Jumat, 24 Maret 2017

SYAIKH SITI JENAR

Syaikh Siti Jenar

       Setelah memasuki tahun kelima dari perjalanannya di pedalaman Nusa Jawa, sampailah Abdul Jalil di dukuh Lemah Abang yang terletak di kaki utara gunung Mahendra (Lawu) di lembah selatan Bengawan Sori. Di dukuh yang dibukanya barang enam tahun silam itu ia disambut dengan penuh sukacita oleh murid-murid yang sangat merindukannya. Namun, ia memutuskan tidak tinggal di Lemah Abang. Ia tinggal dan mengajar di Siti Jenar, yang terletak di utara Bengawan Sori. Hari-hari pun diliputi oleh semarak para murid yang dengan setia mengerumuninya. Berbeda dengan tampilan keseharian sewaktu ia menggunakan nama masyhur Syaikh Jabarantas, di dukuh Siti Jenar itu ia melepaskan khirqah sufi dan tidak memperkenalkan diri dengan nama Syaikh Jabarantas. Pelepasan khirqah sufi itu terkait dengan peringatan-peringatan yang disampaikan istrinya menyangkut sikap para wiku yang sangat berlebihan menghormatinya, seolah-olah mereka adalah sekumpulan umat yang menunggu sabda nabi panutannya. Para wiku selalu mengiyakan apa saja yang disampaikan Abdul Jalil tanpa ada yang bertanya apalagi membantah.

Bertolak dari peringatan-peringatan istrinya itu, Abdul Jalil tiba-tiba disadarkan oleh cakrawala pemahaman baru yang tersingkap di balik latar sikap para wiku yang terkesan sangat berlebihan itu. Rupanya, semua hal yang terkait dengan penghormatan berlebihan yang dialamatkan kepadanya itu berhubungan dengan khirqah sufi yang dikenakannya dan nama Syaikh Jabarantas yang disandangnya. Tanpa ia sadari sebelumnya, khirqah sufi yang seperti pakaian compang-camping, telah menumbuhkan kesan mendalam di relung-relung ingatan para wiku tentang sosok pertapa suci dari zaman purwakala yang berpakaian compang-camping. Sosok pertapa suci yang terlihat hina, tetapi sangat dihormati manusia dan disegani dewa-dewa. Dialah Bhagawan Dhruwasa (pertapa yang berpakaian compang-camping). Seperti menguatkan kembali sisa-sisa keyakinan umum tentang penitisan, para wiku diam-diam menganggap Syaikh Jabarantas sebagai titisan Bhagawan Dhruwasa, manusia setengah dewa berpakaian compang-camping yang disucikan manusia dn dimuliakan dewa-dewa.

Sadar anggapan keliru para wiku itu bakal mendatangkan masalah yang tidak kalah pelik dibanding nama masyhur Syaikh Lemah Abang di Caruban, Abdul Jalil pun buru-buru melepas khirqah ketika akan memasuki dukuh Siti Jenar. Itu sebabnya, tidak ada seorang pun yang mengenalnya sebagai guru suci termasyhur bernama Syaikh Jabarantas. Kepada para murid yang semula mengenalnya dengran nama Syaikh Lemah Abang, ia meminta untuk tidak menggunakan nama itu lagi. Para murid dan penduduk desa-desa sekitar menyebutnya dengan nama baru sesuai dukuh tempatnya mengajar, yaitu Syaikh Siti Jenar (Jawa Kuno: guru suci dari dukuh Siti Jenar).

Dengan nama baru itu, Abdul Jalil menduga dirinya tidak bakal dikenal oleh banyak orang karena dukuh Siti Jenar berada di tengah hutan dan jauh dari keramaian. Namun, dugaan itu meleset. Sebab, tidak berbeda dengan kebiasaannya selama itu, di dukuh Siti Jenar yang terpencil itu ia tidak pernah berhenti mengajarkan Sasyahidan, belajar mati, menaklukkan setan, dan menjadi adimanusia kepada siapa saja tanpa memandang derajat dan pangkat, sehingga keberadaannya sebagai guru manusia yang ditandai citra berbagai keberlebih-kelimpahan dalam waktu singkat telah menjadi buah bibir penduduk sekitar. Buah bibir itu makin panjang sambung-menyambung ketika orang mengenal bahwa dia, guru suci, yang disebut orang dengan nama Syaikh Siti Jenar, tidak lain dan tidak bukan adalah Syaikh Jabarantas yang juga disebut orang sebagai Syaikh Lemah Abang. Bahkan, sebagian pengikut menyebutnya dengan nama hormat Susuhunan Binang atau Syaikh Sitibrit, yang maknanya sama: guru suci dari Lemah Abang. Lalu, terjadilah sesuatu di luar dugaannya. Bagaikan kawanan anai-anai melihat cahaya pelita, atau kawanan lalat membaui bangkai, atau seperti iring-iringan semut menyerbu gula, penduduk dari berbagai desa di seputar lereng gunung Mahendra dan tlatah timur Pajang berdatangan ke dukuh Siti Jenar untuk beroleh berkah keselamatan dan limpahan kekeramatan.

Seperti pepatah sepanjang-panjang tali masih panjang mulut orang, begitulah kabar kemunculan Syaikh Jabarantas yang menggunakan nama baru Syaikh Siti Jenar bersambung dari satu mulut ke mulut yang lain. Di dukuh Siti Jenar, beribu-ribu orang datang untuk meminta berkah keselamatan dan limpahan kekeramatan kepada seorang guru manusia yang waskita. Para pemuka penduduk dari berbagai tempat berdatangan untuk berguru dan mengambil berkah darinya. Mereka yang datang itu selain kawula alit, juga bangsawan, pemuka penduduk, ruhaniwan, cerdik cendikiawan, dan para brahmin pencari Kebenaran. Orang pun menyaksikan bagaimana manusia-manusia berdarah biru yang unggul dan termasyhur seperti Pangeran Danaraja, Kyayi Ageng Bhuwana Gumelar, Ki Bhisana, Kyayi Ageng Jumantana, Ki Wanabaya, Tumenggung Karanganom, Ki Pringgabhaya, Ki Buyut Sukadana, Ki Buyut Masahar, Ki Buyut Kedawung, dan Ki Gatak berkerumun mengitari kakinya untuk mengambil baiat jalan Keselamatan sebagai murid-murid terkasih. Tanpa kenal pagi, siang, sore, dan malam, orang-orang kebanyakan dari berbagai penjuru negeri datang berdesak-desak dan berkerumun-kerumun berusaha mendekatinya. Sebagian di antara mereka ada yang menyalami dan mencium tangannya. Sebagian ada yang merangkul mencium lututnya. Sebagian yang lain lagi mengusap dan mencium kakinya. Bahkan, tidak kurang di antara orang-orang yang berdesak-desak itu mengambil tanah bekas telapak kakinya yang dianggap mengandung berkah.

Perubahan demi perubahan yang terkait dengan semakin masyhurnya nama Syaikh Siti Jenar sedikit pun tidak disadari Abdul Jalil. Saat kemasyhuran telah mendorongnya ke puncak kemuliaan yang berlebihan dan mendudukkannya sebagai manusia yang diberhalakan, ia belum juga sadar. Ketidaksadaran Abdul Jalil akan keadaan itu sesungguhnya sangat wajar dalam kehidupan ruhani seorang manusia yang sudah melampaui derajat maqam ruhani yang tinggi. Sejatinya jiwanya sudah tergolong jiwa orang-orang yang sibuk tetapi bebas dari kesibukan (al-masyghul al-farigh). Maknanya, jiwa orang seperti Abdul Jalil telah masuk ke dalam golongan jiwa orang-orang yang sibuk membagi keberlebih-kelimpahannya, tetapi hatinya terbebas dari pamrih dan hanya diliputi oleh kehadiran Allah. Allah. Allah. Tanpa sedikit pun berkesempatan untuk berpaling kepada selain-Nya. Itu sebabnya, ia baru sadar jika dirinya diberhalakan manusia ketika istrinya menegurnya dengan keras karena selama berhari-hari ia membiarkan para pengikutnya memperlakukannya secara tidak semestinya.

Sadar apa yang selama ini dihindarinya, diberhalakan oleh sesama manusia, terulang tanpa disadari, Abdul Jalil buru-buru mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan dukuh Siti Jenar, meski ia tahu istrinya sedang hamil tua. Sebelum pergi, ia menyampaikan khotbah Tauhid kepada para murid dan orang-orang yang mengaku pengikutnya.

�Sebelum aku pergi meninggalkan kalian, sangat baik jika aku tinggalkan wasiat kepada kalian, yang dengan wasiat itu kalian tidak akan tersesat dalam menjalani hidup di dunia dan akhirat. Ya, dengan wasiat itu kalian akan selalu berada di Jalan Kebenaran sampai ke hadirat-Nya. Sebab itu, jangan sekali-kali kalian melepaskan wasiat yang aku tinggalkan itu. Pegang erat wasiat itu sebagai pusaka!�

�Pertama-tama, inilah wasiatku, setiap orang harus sadar jika segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini adalah nisbi. Tidak ada yang bersifat mutlak. Lantaran itu, masing-masing orang harus hidup madya (tengah-tengah), ora ngoyo (tidak berlebihan), dan ora ngongso (tidak melampaui batas). Prinsip ini hendaknya kalian jadikan pusaka dalam segala hal yang menyangkut kehidupan kalian, baik yang duniawiah maupun ukhrawiah dan Ilahiah. Dalam kehidupan duniawiah, kalian bisa memaknai prinsip ini dengan kehidupa dunia yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan sehingga membuat orang tertimbun benda-benda kekayaannya. Kalian juga boleh memaknainya sebagai pengekangan terhadap nafsu perut dan nafsu syahwat yang sesuai dengan nilai-nilai kepantasan manusia. Kalian juga boleh memaknainya sebagai pengekangan terhadap ambisi kekuasaan yang membahayakan. Pendek kata, maknailah prinsip madya itu sesuai kemampuan akal budi dan hati nurani kalian masing-masing dengan ukuran keseimbangan dan penghormatan atas Kehidupan.�

�Di dalam kehidupan ruhaniah pun berlaku prinsip madya. Lantaran itu, aku melarang murid-murid dan pengikutku untuk bertapa di gua-gua dan di hutan-hutan, kurang makan, kurang tidur, tidak kawin, tidak bergaul dengan manusia, tenggelam dalam lautan ruhani. Sebab, hak-hak ruhani harus dipenuhi secara pantas. Hak-hak jasmani pun hendaknya tidak diabaikan. Bayarlah hak ruhani dan jasmani secara seimbang. Bukan aku menganggap tidak baik perilaku orang-orang yang meninggalkan keduniawian dengan menjadi pertapa. Semua manusia bebas memilih yang terbaik bagi dirinya. Tetapi, bagi pengikut Syaikh Siti Jenar, hal seperti itu tidak dibenarkan. Hiduplah dengan prinsip tengah-tengah (wasathan), yaitu madya. Madya. Madya. Seribu kali madya.�

�Di dalam pengetahuan tentang Yang Ilahi pun prinsip madya itu hendaknya tetap kalian pusakakan. Sebab, ada di antara umat Islam yang memiliki pandangan berlebihan dalam memaknai Yang Ilahi. Mereka memandang bahwa Allah adalah Zat Yang Mahasuci, Mahasempurna, Mahabaik, Mahakasih. Lantaran itu, dari Allah selalu memancar Kebaikan, Kesempurnaan, Kesucian, dan Kasih. Mereka menganggap mustahil dari Allah bisa memancar ketidakbaikan, ketidaksempurnaan, ketidaksucian, dan kemurkaan. Pandangan semacam itu sah bagi pengikut paham itu. Pandangan itu benar bagi yang meyakininya.�

�Tetapi, dengarlah, o murid-murid dan pengikutku, bahwa aku, Syaikh Siti Jenar, tidak pernah mengajarkan keyakinan yang berlebihan dan melampaui batas seperti itu. Ajaranku tetap bertolak dari prinsip-prinsip madya, wasathan, tengah-tengah. Sebab, jika orang seorang menganggap bahwa Allah adalah Kebaikan, Kesempurnaan, Kesucian, Mahakasih dan dari-Nya tidak bisa memancar ketidakbaikan, ketidaksempurnaan, ketidaksucian, dan kemurkaan maka sejatinya orang tersebut telah terperangkap ke dalam jaring-jaring masalah rumit yang bakal membawanya ke jurang kemusyrikan. Mereka akan menganggap ketidakbaikan dan ketidaksempurnaan berasal dari Zat selain Allah, yaitu kuasa Kegelapan dan Kejahatan. Itu berarti, mereka menganggap ada dua Zat berbeda, yaitu Zat Allah dan Zat selain Allah. Kalau keyakina itu diikuti maka orang akan menolak keberadaan Asma Ilahi yang saling bertolak belakang (al-asma� al-mutaqabilah) yang berujung pada Asma Allah sebagai �keseluruhan yang bertentangan� (majmu� al-asma� al-mutaqabalah). Mereka akan menolak nama Ilahi Yang Maha Menyesatkaan (al-Mudhill), Yang Memberi Kesempitan (al-Qabidh), Yang Maha Menista (al-Mudzil), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), Yang Membinasakan (al-Mumit). Mereka juga akan mengingkari bahwa dunia yang tidak sempurna ini berasal dari Allah. Atau mengingkari bahwa iblis, setan, makhluk-makhluk kegelapan, dan manusia-manusia terkutuk tidak berasal dari Allah. Padahal, sesuai prinsip inna li Allahi wa inna ilaihi raji�un: segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.�

�Dengan memegang teguh prinsip hidup madya ini, sangatlah tidak masuk akal jika kalian sebagai murid-murid dan pengikutku memperlakukan aku secara berlebihan. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan kalian menciumi kakiku, merangkuk lututku, mengusap jubahku, mengelus terompahku, bahkan mengambil tanah bekas telapak kakiku. Itu berlebihan. Itu melampaui batas. Itu thaghut. Itu pemberhalaan yang justru aku tentang selama ini. Sebab, Nabi Muhammad Saw., manusia agung yang menjadi panutanku, selalu menolak diperlakukan secara berlebihan. Dia selalu menampakkan kehambaan dan kerendahatian. Dia selalu berada di tengah-tengah (wasathan). Lantaran itu, mulai saat ini, aku katakan bahwa mereka yang memperlakukan aku atau siapa pun di antara manusia secara berlebihan dan bahkan memberhalakan, maka bukanlah dia itu dari antara pengikutku, apalagi murid ruhaniku.�

Setelah memberikan petunjuk secukupnya kepada para sesepuh di antara murid-muridnya, Abdul Jalil bersama istri meninggalkan dukuh Siti Jenar. Kali ini karena sang istri sedang hamil tua, ia berusaha menghindari desa-desa yang memungkinkan ia singgah dan beroleh penghormatan berlebih yang mengakibatkan istrinya terabaikan. Ia memilih melewati jalan setapak berliku di hutan atau lembah yang tak banyak dilewati manusia. Namun, sepanjang perjalanan yang diliputi kesunyian itu, ia justru merasakan kerinduan yang kuat untuk berbagi keberlebih-kelimpahannya kepada manusia. Ia merasa berat untuk menggenggam tangannya erat-erat dan tidak memberi. Ia merasakan jiwanya seperti mata air berbual-bual yang airnya tidak dapat mengalir karena tertahan tumpukan batu-batu berbalut lumpur kotor.

Ketika jiwanya yang ingin memberi sedang menggemuruh laksana kawah gunung berapi, tiba-tiba Abdul Jalil melihat sesosok manusia muncul dari balik pepohonan dan berdiri tegak di depannya. Wajah manusia itu sangat rupawan dengan memancarkan cahaya berpendar-pendar. Lalu tanpa mengucap salam, dengan suara semerdu kicauan burung, manusia rupawan itu berkata, �Wahai engkau yang telah membagi-bagi keberlebih-kelimpahanmu, hendaknya mulai engkau sadari bahwa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini, sebagaimana pandanganmu, tidaklah abadi. Sebab itu, janganlah engkau menganggap bahwa keberlebih-kelimpahanmu bakal terus langgeng mencitrai dirimu. Ibarat sumur berkelimpahan air yang ditimba oleh banyak orang, suatu saat ia akan kering juga. Bukankah sudah sering engkau saksikan keberadaan sumur-sumur mati tak berair? Lantaran itu, bersiagalah engkau untuk menghadapi akhir-akhir dari masa keberlebih-kelimpahanmu. Engkau harus bersiaga. Siaga. Siaga. Seribu kali siaga.�

Abdul Jalil termangu-mangu menatap manusia rupawan itu. Setelah diam sejenak, ia kemudian berkata, �Jika Allah, Zat Yang Mahakuasa dan Maha Berkehendak mencabut keberlebih-kelimpahan yang dianugerahkan-Nya kepadaku, maka hal itu bukanlah sesuatu yang patut kurisaukan. Sebab telah jelas bagiku: segala sesuatu berasal dari-Nya dan bakal kembali kepada-Nya.�

Manusia rupawan itu tertawa. Lalu, dengan suara sebening tetesan air di malam hari ia berkata, �Sesungguhnya, di tengah kemasyhuran namamu yang mengarah pada pemberhalaan diri itu, engkau sudah menempati kedudukan ruhani orang-orang yang terkucil sendirian (fard), yaitu orang yang mengejawantahkan citra nama Ilahi: Yang Mahasendiri (al-Fard). Dengan demikian, engkau tidak akan bisa lagi membagi-bagi sekehendakmu keberlebih-kelimpahanmu kepada yang lain, kecuali sebatas yang dibutuhkan musafir-musafir yang kehausan. Keberlebih-kelimpahanmu akan menggenang menjadi telaga sunyi rahasia yang hanya diketahui oleh-Nya dan mereka yang dikehendaki-Nya.�

�Jika memang demikian, aku akan membagi-bagikan sisa keberlebih-kelimpahanku sebatas yang aku bisa,� kata Abdul Jalil membalikkan badan, pergi menemui istrinya. Namun, manusia rupawan itu mengejar dan menarik jubahna dari belakang sambil berkata, �Tunggu! Tunggu! Jangan tinggalkan aku! Aku adalah bayanganmu.�

Dengan kesadaran orang-orang yang mencapai derajat kesendirian, Abdul Jalil bersama istri melanjutkan perjalanan. Tanpa kenal malam yang membentangkan selimut hitam dan jalan berliku yang dihiasi batu-batu tajam, ia berjalan tertatih-tatih ke arah barat sambil menuntun istri yang semakin tua usia kandungannya. Setelah berjalan hampir tiga hari, sampailah ia di kediaman Ki Buyut Butuh yang terletak di perbatasan Kerajaan Pajang dan Pengging. Di kediaman Ki Buyut Butuh itulah, saat menjelang subuh, istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Lantaran saat kelahiran puteranya itu Abdul Jalil berada pada kedudukan orang yang sendiri (fard), maka sebagai penanda kedudukannya itu ia menamai puteranya: Fardun.

Sekalipun sudah sadar akan keberadaan diri sebagai orang yang sendiri (fard) serta sudah berbilang keadaan (hal), kedudukan (maqam), dan derajat ruhani (martabat) ia lampaui dengan tingkat-tingkat ketersingkapan kesadaran (kasyf) yang tak terhitung, dalam banyak hal, terutama yang terkait dengan keberadaan diri sendiri, Abdul Jalil sering heran ketika dihadapkan pada masalah rahasia di balik kehendak (iradah) dan kekuasaan (qudrah) )Allah atas dirinya. Sewaktu ia menyadari keberadaan dirinya sebagai orang yang sendiri, orang yang mengejawantahkan citra al-Fard, Yang Mahasendiri, ia justru tidak tahu haris bersikap bagaimana: apakah ia tetap menjadi orang sibuk yang tidak terikat kesibukan (al-masyghul al-farigh), dengan akibat tak terduga bisa disembah orang sebagai manusia berhala, ataukah ia membagi-bagi sisa keberlebih-kelimpahannya lalu mengasingkan diri dari keramaian hidup manusia sebagai telaga sunyi rahasia milik-Nya.

Di tengah keheranannya sebagai orang yang sendiri dan di tengah ketidaktahuan akan apa yang harus dilakukannya itu, tanpa diduga-duga Ki Buyut Butuh datang menghadap dan meminta untuk membaiatnya sebagai murid ruhaninya. Sebagai seorang guru manusia yang selalu melayani dan berbagi, ia tentu tidak bisa menolak permohonan Ki Buyut Butuh. Namun, seiring menyebarnya kabar berbaiatnya Ki Buyut Butuh, datanglah kerabat dan kawan-kawannya sesama buyut yang memohon agar mereka dibaiat sebagai murid ruhani Syaikh Siti Jenar. Di antara para buyut yang mengikuti jejak Ki Buyut Butuh adalah buyut Ngerang, Banyubiru, Tingkir, Banyudana, Susukan, Susuruh, Wanasegara, Pabelan, dan Banyumanik. Tidak berbeda dengan saat tinggal di dukuh Siti Jenar, di Kabuyutan Butuh pun kehadiran Syaikh Siti Jenar ditandai dengan kerumunan-kerumunan manusia yang mencari limpahan berkah dan keselamatan.

Kerajaan Pengging, yang dijadikan persinggahan Abdul Jalil dalam perjalanan berbagi keberlebih-kelimpahan, adalah daerah subur makmur, gemah ripah lohjinawi, yang membentang sejak lembah selatan dan tenggara gunung Candrageni hingga wilayah timur gunung Candramukha, terus ke utara hingga perbatasan Kadipaten Samarang. Meski Pengging hanya negara kecil sempalan Majapahit yang lebih sempit wilayahnya dibanding Pajang, Mataram, dan Pasir Luhur, di bawah kepemimpinan Prabu Adi Andayaningrat, kemakmuran Pengging tidak kalah dibanding ketiga kerajaan tersebut. Bahkan, dalam hal keamanan boleh dikata Pengging sangat kuat dan mantap kecuali wilayah perbatasan Mataram � Pajang � Pasir � Pengging yang seperti tanpa penguasa.

Sebagai sebuah kerajaan, Pengging baru muncul pada paro terakhir abad ke-15 ketika keagungan Majapahit mengalami kemerosotan. Prabu Adi Andayaningrat sendiri, penguasa pertama Pengging, bukan seorang yang memiliki galur kebangsawanan dari maharaja Majapahit. Ia anak Ki Bajul Sanghara, kepala wisaya Semanggi, suatu daerah kabuyutan yang terletak di pinggiran kutaraja Pajang. Meski hanya berkedudukan sebagai kepala wisaya, di tengah kemerosotan Majapahit, Ki Bajul Sanghara sangat berkuasa di wilayah Pajang karena keluarga-keluarga Bajul yang tersebar di sepanjang Bengawan Semanggi hingga Bengawan Sori tunduk di bawah perintahnya. Ki Bajul Sanghara di daerah kekuasaannya ibarat seorang raja kecil yang disegani dan ditakuti oleh kawan maupun lawan.

Ibunda yang melahirkan Prabu Andayaningrat adalah puteri Raden Juru, ksatria Majapahit, adik kandung Patih Mahodara. Sejak kematian istrinya Raden Juru bersama puteri tunggalnya mengasingkan diri sebagai pertapa di kaki gunung Argapura. Ayah beranak itu ingin meninggalkan kehidupan duniawi. Namun, di tengah gemuruh ambisi Patih Mahodara menggalang kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan di Majapahit, kemenakannya itu dinikahkan dengan Ki Bajul Sanghara. Sebuah pernikahan politik yang lazim dilakukan untuk beroleh dukungan dari penguasa Bengawan Semanggi. Pernikahan itu membuahkan hasil seorang anak yang diberi nama Jaka Sanghara. Namun, karena sejak kecil anak itu dilatih olah keprajuritan dan olah kanuragan oleh guru-guru unggul yang sakti mandraguna di Desa Bobodo, yang terletak di kutaraja Pajang, maka ia dikenal pula dengan nama Jaka Bobodo (pemuda dari Bobodo).

Ketika usianya sudah cukup dewasa, Jaka Sanghara pergi ke gunung Argapura untuk berguru kepada kakeknya, Raden Juru, yang mengajarinya ilmu pemerintahan. Setelah dianggap cukup, ia pergi ke kutaraja dan bergabung dengan keluarga ibundanya yang cukup kuat di kutaraja Majapahit. Atas jasa Patih Mahodara, saudara tua kakeknya, ia menjadi salah seorang perwira andalan kerajaan tua yang mulai merosot itu. Selama menjadi perwira Majapahit, ia beberapa kali diikutsertakan dalam tugas menumpas pemberontakan di ujung timur Jawa dan Bali. Dengan dukungan tetunggul-tetunggul keluarga Bajul, Jaka Sanghara berhasil menjalankan tugasnya menumpas kekuatan para pemberontak. Atas jasa-jasanya itu, ia mendapat berbagai anugerah pangkat dan jabatan tinggi, bahkan akhirnya ia diangkat menjadi menantu oleh Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit. Ia dinikahkan dengan puteri bernama Ratu Adhi. Setelah menjadi menantu maharaja, ia dirajakan di Pengging didampingi permaisuri Ratu Adhi yang memberinya dua orang putera: Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga.

Sekalipun Andayaningrat dikenal sebagai raja yang cakap dan memiliki kekuatan militer cukup besar, ia bukanlah seorang yang teguh pendirian. Itu yang menyebabkan ia sering dijadikan ajang tarik menarik di antara pihak-pihak yang bersengketa memperebutkan kuasa dan wibawa di Majapahit. Satu saat ia ditarik oleh kelompok-kelompok kepentingan dari trah Prabu Kertawijaya yang sebagian besar adalah para penguasa pesisir beragama Islam. Di saat yang lain, ia ditarik oleh kelompok-kelompok kepentingan dari Patih Mahodara yang sebagian besar adalah penguasa-penguasa di pedalaman yang bukan muslim. Akibat seringnya ditarik oleh kekuatan-kekuatan yang saling berselisih memperebutkan kuasa dan wibawa, Adi Adayaningrat sering mengorbankan nyawa perwira-perwira dan prajurit-prajurit Pengging untuk membela kepentingan pihak-pihak yang berperang. Sementara, letak Pengging yang merupakan perlintasan antara daerah pedalaman dan pesisir utara telah pula menempatkan wilayah itu sebagai daerah yang strategis, tetapi sekaligus rawan konflik. Wilayah Pengging sangat rentan terhadap pecahnya perselisihan antara penguasa muslim di pesisir dan penguasa bukan muslim di pedalaman.

Sejak berembusnya angin perubahan di pesisir utara Nusa Jawa yang melahirkan tatanan baru masyarakat ummah, yang dengan cepat diikuti oleh penduduk dari kalangan kebanyakan, terjadi kegemparan di kalangan pendeta-pendeta fanatik Syiwa-Buda dan bangsawan-bangsawan Pengging, karena mereka melihat bahaya besar sedang mengintai di balik perubahan yang digagas Syaikh Lemah Abang itu. Secara bahu membahu mereka berusaha menangkis pengaruh perubahan itu dengan membangun �benteng pertahanan�, jalinan kekuatan antara pendeta penguasa ksetra, dukuh, padepokan, dan asrama-asrama dengan pendeta-pendeta kraton dan bangsawan-bangsawan darah biru, untuk menahan arus masuknya pengaruh agama Islam yang sangat deras menerobos ke lapisan terbawah penduduk pedalaman. Namun, di tengah usaha bahu membahu para pendeta fanatik dan bangsawan-bangsawan Pengging itu, terjadi sesuatu yang mencengangkan semua orang: tanpa disangka-sangka dan tanpa diduga-duga, tersiar kabar di keempat penjuru negeri bahwa sejumlah kepala wisaya yang masih terhitung kerabat raja tiba-tiba memeluk agama Islam di bawah bimbingan Syaikh Siti Jenar, seorang guru suci yang membawa ajaran pembaharuan Syiwa-Buda yang disebut Islam.

Seperti sedang menyaksikan pemandangan menakjubkan, para pendeta fanatik dan bangsawan-bangsawan Pengging itu saling pandang, seolah mereka tidak percaya dengan kabar yang didengarnya. Bagaimana mungkin �benteng pertahanan� yang mereka bangun jalin-menjalin di sepanjang perbatasan utara Pengging untuk menahan serbuan pengaruh Islam, tiba-tiba ditembus dari arah selatan? Keadaan itu membuat mereka kebingungan, terutama saat mereka menyadari bahwa orang-orang yang memeluk Islam di tlatah Pengging bukan dari kalangan penduduk kebanyakan, melainkan dari kalangan atas, termasuk kerabat raja, yakni para kepala wisaya yang selama ini dipatuhi dan dijadikan panutan masyarakat seperti raja-raja kecil. Bahkan, mereka menjadi tercengang ketika mengetahui jika Syaikh Siti Jenar sesungguhnya adalah Syaikh Lemah Abang, orang yang menyebarkan gagasan masyarakat umat di pesisir utara.

Ketercengangan para pendeta, terutama pendeta-pendeta kraton, wajar karena mereka sadar bahwa kemunculan tak terduga seorang guru suci bernama Syaikh Siti Jenar, yang belakangan menjadi buah bibir di pedalaman dan bahkan menjadi guru panutan para buyut di Pengging, tidak saja akan mengubah tatanan Kehidupan penduduk di Pengging, melainkan akan mengancam pula kedudukan mereka. Sementara, para bangsawan Pengging pun tidak kurang merasakan ancaman yang berat karena mereka sadar ajaran-ajaran Syaikh Siti Jenar sangat membahayakan kedudukan mereka. Lantaran itu, disatukan oleh kepentingan yang sama, mereka berusaha keras menolak kehadiran Syaikh Siti Jenar di wilayah Pengging. Mula-mula mereka berusaha mempengaruhi raja agar menggunakan kekuasaannya untuk mengusir Syaikh Siti Jenar dari wilayah Pengging. Namun, raja Pengging tidak percaya begitu saja dengan alasan-alasan mereka, terutama setelah mendapat laporan dari nayaka kepercayaannya bahwa guru suci yang dikenal dengan nama Syaikh Siti Jenar itu sebenarnya bernama Syaikh Abdul Jalil, berasal dari dukuh Lemah Abang di Caruban. Raja Pengging tahu pasti siapa guru suci yang belakangan termasyhur dengan nama Syaikh Siti Jenar itu. Lantaran itu, ia justru membuat keputusan yang mengecewakan para pendeta fanatik dan bangsawan-bangsawan yang ketakutan.

�Jika guru suci yang disebut Syaikh Siti Jenar itu adalah Abdul Jalil, orang asal Lemah Abang Caruban, maka dia tidak lain dan tidak bukan adalah kerabatku sendiri. Karena ayahandanya, Ki Danusela, adalah saudara tua istriku. Biarlah dia tinggal di Pengging dan menyebarkan ajarannya di tlatah ini.�

Kecewa karena tidak berhasil mempengaruhi raja, para pendeta dan bangsawan yang bersekutu itu berusaha menghadang kehadiran Abdul Jalil melalui putera mahkota Pengging, Pangeran Kebo Kanigara. Pangeran muda yang dikenal angkuh dan pemarah itu dengan gampang terhasut. Dengan sedikit memuji-muji kehebatan ilmu kesaktian dan kedigdayaan Syaikh Siti Jenar, mereka berhasil membakar api kebesaran diri putera mahkota. Tanpa berpamitan kepada ayahandanya, Pangeran Kebo Kanigara dengan diiringi sepuluh orang pendeta kraton mengajak adiknya, Kebo Kenanga, untuk mencegat Abdul Jalil yang sedang berjalan bersama istri dan anaknya menuju kutaraja Pengging.

Di depan gerbang selatan kutaraja Pengging, Pangeran Kebo Kanigara mendapati Abdul Jalil sedang menggendong puteranya yang berusia kurang dari dua bulan dengan diikuti sang istri. Tanpa basa-basi, dengan dada dikobari kepongahan ia menghadang dan langsung menantang Abdul Jalil untuk mengadu kesaktian.

Abdul Jalil yang tanggap cepat mengetahui jika pangeran muda di depannya itu adalah orang yang angkuh dan pemarah. Ia tidak mau meladeni tantangannya. Sebaliknya dengan suara lembut ia berkata, �Jika ada orang yang menyampaikan berita kepada Pangeran Kebo Kanigara bahwa kami, Syaikh Siti Jenar, adalah orang yang memiliki kesaktian dan kedigdayaan luar biasa, maka itu adalah bohong. Itu fitnah. Perlu Pangeran ketahui, selama kami hidup di dunia, belum pernah kami berkelahi dengan orang seorang. Kami juga tidak memiliki ilmu kanuragan, apalagi kasantikan jayakawijayan. Lantaran itu, kalau Pangeran mau, dengan hanya menjentikkan telunjuk ke tubuh kami, dapat dipastikan tubuh kami akan terpental dan hangus terbakar.�

�Tetapi, nama Tuan Syaikh sangat termasyhur sebagai orang yang tak terkalahkan. Lalu apa yang menjadi kebiasaan Tuan Syaikh sampai para buyut di tlatah Pengging beramai-ramai menjadi pengikut Tuan Syaikh?�

�Terlalu sombong jika dikatakan tak terkalahkan. Soal buyut-buyut yang menjadi pengikut kami, itu lebih terletak pada penghargaan mereka terhadap kelebihan akal pikiran dan pengetahuan ruhani yang dilimpahkan Allah kepada kami,� kata Abdul Jalil merendah.

�Bagaimana kalau kita mengadu keunggulan akal pikiran dan pengetahuan ruhani kita?� tantang Pangeran Kebo Kanigara.

�Pangeran tidak bakal menang melawan kami,� kata Abdul Jalil memancing amarah sang pangeran.

�Tuan Syaikh meremehkan aku,� tukas Pangeran Kebo Kanigara dengan suara ditekan tinggi, �Apa yang membuat Tuan Syaikh yakin bisa mengalahkan aku?�

�Usia kami jauh lebih tua dari Pangeran. Pengalaman hidup kami pun lebih banyak dibanding Pangeran. Tempat-tempat di dunia yang pernah kami datangi lebih banyak daripada Pangeran. Bahkan, dalam hal menyelam di dunia ruhani pun kami merasa lebih dalam.�

�Tapi itu bukan ukuran untuk menduga kemampuan orang seorang. Itu bukan ukuran untuk menilai Pangeran Kebo Kanigara sebagai katak di dalam tempurung,� kata Pangeran Kebo Kanigara berapi-api.

�Tidak perlu menilai berlebihan tentang ucapan kami itu, o Pangeran.�

�Untuk membuktikan itu, kita harus mengadu akal pikiran dan pengetahuan ruhani. Harus. Harus.�

�Apa yang akan Pangeran pertaruhkan dalam adu akal pikiran dan pengetahuan ruhani ini?�

�Apa pun yang Tuan Syaikh inginkan akan aku pertaruhkain: emas, permata, uang, tanah, atau apa? Sebaliknya, apa yang akan Tuan Syaikh pertaruhkan?� tantang Pangeran Kebo Kanigara jumawa.

�Taruhan kami adalah jiwa dan raga kami. Maksudnya, jika kami kalah, kami akan menjadi hamba Pangeran. Hidup dan mati kami akan kami pasrahkan kepada Pangeran sebagai budak, karena kami adalah hamba dan pangeran adalah tuan kami.�

�Lalu taruhan apa yang akan Tuan Syaikh minta dari aku?�

�Mahkota.�

�Mahkota?� sergah Pangeran Kebo Kanigara terkejut, �Apakah Tuan Syaikh ingin menjadi raja?�

�Sama sekali keliru penilaian Pangeran. Kami sedikit pun tidak ingin menjadi raja. Kami hanya menginginkan Pangeran tidak menjadi raja kelak. Sebab, seorang raja yang angkuh dan pemarah akan membahayakan negeri dan kawulanya. Sebaliknya, kami ingin Pangeran kelak menjadi seorang ruhaniwan. Sebab, dengan menempa ruhani, Pangeran akan beroleh keselamatan di dunia dan di akhirat serta negeri pun akan sentosa,� kata Abdul Jalil sambil memandang ke arah Pangeran Kebo Kenanga yang termangu-mangu heran melihat keangkuhan kakaknya.

�Baik, jika itu keinginan Tuan Syaikh. Mulai sekarang ini aku tetapkan bahwa andaikata nanti aku kalah dalam mengadu akal pikiran dan pengetahuan ruhani dengan Tuan Syaikh Siti Jenar, maka mahkota Pengging kelak akan jatuh ke tangan adik kandungku, Pangeran Kebo Kenanga,� kata Pangeran Kebo Kanigara sambil menepuk-nepuk bahu adiknya yang terheran-heran.

Abdul Jalil tertawa. Ia menyerahkan bayi Fardun kepada istrinya dan memintanya untuk menjauh. Setelah itu, ia menghampiri Pangeran Kebo Kanigara dan berkata, �Kami siap menjawab teka-teki yang akan Pangeran ajukan.�

Pangeran Kebo Kanigara terkejut karena Abdul Jalil ternyata seperti sudah mengetahui jika dalam adu kemampuan akal pikiran dan pengetahuan ruhani itu, ia akan mengajukan sebuah teka-teki. Dengan pikiran kacau dan keyakinan diri yang goyah, ia melontarkan juga teka-teki yang sudah disiapkannya.

�Tahukah Tuan Syaikh jawaban dari pertanyaan ini: apakah itu yang luhur melebihi gunung, luas melebihi samudera, terang laksana cahaya matahari siang hari, dan rata laksana padang rumput?�

�Pertanyaan Pangeran, menurut kami, jawabnya terkait dengan keberadaan seorang raja yang arif bijaksana,� kata Abdul Jalil menebak. �Pertama, luhur melebihi gunung adalah gambaran raja yang suka berderma membagi-bagikan harta kekayaan kepada siapa saja yang membutuhkan. Kedua, luas melebihi samudera adalah gambaran raja yang suka memberi ampunan kepada orang-orang yang bersalah dan meminta pengampunan. Ia juga menerima segala kritik dan kecaman, laksana lautan menerima air dari sungai-sungai. Ketiga, terang laksana cahaya matahari di siang hari adaah gambaran raja yang memiliki kesadaran tinggi sehingga dapat menjadi penerang pengetahuan bagi negerinya. Keempat, rata laksana padang rumput adalah gambaran raja adil bijaksana yang memberikan keamanan dan perlindungan kepada seluruh penghuni negeri dan menjadi limpahan keguna-manfaatan bagi siapa saja.�

�Benarlah apa yang Tuan jawabkan pada pertanyaanku,� kata Pangeran Kebo Kanigara dengan tubuh gemetar dan dada naik turun. �Sekarang ganti Tuan Syaikh yang harus memberi pertanyaan kepada aku.�

Abdul Jalil tersenyum dan berkata, �Pertanyaan yang akan kami ajukan sangat sederhana, tetapi tak gampang dijawab. Lantaran itu, kami memberi kesempatan kepada para pendeta yang mendampingi Pangeran untuk ikut serta menjawab pertanyaan kami nanti.�

�Tuan Syaikh meremehkan kemampuan kami?� tukas Pangeran Kebo Kanigara tersinggung.

�Sekali-kali tidak, Pangeran.�

�Baiklah, apa pertanyaan Tuan Syaikh untuk kami?�

�Ada beberapa cara yang saling berbeda dari kemunculan makhluk-makhluk di dunia ini. Tolong jelaskan kepada kami, cara apa saja itu dan disebut apa proses kemunculan makhluk-makhluk di dunia ini.�

Pangeran Kebo Kanigara tercekat kaget. Ia sungguh tidak menduga akan mendapat pertanyaan yang benar-benar belum pernah ia pelajari. Ia merasa sudah kalah sebelum berusaha memikirkan jawaban. Tanpa sadar, ia menoleh ke arah para pendeta yang mengawalnya. Ia berharap mereka dapat membantunya. Namun, para pendeta itu kelihatannya tidak memiliki jawaban pula. Akhirnya, setelah cukup lama terdiam, ia berkata, �Kami tidak bisa menjawab pertanyaan Tuan Syaikh. Kami mohon penjelasan.�

�Ketahuilah, o Pangeran, bahwa kemunculan makhluk hidup di dunia ini melalui tiga cara berbeda yang disebut wetu telu (keluar tiga). Pertama, adalah yang disebut manganak (melahirkan anak). Kedua, adalah yang disebut mangendog (melalui telur). Ketiga, adalah yang disebut masemi (tumbuh). Seluruh makhluk hidup yang memiliki daun telinga, umumnya muncul ke dunia melalui cara manganak. Sedang makhluk-makhluk yang tidak memiliki daun telinga umumnya muncul ke dunia melalui cara mangendog. Dan semua makhluk hidup yang muncul tidak melalui cara manganak dan mangendog, umumnya muncul ke dunia melalui cara masemi,� kata Abdul Jalil menjelaskan.

�Baik, kami kalah satu. Tetapi kami belum menyerah,� kata Pangeran Kebo Kanigara. Lalu, dengan emosi meningkat tetapi keyakinan diri goyah, ia bertanya, �Tahukah Tuan Syaikh akan makna rahasia di balik kata Uninang, Unining, Uninong?�

Abdul Jalil tersenyum dan berkata, �Sungguh tinggi nilai pertanyaan Pangeran. Sebab jawaban dari pertanyaan itu tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Tetapi hanya bisa dibuktikan dengan kenyataan.�

�Aku tidak paham dengan ucapan Tuan Syaikh.�

�Jika kata Uninang dimaknai dengan kata-kata maka jawabannya bisa bermacam-macam tergantung yang menafsirkan. Bisa saja Uninang dimaknai �suara nang-nang� yaitu bunyi kepala botak saat diketuk. Bisa juga Uninang dimaknai �suara inang� yaitu panggilan ibu. Bisa juga Uninang dimaknai �suara kanang� yaitu tangisan. Jadi ada seribu jawaban yang tidak pasti. Padahal, pertanyaan itu harus dijawab dengan satu Kebenaran.�

�Itulah yang aku harapkan, Tuan Syaikh. Satu jawaban!�

�Kami akan menjawab dengan satu Kebenaran. Tapi tidak dengan kata-kata dan bahasa manusia.�

�Bagaimana Tuan bisa menjelaskan kepada aku bahwa itu benar jika tanpa kata dan bahasa manusia?�

Abdul Jalil mendekati Pangeran Kebo Kenanga. Kemudian dengan memegang kedua bahunya, ia berkata, �Maukah Pangeran membantu aku memberi jawaban kepada kakakmu tanpa kata dan bahasa manusia?�

�Kami akan melakukan apa yang kami mampu lakukan, Tuan Syaikh,� kata Pangeran Kebo Kenanga.

�Pejamkan matamu, o Pangeran,� kata Abdul Jalil sambil menutupi telinga Pangeran Kebo Kenangan dengan kedua telapak tangannya.

Semua mata memandang ke arah Pangeran Kebo Kenanga. Semua menunggu apa yang akan terjadi padanya. Dan, semua terperangah seperti mimpi saat menyaksikan Pangeran Kebo Kenanga terhenyak dengan wajah tegang dan keringat dingin bercucuran. Namun sebelum mereka melakukan sesuatu, Pangeran Kebo Kenanga dengan mata tetap terpejam berteriak, �Aku mendengar suara genta berdentang-dentang memenuhi seluruh pendengaranku.�

Abdul Jalil menepuk bahu Pangeran Kebo Kenanga dan memintanya membuka mata. Pangeran Kebo Kenanga dengan sikap seperti meminta perlindungan merangkul erat-erat tubuh Abdul Jalil. Melihat adiknya ketakutan, Pangeran Kebo Kanigara menghardik, �Tuan Syaikh, apakah Tuan menggunakan sihir hingga membuat adikku ketakutan?�

�Pangeran tidak perlu berlebihan curiga. Sesungguhnya, adik Pangeran tadi mendengar suara Uninang, Unining, dan Uninong yang Pangeran tanyakan kepada kami. Di dalam istilah agama kami, itulah yang disebut jaras. Kami tidak bisa menjelaskan apa itu sebab memang tidak bisa dijelaskan. Tapi, sudah menjadi kehendak Hyang Tunggal jika adik Pangeran akan menjadi seorang muslim sejati karena ia telah beroleh risalah Ilahi.�

Pangeran Kebo Kanigara sangat marah dengan penjelasan Abdul Jalil. Ia berusaha menahan sambil terus menghujani Abdul Jalil dengan berbagai pertanyaan dan teka-teki berat, tetapi semuanya bisa dijawab dengan baik oleh Abdul Jalil. Sebaliknya, ketika hari menjelang sore dan pertanyaan-pertanyaan Abdul Jalil tidak ada satu pun yang bisa dijawabnya, maka meledaklah amarahnya. Dengan mata menyala dan dada naik turun, ia memandang para pendeta yang mendampinginya. Kemudian, dengan suara meledak bagai halilintar ia menghardik, �Kalian semua adalah pendeta-pendeta bodoh. Pemalas. Kerja kalian cuma menghasut dan memanas-manasi orang. Kalian jahat. Penuh dengki dan iri hati. Kalian sesungguhnya takut dengan kehadiran Tuan Syaikh Siti Jenar yang ternyata jauh lebih cerdas dan lebih bijaksana daripada kalian. Sungguh malu aku hari ini karena mengikuti hasutan orang-orang bodoh!� Dengan langkah lebar ia mendekati Abdul Jalil dan berkata, �Tuan Syaikh, aku mengakui kekalahanku. Ucapan Tuan Syaikh benar, aku terlalu angkuh dan pemarah. Sesuai petunjuk Tuan Syaikh, aku akan menjadi ruhaniwan. Tetapi, aku tidak akan berguru kepada pendeta-pendeta bodoh seperti mereka. Adakah petuah yang bisa Tuan Syaikh berikan untuk aku?�

�Pangeran,� kata Abdul Jalil lembut, �Pangeran adalah ksatria sejati. Lantaran itu, jika Pangeran akan mendalami kehidupan ruhani, Pangeran pasti akan melebihi orang biasa. Dan perlu Pangeran ketahui, mendalami pengetahuan ruhani tidak harus melalui guru tertentu. Sebab, guru sejati ada di dalam kalbu. Carilah dia. Tanyalah segala sesuatu kepada kalbu Pangeran sendiri.�

Read More ->>

Kamis, 23 Maret 2017

SERPIHAN-SERPIHAN MANUSIA

Serpihan-Serpihan Manusia

      Setelah merasa cukup berbagi keberlebih-kelimpahan di Kabhumian, Abdul Jalil dengan didampingi istri melakukan perjalanan ke arah timur melintasi gunung, bukit, lembah, ngarai, sungai, hutan, dan padang hijau dengan istirahat sekadarnya di desa-desa, dukuh-dukuh, padepokan-padepokan dan asrama-asrama yang berkenan menerima kehadirannya. Laksana seekor sapi membagi-bagi susunya kepada siapa saja yang membutuhkan, ia membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya tanpa sedikit pun meminta imbalan jasa. Dengan ketulusan dalam berbagi, tanpa dikehendaki ia telah menimbulkan perubahan-perubahan pada manusia-manusia di berbagai tempat yang di kunjunginya: perampok, begal, penggarong, maling, pembunuh, dan pelacur yang selama itu dianggap sebagai hama masyarakat, tiba-tiba banyak yang bertobat dan kembali ke jalan yang benar; wiku-wiku yang mengikuti upacara mediksha dengan sukarela mengikrarkan dua kalimah syahadat diikuti upacara memotong kulup kemaluan; beralih fungsinya ksetra-ksetra menjadi kuburan-kuburan penduduk; dan munculnya dukuh-dukuh baru bercitra caturbhasa mandala.

Setelah bulan-bulan dan tahun-tahun berlalu, dalam perjalanan panjang membagi keberlebih-kelimpahannya, Abdul Jalil yang dikenal orang dengan nama Syaikh Jabarantas telah menjadi buah bibir masyarakat. Sejak kawasan barat Pasir Luhur hingga perbatasan Mataram, Pengging, dan Pajang, tidak ada orang yang tidak kenal nama Syaikh Jabarantas yang mengajarkanajaran-ajaran aneh: belajar mati, menaklukkan setan, Sasyahidan, dan menjadi adimanusia. Suatu ajaran aneh yang telah mengobrak-abrik kejumudan dan kemandekan Kehidupan ruhani di pedalaman Nusa Jawa. Bahkan bukan sekadar ajaran anehnya, tapi penampilan, perilaku, dan kekeramatannya yang luar biasa telah menjadikannya dikenal dan dihormati orang dengan sangat berlebihan. Di mana pun ia berada, ia selalu dijadikan pergunjingan yang tak ada habis-habisnya. Hanya saja, keberadaannya yang selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain telah menghindarkannya dari pemberhalaan sebagaimana telah terjadi di Caruban. Penduduk di pedalaman Nusa Jawa kebanyakan hanya satu dua kali melihat sosok Syaikh Jabarantas atau bahkan hanya mendengar nama itu dari cerita mulut ke mulut.

Sebagaimana saat berada di wilayah Pasir Luhur, ketika memasuki wilayah perbatasan Pasir Luhur, Mataram, Pengging, dan Pajang yang membentang sejak lembah selatan pegunungan Dihyang hingga lembah gunung Sindara � Sumbing, di kaki gunung Candrageni (Merapi), dan Candramuka (Merbabu), Abdul Jalil disambut dengan penghormatan berlebih setiap kali datang ke dukuh-dukuh, padepokan-padepokan, asrama-asrama. Namun, di tengah sanjungan dan pujian yang ditujukan kepada dirinya itu, Abdul Jalil menangkap sasmita mengerikan tentang bakal terjadinya azab Allah dalam bentuk bencana dahsyat yang akan melanda wilayah tersebut.

Sepanjang perjalanan memasuki wilayah yang bakal diterjang bencana itu, Abdul Jalil menyaksikan jungkir baliknya tatanan nilai-nilai yang dianut penduduk di kawasan tersebut. Ia menduga, kemerosotan Majapahit yang diikuti tumbuh suburnya kerajaan-kerajaan kecil dan kadipaten-kadipaten gurem yang saling berselisih telah menjadi penyebab utama bagi lahirnya sebuah tatanan baru masyarakat yang kabur dan tidak jelas kekuatan tiang-tiang penyangganya. Kehidupan masyarakat telah teraduk-aduk dan berantakan karena pilar-pilar kekuasaan, hukum, keamanan, dan ketertiban telah runtuh serta hilang tersapu badai keserakahan dan keganasan para penguasa yang berselisih memperebutkan kuasa dan wibawa. Kekuasaan sudah berbaur dengan ketidakteraturan. Hukum sudah bercampur dengan perdagangan. Keadilan sudah sama dan sebangun dengan keberpihakan. Kejujuran telah menyatu dengan dusta. Kebaikan telah bercampur aduk dengan kejahatan. Kebenaran telah tumpang tindih dengan kebatilan. Semua nilai telah kabur. Buram. Gelap. Menyesakkan.

Di tengah perselisihan para penguasa serpihan-serpihan wilayah Majapahit yang sebagian besar telah menjadi kekuasaan-kekuasaan gurem itu, memang terjadi kesepakatan para penguasa untuk membagi wilayah kekuasaan masing-masing dengan batas-batas wilayah yang tegas. Namun, akibat tidak adanya kekuasaan tertinggi yang memiliki kuasa dan wibawa, maka kesepakatan-kesepakatan itu sering kali dilanggar. Lalu, terjadi tumpang tindih dalam pengaturan daerah kekuasaan baik menyangkut batas tanah, pajak, cacah jiwa, administrasi, hingga status warga dan jumlah nayakapraja. Di tengah ketumpangtindihan itu, rakyat sengaja dibiarkan hidup dengan pilihan-pilihannya sendiri, termasuk dalam hal melindungi diri sendiri dari berbagai masalah berat yang seharusnya menjadi kewajiban penguasa. Akibatnya, kerusuhan-kerusuhan kerap kali terjadi, baik dalam bentuk perampokan, penyerobotan tanah, tawuran antardesa, pembunuhan-pembunuhan, dan penjarahan-penjarahan. Para penguasa biasanya pura-pura menutup mata seolah tidak mengetahui keadaan carut marut yang terjadi di wilayah kekuasaannya.

Sebagaimana perilaku alam, seiring perjalanan waktu, tatanan Kehidupan di wilayah yang sarat perselisihan itu telah melahirkan kenyataan hidup manusia yang sesuai dengan dasar-dasar hukum alam: siapa yang kuat akan muncul sebagai pemenang. Di tengah kehidupan yang mirip rimba raya itu, bermunculan makhluk-makhluk mengerikan yang ganas, buas, rakus, dan keji, laksana mayat-mayat hidup bangkit dari kubur bergentayangan menakuti manusia. Atau, makhluk-makhluk buas yang curang, licik, kejam, tamak, dan serakah, laksana kawanan lintah berkeriap dari rawa-rawa mencari manusia untuk diisap darahnya. Atau, makhluk-makhluk pemakan bangkai, laksana kawanan biawak merayap-rayap dengan lidah bercabang terjulur meneteskan liur keserakahan. Atau makhluk-makhluk dekil pemakan sampah, laksana lalat beterbangan menebarkan bau busuk dan penyakit. Makhluk-makhluk ganas itulah yang dikenal orang dengan nama: tuan tanah, lintah darat, pemungut pajak, tukang tagih, centeng, maling, penggarong, pemeras, orang-orang bayaran, dan penjarah. Semua makhluk menjijikkan itu hidup saling membahu, tolong-menolong, manfaat-memanfaatkan, dukung-mengukung, pendek kata saling bekerja sama dengan sesama maupun dengan para penguasa. Mereka membangun kuasa dan wibawa yang menakutkan bagi Kehidupan manusia karena kekuatan mereka saling berjalin berkelindan, laksana dinding-dinding labirin yang berliku-liku membingungkan dan menyesatkan.

Kemunculan makhluk-makhluk mengerikan itu ternyata akibat keadaan tidak pasti yang membuat semua orang saling berlomba memenuhi kepentingan pribadinya masing-masing di luar batas kewajaran. Seperti sedang berpacu mengadu kecepatan, orang-orang berlomba saling mendahului untuk meraih keuntungan pribadi sebesar-besarnya. Siapa yang tercepat akan berada pada urutan terdepan. Dalam perlombaan mengedepankan kepentingan pribadi itu, muncul makhluk-makhluk mengerikan yang membahayakan Kehidupan manusia. Sementara penduduk desa yang selama berbilang abad merupakan orang-orang tangguh yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, ternyata ikut berubah menjadi kawanan makhluk pemalas rakus dan ganas akibat tanah-tanah yang mereka garap secara turun-temurun bergantian dirampas oleh penguasa yang berbeda dari satu waktu ke waktu yang lain. Bagaikan kawanan lalat berkerumun mengitari bangkai yang dimangsa serigala, begitulah penduduk desa-desa yang sebelumnya dikenal sebagai komunitas yang mandiri tiba-tiba menjelma menjadi kawanan pencoleng yang suka menangguk keuntungan di tengah kekacauan. Selama kurun perselisihan yang panjang itu, banyak desa yang semula penduduknya terkenal ramah dan suka menolong tiba-tiba berubah menjadi desa para pelucut mayat. Perangai ramah dan suka menolong serta merta lenyap digantikan wajah seram dari serpihan-serpihan manusia yang suka melucuti barang-barang prajurit yang tewas dalam pertempuran, seperti keris, sarung keris, pedang, sarung pedang, busur, mata tombak, cincin, gelang, dan kantung jimat. Bahkan, yang lebih banyak tumbuh lagi di samping desa-desa pelucut mayat adalah desa-desa penggarong dan penjarah, yakni desa dari serpihan-serpihan manusia ganas pembawa binatang buas yang menjarah dan membiadab di tengah kekacauan.

Melucuti mayat dan menjarah. Kebiasaan yang dilakukan terus-menerus di tengah perselisihan kuasa dan wibawa yang berlangsung berpuluh-puluh tahun akhirnya mewujud menjadi sebuah mentalitas kaum. Sebab, dengan melucuti mayat dan menjarah, segala hal yang sulit menjadi mudah. Segala hal yang rumit menjadi sederhana. Segala hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bukankah di dalam melakukan perlucutan mayat dan penjarahan, orang hanya butuh sedikit kekuatan dan sekeping keberanian untuk melakukan aksinya? Bukankah seorang pemalas dekil pun tidak perlu mengeluarkan tenaga banyak untuk melakukan tindakan perlucutan mayat atau aksi penjarahan? Melucuti mayat. Menjarah. Melucuti mayat. Menjarah. Itulah mentalitas kaum yang terus tumbuh subur baik di kalangan kawula maupun di tingkat penguasa yang hidup di tengah konflik. Semakin porak-porandan dan jungkir balik tatanan nilai-nilai kehidupan yang sudah dirobek-robek perselisihan itu, semakin suburlah mentalitas rendah itu dengan pertanda seringnya pecah kekacauan yang bermuara ke perlucutan dan penjarahan besar-besaran. Demikianlah, di wilayah persilangan Pasir Luhur, Mataram, Pengging, dan Pajang yang ditebari kadipaten-kadipaten gurem seperti Bocor, Taji, Surabhuwana, Pakem, Semanggi, Wanabhaya, Wirasabha, Bhagahalin, Jatinom, Kajoran, dan Tembayat itu nyaris tidak pernah sepi dari kekacauan yang tampaknya sengaja dicipta oleh para penjarah.

Di lembah selatan gunung Candrageni yang selalu mengeluarkan asap, yang menurut penduduk di sekitar gunung tersebut terdapat kerajaan gaib bangsa lelembut, yang dirajai Sang Kala Rudra, yang pada waktu-waktu tertentu menyemburkan lahar panas dari kepundan, terdapat pemukiman penduduk yang tersebar begitu dekat jaraknya satu sama lain. Sejak berbilang abad, kawasan tersebut dikenal sebagai daerah sangat subur karena muntahan lahar dari gunung Candrageni telah menjadi pupuk bagi tanah yang ditebarinya. Lantaran berlimpah kesuburan yang laksana berkah tercurah dari langit, penduduk di kawasan tersebut hidup dalam kemakmuran berlebihan. Namun, sejak ketidakpastian hidup mulai mengambang seiring merosotnya kekuasaan Majapahit, seluruh kemakmuran yang dinikmati penduduk tiba-tiba terampas oleh tangan-tangan kekar bersenjata. Petani-petani penggarap sawah diusir dan tanahnya dirampas oleh orang-orang kuat yang kelak mendudukkan diri sebagai penguasa wilayah. Lalu, seiring menguatnya penguasa wilayah, bermunculan para tuan tanah, pemungut pajak, penagih sewa tanah, tukang kepruk, dan lintah darat. Kemiskinan pun merebak menjadi keniscayaan yang melahirkan manusia-manusia pemalas yang mengedepankan kepentingan pribadi, yang dengan cara sangat ajaib menjelma menjadi serpihan-serpihan manusia dekil berjiwa perampok, penggarong, pencuri, pelucut mayat, pengutil, dan penjarah.

Ketika Abdul Jalil dan istri dalam perjalanan membagi keberlebih-kelimpahan tiba di kawasan lembah selatan gunung Candrageni, ia menyaksikan kejahatan demi kejahatan dilakukan oleh manusia-manusia yang sudah menjadi serpihan-serpihan berjiwa kawanan binatang buas. Yang paling menderita dari keadaan itu tentu saja orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang tak berdaya. Mereka meringkuk ketakutan di sudut-sudut rumah dengan tubuh lemah diterkam rasa lapar dan putus asa. Dengan tatap mata kosong, beberapa ibu yang kurus mendekap mayat bayinya yang sudah kaku. Sementara orang-orang yang masih kuat acapkali terlihat berlari tak tentu arah ketika rumah-rumah mereka dibakar para perusuh yang laksana kawanan serigala haus darah menjarah dan memburu siapa saja di antara manusia yang bisa dijadikan mangsa. Demikianlah, di tengah jerit kematian, pekik kesakitan, dan rintih keputusasaan orang-orang lemah tak berdaya itu, terdengar gelak tawa para tuan tanah, lintah darat, tukang tagih, pemungut pajak, tukang kepruk, para penjarah, dan tentu saja para penguasa bermental penjarah.

Bagi kebanyakan orang yang tinggal di daerah lembah gunung Candrageni dan Candramukha, compang-camping dan porak-porandanya kehidupan penduduk dengan nilai-nilai yang jungkir balik itu dianggap sebagai suatu hal biasa dan bahkan sangat menyenangkan. Namun, bagi Abdul Jalil yang terbiasa berbagi keberlebih-kelimpahan, keadaan itu sangat melukai jiwanya. Ia merasa seolah-olah berdiri di tengah bentangan cermin yang mengelilingi seperti lingkaran. Lalu, di dalam cermin itu ia melihat bayangan mengerikan dari manusia-manusia berkurang-kesusutan yang meraung-raung, melolong-lolong, dan melenguh-lenguh dengan mata menyala dan liur menetes, ingin melahap mangsa. Betapa mengerikan bayangan makhluk-makhluk buas berwujud manusia itu karena mereka lebih ganas dan lebih liar dibanding binatang paling buas. Mereka tidak takut kepada sesuatu karena di dalam diri mereka bersembunyi sesuatu yang sangat menakutkan manusia.

Sesungguhnya, sebagai makhluk hidup, serpihan-serpihan manusia itu memiliki naluri rasa takut. Sebab sebuas dan seliar apa pun makhluk hidup, entah itu manusia atau binatang, tidak akan pernah dapat membebaskan diri dari naluri rasa takut. Demikianlah, serpihan-serpihan manusia dekil berkurang-kesusutan yang dari waktu ke waktu mengumbar kejahatan demi kejahatan itu ternyata lehernya dililit oleh rantai-rantai rasa takut, yang diikat pada tiang api raksasa di puncak gunung Candrageni, yang merupakan singgasana Sang Kala Rudra. Rasa takut kepada Sang Kala Rudra itulah yang membuat mereka dapat berubah menjadi kumpulan dari serpihan manusia yang dengan takzim mempersembahkan sesaji kepada penguasa gunung serta mematuhi pantangan-pantangan, terutama di saat mereka menangkap tanda-tanda kemarahan Sang Penguasa Gunung.

Sementara, tercekam oleh penderitaan manusia akibat kejahatan manusia lain, Abdul Jalil berusaha memberi peringatan kepada semua orang agar mereka sadar bahwa tindak kejahatan yang mereka lakukan dengan semena-mena itu telah membuat Yang Mahakuasa murka. Dengan cara yang aneh, muncul mendadak seperti orang terbawa tiupan angin, ia datang ke tengah para pendeta dan pemuka penduduk yang sibuk mengadakan upacara persembahan bagi Sang Kala Rudra, penguasa gaib gunung Candrageni, yang belakangan terlihat murka dengan pertanda terbatuk-batuk dan menggeram-geramnya sang gunung. Ketika semua terheran-heran dengan kemunculannya yang aneh itu, Abdul Jaliln dengan cara yang aneh pula menyatakan bahwa ia adalah punggawa kraton gaib gunung Candrageni, yang diutus Sang Kala Rudra untuk memperingatkan manusia.

Di tengah rasa takut yang sedang menerkam, dengan menunjukkan sedikit kekeramatan yang menakjubkan, Abdul Jalil berhasil meyakinkana para pendeta dan pemuka penduduk. Mereka yang meyakini bahwa dewa-dewa sering muncul di dunia dalam wujud manusia, benar-benar yakin jika manusia yang berpakaian compang-camping yang datang dengan cara aneh dan mampu menunjukkan kesaktian itu adalah punggawa kepercayaan Sang Kala Rudra. Dengan penuh ketundukan dan kepatuhan, mereka menyembah dan kemudian duduk takzim bagaikan nayaka sedang menunggu sabda rajanya.

Sadar orang-orang sudah meyakini dirinya adalah punggawa kepercayaan Sang Kala Rudra, Abdul Jalil kemudian memberikan wejangan-wejangan yang intinya adalah peringatan dan ancaman kepada para pelaku kejahatan yang telah membuat murka Penguasa gunung, sungai, hutan, lautan, dan langit. Dengan suara nyaring laksana jeritan camar di tengah deburan ombak lautan, ia berkata dengan suara lantang diliputi wibawa yang aneh.

�Dengar! Dengarlah sabdaku, o pemimpin-pemimpin manusia yang tinggal di wilayah kekuasaanku! Bukalah telingamu lebar-lebar sebelum aku tusuk dengan batang bambu! Camkan peringatan yang aku sampaikan ini! Pertama-tama, untuk apa engkau sekalian melakukan upacara persembahan kepada Tuanku, Sang Kala Rudra, dengan cara berlebihan? Untuk apa tumpeng, ayam panggang, domba sembelihan, arak wangi, dan dupa harum engkau suguhkan untuk Tuanku, jika apa yang kalian persembahkan itu adalah hasil rampokan dan jarahan? Apakah kalian menganggap Tuanku pemimpin perampok yang memerintahkan kalian untuk merampas dan menjarah? Sungguh, persembahan kalian adalah penistaan dan kejijikan bagi Tuanku. Sungguh, perayaan upacara yang kalian adakan ini adalah suatu kejahatan yang memalukan bagi Tuanku.�

�Dengar! Dengar sabdaku, o manusia-manusia memuakkan. Telah bertahun-tahun Tuanku menahan murkanya atas penghinaan yang kalian lakukan. Tuanku muak melihat kalian. Muak. Muak. Seribu kali muak. Sehingga, kalau Tuanku mendapati kalian menengadahkan tangan untuk berdoa kepadanya maka dia akan memalingkan muka dan menutup telinganya. Dia tidak akan mendengar doa kalian. Sebaliknya, dia murka dan akan menebarkan kemurkaannya atas kalian semua. Tanpa kenal orang tua, perempuan, anak-anak, dan bahkan bayi sekali pun, dia akan mencurahkan amarahnya ke atas kepala tiap-tiap makhluk hidup di sekitarnya. Dia, Sang Kala Rudra, Penguasa Waktu, akan turun kepada kalian dalam wujud Yama, Sang Maut, Yang Maha Membinasakan. Dia akan menyaksikan Kebinasaan manusia akibat kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan.�

�Sekarang dengarkan! Dengarkan, o manusia-manusia jahat. Jika kalian ingin selamat dari murka Tuanku maka ikutilah apa yang aku tunjukkan ini: pertama-tama, sucikanlah dirimu dari semua perbuatan jahat. Lalu, dermakan semua harta benda yang telah kalian kumpulkan dengan cara tidak hak itu kepada mereka yang membutuhkanu. Berbuat baiklah dengan menolong siapa saja di antara manusia yang membutuhkan pertolongan. Lalu, tegakkan keadilan dan cegah orang-orang dari perbuatan jahat. Lindungi orang-orang tua tak berdaya. Bela hak anak-anak yatim dan terlantar. Perjuangkan hak janda-janda tua dan orang-orang tertindas. Berikan keberlebih-kelimpahan yang kalian miliki kepada siapa saja di antara makhluk yang membutuhkan. Lalu, jangan sekali-kali kalian melakukan upacara persembahan untuk Tuanku lagi. Sebab, Tuanku telah berkata kepadaku bahwa Dia jijik dengan persembahanmu. Sebaliknya, Dia menginginkan kalian untuk menyembah-Nya dalam perwujudan Sanghyang Taya, Hyang Tunggal, Tuhan sesembahan leluhurmu sejak awal zaman. Kembalilah kalian kepada jalan Kebenaran yang pernah diajarkan Danghyang Semar beribu tahun silam.

Kembalilah kalian kepada ajaran Kapitayan. Tinggalkan upacara-upacara tak berguna yang menista Tuanku. Upacaramu itu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi malah menurunkan bencana dahsyat bagi kalian.�

�Jika kalian ikuti petunjukku maka kalian akan selamat dari murka Tuanku. Sekalipun kesalahan kalian sudah sehitam jelaga, jika mengikuti petunjukku dengan benar maka kesalahan kalian akan dibersihkan dan disucikan seputih kapas. Jika kalian mau mendengar dan menuruti petunjukku maka kelimpahan yang Tuanku berikan akan semakin bertambah-tambah. Tetapi sebaliknya, jika kalian menentang dan melawan petunjukku maka kalian akan dimangsa oleh naga api raksasa yang bakal keluar dari kraton Tuanku. Sekarang dengarkan dan ikuti seruanku: seibarat kecepatan awan yang berarak ditiup angin kencang, begitulah engkau dengan keluargamu hendaknya pergi jauh-jauh dari wilayah kekuasaan Tuanku! Pergilah kalian menjauh dari tempat ini karena murka Tuanku sudah tidak tertahankan lagi. Dia akan menumpahkan murka-Nya ke empat penjuru negeri.�

Tiap-tiap umat memiliki ajal. Jika ajal suatu umat sudah datang menghampiri, waktunya tidak dapat diundur atau dimajukan. Sebagaimana keniscayaan hukum kehidupan, suatu umat yang sedang menunggu ajal selalu menampakkan tanda-tanda yang nyaris sama: mata nuraninya buta, telinga jiwanya tuli, lidah kebenaran-hatinya bisu, cakrawala kesadaran ruh manusiawinya tertutup gumpalan kabut pekat kejahilan. Sehingga, tidak seberkas pun keindahan wejangan yang dapat mereka lihat, tidak secuil pun kemerduan nasihat dapat mereka dengar, tidak sekerat pun kelezatan petunjuk dapat mereka nikmati, dan tidak sebersit pun bentangan cahaya Kebenaran dapat mereka ketahui. Mereka seperti orang buta, tuli dan bisu yang berada di dalam sel penjara yang gelap sehingga seberkas apa pun orang berusaha mengingatkan mereka tentang terangnya Kebenaran pastilah tidak akan mereka hiraukan.

Sebagai seorang manusia yang memiliki kepekaan dalam membaca tanda-tanda Kehidupan, Abdul Jalil sebenarnya menangkap sasmita bakal terjadinya bencana sejak kali pertama ia menginjakkan kaki di tanah yang dikerudungi kabut kejahatan. Keluh kesah penduduk tentang serbuan hama tikus dan belalang di sawah-sawah, disusul serangan penyakit ganas yang menewaskan ternak, dan disambung terjangan angin puyuh yang merusakkan tanah pertanian dan pemukiman, adalah tengara awal yang ditangkapnya tentang bakal terjadinya bencana dahsyat di daerah itu akibat kejahatan manusia. Ia tidak terkejut ketika kemudian mendapati kejahatan demi kejahatan yang dilakukan manusia-manusia dekil dan yang sudah buta nurani, tuli jiwa, dan bisu batinnya itu tergelar di depan matanya. Ia hanya merasakan dadanya sesak ketika dari waktu ke waktu menyaksikan ruh kejahatan terus datang membadai dan sambung-menyambung, menyelimuti jiwa manusia laksana embusan angin menggiring gumpalan awan yang bakal menghamburkan prahara; badai Kematian ganas yang ditunggangi Sang Maut, Penguasa Kematian, Pembinasa Yang mengangkat cakar-cakar Kehancuran dan akan menyantap nyawa semua makhluk yang ditemui-Nya.

Di tengah kebutaan mata hati, ketulian telinga batin, kebisuan lidah ruhani manusia yang sudah menghitam, di antara kejahatan yang tercurah laksana hujan deras dari langit, Abdul Jalil dengan diikuti tiga puluh sembilan orang yang meyakini ucapannya, yang kesemuanya adalah orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang lemah, berjalan beriringan tersuruk-suruk melewati pematang sawah, jalan setapak, semak belukar, hutan, bukit-bukit terjal dan menyeberangi sungai-sungai berair deras. Tanpa mempedulikan rasa lelah yang melumpuhkan jaringan otot tubuh dan rasa lapar yang menerkam perutnya, ia dan istri terus berjalan cepat dan secara bergantian menggendong anak-anak yang menangis ketakutan mendengar raungan gunung Candrageni yang menggemuruh. Ia berjalan sambil sesekali berteriak, menyemangati orang-orang yang mengikutinya agar tidak putus asa, meski kelelahan dan kelaparan telah menguras habis tenaga mereka. �Jangan putus asa! Teruslah bergerak! Bergerak! Ingat, di belakang kita Sang Maut sedang menggeliat dan akan memangsa siapa saja yang berada di dekat-Nya. Sedikit saja terjadi keterlambatan dari gerakan kita, tidak syak lagi, kita akan menjadi santapan-Nya. Ayo percepat langkahmu!� seru Abdul Jalil memapah seorang orang tua yang lemah kehabisan tenaga.

Setelah berjalan beberapa lama, Abdul Jalil beserta orang-orang lemah yang mengikutinya mencapai lembah Martani, yang membentang antara sungai Kuning dan sungai Gendol di kaki selatan gunung Candrageni, terjadilah peristiwa mengerikan yang sudah mereka tunggu dengan cemas: sebuah gempa dahsyat tiba-tiba mengguncang bumi sekeras-kerasnya diikuti runtuhnya bangunan-bangunan dan hiruk pikuk manusia yang bergelimpangan di atas tanah. Lalu, jerit kepanikan sambung-menyambung di tengah suara gemuruh runtuhnya segala sesuatu. Suasana mendadak berubah sangat mencekam dan menegangkan. Bayangan Kematian berkeliaran mengejar setiap jiwa. Wajah Sang Maut yang mengerikan menyeringai sangat menyeramkan, seolah kelaparan dan ingin melahap jiwa-jiwa yang ketakutan melarikan diri dari amukan alam. Ke mana pun manusia menghadapkan wajah, di situ mereka menyaksikan wajah Kematian yang tak tergambarkan dahsyatnya.

Ketika guncangan gempa yang dahsyat mulai mereda, semua orang yang selamat dari runtuhan bangunan-bangunan ambruk dengan kepala pening dan tatap mata kabur berhamburan keluar, berjalan hilir-mudik tak tentu arah, berlari kebingungan memanggili anak-anak, istri, suami, saudara, orang tua, dan handai taulannya. Arus manusia tiba-tiba berpusar dengan cepat di bawah seringai wajah Kematian. Kepanikan tersebar di mana-mana laksana air lautan di aduk-aduk gelombang. Manusia-manusia yang jiwanya sudah menjadi serpihan-serpihan tidak dapat berbuat sesuatu kecuali berlari. Berlari. Berlari tanpa tahu ke mana arah hendak dituju karena ke mana pun mereka berlari, bayangan Kematian terlihat menunggu mereka di ujung jalan.

Sementara, Abdul Jalil dan orang-orang yang mengikutinya yang sudah mengetahui bakal terjadi bencana, terlihat jauh lebih tenang. Mereka tidak sebingung dan sepanik orang-0rang yang tak mengetahui bakal terjadinya bencana tersebut. Saat orang-orang berlarian tak tentu arah menyelamatkan diri atau mencari sanak-keluarganya, mereka dengan tenang berjalan beriringan ke arah timur menuju perbatasan Pajang yang jauh dari jangkauan gunung Candrageni. Belum lagi mereka cukup jauh berjalan, tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuat semua mata terbelalak dan semua mulut bungkam: sebuah ledakan dahsyat terdengar dari puncak gunung diikuti suara gemuruh dari semburan lahar berapi yang menjulang tinggi laksana tiang raksasa menggapai langit. Sekejap kemudian, tiang api raksasa itu tumbang ke bawah menjadi cairan lahar berapi yang turun ke lereng dengan suara mengerikan, berpacu mengadu kecepatan bagaikan kawanan raksasa api berkejaran dan berlompatan saling mendahului, membentuk aliran merah membara, dan menjelma dalam wujud naga api raksasa yang merayap ganas, menyantap segala sesuatu yang dilewatinya. Dalam beberapa jenak, pada bekas jejak naga api raksasa itu terlihat beribu-ribu batang pohon tumbang yang hangus, kayu-kayu hitam menyala berserakan, mayat-mayat sehitam arang yang tak karuan lagi bentuknya, desa-desa yang rata dengan tanah dan mengepulkan asap, dan sayap-sayap Kematian yang terentang gagah menaungi kabut Kebinasaan yang bergumpal-gumpal memenuhi cakrawala.

Tanpa peduli Kebinasaan yang memporak-porandakan Kehidupan makhluk, Abdul Jalil dan orang-orang yang mengikutinya terus bergerak menerobos kegelapan debu yang menyelimuti permukaan bumi sambil terus mengagungkan kebesaran Ilahi. Dengan keyakinan bahwa Kebinasaan yang menghambur dari gunung Candrageni itu senapas dengan Kebinasaan yang pernah melanda kaum �Ad dan kaum T�samut di zaman Nabi Luth a.s., ia mewanti-wanti semua orang untuk tidak menoleh ke arah bencana. �Arahkan kiblat hati dan pikiran kalian hanya kepada-Nya! Jangan menoleh-noleh ke samping atau ke belakang! Barangsiapa yang melanggar akan binasa dimangsa Sang Maut.�

Sekalipun sejak awal sudah mengetahui bakal datangnya bencana, dalam perjuangan keras membawa orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak untuk menghindar dari amukan gunung yang marah, Abdul Jalil merasakan jiwanya dicekam ketegangan yang membuat tubuhnya basah kuyup diguyur keringat dingin. Sebab, secepat apa pun usaha yang dilakukannya untuk membawa orang-orang yang kelelahan dan kelaparan itu menjauh dari bencana, tak urung ia harus berhadapan dengan hambatan-hambatan yang sangat berat dan menekan terutama menyangkut kelambanan gerak. Sampai saat lahar berapi yang membludak dari puncak gunung laksana naga api raksasa itu meluncur ke bawah, melahap segala sesuatu yang menghadang jalannya, Abdul Jalil dan mereka yang mengikutinya masih berada di daerah aliran lahar. Ibarat sekumpulan anak-anak yang kelelahan dikejar naga api raksasa, begitulah mereka berlari terseok-seok, jatuh bangun diikuti aliran lahar berapi yang melaju cepat dengan suara gemuruh.

Kejar-mengejar antara aliran lahar berapi dengan Abdul Jalil dan mereka yang mengikutinya berlangsung sangat seru. Tanpa mempedulikan rasa sakit akibat terjatuh atau rasa lelah dan kehabisan napas, mereka berlari untuk menjauhi kejaran lahar berapi yang membinasakan. Namun, apalah daya orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang sudah lapar dan kelelahan. Jarak mereka dengan lahar berapi makin lama makin dekat sehingga gemuruh amukan sang naga api raksasa itu dapat mereka dengar, seolah-olah berada di belakang punggung. Kekuatan mereka nyaris habis manakala tebaran panas dari naga api raksasa itu mereka rasakan mulai menyengati tubuh. Sewaktu jarak mereka dengan aliran lahar berapi itu sudah sangat dekat, kira-kira sekitar tiga puluh tombak, Abdul Jalil tidak melihat kemungkinan lain untuk menghindar. Ia sudah membayangkan terjangan lahar berapi itu akan melahap dan melumat para pengikut dan bahkan dirinya.

Manusia boleh berusaha, tetapi Tuhanlah penentu segala. Saat bayangan Kematian sudah mengambang di permukaan bumi dan wajah-Nya menyeringai sangat menyeramkan di depan mata, tiba-tiba Abdul Jalil melihat secercah cahaya Kehidupan bersinar di atas sebuah bukit kecil yang tegak di sisi sebalah kirinya. Seperti digerakkan oleh kekuatan tak kasatmata, ia tiba-tiba saja berhenti dan memerintahkan orang-orang untuk berbelok arah, bergerak menyilang ke sisi kiri bukit yang memiliki jalan setapak menanjak ke tebing. Orang-orang yang panik dan hanya melihat Abdul Jalil sebagai satu-satunya penyelamat yang harus mereka ikuti tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti perintah panutannya. Mereka berlari sekuat kuasa dengan sisa-sisa tenaga terakhir. Lalu, terjadi suatu keajaiban: pada saat semua sudah mencapai puncak bukit yang terletak di sisi timur sungai Gendol di dekat tempuran sungai Opak, sampailah ujung lahar berapi itu ke sisi-sisi bukit dan menerjang segala sesuatu di aliran sungai dengan suara gemuruh. Aliran lahar berapi yang membinasakan itu meluncur ganas dan hanya berjarak sekitar sepuluh tombak dari atas bukit tempat Abdul Jalil dan pengikutnya berada.

Abdul Jalil yang tengah termangu-mangu menyaksikan hasil amukan alam yang menyisakan Kebinasaan mengerikan di sekitarnya, tiba-tiba dikejutkan oleh penglihatan batin yang membuat jantungnya berdentam-dentam dan aliran darahnya tersirap. Nun jauh di gugusan pantai selatan yang membentang di selatan kutaraja Mataram, terjadi Kebinasaan lain yang tidak kalah dahsyat ketika sebuah gempa mengguncang samudera dan memunculkan barisan gelombang besar yang bergerak hiruk-pikuk sangat mengerikan menerjang pantai, menjelma dalam wujud naga air raksasa yang menjulur ke tengah daratan dengan mulut ternganga, menyapu segala sesuatu yang dilewatinya, dan sewaktu kembali ke tengah lautan telah menyisakan bekas jejak menggiriskan: rumah-rumah berantakan dan rata dengan tanah, pohon-pohon tumbang bergulingan, pedati dan kereta bergelimpangan, sampah-sampah membukit, air berlumpur yang menggenang, mayat-mayat manusia berserakan, dan jiwa-jiwa yang beterbangan ke langit.

�Ya Allah, hamba berlindung dari murka-murka-Mu. Hamba percaya bahwa kasih-Mu lebih besar dari murka-Mu. Lindungilah kami, o Sang Pelindung!� seru Abdul Jalil di tengah gemuruh amukan Sang Maut. Namun, belum lagi bayangan Kematian terhapus dari penglihatan batinnya, ia menyaksikan bayangan Sang Maut berkeliaran ganas di antara garis langit dan permukaan bumi. Seperti belum puas dengan amukan naga api dan naga air raksasa yang menghamburkan Kebinasaan, murka Tuhan muncul lagi dalam wujud amukan naga tanah raksasa yang menyeruak di tengah kegelapan. Seiring tumpahnya air hujan dari langit yang meluapkan sungai-sungai dan meggenangi puluhan bukit dan lereng gunung, menjelmalah butir-butir air hujan yang lembut itu menjadi kawanan raksasa tambun yang tidak dapat bergerak karena tertahan bongkahan lahar berapi yang sudah padat. Tidak kuat menahan beban yang makin berat seiring makin tambunnya raksasa-raksasa air yang bergelantungan di punggungnya, runtuhlah tebing-tebing puluhan bukit itu ke bawah dengan suara gemuruh, menjelma menjadi naga tanah raksasa yang bergerak cepat menerjang pohon-pohon, hutan-hutan, lembah-lembah, padang hijau, sawah-sawah, desa-desa, rumah-rumah, dan semua makhluk yang berada di jalur lintasannya. Dalam sekejap, beribu-ribu manusia hilang tertelan di dalam perut naga tanah raksasa yang mengganas tak kenal ampun.

Ketika hari menjelang sore dan Abdul Jalil berdiri di atas bukit dikerumuni orang-orang yang mengikutinya, orang-orang meyakini bahwa dirinya adalah dewa yang turun ke dunia untuk menyelamatkan mereka. Dengan tatap nanar ia memandang Kebinasaan yang terhampar di sekitarnya. Setelah diam beberapa lama, ia dengan suara lain yang aneh berkata, menasihati orang-orang yang begitu mencintai dan memujanya.

�Wahai sahabat-sahabatku! Sesungguhnya, kita baru saja terhindar dari sergapan Sang Maut dan sekarang ini kita saksikan bersama padang Kebinasaan yang dipenuhi potongan dan serpihan tubuh manusia yang hangus menghitam. Aku tidak tahu apakah serpihan-serpihan itu tubuh manusia atau bangkai hewan karena semua tidak karuan lagi bentuknya. Semua sudah menjadi sekadar gumpalan atau serpihan daging hangus. Semua kecantikan, kemolekan, ketampanan, kegagahan, keperkasaan, dan kesempurnaan jasad ragawi manusia telah hilang, digantikan gumpalan-gumpalan daging hangus tak berharga. Tak berharga. Tak berharga. Seribu kali tak berharga.�

�Inilah pemandangan mengerikan bagi manusia yang memiliki penglihatan batin. Sebab, jauh sebelum pemandangan mengerikan ini terjadi sebagai kenyataan, mata batin mereka telah menyaksikan terlebih dahulu pemandangan ini. Mereka sudah menyaksikan keberadaan serpihan-serpihan jiwa manusia yang terkoyak-koyak dan hangus terbakar sehitam jelaga. Mereka sudah menangkap sasmita tentang bakal terjadinya Kebinasaan mengerikan karena Penguasa dunia tidak sudi lagi melihat citra-Nya berantakan menjadi serpihan-serpihan ragawi yang kehilangan jiwa insani. Lantaran itu, hendaknya kalian mengingat bahwa kemuliaan ragawi yang selama ini diagungkan oleh kaum sebangsamu, pada dasarnya tidak lebih dari kemuliaan palsu, ibarat cerminan azab neraka yang memantul ke dunia. Semakin kuat seorang manusia ingin mewujudkan Kehidupan surga di dunia dengan diri dan keluarganya menjadi penghunianya, sesungguhnya dia sedang membangun neraka yang mengerikan.�

�Kalian yang melihat apa yang terjadi saat ini hendaknya menjadikannya sebagai pelajaran, bahwa yang terbaik dari Kehidupan manusia adalah berada di tengah-tengah. Madya. Wasathan. Jangan terperangkap pada pesona benda-benda, tetapi juga jangan meninggalkannya. Janganlah mencintai dunia berlebih, tetapi jangan pula membencinya. Madya. Madya. Seribu kali madya. Ituah jalan hidup yang harus kalian lalui.�

�Tahukah kalian tentang hakikat dari benda-benda, o Sahabat-Sahabatku? Tahukah kalian tentang nisbinya hukum keberadaan benda-benda? Aku beri tahukan kepada kalian, wahai Sahabat-Sahabat, bahwa hakikat dari benda-benda adalah pantulan gambar maya dari Yang Wujud. Benda-benda adalah �wujud tergantung� yang akan lenyap jika Wujud sejati-Nya terbenam di balik cermin pengetahuan-Nya. Lantaran itu, jangan sekali-kali kaian menggantungkan kiblat jiwa dan pikiran pada benda-benda yang hanya bayangan maya dari Yang Wujud. Barangsiapa yang mengarahkan atau bahkan menggantungkan kiblat hati dan pikirannya pada benda-benda bayangan maya Yang Wujud maka dia sudah musyrik. Musyrik. Musyrik. Seribu kali musyrik.�

�Lihatah ke sekelilingmu, o Sahabat-Sahabatku! Lihatlah semua benda-benda rongsokan yang hangus di sekitar kalian! Lihatlah bangkai benda-benda yang berserak tak berharga setelah dilahap naga api raksasa! Lihatlah semua! Itukah benda-benda yang telah memesona jiwa manusia? Itukah benda-benda yang ingin dimiliki manusia? Itukah benda-benda yang dengan segala cara dikumpulkan manusia tanpa kenal hak dan batil atau halal dan haram? Itukah benda-benda yang dicintai dan digandrungi manusia? Adakah sekarang sisa keindahan dan kelangkaan dari benda-benda hangus yang selama ini mempesona kesadaran manusia?�

�Sunggu, aku katakan kepada kalian semua, benda-benda memesona yang dikumpulkan manusia dengan menghalalkan segala cara itu pada hakikatnya tak lebih dari potongan, serpihan, kepingan, dan gumpalan benda hangus tak berharga. Semua tidak lebih dari tumpukan arang hitam, sehitam Kegelapan malam tergelap yang menjadi persemayaman Sang Maut. Dan, saat Sang Maut membentangkan sayap-sayap Kematian yang mengerikan, lalu membalikkan Wajah dari cermin pengetahuan-Nya, maka tertelanlah semua benda karena pantulan bayangan pada cermin akan terhapus saat Kegelapan meliputi seluruh permukaan cermin. Seiring lenyapnya benda-benda para pecinta benda-benda pun akan kehilangan miliknya yang paling berharga: ruh dan jiwa.�

�Wahai serpihan-serpihan manusia! Wahai pemburu benda-benda! Wahai pengumpul benda-benda! Apakah yang akan engkau banggakan jika benda-benda kecintaanmu berubah menjadi kepingan dan gumpalan arang tak berharga? Apakah yang akan engkau katakan jika Yang Wujud membalikkan Wajah dari cermin hingga lenyap bayangan maya-Nya? Sungguh celaka engkau sekalian, o pecinta benda-benda yang dengan segala kebodohan mengumpulkan benda-benda dengan menghalalkan segala cara. Sungguh bodoh. Bodoh. Seribu kali bodoh. Sebab, seiring hancurnya benda-benda yang engkau kumpulkan ke pusaran Kebinasaan, hancur pula benda-benda milikmu yang berharga: anak-anak, istri-istri, saudara-saudara, orang tua, dan handai taulan kembali ke haribaan-Nya, meninggalkan dirimu yang terkucil di dalam terali penjara kebodohanmu yang gelap. Engkau telah kehilangan segala-galanya, o makhluk bodoh pecinta bayangan maya.�

Abdul Jalil menghentikan kata-kata sambil memandang ke arah gumpalan lahar berapi yang sudah membeku dan padat yang mgengitari bukitnya. Dengan mata penuh kasih ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah orang-orang kelaparan dan kelelahan yang mengerumuninya. Ia menarik napas panjang ketika melihat anak-anak tertidur dengan senyuman, seolah bermimpi menyantap sekerat makanan di tengah kelaparan yang menerkam perutnya. Lalu, dengan senyum lebar ia berkata-kata, memberi hiburan dan penguatan jiwa kepada mereka yang memujanya.

�Wahai sahabat-sahabatku yang baik! Sungguh beruntung engkau yang telah menyaksikan Keagungan, Kemuliaan, dan Kemahakuasaan Tuhan, Zat Pencipta, Yang telah menyelamatkan kita dari Kematian. Beruntunglah engkau yang telah menyaksikan manusia-manusia cerdik tetapi tumbang kecerdikannya karena ditebang kecurangan dan kelicikan nafsunya. Semoga, semua hal yang telah engkau saksikan itu akan membawamu ke masa depan yang penuh harapan, masa depan adimanusia. Jadikanlah peristiwa Kebinasaan ini sebagai pedoman bahwa engkau yang telah diselamatkan dari Kematian hendaknya makin sadar untuk berjalan pada jalan Kebenaran. Sebab, tidak kurang di antara manusia yang diselamatkan dari Kematian justru menjauh dari jalan Kebenaran dan bahkan lupa bagaimana berjalan yang Benar.�

Read More ->>

BERBAGI

Berbagi Keberlebih-Kelimpahan

     Setelah meninggalkan Caruban, tanah kelahiran yang telah mengukir beribu-ribu kenangan manis dan pahit, Abdul Jalil dengan didampingi Shafa, istrinya, pergi ke pedalaman Nusa Jawa, dengan mula-mula memasuki tlatah Galuh Pakuwan yang sudah menjadi bagian Caruban. Hari-hari dan pekan-pekan selama perjalanan dilaluinya dalam kesendirian dua anak manusia, yang seperti leluhurnya, Adam dan Hawa, hidup berdua di alam perawan berkawan burung-burung dan margasatwa yang bergembira menyanyikan senandung Kehidupan memuji Yang Mahahidup. Lalu, tanpa sadar ia merasakan semacam pesona Kehidupan surgawi: bentangan gunung dan bukit, lembah dan ngarai, jeram dan aliran sungai, padang rumput dan hutan perawan dengan gemericik air, kicau burung, jerit margasatwa, dengung serangga, ranum buah-buahan, wangi bunga-bunga, harum ilalang, dan segar embun yang memukau kesadaran manusiawi.

Abdul Jalil yang selama bertahun-tahun terseret pusaran arus Kehidupan, teraduk-aduk di tengah gelombang perubahan yang diciptanya, tertegun dan tersilap oleh pesona ketenang-tenteraman alam yang membentangkan keindahan ciptaan Ilahi tak tergambarkan. Setiap pagi menjelang, ketika matahari merekah diufuk timur dan hangat cahayanya mengangkat gumpalan kabut dari permukaan bumi, ia menghirup keharuman napas hutan yang wangi. Ia menangkap kebijaksanaan hutan mengalir memenuhi jiwanya, laksana mata air memenuhi telaga dan mengalir ke sungai. Setiap siang membentangkan cakrawala, ketika burung-burung beterbangan dan margasatwa berkejaran mencari makan, ia menyantap buah-buahan hutan dan meminum madu hutan yang menyegarkan kesadaran manusiawinya. Setiap malam datang mengerudungi bumi dengan selimut hitam, ketika hewan malam bersenandung merindukan bulan dan bintang-bintang, ia menikmati hangatnya pelukan Sang Kekasih yang acapkali kerahiman-Nya mengejawantah dalam wujud manusiawi sang istri: Shafa.

Di tengah hamparan alam bebas, Abdul Jalil merasakan kebebasan elangnya terbang tinggi di angkasa meninggalkan hiruk pikuk kehidupan di bumi. Ia terpesona oleh keleluasaan langit ruhani yang membentangkan kesunyian tanpa batas. Ia terpesona oleh citra keperawanan alam yang telanjang, seolah melemparkannya ke gugusan ingatan purba kehidupan manusiawi leluhur, Adam dan Hawa. Di tengah keterpesonaan itu, ia bersyair memuji Keagungan dan Kemuliaan Sang Pencipta. Suaranya yang merdu tetapi tegar menggema di tengah suara alam yang mendendangkan nyanyian pepujian atas Keagunngan Sang Pencipta.

Wahai Kekasih / di dalam hutan rimba-Mu / di tengah hewan-hewan-Mu / di tengah alam ciptaan-Mu / Engkau limpahkan kenyamanan melebihi kuta, desa dan gubukku // seluruh makhluk ciptaan-Mu / hadir telanjang tanpa topeng-topeng / nyanyian pepujian yang mereka lantunkan memuji-Mu / polos dan terbuka tanpa polesan / merdu tanpa kepalsuan // di hutan bebas inikah kediaman akhirku di dunia? / di alam bebas inikah elangku bisa terbang tinggi menggapai citra hampa-Mu? / di sini, dihutan-Mu, aku bersimpuh tanpa daya menghadap-Mu / aku persembahkan diriku, utuh, meski kehidupan palsu duniawi telah mencabik-cabik jiwaku //

Keindahan alam ciptaan Ilahi bagaimanapun bukanlah sesuatu yang langgeng. Baik keindahan alam yang terbentang maupun makhluk yang terpesona memandangnya, semua tidaklah abadi. Semua terbatas dan dibatasi oleh waktu yang ganas yang selalu menghancurkan tiap-tiap ciptaan tanpa belas kasihan. Keindahan bumi, bulan, bintang, matahari, hewan, manusia, bahkan surga pun pasti berakhir jika waktunya tiba. Hanya keindahan Sang Penguasa waktu yang selalu kekal dan abadi. Sebagaimana hukum alam (sunnatullah) yang berlaku, keindahan perjalanan Abdul Jalil yang memesona laksana perjalanan di surga itu pun akhirnya berakhir sesuai waktunya.

Ketika suatu pagi Abdul Jalil berjalan ke sungai kecil berair jernih untuk mengambil air dengan tabung bambu, tiba-tiba ia tersentak kaget ketika melihat bayangannya terpantul di permukaan air. Ia merasakan sekujur tubuhnya gemetar dan dadanya berdegup keras. Ia menajamkan pandangan. Jelas sudah, bayangan itu bukan bayangan dirinya: wajah sangar, kulit gelap, tubuh bongkok, tangan sangat panjang sampai melebihi lutut, mata terbelalak lebar, hidung besar, dan mulut jelek dengan gigi tak beraturan. Lalu, bayangan itu secara menakjubkan bangkit dari dalam air tanpa basah tubuhnya. Tanpa mengucap salam atau memperkenalkan diri, bayangan manusia buruk rupa itu sekonyong-konyong bertanya, �Siapakah engkau, o manusia jelek pengambil air?�

Terheran-heran Abdul Jalil menajamkan pandangan untuk menegaskan sosok bayangan itu. Dengan suara bergetar ia berkata, �Aku seorang pengembara papa bernama Abdul Jalil. Asalku dari Caruban Larang. Balik, siapakah engkau ini, o makhluk yang muncul dari air?�

�Aku? Namaku Abdul Jalil seperti engkau. Asalku juga dari Caruban Larang. Tapi aku tidak mengenalmu. Perwujudanmu sangat buruk, sampai-sampai hatiku gemetar ketakutan melihat sosokmu.�

�Engkau mengatakan perwujudanku buruk?�

�Ya, engkau manusia buruk rupa. Kenapa? Apakah engkau tidak sadar jika perwujudanmu sangat buruk dan menakutkan? Apakah engkau tidak melihat keberadaan bayangan dirimu yang palsu? Aku tahu siapa engkau sebenarnya. Engkau adalah makhluk jejadian yang membayangkan keberadaan dirimu sebagai Abdul Jalil, guru manusia asal Caruban Larang. Padahal, engkau hanyalah orang yang terseret angan-angan kosongmu menjadi orang lain. Engkau terperangkap khayalan nirwujudmu. Engkau tidak mengenal dengan benar guru manusia itu,� kata manusia buruk rupa itu dengan suara menggetarkan seolah diiringi bunyi derik ribuan jangkrik dari napasnya.

�Bukankah Abdul Jalil, guru manusia itu, adalah aku?� tukas Abdul Jalil terheran-heran.

�Aku tidak mengenalmu, o Pengaku-aku,� seru manusia buruk rupa itu sembari menunjukkan giginya yang tak teratur dan bibirnya yang tebal dalam seringai mengerikan. �Sebab, Abdul Jalil, guru manusia, yang pernah aku kenal adalah seorang manusia berlebih-kelimpahan. Dia manusia yang selalu merasa berat menanggung keberlebih-kelimpahannya, sehingga hari-hari dari hidupnya tidak pernah dilaluinya tanpa membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya. Ia terus membagi. Membagi. Seribu kali membagi. Dengan membagi, beban keberlebih-kelimpahannya akan berkurang.�

�Jika engkau bertanya kepada hutan, sungai, pohon, batu, matahari, bulan, bintang dan margasatwa tentang siapa Abdul Jalil maka engkau akan mendapati jawaban yang sama: dia, Abdul Jalil, adalah guru sang pembagi keberlebih-kelimpahan. Dia, guru manusia, yang selalu berkorban tanpa pamrih. Sebab, berkorban membagi-bagi diri, baginya, adalah membebaskan diri dari beban yang terus melimpahinya. Ya, itulah Abdul Jalil yang aku kenal, guru manusia yang selalu membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya. Sementara, engkau, manusia buruk rupa yang mengaku-aku Abdul, apakah yang engkau sudah lakukan selama di hutan ini? Bukankah hari-harimu hanya engkau isi dengan menerima dan menikmati keramahan alam, seolah engkau orang yang berkurang-kesusutan. Siapakah engkau ini sesungguhnya, o manusia buruk rupa?�

Abdul Jalil terperangah kaget. Ia merasakan wajahnya panas tertampar oleh ucapan makhluk buruk rupa itu. Bukan. Bukan hanya tamparan yang ia rasakan menghantam wajahnya. Rasa malu pun ia rasakan tiba-tiba menyesaki jiwanya. Rasa malu yang bergelegak dan meluap-luap membanjiri seluruh jaringan tubuhnya mulai dari ujung kaki naik terus ke ubun-ubun. Sekejap kemudian, ia tiba-tiba mendapati sekujur tubunya sudah basah diguyur keringat dingin. Lalu dengan hati risau ia membalikkan badan dan pergi meninggalkan manusia buruk rupa yang telah membuatnya malu itu. Namun, manusia buruk rupa itu mengejar dan memanggil-manggilnya dengan suara serak, �Abdul Jalil! Abdul Jalil! Berhentilah! Tunggu aku! Aku bukanlah orang lain. Aku adalah bayang-bayangmu! Jangan tinggalkan aku!�

Dengan keringat bercucuran, Abdul Jalil berjalan menembus kelengangan hutan. Ia tidak melihat lagi bayangan manusia buruk rupa yang mengejarnya. Namu, saat ia melintasi sebuah tikungan jalan setapak berbatu di lereng sebuah bukit, tiba-tiba ia terpekik kaget. Rupanya, di tengah kecamuk pikirannya yang galau ia telah menabrak seseorang yang sedang tersungkur di jalan. Raung kesakitan dan makian kemarahan terdengar bersahutan seperti pekik elang dan desau angin yang menampar tebing batu yang tinggi menjulang.

Dengan mata ditajamkan, Abdul Jalil menegaskan pandangannya ke sosok yang baru saja ditabraknya. Ia terkejut dan merasakan bulu kuduknya meremang saat mendapati kenyataan betapa sosok orang yang ditabraknya itu, wajah dan perawakannya sangat mirip dengannya. Anehnya, sosok itu luar biasa tambun. Saking tambunnya, tubuh sosok itu seperti terbentuk dari gumpalan daging. Hanya wajah sosok tambun itu saja yang mirip dengannya. Lalu, dengan suara yang direndahkan dan hati kebat-kebit ia berkata, �Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Siapakah engkau ini, o Tuan? Kenapa engkau tersungkur di tengah jalan?�

Sosok tambun mirip Abdul Jalil itu dengan gerakan lamban dan sangat susah payah, berkata terbata-bata dengan suara serak seperti kambing mengembik, �Maafkan aku, o Saudara. Bukan maksudku tidur-tiduran di jalan untuk menikmati hangatnya matahari sebagaimana anjing berjemur kehangatan matahari. Bukan pula maksudku menghalang-halangi orang-orang yang berjalan. Sebaliknya, ini yang harus engkau ketahuhi, aku adalah manusia malang yang tidak kuat lagi menanggung beban keberlebih-kelimpahan yang menghimpitku laksana bongkahan batu gunung. Kakiku tidak cukup kuat menahan beban keberlebih-kelimpahan yang memberati tubuhku. Itu sebabnya, aku tersungkur tak berdaya karena napas dan tenagaku hampir habis menahan beban keberlebih-kelimpahan yang terus bertambah menindihku dari waktu ke waktu. Aku sudah tidak kuat menahan. Aku merasakan diriku seperti jembatan bambu rapuh yang tidak kuat lagi menahan arus sungai yang meluap ganas akibat banjir di hulu. Aku hanya bisa menunggu datangnya orang-orang yang dengan suka rela menolongku; membagi keberlebih-kelimpahanku kepada mereka yang membutuhkan. Aku hanya bisa menunggu. Menunggu. Seribu kali menunggu. Dan engkau barusan tadi malah menabrakku. Apakah dengan suka rela mau menolongku? Apakah engkau bersedia membagi-bagi keberlebih-kelimpahanku kepada mereka yang membutuhkan?�

�Maafkan aku, o Saudaraku,� sahut Abdul Jalil dengan hati diliputi kepedihan, �Aku akan membawamu berkeliling ke mana pun engkau inginkan. Aku akan membagi-bagi keberlebih-kelimpahanmu kepada mereka yang membutuhkan. Apa pun akan aku lakukan untuk membantumu. Tetapi, izinkan aku akan berpamitan kepada istri yang sedang menungguku,� dengan tanpa menoleh sedikit pun ia berlari meninggalkan sosok tambun itu. Ia berlari ke tempat istrinya menunggu.

Ketika Abdul Jalil mendapati istrinya sedang duduk memakan buah-buahan dan meminum madu hutan, ia mendekat dan berkata, �Tadi aku ke sungai untuk mengambil air. Sekarang aku sudah kembali. Tapi tidak setetes pun air yang kubawa.�

�Apakah yang telah terjadi dalam perjalananmu, o Suamiku?� tanya Shafa menangkap sasmita bahwa suaminya telah mengalami sesuatu.

�Di pinggir sungai tadi aku melamu dan jatuh tertidur di bawah pohon besar. Aku terbangun ketika seekor kucing hutan mencakar dan menggigit dadaku. Waktu ia melihat aku terbangun, ia lari ketakutan. Tetapi, buru-buru ia kuhentikan dan kutanya kenapa lari ketakutan dariku. Bukankah ia telah berjasa membangunkan aku dari tidur lelap? Lalu ia menjawab, ia lari karena telah melukaiku. Lalu kukatakan kepadanya begini: masakan seekor kucing hutan dapat melukai singa? Kubuka jubahku, dadaku memang tidak luka oleh cakaran dan gigitannya. Lalu kucing hutan itu merunduk malu dan menjilati kakiku.�

�Ketika kucing hutan itu pergi ke hutannya dan aku mengisi tabung bambu dengan air, tiba-tiba muncul seekor sapi betina yang berjalan terseok-seok dan menangis kesakitan. Dia mengeluh kepadaku telah berbilang pekan ini sekujur tubuhnya meriang kesakitan. Pasalnya, air susunya tidak ada yang mengisap dan tidak pula ada yang memerah. Dia meratap dan memohon kepadaku untuk menolongnya: memeras air susunya dan membagi-bagikan air susu itu kepada siapa pun di antara bayi yang membutuhkan susu. Aku tidak kuasa menolak keinginan makhluk mulia yang menderita sakit karena tidak bisa mendermakan keberlebih-kelimpahannya kepada sesama. Lalu aku menemuimu, meminta pendapatmu apakah engkau berkenan membantuku memerah susu sapi yang kesakitan itu, dengan imbalan engkau akan beroleh manfaat dari susunya. Itulah sebabnya, o Istriku, aku kembali tanpa membawa air setetes pun,� kata Abdul Jalil.

Shafa tertawa. Lalu dengan manja ia bertanya, �Adakah sesuatu pesan di balik ceritamu itu, o Suamiku?�

Abdul Jalil memandang ke atas, melihat langit dari sela-sela rimbunan pohon. Setelah itu, ia menunduk dan berkata dengan suara lain, �Dalam perjalananku mengambil air di sungai tadi, aku melihat bayanganku di permukaan air. Tapi, aku tidak lagi mengenalinya karena dia begitu buruk rupa dan mengerikan. Lalu seperti seekor kucing hutan liar yang ganas, ia mencakar dan menggigit kesadaranku. Aku terbangun. Dan, kudapati betapa diriku telah menjadi orang lain yang tidak kukenal. Aku, Abdul Jalil, guru manusia, yang dikenal orang sebagai sang pemberi yang selalu membagi-bagi tubuh dan jiwanya laksana Raja Bagiratha tiba-tiba telah menjelma menjadi makhluk papa, sang penerima dan penikmat kelezatan dunia. Sungguh muak aku melihat cermin diriku seperti itu.�

�Bayanganku telah membangunkan kesadaranku bahwa aku adalah manusia yang dianugerahi keberlebih-kelimpahan, seperti sapi perah betina dianugerahi keberlebih-kelimpahan susu. Dan seperti sapi perah betina yang kesakitan tidak diperah, begitulah kesakitan kurasakan merejam tubuh dan jiwaku saat aku tidak membagi-bagi keberlebih-kelimpahanku kepada sesama. Sungguh, telah berkali-kali aku sampaikan kepadamu bahwa Kehidupan makhluk tidaklah kekal. Bukan hanya bumi, bulan, bintang, matahari, dan planet-planet yang tidak kekal, bahkan surga dan neraka pun tidak kekal. Sebagaimana yang telah engkau yakini, Kehidupan di bumi ini hanya sekejap. Kita semua sedang berjalan menuju persemayaman Sang Maut, alamat Cinta Sejati bertakhta. Kita tidak boleh dan tidak bisa bahkan tidak mungkin berhenti. Kita harus berjalan menuju-Nya sambil melepas segala sesuatu yang melekat pada diri kita. Kita harus melepas semua sampai kita telanjang seperti bayi yang tidak mengenal sesuatu yang lain kecuali puting susu ibunya. Begitulah sebaiknya kita dalam kembali kepada-Nya. Sebagai orang yang sedang berjalan menuju-Nya, tetapi menanggung beban keberlebih-kelimpahan dari-Nya, maka wajiblah bagiku untuk meneruskan perjalanan di bawah naungan-Nya dan membagi-bagi keberlebih-kelimpahan yang dianugerahkan-Nya itu kepada yang membutuhkan. Aku tidak ingin menjadi makhluk tambun yang terkapar sekarat di jalanan, akibat menanggung derita tertimbun oleh keberlebih-kelimpahan yang tidak dibagi.�

Shafa tersenyum dan bangkit. Sambil menunduk menyentuh kaki Abdul Jalil, dia berkata lembut, �Aku tahu siapa sejatinya engkau, o Suamiku. Aku telah menyaksikan keindahan telaga sunyi di matamu. Aku telah merasakan kesejukan angin di desah napasmu. Aku telah menyaksikan kegagahan sayap-sayapmu yang laksana rajawali terbang mengarungi langit sunyi. Aku telah mendengarkan bagaimana merdu suaramu menyanyikan pepujian atas keagungan-Nya. Bahkan di atas semua penyaksian itu, aku telah merasakan keberadaan dirimu secara utuh. Sungguh, telah kukenal engkau melebihi yang lain. Karena itu, o Suamiku, ke mana pun engkau pergi aku akan selalu ikut. Apa pun yang engkau perintahkan aku akan patuhi. Apa pun yang engkau teladankan aku akan ikuti. Bagiku, berlaku ketentuan suci seorang istri setia laksana Sati, yang mengabdi kepada suami ibarat pepatah �ke surga ikut ke neraka tersangkut-paut�. Demikianlah ungkapan dari lubuk jiwaku terdalam terhadapmu, o Suamiku.�

Setelah meninggalkan Kehidupan hutan, Abdul Jalil dengan didampingi istri berjalan melintasi lembah, gunung, sungai, sawah, dan padang belantara, dengan sesekali singgah di desa, dukuh, padepokan, dan asrama-asrama. Sepanjang perjalanannya itu ia laksana gumpalan awan di angkasa, dengan kegembiraan raya mencurahkan keberlebih-kelimpahannya seperti hujan kepada siapa saja yang membutuhkannya: ia mengobati yang sakit, menghibur yang dirundung kesedihan, memberi obor yang dalam kegelapan, menguatkan yang lemah, memberi makan yang lapar, mengulurkan tangan kepada yang meminta, memberi petunjuk kepada yang sesat jalan, mengajarkan jalan Kebenaran yang lurus, memacu kesadaran manusia agar berjuang mewujudkan diri menjadi adimanusia, dan yang tak pernah terlupakan adalah memberitakan kabar langit tentang bakal datangnya kawanan Ya�juj wa Ma�juj, pengikut Dajjal, yaitu kawanan �manusia berekor�, binatang yang berpikir, manusia pembawa hewan buas yang bakal menjatuhkan umat manusia ke jurang kebinasaan.

Sebagai guru manusia, Abdul Jalil paham jika manusia-manusia yang dihadapinya adalah kawanan-kawanan manusia tak berpribadi yang akal budi dan jiwanya dibentuk oleh lingkungan yang penuh diliputi rasa takut, yaitu manusia-manusia yang sejak bayi sudah ditakut-takuti takhayul dan kurafat. Ia paham bahwa manusia satu dengan manusia yang lain diikat oleh jalinan tali-temali nilai yang sama, yakni nilai-nilai yang dibangun di atas rasa takut pada sesuatu di luar diri manusia. Itu sebabnya, di dalam membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya kepada masyarakat semacam itu, ia memutuskan untuk mengikat rangkaian itu pada satu simpul utama yang kuat, yaitu mengikat kabar langit tentang kawanan manusia berekor yang membahayakan Kehidupan umat manusia sebagai simpul utama. Ia barharap, rasa takut orang-orang terhadap kabar langit itu mengalahkan semua rasa takut mereka terhadap hantu takhayul di sekitar mereka. Lalu, melalui simpul utama itu ia berharap dapat memperkuat simpul yang lain dari semua jalinan nilai yang akan diubahnya. Demikianlah, tanpa kenal siang dan malam, di tengah kesibukan membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya, ia menyampaikan kabar langit yang dahsyat itu kepada siapa saja yang datang kepadanya.

Read More ->>

KEMENANGAN TAK TERDUGA

Bermula dari Kemenangan Tak Terduga

   
      Awan putih berarak rendah di langit biru. Matahari bersinar terang di atas bukit-bukit yang membentang di kaki gunung Ciremai. Cahayanya yang kuning keperakan menyinari tanah basah berlumpur yang diguyur hujan semalaman. Di lereng gunung Gundul di sebuah hamparan tanah berumput alang-alang yang sudah diaduk-aduk dengan gumpalan tanah dan genangan air keruh, terbaring ribuan tubuh tak bernyawa terbalut lumpur dan dibasahi darah segar. Dilihat dari pakaian yang dikenakan dan panji-panji yang berserak di sekitarnya, tubuh-tubuh bergelimpangan tanpa nyawa itu adalah prajurit Galuh Pakuwan.

Suasana pagi itu, meski terang, terasa sangat mencekam. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya tubuh-tubuh manusia tak bernyawa yang bergelimpangan di antara bangkai-bangkai kuda dan gajah, tombak-tombak patah, perisai-perisai belah, pedang-pedang bertindihan, anak-anak panah bertancapan, dan panji-panji yang berserakan penuh lumpur. Sejauh telinga menguping tidak terdengar kicau burung atau suara margasatwa di sekitar tempat itu. Satu-satunya suara yang terdengar adalah dengung beribu-ribu kawanan lalat yang beterbangan mengerumuni mayat-mayat dan bangkai-bangkai hewan yang berserak.

Di tengah suasana mencekam, di antara hamparan tanah lumpur yang teraduk-aduk, di sela-sela tubuh-tubuh manusia tak bernyawa dan bangkai-bangkai yang berserakan, Abdul Jalil dan Raden Mahdum Ibrahim berdiri termangu-mangu sambil sesekali memuji kebesaran Ilahi karena mereka menangkap �bekas jejak� Sang Maut melingkupi tempat itu. Tapi belum lama mereka meresapi �bekas jejak� Sang Maut yang mengerikan itu, tiba-tiba dari arah puncak gunung terlihat iring-iringan orang menuruni jalanan berlumpur yang terjal. Iring-iringan itu tidak lain dan tidak bukan adalah prajurit dan pejuang Caruban yang terluka. Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang. Sebagian di antara mereka adalah penduduk Kalisapu, Jatimerta, Babadan, dan Muara. Di antara mereka terlihat Syaikh Duyuskhani, Abdul Karim Wang Tao, dan Ki Anggasura yang terluka agak parah.

Ketika para prajurit dan pejuang Caruban itu melihat Abdul Jalil, mereka tampak terkejut dan terperangah kebingungan. Mereka saling pandang. Lalu, seperti tidak peduli dengan luka yang diderita dan rasa sakit yang dirasakan, mereka berhamburan menghapiri Abdul Jalil sambil berteriak-teriak kegirangan seperti anak kecil. Mereka berebut menyalami dan mencium tangannya. Sebagian lagi merangkul kaki Abdul Jalil dengan isak tangis dan yang lain menarik-narik jubahnya atau mengusap kakinya. Abdul Jalil yang heran melihat tindakan mereka, dengan suara ditekan tinggi bertanya, �Ada apa ini? Apa sesungguhnya yang telah terjadi sampai kalian bertindak berlebihan seperti ini?�

Para prajurit dan pejuang Caruban yang mengerumuni Abdul Jalil diam. Satu pun tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Sebaliknya, mereka malah bersujud beramai-ramai dan menangis terisak. Abdul Jalil yang terheran-heran melangkah ke depan mendekati Syaikh Duyuskhani sambil bertanya, �Apakah sesungguhnya yang telah terjadi, Tuan Syaikh? Kenapa mereka berlebihan seperti itu menyambut aku? Bukankah yang seharusnya dielu-elukan sebagai pahlawan adalah mereka?�

Syaikh Duyuskhani yang dipapah dua orang muridnya diam tak menjawab. Sejurus kemudian dia berkata, �Semalaman kami baru saja mengalami sebuah peristiwa yang sangat menggetarkan. Sebuah peristiwa ajaib yang tidak bakal kami lupakan seumur hidup.�

�Peristiwa ajaib apakah itu, o Tuan Syaikh?� tanya Abdul Jalil ingin tahu.

�Malam tadi, andaikata tidak terjadi keajaiban, kami semua tidak akan bertemu dengan Tuan Syaikh di sini,� papar Syaikh Duyuskhani menjelaskan peristiwa menggetarkan itu. Kemarin, sepanjang hari, langit terlihat redup dan suram, diliputi gumpalan awan hitam yang berdesak-desak dengan awan kelabu. Sejak pagi matahari tidak terlihat. Seperti redup dan suramnya langit itulah hati para prajurit dan pejuang Caruban. Sejak subuh, dengan perasaan tertekan, mereka menunggu datangnya badai pertempuran yang bakal melanda mereka. Perasaan mereka makin tertekan manakala di pagi yang suram itu terlihat lautan panji, bendera, umbul-umbul, dan tombak beriap-riap di lembah yang membentang di kaki selatan gunung Gundul, timbul tenggelam di tengah hamparan rumput alang-alang dan semak-belukar.

Sesungguhnya, perasaan tertekan itu bukan hanya dirasakan para prajurit dan pejuang Caruban. Para tetunggul Caruban pun diam-diam merasa tertekan luar biasa karena mereka harus bertempur tanpa didampingi pemimpin tertinggi yang mereka jadikan kiblat panutan: Sri Mangana. Jiwa mereka tertekan, keyakinan mereka goyah, dan semangat tempur mereka padam. Bahkan, tanpa sadar, tiba-tiba mereka semua merasakan semacam ketidakpedulian menjerat jiwa mereka, terutama akibat santernya kabar yang menyatakan bahwa Sri Mangana sebenarnya sudah tewas dibunuh menantunya. Mereka semua merasa tidak perlu lagi bertempur menghadapi musuh karena tidak ada lagi junjungan yang perlu mereka bela. Di tengah ketidakpedulian itu, mereka merasa seperti anak ayam kehilangan induk; anak ayam yang berciap-ciap dan berlari tak tentu arah mencari perlindungan saat diserang kawanan musang dan burung elang.

Di tengah suasana yang menekan itu, Angga, wali nagari Kuningan, manggalayudha Caruban, mengambil keputusan mengejutkan, yaitu menawarkan pertarungan antartetunggul. Pertempuran dua belah pihak yang hanya dilakukan oleh para tetunggul masing-masing tanpa melibatkan prajurit. Wali nagari Kuningan yakin, dalam pertarungan antartetunggul itu pihaknya akan meraih kemenangan karena memiliki pendekar-pendekar yang termasyhur kehebatannya di medan tempur. Tanpa syak sedikit pun ia percaya para tetunggul Caruban akan mudah mematahkan kehebatan tetunggul-tetunggung Galuh Pakuwan yang kebanyakan sangat mengandalkan ilmu kawedukan, ilmu karosan, pangerutan, dan pangabaran.

Dalam pertarungan itu, wali nagari Kuningan berhadapan dengan musuh lamanya, Adipati Kiban. Keduanya, adalah seteru lama yang saling berhasrat menghancurkan. Mereka bertarung sengit seperti harimau kelaparan dan banteng luka. Dalam sekejap, di tengah sorak-sorai prajuri kedua pihak, arena pertarungan berubah menjadi palagan menggetarkan. Serpihan tanah dan batu barhamburan di tengah kepulan debu yang bergumpal-gumpal. Kelebatan tubuh dan senjata beradu teraduk-aduk di tengah suara menggiriskan, seperti cangkul ditancapkan berulang-ulang pada tumpukan kerikil. Akibat sengitnya pertarungan, tanpa sadar keduanya telah berlaga keluar jauh dari arena. Beberapa puluh prajurit dari kedua pihak diperintah untuk mengikuti dan sekaligus mengawal dua orang manggalayuddha itu.

Selama menunggu akhir pertarungan wali nagari Kuningan dengan Adipati Kiban, Ki Anggasura maju ke tengah arena berhadapan dengan Ki Dipasara. Namun, jauh dari perhitungan wali nagari Kuningan, Ki Anggasura yang sejak awal sudah tertekan, semakin kehilangan semangat tempur dan ketrampilan bertarung sebelum tampil di palagan. Dalam dua tiga kali gebrakan, ia tumbang dengan luka tikaman di punggungnya. Ki Dipasara yang berada di atas angin tidak membunuhnya. Sebaliknya, dengan sikap jumawa dan merendahkan ia meminta para prajurit Caruban untuk membawa tetunggulnya itu ke belakang arena. �Obati lukanya. Kalau sudah sembuh suruh dia berguru lagi. Aku tunggu lima belas tahun lagi di sini untuk menjajal ilmunya.� Sekumpulan prajurit Caruban dengan muka merah karena menahan malu menggotong Ki Anggasura yang berlumuran darah.

Tampaknya, hari itu adalah hari keberuntungan bagi pihak Galuh Pakuwan. Dalam waktu hanya satu hari, mereka sudah memperlihatkan kehebatannya di arena pertarungan. Satu demi satu tetunggul Caruban yang maju ke tengah arena, tanpa kesulitan berarti dapat mereka kalahkan. Para tetunggul seperti Syaikh Magelung, Pangeran Karang Kendal, Pangeran Kapethakan, Pangeran Kandhayaksan, Ki Anggarunting, Li Han Siang, Haji Shang Su, Abdul Karim Wang Tao, Abdul Razak Wu Lien, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Demang Singagati, Tumenggung Jaya Orean, Abdul Qadir, dan Abdul Qahar al-Baghdady, bahkan Adipati Suranenggala yang diunggulkan, bertumbangan tak berdaya dikalahkan tetunggul-tetunggul Galuh Pakuwan. Tragisnya, sebagaimana sikap Ki Dipasara, para tetunggul Galuh Pakuwan yang lain sengaja tidak membunuh lawan, tetapi menghinakan mereka sebagai pecundang nista. Rupanya para tetunggul Galuh Pakuwan telah sepakat: tidak memberi kesempatan kepada pihak lawan untuk gugur sebagai ksatria di arena pertarungan, sebaliknya membiarkan mereka menjadi pecundang nista yang akan menanggung malu seumur hidup karena setelah kalah dihina dengan ejekan-ejekan merendahkan.

Ketika sangkakala dibunyikan pertanda pertarungan usai, terjadi kericuhan kecil saat sebagian prajurit Caruban terlibat tantang-menantang dengan prajurit Galuh Pakuwan. Lalu terjadi perkelahian kecil yang merembet menjadi besar, terutama ketika Sanghyang Gempol memerintahkan pasukan Galuh Pakuwan untuk menyerang perkemahan pasukan Caruban di puncak gunung Gundul. Beribu-ribu prajurit Galuh Pakuwan yang membawa obor mengepung puncak. Perlahan-lahan tetapi pasti, lautan obor yang memenuhi delapan penjuru lereng itu terus bergerak mengerucut ke atas laksana lautan api sabut yang belum terbakar.

Menyaksikan gelombang lautan api yang terus mengerucut, semua orang yang berada di puncak gunung dicekam rasa ketakutan, bahkan sebagian sudah putus asa. Semua sadar bahwa Sang Maut saat itu sudah terbang di angkasa merentangkan sayap-sayap-Nya yang setajam pedang. Semua sadar Kematian bakal datang secepat hitungan jari. Semua sadar, mereka hanya bisa menunggu. Menunggu. Menunggu. Bahkan, prajurit dan pejuang yang tak dapat menahan rasa takut dan putus asa berteriak-teriak meminta tolong kepada Sri Mangana dan Syaikh Lemah Abang. Di tengah hiruk pikuk teriakan para prajurit dan pejuang yang memanggil-manggil, disusul ledakan halilintar, disambung turunnya hujan deras, dan berembusnya badai. Obor-obor yang dibawa musuh padam, tersiram hujan. Lalu, terdengar teriakan dan jeritan dan caci maki musuh yang saling bunuh karena kegelapan malam dan hujan badai telah membutakan mereka.

Ketika semua orang Caruban terheran-heran menyaksikan musuh yang saling berperang sendiri itu, terjadi peristiwa ajaib yang tak kalah mengherankan. Tiba-tiba, terdengar seruan sambung-menyambung di tengah kegelapan yang menyatakan bahwa Sri Mangana telah muncul beserta bala bantuan dan menyerbu gunung Gundul dari lembah utara. Orang-orang Caruban yang memalingkan pandangan ke lembah utara melihat beribu-ribu titik api memenuhi lembah dan bergerak cepat ke selatan. Semangat pihak Caruban yang sudah surut mendadak berkobar kembali. Takbir dikumandangkan sahut-menyahut.

Di tengah hiruk suara takbir, tiba-tiba terdengar seruan-seruan lantang bersahutan yang memerintahkan pasukan Galuh Pakuwan untuk mundur. Seperti digerakkan oleh kekuatan gaib, beribu-ribu prajurit Galuh Pakuwan yang saling bertarung itu berhenti serentak. Dan seperti dikomando, mereka berebut turun secara berbarengan. Lalu terjadilah malapetaka tak terduga: tanah polos yang memagari tebing-tebing di seputar gunung Gundul yang sudah basah oleh air hujan ternyata tidak kuat menahan beban. Di tengah berdesak-desaknya pasukan Galuh Pakuwan menuruni tebing-tebing tanah itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang menggiriskan. Rupanya, satu demi satu tebing tanah itu longsor menimpa apa saja yang berada di bawahnya dan mengubur apa saja yang tersambar oleh runtuhannya yang dahsyat. �Demikianlah, Tuan Syaikh, kami yang sudah terjepit antara hidup dan mati bisa lolos dari maut dan bahkan merebut kemenangan,� kata Syaikh Duyuskhani.

�Bukankah semua itu Af�al Allah dan tidak terkait dengan keterlibatan makhluk-Nya?�

�Bagi mereka yang sudah tinggi Tauhidnya, peristiwa itu memang merupakan perbuatan Allah mutlak. Tetapi bagi kebanyakan orang awam, terutama yang berada pada keadaan antara hidup dan mati, peristiwa semalam itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai keajaiban yang tidak bisa tidak mesti terkait dengan keterlibatan orang suci kekasih Allah. Sejak semalam, sebagian prajurit dan pejuang kita menganggap peristiwa ajaib itu terjadi berkat kekeramatan Tuan Syaikh. Sebab sambaran petir, curahan hujan, dan embusan badai itu terjadi saat mereka berteriak-teriak meminta pertolongan Tuan Syaikh. Sehingga, saat mereka turun dan kemudian mendapati Tuan Syaikh di tempat ini, mereka makin yakin bahwa kekeramatan Tuanlah yang telah menyebabkan keajaiban itu,� kata Syaikh Duyuskhani.

�Sesungguhnya, mereka telah terjebak ke dalam lingkaran prasangka-prasangka.�

�Tapi Tuan Syaikh, kami berharap Tuan tidak menafikan pandangan mereka itu dengan sikap yang keras. Kami berharap Tuan Syaikh berkenan memahami keadaan mereka yang belum sepenuhnya mampu mewadahi ajaran Sasyahidan yang Tuan ajarkan,� kata Syaikh Duyuskhani merendah.

Abdul Jalil menatap puncak gunung Gundul dan kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, �Berapakah jumlah pasukan Caruban yang semalam terkepung di puncak, Tuan Syaikh?�

�Kurang dari dua belas ribu orang, Tuan Syaikh.�

�Lalu pihak Galuh Pakuwan yang mengepung berapa jumlahnya?�

�Kami tidak bisa menghitung dengan pasti, Tuan Syaikh. Yang jelas, seputar gunung ini semalam sudah menjadi lautan api karena obor-obor yang dibawa prajurit Galuh tak terhitung jumlahnya.�

�Apakah pasukan Caruban masih di atas? Aku tidak melihat mereka.�

�Sejak subuh tadi Sri Mangana memimpin mereka ke Galuh Pakuwan.�

Sri Mangana, khalifah Caruban, selain dikenal sebagai negarawan ulung yang adil dan bijaksana, juga dikenal sebagai manggalayuddha gagah perkasa dan tak tertandingi dalam mengatur siasat perang. Hal itu paling tidak telah ia buktikan untuk kali ke sekian ketika pasukan Caruban yang sudah terkepung di puncak gunung Gundul, tetapi kemudian beroleh kemenangan tak terduga-duga.

Ketika pasukan Galuh Pakuwan masih sibuk menyelamatkan diri dari amukan alam yang mengerikan itu, diam-diam Sri Mangana memerintahkan beberapa prajuritnya untuk mengenakan pakaian prajurit Galuh Pakuwan yang tewas. Lalu, di tengah hiruk orang-orang yang berebut turun ke lembah di selatan gunung, prajurit-prajurit penyamar itu menyebarkan berita yang intinya: pasukan Galuh Pakuwan diperintahkan untuk menyusul Prabu Surawisesa ke Pakuwan Pajajaran, sebab ibu kota Galuh Pakuwan telah jatuh ke tangan Prabu Banyak Belanak, Yang Dipertuan Pasir Luhur, yang menyerbu kutaraja Galuh secara mendadak. Di tengah suasana hiruk yang membingungkan itu, baik prajurit maupun tetunggul Galuh Pakuwan ternyata percaya begitu saja dengan kabar itu. Dengan kalang-kabut dan tak teratur, masing-masing pasukan Galuh Pakuwan membentuk barisan-barisan dari prajurit-prajurit yang tersisa. Dengan buru-buru, satuan-satuan kecil itu bergerak ke arah barat, ke Pakuwan Pajajaran. Sementara, sebagian sisanya masih terlihat berkeliaran di kaki gunung Gundul, sibuk menolong kawan-kawannya yang terluka.

Selain memerintah prajurit untuk menyebar kabar palsu, Sri Mangana malam itu juga memerintahkan prajuritnya untuk membangunkan penduduk yang tinggal di sekitar gunung Gundul. Penduduk diminta keluar rumah dan mengibarkan kain apa saja yang mereka punyai sebagai bendera atau umbul-umbul di sepanjang jalan-jalan desa. Saat matahari terbit, pasukan Galuh Pakuwan yang masih berkeliaran di lembah selatan gunung Gundul terkejut menyaksikan bendera dan umbul-umbul aneka warna menghiasi segenap penjuru gunung. Mereka makin terkejut manakala menyaksikan hiruk pikuk pasukan Caruban yang turun dari puncak gunung sambil menggoyang-goyang panji-panji, bendera, dan tombak.

Siasat cemerlang Sri Mangana ternyata membuahkan hasil mengejutkan. Dalam waktu singkat, tanpa menumpahkan darah setetes pun, pasukan Galuh Pakuwan terusir tanpa sisa. Hanya tubuh-tubuh tak bernyawa dan bangkai-bangkai hewan yang menebarkan bau anyir yang menampakkan sisa keberadaan pasukan Galuh Pakuwan di situ. Saat pasukan Galuh Pakuwan tersuruk-suruk menyusuri jalan yang melintasi lembah-lembah, bukit-bukit, dan hutan-hutan menuju Pakuwan Pajajaran, orang melihat Sri Mangana beserta sebelas ribu pasukannya beriringan melintasi lembah dan bukit-bukit yang membentang di selatan gunung Gundul. Bagaikan ular raksasa menerobos rimbunan hutan dan belukar, iring-iringan pasukan Caruban bergerak cepat ke arah timur dan kemudian berbelok ke selatan. Setelah bergerak tanpa henti selama sehari dan semalam, pada hari ketiga iring-iringan terlihat menyeberangi sungai Sanggarung.

Selama perjalanan ke selatan tanpa kenal istirahat itu, iring-iringan pasukan Caruban terlihat bertambah panjang. Setiap kali melewati desa-desa di kawasan perbatasan selatan, pasukan selalu mendapat tambahan warga desa yang dipimpin kuwu masing-masing. Saat iring-iringan pasukan itu berhenti di sisi utara sungai Julang, jumlahnya sudah membengkak dari sekitar sebelas ribu menjadi dua puluh ribu orang. Meski jumlahnya semakin besar, iring-iringan itu bergerak tanpa suara. Para prajurit dan pejuang sepanjang perjalanan tidak berbicara. Derap langkah kaki pun terdengar ringan. Bahkan, keempat kaki kuda-kuda tunggangan para tetunggul dibebat kain supaya tidak menimbulkan suara.

Memasuki hari keempat, setelah melintasi bukit-bukit terjal di gunung Manik, iring-iringan pasukan Caruban berhenti di Padahurip, di utara sungai Julang. Sri Mangana memerintahkan pasukan untuk beristirahat di situ. Namun, saat malam menjelang ia memerintahkan Abdul Halim Tan Eng Hoat, Pangeran Karang Kendal, dan Syaikh Magelung untuk pergi ke Tangkolo dengan membawa tiga ribu pasukan yang sebagian besar berasal dari Kendal. Mereka ditugaskan merebut kubu pertahanan Galuh Pakuwan di Situmandala, yang letaknya di sisi selatan sungai Julang. Selama penyerangan itu semua diperintahkan untuk berbicara dan memberi aba-aba dalam bahasa Jawa.

Gerakan senyap pasukan Caruban ke Tangkolo tidak diketahui pasukan Galuh Pakuwan yang mempertahankan kubu Situmandala. Saat dinihari ketika permukaan bumi diselimuti kabut tebal, sewaktu iring-iringan tiga ribu orang pasukan Caruban bergerak menyeberangi sungai Julang, tidak sedikit pun menimbulkan kecurigaan pihak Galuh Pakuwan bahwa musuh bakal datang. Itu sebabnya, ketika pasukan Caruban menyerang kubu saat subuh, pasukan Galuh Pakuwan yang sedang mendengkur sangat terkejut. Tanpa perlawanan berarti, kubu Situmandala jatuh. Sekitar tujuh ratus orang prajurit ditawan. Yang lain sengaja dibiarkan meloloskan diri.

Setelah merebut Situmandala, pasukan Caruban pada pagi hari hingga siang merebut Patakarajya, Rancah, dan Kawunglarang tanpa perlawanan. Serangan mendadak pasukan Caruban ini ternyata menimbulkan kegemparan di kutaraja Galuh Pakuwan. Laporan-laporan yang disampaikan prajurit-prajurit dari kubu Situmandala yang lolos menyebutkan para penyerbu menggunakan bahasa Jawa dengan logat aneh. Prajurit dari Patakarajya serta penduduk Rancah dan Kawunglarang pun menyampaikan laporan yang sama. Tidak syak lagi, Prabu Surawisesa dan para menterinya menganggap penyerangan itu dilakukan Prabu Banyak Belanak dari Pasir Luhur.

Di tengah kegemparan kabar serbuan orang-orang Pasir Luhur, terjadi sesuatu yang lebih menggemparkan. Ketika matahari naik sepenggalah, sewaktu prajurit-prajurit Galuh Pakuwan sedang memperkuat pertahanan di sekitar Kraton Surawisesa, tersiar kabar bahwa Sri Mangana dengan pasuka Caruban yang berjumlah sekitar lima puluh ribu orang menyeberangi sungai Julang dan langsung merebut pertahanan Galuh Pakuwan di kubu Karangpaningal. Prajurit-prajurit dari kubu Karangpaningal yang berhasil lolos melaporkan jika pasukan Caruban saat itu sedang bergerak ke Kraton Surawisesa.

Prabu Surawisesa terperangah kaget mendengar kabar serangan bertubi-tubi itu. Ia tidak pernah menduga jika penguasa Pasir Luhur dan penguasa Caruban bakal berkomplot untuk menyerang kratonnya dalam waktu bersamaan. Padahal, seluruh kekuatan Galuh Pakuwan saat itu sedang dipusatkan di Caruban. Itu sebabnya, dengan terburu-buru ia mengumpulkan para menteri dan penasihat untuk membicarakan masalah pelik itu. �Apa yang bisa kita lakukan sekarang ini? Seluruh pasukan kita berada di Caruban dan kabarnya sudah dikalahkan. Apa yang harus kita lakukan?� tanya Prabu Surawisesa kebingungan.

Para menteri dan nayaka Galuh Pakuwan tidak dapat menjawab pertanyaan junjungan mereka. Mereka pun saat itu sedang dicekam ketakutan dengan datangnya kabar bertubi-tubi serangan dari Caruban dan Pasir Luhur. Akhirnya, dalam pertemuan singkat itu, semua yang hadir termasuk Prabu Surawisesa tidak memiliki pilihan lain kecuali dengan tegas mengambil satu keputusan: menyingkir dari kutaraja Galuh Pakuwan secepat-cepatnya sebelum musuh datang menyerang. Demikianlah, dengan dikawal sekitar dua ribu pasukan, Prabu Surawisesa dan keluarga serta pejabat Galuh Pakuwan meninggalkan kutaraja. Dengan menyusuri jalan berliku di lereng selatan gunung Sawal, iring-iringan penguasa Galuh Pakuwan itu bergerak ke barat menuju Pakuwan Pajajaran.

Ketika Sri Mangana dan pasukan Caruban memasuki kutaraja dan menduduki Kraton Surawisesa, mereka mendapati kraton itu dalam keadaan kosong dan semrawut. Peti-peti perhiasan, cerana dan piring berlapis emas, bertumpuk-tumpuk kain, ikatan-ikatan naskah rontal, dan karas tanah terlihat berserakan di halaman beserta busur, perisai, pedang, tombak, dan tahi kuda. Sementara kayu-kayu dan tali-temali yang bakal dijadikan alat pertahanan berserakan di berbagai sudut kraton menambah kesemrawutan. Rupanya, Prabu Surawisesa lari dari kratonnya dengan terburu-buru sehingga banyak barang bawaannya yang tertinggal. Sekitar lima-enam orang dayang-dayang masih membawa cerana, cermin, dan alat-alat rias.

Setelah seluruh tempat di kutaraja Galuh Pakuwan terkuasai, siang itu juga Sri Mangana memaklumkan wilayah Galuh Pakuwan sebagai bagian dari kekuasaan Caruban dengan batas-batas sesuai yang berlaku atas wilayah Galuh Pakuwan sebelumnya, yaitu batas timur dari gunung Gunatiga di utara sampai ke muara sungai Tanduy di selatan. Batas selatan samudera. Batas barat gunung Cakrabuwana di utara dan muara sungai Panerang di selatan. Dengan demikian, seluruh wilayah kekuasaan Caruban sudah terpisah sedemikian rupa dengan wilayah kerajaan Sunda, laksana buah semangka dibagi dua. Batas wilayah Caruban di utara sepanjang sungai Cimanuk dan berakhir di sungai Panerang yang bermuara di samudera raya. Sebagaimana yang berlaku di Rajagaluh dan Talaga, penaklukkan Galuh Pakuwan itu ditandai dengan pembagian tanah kepada seluruh penduduk yang bersedia menaungkan diri di bawah lindungan khalifah Caruban Sri Mangana.

Bermula dari kemenangan beruntun pasukan Caruban, yang ditandai dengan awal kemenangan tak terduga di puncak gunung Gundul, terjadilah sesuatu yang membingungkan dan sekaligus merisaukan Abdul Jalil. Di tengah semarak kabar kemenangan tak terduga pasuka Caruban di gunung Gundul, tersebar di bawah permukaan tentang kabar burung yang menyatakan bahwa kemenangan ajaib itu adalah berkat kekeramatan Syaikh Lemah Abang. Lalu, seperti hempasan air bah tak terbendung, kabar burung itu dengan deras melanda seluruh negeri. Tanpa ada yang menduga sebelumnya, tiba-tiba kediaman Abdul Jalil di Lemah Abang diserbu beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang dari berbagai tempat yang memiliki tujuan utama: mencari berkah keselamatan dan bermacam-macam keperluan lain.

Ketika Abdul Jalil melihat orang-orang yang bergerombol mengerumuni kediamannya makin lama makin beriap-riap, ia menangkap sasmita tidak baik tentang bakal terjadinya sesuatu yang tidak diharapkannya. Sambil mengelus-elus janggutnya, ia menyapukan pandangan ke kerumunan orang di sekitarnya. Lalu dengan suara lain ia berbisik kepada Ki Luwung Seta, yang duduk di sampingnya, �Betapa aneh orang-orang yang kusaksikan hari ini. Wajah mereka sedungu keledai. Punggung mereka sebongkok unta. Kaki mereka sependek kura-kura. Tangan mereka sepanjang lutung. Suara mereka separau bebek. Apa yang membuat mereka beriap-riap datang ke gubukku?�

�Mereka menginginkan berkah keselamatan dari Kangjeng Syaikh,� sahut Ki Luwung Seta lirih.

�Sungguh celaka jika keinginan mereka itu dikabulkan,� gumam Abdul Jalil tiba-tiba menyaksikan seluruh pemandangan di sekitarnya berubah dalam beberapa kejap. Ia menyaksikan rumah-rumah berubah menjadi gundukan tanah kering dan batu-batu sungai. Pohon-pohon berubah menjadi tanah kering berwarna merah dan hitam. Sementara mendung kelabu yang menggantung di langit berubah menjadi gumpalan hitam seolah gunung batu digantung di awang-awang.

Ketika pemandangan mengerikan yang melintas sesaat itu telah berganti semula, Abdul Jalil berdiri dengan perasaan berat. Dengan langkah goyah ia melangkah ke arah masjid. Namun, baru berjalan beberapa langkah, orang-orang yang berkerumun di gubuknya tiba-tiba menyerbu. Mereka berebut mendekati Abdul Jalil. Ada yang menyalami dan menciumi tangannya. Ada yang merangkul dan mencium lututnya. Ada yang mengelus dan mencium kakinya. Ada yang menarik jubahnya. Bahkan, ada yang mencium bekas tapak kakinya.

Abdul Jalil terhenyak kaget. Ia tiba-tiba merasakan malu menerkam jiwanya. Ia malu melihat perilaku orang-orang yang menurutnya jauh dari kepantasan orang-orang beriman. Ia memalingkan pandangan dan berusaha lari cepat-cepat meninggalkan tempat laknat itu. Namun, gerakan tubuhnya terhalang kerumunan orang-orang. Malah dari kerumunan orang-orang itu terdengar suara aneh yang gaduh, seperti beribu-ribu suara bebek di tengah ringkikan kuda dan suara burung hantu. Dan lamat-lamat, suara aneh yang gaduh itu terdengar berbunyi:

�Syaikh Lemah Abang! Syaikh Lemah Abang! Limpahi kami berkah keselamatan! Limpahilah kami berkah rezeki! Limpahilah kami berkah kesehatan! Limpahilah kami berkah kekayaan! Limpahilah kami berkah kemuliaan! Limpahilah kami berkah keagungan!�

Abdul Jalil merasakan bulu kuduknya meremang mendengar suara-suara aneh itu. Ia merasakan dadanya tiba-tiba menggelegak seperti air direbus di ketel. Ia merasakan darahnya memuai. Namun, ia berusaha menahan gejolak jiwanya yang membakar itu. Ia menahan. Menahan. Dan hasilnya, ia merasa betapa kebingungan dan kerisauan tiba-tiba melingkar-lingkar bagaikan benang kusut menjerat kesadarannya. Kemudian, dengan hentakan kuat ia mendorong orang-orang yang mengerumuninya sambil berteriak lantang, �Tahukah engkau siapakah aku ini?�

�Kangjeng Syaikh Lemah Abang!� terdengar sahutan serempak.

�Syaikh Lemah Abang hanyalah nama,� Abdul Jalil terhenyak dan kemudian berkata dengan suara ditekan rendah, �Sewaktu-waktu aku bisa mengganti nama itu dengan nama lain. Engkau pun bisa menunjuk orang ini dan itu dengan nama Syaikh Lemah Abang. Semua orang di antara kalian boleh memakai nama Syaikh Lemah Abang. Tetapi, hendaknya kalian tahu bahwa Syaikh Lemah Abang juga memiliki nama lain pemberian guru agungnya, Syaikh Datuk Kahfi, yaitu Sang Pajuningrat, baji pembelah dunia.�

�Kenapa Syaikh Lemah Abang dinamai Sang Pajuningrat? Sebab, dengan baji ia diharapkan dapat membelah kerasnya hati manusia yang melebihi keras biji kemiri. Dengan baji, ia diharapkan dapat menumbangkan pohon-pohon kemusyrikan di dalam jiwa manusia. Dengan baji, ia diharapkan menghancurkan berhala-berhala sesembahan baik dari kayu pahatan, batu pahatan, maupun manusia pahatan. Dengan baji, ia diharapkan dapat memisahkan benalu kemusyrikan dari pohon Tauhid. Dan apa yang diharapkan dengan nama Pajuningrat itu telah aku genapi. Telah kubersihkan dan kusucikan Pohon Tauhid dari benalu kemusyrikan dan pemberhalaan.�

�Kini, engkau semua telah mengaku-aku sebagai murid-murid Syaikh Lemah Abang, Sang Pajuningrat. Engkau datang berduyun-duyun ke gubukku untuk meminta berkah keselamatan dariku. Aku tidak keberatan engkau semua mengaku-aku muridku. Tetapi, hendaknya engkau semua memahami dan mengamalkan ajaran inti yang kusampaikan. Tahukan engkau semua apakah ajaran inti Sang Pajuningrat? Pertama-tama, Sang Pajuningrat berkewajiban menjaga dan memelihara pertumbuhan Pohon Tauhid. Lalu, membersihkan Pohon Tauhid dari benalu-benalu dan hama kemusyrikan. Lalu, membagi-bagikan buah Tauhid sebagai rahmat kepada seluruh makhluk. Lalu, menanam benih-benih Tauhid di tempat-tempat lain agar tumbuh Pohon Tauhid yang lain.�

�Aku tegaskan kepada engkau semua dengan setegas-tegasnya, berkah yang akan aku berikan kepada murid-murid dan pengikutku bukanlah berkah khayal seperti yang dibayangkan orang kebanyakan. Berkah yang akan aku wariskan adalah berkah dalam bentuk nama Pajuningrat. Siapa saja di antara manusia yang mengaku sebagai murid atau pengikutku, hendaknya bersedia menjadi paju. Baji. Alat pembelah yang digunakan untuk mengawal kesucian Pohon Tauhid. Dengan demikian, jika satu saat nanti engkau semua mendapati siapa saja di antara manusia, termasuk orang yang menggunakan nama Syaikh Lemah Abang, disucikan dan dijadikan berhala sesembahan manusia, maka kewajiban kalianlah sebagai pemegang baji untuk menumbangkan dan meratakannya dengan tanah.�

Orang-orang yang berkerumun menyibak seolah memberi jalan untuk Abdul Jalil. Namun, saat Abdul Jalil melangkah, terdengar mereka berceloteh gaduh. Lalu, dengan berdesak-desak mereka berebut kembali mendekati Abdul Jalil. Sambil berteriak-teriak gaduh mereka mendesak-desak, mendorong-dorong, menindih-nindih, menarik-narik tubuh kawannya agar mereka dapat mendekati Abdul Jalil.

Celoteh-celoteh gaduh itu lamat-lamat terdengar berbunyi, �Syaikh Lemah Abang! Syaikh Lemah Abang! Kami memohon limpahan berkahmu! Kami tidak paham fatwamu! Kami tidak mampu menangkap butir-butir mutiara yang berhamburan dari mulutmu!�

Abdul Jalil termangu-mangu memandang orang-orang yang berebut mendekati dirinya. Ia memandang mereka seperti seekor elang memandang kerumunan anak ayam yang menciap-ciap ditinggal induknya. Ingin sekali rasanya ia menyantap anak-anak ayam itu, mengunyah, dan memamahnya sampai lembut lalu mengalir ke dalam darahnya. Ia ingin mengajak anak-anak ayam itu terbang ke angkasa menikmati kebebasan jiwa. Namun, anak-anak ayam itu terlalu lama menjadi anak ayam yang kecil, lembut, tak berdaya, dan butuh perlindungan. Mereka tidak mampu menangkap makna di balik suara jeritan elang, kecuali mendengarnya dengan rasa takut berlebih. Mereka hanya bisa menangkap makna suara ayam. Di tengah kerumunan anak-anak ayam itu, Abdul Jalil bersikukuh meyakinkan diri bahwa ia adalah elang perkasa yang sekali-kali tidak akan menjadi induk ayam meski untuk alasan luhur: melindungi anak-anak ayam tak berdaya.

Kedatangan beribu-ribu orang kegubuk Abdul Jalil ternyata tidak cukup meminta berkah keselamatan. Beberapa di antara mereka, yang umumnya datang dari tempat jauh, diam-diam berusaha memanfaatkan keadaan dengan menempatkan diri sebagai bujang Abdul Jalil. Tanpa malu sedikit pun mereka mengaku sebagai pembantu dan bahkan murid terkasih Syaikh Lemah Abang. Lalu dengan kesempitan wawasan yang menyedihkan, mereka menirukan semua kata, wejangan, dan fatwa Syaikh Lemah Abang. Untuk meyakinkan orang, dengan bekal pikiran picik dan diliputi khayalan-khayalan naif, mereka mengarang-ngarang cerita berlebihan tentang kekeramatan Syaikh Lemah Abang.

Sadar sesuatu sedang terjadi pada dirinya, sepekan setelah kediamannya yang terletak di samping masjid Lemah Abang itu diserbu ribuan orang yang meminta berkah keselamatan, Abdul Jalil diam-diam mengajak istri dan anaknya pergi ke kuta Caruban untuk menghadap Sri Mangana dan Nyi Indang Geulis di Pekalifahan. Di hadapan ayahanda dan ibunda asuh yang sangat dihormati dan dimuliakannya itu, ia menyembah dan berpamitan akan pergi meninggalkan Caruban dalam waktu yang tak terbatas. Sri Mangana dan permaisuri terkejut mendengar permintaan pamit Abdul Jalil yang tak terduga-duga itu.

Nyi Indang Geulis termangu-mangu dengan dada turun naik seperti menahan sesuatu yang berat. Sri Mangana, yang masih terlihat lelah setelah perjalanan kembali dari Galuh Pakuwan, dengan suara tersekat di leher bertanya lirih, �Kenapa engkau begitu terburu-buru meninggalkan negerimu, o Puteraku? Kenapa engkau tiba-tiba meninggalkan bangunan masyarakat yang sudah tegak dengan megah di negerimu ini? Kenapa engkau meninggalkan apa yang telah engkau rintis dengan susah payah, o Puteraku?�

�Mohon ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,� Abdul Jalil menyembah. �Sesungguhnya, ananda merasa berat hati meninggalkan Caruban, tanah tumpah darah ananda. Ananda merasa sedih harus berpisah dengan orang-orang yang ananda cintai. Ananda merasa berduka karena meninggalkan tatanan masyarakat ummah yang sudah terbentuk dengan baik ini. Tetapi, demi menghindari kesesatan umat akibat munculnya berhala baru, ananda dengan perasaan berat terpaksa harus meninggalkan Caruban. Sungguh, semua ini ananda lakukan semata-mata demi tetap terpeliharanya kemurnian ajaran Tauhid yang telah tumbuh subur di negeri ini.�

�Apakah yang engkau maksud dengan berhala baru itu, o Puteraku?� Sri Mangana heran, �Dan kenapa engkau malah menghindar darinya?�

�Sesungguhnya, yang ananda maksud berhala baru itu tidak lain dan tidak bukan adalah ananda sendiri. Lantaran itu, tidak ada pilihan lain bagi ananda untuk menghancurkan berhala itu kecuali pergi meninggalkan tanah kelahiran ananda. Ananda akan pergi karena orang-orang berdatangan ke kediaman ananda dengan tujuan utama menjadikan ananda berhala sesembahan,� kata Abdul Jalil tegas.

�Kenapa engkau merasa dirimu diberhalakan?� tanya Sri Mangana ingin penjelasan.

�Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu. Telah hampir sepekan ini kediaman ananda di Lemah Abang didatangi beribu-ribu orang dari berbagai tempat yang jauh. Mereka meminta berkah dan keselamatan dari ananda. Mereka menganggap ananda adalah wali Allah yang keramat yang bisa memberikan macam-macam manfaat bagi manusia. Bahkan, sebagian di antara mereka mengaku-aku sebagai murid, bujang, dan pengikut ananda. Mereka kemudian membesar-besarkan cerita bahwa kemenangan Caruban atas Galuh sejatinya disebabkan keramat ananda. Mereka bahkan mengarang-ngarang cerita takhayul murahan tentang kekeramatan ananda. Mereka sejatinya adalah pembohong-pembohong celaka karena telah menebarkan racun kejahilan ke tengah umat manusia.�

�Racun kejahilan yang ditebar oleh para pembohong itu, ternyata begitu dahsyat akibatnya. Seperti kawanan lalat mengerumuni bangkai, beribu-ribu orang berdatangan dan mengerumuni ananda. Seolah-olah ananda ini dewa. Mereka berdesakan mengerumuni ananda. Mereka berlomba mencium tangan, lutut, kaki, dan jubah ananda, seolah-olah pada diri ananda ini terdapat pancaran berkah gaib. Tindakan orang-orang itu sungguh berlebihan. Mereka sudah memberhalakan makhluk. Ananda telah berusaha mengusir mereka baik dengan cara halus maupun kasar, tetapi mereka terus berkerumun mengitari ananda seolah-olah ananda ini benar-benar bangkai busuk yang pantas dikerumuni lalat. Sungguh, Ramanda Ratu, paduka telah memahami bagaimana isi kepala dan isi hati ananda. Perbuatan orang-orang itu sungguh telah melukai jiwa ananda.�

Sri Mangana menarik napas berat dan menunduk. Setelah itu, dengan suara berat ia berkata, �Aku memang sudah mendengar kabar tentang kedatangan orang-orang dari penjuru negeri ke kediamanmu di Lemah Abang. Aku berpikir bahwa apa yang engkau alami itu adalah kehendak Allah semata. Aku tidak berprasangka lain kecuali menganggap bahwa semua itu adalah anugerah dari Allah.�

�Ananda justru merasa berkewajiban untuk secepatnya mengambil langkah tegas. Sebab, terlambat sedikit saja ananda bertindak tentu akan terjadi kekisruhan yang bakal merusak tatanan masyarakat ummah yang sudah terbangun dengan baik selama ini.�

�Bagaimana engkau bisa berpikir bahwa hal itu bisa menimbulkan masalah seserius itu?�

�Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,� kata Abdul Jalil dengan suara lain, �Jika ananda membiarkan orang-orang dari berbagai penjuru negeri berdatangan mengeramatkan ananda, bukan saja hal itu akan melahirkan berhala baru yang disebut Syaikh Lemah Abang. Sebaliknya, yang tak kalah membahayakan, hal itu bakal menjadi penyebab lahirnya matahari kembar di atas langit Caruban. Matahari yang satu memancar di Lemah Abang. Matahari yang lain memancar di Pekalifahan Caruban. Dan, kalau sudah seperti itu maka rusak binasalah tatanan masyarakat ummat yang dengan susah payah sudah ananda tegakkan, warga masyarakat yang sudah menerima ajaran Sasyahidan pun pada gilirannya akan ikut terpengaruh memberhalakan ananda sehingga Tauhid mereka yang sudah bersih itu akan rusak kembali.�

Sri Mangana diam. Ia memejamkan mata dan menarik napas berat berulang-ulang. Nyi Indang Geulis yang sejak tadi diam, dengan mata berkaca-kaca bertanya, �Akan pergi ke manakah engkau, o Puteraku?�

�Ampun seribu ampun, Ibunda Ratu,� Abdul Jalil menyembah dan berkata, �Ananda akan pergi ke mana pun aliran sungai nasib membawa ananda. Ananda hanya memohon doa dan restu Ibunda Ratu.�

�Doaku selalu menyertai ke mana pun engkau pergi, o Puteraku. Tetapi, apakah istri dan puteramu akan engkau bawa serta?�

�Ananda hanya pergi didampingi istri, Ibunda Ratu. Putera ananda, Bardud, akan ananda serahkan pengasuhan dan pengajarannya kepada menantu paduka, Syarif Hidayatullah.�

�Bagaimana dengan Zainab, puterimu?�

�Ananda telah menyerahkan semua urusan tentang dia kepada menantu paduka, Syarif Hidayatullah. Perlu ananda beri tahukan kepada Ibunda Ratu bahwa Zainab akan ananda nikahkan dengan Raden Sahid putera adipati Tuban. Soal pernikahannya, telah ananda serahkan sepenuhnya kepada menantu paduka pula,� kata Abdul Jalil.

�Sampai kapankah engkau meninggalkan Caruban, o Puteraku?�

�Ananda tidak tahu pasti, Ibunda Ratu. Ananda sudah bertekad tidak akan kembali ke Caruban jika citra ananda sebagai berhala belum pudar. Bahkan andaikata ananda kembali pun, ananda tidak akan lagi disebut orang dengan nama Syaikh Lemah Abang. Nama itu bagi ananda sudah mati dan harus dikubur dalam-dalam di dasar bumi.�

Read More ->>

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger.

PENULIS

Followers