba, Ki Gedeng Sindanggaru, Ki Gede Sembung, Ki Gede Bungko, dan Syaikh Magelung.

Sekalipun kesaktian dan keteguhan Nyi Mas Gandasari sudah termasyhur melebihi laki-laki, hati yang tersembunyi di dalam dadanya sesungguhnya tetaplah hati perempuan yang penuh kasih dan kelembutan. Hal itu terlihat tatkala Sri Mangana mengunjunginya dengan mengajak Abdul Jalil. Semula, seperti sikap sehari-harinya dalam menghadapi laki-laki, dia sedikit pun tidak menghiraukan Abdul Jalil. Dia hanya menyongsong ayahanda angkatnya dan mempersilakannya masuk.

Saat Abdul Jalil duduk bersila penuh hormat di hadapannya, Nyi Mas Gandasari tetap tidak menghiraukannya meski dia merasakan suatu sentuhan melintas di hatinya saat sepintas melihat Abdul Jalil. Namun, sentuhan itu ia abaikan karena yang terbayang di dalam benaknya adalah kesan bahwa kehadiran ayahanda angkatnya tentu tidak jauh berbeda dengan kehadiran-kehadiran sebelumnya, yakni memintanya untuk menikah dengan lelaki yang dianggapnya baik.

Namun, anggapan Nyi Mas Gandasari ternyata salah. Saat ayahanda angkatnya menjelaskan bahwa laki-laki muda yang duduk di hadapannya adalah adik yang selalu dirindukannya selama bertahun-tahun, yaitu San Ali, runtuhlah keteguhan bukit karang hatinya yang termasyhur itu. Bagaikan selembar kain jatuh, dia duduk berlutut dan merangkul adik yang dirindukannya sambil menangis tersedu-sedu. Dia menjadi perempuan biasa yang berhati sangat lembut.

Abdul Jalil membiarkan Nyi Mas Gandasari menumpahkan semua gelegak perasaannya. Ia membiarkan jubah di bagian bahunya basah oleh air mata bahagia kakaknya. Ia hanya duduk bersila sambil merenungi liku-liku kehidupan yang dilaluinya yang penuh pergulatan tak berkesudahan dan hampir selalu menampilkan keanehan-keanehan yang tak ia pahami.

Betapa aneh hidup ini jika direnungkan, ujarnya dalam hati. Betapa berbelit hidup ini jika dipikir-pikir. Betapa mengherankan hidup ini jika dibayang-bayangkan. Dan, betapa berat hidup ini jika diingat-ingat lekuk dan likunya. Namun sebagai manusia yang sudah merasakan pahit dan getir hidup hingga mencapai kedewasaan ruhani, aku sadar bahwa hidup adalah untuk dinikmati dan dijalani apa adanya tanpa perlu dipikir-pikir, direnung-renung, dibayang-bayangkan, dan diingat-ingat. Hidup adalah ibarat setitik air yang harus setia pada aliran hukum kauniyah yang menyeretnya ke lingkaran siklus, yaitu menuju ke Muara dan sekaligus Sumber Sejati.

Sri Mangana yang berdiri di belakang Abdul Jalil dan menyaksikan pemandangan mengharukan itu berkali-kali menarik napas berat. Beberapa jenak kemudian dengan terbatuk-batuk kecil ia berkata, �Sekarang sirna sudah kabut kepedihan karena terbitnya matahari kebahagiaan. Engkau, putera dan puteriku terkasih, adalah rembulan dan matahari yang didambakan oleh mereka yang sedang berada di dalam kegelapan. Sebagaimana dambaanku yang ingin melihat kalian berdua sebagai rembulan dan matahari yang ditunggu terbitnya oleh umat manusia pada siang dan malam hari, demikianlah hendaknya kalian berdua memaknai hidup kalian.�

Nyi Mas Gandasari tersadar dia telah cukup lama mengabaikan ayahanda angkatnya. Buru-buru dia bersimpuh menyembah sambil berucap, �Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu. Ananda telah berlaku kurang pantas membiarkan Ramanda Ratu. Ananda memohon ampunan dari Ramanda Ratu.� �

Sudahlah, tidak perlu berbasa-basi,� sahut Sri Mangana duduk bersila di samping Abdul Jalil. �Aku ini ayahanda kalian berdua. Aku tahu, pusaran nasib telah memisahkan kalian berdua. Tetapi, aku berharap kalian berdua, terutama engkau, o Puteriku, untuk bisa berbesar hati menerima kehendak-Nya meski itu sering tidak engkau pahami.� �

Ananda mempusakakan wasiat Ramanda Ratu.� �

Satu hal yang harus engkau ketahui, yaitu adik yang terus-menerus engkau rindukan sekarang telah kembali dengan membawa kemenangan. Maksudku, ia telah berhasil meraih keinginannya yaitu menemukan Kebenaran Sejati. Itu sebabnya, sebagaimana aku, hendaknya engkau pun belajar darinya tentang jalan Kebenaran Sejati.� �

Benarkah demikian, o Adikku,� tanya Nyi Mas Gandasari dengan mata berkilat-kilat penuh harap. �

Maafkan saya, o Ayunda,� Abdul Jalil merendah, �sesungguhnya jalan Kebenaran yang telah saya temukan hanyalah jalan Kebenaran menuju Dia, al-Haqq, Yang Tak Terjangkau Akal dan Tak Tersentuh Pancaindra. Maksudnya, saya tidak memiliki ilmu kesaktian dan kedigdayaan seperti aji-aji kememayam, pangasihan, pangabaran, kapaliyasan, karosan, kateguhan, pangerutan, dan kadewan. Jadi, meski saya mengetahui jalan Kebenaran, saya bukanlah orang yang memiliki kelebihan apa pun apalagi sakti mandraguna.�

Nyi Mas Gandasari tersentak kaget mendengar ujar Abdul Jalil. Sebab, beberapa macam ilmu yang disebut oleh adiknya itu justru merupakan ilmu andalan yang dia warisi dari Sri Mangana dan Ki Gede Selapandan, gurunya. Sambil tersenyum kecut dia berkata kepada Sri Mangana, �Ramanda Ratu ternyata benar. Rupanya, dia bisa mengetahui segala apa yang ada di dalam diri kita. Itukah yang disebut waskita? Weruh sadurunge winara?� �

Karena itulah aku sendiri ingin belajar tentang ilmu Kebenaran Sejati kepadanya.� �

Mohon maaf kepada Ramanda Ratu dan Ayunda,� Abdul Jalil menyela, �sesungguhnya, saya sedikit pun tidak memiliki kewaskitaan untuk bisa mengetahui hal-hal gaib dan kejadian yang akan datang. Sungguh, demi Allah, saya tidak memiliki kemampuan itu. Saya hanya berbicara sesuai �sentuhan rasa� yang saya rasakan di kedalaman relung-relung jiwa saya. Dengan demikian, sesungguhnya saya tidak mengetahui apakah ucapan saya itu mengenai seseorang atau tidak.� �

Justru �sentuhan rasa� yang engkau hamburkan lewat mulutmu itulah, o Puteraku, yang sering menelanjangi orang seorang. Dan sebagaimana telah dialamai orang lain, aku kira kakakmu pun barusan tadi telah engkau telanjangi hingga terlihat jelas semua ilmu yang disembunyikannya. Aku rasa, aku pun tinggal menunggu giliran,� ujar Sri Mangana tertawa.

Abdul Jali tertegun. Sesaat kemudian ia pun tertawa.

Malam terus bergulir bersama putaran roda waktu. Sri Mangana, Nyi Mas Gandasari, dan Abdul Jalil seperti jari-jari roda, ikut berputar dalam pusaran perbincangan; menyeret masa lalu dan menarik masa depan. Sebagai anak negeri yang sudah melanglang buana hingga menjadi salah satu warga Bumi Pasundan yang terbuka cakrawala pandangnya, ia terlihat lebih banyak menguraikan tentang perubahan-perubahan yang bakal terjadi di berbagai negeri di muka bumi. �Tidak terkecuali Bumi Pasundan, akan terlanda prahara perubahan. Itu sebabnya, bagi mereka yang belum sadar dengan datangnya perubahan dahsyat itu pastilah bakal tersapu dari permukaan bumi.�

Read More ->>

AIN AL-BASHIRAH

Ain al-Bashirah

Saat-saat awal ketersingkapan (kasyf) kesadaran jiwa adalah saat-saat yang paling berkesan bagi seorang penempuh jalan ruhani (salik). Dikatakan paling berkesan karena selama melintasi detik-detik terhalaunya gumpalan awan hitam penutup hati (ghain) yang menyesaki jiwanya, seorang salik akan mengalami pengalaman yang tak pernah ia pikirkan dan ia bayang-bayangkan sebelumnya.

Dengan ketakjuban luar biasa, saat itu sang salik akan merasakan pancaran kecermelangan purnama ruhani (zawa�id) melimpahi relung-relung kalbunya yang diliputi pemahaman ruhani (fawa�id). Ia juga akan merasakan betapa menggetarkan dan memesonanya saat mata batin (�ain al-bashirah) dengan kejernihan dan kebeningan kesadaran jiwanya menyaksikan pancaran keindahan bintang-gemintang pengetahuan hati (thawali�) yang tak tergambarkan oleh bahasa manusia.

Ketersingkapan awal seorang salik adalah pengalaman paling menggetarkan yang tidak akan terlupakan. Karena dalam detik-detik dari rentangan waktu itu, kesadaran jiwanya akan menyaksikan gambaran-gambaran matra baru yang serba asing yang dicitrai nuansa pelangi aneka rasa dan aneka warna kebahagiaan. Ibarat hari-hari malam dari cakrawala al-basyar yang gelap diliputi kesunyian, kepedihan, nestapa, dan duka cita, ketersingkapan itu menyembulkan purnama kesadaran cahaya berkah dalam alunan irama musik dan nyanyian ruhani.

Sebagaimana para salik yang lain, saat mengalami peristiwa awal penyingkapan kesadaran jiwa itu, Raden Ketib tercengang-cengang dalam pesona ketakjuban. Bagaikan mengalami peristiwa yang mengguncang jiwa, dalam waktu cukup lama ia masih merasakan betapa kuat kesan itu melekat di relung-relung ingatannya. Ia seperti masih bisa merasakan betapa saat itu seolah-olah bertiup angin yang membadai dan mengamuk dari relung-relung kedalaman jiwanya, menghalau gumpalan awan hitam penutup hati ghain yang menyesaki cakrawala jiwanya. setelah itu, dengan sangat jelas, ia saksikan terbitnya matahari zawa�id yang bersinar gemilang menerangi relung-relung pemahaman fawa�id yang membentang di cakrawala jiwanya.

Meski kesan dari peristiwa itu sangat kuat melekat di relung-relung kedalaman jiwanya, Raden Ketib sendiri sulit menggambarkan dengan bahasa manusia tentang bagaimana sejatinya rangkaian penyaksian dan perasaan yang dialaminya saat detik-detik kesadaran jiwanya itu tersingkap. Ia hanya bisa membandingkan pengalamannya itu ibarat kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Demikianlah ia merasakan kesadaran jiwanya tersingkap. Kemudian, dengan kepak sayap yang indah sang kupu-kupu terbang bebas menyaksikan keluasan dunia baru yang jauh lebih akbar dan menakjubkan dibandingkan dengan kepompong.

Di tengah semerbak wangi bunga-bunga, sejuk udara, dingin embun, dan hangatnya mentari pagi, sang kupu-kupu yang keluar dari kepompong mengepakkan sayap untuk mencari sari madu di antara kelopak bunga sambil memuji keagungan dan kemuliaan Ilahi. Sang kupu-kupu merasa dunianya adalah dunia keindahan dan kesucian yang diliputi keagungan dan kemuliaan. Namun, saat terbang di antara bunga-bunga itulah dengan pandang heran ia melihat � dengan pandangan mata seekor kupu-kupu � kawanan ulat yang ganas dan rakus menggeragoti daun-daun, buah, dan bunga dari Pohon Kehidupan. Ah, betapa rakus. Betapa ganas. Betapa menjijikkan. Tidak ada manfaat apa pun dari ulat-ulat ganas dan rakus itu selain merusak dan membinasakan Pohon Kehidupan. Dan, sang kupu-kupu pun berkata dalam hati, �Sesungguhnya, dari ulat-ulat yang ganas, rakus, dan menjijikkan itulah aku dulu berasal.�

Selama mengalami ketersingkapan itu Raden Ketib merasakan tengara misterius yang mengisyaratkan betapa sesungguhnya awan hitam ghain yang bergumpal-gumpal menyesaki jiwanya itu tidak pernah terhalau tanpa kehendak Yang Ilahi, yakni Dia Sang Pencipta, Yang Berkuasa mutlak memberi petunjuk (al-Hadi) sekaligus Yang Berkuasa mutlak menyesatkan (al-Mudhill) makhluk ciptaan-Nya. Entah apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya, yang jelas sejak mengalami peristiwa itu ia benar-benar merasa gumpalan awan hitam penutup hatinya disibakkan oleh kuasa gaib al-Hadi, seibarat terkuaknya lapisan kepompong saat sang ulat hendak keluar menjadi kupu-kupu.

Pengalaman ruhani adalah pengalaman rasa. Itu sebabnya, Raden Ketib tidak bisa menjelaskan dalam bahasa manusia bahwa sesungguhnya keakuannya tidak ikut campur dalam proses menguak lapisan kepompong saat ia merasakan keberadaan dirinya sebagai kupu-kupu. Ia tidak bisa menjelaskan pengalamannya secara tepat, kecuali mengungkapkan dengan jujur betapa dirinya dalam bentuk kupu-kupu itu telah diserap oleh semacam �daya gaib� yang mendorongnya keluar dari kepompong. Bahkan, saat dirinya telah keluar dari kepompong pun ia hanya bisa mengungkapkan perasaan betapa semua gerak dari kehidupannya sebagai kupu-kupu seolah-olah diarahkan dan dituntun oleh �daya gaib� tersebut.

Ya, �daya gaib� misterius itulah yang sejatinya telah membimbingnya untuk mengenal dan memahani makna kehidupan yang tergelar di hadapannya. Laksana wangi bunga yang menarik penciuman kupu-kupu, begitulah keberadaan �daya gaib� itu telah memesonanya untuk mengepakkan sayap dan terbang. �Daya gaib� itu telah menuntunnya untuk mengenali dan memahami alam semesta tempat hakikat pengetahuan (�ilm) tersembunyi, yang membawanya pada penyaksian (ma�rifat) atas Kebenaran Sejati (al-haqq) sebagai pengejawantahan dari Yang Mahaada (al-Wujud).

Peristiwa penyingkapan kesadaran jiwa yang dirasakan Raden Ketib ternyata menjadi peristiwa yang sangat menentukan perubahan jalan hidupnya. Peristiwa itu tidak saja membuat awan hitam ghain yang menyesaki jiwanya terhalau sehingga purnama pemahaman fawa�id bersinar benderang di cakrawala jiwanya, tetapi ia juga merasakan betapa cakrawala pemahaman baru atas keberadaan segala sesuatu di sekitarnya tiba-tiba terasa membentang luas dan ganti-berganti di hadapannya. Benda-benda yang terhampar di sekitarnya, misalnya, sebelumnya selalu ia pahami sebagai benda mati tak berjiwa. Seiring terkuaknya tirai penutup hati hingga terpancar purnama pemahaman fawa�id, ia tiba-tiba menangkap suatu pemahaman aneh yang mengungkapkan betapa di dalam benda-benda yang terhampar di sekitarnya itu sesungguhnya tersembunyi �bekas jejak� ciptaan yang sama dengan keberadaan dirinya.

Keberadaan makhluk hidup yang selama ini dianggapnya sosok asing yang sama sekali tidak berhubungan dengan dirinya, tiba-tiba disadarinya memiliki �bekas jejak� ciptaan yang sama dengan dirinya. Ia merasa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta; manusia, burung, hewan melata, ikan, tumbuh-tumbuhan, dan semua makhluk hidup tiba-tiba berubah seolah-olah menjadi sesuatu yang memiliki hubungan dengan dirinya. Demikianlah, meski sulit diterima nalar, ia merasakan betapa sesungguhnya keberadaan dirinya menjadi bagian dari semesta benda, makhluk hidup, rembulan, matahari, bintang, tanah, langit, air, dan angin.

Penyingkapan yang dirasakan Raden Ketib ternyata tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap segala sesuatu yang tergelar di alam semesta, tetapi berkaitan pula dengan perubahan liku-liku perjalanan hidup yang dilaluinya. Entah apa yang sesungguhnya telah terjadi dengannya. Kini ia tiba-tiba merasa gerak kehidupannya seolah-olah diarahkan dan dituntun oleh �daya gaib� ke arah yang tidak ia ketahuhi ujungnya. Bahkan, saat menghadapi persoalan rumit pun ia merasakan seolah-olah diarahkan oleh �daya gaib� untuk mengikuti jalan yang sering kali tak pernah dipikir dan dibayangkannya.

Keberadaan �daya gaib� dalam gerak kehidupan itu setidaknya ia rasakan saat ia dililit persoalan rumit yang terkait dengan liku-liku usahanya mengungkap tabir misteri di balik kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sebelum mengalami peristiwa penyingkapan itu, ia merasakan betapa rumit dan berliku-liku jalan untuk menguak misteri Syaikh Datuk Abdul Jalil. Namun, setelah peristiwa menakjubkan itu ia seolah-olah selalu mendapat jalan mudah yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran dan angan-angannya. Tabir gelap misteri kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil yang selama ini tertutup gumpalan awan hitam tebal tiba-tiba bersinar terang di hadapannya, laksana matahari kebenaran yang menginginkan keberadaannya diketahui.

Setelah tabir awal misteri Syaikh Abdul Jalil disingkap oleh Ki Gedeng Pasambangan, tiba-tiba ia merasa dibimbing oleh �daya gaib� misterius ke arah penyingkapan tirai kedua. Yang mengherankannya, tabir kedua itu justru disingkap oleh Pangeran Pamelekaran, kakeknya sendiri. Sungguh, sebelumnya tidak pernah ia bayangkan di benaknya bahwa sang kakek pernah bertemu apalagi sampai memiliki hubungan dekat dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Pangeran Pamelekaran ternyata telah berkali-kali bertemu dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil; bukan hanya dalam peristiwa penyerangan Pakuwuan Caruban, melainkan juga dalam serangkaian peristiwa penting baik di Terung, Surabaya, Demak, Caruban, bahkan di Wirasabha.

Tersingkapnya tirai pertama dan kedua yang menyelubungi kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil ternyata diikuti dengan tersingkapnya tirai-tirai berikutnya. Tanpa pernah menduga sebelumnya ia berjumpa dengan pembuka tirai ketiga, yakni Adipati Cirebon. Sang Adipati merupakan putera almarhum Raja Muda (prabu anom) Caruban Larang, Sri Mangana. Dia ternyata mengenal Syaikh Datuk Abdul Jalil dengan sangat dekat, yang sudah dianggapnya kakak sulung. Adipati Cirebon banyak mengungkap liku-liku perjuangan dan ajaran rahasia yang disampaikan Syaikh Datuk Abdul Jalil, termasuk yang berasal dari penuturan ayahandanya, Sri Mangana.

Tirai keempat tanpa disangka-sangka disingkap oleh Syaikh Maulana Jati, guru agungnya, saat ia diajak Ki Gedeng Pasambangan ke Banten. Sebagaimana kisah yang telah diketahuinya dari penuturan Ki Gedeng Pasambangan, ternyata guru agungnya itu benar-benar mengetahui secara mendalam kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil setelah kembali dari Hindustan. Dari Guru Agung Syaikh Maulana Jati itu pula ia mengetahui bahwa sesungguhnya Syaikh Datuk Abdul Jalil bukan hanya seorang guru manusia, melainkan juga seorang pembaharu yang menata kehidupan masyarakat dengan kaidah-kaidah dan asas-asas yang sama sekali baru pada zamannya. �

Tetapi seibarat matahari yang tak pernah menyisakan pamrih akan kecemerlangan cahayanya saat menerangi dunia, demikianlah Syaikh Datuk Abdul Jalil meninggalkan semua hasil perjuangannya, demi menyongsong datangnya malam indah yang diterangi bulan sabit dan berjuta-juta bintang yang gemerlapan memenuhi penjuru langit,� ujar Syaikh Maulana Jati tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil yang sangat dihormati dan dimuliakannya.

Kebenaran, jika sudah muncul maka ia akan terbit laksana matahari di pagi hari. Pencarian kebenaran tentang kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil yang dilakukan Raden Ketib telah membawanya ke cakrawala pagi saat terbit fajar kebenaran. Bagaikan berada di alam mimpi, tiba-tiba ia merasakan bimbingan �daya gaib� telah mempertemukannya dengan Syaikh Datuk Bardud, salah seorang putera Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia akan bertemu dengan putera guru manusia dan tokoh pembaharu itu. Bahkan, yang lebih membuatnya terheran-heran adalah kenyataan bahwa Syaikh Datuk Bardud selama ini ternyata tinggal di ndalem Pamelekaran bersama kakeknya.

Keberadaan Syaikh Datuk Bardud di kediaman kakeknya sempat memunculkan tanda tanya di benak Raden Ketib tentang sikap kakeknya yang seperti sengaja menyembunyikan putera Syaikh Datuk Abdul Jalil itu. Kenapa tidak sejak awal ia diperkenalkan dengan Syaikh Datuk Bardud? Kenapa ia terlebih dahulu harus diperkenalkan dengan Ki Gedeng Pasambangan? Kenapa keberadaan Syaikh Datuk Bardud di kediaman kakeknya sangat dirahasiakan hingga ia pun tidak diperbolehkan mengetahuinya?

Di tengah kecamuk tanda tanya yang memenuhi benaknya itulah Raden Ketib menjalin keakraban dengan Syaikh Datuk Bardud yang usianya lebih tua sekitar sepuluh tahun. Meski usia Syaikh Datuk Bardud baru sekitar empat puluhan tahun, dia tampak lebih tua. Kumis dan cambangnya yang dibiarkan memenuhi hampir separo wajah mengesankan dia seolah-olah berusia hampir enam puluhan tahun. Selama berbincang-bincang dengan Syaikh Datuk Bardud itulah Raden Ketib menangkap pancaran mutiara kebijaksanaan di tengah samudera pengetahuan yang tersembunyi di kedalaman jiwanya. �

Sebagian orang menilai ayahandaku, Syaikh Datuk Abdul Jalil, adalah manusia besar yang salah tempat dan salah waktu lahir ke dunia sehingga kehadirannya sulit diterima,� Syaikh Datuk Bardud menuturkan kisah kehidupan ayahandanya kepada Raden Ketib. �Namun bagiku, o Adinda, segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan beliau semata-mata adalah rahasia-Nya. Sebab sesuai ajaran beliau, Allah �Azza wa Jalla tidak pernah keliru menempatkan seseorang pada suatu zaman. Dan, lantaran itu saya yakin bahwa kelahiran, liku-liku hidup, bahkan kematiannya adalah semata-mata karena kehendak-Nya.� �

Sungguh telah termaktub di dalam firman-Nya bahwa tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya serta tidak seorang pun perempuan mengandung dan tidak pula melahirkan, kecuali dengan pengetahuan-Nya (QS Fushshilat: 47). Ini bukan berarti bahwa Sang Pencipta hanya menyaksikan segala sesuatu secara pasif, melainkan secara mutlak dan aktif. Dia ikut terlibat di dalam merancang, membentuk, memelihara, dan bahkan menghancurkan seluruh ciptaan melalui ilmu-Nya. Bukankah Dia, Yang Maha Mengetahui, tiada lain adalah Sang Pengetahuan (al-�Alim) itu sendiri?� �

Jika Adinda bertanya-tanya tentang keberadaan saya yang disembunyikan oleh Eyang Pangeran Pamelekaran di kediamannya tanpa sepengetahuan Adinda, pun jika Adinda bertanya kenapa tidak diperkenalkan dengan rakanda sejak awal, maka sesungguhnya hal itu adalah atas kehendak-Nya semata. Sesungguhnya, liku-liku perjalanan Adinda dalam menelusuri jejak kehidupan dan ajaran ayahandaku merupakan bagian dari �jalan� (sabil) yang digelar-Nya. Sebab, jika Dia menghendaki, bisa saja Eyang Pangeran Pamelekaran langsung memperkenalkan Adinda dengan saya sehingga Adinda tidak perlu susah payah menelusuri jejak kehidupan ayahandaku. Namun, Dia menghendaki agar Adinda berjalan melingkar-lingkar dulu dengan berbagai hambatan dan rintangan. Itu berarti, dengan sukarela atau terpaksa, Adinda harus menerima kehendak-Nya tanpa perlu bertanya ini dan itu.� �

Sesungguhnya, menurut ajaran ayahandaku, segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini sudah ditata sangat rapi tanpa setitik pun mengandung kekeliruan. Hanya mereka yang terhijab dari kebenaran-Nya saja yang menganggap kehidupan di alam semesta ini kacau balau tidak teratur. Saya masih ingat bagaimana ayahandaku mengambil ibarat dengan mengisahkan sekumpulan orang buta yang diundang dalam perjamuan agung oleh sang raja.� �

Dalam kisah itu disebutkan pada saat pesta dimulai sekumpulan orang buta yang diundang sang raja datang dan berjalan beriring-iringan. Saat memasuki bangsal agung yang sudah dipenuhi hidangan lezat yang tertata rapi di atas meja, tiba-tiba salah seorang di antara mereka menabrak meja. Tumpah-ruahlah sebagian hidangan tersebut. Sang raja tersenyum. Para undangan juga tersenyum. Namun, orang buta itu marah-marah. Dia memaki-maki para pelayan yang dianggapnya tidak mengatur meja secara benar. Seperti halnya orang buta itu, kawan-kawannya yang juga buta menganggap ruangan itu tidak diatur dengan baik dan benar.� �

Begitulah, Adinda, bagi mereka yang telah tercelikkan mata batinnya (ain al-bashirah) akan memahami bahwa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta sesungguhnya sudah diatur dan ditata secara sempurna oleh Sang Pencipta. (al-Khaliq). Bahkan bagi yang sudah tercelikkan mata batinnya, kehidupan di dunia ini hanya sebuah mimpi yang harus dilampaui seperti saat kita tertidur singkat. Hanya mereka yang sudah tercelikkan mata batinnya saja yang bisa memahami makna kebenaran (al-haqq) di balik kehidupan yang dekat (ad-Dunya) ini.� �

Apakah Rakanda melihat saya tergolong d antara mereka yang sudah tercelikkan mata batinnya?� tanya Raden Ketib meminta penjelasan.

Syaikh Datuk Bardud tersenyum mendengar pertanyaan Raden Ketib. Sesaat setelah itu, dengan bahasa perlambang (isyarat), dia mengatakan bahwa Raden Ketib sesungguhnya telah dapat merasakan dan menerima pesan darinya tanpa melalui bahasa indriawi manusia. Lantaran itu, pertanyaan lisan itu tidak perlu dijawab melalui bahasa indriawi manusia.

Raden Ketib tertegun saat menyadari betapa dirinya dapat menangkap bahasan perlambang yang diungkapkan Syaikh Datuk Bardud. Namun, saat itu pula ia sadar bahwa yang dimaksud Syaikh Datuk Bardud sebagai manusia yang sudah tercelikkan mata batinnya itu tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang telah tersingsingkan awan hitam ghain dari dalam hatinya hingga pemahaman fawa�id-nya dapat menangkap kenyataan yang tergelar di sekitarnya sebagai kebenaran hakiki (al-haqq). Dengan kesadaran itu, Raden Ketib bersyukur bahwa dirinya telah beroleh anugerah tak ternilai berupa ketercelikan mata batin dari kebutaan (zhulman) manusiawi (al-basyar).

Dalam berbagai perbincangan dengan Raden Ketib, Syaikh Datuk Bardud mengungkapkan kesaksian tentang ayahandanya dengan luas dan mendalam. Dia tidak hanya mengungkapkan kesaksian tentang liku-liku kehidupan dan ajaran ayahandanya, tetapi mengisahkan pula tentang siapa saja putera-puteri, sanak keluarga, kerabat, dan pengikut-pengikut utama ayahandanya baik yang tinggal di Caruban Larang, Banten Girang, Jawa, Malaka, maupun Gujarat.

Keakraban Raden Ketib dan Syaikh Datuk Bardud ternyata tidak sekadar dibangun melalui perbincangan mendalam tentang perikehidupan dan ajaran Abdul Jalil. Hubungan itu dilanjutkan pula melalui penguatan tali silaturahmi. Melalui Syaikh Datuk Bardud pula, Raden Ketib pada gilirannya dapat bertemu dengan Raden Sahid, adik seperguruan sekaligus murid ruhani Syaikh Datuk Abdul Jalil yang menjadi Susuhunan Kalijaga (Jawa Kuno: Raja Muda Kalijaga), yang tinggal di Demak. Ia juga diperkenalkan dengan menantu Syaikh Maulana Jati, yaitu Pangeran Pasai Fadhillah Khan, kemenakan Syaikh Datuk Abdul Jalil.

Ibarat pembuktian kebenaran melalui tingkat keyakinan ilmu (�ilm al-yaqin), Raden Ketib secara bertahap merasa setapak demi setapak langkah pencariannya mendekati matahari kebenaran. Entah benar entah tidak penuturan para saksi kepadanya, yang jelas ia telah memiliki cakrawala pandang sendiri tentang bagaimana sesungguhnya kebenaran kisah kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil, Sang Pembaharu itu. Saat ia bersama Syaikh Datuk Bardud menapaktilasi liku-liku perjuangan Syaikh Datuk Abdul Jalil berdasarkan kesaksian para saksi hidup yang mengenal dengan sangat dekat tokoh tersebut, ia seolah-olah terlempar kembali ke masa silam, ke sebuah kurun waktu yang mencengangkan, yakni kurun ketika Syaikh Datuk Abdul Jalil meniti tali sejarah yang membentang di antara dua bukit karang yang tegak di tengah samudera kehidupan yang penuh karang tajam dan empasan ombak mengerikan.

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers